Missing [Part 7]


missing pic

Author: GSD.

Title: Missing. [7]

Cast: Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Park Songjin, Lee Donghae, Lee Gyuwon.

Rating: PG 13.

Length: Chaptered.

Genre: Romance, Tragedy, Family.

I will close my eyes, then I won’t see the love you don’t feel when you’re holding me. Morning will come and I’ll do what’s right. Just give me time, to give up this fight and I will give up this fight. I give up.

Cho Songjin’s side

Aku menyapukan Blush On pada dua pipiku secara bergantian. Memperhatikan wajahku yang….kacau, dari cermin. Benda yang tak akan pernah berkata bohong.

Wajahku kacau. Bukan hanya mataku yang membesar karena terlalu banyak menangis, tapi juga karena begitu banyak plester yang bersarang didalamnya. Akh! Aku memang bodoh. Kenapa juga semalam aku bisa bertingkah konyol begitu?

Dilain sisi, kulihat Kyuhyun baru selesai dengan dirinya sendiri. keluar dari kamar mandi dengan kemeja putih polos yang dikenakannya, lalu membuka lemari dan mengambil sebuah jas hitam dari dalamnya.

Dia berdiri didepan cermin besar dan menggenakan jas tersebut. setelah dirasa rapih, ia lalu keluar dari kamar dan kembali lagi dengan sepasang sepatu.

“kau mau kemana?” tanyanya setelah duduk dipinggir ranjang. Sesekali menoleh padaku, lalu kembali lagi focus pada alas kakinya itu.

Aku melihatnya dari cermin meja riasku, “pesta.” Jawabku cepat “bukankah kita harus datang? Tenang, sebentar lagi aku sudah siap.” Kataku yakin. Meletakan Brush, Blush On dimeja dan mengambil sebuah lipstick berwarna nude.

“pesta apalagi?” Kyuhyun kini sudah selesai dengan alas kakinya. Dia memandangiku lekat-lekat dengan dua tangan bersedekap didepan dadanya. Seperti aku sering diam-diam mencuri waktu untuk pergi datang keacara yang paling kugemari itu. sial.

“memangnya apalagi menurutmu?” balasku sarkatis. Bodoh atau sedang pura-pura bodoh? Memangnya apa alasannya berpakaian seperti itu jika tidak sama sepertiku sekarang?

Kyuhyun mendesah, lalu bangkit dan berjalan mendekatiku. Diletakannya telapak tangannya yang besar itu pada keningku, “tidak usah. Kau dirumah saja. kau masih demam.” Ujarnya kemudian.

Waaah, enak saja! “Shiero!” tolakku mentah-mentah. “aku ingin datang, dan harus.”

“harus? tidak ada yang mengharuskanmu, Park Songjin! Cih!”

“tentu saja ada!” elakku. “nanti, apa yang akan orang-orang katakan kalau Direkturnya datang sendiri?” aku terkekeh. Tapi kyuhyun berdecak.

“aku tidak perduli apa kata orang. Aku tidak ingin kau datang. Lebih baik kau hapus make-up itu dari wajahmu dan kembali ke tempat tidur. Kau harus banyak istirahat.” Ia memerintah lagi seperti Boss besar.

Yaa, aku tahu dia memang bos besar, tapi itu dikantor. Tidak disini. enak saja!

“Shiero! Aku tetap ingin datang!” aku menolak. aku sudah seperti ini, lalu dia meminta ku menghapusnya dan melakukan hal membosankan ditempat tidur?

Semalaman dan hanya menunggunya? Tidak tidak tidak!

“Songjin!”

“aku tidak mau! Ish! Aku mau datang juga! kau ini. melarang-larangku seperti itu. aku sudah membaik! tubuhku terlihat lemas, karena aku tidak melakukan apapun. lebih baik aku mengalihkannya dan melakukan hal yang lain, aku jadi tidak merasakan sakitnya. Lagipula kau tahu sendiri bagaimana rasanya, memangnya enak terus-terusan berada diatas tempat tidur? Kau sendiri saja tidak menyukainya, kenapa terus memaksaku?” tuntutku nyaris dengan nada meninggi.

Aku kesal. Ini kan ulang tahun perusahaan. Harusnya, aku juga ikut datang. Kalaupun tidak sebagai Nyonya Cho, aku bisa datang sebagai Park Songjin, salah satu pemilik saham di Choi Corporation!

“aku tahu. tapi kau juga tahu alasanku melarangmu. Jangan menyulitkanku, Songjin! Kenapa kau selalu membantah apa yang kukatakan?”

“Tck, tapi Kyuhyun-ah, aku mal—“

“tidak. kau harus dengar apa kataku. Kau tinggal. Kau tidak akan pergi. titik.” Potong kyuhyun begitu tegas, lalu meninggalkanku dengan ponsel yang sejak pertengahan percakapan kami sudah mengganggu. Berdering tanpa henti.

“ya, kau sudah siap? Aku datang sebentar lagi. kau tunggu diruanganmu saja. jangan kemana-mana.—Tck, tidak. apa EunJung sudah menuntaskan pekerjaannya? Karena kukira…kita tidak ada waktu lagi..”

Aku memperhatikan Kyuhyun dari balik pintu kamarku, dia sedang didepan televisi, menggaruki kepalanya yang kuyakin hanyalah wujud kecanggungan.

“arrasseo. Ya. aku datang. Ya, aku berangkat sekarang.” putusnya, lalu memasukan kembali ponselnya kedalam saku.

Aku berjalan pelan dibelakangnya. Niatku ingin mengejutkannya, tapi dia sudah lebih dulu membalikan tubuhnya. Memandangiku dari atas rambut hingga ujung kaki dengan wajah datar.

“kenapa belum ganti pakaian? Cepat ganti! Dan tidur!” perintahnya galak. Tidar tidur, aku sudah berjam-jam tidur sejak tadi. apa dia pikr aku ini beruang yang butuh waktu hibernasi?

“tadi siapa?” aku bertanya sedikit takut-takut sambil menggantungkan tanganku manja pada lengannya.

Kyuhyun menghempaskan diri disofa, lalu menarikku hingga ikut jatuh dipangkuannya, “Kenapa?”

“aku hanya bertanya, memangnya tidak  boleh?”

Kyuhyun diam. Malah memperhatikan wajahku begitu lama lalu kentara sekali dia sedang menahan tawanya, “kau sudah melihat cermin kan sejak tadi?”

“kenapa sih?” tukasku ngotot. Kesal. Aku sedang serius kenapa dia malah bercanda begini?

“wajahmu jadi aneh, kau tahu—“

“aku tahu. jadi, apa karena wajahku aneh, lalu kau tidak ingin mengajakku kepesta?” aku menyindirnya. Ini kan juga karenanya!

Kyuhyun tertawa. Akhirnya. Setelah mati-matian sejak tadi ia menahannya. Jemarinya yang panjang menelusuri luka-lukaku yang terbalut dalam kain plester.

“Aw” rintihku saat ia dengan sengaja menekan salah satu luka didaguku. “nah, itu juga salah satu alasannya.” Ucapnya kemudian. Penuh kemenangan.

“tapi aku ingin datang. Aku bahkan sudah menyiapkan gaunku sendiri sejak berbulan-bulan sebelumnya!!” runtukku tidak terima. “ini akan jadi sia-sia saja!”

“aku kan sudah melihatmu menggunakannya. Apanya yang sia-sia?”

“Cih! bukan itu! aku ingin orang lain melihatnya juga!”

“untuk apa?” tanya kyuhyun sarkatis. Pura-pura bodoh lagi. memangnya dia kira untuk apa? “apa pengakuan tentang bagaimana penampilanmu itu sangat berpengaruh untukmu, hah?” dengusnya.

Aku memberengut, tapi juga mengangguk, “tidak seperti itu juga, aku mendesain gaun ini sendiri, kukira akan bagus jika orang lain melihatnya. Aku ingin melihat reaksi orang-orang. karena itu aku harus datang!” ucapku yakin.

Memperkenalkan diri sebagai percancang busana dipesta seperti itu akan sangat membantuku melancarkan strategi pembuatan butik pribadi. Bukankah pemikiranku sangat tepat?

Kyuhyun diam dan hanya memperhatikanku dengan pandangan anehnya. Membuatku berfikir tentang apa yang ada didalam kepalanya, tapi kemudian ia membuka mulutnya, “cantik. Kau sudah cantik, Songjin.. Sangat cantik. Sangat sangat sangat cantik. sudahlah. Kau tidak perlu datang kesana lagi untuk mendengar pujian seperti itu, kan?”

Kali ini aku tidak merasakan degup jantung yang tak wajar seperti biasanya. Padahal dulu, mungkin bisa saja aku pingsan seketika saat Kyuhyun tengah melancarkan kalimat gombalnya padaku. Malah aku ingin menangis lagi, setelah kyuhyun mengatupkan bibir tebalnya. tapi aku harus menahannya. Aku tidak ingin lagi menangis dihadapannya.

Kyuhyun menghela nafas kesal saat aku masih pada pendirianku. “astaga, apalagi Songjin? Aku sudah mengatakannya kan tadi?”

“kau bohong. Tentu saja aku sedang tidak cantik—seperti itu. wajahku saja dipenuhi plester begini. Orang buta pun akan tahu kalau penampilanku tidak semenarik itu.”

Kyuhyun menggeleng sambil memandangiku seakan berkata ‘kau berlebihan’. Membuatku bersingut sebal.

Kyuhyun lalu menurunkanku dari pangkuannya. Ia berdiri, dan merapihkan lagi penampilannya. Kemejanya tadi sempat agak lecek setelah kududuki.

“terserah kau sajalah.” Dengusnya. “Aku harus berangkat. Jangan lupa minum obatmu. Dan istirahat. Aku pergi dulu.” ujarnya ringan. Lalu melesat begitu saja. ya. begitu saja meninggalkanku.

***

Sepertinya baru lima menit yang lalu setelah Kyuhyun Berpamitan untuk datang ke pesta laknat itu sendiri dan meninggalkan aku.

Memaksaku untuk kembali bertegur sapa dengan bantal guling dan segala perabotan kasur lainnya, tahu-tahu aku sudah mendengar suara gaduh dari arah luar kamarku.

Rumah ini dipenuhi oleh Proteksi keamanan yang canggih, dan memerlukan password untuk masuk. Jadi kurasa, hanya ada tiga manusia yang bisa keluar masuk sesukanya dirumahku ini.

Kyuhyun, aku sendiri dan Siwon Oppa.

Tapi pendengaranku masih sangat bagus dan aku begitu yakin kalau suara yang baru saja melintas ditelingaku ini bukan dari suara Kyuhyun maupun Siwon Oppa.

Ini suara wanita. Tapi seingatku, tidak pernah ada wanita lain selain diriku disini. jadi aku bisa memastikan kalau rumahku baru saja dimasuki oleh penyusup.

Perlahan, aku bangkit dari ranjangku dan berjalan mengendap. Aku tidak sempat membawa alat perlindungan semacam tongkat baseball atau sejenisnya, karena memang dikamarku tidak menyimpan benda aneh seperti itu. jadi kubawa saja botol bedak milikku dari atas meja rias.

Dibayanganku, kalau terjadi sesuatu yang tidak kuharapkan, paling tidak bedak ini bisa membutakan mata penyusup itu dan memberikanku sedikit waktu untuk kabur dari penglihatannya.

Tapi sepertinya aku sudah berfikir sangat jauh, semua yang ada didalam kepalaku adalah salah besar.

Karena, tidak ada penyusupan seperti yang kubayangkan. Hanya ada Kyuhyun yang tengah memperhatikan televisi sendirian. Dan suara wanita yang kukira adalah penyusup tadi, adalah suara America Ferra. Salah satu pemeran wanita dalam film Our Family Wedding yang sudah ia tonton berjuta-juta kali bersamaku.

Helaan nafas lega lolos dari mulutku. Dengan malas, kuseret kakiku berjalan menghampiri Kyuhyun. tapi saat aku baru saja hampir tiba ditempat tujuanku, tiba-tiba saja aku kembali mendapatkan kejutan.

Ini lebih parah karena bukan penyusup yang akan segera membunuhku jika saja aku lengah, tapi ini penyusup yang bisa saja setiap detiknya mematahkan hatiku begitu saja.

“Eonni?” aku melongo memandangi gadis dengan rambut pendek sebahu dikuncir kuda didepanku. Dua tangannya penuh dengan piring ceper berisi berbagai Cookies dan masakan lainnya.

“Songjin….?”

“kau bangun?” Kyuhyun melonjak—terkejut. Dan setengah melompat dari posisinya. Menghadap padaku. Wajahnya seperti panic.

Sedetik, Aku tidak perlu berfikir ulang kenapa ia terlihat begitu cemas. “kenapa?” tanya Kyuhyun lagi.

Aku merasa lucu. Apa dia baru saja menanyakan kenapa aku terbangun? Atau kenapa aku terbangun disaat yang tidak tepat seperti ini? saat dirinya sedang mencoba mendapatkan quality time bersama mantan kekasihnya.

Dirumah kami.

Atau anggaplah tempat ini adalah miliknya karena memang Kyuhyun lah yang menyiapkan rumah ini sebelum kami benar-benar menikah.

“a..aku hanya—“

“mimpi buruk?” Kyuhyun menyelaku namun dengan cepat aku menggeleng walau pandanganku belum tertuju kepadanya dan masih memperhatikan Gyuwon Eonni.

“aku haus.” Jawabku kemudian. Kini kutolehkan wajahku menatap Kyuhyun selama beberapa detik dan tersenyum kilat.

Mimpi buruk? Ya. dia tidak salah juga. ini juga semacam mimpi buruk dengan kekuatan ajaib hingga menjadikannya nyata.

“aku haus.” Ulangku lagi. kini kuamati Gyuwon Eonni dan Kyuhyun bergantian.

Tersenyum ringan pada wanita dengan potongan rambut pendek ini Lalu kemudian melesat menjauh dari kerumunan, menuju dapur.

Cho Kyuhyun’s side

“Gwaenchana?” aku bertanya pada Songjin hati-hati. berdiri tepat satu kaki dibelakangnya dan sedikit memiringkan kepalaku untuk mencoba melihat wajahnya karena posisinya yang sedang berdiri memunggungiku.

Tangannya terangkat, menekuk dan setelah itu aku mendengar suara tegukan. Khas laju air yang melesat cepat, melewati kerongkongan. Aku ingat dia bilang harus tadi.

Kuputuskan untuk bersandar disalah satu meja dapur untuk menunggunya. Tanganku yang bebas, sesekali memainkan bibir gelas kosong yang berjejer rapih didepanku.

“aku tidak memberitahumu sebelumnya. Aku tidak mau membangunkanmu. Tadi itu, Gyuwon yang menolak untuk kembali kerumah sakit. dan aku masih malas untuk bertemu dengan Siwon Hyung. jadi yah, kupikir… tidak ada salahnya juga membawanya kesini. lagipula ini sudah cukup malam. dan aku tidak memiliki tempat tujuan lain selain ruma—“

“gwaenchana.” Potong Songjin cepat. Menjauhkan bibir gelas dari wajahnya sesaat dan akhirnya menoleh padaku. Ia memamerkan satu ibu jarinya dari tangannya yang sedang tidak memegang gelas, lalu kembali menjejalkan air itu kembali kemulutnya.

Sesaat, aku sedikit ragu dengan ucapannya tadi. aku sangat mengenal Songjin. Hampir seluruh hidupku habis hanya untuk bersama dengannya, tapi kenapa disaat seperti ini aku selalu merasa kalau aku tidak benar-benar mengenalnya?

Setengah hatiku selalu merasa ragu dengan jawaban ‘aku baik-baik saja’-nya. tapi kalau harus ditanya apanya yang salah, aku sendiri juga tidak tahu.

aku menggidikan bahuku pelan saat mata kami bersiborok, sambil tersenyum kecut. Aku tidak tahu harus menjelaskan dengan cara apalagi agar Songjin tidak berfikiran yang aneh-aneh.

atau mungkin, itu hanya imajinasi yang bercampur dengan harapan kosong agar setidaknya aku bisa melihat istriku cemburu. Terdengar lucu kalau dipikir ulang. Kenapa juga aku harus mengharapkan hal bodoh itu terjadi kalau aku sendiri bahkan tahu itu tidak akan mungkin terjadi. kenapa juga Songjin harus merasa cemburu?

Tapi mengharapkan istrimu cemburu ketika melihat kau bersama dengan gadis lain itu wajar kan? Bukankah seharusnya itulah hal yang semestinya harus terjadi?

Tapi aku kembali ingat bahkan sejak awal hubungan ini terjadi pun bukan dilandasi kewajaran seperti itu. kami hanya menjalankan atas dasar rasa tanggung jawab pada kewajban masing-masing kami untuk mempertahankan kehidupan tuntutan perusahaan, juga keluarga. Atau setidaknya, itulah yang dilakukan Songjin hingga saat ini.

“ini baru jam dua belas kan? Kenapa sudah pulang? pestanya masih berlangsung kan?” tanya Songjin setelah menandaskan seluruh airnya, dan meletakan gelas pada bak pencuci piring dibelakangnya.

“aku bosan.” Jawabku singkat. dan malas. Lebih malas saat melihat Songjin menandangiku dengan satu alis yang diangkatnya tinggi-tinggi.

“Gyuwon Eonni ikut kan?”

“tentu saja dia ikut. dia kan Asisten Siwon Hyung!”

“yayaya. Lalu kenapa kau bosan?” ia bertanya lagi dengan nada sarkastik. Modar-mandir kesana kemari mencari serbet untuk membersihkan tangannya yang basah setelah mencuci piring.

“lagipula disana ada banyak gadis-gadis kan? Dan bukannya kau selalu menikmati menjadi pusat perhatian? Bukankah disana kau menjadi pusat perhatian pada gadis-gadis itu? harusnya kau nikmati saja hal seperti itu…” ucapnya tanpa menoleh padaku.

Masih sibuk membersihkan tangannya dan membereskan perabotan yang kupikir tidak perlu lagi untuk dirapihkan.

Aku berdecak kesal. Aku baru saja akan mengeluarkan semua keluh kesahku hari ini padanya, tapi dia seperti mengajak kami untuk berdebat lagi.

Memangnya dia pikir kenapa aku bisa bosan berada disana? Dan apa dia tidak berpikir bagaimana bisa aku menikmati pesta semacam itu disaat istriku sedang terkapar lemah dirumah dengan suhu tubuh yang tinggi? Dia ini bodoh atau tolol? Atau keduanya? Menyebalkan sekali!

Dan dia benar. aku selalu menikamati menjadi pusat perhatian dari banyak gadis diluar sana. Tapi aku lebih menikmati menjadi pusat perhatian istriku sendiri dalam hal apapun itu.

Tapi yasudahlah, sepertinya gadis ini memang terlalu tolol untuk memahami hal sepele semacam itu.

“apa Siwon Oppa sudah kau beritahu kalau kau membawa Gyuwon Eonni kesini?”

Tentu saja tidak. yang pria itu tahu, gadisnya sekarang sudah berada di Rumah Sakit lagi. “ya.” tapi tidak tahu kenapa mulutku malah memberikan jawaban yang berbanding terbalik.

“bagus. Jangan buat Siwon Oppa Khawatir.”

Cih! Khawatir..

“ya~ Songjin.” Panggilku yang kemudian diabaikannya. Gadis ini masih mondar-mandir tak jelas. mengembalikan wajan yang tadi baru dipakai oleh Gyuwon memasak ketempatnya lagi.

Lalu matanya jelalatan kesegala arah. “yaaa~ Songjin!” aku memanggilnya lagi dan hanya gumaman asal yang menjawabku.

Ya tuhan gadis ini. menyisihkan waktu satu detik hanya untuk menoleh sebentar bisa kan? “Park Songjin!” kunaikan nadaku langsung tiga oktaf lebih tinggi sambil menarik tubuhnya mendekat padaku. Lalu menguncinya dengan satu tangan yang sengaja kulingkarkan pada tubuhnya yang ramping.

“mwo?” ia bersingut galak.

Aku melemparkan serbet yang dicarinya sejak tadi tepat diwajahnya. Membuatnya mendesis kesal. Dia pasti akan berfikir kalau aku sengaja menyembunyikan benda itu agar membuatnya kesal. Tapi aku tidak perduli dengan spekulasi bodoh yang selalu dibuatnya sepihak itu.

Kutempelkan telapak tanganku pada keningnya. Suhu tubuhnya sudah jauh jauh jauh menurun dibandingkan tadi sebelum aku meninggalkannya.

Kubilang juga apa? Dia ini hanya terlalu lelah, dan butuh banyak istirahat saja. kalau tadi dia tetap memaksa untuk ikut kepesta, aku tidak yakin kondisinya akan membaik seperti sekarang.

“sudah makan?” tanyaku kemudian, dijawab anggukan pelannya.

“minum obat?” Songjin mengangguk lagi.

“bagus.” Pujiku setelahnya. Jarang-jarang dia mau menuruti semua perintahku. Mungkin kali ini dia telah sadar kalau apa yang kukatakan, semua semata-mata hanya untuk kebaikannya.

Songjin bergerak asal dari kekanganku. Ia bersingut dan berusaha meloloskan dirinya dari jeratanku, “aku ingin kekamar.” Ucapnya masih lemah.

“tidur lagi?” sahutku. “kau tidak bosan tidur terus?” bukannya tadi dia yang protes padaku kalau dia bosan selalu berada diatas kasur?

Songjin menggeleng ragu. “kalau begitu temani aku saja.” ucapku sambil merapihkan anak rambutnya yang berantakan. “mau?”

“kemana? Ini kan sudah malam.”

Aku tersenyum, “mau tidak?” aku mendesaknya dulu sebelumnya. “waktuku tidak banyak, cepat jawab!!”

“kemana?”

“mau tidak?” aku kembali mendesak hingga akhirnya ia mengangguk.

“kemana?”

“tidak kemana-mana. Hanya mengerjakan beberapa tugas saja.” jawabku pendek, menahan tawaku dan menautkan jemari kami sebelum akhirnya, kuseret Songjin ikut bersamaku.

Dia pasti sedang mengutuk-ku dengan berbagai makiannya setelah ini. hahaha!

Author’s side

“kau tidur saja. kau butuh banyak istirahat kau tahu—“ ujar Kyuhyun pada Gyuwon yang terlihat sudah sangat lemas. Tapi gadis itu tetap saja memaksakan dirinya bersama Kyuhyun untuk mengerjakan beberapa laporan perusahaan.

Gyuwon menggeleng menunjukan penolakannya, lalu kembai berkutat dengan berbagai lembaran kertas didepannya. Menggoreskan spidol merah diatas lembaran ditangannya itu.

Kyuhyun cukup mengerti dengan sifat keras kepala Gyuwon hingga akhirnya kembali merapatkan bibirnya lagi dari berbagai tuntutannya. Ia lalu menoleh kesamping, memandangi sejenak Songjin yang sedang bersandar santai pada punggung sofa,dan hampir memejamkan matanya, kemudian menyentil hidung mancung Songjin hingga gadis itu membuka matanya lagi.

“ya!!” Songin mendelik tak terima namun kyuhyun melotot lebih galak, “pantas saja Appa tidak ingin memperkerjakanmu di Perusahaan. Kau tidak bertanggung jawab. Siapa yang memerintahkanmu untuk tidur?!” protes Kyuhyun kesal.

“ya~ tapi aku bosan. Kau tidak memberikanku apapun untuk kukerjakan dan hanya memberikanku remot tolol ini!” decak Songjin, melemparkan benda panjang berwarna hitam, pengontrol televisi layar datar didepan mereka hingga membentur meja tanpa perduli jika benda itu akan rusak setelahnya.

“karena tugasmu memang hanya untuk menemaniku!” Kyuhyun menaikan nada bicaranya tak kalah nyaring. “jangan tidur!” bentaknya kemudian.

Membiarkan Gyuwon menertawai apa yang Kyuhyun dan Songjin perdebatkan. “sudah sudah.” Lerai Gyuwon kemudian. Namun terus diabaikan oleh Kyuhyun dan Songjin.

Songjin berdecak lalu mendengus dan membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegap, “dibayarpun tidak, keterlaluan!” geramnya.

***

Dua jam berlalu dan Songjin sudah mati bosan dengan game console yang ia geluti tanpa henti sejak Kyuhyun memaksanya untuk terus terjaga. Dengan penuh kekesalan, dilemparnya benda kotak hitam itu sembarang.

Ia lalu melirik kesamping melewati belakang punggung Kyuhyun. seketika mencelos, “Gyuwon Eonni tidur! Kyu~” serunya nyaris memekik.

“hm?”

“itu~” ia menunjuk Gyuwon yang sudah terlelap dengan tangan memegangi beberapa kembar kertas. Spidol ditangannya yang tadi ia gunakan sudah jatuh kelantai.

“dia pasti terlalu lelah. Sudah kubilang tadi tidak perlu membantu.” Kyuhyun bergumam. Diletakannya laptop yang sejak tadi dipangkunya dan bangkit. Menarik kaos putih oblong nya yang kusut, baru kemudian menyelipkan lengannya pada lekukan leher dan kaki Gyuwon.

Songjin mendelik, “mau apa?” pertanyaan yang mengandung unsur kepanikan tingkat tinggi saat Kyuhyun mulai mendekati Gyuwon, namun dengan rapih disembunyikannya dalam nada datar.

“memindahkannya kekamar! Apa kau pikir dia akan terus tidur disini sampai pagi?”

kesal itu berangsur turun walau masih menyisakan rasa sesak pada diri Songjin. Ia kemudian mengangguk dan berusaha acuh dengan kembali menggeluti Game Console-nya.

tiga puluh menit berlalu dan Kyuhyun belum juga kembali. berbagai hal konyol telah melintas didalam kepala Songjin. Gadis itu melenguh panjang dan kembali bersandar lemas pada punggung sofa.

Rasa ingin tahu yang semakin menggunung, masih belum bernilai lebih tinggi dari rasa Jengah pada Gadis bermarga Lee itu. atau setidaknya sama.

Matanya terpejam. Susah payah Songjin membuang berbagai potongan bayangan yang terputar didalam pikirannya seperti film, dan berusaha bersikap se-normal mungkin.

Ia lalu terkejut dengan beban yang tiba-tiba saja ditopangnya. Matanya terbuka lebar dan turun kebawah. Mendapat Kyuhyun yang sudah mendaratkan kepalanya pada pangkuannya, ia hanya berdecak sebal.

“aku lelah.” Kyuhyun beralasan.

Namun tetap saja berbanding terbaik dengan tangannya yang masih sibuk mengutak-atik computer lipat canggih miliknya seakan berjam-jam waktu sebelumnya masih belum cukup untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

Songjin memutar bola matanya Jengah. Tak menanggapi segala runtukan kyuhyun tentang kondisinya, dan terus menggeluti game console-nya. membuat Kyuhyun geram dan menarik ujung rambut Songjin.

“Yaa~ kau dengar tidak apa yang baru kukatakan?” pekiknya.

“tentu saja aku dengar. Aku belum tuli. Kau lelah. Lalu apa urusanku? Kau saja yang memiliki tubuh, masih terus memenjarakan tubuhmu tanpa ampun begitu. aku harus bagaimana?”

Kyuhyun menghembuskan nafas beratnya kasar dan menghentikan kerja jemarinya yang tanpa henti bergerak menekan tuts-tuts keyboard pada laptopnya. Memandang Songjin dari bawah tempatnya berada.

Keheningan terjadi beberapa saat. Baik Kyuhyun maupun Songjin terus sibuk pada aktifitas masing-masing, hingga kemudian Kyuhyun terlonjak,

“bagaimana kalau kita pergi berlibur?”

Songjin mecebikan bibirnya, mengejek usulan Kyuhyun padanya. “ya~ aku serius. memangnya kau tidak ingin?”

“yaya~ kau serius. aku tahu.” Songjin mengulang masih dengan nada mengejek. “bagaimana kalau kau tidak perlu berfikir sejauh itu? bagaimana kalau kau menyediakan waktu untukmu sendiri saja dan beristirahat? Dirumah. Meninggalkan semua pekerjaan bodoh itu satu hari saja?”

“Tck, aku tidak tertarik hanya berada ditempat ini seharian penuh tanpa melakukan apapun. lebih baik pergi kesuatu tempat, iyakan?” ucap Kyuhyun. ia kembali terlonjak. “bagaimana kalau kita berlibur? Bagaimana dengan pulau Jeju? Atau…keluar negeri? Hawaii?”

“Cih!” Songjin mendecak sinis.

“Ya~ Songjin!”

“sudahlah.. jangan terlalu banyak mengumbar kesenangan seperti itu. kau sendiri bahkan tahu kau tidak akan bisa melakukannya. Kesibukanmu bahkan melebihi perdana Menteri Negara ini.” Songjin mengejek dengan sangat jelas.

Namun kemudian, ia menarik Kyuhyun untuk kembali pada posisi semulanya, dan mulai mengusapi rambut cokelat itu lembut. “kau itu harus banyak istirahat. Kau bukan robot yang bisa terus-terusan terjaga dan memforsir tubuhmu seperti ini.” Tukas Songjin menasihati.

Sejenak, membiarkan Kyuhyun bersantai selama beberapa saat dengan mata terpejam.

“kau bisa sakit. dan kau tahu aku sibuk, kan? aku tidak akan sempat mengurus bayi besar sepertimu. Jadi cepat selesaikan semua tugasmu dan tidur!”

“Cih!” Kyuhyun mendecah pelan. kini ganti mencibir. Tiba-tiba saja matanya terbuka lebar, “ayo, kita berbulan madu!” pekiknya.

“MWO?”

“kita berbulan madu! Aku seribu persen yakin appa akan mengijinkan kalau kit—“

“YAAAA!”

“mwo?” toreh Kyuhyun mengerlung, “kita kan belum berbulan madu, iya kan?”

“Yaaa! Cho Kyuhyun! kau—“

“wae?” Kyuhyun menatap Songjin Polos. Sebagian niatan awal yang hanya untuk menggoda runtuh saat hampir seluruh dari hatinya tiba-tiba saja menginginkan hal itu benar terjadi.

“MESUUUM!!” Songjin berteriak sambil menepuki kening Kyuhyun tanpa ampun. Seakan dengan melakukan hal itu, dapat membuat Kyuhyun mengugurkan rencana temporer yang baru dua detik dibangunnya.

Kyuhyun kembali bersingut kesal pada reaksi Songjin. Ia kembali menyibukan diri dengan pekerjaannya lagi.

“memangnya dimana letak kesalahannya? Memang itu yang dilakukan pasangan suami istri kan?” ia bergumam pelan. sangat pelan seperti angin. Rasa kesal, marah, dan berbagai perasaan lain ikut bercampur didalam hatinya. Kembali membiarkan Songjin sibuk dengan game console nya.

“…..tapi, boleh juga.” tiba-tiba Songjin berucap. Membuat Kyuhyun menarik ulasan senyum dari ujung bibirnya.

“apanya?”

“liburannya!” terang Songjin dengan mata berbinar. “lib—?kau mau?” Kyuhyun kegirangan sendiri. level kebahagiaannya mendadak naik saat Songjin mengangguk berkali-kali dengan yakin.

“ajak Siwon Oppa dan Gyuwon Eonni! Lalu bagaimana dengan Donghae Oppa?”

Kyuhyun mengendur. Wajahnya kembali suram, lalu datar tak menyisakan ekspresi yang dihasilkan dengan point berlebih pada detik sebelumnya. “kau kira kita akan melakukan liburan keluarga? Kau itu sebenarnya tahu tidak sih bulan madu itu apa?” geramnya tertahan.

“tapi liburan itu yang—“

“dan kalau pun kita akan melakukan liburan keluarga, untuk apa membawa mentormu? Dia bahkan bukan anggota keluarga?!”

“Gyuwon Eonni juga!!” Songjin memotong dengan cepat. Tidak mau kalah. Kyuhyun diam, lalu membuka mulutnya lagi, “tapi dia sudah dianggap seperti keluarga.”

“dengan siapa? kau? kalau begitu sama saja dengan Donghae Oppa!”

“sama? Tentu saja berbeda! Aku mengenal Gyuwon lebih lama dibandingkan kau mengenal mentormu itu! dan kau bahkan juga sudah mengenalnya lama. Siwon Hyung juga. lalu Appa—“ Tutur Kyuhyun beralasan. Membuat Songjin terang saja mengalami kekalahan telak.

“tapi Donghae Oppa juga sudah kuanggap seperti kakak bagiku. sama seperti kau dan Siwon Oppa.” Songjin masih tidak mau kalah. Walau sudah jelas kalah. Terus membantah dengan nada yang semakin meningkat.

Gigi Kyuhyun bergemeretak. Dengan cepat ia menutup laptop dipangkuannya kasar, lalu meletakannya sembarang dan bangkit “aku bukan kakakmu” bantahnya ketus.

“jangan terlalu munafik dengan menganggap semua hal sama. tidak Semua hal berarti sama. Bodoh!” geramnya sebelum melesat meninggalkan Songjin sendiri.

“Ya~ Kyuhyun-ah! Kau ini kenapa?!”

Cho Songjin’s side

Aku mengerlung didalam selimut tebalku. Udara pagi kali ini lebih dingin dari biasanya. Ditambah hujan yang mengguyur begitu deras,  hingga suaranya dapat kudengar dengan jelas.

Percikan air yang jatuh tepat dijendela, membuat suara gemuruh itu semakin terasa menjadi saja.

Dan suara bising itu lebih terasa menyiksa saat aku baru sadar dengan suara dengkuran begitu kencang ditelingaku.

“Ish!” desisku kesal. Terang saja suara dengkuran itu terasa begitu nyata. Bibir tebal itu berada tepat disamping telingaku. Apa dia sengaja ingin memamerkan suara menggelikannya itu?

Dengan kesal, kutangkupkan sebuah bantal diatas wajahnya. Tidak menghentikan suara dengkuran yang mengganggu itu memang. tapi paling tidak, sedikit mengurangi volumenya.

Lalu setelahnya, aku kembali berputar, memunggungi Kyuhyun dan menarik selimutku lebih tinggi. Untung saja sekarang hari libur, aku tidak berlu bersusah payah melawan rasa malas karena tekanan ranjang empuk dan tambahan cuaca yang begitu mendukung untuk bersantai-santai ria.

Dan Sepertinya baru satu detik aku kembali tertidur, lagi-lagi suara bising memaksaku untuk membuka mata. “Kyuhyun-ah! Ponselmu!!” kataku malas sambil menggoyangkan tubuhnya yang sudah seperti mayat jika sudah tidur.

“Kyu~!” kutepuki pipi gembilnya. Tapi Kyuhyun masih terpejam dengan damai seakan semua yang kulakukan sama sekali tak berarti.

Usahaku memang sia-sia. Kyuhyun sama sekali tidak bergeming, malah bergumam tidak jelas dan lalu memunggungiku. Mengabaikanku. Sial!

“Aish~ Jinjja!  Cho Kyuhyun—kau!” geramku tertahan sambil meraba seluruh kasur pada jangkauanku.

Setelah bersusah payah menjelajahi ranjang super lebar ini, aku baru berhasil mendapatkan ponsel tipis milik Kyuhyun entah berapa menit kemudian. Tanpa berusaha mencari tahu siapa makhuk disebrang, langsung kutempelkan benda itu disamping telingaku.

“DIMANA GYUWON?” pertanyaan singkat itu langsung menyapaku tanpa basa-basi.

“Mwo?”

*

171 thoughts on “Missing [Part 7]

  1. Menurutku kyuhyun agak plinplan sih…. Dia bilang suka sama songjin, tapi masih peduli bgt sama gyuwon… Trus… Trus…gimana yaaa…. Bikin greget jadinya😅

  2. sebenarnya gimana sihh perasaan kyuhyun ke songjin..
    cinta atau enggak..??
    kalo cinta kenapa malah bawa gyuwon ke rumahnya..
    egois yaa.. kayak gk peduli sama perasaan nya songjin
    harus tegas pilih salah satu dong kyuhyun..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s