Missing [Part 1]


Image

Author: GSD

Title: Missing. [1]

Cast: Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Park Songjin, Lee Donghae, Lee Gyuwon

Rating: PG 13

Length: Chaptered

Genre: Romance, Family.

“Cinta itu hanya ada dua hal. Pertama adalah soal kesetiaan, lalu kedua tentang kematian. Tapi Keduanya sama-sama tentang cara melepaskan. Bukan melupakan.”

Choi Siwon’s side

“terimakasih” ucapku pada salah seorang pelayan, yang baru saja mengantarkan pesanan kopiku.

Tanpa rela membiarkan cangkir berisi larutan dengan warna cokelat kental ini kehilangan suhu panasnya, kutempelkan langsung bibirku pada permukaan cangkir. Menyesap perlahan Hot Latté Mochaccino kegemaranku.

Sekali lagi, kupandangi wajah tampan dihadapanku. tidak terlihat murung walau nyatanya kuyakin suasana hatinya sedang tidak bagus. Sama sekali tidak mengeluarkan umpatan, padahal aku sangat yakin kalau sebenarnya semua kutukan itu sudah sampai diujung lidahnya.

Kuletakan cangkir ditanganku kembali pada tempatnya. “Kyuhyun-ah..” panggilku. Tidak membuatnya bergeming dari aktifitasnya, memandangi ribuan mobil yang melintas, tapi aku tahu dia mendengarnya. Dahinya bergerak setelah namanya kusebut tadi.

Aku medesah, “apa ini tentang Gyuwon?” tanyaku berhati-hati. Kyuhyun agak sensitive saat mendengar nama gadis berstatus mantan kekasihnya itu kembali melintasi telinganya.

Kyuhyun diam. Lalu menggeleng beberapa detik setelahnya, “kau tahu, kau tidak harus melakukan ini. Kau bisa menolaknya.” Aku mengingatkannya.

Kyuhyun masih bungkam dan hanya memilih untuk mengencangkan otot wajahnya dengan menampilkan seutas senyum penuh paksaan. Membuatku lagi-lagi merasa telah menjadi kakak yang tidak berguna baginya.

“tidak. tidak apa-apa. Semua baik-baik saja.” ia berkata pada akhirnya.

Membuatku sedikit lega karena pada akhirnya, bocah ini mengeluarkan suaranya. Setelah hampir satu jam lebih kami berada di Cafe ini, dan ia hanya menyibukan diri dengan game console nya.

Tapi tentu saja ini tidak membuatku menuntaskan seluruh rasa legaku. Karena pertama, aku tidak sedang  menanyakan bagaimana kondisinya, walau ya, pada akhirnya, itu juga yang akan kutanyakan.

Kedua, aku sedang memintannya untuk menolak perintah Appa perihal perjodohannya dengan Songjin.

Bukannya aku sedang mencoba untuk membuat sebuah konfrontasi dengan diam-diam membuat suatu rencana untuk menghentikan usaha penggabungan perusahaanku dengan perusahaan ternama milik keluarga Park itu.

Tapi melihat kenyataan bahwa Kyuhyun—adik tiriku ini, nyatanya tidak menyukai rencana ini. aku tahu itu. aku tahu walau bocah ini tidak pernah mengatakannya.

Hidup bersama selama hampir seluruh hidupku dengannya, membuatku begitu memahami sifat-sifat dan berbagai kebiasaannya. Tidak ada celah walau status kami terhalang perbedaan asal darah yang mengalir dibawah lapisan kulit kami.

Dan kenyataan bahwa Cho Kyuhyun bukanlah adik kandungku, aku tidak begitu mempermasalahkannya. Apapun itu, aku menyayanginya. Aku perduli dengannya, dan aku akan selalu menjaganya.

Dan lagi aku sangat yakin Kyuhyun pun memiliki pemahaman yang sama akan hal ini. bukan hanya padaku, tapi pada seluruh keluargaku—kami.

Tapi sekarang, semua itu terasa pudar perlahan, seiring bergesernya jarum jam. Aku merasa perlu untuk memastikan semua ini lagi. aku pamrih, hampir 80% isi hatiku mengatakan bahwa Kyuhyun menerima perjodohan ini hanya karena merasa berhutang budi pada Appa karena sudah berbaik hati mengambilnya dari panti asuhan dulu.

Karena sudah merawat, menjaga, membesarkan—semua hal yang seharusnya dilakukan oleh orang tua kandungnya, yang kini telah tertimbun didalam tanah dan mungkin sudah kehilangan tubuhnya karena sudah dihabisi oleh bakteri pengurai.

10% karena merasa memiliki kewajiban untuk juga ikut dalam rencana gila Appa. 5% Karena merasa tidak memiliki jalan lain selain berkata ‘ya’, dan 5% lagi adalah wujud keputus asa-annya.

Aku tidak bilang bahwa Park Songjin itu buruk. Tidak sama sekali. Sama seperti aku mengenal Kyuhyun, Park Songjin pun berada di nomor urut ketiga pada daftarku. Kami.

Hanya songjin lah satu-satunya teman yang kami miliki. Sejak dulu saat pasir masih menjadi bahan mainan yang seru bagi kami, sampai sekarang, gadis itu sudah jijik dengan pasir-pasir itu, dan lebih memilih untuk berkutat diantara pertokoan ternama.

Aku dan Kyuhyun bukan orang yang mudah untuk membaur pada kebanyakan anak seperti anak-anak pada umumnya. Entahlah, naluri anak-anak itu sangat tepat untuk lebih memilih menjauh dari kami, karena pada kenyataannya, tidak mudah bagi mereka untuk bertahan bersama kami dan membentuk sebuah persahabatan.

Bukan tidak mau, mungkin hanya kami yang tidak tahu harus bagaimana.

Kyuhyun selalu dingin kepada hampir semua orang, sedangkan aku tidak tahu harus bersikap seperti apa.

Hanya Songjin yang bisa dan mau untuk terus melekat bagai perangko—dan amplop dengan kami. Anggaplah keuntungan itu karena Ayahnya adalah salah salah satu kolega utama perusahaan kami. Juga teman baik Ayah sejak di Universitasnya dulu.

Tapi lepas dari itu, aku harus mengakui bahwa Songjin memang menyenangkan. Tidak banyak aku akan menemukan gadis sepertinya sekarang ini.

Songjin gadis yang baik, periang, lucu, cerdas tapi juga bodoh, dan aku harus mengakui, menambahkan ini pada daftar penilaianku baginya. Karena pada akhirnya, apa yang dikatakannya benar terjadi. Gadis itu tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, anggun dan well… sexy. Ya. Park Songjin. Tapi aku tidak akan mengatakannya langsung. rasa percaya diri berlebihannya pasti akan langsung mengembang kalau aku mengatakan hal ini padanya.

Aku dan Kyuhyun selalu bersama dengan gadis itu sejak dulu—sampai sekarang. tidak perduli apa kata orang. tidak ada orang ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya yang masuk kedalam lingkaran buatan kami ini.

Tapi nyatanya, ini malah menyulitkan kami sendiri. pepatah yang mengharuskan kita untuk keluar dari kotak, Zona nyaman itu ternyata benar. karena sekarang, kebutuhan bersosialisasi itu penting—bagi kami yang membutuhkan pilihan dalam mencari pasangan hidup.

Aku cukup bersyukur karena pada akhirnya, Kyuhyun dihadapkan dengan kenyataan Songjin lah gadis beruntung yang akan bersama dengannya.  Aku tidak tahu harus bagaimana kalau sampai Appa memilihkan gadis lain untuknya.

Kyuhyun bukan orang yang mudah bergaul walau aku sangat tahu ia bisa menarik simpatik begitu banyak gadis hanya dengan tidak melakukan apapun.

Dikampus dulu, banyak sekali gadis-gadis yang mencoba menarik perhatian kami—Kyuhyun, dengan melakukan banyak cara. Tapi nyatanya, pada akhirnya, mereka sendiri yang mengibarkan bendera putih.

Lalu sekarang dikantor, aku juga tahu banyak pegawai kami yang diam-diam menaruh hati pada kami. Tapi apa yang bisa dilakukan lagi? mereka juga tidak berani melakukan apapun selain berbisik-bisik dibelakang kami. Dan lagi, tidak mudah bagi kami untuk bisa bergaul dengan bebas. Alasannya, tentu saja Appa—

 

Kulirik jam yang melingkar dipergelangan tanganku. Masih menunjukan pukul delepan pagi. Masih terlalu pagi untuk acara pernikahan konyol itu, “kau masih punya waktu kalau ingin kabur, haha— setidaknya, aku punya beberapa alasan rasional untuk membungkam appa.” Godaku. Mencoba mencairkan suasana.

Tapi suasana hati Kyuhyun sepertinya masih kacau. Apapun itu, Aku yakin ini bukan karena Park Songjin yang sebentar lagi akan resmi menjadi adik iparku, dan mengusung gelar ‘Cho’ untuk menggantikan gelar ‘Park’ yang sudah dua puluh dua tahun menjadi miliknya. Tapi sampai sekarang aku masih belum tahu apa yang membuatnya diam.

Kyuhyun menggeleng pelan. diletakannya benda kotak yang menurutnya memiliki body lebih sexy dibandingkan puluhan gadis disekitar sini itu dimeja, lalu menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengendurkan duduknya,  hingga melorot dari setengah tubuhnya.

Wajahnya mengadah pada langit-langit bangunan. Memandangi daerah itu Putus asa. Lalu setengah detik kemudian terlonjak sendiri.

“pinjam ponselmu!”

“mwo—?”

“pinjam ponselmu! Aku pinjam ponselmu!!” serunya menuntut. Membuatku langsung merogoh saku ku dan mengeluarkan ponsel miliku dari dalam sana.  Kyuhyun langsung menyambarnya cepat. Meletakan disamping telinganya setelah sebelumnya membuat telunjuknya menari diatas layar ponselku.

“ya~ temui aku ditaman sekarang juga.” ucap Kyuhyun singkat, lalu menyerahkan ponselku lagi padaku.

“pinjam mobilmu.” Tangannya kini telah terulur didepan wajahku. aku tidak mengerti.

“kau benar mau kabur?” aku tak berkedip memandangnya. Namun lalu Kyuhyun malah terbahak, “ppali—aku pinjam mobilmu.” Paksanya. 

Park Songjin’s side

“ya~ temui aku ditaman sekarang juga.” suara berat itu langsung menusuk gendang telingaku. Dia ini..mau membuat aku tuli apa?

“tapi kit—“

TUUUUT!

Panggilan terputus. Aish!! Cho Kyuhyun—setan itu… selalu seperti ini. apa-apaan dia? meminta bertemu ditaman, sekarang. padahal lima jam lagi kami akan menikah. Apalagi yang direncanakannya sekarang?

Aku sudah gila, biarpun sekeras apapun aku membantah tingkah konyol namja setengah setan itu, nyatanya sekarang aku sudah berjalan diam-diam untuk bisa lepas dari kerumunan orang yang tentu saja sedang memfokuskan diri pada ku.

Aku baru saja selesai mendapatkan tatanan rambut, beberapa orang sedang beristirahat dan sebagian lagi sibuk kesana kemari mengurus apa yang perlu diurus.

Setelah aku mendapatkan celah yang pas, aku langsung melesat kegarasi, lompat kedalam mobilku, membawanya pergi bersamaku.

***

Kubanting pintu mobilku kencang-kencang sambil tidak mengurangi intensitas pandanganku pada Pria yang entah sejak kapan sudah berada disana. Berdiri, bersandar pada tubuh Porche Panamera hitam mengkilat milik Siwon oppa. Cih! dia merampas mobil orang lagi rupanya.

“kenapa? ada apa? Kau tahu kita tidak bis—“ ucapanku langsung berhenti—terpotong saat dengan seenaknya, ia menyeretku masuk kedalam kendaraannya. Apa-apaan ini?

“yayaya… kenapa ini? kita mau kemana?” tanyaku beruntun setelah Kyuhyun langsung menginjakan pedal gas dalam-dalam. Membuat kendaraan ini menggerung lembut dan berjalan begitu cepat.

“mobilku—“

“biar nanti Siwon Hyung yang mengurus.” Sambar Kyuhyun cepat tanpa mengalihkan pandangannya pada jalan raya. Seakan merasa tidak penting untuk sedikit saja melihat wajah cemasku ini.

Tidak sampai satu jam kami sudah sampai disebuah kompleks pemakaman tua—elit ditengah kota Seoul, Gyeongju.

Aku mengikuti Kyuhyun yang sudah berjalan lebih dulu dariku. Ini sulit. Pijakan kami hanyalah rumput lembut tanpa adanya bebatuan yang membuat sepatuku masih bisa berdiri tegap.

“ya~ Cho Kyuhyun! bantu aku!!” pekikku kesal saat hak sepatuku tertanam sempurna dirumput landai. Tapi susah payah aku meneriakinya, pria itu seperti tidak mendengarku dan terus berjalan meninggalkanku.

Nafasku tersengal saat akhirnya aku tiba ditempat Kyuhyun berada. Suara tarikan nafasku membuat Kyuhyun meliriku sebentar, lalu setelahnya, kembali sibuk mengamati tiga makam dihadapannya.

Tidak ada satu kalimatpun yang meluncur dari bibir tebalnya. Hanya pandangan lesu pada makam keluarganya saat ini dan helaan nafas yang aku tidak bisa mendefinisikan artinya.

Sedihkah? Putus asa? Menyesal?

“maaf—“ ucapku akhirnya dengan kepala tertunduk. Aku sama sekali tidak berani melihat wajahnya sekarang.

“kenapa?”

Aku menggeleng. “seharusnya ini tidak pernah terjadi. Aku minta maaf.”

“kenapa??” Kyuhyun terus mengulang perkataannya membuatku gemas.

“ya karena itu! perjodohan dan pernikahan bodoh ini!!” geramku nyaris berteriak. IQ nya itu kan tinggi. Kenapa harus pura-pura bodoh begitu sih? Menyebalkan!

Kyuhyun mengeryitkan wajahnya, “bodoh?” tanyanya seperti tidak mengerti dengan istilahku itu.

“Tck!” decakku malas, menoleh padanya sesaat, lalu kembali pada titik fokusku tadi. tiga makam didepanku.

“……kau menyesal?” tanya Kyuhyun setelah begitu lama kami sama-sama bungkam. Dan membiarkan kicauan burung serta suara rumput saling bergesek karena tersapu angin.

Ya. hampir seluruh hatiku menyesali hal konyol ini. menyesal karena membiarkan orang tua kami bergeriliya mendominasi kehidupan kami dengan menyetujui perjodohan ini.

Pada dasarnya, pernikahan yang kurang dari lima jam ini terjadi bisa saja sama sekali tidak terjadi kalau saja aku menolaknya dulu. tapi sepertinya, aku terlalu membiarkan hatiku menjawab tawaran itu.

Aku bahagia, Aku senang, gembira dengan pernikahan ini. tapi nyatanya, tidak begitu dengan Kyuhyun. bagaimana bisa sebuah pernikahan bertahan hanya dengan satu kaki? Rasa cinta sepihak tidak akan membuat hal ini berhasil.

Aku bahagia, tapi Kyuhyun terlihat seperti baru saja mendapatkan musibah. Mungkin hanya aku dan Siwon Oppa yang bisa membaca air wajahnya karena pria ini selalu bisa dengan suksessnya menutupi semua kecemasannya dengan rapih.

Kami terlalu mengenalnya.

Seperti tidak terjadi apa-apa, padahal sedang terjadi kerusuhan besar dihatinya. Ya, aku selalu takjub dengan kemampuan permainan emosi-nya itu. benar-benar mengaggumkan.

“aku tidak tahu.” jawabku berbohong. aku sedikit khawatir Kyuhyun akan langsung tahu kalau aku sedang berbohong. aku tidak bisa dengan mudah membohonginya sejak dulu. entah dia yang terlalu cerdas, atau aku yang kurang ahli.

“tapi ini sudah terjadi. apa kau mau membatalkannya?”

Mataku membulat sempurna mendengar kata-kata ‘pembatalan’ lolos begitu saja dari mulutnya, namun sebisa mungkin, kututupi dengan raut datar andalanku.

Aku menggeleng, “menurutmu?”

Mengejutkan. Kyuhyun ikut menggeleng, “tidak. lagi pula kau tahu itu tidak akan bisa juga kan?”

“tapi kalau bisa…kau mau?”

“……tidak.”

“mwo—?” aku melotot kepadanya sedangkan Kyuhyun hanya menatapku Jengah.

“kau mencintaiku?” tanya kyuhyun kemudian membuatku langsung merasa dilempar batu seketika tepat pada hatiku. Terkejut, dan tiba-tiba membuatku sulit bernafas.

“aku menyayangimu. kau tahu itu—Kau sahabatku.” Akhirnya, kupilih jawaban se-rasional mungkin. Tapi itu malah membuat Kyuhyun tertawa tipis sambil menggeleng.

“aku hanya perlu memastikan dan ingin kau tahu kalau kau tidak akan menderita menikah denganku. menghabiskan waktu bersamaku, selamanya? Hahaha—“ ujarnya riang.

Selamanya? Apa Kyuhyun benar-benar serius menanggapi pernikahan ini? yang benar saja?

“aku tidak tahu. memangnya kau mau terjebak bersamaku selamanya?” tandasku sarkatis.

“mau tidak mau.” jawab Kyuhyun membuat semangatku yang tadi sudah berkobar tiba-tiba padam seketika. bahuku terkulai lemas.

“ya~ bercanda.” Tukas Kyuhyun cepat setelah menyadari atmosfer kelabu mulai mengelilingi kami. Ya, bercanda. Tapi bukankah dibalik kata ‘hanya  bercanda’ tersimpan begitu banyak kejujuran?

“lucu. HA-HA” balasku datar. Kesal, dan entah apalagi rasa yang sudah bercampur aduk didalam hatiku.

Aish…kau sedang datang bulan?” kata Kyuhyun bernada sinis. Selalu seperti itu jika percakapan kami berakhir tidak baik. Menganggap menstuarsi adalah alasan dibalik semua suasana hatiku yang buruk. Ya tuhan, otaknya itu begitu cerdas tapi kenapa dia bisa sebodoh itu kalau sudah berhubungan dengan wanita?

Kyuhyun mengalungkan lengannya pada bahuku, menarikku lebih dekat dengannya. Ini bukan pertama kalinya kami bertingkah seperti ini, tapi nyatanya ini membuat jantungku terasa mau lepas. Aku gugup. Demi tuhan, aku benar-benar gugup.

“aku juga menyayangimu. Ah tidak, aku mencintaimu. Mungkin agak terasa sedikit berbeda. Tapi bukankah kata orang Cinta itu bisa dipelajari seiring berjalannya waktu? Saat ini, mungkin kita masih belum memiliki rasa cinta yang seperti itu. tapi kita bisa mengusahakannya kan? Lagipula, ini jauh lebih mudah karena kita sudah mengenal begitu lama sebelumnya. Tidak akan sesulit yang kau bayangkan—“

“sok tahu!” potongku cepat mencela.

“yayaya, mungkin akan sulit. Sedikit atau banyak, itu hanya tinggal bagaimana kau menyikapinya saja.”

“kita.” Potongku lagi. bahu kyuhyun naik seiring helaan nafasnya, menahan kesal setelah kalimatnya kupotong berulang-ulang.

“iya, kita.” Tambahnya.

“ini akan terasa aneh. kau tahu sendiri, selama ini kita berteman. Sebanyak apapun waktu yang telah kita habiskan bersama dan seperti apapun hubungan kita sebelumnya, mengganti sosokmu menjadi seorang suami dimataku akan terasa sulit. Aku begitu mengenalmu. Begitu juga denganmu. Kau tahu rasa yang seperti itu—aku yakin kau juga merasakannya kan?” tandasku akhirnya. Mengutarakan kecemasanku padanya.

“aku tahu. aku juga memikirkan hal yang sama. Dan menurutku… bagaimana kalau kita tidak anggap ini serius?”

Aku menarik diri dari dekapannya dan menatapnya tidak mengerti, “tidak serius?”  maksudnya?

“jalani saja sama seperti sebelum-sebelumnya. Apa yang biasa kita lakukan. Memangnya apa bedanya nanti? Kupikir akan terasa sama saja. biarkan semua berjalan, mengalir. Seiring berjalannya waktu, aku yakin kita bisa mengatasai hal itu—eotte?”

Aku menggidikan bahuku saat Kyuhyun kembali menarik tubuhku lagi. jantungku terasa seperti diremas-remas lagi. tangan dinginnya menelurusi jemariku dan mengaiktkan jemari kami, lalu menggenggamnya erat.

Pikiranku sudah mulai kacau sekarang. aku bisa kehilangan kesadaranku kalau dia terus bersikap seperti ini.

Aku juga heran kenapa aku merasakan hal seperti ini, padahal biasanya, kami bahkan sering melakukan banyak hal bersama diluar skinship seperti ini, dan itu tidak terlalu mengganggu perputaran emosi jiwaku. Sekarang rasanya jadi aneh seperti ini. aku tidak tahu.

“Cinta itu hanya ada dua hal. Pertama adalah soal kesetiaan, lalu kedua tentang kematian. Tapi Keduanya sama-sama tentang cara melepaskan. Bukan melupakan.”

Aku mengerutkan keningku pada kalimat bermetafora Kyuhyun yang terasa begitu menjejali otakku. Aku tidak mengerti. Sudah tahu aku tidak secerdas dirinya, masih menggunakan bahasa seperti itu?!

Kyuhyun menghela nafasnya setelah aku tidak menanggapi ucapannya dan lebih memilih diam. “arti bungkam itu hanya ada dua hal. Memikirkan dalam penjabaran, dan tidak mengerti. Kau pasti masuk dalam kategori kedua. Tck, aku heran otakmu itu suka menghilang tiba-tiba saat sedang dibutuhkan. kenapa?” ia bergumam. Sialan!

“kau saja yang bodoh! Harusnya kau bisa mempermudah penggunaan kalimat saat bicara denganku!!” sahutku tidak terima dan menyikutnya dengan ujung siku-ku. membuatnya mengerang kesakitan. Tapi aku tidak perduli!! rasakan!!

“dasar bodoh, maksudku itu—aku mau, kau tetap bertahan, sesulit apapun itu nanti.”

Apa maksudnya adalah tetap setia bertahan bersamanya? Tentu saja aku akan melakukan itu! tanpa diminta pun aku akan melakukan itu. lucu saja kalau aku seperti menyia-nyiakan hal yang telah kuimpikan selama hidupku. Seperti mengabaikan pemberian tuhan? tidak.

“kau memintaku tetap bersamamu? Astaga, bukankah itu terdengar seperti neraka saja? kau berani bayar aku berapa untuk terus melakukan itu?” candaku kemudian.

“tergantung. Kau mau kubayar dengan apa?”

“sudahlah, bayaranku mahal, Tuan Cho! Kau tidak akan sanggup.”

“kalau dengan tas Gucci keluaran musim semi terbaru kemarin. Apa bisa?”

Aigoo yang benar saja? dia menyogokku dengan tas berlabel?

ngg… dan dompetnya? ditambah sepatu Roberto Cavalli?”

Kyuhyun mendesah, “kau mau membuatku miskin? Dasar matre!”

“kalau begitu menyerah saja!” aku menarik diri tapi dengan cepat Kyuhyun mengunciku lagi, “iya iya. Terserah kau saja.”

Kemudian, fokusku kembali buyar saat merasakan bibir tebalnya sudah hinggap diujung kepalaku mengecupnya lama. nafasku kembali tak beraturan, jantungku kembali terpompa dan nyawaku seakan terbang dan berpencar kesegala arah, hingga ponselku bergetar. Membuat semua itu kembali nyata. Membuat suasana yang demi tuhan aku berani bayar berjuta-juta won hanya untuk Kyuhyun agar mau mengulangnya lagi, berhenti.

Aku mendesah kecewa.

“sepertinya ada yang sedang panic karena pengantinnya kabur.” Ucapku datar setelah membaca pesan singkat dari Eomma dan memberikan ponselku pada Kyuhyun. 

261 thoughts on “Missing [Part 1]

  1. jadi disini si kyuhyun belum suka eh sayang eh cinta sama songjin ya
    masih ada bayang bayang sang mantan gitu wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s