Missing [ Part 4 ]


Image

Author: GSD.

Title: Missing. [4]

Cast: Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Park Songjin, Lee Donghae, Lee Gyuwon.

Rating: PG 13.

Length: Chaptered.

Genre: Romance, Tragedy, Family.

“aku penasaran, kira-kira bagaimana rasanya menjadi sesuatu yang selalu kau pikirkan? Bersarang didalam tubuhmu, dan menjadi topic terhangatmu, ketika kau bahkan tak pernah menginginkannya?”

 

“Menangislah untuk hal-hal yang dirasa penting saja, atau pada hal yang menguatkanmu. Jangan terlalu sering dipakai, karena tidak ada air mata isi ulang!”

 

Choi Siwon’s side

“Mwoya? Gagal Ginjal?” pekikku terkejut. Maksudku—benar-benar terkejut. Atau mungkin sedikit panic.

Atau mungkin banyak.

Entahlah.

“bagaimana bisa?” tanyaku pada akhirnya. Selepas keterkejutanku lenyap, namun tidak dengan kepanikanku. Apa Gyuwon akan baik-baik saja?

Kyuhyun menggeleng. “menurut dokternya semalam. Gyuwon sudah terkena penyakit ini sejak lama. tapi dia tidak terlalu memerdulikannya. Mungkin.” Kyuhyun menekankan kata terakhirnya.

Aku kemudian berfikir lagi, “apa mungkin karena kondisi financial-nya yang buruk?” tebakku.

Kyuhyun meggerakan alisnya dengan cepat. Pertanda sama bimbangnya denganku. membuatu semakin putus asa. Lalu bagaimana ini?

“memangnya kau tidak tahu apa? Kau kan atasannya, yang selalu bersama dengannya?” tikam Kyuhyun padaku. Menyalahkanku? enak saja!

“ya~ mana kutahu kalau dia terkena Gagal Ginjal. Dia tidak mengatakannya apapun kepadaku.”

“tentu saja dia tidak akan mengatakannya. Kau kan tahu bagaimana Gyuwon itu. lagi pula dia tinggal bersamamu. Kenapa kau begitu bodoh tidak menyadari hal itu?”

“Aish, kubilang aku tidak tahu! dan lagi dia tidak pernah menunjukannya. Seperti wajah-wajah kesakitan atau apa.. mana kutahu? Aku tidak mempunyai kekuatan super untuk membaca isi hati orang!” dengusku sebal. Enak saja. kenapa jadi aku yang salah begini?

“….lalu bagaimana?” tanyaku lagi.

Kyuhyun menggidikan bahunya, “dia butuh Donor Ginjal.”

“mwo? Donor?”

“ya. dan kau tahu tidak mudah untuk mendapatkan Donor yang tepat.”

“kalau tidak dapat?”

Kyuhyun diam. Menggeleng dan meneguk espresso nya lebih dulu, “kemungkinan terburuk.” Ujarnya pelan.

Mati? maksudnya?

Ditengah kekacauan pikiranku, ponselku kembali berdering. Lagi dan lagi. begini hasilnya kalau asisten menghilang. Aku kembali repot! Ah, kuharap Gyuwon bisa cepat pulih. Aku tidak bisa kerepotan seperti ini terus.

“Kyuhyun-ah… ponselmu mati?” tanyaku setelah membaca pesan singkat dari Songjin padaku.

Kyuhyun menggeleng, “tidak.” ucapnya. Namun tangannya sibuk merogoh sakunya, dan meringis setelah ponsel tipisnya keluar, “sepertinya iya. Hehe—“ ia terkekeh tanpa rasa bersalah.

“kenapa?”

“Songjin.” Kataku singkat sambil mulai membalas pesan singkat untuk gadis cerewet itu.

“kenapa dia?”

“hanya ingin memberitahukanmu, sepertinya malam ini dia akan pulang larut.”

“lagi?” Kyuhyun tersengal. Melotot padaku. “lagi?” aku ikut mengulangi ucapannya.

Kyuhyun mendengus, “dia sudah terlalu sering pulang larut. Kemarin-kemarin juga dia pulang larut. Dia itu kenapa sih?” Kyuhyun menggeram. Sepertinya sedikit marah.

“ya~ jangan berlebihan. Dia hanya mengerjakan tugasnya bersama teman.”

“….kau percaya?” tanya Kyuhyun sarkatis. Aku diam sejenak. Lalu menggeleng dan terkekeh, “tidak.” Songjin menerjakan tugas? Aku lebih percaya kalau dia sedang menggosip tentang Sepatu terbaru keluaran Prada, atau tas limited Edition milik Gucci.

“kalau begitu ingatkan saja.” ujarku.

“diingatkan bagaimana? Dia itu bukan bocah lagi. harusnya dia tahu tanggung jawabnya. Apa yang harus dilakukan dan tidak. aku tidak perlu mendikte nya setiap detik. lagipula, dia itu kan cerdas, hanya kadang—otakknya memang suka tergelincir dan hilang.” Kyuhyun bersedekap. Wakahnya ditekuk.

Lucu rasanya melihat Kyuhyun bercakap panjang tentang Songjin sekarang-sekarang ini. bukannya dulu dia tidak pernah melakukan hal seperti ini. sebelum mereka menikah juga kami sering membicarakan gadis bola bekel itu. tapi rasanya sedikit berbeda setelah Kyuhyun akhirnya menikah dengan Songjin.

Dan aku seperti merasa kehilangan sesuatu, yang aku sendiri tidak tahu apa. Rasanya kosong. seperti ada yang hilang, dan aku tidak tahu harus menggantinya dengan apa.

Baru aku sadar bahwa kekosongan itu adalah posisi Songjin yang dulu selalu menjadi satu-satunya milikku. Maksudku—kami. Dulu selalu melakukan banyak hal. Banyak-banyak hal bersama.

Bukan berarti sekarang kami sudah tidak pernah melakukan hal Asyik bersama lagi. tapi rasanya dengan Statusnya yang kini telah menyandang sebagai Nyonya ‘Cho’ rasanya sedikit berbeda tentu saja.

“kau itukan suaminya. Kaulah orang utama yang memiliki kewajiban mengingatkan istrimu. Mana yang baik dan mana yang benar? mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.” aku memberikan penjelasan. Tapi Kyuhyun malah menatapku datar. Seakan mencibirku.

“bisa tidak kalau kau membuang embel-embel suami dan istri itu? telingaku rasanya gatal mendengarnya.” Protesnya. Aku terkekeh, namun lalu menggelng.

“tidak. karena kau memang suaminya dan dia istrimu. Sekarang.”

“Hyung!”

“tapi memang benar!” tuntutku. Dan Kyuhyun melancarkan aksi tatap menatap tajam kebiasaannya saat ia sudah terlampau kesal, tapi tidak bisa melakukan apapun lagi.

“kalau tidak, ingatkan dia dengan posisimu sebagai sahabat. Kalian memang berteman kan sebelum ini? ayolah~ ini bukan lah yang rumit.” Tambahku. Menepuk lengannya yang tidak lebih berotot dari lenganku ini.

Kyuhyun mendesah. Menjauh dari meja dan menyandarkan punggungnya pada tulang kursi. Wajahnya menoleh pada sisi kanannya, tembok kaca bening yang menampilkan bangunan-bangunan pencakar langit dengan sangat jelas.

“aku tidak tahu. kupikir, ada yang berbeda dengan Songjin.” Tukasnya pelan.

“apa?” tanyaku. Tapi kyuhyun menggeleng dengan cepat berkali-kali “aku tidak tahu.” ungkapnya.

“kalau begitu cari tahu!”

“kau tahu sendiri bagaimana Songjin itu. tidak akan mudah!” Kyuhyun bicara ngotot. “dia benar-benar berbeda. Aku tidak tahu tapi—berbeda!”

“mungkin terjadi sesuatu dengan kalian?” aku menyimpulkan asal.

Kyuhyun menggeleng lagi, “kami baik-baik saja, Hyung.”

“mungkin itu hanya perasaanmu saja. mungkin tidak dengan Songjin. Atau mungkin, bukan dia yang berbeda. Tapi kau. kau hanya tidak sadar dan melimpahkan semuanya pada Songjin?” kataku mengutarakan semua kesimpulan-kesimpulan sederhana yang berhasil kukumpulkan.

“benarkah?”

Kugerakan bahuku asal, “mungkin.” Timpalku kemudian.

Cho Songjin’s side

Lee Donghae, dokter tampan itu tertawa terbahak-bahak tanpa henti sambil memegangi peurtnya. Sepertinya kalau tawanya tidak berhenti, dia akan terkena pernyakit gagap rahang yang menyerang orang-orang setelah mereka tertawa tanpa henti.

Tahu bagaimana? Rahang terasa sakit dan mulai tidak bisa terkatup lalu mulutmu akan termuka terus. Mungkin kalau tidak beruntung akan terjadi selamanya.

Aku tidak pernah percaya dengan Teori Kyuhyun  yang satu itu. tapi sekarang aku mulai sedikit percaya saat aku juga merasa kalau aku akan terserang penyakit mematikan itu. bahaya!

“memangnya ada apa? kenapa dengan tidak bisa berenang? Hah? ” tukasku sewot kemudian.

“ayolah, berenang itukan mudah. kenapa kau sampai tidak bisa?”

“ya karena tidak bisa saja, memangnya harus ada alasan signifikan kenapa aku tidak bisa berenang?”

“tidak. tapi itu jelas terdengar bodoh. Kenapa kau berkata air tidak mau membuat mu mengambang? Bagaimana bisa? Jangan katakan itu pada orang lain lagi, kau bisa ditertawai nanti!” pesannya dengan telunjuk diangkat-angkat seperti saat appa sedang mengomeliku ketika nilaiku anjlok semua.

“Cih! terlambat! Aku sudah mengumumkan hal itu pada semua orang.” Decakku kemudian. Donghae Oppa tertawa lagi. lebih keras. ya.. berbahagialah diatas penderitaanku. Untung saja dia tampan. aku jadi tidak tega mencakar-cakar wajah nya yang a@$#%h^%#zfdasfda itu.

“sudah malam.” ucap Donghae Oppa setelah melihat jam tangannya.

“orang gila saja yang akan bilang ini siang hari.” Balasku sarkatis. Langit saja sudah terlalu gelap begini. Nenek-nenek rabun juga akan tahu kalau ini sudah malam.

“apa tidak sebaiknya kita pulang saja? maksudku—ini sudah sangat malam.”

“apa kau sudah mengantuk?”

“bersamamu? Tidak.” tolaknya begitu cepat sambil menggerakan dua tangannya berlawanan arah. “aku malah ingin sampai pagi lagi saja begini terus. Hahaha. Tapi kan tidak bisa.”

Ah, pria ini harusnya dia berhenti bersikap manis. Jantungku sudah kembang kempis lagi dibuatnya. Apa wajahku sudah memerah? Aku tidak tahu karena yang kurasakan wakahku memanas.

Aku menggumam pelan, malas. Aku belum ingin pulang kerumah. Aku juga masih ingin menghabiskan waktuku disini dengannya. Tapi dia benar. ini sudah malam, “oke.” Putusku akhirnya.

***

Mobil Donghae Oppa berhenti halus didepan pelataran rumahku. Mobilnya memang tidak semewah milik Kyuhyun atau Siwon Oppa. tapi rasa ketika mengendarai bersama dengannya, tidak akan bisa tergantikan oleh kesenangan saat menaiki Audi Siwon Oppa, atau Ferrari milik Kyuhyun.

Donghae Oppa sempat tercengang memandangi rumahku. Mulutnya melongo terbuka membuatku terkekeh sendiri, seperti itu saja dia masih terlihat sangat sangat sangat sangat sangat tampan.

“apa… orang tuamu itu Presiden?” celetuknya asal. Aku tertawa geli dan menggeleng. “atau menteri?” aku menggeleng lagi.

“atau….bandar narkoba sedunia?”

“Yaaaa!” potongku langsung. dasar gila!

“habis rumahmu besar sekali. Ada berapa banyak kamar didalam sana?” ia menggumam.

“memangnya itu penting?” tukasku sambil melepas sabuk pengamanku, dan menyambar Prada Bag ku yang kuletakan dijok belakang.

“itu siapa?”

“eh?” aku langsung menoleh dan terkejut dengan penampakan sosok Kyuhyun yang sudah berdiri tegap didepan pintu sambil melipat dua tangannya didada.

Tiba-tiba saja aku gugup. Ah, bukan. rasa takut lebih menjalar sekarang.

“itu….” aku menelan ludahku dan mengumpulkan seluruh rambutku untuk ku kuncir kuda. “kakakku.” Jawabku bohong. Akhirnya.

Karena aku tidak tahu kenapa, aku tidak ingin Donghae Oppa tahu kalau Kyuhyun itu… suamiku.

“kakakmu?” pria tampan disampingku ini terlihat sedikit terkejut. Namun lalu ia menggumam bebas, “mirip sih.”

“memangnya iya?” dengusku sebal. Disama-samakan dengan raja setan begitu, siapa yang mau? Cih!

“iya. Sedikit.” Ujarnya merapatkan ibu jari dan telunjuknya. Menunjukan bagaimana kemiripan itu ada namun benar-benar sedikit. Yayaya terserah dia sajalah akan bicara apa.

“Gomawo,Oppa.” seruku riang. Dan tidak lupa untuk tersenyum.

“aku yang harusnya bilang terimakasih. Kau sudah mau menemaniku sampai pagi begini. Aku benar-benar bukan pria yang  baik, membawa pulang gadis cantik pagi buta.” Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali.

Aku terkekeh, “kalau begitu, besok lagi jangan kembalikan aku pagi buta seperti ini. siang saja, eotte?” aku menggoda. Ia tersenyum dan mengacak rambutku.

DEG!

Aku merasa dunia berhenti berputar. Lalu kekehan Donghae Oppa membuatku kembali tersadar bahwa waktu tidak benar-benar berhenti. Hanya aku yang merasa terlalu….senang?

Entahlah.

Rasanya malas untuk beranjak pergi dari bangku penumpang tempat ku duduk sejak tadi, tapi harus.. yah mau bagaimana lagi?

Tanganku melambai berkali-kali. Dan aku terus berdiri dipinggir jalan sampai sedan Hitam itu menghilang dari padangan mataku. Baru setelahnya, aku melangkah masuk kedalam.

Kukira tadinya Kyuhyun sudah pergi, tapi ternyata dia masih berdiri diambang pintu. Wajahnya itu apa tidak bisa distel lebih menyenangkan? Setidaknya untuk menyambutku? Cih!

“kukira sudah tidur?” tanyaku berbasa-basi saat melewatinya. Setelah masuk, kuhempaskan tubuhku disofa.

Baru terasa lelahnya setelah seharian memutari kota Seoul bersama Donghae Oppa tadi.

“kalau aku sudah tidur. Lalu yang disini siapa?”

“setan?” jawabku acuh, sambil melepaskan Heels hasil kerja Brand favoritku. Jimy Choo.

Kyuhyun mendengus, lalu ikut menghempaskan tubuhnya disampingku hingga sofa bergetar. Seperti gajah yang melompat masuk kedalam sungai. Sedikit berlebihan memang, dasar!

“kemana saja?”

Aku tidak tahu kalau dia akan bertanya. Karena sebelumnya dia juga tidak pernah perduli. lalu kenapa sekarang perduli?

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku bersama dengannya, aku malah ingin Kyuhyun untuk tidak memerdulikan apa yang sedang kulakukan atau apa yang akan kulakukan.

Berbanding terbalik dengan apa yang sebelumnya kuharapkan. Saat ia sedang terlalu sibuk mengurusi dirinya sendiri dan pekerjaan.

“bermain. mengerjakan tugas. Kuliah.” Jawabku seadanya.

Desisan sinis kudengar melintasi telingaku, “mengerjakan tugas? Tugas macam apa?”

“tugas… ya tugas-tugasku. Tugas macam apa? Kau kan tahu tugas macam apa yang sering kukerjakan.”

“tidak. aku tidak tahu.” tukasnya cepat. Kini aku yang mendesis.

“oh ya, aku lupa. Kau kan sibuk. Mana tahu dengan hal sepele begitu.” awalnya aku hanya ingin bercanda.untuk mencairkan suasana, Tapi tidak tahu kenapa malah terucap dengan nada sinis.

“apa sekarang kau juga pindah jurusan?” tanya Kyuhyun membuatku tidak mengerti, “menjadi kedokteran?”

“mwo? Kedokteran?” aku terpaku. Dia ini menyindirku ya? sudah tahu otakku tidak akan sampai untuk kuliah kedokteran. Mau cari ribut?

“kalau begitu kenapa kau bisa bersama dengan dokter itu? apa sekarang dia menjadi mentor mu?” tanyanya yang kudengar bernada menyindir. Dia ini kenapa sih? Kenapa jadi menyebalkan begini? Mood nya pasti sedang kacau. Apa urusan pekerjaan lagi?

“Tck, Itu Donghae Oppa. dokt—“

“ya, aku tahu itu Lee Donghae. Dia dokter Gyuwon kemarin.”

Gyuwon? Gyuwon lagi? kenapa semua tentangku harus dipertemukan dengan nama Gyuwon? Aku benci!

“ya. dia mentorku. Paling tidak dia bisa mengajariku banyak hal, dan membantuku menyelesaikan tugas-tugas kuliahku yang menumpuk. Dan paling tidak dia bisa bersenang-senang bersamaku disela kesibukannya.” Terangku kesal. Berentetan tanpa jeda.

Tidak tahu kenapa aku jadi sangat kesal. Benar-benar kesal.

Harusnya kutambahkan lagi disana. Paling tidak donghae oppa bisa bersenang-senang bersamaku disela kesibukannya, dan tidak pernah melupakan janjinya padaku sedikitpun. Tidak pernah menyinggungku dan selalu bersikap menyenangkan. Tidak sepertimu!

Ah tapi aku terlalu lelah untuk perdebatan. Tubuhku rasanya remuk. Kutinggalkan saja Kyuhyun sendiri dan langsung melesat kekamar.

Dari aura gelapnya, aku bisa merasakan bahwa Kyuhyun sedang membuntutiku. Dibelakang sana. Tidak tahu sedang melakukan apa. Dia duduk dipinggi ranjang,masih memperhatikan kemana aku pergi. matanya terlalu jeli.

Aku berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk mengganti bajuku, dan kembali dengan Kyuhyun yang masih duduk diposisi yang sama.

“Songjin…” ia memecah keheningan.

“ya?” aku meliriknya dari cermin sambil tanganku sibuk membersihkan wajahku dengan pelembab.

“kenapa akhir-akhir ini kau selalu pulang larut?”

“karena….” Bosan selalu dirumah sendiri. karena kau tidak pernah ada untukku lagi. karena kita sudah tidak pernah menghabiskan waktu untuk bertanding game console lagi. karena kau terlalu sibuk! “karena aku ingin.” jawabku singkat.

“itu bukan alasan. Dewasalah sedikit—kau tahu itu tidak baik. Sekali dua kali. Ya, itu tidak masalah. Tapi kau melakukannya hampir setiap hari.”

“baru hampir kan?” candaku. Tapi sepertinya suasana hatinya sedang benar-benar kacau. Biasanya dia akan menyembunyikan senyumnya setelah sempilan kalimatku. Tapi sekarang dia malah semakin menapilkan wajah angkernya. Membuatku bungkam.

“aku tidak suka dengan kebiasaan barumu itu. apa kata orang nanti? Itu tidak baik—kau tahu?”

Kata orang? Ya tuhan. hatiku sudah melambung tinggi karena kupikir dia mengkhawatirkanku. Tapi ternyata yang dikhawatirkan hanya apa kata orang nanti?

Dia lebih takut dengan presepsi orang mengenaiku yang sering pulang larut, dibandingkan keselematanku yang  bisa saja, terjadi sesuatu dijalan denganku sewaktu-waktu? Cho Kyuhyun! kau benar-benar—!!

“aku tahu.”

“bagus kalau kau tahu. jangan diulangi.”

Aku memutar mataku jengah mendengar ucapannya. Kenapa dia semakin terdengar seperti Appa sih?

“kubilang jangan diulangi. Kau dengar tidak?” tiba-tiba Kyuhyun bicara—menaikan nadanya menjadi sangat tinggi.

“iya. Iya. Aku tahu.” aku mendengus sebal. Aku ingin menangis. bukan karena sedih tapi kesal.

Wajahku sudah memanas. Aku benci dengan kebiasaan burukku yang pasti selalu menangis jika sedang kesal.

Sedih, menangis. marah, menangis. kesal, menangis. bahagia pun menangis. mudah sekalu aku ini menangis.

Aku menghempaskan tubuhku pada ranjang empukku. Akhirnya. Dan menarik selimut hingga sedagu. Memunggungi kyuhyun yang disampingku, masih berkutat dengan laptopnya. Lagi.

“apa kau tidak bisa tidur saja? kau sudah seharian bekerja apa waktu bekerjamu dikantor juga masih kurang?” protesku. Bukan apa-apa. Aku hanya kesal dengan suara tuts keyboard yang menggangguku.

“atau paling tidak, lakukan apa yang ingin kau lakukan itu diluar. jangan menggangguku. Aku harus bagun pagi. Aku kuliah.”

“kau masih ingat kuliah? Hebat. Bukannya kau lebih suka menikmati harimu dengan mengunjungi toko-toko di mall?”

Wajahku memanas lagi. aku menggeram, beralih memunggungi Kyuhyun. Air mataku menetes. Aku tidak suka menunjukan air mataku didepan banyak orang walau sejak dulu sampai sekarang, hanya Kyuhyun dan Siwon oppa-lah yang paling sering melihatku menangis. atau mungkin mereka sudah kenyang melihatku selalu menangis.

“lalu kalau aku memang seperti itu, bukan masalahmu juga kan?” ungkapku sinis.

Keheningan sempat terjadi. aku hanya bisa mendengar suara deru nafas Kyuhyun yang menderu. Lalu tiba-tiba aku merasa ditarik—tubuhku, setelah itu baru kusadari Kyuhyun berusaha menyeretku untuk bersandar pada pangkuannya.

Mengganti posisi laptop, benda canggih yang diagung-agungkan nomor dua olehnya setelah PSP tentunya.

Ibu jarinya menghapus air mataku yang sudah meluber banyak disekitar wajahku, “cengeng!” ejeknya.

“menangislah untuk hal-hal yang dirasa penting saja, atau hal yang menguatkanmu. Jangan terlalu sering dipakai, karena tidak ada air mata isi ulang!” ucapnya melembut. Tidak seperti tadi yang terdengar terus menaikan volumenya saat sedang bicara.

“kau menyebalkan!” protesku tidak terima. “kenapa kau jadi galak sekali?”

“tentu saja karena kau salah. Kau sulit diatur!”

“kau—jangan seperti Appa!! Kau bukan Appa!” potongku. Memperhatikan wajahnya dari bawah sini. Rasanya tiba-tiba ingin mencakarnya hingga menimbulkan banyak baret.

“aku tahu. tapi sekarang aku memiliki kewajiban yang sama—ah, ani. Hampir sama. Dengan Ayahmu. Kepadamu. Kau tahu? dan itu lebih berat.”

“tidak ada yang memaksamu untuk melakukan itu juga.” aku mendesis pelan. mengalihkan wajahku malas.

“tapi itu kewajibanku. Kau dengar?” tukas Kyuhyun setelah menarik wajahku lagi. menjepit pipiku kuat-kuat hingga rahangku terasa ngilu. Ish~ percobaan pembunuhan ini namanya!

“aku tidak akan galak, kalau kau bisa bekerja sama denganku. jangan manja! Kau tahu ini bukan waktunya lagi untuk itu! aku butuh Songjin versi dewasa. dimana bisa kudapatkan?” tanyanya.

“dimajalah Playboy.” Sahutku cuek. Namun Kyuhyun terbahak kemudian. “jangan mimpi. Untuk masuk dalam satu kolom baris iklan disana saja kau tidak lolos kualifikasi.” Mengejek lagi. Tck!

Tapi kemampuan Kyuhyun dalam membuat suasana hatiku kembali membaik memang patut kuacungi jempol. Walau pada kenyataannya, dialah yang tersering menjadi alasan satu-satunya untukku mengeluarkan air mata. toh nyatanya, dia selalu bisa mengembalikan air mata itu kembali. dan menggantinya dengan senyuman lebarku.

Aku tersenyum ringan setelahnya. Tanganku mulai meraba wajahnya. Dia terlihat sangat lelah. Begitu jelas terlihat dengan lingkar hitam dibawah matanya. Dan kantung mata yang mulai muncul.

Wajahnya juga jadi sayu dan kusam, “kau terlalu lelah—kau tahu?” kataku pelan.

“kalau begitu jangan buat aku semakin lelah.”

Aku tersenyum dan menepuk-nepuk pipinya pelan. lalu menariknya kuat-kuat hingga ia merintih. Hahaha

“Ish!” Kyuhyun mendesis dan menarik tanganku yang dengan bebas bergeriliya menjamahi wajahnya. Membawa tanganku lalu menggenggamnya. Dan meletakan diatas perutku.

“apa….ini sudah kembali seperti semula?” ia mulai meraba perutku. Aku tersenyum lebar dengan bangga. “keren kan?”

Ia terkekeh dan menggeleng. Seperti akan mengatakan tidak, tapi tidak tega, lalu menyandarkan punggungnya pada Headboard ranjang sambil mendesah.

“kau tahu—Gyuwon terkena gagal ginjal.”

“m—mwo? Mwoya? Gagal Ginjal?” seruku terkejut. Maksudku—benar-benar terkejut.

***

Aku semakin merasa bersalah dengan Gyuwon eonni. Rasanya, aku terlalu egois karena telah berprasangka buruk begitu banyak pada Kyuhyun yang sering menghabiskan waktunya bersama dengannya.

“apa separah itu?” tanyaku takut-takut sambil mengigiti bibir bahwaku sendiri. mendengar cerita Kyuhyun, aku jadi merinding sendiri.

Wajah Kyuhyun terlihat begitu putus asa. “dia butuh donor. Donor Ginjal. Secepatnya. Dan kau tahu sendiri, untuk mendapatkan donor seperti itu tidaklah mudah. kalaupun ada, itu belum tentu cocok juga. Dan kalau tidak, kau tahu apa yang akan terjadi.”

Aku semakin merinding. Nasibnya benar-benar buruk. Orang tuanya sudah meninggal, seluruh kekayaannya lenyap dan hidupnya pun akan lenyap hanya dengan hitungan waktu saja.

Sesuatu kemudian melintasi pikiranku. Rasanya ragu untuk mengatakan ini, tapi aku menyayangkan kalau sampai aku tidak mengatakannya, dan ternyata ideku ini akan berhasil suatu saat, “bukankah golongan darah kalian sama? Kenapa tidak kau coba saj—“

“aku sudah mencobanya. Kupikir akan bisa. Cocok. Tapi ternyata tidak.” desah Kyuhyun frustasi.

Dia bilang apa? Dia sudah mencobanya? Jadi sebelum aku berfikiran begini, dia sudah memikirkan bagaimana cara mengatasi permasalahan Gyuwon Eonni sebelumnya? Dengan menawarkan Ginjalnya?

Author’s side

Hening.

Hanya ada suara deru nafas dari masing-masing tubuh. Tidak ada satupun yang berniat beranjak dari tempatnya walau waktu sudah menunjukan kata ‘terlambat’ bagi pasangan ini untuk memulai aktifitas mereka.

Alih-alih tidur, semalaman suntuk Kyuhyun dan Songjin malah terjaga hanya untuk membahas bagaimana kelanjutan hidup seorang Lee Gyuwon?

Dua tubuh itu lelah, tapi tidak ada satupun yang berniat untuk menghentikan kerja otak dalam mencari jalan keluar dengan didasari oleh begitu banyak alasan.

Alasan kemanusiaan Songjin lebih kuat. Ditambah rasa iba dan rasa bersalah yang membuncah. Walau sebenarnya, rasa bersalahnya tidaklah terlalu dibutuhkan disini.

Dan Kyuhyun, hanya pria itu sendiri yang tahu kenapa ia menjadi begitu perduli pada Gyuwon. Lagi. seolah menguapkan rasa benci yang sempat menutupi hatinya karena kejadian beberapa tahun silam.

Mata tajam kyuhyun melirik jam dinding diatas pintu. Jarum pendek sudah menunjukan pukul enam pagi, kemudian turun melihat Songjin dibawahnya yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Tangannya lalu menepuk kening Songjin pelan, “kau seharusnya tidur. Kau bilang ada kuliah hari ini?”

“yaaa” jawab Songjin mengambang.

Kyuhyun menjepit hidung Songjin dengan dua jarinya, “Tidur.” Perintahnya kemudian yang ditolak oleh songjin. “jam Sembilan nanti aku harus masuk. Aku takut kebablasan…” ujarnya beralasan namun Kyuhyun menggeleng.

“ani. Kau harus tidur.”

“Ya!” Songjin berteriak keras. tidak terima dengan paksaan sepihak baginya. Sudah tahu tidur dijam rawan begini berbahaya baginya. Ini sudah kesekian kalinya ia melewatkan kelas pagi dikampusnya. Akan menjadi yang keberapa lagi sekarang?

“Tck, kau sendiri tahu tidak akan bisa nanti aku untuk bang—“

“nanti kubangunkan” potong Kyuhyun cepat. Menyela kalimat yang pasti akan berbuntut panjang dari bibir tipis Songjin. “tidur.”

“kau tidak?”

“sebentar lagi.” sahut Kyuhyun dengan cepat. Lagi.

Sepasang mata cokelatnya kembali melotot saat Songjin masih saja membuka matanya dan tidak menjalankan perintahnya, “kubilang kan tidur, Songjin!!”

“iya, tapi aku sedang berfikir bagaimana kalau—“

Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada wajah Songjin. Membuat Songjin terkejut dan langsung memejamkan matanya takut. “y—ya.. Kyuhyun-ah! Kau jangan macam-macam!” Songjin memperingatkan.

“aku menyuruhmu apa tadi?” ucap Kyuhyun pelan didepan wajah Songjin. Nafasnya yang hangat begitu terasa menyapu wajah polos Songjin.

“i—iya, aku tahu… tapi kau jangan macam..” Songjin mencoba membuka matanya dan kembali terkejut dengan wajah Kyuhyun yang semakin mendekat. Ia bahkan bisa menghirup hembusan nafas Kyuhyun, terasa begitu jelas. membuatnya setengah mati gugup. Jantungnya bukan lagi berdegup kencang namun copot. Hilang entah kemana.

Saat wajah Kyuhyun telah menjadi semakin dekat Songjin tidak memiliki keberanian lagi selain memejamkan matanya rapat-rapat. Mencoba mengalihkan rasa gugupnya. Serta pikiran-pikiran aneh yang sedang menguasai pikirannya. Panic.

Namun ia terkejut, ketika rasa dingin—dan basah itu bukannya terasa pada Bibirnya. Desahan kecewa meluncur sangat pelan, disembunyikannya dengan baik saat Kyuhyun mengecup keningnya lama dengan mata terpejam.

Songjin mengerjapkan matanya, terkejut. Namun ujung bibirnya lalu menarikan sebuah senyuman tipis. Setengah isi kepalanya, sedang mengutuk kebodohannya sendiri yang sudah dengan lancang berfikiran yang macam-macam.

Kyuhyun tersenyum disela kecupan lembutnya, “Tidurlah..” ucapnya pelan.

aku penasaran, kira-kira bagaimana rasanya menjadi sesuatu yang selalu kau pikirkan? Bersarang didalam tubuhmu, dan menjadi topic terhangatmu, ketika kau bahkan tak pernah menginginkannya?

Batin Songjin kemudian dalam hatinya. Setelahnya, Satu-satunya wajah yang melintas dikepalanya hanyalah Lee Gyuwon. Bagaimana beruntungnya gadis itu, dapat memenuhi lahan kosong disetiap jengkal pada tubuh seorang Cho Kyuhyun.

187 thoughts on “Missing [ Part 4 ]

  1. Masih abu2 disini jdnya ttg perasaan kyu ke songjin dan jg gyuwon, khawatirnya kyu ke gyuwon krm msh cinta atau cm tasa peduli berlebihan msh blm jelas, trs sama siwon jg ya meskipun dia panik jg pas tau gyuwon sakit tp sblmnya dia prnh blg ke kyu jgn bikin gadisnya nangis, jgn2 siwon suka songjin.. Dan ohhh dokter tampannya si abang donghae hehe kyanya suka sama songjin ya, berharap sih si songjin jd suka aja sm donghae biar kyu tau rasanya gmn pas dia lbh peduli gyuwon dibanding istrinya.. Semoga kyu cpt sadar sblm songjin bnr2 cinta sm donghae

  2. Ya ampun kyu terbesit untuk membantu gyuwon ah soojin kenapa a jujur aja dan donghae klo kyu itu suami situ -_- bisa berabe klo kyu tau kau mengatakan kalo dia itu kakak :v

  3. Pingback: Rekomendasi Fanfiction Part 2 | evilkyu0203

  4. perhatian kyuhyun sm songjin udah berkurang, kyuhyun terlalu perhatian sm gyuwon ya walaupun gyuwon lagi sakit,dan songjin dapat perhatian lebih dari donghae bagaimana kalau songjin berpaling ke donghae ? #ApaIni….

  5. apaapaaan nih kyuhyun kenapa jadi menumpahkan perhatian sama gyuwon terus dia sampai sekarang gak tahu songjin kepalanya kebentur garagara akrobat dadakan di tengah jalan terus songjin kenapa malah melted gitu dikasih perhatian sama dokter ikan bener bener nih jadi sayang sama mereka padahal kan pasangan bistro udah klop somplaknya kkkkk kyu perhatian lagi kenapa sama bini nya jangan sampai songjin jadi nyari kebahagiaan di luar hikss yang kalian lakuin ke songjin itu jahaaaat 😭😭😭😭😭😭😭😭

  6. tanpa mereka sadari mereka cemburu satu sama lain, sayangnya kyuhyun blm sadar kesalahannya dia bahkan dia belum bener-bener perduli ke songjin. Padahal songjin sekarang istrinya dia.

  7. Konfliknya udah mulai keliatan .. sebenernya masalah utama mereka .. mereka tuh ga mwu jujur satu sama lain .. pengennya nunggu salah satu dri mrk duluan yg bilang …
    Dan karena ga ada satu pun yg mwu mengalah jadinya aja menganggap mereka baik2 aja padahal konflik hebat sedang mengintai … mungkin menjadi pertengkaran hebat suami istri pertama???

  8. Duh… ribet banget yakk perasaan mereka 😂 mbok yo jujur aja gitu satu sama laen gak usang gengsi. Greget nih sama dua2… yg suami masih terlalu care sama mantannya, yg istri malah kesenengan ketemu dokter kece terus pake boong *tepok jidat*
    Aku keenakan baca jadi baru komen di chapter ini 😂😂 penasaran bakal kaya apa endingnya mereka duh

  9. “aku penasaran, kira-kira bagaimana rasanya menjadi sesuatu yang selalu kau pikirkan? Bersarang didalam tubuhmu, dan menjadi topic terhangatmu, ketika kau bahkan tak pernah menginginkannya?”

    Nyesek😭😭😭 bener2 deh… Kak galuh salut banget sama ide ceritanya… Menarik😊

  10. sebenarnya gimana sih perasaan kyuhyun ke songjin??
    kadang kurang care tp kadang juga maniss banget ke songjin ..bikin baper

  11. Terkadang jdi jengkel sndiri,, maunya si kyu apasih, udh pnya istri msih aja merhatiin cewe lain. Iya tau gyuwon emg prnah jdi org yg pnting buat dia tpi sharusnya pikirin perasaan songjin juga dong,, songjin sama donghae aja udh, msih untung tuh si songjin bkan tipe org yg trlalu nyimpan rasa dendamnya sma org lain kaya ke gyuwon dan msih perhatian pula wlaupun hyuwon jdo ngalihin perhatian kyuhyun,, ntar kalau kehilangan bru nyesel..

    Btw komenannya lumayan yah 😂😂,, diriku hanya menyuarakan pendapat eon mengenai jalan crtanya,, gemes sih 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s