Missing [Part 18] END


Author: GSD.

Title: Missing. [18]

Cast: Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Park Songjin, Lee Donghae, Lee Gyuwon.

Rating: PG 16.

Length: Chaptered.

Genre: Romance, Tragedy, Family

Note: Attention! part akhir ini benar-benar panjang macem sungai Han campur cisadane. jadi maaf kalau nanti tiba-tiba bosan. setelah sekian lama akhirnyaaaaa FF ini tamat juga. agak gak rela habis aku suka sama couple ini. tapi yasudahlah move on aja -__- makasih banyak buat reader-nim yang berbaik hati mau stay baca, ngikutin cerita ini sampai akhir. aahh aku seneng banget rasanya kayak habis diwisuda gitu hahaha– setelah ini, aku minta tanggapannya seperti apa cerita ini secara keseluruhan sejak awal sampai akhir menurut kalian 😀 itu bisa jadi masukan, sekaligus penyemangat diwaktu yang bersamaan. setelah ini aku akan selesaikan posting Drabble-Drabble yang sudah setengah keposting dan cerita satulagi yang sebelumnya sudah aku janjikan. akhir kata, terimakasih banyak sekali lagi reader-nim! aku padamuuu *CIUM*

 

“kalaupun dalam kehidupan selanjutnya aku dapat memilih, aku tetap akan tetap memilihmu lagi.  sudah kujelaskan sebelumnya, kalau kau sudah seperti sesuatu yang membantuku untuk bernafas. kalau kau tidak ada, aku bisa saja terus hidup. tapi akan terasa tidak benar.  Aku akan selalu membutuhkanmu”

 

Kyuhyun mengerlung didalam selimutnya, pria itu berguling kesamping. Dengan mata masih memejam, tangannya beranjak mencari sesuatu yang seingatnya, sejak malam tadi masih dipeluknya, tapi entah bagaimana tiba-tiba sekarang terlepas.

Pria tinggi itu tersenyum setelah mendapati hal yang dicarinya, “Sayang, buatkan aku kopi.” Perintahnya dalam suara parau dan nyawa yang sama sekali belum terkumpul seutuhnya.

Kyuhyun merapatkan tubuhnya lalu mengecup ujung kepala disana. Perlahan, bibirnya turun menuju bibir lain.

Chu~

“Pagi” ucapnya sambil tersenyum senang. Matanya perlahan terbuka, lalu sedetik kemudian jeritnya terdengar kencang seperti wanita, “WAAAAAA!”.

Kyuhyun langsung mundur berpuluh puluh Jengkal pada sosok dihadapannya. Matanya membulat seperti baru saja melihat hantu. Sedangkan sang tersangka disana, merasa senang setengah mati mendapati keusilannya ditanggapi dengan amat sangat baik, “Pagi—Cho Kyuhyun sayang.”

Choi Siwon terbahak geli dengan amat sangat puas. pria berlesung pipi itu mengubah posisinya menjadi setengah duduk menghadap Kyuhyun dengan gaya sok sexy. “kopi mu sudah ada dimeja makan, sayang. Mau kubawakan kesini?” Siwon menggoda Kyuhyun.

“K—Kau.. kenapa bisa ada disini? D—dimana, dimana Songjin?” Kyuhyun terbata-bata menolehkan wajahnya, dan menggunakan matanya untuk menelusuri setiap jengkal kamarnya.

Gadis yang dicarinya tidak ada. Entah menghilang kemana Songjin sepagi ini. Dan membuat Kyuhyun heran mengingat bagun pagi adalah hal mustahil yang dapat dilakukan oleh istrinya. Ia pun juga kembali berfikir, untuk apa pria jelmaan kuda ini masih saja betah berada dirumahnya sampai berminggu-minggu? ingin sekali sekarang Kyuhyun mengusirnya.

“Aku? hanya bosan menonton televisi sendirian sejak tadi. lebih baik aku menemanimu tidur. Iyakan, Sayang?”

Tiba-tiba Kyuhyun tersadar satu hal, “J—jadi itu tadi, Bibirmu—tadi.. HOEEEK!!” Kyuhyun langsung merasa mual. Pria itu merasa seperti baru saja menelan pil pahit dan harus segera membuangnya cepat-cepat.

“Ya~ jangan menghina! bibirku ini tidak kalah sexy dengan bibir Songjin!” Runtuk Siwon sinis.

Pria itu mengambil sebuah bantal dan memeluknya. Berlagak ingin melakukan aegyo, tapi malah jadi terlihat sangat menyeramkan. Matanya menelusuri tubuh Kyuhyun dari atas rambut hingga ujung kaki, “jadi, sejak kapan lebih tepatnya kau terbiasa tidur tanpa busana?”

“Hah?” Kyuhyun yang nyawa serta pendengarannya masih kacau mencoba memasang telinganya lebih tajam. “apa?” tanyanya lagi. Siwon tak berminat menjawab dan hanya tersenyum menggoda sambil menunjuk Kyuhyun dengan dagu, serta mata yang menjelajah kemana-mana.

Setengah detik, Kyuhyun tersadar dengan keadaannya yang polos tanpa sehelai benang pun. pria itu segera menarik selimut dan membungkus tubuhnya cepat-cepat. Wajahnya memerah bagai tomat. “apa Songjin juga selalu melakukan hal yang sama, huh?” tiba-tiba saja Kyuhyun menjadi lebih malu lagi. ia merasa seperti baru disiram dengan air es.

Kyuhyun segera beranjak turun dengan selimut yang menggelebat ditubuhnya. Walau terlihat kesulitan, Kyuhyun seperti tak memiliki wajah lagi untuk terus berada didepan Choi Siwon saat ini. pria itu berlari kecil menuju pintu kamar mandi saat Siwon meneriakinya, “KAU BENAR-BENAR SEXY SAYANGGGG!”

__ __ __

“Apa rencanamu hari ini?” tanya Siwon dengan mulut penuh roti bakar.

Kyuhyun menggerakan bahunya sambil mencebikan bibirnya, “Molla~” Jawabnya asal dan malas. Pria itu seperti tidak lagi memiliki keinginan lain selain berada dirumah dan bersantai sampai mati.

“Songjin kemana?” tanya Kyuhyun, setelah memasukan kunyahan roti bakarnya kealam perut dengan menyodokan jus jeruknya.

Seketika Siwon terkekeh geli, “kenapa? Kau tidak suka sarapan denganku? nikmati saja, kenapa sih?”

“Cih!” Kyuhyun mendesis sinis. Seakan jijik dengan kalimat yang  baru saja didengarnya. Tiba-tiba saja bibirnya terasa kelu. Teringat lagi bagaimana beberapa jam yang lalu ia baru saja menyentuhkan bibir miliknya pada bibir tebal Choi Siwon. Hoooek!

Mata Siwon bergeriliya memandangi seluruh ruangan yang tampak rapih, Pria itu lalu mendecah kagum, “dia mendapatkannya lagi.” ucapnya santai.

“mendapatkan apa?”

“itu—mawar putih itu. aku meletakannya disana.” Siwon menunjuk sebuah vas diatas mesin pencuci piring otomatis. Kyuhyun menggeram setelah melihatnya. Lagi! Astaga! Pria pendek itu sepertinya sudah bosan hidup.

“benar-benar romantis. Aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Lee Donghae-ssi, daebak!” komentar Siwon yang malah semakin membuat Kyuhyun merasa bagai tersulut. “Hei, kau baik-baik saja? wajahmu seperti baru direbus.” Goda Siwon.

Nyatanya, Siwon mengerti mengapa Kyuhyun tiba-tiba saja menjadi begitu kesal. Hanya saja, menggoda Kyuhyun terasa semakin menyenangkan baginya saat ini. tak disangka menggoda Cho Kyuhyun bisa menjadi begini mudah. kenapa tidak sejak dulu saja?

Siwon menggelengkan kepalanya, “hati-hati dengan rasa cemburu berlebihmu itu. sebentar lagi Songjin akan pergi ke Itali. Apa selama dia pergi, kau akan terus-terusan memasang wajah seperti itu? Jelek sekali”

Kyuhyun mengeryit, “wajah seperti itu seperti apa?” tuntutnya. Volume suaranya meningkat dua kali lipat.

Siwon tidak menjawab dan hanya tersenyum geli, “Cho Kyuhyun. kau benar-benar mengherankan. Kenapa tidak diselesaikan saja secara jantan. Kau pria bukan?”

“maksudmu?”

“Datangi saja Lee Donghae-ssi. Katakan pada pria itu untuk memberi Jarak antara dirinya dengan Songjin. Apa repotnya?”

“Kau bicara mudah saja. kau tidak tahu kan, kalau gadis itu mengaku sebagai adikku didepan Donghae-ssi?”

“Apa?”

Kyuhyun mencebik dan memasukan potongan terakhir roti bakar kedalam mulutnya bulat-bulat. “Gadis itu benar-benar pintar ya?” ucap Kyuhyun menggosok dua telapak tangannya untuk membuang remah roti yang menempel dan menenggak Jus jeruknya. “tapi kau benar. aku harus bertemu dengan pria itu. sekarang.”

“wow. Cho Kyuhyun—“

__ __ __

 “maaf, saat aku menawarimu beasiswa itu, aku memang tahu dengan statusmu sebagai mahasiswi yang telah menikah. Tapi aku pikir kau juga tahu bahwa peraturan mendapatkan beasiswa sangatlah ketat. Dan aku tidak bisa meloloskan gadis yang sedang mengandung untuk tetap ikut pada program beasiswa ini sebanyak apapun aku menginginkan kau untuk ikut dalam programku. Kau salah satu mahasiswa terbaikku, tapi aku tetap tidak bisa menjadikan hal itu sebagai alasanku. Rasanya tidak adil. Jadi, Maaf Park Songjin, Beasiswamu harus aku cabut. Kau  bisa mencobanya lain kali, mungkin. Jika kau cukup beruntung untuk dapat kesempatan kedua. Maaf. Sekali lagi Maaf.”

Kalimat Lee Seosaengnim tadi terus menerus berputar didalam kepala Songjin. Pagi-pagi tadi pihak universitas menghubunginya untuk segera datang. Siapa sangka jika kedatangannya kali ini untuk membahas pemutusan program beasiswa yang didapatnya?

University of Florance melayang begitu saja.

Gadis berkulit putih itu langsung terduduk pada sebuah bangku taman depan air mancur raksasa. Dua bulir air matanya tiba-tiba saja menetes. Apalagi sekarang? satu masalah teratasi, lalu masalah lain datang?

Ada apa dengan hidupnya? Seperti Tuhan tidak pernah ingin membiarkannya sejenak bersantai saja atau apa?

Songjin menarik nafasnya dalam-dalam dan memejamkan matanya. Deringan ponsel menyadarkannya. Decakan malas terlontar begitu saja saat nama tak asing—penyebab semuanya terjadi saat ini, muncul.

Songjin segera menyentuh kotak berwarna merah bertuliskan reject dan cepat-cepat memasukan ponsel tipis itu kedalam tasnya. Gadis itu lalu mengambil sebuah kertas hasil test kesehatannya yang beberapa hari yang lalu dilakukannya.

Bibirnya lagi-lagi mendecah tak karuan. ia kesal, tapi entah mengapa terasa sangat kejam jika ia kesal dengan hal yang seharusnya menjadi sesuatu yang ia syukuri, mengingat  jutaan wanita diluar sana, sangat menginginkan posisinya saat ini.

Tapi dengan begitu, satu-satunya kesempatan untuk dapat bersekolah lagi secara ‘benar’ melayang. Ini bukan masalah uang yang akan dikeluarkan jika ia melakukan pendidikan itu secara independen. Tapi rasa bangga saat mendapatkan hal yang tidak semua orang lain dapatkan itu, rasanya baru kali ini ia rasakan seumur hidup.

“Idiot!” Songjin berkata murka pada dirinya sendiri. namun tak lama, tangannya turun pada perutnya sendiri dan mengusapnya pelan. “apa didalam sini ada sesuatu sekarang? Jinjja! Jadi aku harus bagaimana?” Desah Songjin putus asa.

Ia tak ingin menjadi calon ibu yang jahat dengan menyalahkan janin didalam perutnya, tapi ia juga merasa jengah— kesempatan sekali seumur hidupnya melayang bagai uap.

“Jinjja! Cho Kyuhyun! kau benar-benar keterlaluan!” Songjin mengutuk pria tinggi berkulit putih susu itu sekali lagi. Yaah—dipikirannya saat ini, hanya pria itulah satu-satunya tersangka utama sekarang.

 

“Aku pulang.”

Ucap Songjin lesu. Berjalan sebentar, mengganti sepatu dengan sandal rumah yang tersedia. perlahan tapi pasti Songjin segera masuk kedalam. “Oh—kau sudah pulang?” Kyuhyun yang sedang  bermain PSP hanya menoleh sesaat dan kembali menggeluti permainannya.

“bagaimana hasilnya?” Siwon bertanya. Songjin menghentikan langkah lesunya dan berbalik, “hasil apa?” tanya gadis itu cepat.

Tubuhnya terasa lemas sekarang. satu-satunya hal yang diinginkannya hanyalah membaringkan tubuh diatas ranjang dan tertidur sampai puas. “Beasiswamu tentu saja.” balas Siwon lebih cepat sambil tersenyum lebar.

“Oh—itu.” tiba-tiba saja Songjin merasa sesuatu menyesakan dadanya, “aku tidak pergi.” Jawab Songjin malas.

Kening Siwon mengerut, “Loh. Kenapa?”

Songjin menggidikan bahunya santai, “aku gagal.” jawabnya ringan dan tersenyum simpul yang jelas sekali begitu dipaksakannya. Songjin lalu kembali meneruskan langkahnya menuju kamar. Meninggalkan Siwon dan Kyuhyun dalam diam dengan penuh tanda tanya.

“gagal? tadi dia bilang gagal kan?” Kyuhyun bicara, setelah gadis itu masuk kedalam kamar sepenuhnya.

“kemarin sepertinya semuanya baik-baik saja. ada apa lagi memangnya?” kini giliran Siwon yang bertanya. Kyuhyun menggidikan bahunya asal, “Molla~” pria tinggi itu hanya menggeleng dan kembali dengan PSP nya.

 

Cho Kyuhyun’s side

Aku kembali masuk kedalam kamar dan setengah terkejut melihat Songjin masih tergeletak tak berdaya diatas ranjang. Gadis itu sudah seperti beruang kekenyangan. Dua matanya terpejam seakan ia sedang tertidur. Tapi aku tahu dia tidak sedang tidur.

“Yaa! Songjin! Apa-apaan kau? aku bilang kan siapkan pakaian! sebentar lagi kita akan pergi. kau mau ikut tidak sih?” gerutuku kesal.

Sejak kemarin aku sudah memberitahukannya bahwa kami akan ke China. Operasi Gyuwon akan berlangsung besok dan Siwon Hyung sudah terbang sejak kemarin pagi. Aku sengaja membiarkannya pergi lebih dulu, agar pria tolol itu dapat menyelesaikan apa yang harus diselesaikannya dengan wanita itu.

Dan sekarang lihat ini, Istriku yang malas masih menikmati empuknya ranjang seperti aku tidak pernah biacara bahwa kami akan pergi dua jam lagi, “Songjin! Kenapa kau jadi malas sekali sih?” gerutuku lagi.

Aku berjalan mendekat dan berdiri pada sisi ranjang, “Ya~!” panggilku.

Tiba-tiba saja Songjin memutar tubuhnya kearah lain dan memunggungiku. Aku kembali berjalan memutar pada sisi lainnya, dan gadis itu kembali memunggungiku.

Aigoo~ “Park Songjin!” bentakku kesal. Dengan segera naik keatas ranjang dan mengunci gadis itu didalam tubuhku. Kalau sudah seperti ini, paling tidak ia tidak lagi bisa mengerlung kekanan atau kiri, atau bahkan kemanapun lagi. “kau ini kenapa sih? Kau seperti mayat hidup sejak kemarin. Kenapa?”

Songjin mendecah sinis, lalu menutup wajahnya dengan bantal. Pintar sekali caranya untuk menghindariku sekarang. “Yaa!” aku menarik bantal itu kemudian dan membuangnya asal. Tiba-tiba aku merasa sedikit terkejut dengan air mata yang membasahi wajahnya.

Aku mendesah pelan, sepertinya aku mengerti kenapa sejak kemarin ia bersikap begitu dingin. aku berguling kesamping dan membuang nafas panjangku lagi. “aku tahu kau kecewa. Tidak ada kegagalan yang terasa manis. Tapi demi tuhan, Songjin! Apa kau harus seperti ini? maksudku—kau seperti. Haah—kau tahu, untuk merasakan keberhasilan, kau harus merasakan bagaimana rasanya gagal. kenapa baru satu kali kau merasakannya kau sudah menyerah seperti ini?”

“aku tidak menyerah!” Songjin memotong setengah membentak. Gadis itu sudah berbalik menghadapku, “aku tidak pernah menyerah. Hanya saja, aku bosan dengan kegagalan. Kenapa harus selalu aku?”

“Hei! Itu hanya permainan keberuntungan saja! kau bisa—“

“lalu, apa kau akan berkata kalau aku sedang tidak beruntung begitu? Oh—lalu bisa kau jelaskan kenapa aku selalu tidak pernah beruntung selama ini?”

Aku mengerutkan keningku, Tidak beruntung? Selalu tidak pernah beruntung apa maksudnya? Apa gadis ini gila? Atau otaknya benar-benar sudah hilang? Apa dia tidak mengerti apapun selama ini? kali ini demi tuhan aku bersyukur ia gagal dalam mendapatkan beasiswa itu!

“kau bilang tidak beruntung? Bisa hidup, makan, secara teratur, mendapatkan pendidikan yang baik tanpa kurang satu apapun. tinggal ditempat diluar kata layak, mendapatkan hiburan menyenangkan, kapanpun dimanapun kau mau. fasilitas hidup yang selalu berlebih. uang tak pernah berkurang sedikitpun dari dompetmu, apa itu masih kau bilang tidak beruntung?” tanyaku panjang. Nafasku hampir habis karena mengatakan semua ini dengan seluruh persediaan oksigenku.

Aku menggeleng tidak habis pikir, “kau benar-benar tidak tahu apa makna dari beruntung rupanya. Apa kau tidak pernah mencoba untuk setidaknya bersyukur dengan apa yang kau miliki saat ini? menghargai apa yang kau miliki dan dapati tanpa mengeluh?Jinjja Park Songjin. Jangan katakan ini didepan kedua orang tuamu atau mereka akan menyesal pernah memiliki anak sepertimu!” dengusku kesal dan bangkit dari ranjang.

“lebih baik kau mandi saja. biar aku yang menyiapkan semuanya.” perintahku kemudian. Memberikan penekanan agar gadis didepanku segera melaksanakannya. Songjin melenguh malas. Mengusap air matanya dan segera beranjak pergi dari hadapanku.

“jinjja. Apa hal konyol seperti itu patut untuk ditangisi?” ucapku lagi. berharap agar gadis itu kembali mencerna setidaknya sedikit dari kalimatku tadi .

__ __ __

Entah bagaimana rasa kecewa Songjin saat ini. aku tidak pernah tahu, tapi aku juga tidak berfikir bahwa hal ini patut untuk dijadikan hal konyol sebagai alasan keributan kami. Sejak sebelum berangkat, sampai pesawat hampir tiba di China sekarang, Songjin masih saja diam mengatupkan mulutnya.

Sejak tadi pandangannya hanya tertuju pada gumpalan awan yang melintas didepan wajahnya melalui kaca jendela pesawat. Ia benar-benar mendiamkanku, dan sama sekali tidak berminat untuk sedikitpun berbicara sepatah katapun padaku.

Benar-benar mengelikan.

“hey—“ panggilku menyenggol lengannya. Dengan malas Songjin menoleh. Wajahnya benar-benar datar. “memangnya kenapa kau ingin sekali mendapatkan beasiswa itu? paling kau hanya ingin berjalan-jalan saja. di Itali banyak toko tas branded kan?” sindirku.

Songjin hanya diam tak langsung menanggapi sindiranku. Gadis itu hanya memandangiku datar dan lalu menghela nafasnya.

“kalau sekiranya berbicara hanya akan membuat orang lain sakit hati, kenapa kau harus bicara?”

“Apa?” aku terkejut. Apa yang baru dikatakannya? Ya! aku ini hanya bercanda! aku bosan karena ia mendiamkanku sejak sangat lama. memangnya aku ini apa? Pajangan atau apa?

“Tsk, sudahlah.” Songjin berbalik kembali memandangi awan.

Gadis itu benar-benar membuatku merasa tidak enak hati. lagipula, maksudku tadi hanya ingin menghiburnya. Mana kutahu kalau ternyata kalimat macam itu yang keluar dari mulutku?

“Ya~ Aku kan hanya bercanda.”

“tidak lucu.”

“Oke, Oke. maaf.” Ucapku lagi. sama sekali tidak mendapat respon yang baik dari Songjin. Gadis itu malah mendengus dan melepas sabuk pengamannya. “kemana?” tanyaku bingung.

“lompat dari pintu darurat.” Jawabnya datar. Aku mengerjap berkali-kali, “toilet tentu saja. berisik sekali sih kau ini?” Songjin mendengus, lalu pergi meninggalkanku.

Sampai gadis itu pergi aku hanya dapat diam tak melakukan sesuatu yang penting. Tiba-tiba sesuatu melintas dari dalam kepalaku. Dan cara ini, biasanya selalu berhasil membuat kami selalu berbaikan setelah berdebat sehebat apapun.

Tanganku mulai merogoh tas milik Songjin. Mencari ponsel miliknya. Mengaduk-aduk isi tas yang selalu ia sebut sebagai tas limited edition. Yaah—apalah itu namanya, aku tidak perduli.

Selama beberapa saat, bukan ponsel yang kudapati. Tanganku malah meraih udara hampa. Kubuka lagi tas milik Songjin lebar-lebar dan terkejut melihat betapa berantakan isi dalam tas mahal itu. Jinjja—dasar Jorok!

Beberapa saat kemudian, aku tak mendapatkan ponsel Songjin, malah tertarik dengan lembaran-lembaran kertas disana. Aku mengambil salah satu kertas didalam sana dan membukanya.

Cap Kyunghee University menyapa mataku untuk pertama kalinya. Aku tahu karena akupun alumni universitas itu. aku kembali melebarkan kertas ditanganku. Sepersekian detik, rahangku terjatuh tanpa komando.

“Po—positive? Meng—mengandung?”

 

Author’s side

Kyuhyun terduduk mematung tanpa dapat melakukan apapun. tangannya bahkan kini gemetar tak menentu. Matanya terus membaca kata demi kata yang tertulis diatas kertas putih tersebut.

Lembar pernyataan tentang hasil test kesehatan Songjin, yang menyatakan bahwa Park Songjin sedang dalam masa mengandung dengan waktu tanggungan kurang lebih 3 Minggu.

Kyuhyun mendesah panjang. Disibakannya lembar kedua tentang pernyataan pemutusan beasiswa yang seharusnya diterima Songjin. Gadis itu gagal mendapatkan beasiswanya karena mengandung.

Mengandung.

Kyuhyun Menyandarkan siku pada tangan kursi dan merapatkan mulutnya yang terbuka— menyamari dengan mengatupkan jemarinya.  Seluruh isi kepala Kyuhyun sedang berlari kesana kemari. Kacau.

Pantas saja Songjin terlihat begitu kesal. Kesal padanya. Jadi inilah alasan utama mengapa sampai saat ini, Songjin benar-benar selalu menanggapinya dengan dingin.

Songjin hamil. Entah gadis itu kesal atau kecewa, satu-satunya yang jelas adalah Kyuhyun menjadi salah satu penyebab.

Oh—bukan salah satu. Tapi memang nyatanya, pria itulah penyebab gagalnya Songjin kemarin.

Perasaan Kyuhyun bagai sedang diaduk tak menentu. Pria tinggi itu tidak dapat menyembunyikan senyumannya. Rasanya seperti baru saja memenangkan lotre berhadiah triliyunan won.

Tapi disisi lain, ia pun merasa menyesal dan bersalah pada Songjin. Ia sendiri pun ikut menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu bersemangat selalu ingin menyerang Songjin. Seperti udara yang sudah terlalu lama terkepung lalu kini tiba-tiba saja terdapat sebuah celah bagi keluarnya udara-udara tersebut. hingga mereka semua menyembur keluar tanpa henti.

Isi kepala Kyuhyun pun sekarang sedang tidak cukup cerdas untuk berfikir, setidaknya hal tersebut tidak dilakukan hanya dengan satu pihak saja hingga ia tidak perlu merasa begitu bersalah.

Matanya langsung mengerjab panic saat melihat dari kejauhan Songjin berjalan kembali menujunya. Dengan cepat Kyuhyun menyusupkan kertas ditangannya kembali kedalam tas milik Songjin.

Hingga sampai Songjin kembali, Kyuhyun hanya dapat memandangi gadis tersebut dengan perasaan tak menentu. Hatinya mencelos saat mendapati kembali ujung mata Songjin yang basah. Gadis itu baru saja menangis? lagi?

Astaga! apa masalah ini benar-benar serius baginya sekarang?

__ __ __

Tidak sampai empat puluh lima menit Songjin dan Kyuhyun tiba disebuah Hotel yang telah Kyuhyun pesan sebelumnya. Kyuhyun berterimakasih serta tak lupa memberikan tip bagi Roomboy yang membantunya membawakan beberapa kopor.

“aku lapar. Aku benar-benar lapar. Aku bisa mati kalau sekarang tidak makan. Jinjja! Kau lapar tidak? Mau turun ke Restoran untuk makan? atau memesan makanan kekamar?” Tanya Kyuhyun sambil melepas jaket dan menggantungnya pada sebuah gantungan kosong disana. Songjin hanya menggeleng dan kemudian berbaring di Ranjang. Gadis itu seperti bersiap untuk tidur, padahal waktu masih menunjukan pukul lima sore.

“aku lelah. Aku mau tidur saja sebentar.”

Kyuhyun mencelos. Sesaat pria itu merasa bagai dilempar batu pada wajahnya. Kyuhyun lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Rasa bersalah itu kembali muncul. Pria itu menghampiri Songjin dan duduk dipinggir ranjang dan merapihkan anak rambut songjin lembut.

Banyak sekali hal yang ingin Kyuhyun katakan, tapi toh bibirnya selalu kelu dan pada akhirnya ia hanya dapat membuka tutup mulutnya tanpa arti. Kyuhyun kembali mendesah dan mengecup kening songjin kilat.

Pria itu lalu melangkahi Songjin dan berbaring disampingnya. “katamu kau lapar? Kau tidak mau makan?” Tanya Songjin tidak mengerti dengan alis bertautan. Tadi Kyuhyun sendiri yang berkata sangat lapar sampai mati dengan gaya berlebihannya seperti biasa.

Kyuhyun tersenyum simpul lalu menggeleng, “sebenarnya aku lebih merasa mengantuk dari pada lapar. Aku makan nanti saja. aku mau tidur dulu sebentar.” Jelas pria itu lalu menarik selimutnya.

“tapi tadi kau bilang kau—“

“Yaah—bisa diam tidak?” protes Kyuhyun dengan mata terpejam, bertingkah seperti tertidur.

Nyatanya, Kyuhyun benar-benar merasa tidak enak hati pada Songjin saat ini, hingga ia dapat langsung mengalah begitu saja pada Songjin. Rasa ingin berdebatnya, entah menguap kemana. Satu-satunya yang ia pikirkan saat ini adalah membuat songjin nyaman.

“Kyu~” Songjin masih saja merajuk. Gadis itu menepuki pipi Kyuhyun hingga Kyuhyun lebih memilih untuk memunggungi Songjin. Paling tidak dalam posisi seperti ini, pria ini tidak perlu berakting pura-pura terlelap.

 

————————–oOo————————

 

Fuda International Hospitals, China.

07:13 PM

 

Choi Siwon berdiri didepan sebuah pintu rawat inap besar dengan nomor 2035 tertera ditengah-tengah pintu. Matanya sejak tadi hanya memandangi kenop pintu. Ingin membuka, tapi sejak setengah jam yang lalu tidak pernah terjadi, hingga pria atletis itu hanya menggantungkan tangannya diudara saja.

Siwon menghembuskan nafas berat. Semuanya memang sudah jelas, tapi masih seperti ada yang mengganjal. Ia tahu pasti Kyuhyun telah bercerita banyak hal hingga mungkin nanti, ia tidak perlu lagi untuk menjelaskan apapun.

Tapi tetap saja. perasaannya masih campur aduk tak menentu. Ini bukan perkara mudah. ia sudah melakukan banyak hal jahat kepada gadis itu seperti berusaha mendorongnya menjauh hanya agar Kyuhyun dapat lebih leluasa bersama dengan gadis didalam ruangan itu.

Tapi bertingkah seperti orang bodoh dengan berpura-pura tidak tahu apa-apa pun rasanya menyebalkan sekali.  Choi Siwon mendesah untuk kesekian kalinya. Ini benar-benar berat. Hal kedua terberat setelah ia harus merasakan pertengkaran tanpa akhir dengan Kyuhyun.

Saat seluruh tekad pria tampan itu telah bulat, dan nyalinya telah terkumpul—saat tangan panjangnya telah disiapkan untuk menarik kenop, pintu sudah lebih dulu terbuka. Dua orang dokter bermata sipit keluar sambil berbincang serius. seorang suster mengikuti dibelakangnya.

Dua dokter tersebut terkejut dengan Siwon yang berdiri didepan pintu, yang dikira menghadang langkah mereka. “Sir,” seorang dokter berkacamata menyapa. Siwon merunduk 90o memberikan hormatnya.

Dua dokter tadi hanya tersenyum lebar setelahnya dan menepuk bahu Siwon kemudian berlalu. Siwon berjalan masuk perlahan. Ia meletakkan tas ranselnya disebuah sofa pada ruangan lain didalam kamar rawat inap VVIP tersebut.

Kamar itu terlalu besar, hingga terkesan hampa dan menjadi lengang. Suara derap langkah kaki Siwon menyadarkan dua orang yang sedang berbicara serius disana. Siwon sedikit mencelos melihat Lee Donghae berada disana.

“Oh—hai.” Sapa Lee Donghae saat mata mereka bertemu. pria itu sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran seorang Choi Siwon disana. Siwon melambai asal dan tersenyum lebar. “untung sekali kau datang. Aku jadi bisa ke kantin bawah sebentar untuk membeli kopi. Kau mau?” tawar Donghae ramah.

“Tidak—terimakasih. Aku sedang mengurangi konsumsi kafein.”

Lee Dongahe tertawa renyah mendengarnya. Dua tangannya disembunyikan kedalam saku jaket tebalnya dan seperti sedang malas untuk berbicara lagi, pria itu mengangguk setelah mengiyakan dan pergi. berkata akan kembali secepatnya.

Pandangan Siwon kini berpindah pada seorang gadis dihadapannya. Wajah Gyuwon terlihat sangat pucat. Tidak ada semburat kemerahan seperti biasanya lagi pada dua pipinya. Dan entah sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan Gyuwon, pria itu baru sadar tentang bobot Gyuwon yang berkurang cukup drastic karena tulang pipi gadis tersebut semakin menirus.

Gyuwon tersenyum lebar pada Siwon yang sedang memandanginya dengan iba. Seperti tak ingin mendapatkan pandangan rendah seperti itu. “kau datang?” tanya Gyuwon tak sedikitpun berusaha menutupi keterkejutannya.

“tentu saja. kenapa terdengar kau seperti tidak menginginkanku datang?” canda Siwon kemudian. Membuat Gyuwon terkekeh pelan, “bukan begitu, tapi Kyuhyun bilang kau sibuk. Jadi mungkin kau tak datang.”

“Kyuhyun bicara seperti itu?”

“mm.”

“apalagi yang bocah itu katakan?” siwon bertanya curig. “tidak banyak. Hanya hal yang tidak begitu penting. Kapan kau datang?” Gyuwon membelokan pembicaraan setelah dirasa percakapan mulai mendingin.

“baru saja.” kilah Siwon berbohong. pria itu sudah datang lebih dari dua jam yang lalu tapi sama sekali tidak memiliki keberanian untuk bertemu dengan Gyuwon hingga seperti hantu, Siwon bergentayangan disekitar rumah sakit terlebih dahulu.

“baguslah kau datang. Setidaknya kita sempat bertemu sebelum oerasi itu terjadi. jadi kalau terjadi hal yang tidak—“

“tidak akan terjadi apa-apa. Kau akan sembuh. Aku sudah memastikannya. Ini adalah rumah sakit terbaik di Asia dalam penanganan cangkok organ dalam. Dokter-dokter disini pun sudah sangat berpengalaman. kau tak perlu panic.”

Siwon dengan cepat memotiong perkataan Gyuwon. Ia sama sekali tidak ingin mendengar hal konyol yang dapat membuat hatinya terasa bagai digerus.

Gyuwon tersenyum lemah, “bukan seperti itu. aku sangat yakin dengan pilihanmu bahwa tempat ini adalah tempat terbaik, dengan orang-orang terbaik didalamnya. Tapi sekarang, kita sedang berbicara tentang kesempatan. Kau tahu tubuhku sudah tidak seperti dulu lagi. semakin kesehatanku menurun, total kesempatan itu pun semakin rendah. Aku tidak mau mengelaknya. Semua orang sudah mengatakannya padaku dan aku sendiripun sadar dengan hal itu. dokter-dokter yang memeriksaku berkata seperti itu. Dan donghae-ssi, yang semula memiliki nilai tinggi akan keberhasilanku, dengan melihat kondisiku sekarang dia ikut menurunkan total nilai kesempatan itu.” Jelas Gyuwon santai.

Gadis berusia dua puluh enam tahun itu sama sekali tidak menunjukan adanya rasa takut, sedih ataupun kecewa. Semua kata-kata yang keluar dari mulutnya, meluncur begitu saja membuat Siwon mencelos keheranan.

Pria berlesung pipi itu menggeleng dan tersenyum, “Tidak. mereka hanya bicara. Mereka bicara karena mereka memiliki hak. Sedangkan satu-satunya yang bisa menilai hanyalah tuhan. kau pasti sembuh, Gyuwon. Tenang saja.”

“Woah! Apa sekarang kau adalah kaki tangan tuhan? hingga tahu apa-apa yang akan terjadi dimasa depan?” canda Gyuwon tertawa geli. Siwon kembali tersenyum masam, “bukan. hanya saja, aku merasa seperti mendengar ada suara yang mengatakan itu padaku.”

“Jinjja? Kau sudah seperti cenayang kalau begitu! lalu, apa lagi yang suara itu katakan?”

“kau—“

Gyuwon menunjuk dirinya sendiri heran, “aku? kenapa?”

“katanya kau akan sembuh, lalu setelah kau sembuh, kau harus melakukan sesuatu yang sangat penting.”

“sesuatu yang sangat penting? Sesuatu seperti apa?”

“seperti menikah denganku—“

__ __ __

Siwon menyodorkan sebuah kotak persegi berwarna biru gelap tepat didepan wajah Gyuwon. Gadis yang tiba-tiba saja seperti merasa tertimpa bongkahan batu itu terpaku memandangi cincin berbatu shappire mengkilat—terlihat sangat cantik.

“menikahlah denganku.” pinta Siwon memohon. Jantung pria itu bagai sedang dipompa habis-habisan. Gugup dan senang terasa menjadi satu. Sedangkan Gyuwon masih terdiam ditempatnya mematung.

Memangkas waktu, Siwon mengambil cincin tersebut dan mmenarik tangan kanan Gyuwon. Mengambil jari manis gadis itu untuk memasangkan cicin tersebut, namun tiba-tiba saja Gyuwon menarik tangannya perlahan.

“Ngg… kurasa—tidak. ini.. terlalu.. maksudku—“ Gyuwon terbata. Mati-matian ia mencoba merangkai sebuah kalimat tapi selalu gagal dan gagal.

Alis Siwon bertautan hingga menghasilkan kerutan pada kening berlapis-lapis. Pria itu memiringkan kepalanya sedikit dan memperhatikan Gyuwon dengan pandangan tidak mengerti. “kenapa?” tanyanya bingung. “kau bilang kau mencintaiku.” Tambah Siwon dengan nada parau.

Sebersit kesedihan mulai menggerayangi dirinya saat Gyuwon menggeleng berkali-kali dengan wajah mengencang, “aku tidak bisa.”

“sebaiknya kau memiliki alasan yang bagus. Karena aku tidak suka mendapatkan penolakan.” Siwon bicara setengah mengancam. Dua matanya menatap Gyuwon tajam, hingga Gyuwon yang tadinya akan memandangnya kembali, cepat-cepat mengalihkan pandangannya pada hal lain.

Apapun itu, asal tidak bertemu dengan mata dingin itu.

“kau tidak bisa mengharapkan Kyuhyun. kau tahu dia sudah bersama dengan Songjin.”

Gyuwon tersenyum sinis, “tentu saja aku tahu itu! dan aku tidak pernah mengharapkan apapun dari Kyuhyun kecuali pria itu mengatakan bagaimana dia menyukai Songjin sejak lama. bukan aku. ini bukan tentang aku.”

“lalu?”

Gyuwon menelan ludahnya dan berfikir beberapa saat untuk kata-kata yang akan dikeluarkannya. Pikirannya tiba-tiba saja menjadi kalut, padahal hampir selama tujuh tahun terakhir, hal inilah yang selalu diinginkannya.

“entahlah. Aku hanya tidak ingin. maksudku—aku berterimakasih karena kau telah banyak menolongku. Memberikanku pekerjaan, tempat tinggal, menemaniku kapanpun, membantu menyelesaikan kasus permasalahan perusahaanku, hingga saat ini, memberikanku kesempatan untuk mencoba kembali hidup. aku tidak tahu hal apa lagi yang luput dari rasa terimakasihku padamu dan keluarga besarmu. Dengan banyak hal itu, aku merasa sudah sangat cukup dan tidak merasa perlu untuk melakukan hal yang kau katakan tadi.”

Siwon tersenyum sinis dan membuang wajahnya agar setidaknya, tawa merendahkan itu tidak tampak terlalu terlihat. Tapi pada kenyataannya, hal itu terlalu jelas terlihat. Bercampur dengan rasa kecewa yang semakin membesar.

“kalau kau belum tahu, biar kuperjelas, aku tidak melakukan semua ini karena aku merasa kasihan padamu. aku bukan orang yang mudah berbelas kasih dengan orang lain.”

“Iya. aku mengerti. Terimakasih kalau begitu.”

“kau mengerti? Bagian mana yang kau bilang kau mengerti? Jelaskan.” tantang Siwon cepat. Melipat dua tangannya menunggu penjelasan Gyuwon seksama.

Gyuwon menggelengkan kepala merasa Jengah, ia lalu menunjuk segala apa yang ada dihadapannya saat ini, “contoh sepele, pembiayaan semua ini yang tidak murah.”

“Ohya? Kau tahu ini tidak murah. Kalau begitu bukankah kau merasa memiliki rasa tak enak hati dan berniat untuk melakukan sesuatu untuk menebusnya?” Siwon kembali menantang. Satu alis pria itu terangkat naik.

“Ya! tentu saja. setelah urusan perusahaanku selesai, aku akan membayar semua yang telah kau keluarkan untukku. Tenang saja. lagipula semuanya sudah hampir beres. Pengacaraku sudah mengatakannya kepadaku.”

“apa kau pikir itu tidak terlalu lama? kalau kau berniat untuk mengganti semua hal yang telah kulakukan padamu, apa menurutmu tidaklah sopan kalau kau lagi-lagi harus mengulur waktu dengan kembali merepotkanku?”

“jadi selama ini kau merasa direpotkan?” Gyuwon mendelik tak percaya, sedangkan Siwon mengangguk berkali dengan mantap, “tentu saja! aku merasa sangat kau repotkan. Harus membiarkan kau mengurus pekerjaanku yang kadang masih terbengkalai karena kau sering keluar masuk rumah sakit, memberikan sebagian rumahku karena kau tidak memiliki tempat tinggal, mengeluarkan uangku untuk membelikanmu makanan, memastikan kau sampai dan pulang tepat pada waktunya dengan menjadikan diriku sendiri supir pribadimu, mengeluarkan uangku lagi untuk biaya rumah sakitmu. Yang tidak murah!” Siwon bicara panjang dengan penekanan pada kalimat akhir seakan hal tersebut sangat mengganggunya selama ini.

Gyuwon tertunduk lemah. Helaan nafasnya semakin terasa berat dengan seluruh hal nyata tentang apa-apa saja yang baru Siwon katakan. baru kali ini ia merasa sama sekali tak berguna dan hidup sebagai parasit.

“katakan kapan kau akan membayar semua kerugianku itu?!” belum selesai Gyuwon berfikir, Siwon kembali menuntut.

“Itu—pengacaraku—“

“persetan dengan pengacaramu! Kalau kau memang merasa bersalah dan ingin membayarnya, lakukan sekarang juga. aku tidak suka menunggu yang tidak pasti.”

Wajah Gyuwon memanas. Dua bulir air mata jatuh begitu saja. Lee Gyuwon yang tidak pernah menangis bahkan saat kedua orang tuanya meninggal pun dapat mengeluarkan air mata hanya dengan deretan kalimat menusuk Siwon.

Siwon mencelos. Hatinya merasa kelu. Bukan hanya Gyuwon bahkan ia sendiripun ingin menangis. tapi apa mereka akan menangis masal didalam ruang rawat inap itu? bukankah terlihat menggelikan? “aku pasti akan—“

“akan itu kapan?”

“itu—“ suara Gyuwon tertahan. sejujurnya lagi, gadis itu bahkan tidak tahu harus mengatakan apa. Persoalan masalah perusahaan miliknya yang digelapkan oleh orang kepercayaan ayahya masih baru akan selesai beberapa waktu lagi. tapi tetap saja, ia masih belum dapat memastikan kapan hal itu akan terjadi.

Setidaknya, tidak dalam waktu dekat. Itu hal yang dapat dipastikan.

Siwon memenjamkan matanya. Menarik kembali emosinya—menenangkan dirinya. Lagipula, hatinya tak pernah nyaman melihat Gyuwon menangis. lebih tak nyaman karenanya lah Gyuwon menangis.

Pria itu menegapkan tubuhnya berencana untuk pergi cepat-cepat dan menghempaskan amarahnya ditempat lain. “begini saja, Lee Gyuwon. Aku sedang tidak berminat untuk melakukan perdebatan. Aku juga tidak akan menurunkan harga diriku untuk mengemis padamu, walau hal itu pernah melintas sepersekian detik dikepalaku kalau saja kau akan menolakku. Aku akan melepaskan seluruh hutangmu, jika kau menikah denganku se-simple itu. tapi jika tidak, kembalikan semua yang kau rasa perlu untuk kau kembalikan padaku sekarang.”

Jelas Siwon tenang lengkap dengan wajah angkuh yang dipasang dengan terpaksa. “tapi tolong, jika kau berencana untuk mengembalikan semua yang sudah kau ambil dariku. Tolong kembalikan juga hatiku secara utuh tanpa ada cacat. Aku memberikannya padamu dalam keadaan baik. Jadi aku tidak akan menerimanya dalam keadaan rusak.”

Siwon meletakkan kotak ditangannya pada nakas dihadapanya, menatap Gyuwon seksama selama beberapa detik, “kau tahu, aku tidak pernah main-main dengan perkataanku. Saat kubilang aku tidak menyukai penolakan, aku akan berusaha membuat penolakan itu menjadi sebuah penerimaan. Jadi sebenarnya, kau tidak memiliki jalan keluar lain selain menikah denganku. Akan kupastikan, kau pasti bersamaku. Entah bagaimana caranya. Seperti kau yang dulu selalu memastikan dapat berada dalam jangkauanku. Hingga kau memutuskan untuk beralibi, bersama dengan Kyuhyun—Kau tidak bisa membuangku begitu saja, Lee Gyuwon. Aku tidak semudah itu untuk ditinggalkan.”

__ __ __

 

Kyuhyun dan Songjin berjalan beriringan menuju Fuda Hospitals bersama. Jarak yang tak terlalu jauh membuat keduanya memutuskan untuk berjalan kaki saja. lagipula cuaca sedang bagus walau cukup dingin.

Kyuhyun, sebagai satu-satunya yang menggunakan jaket menarik Songjin mendekat lalu menyampirkan jaketnya sebagian pada bahu gadis tersebut. “sudah kubilang pakai jaket. Kau tidak pernah mau dengar!” gerutu Kyuhyun kesal.

“kalau tak ikhlas, kau pakai saja sendiri. aku tidak butuh!” dengus Songjin menarik dirinya sendiri menjauh beberapa jengkal walau dengan cepat, Kyuhyun dapat menariknya lagi. “tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkanmu sakit hanya karena alasan tolol.”

“kalau begitu berikan jaketmu saja padaku! sini!” Songjin menarik jaket panjang itu untuknya sendiri, namun lagi-lagi Kyuhyun dapat menahannya, “enak saja! tidak mau! nanti aku yang sakit!”

“Cih!” decah songjin mencibir. “pria macam apa kau ini. dimana-mana, semua pria rela sakit demi gadisnya! Kau satu-satunya yang egois!”

Bola mata Kyuhyun membulat, “enak saja!” protesnya tidak terima. “aku ini juga memikirkanmu. Kalau aku sakit, siapa yang akan repot? Tentu saja kau. kau harus mengurusku ini dan itu. mengurus dirimu sendiri saja kau masih tidak becus.” Gerutu Kyuhyun.

Pria itu sama sekali tak menambahkan tentang ketidak inginannya gadisnya terlalu lelah hanya untuk mengurusinya sendiri, dan membiarkan gadis tersebut juga janin calon anaknya mengalami hal yang sulit.

Songjin yang seperti sedang memiliki tenaga extra kali ini untuk meladeni sifat menyebalkan Kyuhyun, baru saja akan mengeluarkan sanggahannya lagi tapi kemudian matanya menangkap Siwon.

Pria tinggi itu baru saja keluar dari gedung rumah sakit dengan terburu-buru. Wajah pria itu pun terlihat menyeramkan. Membuat Kyuhyun dan Songjin langsung berpandangan tak mengerti. Dua orang itu langsung berusaha mengejar Siwon kemudian.

“Hei! Kau tidak perlu berlari juga!” Kyuhyun mendelik melihat Songjin mengimbangi-nya dengan berlari lebih cepat. Matanya turun pada perut rata Songjin dan cepat-cepat mengalihkannya.

Rasa Khawatir itu tiba-tiba muncul hingga ia memelankan kecepatan berlarinya sampai hanya tinggal berjalan cepat. “Tck ya! Siwon Oppa semakin jauh!” Songjin menujuk Siwon jauh didepan mereka.

Gadis itu sudah bersiap akan melesat lagi tapi Kyuhyun menarik ujung jekat miliknya yang songjin kenakan, “aku saja yang urus ini. kau temui Gyuwon.” Perintah pria tersebut. “cepat!” tambah Kyuhyun saat Songjin hanya menatapnya dalam diam dan datar.

“tapi, aku—“

“sebaiknya kau menuruti perintahku atau mau kucium?”

“Aish!” Songjin mengacak rambutnya frustasi dan berhenti melangkah. Kyuhyun kembali mengusirnya dengan menggerekan dagunya, membat gadis itu kesal dan pergi.

“woah! Pesonaku tidak cukup kuat ternyata, tidak bisa dipercaya, dia lebih memilih pergi dari pada kucium—“ gumam Kyuhyun memandangi Punggung songjin yang semakin lama semakin menjauh.

 

“annyeong!” Songjin menyembulkan kepalanya pada kayu pemisah ruangan antara ruang pasien dan ruang duduk. Tangannya melambai pada Gyuwon.

“Hai!” Gyuwon tersenyum sumringah sambil melepas kaca mata yang membingkai matanya. Kepala Gyuwon melongok kebelakang Songjin, berkali-kali dan kemudian terheran, “kau datang sendiri?” tanya Gyuwon bingung.

“Oh itu—tidak.” Songjin tersenyum cerah. Baru kali pertamanya inilah ia dapat tersenyum lepas tanpa memiliki aneh didalamnya saat Gyuwon mulai mengungkit Kyuhyun. “setan itu sedang menyusul Siwon oppa dibawah. Tadi tanpa sengaja kami bertemu dengan Siwon oppa dan wajahnya benar-benar menyeramkan seperti hulk!”

Gyuwon bisa saja tertawa karena Songjin menjelaskannya dengan gayanya sendiri yang selalu terlihat menggemaskan. Tapi kali ini masalahnya, ia dan siwon baru saja memiliki percakapan berbahaya yang membuatnya kini merasa bersalah setengah mati setelah mendengar Songjin berkata bahwa siwon terlihat kacau.

Tubuh Gyuwon membatu selama beberapa saat. Pikirannya melayang kemana-mana seperti bagaimana keadaan Siwon saat ini, kemana pria itu pergi, apa yang dilakukan olehnya?

Songjin duduk pada sebuah bangku tak jauh dari ranjang Gyuwon dan melipat kakinya, “Eonni, bagaimana kabarmu?”

Gyuwon tersenyum lebar, “kabarmu bagaimana?”

“Aish, kau sama saja dengan setan itu. menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Kau tahu, hanya orang-orang bersalah yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.” Cibir Songjin jengah. Gyuwon terkekeh geli kemudian.

“kenapa kau masih saja memanggilnya setan? Kyuhyun lebih tua darimu!”

“lalu apa aku harus memanggilnya Oppa? itu sama sekali tidak cocok untuknya.”

Gyuwon menaikan satu alisnya tinggi memandnagi Songjin tak mengerti. Dalam kepalanya, masih saja berputar-putar runtukan bagi Kyuhyun yang masih belum mengatakan perasaannya yang sebenarnya, “kau benar. dia memang tidak cocok disebut Oppa.”

“memang!”

“mm. dia cocok kau panggil Yeobo.” Canda Gyuwon kemudian tergelak geli, namun Songjin hanya diam dengan wajah memerah. “Aniya. Itu semakin menggelikan.”

“iya menggelikan, tapi kenapa wajahmu memerah?”

“itu—itu karena disini panas. Eonni!” Songjin mengipasi wajahnya sendiri dengan tangan. Suatu hal konyol mengingat pendingin ruangan central pada ruamah sakit besar ini memiliki suhu yang luar biasa dingin.

“Hmm..” Gyuwon mengangguk tak percaya. Gadis itu memandangi Songjin dengan tatapan tak tersirat membuat Songjin jijik dan langsug bangkit dari duduknya, “Eonni!”

“wae? Aku kan hanya—eish, wajahmu kenapa semakin memerah Songjin? Jangan-jangan kau diam-diam jatuh cinta dengan setan-mu itu?”

“Eonni!”

“Eiiiy, Songjin~”

“Eonni!!!” Songjin semakin panic dan tak lama pintu terbuka lebar. Kyuhyun dan Siwon masuk beriringan sambil sibuk bercakap. Percakapan mereka terhenti saat Kyuhyun menoleh, dan sadar dengan tatapan dua gadis disana padanya terkejut.

“kenapa?” tanya Kyuhyun bingung. Pria itu seperti baru saja menjadi tersangka utama dalam pembunuhan masal.

Gyuwon mendengus pelan sambil mengibaskan tangannya asal, “Tidak. hanya Songjin baru berkata kalau dia menyukaimu. Katanya dia cinta mati denganmu—“

“Eonni!” Songjin melotot. Gadis itu panic setengah  mati dan langsung menghadap Kyuhyun. menggerakan dua tangannya berkali-kali begitu semangat, “A—aku tidak bicara begitu. bukan itu percakapan kami tadi. kami hanya sedang—“

“itu yang seperti tadi kukatan Hyung. gadis itu seperti merasa terhina karena jatuhu cinta dengan suami sendiri. benar-benar menggelikan kan?” Kyuhyun bicara pada siwon.

Pria berlesung pipi itu terbahak puas sambil memegangi perutnya, “jadi kau harus selalu memancingnya agar dia mau bicara jujur kalau dia jatuh cinta denganmu?”

Kyuhyun menggidikan bahunya. Seakan menjelaskan tak ada kalimat lagi yang sesuai untuk menggambarkan bagaimana sifat Songjin selama ini kepadanya.

“APA?” songjin mendelik tak percaya. “apa? Memangnya aku ikan dipancing-pancing?”

“Jinjja Songjin! Kau benar-benar sesuatu! Katakan saja kalau kau menyukai Kyuhyun sejak lama! apanya yang harus ditutupi? Itu terlihat sangat jelas—tahu tidak?”

“APA?” Songjin kembali mendelik dan kini beralih pada Kyuhyun untuk meminta pertanggung jawaban sebuah penjelasan. Tapi pria itu hanya melengos kearah lain seakan tak perduli.

“Woah! Kau pintar memutar balikan fakta! Kau lupa? Kalau malam itu tidak mabuk—aku tidak akan merancau tentang bagaimana aku jatuh cinta denganmu. Kalau aku tidak bicara, bisa sampai tua kau pun tidak akan mengatakan yang sejujurnya dan mungkin kejadian itu tidak akan pernah terjadi. enak saja kau seperti—“

“kejadian apa?” Gyuwon dan Siwon bertanya saling bersahutan. Dengan cepat menangkap dan menanggapi komentar Songjin.

Seperti sedang  bersekokongkol, Siwon, Gyuwon dan Kyuhyun hanya diam memperhatikan Songjin. Hal termenyenangkan yang pernah Kyuhyun lihat adalah membuat Songjin merasa kacau lalu kikuk dengan hal bodohnya sendiri. pria itu tidak pernah bisa menutupi cengiran iblisnya.

“Itu—“

“Oh—itu Hyung. kau ingat malam itu? malam itu aku diperkosa—“ celetuk Kyuhyun serius.

Songjin terbelak menatap Kyuhyun tak percaya. Bagaimana bisa pria itu mengatakan hal tersebut dengan begitu santainya? Begitu mulus tanpa merasa kikuk ataupun malu? Disaat dirinya sendiri sudah merasa ingin pingsan saking malunya.

“woaaaah——“

Hening.

Suasana menjadi kosong sesaat hingga semua mejadi kaku. Siwon dan Gyuwon yang sempat beradu mata, seakan malas untuk saling bertemu hingga cepat-cepat memandang tempat lain.

“ceritakan bagaimana semuanya terjadi. ayo cerita ayoo!” Siwon tiba-tiba mendesak Kyuhyun. mendorong pria itu sampai terduduk disofa sambil memandanginya penuh harap. “a—aku tidak bisa menceritakannya sekarang. aku tidak mau mengatakannya pada orang yang belum menikah. Akan terdengar aneh. jadi sebaiknya, kau lamar dulu wanita itu baru aku akan mengatakannya.” Ucap Kyuhyun puas setelah melihat ekspresi terkejut siwon.

Lain halnya dengan Siwon, Gyuwon pun terkesiap ditempatnya untuk sesaat, sebelum akhirnya gadis itu tersenyum dan mengangkat tangan kanannya. Sebuah kilatan kecil muncul karena terkena sorotan lampu, “Oh—dia sudah melakukannya tadi. sayang sekali kalian tidak melihatnya.”

Tiga orang disana terkejut, menjatuhkan rahangnya. tak terkecuali Siwon yang kemudian dengan cepat dapat menguasai emosinya lagi. pria itu tidak bisa untuk tidak tersenyum sesaat setelah matanya menyapu benda mengkilat dijari manis Gyuwon, “tapi sebenarnya, bukan tontonan yang baik untuk dilihat. Kakakmu melamarku dengan sedikit paksaan. Dan itu mengerikan sebenarnya.”

Siwon mendecah, “lalu kenapa kau tetap mau?aku kan memberikanmu dua pilihan!”

“Well, mengingat aku tidak bisa mengembalikan ‘itu’ secara utuh. Aku tidak tahu seberapa besar kerusakannya. Walau jika dibandingkan dengan milikku, pasti akan lebih hancur milikku, tapi aku tidak tahu  bagaimana cara mengembalikannya seperti semula, jadi Yaah—mau tidak mau aku harus—“

“Jadi kau mau menikah denganku?” Sembur Siwon kencang. Wajahnya jelas sekali menampakkan kepuasan begitu nyata. “Eisssh—“ Kyuhyun dan songjin memutar bola matanya malas.

 

 

Cho Kyuhyun’s side

 

“Oppa!” aku terkejut setengah mati saat kudengar Suara songjin setengah berteriak. Sedetik, kukira ia memanggilku. Tapi untunglah akal sehatku bekerja dengan baik.

Aku cukup sadar dengan kelicikan istriku yang mengharuskanku mengeluarkan banyak uang untuk melakukan apa yang tidak diinginkannya. Dan memanggilku ‘Oppa’ itu adalah salah satu hal yang tidak diinginkannya padaku.

Jadi, kalau aku ingin mendengarnya menanggilku dengan sebutan itu, setidaknya, aku harus memiliki sebuah tas keluaran musim terbaru atau sepatu, atau bahkan meminjamkannya Black Credit card ku. dan itu tidak akan mungkin. Jadi, tidak.

Tidak akan.

Oppa yang dimaksudkannya tadi itu adalah dokter amis sialan yang entah bagaimana dan entah siapa yang mengundang, memunculkan wajahnya ditempat ini. dan sialnya, aku memang benar-benar terkejut melihatnya bisa sampai disini.

Sialnya lagi, Songjin langsung berlari cepat menghampiri Namja sialan itu, seperti mereka adalah pasangan kekasih yang sudah lama terpisahkan, lalu sekarang bertemu tanpa disengaja. Benar-benar tontonan yang menjijikan.

Tidak akan menjijikan jika pria-itu adalah aku. nyatanya, kan bukan.

Kalau saja aku bukan suami yang baik, aku sudah akan menarik kembali Songjin yang terang-terangan memeluk Donghae-ssi dihadapanku dengan sangat lama. tapi tempat ini ramai. Sebaiknya, perhitungan dengannya nanti bisa kulakukan ditempat lain.

“kapan sampai?” Donghae-ssi bertanya. Entah padaku atau Songjin karena matanya mengarah pada Songjin, tapi tubuhnya menghadap padaku. sedangkan Songjin sudah seperti orang bodoh sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu—hanya  memandangi wajah Donghae-ssi saja.

“kau kapan datang?” aku bertanya padanya akhirnya. Setelah mau tidak mau, membiarkan meja ku diisi oleh satu personel lagi, untuk memberikannya lahan duduk. “tiga hari yang lalu.” Jawabnya cepat.

“kau datang karena merasa bersalah dengan ketidak mampuan-mu memecahkan persoalan pada tubuh Gyuwon hingga keluargaku memutuskan untuk memindahkan Gyuwon ke sini, iyakan?” torehku penuh selidik.

Tiba-tiba saja Songjin menjambak rambutku dan mendelik, “dia datang karena dia ingin datang bodoh!” omel songjin padaku.

Pria didepanku ini tertawa dan menggeleng, “tidak. aku datang karena aku tahu aku akan bisa bertemu dengan-nya disini. karena selama di Korea kami hampir tidak sempat untuk bertemu.” Jelasnya.

Menunjuk Songjin disampingku, dengan telunjuknya lalu mengedipkan matanya genit pada Songjin.

Aku berdeham sesaat dan mencondongkan tubuhku padanya, “Hey, kalau kau belum tahu, biar kuberi tahu. gadis itu. yang kau maksudkan, adalah—“

“Yaa~” Songjin menyela. Ia membekap mulutku tiba-tiba saja. begini, biar kuperjelas, kalau kemarin aku bisa tenang-tenang saja melihat mereka, itu karena aku ini orang baik. Dan kesabaranku masih banyak.

Tapi pria ini baru saja menghabiskan kesabaranku dengan memeluk istriku sesukanya, dan terang-terangan berkata bahwa ia selalu ingin bertemu dengan istriku. Untung saja tuhan masih cukup baik dengan tidak mempertemukan mereka.

Harusnya itu salah satu alasan yang dapat membuatnya sadar kalau semua yang dilakukannya untuk menarik simpati Songjin tidak akan berhasil.

Kuhempaskan tangan Songjin didepan mulutku kuat-kuat dan memelototinya sesaat. Lalu beralih pada pria itu lagi, “kau tahu, dia istriku. Jadi tolong hentikan semua omong kosong ini. aku sudah muak melihatmu selalu mencari perhatiannya dengan melakukan hal-hal konyol. Menghubunginya hanya untuk menanyakan kabar, mengantarkannya berbelanja, bersenang-senang dengannya, sampai memberikannya bunga setiap hari. Jika kau cukup cerdas, seharusnya kau sadar bahwa semua itu adalah tugasku, Lee Donghae-ssi.”

Akhirnya timah diperutku seperti lenyap. Bahuku tidak lagi berat dan seperti ada yang terlepas setelah aku mengatakannya semua. Tapi mengejutkan, pria ini malah terbahak setelahnya.

“Oppa~” Songjin berucap lirih.

“berhenti memanggilnya seperti itu! kau ini—ish!” geramku pada Songjin. Gadis ini benar-benar mengerti bagaimana cara membuat orang kesal. Bagaimana bisa dia memanggil orang lain seperti itu sedangkan denganku selalu bersikap kurang ajar, kadang kami bahkan terlihat seperti kucing dan anjing.

Semua karena yeoja tolol ini. yang sudah tahu tolol tapi susah diberitahu hingga menjadi lebih tolol.

“tutup mulutmu!” Songjin mendelik. Seperti aku akan takut melihatnya, tapi sebenarnya, aku hanya tidak percaya ia dapat melakukannya disini. didepan orang lain. Dan aku seperti tidak dihargainya sedikitpun.

Aku menarik tangan kanannya dan meletakannya diatas meja bersama dengan tangan kananku, “kau lihat? kami menikah!” ucapku setelah menunjukan cincin pernikahan kami. “jadi berhenti melakukan hal-hal bodoh dan cari gadis lain untuk kau perhatikan. Dia milikku!”

Dongahe-ssi kembali tertawa kini malah lebih kencang. Setengah penghuni cafeteria ini memandangi kami terheran-heran. Dan itu benar-benar memalukan!

“Hahaha—kyuhyun-ssi, tenang dulu. santai.”

“APA? Santai?” pekikku tertahan. aku benar-benar tidak tahan untuk tidak meninjunya kalau saja sejak tadi Songjin tidak menarik ujung kemejaku seperti aku akan hilang kendali dengan tololnya dan tidak mengerti dengan keadaan sekitar kami.

Nyatanya, aku lebih cerdas dari itu. enak saja mengotori tanganku.

“aku tahu kalian sudah menikah.”

“Oppa~”

“Santai saja, Songjin. Aku sudah tahu sejak lama. sebenarnya.. tapi aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian sebenarnya. Maksudku—kalian terlihat saling menyukai. Semua orang dapat melihatnya dengan mata telanjang—sangat jelas. tapi kalian sendiri tidak menyadarinya? Tsk. Tahu tidak, kalian benar-benar tolol!”

Mataku mendelik lagi saat pria didepaku seenaknya saja mengatai ku tolol. Lalu kalau aku tolol, dia sendiri apa? Sudah tahu Songjin istriku, masih saja seperti pria putus asa mengejar Songjin, Cih!

“maksudku—kau, Kyuhyun-ssi. Kau tolol!”

“HEY!”

“kau tidak terima kupanggil tolol, tapi kau tidak sadar kalau kau memang benar-benar tolol. Kenapa kau diam saja dan tidak melakukan apapun saat Songjin selalu sibuk dengan pria lain? Kau malah ikut menyibukan dirimu sendiri dengan wanita lain? Ayolah, Cho Kyuhyun aku tahu kau lebih cerdas dari ini. apa kau pikir dengan diam semua masalah akan selesai? Tentu saja akan selesai kalau kalian berdua memiliki bahasa kebathinan tapi nyatanya dengan diam kau malah mendapati Songjin semakin tersiksa. Kau sendiri juga merasakannya kan? Aku tanya, apa rasanya melakukan aksi bungkam seperti itu? enak? Kau tahu, aku baru saja berencana, kalau kau masih terus seperti ini, aku benar-benar akan mengambil istrimu yang cantik dan sexy ini untukku dan kami—“

“HEY! TUTUP SAJA MULUTMU, BRENGSEK!”

“wooow— siapa yang kau sebut brengsek itu? aku? kau tidak pernah melihat bagaimana dirimu sendiri selama ini? sebenarnya, kata Brengsek itu terlalu jauh untuk pria seperti aku. nyatanya, aku tidak pernah malu untuk menunjukan apa yang kurasakan. Walau saat itu aku tahu, Songjin adalah istrimu. Hanya untuk memberitahunya saja. siapa tahu saat kau masih juga bertahan dengan ketololanmu itu, dan Songjin akan lelah, lalu dia datang padaku. aku tidak masalah dengan-nya yang sudah menikah. Nyatanya, aku memang benar-benar menyukai istrimu. Sebenarnya bukan hanya aku saja. dan sebenarnya lagi, tidak sulit untuk menyukai Songjin. Dia gadis yang menyenangkan.”

“gadis?” putusku lalu menyembulkan senyuman sinisku. Tidak sebenarnya aku malah merasa menang. “kalau kau belum tahu, biar kuperjelas, dia sudah tidak ‘gadis’.” Putusku puas. Tapi donghae-ssi kembali tersenyum tenang, “tidak masalah bagiku. bukan itu yang kupermasalahkan. Selama aku masih bisa bersama dengannya, semuanya akan terasa menyenangkan.”

Aku menggelengkan kepalaku tak habis pikir, “kau gila, kau tahu?” ujarku tak percaya. Maksudku—aku belum pernah menemukan dimanapun pria segila dokter amis ini. Lee Donghae-ssi adalah satu-satunya orang yang terang-terangan dapat berkata bahwa ia menyukai wanita bersuami didepan suaminya sendiri.

Dapat seperti bernegosiasi tantang status kepemilikan orang yang sudah jelas adalah milikku. Entahlah, dengan hal tersenut aku merasa seperti germo sekarang. seperti sedang menjajakan seorang wanita kepada pelanggan. Dan sialnya, Songjin hanya dapat melongo memandangi Pria didepanku seakan terkesima karena sejak tadi, Dongahe-ssi terang-terangan memuji istriku dengan banyak kata-kata manis.

“Well, semua karena istrimu yang tampak S—“

“sudah sudah. Cukup.” Aku menyelanya. Aku tidak tahu kata-kata gila apalagi yang akan keluar dari mulutnya. setidaknya aku tidak mau mendengarnya lagi. “begini, biar kuperjelas. Aku tidak perduli denganmu yang ternyata menyukai istriku hingga sampai seperti ini. sinting. Itu bukan masalahku. Hal yang perlu kau tahu adalah, aku tidak akan menyerahkannya padamu. Dia milikku dan akan terus menjadi milikku. Aku tidak suka berbagi. Jadi menurutku, dari pada kau lelah lebih baik kau sudahi saja hal tolol-mu itu dan tinggalkan semua ini. tinggalkan Songjin. Kau paham? Jika kau terus memaksa, aku bisa membuatmu pergi dengan cara kasar. Sekarang aku masih berbaik hati denganmu, tapi aku tidak akan janji dengan lain waktu, jika kau lagi-lagi berulah. Dan tolong hentikan—mengirim bunga kerumah kami. Rumah kami sudah seperti rumah duka karena kau terus-terusan mengirimi bunga kematian itu.”

Aku berbicara panjang menghabiskan pasokan oksigenku dan langsung menyeret Songjin bersamaku meninggalkan cafeteria rumah sakit. meninggalkan orang gila ini, “ayo pergi!”

“T—tapi seb—“

“ayoo!” paksaku lagi. entah akan terlihat seperti apa kami sekarang. aku tidak lagi perduli dengan pandangan seluruh mata ditempat ini. masih untung aku tidak mengacak tempat ini dan mengganggu ketenangan mereka.

“KYUHYUN-SSI!”

Dokter gila itu memanggil dengan berteriak. Jelas saja membuat kami semakin menjadi bahan tontonan orang-orang. Sudah bilang, dia benar-benar gila.

“Kyu~ itu Donghae Oppa, dia—“

“bisa kau diam saja dan terus berjalan? Tidak perlu menoleh lagi dan tinggalkan orang itu?”

“AKU TETAP MENYUKAI SONGJIN KALAU KAU MAU TAHU. TAPI AKU TIDAK SAMPAI MENGIRIMINYA BUNGA DAN MEMENUHI RUMAH KALIAN. HAL ITU BELUM TERPIKIRKAN OLEHKU—“

“Hah? Jadi bukan kau?” Songjin berhenti dan menoleh menghadap Donghae-ssi, “BUKAN AKU, SONGJIN. UNTUK APA AKU MEMBERIKANNYA DIAM-DIAM KALAU BISA KUBERIKAN LANGSUNG?”

Emosiku kembali meluap, kutarik songjin untuk kembali berjalan dan masuk kedalam lift. “TERSERAH KAU AKAN PERCAYA ATAU TIDAK. TAPI BUKAN AKU PELAKUNYA. DAN KALAU BEGITU, KYUHYUN-SSI, ISTRIMU BENAR-BENAR MENARIK PERHATIAN BANYAK PRIA—“

Untunglah Pintu lift tertutup dan setelah itu aku benar-benar bersyukur aku tidak mendengar ocehan orang gila itu lagi. kepalaku berdenyut kencang seperti akan pecah. Terlalu banyak ini dan itu yang melintas didalam kepalaku.

Seperti ingin meninju wajah pria gila tadi, berteriak sekuat tenaga, melempar sesuatu, menghancurkan sesuatu, membunuh seseorang, aku benar-benar sudah gila! Hari ini benar-benar menguras segalanya!

 

Author’s side

Kyuhyun mengurut pelipisnya berkali-kali. Kepalanya terkulai diatas pangkuan Songjin. Matanya terpejam sejak beberpa puluh menit yang lalu dan seperti tidak ada niatan lagi untuk setidaknya membuat sebuah kehidupan dalam ruangan lengang disana.

Pria itu tidak tahu lagi harus berbicara apa. Semuanya terasa membingungkan. Sejak perbincangan panasnya dengan Lee Donghae tadi, mood-nya benar-benar hancur. Tubuhnya lelah, tapi selelah apapun dia sekarang, tetap saja dia tidak bisa tidur.

Matanya lalu terbuka dan mendapati mata songjin yang bergerak kesana kemari. Jelas sekali gadis itu sedang memikirkan sesuatu. Keningnya berkerut sesekali lalu mendesah pelan.

“Ya~ siapa yang suruh berhenti? Ayo pijati aku lagi. kepalaku benar-benar sakit tahu tidak?!” dengus Kyuhyun menyadarkan Songjin.

Dengan setengah terpaksa, Songjin kembali memijiti kepala Kyuhyun, tapi jelas sekali bahwa gadis itu masih berfikir serius. “Kyu~ kalau bukan Donghae Oppa yang mengirimkan bunga itu, lalu siapa?” ucap Songjin mengambang.

“kenapa masih dipikirkan sih? Lupakan saja. itu tidak penting. Sekarang aku yakin kalau semua bunga-bunga itu salah kirim!”

“Eissh!” Songjin menepuk kening Kyuhyun kencang, “bunga-bunga itu jelas untukku.”

“bagaimana kau yakin itu untukmu? Bisa jadi itu untuk Eun Soo kan?”

“bunga itu memang dikirim ke kantor awalnya, tapi toh lama-kelamaan bunga itu datang kerumah juga. jadi menurutmu apa bunga-bunga itu masih salah kirim?”

Kyuhyun mendengus kesal. Walau ia pun mengakui apa yang Songjin katakan tadi, tetap saja sesuatu didalam hatinya berteriak tidak terima jika istrinya terus-terusan menjadi satronan pria tak dikenal.

“aku jadi penasaran—ternyata aku benar-benar memiliki penggemar!“ songjin kembali menggumam. Membuat Kyuhyun setengah mati sebal dan menyentakkan tangan kurus itu kasar untuk pergi dari wajahnya. Pria itu lalu berbalik menghadap televisi layar datar yang mati—tidak menampilkan apapun.

Sejenak keadaan menjadi hening. Kyuhyun masih berusaha membuat dirinya sibuk dan mengalihkan pikirannya yang meledak-ledak dengan memikirkan apa operasi Gyuwon akan berjalan dengan lancar?

Gyuwon adalah salah satu wanita kuat yang pernah dikenalnya, jadi kemungkinan berhasil pasti akan lebih besar. tapi, ia pun tak dapat menipu dirinya sendiri dan melupakan begitu saja ucapan dokter-dokter yang telah mengurus Gyuwon selama wanita itu dirawat dirumah sakit ini.

Bahwa kondisi Gyuwon yang semakin lemah, menyulitkan team dokter untuk melakukan cangkok tersebut.

Sayangnya, hal tersebut malah membuat kepala Kyuhyun semakin berdenyut. Ia mau saja memikirkan hal lain. Tapi tidak ada satupun hal lain itu yang melintas dikepalanya selain tentang Lee Donghae yang menyukai istrinya seperti orang gila, dan Lee Gyuwon yang memiliki kesempatan hidup hanya 50:50.

Kenapa makhluk bermarga Lee selalu menyusahkan saja?

__ __ __

“Kyu~” Songjin mencolek bahu Kyuhyun. pria itu terlihat seperti sedang tertidur tapi Songjin  merasa kalau Kyuhyun tidak benar-benar sedang tidur.

Gadis itu merunduk untuk mengintip, karena sejak tadi Kyuhyun hanya diam sambil bersedekap. Songjin kembali menelan ludahnya dan mencolek Kyuhyun, “K—Kyu~”

“…….. Hng?” sebuah gumamaman singkat menjawab panggilan Songjin. Sesaat, membuat gadis itu merasa lega bahwa ia sedang tidak ditinggal tidur.

Tapi tidak  itu juga. ada sesuatu yang harus dibicarakannya sekarang. “kau.. tidur?”

“…… tadinya. Tapi kau menggangguku.” Jawab Kyuhyun dingin. tubuh pria itu masih menghadap pada televisi dengan mata terpejam. Seakan mengabaikan Songjin yang terang-terangan meminta sedikit perhatiannya sebentar.

Songjin menghela nafasnya frustasi. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada punggung sofa kemudian dan ikut bersedekap. Bahkan saat Kyuhyun menjadi menyebalkan begini pun, ia masih tidak bisa marah dengan pria tersebut. itu yang membuatnya semakin sebal dan merasa terbodohi selama ini.

Pada akhirnya dua mata Kyuhyun yang tadi tertutup kini jadi terbuka. Pria itu masih menimbang apa dia harus berbalik atau tetap pada posisinya untuk sekedar membuat gadis itu sadar bahwa ia sedang marah.

Tapi mengingat betapa tolol istrinya itu, Kyuhyun menyerah sendiri dan akhirnya memutar posisinya. Pria itu kini dapat melihat wajah Songjin dengan jelas dari bawah tempatnya berada.

“ada apa?” Kyuhyun bertanya. Tapi pria itu masih saja meninggikan dirinya dengan sama sekali tidak mau menurunkan harga dirinya dan terus bersikap dingin.

Songjin mendengus malas dan menggeleng, “tidak. tidak jadi. Kau tidur saja.”

“sayangnya tidak bisa lagi. karena tadi kau menggangguku.” Sahut Kyuhyun lebih galak. Pria itu bisa saja mempertahankan amarahnya, tapi ia sendiri pun sadar, bertengkar dengan Songjin akan memakan waktu yang sangat lama.

Apalagi dengan Mood gadis itu yang kini seperti terombang ambing tidak jelas. entah karena sedang PMS atau memang begitulah seorang wanita hamil.

“cepat biacara! Ada apa?!” paksa Kyuhyun lagi. membuat Songjin mendelik padanya. “kau tidak bisa tidak berteriak ya?” protes Songjin tidak terima.

“karena kau selalu membuat-ku emosi. Rasanya seperti sedang berbicara dengan tanganku sendiri. mengesalkan! Dan kadang kau terlalu bodoh untuk dapat mengerti apa maksud perkataanku, hingga aku harus mengulanginya berkali-kali. Itu merepotkan!”

Songjin menghela nafasnya panjang. Jelas tersirat akan keputusasaan. “aku tahu. aku memang bodoh. Maaf—“ bahu Songjin terkulai lemah.

Kyuhyun mengangguk puas, “kenapa tidak sejak dulu saja kau sadar?” ucap pria tampan itu merasa menang. Puas melihat wajah kalah Songjin, membuatnya tidak bisa untuk tidak tersenyum.

“—aku.. A—aku Ha” Songjin menarik nafasnya dalam-dalam dengan tiba-tiba. Wajah gadis itu benar-benar seperti orang frustasi. Kyuhyun semakin menautkan dua alisnya, menatap Songjin bingung.

“Aku Ha—hamil. Aku hamil.”

Songjin berucap pada akhirnya. Dua konsonan kata itu terasa bagai empedu yang terasa pahit untuk ditelan dan menjadi sesuatu yang sulit untuk dikeluarkan karena rasanya sangat tak nyaman. “aku baru mengetahuinya kemarin. Setelah test kesehatan dari kampus keluar.”

Kyuhyun terdiam sesaat kemudian dua matanya terpejam lagi. kepalanya benar-benar akan pecah sekarang, ia mendesis panjang, “aku tahu.” ucap Kyuhyun singkat.

Songjin mencelos terkejut, “kau tahu? tapi aku belum mengatakannya!”

“sebenarnya itu terlihat jelas dimataku. Tapi aku baru dapat mengkira-kiranya saja. aku bukan dokter jadi, aku hanya melihat cirri-cici kasarnya saja. Dan lagi, saat itupun aku tidak sengaja melihat.. hasil test itu dari tasmu. Tapi sumpah, saat itu bukan maksudku untuk sengaja melihatnya. Aku sedang mencoba untuk mencari ponselmu didalam tas. Tapi malah kertas itu yang keluar.”

Songjin menghela nafas. Seharusnya ia sadar bahwa Kyuhyun pasti lebih cerdas dengan dapat mengetahuinya secara nyata walau dirinya sendiri tidak melihat perubahan apa saja yang sudah terjadi pada dirinya saat ini.

“maaf. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya. Maksudku—itu tidak ada dalam..”

“tidak bermaksud melakukannya? Maaf?” Songjin terkesiap. Gadis itu terkejut setengah mati dengan kalimat Kyuhyun yang menurutnya benar-benar mengejutkan.

“Jadi, kau tidak bermaksud menghamiliku dan lalu sekarang kau menyesal. Oke.” Songjin mengangguk. Didalam pikirannya kini telah berputar-putar banyak hal tolol yang mungkin akan dilakukannya setelah ini.

Kyuhyun mendelik tak percaya dengan pendengarannya. Pria itu bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk, menghadap Songjin seksama. “Oke. Tidak masalah. Tapi aku tidak akan mengugurkan kandunganku dan jika nanti—“

“apa?” mata Kyuhyun menyipit, “mengugurkan?” Kyuhyun semakin terkejut. Pria itu kini berdiri tegap dengan dua tangan bertolak pinggang. “kau sudah kehilangan akal sehatmu ya?”

Songjin menarik nafasnya dalam-dalam lalu bangkit dan berencana untuk pergi dari ruang rawat inap milik Gyuwon untuk sekedar mencari angin.

Berada disekitar Kyuhyun membuat kepalanya pusing. Dan Kyuhyun benar-benar suksess kembali mengacak hatinya yang kemarin sudah mulai tertata dengan rapih. “Ya! kita belum selesai bicara!” Kyuhyun setengah berteriak saat songjin melewatinya begitu saja.

“aku sudah.”

“CHO SONGJIN. BERHENTI DITEMPATMU!” Kyuhyun kini benar-benar berteriak kencang. Nafasnya kembali tersengal.

Matanya lurus menatap Songjin yang sejak tadi tidak pernah bisa membalas tatapannya. Gadis itu selalu memalingkannya entah kemapun, saat tak sengaja bersiborok.

“apa kau benar-benar sudah gila? Jadi kau menyesal, huh? Sayang sekali kalau begitu. padahal aku benar-benar senang setengah mati saat tahu kau hamil. Dan sekarang kau menagatakan menggugurkan? Langkahi dulu mayatku kalau kau mau melakukannya!”

“Hei! Apa tadi aku bilang kalau aku akan menggugurkan kandunganku? Telingamu konslet ya? aku bilang aku tidak akan melakukan apapun dengan kandunganku. Aku tidak perduli kalau ternyata kau menyesal. Aku minta maaf karena kau terpaksa harus menjadi Ayah secepat ini. itu juga bukan rencanaku!”

Kyuhyun mendengus pelan, jelas sekali terdapat kesalahan disini. Songjin yang bodoh ini, tidak menangkap dengan benar maksud kalimatnya. Hingga pria itu harus menarik urat untuk berbicara dengan gadis tersebut.

“kau tidak mengerti. Maksudku tadi adalah beasiswamu. Kau gagal karena kau mengandung kan? Universitas tidak mau mengirim wanita yang sedang mengandung untuk ikut dalam program beasiswa itu? itu maksudku. Dan lagi, aku tahu bagaimana kau begitu menginginkan beasiswa itu dan bagaimana kau senang saat kau tahu kau mendapatkannya. Aku merusak semuanya. Maaf. Itu bukan maksudku. Tapi tentang kehamilanmu, aku sama sekali tidak menyesalinya. Seharusnya bahkan kau sudah kuhamili sejak lama. Sial saja hal itu tidak terjadi!”

Gerutu Kyuhyun mendecah. Membuat songjin  kembali menyernyitkan wajahnya dan memandangi wajah tampan yang enah sejak kapan bisa menjadi begitu mesum. entah Kyuhyun benar-benar mesum, atau ini hanyalah bentuk sebuah rasa yang telah terpendam begitu lama.

Bahu Kyuhyun terkulai lemas. Wajah pria itu menjadi sendu helaan nafas entah sudah berapa banyak dikeluarkannya. Tangannya menggosoki tengkuknya kikuk. Matanya memandangi kebawah mengjhitung jumlah ubin.

Sedangkan Songjin kembali menghempaskan dirinya diatas sofa. Gadis itu bertopang dagu pada tangan sofa disisi kirinya, “sebanarnya tidak begitu. aku baru sadar kalau hal yang aku inginkan adalah pengakuan kalau aku tidak benar-benar bodoh. Dengan mendapatkan beasiswa itu, setidaknya orang-orang disekitarku dapat berfikir dua kali tentang tingkat intelegensiku. Dan tidak hanya menilai, aku hanyalah seorang wanita yang hobby  menghabiskan uang untuk berbelanja. Membuang waktu untuk bergossip. Hanya berleha-leha menikmati kekayaan keluarga. Aku ingin orang lain tahu, kalau aku juga berjuang. Bahkan perjuanganku kadang lebih besar dari mereka. karena aku ini tidak secerdas mereka, jadi aku harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan sesuatu!”

Kyuhyun perlahan tersenyum lucu mendengar komentar Songjin. Pria itu tak habis pikir bahwa hal sederhana seperti itu saja yang menjadi pengganjal selama ini. kini Kyuhyun tidak dapat menutupi kekehannya lagi, “kenapa tertawa? Apanya yang lucu?” bentak Songjin tidak terima.

Kyuhyun menggeleng dan ikut menghempaskan tubuhnya, “lalu, orang lain yang kau maksud itu… aku?” selidik Kyuhyun sambil tersenyum penuh arti. Songjin mendelik namun setengah detik kemudian mengangguk, “kau salah satunya.”

“memangnya siapa lagi yang menganggap kau bodoh? jadi selama ini Bukan hanya aku saja yang mengataimu bodoh? HAHA Jinjja! jadi kebodohanmu itu sudah mendapatkan pengakuan secara terbuka ya?”

Songjin melirik sinis pada Kyuhyun. hal seperti inilah yang paling dibencinya. “kau tidak bosan ya merendahkanku seperti itu? atau kau memiliki suatu kebanggan sendiri karena memiliki istri yang bodoh? Karena dengan istri yang  bodoh kau bisa melakukan banyak hal yang aku tidak akan mengerti?”

Kyuhyun menaikan satu alisnya tinggi, “seperti berselingkuh maksudmu? Hah—“ Kyuhyun kembali tertawa geli, “tanpa perlu kau menjadi gadis bodoh, aku bisa saja melakukannya kalau aku mau. tapi nyatanya, aku tidak berminat sama sekali. Untukku, kau sudah lebih dari sekedar cukup. Dan kalaupun dalam kehidupan selanjutnya aku dapat memilih, aku tetap akan memilihmu lagi. sudah kujelaskan sebelumnya, kalau kau sudah seperti sesuatu yang membantuku untuk bernafas. kalau kau tidak ada, aku bisa saja terus hidup. tapi akan terasa tidak benar. pasti akan jadi kacau. Aku akan selalu membutuhkanmu. Jadi, tidak perlu membuatmu bodoh kalau aku memang ingin berselingkuh. Kau benar-benar tidak mengerti dengan hal itu ya? aku harus menjelaskannya berapa kali sampai kau mengerti? Sebenarnya berapa sih IQ mu?”

Songjin mengatupkan bibirnya kembali. gadis itu baru saja akan menyemburkan Kyuhyun dengan makiannya. Hal-hal sepele yang selalu membuatnya merasa tolol, dan Kyuhyun semakin membuat ketololan itu terasa lebih nyata dengan selalu membodohinya ini dan itu.

Rahang Songjin mengeras. Matanya sudah terasa panas. Sesuatu sudah  mendesak ingin keluar. Tapi tiba-tiba ia ingat pesan Kyuhyun bahwa tidak ada air mata isi ulang. Menangis untuk hal-hal yang dirasa penting saja.

Tapi sekarang ia sendiri sedang kebingungan untuk menentukan apa hal ini dirasa penting untuk ditangisi atau tidak?

Kyuhyun baru saja berkata bahwa ia benar-benar mencintai dirinya, tapi sesudah itu, pria tersebut kembali menyemburkan ejekan-nya tanpa ampun.

Kyuhyun terkekeh geli melihat raut wajah bingung Songjin. Seperti merasa puas dengan hasil ulahnya, Kyuhyun lalu menarik Songjin dan memeluk gadis itu erat, “aku tidak pernah berfikir kalau kau gadis yang hanya bisa bersenang-senang, menghabiskan uang, bergossip dan berbelanja tak tentu. Well—point terakhir memang ada benarnya. Tapi jangan dengarkan orang lain. Dengarkan saja aku. aku tidak menganggapmu seperti itu. aku sudah cukup mengenalmu dan paham jika kau tidak seperti itu. selama ini, kau masih menggunakan otakmu dengan benar kok—“

Kyuhyun berkata dan tertawa ketika mendapati tepukan pada punggungnya dengan kencang, “sialan!” Songjin masih sempat mengutuk ditengah tangisannya. “dan nyatanya, kau berhasil menjadi seseorang dengan caramu sendiri. kau bisa mendapatkan pekerjaan mendesign pada Cleomeint, tidak dengan bantuan siapapun kecuali usahamu sendiri, itu sudah cukup membuktikan kalau kau tidak sebodoh itu. kau harusnya bangga karena butik ternama seperti itu mau merekrut orang sepertimu.”

“orang sepertiku seperti apa?” Songjin mendengus ditengah tangisannya yang semakin banjir. Kyuhyun masih saja terus tanpa berhenti menyudutkannya. Membuatnya masih merasa kalau ia benar-benar tolol selama ini.

“Special. Kau benar-benar special. Mereka tidak akan mendapatkan orang sekeren dirimu dalam watktu dekat. Dan aku tidak akan menemukan gadis sepertimu lagi entah dalam seribu tahun lagi. kau seperti komet yang muncul hanya dalam waktu tertentu. Aku harus menikmatinya selagi ada. Untukku, kau selalu menjadi yang special.”

“HUAAAAAA”

Tangisan Songjin semakin menjadi setelah Kyuhyun mengatupkan bibirnya. Pria itu tidak lagi dapat menghentikan kekehannya pada gadis yang benar-benar memiliki tingkat kecerdasan yang patut dipertanyakan.

Kyuhyun baru saja memujinya, tapi lagi-lagi Songjin malah menangis kencang. Tangan Kyuhyun berkali-kali digunakannya untuk menepuk punggung Songjin pelan, “kau masih hobby menangis ya? aku heran cadangan air matamu itu sepertinya banyak sekali.” Goda Kyuhyun lalu menusuk pinggang songjin dengan telunjuknya.

Membuat Songjin berteriak kencang, sedangkan Kyuhyun terus menyerangnya tanpa ampun hingga tangisan tadi berganti menjadi sebuah tawa lepas. Nafas keduanya terengah saat Kyuhyun menyerah dan menghentikan serangannya.

Pria itu menatap Songjin seksama. Seperti tidak ada lagi kalimat yang tepat untuk menggambarkan bagaimana rasa bahagia yang sedang terjadi didalam hatinya, tidak ada alasan lagi bagi Kyuhyun untuk tidak bersyukur, “Jadi, Sembilan bulan lagi aku akan jadi Appa?”

Songjin tesenyum dan mengangguk pelan. Kyuhyun tersenyum lebar. rasa puas benar-benar sedang memenuhi rongga hatinya saat ini. pria itu mencondongkan wajahnya pada Songjin dan dengan cepat menangkap bibir tipis dihadapannya.

Meraupnya dengan gemas dan mengulumnya seperti tidak ada lagi hari esok, “Terimakasih. Karena mau mengandung anakku. menjadi ibu dari anak-anakku. Menghabiskan waktu denganku sampai pada waktu tak terbatas.” Ucap Kyuhyun ditengah pagutannya. Berbicara tanpa melepas jarak antara dua bibir disana. Membuatnya masih dapat menyesap bibir songjin sesekali.

Kyuhyun tersenyum kembali dan menangkup wajah Songjin dengan dua tangannya. Pria itu menarik wajah Songjin lebih mendekat dan kembali melumat satu-satunya hal yang menjadi titik fokusnya sejak tadi, “saranghae~”

 

 ——————————-oOo——————————-

 

6 Years Later….

 

“Ayo Eun Ji makan yang banyak—“ Kyuhyun tersenyum pada seorang gadis berusia lima tahun dihadapannya. Gadis berambut pendek dengan bando pink yang menjepit rambutnya itu tersenyum senang.

“mau tambah sup nya?” tawar Kyuhyun lagi dan Eun ji mengangguk patuh. Gadis itu benar-benar tidak dapat memalingkan wajahnya sedikitpun dari wajah Kyuhyun dihadapanya –Sambil tersenyum dan memamerkan gigi kelincinya yang baru saja tanggal.

“Cha— ini dimakan!” ucap Kyuhyun riang, mendorong semangkuk kecil berisi sup sapi sampai kedapan tubuh Eun Ji.

“Kamsahamnida, Oppa.” Eun Ji berseru. Membuat Hyun Gi yang duduk tak jauh darinya mendelik terkejut. Bocah lelaki dengan usia sebaya itu hampir tak percaya bahwa ayahnya baru saja dipanggil Oppa.

Hyun Gi terkesiap ditempatnya  memandangi Ayahnya yang hanya bisa terdiam sambil tersenyum tipis pada gadis yang sudah sangat lama diincarnya sejak pertama ia masuk di TK  Shincung—Seoul.

Salah satu sekolah berkelas yang hanya dimasuki oleh pada kalangan atas saja. Eun Ji adalah seorang anak dari pasangan pengusaha tekstil ternama.

Hyun Gi sama sekali tidak memerdulikan hal tersebut. ia hanya tahu tentang betapa cantik teman satu kelasnya bernama Han Eun Ji. Dan kemudian merengek-rengek meminta agar Kyuhyun dan Songjin membolehkan Hyun Gi untuk mengajak Eun Ji bermain bersama dirumahnya.

“enak tidak masakan Bibi?” tanya Kyuhyun penuh selidik. Sejak tadi matanya menatapi gerak-gerik Eun Ji seksama. Walau sudah sekian lama dan Songjin telah mengikuti kelas memasak, tetap saja kadang Kyuhyun harus mengurut hati untuk tidak memutahkan masakan Songjin.

Bukannya tidak enak. Hanya— masih— sedikit—mengkahwatirkan untuk masuk kedalam perut.

Kyuhyun tersenyum sesaat setelah Eun Ji mengangguk, “Ini Enak Oppa. Bibi benar-benar pintar memasak.” Puji Eun Ji tulus.

Hyun Gi lagi-lagi mendelik mendengar Ayahnya mendapatkan panggilan tak pantas, “Eun Ji~ya, orang yang kau panggil Oppa itu Appaku!” gerutu Hyun Gi tak terima. Bocah itu bersedekap, melipat dua tangan kecilnya didada.

Mata sipit Eun Ji terbuka lebar, “Appa-mu? tapi dia terlihat sangat muda dan tampan.”

Kyuhyun terkekeh mendengar pujian lagi-lagi menghampirinya. Dimanapun dan kapanpun, pesonanya tak terbohongi. Walau masih lima tahun, mata Eun Ji telah terbuka lebar tentang pria tampan.

“Hyun Gi juga tampan. iyakan Sayang?” Songjin mengusap kepala putranya yang tampak Jengah dengan keadaan. “tapi Hyun Gi ompong!” gerutu Eun Ji ceplas-ceplos.

“kau juga!” Hyun Gi menyela tak kalah cepat.

“tapi aku kan yeoja. Kata Eomma yeoja akan terlihat menggemaskan. Tapi kalau Namja, akan terlihat mengerikan.”

“aku tidak mengerikan! Wajahku baik-baik saja! Eomma bilang aku lebih tampan dari Appa!”

Eun Ji menggeleng sambil memonyongkan bibirnya, “tapi tetap saja kau ompong!”

“Eun Ji~ya..”

“Oppa! aku mau tambah!” tanpa perlu berepot-repot merasa bersalah sudah membuat bocah bernama Hyun Gi akan menangis, Eun Ji menyodorkan piringnya pada Kyuhyun.

Sedangkan Kyuhyun terkejut bukan main melihat Eun Ji dapat begitu menikmati masakan Songjin saat dirinya sendiri merasa terdapat sesuatu yang salah pada masakan istrinya itu.

“Jinjja? kau benar-benar lapar atau bagaimana Eun ji?”

“tidak. masakan Bibi enak!” Eun Ji tersenyum pada Songjin. “Gomawo, Eun Ji.” Songjin memamerkan dua jempolnya pada Eun Ji dengan senyum mengembang.

Kyuhyun belum selesai menyendokan sapi lada hitam, saat pria itu lagi-lagi memandangi Eun Ji terheran, “kau yakin?” tanya Kyuhyun tak percaya.

Eun Ji mengangguk yakin. Sebenarnya, bocah itu benar-benar lapar karena sejak tadi berlarian bersama Hyun Gi. Tapi Hyun Gi seperti tidak bernafsu sama sekali setelah gadis incarannya malah tertarik dengan Ayahnya sendiri.

Kyuhyun kemudian tersenyum lebar dan mengangguk, “Arrasseo. Cha—makan yang banyak!.”

Kyuhyun mengembalikan piring Eun Ji pada sang pemilik lagi, lalu memperhatikan bocah itu makan dengan wajah mengernyit takut.

__ __ __

“terimakasih sudah menjaga Eun Ji. Kami pulang” Han Hyera, ibu Eun Ji membungkuk sopan lalu masuk kedalam sedang hitam mengkilat.

Kyuhyun, songjin tersenyum lebar namun tidak pada Hyun Gi. Bocah itu benar-benar tak dapat menutupi kekesalannya hingga saat mobil itu melesat dan menghilang dari jangkauan mata, bocah tersebut menghentakkan kakinya dan langsung melesat masuk.

“Hyun Gi!” panggil Songjin saat sadar putranya menghilang dengan cepat.

“kenapa sih dia? aneh sekali sejak tadi.” gerutu Kyuhyun yang langsung mendapatkan hadiah berupa tatapan sinis Songjin. “kau juga kenapa?” Kyuhyun kembali bertanya.

“kau itu yang kenapa? sudah tua masih saja genit dengan anak-anak!”

“Hah?” Kyuhyun mengerutkan kening tak paham. Songjin lalu melesat begitu saja, melepaskan rangkulan Kyuhyun secara brutal. Lagi-lagi meninggalkan tanda tanya besar pada kening Kyuhyun.

“Ya! kau kenapa?” Kyuhyun menghampiri Songjin didapur. Gadis itu sedang sibuk membersihkan sisa memasaknya tadi. Songjin hanya diam dan menyibukan diri pada piring terakhirnya.

Kyuhyun berjalan menuju kulkas dan mengambil sekaleng bir. Ujung manic matanya masih memperhatikan istirnya yang sejak tadi hanya diam tak menggubrisnya lalu tiba-tiba saja malah pergi meninggalkannya.

“ah—Jinjja! terserah kau lah!” Kyuhyun mendengus kesal. Mengembalikan bir ditangannya kedalam kulkas lagi dan berjalan menuju kamarnya.

“Mwo? Ya! kenapa dikunci pintunya?! Yaa! Songjin! Aku mau tidur buka pintunya!” Kyuhyun menarik kenop dari pintu besar dihadapannya yang baru saja diamankan oleh songjin.

Tak lama waktu berselang, pintu dari kamar sebelah yaitu kamar Hyun Gi terbuka. Putra semata wayang nya itu sudah menggunakan piyama superman favoritnya. Sambil memeluk sebuah guling Hyun Gi berjalan seakan ia sama sekali tidak melihat keberadaan Kyuhyun disana.

“Eomma! Aku mau tidur dengan Eomma!” ucap Hyun Gi mengetuk pintu besar didepannya. Hanya perlu dua ketukan untuk Songjin agar membukakan pintu.

Kyuhyun tersenyum sumringah saat kembali melihat wajah Songjin. “Appa tidak boleh tidur dikamarku!”

“Cih! Appa tidak tertarik dengan kasur mobil-mobilanmu yang sempit itu!” Kyuhyun mendegus mencibir putranya. Tidak tanggung tanggung. Pria tinggi itu menjulurkan lidahnya pada Hyun Gi membuat putranya semakin kesal.

“aku juga sedang tidak tertarik tidur denganmu.” Putus Songjin cepat. Gadis itu menyerahkan paksa selembar selimut dan sebuah bantal pada Kyuhyun.

“Y—ya! kenapa memangnya?! Enak saja! kenapa aku ditendang dari kamarku sendiri?!”

“karena kau menyebalkan hari ini. itu saja.”

“menyebalkan apanya?”

“Appa genit! Sudah kubilang aku menyukai Eun Ji!! Kenapa Appa juga menggoda—“

“MWO? Menggoda? bocah ompong itu? Yaak! Appa sama sekali tidak tertarik dengan gadismu itu ambil saja ambil.  lagipula, Jangan salahkan Appa kalau Appa terlihat lebih tampan darimu lalu Eun Ji jadi tertarik dengan Appa bukan denganmu!” runtuk Kyuhyun benar-benar kesal. “lagipula kau pikir berapa usiamu? Hanya Eun Ji yang kau pikirkan. Menggelikan sekali! Sudahlah—hentikan omong kosong ini! aku lelah, minggir!” Kyuhyun memaksa masuk kedalam tapi Songjin dan Hyun Gi mengadangnya.

Seakan telah memiliki sebuah kolaborasi yang baik. Keduanya sama-sama menutup jalan agar Kyuhyun tidak dapat masuk kedalam kamarnya sendiri.

“Chagi,” Kyuhyun menyerah dan akhirnya memohon pada Songjin. Tapi sialnya, istrinya itu malah menggeleng, “kau tadi akan mengatakan pada Eun Ji kalau masakanku tidak enak kan? Iya kan?” todong Songjin tiba-tiba.

Kyuhyun menjadi gugup seketika, “i—itu, tidak! sapi lada hitam mu enak kok.” Kyuhyun tersenyum canggung. Terlihat jelas jika pria itu bahkan memaksakan senyumannya hanya agar songjin terkesima dan mengijinkannya masuk.

“tapi?”

“Tapi?”

“iya tapi kenapa?”

“tapi kenapa? aku tidak bilang ada tapinya— tapi..” Kyuhyun berkata mengambang. Sejenak membuatnya berfikir. Tapi apa? “tapi lada hitamnya sedikit terlalu banyak.” Ucap Kyuhyun kalah pada akhirnya dengan bahu terkulai lemas.

“sedikit atau terlalu banyak?” Songjin menerjang lagi.

“sedikit terlalu banyak—“

“ayolah. Sedikit apa terlalu banyak. Jangan plin plan begitu Cho Kyuhyun—sialan!”

Kyuhyun mendelik tak percaya. Bahkan Songjin dapat bicara begitu saja tanpa melihat bahwa putranya berada tak jauh darinya.

Kyuhyun melotot dan mengarahkan pandangan matanya pada Hyun Gi—lalu kembali pada Songjin, hanya untuk memperingatkan Songjin bahwa bocah itu bisa saja meniru apa-apa yang mereka katakan dan lakukan mengingat usia yang masih begitu muda.

Songjin menggidikan bahunya tak perduli dan terus mencecar Kyuhyun dengan tatapan tajamnya. Hingga pria itu mendesah panjang merasa kalah, “Arrasseo Arrasseo. sapi Lada hitam mu terlalu banyak pedas. Lada nya terlalu banyak. Sapinya jadi pedas. Aku pikir Eun Ji akan sakit perut kalau memakan makanan pedas begitu. kau tidak mau orang tuanya protes kan karena anaknya tiba-tiba sakit pencernaan setelah makan dari tempat kita?”

Songjin menarik sebuah ulasan senyuman sinis dan melipat dua tangannya puas, “jadi tidak enak?”

“Lho? Aku tidak biacara begitu. aku hanya bilang terlalu pedas.”

Kyuhyun menjelaskan pada Songjin tapi kemudian pria itu mendesahkan nafas putus asanya. Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi, “Arrasseo. Kau memang mau menendangku. Aku tidur diluar. puas, hah?” Kyuhyun bicara sambil berjalan menjauh menuju sofa.

“Rasakan Appa!” Sorak Hyun Gi penuh kemenangan melihat Kyuhyun akhirnya melenggang pergi.

“awas kau besok! Appa tidak belikan PSP baru yang kau minta!”

“Cih! Siwon Ahjussi sudah membelikannya,Weee!” Hyun Gi menjulurkan lidahnya panjang-panjang, lalu menutup pintu setengah membanting.

“Sialan. kenapa dua orang itu mirip sekali sih?”

 

END 😀

 

209 thoughts on “Missing [Part 18] END

  1. hoho…d sni hyun gi dh tk?? eomma n ank kompak bnget…kyu d depak dr kmrny sndri..kkk
    yg bgian bngun pgi seru abies..ck siwon puas bngt godainny..hahaha…songjin syng ga tau…
    trus yg ngirimin bunga kira” sp y?? pa para ortu kyujin y??? kyu yg mank kliatan t*l*l klo nyangkut songjin jd ruz d pancing”..ckck
    seru abies dr awal mpe akhir..
    kirany bkal da anggota bru g y d kluarg cho ni???

  2. Hahaha lucu liat hyungi jealous sm bpknya sndr hahaa
    Akhirnya si gyuwon sm siwon jd jg itu dua org wkwk tp kasian donghae gak ada pasangannya hehe abang hae sm aku aja

  3. Pingback: Rekomendasi Fanfiction Part 2 | evilkyu0203

  4. akhirnya selesai baca juga … mian enga bisa komen satu2 … sumpah ini ff terkeren yg perna adh … enga bisa ngomong apah2 dahdisini kita ketawa bacanya kaerena sifat songjin yg luar biasa bin ajaib yg bisa membuat kyuh kelimpungan abisss bisssss 😂😂😂😂😂 … anaknya pun sama sama2 konyolllllll ahh kyuh sabar yh … semngat buat ff nya karena ini karya yg luar biasa abisssss

  5. Nyampe juga akhir cerita..
    Seru kok dari awal yang masih abu abu trus muncul fakta2 tntang kehidupan mereka,sampe dengan akhir cerita terkuak(?) semuanya.. 😀 😀
    menurutku,semuanya diringkas dengan cerita yang pas,,

  6. siwon m gyuwon gmna?? gyuwon smbuh kan? itu itu.. yg pasword laptopnya kyuhyun knapa pke nama cho gyuwon jg blm dbahas sma video yg ada dlaptopnya..
    eh itu jg sma video.ani mksdnya memcard yg isinya video yg dksh kyuhyun jg blm dibahaas…
    aaaaahhh.. ara2.. apa dbhas di epilog2 ntu ya?
    oke2..
    keep writing ^^

  7. Ff ini kereeeeen… :-*
    Kadang bikin aku kesel sendiri sama sikap kyuhyun di beberapa part. Kadang juga bikin ketawa kaya orang gila. Seharusnya genrenya ini di tambah comedy.
    Aku suka pasangan ini (kyujin maksudnya) 😀

  8. sukaaaa banget ceritanya….
    ini komenku masuk ga ya….
    pokonya suka ama ini keluarga ..tpi plis cho kyuhyun jgn rebut calon pacar anakmu…hahahah
    itu ketampanannya dikurangi dikit kalau ada inceran hyun gi…hahaha

  9. Akhirnya ending … aku suka ma ff nya .. kyu disukai calon pacar anaknya, hyun gi cemburu songjin juga marah ma kyu karna bilang masakannya gak enak.. eomma sama anak emang kompak … mereka keluarga gokil… authooor jjang keep writing thorr

  10. akhirnya berakhir dgn happy anding,,,mdh2 rumah tangga mereka sllu bahagia,apapun masalah yg mereka hadapi kelak mereka bs menyelesaikannya dgn kpl dingin,,,terimakasih kak ceritanya keren bgt,ttp semangat utk buat ff ya kak..

  11. selama ini berfikir gyuwon adalah perusak suasana, ternyata salah kaprah. Dia ga sejahat itu, bahkan dia baik dg berusaha bantu kyuhyun nyatain perasaannya ke sang istri. Dan surprise di akhir part bener-bener bikin faham atas semuanya, jadi aslinya yang pengusaha itu siapa dan siapa yang berhak.

  12. Suka bgt sama cerita ini sama couple ini semua muanya ttg ff ini. Bisa mancing emosi kadang kesel bgt kadang sedih bgt pengen nangis kadang senyum2 sendiri aaaaah ini karya yg sangat bgs.

  13. Daebak daebak daebak 👏👏👏
    Suka bnget n gag pernah bosen bca ffnya unnie..
    Bikin Baperrr..
    Rasanya campur aduk waktu bca ini crita mulai dri senyum” sendiri,romanticnya, smpek yg bikin nyeseekk feelnya dapet banget..
    Pokoknya unnie jjang 👍👍
    Fighthing unn ^^

  14. Akhirnya ending juga..
    Menurutku ceritanya seru .. kyuhyun yg cuek banget ga peduli .. songjin yg ceria sedikit childish .. pasangan yg aneh tpi bikin ngangening .. 😀😀😀😀

  15. Aaa… Finnaly happy ending. Tapi ttp aja kan perjalanan mereka masih panjang…. Tapi kak galuh sukses bikin aku iri bgt sama songjin😅

  16. Akhirnya Happy Ending jugaa..😀
    suka banget sama cerita ini…walaupun fiksi tapi cerita yang disungguhkan gak terkesan lebay…
    “feel”nya juga dapet banget… sering bikin baper malahan..😁😁😁
    Keren banget😀😀😁😁
    semoga bisa dicetak dalam bentuk buku/novel yaa😀😀
    Keep writing 😀😀😀

  17. End …..
    Adegan kissing KyuWon gak kebayang dech …. trus yg di RS pas Siwon nglamar Gyuwon , kya rentenir nagih utang ke konsumen 😂😂😂

  18. Hahaha kyuhyun anakmu bahkan lebih evil dari dirimu wkwkwk tapi masih belum ada kejelasan ya siapa pengirim mawar putih itu 🤔🤔 jadi end nya seolah menggantung

  19. YA iya lah mereka mirip ….. mereka kan ibu dan anak 😂😂😂😂

    Sabar ya Kyu, dapet saingan berantem lagi 😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s