I Wanna Love You [Part 5]


Image

Author : GSD

Title  : I Wanna Love You [ Until You’re Mine Sequel ] 4

Cast : Cho Kyuhyun, Han Hye Jin, Park Eun Hye, Kang Eun Soo, Kim Kibum, Lee Sungmin

Genre : Romance

Rating : PG 13

Length : Chaptered

Entah sudah berapa kali Kyuhyun meloloskan geramannya hari ini. rasa kesal yang tak terluapkan itu hanya tersiratkan dengan remasan ringannya pada kaleng soda digenggamannya yang sudah tak berbentuk lagi.

“aku cukup mengerti dengan alasan Hye Jin saat ini.” sungmin berkata setelah menyerap soda miliknya. Menoleh sesaat pada pria disampingnya, lalu kembali memandangi lingkar luar kaleng sodanya.

“menata hati yang sebelumnya sempat kacau itu bukan perkara mudah. diakui atau tidak, kau—pernah melakukannya. Kaulah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas rasa itu dan sekarang, kurasa Hye Jin bukannya ingin menghindarimu. Dia hanya ingin lebih berhati-hati dalam menggunakannya.”

Seakan pernah merasakan hal yang sama sebelumnya, Sungmin tersenyum kecut untuk dirinya sendiri, lalu menyembunyikan senyuman tersebut dalam tundukannya.

“memperbaiki sesuatu yang sudah rusak itu, lebih sulit dari membuat baru. Seperti sebuah vas yang pecah, direkatkan dengan lem apapun tidak akan mengubah kondisinya kembali seperti semua. Vas itu tetap cacat. Retakan itu tidak akan pernah bisa kembali menyatu dengan bagian lainnya yang utuh. Iyakan?” toreh Sungmin mencari dukungan atas kalimatnya. Namun Kyuhyun tampak Acuh seperti tidak memerdulikan kalimat panjang yang memiliki nilai kerasionalan tinggi itu.

“vas itu akan jadi lebih rentan dan rapuh. direkatkan dengan lem sehebat dan semahal apapun, suatu saat, seiring berjalannya waktu, retakan itu akan lepas lagi, pasti. tidak akan pernah tahu juga kapan retakan itu akan lepas. kalau sudah seperti itu, hanya tinggal bagaimana pemilik vas, memperlakukan benda itu.”

Sungmin merangkul Kyuhyun kemudian, dan meninju lengan polos itu kuat, “ini sama saja dengan Hye Jin saat ini. kau mengerti kan maksudku, Kyu?”

 

Cho Kyuhyun’s side

 

“vas itu akan jadi lebih rentan dan rapuh. direkatkan dengan lem sehebat dan semahal apapun, suatu saat, seiring berjalannya waktu, retakan itu akan lepas lagi, pasti. tidak akan pernah tahu juga kapan retakan itu akan lepas. kalau sudah seperti itu, hanya tinggal bagaimana pemilik vas, memperlakukan benda itu.”

Lalu, kurasakan sesuatu memukul lenganku ringan, “ini sama saja dengan Hye Jin saat ini. kau mengerti kan maksudku, Kyu?”

Tidak. aku tidak mengerti.

Aku tidak mengerti tentang bagaimana bisa dia menyamakan Hye Jin dengan sebuah Vas kaca yang rapuh. maksudku—Hye Jin, dia tidak selemah yang dipikirkannya.

Aku tahu betul bagaimana gadis itu memiliki segala hal—lebih kuat dari pada sebuah Vas Kaca bodoh yang rapuh.

Bagaimana cara aku memperlakukannya dulu memang bukan suatu hal yang patut dibenarkan. Tapi disisi lain,  bukankah itu membuktikan bahwa gadis itu memiliki pertahanan diri yang kuat? Kalau bicara tentang menyerah, dia bisa saja mengangkat tangannya pada bulan-bulan pertama kami bersama.

Ingat bagaimana pada awalnya hatiku tertutup dengan kabut milik Eun Hye? sekarang, aku bahkan tidak perduli bagaimana dengan hidup gadis itu lagi.

Maksudku, bukannya tidak perduli seperti itu, tapi—aku sudah sadar bahwa pada akhirnya, kami memiliki hidup kami masing-masing. dia dengan tunangannya, Minwo. Dan aku..—yaah, dengan diriku.

Tapi, lepas dari permasalahan itu, Toh, nyatanya, Hye Jin—gadis itu, tetap bertahan dengan segala kekuatan, atau mungkin ditambah kekeras kepalaannya juga.

Entahlah, apa alasan yang mendasarinya saat itu, tapi yang kutahu dari kejadian-kejadian itu, Han Hye Jin, gadis itu sangatlah kuat.

Atau mungkin aku yang terlalu menyakitinya? Apa aku benar sejahat itu? dimatanya?

Dia tahu, aku  tidak pernah bermaksud seperti itu. jadi tidak ada alasannya untuk menghukumku seperti ini. ini tidak adil!

Aku sendiri disini kesulitan untuk memperbaiki hidupku setelah dia meninggalkanku begitu saja dulu. apa dia tidak memikirkan bagaimana diriku?

Apa semua ini hanya tentangnya saja? atau perasaanku tidaklah begitu penting untuk dipersoalkan disini? hanya semacam pelengkap saja? kenapa rasanya semakin jadi tidak adil saja?

“ne. aku tahu”

Ucapku datar. Setelah perdebatan sengit tentang mengapa Hye Jin bersikap aneh kepadaku, aku jadi malas rasanya untuk bicara banyak lagi.

Kurebahkan tubuhku yang lelah pada sofa. Menikmati ke-empukannya sambil memejamkan mataku. Terasa lebih baik walau tidak membaik.

Sebuah tepukan, menyadarkanku lagi. kali ini sungmin Hyung berpamitan. Ini sudah terlalu malam katanya. Ingin segera pulang.

Tapi kurasa itu alasannya saja agar bisa bertemu Eun Soo lebih cepat. Mereka itu—pasangan yang tidak pernah mendapat persoalan penting.

Lihat bagaimana mereka menjalani hubungan serius ini tanpa merasa adanya tekanan.

Satu-satunya hal yang membuatku lucu dari pasangan itu adalah keinginan Sungmin Hyung untuk segera menikah dengan Eun Soo, namun selalu ditolak gadis tersebut dengan alasan karir.

Tapi semua orang tahu, Sungmin Hyung hanya ingin mengikat Eun Soo yang selalu terlihat kesetanan ketika melihat namja tampan berkeliaran disekitarnya.

Ditambah pekerjaannya yang membuatnya selalu berada pada kondisi dua mata koin tersebut, Sungmin Hyung nyaris memuntahkan kegusarannya padaku setiap saat ketika Eun Soo lagi-lagi tertangkap basah sedang mengaggumi namja lain berperut kotak-kotak. Hahaha!

“ah, iya, tentang pesta itu—“

“Tck, aku tidak ikut. aku kan sudah bilang sejak kemarin, Hyung!” kilahku dengan cepat.

Berapa kali aku harus mengatakan bahwa aku, tidak tertarik dengan hal-hal konyol semacam itu?

Alasannya mudah saja. pertama, aku tidak suka dengan keramaian.

Kedua, aku tidak menyukai tema dari acara itu sendiri.

Ketiga, aku tidak tertarik. Sedikitpun tidak.

Keempat, aku malas.

Kelima dan akan menjadi alasan seterusnya, masih sama dengan alasan nomor empat. Aku malas.

Bisa kubayakngkan bagaiama situasi disana nanti. Ketika kau akan menemukan banyak pangeran serta putri-putri mereka memenuhi tiap sudut ruangan? Aneh.

Sungmin Hyung hanya mengeluarkan desahannya dari kejauhan. Menatapku seolah aku baru saja merusak mainan favoritnya, dan kini ia terlihat begitu kesal, kecewa dan entah perasaan-perasaan apalagi yang tergambar dari sorot matanya itu.

“kau akan menyesal. Kau tahu?” decaknya kemudian, lalu melenggang pergi keluar dari rumahku.

Aku tidak perduli. lagipula, seberapa menyesalnya sih untukku? Terlewat acara konyol seperti itu? toh hampir setiap tahun, sejak kelulusanku dulu, aku selalu melewatkan pesta itu.

*

Ternyata pikiranku selama ini salah. Aku memang tidak ikut dalam pesta dansa bodoh itu, tapi disinilah aku sekarang. memperhatikan berbagai pakaian aneh lengkap dengan atribut yang beberapa orang gumakan sebagai pelengkap penampilan, berjalan perlahan memasuki Kampusku dari Breadstick.

Hanya ditemani oleh secangkir Black Fapuchino dan sepotong cheese cake, mataku tanpa henti melihat puluhan pasang manusia disana. Baju yang berwarna warni mencolok mata, membuat siapa saja akan langsung mengalihkan pandangannya kesana.

Diantara tumpahan banyak manusia disana, sekitar sepuluh menit yang lalu, aku melihat Eun Soo datang bersama Sungmin Hyung.

Mereka berdua tampak serasi dengan pakaian ala timur tengah. Walau Sungmin Hyung terlihat konyol dengan topi bulu ala alibaba itu, tapi tetap saja membuatku terperangah sesaat.

Bagaimana cara pria itu menyingkirkan persoalan dan menikmati hari, aku harus belajar banyak dengannya untuk urusan itu.

Lalu, aku juga melihat Monyet yadong itu, datang dengan stelan ala pangeran kebangsaan Eropa. Walau jelas dia masih ‘sendiri’ tapi aku tidak bisa melihat kesendiriannya itu. dia tetap menjadi seorang Lee Hyuk Jae dengan gadis-gadis sexy disekitarnya.

Entahlah, mungkin pilihannya untuk sendiri dulu itulah yang membuatnya menunda memiliki pasangan. Padahal, kalau untuk masalah gadis, aku yakin dari jutaan wanita-wanita disekitar kami, pasti ada salah satu dari mereka yang diam-diam menganggumi pria mesum itu.

Ga Eun yang kulihat muncul pertama kali, terlihat sangat cantik dengan pakaian puti tidurnya. Aku lupa, putri yang hampir mati karena menggigit apel merah itu? yaah—itulah pokoknya.

Bajunya memang terlihat begitu megah, hingga menyapu jalanan. Multifungsi sekali bukan?

Dan Heechul Hyung dengan setia—atau apalah itu kau akan menyebutnya, memegangi rok menjuntai itu hingga tidak mengotori bagian terbawahnya. Aku jadi benar-benar paham tentang guna keberadaannya disana. Eish~

Tapi selalu ada yang kurang. Dari sekian banyak tumpukan manusia disana, aku tidak menemukan Hye Jin dimanapun. Aku tahu karena aku sudah berada disini satu jam sebelum acara itu dimulai.

Jadi aku tahu betul bagaimana para undangan itu datang satu-persatu, hingga sepi seperti sekarang ini. tapi itu tadi, aku tidak mendapati Hye Jin ditengah kerumunan.

Apa dia tidak jadi datang? Atau malah sudah datang lebih dulu? entahlah…

Bukannya tidak perduli, aku hanya tidak ingin memikirkan hal yang seharusnya tidak kupikirkan. Jadi, aku lebih memilih menikmati kopi dan kue ku sambil menghabiskan bacaan yang demi tuhan walau sudah kuulang berjuta-juta kali, membuatku hafal pada setiap kata, penempatan titik dan koma, juga arti dari berbagai footnote disana untuk banyak kata yang tak familiar, aku masih tetap menyukai jalan cerita kisah percintaan Romeo and Juliet.

*

Tidak tahu sudah berapa jam yang kulewatkan ditempat ini, lembaran yang kulewatipun sepertinya telah tertumpuk lebih banyak dibandingkan saat awal aku sampai disini.

Mong Jun tidak tahu sudah berapa kali melewatiku, tapi kali ini pria dengan perbedaan usia tidak sedikit dariku ini berhenti disisi kiriku. Sambil memeluk nampan, ia setengah merunduk mensejajarkan wajahku dengannya.

Karena posisi kami yang berbeda. Aku duduk, dan dia yang berdiri, membuatnya terlihat lebih tinggi dariku.

“Hyung, kenapa tidak ikut?” tanyanya. Antusias. Terlihat begitu nyata pada gambaran wajahnya.

Kuteliti wajahnya sesaat, “kau sendiri? kenapa tidak ikut?” torehku, menunjuknya dengan daguku.

Dia kan juga lulusan Kyunghee. Bukan salahku dong kalau menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lagi?

Ia mendesah sebelum menawab pertanyaanku, “kau kan tahu aku harus menjaga toko ini.”

“tapi kan ada orang tuamu. Ada adikmu juga.” imbuhku. Mataku tertuju pada sepasang orang tua, dan seorang gadis dengan perkiraan usia sekitar tujuh belas tahun didepan meja kasir.

“tetap saja. perkiraanku, hari ini akan lebih ramai dari biasanya. Jadi kuputuskan untuk tidak ikut pesta. Bukankah lebih baik begini? Aku juga tidak akan tenang meninggalkan toko ini begitu saja. lihat saja Ming Jin itu—kerjanya hanya bermain ponsel. Tidak serius bekerja! Kau tidak tahu bagaimana rasanya, Hyung!”

Pria ini—dia yang tadinya bertanya kepadaku, sekarang malah terasa seperti sedang berkeluh kesah denganku, Aish!

“ya, aku bisa lihat itu.” balasku kemudian. Setelah kurasa galau itu telah lenyap diwajah Mong Jun. aku cukup mengerti bagaimana tentang inilah pekerjaannya. Bisnis ini sudah digelutinya sejak lama.

Dan lagi, tidak melenceng jauh dari jurusan yang diambilnya dulu, dia juga mahasiswa Bisnis. Ini seperti kerja praktek saja untuknya kalau begitu.

Kuliah mata itu masih memandangiku penuh tanya, “ya~ kau kan tahu aku tidak pernah suka acara-acara seperti itu!” desahku pendek.

Berlagak seperti tidak mengenalku saja, padahal nyatanya, dia sudah mengenalku bahkan sejak aku pertama kali menginjakan kakiku diuniversitas ini.

Pertama kali aku mengenal Kyunghee, itu sama saja dengan pertama kali aku mengenal Breadstick.

Mong Jun mendengus kemudian, “terlalu kompak.” Gumamnya membuat dahiku dipenuhi kerutan.

“maksudmu?”

Bahunya bergerak acuh, “kau—“

“….?”

“Tck, kau tahu, Hye Jin Noona. Dia juga seperti tidak menikmati pestanya.” Keluhnya.

“mwo?” mulutku membuat gua nya sendiri begitu cepat. Mong Jun mendesah lagi. seakan malas menanggapiku dan bicara dengan tatapannya, ‘kau bercanda’

Wajahnya kini menoleh kebelakang meja kami, “dia terlihat diam saja sejak tadi. sayang sekali padahal pakaiannya bagus”

Mataku membulat, Hye Jin? aku tidak pernah tahu dia ada disanna. Maksudku—aku memang melihat gadis dengan pakaian ala kerajaan romawi memasuki tempat ini.

Tapi itu sama sekali tidak menarik perhatianku, karena saat ini banyak sekali manusia-manusia berpakaian sejenis… anehnya… dengannya.

Aku benar-benar tidak habis pikir bagaimana aku tidak sadar kalau itu adalah Hye Jin. maksudku. Hye Jin!!

Jadi sejak tadi…. gadis didepanku, yang terlihat begitu serius dengan bukunya itu… Hye Jin? astaga.. Cho Kyuhyun. matamu harus segera diperiksakan lagi! sepertinya minusmu bertambah?

Seperti sadar akan keterkejutanku, Mong Jun menatapku lama, “kau tidak menyadarinya?”

Pakai ditanya segala! Kalau aku tahu dia ada disana, apa aku akan diam saja seperti tadi? dasar tolol!

“Eish, sudah sana minggir! Pelanggan mu semakin banyak itu!” desisku murka, padahal, tidak lain hanya untuk  menyingkirkan bocah ingusan ini dari hadapanku.

Setengah detik kemudian, gadis didepanku itu—maksudku, Hye Jin, melayangkan tangannya tinggi-tinggi, memanggil pelayan. Mong Jun menyingkir dari pandanganku, lalu aku, cepat-cepat merundukan wajahku, menyembunyikannya.

Aku tidak mau dengan melihatku disini, membuat Hye Jin merasa tidak kerasan lalu pergi.

Beberapa saat kemudian, Ming Jin, adik Mong Jun, datang dengan nampan berisi sebuah cangkir putih diatasnya, dan satu potong cheese cake.

Membuatku tersenyum,  mengingat selera kami yang tidak pernah berubah walau sudah teralihkan jarak dan berbagai hal lainnya.

“sial!” gerutuku kemudian. Saat ditengah senyumanku, aku lupa menyembunyikan wajahku lagi. terlalu menikmati pemandangan didepanku, hingga kami melihat keberadaan satu-sama lain.

Aku tersenyum kecut pada Hye Jin yang terlihat begitu terkejut. Ya, dia pasti sangat terkejut melihatku disini. melihatku yang sedang sangat tidak ingin ditemuinya. Kau bodoh Cho Kyuhyun! seharusnya tadi kau pergi saat tahu dia ada disini juga!

Han Hye Jin’s side

 

Aku mengusahakan agar mulutku tidak terjatuh begitu saja saat Kyuhyun mendapatiku disini. bodoh, seharusnya tadi aku pergi saja. atau setidaknya memilih tempat lain. Tidak disini.

Tidak ditempat, dimana Kyuhyun bisa menemukanku dengan mudah. aku masih tidak tahu harus mengatakan apa saat bertemu dengannya.

Maksudku—dia pasti sangat kesal denganku yang akhir-akhir ini benar-benar menjaga jarakku darinya. Padahal itu hanya wujud dari ke percaya dirian ku yang meliebihi ambang batas saja.

Alih-alih ingin menguji kadar keseriusan hati, ternyata dia hanya ingin mengembalikan kumpulan Hipotesisku yang lenyap entah kemana. Harusnya aku tidak berfikir lebih dari hal itu. tentu saja semua ini salahku.

Rasanya begitu bodoh dengan membiarkan pikiran-pikiran konyol tentang, ‘mungkin pria ini akan memulai sesuatu lagi denganku?’ itu adalah sebuah kesalahan besar.

Ditengah kalutnya isi kepalaku dengan berbagai perdebatan antara hati, otak serta anggota tubuh lainnya, aku kembali dikejutkan oleh kehadirannya. Kyuhyun, sudah berada didepanku. Dengan buku dan cangkir kopinya.

Tersenyum tipis padaku sesaat, “kukira kalau aku duduk disini, akan menguntungkan Mong Jun. dia akan dapat pelanggan lain untuk mengisi mejaku.” Ucapnya. Mata kami sama-sama tertuju pada mejanya tadi didepanku, kini sudah diisi oleh pasangan lain.

Kyuhyun mendesah, “sepertinya Mong Jun akan kehilangan pelanggan setelah ini.” tukasnya lengkap dengan raut kecewa.

Aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku, menanggapi komentarnya yang terkesan konyol. “gwaenchana. Hari ini Mong Jun tidak akan kehilangan pelanggan.” Balasku sambil mempersilahkannya duduk.

Kyuhyun lalu meletakan buku dan cangkirnya dimejaku. Meja kami, maksudku—karena sekarang tempat ini bukan hanya milikku saja?

Aku tersenyum lagi sepintas saat melihat buku usang dimeja kami. “masih belum bosan juga?”

Kyuhyun tampak tidak terkejut, lalu menunjuk buku ditanganku dengan dagunya, “kau juga.” balasnya.

“ini edisi baru.” Aku beralasan. Mengangkat buku tebal milikku bangga. Walau dengan judul yang sama, hanya dengan tampilan berbeda. Membuatku sedikit lebih percaya diri saja jika dibandingkan dengan miliknya yang terlihat sudah sangat tidak layak.

“edisi pertama lebih keren.”

“cih! belum tentu. Disana tidak ada foto penulisnya!” imbuhku lagi, dan menunjukan sebuah foto pada lembaran awal novel romeo and Juliet milikku.

“pernah dengar pepatah, jangan lihat buku dari sampulnya? Kau mengabaikan nasihat itu, Nona Han” sindirnya kemudian. Kutanggapi dengan kekehanku.

Kesunyian terjadi sesaat. Hanya dimejaku saja karena aku tidak tahu harus mengatakan apa. Dan kurasa Kyuhyun pun sedikit banyak, malas membuka percakapan lebih dulu.

Sebuah sinkronasi yang tepat, membuatku semakin tidak tahu harus melakukan apa. Ini terasa lebih membingungkanku.

Kyuhyun berdehem, lalu mengangkat cangkir kopinya. Desisan pendek muncul dari sela giginya kemudian. Aku sedikit mengangkat wajahku, melihat apa yang terjadi.

Kyuhyun sedang menatap cangkirnya geram. “sudah habis lagi saja.” dengusnya tidak terima. Memanggil Mong Jun cepat-cepat, “berikan aku kopi yang sama. Satu lagi.” perintahnya.

Aku mendelik, ditempatnya tadi saja, sudah satu cangkir tertinggal, dengan ini berarti dua. Lalu dia akan memesan satu cangkir kopi lagi? hanya untuk menghabiskan malam saja dia sudah membiarkan lambungnya menyimpan cairan hitam itu begitu banyak?

“ngg…” aku bergumam lebih dulu sambil menelan ludahku, “kukira terlalu banyak kopi itu tidak baik juga.”

Kyuhyun melirikku cepat. Mengalihkan fokusnya yang tadi tertanam hanya untuk Mong Jun. aku menggeleng sambil melambaikan tanganku. Senyuman pahit yang kurombak sedemikian rupa hingga tidak benar-benar menampilkan rasa kecewa karena Kyuhyun terkesan tidak begitu suka ucapanku, kujadikan tameng penutup kegusaranku.

ani-ani. Aku hanya bicara saja. maksudku, meminum kopi leb—“

“aku tahu.” balas Kyuhyun kilat. “lalu sebaiknya aku harus memesan apa?”

“ne?” kini aku yang terperangah sendiri. pertanyaannya tadi, bisa saja membuatku sakit hati jika diucapkan dengan intonasi yang sedikit berbeda.

Tapi tadi, dia mengatakannya seperti seorang putus asa yang butuh saran dengan cepat. Memelas.

ngg… Ice Green Tea?” Ucapku bersemangat. Langsung dijawab anggukan oleh Kyuhyun.

“dan satu Cheese cake lagi, Mong Jun!”

“Cheese cake?” Kyuhyun mengerenyit memandangku.

“wae?”

Kyuhyun seperti men-scan diriku dengan dua matanya cukup lama. lengkap dengan wajah seriusnya, lalu mencebikan bibirnya, “dan satu biscuit kentang.”

“itu saja?” Mong Jun berucap setelah mencatat semua pesanan kami.

“iya itu saja. memangnya apalagi yang kau harapkan, hah? Mau membuatku jadi terlihat lebih gemuk??” decaku sebal, tapi juga lucu disaat bersamaan. melihat ekspresi Mong Jun tadi.

Dia langsung melenggang pergi sebelum mendapatkan semprotan untuk yang kedua kalinya dariku. Juga ancaman Kyuhyun yang berkata akan mencekiknya kalau dia tidak cepat-cepat angkat kaki dari meja kami.. dia benar-benar lucu.

Setelah pesanan kami sampai pun Mong Jun langsung memarekan ‘V’ sign nya padaku dan Kyuhyun. seakan kami akan memakannya hidup-hidup kalau dia mengeluarkan sedikit saja suaranya.

Aku menggeleng sambil terkekeh, “dia tidak berubah sedikitpun.” Gumamku geli.

“sepertinya tidak ada perubahan signifikan dari tempat ini.” tambah Kyuhyun.

“sepertinya?”

“mm.”

Aku tertegun. “kenapa sepertinya?”

“memangnya?” Kyuhyun tampak tidak mengerti dengan alur pembicaraan kami.

“kau memangnya tidak pernah kesini?” ledekku langsung. bertingkah seperti tidak tahu apa-apa itu ternyata masih Khas sifat seorang Cho Kyuhyun.

Kyuhyun menggeleng cepat, “aku tidak pernah kesini.” ungkapnya. Aku tertawa.

“ya~ hentikan itu.”

Namun kemudian kyuhyun memberengut. Mengubah ekspresinya jadi begitu serius, “aku benar.” ucapnya dengan suara meninggi. Seakan tidak suka dengan tawaku yang sarat akan cibiran untuknya.

“aku serius. aku tidak pernah kesini lagi, sejak saat itu—“

“saat itu?”

“iya. saat.. itu” ulangnya ragu.

Mulanya, aku tidak mengerti dengan kalimat ‘saat itu’ sampai dengan gamblangnya, otak terdalamku, mengingatkan kejadian ‘itu’ kembali.

Ya, saat itu.

“oh.”

Aku diam. Tidak tahu harus mengatakan apa untuk menanggapinya. Kenapa pembicaraan mengenai saat itu seakan menekan sumbu pernafasanku lagi? ini terlalu sesak! Aku tidak bisa!

“tidak begitu juga sebetulnya sih. Sekitar satu bulan yang lalu aku kesini dengan Sungmin Hyung. itu pertama kalinya aku kesini, sejak saat itu—“ ujarnya. Terlihat seperti menimbang sesuatu. Lalu menangguk mantap.

“iya. Itu pertama kalinya lagi aku kesini. tidak membuatku terkejut sih. Tempat ini memang tidak banyak perubahan. Kau tahu—dekorasinya, pekerjanya, manu nya juga bertambah sedikit saja. makanan ini, menu baru disini!” Kyuhyun menunjuk biscuit disampingnya dengan telunjuk berkali-kali.

Sedikit banyak, aku bersyukur karena Kyuhyun tidak membahas tentang ‘saat itu—saat kelam kisah kami, lagi’ aku hanya masih belum siap.

“dan kau tahu, Mong Jun butuh penasihat Bisnis!” imbuhnya bersemangat. Lalu kemudian memandangku datar, “yaaa, setidaknya penasihat Bisnis dari mantan calon penasihat bisnis.” Keluhnya. Dia terlihat lucu sekarang. walau aku tahu dia sedang mengejekku.

“ya~” kutendang kakinya dari kolong meja, agak keras hingga dia meringis.

“Au.”

“apa maksudmu?!” seruku sebal.

“aku kan hanya bicara yang sebenarnya saja. kau kan memang mahasiswa bisnis yang melenceng dari jalurmu, tiba-tiba ke jalur Medis.”

Memang benar sih. Alasannya tidak salah. Aku hanya tidak suka saja dengan caranya berbicara, yang seakan menyalahkanku atas pilihanku ini.

“memangnya kenapa?” tanyanya lagi.

“kenapa apanya?”

“kau—kenapa tiba-tiba begitu.”

“itu bukan tiba-tiba. Aku sudah memikirkannya sejak lama.”

“….lalu?”

“lalu ya begitu.”

“begitu bagaimana?”

“ya begitu!”

“apanya yang begitu?” Kyuhyun mendesak lagi. ini baru Khas seorang Cho Kyuhyun, pemaksa.

Tapi aku masih belum ingin menjelaskan alasanku. Lagipula bukan alasan yang signifikasn sih. Aku memang ingin. aku juga pecinta binatang. Rasa ingin melindungi hewan-hewan itu sangat besar dan sayangnya, rasa itu berbanding terbalik dengan keberanianku melawan berbagai hal dibidang Medis.

Alasan klise. Tapi nyata.

Baru setelah aku pindah kesana, berada disekitar Kibum Oppa ternyata benar-benar menguji keberanian serta membalik pola pikirku. Kau bisa cari dimanapun kakak semacam dia yang tega meninggalkan adiknya sendiri ditengah kota saat dia sendiri tahu, kalau aku setengah mati takut dengan Keramaian Negara itu.

Setelah sampai dengan selamat di Flatku, pria itu sedang duduk santai sambil menikmati kopinya. Hanya menyambutku dengan sapaan ‘bisa pulang juga kau?’ Cih!

Tapi dibalik itu, aku suka dengan caranya mendidikku. Membuatku mengubah seluruh cara pandangku tentang apa yang benar dan apa yang salah. Apa yang seharusnya, dan yang tidak seharusnya.

“tidak begitu. Geurom, bukankah menjadi seorang dokter lebih keren dari pada penasehat Bisnis?”

“tergantung.” Balas Kyuhyun cepat.  “tergantung dari sudut mana kau melihatnya. Kalau menurutmu membantu orang agar bisa memiliki kesempatan hidup kedua itu adalah sebuah hal yang baik. Itu keren.”

Aku berdehem, “maksudmu hewan?” ku ingatkan kembali bahwa aku bukanlah dokter ‘manusia’ seperti apa yang dibicarakannya sekarang.

“ya begitulah pokoknya.”

Kami sama-sama diam. Entahlah, dikatakan nyaman pun tidak karena percaya atau tidak, keheningan ini semakin membuat seluruh syaraf tubuhku menengang. Aku masih belum tahu harus mengatakan apa sedangkan sialnya, sepertinya jika bukan aku yang yang memulai pembicaraan ini, Kyuhyun pun tidak akan mengeluarkan suaranya.

Aku berdehem, sekedar untuk menyadarkan Pria ini bahwa aku masih hidup, dan aku butuh perhatiannya, saat ini. “lalu… sejauh ini, bagaimana…. Kabarmu?” aku bertanya.

Terserah akan disebut apa percakapan ini, tapi sadar atau tidak, sejak awal pertemuan kami. Walau kami telah menghabiskan banyak hari bersama, nyatanya, pembicaraan tentang bagaiaman kehidupan masing-masing dari kami tidak pernah terangkat sedikitpun.

Itu seperti pertanyaan keramat yang terlalu bahaya jika dikatakan. Tapi aku penasaran. apa kabar dia saat ini? sejauh pandanganku, kulihat ia menang baik-baik saja. tapi seperti pengalamanku lagi, baik-baik saja itu bisa dibuat.

Kyuhyun diam. Semakin membuatku salah tingkah. Apa yang kukatakan tadi salah? Lalu sekarang, apa dia marah? bagaimana setelah ini nantinya? apa kami akan keluar dari tempat ini dengan kemarahan yang membakar? Astaga! seharusnya aku tahu kalau itu bukanlah kalimat pertanyaan yang baik untuk memulai suatu percakapan.

Kuhela nafasku panjang, merunduk, mengiris cheese cake-ku dengan amat sangat perlahan. Menghabiskan tiap detiknya dengan teramat sangat hati-hati. kalau bisa meminta, aku ingin agar cake ini tidak selayu ini, agar memerlukan waktu satu jam untuk membelahnya.

“menurutmu…. Kira-kira ada berapa banyak kalori yang tersimpan dibalik setiap potongan kue yang kau makan itu?” Kyuhyun berucap. Mengejutkanku karena bukan kalimat ini yang kuharapkan darinya.

Pertanyaanku tadi sudah jelas kan?

“ngg… molla~” jawabku acuh. Masa bodoh dengan kalori. Aku butuh kejujurannya tentang kehidupannya selama ini. hanya mendengar dari Sungmin Oppa tidak membuatku puas. apalagi dari Eun Soo.. kau tahu gadis suka melebih-lebihkan keadaan.

Nyatanya, Kyuhyun tidak se-buruk yang ia katakan itu sekarang.

Perlahan, Kyuhyun menyodorkan piring tipis berisi potongan snack-nya,“mau coba biscuit ini? ini lebih sehat dari makanan berlemak itu.”

“ne?”

“rasanya enak. Tidak seburuk yang kau pikirkan.”

Aku tidak mengerti. Dan ditengah kebingunganku, Kyuhyun menarik piring Cake-ku dan menukarnya dengan piring snack miliknya. Seakan memaksaku untuk melakukan perintahnya tadi. menjajal biscuit kentang bodoh berbentuk segi empat ini.

Mau tidak mau, pada akhirnya, aku mengambil juga kepingan-kepingan tipis itu, dan memasukannya kedalam mulutku. Rasanya memang tidak buruk. Walau dibilang enak juga tidak.

“kau tahu—kalau kau bertanya tentang kabarku, aku sendiri juga bingung harus menjawabnya dengan kata apa. Yang tepat. Untuk menggambarkannya.” Kyuhyun mendesah pada akhir kalimarnya. Tertunduk sebentar, lalu mengadahkan lagi wajahnya, memasukan potongan cheese cake-ku kedalam mulutnya.

“tidak pernah lebih baik.”

Hatiku terasa tersayat saat mendengar jawabannya. Harusnya aku tahu kalau Kyuhyun akan menjawab seperti ini, jadi aku sudah mengantisipasi hatiku dari sebuah lubang baru! Tapi nyatanya, bukan jawaban seperti ini yang kuharapkan. Hingga rasanya begitu sesak.

“kalau kau sendiri?”

“aku?” kuarahkan telunjuku pada wajahku. Kyuhyun mengangguk semangat, dengan sendok masih dikulumannya. Sisa cream keju itu menempel sedikit diujung  bibirnya. Tapi aku terlalu ragu untuk melayangkan tanganku, dan membersihaknnya.

Aku menggumam beberapa saat, apa aku harus jujur dengan keadaanku saat ini? tentang aku yang merindukan segala tentang nya? Tentang bagaimana rasa kalutku saat berada jauh darinya?

“sempurna.” Jawabku singkat. Aku mendengar hati kecilku menjerit ‘bohong’ tapi biar saja seperti itu. toh Kyuhyun tidak akan bisa mendengarnya.

Kuaduk minumanku, dengan sendok kecil disana secara teratur. Menimbulkan sebuah pusaran pada titik tengah cangkirku.

“bagaimana dengan kabar Eun Hye eonni?—dan Minwo oppa?” aku hampir saja lupa menyertakan pasangannya itu pada pertanyaanku.

Kyuhyun mengerenyit, tidak terlalu lama lalu ia mengalihkan pandangannya pada jalanan kosong, yang dengan cantik dihiasi lampu-lampu berkerlipan. Membuat kesan romantic pasti tercetak dibenak siapapun, tak terkecuali aku walau kondisiku tidak sedang romantis seperti itu.

“tiga bulan setelah kau pergi, mereka menikah.” Ucapnya.

Seakan mengatakan hal tersebut, masih menorehkan luka dalam untuknya, Kyuhyun lebih memilih mengamati deretan mobil-mobil disamping kami, dari balik tembok kaca.

Seharusnya, aku juga tahu yang satu itu. bukan tentang kabar menikahnya pasangan itu, tapi bagaimana pertanyaan ini akan menyakitkan Kyuhyun seperti ini.

“mianhae.” Gumamku begitu saja. lolos tanpa kendaliku.

“setelah itu mereka langsung berbulan madu. Ke Hawaii. Menyenangkan sekali sepertinya.”

“hahaha! Kau iri?” tukasku. Kuatur tawaku hingga terdengar normal, tanpa celah. Tanpa rasa apapun lagi didalamnya.

Kyuhyun langsung menoleh kepadaku, merengut seperti tidak suka dengan komentarku. “jangan hanya bisa iri!! Susul saja mereka kalau kau bisa!”

“Cih! bicara saja mudah! kau saja lebih dulu kalau begitu!” Dengusnya tidak terima.

“aku memang berencana untuk  menikah muda.”

“itu bagus. Tapi tahap pertama, temukan dulu calonnya!!” ucapnya seakan mencibirku. Iya. Benar. aku masih sendiri, lalu kenapa? apa itu masalah bagimu, Tuan muda?

Aku medesis, “kau meremehkanku? Bagaimana kalau kubilang aku sudah mendapatkannya?”

32 thoughts on “I Wanna Love You [Part 5]

  1. Waah bener. Akhirnya kyuhyun dibikin mati kutu!! Hahaha daebak thor! Keren! Aku suka ceritanya. Diposting lagi lah tor lanjutannya ini. Jangan lama-lama. Penasaran aku ini ^^

  2. Waeeeee…. hye jin gengsian bangettt. Kyuhyun jugaaa.
    Eonni update cepeeet keeeek laah. Aku penasaran sama yg ini lanjutannya pelisssss

  3. Ternyata mereka di satu tempat T.T kenapa nggak nyadar v.v Kyuhyun, kebakaran jenggot deh kamu kalo Hyejin udah ngomong kayak gitu. Jangan jangan calonnya Hyejin itu Siwon. Nonono! Ndak boleh. Kata katanya Sungmin super banget rasanya. Mau sekuat apa pun, Kyuhyun lupa kalo Hyejin tetep aja cewek yg pastinya lebih perasa. Hueaaaa… Penasaran

  4. Gemes banget ma ni pasangan , ego dan kekerasan kepala mereka sama2 kuat … Ayolah sudah 2 tahun berlalu loh , apa masih belum cukup untuk menyiksa diri kalian ??? Ditunggu lho kelanjutannya … Gak tau kenapa tp ff ini real story bnget buatku , ada bagian2 yang memang gak munafik memang kadang seperti itu perasaan seseorang jika ditempatkan di sisi kyuhyun / hye jin … Next story ditunggu banget !! 😀

  5. Sumpah ini gantung sekali T.T penasaraaaaannnn, kudu nyari CP author-nim ini mah, kemarin lewat twit mention saya ga di balas T.T

  6. sayang bangt ffnya blm ada lanjutan, padhl bagus bangt lho! Aku harp ada lanjutannya, dan Kyu, plis dh, lu harus blajr mnurunkan ego lu, krna klobga, siap* aja kehilangan stiap orang yang menyayangio dan yg lo cintai! :3

  7. Pingback: Kumpulan FF Kyuhyun Wordpress Terbaru - Triknesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s