I Wanna love You [ Part 3 ]


Image

Author : GSD

Title  : I Wanna Love You [ Until You’re Mine Sequel ] 3

Cast : Cho Kyuhyun, Han Hye Jin, Park Eun Hye, Kang Eun Soo, Kim Kibum, Lee Sungmin

Genre : Romance

Rating : PG 13

Length : Chaptered

Cho Kyuhyun’s side

 

Akhirnya, aku angkat kaki juga dari tempatnya. Mungkin setelah ini dia akan bersorak sambil menghembuskan nafas lega karenanya. Pasti kedatanganku tadi itu mengganggu.

Aku bisa melihat bagaimana sibuknya dia saat ini dengan tumpukan buku yang berserakan dimana-mana. Mengotori setiap sudut ruangannya.

“sebenarnya aku masih tidak mengerti bagaimana kau tiba-tiba menjadi seorang dokter sedangkan dulu kau sangat paranoid dengan apapun yang berbau Medis. ini terdengar sangat mustahil, bagiku. dan lagi…. apa kabarnya dengan obsesimu menjadi model-model itu? apa dia hilang?” tuturku disela perjalanan singkat kami, saat dia mengantarku kedepan apartemennya.

“perubahan, Kyu.”

“ne?”

“perubahan. Beberapa hal bisa berubah karena mereka tidak permanen. Maksudku—Semua hal bisa berubah karena mereka itu tidak bersifat permanen. Menjelaskan kepadamu tentang kenapa aku tiba-tiba merubah pilihanku, itu memerlukan waktu yang panjang. Kita harus bicara dilain waktu kalau memang kau benar-benar ingin mengetahuinya.” Torehnya. Aku tidak pernah tahu, kalau gadis ini memiliki pikiran seperti ini. maksudku—entah ini hanya perasaanku saja, atau semua orang akan berfikiran sama sepertiku, dia terlihat lebih dewasa dalam pemikirannya?

“dan tentang obsesi modellingku itu…” Hye Jin tertawa sesaat sambil merundukan kepalanya dan menggeleng berkali-kali. Seakan mengingat obsesi lama-nya itu adalah sebuah kekonyolan sendiri untuknya.

“itu tidak pernah hilang. Hanya sudah kusimpan didalam kotakku. Kurasa aku harus memilah yang mana keinginan dan yang mana kebutuhan.”

Aku terpaku sesaat mendengarnya. Yang kudengar ini benar keluar dari mulut seorang Han Hye Jin, kan?

Aku tidak salah dengar kan?

Sepertinya, ada sedikit perubahan pada Han Hye Jin saat ini dengan Han Hye Jin yang dulu? benar? atau hanya perasaanku saja?

“sampaikan salamku pada Orang Tuamu dan Ahra eonni.” Pesan Hye Jin, membuatku kembali tersadar. “aku benar-benar merindukan mereka. aigoo… berapa lama ya aku tidak bertemu mereka?” gumamnya.

Lalu aku? Memangnya kau tidak merindukanku? Kau pikir Berapa lama kita tidak bertemu?

“bagaimana dengan bocah ompong kemarin?” aku mengingatkannya akan keberadaan Hyun Gi. Satu-satunya Kurcaci didalam keluargaku.

Hye Jin terkekeh pelan, “ah! Bocah tampan itu?”

Tampan? aish~ yang benar saja! Hye Jin. aku seribu kali lebih tampan dari bocah tengil itu!

“yaaah, apapun itulah.. dia anak noona-ku. Mungkin kau harus bertemu dengannya lagi. kau tahu.. sepertinya dia menyukaimu setelah pertemuan kalian kemarin itu!” ungkapku jujur.

Biar saja Hye Jin tahu, bagaimana Hyun Gi selalu bertanya tentangnya setelah kepulangan kami saat itu. setiap detik selalu menghujaniku dengan berbagai pertanyaan tak bermakna berulang.

Seperti, ‘hyung, apa Dokter cantik itu temanmu?’

Bukan hanya temanku! Dia itu pacarku! ………….  –—dulu—       

atau ‘kalau benar Noona itu temanmu, kenapa aku tidak pernah melihatnya?’

aish, apa itu harus?

atau ‘dimana dia tinggal?’

untuk apa kau tahu dimana dia tinggal? Memangnya apa kepentinganmu?

Ish.. bocah itu benar-benar menggelikan! tingkahnya itu membuatku tidak pernah berhenti berkeinginan untuk membuatnya bisu barang satu hari saja.

“benarkah? Jadi aku punya pengaggum rahasia?” serunya terkejut dan berseri-seri. Yang benar saja. pertama, ini bukan rahasia lagi karena aku mengatakannya kepadamu saat ini. dan kedua, penganggum rahasia macam apa yang kau maksud? Dia itu masih berumur 4 tahun Hye Jin!

Biarpun begitu, aku menganggukan kepalaku. Sangat perlahan. Mengakui kebenaran kalimatnya. Setahuku, Hyun Gi memang terlihat ‘sedikit’ menyukai nya.

Geurom~ aku tidak pernah tahu eonni melahirkan? Kenapa kau tidak memberitahukanku?”

“bagaimana caranya aku memberitahukanmu? Kau tidak meninggalkan satupun kontak yang bisa kuhubungi!” seruku memberikan pembelaanku! Enak saja! menyalahkanku? setelah dia pergi saat itu, semua terasa seperti menghilang.

Maksudku, aku benar-benar kehilangan kontak dengannya. Tidak ada satupun nomornya yang bisa kuhubungi. Tidak memiliki jaringan social media apapun,karena dia sendiri yang memang tidak menyukai hal-hal semacam itu, semakin menyulitkanku saja!

Jangan katakan bahwa setelah itu aku tidak berusaha mencari tahu. demi tuhan, aku mencari tahu kemana saja. bahkan aku bertanya pada Sungmin Hyung dan Eun Soo. Aku sangat yakin mereka memiliki informasi tentang Hye Jin. tapi toh, mereka tidak mau memberikannya kepadaku. dengan alasan klise, bahwa mereka juga tidak tahu apa-apa. Konyol.

Apa mereka pikir aku bisa mempercayainya begitu saja? tentu saja tidak! aku tidak bodoh!

Tapi aku juga tidak tahu harus mencari kemana lagi. temannya memang banyak, tapi yang paling dekat ya, hanya aku, Eun Soo, Heechul, Sungmin dan Hyukie Hyung. tidak ada lagi. jadi aku tertahan pada lingkaran setan itu saja.

Hye Jin terkekeh malu-malu. Sepertinya dia menyadari kesalahannya sekarang. baguslah kalau begitu.

“itu.. maksudku bukan begitu sebenarnya. Aku lupa memberitahukannya. Aku terlalu sibuk. Sejak pindah fakultas itu.. kau tahu.. hidupku jadi seperti berputar-putar disitu-situ saja! aku bahkan tidak punya waktu untuk diriku sendiri.”

Klise!

Kau ingin menghindariku? Katakan saja sejujurnya!

“aku tahu. pasti itu melelahkan?”

“mm.”

Kali ini kau tidak bisa menghindar dariku lagi, Han Hye Jin!!

arra! Kalau begitu aku pulang dulu. jangan lupa janjimu itu! nyawa Heebum ditanganmu! Ingat itu!” ancamku.

Sejujurnya, nyawaku mungkin ada ditangannya juga. hhh~ entahlah.

__ __

Sesampainya dirumah, aku langsung bertegur sapa dengan air dan segera mengganti pakaianku dengan pakaian rumah.

kurebahkan tubuhku diranjang. Hari ini terasa berjalan begitu panjang. Tapi aku tidak merasakan lelah seperti biasanya. Malah sebaliknya. Aku senang. Dan merasa sangat bersemangat. Entah mengapa.

Aku tidak bisa merincikan apa yang sedang kurasakan sekarang, karena memang menurutku ini akan sulit untuk digambarkan. Tapi yang jelas. pertama kali dalam sejarah hidup, sejak pertama kali aku berstatus sebagai pegawai Cho Corporation sampai sekarang, sejak mataku mulai terbiasa dengan tumpukan folder yang bisa membuat matamu buta karena selalu melotot membaca dengan sangat teliti per-kata-nya,

Sejak seluruh hidupku terasa bagai dijungkir balikan oleh hal yang aku sendiri juga tidak tahu apa. Aku benar-benar merasa sangat senang hari ini.

Sambil menikmati ranjang empuk dan suasana heningnya malam, ditambah dengan nyanyian jangkrik dari bawah sana, aku memejamkan kedua mataku.

Lalu deringan ponsel, membuat kelopakku kembali terbuka. Dengan malas kutelusuri sisi kosong disampingku, mencari ponselku.

Setelah mendapatkannya, kuletakkan disamping telingaku. “ne?”

“Kyuhyun-ah? Kau masih hidup?” Jong Woon. Asistenku, menelepon selarut ini? aish!!

ani. Aku sudah mati” balasku dingin. dasar tolol!

Kekehannya bersatu dengan suaranya yang begitu dalam. “aku hanya ingin mengingatkanmu, kalau besok kau harus datang lebih pagi untuk rapat dengan kolega baru kita itu. Appa-mu tidak bisa ikut dalam rapat kali ini, karena itu, semua ditangani olehmu. Arrasseo?

ne. ne. jam berapa?”

“delapan?”

arra. Aku akan datang jam tujuh.”

“aish, jangan bermimpi. Aku sudah membayangkan wajah panikmu saat kau lagi-lagi datang terlambat! Hahaha!” ledeknya, merendahkanku.

Kurang ajar! Dasar asisten kurang ajar! “Ya~ kau mau kupecat, hah?” selaku. Membuat keheningan sesaat diantara kami.

“bagus! Kalau begitu siapkan semua yang kita perlukan besok. dan biarkan aku beristirahat sekarang. arrasseo?

“n..ne.”

“ne.” ucapku mengakhiri percakapan. Setelah itu, entah kubuang kemana ponsel itu, karena aku sudah terlalu mengantuk dan benar-benar ingin mengistirahatkan tubuhku. Dan lagi, besok aku harus datang pagi kan? Aku harus bersiap-siap!

__ __

5 Jam! 5 Jam aku terpenjara dalam ruang rapat suntuk itu, hanya untuk membicarakan permasalahan sepele yang ternyata sudah appa bicarakan pada rapat sebelumnya. Tulangku mau remuk rasanya. Aku benar-benar lelah! Astaga!!

“bukankah dia terlihat sangat tampan?” ucap Jong Woon Hyung ditengah perjalanan kami menyusuri lorong, menuju ruang kerjaku.

“siapa?”

Pria beraura gelap ini berdecak sebal, akan reaksiku barusan. “itu.. anak pemilik kolega baru kita itu!”

Ah! Namja muda, berwajah seperti pahatan pada istana-istana megah itu? yaa.. memang sih, dia terlihat tampan. ani-ani. Maksudku—sangat tampan. “biasa saja. apa istimewanya?”

“aish! Ya! Cho Kyuhyun! gunakan matamu dengan baik! Dia benar-benar terlihat begitu sempurna! Kau tahu kenapa para gadis-gadis tadi tidak bisa bertingkah wajar? Karena terlalu canggung berhadapan dengannya! Dia itu sudah tampan, sopan, dan ramah! Terlalu sempurna sebagai seorang namja!!” Tukasnya berlebihan.

Aku memang mengakui ketampananannya yang diatas rata-rata itu. tapi, ya tidak se-berlebihan itu juga sih. Menggelikan.

“dan menjadi alasanmu juga atas sikap tidak wajarmu sejak tadi?”

“mwo?”

“kau jatuh cinta dengan namja itu?” cibirku, lalu terbahak dan masuk kedalam ruanganku.

“sialan!! yaaa! Cho Kyuhyun! kau!!”

Teriak Jong Woon Hyung dari depan pintu ruang kerjaku geram. Salah sendiri dia memuja terlalu berlebihan. Jangan salahkan aku kalau aku mengira dia sedang mengalami cinta pada pandangan pertama!

“aku masih normal, kau dengar?!” tuntutnya masih tidak terima. Berteriak dengan sangat kencang. Kurasa dia masih memberikan kutukannya untukku sampai ia masuk kedalam ruangannya itu nanti.

Sambil menikmati makan siang, yang seharusnya kusantap tiga jam yang lalu, tanganku tanpa henti menggerakan navigator penunjuk computer canggih, diruanganku ini. mengecek berbagai e-mail yang masuk.

Tidak membuatku terkejut sih, kalau isi-nya hampir sebagian  besar berisi tentang surat-surat dan pemberitahuan lainnya yang berhubungan dengan pekerjaanku. Lagipula apa yang diharapkan? Toh aku sudah meyadarinya sejak pertama kuinjakan kakiku ditempat ini.

Ditengah ‘kesibukanku’ ,ponselku bergetar. Walau tidak seberapa, mau-tidak mau membuat guncangan tersendiri pada mejaku.

Kusambar gadget canggih itu dan menempelkannya disamping telinga setelah membaca nama yang tertera pada layar, “ne, Hyung?”

“ya! Tuan super Sibuk!” panggilnya, menyindirku? Tentu. Aku tahu itu. tapi berlebihan sekali rasanya dia menyebutku seperti itu disaat aku selalu menyempatkan diriku untuk menemuinya disetiap kesibukanku.

“apa yang sedang kau lakukan?”

Bola mataku tanpa sadar berputar, terperangah sendiri. atau lebih tepatnya Jengah? kenapa akhir-akhir ini pertanyaan dengan jenis retoris tersebar dimana-mana?

“coba tebak?!” sahutku bernada girang-yang jelas, sangat kubuat-buat. Tapi, Paling tidak itu suksess membuatnya terkekeh geli. Dan begitupun denganku sekarang.

“bagaimana kalau kita bertemu?”

“kau sudah merindukanku lagi?” godaku. Kemarin lusa kami baru bertemu padahal.

“yaaah, apapun itu menurutmu lah, terserah kau saja. bagaimana?”

“atur saja, Hyung!

arra. Besok?”

Kulirik jam duduk disudut mejaku, dan menggumam beberapa saat. Menimbang, “bagaimana kalau sekarang saja? lima menit lagi waktu kerjaku habis.”

“apa kau begitu merindukanku?”  tanyanya membalik pertanyaanku untuknya sebelum ini.

“kau tidak akan menyangkanya…”

arra. Kutunggu ditempat biasa, ne?

“ngg.. Hyung!” selaku cepat, “bagaimana kalau…. Kali ini di Breadstick saja?”

“breadstick?”

“nggg, ne. aku bosan disana. Bagaimana?”

Pria imut itu terdengar menimbang, lalu suara riangnya kembali terdengar, “arrasseo. Aku berangkat sekarang.”

~~

“berapa lama ya kita tidak kesini?” Namja dihadapanku ini bertanya dengan raut-sangat-bersemangat yang bercampur dengan entah perasaan apalagi disana, memandangi café tempat kami biasa menghabiskan waktu kami. Dulu.

Sebetulnya, pertanyaan yang sama juga sudah menyergap isi kepalaku sejak tadi. hanya saja, aku malas membicarakannya. Dibilang buruk, tidak juga, tapi dibilang tidak buruk, ya tidak juga sih.

Tempat ini hanya terlalu banyak menyimpan hal-hal ‘menarik’ bagiku.

Bagi kami maksudnya.

Setelah pesanan kami datang seluruhnya, aku dan Sungmin Hyung tidak langsung menyantapnya, melainkan memandanginya.

Walaupun jenis makanan baru banyak bertebaran dimenu, tapi lihatlah, kami tetap memilih menu yang biasa kami pesan saat dulu kami sering kesini. ini semacam ber-nostalgia saja sebenarnya.

Sungmin Hyung memandangi Ayam Bakar Wijen nya dengan mata berbinar, sedangkan aku memperhatikan Beef Schnitzel-ku yang kurasa…. Bagaimana bisa mereka tidak mengurangi porsi ini sedikitpun bahkan setelah kurun waktu 36 bulan lamanya? Memangnya mereka tidak merasa rugi saat harga kebutuhan pokok semakin meningkat?

Atau setidaknya menaikan harganya menjadi setengah dari harga semula? Karena setelah sepenglihatan mataku dibuku menu tadi, harga makanan ini hanya naik 20% dari harga keseluruhannya. Aigoo~ mereka membutuhkan penasehat bissnis sepertinya.

“kenapa tiba-tiba kau ingin kita bertemu disini? kukira sejak saat ‘itu’ kau tidak begitu menyukai tempat ini? kau seperti…tiba-tiba saja meng-kramatkan tempat ini entah karena apa.” suara lembut itu membuka percakapan.

Kucebikan bibirku sesaat, “perubahan. Beberapa hal bisa berubah karena mereka tidak permanen.”

“mwo?”

“Maksudku—Semua hal bisa berubah karena mereka itu tidak permanen. Iyakan?”

Walau diliputi kebingungan, pria ini tetap menganggukan kepalanya, membenarkan teoriku.

Sebenarnya bukan teoriku sih.. tapi ya anggaplah seperti itu, karena dia tidak tahu aku mendapatkan teori ini dari siapa.

“ah, iya! Apa kau akan datang kepesta itu?”

“pesta? Pesta apa?”

“ulang tahun universitas, tentu saja!”

Dengan sendirinya, keningku menciptakan kerutannya, “ulang tahun universitas?”

Sungmin Hyung mendesah.

“aku mendapatkan undangannya lewat e-mail. Memangnya kau tidak?”

“aku?” sergahku sambil mengarahkan telunjukku, pada diriku sendiri. kukira tadi tumpukan e-mail itu isinya proposal dan surat-surat biasa lainnya?

“apa kau sesibuk itu sampai tidak sempat mengecek e-mailmu? Ponsel mu ini kan canggih! Bukankah ini terhubung dengan fasilitas e-mail?” dia menunjuk benda tipis yang menggeletak begitu saja ditengah meja.

“ya, iya memang.” aku-ku, “tapi aku tidak tahu. kapan itu?”

“akhir pekan ini sepertinya.”

mwo? Secepat itu?” pekikku terkejut.

“apanya yang secepat itu? undangannya sudah tersebar sejak satu minggu yang lalu, bodoh!” kilahnya, lalu menatapku heran. Seperti bicara, ‘apa kau hidup ditengah hutan selama ini?’

Wah, apa ini membuktikan kalau aku benar-benar sibuk selama ini?

“kau datang?” tanyanya lagi. ani, ini lebih terdengar seperti sebuah tuntutan bagiku dibandingkan sebuah pertanyaan.

molla. lihat nanti, bagaimana. Kau?” sejujurnya aku malas datang kelautan keramaian seperti itu.

Namja Penyuka Pink ini mengangguk mantap, “tentu!” serunya. “tema tahun ini juga sangat menarik!”

Lalu aku teringat dengan ritual turun temurun universitas kami yang selalu menggunakan ‘tema’ dalam setiap perayaan mereka.

Sebetulnya, aku tidak terlalu ingin tahu apa itu, tapi aku juga tidak mau membuat Namja ini kecewa, jadi yaah….. “apa?” tanyaku, pada akhirnya.

“Negeri Dongeng!” ucapnya nyaris berbisik.

Aku hampir menyemburkan nasi dari dalam mulutku seketika saking terkejutnya. “Negeri Dongeng? Maksudmu? Pakaian ala-ala fairy tale itu?” pekikku tertahan. yang  benar saja!

Sungmin Hyung mengangguk semangat. Haish! Yang benar saja! semakin lengkap alasanku untuk tidak hadir dalam acara aneh itu.

Acara macam apa yang mengharuskan tamu-tamunya berpakaian seperti itu? ini tidak masuk diakal saja bagiku. apakabar dengan Jas-Jas formal yang biasa digunakan? Apa itu terlalu ‘biasa’ bagi mereka?

“aku sudah menyiapkan semuanya untuk acara itu. haha. Aniya~ sebetulnya bukan aku sendiri sih. Eun Soo membantuku.” Aku-nya. aku langsung teringat tentang profesi gadis itu saat ini. walaupun belum mendunia, tapi beberapa pakaian rancangannya sudah dipakai oleh banyak artis lokal. Lumayan keren juga sih sebenarnya.

“Heechul Hyung juga datang?” timpalku kemudian. Teringat dengan Namja ‘dingin’ itu, aku sedikit ragu dia mau datang. Mengingat lagi tema ini yang sepertinya sedikit—

“ne.”

“MWO?”

“dia datang. Bersama Ga Eun tentu saja. mereka akan menggunakan pakaian ala kerajaan timur tengah sepertinya. Aku lupa juga tapi bagaimana kelanjutan rencana itu. terakhir aku bertemu Ga Eun satu minggu yang lalu di Phoenix”

Phoenix. Nama Butik milik gadis ‘kembar dempet’ Hye Jin itu.

Hye Jin?? ah benar~! apa dia datang?

Dan seperti tahu apa yang ada dipikiranku, Sungmin hyung tersenyum simpul. “Hye Jin datang juga. tapi aku tidak tahu dia akan menggunakan apa. Dan dengan siapa.” tuturnya memberikan bocoran. lengkap dengan penekanan terselubungnya yang teramat jelas pada kalimat terakhirnya.

“benarkah?” aku menanggapinya. Sedatar mungkin. Semampuku. “kukira dia sangat sibuk”

“memang. tapi untuk menolak datang berkumpul seperti ini yang hampir tidak pernah dilakukan lagi? tidak mungkin tentu saja!”

“kau datang dengan siapa?”  hanya  bertanya. aku penasaran saja. siapa tahu apa yang kupikirkan sejak tadi benar-benar terjadi.

“aku tidak datang dengan Hye Jin. dia menolak tawaranku, kau tahu? kau tenang saja.”

Mwo? Apa itu ada hubungannya dengan pertanyaanku tadi? “aku kan tanya, dengan siapa kau akan datang, Hyung. bukan ke galauan-mu karena Hye Jin menolak ajakanmu!” selaku.

Tapi Baguslah kalau begitu. lagipula, mereka terlihat kurang cocok untuk jalan berdampingan.

“Tck!” lambaian tangan mengejek terlontar untukku “tapi kau harus berhati-hati. sepetinya Hyukie berniat mengajak Hye Jin.”

“mwo?”

ne. kudengar setelah Eun Soo menolaknya, sekarang Hye Jin lah sasaran terakhirnya! Hahaha!”

“memangnya Hye Jin itu rencana cadangan?” tuntutku tidak terima.

Lee Sungmin’s side

 

ne. kudengar setelah Eun Soo menolaknya, sekarang Hye Jin lah sasaran terakhirnya! Hahaha!” ucapku lengkap dengan tawa yang kutambahkan dengan apiknya.

Sebenarnya, tentu saja itu tidak benar-benar terjadi. Dan tidak akan mungkin terjadi juga. Tidak mungkin karena pertama, Eun Soo sudah lebih dulu aku ‘taken’ untuk pergi bersamaku.

Dan kedua, se-depresi apapun karena kesendiriannya, Namja yadong itu tetap tidak akan mungkin mengajak Hye Jin. itu terlalu mengada-ada baginya tentu saja. dia sendiri sudah tahu kalau tidak diragukan lagi, tolakan mentah-mentah akan menjawab tawarannya.

Dan lagi, Dia juga tahu akan berhadapan dengan siapa kalau sampai berani melakukan itu. Dia tidak akan sepercaya diri itu untuk mengajak Hye Jin. Hye Jin Sendiri juga sepertinya menunggu ‘seseorang’ untuk mengajaknya. Dan kau tahu itu siapa.

Sayang saja bocah didepanku ini terlalu meninggikan Ego-nya hingga menolak untuk mengakui apa yang ia rasakan. Tidak perlu dijelaskan. Semua orang sudah sangat sadar kalau mereka masih begitu saling mencintai. Iya, semua orang tahu selain mereka sendiri. bukankah itu konyol?

Tapi toh rencanaku membuatnya kesal berhasil. Lihat saja wajah Namja didepanku ini. langsung berubah kacau.

“memangnya Hye Jin itu rencana Cadangan?” cibirnya ketus.

“kau sendiri pernah menjadikannya rencana cadanganmu—“ gumamku pelan tepat setelahnya. dan sepertinya dia mendengarnya dengan sangat jelas. tapi biar saja. memang itu yang sebenrnya terjadi kan? Aku hanya ingin mengingatkannya saja kalau hal seperti itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan dan dia sudah melakukannya cukup lama. dulu.

Aku hanya ingin dia sadar. Tapi sepertinya dia sudah sadar.

“jadi, kau akan datang dengan siapa?” tanyaku lagi, memastikan saja. atau lebih terdengar seperti memaksanya? Biar saja!

“aku tidak bilang kalau aku akan datang, Hyung. aku tidak terlalu suka dengan acara-acara seperti itu. dan lagi, aku tidak mau menggunakan pakaian-pakaian aneh seperti itu. ish!” desahnya lengkap dengan ekspresi jijiknya.

Arrasseo Cho Kyuhyun. kalau kau bersikeras, aku sendiri yang akan membuatmu datang kepesta itu!

22 thoughts on “I Wanna love You [ Part 3 ]

  1. Setuju sama sungmin… Semua orang tau kalo Kyu-hyejin masih saling mencintai satu sama lain kecuali mereka sendiri… Ckck kyuhyun-a, cepatlah bertindak ^^

  2. Lama banget gak ngecek wp ini…kkkk
    ad batu besar banget buat mreka berdau ye??siwon plus eunhye yg skrg gk tahu kemana..

    lanjut bacalah sekalian yg missing juga..kkkkk
    masih suka ff mu eonni….kereeeeeeen…

  3. Waaaw… Kyuhyun Hyejin.. Semua orang aja bisa ngelihat dari gelagat mereka. Sungmin harus berhasil! Yeaaaah. Seru abis. Semoga Kyuhyun bener bener udah sadar sama kesalahannya dulu

  4. Huwaaaaa author-nim, aku ga bisa berhenti bacca kelanjutan ff ini wkwkwkwkwk dua2x masih gengsi, sebenernya pengen bikin kyuhyun kacau dulu sih ngeliat hye jin sama cowo lain tapi kasiian, lagian hyejin juga ga mau sama cowo lain hahahaha next lagi next lagi

  5. modusnya(?)kyu udh lumayan.. tp bener kata ming, tinggal gmn kyu nurunin egonya -__-” cinta tp msh aja jaga image(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s