Missing [Part 16]


Author: GSD.

Title: Missing. [16]

Cast: Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Park Songjin, Lee Donghae, Lee Gyuwon.

Rating: PG 16.

Length: Chaptered.

Genre: Romance, Tragedy, Family

“You’re the best thing that’s ever been mine”

Ada suara ketukan yang kudengar sejak pertama kali aku membuka mata. tubuhku terasa benar-benar lemas tak bertenaga. Rasanya seperti baru berlari memutari satu Kota Seoul tanpa henti.

Awalnya, Kukira itu adalah suara pintu yang sengaja diketuk, tapi setelah aku menajamkan pendengaran, itu bukanlah suara pintu terketuk.

Dahiku reflex mengernyit saat mendapati lagi, suara kompor dinyalakan. Seingatku, aku tidak pernah menyewa pesuruh. Aku selalu membersihkan dan membereskan segala sesuatu dirumah ini, sendiri.

Saat aku masih berusaha membuat diriku bangkit dari ranjang, aku mendapati bau sedap khas masakan menyapa penciumanku. Tunggu—!

Kulirik jam pada nakas disebelah kananku. Ini sudah jam 10 Siang! Tunggu-tunggu! Apa itu Kyuhyun? tapi tidak! Tunggu. Bau masakan ini benar-benar mengundang selera sedangkan jika Kyuhyun memasak, pastilah bau terbakar yang akan tercium.

Tapi..

Astaga! apa ada penyusup?

Dengan cepat, kusibakkan selimut dan tiba-tiba saja tubuhku jadi mengigil merasakan hawa begitu dingin seperti es menusuk.

Ya Tuhan! YA TUHAN!

Apa-apaan ini? kenapa aku bisa tanpa busana begini? Tunggu dulu! sebenarnya apa yang baru saja terjadi?

**

Aku berusaha membuat ingatanku berjalan dengan normal tapi satu-satunya hal yang kuingat adalah saat aku berubah menjadi makhluk konyol semalam.

Aku mabuk?

Satu persatu ingatan memalukan itu muncul dan terputar seperti film dalam ingatanku. Aku ingat saat pertama aku turun dari mobil Kyuhyun, lalu aku berjalan menuju halte bus… lalu pindah pada sebuah kedai kecil, dan..mabuk?

“Yaah! Kau jelek sekali saat sedang mabuk! Ayo Pulang!”

Apa?

“Ah~ Menyebalkan. Malas sekali! Aku tidak ingin dengannya..! Aku benci Orang itu. Jangan Pergi Oppa!”

.

.

“Ya! aku kan sudah datang. Untuk apalagi dia harus ada disini? Tsk, sudahlah, ayo pulang. ini sudah sangat malam. kau sudah mengambil tugasmu belum?” 

Tugas?

Aku baru benar-benar ingat bahwa tadi malam aku telah bertindak sangat konyol dengan membuat keributan ditempat umum. Aku ingat saat aku menelepon Siwon Oppa. tapi aku tidak ingat bagaimana pria itu datang lalu tiba-tiba Kyuhyun pun ikut datang.

Aku ingat Siwon Oppa dan Kyuhyun sempat terlibat dalam perkelahian. Tapi aku tak ingat mengapa mereka bertengkar.

Aku ingat penjaga kedai semalam memarahi kami, tapi aku pun tak ingat mengapa ia memarahi kami.

“Aku tidak pergi.”

“Kalau kau tidak pergi, Biar aku saja yang pergi.”

“kumohon, tolonglah, pergi yang jauh. Kau pergi saja.”

“Cho Kyuhyun—kita, cerai saja.”

“MWO?”

“aku ingin berpisah saja. aku…..bosan.”

“kau sudah gila rupanya.”

“aku tidak gila. Aku hanya bosan.”

Jinjja! Aku benar-benar sinting tadi malam!

“Cho Kyuhyun—aku benar-benar mencintaimu.” 

“kau sedang mabuk, Songjin.”

“aku memang sedang mabuk. Tapi jangan kira karena aku mabuk, lalu aku hanya membuat hal ini sebagai lelucon. Perasaan seseorang bukan hal yang baik untuk dijadikan lelucon. Setidaknya, berikan aku sedikit waktu untuk mengatakannya. Aku sudah…..tidak sanggup lagi menahannya seorang diri.”

“……aku mencintaimu. Rasa suka itu entah sejak kapan berubah menjadi cinta. aku selalu mencoba untuk mengalihkan semuanya. Tapi tiba-tiba, orang tuamu dan orang tuaku……..melakukan itu.”

“perjodohan. Iya kan? Kita dijodohkan kan?”

“aku terlalu senang dan langsung mengiyakan tawaran Appa. Padahal aku tahu kau masih begitu… sangat… Ngg… dengan Gyuwon… ah kenapa sebal sekali rasanya mengucapkan nama itu? mulutku jadi pedas!” 

ASTAGA SONGJIN! Apa yang sudah kau katakan?

Tubuhku mengkaku seketika. kini aku benar-benar tidak dapat menggerakan apapun pada tubuhku, selain kembali berbaring diranjang dan menjatuhkan diriku pada tumpukan bantal. “Songjin pabo!” runtukku bagi diriku sendiri.

Wajahku terasa memanas. Aku merasa sedang ditertawakan, padahal disini sedang tidak ada siapapun.

Lalu bayangan bodoh itu kembali berkelebat didalam kepalaku. Sekarang malah lebih menyeramkan.

“meninggalkanmu? aku tentu akan melakukannya sejak lama jika aku bisa. Sayangnya, aku sadar bahwa menunggu akan lebih mudah ketimbang aku harus berusaha melupakanmu nanti. Jadi aku menyerah. Aku tidak akan bisa melupakanmu.”

“Ssst. Diam dulu. aku mau tahu bagaimana rasanya ini.”

Aku bergidig sendiri mengingat bagaimana aku bisa begitu liar semalam. Terlihat dengan jelas bagaimana aku menjadi begitu menyeramkan dan seperti akan memakan Kyuhyun hidup-hidup. padahal sudah jelas pria itu dilanda kepanikan.

“ciumanmu tadi itu payah! Dan mau tahu lagi rahasia lainnya? kau bilang apa tadi? kau mencintaiku? Haha—benar-benar konyol. Aku tahu kau sedang mabuk, jadi tenanglah, kau bisa mengulanya berjuta kali sekarang. aku sangat mengerti seperti apa rancauan orang mabuk.”

Tanpa kusadari, jemariku terangkat dan menelusuri bibirku sendiri. kenapa rasanya masih tercetak dengan jelas?

Kenapa begitu….. manis?

Tapi Tunggu—Jadi semalam aku… dan Kyuhyun…

Mataku sontak terarah pada tubuhku sendiri, dan tiba-tiba aku merasa mengigil, “ANDWAE!” pekikku—langsung menubrukan wajah pada bantal-bantal lagi.

Tiba-tiba saja aku merasa mual.

Kau benar-benar sinting Songjin! Kau sudah gila!

***

“Gwaenchana? Apa sudah merasa lebih baik?”

“sedikit.” Jawabku bohong.

Aku baru saja memuntahkan-nya lagi. semuanya yang ada didalam perutku.

Tapi karena tak ada satupun yang masuk kedalamnya sejak semalam kecuali minuman sialan itu, jadi yang keluar hanyalah cairan kuning dan terasa sangat pahit.

Sejujurnya yang kurasakan bahkan lebih parah. Aku tidak ingat berapa banyak botol soju yang kuminum semalam. Yang jelas saat ini, kepalaku sangat berat dan aku selalu ingin mengeluarkan apapun yang baru masuk kedalam mulutku.

Tenggorokanku pahit dan kepalaku ini…kalau bisa kulepas dan kuistirahatkan dulu… mungkin akan jadi lebih baik.

Kalau tahu mabuk akan terasa begini tak menyenangkannya, aku menyesal telah memasukan banyak cairan itu kedalam tubuhku.

“Makan yang banyak. Jangan sungkan. Kyuhyun bilang kau sakit. dia panic karena suhu badanmu tinggi. Tadi pagi-pagi sekali dia menelepon-ku dan berpesan kalau aku harus memasukan semua yang ada dikulkas kedalam perutmu. Haha—astaga, ada apa dengan anak itu?”

“Kyuhyun?” ucapku sedikit panic saat Ibu mertuaku menyebut nama itu. entah kenapa tiba-tiba tubuhku terasa mengigil jika telingaku mendengar nama itu. Cho Kyuhyun.

Ibu mertuaku mengangguk cepat lalu meletakan punggung tangannya pada keningku. Sambil mengangguk-angguk wanita dihadapanku ini menggumam untuk dirinya sendiri, “mungkin kau terlalu lelah. Istirahatlah yang banyak.”

Aku mengangguk seadanya—kembali sibuk pada sup sapi milikku, “Geurom, Kyuhyun—kemana dia?” tanyaku hati-hati. aku tidak tahu kemana pria itu pergi sejak terakhir kali kami…. Hidup.

Aku berusaha untuk tidak menyebut nama itu sejak tadi. tapi sesuatu didalam tubuhku menginginkan jawaban tentang kemana pria itu pergi saat ini? dimana dia sekarang berada dan dengan siapa dia saat ini.

Sesuatu didalam tubuhku ingin tahu mengapa tiba-tiba saja dia pergi, dan tanpa memberitahukan apapun kepadaku. karena ini bukanlah kebiasaannya dan aku khawatir.

Sesuatu didalam tubuhku bahkan telah memberikan jawaban mengapa aku tak dapat menemukan sosok Kyuhyun saat ini. penyesalan terdapat diurutan teratas. Malu dirutan kedua dan menyesal sekaligus malu berada diurutan terakhir.

“Kyuhyun? dia tentu sudah berangkat.”

Alisku semakin bertautan, “berangkat?” tanyaku lagi dengan cepat. Ibu mertuaku mengangguk, menjawabnya, “iya. dia tidak mengatakannya padamu?”

Sekarang aku yang menggeleng seperti orang bodoh. Aku meletakkan sendok yang tadinya akan kugunakan untuk memasukan potongan daging kedalam mulutku. “kemana?”

“China.”

“China?”

Aku terkesiap ditempatku saat ini, “kenapa tiba-tiba?” kenapa Kyuhyun sama sekali tidak bilang kalau dia ingin pergi? kenapa jauh sekali? Tunggu—China itu….. Jauh kan?

Kalau hanya Itaewon atau Jolla-do mungkin tak masalah. Tapi ini China. Dan China, suksess membuatku berfikir tentang berapa juta kilometer kami sekarang terpisah. Gunung serta lautan juga ikut menjadi pemisah.

Aku tidak pernah merasa begini norak-nya seumur hidupku. Tapi entah bagaimana menjelaskan rasanya. Kami bahkan telah terpisahkan oleh daratan yang berbeda.

“tiba-tiba? Lho? Kurasa tidak. bukannya hal ini sudah dibicarakannya sejak lama? kukira tiga pria itu selalu sibuk dengan rencana mereka untuk memindahkan Gyuwon ke—“

“Gyuwon?” Lagi?

“mm. Gyuwon akan dipindahkan ke salah satu rumah sakit di China. Aku belum tahu seperti apa itu, tapi sepertinya bagus. Tiga orang itu sudah seperti kesetanan mencari tempat terbaik. Aku jadi tahu kalau ini pasti keputusan terbaik. Lagipula, Siwon bilang, kemungkinan besar akan berhasil jika dibawa kesana.”

“Siwon…Oppa?”

“tidak. dia masih disini. hanya Kyuhyun yang berangkat. Kukira Siwon akan menyusulnya—nanti. Kenapa memangnya?” tanya Ibu mertuaku setelah mungkin melihatku yang seperti orang aneh. terlalu banyak bertanya, atau entah apalah itu wajahku terlukis.

Sudahlah.

Aku tidak perduli lagi.

Aku benar-benar tidak perduli.

Tapi mungkin, Kyuhyun melakukannya karena inipun adalah permintaanku.

Aku ingat tentang diriku yang memintanya pergi jauh dari hadapanku. Menjauh. Kalau dia tak pergi, aku yang pergi. itu seperti ancaman yang mengerikan. Dan mengingat Kyuhyun sangat tidak mungkin membuatku pergi—entah terlihat seperti apa.

“kumohon, tolonglah, pergi yang jauh. Kau pergi saja.”

Jadi, Kyuhyun pergi.

Pergi.

Tunggu. Tunggu dulu, pergi?

Apa dia benar-benar pergi?

“Eommonim..” panggilku. “apa…. Kyuhyun akan kembali?”

Katakan iya. katakan iya….

Jantungku berdegup begitu kencang. Seperti akan lepas dan aku merasakan sesuatu yang perih, lagi. didalam tubuhku.

Tiba-tiba saja Ibu mertuaku terbahak. Dia memandangiku seperti aku sedang menggunakan pakaian badut pada taman bermain. “kau ini bicara apa? Tentu saja dia akan pulang. bukankah ini rumahnya juga? untuk apa dia lama-lama disana? Kau kan disini.”

Benar. itu benar. untuk apa Kyuhyun berlama-lama disana? Aku kan disini. aku ada disini.

Tapi, lalu kenapa kalau aku ada disini?

“Eommonim,” panggilku lagi. “Ke—kenapa, Kyuhyun tidak membangunkanku? Aku tidak tahu kalau dia akan pergi ke China hari ini?”

“mana tega dia mengganggumu? Kau tidur sangat lelap. Aku saja tidak tega membangunkanmu walaupun aku harus memberimu makan. lagipula kau sedang sakit. sebenarnya apa yang kau lakukan, Songjin? Apa kepalamu masih terasa pusing?”

Aku mengangguk. Tanganku ikut-ikutan mengecek suhu tubuhku sendiri, tapi aku tak merasakan apapun yang berbeda.

“kalau begitu makanlah dulu. nanti kubuatkan teh Gingseng panas. Minum obat dan segera tidur, eotte?”

“Hmm. Tapi.. aku tidak tahu—“ kataku lalu mendorong mangkuk sup ku. perutku sudah seperti terdapat banyak soda yang dikocok-kocok. Sedikit lagi akan meledak.

Perlahan aku bangkit dan berjalan menuju kamar, “Eommonim, apa aku bisa istirahat sebentar lagi?” pintaku walau tak enak hati meninggalkannya sendiri, tapi kepalaku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.

Ibu mertuaku tampak terkejut walau tak berapa lama ia mengangguk—“iya. tentu.” Ujarnya tersenyum. Namun baru dua langkah aku berjalan, aku sudah dihentikannya lagi, “Songjin. Sebentar.”

Ibu Mertuaku kembali meletakkan punggung tangannya pada keningku. Keningnya berkerut sendiri seakan sedang berfikir keras, “apa yang kau rasakan?”

Sekarang? “entahlah, Eommonim. Aku hanya ingin berbaring saja. kepalaku pusing dan rasanya badanku lemas setengah mati.”

“apa mungkin..” ujarnya menggumam sendiri. namun lalu kepalanya menggeleng berkali-kali. Tak lama kemudian matanya menelusuri tubuhku seperti aku baru saja terserang virus mengerikan, “datang bulanmu lancar?”

“apa?”

“datang bulanmu. Apa bulan ini kau sudah—“

Astaga! “Eomonnim!” pekikku terkejut. Aku benar-benar tahu sekarang apa yang sejak tadi dimaksudkannya, “aku tidak sedang hamil!” Jinjja!

Kami bahkan belum—maksudku.. baru.. ah sudahlah.

Ibu mertuaku mencebikan bibirnya lama, “aku hanya penasaran. kemungkinan itu selalu ada kan? Lagipula, kalian sudah menikah hampir dua tahun masa—“

“sudah dua tahun.” koreksiku cepat. Entah mengapa itu terasa penting bagiku, “iya. sudah dua tahun, apa tidak ada tanda-tanda kalau kau.. hmm..”

Ibu mertuaku membuat gerakan dengan dua tangannya. Memutari sekitar perutnya sendiri dan membuatnya terlihat besar. aku segera menggeleng berkali-kali, “Tidak. Eommonim. Aku pastikan kalau ini bukan karena aku hamil. Ini hanya karena aku…..semalam… aku—aku mab—“

“oh sudahlah. Aku mengerti.” Potongnya tanpa perduli dengan kalimatku, “tidak. sebenarnya aku tidak mengerti. Apa Kyuhyun benar-benar payah? Sampai selama ini kalian menikah pun masih belum memiliki bayi? Kau bilang dua tahun? dulu dua tahun perkawinanku, aku sudah memiliki Siwon!”

“hah?” aku terkesiap. Apa harus begini terbuka mengatakannya? “Eommonim!!”

***

Sudah dua hari Kyuhyun tidak pulang. Walau aku cemas, tapi baru kali ini aku pun merasa tenang saat Kyuhyun tak berada didekatku. Maksudku, mendengar namanya saja aku sudah merinding. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku benar bertemu dengan orang itu.

Sial!

Apa yang kami lakukan malam itu, benar-benar parah! Sial!

Dan aku merasa seperti tersangka utama, karena pada kenyataannya, akulah yang lebih dulu memulainya. Kenapa aku bisa segila itu?! aku tidak tahu kalau kadar alcohol dapat membuatku menjadi lebih tolol dari keadaanku biasa yang memang sudah tolol.

Jika begini, apalagi yang harus kulakukan?

Tanganku sibuk memainkan remote, sedangkan tontonan didepanku sama sekali tidak menarik minatku. Ibu mertuaku sudah pulang karena aku yang memintanya. mana tega aku membiarkan orang tua selalu terjaga hanya untuk menemaniku?

Entah apa yang sudah Kyuhyun katakan pada Ibu-nya itu, hingga Ibu mertuaku selalu seperti ekor kuda denganku. mengikutiku kemanapun aku pergi. dan pada hal lain, kukira aku sudah baik-baik saja—semuanya akan aman-aman saja.

Aku sudah berjanji jika nanti aku merasakan sesuatu yang tak enak, aku langsung menghubunginya. Bahkan Ibuku sendiri sekarang sedang berada di Jepang untuk urusannya entah itu apa.

Aku sungkan Ibuku sendiri tahu keadaanku saat ini, Cih!

Aku tidak tahu apa kemungkinan terburuk yang akan terjadi dari hal konyol yang kami lakukan semalam, tapi jika itu sampai terjadi… hal itu… bisa saja aku hamil.

Tunggu—kenapa aku mengatakan seperti ini adalah tindakan pemerkosaan saja? bukankah Kyuhyun adalah suamiku sendiri? kenapa aku tetap merasa perlu untuk meminta pertanggung jawabannya?

Ini Gila!

Lalu jika semuanya benar terjadi….satu-satunya orang yang dirugikan adalah diriku sendiri. bahkan setelah hal itu terjadipun, Kyuhyun masih pergi meninggalkanku untuk wanita lain.

Park Songjin, apa kau baru sadar kalau kau benar-benar menyedihkan?

Cih! makan itu cinta! rasakan sendiri pahitnya!

Aku tak sadar dengan waktu saat aku sedang sibuk berdebat dengan pikiran ku sendiri. yang kutahu tiba-tiba saja seperti hantu aku melihat sosok itu ada didepanku. Mataku hanya dapat mengerjab berjuta-juta kali saat mendapatinya sedang mendorog kopornya masuk kedalam bersama dengan dirinya yang perlahan mendekat.

“K—kau, kenapa D—disini?” tanyaku panic. Seluruh tubuhku terasa lemas dan dingin. Remote ditanganku jatuh begitu saja.

Kyuhyun hanya diam ditempat sambil menggaruki kepalanya, “aku?” tanyanya bingung. “lho? Kenapa memangnya? Ini rumahku kan??” ia bertanya lagi. wajahnya sarat akan kebingungan dan itu sangat jelas, benar-benar tak dapat ditutupi.

Iya betul. Ini rumahmu. Pertanyaanku adalah kenapa kau datang tiba-tiba begini? Aku—masih belum tahu… bagaimana…

“kau sudah lebih baik?” Kyuhyun bertanya lagi sambil mendekat perlahan dan tiba-tiba saja telapak tangan besarnya sudah menempel pada keningku. Aku yang sebelumnya telah membuat pose kuda-kuda hanya untuk sekedar berjaga terasa sia-sia saja.

Pria itu menggumam sesaat sambil menganggukan kepalanya.

“sudah minum obat?”

“N—ne? O. Y—ya sudah tentu.” Jawabku gugup.

Tiba-tiba saja aku merasa, pendingin udara ditempat ini sangatlah tak berguna. Udara disini berganti-ganti setiap detik aku bernafas. Dingin tapi juga masih panas.

Kyuhyun kemudian berjalan menuju kamar kami sambil menyeret kopornya meninggalkanku dan aku dapat kembali dengan tenang duduk. Tapi setelah itu, aku merasakan hawa panas dibelakang tubuhku.

Benar saja, tak lama kemudian Kyuhyun telah berganti pakaian rumah dengan kaos oblongnya dan celana training, lalu duduk mengambil posisi tempat disisi kananku. Jaraknya tak jauh, mungkin itulah yang membuatku sesaat, merasa sesuatu pada sisi kananku membakar tubuhku.

Aku merinding kedinginan, tapi juga merasa kepanasan. Aku pusing dan tiba-tiba menjadi mual. Lagi-lagi tanganku gemetaran hingga remote yang kupegang nyaris terjatuh jika saja Kyuhyun tidak menangkapnya.

“Hei, kau kenapa sih? Kau masih sakit ya?” tanyanya lalu melirik curiga padaku. Dengan cepat aku menggeleng sambil mengibaskan dua tanganku agar terlihat lebih meyakinkan. “Tidak-tidak. aku baik-baik saja. super baik-baik saja.”

Tidak juga. aku tidak sedang baik-baik saja sebenarnya jika kau terus berada disini.

Ini seperti aku menginginkannya pergi jauh, tapi juga jangan menjauh.

Aku berdehem membersihkan tenggorokanku, “Kata Eomonnim kau ke China—“ aku berucap. Memecah keheningan karena tak satupun diantara kami yang berniat membuka mulut. Dan keheningan ini jika dibiarkan semakin lama benar-benar bisa membunuhku!

“Mm.” Jawab Kyuhyun singkat. Pria itu sibuk dengan remote dan Channel yang sedang diubah-ubahnya. “kenapa tidak bilang sebelumnya? Kenapa Kau pergi begitu saja?!” aku mendengar suaraku seakan menuntut penjelasan lebih dengan kekesalan yang tak dapat kututupi lagi.

Kyuhyun malah tertawa, “kau tidur seperti babi. Bagaimana bisa aku membangunkanmu. lagipula, kau sedang kurang enak badan. Dan Kau juga terlihat sangat lelah—“

Omo! Bisa-bisanya dia berbicara seenteng itu?

“tapi kan kau bisa memberitahukanku dengan cara lain, kenapa tidak menghubungiku? Atau—atau setidaknya mengirimiku pesan? Atau apalah itu—“

“kau tidak bisa dihubungi. Ponselmu mati.” Kyuhyun menyahut cepat dan aku baru sadar bahwa aku mematikan ponselku sejak kemarin malam. terakhir kali aku menggunakan benda itu saat aku merasa perlu untuk menghubungi Siwon Oppa, dan setelahnya, aku tak tahu bagaimana hidup benda itu.

Aku jadi merasa malu sendiri setelah bicara ngotot dan tak mau mengalah, tapi tiba-tiba tertangkap basah bahwa akulah yang bersalah. Tolol.

“dan aku sibuk, Songjin. Disana aku harus mengurus beberapa keperluan rumah sakit. kau tahu sendiri lah— hal–hal seperti itu.“

Diam-diam aku menggeram kesal. Dua tanganku terlipat dengan sendirinya dan aku langsung mengalihkan wajahku lagi pada televisi. Entah mengapa aku merasa marah saat Kyuhyun, bisa-bisanya sibuk mengurus urusan orang lain, sedangkan ia seperti melupakanku disini.

“dasar sok sibuk!” gerutuku kesal hingga Kyuhyun kembali tertawa seperti ini adalah lucu baginya. “tapi aku memang sibuk.”

“lalu kalau kau sibuk kenapa juga kau harus pulang??” balasku tak kalah cepat. Aku sebal! Rasa mendidih ini sudah terasa mejalar kemana-mana.

“aku merindukanmu tentu saja.” balas Kyuhyun santai. Pria itu melipat dua kaki panjangnya setelah mendapatkan tontonan yang ia inginkan. Sejenis Drama kolosal entah itu apa—aku tak perduli.

Hal yang kuperdulikan adalah Kyuhyun tiba-tiba saja menjadi mengerikan. Aku menoleh cepat pada pria yang sepertinya asyik menonton Tv. Kyuhyun yang sadar kuperhatikan ikut menoleh “kenapa?” tanyanya datar seperti ia tak melakukan apapun.

Aku meneguk liurku saking tidak tahu harus melakukan apa. Tubuhku semakin menegang saat Kyuhyun perlahan merapatkan tubuhku padanya. Tangannya menyusup dan menariku untuk mendekat. Dulu aku tidak masalah dengan hal yang ini, tapi setelah tragedy malam konyol itu, rasanya semua menjadi berantakan.

“Ngg—Jadi, kau menyukaiku, huh?” ucapnya pertama. Mengawali percakapan canggung dimalam ini.

Sial. Apa tadi katanya?

“Apa?” tanyaku panic. Menoleh pada Kyuhyun tapi Kyuhyun malah menaikan satu alisnya tinggi seperti meminta pertanggung jawabanku, “T—tidak. maksudku—itu…”

“sejak kapan tepatnya kau mulai merasakan suka itu berubah menjadi cinta? huh?

“huh?” 

Aku mengernyit sendiri. sedangkan Kyuhyun masih memperhatikanku dengan tatapan seolah berkata ‘hentikan itu—atau kubunuh kau sekarang!’ hingga aku kembali memperhatikan televisi lagi. meneguk ludahku lagi.

“Itu—“ ucapku mengambang.

Kalau saja kau kembali tiga atau tujuh hari lagi, mungkin aku masih bisa menyusun kata-kata yang akan kukatakan tentang perngakuan dosaku pada malam itu. tapi kau kembali secepat kilat dan aku belum menyiapkan apapun untuk kukatakan!

“Oh, ayolah, Songjin. Bicara yang benar jangan seperti orang bisu. Kau punya mulut. Atau kau harus kubuat mabuk lagi agar mengatakan semuanya?” Kyuhyun menggerutu.

Aku hampir melompat dari tempatku saking terkejutnya karena Kyuhyun dapat bicara seenteng ini padaku, tapi Kyuhyun kembali menarikku mendekat, “ayo bicara. Aku butuh penjelasanmu.”

Penjelasan??! Mati kau Songjin! Mati kau matiiii!

“sejujurnya, aku tidak pernah menyesal karena malam itu kau mabuk. Walau kau melakukannya dalam pengaruh alcohol, dan kau terlihat seperti orang tolol, tapi kau berhasil mengatakan semuanya. Lebih tepatnya, kau mengejutkanku sebenarnya.”

“mengatakan—mengatakan apa?” aku bersingut.

Kyuhyun menoleh padaku dan mendecah, membuang wajahnya sambil tertawa sinis, “Cho Kyuhyun, aku benar-benar mencintaimu. Jangan pergi.” Kyuhyun bicara dengan nada dibuat-buat.

Hey, apa aku begitu jeleknya malam itu?

“aku tentu akan melakukannya sejak lama jika aku bisa. Sayangnya, aku sadar bahwa menunggu akan lebih mudah ketimbang aku harus berusaha melupakanmu nanti. Jadi aku menyerah. Aku tidak akan bisa melupakanmu.”

Kyuhyun kembali bicara. Ia kemudian terkekeh dan membuka mulutnya lagi, “aku memang sedang mabuk. Tapi jangan kira karena aku mabuk, lalu aku hanya membuat hal ini sebagai lelucon. Perasaan seseorang bukan hal yang baik untuk dijadikan lelucon. Setidaknya, berikan aku sedikit waktu untuk mengatakannya. Aku sudah…..tidak sanggup lagi menahannya seorang diri.”

Aku terperangah. Kyuhyun tidak salah karena aku sendiripun mengingat kalimat itu setiap katanya dengan sangat jelas ! tapi kenapa saat keluar dari mulutnya, semua terdengar menggelikan dan menjijikan?

“Ah! Saat tidur Kau juga mengiggau tanpa henti dan berkata bahwa kau benar-benar menyukaiku. Lalu kau mengutuk karena aku lebih sering menghabiskan waktuku bersama dengan Gyuwon dan kau merasa terbuang. Hahaha, Jinjja Songjin! Kau benar-benar tolol, ya? isi kepalamu sepertinya sudah berganti dengan jerami.”

Kyuhyun terbahak, hingga memeluk kakinya sendiri. sepertinya kalimat-kalimat tentang isi hatiku itu terdengar sangat lucu baginya. Hingga perutnya sampai sakitan karena tertawa.

Aku bersingut kesal. Walau ditelingaku pun terdengar sangat konyol dan menjijkan, tapi apakah pantas perasaan seseorang dibuat bahan tertawaan?

Setelah benar-benar merasa muak, aku bangkit dari dudukku dan menghentakkan kaki sebelum berlalu. Tapi Kyuhyun segera memanjangkan kakinya hingga aku jatuh terjembab kekarpet, “Yaa!” bentakku langsung. Kyuhyun masih tertawa geli.

Pria itu bertingkah, seperti menyakitiku adalah hal yang membuatnya senang. Atau memang seperti itu, aku tak tahu lagi.

Tiba-tiba saja aku merasa panas pada wajahku, ini memalukan. Aku memang telah membayangkan hal-hal memalukan yang akan kuhadapi, tapi ini bukan saja hanya dipermalukan. Aku merasa seperti di rendahkan. “apa itu benar-benar lucu untukmu?” sindirku setelah bangkit.

Kyuhyun menganggukan kepalanya, “tentu saja!” ujarnya terlihat sangat senang.

“dasar tidak sopan! Setidaknya, jangan jadikan hati orang lain sebagai lelucon seperti itu! jika menurutmu menyukai seseorang adalah lelucon dan terdengar sangat lucu, setidaknya simpan saja kelucuan itu untukmu sendiri. perasaan orang bukan untuk ditertawakan!” bentakku seirama dengan sesuatu yang mengalir pada wajahku.

“Jatuh cinta adalah hak siapa saja. aku berhak untuk jatuh cinta padamu. Kau tak perlu membalasnya jika kau tidak mau. itu adalah hakmu. mencintai seseorang tidak bisa dipaksakan, tapi setidaknya, hargai perasaan orang lain. Kau tidak pernah belajar cara menghargai perasaan orang lain, ya?” sindirku lagi.

Aku kembali berjalan dengan cepat—bahkan berlari dan masuk kedalam kamarku. Menutup pintu setengah membanting.

Tapi tanpa kusadari aku membantingnya dengan sangat keras. aku hanya dapat berdiri mematung pada daun pintu dan menetralkan nafasku yang tersengal. Air mata yang kutahan sejak tadi, ahirnya tumpah juga.

Untunglah kali ini aku mengeluarkannya tidak didepan wajah Kyuhyun. dia mungkin akan tertawa semakin keras dan mengataiku cengeng atau apa, seperti hal yang biasa dilakukannya.

Tak lama aku merasakan ketukan pada pintu. “Songjin—“

“AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU!” teriakku sekeras mungkin. Aku merasa segalanya akan meledak saat air diwajahku semakin deras saja.

“tidak mungkin. Kemarin kau bilang kau mencintaiku—“ ujar Kyuhyun menentang. Nada bicaranya kini menjadi serius. “Ya, buka pintunya. Kita perlu bicara.”

“Tidak mau! aku benar-benar muak denganmu! Kau pergi saja—aku tak perduli lagi!”

Suara desahan panjang terdengar dengan jelas kemudian, “aku tidak pergi. dan tidak akan pernah pergi. aku tidak mau. kemarin kan aku sudah bilang. Aku tidak akan pergi.”

Aku baru saja akan membuka mulutku saat Kyuhyun sudah bicara lebih dulu, “kau tidak bisa bilang kalau aku tidak mau pergi maka kau yang akan pergi. kau sendiri yang bilang, kau tidak bisa pergi dariku. Iyakan?”

Benar. tapi itu—“tidak! aku bisa!”

“kau tidak akan bisa, Songjin.”

“AKU BISA!” bentakku memberi harga mati yang aku sendiri tahu hal sebenarnya. Pergi darinya? Apa itu mungkin? Lucu sekali kau Park Songjin! Kalau bisa, kenapa tidak sejak dulu saja kau pergi?

“—kalau begitu, pergi saja. tapi aku pasti akan menemukanmu. Dan setelah itu kau tak bisa pergi lagi. dan kau ingat? Aku memiliki hak yang sama untuk tinggal. Sepertimu yang memiliki hak itu juga!”

Aku terperangah. Tidak tahu lagi harus berkata apa. Rasanya benar-benar mengejutkan semuanya akan berakhir malam ini.

Pintu kembali terketuk dengan kenop yang bergerak. Kyuhyun berusaha membukanya dari tempatnya dan untungnya pintu telah kukunci, “Songjin. Ayolah~ kumohon. Buka dulu pintunya.” Pinta Kyuhyun yang tak kugubris.

Setelah sekian lama, Keadaan menjadi tenang. Tidak dengan hatiku, hanya sekitarku, tapi itu berhasil membuat sensasi mengerikan menjadi lebih tampak.

“maaf.” Suara Kyuhyun terdengar memelas kini. Tapi aku mengenal pria itu dan dia jago berakting. “aku tidak menertawakanmu tadi. bukan itu yang kurasa lucu. Sebenarnya, Akh,—Songjin, buka saja dulu pintunya. Aku tidak suka berbicara dengan pintu didepan wajahku seperti ini.”

“……………..”

Pintu kembali terketuk, “kau tidak mengerti yang terjadi sebenarnya selama ini. karena itu buka dulu pintunya, akan kujelaskan semuanya.”

“Tidak perlu. Aku sudah bosan kau jadikan lelucon.”

“Songjin! Aku tidak pernah menjadikanmu leluconku!” putus Kyuhyun bernada tinggi. Pria itu menaikan nada suaranya seakan itu akan membuat jadi terdengar meyakinkan.

“Songjin….”

.

.

“……………….”

“Songjin ayolah buka pintunya. Kumohon, Buka dulu.”

“………………….”

.

.

.

“A—aku juga mencintaimu—“

“tutup saja mulutmu Cho Kyuhyun!” bentakku merasa terhina. Masih saja dia melakukan aksi guyonannya.

“KAU YANG TUTUP MULUTMU!” Kyuhyun berteriak kencang membuat ku terkejut, “KAU TIDAK MENGERTI APA YANG KURASAKAN SELAMA INI BUKAN? AKU BERUSAHA MENJELASKANNYA TAPI KAU TIDAK PERNAH MAU DENGAR SEJAK TADI. KARENA ITU BUKA DULU PINTU TOLOL INI!!”

.

.

“…………….”

“Songjin, ayolah. Aku merindukanmu setengah mati. setidaknya jangan seperti ini padaku. Jangan lagi.”

.

.

“………………”

Author’s side

“…… saat itu kau baru bisa menaiki sepeda motor, kau membeli motor sport. Sejak awal aku sudah Khawatir, kau itu bodoh dalam hal baru, pasti akan terjadi sesuatu. Dan benar.. malam itu Siwon Hyung mengabariku, kau jatuh. Tanganmu patah.” Kyuhyun tersenyum tipis.

“saat itu aku merasa seperti akan mati saja. apa kau baik-baik saja? bagaimana keadaanmu? Apa benar hanya patah tulang saja? otakmu yang sedikt itu, tidak ikut hancur seperti motormu yang ringsek.. kan?”

Hhh—Kyuhyun menghela nafasnya dengan berat. Ia masih terduduk disisi lain pintu kamarnya dan hanya bersandar tanpa melakukan apapun. pria itu hanya mengatakan apa yang seharusnya ia katakan sejak lama tapi selalu tertahan diujung pangkal lidahnya.

“Songjin…” Kyuhyun memanggil lagi. pria itu menoleh dan menatap pintu kamarnya yang berwarna putih gading masih tak menunjukan adanya kehidupan hingga pria itu melenguh lagi.

“—maaf. Aku yang pengecut. Seharusnya apapun keadaannya, aku tetap harus mengatakannya padamu. Tapi kau tahu… aku seperti merasa, jika kau tidak akan mengerti dengan hal seperti ini. dan aku tidak ingin merusak apapun yang telah terjadi selama ini. aku tidak ingin kau pergi, setelah aku mengatakan bahwa aku  benar-benar mencintaimu. Tapi memangnya bisa semudah itu?” dengus Kyuhyun.

Pria itu merasa konyol telah bertingkah selayaknya remaja labil yang masih merasa segalanya adalah permanent.

“aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan hal itu. tanpa perlu kukatakan saja, kau sudah menjauh dariku. Kau seperti lebih senang menghabiskan waktumu dengan Lee donghae-ssi, sedangkan aku kau tinggalkan seperti orang bodoh. Ingin sekali aku mencegahmu pergi. well, sebutlah beberapa kali berhasil, tapi apa kau pikir aku tega melihatmu murung seharian hanya karena kau tak bisa bertemu dengan pria itu?” Kyuhyun mendesis sinis. Menggelengkan kepala, membayangkan hal konyol yang sering terjadi padanya.

“aku mungkin bisa mengikatmu lebih kencang. Dengan itu, kau akan selalu berada didekatku. Tapi jika begitu, aku hanya bisa mendapatkan tubuhmu saja bersamaku. Aku tidak mendapatkan hatimu. Apa enaknya seperti itu?”

Keadaan tetap sepi. Dingin semakin menusuk, dan sialnya Kyuhyun sama sekali tak menggunakan pelapis apapun selain kaos tipis yang sedang dipakainya. Tangannya menggosoki lengannya sendiri berharap dengan itu, muncul sedikit kehangatan, tapi toh tak banyak.

Pria itu menghela nafasnya panjang—kembali menoleh kebelakang, “Songjin… disini dingin. kau mau mengurungku tanpa apapun seperti ini? kalau besok aku mati membeku, kau sudah siap?”

Songjin tersenyum mendengar ocehan Kyuhyun. gadis itu menghapus air mata yang kini intensitasnya lebih parah dari sebelumnya. Anehnya, kini sesuatu yang sejak dulu selalu terasa membuat perutnya membelit—panas, seperti ada selongsong peluru yang bersarang, telah menghilang.

Tubuhnya terasa ringan dan hatinya kini menghangat. Sekarang, Entah apa yang membuat gadis itu masih bertahan pada pendiriannya, untuk membuat Kyuhyun terkurung sendiri, padahal sudah sejak tadi Kyuhyun memohon untuk bertemu dengannya. Paling tidak berada diruangan yang sama dengan gadis itu dapat membuat hati Kyuhyun yang amburadul sejak kembali dengan terburu-buru dari China itu menjadi tenang.

“Songjin, aku lelah. Boleh pinjam bantal dan selimut tidak?” rengek Kyuhyun lagi. membuat Songjin tertawa lebih lebar.

Ayolah, rumah ini menyimpan banyak kamar. Ambil saja dari kamar-kamar kosong itu! untuk apa terus bertahan hanya untuk meminta selimut dan bantal?

Telinga tajam Kyuhyun sempat mendengar suara tawa walau hanya sekilas, “Hei, kau menertawakanku ya?” protes pria itu, merasa tidak terima. Tangannya dibuat menjadi kepalan dan memukul pintu dibelakangnya.

“sialan kau! Hei! Buka!” gerutu Kyuhyun sambil bangkit. Pria itu sudah menyerah dan memutuskan untuk tidur di sofa saja. toh Songjin tak akan bisa pergi tanpa melewati ruang keluarga dulu.

Gadis itu tak mungkin kabur melalui jendela juga. Kyuhyun tahu betul gadis itu takut dengan ketinggian dan lantai dua bukan alasan yang bagus untuk lompat agar dapat sekedar kabur tanpa berpapasan dengannya.

Kyuhyun mendengus sebal, “Huh, padahal malam itu kau benar-benar sexy. Mati-matian aku pulang cepat dari China karena kupikir setelah pulang cepat aku dapat melihatnya lagi.  Jadi, aku tidak bisa melihat semuanya lagi ya?”

BUUM!

Songjin menendang pintu sekuat tenaganya. Kyuhyun berjingat dari tempatnya—mundur dua langkah, “well, kuartikan itu sebagai tidak. Oke—oke. kau mengerikan juga kalau sedang mengamuk.” Tutur Kyuhyun mengangkat dua tangannya namun kemudian pria itu tersenyum.

__ __ __

Pukul tiga pagi, Songjin tak dapat tidur dengan tenang. Kali ini bukan karena kepalanya yang berdenyut hebat, walau tak dapat dipungkiri itu pun menjadi salah satu alasannya.

Entah apa efek alcohol itu masih ada pada kerja tubuhnya, atau kenyataan bahwa Kyuhyun memiliki perasaan yang sama, membuatnya tak dapat tidur. Kini dunia nyata terasa lebih indah dibandingkan mimpinya. Setidaknya, ia tahu bahwa hal-hal kecil itu terasa menyenangkan.

Gadis itu hanya berguling-guling kesana kemari diatas ranjangnya yang besar. ranjang besar itu biasanya ditiduri oleh dua orang. Tapi sejak dua malam yang lalu gadis itu menempatinya sendiri saja.

Rasanya menjadi lengang. Terlalu besar jika untuk seorang diri. Tapi terlalu malu untuk menyeret Kyuhyun kembali dan meminta pria itu menemaninya.

“Aku tidak tahu sejak kapan aku merasakannya, tapi aku benar-benar mencintaimu. Rasanya, jika bersamamu selalu tenang. Aku selalu dapat melakukan segalanya dengan benar. aku merasa tak masalah jika kehilangan apapun yang kumiliki, tapi aku tidak ingin kehilanganmu.”

Songjin menyembunyikan wajahnya pada tumpukan bantalnya. Wajah gadis itu sudah memerah semerah kepiting rebus mengingat perkataan Kyuhyun beberapa jam yang lalu saat Pria itu mencoba membuat Songjin menurunkan kekesalannya.

“mungkin kau tidak mengerti dengan rasa seperti itu. tapi aku hanya merasa kaulah satu-satunya yang kupunya saat ini. dan jika kau pergi, aku tidak tahu akan jadi apa aku nanti. Kau benar-benar sudah membuatku bergantung denganmu.”

“sebelum aku sadar bahwa rasa ini benar-benar nyata, aku berusaha untuk melenyapkannya. Tapi ternyata tak semudah itu. melenyapkanmu. Dan setelah kupikir, jika aku benar-benar tidak bisa melupakanmu, mungkin memang sudah sepatutnya kau berada disana. Jadi aku tidak memaksakan diriku lagi.”

“aku tidak tahu kau hanya membual atau mengatakan yang sejujurnya. Kau kan Casanova yang mahir memainkan hati banyak gadis. mana bisa aku percaya begitu saja?”

Gerutu Songjin. Walau kesal, tak ayal kalimat-kalimat itu dapat suksess membuat hatinya mengembang, berbunga-bunga.

“Kau salah Kyuhyuh-ah. Aku sangat tahu rasa seperti itu!” Songjin berucap lagi. gadis itu bersungut kesal sebelum akhirnya memikirkan hal yang lain.

“apa …..dia sudah tidur?” Songjin bertanya-tanya.

Gengsinya yang tinggi, masih membuat gadis itu hanya dapat bertanya-tanya ini dan itu. namun dua puluh menit setelahnya ia benar-benar menyerah. Selain karena merasa bersalah telah membiarkan Kyuhyun tidur diluar tanpa apapun, gadis itu juga haus karena sejak tadi hanya menangis saja.

Oh—tidak juga. sepertinya sekarang, ada seseorang yang termakan ucapannya sendiri. Songjin merasa lelah harus melewatkan malam ini sendiri lagi.

Dengan bermodalkan satu lembar selimut dan sebuah bantal, Songjin keluar menuju ruang keluarga—berjalan berjingit-jingit. Perlahan songjin berjalan mendekat pada sofa yang sudah Kyuhyun lebarkan menjadi tempat tidur.

Kecil memang, tak seberapa dibandingkan kasur mereka dikamar. Hal itu membuat Songjin sedikit merasa bersalah.

Songin memandangi Kyuhyun lebih dulu dan itu membuatnya semakin merasa bersalah. pria itu tidur seperti udang rebus—dengan tubuh tertekuk. Benar-benar lentur, tapi bersamaan dengan itu terlihat sangat menyedihkan karena seperti gelandangan.

Ia  mendengus pelan lalu membungkuk. Dengan hati-hati mengangkat kepala Kyuhyun, lalu meletakan bantal disana, Namun tiba-tiba— “Whoooa!” Songjin memekik saat tubuhnya langsung terjatuh begitu saja.

“aku tahu kau akan datang.” Ucap Kyuhyun dengan mata terpejam. Pria itu yang tadi langsung menarik Songjin dan kini mengurung gadis langsing itu seakan memenjarakannya.

Setengah mati Kyuhyun merasa senang dan menang. Tentu saja dengan Songjin yang mendatanginya lebih dulu, itu adalah sebuah kemenangan tersendiri untuknya.

“Cih! berisik sekali. Lepaskan aku!” perintah Songjin. Bergerak tak tentu pada tempatnya—memberontak.

Namun bukannya dilepas, Kyuhyun malah semakin mengeratkan rengkuhannya, “tidak mau. aku suka seperti ini” ucapnya santai. Bibirnya melengkungkan senyuman, tapi matanya masih terpejam.

“dasar egois! Minggir! Aku mau tidur!”

Kyuhyun tersenyum, “tidur disini saja denganku.” ujarnya enteng. Tak perduli dengan belakan mata Songjin dan gadis itu yang merasa bagai terkepung, “sudah dua hari aku tidur sendiri. rasanya tidak nyaman tanpa kau.” aku Kyuhyun jujur membuat wajah Songjin memanas.

Gadis itu masih memberontak untuk kabur. Tapi sepertinya, semakin ia bergerak liar, Kyuhyun semakin memenjarakannya saja. Songjin menyerah, gadis itu hanya dapat menggumam pelan sadar bahwa melawan Cho Kyuhyun tak akan pernah berhasil baginya.

Lagipula, toh ia merasa nyaman dengan Kyuhyun yang memeluknya kini. rasa canggung lah satu-satunya alasan yang membuatnya terus memberontak. “Kyu~ lepaskan. Aku mau tidur lagi.” Pinta Songjin melemah.

Kyuhyun hanya diam dan mencoba untuk kembali tidur. Pria itu benar-benar tak perduli dan sekarang tidurnya semakin nyaman dari pada sebelumnya. Kyuhyun merasa tenang. Sedangkan Songjin, jantungnya terasa akan lepas, tapi juga tetap membuat gadis itu tersenyum senang.

“Songjin…?”

.

.

“hmm?”

“Gomawo.”

Kening Songjin berkerut, “untuk?” tanyanya bingung.

“untuk selalu kembali dan mau menunggu.”

Songjin tersenyum singkat dan hanya memeluk tangan kurus yang melingkari perutnya. Kyuhyun menganggapnya sebagai jawaban iya, hingga pria itu kembali tersenyum dan semakin mengeratkan rengkuhannya.

Matanya kembali terpejam, namun dua sisi bibirnya menarikan utasan senyum, “Songjin,”

“apalagi sih?” Gadis itu menghardik kesal. Ia sudah akan tertidur lagi dan Kyuhyun masih bertingkah.

“…….you know, you’re the best thing that’s ever been mine. Don’t you dare to leave me. Not again”

.

.

.

“….. bisa kau bicara dengan bahasa yang kumengerti saja?”

Kyuhyun mendesah jengah, namun akhirnya toh pria itu tak perduli. Kyuhyun menyapukan bibirnya pada ujung kepala Songjin.

“I Love You So Much.” Ucap Kyuhyun lembut disela heningnya keadaan. kini Songjin tidak mungkin tidak mengerti dengan kalimat satu itu. paling tidak, itulah hal ter-ringkas yang dapat menggambarkan keseluruhan hatinya. Pria itu menempatkan dagunya pada ujung kepala Songjin hingga dapat menyesap wangi aroma Shampoo Strawberry yang Selalu membuatnya mabuk.

182 thoughts on “Missing [Part 16]

  1. Kenapa tidak dari awal saja songjin minum soju biar kesalah pahamaman ttng perasaan mrk terselesaikan kasihan harus nunggu dua tahun untuk bisa mengetahui mengakui ttng perasaan mrk masing”.Seneng banget baca di part ini so sweet😊

  2. Akhirnya jadi juga kan 😂😂,,,tuntas sudah rasa greget ku,, so sweet ya kyuhyun ternyata bisa juga ngomong sepanjang itu,, btw emg agak pendek” ya crtanya, hm gapapa sih yg pnting keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s