I Wanna Love You [ Part 4 ]


Image

Author : GSD

Title  : I Wanna Love You [ Until You’re Mine Sequel ] 4

Cast : Cho Kyuhyun, Han Hye Jin, Park Eun Hye, Kang Eun Soo, Kim Kibum, Lee Sungmin

Genre : Romance

Rating : PG 13

Length : Chaptered

Author’s side

 

Siang itu Kyuhyun memotong waktu kerja yang seharusnya masih berlangsung selama empat jam lagi dan melesat pergi menghampiri Rumah Sakit Hewan ternama ditengah kota Seoul.

Dengan ber ‘modal’ kan Heebum dipangkuannya, kini ia duduk tenang diruang tunggu. Menunggu gilirannya datang. Tapi, karena sekarang ini masih termasuk jam kerja, tidak sampai lima menit dia merasakan bangku empuk, ruang tunggu disana pun namanya sudah dipanggil.

“hai!” sapanya setelah menutup pintu dibelakangnya.

Hye Jin tersenyum ringan. Dan beranjak dari duduknya.  “kau datang..” ucapnya kemudian. Tangannya lalu dengan gesit terjulur, meraih Heebum dari Kyuhyun.

“tentu saja aku. memangnya kau mengharapkan siapa?”

“tentu saja pemilik kucing tampan ini… iyakan Heebum??” tukas Hye Jin langsung.

mwo? Pemiliknya ya aku!”

“benarkah?” sahut Hye Jin bernada mencibir yang langsung dapat dibaca dengan mudahnya oleh Kyuhyun.

Namja bermata cokelat tersebut bertolak pinggang, mendesis. “kau meragukanku?”

“aku tidak bicara begitu kan?”

“tapi kau bersikap seperti itu!”

“mungkin hanya perasaanmu saja?” imbuh Hye Jin, acuh. Dan membawa pergi Heebum kesudut ruangan.

“sepertinya kau sudah sembuh, ya?” gumam Hye Jin sendiri sambil mengusap lembut bulu tebal Heebum dan meletakan hewan tersebut disebuah kasur berukurang sedang, namun terlihat sangat nyaman.

ngg… mianhae, ini akan terasa sedikit sakit. Jeongmal Mianhae Heebum…” ujar Hye Jin lagi seakan hewan tersebut akan menanggapi permohonan maafnya setelah ia mengatakan hal tersebut dengan seluruh kerendahan hatinya.

Kyuhyun yang memperhatikan mereka dari belakang, hanya tertawa lebar, tanpa suara sambil bersedekap.

Setelah semuanya selesai, Hye Jin membawa Heebum Kembali dalam gendongannya. Mengusapnya lagi, membuat Kucing jantan tersebut meletakan kepalanya manja.

“ya~ jangan begitu, Heebum ini kucing malas. Dia bisa tidur kalau kau terus memperlakukannya seperti itu!” Kyuhyun memperingatkan sambil memberikan tatapan iri pada Heebum yang terlihat sedang terlalu-nyaman-pada posisinya.

“kalau begitu bukankah sama dengan pemiliknya?”

“mwo?”

“sama-sama malas?”

“Yaaa!! Han Hye Jin!” pekik Kyuhyun kesal.

Sesaat merasa menyesal telah mengaku bahwa Heebum adalah miliknya. Memang seperti itu karena dirinyalah yang membeli Heebum dari pet Shop didekat kantornya dua tahun yang lalu. Tapi bisa dibilang tidak juga karena secara nyata, Hyun Gil lah pemilik asli Heebum.

Telinga Hye Jin seakan bernostalgia dengan panggilan ‘Han Hye Jin’ menggunakan suara berat dan intonasi yang tak lagi asing untuk telinganya. Yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatannya saja.

Sebagian hatinya berdegup tak wajar karenanya, namun sebagiannya lagi masih terasa hambar diam seperti membeku. Lain halnya dengan otak yang sedari tadi telah memperingatkannya agar menjaga sikapnya untuk tidak bertindak ‘lebih lanjut’ saat ini, kalau tidak menginginkan hal-hal buruk terjadi. Lagi.

Alunan music instrument sebagai nada dering ponsel berwarna putih diatas meja kerja Hye Jin mengalihkan perhatian kedua insan disana. Dengan gerakan cepat Hye Jin menyambarnya dan meletakan disamping telinganya.

ne. arra-arra aku ingat. ne. Bye.” Diletakkannya lagi ponsel tersebut.

Mengoper Heebum yang nyaris tertidur didalam gendongannya pada Kyuhyun cepat-cepat.

“kau akan pergi?” tebak Kyuhyun. tepat sasaran.

Andwae!

Hye Jin mengangguk cepat, “ne. mianhae, aku ada janji dengan seseorang. Dan lagi, jam praktek-ku sudah selesai” tukasnya setelah melirik jam tangan mungil dengan bebatuan mengkilat disekelilingnya.

Kyuhyun mengerlingkan matanya, “secepat ini?” . Hye Jin menjawab dengan anggukan.

“jam berapa kau ada janji?”

Mata Hye Jin menyipit, “sebetulnya setelah makan siang, hehe” Walau diliputi keheranan akan ‘penting-tidaknya’ pertanyaan semacam itu baginya, Hye Jin tetap menjawabnya.

Kalau begitu bagaimana jika sebelum itu kita berjalan-jalan sebentar?

“itu masih cukup lama.” sergah Kyuhyun kemudian.

“ya, tapi aku harus kekampusku sebentar.” Sejurus kemudian, kyuhyun kembali teringat tentang gadis bertubuh mungil dihadapannya ini, masih berstatus ‘mahasiswi’ berbeda dengannya dan beberapa kawanan mereka.

“ah, ne.” ucapnya memelan.

__ __

Hye Jin nyaris putus asa saat lambaian tangannya terasa sia-sia. Hampir dua puluh menit ia berdiri dibahu jalan. berusaha  mendapatkan banyak taxi dari puluhan taxi yang melintasinya.

Semua selalu penuh. Kalau tidak penuh, ya sudah dibooking orang. Membuatnya kembali mendesah ketika taxi entah keberapa yang baru saja dihentikannya mengatakan bahwa sudah terpesan.

Kyuhyun baru saja keluar dari parkir bawah tanah dan mendapati Hye Jin masih berada pada posisi terakhir ketika mereka berpisah. Kakinya dengan gesit menginjak pedal rem perlahan, lalu menyembulkan kepalanya sedikit keluar dari kaca.

Kau menunggu seseorang?

“gwaenchana?”

Hye Jin mengangkat wajahnya, murung. “ne.”

Supir-mu? Kakak-mu? ….. Pacar-mu?

“apa yang terjadi? Kau bilang kau harus pergi?”

Hye Jin mendesah. Sesaat Kyuhyun terdiam, memperhatikan wajah lesu disana. Hingga akhirnya mendapatkan sebuah jawaban dari dalam pikirannya sendiri.

“naiklah”

“ne?”

ppali! Nanti kau terlambat!”

“mwo?”

“Tck! Ish!”

Han Hye Jin’s side

 

“naiklah” Kyuhyun bicara kemudian.

“ne?”

ppali! Nanti kau terlambat!”

Aku masih belum mengerti, “mwo?”

“Tck! Ish!” dengusnya kesal. Wajahnya yang tadi terlihat menyenangkan, sekarang berubah garang. “telingamu baik-baik saja kan? Aku bilang naik. Bukankah kau bilang kau harus cepat? Sampai kapan mau menunggu taxi?”

Maksudnya dia mau mengantarku? Omo!

“Hye Ji—“

“n—ne!” kupotong kalimatnya dengan sangat cepat dan bergegas naik. Walau sudah cukup lama terpisah, aku masih hafal betul bagaimana sifatnya. Cara satu-satunya agar dia berhenti bersikap menyebalkan ya dengan menuruti kemauannya.

Kali ini bukan kemauannya juga. Mungkin Kyuhyun terlampau iba melihatku sejak tadi menunggu taxi, tapi tidak ada satupun yang kudapat. Aku tidak ingin besar kepala dulu.

Selama perjalanan, aku—kami, tidak ada satupun dari kami yang mau membuka suara terlebih dahulu tidak aku, tidak juga Kyuhyun.

Kami sama-sama sibuk dengan aktifitas bungkam kami  masing-masing. Kyuhyun bahkan tidak menanyakan kemana tujuanku. Maksudku—dia ingin mengantarku kan?

Entah berapa lama aku membiarkan pikiranku menari-nari liar tanpa kukendalikan sampai mataku membesar saat kusadari kendaraan ini telah menepi. Dikampusku.

“wae?” Kyuhyun menghentikan kerja tangannya, melepas sabuk pengaman yang melingkari tubuhnya.

Aku hanya menggeleng, terpukau. Aku kan belum bilang dimana kampusku? Bagaimana dia bisa tahu?

“tidak turun?” tanyanya lagi membuatku kembali tersadar.

Aku mengerjapkan mataku berjuta-juta kali untuk menyadarkan diriku bahwa ini benar terjadi. Sejurus kemudian, aku baru membuka pintu dan keluar.

“aku boleh ikut, tidak?”

“mwo?” mataku membesar lagi. ikut?

Kyuhyun tersenyum malu-malu sambil menggosok tengkuknya, “aku sudah lama tidak masuk kedalam.” ujarnya.

Sial, lagi-lagi aku sudah membiarkan pikiran liarku berkenala. kupikir dia ingin ikut karena mau menemaniku. Karena ingin bersama denganku. astaga Hye Jin… bersihkan pikiranmu itu!!

“tentu saja!” balasku. Tersenyum.

Seakan sama-sama ber-nostalgia, aku dan Kyuhyun sengaja berjalan dengan lambat  menyusuri lorong kampus. Atau mungkin sangat lambat? Entahlah.

Kalau aku, hanya mengimbangi jalannya saja. sebenarnya, kalau bisa aku malah harus berlari dengan kekuatan turbo untuk sampai ke Perpustakaan dan bertemu dengan Dosen botak yang sudah semena-mena memberikan tugas tambahan kepadaku beberapa waktu lalu.

Diam-diam, kulirik Kyuhyun disampingku. Dia sedang memperhatikan lapangan disisi  kirinya, sambil menyembunyikan senyumannya. Ah! Pasti dia ingat bagaimana dulu dia menghabiskan waktunya disana.

Bermain bola, bersantai, menggoda gadis-gadis, membolos kelas dan lebih memilih tidur dibawah pohon  maple besar disana, menghabiskan waktu… denganku?

Aish, lupakan ingatan terakhir itu! tidak patut diingat!

“Kyu”

“ng?” dia menyahut. Tapi tidak mengalihkan wajahnya kepadaku. sialan, memangnya suara barusan itu bisikan setan? Lihat aku!!

“Kyu!”

“ne?” masih tidak menoleh. Apa menariknya sih lapangan kosong itu? hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang duduk-duduk di bench nya saja kok. Cih!

“Tck, aku harus ke perpustakaan! Kau mau menunggu dimana?”

“…………”

Hallo! Aku disini!! bicara denganmu, Tuan Cho!! Bisakah kau menoleh dan memberikan jawaban sebentar saja?

“Aish, sudahlah~” dengusku kesal saat Kyuhyun sepertinya masih lebih tertarik dengan pemandangan disekitarnya, dibandingkan menanggapi pertanyaanku. Aku terus melangkah mendahuluinya saja menuju tujuanku. Sepertinya dia juga tidak sadar kalau aku sudah meninggalkannya.

__ __

Urusanku selesai. Tugasku sudah kuberikan. sekarang, tubuhku terasa ringan. Beban yang sejak kemarin seperti kupanggul dikiri-kanan bahuku, sudah menghilang. Rasanya lega.

Sekarang tinggal melakukan jadwal selanjutnya, tapi sebelumnya…. Setan itu.. dimana dia?

Setelah mengitari kampus yang tidak kecil ini, akhirnya aku menemukan Kyuhyun. sedang duduk santai dibench, samping lapangan. Seharusnya aku tahu kalau dia akan berada disana.

Sambil berjalan menghampirinya, mataku tidak pernah lepas memandangi sosok tubuh tinggi berkulit putih susu disana. Mengendurkan tubuhnya, dan membiarkan dua tangannya menjadi tumpuan tubuh tersebut.

Semakin terlihat tampan ketika sapuan angin dengan lembut menyeka wajahnya. Membuat rambut cokelat itu jadi kacau. Tapi itu malah memberikannya ekstra ketampanan.

Kemeja putih dengan kancing teratas yang sudah tanggal, membuatnya telihat lebih.. err—bagaimana aku harus menjelaskannya?

Jantungku serasa ingin copot saat Kyuhyun melemparkan senyumannya padaku dari tempatnya. Padaku. Iya. Tapi, Tunggu-tunggu.. itu untukku atau untuk siapa?

Akupun menoleh, memandangi sekitarku dan berdecak kecewa. Seharusnya aku tahu kalau darah penggoda masih mengalir didalam tubuhnya.

Dia membuat gadis-gadis disekitarku kelabakan melihat sosoknya. Sebagian dari mereka langsung merundukan wajahnya karena malu.  Beberapa dari mereka ada yang terang-terangan melambaikan tangan pada Kyuhyun seakan senyuman tadi itu untuk mereka?

Bahkan disampingku ini, ada dua orang gadis yang sudah hampir mimisan karena bocah setan itu. sambil terus bertanya-tanya siapa Namja disana sebenarnya, karena mereka tidak pernah melihatnya selama ini.

Tentu saja kalian tidak pernah melihatnya! Dia bukan berada diangkatanmu, bodoh!

“sibuk?” ucapku sesampainya aku di Bench yang sama. Kuletakan buku-buku pinjaman perpustakaan tadi disampingku, juga tasku.

Kyuhyun tersenyum tipis. Matanya dengan jelas menelusuri hamparan rerumputan hijau dihadapan kami. “kukira tempat ini akan berubah.” Gumamnya.

“mungkin iya kalau kau datang lagi setelah sepuluh tahun kelulusanmu.” Cibirku. Dia kan baru lulus tiga tahun yang lalu. bertingkah seperti sudah tiga abad saja!

“dulu aku benar-benar suka dengan  tempat ini. aku sering main bola disini dengan Sungmin Hyung. lalu bersantai, menghabiskan waktu sia-sia. Membicarakan banyak hal. Bermain.”

“menggoda gadis-gadis”

Kyuhyun tertawa pelan, dan merunduk sesaat, “maksudmu, kau?”

“aku? Tck, bukan aku. kau bahkan tidak pernah menggodaku. Maksudku gadis-gadis anggota cheerleader itu”

Kyuhyun bersersingut. Lalu menoleh untuk menyembunyikan tawanya. Entah apa yang lucu.

“lalu kau cemburu?” tanyanya. Aku? cemburu?

“Ani.” aku-ku. well… mungkin sedikit. Saat itu dia kan pacarku! Tapi terang-terangan memuji kecantikan gadis lain didepanku. Wanita mana yang tidak kesal?

“tapi kau marah?”

Mataku membulat, “mwo?!” selaku.

Kyuhyun tertawa lagi. “kau juga sering genit dulu. menggoda pria-pria disekitarmu, Cih!”

mwoya? Aku? menggoda?” astaga! fitnah apalagi itu?! enak saja! saat itu aku menjadi gadis baik-baik, yang selalu mencoba menjaga perasaan pacarku ya! enak saja dia bicara seperti itu.

mm. kau lupa? Cih! kau bahkan sudah tidak bertanggung jawab, membuat Dong Wook jatuh cinta denganmu.”

Dong wook? Ketua Sepak bola itu? yang tampan itu? “benarkah?” tanpa kusadari, nada kekagumlah yang meluncur dari mulutku. Aku tidak percaya kalau seorang Him Dong Wook bisa jatuh cinta kepadaku?!

“apa kau tidak tahu?” Kyuhyun menatapku seakan tak percaya.

Aku mengangguk mantap, “aku tidak tahu. sungguh!”

“Tck, kalau begitu harusnya kau tidak pernah tahu saja!” erangnya kemudian. Seperti menyesal telah membukakan rahasia besar yang seakan telah disimpannya selama ini sendiri.

Belum sampai aku menjawabnya, Kyuhyun sudah bangkit. Dua tangannya disembunyikan kedalam saku celananya. Setengah merunduk, memandnagku. Matanya mengecil saat menatapku karena terkena sorotan matahari siang yang langsung menusuk tepat pada retinanya.

“ayo pergi!” perintahnya

“kemana?”

Kyuhyun mendesah sebal, “kau bilang tadi kau ada janji?”

Ah! Bisa-bisanya aku lupa! “kau benar.” sahutku, lalu ikut bangkit. Megambil tas serta buku-buku-ku dan menyusul Kyuhyun yang sudah meninggalkanku lebih dulu.

__ __

“OPPA!!” kuangkat tanganku tinggi-tinggi dan melambaikan-nya agar matanya langsung menangkap tubuhku ditengah ruangan ini.

Sebetulnya, tidak perlu seperti ini juga aku sangat yakin Siwon oppa pasti sudah melihatku. Karena tubuhnya yang tinggi itu, pasti sangat membantunya untuk menemukanku ditengah kerumunan seperti ini.

“kau terlambat!” sindirku.

“hanya lima menit.” Gumamnya acuh sambil melepas shawl biru nya.

“tetap saja terlambat” balasku. Walau 5 menit, tetap saja namanya terlambat! Tidak disiplin itu namanya!!

arrasseo. Arrasseo. Mianhae. Cerewet sekali kau ini” Ujarnya mengalah pada akhirnya. Mencubiti pipiku seperti biasa. Tck! Sudah kubilang berapa kali agar tidak melakukan itu? bisa tambah menjadi saja ukuran pipi ini kalau terus dimainkannya!!

Dua matanya yang sejak tadi hanya terfokus padaku, lalu pindah kesamping kananku. Tepatnya pada bangku yang sedang Kyuhyun duduki. Aku memang mengajaknya ikut bersamaku tadi. Sejak tadi kan dia sudah menemaniku. Dia juga yang mengantarku. Jadi ini bisa dibilang sepeerti balas budi saja sih.

“ah! Aku lupa! Oppa, Ini Kyuh—“

“Cho Kyuhyun kan?” siwon Oppa mendahului ku bicara saat aku baru saja akan mengenalkan Kyuhyun padanya.

Kyuhyun meletakan gelas ditangannya kemeja, lalu bangkit. “N—Ne. Cho Kyuhyun imnida”

Author’s side

 

Makan siang yang Kyuhyun anggap akan terasa berbeda, sekarang benar-benar terasa sangat ‘berbeda’. Matanya tidak pernah berhenti mengikuti dua makhluk yang sedang sibuk berbicara seakan mengabaikan kehadirannya saat ini.

Anggapan bahwa dunia benar-benar sempit, sekarang menjadi kenyataan hingga memenuhi isi kepalanya.

Masih tidak habis pikir bagaimana semua ini seakan tersangkut pada benang merah, menghubungkan semuanya dan menemukannya pada satu titik.

Choi Siwon, Kolega baru, yang benar-benar baru tidak lama sebelum ini ditemuinya disebuah rapat sengit, membahas tentang kerja sama perusahaannya dengan perusahaan besar milik Namja berlesung pipi ini.

Kyuhyun bersingut. Menegapkan duduknya, dan bersedekap. “ngg… kau bilang apa tadi? kalian bertemu dimana?” tanyanya sambil meruncingkan pendengarannya lagi.

“Standford.”

“ne?” Kyuhyun mendekatkan tubuhnya pada siwon lagi.

“itu kampusku, Kyuhyun-ah! Aku dan Siwon Oppa, sama-sama kuliah di Stanford university saat itu” Jelas Hye Jin kemudian.

Dengan nada pelan, ber-intonasi tepat dan juga lambat. Seakan lawan bicaranya kali ini adalah seorang kakek tua yang memiliki pendengaran rapuh.

Kyuhyun menganggukan kepalanya tanda mengerti. “ooh. Standford.” Ulangnya.

Pendengarannya tidaklah seburuk itu. hanya rasa kesal karena merasa terabaikan saja yang membuatnya bertingkah seakan hal itu benar terjadi.

“Siwon Oppa Senior-ku disana.” Ucap Hye Jin lagi. menjelaskan lagi, namun kali ini Kyuhyun malah menatap gadis tersebut Jengah.

“sudah tahu. tentu saja dia seniormu. Mana mungkin Junior mu? memangnya dia sebodoh apa?” tutur Kyuhyun ceplas-ceplos. Membuat Hye Jin melotot lebar kepadanya. Namun orang yang dipelototi, malah tidak perduli dan membuang wajahnya kearah lain.

Siwon tidak terlalu memerdulikan keadaan. Ia hanya tertawa ringan sambil mengangguk sesekali. Ditenggaknya hingga tandas air soda miliknya.

“kau kuliah ditempat ini juga?” tanya siwon kemudian.

“sudah lulus tiga tahun yang lalu.” Ujar Kyuhyun bernada bangga. “satu tahun sebelum waktunya jelas.” tambahnya. Seakan hal tersebut merupakan suatu kebanggaan yang tidak akan pernah lenyap walau ditelan waktu.

Hye Jin memutar bola matanya. Malas. Malas ketika Namja ini sudah mulai membanggakan dirinya lagi. sedangkan Siwon berdecak kagum. Sama sekali tidak memikirkan bahwa ucapan Kyuhyun hanyalah untuk membuatnya iri.

“hebat.” Pujinya.

“aku tahu.” Kyuhyun sumringah.

“kau tahu—aku selalu suka dengan Universitas ini. dulu aku pernah coba masuk kesini”

“lalu gagal?” Kyuhyun menyela. Lengkap dengan nada menjatuhkan yang lagi-lagi diabaikan oleh Pria tampan disana.

Siwon menggeleng. “keluargaku pindah.” Jawabnya dengan senyuman tipis, pada ujung bibirnya. “orang tuaku bercerai dan aku ikut tinggal bersama Ibuku.”

“di Amerika?”

“ne.”

Kyuhyun mengangguk lagi. dengan serius, mencerna setiap penjelasan yang Siwon jabarkan.

“aku sedikit kecewa dengan hal itu memang. karena sejak sekolah, aku selalu membayangkan menjadi salah satu dari Mahasiswa Kyunghee. Tapi rasa kecewa itu sedikit terobati ketika adikku bisa masuk kesana. Rasanya lega dan bangga.”

“adikmu?” kini Hye Jin yang bereaksi. Sejak tadi gadis ini hanya diam memperhatikan. Lalu terperangah saat Siwon mengatakan ‘adik’ karena namja tersebut tidak pernah sekalipun membahas apapun sebelumnya, yang berkaitan dengan kepemilikan saudara kepadanya.

Siwon tersenyum sambil mengangguk, “ne. aku belum mengatakannya?” ia terkejut sendiri.

Namun air wajah Hye Jin membuatnya yakin bahwa ia memang benar-benar melewatkan hal tersebut. “aku punya adik. dia kuliah disini juga.”

“benarkah?” Hye Jin menanggapi begitu semangat. Lain halnya dengan Kyuhyun yang hanya menampilkan wajah penasaran, namun dalam hatinya selalu mengutuk pembicara dihadapannya.

“ne. namanya Minwo. Mungkin kalian tidak  begitu mengenalnya. Dia tidak terlalu suka berkumpul seperti kalian, jadi yaa—“

“minwo?” sergah Kyuhyun dengan cepat.

Pikirannya yang tadi sempat melalang buana tak tentu, kini telah kembali. mengubah posisi duduknya, lebih dulu.

“Choi—Minwo?” ucapnya perlahan. Sangat perlahan. Lalu..

“Omona!! Benar! kau—? bagaimana kau tahu? kau mengenalnya?” Tukas Siwon seketika terkejut.

Senyuman tipis yang tadi menghiasi wajahnya, kini berangsur ganti menjadi senyuman lebar. Semakin mempercayai keagungan Tuhan atas dunia yang ternyata tidaklah begitu luas.

Kyuhyun mengangguk hati-hati, “aku kenal. Tentu saja aku mengenalnya” ujarnya dalam. Penuh penekanan pada setiap katanya.

Hye Jin yang semula menikmati pertemuan ini, kini malah duduk tegap dengan tubuh nyaris membatu. Nama Choi Minwo terus berputar dikepalanya.

Bukan nama yang asing. Bukan nama yang ia benci, tapi juga bukan nama yang ingin ia dengar.

__ __

Sungmin meletakan cangkir latte-nya seketika. cairan berwarna cokelat didalam mulutnya itu nyaris muncrat saat Kyuhyun mulai bicara tentang apa yang selama ini disimpannya sendiri.

“Jinjja? Kau tidak bercanda??”

“apa aku terlihat seperti sedang bercanda, Hyung?” toreh Kyuhyun kemudian. Memasang wajah datarnya saat Namja manis disana sedang berusaha mensejajarkan pikirannya lagi yang sedikit kacau.

“Choi Minwo?” ulangnya seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. “Choi Minwo yang selal—“

“ya, kau pikir memangnya siapa lagi Choi Minwo yang kumaksud, huh?” imbuh Kyuhyun mulai malas dengan reaksi Sungmin.

Terlalu berlebihan, walau sebenarnya, reaksi yang sama juga dikeluarkannya saat pertama kali tahu, bahawa Choi Minwo adalah adik dari Choi Siwon.

Bukan permasalahan tentang Choi Minwo adalah adik dari seorang Choi Siwon, kolega bisnisnya saja saat ini, melainkan, kenyataan bahwa saat ini, Choi Siwon sedang gencar mendekati Hye Jin.

Mungkin bukan saat ini saja, karena menilik fakta yang ada bahwa mereka sudah saling kenal sejak pertama kali Hye Jin menginjakan kaki di Negara pemilik Gedung putih itu, semakin membuat Kyuhyun Frustasi.

Kyuhyun mengangkat cangkir miliknya, dan meneguk perlahan Black Frapuchino didalamnya. dadanya semakin sesak saat memikirkan lagi kenyataan disekitarnya kali ini. masih berusaha menyangkal bahwa ini adalah kenyataan, saat keinginannya adalah sebaliknya.

“Minwo, dia itu adik tiri dari Namja itu!” jelasnya.

Kyuhyun tahu selama ini Minwo yang ia kenal memang seorang anak angkat pengusaha besar di Negara Gingseng itu. dia juga tahu bahwa Minwo memiliki seorang kakak, Karena memang itulah yang dirinya tahu. dulu pembahasan ini pernah dibicarakan bersama orangnya langsung dulu. dulu sekali.

Tapi pemikiran polosnya tidak akan pernah menyangka bahwa Siwon lah yang dimaksud. Dengan keberadaan menjadi partner dalam hubungan pekerjaan saja menurutnya sudah sedikit mengganggunya. Lalu saat ini, entah dosa apa yang ia miliki hingga membuatnya seperti ini.

“aku tidak pernah melihatnya” ujar Sungmin. “maksudku, kakaknya itu”

“memang tidak pernah. Choi Siwon pindah ke Amerika setelah perceraian orang tuanya. Saat itu mereka masih bersekolah. Mungkin masih diusia lima belas, atau enam belas?” Kyuhyun menggidikan bahunya acuh.

“lalu Hye Jin mengenal Siwon di Negara itu?”

Kyuhyun mengangguk, “ne. sejak awal keberadaan Hye Jin disana, dialah satu-satunya teman yang dimiliki. Selain Kibum, oppa-nya itu tentu saja.”

“jinjja?”

“begitu yang diceritakan.”

“kalau begitu mereka pasti sangat dekat.” Komentar Sungmin lagi, membuat satu alis Kyuhyun, terangkat begitu saja. menampilkan wajah horror.

“maksudku—kalau benar hanya dia satu-satunya teman Hye Jin disana. Bukankah itu berarti mereka banyak menghabiskan waktu bersama? Kalau begitu aku tidak salah dong kalau mengatakan mereka sangat dekat.” Tutur Sungmin kemudian.

Memperbaiki susunan kalimatnya yang hancur. Yang suksess membat Kyuhyun memunculkan aura mistisnya tiba-tiba.

Tanpa perlu penjelasan panjang Sungmin pun, Kyuhyun amat sangat paham dengan kenyataan tersebut. kenyataan bahawa Siwon dan Hye Jin sangatlah dekat benar-benar mengganggunya.

Ia sendiri sudah melihat bagaimana kedekatan itu beberapa hari yang lalu saat makan siang bersama.

“lalu…. apa yang akan kau lakukan?” Sungmin memecah keheningan. Kyuhyun terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. memikirkan tentang berbagai hal secara bersamaan, membuat kepalanya kini berdenyut kuat.

Kyuhyun mengerenyit, “apa yang akan aku lakukan?” ulangnya.

“iya, apa yang akan kau lakukan setelah ini? maksudku—tentang hal ini?”

Aku juga tidak tahu

“memangnya aku harus melakukan apa?” imbuh Kyuhyun acuh. “kalau mereka memang dekat, aku bisa apa?”

Sungmin Mendesis. “Ya~ Cho Kyuhyun!” ditatapnya wajah tampan disana Jengah. Masih saja keras kepala. Batin-nya kemudian.

“berhenti bersikap dingin seperti itu. aku tahu kau sedang panic. Kenapa tidak kau akui saja itu?”

Kyuhyun menyunggingkan senyum mencibir dari ujung bibirnya, “panic? Aku? untuk apa?” tandasnya kilat.

“tidak ada alasan bagiku untuk panic. Bukankah semuanya sudah berlalu? Hye Jin sendiri juga sudah memilih untuk  meninggalkanku. Lalu untuk apa aku menariknya kembali? memangnya tidak ada gadis yang lain? Dia sudah membuangku. Kalau aku mengejarnya lagi, bukankah terlihat seperti menjatuhkan diri saja aku ini? Aish!”

Sungmin menggelengkan kepala tidak tahu harus berbuat apa untuk mendinginkan kepala, dan mencairkan hati seorang Cho Kyuhyun. Rasa egoisnya terlalu besar. menutupi hati yang jelas masih menyimpan banyak harapan.

“lalu untuk apa kau mengatakan ini kepadaku?”

“aku kan hanya memberitahukanmu saja, Hyung. kupikir kau perlu tahu.”

“perlu tahu untuk apa? Tidak ada alasanku untuk perlu tahu dalam masalah ini. bukankah ini masalahmu?” balas Sungmin sinis. Namun sedetik kemudian, kesinisan itu kembali mencair dan menampilkan kekhawatiran lagi.

“ini masalahmu, tapi bukankah kau mengatakannya kepadaku karena kau ingin mendapatkan beberapa saran dariku? Kau sudah tidak bisa menyimpannya sendiri, karena itu kau membaginya denganku? eo?”

tidak ada yang salah dari perkataan Sungmin. kenyataan yang sesungguhnya, memanglah demikian. Namun lagi, Ego Kyuhyun kembali menutupi kebimbangan itu hingga membuatnya kembali masuk kedalam lingkaran buatannya sendiri.

Kyuhyun berdecak, “jangan berlebihan, Hyung.”

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun menggeleng acuh. Membuang wajahnya, memandangi sekitar. Pepohonan hijau dan rerumputan. Denyutan dikepalanya semakin mejadi. Beriringan dengan sesak didadanya.

Ingin berteriak, tapi pasti akan menjadi pusat perhatian. Ingin memukul sesuatu, tapi tidak tahu apa.

“kau pasti menyimpan batu dibahumu saat sadar bahwa Choi bersaudara suksess menyambar seluruh wanitamu. Hahaha!” kini Sungmin terbahak puas. baru menyadari hal tersebut saat nama Eun Hye tanpa sengaja melintasi otaknya.

Mengejek.

Kyuhyun tetap diam. Mencoba mengabaikan cibiran Sungmin walau pada kenyataannya, itu membuat hatinya kembali tergilas. Semakin mengumpulkan alasan mengapa ia harus membenci pria bermarga Choi tersebut.

__ __

Eun Soo mendesah berat.

Dipandanginya Gadis dengan rambut pendeknya—sebahu itu seakan tidak habis pikir. Mengenalnya sama dengan usianya saat ini pun masih belum membuatnya merasa sadar akan sifat keras kepala Hye Jin.

“kalau dia tidak juga mengajakjmu, kenapa tidak kau saja yang mengajaknya lebih dulu?” lontarnya kesal.

“apa aku harus bicara tentang pesta itu kalau dia saja sama sekali tidak membicarakannya?” kilah Hye Jin tidak terima. Kali ini akal sehatnya telah bekerja dengan semestinya, hingga memperingatkannya bahwa peraturan dasar dalam berkencan adalah dimulai dari seorang pria. Lalu seakan menerima kodratnya, para gadis hanyalah perlu ‘menunggu’.

Pembicaraan tentang Pesta Universitas ini kembali membuatnya sebal, lalu saat Eun Soo mengangkatnya, Lagi. Setelah sekian lama berusaha dialihkannya, ternyata tidak luput dari incaran Eun Soo tentang ‘siapa pasanganmu nanti’. Apa itu penting?

Kecemasan terjadi bukan karena mempertanyakan siapa pasangan gadis dihadapannya ini saja melainkan kenyataan bahwa bocah itu sama sekali belum melakukan sesuatu agar Kyuhyun bergerak dari tidur panjangnya.

“astaga, ini seperti bukan dirimu saja Han Hye Jin! ada apa denganmu, hah? kenapa harus menunggunya bicara lebih dulu? kenapa tidak kau saja yang memulainya lebih dulu?” toreh Eun Soo lebih kesal. Seluruh kekesalannya itu naik, dan menghimpit jalur pernapasannya hingga wajah cantiknya kini memerah seperti udang rebus.

Diletakannya pulpen yang sejak tadi digunakan untuk menulis berbagai hal pada tumpukan lembarannya. Memandangi Eun Soo seakan ingin menelannya hidup-hidup. “kau ini bicara seperti aku adalah kunci dari semua permasalahan ini. kenapa tidak kau berusaha mengerti saja kalau ini bukanlah keinginanku? Kau saja yang terlalu berharap semuanya akan kembali seperti ‘semula’. Itu tidak mungkin Eun Soo. Lupakan saja.”

Kaki Jenjang itu lalu bangkit. Disambarnya tas dan ponsel yang tergeletak disampingnya, “aku kesini bukan untuk membicarakan ini lagi, kau tahu? aku bosan dengan pembahsaan yang sama.” Dengusnya. “well, terimakasih untuk ketenangan sesaat yang kau berikan paling tidak.”

Dengan cepat dan tanpa memerdulikan Eun Soo, Hye Jin melengos begitu saja.

“Cih! dia itu kenapa?” tukas Eun Soo setelah punggung itu menghilang dari pandangannya sempurna.

Pandangannya lalu beralih pada sebuah gundukan kertas yang tergeletak disampingnya. “y—ya! kau melupakan bukumu, bodoh!” teriak Eun Soo.

Tidak mendapatkan jawaban apapun tentu saja karena tersangka utama baru saja meloloskan dirinya dengan sebuah taxi.

*

“kenapa aku? apa urusannya denganku?” Kyuhyun mendengus sebal saat Sungmin menyerahkan benda yang sejak kemarin disimpannya.

Sebuah buku tebal bertuliskan nama tak asing disana membuat Kyuhyun nyaris bergidik lagi. “jangan aku Hyung!” torehnya lagi. lebih terdengar seperti memohon dari pada tolakan.

Sungmin Mendengus. Bertolak pinggang, “ya— sekarang apalagi?” tukasnya Jengah. Seperti sudah sangat hafal dengan kejadian seperti ini. terlalu biasa hingga sangat hafal dengan reaksi penolakan sejenis.

“kubilang kan bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin. Tck, kau ini kenapa?”

“kenapa kau yang bertanya, seharusnya aku yang tanya. Ada apa denganmu?”

Kyuhyun mendelik cepat. Mengeluarkan reaksi atas kalimat yang menyudutkannya saat ini, “kenapa selalu aku sih? Jangan tanya ada apa denganku, tanyakan pada gadis itu, ada apa dengannya? Kenapa harus selalu aku? Cih!” Ungkap Kyuhyun seperti petasan.

Akhirnya mengatakan sesuatu sebagai alasan dari penolakannya sejak tadi. Sungmin menghela nafas panjang dan memejamkan matanya sejenak.

Sedangkan Kyuhyun sendiri sibuk mengutuki dirinya sendiri, seakan baru saja melakukan dosa besar karena membeberkan pengakuan menyesakannya.

Sudah hampir satu minggu ini ia tampak gerah dengan sikap gadis bermarga Han tersebut. tidak mengetahui dengan apa yang terjadi sebenarnya, Hye Jin tampak menjauh. Dan semakin menjauh dengan berjalannya waktu, saat Kyuhyun pun telah mereasa lelah untuk mencari tahu kebenaran dibaliknya.

Empat hari yang lalu saat ia menemani Hyun Gi mengantarkan Heebum kerumah sakit untuk melakukan vaksinasi rutin, bukan Hye Jin yang ditemuinya, melainkan seorang dokter pengganti.

Setelahnya, Kyuhyun menghubungi Hye Jin untuk sekedar mengajak gadis tersebut makan siang bersama, namun sambungan telponnya, hanya dijawab oleh mesin menjawab otomatis. Dua kali ia melakukan hal yang sama. Dua kali juga dirinya mendapatkan jawaban yang sama.

Beberapa hari setelahnya, tanpa sengaja mereka bertemu disebuah mini market. Padahal sudah jelas-jelas mereka saling bertemu pandang, namun itu malah seperti membuat gadis bertubuh tinggi itu ketakukan lantas lenyap. Melesat sangat cepat hingga membuat Kyuhyun kewalahan sendiri.

Dan terakhir kali, baru saja kemarin siang Kyuhyun berpapasan dengan gadis tersebut dilahan parkir bawah tanah. Jangan tanya bagaimana kelanjutannya karena kali ini semakin membuat emosi pada diri Namja berkulit putih itu membuncah.

Hye Jin sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya, padahal saat itu Kyuhyun sudah nyaris berdiri dihadapannya.

Ada apa sebenarnya? Pertanyaan yang sama pun kini berputar-putar dikepala Kyuhyun.

“kukira, terakhir kali, kau bilang hubungan kalian membaik”

“Eish~ sudahlah. Berhenti membahas masalah ini. aku sudah muak.” Kyuhyun mendengus, sambil membuang wajahnya malas.

Dipandanginya Guci keramik antic, yang terpajang disudut paling kiri ruangannya. rasa ingin menghancurkannya timbul, seiring dengan emosi yang membuncah.

“pasti ada alasan rasional dibalik semua ini.” gumam Sungmin yakin pada dirinya sendiri. Secercah cahaya terang tiba-tiba menghiasi pandangannya,

“kau sudah makan siang?”

Kyuhyun menggeleng, “ani.”

__ __

Senyuman lebar kini menghiasi wajah Lee Sungmin. ditandaskannya air mineral miliknya cepat-cepat. Membuat pelayan disana, langsung menumpahkan kembali air yang sama pada wadah yang sama.

Setelah berterima kasih, sungmin mempersilahkan waiters muda itu untuk hengkang dari wilayahnya. “jadi… apa yang kau lakukan saat ini? aku sudah lama tidak melihatmu lagi. wae? Memangnya kau tidak merindukanku?” goda Sungmin pada gadis dihadapannya.

Menimbulkan sebutir desisan sinis yang terlontar begitu saja dari bibir tebal pria disampingnya.

Hye Jin—merunduk, menyimpan senyumannya. Entah sejak kapan gadis ceria ini berubah menjadi Han Hye Jin si pemalu? Sungmin sendiri menyadari perubahan tersebut. sedikit paham dengan kesulitan yang sedang Kyuhyun hadapi saat ini.

“mianhae, oppa. kau tahu akhir-akhir ini aku sibuk dengan Skrip—“

“arra-arra. Aku paham Dokter, Han.” Sungmin kembali melancarkan godaannya, membuat suasana lebih mecair.

Suasana disana memang mencair, tapi tidak pada hati kedua makhluk disana. Kyuhyun mencoba terlihat sibuk dan tidak perduli menggunakan cangkir Latte-nya. sedangkan Hye Jin bersusah payah menutupi rasa kikuknya dengan melontarkan berbagai senyuman kaku.

“kalau saja aku bisa membantumu. Tck, sayang sekali. Tapi aku tidak mengeri dengan hal-hal berbau medis” toreh Sungmin. dengan pandangan bersahabatnya, mencoba mengutarakan ata maafnya, tulus.

“tapi Kyuhyun pasti tahu sedikit-banyak. Iyakan, Kyu?” Sungmin mencolek lengan Kyuhyun. menyadarkan pria tersebut dari aktifitas ‘ajaib’nya bersama sendok kopi disana.

“bukankah Ji Yong Hyung berprofesi sebagai dokter juga?”

“n..ne?” matanya sibuk kesana-kemari. Sedetik kemudian baru seluruh nyawanya ‘kembali’ “ah, ne! tapi— Ji Yong Hyung itukan dokter manusia. Bukan Hewan” jelas Kyuhyun kemudian.

Hye Jin memicingkan matanya, lalu mendekatkan tubuhnya lebih rapat pada meja, “Ji Yong Hyung?” tanyanya cepat.

Merasa asing dengan pembicaraan mereka saat ini. tentu saja, “dia kakak iparku.” Tukas Kyuhyun meluruskan perbincangan.

“oh.” Hye Jin mengangguk sekali, lalu kembali diam. Mengalihkan pandangannya lagi pada Sungmin saat matanya tanpa sengaja bersiborok dengan mata cokelat Kyuhyun.

Sebuah penolakan nyata yang kembali membuat Pria bertubuh tinggi tersebut geram.

“Ah! Aku lupa.tentu saja kau tidak mengenalnya, kau tidak ada saat pernikahan Ahra. Mungkin suatu saat kau harus mengenalkannya, Kyuhyun-ah. Dan Kau harus bermain kerumah Kyuhyun sesekali, Hye Jin. kau tahu, tempat itu terlihat semakin menyeramkan karena terlalu sepi. sepertinya kita memang harus mengotorinya lagi seperti kebiasaan kita dulu!”

Mata besar Kyuhyun mengerjap beratus-ratus kali pada Pria bermarga Lee disampingnya. seakan bertanya, ‘apa yang sedang kau bicarakan?’ namun pria yang ditatap malah hanya melontarkan senyuman Khasnya.

“aku kadang kasihan pada Hyun Gi, selalu berada ditempat penitipan anak karena kesibukan seluruh penghuni rumah itu.”

Kyuhyun bertopang dagu, menoleh lagi pada Sungmin, “apa itu berarti kau mau menggantikan jasa penitipan anak tempatnya biasa menunggu Noona pulang kerja itu denganmu, Hyung?”

“sesekali mungkin tidak masalah. Lagipula aku harus belajar bagaimana cara mengurus anak dengan baik kan?”

Seperti mengerti akan pandangan Hye Jin dan Kyuhyun, Sungmin berdecak malas, “aku kan juga akan menikah suatu saat nanti. Apa kau kira menjadi seorang ayah akan semudah itu?”

Keheningan terjadi saat ketiga manusia itu sibuk dengan makan siangnya. Hanya suara sendok-garpu yang beradu dengan perlengkapan makan keramik disana, sampai Sungmin berdehem, membersihkan tenggorokannya.

“Kyuhyun-ah, kau bilang ada yang ingin kau berikan pada Hye Jin tadi? apa itu?”

Kyuhyun menghentikan kunyahannya, lalu menatap Sungmin polos. Wajahnya bukan terlihat seperti terkejut. Melainkan bodoh.

Dan seperti tidak bisa membaca arah mata Sungmin yang sebenarnya sejak tadi sudah memberikan berbagai ‘clue’ baginya, Kyuhyun masih tersikap diam. Tidak mengerti.

Sedetik kemudian, Sambil mendesah panjang, sungmin meletakan sebuah buku tebal diatas meja. “kyuhyun ingin memberikan ini tadi. tapi dia terlalu malu untuk melakukannya sendiri, jadi dia mengajakku untuk ikut sekarang. sebenarnya aku juga tidak mau. setelah ini, aku ada rapat penting dikantorku. Cih, bocah ini benar-benar merepotkan sekali” desis nya lengkap dengan gelengan kepala yang membuat kejadiaan saat ini terasa lebih dramatis.

“mwo?” Kyuhyun langsung terlonjak.

Hye Jin mendelik terkejut, namun sesaat kemudian tangannya meraih buku tersebut. dan tanpa memerdulikan dua pasang mata yang sedang memerhatikannya seksama, Hye Jin memeluk  buku tersebut erat.

“aku kira sudah tidak ada harapan lagi. aku kira ini sudah hilang” ujarnya nyaris menangis karena terlalu bagahia.

“memangnya itu apa?” sungmin masih sedikit terperangah melihat keadaan Hye Jin. seperti baru mendapatkan bongkahan emas saja.

“Hipotesis untuk skripsi.” Jawab Kyuhyun cepat dan acuh. Tangannya sibuk mengaduk pasta dipiringnya. “kalau aku tidak salah.” Imbuhnya lagi.

Hye Jin mengangguk cepat. “iya, benar. kau benar. bagaimana kau bisa tahu?”

Kyuhyun menggerakan bahunya yang sejak tadi  meneggang, “pernah melihat tulisan semacam itu juga sebelumnya.”

“lalu.. bagaimana ini bisa ada bersamamu?”

“Ne?”

“ini.. bagaimana bisa ini ada bersamamu?” Hye Jin menunjuk-nunjuk buku tebalnya lagi.

Kyuhyun sempat terbata pada awalnya. Menoleh pada sungmin mencari bala bantuan, namun sepertinya Pria tersebut terlalu acuh untuk ikut menanggapi percakapan mereka berdua.

“itu—aku..” Kyuhyun meneguk ludahnya. Bingung. “kau meninggalkannya dimobilku!” torehnya kemudian. Akhirnya. Satu alasan tepat, menyelamatkan nyawanya.

Kerutan tipis itu jelas tergambar nyata pada kening Hye Jin, “benarkah?”

“Eish, apa selama ini tidak ada peningkatan untuk sel-sel daya ingatmu itu? kenapa masih terlihat sangat jongkok? Sampai kapan kau akan terus menjadi Yeoja pelupa seperti ini? usiamu bahkan belum separuh abad, tapi kau sudah bertingkah seperti nenek-nenek!” Cibir Kyuhyun berentetan.

Kalau saja tidak sedang mencoba membuat kedua insan ini bicara, pasti Sungmin sudah mengeluarkan berbagai umpatannya bagi Kyuhyun yang seperti kesetanan mencela gadis didepannya ini.

Namun saat ini, senyuman puas terlukis diwajahnya saat Kyuhyun mulai membuka mulutnya dengan lebar. Akhirnya!

Hye Jin menggeram, “Ya! kalau begitu ini sudah sangat lama kau simpan! Kenapa tidak cepat kau berikan kepadaku? kau tidak tahu aku hampir mati mencari buku ini!”

“kau—ish! Yaaa!! kau sendiri yang membuatku kesulitan memberikannya! Bagaimana bisa aku memberikan itu kalau kau selalu menjauh? Berapa kali kau menolak ajakanku keluar? Berapa kali kau menabaikan panggilanku? Kau seperti kesetanan saat melihatku, memangnya aku ini apa? Kau kira aku akan melakukan apa? Jangan berfikir terlalu jauh! Sadar bodoh!”

Kyuhyun mengatur nafasnya. Ia terengah-engah  sendiri setelah mengeluarkan keresahannya. Rasa puas kini perlahan merayapi hatinya.

“itu—ngg…” tangan Hye Jin dengan sendirinya terarah menggosok tengkuknya, risih saat dua pasang mata memandanginya penuh tuntutan.

19 thoughts on “I Wanna Love You [ Part 4 ]

  1. Kyuhyun nya parah yaa. Udah suka aja maih begitu ngomongnya ke Hye Jin. Belum tahu rasa aja dia. Daebak thor!! Bikin kyuhyun nya menderita dulu thor! Hahaha *digampar sparkyu*

  2. Demi Hyejin, Kyuhyun rela kabur kerja. Pasti agak gimana gitu ya kalo ngobrol sama mantan pacar yang dulu buat ngelepasnya aja susah banget. Kyuhyun emang harus berusaha, nggak adil kalo cuma Hyejin yg berusaha bertaun taun lalu. Jgn biarin direbut Siwon ya sayang 😉

  3. Huaaahhhahahahaha gila itu endingx bikin ngakak, nunggu di pancing dulu baru keluar semua unek2x kyu wkwkwwkwkwkkwwk menderita ya lo kyu~-,-

  4. dunia terasa sempit hahahah choi bersaudara… asal kyu gak inget masa lalu aja(?)tp kayaknya sih nggak. tp malah hyejin yg jd aneh(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s