[KyuJin Series] Love Disease 1


Author: GSD

Title: Love Disease

Cast: Cho Kyuhyun, Cho Songjin, Choi Siwon, Choi Gyuwon, Lee Donghae, Kim Eun Soo, Henry, Oh Min Ji.

Rating: PG 16.

Length: Twoshot

Notes:  Tadinya Kyujin series kali ini mau aku jadiin satu aja semuanya. tapi waktu liat ada berapa lembar, jadi hening sendiri.. kepanjangan macem laut merah kalo dijadiin satu. makannya aku bagi jadi dua part.

Happy Reading^^!

Ada suara ketukan berasal dari jemari yang dipadu bersamaan dengan meja kayu disana. Jemari lentik Songjin yang bekerja begitu berisik sejak tadi, sedangkan matanya memandangi Kyuhyun dengan seksama.

Dia sedang menunggu. Menunggu mulut Kyuhyun terbuka untuk mengatakan sesuatu yang begitu dinantikannya.

Suaminya tersebut sedang mengunyah dan menelan masakan yang dibuatnya sore tadi. Jika kata mengunyah dan menelan terlalu sopan, gunakan saja ‘dengan terpaksa memasukan’.

Namun pada dasarnya, Kyuhyun memang begitu tersiksa hanya dengan melakukan aktivitas termudah diseluruh dunia tersebut. makan adalah hal termenyenangkan sedunia bukan? Yeah, tapi jika sudah berhadapan dengan masakan Park Songjin, lupakan saja hal menyenangkan itu.

“Eotte?”

Kyuhyun menaikan satu alisnya tinggi-tinggi menanggapi pertanyaan Songjin. Istrinya itu terlihat begitu antusias dengan wajah polos yang distel entah sengaja atau tidak, hanya untuk membuatnya luluh.

Luluh dan mengatakan apa yang ingin didengarnya. Sebuah cara licik yang tepat, yang Songjin tahu tidak pernah tidak gagal jika dirinya telah melakukan hal tersebut apalagi kepada seorang Cho Kyuhyun.

Tapi, yang benar saja?! “Ini… Racun!” Kyuhyun berseru tanpa berbasa-basi. Tangan kanan yang memegang Garpu dibuatnya menunjuk-nunjuk piring pipih berisikan sebuah telur goreng.

Hanya telur goreng! Bukan masalah besar sebenarnya. dan lagi, ini adalah kali pertama Songjin dapat membuat masakannya berbentuk sempurna. Yang dimaksud dengan berbentuk sempurna ialah, tidak membuatnya hangus hingga terlihat menghitam dan menjadi crunchy, lalu ketika dimakan akan terasa luar biasa pahit.

Yeah, ini kali pertamanya Songjin membuat telur gorengnya berbentuk sempurna. Bulat, pipih, berwarna putih dan memiliki warna kuning cerah sempurna ditengah. Sebuah keajaiban yang mungkin tidak akan terjadi lagi dalam kurun waktu dekat.

Songjin menghela nafasnya panjang mendengar komentar Kyuhyun. Pria itu sedikitpun tidak mau menurunkan arogansinya untuk permasalahan yang terus berulang-ulang ini. mungkin iya dalam hal lain. Tapi tidak untuk yang satu ini. tidak akan pernah mungkin.

“Tapi bentuknya bagus! Aku tidak menghanguskannya! Maksudku—benar..”

“Aku tidak mengatakan kalau bentuknya jelek. Kau bertanya bagaimana rasa atau bentuknya?”

Yeah, Kyuhyun benar. yang Songjin tanyakan pendapatnya tadi bukanlah tentang bentuk telur gorengnya. Tapi rasa. dan dia sendiri pun meragukan bagaimana rasa telur goreng buatannya sendiri. Tapi yang benar saja? Apa suaminya ini tidak bisa sedikit bermulut manis dengan mengatakan bahwa dia baru saja melakukan kerja bagus kali ini?

“Arra!” tanpa banyak memprotes, Songjin bangkit dan mengambil piring pipih didepan Kyuhyun tersebut. mengganti dengan meletakan satu gelas berukuran sedang berisikan Jus Jeruk dan membawa piring telur goreng buatannya kedapur.

“Hey, aku belum selesai makan, kan?”

Kyuhyun menyela cepat, tapi Songjin sama sekali tidak memperdulikan Kyuhyun lagi. dengan kasar Songjin memindah lokasikan telur pada piring pipih tersebut kedalam bak sampah dan memasukan piring kotor tadi kedalam mesin pencuci piring.

Kyuhyun hanya memperhatikan Songjin dari tempatnya sambil menghabiskan Jus Jeruknya. Sesekali tersenyum tipis ketika Songjin mengomel tak jelas, yang membuat bibirnya bergerak tidak beraturan.

“kau melenyapkan satu-satunya menu makan malamku, Nyonya.” Ucap Kyuhyun seraya tersenyum kecut, membuat satu ujung bibir Songjin tertarik tinggi dan menampilkan senyuman sinis. “Itu racun, bukan menu makan malam.” ketusnya tegas.

Tanpa perlu dijelaskan, Kyuhyun telah paham bahwa Songjin sedang kesal. Kesal karena kali ini dia gagal lagi membuat ‘sesuatu’. Sebenarnya tidak benar-benar gagal. Kyuhyun cukup terkesima ketika pertama kali melihat penampilan telur goreng buatan Songjin yang bisa terlihat begitu sempurna.

Tapi terlihat sempurna tidak pernah cukup untuk mengomentari bagaimana kacaunya sususan rasa masakan seorang Park Songjin kan?

“Rasanya memang kacau..” Kyuhyun berkata, sambil mengikuti Songjin didepannya meniti satu persatu anak tangga menuju kamar mereka. “maksudmu mengerikan?” ralat Songjin cepat membalik tubuh seluruhnya menghadap Kyuhyun, bertolak pinggang dan melotot.

Kyuhyun menahan tawanya hanya agar keributan tidak semakin membesar, tapi kalimat Songjin barusan memang benar-benar apa yang ada didalam kepalanya. Dia baru saja berfikir apa dirinya dan Songjin memang benar-benar berjodoh hingga istrinya itu dapat seperti membaca pikirannya. “Yeah…Ngg—“

Kyuhyun tidak dapat mengatakan iya, ataupun tidak. Jika menjawab Iya, sudah pasti Songjin akan mengamuk dan jika berkata tidak Songjin akan lebih murka karena tahu bahwa dia sedang berbohong.

Kyuhyun lebih memilih untuk menyelipkan tangannya pada tubuh Songjin dan menarik wanita tersebut mendekat, merapat pada tubuhnya, “Jangan cerewet.” Tukas Kyuhyun singkat. Mengecup bibir Songjin hingga melumat lalu tersenyum senang, “kau terlalu banyak bicara hari ini.”

Songjin tak hentinya mendesis sinis, menghadapi perilaku Kyuhyun yang baginya tampak menggelikan. seperti pria mesum didalam kelab yang pernah didatanginya dulu. yang berusaha menghentikan wanita-wanita dengan menyentuh-sentuh tubuhnya.

Walau dalam beberapa hal dan alasan, Songjin tidak akan menolak ketika Kyuhyun melakukannya. Tapi yang benar saja Cho Kyuhyun!! “Minggir! Aku sedang kesal denganmu!!” amuk Songjin lalu menghentakan Kyuhyun.

Menghentikan kerja tangan Kyuhyun yang perlahan-lahan sedang mencoba menurunkan tali pakaian yang sedang Songjin kenakan, pada bahu tersebut sambil bibir tebalnya menelusuri bahu mulus istrinya, “Yaah—ayolah, besok aku pergi! kita tidak akan bertemu tiga hari!!” Kyuhyun merengek bagai bocah.

“perduli apa aku?”

Songjin bertanya dengan nada sarkasme jelas terlihat. kutukan tentang betapa mesum suaminya sekarang benar-benar berputar-putar didalam kepalanya, terlalu banyak hingga tidak tahu bagaimana cara mengeluarkannya satu-persatu.

“Yaa—ayolah… sebentar saja.” Pinta Kyuhyun. ikut melompat keatas Ranjang dan langsung membuat posisi menghadap Songjin. Wajah tampannya itu penuh dengan mengiba. Matanya seperti anak anjing yang sedang meminta makan karena sudah berhari-hari tidak diberi makan oleh pemiliknya.

Teorinya, biasanya Songjin akan luluh. Tapi entah bagaimana, caranya kini tidak berhasil. Istrinya itu beralih memunggunginya, menarik selimut tinggi-tinggi hingga menutupi setengah kepalanya.

Untuk beberapa alasan, Kyuhyun lebih memilih untuk diam mengalah. menarik dirinya sedikit menjauh. Hitungan mundur dari sepuluh diucapkannya dalam hati seiring dengan udara dingin dalam kamarnya yang tidak main-main.

Begini, menurut prediksinya dalam hitungan sepuluh detik, Istrinya itu akan berbalik menghadapnya. Maka pada hitungan ke tiga, Kyuhyun telah memasang senyuman lebarnya begitu sumringah.

“Tiga.”

“Dua.”

“Satu!”

.

.

“satu…!!”

“sa..tu..?”

Mata Kyuhyun membelak. Bukan apa-apa hanya saja inilah kali pertamanya dia meleset dalam memperhitungkan sesuatu. Sedangkan suara hujan terdengar begitu hebat dari luar kamarnya.

Inilah kali pertama Kyuhyun merasa aneh dan memikirkan kembali tentang sikapnya. Apa hanya karena telur goreng sialan itu, lalu Songjin menjadi begitu marah kepadanya? Tapi yang benar saja, itu kan hanya telur goreng dan menurutnya, bukan hanya dirinya sajalah yang akan mengatakan bahwa masakan itu terasa mengerikan seperti racun! Iyakan?

Tapi ini juga kali pertamanya Songjin terlihat semarah ini dengan sikapnya saat dia mengomentari hasil masakan wanita tersebut. sejak dulu pun, Songjin akan selalu berpendapat sama dengannya bahwa masakan wanita tersebut benar-benar buruk. Iyakan? Iya?

Suara petir mengejutkan keduanya. Gemuruh tersebut terdengar mengerikan hingga membuat kaca bergetar. Getarannya masih sedikit terasa dan Kyuhyun tidak salah melihat, bahwa Songjin sedang meringkuk seperti udang didalam selimutnya.

Tapi Istrinya itu tidak sedikitpun mau berputar dan mendekat padanya, seperti biasa ketika terjadi hujan besar lengkap dengan petir. Bukan masalah hujannya. Tapi Songjin selalu tidak pernah suka dengan suara petir.

Oh, bukan tidak suka. Tapi takut.

Yeah, seperti anak kecil memang. tapi kadang, Kyuhyun menemukan itu malah menggemaskan, dan menguntungkannya. Iya, pikir saja sendiri bagaimana bisa hal seperti itu menguntungkannya!

Petir kedua datang dan Songjin masih saja bertahan pada posisinya. Kini Kyuhyun lah yang mengiba. Merasa tak enak hati dan baru saja terpikirkan untuk menarik Songjin saja langsung, walaupun nanti, wanitanya itu akan memberontak seperti ketika mereka sedang bertengkar dan Kyuhyun lebih memilih untuk memeluk Songjin saja dibandingkan melawan argument Songjin.

Yeah, baiklah.. ini sudah hitungan ke dua puluh. Sepertinya memang  benar bahwa Songjin marah besar dengannya. Dan rasa bersalah Kyuhyun telah menggunung tinggi setinggi gunung Himalaya.

Namun pada petir ketiga, yang menghasilkan getaran lebih kencang, Songjin tidak lagi dapat membuat harga dirinya bertahan lebih lama dan langsung melompat memeluk Kyuhyun erat.

Kyuhyun yang sebelumnya bingung bukan main kini tertawa penuh kemenangan. Senyuman lebar terpautkan begitu tinggi sambil menepuk-nepuk punggung Songjin berkali-kali, “Hmm.. My Baby—“ Ujarnya senang, menyesapi aroma Strawberry rambut Songjin.

Dua puluh detik bertahan dalam gemuruh petir penuh gengsi, tangan Songjin dapat menjadi begitu dingin. entah merinding ketakutan atau sedang kedinginan, tapi tubuh Songjin bergidig berkali-kali. “Jangan macam-macam. Aku masih marah denganmu!” tegur Songjin ketika Kyuhyun mulai menyapukan hidung mancungnya melewati lipatan bahu Songjin. Membuat Kyuhyun berdecak sebal merasa tidak terima.

Wanita ini baru saja meminta perlindungannya tapi seperti egois dengan tidak mau memberikan balasan. Balasan yang seperti… itulah. “kau akan merindukanku nanti saat aku di Jepang, sayang.” bisik Kyuhyun penuh percaya diri.

Songjin tidak mengambil pusing dan hanya bertahan dari rasa takutnya, sambil memejamkan mata, berusaha tidur. “Mungkin itu kau. aku tidak.”

Songjin mengulurkan tangan untuk menarik tangan Kyuhyun yang telah menggerayangi tubuhnya. Menghempaskannya begitu saja lalu kembali membuat dirinya sendiri nyaman untuk tidur. Tapi Kyuhyun memang tidak pernah mau mendengar. “Cho Kyuhyun!”

“Oppa!” Kyuhyun memutus, “sopan sekali kau ini? sekali-kali panggil aku Oppa”

“Cih!!”

Haah—dasar keras kepala! Kyuhyun merasa bahwa Songjin mulai kembali menyulut pertengkaran. Kapan sih istrinya ini akan menurut dengan tidak menolak permintaannya untuk hal yang satu ini?

Terlalu lama, Kyuhyun sampai bosan karena merasa harus terus menjadi pihak yang lebih dulu berinisiatif. Setidaknya dalam hal kesopanan dengan memanggilnya Oppa, masih sedikit dapat ditolelir biarpun mengingat bahwa sebenarnya itulah yang harus Songjin lakukan ketika sadar bahwa usia mereka berbeda dan dirinya berada pada posisi lebih muda.

Tapi Park Songjin selalu banyak bertingkah ketika mereka akan bercinta. Atau saat Kyuhyun memintanya. Itulah masalahnya. Menyebalkan, bahwa ketika Kyuhyun tahu sebenarnya Songjin tidak benar-benar berniat menolaknya, melainkan hanya bertahan karena gengsi dan menempatkan harga diri terlalu tinggi untuk setidaknya, sedikit saja mencoba merendah, berkata bahwa wanita itupun menginginkan dirinya seperti dirinya yang menginginkan wanitanya itu.

Besok, Siwon, Kyuhyun, dan Ayahnya harus pergi ke Jepang untuk peresmian Galeri Hyundai pertama mereka di Negara asal Bunga Sakura tersebut. selama tiga hari Kyuhyun akan berada di Jepang dan sayangnya, pria itu sama sekali tidak berniat untuk membawa Songjin bersamanya.

‘kau akan bosan. Aku tidak akan sempat membawamu berjalan-jalan disana. Nanti kau pasti akan merengek dan akhirnya hanya merepotkanku saja.’ respon Kyuhyun beberapa minggu yang lalu ketika Songjin tahu bahwa Kyuhyun akan pergi ke Jepang dan dirinya langsung mengiba untuk ikut.

Ketika itu Songjin masih bersikeras untuk tetap ikut. Bertahan bahwa dia akan nekat membeli tiket dan terbang sendiri ke Jepang walaupun Kyuhyun tidak ingin membawanya.

Dia akan seperti hantu yang nanti, tiba-tiba akan muncul ketika pesta peresmian Galeri tersebut berlangsung dan berjanji akan mengejutkan Kyuhyun karena hal tersebut, namun kemudian rencana itu tidak pernah terdengar lagi kabarnya, saat Kyuhyun dengan tegasnya berkata bahwa pria itu akan membekukan seluruh kartu kredit Songjin, jika istrinya itu benar-benar akan terlihat batang hidungnya disana nanti.

“bukan karena aku berkata bahwa telur gorengmu terasa mengerikan lalu aku tidak mau memakannya, kan? Tadi kau sendiri yang langsung membuangnya! Kenapa aku yang kau salahkan?”

Kyuhyun benar-benar merasa tidak terima kali ini. tadi itu, jika saja Songjin tidak langsung menginterupsi makan malamnya, rencananya telur mengerikan itu akan dilahapnya semua. Lagipula dia juga sedang lapar. Jadi apa salahnya? Kabar buruk dari menelan masakan Songjin paling hanya sakit perut kan?

Kali ini Songjin mungkin memang benar kesal. Tidak sedikitpun wanita itu mau merespon apa yang Kyuhyun sampaikan. Tidak pula sedikitpun terpikirkan untuk merasa senang, jika sebenarnya Kyuhyun baru saja berkata bahwa dirinya bersedia memasukan racun mengerikan itu kedalam tubuhnya.

“Kau selalu menyalahkan aku. semuanya aku yang salah. aku lagi aku lagi!” Dengus Kyuhyun.

“Bukan itu maksudku, tapi kau—“ Songjin terdiam, sejenak berfikir. Mengadahkan wajah untuk menatap wajah Kyuhyun yang berada lebih tinggi darinya, “apa tidak bisa sedikit saja belajar untuk menghargai kerja keras orang lain? Setidaknya, aku pantas mendapatkan pujian, bahwa aku baru saja melakukan kerja bagus, iyakan?”

Kyuhyun memutar bola matanya jengah. Bukankah dengan berkata bahwa dia tetap mau memakan telur goreng itu sudah merupakan sebuah pujian untuk Songjin? “Aku sudah mengatakannya!” ucapnya lantang.

“Apa?” Tantang Songjin meninggi.

“Arra! Arra Arra! Kerja bagus Park Songjin. Telur gorengmu enaaak sekali!!” Kyuhyun menyetel wajahnya seceria mungkin dan berkata dengan nada menyenangkan, dan malah mendapat tendangan kencang dari Songjin pada tulang kering kakinya. “Yaaak! Aku baru saja mengikuti maumu, kau ini kenapa sih?” Gerutu Kyuhyun kemudian menjadi lebih kesal daripada sebelumnya.

“kenapa harus berbohong kalau rasanya enak? Rasanya kan tidak enak!!”

Kyuhyun menghela nafasnya kasar. Tidak tahu lagi apa yang Songjin inginkan sebenarnya. ini salah itu pun salah. bicara ini salah mengatakan itu juga salah. “Songjin~”

“Kau—Kenapa selalu menyebalkan sih?!”

Kyuhyun mengulur lagi kesabarannya dengan mendekap Songjin lebih erat. Lupakan sajalah tentang rencana bercintanya itu. Songjin sedang kumat dan ini tidak akan menyenangkan jika dilanjutkan. Lebih baik tidur dari pada membuat suasana menjadi semakin kacau.

“…..kau tidak akan pernah berubah, iyakan? Kenapa tidak bisa seperti Donghae Oppa sih? Donghae Oppa tadi juga mencicipi masakanku. Aku tahu rasanya tidak enak, benar-benar tidak enak, tapi Donghae Oppa tidak mengatakan hal jahat seperti yang kau katakan! Dia hanya mengatakan bahwa—“

“Donghae?” Mata terpejam Kyuhyun seketika terbuka. Usapan lembut yang dilakukannya berulang pada punggung Songjin ikut berhenti, “Dia berkata bahwa aku terlalu banyak memasukan garam. Dan telurnya terlalu matang. Aku bahkan memberikan yang setengah gosong untuk Donghae Oppa! tapi dia tidak mengataiku seperti kau begini!!”

Mata Kyuhyun menyipit seraya pria itu kemudian menjauhkan tubuh Songjin yang semula didekapnya. Donghae. Lee Donghae. Kenapa harus selalu ada Lee Donghae sih dalam percakapan mereka?

Seperti Lee Donghae itu tidak pernah puas memunculkan diri ditengah kehidupan mereka. Lee Donghae.. Lee Donghae.. Nama itu jadi tampak semakin menyebalkan saja ditelinga Kyuhyun. “kau juga bisa bicara seperti itu kan? Bicara yang sedikit manis dan tidak selalu berkata ‘ini Racun!!’ pada setiap masakanku, walau ya, masakanku memang seperti racun.”

“Kapan kau bertemu Donghae?” Tanya Kyuhyun cepat. Lebih memilih untuk menanyakan hal yang dipertanyakannya sejak awal Songjin mengangkat nama pria amis itu pada percakapan mereka.

Kening Songjin mengkerut sesaat, sejenak merasa tidak mengerti dengan Kyuhyun yang seakan membelokan percakapan, “ini bukan masalah Donghae Oppa, tapi—“

“Kapan?”

Kyuhyun mengulang pertanyaannya singkat. Bernada rendah Namun tajam dan tegas. “Tadi. tadi kan aku kerumah sakit,” kini alis Kyuhyun terangkat bingung, Rumah sakit?

Dan seakan paham dengan kebingungan Kyuhyun, Songjin mendesah, “Yeah, aku baru ingat kalau aku menikah dengan kakek-kakek berdaya ingat rendahan. Aku memiliki jadwal periksa kandungan kan?”

Ah.. itu dia asalannya, “kau pergi dengan siapa tadi?”

“Tentu saja dengan diriku sendiri. kau pikir?” balas Songjin sarkasme. Melirik sinis pada Kyuhyun yang sedang membodohi diri, kembali lupa dengan hal yang selalu ingin dilakukannya, menemani Songjin memeriksakan kandungan runtin. “Kenapa tidak beri tahu aku? aku bisa menemanimu tadi.”

Yeah, meninggalkan satu – dua jadwal rapat nya tak masalah sepertinya. Tapi Park Songjin tidak memberitahukannya! Itulah masalahnya.

Sekarang Songjin lah yang memutar bola matanya Jengah. Kenapa tidak beri tahu aku? kenapa? kenapa lagi memangnya? Dasar Cho Kyuhyun, pabo! “kenapa aku harus mengingatkan semuanya? Dengan hal sepele seperti ini saja kau bahkan lupa. Kalau kau memang berniat ingin ikut, kau juga harus mengingatnya sendiri!”

“Tapi ada banyak hal yang kulakukan, dan sedang kulakukan, kenapa tidak dipermudah saja? kau ingatkan aku, begitu saja kan bisa! Kau juga jadi tidak perlu pergi sendiri.”

Songjin menggeleng tidak habis pikir dengan suaminya. Kapan Kyuhyun akan menjadi sedikit lebih peka dan berubah? Menjadi lebih manis dan tidak menyebalkan?

** **

“Aku tidak bisa, Eun Soo.”

“Tapi kau mau, kan?”

“Aku sibuk.”

“Iya, tapi kau mau, kan Oppa?” Eun Soo kembali mengulang pertanyaan singkatnya. Dan Donghae segera melepas kaca mata bacanya. Benda alat bantu baca berbingkai hitam tersebut diletakannya dimeja dan Donghae kemudian memijit sudut matanya perlahan.

Tubhnya lelah dan kepalanya begitu pusing sejak tadi. entah bagaimana hari ini banyak sekali pasien. Sejak pagi, hingga malam hari seperti ini, tak hentinya dia bekerja.

Iya, menjadi dokter dan menolong orang lain memang pekerjaan mulia. Tapi dia sendiri pun tidak akan menampik jika dia memerlukan sedikit waktu kosong bagi dirinya sendiri. dan disaat sedang mendapatkannya, tiba-tiba saja Kim Eun Soo datang mengganggu.

Tanpa babibu langsung menyelonong masuk kedalam ruangannya dan merengek untuk ditemani datang pada acara Fashion Show Damon Wang. Damon Wang itu siapa, bahkan Donghae tak kenal. Walaupun Eun Soo berkata bahwa dia akan datang bersama dengan gadis tersebut jadi tidak perlu mempermasalahkan apa dia mengenal Damon Wang atau tidak, tapi tetap saja. duduk duduk untuk menonton deretan gadis berlenggat lenggot diatas catwalk, dan memperhatikan pria gemulai melakukan hal yang sama, bukanlah gayanya.

Dia tidak pernah suka. Dan tidak pernah ingin untuk suka. Lagipula waktunya sangat sedikit. Untuk sesekali, Donghae pun ingin menikmati waktunya seorang diri tanpa gangguan siapapun.

“aku tidak mau.” Donghae menjawab singkat dan tegas. sebenarnya saja, jika Eun Soo dapat sedikit lebih paham, bahwa sebenarnya Donghae sedang menolaknya mentah-mentah.

Bukan hanya mengenai ajakannya untuk datang bersama pada Fashion Show Damon Wang atau pada ajakan ajakan terdahulu juga yang akan datang, tapi pada hal lainnya. Seperti, mengakui sesuatu?

Atau mungkin, Eun Soo bukannya tak paham. Eun Soo hanya berpura-pura tidak memahami bahwa Lee Donghae sedang menolaknya sekarang. dulu, atau nanti, “Eun Soo-ssi——”

“Oppa, Ayolah. Masa aku harus datang sendiri?” rengek Eun Soo. Gadis tinggi itu menyetel wajahnya semenggemaskan mungkin hanya agar Donghae dapat luluh.

“Kau—berapa kali harus aku katakan? kau bisa berhenti memanggilku, Oppa? tolong berhenti! kita memiliki usia yang sama.”

“Kau lahir dua bulan lebih dulu dariku. Kau lebih tua dariku.”

“hanya dua bulan, Oke? Kau membuatku terlihat dua abad lebih tua dengan memanggilku, Oppa!”

Kini Eun Soo tertawa kencang. jemari lentiknya menutup mulutnya yang terbuka. Memperlihatkan bagaimana lucunya kuku-kuku hasil lukis seseorang pada salon nail art yang didatangi dua hari lalu bersama Songjin.

Donghae yang kesal terlihat sangat menggemaskan untuknya. Sedangkan Eun Soo yang menyebalkan, tetap terlihat menyebalkan dimata Donghae. Ayolah, harusnya Donghae tidak bersikap seperti ini terus atau Eun Soo akan semakin jatuh cinta saja dengannya!

“aku tidak bisa Eun Soo-ssi. Acaramu tanggal 15 Desember, sedangkan ditanggal itu aku harus pergi seminar. Aku tidak bisa.” Jelas Donghae kembali.

Oke, kalau tanggal 15 tidak bisa menemani datang pada acara Fashion Show Damon Wang. Oke. Tak masalah. Atau mungkin ini adalah masalah. Sedikit, tapi sudahlah, masih ada banyak waktu untuk memikirkanya lagi. “Tapi bisa makan siang denganku kan??” Eun Soo mengedip-kedipkan matanya hingga bulu mata lentiknya terlihat dengan jelas.

Donghae menarik napas dalam-dalam. Kim Eun Soo ini, benar-benar tidak pernah bosan dengan segala rengekan untuknya. Semakin keras dia menolak, maka Eun Soo akan menjadi semakin kencang mencekiknya. Semakin sering dia berkata ‘Pergi’ maka semakin seringlah Eun Soo mengatakan ‘Ayo!’. Semakin Donghae ingin menendangnya jauh, semakin Eun Soo terus mendekat. Benar-benar keras kepala!!

“ini bukan waktunya makan siang lagi. ini sudah jam 8 malam.”

“Tapi kau kan belum makan siang, Oppa! makan malam apalagi—”

Oppa! Haah—Kapan Sebenarnya Kim Eun Soo mau mendengarkannya? Cukuplah sudah mulutnya berbusa melarang Eun Soo untuk memanggilnya Oppa. “aku tidak lapar. Lagiupula, kau tidak dengar kataku tadi? ini sudah jam 8 malam! tidak ada orang yang makan siang jam 8 Malam!”

Donghae berkata begitu ketus. Memasang kembali kaca matanya dan mencoba mengabaikan Eun Soo dengan mengalihkan perhatian pada modul perkuliahannya lagi. Yeah, sepertinya mengambil pendidikan lanjut untuk meneruskan S3 demi mendapatkan gelar doktor terasa semakin mengerikan saja baginya kini. Kepalanya benar-benar akan pecah rasanya. Pasien, Eun Soo, Tugas-tugasnya. Ya Tuhan!

Eun Soo mencebikan bibir bawahnya seraya mengamati wajah Donghae. Senyuman lebarnya tersungging tinggi mendengar kata-kata Donghae. Melupakan fakta bahwa Lee Donghae sedang mengomel dengannya, “Tentu saja ada!!” serunya kencang. “KITA!!”

Seketika raut wajah Donghae berubah panik, ketika tiba-tiba Eun Soo mengangkat sebuah kantong kertas tinggi-tinggi dari dua tangannya, bertuliskan nama restoran yang diketahuinya berada tidak jauh dari Tempat nya bekerja ini. Dia bahkan tidak ingat kapan Eun Soo masuk membawa tentengan seperti itu.

** **

08:30 KST

Incheon – Airport, Seoul.

Songjin menguap sejak tadi tanpa henti. Wajahnya terlihat jelas masih sangat mengantuk. Malam tadi hujan deras dan petir sialan itu tidak mau berhenti mengganggu. Parahnya, Kyuhyun malah marah-marah tanpa sebab, yang membuatnya semakin tidak bisa tidur, karena dipenuhi pertanyaan ada apa dan kenapa Kyuhyun terus mengomel.

Kyuhyun bukannya tidak tahu bahwa Songjin terlihat kacau namun Semalam dia begitu kesal karena Songjin kembali berulah dengan banyak hal. Lewati saja bagian ketika Songjin menolaknya bercinta, tapi Lee Donghae benar-benar membuatnya kesal! Sampai kapan nama Lee Donghae akan terus menggentayanginya?

Semakin malam, percakapan dirinya dengan Songjin malah semakin berputar pada satu orang saja. semula topic mereka bukankah hanya berpusat pada telur goreng? Setelahnya, Lama- kelamaan Kyuhyun ingin menggoreng Lee Donghae saja karena Songjin terus tanpa henti berkata, ‘Donghae Oppa begini, Donghae Oppa begitu. Donghae Oppa melakukan ini, Donghae Oppa melakukan itu.’ Alah.. persetan dengan Lee Donghae!!

“Kau sakit, Songjin?” dahi Choi Ki Ho mengerut ketika memandang Songjin. Wajah Songjin terlihat sedikit lebih pucat dari pada biasanya. Dan tubuh Songjin seperti seseorang yang tidak memiliki tulang. Terlihat lemas. Pria paruh baya tersebut lalu menoleh pada Kyuhyun untuk mencari jawaban serta pertanggung jawaban, tapi Kyuhyun hanya diam, menggidikan bahu tanda bahwa dia tak tahu menahu dan membuang muka.

“Aniyo, Aboji. Hanya masih mengantuk. Semalam aku tidak tidur.”

“Tidak tidur?” Mata Choi Ki Ho membulat sempurna. Kini benar-benar terkejut, hingga kemudian, menendang kaki Kyuhyun didepanya sedikit kencang. Namun pria yang jelas-jelas sedang menjadi pusat perhatian, hanya tetap sibuk pada tabletnya membaca Koran digital.

“Kau sedang mengandung. Tidak tidur itu bahaya. Jangan terlalu sering melakukannya. sesuatu yang buruk dapat terjadi nanti.”

Songjin hanya tersenyum tipis, mengangguk dan melirik Kyuhyun. suaminya itu masih mendiamkannya sejak semalam. Yeah, lakukan saja apa yang kau ingin lakukan. Batin Songjin dalam hati setengah menggerutu, karena sebenarnya dia begitu kesal.

Kyuhyun akan pergi sebentar lagi, apa mereka harus berpisah dengan membiarkan pertengkaran itu terus terjadi? itu tidak baik, kan?

“Jangan terlalu sering melakukannya, Cho Kyuhyun—dengar tidak?!” Siwon berbisik ditelinga Kyuhyun berniat menggoda. Pria dengan tubuh kekar itu terlihat senang saat Kyuhyun menjadi bulan-bulanan Ayahnya karena biasanya, dirinya lah yang menjadi pokok omelan.

Siwon berbicara dengan nada menjijikan, memberikan penekanan pada kata sering melakukan, seakan Kyuhyun memang tampak begitu mesum dimatanya. Membuat Kyuhyun langsung mendengus sebal, tidak terima, “Apanya yang sering melakukan?!! Jangan macam-macam kau Hyung! Bicara yang benar! Tahu apa kau ini?” Kyuhyun mendelik.

Kalau tidak ada panggilan penerbangan, bagi penumpang pesawat yang akan dinaikinya itu, Kyuhyun sepertinya benar-benar akan memukul kepala Siwon dengan tabletnya sampai benjol.

Siwon hanya berdecak santai sambil menggeret kopornya, “dasar tidak seru!” umpatnya memukul pelan kepala Kyuhyun dan berjalan lebih dulu bersama Ayahnya menuju tempat untuk melakukan boarding pass.

Henry dan Min Ji yang ikut bersamanya hanya terkekeh bersamaan. Siapa yang tidak tahu kalau Kyuhyun sedang kesal, pria itu akan menjadi tampak sangat menyebalkan?!

Kyuhyun ikut bangkit dan memasukan tablet kedalam tasnya. Kyuhyun memiliki barang bawaan tersedikit dengan hanya menggunakan ransel. Ransel yang sebenarnya hanya berisi makanan dan laptopnya saja, karena dia tidak ingin kerepotan membawa pakaian dan semacamnya. Apa gunanya toko pakaian diciptakan kalau begitu? Haah—

Kyuhyun berjalan malas-malasan mengikuti Siwon, Ayahnya, Henry dan Min Ji. Untuk sesaat, gengsi yang dibuat sejak semalam memang masih cukup tinggi Namun setelah tiga langkah menjauh, Kyuhyun kemudian berbalik.

Dia mendapati Songjin yang masih terdiam ditempatnya tak melakukan apapun, kecuali merunduk menghitungi jumlah debu dilantai bandara. Beberapa detik saja selepas memperhatikan, Kyuhyun merasa kesal, namun rasa aneh saat harus dengan terpaksa berada jauh walau hanya untuk tiga hari saja dari istrinya membuatnya mengalah.

“Yaak!”

Ujar Kyuhyun saat kembali sudah berada didepan Songjin. Ujung sepatunya menendang flat Shoes milik istrinya, “setelah ini pulang. tidur!” perintahnya manis. Tapi nada bicaranya masih saja dipasangnya dingin.

“aku tahu.”

“Jangan lakukan hal-hal aneh selama aku tidak ada.”

Songjin mendengus saat Kyuhyun mengatakan hal tersebut. Jangan melakukan hal-hal aneh itu seperti hal aneh apa? Pria ini apa tidak bisa bicara dengan intinya saja langsung? Aish! “Aku Tahu!” Mulut Songjin tak tahan untuk tidak mendesis setelahnya.

“Jangan lewatkan waktu makan, dan minum Vitaminmu.”

“Aku tahu. Aku tahu! cerewet!!” Songjin menggerutu kesal. Dia bukan lagi anak kecil. seharusnya Kyuhyun berhenti bersikap seperti itu dan menciumnya saja, berkata hal manis lainnya seperti, ‘aku akan pergi, tunggu aku kembali, aku mencintaimu.’ seperti yang sering ditontonnya dalam serial Drama!

Ahh—tapi mengharapkan Kyuhyun bersikap seperti itu, sama saja seperti mengharapkan matahari tenggelam dari Timur!

“Jangan hanguskan dapurku!” Tukas Kyuhyun lagi. Kini lengkap dengan wajah menyeramkannya, seperti jika Songjin benar-benar akan melakukannya, maka Kyuhyun kemudian dapat berubah menjadi monster hijau pemarah.

“Lalu aku harus belajar masak dimana kalau tidak boleh menghanguskan dapur?”

“tidak perlu belajar masak! Lagipula tidak ada Min Ji yang mengajari! Makan saja di Bistro, kalau ingin hidup lebih lama.” Kyuhyun mendengus. Sekertarisnya Min Ji, adalah satu-satunya orang yang rela membantu Songjin untuk belajar memasak.

Min Ji adalah satu-satunya orang yang entah tulus atau tidak berkata bahwa semua orang bisa memasak. Termasuk Songjin.

Oh, Dan Lee Donghae tentu saja!

Songjin yang kesal, hanya memandangi Kyuhyun dalam diam. suaminya itu jelas terlihat ingin melakukan sesuatu, tapi masih kesal dengannya. Sejak semalam yang dikerjakan Kyuhyun hanya mengomel-mengomel-dan mengomel.

Seperti Ahjumma – Ahjumma dipasar!

Maka kemudian, Songjin mendekatkan tubuhnya, membuat tangannya menggantung pada leher Kyuhyun. tingginya yang berbeda jauh, membuatnya harus berjinjit untuk mencium bibir tebal disana.

“masih marah?” ucapnya setelah beberapa detik mempermainkan emosi Kyuhyun. sedangkan Kyuhyun hanya berdiri dengan tubuh kaku. Memperhatikan Songjin seperti dirinya adalah anak remaja ingusan yang baru saja mendapatkan ciuman pertama.

Pertanyaan masih marah atau tidak itu sebenarnya sangat tidak layak untuk disampaikan. Seperti Songjin tak tahu saja, kalau Kyuhyun akan dengan mudah berubah pendirian setelah Songjin melakukan sesuatu dengan tubuhnya.

Kyuhyun menggeram frustasi menghadapi Songjin. Istrinya ini benar-benar menyebalkan karena tahu bagaimana cara dalam hal mempermainkan emosinya. Membuatnya  marah, lalu kemudian meredakannya dengan mudah. Membuatnya kesal lagi dan memaksanya untuk memaafkan tanpa syarat. Menyebalkan sampai dia ingin pulang saja dan tidak ingin ikut ke Jepang kali ini!

Tanpa memerlukan waktu untuk berfikir lebih banyak, Kyuhyun menarik tubuh Songjin dan melumat habis bibir tipis Songjin lama. tersenyum tipis tanda kepuasan saat Songjin mulai kehabisan nafas. “hubungi aku kalau sudah sampai.”

“Aku tahu!” sekarang Kyuhyun yang mengulang ucapan Songjin. Dia kembali mengecupi Songjin berkali-kali hingga Songjin menjauhkan wajahnya agar Kyuhyun dapat berhenti dan sadar bahwa semua orang sedang memandangi mereka dengan pandangan aneh.

“Oke. Oke. Cepat pulang—dan kau bisa menyelesaikan urusan kita setelahnya. sekarang kau harus pergi, kalau tidak ingin ditinggal karena pesawatmu sudah terpanggil dua kali! Sana cepat!!! Hus Hus!!”

Songjin mengayunkan tangannya diudara dan terus mendorong tubuh Kyuhyun. terlihat terlalu berusaha mengingat tubuhnya dan tubuh Kyuhyun memiliki ukuran yang cukup terlihat jauh berbeda.

Kyuhyun menyapukan hidung mancung serta bibirnya pada bahu Songjin. Mengecap sesuatu disana hingga Songjin bergerak mundur sambil mencengkram kemeja Kyuhyun ketika merasakan sesuatu yang dingin menyentuh bahu miliknya.

Dalam waktu tak kurang dari lima detik, Kyuhyun telah melepaskannya lagi. sambil mendengus dia menggerutu dalam hatinya. Songjin benar, dan Ayahnya disana sudah berdiri dengan tangan menggantung dipinggang menunggunya tak sabar. Maka Kyuhyun mengecup kening Songjin untuk terakhir kali cepat sebelum dia benar-benar mengangkat kaki dari tempatnya, “Jangan macam-macam, oke?” pesannya. Kemudian berjalan cepat menuju deretan orang yang telah menantinya.

“Demi Tuhan, Kita hanya akan pergi tiga hari, Cho Kyuhyun. bukan tiga tahun. jangan berlebihan seperti kalian adalah pasangan pengantin baru! Aku yang pengantin baru saja tidak seperti itu!!” Maki Choi Siwon. Bersingut jalan mendahului Kyuhyun, sambil menyeret koper dengan cepat.

** **

“Sudah?” Eun Soo melepas kaca mata hitamnya setelah Songjin masuk kedalam mobilnya. Songjin mengangguk malas dan menurunkan jok-nya hingga dia memiliki posisi nyaman untuk tidur. “cepat sekali. tidak ada air mata?”

“mungkin ada kalau Kyuhyun meninggalkanku tiga abad lamanya.”

“Yeah, aku kira kau akan menangis meraung-raung dan tidak membiarkan Kyuhyun pergi.”

Songjin sedikit tersenyum mendengar perkataan Eun Soo. Kalau tadi pada awalnya Kyuhyun sedang tidak kesal dengannya, mungkin dia sudah akan melakukan hal seperti itu. tapi Kyuhyun masih saja diam sampai pada detik terakhir keberangkatannya.

Mana Sudi Songjin melakukan tangisan meraung ditengah banyak orang yang menonton? Ew!

“Kenapa kau tidak bawa mobilnya saja? sayang kan dibiarkan disini saja? kalau aku jadi kau, aku tidak akan kuat membiarkan Porche-ku seorang diri di Lahan parkir.”

Eun Soo berkata sambil membayangkan mobil sport milik Kyuhyun yang sejak lama diincarnya. Sayang saja, mobil seperti itu harganya bukan main mahal dan kalaupun uang sebanyak itu dimilikinya, tidak akan mudah dia mendapatkan mobil dengan jumlah terbatas seperti itu.

“Biar kutebak. Kyuhyun melarangmu mengemudi?”

Songjin tersenyum malas dan hanya menggerakan alisnya saja sebagai jawaban. Dia sudah sangat ingin tidur, karena mengantuk. Tapi Eun Soo terus bicara seperti kereta. Kalau ditanggapi, pastilah akan lebih panjang percakapan mereka, dan dia tidak akan bisa tidur.

Namun kemudian setelah beberapa detik Songjin berdeham meluruskan suara, “bukan melarang. Aku terlalu mengantuk untuk mengemudi, dan Kyuhyun terlalu menyayangi mobilnya. Dia takut mobilnya ringsek karena aku mengemudi sambil tidur, Eonni~” canda Songjin.

Dia mengingat banyak larangan Kyuhyun tentang ini dan itu. tentang apa yang boleh, dan dapat dilakukannya ataupun tidak. Termasuk ketika Kyuhyun lebih memilih menyimpan sendiri kunci mobilnya dan tidak memberikan itu kepada Songjin.

Membuat Songjin pada akhirnya harus menghubungi Eun Soo untuk menjemputnya dibandara.

“Manis sekali.”

Decak Eun Soo singkat. Mengerling Jengah yang sebenarnya adalah wujud dari rasa iri. Entah kenapa, memperhatikan Songjin dan Kyuhyun membuatnya merasa kesal dengan Lee Donghae.

Kyuhyun yang selama ini terkenal begitu dingin saja bisa berbuat manis dan hangat kepada Songjin. Lalu ada apa dengan seorang Lee Donghae yang sudah jelas-jelas adalah pria hangat dan manis, tapi malah bersikap dingin kepadanya?

Atau benar perkataan orang-orang selama ini, bahwa hanya ada dua hal yang dapat mengkotakan jenis pria didunia ini, kalau tidak Gay, sudah pasti mereka Brengsek. Tapi itu malah sedikit membuatnya bingung sendiri pada akhirnya, “Apa Kyuhyun pria yang Brengsek?” tanyanya kepada Songjin.

Wanita yang sudah nyaris akan tertidur itu membuka matanya dan menoleh pada Eun Soo. Kening datarnya mengkerut seketika. apa? “Kyuhyun brengsek?” Songjin mengulang seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Ada apa dengan Kim Eun Soo yang tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan badai, mengatai Kyuhyun Brengsek? “Maksudmu?” Songjin melirik Eun Soo dari sudut matanya tajam.

Sebenarnya sedikit kesal. Baginya, satu-satunya orang yang boleh mengatai Kyuhyun Brengsek adalah dirinya sendiri. dan sekesal apapun dia dengan Kyuhyun sampai sekarang, dia tidak pernah sekalipun mengatai suaminya itu pria brengsek! Apa-apaan ini, orang lain tiba-tiba dapat menilai suaminya tanpa tahu asal muasalnya?

“Hanya ada dua tipe pria. Gay dan Brengsek. Menurutmu, Kyuhyun masuk kemana?”

Kerutan dikening Songjin semakin kencang. kini bukan kesal, tapi bingung “kenapa bisa seperti itu? kenapa hanya ada dua jenis saja?”

“Hukum alam, darling.” Cetus Eun Soo dengan senyum sumringah “Itu sudah hukum alam untuk Lelaki.”

“Lalu, kalau Lelaki hanya dua jenis itu saja, bagaimana dengan wanita?” Tukas Songjin antusias. Kini rasa kantuknya telah lenyap entah kemana. Topic Eun Soo kali ini cukup menarik dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. dia ingin tahu berdasarkan teori apa Eun Soo dapat bicara seperti itu.

Bukankah itu terdengar seperti menyudutkan para pria saja? sedangkan jika dilihat dari sisi berbeda, wanita pun kadang memiliki sifat yang sama buruknya dengan pria.

Eun Soo menggidigkan bahunya. Wanita tersebut kembali mendecak seraya berfikir, kalimat seperti apa yang pas untuk dikeluarkannya ketika menjelaskan hal rumit seperti ini dengan Park Songjin? Wanita yang Kyuhyun selalu sebut memiliki otak minimalis.

“Well—aku tidak akan membernarkannya juga. tapi melihat fakta yang ada. Aku semakin percaya dengan teori itu. setahuku, wanita selalu melipat gandakan apa yang Pria berikan. Sedangkan Pria tidak.” Tukas Eun Soo. Menoleh pada Songjin yang terlihat jelas sedang mencerna kata-katanya.

“Begini, Saat pria memberikan sperma, wanita memberikannya bayi. Saat Pria memberikan rumah, wanita memberikannya tempat untuk pulang. Saat Pria memberikan belanjaan, wanita akan memberinya masakan. Saat pria memberikan senyuman, Maka wanita memberikan hatinya. Untuk semua alasan itu, Songjin. Aku kira Teori entah siapa itu semakin masuk akal saja, iyakan?”

Benar. kata-kata Eun Soo memang terdengar masuk akal. Jika diperhatikan lagi dan diamati. Pria tidak akan semudah itu memberikan apa yang mereka miliki sedangkan wanita seperti sedang mengobral.

Pria terlalu banyak berfikir apa yang baik dan tepat untuk dilakukan, sedangkan wanita dapat dengan cepat memutuskan bahwa mereka akan berkata ‘ya’ untuk apapun yang menyangkut dengan hatinya. Hanya mengikuti perasaan. Apa yang dirasa.

“Yeah—walau terdengar sedikit mengerikan. Tapi ada benarnya.”

“tidak sedikit. Itu memang mengerikan. Tapi, kau berfikir yang sama kan denganku? itu membuatku merasa kalau semua pria adalah sama! Menyebalkan kan?”

Songjin tersenyum sesaat mendengar Eun Soo, kini terlihat seperti seorang calon anggota cabinet yang sedang berpidato. Berapi-api dan tampak sangat bersemangat.

Yang dirinya tahu adalah, Kim Eun Soo seorang wanita independent yang tampak tidak memerlukan seorang pria. Tapi sekarang, terlihat cukup lemah pada akhirnya. Senyum Songjin lalu merekah lebih lebar, “lalu, Donghae Oppa masuk kategori yang mana? Gay atau Brengsek?!” candanya.

Seketika Eun Soo mendelik terkejut. Menoleh pada Songjin yang sedang tertawa memperhatikan keterkejutannya. Nafas Eun Soo tiba-tiba saja dapat berubah menjadi memburu, sedangkan jantungnya berdegup begitu tidak karuan lagi.

Itu adalah pertanyaan paling sulit sedunia yang pernah didapatkannya. Untuk meletakan Lee Donghae pada sisi yang mana? Karena keduanya bernilai Negative, dan dia sendiri pun tidak begitu yakin, apa Lee Donghae begitu parahnya hingga harus dimasukan dalam dua kategori itu saja?

“…Dia.” Eun Soo menelan ludahnya. Seraya berfikir tangannya sibuk dengan kemudi stir, menyalip mobil mobil dihadapannya, seperti pembalap professional. Atau memang diam-diam, itulah bakat seorang Kim Eun Soo mengingat wanita tersebut tidak pernah mengemudi dalam kecepatan dibawah 100 Km/Jam.

“Donghae Oppa terlalu manis untuk dimasukan dalam kategori pria Brengsek. Tapi semua orang tahu kalau dia bukan Gay.”

“Tahu dari mana kau dia bukan Gay?” sinis Eun Soo menanggapi kata-kata Songjin tadi. “sepertinya dia tidak begitu tertarik dengan wanita.”

“Jinjja?” pekik Songjin. “Sepertinya tidak. kalau sedang bersamaku.. sepertinya Donghae Oppa tidak— dia baik dan manis. Sepertinya Donghae Oppa bukan Gay.”

“Yeah, hanya denganmu dia tidak Brengsek dan tidak seperti Gay.” Runtuk Eun Soo kembali kesal. Memperhatikan wajah polos Songjin saat berbicara benar-benar membuatnya frustasi. Kini Eun Soo barulah sadar, bagaimana rasanya seorang Cho Kyuhyun ketika sedang berbicara dengan Songjin.

Sering sekali dia kesal dengan perilaku Kyuhyun ketika mendapati pria tinggi itu menggeram, atau mendorong-dorong kepala Songjin ketika mereka sedang berbicara, apalagi beradu argument.

Parahnya, Eun Soo tidak pernah bisa lagi membayangkan dengan daya kerja otak se ‘minimalis’ itu, Songjin selalu tidak pernah mau kalah dan pasti mendebat apapun kata-kata Kyuhyun. lebih tepatnya, wanita disampingnya ini tidak pernah mau kalah dengan Kyuhyun biarpun apa yang Kyuhyun sampaikan adalah benar, dan Songjin berada diposisi salah.

Sekarang Eun Soo kembali merasa iri, bahwa saat kembali mengingat, Kyuhyun terlihat lebih sering memilih untuk mengalah saja dari pada meneruskan perang lidah dengan Songjin yang tidak akan pernah ada habisnya. Setidaknya itu terlihat manis.

Lebih baik kehilangan kemenangan dalam adu argument dari pada kehilangan orang yang dicinta kan? Sayang sekali butuh manusia berkepala dingin untuk menyadari hal tersebut. dan sepertinya, Kyuhyun adalah salah satu manusia dalam golongan tersebut.

Seperti kata pepatah, berdebat dengan batu hanya akan membuat lelah saja.

Sekarang pun Eun Soo dapat mengerti apa yang Kyuhyun rasakan. Dan seperti itu pula, Eun Soo ingin sekali menjedukan kepala Songjin ketembok berkali-kali karenanya.

“Ah, Jangan cemburu begitu Eonni. Tenang saja. aku tidak akan menjeggal-mu. lagipula, aku sudah cukup puas hidup bersama Kyuhyun. walaupun dia sangat menyebalkan, Haaah—”

“Aku tidak cemburu!!” Bantah Eun Soo langsung. kecepatan mengemudinya menjadi berlipat-lipat dan itu membuat Songjin sedikit ketakutan hingga dia mencengkram sabuk pengamannya. “Eonni~”

“Aku tidak cemburu!”

“Oke. Oke. Kau tidak cemburu, Oke.” Songjin mengalah. Dan perlahan, kecepatan kembali pada ukuran semula. Songjin nyaris tidak bisa berfikir lagi, mengapa Eun Soo sangat suka mengemudi dengan kecepatan mengerikan? Seperti sedang menahan sesuatu. Yang Songjin ingat, alasan rasional melakukan itu adalah jika seseorang sudah tidak tahan ingin pup.

Tapi wajah Kim Eun Soo tidak terlihat seperti ingin pup ketika berkendara. Atau diam-diam dia sedang menutupinya karena malu? Ah, Molla~

Kendaraan yang mereka tumpangi sampai pada halaman luas dengan rumput-rumputan hijau tersebar. Sebuah air mancur dengan ukuran besar berada ditengah-tengah, membuat kemegahan rumah tersebut menjadi tampak seribu kali lebih menyeramkan.

Mereka telah sampai pada tujuan dalam waktu singkat saja. terang saja mengingat bagaimana Eun Soo mengemudi, merupakan alasan yang tepat mengapa mereka hanya membutuhkan waktu tidak kurang dari dua puluh menit saja, dari Bandar udara Incheon, sampai pada daerah Cheodamdong, yang semestinya memakan waktu empat puluh lima menit hingga satu jam untuk sampai.

“Omong-omong, kau datang ke Fashion Show Damon Wong kan?”

Ah! Sial, undangan itu lagi itu lagi! Eun Soo baru saja akan melupakan undangan tersebut dan berniat tidak akan datang. Selain malas datang sendiri, tolakan Donghae kemarin sudah membuatnya lebih dulu kehilangan mood untuk datang pada acara yang dianggungkan oleh banyak kaum Hawa tersebut.

“Molla.”

“Eish, datang Eonni! Kita harus datang!! Maksudku—yang benar saja! ini Damon Wong. Kita bisa pamer karena mendapatkan undangan Khusus yang membuat kita dapat duduk berderetan dengan Designer ternama! Aku dengar Marc Jacob datang?”

“Aku tidak bisa. Aku sibuk.”

“Eiy!”

“Sungguh, Songjin!” Eun Soo memamerkan ‘v’ Sign nya dengan wajah serius. sama sekali tidak tampak ekspresi kebohongan, hingga akan sedikit saja orang yang sadar bahwa Eun Soo sedang menahan kesal sebenarnya.

“Kenapa tidak seret saja Donghae Oppa untuk ikut bersamamu, seperti yang kau lakukan biasanya?” Songjin tersenyum. Satu alisnya naik ketika dia mengatakan hal tersebut. sebenarnya ingin saja tertawa, membayangkan kembali bagaimana Kim Eun Soo dengan semena-mena selalu membuat Donghae mau tidak mau terjebak bersama dengan wanita bertubuh tinggi dan langsing bagai seorang super model tersebut.

Yeah, Eun Soo memang seorang model, tapi tidak menggunakan embel-embel Super juga didepannya. Sebutan seperti itu dirasa masih jauh untuknya. “Dia tidak mau, bagaimana bisa aku menyeret-nyeretnya? Memangnya dia sapi kuseret-seret?” dengus Eun Soo kesal.

“kalau begitu buat dia mau.”

“Itu dia masalahnya. Masalahnya adalah, aku sudah kehabisan cara membuat pria itu mau melakukan hal denganku!! kau paham tidak sih?” Gerutu Eun Soo kemudian. Seketika ubun-uubnnya terasa ingin pecah saat Songjin tidak juga paham dengan kata-katanya sejak awal.

Namun Songjin hanya tersenyum cerah. Tangannya yang bebas menyenggol lengan Eun Soo seraya terkekeh geli, “Ayolah, apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Miss.Korea?”

“Mantan maksudmu?”

“Ah, kau angkatan tahun berapa? 2011 ya? aku lupa. Hehe—“

“Pamorku sudah hilang setelah aku menurunkan mahkota dari kepalaku. Pria-pria tidak lagi memujaku.”

Desis Eun Soo bengis, namun kemudian Songjin terkekeh lagi, “Atau itu hanya dipikiranmu saja? Kukira semua tergantung pola pikir. Kau sendiri yang selalu bilang, dengan berusaha, semua bisa didapat, iyakan?”

Eun Soo memutar bola matanya malas mendengar kata-kata motivasi dari mulut Songjin, walau tidak dapat menampik, sedikit terkesima dengan daya pikir Songjin yang tiba-tiba dapat terlihat begitu luar biasa—benar.

Ajaib.

“Ayolah, Eonni! Kau seorang wanita dengan kecantikan yang telah diakui oleh seluruh masyarakat Korea. bagaimana bisa kau jadi lembek begini? Ini seperti bukan kau!”

“ini memang bukan. aku tidak tahu sejak kapan aku jadi seperti ini.”

“Kau aneh. Tapi kalau Donghae Oppa tidak mau, kenapa tidak pria lain saja? semua pria menginginkanmu, kau tahu sendiri kan?”

Eun Soo terdiam memandangi Songjin. Sesaat ada suara-suara lain yang menggema didalam kepalanya, tentang pertanyaan Songjin tadi. dan itu adalah benar. sering sekali seseorang didalam kepalanya berteriak seperti itu.

Kenapa harus Lee Donghae? Kenapa tidak yang lain saja? dan percayalah, itu adalah pertanyaan, yang sama, yang Eun Soo sendiri tidak tahu harus menjawab seperti apa. Dia menganggumi Lee Donghae, seperti anak remaja ingusan yang baru pertama kali mengenal cinta. sampai terseok-seok mengejar-ngejar, tidak perduli walau sudah ditendang berkali-kali.

“Itulah permasalahannya. Semua pria ingin denganku.” Gumam Eun Soo menjawab pertanyaannya sendiri. atau tidak juga. seseorang didalam kepalanya yang menjawab, sedangkan mulutnya hanya bergerak mengikuti apa yang dikatakan orang takasat mata tersebut, seperti dihipnotis. “Semua orang mau sedangkan Donghae Oppa tidak. apa menurutmu itu masuk akal?” tukas Eun Soo sedikit panic. Sedangkan Songjin dengan bingung memperhatikan wajah Eun Soo—terlihat aneh.

“kau yakin kau jatuh cinta? atau hanya penasaran saja?” canda Songjin kemudian. Dia lalu turun dari Audi A8 Eun Soo dan membanting pintu kendaraan berwarna silver tersebut kencang, “Gomawo Eonni.” Lambaian tangan Songjin menyadarkan Eun Soo bahwa sejak tadi dia sedang melamun.

“Mm.” balasnya tersenyum ringan. Mengoper gigi dan mengangkat kopling perlahan, namun kemudian menginjaknya lagi hingga mobil berhenti. “Songjin!” panggilnya. Menyembulkan kepala dari kaca yang belum sepenuhnya ditutup. “lebih baik hari ini kau jangan keluar rumah!”

“Waeyo?”

“Kyuhyun sudah melarangmu.” Ucap Eun Soo. Dagu serta matanya tertuju pada bahu dan leher Songjin. Terdapat bercak dengan warna merah keunguan disana, yang Songjin sendiri tidak sadar dan tidak dapat melihat. Sesaat, hal tersebut membuatnya tak mengerti. Mengapa Eun Soo berkata seperti itu. Seingatnya, Kyuhyun tidak pernah mengatakan bahwa dia tidak boleh keluar rumah. Kyuhyun hanya berpesan, Jangan bakar dapur. Iyakan?

Namun jeritan memekik hingga kata-kata mengutuk keluar dari bibir Songjin ketika wanita tersebut menaiki undakan untuk masuk kedalam rumahnya, dengan kaca dikiri kanannya. Kissmark itu terlihat begitu jelas. jadi sejak tadi, dia tidak menyadari hal ini dan dia berjalan dengan tenang ditengah kerumunan?!

“CHO KYUHYUN SIALAN!”

“Itu maksudku!” kekeh Eun Soo puas.

** **

Siang ini seperti yang telah terjadwalkan, Bahwa Siwon, Kyuhyun, Choi Ki Ho, Henry dan Min Ji akan meresmikan Hyundai Gallery. Seluruhnya telah bersiap dan sepertinya semua tamu telah datang.

Mereka semua berada dilantai satu sedangkan Kyuhyun berserta lainnya dilantai dua. Acara masih berlangsung kurang lebih lima belas menit lagi. Kyuhyun menghabiskan waktunya dengan bermain Diablo. Sedangkan Siwon sejak tadi membuat telinganya sakit karena kakaknya itu sedang ber Skype ria bersama Gyuwon.

Bukan apa-apa. Pasalnya sudah sejak hari pertama Kyuhyun mendapati Siwon melakukan hal yang sama. Seperti tidak memiliki kehidupan. Berbanding dengan dirinya yang jika memiliki waktu luang maka akan menyenangkan diri sendiri dengan melakukan apa yang disukainya.

Seperti makan, tidur, menonton. Atau apapun itu, paling tidak merenggangkan otot yang mengkaku lantaran mereka terus bekerja bagai sapi pembajak sejak membuka mata. Tapi itulah Choi Siwon.

Entah hormon pengantin baru atau kakaknya itu memang norak. Tapi demi Tuhan, ini sudah hari kedua mereka di Jepang. Setidaknya, nikmatilah udara segar Jepang sebentar. Bukannya hanya mengunci diri dikamar dan melakukan video call seperti itu.

“I Love You~”

“I Love You Too!”

“I Love You More..”

“I Love You Most.”

“Hoeek!” Kyuhyun tidak tahan lagi. rasanya ingin muntah mendengar Siwon serta Gyuwon berperang kalimat siapa yang paling mencintai siapa. Ayolah, yang benar saja. itu menggelikan sekali!! “Hyung, Hentikan. Itu menjijikan.” Erang Kyuhyun memprotes.

“Apa urusanmu?” dengus Siwon kesal. Pria itu memasukan tabletnya kedalam sebuah tas berlabel ‘LV’ dan kemudian memberikannya kepada Henry untuk disimpan. “tentu saja urusanku. Aku memiliki telinga dan rasanya panas sekali mendengar kau biacara seperti itu terus. I Love You, I Love You Too, I Love You More, I Love You Most. Jinjja!” Kyuhyun meniru bagaimana Siwon bicara kepada Gyuwon. Sedangkan bulu kuduknya benar-benar meremang karena hal tersebut.

Entahlah, tapi Kyuhyun rasa Henry dan Min Ji pun sebenarnya risih mendengar Siwon seperti itu. awalnya Kyuhyun berusaha untuk lebih paham, bahwa itu hanya dikarenakan keduanya adalah seorang pengantin baru.

Yeah, bayangkan saja sendiri bagaimana rasanya menjadi pengantin baru, dan harus berpisah karena pekerjaan semacam ini. tapi lagi-lagi, seperti yang Siwon katakan padanya dibandara kemarin, mereka hanya pergi selama tiga hari. Bukan tiga tahun jadi bersikap seperti itu rasanya berlebihan sekali.

Hampir setiap detik, jika mendapatkan sedikit saja waktu kosong maka Siwon langung menarik tablet atau ponselnya dan menghubungi Gyuwon. Apa saja mereka bicarakan. Semuanya. Dari hal yang remeh hingga hal penting seperti.. jangan lupa kunci pintu saat kau tidur.

Dan Kyuhyun tidak pernah lupa dengan embel-embel kata ‘Honey’ yang selalu Siwon sematkan saat pria tersebut memanggil istrinya. ‘yes Honey, I Miss You too’ Ew! Kapan Siwon berhenti melakukan hal seperti itu?

“Kau iri?” ledek Siwon. Tersenyum menggoda setelah menghempaskan tubuhnya, duduk disofa bersisisan dengan Kyuhyun. Kyuhyun menggeleng cepat meresponnya sambil wajahnya mengerenyit aneh, tanda bahwa Siwon benar-benar membuatnya jijik setengah mati. Entah wajah atau pertanyaannya.

“Hyung, jangan buat aku benar-benar muntah, Oke?”

“Hooho, kau iri, Adikku sayang. ada apa dengan hal yang terjadi dibandara kemarin? Kalian terlihat seperti baru menikah satu hari tapi harus berpisah. Mesraaaa. Lalu sekarang kau bilang aku menjijikan. Kau yakin orang-orang dibandara kemarin tidak jijik melihatmu seperti pria mesum yang ingin memakan gadis belia? Aku tidak melakukan hal menjijikan, Kyuhyun-ah. Aku hanya memastikan bahwa istriku baik-baik saja disana mengingat dia sendirian saat aku tidak ada. Aku hanya tetap melakukan kewajibanku. Menjaga Istriku semampuku walau kami terpisah. kau paham dengan hal seperti itu tidak?”

Siwon semakin mendekatkan dirinya pada tubuh Kyuhyun. cukup merasa puas, karena Kyuhyun tampak kesal. Sedangkan Henry dan Min Ji berusasah payah berpura-pura tidak mendengar percakapan dua atasannya dengan sibuk memilah berkas yang akan diberikan kepada tamu nanti.

Kyuhyun bukannya tidak paham dengan hal seperti itu. Jika Siwon kira Kyuhyun tak paham dengan maksudnya, Siwon salah besar. Kyuhyun benar-benar paham. Siwon hanya tidak pernah tahu, bahwa Kyuhyun pun melakukan hal yang sama, walau dengan cara yang berbeda. dan tidak menambahkan embel-embel ‘Honey’ untuk memanggil Songjin karena menurutnya itu menggelikan.

Tapi Kyuhyun benar-benar melakukan hal yang sama, tanpa banyak orang ketahui. Tapi sialnya, beberapa usahanya tidak mendapatkan respon yang baik. Songjin hampir tidak pernah menjawab panggilannya, dan terakhir kali dia menelepon ke Butik, Eun Soo mengatakan Songjin sedang keluar untuk melakukan Fitting. Entah Fitting untuk apa, tapi Istrinya itu kembali jadi menyebalkan seperti biasanya.

“aku tahu. tapi aku melakukannya dengan cara yang lebih Classy. Tidak sepertimu. Honey~” cibir Kyuhyun kemudian bersiap untuk turun, karena Ayahnya sudah lebih dulu terlihat melewati ruangan mereka dan menuruni undakan satu persatu.

Henry dan Min Ji tertawa kencang melihat hal tersebut dan mengulang kata ‘Honey’ pada Siwon hingga pria tersebut malu. “bicara saja terus. Kupotong gajimu!” decak Siwon ketus dan ikut turun kemudian.

Sejalan dengan langkah kaki menuruni tangga, Ponsel Kyuhyun didalam saku bergetar. Sebelum benar-benar menghabisi tangga dan menyapa para tamu, Kyuhyun merogoh sakunya untuk melihat ponselnya lebih dulu.

Nama Songjin tertera disana, lengkap dengan gambar wajah wanita tersebut yang sedang memasukan Nachos kedalam mulutnya berlebihan hingga keju meleleh pada sudut bibirnya. Kyuhyun selalu tertawa saat melihat gambar itu, biarpun telah berkali-kali melihatnya.

Tapi kali ini dia tidak bisa tertawa. Dia malah kesal, pasalnya ini bukanlah waktu yang tepat untuknya menerima panggilan. Setidaknya, dia pun harus professional dan menghargai para Karyawan dengan memberi contoh yang baik. Fokus pada pekerjaan jika memang sedang waktunya bekerja.

Tanpa Kyuhyun menghilangkan perasaan senang dan lega karena Songjin menghubunginya, tapi istrinya itu selalu seperti ini. tidak pernah tepat dalam melakukan segalanya. Kenapa harus menelepon ketika pekerjaannya baru akan dimulai sedangkan saat malam hari ketika Kyuhyun menghubungi Songjin, istrinya itu tidak pernah mengangkat.

Maunya apa sebenarnya??

“Aish!!” Kyuhyun menggeram, mereject panggilan Songjin dan mengembalikan ponselnya kedalam saku.

** **

“Oppa!”

“Eish, kau lagi!!” Donghae mengacak rambutnya yang sama sekali tidak gatal. Tapi melihat Eun Soo muncul lagi dan lagi dihadapannya membuat rambutnya gatal. “kenapa lagi?!” bentaknya ketus.

Eun soo mencebikan bibir bawahnya sebal. Harusnya Donghae bisa bicara lebih ramah. Kenapa harus membentak-bentak seperti ini, dia sendiri pun tidak mengerti.

“aku mau berobat.” Jawab Eun Soo seadanya. Tapi Donghae kemudian tertawa dan mendesis sinis. Dua tangannya digantungkan pada pinggang, “aku tidak ada waktu untuk bermain-main. Pulang!” usirnya.

Donghae semakin kesal, dan tidak memperdulikan bahwa sebenarnya, mereka berdua sedang menjadi bahan tontonan para pasien dan beberapa perawat disana. Ini seperti serial Drama ketika sepasang kekasih sedang berkelahi. Bagian kerennya adalah, ini terjadi begitu nyata karena dapat dilihat dengan mata telanjang.

“tapi aku sedang tidak enak badan. Aku ingin berobat.”

Donghae semakin menggelengkan kepala dengan tawa menyedihkan. Ingin sekali rasanya membawa wanita didepannya ini pergi dan melemparnya jauh-jauh supaya tidak selalu mengganggunya. Tapi seperti itu namanya kekerasan dan dapat dikenai pasal.

Tidak lucu kalau pada akhirnya dia harus mendekam didalam penjara hanya karena melakukan kekerasan tanpa sengaja. Karena itu Donghae menarik nafasnya dalam-dalam. Dia kembali menormalkan emosinya seperti saat dia belum melihat Kim Eun Soo berada disekitarnya.

Hampir seluruh orang dirumah sakit itu, yang sedang memperhatikan mereka terkejut bukan main. Beberapa sedang berbisik atau menunjuk-nunjuk sambil bertanya-tanya, ‘apa itu Kim Eun Soo?’ atau, ‘dia Kim Eun Soo Miss.Korea itu kan? Cantik ya?’ atau para pria memandangi Eun Soo tanpa perduli bahwa istri-istri mereka menjadi geram karenanya. Karena mendapati Eun Soo tampak seperti bidadari turun dari Surga, jauh berbanding dengan penampilan mereka sekarang.

‘Cantik sekali!!’ 

‘Sexy!’ 

‘aku suka tubuhnya!’

‘Woah, kakinya panjang sekali’

‘mulus!’ Komentar para pria disana berkali-kali.

“demi Tuhan Eun Soo! Aku sibuk. kau lihat sendiri pasien disini begitu banyak! Aku tidak bisa bermain-main!” Erang Donghae kemudian. Menunjuk deretan pasien disamping kanannya dengan papan jalan ditangannya.

Eun Soo ikut menoleh dan tersenyum sesaat pada beberapa Ahjumma yang melambaikan tangan kepadanya malu-malu. Tak lama dia kemudian berbalik lagi memperhatikan Donghae didepannya, “Aku juga tidak ingin bermain-main, Oppa. aku harus berobat. Aku pasien resmi! Ini kartuku!!” Eun Soo mengangkat sebuah kartu silver mengkilat, dan menunjukan nomor urutnya ditangan kiri. Bertuliskan nomor 12.

“Siapa yang memberikan itu kepadamu?” tanya Donghae dengan nada rendah. Eun Soo tidak mengerti dengan peranyaan Donghae hingga membuat pria itu kemudian memiringkan kepala, memperhatikan beberapa perawat yang berada dimeja resepsionis. “Kau memberikan nomor tunggu kepada wanita ini?” tanya Donghae. Menunjuk Eun Soo.

Salah seorang perawat disana menggeleng, namun seseorang lagi kemudian mengangguk. “Kau harus belajar, membedakan mana pasien yang benar-benar sakit dan mana yang hanya berpura-pura, Sunny-ssi.”

“Berpura-pura?” seketika kening Eun Soo berkerut. Wajahnya kemudian menjadi lebih panic dari pada sebelumnya, “kau bilang aku berpura-pura?” Eun Soo  bertanya takjub. Ingin tertawa tapi tidak lucu. Ingin tersenyum tapi ini terlihat menyedihkan untuk sebuah senyuman.

Lee Donghae benar-benar sudah gila, dan gilanya lagi adalah Donghae beranggapan bahwa Kim Eun Soo terlalu sinting untuk menjadikan segalanya menjadi sebuah lelucon. Sakit bukanlah lelucon yang bisa dijadikan alasan pada hal apapun, termasuk untuk hanya bertemu dengan seseorang.

“bisa kita tidak bermain-main lagi? Yuri-ssi, tolong pasien selanjutnya.” Donghae berkata kepada salah satu perawat lainnya dengan rambut hitam yang sedang terbengong memandangi sekitarnya sejak tadi.

Donghae lalu kembali masuk kedalam ruangannya dengan sebal. Tangannya menarik-narik stetoskop miliknya seperti stetoskop itu mencekik lehernya, karena sejak tadi dia gantungkan disana. Menggantikan fungsi dasi yang seharusnya lebih pantas untuk terpasang disana.

“Y—Ye”

Untuk beberapa saat Donghae dapat bernafas lega, namun setelah dia menghempaskan tubuhnya di kursi, matanya membulat lagi dan lagi. “KIM EUN SOO!!” bentaknya kencang. “sudah kubilang jangan bermain-main!!”

“aku pasien selanjutnya, Oppa.”

Eun soo mengacungkan lagi nomor urut ditangannya dan saat itu juga Donghae merampasnya. Dengusan Donghae terdengar begitu jelas ketika pria itu merobek-robek kertas bertuliskan angka 12 tersebut.

Mata Eun Soo mendelik bukan main, memperhatikan Donghae tiba-tiba menjadi begitu menyeramkan. Selama ini Donghae memang selalu marah-marah kepadanya, tapi baru ini lah kali pertamanya Donghae tampak menyeramkan.

Mata Donghae memerah dan urat-urat menonjol terlihat pada leher dan pelipisnya. Pria itu benar-benar marah. itu yang Eun Soo dapati dan wanita tersebut tidak tahu menahu mengapa Donghae dapat menjadi begitu marah.

“Pulang.” usir Donghae dengan kibasan tangan. Namun Eun Soo berjalan satu langkah lebih dekat. “Oppa, aku tidak mengerti kenapa sebenarnya?”

“Sudah kubilang jangan panggil aku Oppa! usia kita sama!!”

Eun Soo memundurkan wajah ketika Donghae menyemburnya dengan amukan. Setelah itu dia kembali mengerutkan kening seraya berfikir untuk beberapa hal yang sangat tidak dipahaminya sama sekali, “sudah kukatakan aku datang untuk berobat. Aku sedang kurang enak badan. Sejak kemarin aku perutku perih dan aku tidak bisa memasukan apapun kedalam perutku karena semua yang kumasukan pasti akan keluar lagi. aku tidak bisa tidur karena tubuhku rasanya mengigil. Aku ingin sembuh, karena itu aku datang, kau ini kenapa?”

“Cerita yang bagus. Eun Soo-ssi. Begini saja, biar kuperjelas. Supaya kau mengerti, karena kukira kau tidak mengerti bahwa selama ini aku tidak menyukaimu. Aku tidak menyukaimu seperti yang kau mau selama ini. Kau dengar aku? Jadi tolong berhenti membuntutiku, seperti kau adalah bayanganku. Aku sudah bosan! Apa tidak ada hal penting lain yang bisa kau lakukan selain mengganggu orang lain?”

Tunggu.. Donghae baru bicara apa? Dia ini kenapa sebenarnya? Eun Soo hanya dapat terdiam dengan berbagai pertanyaan berputar-putar didalam kepalanya. Bertanya mengapa Donghae memarahinya sejak tadi, apa Donghae sedang banyak permasalahan atau apapun itu Eun Soo tidak tahu lagi.

Eun Soo hanya berdiri, mematung dengan tangan mencengkram kartu keanggotaan rumah sakit miliknya erat. Setiap detik berjalan, semakin erat remasannya, “Aku tidak menyukaimu. Jadi Berhentilah! tolong menjauh! Kau selalu membuatku pusing dengan tiba-tiba muncul seperti hantu. Mengganggu saat aku sedang bertugas. Memaksaku melakukan ini dan itu. Ayolah, Eun Soo-ssi, jangan buat aku semakin sakit kepala! Semakin hari, kau semakin lebih pantas kusebut penguntit. Kau selalu ada dimanapun aku berada. Kau benar-benar menyeramkan, kau tahu itu? dan aku bisa melaporkamu ke Polisi karena perbuatan tidak menyenangkan itu! Jangan sampai aku berbuat seperti itu, Oke? Aku tidak ingin melakukannya. Jadi tolong—“

“Kenapa kau tidak menyukaiku?” satu-satunya pertanyaan yang sampai pada kepala Eun Soo saat wanita tersebut nyaris menahan air mata ketika Donghae menyemburnya dengan rangkaian kata-kata menyakitkan.

Kenapa kau tidak menyukaiku? “Yang benar saja! aku memiliki banyak alasan mengapa aku tidak menyukaimu. Kau menyebalkan. pengganggu—“

“Bukan itu.” sela Eun Soo cepat memutus kalimat Donghae. “Bukan itu maksud pertanyaanku. Kalau aku dapat menyimpulkan, kau tidak menyukaiku karena kau menyukai orang lain. Kau menyukai Songjin, aku benar?”

Donghae terdiam. Pertanyaan Eun Soo tadi membuatnya seakan ditampar. Dan sesuatu sedang meremas hatinya hingga terasa begitu sesak dan perih. Mulutnya belum juga terbuka, walau didalam kepalanya, telah ada berbagai sanggahan yang dapat membuatnya membela diri sendiri tapi suaranya tidak sedikitpun terdengar.

Tidak seperti itu. sebenarnya tidak separah itu, tapi Donghae sendiri pun tidak memiliki alasan yang tepat lagi, mengapa dia tidak menyukai Eun Soo, seperti yang Eun Soo tanyakan.

Hal tersebut membuat Eun Soo kemudian tersenyum tipis. Hal yang tidak mengejutkan sebenarnya. entah bagaimana dia sudah tahu hal ini sejak awal pertama dia bertemu dengan Lee Donghae. Yeah, itu terlihat jelas ketika pria berjas putih itu menyebutkan nama Park Songjin begitu halus, sedangkan namanya diucapkan seperti sampah begitu kasar.

“Oppa—“ Eun Soo menggulum lidahnya hingga dia menelan kalimat selanjutnya yang akan dikeluarkannya kemudian. Wajah Donghae telah mengeras ketika dia kembali memberikan embel-embel Oppa untuknya. Dan Tiba-tiba saja panggilan ‘Oppa’ yang selalu disematkannya pada Donghae terdengar tidak pantas. “Maksudku, Donghae-ssi” ralat Eun Soo.

“kalau kau cukup cerdas untuk sadar, kau tahu bahwa Songjin sudah menikah. Kyuhyun adalah suami sah dari Songjin. Mereka saling mencintai dan hidup mereka begitu bahagia. Songjin sedang mengandung tiga bulan. Anak Cho Kyuhyun. Anak mereka. mereka sudah begitu sempurna, jadi bisa jelaskan padaku apa sebenarnya yang membuatmu masih terpikirkan untuk bertahan menyukai Songjin? Wanita bersuami yang sedang mengandung? Kau tidak ingin jadi orang ketiga yang merusak hal baik kan? Setahuku karma masih ada. Kalau kau perlu tahu saja, akan lebih baik jika sadar lebih dulu daripada tertampar oleh karma. Dan begini, biar kuperjelas seperti kau yang memperjelas semuanya. Selama ini aku kira kau adalah pria baik, yang tahu bagaimana cara menghargai seorang wanita. Yang tahu bagaimana harus bersikap, dan bicara. Tapi entah bagaimana, kenapa sekarang aku merasa bahwa aku salah menilaimu, ya? aku menyukaimu.”

“Baiklah, lupakan yang satu itu. mungkin aku tidak hanya menyukaimu. Mencintaimu, mungkin—entahlah. Aku belum pernah jatuh cinta jadi aku tidak tahu bagaimana harus ber-reaksi ketika aku benar-benar merasakannya. Tapi aku benar-benar kecewa denganmu. Dengan sikapmu. Kalau kau tidak menyukaiku, itu tidak masalah. Kau bisa mengatakannya dengan cara baik-baik. tanpa perlu selalu membentak-bentak, atau mengusir, atau membuat aku tampak bodoh didepan banyak orang! Setahuku, Orang berpendidikan tinggi biasanya mengerti bagaimana mereka harus bersikap. Tapi aku ragu sekarang. kau sepertinya tidak.”

“Maaf kalau selama ini kau merasa terganggu dengan sikapku. Aku hanya terlalu ingin mendapatkan apa yang kuinginkan, dan aku selalu ingat pesan Ibuku, Aku bisa mendapatkan segalanya, ketika aku berusaha. Jadi aku pikir, aku bisa melakukannya padamu. ternyata itu tidak berfungsi dengan baik. dan Maaf kalau selama ini aku menyebalkan. untukmu. Aku tidak pernah sadar kalau aku menyebalkan. setidaknya aku harus berterima kasih karena kau menyadarkanku. Mungkin tanpa aku sadari, banyak orang-orang diluar sana yang beranggapan sama, denganmu. Aku menyebalkan. Tapi terimakasih untuk kesempatannya. Setidaknya aku pernah mencoba.”

** **

Malam ini sudah tak terhitung berapa kali Kyuhyun berusaha memejamkan matanya hanya agar dia dapat tidur. Ini sudah lewat pukul dua belas malam, biasanya pada pukul segini dia pasti sudah seperti babi meringkuk didalam selimut tebalnya.

Tapi sejak kemarin tidurnya tidak pernah nyaman. Atau bahkan tidak dapat tidur sama sekali seperti ini.

Ini bukan kali pertamanya Kyuhyun tidur tanpa Songjin tapi sulit untuk mengakui bahwa tidur tanpa wanita barbar itu rasanya bukan main tidak nyaman. Tidur pun sama diatas kasur. Dengan bantal dan guling yang sama. Tapi entah apa yang membuatnya sampai sekarang tidak dapat tidur.

Tangannya lalu merogoh ponsel yang dia letakkan dibawah bantalnya. Kyuhyun mulai Jahil membuka galeri dan memperhatikan berbagai foto Songjin. Beberapa diambilnya ketika wanita tersebut sedang tidak sadar. Seperti gambar Songjin versus Nachos yang paling disukainya entah mengapa.

Foto tersebut digunakannya dalam beberapa hal sekaligus, selain gambar untuk kontak Songjin. Menjadikannya Wallpaper dan background ponselnya. Demi Tuhan kalau orang lain ada yang melihat ponselnya, orang itu tidak akan segan menertawai betapa menggelikannya Cho Kyuhyun ternyata!

Didalam kepalanya suara seseorang sedang berulang-ulang memutar kata-kata Siwon siang tadi, ‘I Miss you Honey!’

Lucunya, kata-kata itu tidak terdengar menjijikan lagi baginya. Kyuhyun malah mendapati dirinya sedang tertawa karenanya. Ini benar-benar lucu! Dia bahkan tidak dapat menjelaskan bagian mana yang disebutnya lucu, tapi ini sungguh lucu!

Tangannya lalu menyentuh program speed dial. Nomor 1 dipilihnya untuk panggilan kepada Songjin. Tapi dua detik kemudian, Kyuhyun mengugurkan niatnya dan memeluk ponselnya.

Jantungnya tiba-tiba menjadi berdebar-debar tak karuan. Kyuhyun menarik nafasnya dan mengeluarkannya perlahan-lahan beberapa saat. Sekarang dia merasa benar-benar seperti remaja ingusan yang baru tahu apa itu cinta. inilah bagian yang menurutnya menjijikan.

Dia selalu merasakan hal seperti ini ketika sudah berurusan dengan Park Songjin. Sedikit mengherankan melihat waktu yang telah terlewatkan begitu lama untuknya dan Songjin saling mengenal.

Kata-kata saling mengenal terlalu remeh untuk mereka mengingat telah berpuluh tahun mereka bersama. Tapi entah bagaimana, Kyuhyun selalu merasakan hal aneh itu, ketika harus melakukan banyak hal, dan banyak hal itu berkaitan dengan istrinya.

Setelah sepuluh detik berlalu, Kyuhyun memejamkan matanya dan membulatkan tekad untuk tetap menghubungi Songjin, walau kemungkinan kecil, bahwa Songjin akan menjawabnya. Ini sudah tengah malam, dan Songjin tidak pernah ‘hidup’ sampai semalam ini.

Satu detik..

.

Dua detik..

.

“Yeobosseo?”

“Kau belum tidur??” Kyuhyun melongo. Sedikit terkejut karena panggilannya ternyata mendapat jawaban. Anehnya lagi, suara Songjin tidak terdengar seperti orang yang sedang bangun tidur.

Senyumannya mengembang satu detik setelahnya. Kyuhyun merubah posisinya menjadi duduk tegap, bersila diatas Ranjang. Memeluk bantal gulingnya. “Kau belum tidur, menunggu telpon dariku ya?” Ujarnya geli namun penuh percaya diri.

Tidak ada jawaban mencibir ataupun desisan ketika Kyuhyun mengatakan hal tadi dengan entangnya. Hanya terdapat keheningan dan kemudian terdengar suara tangisan kencang, “Ya! ya ya ya! K—kau kenapa menangis? aku kan hanya bicara— Ya!” Kyuhyun menjadi bingung saat Songjin bukannya menjawab namun suara tangisan lah yang menjawabnya.

“Songjin! Ya! kau kenapa?” mata Kyuhyun berkedip ratusan kali. Pria itu terdiam sambil menggaruki kepalanya. Ponselnya diletakan diatas bantal, dan Kyuhyun hanya memandangi layar ponselnya dengan gambar Songjin.

Semakin lama dipandangi semakin membuatnya merasa aneh. rasa bersalah lebih banyak. Merasa bersalah karena baru inilah kali pertamanya menghubungi Songjin lagi setelah beberapa kali mencoba menghubungi istrinya itu namun tidak berhasil ditemui.

Atau merasa bersalah karena juga berulang – kali menolak panggilan Songjin sejak hari pertama keberadaannya di Jepang. Kalau dia sedang berada dekat dengan wanita itu, mungkin dia dapat menenangkannya dengan memeluk atau apalah yang biasa dilakukannya. Tapi sekarang mereka terpisah jauh seperti ini, jadi bagaimana pula Kyuhyun dapat menenangkan Songjin?

“Kau jelek kalau menangis, tahu tidak? Hentikan sudah. Tahu begini aku tidak menghubungimu, Haah—“

Kyuhyun sibuk menggerutu namun kemudian suara bising memekakan telinganya. Lengkap dengan suara gaduh percis seperti sesuatu – berat – baru saja jatuh. Kyuhyun kembali berkedip jutaan kali. Sebelum otaknya berpikir bahwa mungkin saja itu adalah suara karung beras yang jatuh, Kyuhyun kembali teringat bahwa tidak  mungkin Songjin menggotong-gotong karung beras malam-malam seperti ini.

Tapi Tunggu!

Siang hari pun tidak mungkin Songjin menggotong karung beras! Untuk apa memangnya? “YA! SONGJIN ADA APA ITU? KENAPA? KAU KENAPA?” panic Kyuhyun langsung berjingit ditampatnya.

Dia sudah tidak bisa duduk duduk santai, menikmati hatinya yang berbunga-bunga, dan tersenyum-senyum, atau tertawa geli seperti remaja ingusan lagi. Jantungnya kini berdebar-debar bukan main kacaunya, ada apa lagi ini?

Belum sempat Kyuhyun mengeluarkan pertanyaan lainnya, suara yang tak tampak asing menyapa pendengarannya, “Kyuhyun-ah! Kyu! Eun Soo pingsan!! Astaga! Eoteokke? Ahh—Ya Tuhan!!”

Apa? Eun Soo? “Eun Soo?” Gumam Kyuhyun seiring keningnya berubah menjadi  bergelombang.

Suara Songjin tampak bukan main paniknya. Nafas wanita itu menderu, tapi tangisan tidak ada lagi. barulah Kyuhyun sadar bahwa tadi, bukan istrinya yang sedang menangis. itu sedikit mengurangi rasa paniknya. Walaupun jantungnya masih belum mau berdetak secara normal.

“Tenang dulu. tenang. Tarik nafas.”

“aku tidak bisa tenang, dasar bodoh! kau mengerti tidak sih? Eun Soo pingsan! Aku bingung! Astaga! Ya Tuhan!!” amuk Songjin tanpa cela. Suara Songjin benar-benar nyata menggambarkan bahwa wanita tersebut sedang dilanda kepanikan.

Kyuhyun memutar bola matanya dan mendekatkan ponselnya pada telinga lagi, “Hey, Bodoh! Aku bilang jangan panic! Dengarkan aku dulu! hubungi Emergency secepatnya. Minta ambulance untuk datang dan selama menunggu ambulance, kau pastikan Eun Soo tetap bernafas!!”

“bagaimana memastikan dia tetap bernafas?! Aku saja tidak tahu bagaimana harus bernafas! Akh! Perutku! Aduh, aku pusing!”

“Songjin!”

“Sudah diam. diam. aku harus berfikir. Diam—“

“Kau yang diam! ikuti kata-kataku dan cepat—“

Sambungan terputus pada detik selanjutnya. Lenyap begitu saja, padahal Kyuhyun baru saja akan memberitahu apa-apa saja hal yang harus Songjin lakukan. Tapi istrinya itu benar-benar panic. Sampai tidak dapat mencerna, bahwa Kyuhyun baru saja memberitahu apa yang harus dilakukannya saat ini.

Dan malah mengomel, berkata bahwa dia harus berfikir? Lalu apa tadi katanya? Dia tidak tahu bagaimana harus bernafas? Perutnya sakit dan kepalanya pusing? Astaga! Park Songjin benar-benar gila!

Untuk beberapa saat Kyuhyun memang menjadi ikut panic. Tapi kemudian dia malah terbahak kencang dan menjatuhkan diri diatas ranjang. Membenamkan wajah pada bantal-bantal hingga suara tawanya terpendam.

Dia tidak bisa untuk tidak tertawa dan membayangkan wajah Songjin yang sedang setengah mati panic! Perutnya sampai sakit karena terlalu puas tertawa. Jadi, Park Songjin dapat dengan mudah merubah mood buruknya menjadi sempurna kembali, hanya dengan bertingkah konyol, yang sebenarnya tidak benar-benar disadari wanita tersebut!

“Aish—Jinjja ada apa dengan otaknya itu? Konslet lagi? Hahaha!” Kyuhyun kembali terbahak sambil menggerakan telunjuknya diatas ponselnya lagi. Tidak berapa lama suara seorang wanita menyapanya, “ya, Kyu?”

Kyuhyun belum bisa berhenti tertawa. Dia menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk bicara dengan Gyuwon secara benar, “Gyuwon, Haha—tolong datang kerumahku sekarang. Songjin.. itu.. Eun Soo. Aduh, aku tidak tahulah itu. Songjin bilang Eun Soo pingsan. Tolong bantu Songjin. Otaknya terlalu pendek untuk memutuskan harus melakukan apa saat sedang seperti ini. Hahaha—“

“Eun Soo Pingsan? Omo!—“

“Iya, Tolong hubungi—“

“lalu kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu dari seseorang pingsan? Dasar bodoh!!”

Yeah, tidak ada yang lucu dari seseorang pingsan kecuali adanya orang panic yang lupa bagaimana caranya bernafas lalu menjadi sakit perut dan kepala pusing secara bersamaan karenanya!

“aku jelaskan pun kau tidak akan mengerti Gyuwon! Haha”

** **

-TBC-  😀

136 thoughts on “[KyuJin Series] Love Disease 1

  1. kyuhyun stresss ih sumpah ngakak ngebanyangin songjin … 😂😂😂😂😂😂 suami aneh … sepertinya donghae bnr2 jadi lelaki jahat yg udh menolak secara blak blakan semoga ajh donghae enga kena karma …

  2. sabar yaa eunso. mungkin kmu tdk berjodh degn donghae….

    huuu manisnya kyu sama songjin, yg tadinya mrhan akhirnya baikkan lagi. di beri tanda pula..😁😁😂

  3. Donghae jahat banget sih.. ngapain coba punya rasa ma istri orang, itu namanya sih rasa sia2. Eun so pingsan apa mungkin dia benar2 sakit? Kyu somplak istrinya bingung dianya ngakak

  4. “Ini… Racun” sumpah ada yang lebih nyelekit dari itu nggak sih… Seenggaknya sigembul bisa sedikit ngehargain songjin 😂😭😐…
    Tapi ada yang lebih menarik ( menurut gw ) disini… Yaitu Eun soo dan si ikan ganteng dongek… Bang kenapa lu kasar banget sama Eun Soo?? 11 12 sama sievil embul… Oke ini adalah ff ketiga yang aku baca malem ini.. Sebenernya mau baca lanjutannya besok tapi kayaknya bakal sekarang deh soalnya ini tuh bikin greget meskipun ini mata udah sekarat 😂😂

  5. diliat-liat semakin kesini songjin ga seriang dulu ya, kayak setelah sama kyuhyun dia sering nunduk, sering ngalah. Kaya bukan gayanya songjin banget, walaupun kadang masih suka berbuat konyol tp suasananya udah beda

  6. Ada calon pasangan baru .. donghae dan eun so, aq harap donghae menyesal atas kata2nya yg menyakitkan .. orng mwu berobat kok ditolak ..

    Pengen liat moment songjin sama kyuhyun mempersiapkan kelahiran anak mereka .. tpi sedikit ragu nganter periksa kandungan aja songjin sendiri atau sma org lain ..

  7. Dari cerita ini paling suka pas kyuhyun nyadarin songjin kalo dia salah walaupun kadang omongannya kasar tapi malah sweet menurut aku ✌

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s