Missing [Part 9]


Author: GSD

Title: Missing. [9]

Cast: Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Park Songjin, Lee Donghae, Lee Gyuwon.

Rating: PG 16.

Length: Chaptered.

Genre: Romance, Tragedy, Family.

“Aku bisa saja mengabaikan semuanya. Tatapan banyak orang disini pun tidak terlalu mempengaruhiku. Tapi Jika Songjin yang berada disini, aku tidak tahu akan jadi apa gadis itu nanti karena aku benar-benar sudah seperti orang gila sekarang.” –Cho Kyuhyun

Cho Songjin’s side

“OMO! apa yang kau lakukan?” aku terkejut dengan tubuh menegang. Namun dengan cepat berbalik. Membuat lengan Kyuhyun yang semula merengkuh perutku, kini hanya mendapatkan tulang pinggangku saja.

Jantungku berdegup cepat, walau ini bukan sekali-dua kali ia melakukannya. Jauh sebelum kami menikah, kami telah melewatkan banyak hal, tapi entah mengapa, setelah menikah, hal-hal sepele seperti ini malah membuatku menjadi tidak karuan.

Sebaliknya, Kyuhyun seperti tidak terlalu menanggapi keterkejutanku dan malah semakin mengeratkan lengannya. Memotong jarak yang sebenarnya tadi hanya menyisakan beberapa jengkal saja.

“kenapa?” tanyaku perlahan. Tidak mengerti dengan sikapnya yang….aneh.

Kyuhyun hanya menggeleng lalu meletakan kepalanya pada bahuku. Tidak mengatakan apapun itu pada dasarnya malah membuatku kesulitan karena tugasku pagi ini bukan hanya harus menyisakan waktu demi meladeni sifat kekanakannya yang tidak pernah hilang sejak dulu.

Sekalipun ia baru saja mendapatkan mimpi buruk dari tidurnya, tidakkah ia berfikir bahwa sangat lucu mengingat dirinya adalah seorang pria? Ayolah—

Tapi lagi, toh, kekesalan dan berbagai pertanyaan yang muncul dikepalaku, tidak berusaha menghentikan usahaku untuk menenangkannya, dan malah mempererat rengkuhannya sambil mengusap kepalanya lembut.

Aah.. Cho Kyuhyun. kau ini benar-benar…

**

“Apaaa? Hiking?!” aku nyaris menjerit, karena terkejut. Pria dihadapanku ini baru saja mengatakan bahwa ia akan mengajakku berlibur dengan… Hiking? Mendaki gunung? Mendaki??

Astaga!

mm.” Kyuhyun mengangguk dengan sangat yakin. Seperti menikmati keterkejutanku. Tidak perlu menunggu satu detik, aku langsung menggeleng cepat. “Tidak!”

“ya~ ayolaaah. Aku jamin akan menyenangkan.”

“untukmu. Tidak untukku. Kau pergi saja sendiri.”

Tolakku mentah-mentah. Aku sudah menghabiskan waktu berhargaku banyak, melewatkan satu kelas pagiku untuk sekedar mendengar lelucon konyolnya ini. aku bahkan sudah terlambat masuk pada kelas selanjutnya lagi yang harus kuikuti sekarang.

“Songjin~” Kyuhyun merengek. Namun aku tetap pada pendirianku.

Dia ini kenapa sih? Atau dia memang sengaja ingin mempermainkanku. Berapa lama sih kami saling mengenal? Apa sepanjang waktu itu, tidak membuatnya mengerti bahwa aku tidak pernah menyukai hal-hal semacam itu?

Maksudku—ayolah, aku memang menikmati permainan psp nya, aku pun menyukainya. Tapi bukan karena aku menyukai hal-hal itu lalu aku juga menyukai segalanya saat bersamanya.

Atau memang iya.

Tapi tidak untuk mendaki gunung. Tidak dengan mendaki.

“aku tidak mau, Kyuhyun-ah! Apa kau gila? Sejak kapan kau ingat aku suka—atau setidaknya pernah suka dengan kegiatan mendaki?”

“Tapi kan—“

“Tidak!”

Kyuhyun berdecak, “Tck, ayolah. Ini tidak seburuk yang kau kira. Kita hanya akan mendaki gunung surak! Itu tidak sulit!”

“aku tidak perduli!” kukibaskan tanganku malas.

“Ayolah~ Songjin. Kumohon.”

Kyuhyun merapatkan dua telapak tangannya. Dengan wajah mengiba memandangku hingga pria itu terlihat begitu menyedihkan. Aku tidak tahu jika hal ini benar-benar berarti untuknya. Tapi yang benar saja! mendaki!!

Betisku! Sial!

“Tck!” Aku ikut berdecak. Mengangkat cangkir kopiku dan menyesapnya sedikit. Kualihkan pandanganku pada sekitar dan mendapati beberapa anak muda sedang memandangi mejaku sambil berbisik. Kadang tertawa pelan, lalu menunjuk-nunjuk.

Benar-benar sopan.

“ini bukan mauku. Appa yang mengajak. Dan aku tidak bisa menolak.”

“kenapa tidak bisa? Katakan saja kau tidak mau!” Sergahku. Namun kemudian, Kyuhyun merunduk dan menggeleng lemah. “tidak bisa,” Ucapnya.

“kenapa tidak bisa? Apanya yang tidak bisa? Kau saja sering menolak ajakan orang lain. Kenapa kali ini saja tidak bisa?”

Tiba-tiba Kyuhyun mengangkat keningnya, membuatku sedikit terkejut. “karena Appa yang memintanya. aku hanya…tidak bisa.” Ujarnya.

Sesaat, ia membuatku sadar akan rasa hormatnya kepada seseorang yang telah membesarkannya. Ini bukanlah rasa hormat. Ini lebih terlihat seperti ketidakmampuan nya dalam menentang suatu hal karena rasa segan yang terlalu besar.

Aku tidak pernah melihat Kyuhyun  menentang apa yang Ayah mertuaku itu inginkan.

Sama sekali tidak pernah.

Setidaknya…..memberikan sedikit alasan kepadaku, mengapa ia setuju ketika diminta untuk menikahiku, dulu.

Eomma juga ikut. Siwon Hyung….Gyuwon.”

“Gyuwon? Gyuwon Eonni?”

Kyuhyun mengangguk pelan. memotong tiramisu cake-nya, dan melahapnya segera. “iya. Dan beberapa staff dari perusahaan pun ikut. Appa dan Eomma-mu juga ikut! memangnya kau tidak tahu?”

Bola mataku membulat seketika, “Apa?” aku terkesiap. Mematung beberapa saat. Dengan adanya Gyuwon Eonni saja perasaanku sudah tidak tenang. Lalu menyertakan Appa dan Eomma?

Astaga.

Selama ini aku bisa saja menghindar dari serangan mereka akan pertanyaan ‘apa aku sudah mengandung?’ atau ‘kapan aku akan memberikan mereka cucu?’ tapi kali ini sepertinya… tidak akan bisa.

“kau tahu tidak? mendaki gunung itu bukan olah raga yang tepat untuk wanita.” Kataku nyaris berbisik. Mencondongkan tubuh pada Kyuhyun yang terlihat tidak perduli dengan alasanku.

“kau tahu tidak, berdebat juga bukan olah raga yang tepat untuk pasangan suami-istri!” Tukas Kyuhyun. pria itu menaikan satu alisnya, lalu ikut mencondongkan tubuhnya padaku, “mau tahu olahraga yang tepat untuk suami-istri?”

Sial! Detik selanjutnya, aku langsung melayangkan sendok kue ku pada ujung kepalanya sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Melakukannya keras-keras sekuat tenagaku. mengabaikkan pandangan orang-orang sekitarku yang mungkin saja langsung memberikanku predikat gadis kejam, ringan tangan, atau monster sekalipun.

Tapi menghilangkan ekspresi mesum dari wajah seorang Cho Kyuhyun saat ini adalah kewajiban yang harus dilakukan dengan segera!

“kau seperti Ahjussi hidung belang, tahu tidak?”

Kyuhyun hanya menggosoki kepalanya kuat-kuat sambil meringis. Sepertinya pukulanku tadi memang benar-benar menyakitkan. Aku jadi sedikit tidak tega melihatnya. Dan lagi, benar-benar tumben pria ini tidak balik memukul atau menghina, atau mengoceh apapun tentang kekerasan yang baru saja kulakukan.

Sebaliknya, ia malah berkata ‘aku mohon’, lagi, dengan bibir yang bergerak, tanpa mengeluarkan suara apapun. benar-benar pantang menyerah.

Author’s side

‘Aku Mohon, kali ini saja. ikutlah bersamaku.’ ingatan Songjin tentang bagaimana Kyuhyun memintanya pun masih tertanam begitu jelas pada ingatannya. Gadis itu mendengus sambil memasukan beberapa pakaiannya kedalam Koper.

Masih tidak habis pikir mengapa Kyuhyun begitu memaksa dirinya untuk ikut mendaki Gunung besok. hampir dua puluh tahun selalu bersama, kapan akan membuat Pria itu sadar bahwa dirinya tidak pernah menyukai hal-hal semacam itu?

Batin Songjin dalam hati. tapi toh, hal itu sama sekali tidak menyurutkan keputusannya untuk ikut bergabung dalam hal yang paling tidak disukainya itu.

Setelah perjanjian menyeramkan sepihak yang mau tidak mau harus disepakatinya. ‘….baiklah, sepertinya memang tidak ada jalan lain. Kalau kau tidak mau juga, aku bisa saja menyita kartu kreditmu.’

Ujar Kyuhyun kemarin pagi. Memberikan ultimatum, sekaligus ancaman mautnya. Mematikan kartu kredit benar-benar hal ampuh yang tidak akan bisa diacuhkan begitu saja bagi Songjin. Ah.. tentu saja. gadis Shopahollic itu—

“baiklah baiklah. Kau menang Tuan Cho. Kali ini kau menang. Tapi lihat saja, kau akan menyesal telah membawaku ikut bersamamu, dan mengancamku!” geram Songjin.

Terlihat begitu nyata dengan tangan yang meremas pakaiannya sendiri. Gadis itu benar-benar kesal.

Sedangkan disisi lain, Kyuhyun tengah sibuk dengan psp, setelah tiga jam nonstop mengikuti rapat bersama Ayahnya, dan beberapa pegawai lainnya.

“Kau ikut kan, Kyu?” tanya Tuan Choi setelah duduk pada salah satu sofa, berhadapan dengan Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk, “ya. pasti.”

Tuan Choi tersenyum puas, “lalu.. apa istrimu akan ikut juga?” tanyanya kemudian. Menggaruki tengkuknya canggung, “maksudku—aku tidak akan memaksa agar dia ikut. aku hanya menginginkan sedikit liburan saja. liburan keluarga.”

“dengan membawa beberapa Staff dan pekerjaan juga?” potong Kyuhyun sarkatis. Siwon tersenyum tipis mendengarnya. Sedikit banyak membenarkan apa yang Kyuhyun katakan, bahwa Ayahnya benar-benar terlalu menggilai pekerjaannya, hingga tidak bisa melepaskannya walau sejenak saja untuk menenangkan diri dan berlibur.

aniya, bukan begitu maksudku.” Tuan Choi Gugup. Entah harus menjawab apa pertanyaan tajam Kyuhyun tadi. Pria tua itu hanya tersenyum canggung dan menggaruki kepalanya lagi.

“dia ikut.” Ucap Kyuhyun kemudian.

“apa?”

“Songjin. Dia ikut.”

“hah?” sejalan dengan Tuan Choi yang terkejut, Siwon pun ikut membuat lubang pada mulutnya seketika. “Songjin ikut??” Siwon mengulang.

Kyuhyun bergumam tak tentu. Sedikit banyak, pria ini masih menyisakan kekesalan pada Kakak Tirinya itu. namun terlihat buruk jika perkelahian atas dasar hal tak menentu itu, diketahui oleh sang Ayah.

Karena itu ia hanya menanggapinya dingin dan datar. “B—bagaimana bisa? Bukankah Songjin tidak pernah mau untuk—“

“tentu saja bisa. Apa yang tidak bisa kulakukan memangnya?” Kyuhyun menyahut sinis sambil menoleh pada Siwon.

Pria berlesung pipi itu hanya terdiam menanggapi sindiran dingin Kyuhyun namun kemudian tersenyum kepadanya, “kau benar.” ujarnya “sepertinya kau salah satu manusia beruntung didunia ini. Kau bisa melakukan segalanya. Dan semoga saja kau pun dapat memiliki segalanya dengan keberuntunganmu itu.” Siwon membalasnya dengan nada serupa. Dingin dan menantang.

“Cih!” Kyuhyun mendesis sinis begitu pelan. menyembunyikan kemarahan dengan memilih untuk kembali menggeluti game console nya lagi.

**

“Astaga Park Songjin! Apa kau gila?” Kyuhyun berseru. Menarik tudung jaket Hoodie nya erat-erat, melampiaskan kekesalan.

Matanya membulat melihat deretan Koper yang telah dipersiapkan Songjin sebagai barang bawaannya untuk mendaki dan camping selama tiga hari. Astaga. pria itu tidak pernah bisa menutup mulutnya dan menghentikannya mengumpat.

Menggumamkan hal-hal buruk yang tidak sebaiknya dikeluarkan saat sedang kesal. Tapi gadis ini benar-benar sedang menguji kesabarannya. “kita hanya akan pergi selama tiga hari Songjin! Bukan Tiga tahun! kenapa kau menguras seluruh isi lemari?”

“tapi kan tiga hari itu lama! dan kita akan berada diluar sana. Memangnya kau tahu apa yang akan terjadi nanti? Lagipula aku kan hanya berjaga-jaga saja dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi!”

“kemungkinan buruk apa?” Kyuhyun memotong. “kemungkinan akan diadakannya pesta peragaan busana diatas gunung nanti sampai kau membawa sepatu berhak itu bersamamu?”

Kyuhyun memicingkan matanya menatap sepatu berhak yang tingginya tidak main-main itu. kepalanya hampir pecah saking pusingnya. “dan kau membawa tiga pasang?”

“karena kita pergi selama tiga hari.” Jawab Songjin polos. Kyuhyun kembali mengumpat.

“Ya tuhan Songjin!! Itu Gunung! Gununggg!” Kyuhyun menggeram. Pria itu berjongkok dan membuka salah satu koper pink milik Songjin. Matanya semakin membesar saat mendapati pakaian-pakaian yang dipersiapkan Istrinya tersebut.

“apa kau beniat untuk menggoda hewan-hewan liar disana? Untuk apa pakaian seperti ini kau bawa??”

“itu kan hanya—“

“Aish! Sudahlah! Aku tidak ingin membuang waktu lagi. Aku tidak mau kau membawa sebanyak ini. kita hanya akan pergi selama tiga hari jadi bongkar seluruh koper ini, bawa seperlunya saja. tidak perlu membawa sepatu-sepatu ini, dan tinggalkan pakaian ini. mengerti?”

Kyuhyun menatap Songjin lekat-lekat. “kau mengerti tidak?” ulangnya kembali. namun tidak sampai menunggu gadis itu menjawab, ia menyerahkan sebuah summer dress milik Songjin kembali pada sang pemilik dan mendesah, “sudahlah, aku tidak perduli kau mengerti atau tidak. lagipula percuma saja dengan otakmu yang seperti itu.”

Songjin mendelik. Ingin berteriak, tapi Kyuhyun sudah lebih cepat memutar tubuhnya lagi, “siapkan dengan cepat. Waktumu hanya sepuluh menit. Aku tunggu dibawah, lebih dari itu kau kutinggal.—dan jangan coba kabur karena hidup matimu ada ditanganku sekarang.”

Kyuhyun berujar cepat. Kembali menegaskan bahwa kartu kredit serta beberapa kartu penting lainnya telah berada dibawah pengawasannya. Sedikit saja Gadis itu macam-macam, bisa saja ia langsung melakukan hal yang tidak dinginkan itu tanpa ampun.

“Cerewet!” dengus Songjin kesal. Kembali masuk kedalam kamarnya dengan hentakan kaki yang begitu kuat. Membuat Kyuhyun benar-benar tidak sanggup menahan kekehan yang dilontarkannya diam-diam sesaat sebelum keluar meninggalkan ruangan untuk turun menuju lahan parkir.

**

Kepala Kyuhyun kembali berdenyut kencang. Kali ini memang bukan karena Songjin yang menghabisi seluruh isi lemarinya dan ikut dibawanya pergi, namun tetap saja, kekesalan itu bermuara pada titik yang sama.

Pria itu memandangi nanar seluruh pasang mata pegawai Prianya yang sedang sibuk mempertahtikan gadisnya dengan tatapan yang sebenarnya tidak perlu terlalu diributkan.

Beberapa pegawai yang sadar, langsung mengalihkan pandangan. Tidak sedikt dari mereka yang pergi menjauh, walau sesekali masih mencoba curi pandang pada Songjin.

Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. “aaaah! Dasar tolol!” geramnya lagi.

Songjin yang sedang heboh mengambil gambar pemandangan pohon-pohon pinus dihadapannya, menghentikan kerja nya dan menoleh pada Kyuhyun. Gadis itu mengerutkan kening, tidak mengerti mengapa Kyuhyun bersikap seperti orang yang sedang sakit perut. “wae?” tanyanya polos.

“kau itu benar-benar bodoh!” Hardik Kyuhyun dengan nada sedikit meninggi. “kau tahu kita akan mendaki, kenapa kau gunakan pakaian seperti ituuuuuu Park Songjin???! Aaaaah! Dasar bodoh! Kau seperti tidak pernah mendaki saja.”

“memang tidak.” balas Songjin datar. Lalu kembali mengambil beberapa gambar pemdangan lagi.

Mata Kyuhyun kembali terarah pada kaki jenjang Songjin yang tidak tertutupi apapun. Hot Pants sialan itu! tentu saja seluruh mata pria-pria disini begitu terpaku dan tidak bisa berpaling. Ia sendiri pun seperti itu. walau dengan cepat dan usaha mati-matian, dialihkannya kembali pikiran menyimpangnya itu.

Bibir Kyuhyun telah terbuka kembali. sedikit saja, namun untunglah semuanya buyar. “Aigoo~ menantuku cantik sekali!” seru Nyonya Choi datang menghampiri. Tersenyum pada Kyuhyun lalu menyelipkan tubuh diantara Kyuhyun dan Songjin.

“Eomonninm…” Songjin menurunkan tangannya, lalu merunduk sopan. Mata Kyuhyun kembali melotot pada salah satu bahwahannya yang terang-terangan memperhatikan tubuh Songjin saat gadis itu sedang membungkuk pada Ibunya.

Dengan ketus ia mengusir orang itu menggunakan wajah menyeramkannya. Sesaat, berhasil membuat pegawainya itu minggir menjauh. Tapi tidak dengan Siwon yang tidak tahu sejak kapan berdiri tidak jauh dari sana.

Memandangi focus yang sama. Kyuhyun kelimpungan.

“aku benar-benar merindukanmu. Kita sangat jarang bertemu!”

“Eomonnim terlalu sibuk. Aku juga dengan kuliahku. Saat aku datang kerumah, aku hanya bertemu dengan pelayan saja karena semua orang disana sibuk dengan urusannya masing-masing.” tukas Songjin lembut. Tersenyum dan berkata apa adanya.

“kau benar. sepertinya aku memang harus pension dini agar kita dapat lebih sering bersama.”

Nyonya Choi tertawa renyah bersama dengan Songjin. Tak berapa lama, wanita berusia lainnya pun datang. Kali ini berbeda. Wajahnya begitu kaku menyiratkan kemarahan teramat sangat.

“Yaa! dasar anak tidak tahu malu!” Nyonya Park, menarik topi Songjin tanpa ampun. “apa kau gila? Kau pikir kau sedang berada dimana? Kenapa pakaianmu seperti ini?”

“a—apa? Kenapa?” Songjin yang kebingungan hanya memandangi Ibunya dengan wajah ‘tidak tahu menahau’

“ya! apa otakmu yang sedikit itu pun sudah hilang dimakan cacing? Lihatlah! Kita akan berkemah dan mendaki. Apa kau pikir celana kurang bahan seperti ini layak untuk digunakan?”

Nyonya Park mengomel. Rasanya ingin sekali memelintir telinga putri semata wayangnya ini jika saja disini sedang dalam keadaan sepi. mengomel didepan banyak orang seperti ini pun bukan keinginannya.

Hanya saja, membiarkan Songjin lebih lama, bereksperimen dengan segala keanehan gaya berbusananya, dan membiarkan Kyuhyun yang terang-terangan sudah berkeringat deras menahan amarah, nafsu, dan segala sumpah serapahnya, wanita itu tidak bisa lagi tinggal diam.

“kenapa? Songjin kenapa memangnya?” Nyonya Choi sama bingungnya seperti Songjin. Membuat Kyuhyun, Siwon dan Nyonya Park sendiri disana mendesah putus asa.

Siwon yang sejak tadi hanya diam mengunci mulutnya, kini memilih turun tangan. Pria itu langsung membawa Songjin bersamanya sampai pada mobil nya. ia terkekeh geli sambil mengaduk isi tasnya. “kau memang pintar menggoda” ucapnya sambil menggelengkan kepala.

“apa ini?”

“sudah dipakai saja kalau kau masih tertarik hidup lebih lama.” Siwon menegaskan. Memindah tangankan celana pendek miliknya kepada Songjin.

“untuk apa aku menggunakan celanamu?” Songjin menaikan satu alisnya. Masih saja tidak mengerti. Siwon menggelengkan kepala, entah kapan otak Park Songjin akan kembali? batinnya dalam hati.

“untuk menghentikan perubahan wujud Kyuhyun menjadi Monster hijau menyeramkan. Sudahlah, dipakai saja. cepat! Jangan lama-lama. sebentar lagi kita mulai mendaki.”

Siwon berlalu. Meninggalkan Songjin yang masih begitu tololnya, berkutat dengan pertanyaan, ‘kenapa?’, ‘untuk apa?’, ‘siapa?’.

Cho Kyuhyun’s side

“aw!” baru setengah jalan, aku kembali mendengar suaranya. aku menoleh dan mendapati gadis itu sedang bertarung dengan dedaunan yang menempel pada punggung lengannya. Ia berputar-putar seperti orang bodoh seperti daun itu adalah virus mematikan yang bisa membunuhnya jika tidak cepat-cepat disingkirkan.

Aku menghela nafasku. Sedikit tersenyum pada Appa dan Eomma, yang berjalan mendahuluiku, karena aku kembali berhenti ditempat.

Membuang waktuku untuk memperhatikan gadis bodoh itu lagi. ya tuhan, aku tidak pernah menyangka membawa Park Songjin mendaki ternyata sesulit ini. gadis itu sejak tadi seperti orang yang terkena penyakit mematikan.

Memandang takut-takut pada sektarnya, seperti akan ada monster yang sewaktu-waktu dapat menculiknya.

Aku menarik nafasku dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Mengulur kembali kesabaranku yang sebenarnya sudah diambang batas.

“hanya daun, Songjin.” Kataku setelah mengambil daun tersebut. menunjukkan kepadanya. Gadis itu lalu terkekeh, “hanya daun ternyata.” Ujarnya tanpa-rasa-bersalah-sedikitpun.

Dia benar-benar tahu cara membuat seseorang kesal.

“ayo cepat!” aku yang sudah tidak sabar, segera menyeretnya bersamaku. Kami sudah tertinggal cukup jauh. Dan aku sedang tidak berminat untuk bermain petak umpat dengan rombonganku.

Aku juga sama sekali tidak berminat untuk tersesat bersama dengan gadis berotak minimalis ini, jadi yaah—

“aku lelah…” Ujar Songjin. Baru seperempat jalan. aku memutar bola mataku malas. Tidak memperdulikan rengekannya kali ini. tentu saja dia lelah. Aku juga lelah. Semua orang lelah. Tapi perjalanan sampai pada pos pemberhentian berikutnya kan masih cukup jauh.

Terang sekali gadis ini kelelahan. Langkahnya yang semula dapat beriringan denganku, perlahan melambat. Hingga kami berhenti lagi.

Songjin menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu mengeluarkannya lagi, seperti dirinya baru saja berlari marathon. Keringatnya bahkan mengucur deras, lebih banyak dibandingkan aku.

Sepertinya.

Aku sedikit heran, padahal setiap hari, ia selalu mengomentari kesehatanku karena tubuhku yang entah mengapa bertambah bobot setiap detik, sedangkan ia sebaliknya. Hingga membuatnya begitu bangga dengan tubuhnya yang terbentuk.

Tapi aku merasa baik-baik saja, sedangkan gadis ini seperti mau mati padahal kami baru memulai pendakian.

“Kauuuh tidak lelaaahh?” Songjin bicara dengan oksigen yang terbatas. Aku hanya diam. Kalau kujawab, pasti akan menghasilkan pertanyaan lain. Sedangkan cadangan oksigen pada tubuhnya, sepertinya telah terkuras habis.

“minum.” Tiba-tiba saja seseorang menyerahkan sebuah botol kepada Songjin. “Gomawohh, Oppaaahh” Songjin tersenyum tipis lalu dengan brutalnya nyaris menghabiskan air didalam botol minum Siwon Hyung.

Gadis ini benar-benar!

Dua menit setelahnya, nafasnya telah berangsur kembali teratur. Kami masih berjalan perlahan, karena tidak bisa diam ditempat lebih lama. sudah kubilang kan kalau aku tidak berminat tersesat bersama gadis ini?

“ani.” Aku menyambar botol yang akan dikembalikan Songjin pada Siwon Hyung. beralih mengambil botol minum yang kuselipkan pada ransel ku dan menyerahkannya pada pria itu.

Enak saja. dibotol ini ada bekas bibir istriku. Mau apa dia dengan botol itu ditangannya lagi?

“ayo, cepat!” aku kembali menyeret Songjin berjalan lebih cepat. kami sudah tertinggal cukup jauh. Selain tidak ingin tersesat, gadis ini juga harus dijauhkan dari pria bernama Choi Siwon itu.

Benar-benar menyebalkan!

Setelah berjalan kurang lebih dua jam lamanya, akhirnya kami sampai pada pos pemberhentian kedua. Hari sudah terlalu gelap jika harus meneruskan pendakian. Pemandu kami pun tidak menyarankan untuk melakukan pendakian pada malam hari, karena itu kami semua mulai membuat tenda.

Semua tenda sudah siap. Bisa tebak tenda siapa yang masih belum berdiri sejak tadi? benar! tendaku.

“Tck! Sudah sudah. Kalau memang tidak bisa biar aku saja.” sergahku kesal. Sejak tadi gadis ini betul-betul memaksa ingin membangun tenda kami, tapi sudah setengah jam, tenda kami masih berupa lembaran terpal kosong yang sama sekali tidak memiliki nilai.

Awalnya aku tenang-tenang saja. disamping itu, aku menikmati pemandangan, bagaimana Songjin terlihat ‘berusaha’ untuk melakukan sesuatu pertama kali dalam hidupnya.

Tapi lama kelamaan, aku menjadi bosan karena gadis itu tak kunjung menyelesaikan pekerjaannya, disaat satu-persatu seluruh tenda lainnya telah tersusun rapih. Benar-benar memalukan.

Dan lagi, aku tidak ingin terlihat sebagai pria kejam yang hanya bisa duduk manis, memberikan perintah, dan menonton gadisnya bertarung dengan benda asing.

Memalukan!

“tunggu dulu! aku bisa! Tunggu sebentar!” songjin memotongku dan menyibukan diri pada tenda kami lagi saat aku akan mengambil alih pekerjaannya.

Gyuwon yang sejak awal tadi, paling cepat menyelesaikan tendanya bersama kelompok lainnya hanya tersenyum masam kepadaku. aku ikut tersenyum, dan menggaruki kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Tapi bingung bagaimana cara menghadapi gadis keras kepala seperti Park Songjin.

Kupilih untuk memberikannya waktu sepuluh menit lagi, dan kembali duduk pada kursi lipat yang ada.

Sebenarnya, kalau boleh jujur ini pemandangan yang lucu. Melihat gadis itu bersitegang dengan tongkat yang sama sekali tidak bisa berkerja sama dengannya itu menyenangkan.

Sesekali Songjin mengomel, kadang ia pun memarahi tongkat tak bertuan itu. ia juga menarik narik, merenggangkan kain penutup tenda dan mencoba mengaitkannya dengan tongkat, namun gagal lagi.

Yang paling kunikmati adalah bagaimana ia tidak menyerah untuk membuat tenda itu selesai.

“taruhan, sampai pukul berapa dia bisa menyelesaikannya?” Appa yang entah sejak kapan berdiri disampingku, bertanya. Matanya tertuju lurus pada tujuan yang sama denganku.

Ia tersenyum. Tidak-tidak. bahkan kini tertawa senang melihat Songjin seperti itu. akupun tidak bisa menutupi kegelianku dengan ikut tertawa pada akhirnya.

Aku menggeleng, “…..dua jam?” kataku setelah menimbang ini dan itu. menggerakan bahuku asal saat Appa memandangku tak percaya. Tapi percayalah, aku ini begitu mengenal Park Songjin. Jadi…yaah.

“ya~ sudah sana kau bantu. Dia begitu kesulitan.” Appa menyenggol lenganku setelah beberapa saat. Namun aku menggeleng cepat. “tidak. dia bisa mengamuk kalau aku mengganggu.” Kataku menjelaskan.

Kami sama-sama terdiam. Appa mengambil salah satu kursi lipat yang tersedia dan meletakkannya disampingku. Kami sama-sama menikmati pemandangan yang sama dengan suasana alam yang damai.

Tapi toh, nyatanya kicauan burung yang sampai pada telinga kami, tidak lebih nyaring dibandingkan suara desisan Songjin yang kesal karena tongkat yang baru saja dipasangnya ketanah, kembali lepas begitu saja.

Sesekali Appa terkekeh, lalu menggeleng. “rasanya sedikit banyak aku mengerti kenapa kau begitu menyukai gadis itu—“ ujar Appa.

Membuatku sedikit terkejut dan langsung menoleh kepadanya. Appa masih memperhatikan Songjin sambil tersenyum tipis, lalu perlahan, mulai mengalihkan wajahnya kepadaku.

Menatapku seakan aku adalah hal menggelikan yang pernah dilihatnya. Ia menyembunyikan tawa menggodanya dibalik senyuman tipis itu. Cih! aku terlalu mengenalmu, Pak Tua!

“S—siapa yang suka..” kataku mengambang. Tidak bisa meneruskannya karena Appa sudah lebih dulu menggodaku dengan tawa mengejeknya yang lebih lebar. “Appa!!”

“Hahaha—wajahmu memerah!”

“Appa!”

“kau benar-benar lucu, Kyuhyun-ah!”

“Cih!”

Appa menggeleng berkali-kali. Lalu kembali memandang Songjin. Waktu sepuluh menit yang kuberikan untuk gadis itu sebenarnya sudah habis sejak tadi. tapi entahlah, aku masih saja ingin melihatnya seperti itu.

“sudahlah, satukan saja gadis itu dengan wanita-wanita lainnya. Kenapa kami harus satu tenda sih? Menyebalkan!” aku bersungut kesal. Sedangkan Appa malah tertawa lebar.

“Tidak bisa.” Ujarnya menolak. suaranya terdengar sangat dalam, Khas. aku kembali bersugut. Bisa-bisanya hanya aku dan Songjin yang disatukan dalam tenda yang sama, sedangkan Appa memisah kelompok ini menjadi dua bagian. Wanita-dan pria.

Appa sendiripun berada pada tenda yang sama dengan kelompok pria-pria lainnya. Seharusnya aku curiga saaat Appa menyerahkan satu tenda kepadaku tadi, sedangkan pada sisi lain, Pemandu kami hanya memegang tiga tenda saja.

Tiga tenda super bersar itu aku jamin masih cukup jika hanya untuk menampung 3 kepala, ditambah satu milik songjin. 4.

“Tidak bisa tidak bisa.” Appa mengulangnya sambil menggelengkan kepala. Seperti mengatakan kepadaku bahwa keputusannya ini sudah final.

“kenapa??” aku semakin kesal dibuatnya.

“Tentu saja karena kami ingin memiliki cucu!”

“HAH?” aku membelak.

Appa mengangguk. tanpa rasa berdosa memberikan senyum lebarnya kepadaku. terlihat adanya secuil tuntutan yang tergambar jelas disana bagiku. aku sampai kehabisan kata-kata untuk berbicara sekarang.

Apa? Cucu? Jadi, apa orang ini mengharapkan aku membuatkannya cucu ditempat seperti ini? ya Tuhan.. kemana perginya otak semua orang.

Sekarang aku yang menggeleng tidak habis pikir. Aku langsung berdri dari dudukku. Percakapan tentang cucu ini, benar-benar sudah membuat suasana menjadi tidak nyaman lagi. “Gila,” Kataku pelan.

Tapi sepertinya Appa mendengarnya dengan sangat jelas, karena sesudahnya, ia malah meneriakiku, “Ayolah Cho Kyuhyun—kau Pria bukan? lakukanlah dengan cepat!” serunya membuatku malu.

Terang saja malu. Semua orang disini sedang memandangi kami dengan pandangan aneh. tidak terkecuali Songjin. “kenapa?” tanya gadis itu saat jarak kami tidak seberapa.

Aku menoleh pada Appa yang memainkan alisnya naik turun. Seperti memberikan signal kepadaku tapi sayangnya, dimataku malah terlihat seperti Ahjussi hidung  belang! Eisssh!

“itu—“ aku bergidik ngeri dan merinding.

“kenapa? Aboji, kenapa?” Songjin mengulang. Sesaat setelah percakapan konyol dengan Appa tadi, memandang wajah gadis ini malah jadi membuat jantungku berdegup tidak beraturan.

“wajahmu..kenapa merah begitu? kau sakit?”

“a—aku..”

“Ayo Kyuhyun! Ayoo!” Appa kembali bersorak!

Ya tuhan, apa dia pikir ini adalah pertandingan bola yang butuh tim penyemangat? Aish.. memalukan!

“T—tidak. bukan apa-apa.” Jawabku singkat. Mengambil sebuah tongkat yang tergeletak ditanah. Mencoba mengalihkan segalanya dari tubuhku yang kini tengah kacau.

“lalu kenapa Aboji seperti itu? memangnya dia—“

“Berisik!” hardikku langsung. “dasar cerewet. Sudah sini, ini aku saja yang mengerjakan. Kau memang payah. Bilang saja sejak awal tidak bisa. Membuang waktu saja. sudah sana bantu yang lain.”

Tiba-tiba saja aku malah menyembur Songjin yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Aku tahu. tapi aku sudah terlalu canggung untuk terus berada pada situasi seperti ini. dan Appa yang sejak tadi tidak berhenti menyorakiku seperti itu, membuat telingaku panas.

Aku bisa saja mengabaikan semuanya. Tatapan banyak orang disini pun tidak terlalu mempengaruhiku. Tapi Jika Songjin yang berada disini, aku tidak tahu akan jadi apa gadis itu nanti karena aku benar-benar sudah seperti orang gila sekarang.

“sana pergi!” usirku lagi.

151 thoughts on “Missing [Part 9]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s