[KyuJin Series] I Thought I Lost You


Author : GSD

Title : I THOUGHT I LOST YOU

Cast : Cho Kyuhyun, Cho Songjin, Choi Siwon, Choi Gyuwon, 

Rating : G

Length : Oneshot

Notes : this is really a longshot story. hope you guys don’t feel bored  ^^v

“Don’t Go Away, I Need You” 

“Bicara!” suara berat Kyuhyun terdengar mendominasi. Setelah keheningan benar-benar mengisi bukan hanya pada ruang makan pada bangunan luas itu, tapi juga nyaris seisi rumah.

Tepatnya sudah hampir satu pekan, Songjin melakukan aksi bungkam. Wanita itu menjadi tidak seperti biasanya, karena hanya berbicara satu-dua patah kata saja. suasana menjadi sepi—seperti tak berpenghuni. Hutan pun masih lebih  baik karena menyimpan beberapa hewan bersuara.

Alasan sepele yang mendasari adalah karena nyaris satu bulan ini, Kyuhyun selalu pulang terlambat tak seperti biasanya.

Entah karena sering pulang terlambat, atau fakta bahwa ia sering merasa terabaikan karena hal tersebut, masih membuat Songjin merasa rancu.

Bukan apa-apa, bagi Songjin, tak masalah pada awalnya. Wanita itu cukup sadar bahwa suaminya adalah seorang pebisnis besar super sibuk. Tapi menurutnya, dalam kurun waktu tiga minggu selalu pulang dipagi buta, apa itu tidak keterlaluan?

Mungkin tidak akan terlihat begitu parah jika bau Alkohol tidak juga ikut menyapa indra penciuman Songjin.

Songjin menahan nafasnya kuat-kuat dan berusaha menghembuskannya perhalan secara normal. Wanita itu terlalu kentara, menutupi bahwa sebenarnya ia ingin mengamuk.

Jika kekuatannya sebesar hulk, mungkin meja makan berbahan dasar kayu ek ini sudah dijungkir balikkannya sejak tadi saat awal ia memaksakan diri untuk berada diruang makan demi menjalani makan malam bersama, yang sudah begitu lama dilewatkannya.

Yang dikiranya akan membuatnya senang karena Kyuhyun akhirnya ‘kembali’, tapi siapa sangka suami tercintanya itu malah makan ditemani sebuah Laptop disampingnya.

Mulut sibuk mengunyah, tangan sibuk bergriliya diatas benda berteknologi canggih tersebut.

“Ayo Bicara! Ada apa sebenarnya? ada kesulitan di Pekerjaanmu?” Tanya Kyuhyun pada Songjin. Tangannya masih sempat mengiris potongan daging—menu makan malamnya.

Songjin hanya dapat melirik sekilas Kyuhyun, sebelum kepalanya semakin tertunduk rendah. “Tidak.” Jawabnya singkat.

“lalu? —kau butuh sesuatu?”

“Tidak.”

Nafas Kyuhyun tertahan. Jika dilepas begitu saja, mungkin akan terlihat seperti banteng karena ia benar-benar sedang menahan amarahnya. Kepalanya kembali dibuatnya berfikir keras tapi ia tidak menemukan satupun jawaban.

Erangan putus asa meluncur begitu saja sepersekian detik setelahnya. Kyuhyun menangkupkan dua tangan besarnya untuk menutup wajahnya sesaat. “Jadi apa aku baru melakukan kesalahan lagi?” Geram Kyuhyun kesal. Pria itu cerdas, tapi tidak cukup cerdas untuk sadar bahwa Istrinya sedang dalam mode merajuk.

Kyuhyun sama sekali tidak dapat menikmati makan malamnya. hal yang dikiranya akan terasa menyenangkan karena telah terlewatkan cukup lama kembali lagi. rasanya, sia-sia ia menunda menyelesaikan beberapa pekerjaannya tadi dikantor, hanya untuk dapat melakukan makan malam yang dikiranya akan menyenangkan.

Setelah Idenya untuk merealisasikan proyek baru-nya di Miami, hampir seluruh waktu Kyuhyun nyaris tersita oleh hal baru itu. ia terobsesi seperti orang gila. Seakan hal tersebut adalah satu-satunya hal terakhir yang dapat dilakukannya sebelum Nyawanya tercabut.

Lagipula, siapa yang dapat menghentikan seorang Cho Kyuhyun jika pria tinggi itu sudah memiliki keinginan?

Untung saja beberapa hal dapat membuat akal sehatnya tetap berjalan dengan benar, dan menyadari bahwa pencapaian kesuksessan pekerjaan bukanlah hal yang paling utama baginya saat ini, Tapi wanita yang sedang mengandung Bayinya sekarang.

Jangan ditanya bagaimana rasa remuk yang Kyuhyun dapat selama ini pada tubuhnya. ia hampir tidak pernah tidur, Jika Songjin belum meneriakinya, bahkan menyeret untuk beristirahat. Tapi bukan Cho Kyuhyun namanya jika menjadi penurut begitu saja.

Pada akhirnya, pria itu hanya beristirahat selama satu sampai tiga jam saja perharinya. Hanya untuk Proyek sederhana dalam hal pariwisata yang ia kembangkan di Pulau kecil itu.

Kyuhyun meletakkan pisau garpunya kasar. Setengah membanting, hingga suara tubrukan, antara alat makan dan kaca pada meja terdengar nyaring. Songjin sedikit bergerak dari tempatnya karena terkejut. Tapi Kyuhyun sama sekali tidak mengindahkannya, dan terus memandangi wanita dihadapannya geram.

Geraman Kyuhyun semakin nyata saat Songjin—satu-satunya orang yang sedang diajaknya bicara tetap pada aksi bungkamnya. Istrinya itu, hanya diam—merunduk memandangi mangkuk nasi miliknya, yang sebenarnya tidak benar-benar sedang disantapnya.

Makan malam Songjin masih utuh. Daging sapi lada hitam yang dipesannya dari bistro tadi sama sekali belum disentuhnya satupun. Dan satu-satunya yang masuk kedalam perutnya malam ini, hanyalah beberapa butir nasi dari dalam mangkuknya.

Yang terpaksa dimakannya, saat ia memperhatikan Kyuhyun hanya sibuk dengan laptopnya. Sekedar membuat kesibukan pada mulutnya, dari pada harus menegur dan berakhir dengan mengomel, lalu membuat keributan.

Mata Songjin terus menatapi mangkuk, seperti mangkuk itu lebih menawan dibandingkan wajah sang suami.

“Songjin..” Kyuhyun bicara lagi. kini nadanya menjadi lebih rendah. Tapi rasa kesal masih terlalu nyata dan seperti tak dapat ditutupi. “aku tidak memiliki kemampuan membaca bahasa kebathinan, jadi tolong bicara. Demi Tuhan, kau membuatku seperti orang gila jika terus diam seperti ini! sudah kukatakan, Jika ada sesuatu, bicara! jangan hanya diam! diam tidak pernah menyelesaikan apapun!!”

Kyuhyun mengerang. Ia mengacak wajahnya frustasi. Istrinya masih saja tak ingin bicara. Entah tidak ingin atau tak berani, karena Kyuhyun sudah lebih dulu meledak-ledak sebagai awalan perbincangan mereka.

“Songjin…”

“………..”

Kyuhyun menghela nafas dan membuangnya kasar. Ia memandangi sekitaran dapurnya yang bersih dengan dominasi warna hitam dan putih. Sangat tenang, dan bersih. Jelas terlihat sepertinya Songjin tidak masuk kedapur selama beberapa waktu belakangan ini. Dan entah bagaimana, kenyataan itu seperti menamparnya. Membuatnya semakin stress entah karena apa.

Biasanya, setiap pulang kerja Songjin selalu menyambutnya dengan racun anehnya. Dan mencekoki Kyuhyun dengan hal mengerikan itu sampai Kyuhyun lemas tak bertenaga, karena berjuang setengah mati untuk menolak.

“Songjin!”

“Aku harus bicara apa?” Kyuhyun bergeser dari tempatnya saat Songjin bersikap diluar perkiraannya. Wanita itu tiba-tiba saja bangkit sambil menghentakan alat makannya diatas meja lebih kasar darinya tadi.

Matanya memerah. Sebentar lagi pasti akan ada sesuatu keluar dari sana. Satu tangannya mengepal, tanda wanita itu sedang menahan amarah. “kau pikir enak bicara lalu diabaikan? Untuk apa sebenarnya kita makan malam bersama kalau kau hanya sibuk dengan pekerjaanmu lagi? lagi pula, kalau kau belum tahu, biar kuberi tahu, sejak kemarin pun aku tidak sedikitpun bernafsu untuk memasukan apapun kedalam tubuhku. Aku kira ini akan jadi menyenangkan! Lalu, apa dua belas jam dikantor, masih belum cukup untukmu dan pekerjaanmu? Serakah sekali!!”

Songjin menarik nafasnya dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan banyak oksigen dan mulutnya kembali terbuka, “aku tidak tahu apa yang ada didalam kepalamu, sebenarnya. aku tidak akan memaksa, tapi kalau kau lupa, biar kuingatkan lagi. kau melupakan beberapa janjimu sendiri. sayang sekali aku lagi-lagi percaya bahwa kau akan berubah. Kukira, kau akan belajar dan tidak mengulangi kesalahanmu. Aku menunggumu hampir tiga jam, didepan rumah sakit, tadi sore. kau ingat?” Mata Songjin memicing.

Kyuhyun menggerakan bola matanya, berfikir. Tak berapa lama, kutukan keluar bagi dirinya sendiri. benar-benar tolol! “Itu—“ Ujar Kyuhyun menggantung. Dia salah. Dia lupa.

Masalahnya, apa kesalahan daya ingat seperti itu dapat dipersalahkan begitu saja? Manusia memang seperti itu kan? Pelupa?

“Aku.. Tadi sore.. bertemu.. Hm..” Kyuhyun kembali mengingat keberadaan dirinya pada pukul 3sore saat janjinya untuk mengantar Songjin menemui dokter kandungan.

Ia sedang di café. Posisinya memang sedang dicafe. Tapi toh, disana ia bukan sedang bersantai seperti kebanyakan orang. Ia sedang melakukan perbincangan dengan perwakilan orang, yang akan membantu mengurus proyeknya, dalam pembuatan Hotel bintang lima di Miami.

Oke. Dia salah. Kyuhyun salah. Itu sudah harga mati.

Bahunya yang menegang kini terkulai lemas, “Arrasseo, aku lupa. Maaf—“ ujar Kyuhyun lirih. Tapi Songjin malah mendesis sinis memandangi suaminya geram, “Lupa? Maaf? Hah—“

Songjin bertolak pinggang. Emosinya kembali naik. Kepalanya berdenyut begitu kuat dan rasa mual lagi-lagi mengganggunya. “Tck, aku kasihan denganmu. Usiamu masih belum masuk setengah abad tapi daya ingatmu lemah sekali. Dan apa tadi kau bilang? Maaf? Hah—“

Songjin menggeleng tidak habis pikir. Memandangi Kyuhyun dari atas hingga kebawah dengan tatapan tak mengerti. Ia tak mengerti hal konyol apa sebenarnya, yang bersarang pada tubuh seorang Cho Kyuhyun.

“kenapa kau selalu mengatakan Maaf? Hanya maaf? Aku—bosan mendengarnya. Kau tahu rasanya bagaimana saat kau benar-benar bosan dengan hal yang sama terus terjadi berulang-ulang, dan membuatmu tampak bodoh?” tukas Songjin mengutarakan kekecewaannya. Air matanya, yang tadi mati-matian ditahan, kini perlahan turun. “sudahlah.” Ucapnya semakin pelan, “aku tidak perduli lagi. terserah kau saja. aku…lelah.”

Cho Kyuhyun Point Of View

Ada kegaduhan yang kudapat sesaat setelah mataku terbuka. Kukira ini masih pukul enam atau tujuh pagi. Karena langit masih tampak gelap. Tidak ada cahaya matahari yang membangunkanku seperti biasanya.

Tapi ternyata aku salah. Mataku membulat sempurna saat mendapati sekarang sudah pukul setengah sepuluh! Aku terlambat!

Kalau hanya terlambat datang ke kantor itu tidak masalah. Tidak akan ada yang perduli bahkan jika aku tidak datang.

Masalahnya, aku sedang mengejar sesuatu! Hari ini ada beberapa berkas penting yang harus mendapat tanda-tangan Appa, dan aku harus melakukannya sebelum pukul Sembilan karena Appa harus pergi ke Jepang. Penerbangannya pukul sebelas!

Aku sudah menunggu Appa kembali sejak tiga hari yang lalu karena seminggu terakhir Appa berada di China. Permasalahan utama adalah karena berkas milikku itu harus mendapatkan tanda tangan Asli. Bukan Stempel seperti biasanya.

Sebenarnya bisa saja mengirimkan datanya melalui email, tapi tanda tangan asli itu tidak akan bisa kudapat dari email kan? Aku harus bertemu Appa hari ini pukul Sembilan! Dan sekarang sudah pukul setengah sepuluh!

Sialan! kenapa pula Jam weker di Nakas tidak menyala? Apa gunanya benda itu bertengger disana?

“Songjin!!” aku benar-benar kehabisan akalku. Wanita barbar itu tahu kalau aku harus bertemu Appa hari ini. beberapa hari yang lalu aku sudah mewanti-wantinya untuk mengingatkanku dengan hal ini.

Seharusnya tadi dia membangunkanku! Jinjja! dia pasti sama sepertiku, bangun terlambat! Bodoh sekali aku menggantungkan hidup dengan makhluk pemalas seperti dirinya!

“Yaak!” kubuka pintu Kamar mandi lebar-lebar. rasanya wajahku benar-benar telah memanas. Mulutku sudah terbuka lebar dan siap mengeluarkan suara, tapi sedetik kemudian kembali tertutup dengan cepat, saat melihat Songjin bersimpuh didepan closet. Wajahnya pucat dan keringat membasahi dahinya.

“W—wae? Waeyo?”

Secara reflex, tanganku terangkat untuk mengusap punggung-nya, tapi tiba-tiba saja ia mundur menjauh. Seperti aku adalah virus mematikan yang harus dihindari. Songjin bangkit dan berjalan menuju westafel tak jauh disisi kiri kami.

Nafasnya terengah setelah ia membersihkan mulutnya. “kau baik-baik saja?” tanyaku kembali mendekat. Menyandarkan punggungku, pada tembok dibelakangku.

Kali ini Songjin tidak menjauh, tapi membuang lirikan tajamnya untukku, “apa aku terlihat seperti baik-baik saja?” ia mengulang pertanyaanku kepadanya, kembali padaku.

Sebelum aku sempat menjawab, mulutnya sudah terbuka lagi, “Aku baik-baik saja. tenang saja. kalau kau khawatir. Mungkin.”

Ia bicara dengan nada sarkatis. Seperti aku adalah penjahat yang telah menyandranya didalam tempat ini dan ia tak bisa lari kemana-mana. Kenapa sekarang, aku jadi terlihat rendahan?

Kemarin dia membentakku semaunya, berteriak-teriak padaku, seperti orang gila. Walau bagaimanapun, aku ini suaminya! Harusnya, dia bisa bersikap lebih Sopan padaku.

Lagipula, bagaimana aku tidak Khawatir melihatnya seperti ini? dia terlihat kacau. Suami mana yang bisa diam saja melihat istrinya tampak kacau? Jinjja!

Kutarik nafasku dalam. Percuma mempermasalahkan hal ini dengannya. Perdebatan kami, tidak akan selesai sampai salah satu diantara kami ada yang pingsan kehabisan nafas.  “kenapa jam Weker mati?” Aku bertanya dengan nada rendahku.

“baterai-nya habis.” Jawab Songjin sambil berkumur-kumur asal. Oke. Baterai habis. “mana ponselku?” aku menadahkan tanganku.

Tubuh Songjin menjadi kaku selama beberapa saat. Mungkin ia terkejut karena hal konyolnya dapat kuketahui dengan mudah. asal tahu saja, aku tidak mengerti dengan wanita ini, apa Hormon kehamilan membuatnya menjadi lebih ganas?

Aku lupa sejak kapan, tapi Hobby barunya adalah menyelundupkan benda tipis milikku itu. entah apa yang akan dilakukannya dengan ponselku, tapi itulah yang dilakukannya hingga saat ini.

Atau dia ingin mengetahui, dengan siapa dalam satu hari penuh aku berkomunikasi? Apa jika dia menemukan wanita disana, maka wanita itu akan dibununya langsung? Tapi dia pun tahu kalau aku tidak semudah itu tertarik dengan seseorang!

Lagipula, toh selama ini walau menyebalkan, kukira istriku masih wanita terbaik yang bernah kudapat. lalu kenapa pula dia harus merasa kalut? Dengan menyandera ponselku setiap hari, itu tidak akan menjawab kegusarannya kan?

Mata Songjin lagi-lagi menghampiriku, sama sekali tidak bersahabat dan itu terlihat menyebalkan, “mana?” pintaku lagi.

“mana? Kenapa tanya denganku?”

“tentu saja aku bertanya denganmu. Selama ini kan kau yang selalu memegang ponselku! Dimana? Cepat! Aku butuh untuk menghubungi Appa.”

“Aku tidak tahu!”

Astaga! masih sempat bermain-main! “Ayolah cepat!!” desakku.

“aku tidak tahu! aku bilang aku tidak tahu!!”

“YAAAK! PARK SONGJIN! MANA PONSELKU?”

Nada tinggi begitu saja keluar tanpa kusadari. Tubuh Songjin mundur beberapa langkah dari tempatnya tadi. satu tangannya mengusapi dadanya. Ia memandangiku panic dan terkejut.

“kenapa harus selalu berteriak?”

“kenapa kau menyalahkanku? kau juga selalu berteriak! Kenapa aku tidak boleh melakukan apa yang kau lakukan?” protesku cepat, membalik keadaan. “Manaa? Mana ponselku mana?”

“Aku tidak tahu! kenapa kau terus meminta seperti itu? aku tidak memegangnya!”

“tidak memegangnya bagaimana?! Kau ini! kau kan yang biasanya—“

“tapi aku tidak memegangnya semalam! bagaimana aku bisa meminta ponselmu saat tadi malam kau membuat kita berdebat panjang? Ingat tidak? jangan tanya aku! aku tidak tahu apa-apa!!” Erang Songjin.

Dan seperti biasa, aku tidak pernah menyukai hal ini, tapi nyatanya sejak dulu Park Songjin selalu seperti ini, “tidak perlu menangis. aku bosan melihatmu menangis seperti orang bodoh! Ayolah! Kau bukan balita yang baru melakukan kesalahan dan menutupinya dengan menangis. hadapi masalahmu secara dewasa. kau bukan anak-anak lagi! katakan sejujurnya saja!”

“Jin—jja Kyuhyun-ah. Aku ttidak tahhh—u.” Songjin bicara terbata karena tangisannya. Aku hampir tidak mengerti sebenarnya, apa yang dikatakannya. air matanya semakin deras saja, seperti aku baru membuatnya tersungkur jatuh dan membuat kakinya lecet.

Author Point Of View

“WOW—“ Choi Siwon membulatkan bibirnya, saat mendapati Kyuhyun masih berkutat dengan laptopnya. Padahal jam kerja sudah habis sejak beberapa jam yang lalu. “sibuk sekali.” Goda Siwon pada adiknya.

Ia menerobos masuk kedalam ruang kerja Kyuhyun. matanya menyapu sekeliling ruangan, dengan dominasi warna hitam dan merah. Cho Kyuhyun tergila-gila dengan warna hitam. Hampir seluruh tempat miliknya, pasti memiliki unsur warna hitam didalamnya.

Kyuhyun tak bergeming dan hanya melirik Siwon sesaat, lalu kembali memandangi laptopnya. Pria itu bahkan tidak sadar jika Siwon sudah menarik kursi dan duduk didepannya.

“Ya~ santai sedikit. Miami-mu tak akan kabur. Sudah makan belum?”

Kyuhyun menggumam asal. Satu tangannya  menggosoki dagunya yang kasar karena lagi-lagi ia lupa untuk bercukur. Matanya sibuk memperhatikan tabel-tabel serta digit angka yang dapat membuat mata buta.

“aku tidak makan.” sahut Kyuhyun singkat, fokusnya masih pada pekerjaannya.

“aku tidak makan? aku tidak sedang menawarimu untuk makan, Hei! Cho Kyuhyun!” Siwon melambaikan tangan didepan wajah Kyuhyun hingga akhirnya pria tinggi itu mau tidak mau menolehkan wajahnya. “mwo?” tanyanya dingin.

“kau tidak gila kan?” cibir Siwon. Pria berlesung pipi itu benar-benar tidak habis pikir dengan adiknya. Pertanyaan singkat yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya itu sengaja diulangnya, hanya untuk membenarkan semua keluhan Songjin beberapa saat yang lalu.

“kubilang, Miami-mu tidak akan kabur. Get a life! Kau seperti orang aneh yang selalu hidup ditengah buruan waktu! Ini seperti bukan kau?!”

“Hyung! ini kesempatan! Kau tidak akan mendapatkannya lagi bahkan dalam kurun waktu dua abad! Ayolah—akui saja! jika proyek ini berhasil, bayangkan keuntungan apa yang akan kita dapat!”

Kyuhyun berseru. Berapi-api saat menjelaskan proyek Miami-nya. Proyek sederhana yang menyedot hampir seluruh waktu dan hidupnya. Ujung bibir Siwon tertarik tinggi. Memandang Kyuhyun tanpa kegetiran.

“keuntungan?” Siwon berucap singkat. Kaki jenjangnya ditekuk sebelum ia melanjutkan kalimat lainnya,  “Tsk! Kyuhyun-ah, Kau bicara seperti selama ini kita terlihat kekurangan pendapatan saja!” cibir Siwon geli, sekaligus menyindir sebenarnya. jika orang didepannya cukup cerdas dan dapat merasa bahwa ia sedang disindir. Nyatanya, tanpa harus menggila seperti ini, perusahaan mereka telah maju begitu pesat pada segala bidang.

“Aniyo—ini bukan hanya soal keuntungan. Tapi kesempatan. Sebenarnya, aku hanya ingin mengambil kesempatannya saja. tidak mudah membuat sesuatu ditempat itu kau tahu sendiri kan? Pemerintahan disana mengikat arus pariwisata bagi orang setempat saja. kalau aku berhasil masuk, aku adalah orang asing pertama, yang dapat mendirikan sesuatu disana.”

“dan namamu menjadi tinggi—“ tebak Siwon cepat.

“itu keuntungan kesekian yang akan kudapat.”

“Geure.” Siwon mengangguk. Membenarkan pendapat Kyuhyun. satu-satunya asalan mengapa Kyuhyun menggila, hanya untuk mendapatkan pengakuan, yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkannya karena namanya pun telah besar tanpa harus seperti ini.

Tapi itu Obsessi. Bukan salah siapa-siapa jika rasa seperti itu tiba-tiba muncul. Lagipula, toh dia sendiri pernah melakukan hal yang sama saat memegang Proyek casino di Las Vegas.

Siwon tersenyum kecut pada Kyuhyun. memperhatikan pria tinggi dihadapannya—membuatnya geli. Penampilan Kyuhyun tampak kacau. Terlalu kacau sebenarnya. Jas yang tadi pagi dipakainya kini sudah tergeletak asal di sofa.

Dua kancing teratas pada kemeja Kyuhyun telah tanggal. Lengannya tergulung sampai siku dan rambut yang selalu ditatanya rapih untuk dikantor sekarang sudah rusak, berantakan.

Kaca mata berbingkai hitam menggantung diatas hidung mancung Kyuhyun. sebenarnya membuatnya tampak lebih tampan seribu kali. Dengan penampilannya seperti ini, Siwon pun yakin dalam sekali kedip Kyuhyun dapat menyeret seluruh gadis didalam club malam dipersimpangan jalan dekat kantornya.

“kau belum makan, kan? Makan dulu. jangan sampai sakit.”

“aku baik-baik saja, Hyung. Jangan terlalu menghkawatirkanku. Aku bukan bayi.” Remeh Kyuhyun acuh. Tak sadar jika Siwon sedang menertawainya sebagai cibiran, “siapa yang bilang padamu, aku khawatir? Oh—kau mau tidak makan satu tahun penuh pun aku tak masalah. Siapa yang perduli?” erang Siwon santai.

Dua tangannya ia simpan didalam saku. Ia berdiri tegap memperhatikan Kyuhyun dan ‘teman kencannya’ itu.

Kyuhyun mengadahkan wajah menatap Siwon angkuh, dan tak lama kemudian mendesis sinis, “bukan aku, tapi Songjin. Kalian bertengkar lagi?” tanya Siwon santai.

Seperti kata lagi adalah hal termembosankan bagi telinganya, untuk pasangan Kyuhyun-Songjin. Lagi? bertengkar? Ahh— bahkan dalam kisah Tom and Jerry pun, masih memiliki tingkat akur, lebih sering dibanding pasangan ini.

Kyuhyun menggeleng sambil tertawa sinis, “kapan dia tidak mengadu dan bersikap dewasa?” gumam Kyuhyun. jemarinya kembali sibuk dengan tombol keyboard. “dia baru saja menghilangkan ponselku, Hyung. jangan selalu bela dia. dia tidak bisa belajar untuk bersikap lebih dewasa nanti.” Toreh Kyuhyun. disahuti kerutan kening pada wajah Choi Siwon.

“Well—dia seorang wanita, yang sedang berkelahi dengan pria. Dia adik iparku. Satu-satunya temanku. sepertinya sangat wajar kalau aku ingin membela wanitaku.”

Kyuhyun dengan cepat mengerling, “wanitamu?”

“sejak dulu sampai sekarang. pernihakanmu dengannya tidak akan merubah hal yang terjadi diantara kami kan?”

Kyuhyun tersenyum sinis dan menggeleng. Memandangi kakaknya konyol, “kau ini. bicara seperti kalian adalah pasangan sejati saja. menggelikan sekali.” Tukas Kyuhyun santai. “lagipula, kami bukannya sedang berkelahi. Hyung, aku sedang mengajarinya untuk bersikap lebih dewasa. dia terlalu kekanakan. terlalu sering dimanja, jadi seperti itu.” lanjut Kyuhyun tegas.

Siwon diam dan hanya mencebikan bibirnya memandangi Kyuhyun seksama. Dasar keras kepala! Berdebat dengannya tak akan menyelesaikan masalah. Tapi kali ini Siwon benar-benar ingin meladeni Cho Kyuhyun berdebat!

“kalau kau belum tahu, biar kuberi tahu. sebenarnya dia tidak mengadu kepadaku. walaupun sebenarnya, tak masalah bagiku kalau dia ingin mengadu. Aku yang memintanya bercerita. Karena kukira akhir-akhir ini Songjin terlihat berbeda. Entah hanya aku yang merasakannya, atau sebenarnya, kau juga merasakannya, tapi kau terlalu gengsi untuk mengakuinya. Aku tidak perduli. membicarakanmu—kau, sudah menjadi topic hangat pembicaraan kami saat kami bepergian ke rumah sakit. Oh, begini, mungkin kau lupa. Setiap dua pekan, Songjin memiliki jadwal tetap untuk memeriksakan kandungannya. Kandungannya tidak bermasalah. Aku harap seperti itu. sepertinya hanya Songjin lah yang bermasalah. Adik Iparku itu, Sembilan hari yang lalu jatuh dari tangga. tidak sengaja terpeleset. tolong ingatkan untuk Songjin agar tidak menggunakan sepatu hak tinggi lagi selama dia mengandung. Haah, Jinjja! Untung saja Eun Soo—“

“Tunggu, Jatuh dari tangga? terpeleset? maksudmu?” Kyuhyun memutus dengan cepat. Fokusnya langsung pecah pada saat yang bersamaan. “Hyung, kau—“

“kenapa? tiba-tiba kau jadi tertarik dengan ceritaku?” sindir Siwon merasa menang. 1:0 point mereka saat ini.

Satu alis Siwon terangkat tinggi. Jarang-jarang dia dapat memenangkan sesuatu dari seorang Cho Kyuhyun. “aku tidak.. maksudku—Hhh—“ Kyuhyun mengerang frustasi. Mengacak wajah dan rambutnya. “bagaimana bisa?”

Siwon menggeleng pelan, “tanya sendiri saja. aku tidak berminat untuk menjelaskannya secara rinci. Aku hanya ingin kau merasa tidak enak hati karena telah membiarkan Songjin begitu saja cukup lama. maksudku—Songjin bukan pajangan rumahmu kan?”

“Hyung—“

Siwon menggeleng cepat. Memberikan tanda bahwa ia menolak untuk bicara lebih panjang lagi mengenai hal barusan. Satu tangannya terulur keluar dari saku celana dan meletakkan sesuatu yang sudah ia pegang sejak pertama tangannya masuk kedalam sakunya.

“Omong-omong, Ponselmu tidak hilang. Kau—hanya meninggalkannya diruang rapat. Min Ji yang menemukannya tadi pagi. Lain kali, jangan ceroboh dan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu, Oke?”

Kyuhyun membelak terkejut. Pandangannya tertuju pada gadget hitam, tipis diatas berkas-berkasnya. Sepersekian detik kemudian, Kyuhyun merasa sesuatu yang ganjil dari dalam hatinya.

Seperti ada yang menggerus, hingga membuatnya menjadi ngilu, “Kukira seseorang perlu belajar untuk bersikap lebih dewasa kali ini.” Siwon berujar. kali ini bicara pelan bernada begitu rendah.

Seperti ingin mengatakan jika Kyuhyun berani macam-macam lagi, maka tamatlah riwayatnya.

Siwon menegapkan tubuhnya kembali dan tersenyum lebar, “Oh iya, dan aku ingin memberitahukanmu. Gyuwon, Songjin, dan Eun Soo akan ke Roma. Winter Vacation—atau apalah itu aku tidak paham. Hal-hal wanita. Lusa. sebenarnya Songjin sudah kupeirngatkan untuk memberitahukanmu dulu. tapi sepertinya, dia tidak berani. dia bilang kau galak sekali seperti macan sekarang, Haha!! Geure. Aku pulang dulu. selamat bekerja lagi, adikku sayang!”

Siwon melambai penuh kemenangan. Point mereka kini, 2:0!

** **

Kini Songjin terdiam ditempatnya. Satu tangannya memegang posel miliknya, dan satunya lagi menggenggam tas kertas cokelat berisikan ponsel baru.

Rasa bersalahnya yang menggunung, memaksa dirinya untuk mendatangi satu dari sekian banyak toko yang menjual alat komunikasi tersebut didaerah Myeongdong saat ia sedang berjalan-jalan sendiri.

Seseorang baru saja memberikan bangku untuknya duduk. Sekedar mengistirahatkan kaki karena tidak baik jika wanita hamil berdiri terlalu lama. apalagi saat seeprti ini, saat hujan deras sedang mengguyur kota Seoul tidak akan dipastikan akan berapa lama Songjin berdiri.

Songjin hanya dapat pasrah memperhatikan rintikan hujan turun bertubi-tubi. Tubuhnya sudah sangat lelah. Dia ingin segera pulang, tapi ia tertahan dikedai ramyeon kecil itu sendirian.

Rasa sesalnya semakin menggunung saat ingat bagaimana ia menolak Gyuwon tadi. sebelum memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri, Gyuwon sudah lebih dulu menawari diri untuk menemani Songjin, sebenarnya.

Tapi Songjin menolak karena tak ingin merepotkan. Bukan apa-apa, masalahnya, Gyuwon cukup sadar bahwa Songjin, Si wanita hamil, tidak bisa dibiarkan sendirian begitu saja. wanita itu pun paham bahwa langit sudah menghitam. Tak lama lagi, pasti akan turun hujan lebat.

Songjin membuang nafasnya berat. Dia bingung ingin menghubungi siapa. tapi siapapun itu, jelas Kyuhyun tidak akan masuk dalam daftarnya. Nama suaminya itu sudah tercoret sejak awal ia membuat daftar didalam kepalanya, tak perlu kembali dijelaskan karena alasan apa.

Kandidat awal adalah Siwon. Tapi Songjin merasa tidak enak karena selalu merepotkan Siwon belakangan ini. Siwon sudah seperti bodyguardnya. kemana-mana, Songjin selalu menyeret Siwon.

Bahkan untuk menemaminya datang memeriksakan kandungan, sampai pegawai rumah sakit berfikir bahwa Siwon adalah suami Songjin. Sialnya, Songjin tidak dapat mengelak karena memang mata tak bisa bohong.

Semakin lama, mereka akan terlihat seperti itu kalau Kyuhyun terus mengabaikannya.

Kandidat kedua adalah Ayahnya sendiri. tapi dia baru ingat beberapa saat yang lalu kalau Ayahnya sedang berlibur bersama Ibunya di Macau, sekaligus untuk merayakan ulang tahun sahabat mereka.

Songjin tidak memiliki banyak teman. Deretan kandidat terasa pendek baginya. Tadi dia sudah menelepon Henry. Asisten Kyuhyun yang imut itu bersedia menjemput Songjin, tapi dia meminta Songjin menunggu sampai hujan reda. Karena Henry tidak memiliki mobil. Satu-satunya kendaraan yang ia miliki hanyalah motor Sport besar yang dibelinya dengan uang pertama gajinya dulu. percuma, itu artinya Sama saja. Hujannya terlalu lebat dan Songjin tidak tahu sampai kapan hujan akan terus mengguryur.

Henry menyarankan Eun Soo saja. tapi sudah dihubungi berjuta-juta kali, Eun Soo tidak juga menjawab. Entah sedang menangani pelanggan, atau gadis itu tiba-tiba pingsan terjeledak dilantai?

Pilihan terakhir hanyalah Donghae. Itupun tidak seratus persen membuatnya yakin, karena Lee Donghae sangat sibuk akhir-akhir ini. selain pekerjaannya, dia juga sedang menempuh pendidikan doktor nya di Seoul University.

Bayangkan bagaimana Sibuk seorang dokter yang juga bersekolah lagi? Songjin hanya dapat menghela nafas putus asanya jika membayangkan hal tersebut.

Tapi dicoba dulu tidak ada salahnya. Kalaupun Donghae tak bisa, pilihan terakhirnya hanyalah menikmati ramyeon di kedai ini, sampai hujan reda.

“Ya, Songjin?” Sapan lembut suara Lee Donghae membuat Songjin tersenyum geli. Pria itu bahkan menyapanya dengan cara seperti itu setiap kali ia meneleponnya. Kyuhyun saja tidak semanis itu padanya.

Kadang, hal-hal kecil seperti ini yang sebenarnya Songjin harapkan dari Kyuhyun. tapi Kyuhyun memang seperti itu. sejak dulu pun ia tahu bagaimana Sifat seorang Cho Kyuhyun. dan dengan berkata ‘aku bersedia’ dulu dipernikahannya, bukankah itu sama saja dengan mantra pengikat yang mengharuskannya menerima apa adanya seorang Cho Kyuhyun?

“Oppa~”

“Waeyo?”

“Tidak. aku hanya ingin menelepon saja.” Songjin tertawa pelan. dan decakan menjawab tawanya tadi, “Tsk, tidak usah berputar-putar. Katakan saja ada apa. Kau tidak mungkin meneleponku jika tidak ada apa-apa, bukan begitu?” ucap Donghae yang sebenarnya terdengar sarkastik ditelinga Songjin.

Entah mengapa, hal itu membuatnya merasa tak usah meminta tolong kepada pria tersebut. rasanya malu. “Ada apa songjin?” Donghae mengulang pertanyaannya lagi.

“Itu—“ Songjin mengigiti bibirnya seraya berfikir, apa ia benar-benar harus mengatakan bahwa kali ini lagi-lagi ia ingin meminta bantuan Donghae?

“kau.. sedang sibuk?”

Donghae tertawa kencang, “tentu saja aku sibuk. Kapan aku tak pernah sibuk?” jawabnya politis. Diam-diam Songjin mengiyakan apa yang Donghae katakan, “ada apa memangnya?”

“Itu—aku hanya.. Ng—Tidak usah lah. Tidak masalah, sebentar lagi pasti hujannya berhenti.”

“Ya~ katakan saja ada apa. Kau ini, denganku seperti dengan siapa saja.”

“Tapi katamu kau sibuk?”

“aku memang sibuk. Tapi akan selalu ada waktu jika itu untukmu, Haha. Ayolah, katakan saja.. kemana kau mau mengajakku kencan kali ini?” Kekeh Donghae. Nadanya terdengar riang.

Hati Songjin terasa bergemuruh. Bukan apa-apa, tapi rasa sesak itu terasa semakin nyata saja. Lee Donghae yang bukan siapa-siapanya saja bersikap seperti ini kepadanya. Kenapa suaminya sendiri tidak?

Kyuhyun tidak pernah berkata semanis itu dengannya. Yang ada, mereka malah bertengkar karena Kyuhyun tidak menyediakan waktunya baginya. Jika Kyuhyun mendengar hal ini, entah pria itu akan merasa tertampar atau tidak. tapi seharusnya iya.

“aku..bisa tolong, jemput aku? maksudku—tadi aku sedang pergi. sendiri, tapi tiba-tiba hujan deras dan aku tidak tahu harus meminta bantuan siapalagi. Kyuhyun sibuk sekali akhir-akhir ini. aku tidak enak meminta bantuan Siwon Oppa. aku selalu merepotkannya belakangan ini dan Gyuwon pun begitu. Henry tidak punya mobil jadi dia minta aku menunggu—“

“Oke.” Donghae menyela kalimat panjang Songjin. Pria itu bahkan tidak merasa perlu untuk mendengar berbagai alasan Songjin. Membuat Songjin terperangah sendiri, terkejut. “Apa?” Songjin yang masih terheran bertanya tanpa sadar.

“aku bilang Oke. Aku akan menjemputmu. Sekarang kan? Katakan kau dimana?”

Songjin bukan main merasa senang. Sesuatu yang membuat bahunya berat kini terasa ringan. Senyum lebarnya mengembang seketika. Lee Donghae memang selalu dapat ia andalkan. “Aku di M—“

Belum sampai Songjin mengatakan keberadaannya panggilan tiba-tiba terputus. “Yeoboseo? Yeob—“ Songjin mendelik panic saat sadar ponselnya mati. seingatnya tadi, batrei ponselnya masih ada.

Atau itu adalah sebuah halusinasi dari rasa kantuk dan lelah yang muncul secara bersamaan. Tapi bagus sekali. ponselnya mati disaat yang sangat tepat. Benar-benar beruntung nasibnya hari ini.

Tangan Songjin jatuh—terkulai lemas. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa. Sepertinya pilihan yang tepat adalah seperti rencananya semula tadi. sampai hujan reda, setidaknya dia bisa memakan Ramyeon dikedai ini.

“Bibi, Seafood Ramyeon satu.” Kata Songjin kepada seorang wanita berusia kisaran lima puluhan didepanya yang sedang mengelap mangkuk-mangkuk Ramyeon.

Wanita itu tersenyum kecut, sambil berjalan mendekati Songjin “Nona, Ramyeon disini sudah habis semua.”

“APA?” Songjin mendelik terkejut. Ayolah! Ini masih jam 6 sore dan Ramyeon disini sudah habis?

“Maaf—“ putusnya dengan wajah memelas. Tapi Songjin lebih menyiratkan wajah memelas, “dan kedai ini sudah akan tutup?”

“Sebenarnya sudah tutup.” Jawab wanita tersebut. dagunya menunjuk pintu kayu yang sedang ditarik oleh seorang pria beberapa jengkal didepannya. Songjin semakin merasa dewa keberuntungan semakin menjauhinya belakangan ini.

Rasanya benar-benar membuat kesal. Ingin marah, tapi tidak tahu harus marah kepada siapa.

“Arrasseo. Maaf merepotkan—“ ujar Songjin pelan sambil turun dari kursi kayu tingginya untuk beranjak pergi. entah kemanalagi dia harus pergi setelah ini.

“Nona, diluar sedang hujan deras.”

“Aku tahu.” Songjin tersenyum kecut.

“berteduhlah disini dulu. paling tidak sampai Hujannya reda. Lagipula ini sudah malam. kenapa tidak hubungi seseorang untuk menjemputmu?”

Sambil tersenyum kecut lagi, Songjin mengangkat ponsel tak bergunanya yang mati, “ponselku mati.”

“Ah, pakai milik anakku saja. Jungsoo-ah, pinjamkan Nona ini ponselmu sebentar. Dia harus menghubungi seseorang. Tunggu sebentar, oke?” Wanita tadi berbicara kepada pria yang sibuk menarik pintu kayu kedainya dan kemudian berbicara pada Songjin lagi.

Tapi tak lama Songjin melambaikan tangannya berkali-kali sambil tersenyum lebih masam, “Bibi..tidak perlu. Aku.. tidak bisa. Aku.. tidak ingat nomor telepon yang akan kuhubungi.” Aku Songjin polos.

“sama sekali?” pria bernama Jungsoo yang tadi disebut bertanya sambil menyodorkan ponselnya. Songjin menjawab dengan anggukan pelan, “sayang sekali. jadi bagaimana ini?”

Kali ini Songjin benar-benar meruntuki kebodohannya sendiri. tak salah jika Kyuhyun selalu memanggilnya Bodoh. Ia memang bodoh. Bahkan nomor Kyuhyun saja tidak hafal. Memangnya berapa lama mereka telah bersama selama ini?

Selama itu, dia tidak bisa mengingat dua belas digit nomor ponsel suaminya sendiri. apalagi nomor kantornya? bodohnya.

“Istirahat dulu saja, Nona. Anakku bisa mengantarmu kelantai atas. Kami tinggal disini. tapi beginilah rumah kami. Kami tidak memiliki sesuatu istimewa disini—“

“Aniyo, Bibi.” Songjin mengelak sebelum kalimat merendah lebih panjang didengarnya. Sebenarnya, baginya tak masalah walaupun ia harus berada digubuk reot sekalipun.

Kedai ini masih sangat jauh  lebih baik dari apa yang dikatakan pemiliknya tadi. memang terlihat tua dan tradisional. Tapi bukan berarti itu tidak keren. tempat ini sebenarnya cukup menarik. Sayang berbagai café dan restoran besar dikanan kirinya menutupi keindahan bangunan tradisional ini.

“—aku mau, kalau diijinkan. Sebenarnya aku cukup lelah.” Aku Songjin menggosok tengkuknya malu-malu, “Tidak masalah. Tempat ini bagus. Aku suka. Tidak perlu seperti itu, Bi.”

Wanita dihadapan Songjin tersenyum ramah lalu mengangguk. Jungsoo ikut mengangguk lalu menggiring Songjin untuk mengikutinya, “Terima kasih banyak, Bibi.” Songjin membungkuk berkali-kali.

“Hey, Tidak masalah.”

“Aniyo, aku merasa sangat tertolong.”

“Ya. aku juga senang telah menolong. Sudah cepat naik. Kau harus berbaring sebentar. Punggungmu pasti pegal sekali, Eo?”

Songjin terdiam. Kening mulusnya mengkerut seiring dengan ujung alis yang terangkat, “kau sedang hamil, kan?” wanita itu bertanya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.

Songjin tersentak kaget, “bagaimana Bibi tahu?”

“Eish~ aku juga pernah mengandung, kan. Kau pikir dia keluar dari mana kalau bukan dari tubuhku?” candanya riang.

** **

Cho Songjin Point Of View

Jantungku berdegup kencang. lebih kencang dari pada biasanya, dan aku merasakan dingin menerobos sekujur tubuhku. Hingga angin yang menyapu sejak tadi, terasa seperti sapuan udara dari Kutub. Begitu dingin.

Dan kepalaku pusing. Benar-benar pusing setengah mati. aku selalu merasa seperti ini saat sedang gugup. Aku tahu aku tidak melakukan suatu kesalahan apapun.

Aku memiliki alasan mengapa aku tidak pulang semalaman. Hujan deras terjadi semalam suntuk. Dan aku terlalu lelah untuk menghidupkan tubuhku lagi, setelah merasa nyaman beristirahat dikedai Ramyeon Jungsoo-Oppa.

Anak pemilik kedai itu namanya Park Jungsoo. Aku baru mengenalnya tadi malam, dan orangnya benar-benar baik.

Tapi entah bagaimana. Sebanyak apapun bukti yang kumiliki bahwa aku tidak bersalah, aku tetap saja merasa takut setengah mati sekarang. aku sudah berdiri diambang pintu rumahku sejak dua puluh menit yang lalu. tapi masih juga ragu untuk menarik gagangnya.

Salah. Harusnya aku pulang kerumah Siwon Oppa saja. paling tidak, dengan membawa Siwon Oppa pulang, paling tidak aku tidak akan dimarahi Kyuhyun nanti.

Kutarik nafas dalam-dalam dan menghenbuskannya perlahan. Pelan-pelan, kuputar gagang pintu, dan masuk. Decitan pelan terdengar—suara Khas jika pintu rumahku terbuka.

Tapi aku terkejut melihat kondisi rumahku yang tampak biasa saja. aku sudah  berfikir bahwa Kyuhyun akan heboh saat aku tak pulang semalaman. Sejauh mataku memandang, tidak ada satupun yang menunjukan bahwa Kyuhyun mencariku.

Atau dia sebenarnya tidak sadar kalau aku tidak pulang semalaman, karena dia masih berada dikantor. Tak pulang—lagi, semalaman.

Rasa cemas berlebihku tadi seperti menguap entah kemana. Aku merasa hangat dan aman. Paling tidak Kyuhyun tak ada. Walau aku kesal karena ia bersikap lebih parah dari sebelumnya.  Tidak pulang, setelah biasanya pulang larut.

“aku tidak tahu, Henry. Prospeknya tidak sebagus itu menurutku. Sepertinya, lebih baik kalau— Songjin?” Kyuhyun tiba-tiba seperti hantu, keluar dari Kamar ruang baca dengan telpon rumah menempel ditelinganya.

Dia sedang sibuk berbicara dengan seseorang disebrang, sampai kemudian, tidak sengaja melihatku yang baru masuk.

Rasa hangat yang tadi selama dua menit kurasakan tiba-tiba menguap begitu saja. seiring dengan debaran jantung yang semakin meningkat, Kyuhyun berjalan mendekat dan berhenti, berdiri tepat didepanku dengan jarak kami hanya satu jengkal saja. aku langsung merundukan kepalaku dan lebih memilih untuk menghutung jumlah lantai yang ada.

Nafas Kyuhyun terdengar beradu dengan suara dari sebrang yang memanggil namanya terus menerus, “Henry, nanti kuhubungi lagi—“ Kyuhyun memutus sambungan begitu saja.

Aku tidak tahu harus bergerak kemana sekarang. aku juga tidak tahu harus melakukan apa. Satu-satunya yang kurasakan adalah aku ingin kabur dari tempat ini sekarang juga.

Perlahan-lahan aku mengangkat wajahku, dan kembali menjadi sedikit panic karena Kyuhyun masih belum mengalihkan sorotan tajamnya sedari tadi, “H—hai.” Ucapku gugup sambil melambai.

“Hai?” Kyuhyun mengulang sapaanku tadi dengan nada yang tak bisa kumengerti. “kau pergi begitu saja selama dua puluh empat jam, dan berkata Hai?”

Kyuhyun bersedekap memandangiku seksama, “tidak bisa dihubungi sama sekali, membuat semua orang kewalahan, dan kau hanya berkata Hai?”

“tidak memberitahu siapapun keberadaanmu—dan Hai?” Kyuhyun mengulang-ulang kalimatnya. Berbicara dengan nada yang semakin lama terdengar semakin menyebalkan ditelinga.

“Yaak! Aku tidak pergi begitu saja! kau tidak tahu aku ter—“

“apa katamu? tidak pergi begitu saja? Songjin, kau salah. Sekarang posisimu, salah. Apa kau tidak bisa membuat isi kepalamu menyadari bahwa kau sedang bersalah? Jinjja! kau—kenapa kau terlalu kekanakan, Songjin? Astaga! Park Songjin! Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu. Kau pergi, karena kesal denganku kemarin? Hah? Karena pertengkaran kita itu? lalu menurutmu pergi adalah cara yang tepat untuk menyelesaikannya? Kau benar-benar! siapa yang mengajarimu untuk lari dari masalahmu?”

Sesuatu yang membuat mataku panas akhirnya merembes turun. Yang aku tahu, mataku terasa panas dan perih saat air itu keluar, “kenapa kau selalu memarahiku?” aku bicara susah payah.

Mati-matian aku ingin menghentikan air mataku, tapi susah sekali. “kenapa aku tidak boleh memarahimu?”

“tapi kau selalu marah-marah denganku sekarang. memangnya aku melakukan apa?”  Isakku.

Kyuhyun menghela nafasnya kasar. Dua tangannya tadi kini beralih menjadi bertolak pinggang, “Jinjja! aku merasa seperti  menikah dengan bayi.” Dengus Kyuhyun mengomel.

Aku tidak tahu sejak kapan aku merasa takut dengan Kyuhyun. selama ini, semarah apapun Kyuhyun denganku, aku tidak pernah merasa takut dengannya kecuali rasa takut dia akan meninggalkanku.

Sisanya, aku selalu merasa dapat mengimbangi omelannya dan entah apa yang salah denganku, kali ini aku merasa keberanian itu telah hilang. Bersembunyi entah dimana, “aku terjebak di tengah hujan, Kyuhyun-ah!” kataku menjelaskan.

Kyuhyun tidak menanggapi perkataanku dan malah hanya menatapku seakan aku baru saja membual. Satu alisnya terangkat tinggi, “aku serius! tadinya aku ingin menghubungi Siwon Oppa, tapi aku tidak ingin merepotkannya lagi. Gyuwon juga. aku sudah menghubungi Henry tapi Henry tidak bisa menjemput karena tidak memiliki mobil. Eun Soo tidak bisa dihubungi dan saat aku menelepon Donghae Oppa—“

“Donghae!”

“Ponselku mati!! baterai-nya habis!” aku merogoh saku-ku dan mengacungkan ponselku didepan wajahnya. Hanya agar Kyuhyun melihat, dan tahu bahwa aku sedang tidak berbohong dengannya.

Tapi Kyuhyun langsung menyingkirkan tanganku cepat, “kenapa tidak menghubungiku?” serunya lebih galak.

“aku tidak tahu nomor kantormu. Aku tidak hafal!” aku mengaku lagi. Kyuhyun membuka mulutnya lagi tapi aku lebih cepat mendahuluinya, “Iya aku bodoh. Aku tahu. sampai sekarang aku masih bermasalah dengan daya ingat sepele itu. aku mengerti. Tapi aku bicara jujur. Aku tidak sedang membual.”

Kyuhyun memejamkan matanya sambil menguruti pelipisnya. Mulutnya mendesis dan wajahnya memerah. Seperti menahan sesuatu, yang kusadari dan dapat simpulkan adalah makiannya untukku.

“Maaf—“ ucapku lirih. Merundukan kepalaku sangat rendah. Aku tidak tahu apa Kyuhyun dapat mendengar, tapi biasanya telinganya bekerja dengan baik. Paling tidak selama ini seperti itu.

“Aish! Benar-benar merepotkan!” makinya kemudian.

“Maaf, selalu merepotkan. Aku hanya—pergi, sebentar.. kemarin, ingin membeli ini. untukmu.” Lanjutku. Menyodorkan tas kertas tentenganku sejak tadi kepadanya. “Maaf sudah menghilangkan ponselmu. Aku tidak bermaksud seperti itu. aku tidak sengaja.”

Lagi-lagi aku ingin menangis kencang. ah menjijikan sekali sebenarnya jika dipikir.

Kyuhyun hanya diam ditempatnya, sama sekali tidak bergerak, apalagi mengambil tas kertas yang kusodorkan kepadanya sejak tadi. aku kemudian menggantungkan tali tas tersebut disalah satu jari pada tangannya yang kosong.

“Maaf—“ putusku sebelum berlalu. Tapi baru dua langkah aku berjalan, Kyuhyun menarik tudung Jaket Hoodie ku, “kau pikir kau mau kemana? Kita belum selesai.” Ujarnya dingin.

Aku kembali mematung ditempatku dan berbalik setelah Kyuhyun membalik tubuhku. Dia hanya diam tak seperti ucapannya tadi yang menurutnya, pembicaraan kami belum selesai. Atau sebenarnya, dia ingin menghukumku.

Aku menghitungi jumlah lantai marmer tempat kakiku menjejak satu persatu. Dari kakiku berada, sampai tepat didepan sliding door halaman belakang. aku tidak tahu lagi harus berbuat dan bicara apalagi.

Saat aku sedang sibuk menghitungi jumlah lantai, tiba-tiba aku merasa tubuhku menjadi berat, “Ya~” kutepuk punggung Kyuhyun terkejut. Dia menarikku begitu saja, seperti ingin membuatku terkena serangan jantung.

“Maaf. seharusnya aku yang meminta maaf. Maaf maaf.” Ucapnya begitu cepat. “aku minta maaf, Songjin.”

“Ya~”

“Jangan seperti ini lagi. pergi begitu saja, aku Khawatir. Aku tidak tahu harus mencarimu kemana. Ponselmu tidak bisa kuhubungi. Aku bertanya kesemua orang tapi tidak ada satupun yang tahu kau dimana. Aku menelepon Siwon Hyung, tapi malah balik dimarahi. Kau menghilang seperti itu.. Jangan lagi, tolong.”

Kyuhyun menarik tubuhku lebih kencang sampai aku merasa sesak dan tidak bisa bernafas dengan benar. kutepuki tubuhnya berkali-kali untuk memberitahukannya, tapi aku tidak mendapatkan respon yang tepat.

Aku malah merasa bahuku tiba-tiba basah, “Ya~ tidak perlu menangis kan? Eish!” cibirku.

Tapi tidak seperti biasanya, Kyuhyun malah diam saja mendapatkan cibiranku. Rengkuhannya semakin jadi saja, “Kyuhyun-ah demi tuhan! kau mau membunuhku ya? aku tidak bisa bernafas!” ujarku setengah mengomel.

Kyuhyun merenggangkan rengkuhannya, pada akhirnya. Tapi sepertinya dia masih berniat untuk mengurungku dan tidak berkeinginan membiarkanku setidaknya duduk. Asal tahu saja, aku pegal setengah mati sebenarnya!

“Gwaenchana~” aku menepuki bahunya. Lalu mengusap rambutnya perlahan-lahan, “aku minta maaf.” Ulangnya lagi.

Cho Kyuhyun yang selalu tinggi hati dan jauh dari permohonan maaf itu sedang mengulang-ulang kata maaf sampai aku merasa mati kebosanan mendengarnya. Seharusnya, aku merekam hal langka ini.

Kuanggukan kepalaku tanpa paham, “Arrasseo. Aku juga salah. Aku juga minta maaf.”

“tidak. aku yang salah. Maaf. Aku hanya—lelah.”

“aku tahu. kau hampir tidak pernah tidur selama ini. kau pasti sangat lelah.”

“Maaf sudah selalu memarahimu.”

“Tidak masalah. Orang lelah memang selalu marah-marah.”

“tidak memiliki waktu untukmu, Maaf.”

“aku mengerti.”

“…… aku minta maaf.”

Kyuhyun mengulang lagi. kini aku benar-benar bosan. Aku hanya menghela nafasku dan seiring helaan nafasku, bahuku terkulai lemas. Tubuh Kyuhyun yang kutopang semakin membuatku limbung karena tenagaku semakin menipis.

“Jangan seperti ini lagi. Tolong. Kalau kau tahu, selama ini aku salah, harusnya kau tidak diam saja. ingatkan aku, bukan meninggalkan aku.”

Sesaat aku merasa bersalah akan ulahku sendiri, tapi serius aku tidak bermaksud seperti itu saat aku melakukannya, “aku tidak pernah meninggalkamu. Kan sudah kubilang, aku membeli ponsel itu—untukmu. Lalu aku terjebak hujan.”

“Ponselku tidak pernah hilang. Kau tidak menghilangkannya. Itu salahku. Aku meninggalkannya diruang rapat. Min Ji yang menemukannya kemarin. Aku ingin memberitahukanmu. Tapi kau tidak ada. Aku menunggumu pulang tapi kau tidak pulang-pulang. aku pikir, kau benar-benar marah denganku. kau semakin membuatku merasa tidak enak.”

Kyuhyun bicara lagi dan aku hanya dapat diam mendengarkan. Nafasnya masih belum juga teratur. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, tapi pergi darinya? Aku sudah mengatakan berulang bahwa aku tidak akan bisa pergi darinya. Jadi bagaimana bisa dia selalu berfikir seperti itu?

Oke. Ponselnya tidak hilang, itu semakin membuatku merasa bodoh, “jadi sia-sia aku pergi kemarin? Hah—“ erangku pelan dan terkekeh. Niatku sebenarnya hanya ingin membuat suasana lebih santai. Tapi Kyuhyun malah mengeratkan pelukannya dan kembali meminta maaf.

“Ya~ kau benar-benar tidak akan kumaafkan kalau terus berkata maaf, kau tahu? Aigoo~ Kyuhyun-ah! Ada apa denganmu sebenarnya? menyeramkan sekali!” ejekku ditengah rasa jengahku.

“Maaf.” Kyuhyun bicara lagi,

“Ya~” aku memukul kencang tubuhnya. Membuat kami tertawa pelan. nafas hangat Kyuhyun menyapu bahuku, aku baru menyadari sesautu sejak tadi, “Hey,” aku menarik Kyuhyun dari tubuhku langsung dan meletakkan telapakku dikeningnya, “Aigoo~ kau demam?” tanyaku kemudian.

Tubuhnya panas. Tapi sejak tadi aku tidak menyadarinya. Dan sepertinya Kyuhyun baru menyadarinya juga. ia lalu meletakkan telapaknya sendiri dikeningnya, “aku tidak tahu.” ucapnya setengah manyun.

“Eish~ bodohnya.” Aku mencela. Aku bahkan baru sadar dengan apa yang dikenakannya. Pakaian kerjanya  masih tertempel ditubuhnya. Sudah begitu lusuh tak sedap dipandang, “kenapa pakaianmu masih ini sih? Kau tidak—dari kemarin, Eish.. Joroknya! sudah sana ganti pakaianmu.” Aku mendorong Kyuhyun menjauh. Tapi Kyuhyun seperti enggan pergi dan hanya bersandar ditembok dibelakangnya saja.

Dua tangannya masih berada dipinggulku santai, “cepat! Aku siapkan kompresan sebentar. Kau mau mandi? Aku siapkan air hangat setelah ini. Eh tapi—jangan mandi dulu deh. kau sedang demam. Tidur saja. aku pesankan bubur di Bistro. Oke? Sudah minggir!” aku menggeliat-geliat berusaha kabur. Tapi Kyuhyun terus mengunciku.

Dia malah tersenyum-senyum seperti puas mampu membuatku hanya mengeluarkan tenaga yang sia-sia. “Cho Kyuhyun!” aku mendelik padanya. Aku sedang serius. tapi kenapa malah diperlakukan seperti sedang bermain-main? “Ayolah! Jangan seperti ini!”

Kyuhyun masih diam dan hanya memperhatikanku. Aku baru sadar wajahnya pun terlihat kacau. Yang sudah pasti pucat. Rambutnya seperti dia baru saja melakukan terjun payung. Kacau tak beraturan. Kemejanya lecek.

Suamiku benar-benar terlihat seperti gelandangan kali ini. untuk pertama kalinya aku dapat mengatakan bahwa ini menjijikan.

“aku minta maaf—“ tiba-tiba Kyuhyun bicara lagi. kini wajahnya menjadi serius dan tawa-senyum menyebalkan tadi hilang seketika. satu hal yang kusadari, Kyuhyun sedang serius mengatakan ini.

Satu tangannya beralih mengusap ujung kepalaku lalu turun kewajahku, pipiku terasa panas saat tangannya turun perlahan. “apa aku terlalu kasar dengamu?” tanyanya pelan.

Aku tersenyum kecut menanggapinya dan Kyuhyun menghela nafasnya lagi seakan sesuatu yang berat baru saja diloloskannya, “Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu.” ujar Kyuhyun kemudian.

Aku kembali tersenyum, “Gwaenchana. Aku tahu.”

“aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu dan membuatmu repot sendirian selama ini.”

“aku tahu.” ulangku menjawab lebih cepat setelah Kyuhyun selesai dengan perkataannya. “aku tahu Kyuhyun-ah. Aku tahu.”

Kyuhyun tersenyum lagi, “aku tahu kau akan memaafkanku. Kau kan Cinta mati denganku.” ujarnya percaya diri. Tapi aku tidak akan menggelengkan kepala dan berkata bahwa dia salah. Nyatanya, hal itu memang benar terjadi padaku.

Aku hanya dapat terkekeh geli, “aku juga mencintaimu.” Ujar Kyuhyun singkat. Tangannya yang sejak tadi bergriliya diwajahku, kemudian menarik daguku dan langsung begitu saja tanpa aba-aba, mengecup bibirku.

Sialnya, hal yang entah mengapa ingin kurasakan lebih lama itu malah hanya berlangsung selama satu detik saja dan setelahnya Kyuhyun menarikku lagi. membuatku dalam kekungannya, “aku lelah, Songjin—“

“Iya, aku juga. sudah kusiapkan kompresan dulu. kau berbaring saja dulu.” perintahku yang diabaikannya lagi.

Kyuhyun meletakkan dagunya pada bahuku lebih santai, “aku mau tidur.”

“Ya~ aku tahu. kekamar. Jangan disini” protesku akhirnya. Kyuhyun masih mengabaikanku. Aku menggerakan tubuhku tapi Ibu jari Kyuhyun malah mencubit pinggangku, “Tsk, Berisik sekali. Diam saja bisa tidak? aku belum tidur sejak kemarin. aku sangat lelah, Songjin. Bisa tolong tidak mengganggu??”

“aku tahu, tapi Yaaak! Cho Kyuhyun— aku bukan kasur!!”

161 thoughts on “[KyuJin Series] I Thought I Lost You

  1. Kyuhyun itu marah-marah trus kasian kan songjin… tpi tetep suka bnget sma cerita ini bntar – bntar ribut bntar-bntar baikan.. pokok nya sweet bnget^^

  2. Tempat terbaik bag seorang suamj untuk kembali adalahsang istri. sebaliknya juga.
    Kyuuuuuuuu, perhatiin istrimu ntar Disabet Donghae looohhhhhh

  3. Kyuhyun yg lagi tergila2 sama pekerjaannya sampe lupa sama istri sendiri, dan giliran istrinya lagi ngerajuk Kyuhyun bisanya cuma marah2 aja. Tapi syukur deh seheboh apapun mereka bertengkar tapi ga pernah ada kata cerai dan selalu berakhir romantis.

  4. Ya ampun dibalik Songjin yg barbar seperti itu ia sangat pengertian dgn suaminya, walaupun dimarahai atau dilupakan ia sangat pengertian. Cerita santai dan sayang untuk dilewatkan.

  5. Aigooo,,,kyu maen mrha aja mulu,,,ga mau mndengarkan songjin mlh terkesan slalu mnghakimi songjin,,,,bnr2 klakuan si cho,,,untungnya pada akhirnya dy blang maaf berulang kali pda songjin,,,,,hah..kyujin mank pasangan yg ga da matinya buat berdebat dn bertengkar!!

  6. Salahpun te2p aja marah2….ckckck
    obsesimu bner2 mengerikan cho…smpai lupa klo amu msih punya istri ya harus dkasih perhatian..wanita hamil itu butuh perhatian extra kyu…

  7. Astaga kyuhyun marah-marah mulu sama istri yang lagi hamil muda

    Haha begitu ceroboh nya songjin, sampai setiap ada yg rusak, hilang sebagainya, pasti songjin yang disalahkan

  8. kyuhyun temperamen banget sih.. org hamil dibentak2..
    nyesek pas songjin terjebak hujan cuma gara2 beliin kyu hp baru. nyatanya si kyu yg teledor nyimpan hpnya…

  9. Bacaaaaaaaaa lagi ❤ ❤ … Ini misal bikin satu lagi cerita yang kyak begini gimana??? XD XD … Suka banget sama cerita yang ini, yang kyuhyun bener-bener keliatan takut kalo kehilangan songjin … walaupun harus ada berantem-berantem dulu T___T tapi ya inilah mereka berdua

  10. Ini menurutku aja apa aku yang berlebihan yaa soalnya akau ngerasa part ini yang feel nya paling dapet. Tapi bagian akhir nya bikin ngakak, dikira songjin itu bantal guling apa 😀

  11. Lagi2 kyuhyun lupa sama janji nya.. ya ampun kyu, situ kaya wanita sdg pms. Kerjaannya marah2 mulu sampe nuduh songjin ngumpetin hp nya.. eh ternyata hp nya kyu ketinggalan.. kan kasian sii songjinnya jd pelampiasan marah2a kyu..

  12. Part ini bikin emosi bgt,,cho kyuhyun….pengen tak cekik kamu..untung saja songjin tidak sekeras kepala kamu…. Jadi mudah buat dia maafin kamu…

  13. tuuhh…kan..kyu si..asal ajj..mrh” mulu ma songjin…wlo krj keras wat songjin jg toh sbnrny songjin g bkal kkurangn…cm perhtian dikit pi emank kyuhyun, g peka klo blm ada something..
    kdng ky ny nyesek jd songjin…ska mendem sndri apa yg d rasa g bs ngmong ma kyuhyun…
    org yg peka pi kyu sangkain songjin yg suka ngaduan..huuufft..
    pi mo mrhan ky gmn kyujin bkal baekan lg..ntah kyu yg jgo ngrayu..pa songjin yg gmpng d rayu..pi kdng sebalikny.. (#lovethiscouple

  14. Kyuhyun gak mikir ya marah2 terus ke songjin dia kan lg hamil gak kasian apa ckckck untung songjin bukan tipe cewe yg gampang stress abis dimarahin kyu hahaha ini cerita dpt bgt semua feelnya berasa kan kyu baru di tinggal satu hari doang sm songjin makanya jgn marah2 terus

  15. sumpah ff keren ..
    mereka bnr2 bikingereget dan pasangan yg aneh blm bisa memahami satu sama lain … seru ama alurnya …
    oh yh ijin baca yh eon …

  16. Begini jadinya kalo nikah sama sahabat sendiri yg terbiasa saling teriak-teriak. 😀 pasangan ini sangat menghibur.. 😀 walaupun awalnya aku kesel sama kyuhyun yg suka marah2 sampek bikin aku pengen nyumpal mulutnya. 😀
    ffnya keren kak..!!

  17. Kyuhyun lebih mmntingkan pkrjaannya dripda Istrinya, jarang pulang trs suka mrah2 lagi pdhal dia yg slah, kyu hrusnya lbih prhatian ke songjin, msa songjin jatuh aja ga tau ckckck ksel deh sma siap kyu… Tp aq ttp ska sma ff ini krennn… 😊😊😊

  18. Kasian jga sih si songjin lg hamil di marah”in smp dituduh menghilangkan ponsel nya kyuhyun untung ada siwon yg kasih pengertian sma kyuhyun

  19. Sebenernya disini yg paling bodoh itu kyu bukan songjin, istrinya lagi hamil bukannya dimanja2 eehh malah di marahi trus.. tp lucu juga saat kyu minta maaf trus

  20. Haii aku readers baru… Nggak baru juga siih
    Aku pernah masuk kesini ya tapi belum sempet baca… Udah segitu aja deh intoductionnya.. .
    Okk itu sikyuhyun bini lagi hamil bukannya dimanjain malah dimarahin 😂😑 .. Ini tuh ff pertama yang aku temuin yang sikyuhyun nya kurang asem😂 biasanya kalo di ff laen sikyuhyun nya sosweet gila… Tapi disini beda.. Tapi itu yang bikin greget, anti mainstream 😂😂 Keren lah pokoknya

  21. kyu tlu mementingkan urusan kantor. bhkn ketika songjin jth dr tggapun yg tau duluan malah siwon. uangnyakn udh byk jd santai aja ga ush tlu terobsesi

  22. Manusia, sukanya nyalahin orang lain walaupun belum tau sebabnya apa tapi langsung marah-marah ke orang lain, dirinya sendiri ga mau disalahin, ceroboh. Tanpa kyuhyun sadari yang harus belajar lebih dewasa itu dirinya sendiri, untung istrinya songjin yang ga akan pergi kemana-mana.

  23. Aq nangis loh bacanya .. ngebayangin gimna sedihnya songjin terus2an disalahin kyuhyun dan ga sadar air mata keluar sendiri ..😂😂😂😂

    Ga suka sifat kyuhyun .. dia seperti ga bisa lebih memprioritaskan keluarga

  24. Kenapa si ka kyuhyun kerjanya marah marah terus sama songjin nya? 😂😂 kasian si songjin cuman emang kadang songjin nya ngeselin masa 😂😂 selalu suka sama cerita ini, kakanya keren!! 👍

  25. walaupun aku baca ulang tetep aja aku tak pernah bosen² ffnya ngangenin apalagi hyun gi 😆😆 yg ngangenin abis, authornya juga

  26. Karena mereka sama-sama gak bisa saling terbuka. .. makanya sering terjadi pertengkaran. Dan pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka itu sebenarnya saling membutuhkan tp terlalu egois untuk saling menegur

  27. Marahnya mereka beda cara baikan mereka juga unik hihi ada waktunya salah satu kekeuh tapi kalo emang ngerasa salah pasti selalu jujur dan minta maaf sungguh sungguh sukakkk

  28. Pingback: Kumpulan FF Kyuhyun Wordpress Terbaru - Triknesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s