Missing [ Part 10]


Author: GSD.

Title: Missing. [10]

Cast: Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Park Songjin, Lee Donghae, Lee Gyuwon.

Rating: PG 16.

Length: Chaptered.

Genre: Romance, Tragedy, Family.

Note:  Akhirnya sampai juga di Part Ke 10. Maaf, karena aku keasyikan nulis tentang pasangan ini, aku jadi kebablasan. dan lupa kalo panjangnya FF ini udah kayak Sungai Han yang gak putus-putus. Ini pun belum tamat. sebenarnya, masih ada 6 Part lagi sampai semuanya tamat. dan sebenarnya lagi, ceritanya sudah selesai, tingal di Posting 1-1 aja. sekarang aku macem uber setoran Publish FF missing ini setiap malem, karena mau posting FF lainnya. biar fokus, mending 1-1 dulu diselesaikan hehe.

Thank you yaaa karena mau terus baca FF membosankan ini. semoga terhibur. Happy Reading everyone ^^

“kau tahu? sejak rasa itu ada, kami selalu bersaing untuk mendapatkan banyak hal. Tapi banyak hal itu tidak pernah jatuh ketanganku, malah mendatangi bocah itu yang kadang, kulihat dia sama sekali tidak mengusahakan untuk datangnya hal itu sendiri.” –Choi Siwon.

Komentarku tentang hidup dialam liar selama satu hari ini… rasanya menyenangkan tapi menyebalkan. Menyenangkan karena kabar baiknya, aku masih hidup sampai sekarang. ternyata tidak semengerikan itu. tapi rencana untuk membuat Kyuhyun menyesal telah menyeretku ikut, tetap akan kulakukan.

Sedangkan menyebalkan, karena sejak kemarin semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, dan aku dibiarkan seperti hewan peliharaan tak bertuan. seperti tadi malam saat semua orang tengah menyiapkan berbagai perlengkapan untuk makan malam.

Dua wanita lanjut usia sibuk dengan persiapan bahan-bahan memasak. Dua pria lanjut usia sibuk menyalakan api unggun. Gyuwon Eonni, sibuk mencari air untuk memasak. Siwon Oppa sibuk membereskan meja. Mengangkat ini dan itu. Kyuhyun sibuk dengan peralatan makan dan hal penting lainnya bersama beberapa pegawainya.

Lalu coba tebak, siapa yang tidak memiliki pekerjaan sama sekali? Aku!

Ketika aku menghampiri Eomma, aku malah diusirnya karena katanya hanya akan mengacaukan makan malam saja. sepertinya Eomma sadar bahwa kemampuan memasak putrinya ini masih dibawah rata-rata.

Saat aku menghampiri Siwon Oppa, aku juga diusir. Menurutnya, urusan angkut mengangkut sesuatu sama sekali bukan pekerjaan seorang wanita. Aku pergi menghampiri Gyuwon Eonni walau sebenarnya aku benar-benar malas berdekatan dengannya.

Tapi lagi, aku dimintanya pergi untuk mengurusi hal lain. Tentu saja. aku tidak perlu ikut campur dalam urusan masak memasak karena itu memang bukan kemampuanku.

Aku mendatangi Kyuhyun. sempat membantunya sebentar, namun aku mengacau saat alat-alat makan yang telah disiapkannya, kujatuhkan ketanah tanpa sengaja. Kyuhyun mengomeliku habis-habisan. Aku kembali ditendang.

Pilihan terakhirku adalah ikut bergabung dengan dua pria lanjut usia yang sibuk dengan api unggun. Sempat girang sendiri saat kami berhail membuatnya. Api unggun pertamaku.

Aku lalu ikut mereka bermain catur. Tidak. sebenarnya, aku hanya menjadi wasit saja. tapi kemudian semua menjadi kacau saat Appa mulai berbicara tentang ‘cucu’. Suasana menyenangkan itu—kemudian berubah menjadi kelam dan penuh kecanggungan.

Yang benar saja, aku ditodong untuk memberikan mereka cucu dalam waktu cepat. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan berdebat dengan jumlah cucu yang mereka inginkan serta jenis kelamin. Apa Pria atau wanita.

Aku benar-benar tidak habis pikir dengan dua orang itu. aku sendiri saja tidak pernah berfikir sejauh itu. Tidak. hubunganku dengan Kyuhyun saja seperti wahana ditaman bermain. naik turun tidak beraturan. Jangan bicarakan anak dulu. rasanya terlalu cepat.

Ini hari kedua kami mendaki. Sebisa mungkin aku mencoba menutup mulutku untuk mengomentari rasa lelah dan jengah dalam pendakian ini agar orang-orang disekitarku tidak jadi lebih lelah. Tapi ternyata sulit.

Dan aku masih tidak mengerti mengapa orang-orang ini sangat menyukai aksi pendakian, yang ternyata tidak lebih mengasyikan dari pada memutari rak-rak Prada, atau Roberto Cavalli Collection.

Aku benci.

Sampai siang ini. pendapatku masih sama dengan sebelumnya.

“kau lelah?” Kyuhyun bertanya setelah meneguk air dari botolnya. Nafasnya memburu dan peluh diwajahnya tidak main-main banyaknya.

Tapi pria itu tetap berjalan tanpa beban. Aku heran. Jadi, apa ini lebih menyenangkan dari bermain game?

“Tidak.” kataku menjawab. Sedikit memberikan senyuman sebagai effect penutupnya, namun ia malah menarik hidungku kuat-kuat. “Bohong!” ujarnya cepat.

Aku kemudian terkekeh. Sepertinya, aku memang tidak ahli untuk berbohong kepadanya. Kyuhyun lalu menyerahkan botol minum yang tadi ia tenggak, kepadaku. aku menggeleng menolaknya.

Bukan apa-apa. Aku tidak mau menghabiskan stock minumnya yang tinggal sedikit itu, hanya untuk menghabiskan rasa hausku karena jatah minumku telah tandas semua pada empat puluh menit awal kami mendaki.

“Cepat!” Kyuhyun memaksa. Seperti tidak melihat aku yang sudah menggelengkan kepala berkali-kali kepadanya.

Aku terus menggeleng, “tidak perlu.” Ujarku lagi. Setidaknya, aku tahu bahwa aku bertanggung jawab pada hal yang kulakukan sendiri. aku juga tidak ingin membuat orang lain repot karena terang-terangan menghabiskan jatah minumnya yang tidak seberapa.

“Tidak mau?” Kyuhyun menaikan satu alisnya.

“Tidak.”

“benar?”

“iya. Tidak perlu. Untukmu saj— Mwo? Ya! yayaya!!” aku langsung terlonjak saat Kyuhyun membuka tutup botolnya bukan dari klep kecil disana, melainkan pada tubuh botol tersebut dan mengucurkan isinya, untuk membasuh wajahnya.

Setelah menghabiskan air berharga itu, Iblis ini menoleh kepadaku. menampilkan wajah tanpa rasa bersalahnya seperti biasa yang benar-benar membuatku ingin mencakarnya. “wae?” tanyanya polos.

Aku mengatupkan bibirku lebih rapat dan meremas jemariku kuat-kuat. Sabar Songjin. Sabar.

“kau bilang tidak mau kan tadi? lalu kenapa?”

“HUH!” dengan sebal, kutinggalkan saja orang gila ini cepat-cepat. Dasar setan gila!

Kami telah berjalan…entah berapa ratus juta kilometer. Yang aku tahu, kami tak kunjung sampai pada puncak yang dijanjikan hari ini akan sampai. Tapi ini sudah sangat siang. Hampir sore malah. dan aku sama sekali belum melihat tanda-tanda kami sampai pada pucak gunung…gunung apa ini namanya ya?

Aku mengamati sekitarku. Sebenarnya tidak buruk karena udara disini terasa sangat segar. Berbanding terbalik dengan udara perkotaan yang selalu kuhirup setiap hari. Jika tinggal disini, rasanya hidupku bisa lebih lama lagi.

Sesekali aku menemukan hewan liar menggemaskan seperti Rusa yang kutemui beberapa jam lalu. sayangnya, aku tidak boleh mengambil gambar karena menurut pemandu kami, walau terlihat ramah, mereka tetaplah hewan liar yang bisa menyakiti setiap saat.

Terlalu berbahaya.

Dan disisi lain, aku tidak bisa mendapatkan kameraku karena semalam tadi Kyuhyun menyitanya. Pria itu berhasil medapatiku sedang memotreti dirinya yang tengah tertidur pulas seperti babi guling.

Sedikit marah dan…kameraku raib.

Kameraku….entahlah. aku harus mendapatkannya nanti. Enak saja. apa gunanya aku berada disini kalau tidak bisa mendapatkan gamabar-gambar keren?

Aku masih terus melangkah. Langkahku memang tidak sesemangat anggota lain, tapi lihatlah! Paling tidak berhasil sampai disini pun sudah hal yang besar bagiku! aku saja tidak pernah berfikir untuk memasuki gunung ini sebelumnya.

Hanya aku dan Gyuwon Eonni yang tertinggal dibelakang. gadis ini terlihat lebih lemah dari kemarin. Sebenarnya, sekesal apapun aku dengannya tetap saja aku tidak tega melihatnya seperti ini.

“Eonni, Gwaenchana?” tanyaku akhirnya. Perlahan merangkulnya karena langkahnya semakin mengkhawatirkan. “Ya.” jawabnya pelan. tapi aku tidak benar-benar bodoh untuk dibodohi.

Dan aku ini wanita juga. terkadang, pada lain sisi, jawaban ‘ya’ mengartikan ‘tidak’. sedangkan ‘tidak’ mengartikan ‘ya’. dan inilah yang sedang Gyuwon Eonni lakukan.

“mana yang sakit?” tanyaku lagi.

“Tidak. tidak apa-apa.”

“apanya yang tidak apa-apa? Kau pucat!” kataku mendengus. Tapi kemudian Gyuwon Eonni tertawa. “Tidak. Aku baik-baik saja—“ dan Bruk!

Setelah itu gadis ini terjatuh pingsan. “M—mwo? Y—ya! ya! Tolong! Ya.. ini..” aku panic.

Secepat kilatan cahaya, tahu-tahu saja Kyuhyun telah berada bersama kami dan membawa Gyuwon bersamanya. “dia kenapa?” tanya Kyuhyun sama paniknya denganku.

Aku menggeleng, “T—tidak tahu.” Jawabku takut.

Anggaplah aku egois karena bukan rasa takut karena bisa saja hal-hal buruk menimpa Gyuwon Eonni sekarang, tapi aku takut Kyuhyun berfikir kalau aku melakukan sesuatu kepada mantan pacarnya ini. seketika aku merinding saat Kyuhyun hanya diam dengan wajah kakunya, memandangiku seakan aku adalah tersangka utama.

Aku mengibaskan dua tanganku berkali-kali. Tapi sebelum aku menjelaskan kalau aku tidak tahu apa-apa, pria ini sudah lenyap membawa Gyuwon Eonni bersamanya.

Masih dalam keterkejutanku, tiba-tiba aku merasakan hembusan angin yang begitu kuat melewatiku. Seperti baru saja ada motor, yang melaju dengan cepat melewatiku.

Setengah tersadar bahwa itu adalah Siwon Oppa. bukan aku yang berada diurutan terakhir. Ternyata, pria itulah yang berada diurutan terakhir. Tapi entah bagaimana, aku tidak melihatnya sejak tadi.

“Nyonya Cho?” seorang pegawai menyadarkanku. Menepuk bahuku.

“Oh, ya?” aku tersadar.

“anda baik-baik saja?”

Aku mengangguk, “ya. tentu.”

“anda lelah? Ingin beristirahat atau kembali jalan? kebetulan saya tahu rute perjalanannya. Jadi tidak masalah jika kita sedikt terlambat. Sedikit lagi pun sebenarnya sampai pada penginapan dipuncak.”

“Benarkah?” aku seperti ingin menangis saat mendengar kalimat surga itu. ‘sedikit lagi sampai pada puncak. Sampai pada penginapan!’ 

“bisa kita…istirahat sebentar? Kakiku rasanya….mau copot.” Aku berkata jujur sambil menggaruki kepalaku. Pria imut ini tersenyum dan mengangguk. “Geurom.. apa kau punya air?”

“hahaha—ada.”

Pria berkulit putih bersih, sipit, dan imut ini tersenyum kepadaku. sekilas aku membaca tulisan pada name-tagnya.

“Terimakasih banyak, Henry.”

“tidak perlu Sungkan.”

Author’s side

Petang datang dan kelompok akhirnya dapat berkumpul ditempat penginapan. Hanya berjarak satu kilometer saja dari puncak Gunung surak. Songjin yang sudah seperti orang gila saat mendengar kata ‘Puncak’ langsung melonjak kegirangan seperti baru mendapatkan sekarung tas keluaran musim terbaru koleksi Gucci secara Cuma-Cuma.

“kau terlihat sangat menguasai lokasi. Kau sering mendaki tempat ini ya?”

“aku? ah tidak. hanya sesekali bersama keluarga saja, Nyonya.”

“Eish… Sudah kubilang, jangan panggil aku Nyonya. Kau pikir berapa usiaku? Aku ini masih muda tahu!” Songjin kesal, merasa terhina, tapi perasaan terhina itu tidak seberapa dibandingkan rasa sebal karena merasa lebih tua lima puluh tahun setelah mendengar dirinya dipanggil ‘Nyonya’.

“panggil aku Noona saja. Noona.” Sambung Songjin.

“tapi aku…”

“Eissh. Kenapa lagi? kalau tidak mau memanggilku seperti itu, tidak usah berbicara denganku lagi! aku tidak mau jadi lebih tua karena dapat panggilan konyol itu!”

“Arrasseo. Arrasseo.” Henry menggosok tengkuknya. Merasa tidak enak, tapi harus bagaimana lagi? ini pun dianggapnya sebagai perintah seorang atasan, “Maaf, N—noona.”

Songjin tersenyum puas. “nah begitu.” ujarnya senang.

“Jadi, kau Asisten Iblis itu?” tanya Songjin sambil terus berjalan perlahan-lahan. Kening Henry berkerut. “Iblis?”

ngg— maksudku, atasanmu.. itu.. Kyuhyun.” Songjin terbata-bata. Merasa tidak enak karena telah salah bicara.

“ah.. ya. betul. Aku Asisten Kyuhyun Hyung. aku menggantikan—”

“Naah! Itu! kau saja memanggilnya Hyung!” Songjin memekik. Telunjuknya telah barada pada hidung mancung Henry, sebal. Namun lalu cepat-cepat diturunkannya dan meminta maaf.

Henry hanya tertawa pelan sambil menggeleng tidak habis pikir. Dugaannya selama ini benar. Songjin memang orang yang menyenangkan. Tidak heran banyak orang diperusahaan yang selalu membicarakan bagaimana istri wakil direktur yang cantik, dan ramah. Memiliki bentuk tubuh nyaris sempurna, hingga membuat patokan gadis-gadis diperusahaan untuk berdandan, dan menjadikannya cara untuk menggoda Kyuhyun-sang atasan.

Sayang saja pria tinggi itu sama sekali tidak tertarik.

Namun lepas dari itu, Henry menemukan fakta lain, bahwa Park Songjin orang yang lucu dan menyenangkan.

“itu..karena Hyung sendiri yang memintanya. asalannya sama saja dengan alasan..mu” ia berucap Banmal. Sedikit takut, namun lega karena Songjin tersenyum lebar kepadanya.

“tentu saja. tapi harusnya kau tidak perlu menurutinya. Orang itu memang sangat pantas dengan panggilan itu. dia terlihat tua. Iyakan?”

Henry kembali terbahak. “Geurom, apa kau mengenal Gyuwon? Lee Gyuwon.” Songjin bertanya. Entah bagaimana topic yang dibencinya tiba-tiba saja terangkat.

Henry mengangguk, “tentu saja. dia temanku.”

“bukan. maksudku…mengenalnya dengan… lebih.. kau tahu.. kalian kan satu tempat kerja.” Songjin kelimpungan sendiri dengan pertanyaannya. Sedangkan Henry yang tidak mengerti hanya diam, menanti Songjin selesai berkata, dan mencerna pertanyaan istri atasannya itu.

“Kalau maksudmu seperti itu. entahlah, Gyuwon Noona sangat pendiam aku tidak begitu dekat dengannya. Dan lagi, setiap hari ia hanya mengikuti kemana Siwon Hyung pergi. dan kadang, Kyuhyun Hyung pergi bersamanya juga.”

“Apa?” Songjin mendelik terkejut. Tapi kemudian, dengan cepat Henry mengibaskan dua tangannya saat mengerti ia telah salah bicara.

“bukan. bukan. bukan seperti itu. maksudku mereka pergi bersama untuk mendatangi pertemuan pertemuan dengan Klien karena rapat-rapat besar atau makan siang. Aku juga ikut. aku juga!” Henry Panik.

“oh, iya. Aku lupa. Kau kan Aistennya ya?” Songjin tersenyum, setelahnya. Kakinya menendangi batu-batu kecil yang terhidang dihadapannya. “tapi sebenarnya… kalau mereka pergi bersama pun tidak masalah.” Songjin mengumam pelan.

Namun tetap saja. dalam kondisi sepi seperti itu, kerja telinga sedang begitu maximal. Henry mengernyit mendengar perkataan Songjin. Terdengar lucu ditelinganya entah mengapa, “apa? Dengan Gyuwon Noona?” tanyanya.

Songjin menoleh malas, lalu mengangguk lemah. “maaf saja, tapi kalau aku boleh jujur berpendapat, mereka tidak terlihat cocok saat bersama.”

“mereka?”

“Iya. Gyuwon Noona dan Kyuhyun Hyung. mereka terlihat kosong.”

Kini Songjin yang mengernyit. Bukan sedikit tidak mengerti, gadis ini malah sama sekali tidak mengerti. “maksudmu?”

“entahlah. Mereka sama-sama pintar. sama-sama terlihat sempurna, apa tidak aneh jika mereka disatukan? Bukankah akan terasa membosankan?”

Songjin terdiam. Otak minimalisnya masih saja bekerja kurang maximal pada kalimat Henry yang sesungguhnya mengandung kata pujian. “jadi, maksudmu aku ini bodoh? Dan terlihat aneh, lalu itu membuatku cocok saat disandingkan dengan Kyuhyun?”

Songjin mendelik. “apa?” Henry terkejut sendiri mendengar kesimpulan sepihak Songjin. “maksudku bukan..” ucapnya tertahan. walau dalam hati mengiyakan kebodohan Songjin.

Tentu saja kini ia paham mengapa Kyuhyun selalu menarik otot saat berbicara dengan istirnya.

“yaaa!” Songjin berteriak sekuat tenaga. melepas sepatunya dan berlari mengejar Henry yang sudah lebih dulu berlari menghindari serangannya.

**

“Chakamman!” Siwon merentangkan tangan menghadang Henry dan Songjin yang baru akan memasuki penginapan. Keningnya berkerut begitu nyata. Memandangi dua orang ini, seperti memandangi balita yang kabur dari gendongan orang tuanya.

Pria itu kemudian melirik jam dinding, sedikit terbelak dan kembali memandangi Songjin penuh tanya. “w—wae? Wae?” tanyanya bingung.

“wae?” Songjin mengulang. Ikut tidak mengerti bersamaan dengan Henry. Mereka berdua saling berpandangan. “wae?”

“kemana saja kalian? ini sudah terlalu malam. bermain kemana? Hah?”

“bermain?” Songjin semakin tidak paham. Sedangkan Henry yang mengerti, merunduk sopan kepada Siwon, meminta maaf. “Hyung, tadi Eonni lelah. Kami berpencar dari rombongan untuk istirahat.”

“Heh?” kening Siwon semakin berkerut. Lengkap dengan hidung yang terangkat, membuat wajahnya tampak semakin aneh.

“tadi aku nyaris mati dehidrasi karena air minumku habis. Aku juga terlalu lelah. Lalu Gyuwon Eonni pingsan dan dia—eh iya, jadi bagaimana keadaannya sekarang? dimana dia?” Songjin malah merubah pembicaraan tanpa ia sengaja.

Tapi rasa Khawatirnya bukanlah buatan. Ia benar-benar khawatir hingga entah kemana perginya rasa benci itu.

“Dia baik-baik saja. sedang beristirahat, dia hanya terlalu lelah.”

“terlalu lelah?”

“iya. Dia itu sebenarnya tidak dianjurkan untuk ikut. tapi aku harus bagaimana lagi, dia sendiri yang memohon saat itu. aku tidak bisa menolaknya.”

Songjin mengangguk-angguk. Belum sampai ia bicara lagi, Siwon sudah mendahuluinya, “lalu, kenapa kalian bisa semalam ini?” tanya Pria berlesung pipi itu mengintrograsi.

“memangnya kenapa? toh kita tidak akan melakukan apa-apa lagi setelah ini, kan? Lagipula, aku mau tahu bagaimana rasanya menelusuri hutan dimalam hari. Ternyata seru!”

“seru! Cih!” Siwon mendecah. Sedikit mencibir, namun lalu luluh juga. ia mengibaskan tangannya. Memberikan perintah pada Henry untuk pergi dan lalu membawa Songjin bersamanya.

“mau tahu rasanya berjalan ditengah hutan malam-malam?” ia berbisik ditelinga Songjin. Dan tanpa babibu langsung membawa gadis itu bersamanya keluar penginapan.

Cho Songjin’s side

Oksigenku sudah nyaris habis lagi. kakiku sama sekali belum beristirahat sejak tadi. rasanya betisku ini sudah membesar dan akan meledak sebentar lagi. “Oppa!” panggilku lemah, pada Siwon Oppa yang sudah lebih dulu didepanku.

Pria itu hanya membalik badannya lalu tersenyum. Ya dia memang tampan. aku bisa saja terpana, tapi aku tidak perduli setampan apa dia sekarang. yang kuperdulikan adalah nasib kakiku ini. apa bisa dilepas sebentar untuk ku istirahatkan?

“Ayo cepat. Sedikit lagi sampai.”

“aku mau mati saja.” kataku terengah.

“iya, nanti saja matinya. Kau belum lihat yang satu ini.”

Apa? Dasar gila!

“Oppa!!” aku menghentakan kakiku kuat-kuat. Alih-alih menghilangkan kesal, aku malah merasakan denyutan hebat pada dari dua kakiku. Eomma!!

Lima menit berjalan, aku mulai mendengar suara derasnya air. Udara pun semakin sejuk. Siwon Oppa berjalan didepanku, menyibakkan daun daunan yang menutupi jalan kami.

Setelahnya, aku melihat sebuah mata air besar yang benar-benar mengaggumkan. Aku tidak habis pikir bagaimana ada tempat seperti ini disini. maksudku.. ini benar-benar keren!

Dua buah tebing disisi kanan kiri, merapat dan terlihat seakan terbelah. Air yang jatuh dari tempat yang lebih tinggi disana, semburannya sampai menyapu wajahku. tapi ini menyegarkan.

Penerangan kami selain dari sinar bulan, hanya terdapat empat buah lampu gantung sederhana yang tertempel pada beberapa pohon. Aku rasa warga setempat yang sengaja memberikannya.

Ini benar-benar.. “Keren.” gumamku. Dan seperti menyetujui pendapatku. Siwon Oppa mengangguk, lalu tersenyum puas. “memang.” ucapnya.

Aku melepas ranselku dan berjalan mendekat pada danau. Semakin mendekat, cipratan air semakin terasa. “jadi, mau mati sekarang?” Siwon Oppa bertanya.

“nanti dulu. aku belum mandi.” Jawabku ringan yang disahuti oleh tawanya. Pria itu lalu menceburkan kakinya kedalam danau dan duduk dipinggirnya. Kakinya sengaja ia gerakan, bermain air menggunakan itu.

“dulu aku sering kesini bersama Appa, Eomma, dan Kyuhyun. tapi lama kelamaan kami menjadi sangat sibuk dan kebiasaan menyenangkan itu tiba-tiba saja menghilang.”

Aah.. ya. aku ingat, “jadi, saat kalian pulang liburan dalam kondisi selalu demam itu, kesini?” godaku.

“Hahaha! Ya. benar. kami selalu heboh bermain air dan mengejar kunang-kunang sampai malam. sampai sakit dan akhirnya terpaksa pulang karena demam.”

“dulu datang kesini benar-benar terasa menyenangkan.”

“lalu?”

Siwon Oppa diam. Berfikir, entah apa yang dipikirkannya saat ini, beberapa menit kemudian ia pun menoleh padaku, “….kenapa, sekarang rasanya lain ya?” tanyanya.

“dulu dan sekarang pun sudah lain. Kau tidak bisa memaksakan hal yang sama terjadi terus menerus kan?”

“ngg…” 

Siwon Oppa mengumam asal sambil mengangguk sedikit. Seperti tidak setuju dengan kalimatku, tapi juga salah jika mengatakan tidak.

“hadapi saja. seiring dengan berjalannya waktu, kalian bertumbuh. Aboji pun begitu. kalian terlalu sibuk dengan diri kalian sendiri sampai tidak sadar kalau Aboji dan Eommonim pun bertambah tua. Lalu saat datang lagi kesini, tentu saja kau tidak bisa memaksakan hal yang sama seperti dulu terjadi lagi.”

“..memang.” Siwon Oppa mengangguk. Memperhatikanku seksama.

Sedikit banyak membenarkan apa kataku. Dan catat, aku selalu suka ekspresinya ketika ia sedang berbicara dengan orang lain. Dia begitu sopan dan terlihat menghargai lawan bicaranya walau mungkin yang dikatakan bukanlah hal penting.

Hal positive yang tidak dimiliki Kyuhyun selama ini.

“kau benar. terakhir kali kami datang, Kyuhyun masih berstatus lajang. Lalu kembali dengan Status menikah. Haha—“

“Ya!” aku menyenggol lengannya keras-keras. aku sedang serius, kenapa dia malah jadi bercanda?

“nanti, kalian akan kembali dengan status yang berbeda karena telah menjadi orang tua! Hahaha.” Pria itu kembali tertawa. Tapi bagiku ini tidak lucu. Aku benar-benar tidak suka jika seseorang sudah mengungkit tentang Nyawa baru itu.

Dan sepertinya, Choi Siwon cukup pintar dalam membaca air wajahku. hingga pria itu menghentikan tawanya dan hanya memperhatikanku dalam diam, “Maaf.” Katanya kemudian.

Aku menggeleng. Tersenyum namun lalu menghela nafasku. Entahlah. Aku tidak tahu apa yang harus dimaafkan dalam hal ini. siapa yang benar dan siapa yang salah pun aku tidak tahu.

Kami sama-sama diam. Nyatanya, seperti ini malah menyenangkan. Pikiran yang kalut bisa sedikit lurus setelah menikmati hembusan angin dan sapuan air dari air terjun.

Suara binatang malam saling bersahutan, seperti sedang saling berbicara dalam bahasa mereka. aku tidak tahu apa-apa. Tapi ditelingaku, terdengar menenangkan.

“kau tahu, sebenarnya selama ini hubunganku dengan Kyuhyun tidak begitu baik.” Siwon Oppa memecah keheningan kami.

Aku menoleh, memandangi wajahnya yang entah sejak kapan terlihat sayu dan lelah. Setelah dilihat dari dekat, pria ini sama saja kacaunya dengan Kyuhyun. matanya memang tidak memiliki kantung yang menandakan bahwa orang ini kurang tidur. Tapi sorot nya lemah.

“aku tidak tahu.” ujarku kemudian.

Bohong rasanya kalau aku berkata aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Nyatanya, selama ini aku sadar betul bagaimana dua pria ini selalu berkelahi memperebutkan Gyowon Eonni.

Tapi sayangnya, rasa penasaranku lebih besar hingga aku berkata tidak. sedikit berharap semoga aku mendapatkan informasi lebih tentang hal apalagi yang terjadi antara mereka berdua sekarang.

“sejak aku kecil..aku dan Kyuhyun selalu bersama. Kami selalu melakukan hal apapun bersama. Bermain bersama, makan bersama, tidur bersama, kemanapun bersama.” Ujarnya. “dan kau juga.” ia menambahkan. Aku tersenyum simpul.

“dulu aku tidak mengerti perasaan aneh seperti ini, tapi seperti apa katamu. Kami bertumbuh. Seiring dengan berjalannya waktu, aku merasa…banyak yang berubah diantara kami. Maksudku—“ Siwon Oppa menggantungkan kalimatnya.

Bahunya menegang dan wajahnya tertunduk. Memandangi air yang tenang. Ia menggeleng. Entah untuk menunjukan hal apa yang salah dari ucapannya. Atau isi kepalanya yang sedang memutar kenangannya saat ia kecil dulu.

Aku tidak tahu.

“Aku selalu merasa, Kyuhyun terlalu istimewa. Dia selalu bisa melakukan apapun yang diinginkannya. mendapatkan apapun yang diimpikannya. Dia seperti manusia paling beruntung sedunia. Dan semakin lama bersamanya, aku semakin merasa kalau aku tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengannya. Entahlah.. aku merasa…”

“Oppa—“

“kau tahu? aku bahkan tidak pernah sadar kapan tepatnya rasa itu muncul, tapi sejak rasa itu ada, kami selalu bersaing untuk mendapatkan banyak hal. Tapi banyak hal itu tidak pernah jatuh ketanganku, malah mendatangi bocah itu yang kadang, kulihat dia sama sekali tidak mengusahakan untuk datangnya hal itu sendiri. aku kesal! Bagaimana dia bisa melakukannya? Bagaimana dia bisa….mendapatkan Perhatian Appa dan Eomma begitu besar? sedangkan aku yang sebenarnya adalah anak biologis mereka, selalu dinomor duakan? Ini itu, selalu Kyuhyun. semua orang selalu terpaku pada Kyuhyun. kyuhyun. Kyuhyun. kenapa?”

Aku terdiam. Selama ini, aku tidak pernah tahu kalau persaingan itu benar-benar berarti bagi Siwon Oppa. aku tidak pernah tahu keberadaan Kyuhyun disampingnya, malah membuatnya sulit.

Yang aku tahu, kami selalu menghabiskan waktu bersama dengan baik-baik saja. namun ternyata selama ini, ia memendamnya sendiri. sebagai orang terdekatnya sejak dulu, aku merasa gagal dalam memposisikan diri sebagai seorang sahabat.

“Jadi kau iri?”

“bukan begitu. maksudku itu—“ aku mengangkat satu alisku saat matanya bertemu denganku lagi dan pria ini mendesah, “ya, begitu mungkin.” Aku nya pasrah.

Aku tersenyum tipis. “kau tahu tidak? aku juga pernah merasakan hal seperti itu. rasanya benar-benar menyebalkan, kan? Rasanya… sesak. Disini.” aku memegang dadaku. Siwon Oppa mengangguk pelan.

“aku boleh jujur? Kalau kau mengaku iri pada Kyuhyun, aku sedang merasakan iri pada Gyuwon Eonni.”

“Gyuwon? Eiii, kenapa harus dia?”

Aku menggeleng, “aku juga bertanya yang sama. Kenapa harus dia? dan sampai sekarang, aku tidak tahu apa jawaban tepat untuk pertanyaan itu.”

“aneh.”

“iya. Aneh. mungkin karena Gyuwon pernah menjadi seseorang yang berarti untuk Kyuhyun? atau sampai sekarangpun masih. Atau mungkin…aku iri karena nyatanya, selama ini dua orang terdekatku mengabaikanku begitu saja untuk memperebutkan hal yang sebenarnya tidak pantas untuk diperebutkan.”

Aku tersenyum kepada Siwon oppa yang langsung menoleh kepadaku lagi, “Yaa, Park Songjin.”

“Oppa, Gyuwon Eonni itu bukan mainan. Jangan dijadikan hal untuk diperebutkan seperti itu.” Ujarku. Nyaris terdengar seperti memohon sebenarnya.

Kami kembali terdiam. “aku tidak..”

“sama saja.” potongku cepat. Aku sudah bisa membaca apa saja yang akan pria ini katakan sebagai kallimat pertentangannya. “sama saja. kau tetap membuatnya seperti mainan, dengan memperebutkannya seperti itu. dimana hatimu?”

Siwon Oppa mendesah panjang. Bahunya yang semula menegang, kini terkulai lemah, “aku tidak tahu kalau selama ini ternyata seperti itu.” ujarnya.

“sekarang kau tahu.”

“Appa dan Eomma… mereka kenapa..”

“tidak ada orang tua yang memperlakukan anaknya seperti itu, Oppa. kau ini.. Aigoo, Berapa sih usiamu? Kau seperti bocah yang kehilangan permennya saja.”

“….kalau memang begitu?” ujarnya terputus. Sangat pelan. “nyatanya, Appa dan Eomma selalu bersikap seakan aku tidak lebih baik dari Kyuhyun. hingga mereka melakukan segalanya untuk anak itu. Dulu, aku sempat terkejut saat Appa mengatakan bahwa akan menjodohkan salah satu dari kami untuk putri sahabatnya. Aku tidak tahu kalau itu kau. yang aku tahu, hal itu pasti tidak akan terjadi untukku. Jadi aku santai saja. dan benar. seperti dugaanku. Kyuhyun yang melakukannya. Lucu kan? Padahal, aku ini lebih tua darinya. Bukankah harusnya aku dulu yang melakukan itu?”

Siwon Oppa tertawa. Tapi tawanya sama sekali kosong dimataku.

“dan posisi wakil direktur, diberikannya kepada Kyuhyun. anak itu sengaja dipilihkan sekolah bisnis yang bagus untuk mendukung pekerjaannya sekarang. sedangkan aku dilemparkannya ke Jurusan lain. Dia bahkan tidak menggubris saat aku berkata ingin masuk seni saja. aku pikir Appa akan menentangku. Tapi nyatanya tidak. aku semakin tidak mengerti. Aku ini anak kandungnya kan?”

“Oppa!” aku mendelik. Menghentikan langsung kalimat yang entah akan berujung seperti apa jika saja diteruskan. “kau tidak bisa berfikir seperti itu! kau ini kenapa sih? Kenapa kau jadi begitu kekanakan? Ini tidak seperti yang kau pikirkan!”

Aku bersungut. Memperhatikan Siwon Oppa yang nafasnya tengah memburu. Kekesalannya telah memuncak dan dikeluarkannya saat ini. aku tidak menyalahkan hal itu.

Aku hanya menyayangkan cara berfikirnya yang pendek. Tentu saja Aboji dan Eommonim tidak pernah berniat melakukan hal itu. berfikir sajapun aku yakin tidak akan pernah!

Pria ini kenapa sih? Kenapa dengan otaknya?

“mereka melakukan itu, karena mereka mengerti kau dapat mengurus dirimu sendiri. kau sendiri yang bilang kalau kau lebih dewasa dibanding Kyuhyun? lalu kenapa kau bertingkah seperti ini? mereka melakukan itu, karena mereka telah menaruh kepercayaan besar kepadamu tentang hidupmu—masa depanmu, dan malah mengkhawatirkan Kyuhyun yang masih membutuhkan arahan. Mereka percaya, kalau kau bisa melakukan semuanya sendiri dengan benar tanpa pernah mengecewakan mereka. mereka sudah terlalu menaruh kepercayaan begitu besar kepadamu, Oppa. dan kepercayaan itu tidak sebesar apa yang dimiliki Kyuhyun saat ini. kau harus paham dengan hal itu!”

134 thoughts on “Missing [ Part 10]

  1. Wow ternyata siwon mendem uneg uneg sampe segitu nya juga yaa buat kyuhyun, aku fikir mereka baik baik aja sebelumnya.
    Dan itu songjin kerasukan apa yaa dia, tumben sok bijak begitu:D

  2. Songjin sm siwon curhat”an.. yg satu iri sm gyuwon, yg satu lg iri sm kyu. akhirnya otak nya songjin berguna jg yy.. lol😂
    pas siwon curhat sm songjin, hebatnya songjin bisa jadi pendengar dan penasehat yang baik. songjin bijaksana

  3. Pingback: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

  4. saat” trtntu mcm gni,,songjin bs trliat lbih…pi klo ma kyu ngbrol santai gtu jrang trjd y??? yg ada debat mulu daaah..(*efek hati x y..)
    henry…untg lgsg kbur..bs kna amukan songjin klo g gesit..wkwk

  5. Tumbennn si songjin bisa kasih nasehat ke org hehehe tp ya miris jg sih siwon curhat begitu ke songjin, ini berkesan kya siwon sbnrnya suka sm songjin tp yg dapetin kyuhyun nah makanya si siwon deketin gyuwon buat bikin kyu kesel gtu.. Ini yg aku tangkep dr omongan songjin klo gyuwon bukan maenan dan siwon iya in aja tanggapan songjin

  6. Pingback: Rekomendasi Fanfiction Part 2 | evilkyu0203

  7. wow … songjin dpt ilham 😁😁😁😁 … daebak kata2 yg ditutur oleh songjin buat siwon terharu 😂😂😂😂 … ternyata tuh uneg2 siwon terhadap kyuh terharuh ih uneg2nya …

  8. Ternyata dibalik sosoknya siwon pun mempunyai problem ya selama ini..
    Satu per satu fakta akan terungkap,,
    baca next part dulu.. 😀 😀

  9. Aku jadi paham maksud judul missing. Ternyata setiap tokoh utama mengalami salah prasangka tho. Tp aku msh greget aja yg kyuhyun sama gyuwon yg blm ada klarifikasi mengenai bagaimana perasaan kyuhyun terhadap gyuwon. Jadi baper

  10. kyuhyun gesit banget kalau urusan gyuwon kkkkk akhirnya songjin keluarin uneg uneg dia tentang kyuhyun dan siwon yang rebutan gyuwon eaaaaa dan mengejutkan siwon si kalem ternyata mendem sakit ati karena merasa pilih kasih hiksssssssssssssssss pasti ada alesan dibalik orang tuanya lebih sayang sama kyu pasti dan kita cari kajjaaaaaa

  11. pertanyaan diawal part terjawab sudah di part ini. Ternyata siwon enggak setenang itu dan kyuhyun tidak sepintar yang dibayangkan

  12. Baru twu klo songjin bisa ngomong kata2 bijak .. tapi kok moment kyujin nya cmn sedikit .. padahal suasanany mendukung buat mrka bilng cinta 😁😁😁

  13. Awalnya nyueseek bgt pas kyuhyun ninggalin songjin gitu aja tapi tatapannya curiga… Apalagi ditambah siwon yg juga ngejar kyuhyun yg gotong gyuwon…. Aku jadi ikut nhrasain apa yg songjin rasain😚

  14. siwon selama ini iri sama kyuhyun yaa..
    dan ajaibnya songjin bisa ngasih kata kata yang bijak untuk siwon..apa ini efek dari mendaki gunung? bisa merubah songjin jadi bijaksana…hhhhh 😀😀😀

  15. Kenapa siwon berpikir seperti itu? Padahal orang tuanya melakukan itu karna dia suka. Orang tuanya memberikan kebebasan untuk memilih apa yg dia suka kan. Kalo kyuhyun dipilihkan dan hanya bisa menurut. Karna Rasa hormat dan sungkan.

  16. Ya mungkin perasaan iri itu juga terjadi pada saudara kandung jga bukan hanya pada saudara tiri tapi beruntunglah otak nya songjin yg minimalis itu dpt memberikan kata” yg menenangkan utk Siwon

  17. Tumben ye…. park Songjin ngomongnya bener . Biasanya cuma bisa marah gaje, apa karena di alam liar jadi dia bisa berfikir liar tapi masuk di nalar 😂😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s