[ Lee Donghae – Kim Eun Soo ] Fix A Heart 1


Author: GSD.

Title: Fix a Heart

Cast: Lee Donghae, Kim Eun Soo, Cho Kyuhyun, Cho Songjin, Choi Siwon, Choi Gyuwon.

Rating: G.

Length: Chaptered [1 of 4]

If I could take it all back I would now.  I know there’s a way, so I promise
I’m gonna clean up the mess I made.
Maybe it’s not too late

Lee Donghae.

Jadi, dua minggu berada di Singapore tidak memiliki hasil signifikan untukku. sebagian besar, bahkan nyaris apa yang belum pembicara-pembicara seminar, yakni professor tua dengan jenggot panjang, seperti santa dan memiliki kepala nyaris botak, yang sudah memiliki gelar begitu banyak didepan dan belakang nama mereka, aku sudah tahu.

Kalaupun tidak, aku akan tahu kemana arah pembicaraan, ketika mereka memulai presentasi dengan kata pertama pada topic mereka. hal itu membuatku bosan setengah mati berada di Negara ini.

Aku rindu Korea. Aku rindu kasur dalam apartemen-ku. aku rindu musim dingin di Negara asalku.

Singapore adalah Negara beriklim Tropis yang hanya memiliki dua musim saja. tidak ada musim dingin disini. kalau di Negara asalku, pada bulan Desember seluruh rumput hijau akan tertutupi dengan gumpalan lautan salju.

Semua nyaris putih. Dimana-mana putih.

Kami harus menggunakan pakaian hangat sampai empat lapis banyaknya, hanya untuk menjaga kestabilan suhu tubuh. Itupun bahkan, masih juga terasa dingin.

Di Singapore tidak ada salju. Udara memang terasa cukup dingin. Namun sejuk. Seperti sedang musim gugur, beberapa pepohonan seperti dengan sengaja ingin mengotori trotoar dengan daun-daun menguning mereka.

Disini lebih sering hujan, terutama pada pagi dan sore hari. Pada malam hari biasanya tidak hujan, tapi mendung. Mudah untuk tahu, saat warna gelap langit terlihat lebih menghitam ditambah angin yang muncul seperti akan ada nadai Katarina. Kencang.

Hari ini lain daripada yang lain. Dua minggu di tempat ini, baru inilah kali pertamanya sore hari dan tidak sedang hujan. Ini cukup menyenangkan sebenarnya. atau..oke, ini memang menyenangkan.

Akhirnya, aku seperti dijinkan untuk berkeliling untuk sekedar berjalan-jalan. dua minggu disini, tidak seharipun aku memiliki waktu untuk berputar menikmati suasana Negara yang selalu menjadi tempat favorit untuk berbelanja bagi warga Asia, selain China tentu saja.

Sore ini, setelah berkeliling memutari Bugis Street—yang menurutku lebih terlihat seperti Diagon Alley pada kisah Harry Potter, karena rute arah berkelok-kelok, Bangunan yang cukup tua dan jalanan penuh dengan orang. Entah itu berjualan, jalan-jalan santai, atau hanya sekedar lewat selepas pulang kerja. aku memutuskan untuk bersantai disekitaran Orchard Road, pada salah satu kedai kopi terkenal seantero dunia.

Setelah menyesap Caramel Macchiato panas milikku, aku memandangi sekitaranku. Ramai. Padahal jelas sedang hujan. tidak cukup besar, hanya gerimis, tapi aku yakin, jika kau terus membiarkan kepala tak bersalahmu itu dijatuhi tetesan gerimisan air hujan, besok kau tidak akan sanggup bagun dari ranjangmu.

Teori sederhana tentang Flu yang semua orang pasti sudah mengerti. Tapi mungkin, tidak dengan deretan turis yang kulihat sedang berjalan santai di Trotoar sana.

Caramel Coffee Jelly plus es yang baru saja datang ke mejaku, membuatku tertegun. Aku tidak pernah lupa dengan jenis kopi kesukaan Pria didepanku. tapi ini sedang hujan, dan kukira udara dingin akan membuat semua orang berfikir bahwa minuman hangat adalah minuman yang paling tepat untuk saat ini.

Yeah, aku sudah lupa kalau pria didepanku setengah sinting. Hidungnya bahkan telah memerah dan sejak kemarin, yang dilakukannya selain mencerna dengan susah payah materi seminar kami, dia juga menyebarkan virus.

Setiap sepuluh detik sekali, dia akan bersin. Dan setelah bersin, cairan liquid berwarna bening akan ikut turun—itulah alasan mengapa dia membawa tissue kemana-mana.

Sebenarnya ini menggelikan. kalau bukan karena teman baikku saja, pria bernama lengkap Lee Hyuk Jae ini akan kutendang jauh-jauh. Maksudku, sejauh yang dapat kulakukan.

“Kau tidak bisa melakukannya, Donghae. Kau masih waras kan? Kau pikir untuk apa mereka mengirim kita kesini kalau bukan untuk duduk manis memperhatikan apa yang orang-orang genius itu jelaskan?”

Tanpa kusadari, aku membiarkan satu alisku terangkat tinggi ketika mendengar pria dengan rambut cokelat kemerahan ini berbicara. Sepertinya terdengar lucu bagiku, biarpun dia tidak sedang melucu. “kau pikir, untuk apa mereka mengirim dua orang sebagai wakil dari Rumah sakit Seoul?” tanyaku retoris.

Eunhyuk, pria ini biasa disebut namanya, ikut menaikan satu alisnya sama sepertiku. Aku tertawa renyah setelahnya. Melihatnya melakukan seperti apa yang kulakukan tapi lengkap dengan ekspresi tolol, “tentu saja untuk menghindari hal-hal seperti ini!” ujarku masih tertawa, “kalau salah satu dari kita ada yang sakit, dan harus pulang, masih ada satu orang yang bertahan.”

“Yeah. Kau tidak sakit asal kau tahu. Dan sial sekali satu orang itu—karena harus bertahan sendirian sampai masa seminar membosankan ini habis.” Keluhnya. Bola matanya berputar Jengah, seiring dengan tangan yang mengangkat cup Caramel Coffee Jelly dingin miliknya.

Menyesapnya seperti tidak sabar dan menelannya langsung. seperti tidak sudi membiarkan cairan kental itu berputar-putar dulu disekitaran mulutnya.

“Hey, ini tidak seburuk itu kan? Jangan bertingkah seperti kau tidak menikmati perjalanan ini. kau bertemu dengan Yoona, Lee Hyuk Jae!” Sinirku cepat.

Mengangkat nama mantan pacarnya saat kuliah itu adalah cara terbaik untuk membuatnya diam. maksudku—bertekuk lutut.

Sahabatku ini, memiliki wajah standar. Bahkan aku sering berfikir, bahwa sebenarnya tampangnya berada pada batas ambang bahaya. Tapi seorang Im Yoona—Junior kami dulu bisa mau begitu saja menerima Eunhyuk sebagai pacarnya—hingga mereka dapat berpacaran itu adalah sebuah Mukjizat.

Entah apa yang dilakukan seorang Lee Hyuk Jae, dalam memikat Im Yoona. Sampai sekarang pun aku masih mencari tahu apa alasannya. Mereka berpacaran selama tiga tahun, lalu Im Yoona mendapatkan pertukaran pelajar, dan akhirnya meneruskan kuliah kedokterannya sacara paten di Abbey University—Manchester, Inggris. Lalu hubungan mereka kandas begitu saja tanpa ada penjelasan lagi.

Aku tidak tahu bagaimana detailnya, karena setiap aku bertanya, Pria ini akan selalu menjawabnya dengan jawaban simple, ‘aku juga tidak tahu.’ hanya empat kata itu saja, yang membuatku menilai, bahwa dia adalah pria plin-plan.

Setidaknya, untuk sebuah hubungan, jangan katakan aku tidak tahu. itu akan membuatmu terlihat tolol dan tidak berpendirian. Apalagi ketika kau adalah seorang pria. Wibawamu ditentukan oleh ucapan dan sikapmu. Kalau dengan pertanyaan sepele begitu saja, jawaban ‘tidak tahu’ muncul, bayangkan untuk pertanyaan lebih penting lainnya? Kukira kepalanya akan berasap tidak lama setelahnya.

Pada seminar yang mempertemukan Dokter diseluruh penjuru dunia ini, setiap rumah sakit wajib mengirimkan perwakilan mereka, minimal dua orang untuk hadir. Benar, setiap rumah sakit. jadi bisa bayangkan, saat ini, Marina Bay Sands dipenuhi oleh dokter-dokter dengan kepala berasap karena mereka terus-terusan dijejali materi—yang menurut Asosiasi Kedokteran Dunia—begitu diperlukan sebagai pengenalan lanjut kepada Pasien. Berikut dengan penjelasan berbagai penyakit yang langka, atau baru didapati—lengkap dengan penjelasan penanganannya.

Sebenarnya, kalau mau curang kami bisa saja kabur dari seminar ini. toh, tidak ada system pengabsenan yang akan membuat kami terdaftar sebagai peserta yang hadir ataupun tidak.

Pengabsenan awal telah dilakukan pada hari pertama seminar dan sepertinya itu sudah cukup bagi mereka untuk dijadikan bukti nyata bahwa tidak ada yang mangkir dari perintah. Sayangnya, setelah minggu pertama, aku sudah semakin malas untuk mendengar penjelasan tentang pembengkakkan empedu, atau apalah penyakit lainnya itu namanya.

Dan sekarang adalah titik terjenuhku. Dua minggu dicekoki—aku sudah merasa seperti kembali pada bangku kuliah. Pada semester awal tentu saja. bahkan program doktor yang kuikuti pun tidak serumit ini.

Kenapa kami semua tidak mangkir? Karena kami diwajibkan untuk membuat paper tentang hasil seminar—yang telah kami ikuti. Bagaimana kami dapat membuat paper tentang isi seminar ini, kalau kami saja mangkir untuk datang.

Bisa saja tanya, apa topic hari ini? tapi lalu apa? Mencontek laporan milik orang? Mencari di google? Wikipedia? Ayolah—kami ini seorang Dokter! Diakui atau tidak, bidang kami telah terkotak dengan sendirinya menurut tingkat pola pikir dan kecerdasan.

Sederhananya, tidak semua orang sanggup untuk menjadi seorang Dokter. Mudah saja. dan mencontek apalagi menyalin dari Wikipedia tidak pernah masuk dalam hitungan cara berfikir kami.

“Im Yoona dulu dengan sekarang berbeda—dia berubah.“

Eunhyuk berucap sambil mendesah dramatis. Aku sedikit tersenyum melihatnya seperti itu. seperti Pria tua putus asa, yang kehabisan cara untuk kembali kepada istri lama-nya, setelah tertangkap basah berselingkuh dengan wanita murahan di kelab malam. “dia tidak berubah. Mata-nya saja yang sekarang sudah kembali Normal!” candaku.

Aku tertawa puas hingga Eunhyuk menghadiahiku sebuah gumpalan Tissue bekas ingusnya. “Ya~”

“aku harus kembali. benar-benar harus kembali, secepatnya.”

“siapa yang mengharuskan-mu seperti itu? Presiden?” Tanya Eunhyuk sarkasme. Aku hanya tersenyum lagi sambil mengangkat cangkir kopiku dan menyesapnya kembali. tak berapa lama, suara desahan panjang dan berat meluncur dari bibir Eunhyuk.

“apa kau pikir ini karma? Kau tidak pernah benar-benar jatuh cinta, tapi ketika kau benar-benar melakukannya, ternyata dengan orang yang salah. sial sekali nasibmu.”

Eunhyuk memandangiku seperti aku adalah pengemis yang belum makan selama satu tahun penuh, kedinginan, dan nyaris mati. seperti itu—mengkasihaniku. Aku hanya dapat tersenyum tipis atas kata-katanya.

Aku juga tidak tahu bagaimana itu terjadi. apa ini benar-benar karma? Atau apa? “Yaa~ hentikan sekarang juga. Park Songjin sudah memiliki suami. Mau apalagi kau ini?” dengusnya.

Aku tidak tertarik mengomentari fakta yang benar-benar memiliki nilai keakuratan sepuluh ribu persen itu. aku lebih tertarik membahas hal lain, seperti, “Apa kau percaya Reinkarnasi?” aku bertanya dengan wajah berbinar.

“Reinkarnasi? Hey! Ini 2013—Bung! Kau ini—“

“Hey! Yang namanya Reinkarnasi terjadi berulang, tidak perduli ditahun berapa. Se-modern apa, dan se-mendominasi apa teknologi ketika itu. itu bukan hanya sebuah mitologi kuno yang tidak memiliki nilai keakuratan! Bahkan Budha—“

“Oke-oke hentikan.” Eunhyuk merentangkan lima jarinya beberapa jengkal saja dari wajahku. wajahnya tampak kesal bercampur dengan rasa bosan tentang aku yang lagi-lagi membahas tentang Reinkarnasi. Tapi ini bukan sebuah kebetulan.

Bagiku, didunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Semua hal terjadi karena telah diatur oleh Sang Maha pencipta. Setiap pertemuan memiliki alasan dan arti tersendiri. Tidak ada pertemuan sia-sia. Walau dalam keadaan dan situasi seburuk apapun itu.

Eunhyuk mengerang ditempatnya. Memandangiku malas, kemudian membuka mulutnya, “Oke, biar kuingatkan lagi, kalau mungkin saja kau lupa. Tapi Tiffany dan Songjin sangat jauh berbeda. Jauh jauh jauh.” Eunhyuk merentangkan tangannya selebar yang dapat dijangkaunya, hanya untuk menggambarkan betapa berbedanya dua orang yang dimaksudkannya itu.

“dilihat sekilas pun orang akan mudah sadar, bahwa mereka berbeda, Jika Tiffany masih ada—maksudku.” Ujarnya menggantung. “Tiffany memiliki mata seperti mata kucing. Itu akan terlihat semakin jelas ketika dia tersenyum dan Park Songjin memiliki mata sebesar bola Tenis, besar! Tidak akan mengecil walaupun dia tersenyum. Tiffany memiliki tubuh yang tinggi. Kau dengar? Tinggi! kupikir 169 atau mungkin lebih. 170? sedangkan lihat sendiri bagaimana Park Songjin. Kukira tingginya hanya 165-167”

“kau tidak bisa mengatakan 167 itu pendek. Dalam hitungan Asia, 160 saja merupakan tinggi badan yang lebih dari cukup bagi seorang wanita. Ini bukan Eropa!” bantahku menyela ucapannya. Dan Eunhyuk menganggukan kepala untuk mengiyakan kata-kataku

“Baiklah, yang itu bisa diterima. Tapi pada struktur wajah pun mereka berbeda. bentuk Rahang, Lee Donghae. Maksudku.. mereka jelas dua orang yang berbeda. dan bukankah dalam teori reinkarnasi seseorang akan kembali dengan tubuh dan bentuk yang sama walau dalam masa yang berbeda? Iyakan?”

“Yeah—itu..”

“Itu Fakta! Bahwa Tiffany Hwang dan Park Songjin adalah dua orang yang berbeda. Park Songjin bukanlah bentuk baru dari seorang Tiffany Hwang yang selalu kau sukai diam-diam itu. bukan Lee Donghae-ssi. Jangan Konyol. Kau tampan. sayang sekali kalau tampak seperti orang gila hanya karena seorang wanita.” Serunya berapi.

Aku hanya dapat terdiam sejenak dan membayangkan dua wanita tadi. didalam kepalaku membandingkan keduanya. Dan ucapan pria ini memang benar adanya. Tapi sesuatu membuatku selalu dapat mengingat Tiffany, dalam diri Songjin.

“Songjin menyukai Pink. Menikmati belanja—“

“Yeah, wanita mana yang tidak menikmati hal yang satu itu?” sinisnya tajam sambil mengerling Jengah. Mungkin hal itu mengingatkannya pada pacar terakhirnya Jung Mi Ran, yang dengan terang-terangan memacarinya hanya untuk dijadikan dompet berjalan.

“kurang bisa memasak, ceria, konyol, mudah tertarik pada hal-hal sederhana. Bukankah mereka…. sama?”

Aku mengadahkan wajah, menatap sepasang mata didepanku intens. Namun tak lama, aku mendapatkan jawaban berupa tawa mencibir, “Haha—itu hal lain. Itu jelas adalah hal lain. Tapi yang diketahui disini, bahwa Park Songjin bukanlah Reinkarnasi dari seorang Tiffany Hwang. Selesai—masalah selesai sampai disini. dan kau, lebih baik cepat-cepat membersihkan isi kepalamu, dari apapun yang berbau Park Songjin. Karena sekali lagi kuberi tahu, Park Songjin adalah wanita yang sudah memiliki suam—“

“Iya, dia sudah memiliki suami. Lalu kenapa?” tiba-tiba aku menjadi kesal dengan orang didepanku ini. kesal sekesal kesalnya. “lalu kenapa kalau dia sudah memiliki suami? Dimana letak permasalahannya?”

Eunhyuk tertawa, rangkaian kata-kata tadi, yang  baru saja keluar dari mulutku itu adalah lelucon terlucu yang pernah didengarnya dalam tahun ini. tangannya kemudian menyapu sebagian wajahnya, dan berhenti tepat pada dagu.

Menjadikan sikunya sebagai sandaran, hingga kini dia terlihat seperti sedang berpose untuk pemotretan cover majalah pria dewasa. “Kau bilang, dimana letak permasalahannya? Lee Donghae-ssi? Apa mengikuti seminar selama dua minggu membuat isi kepalamu berganti dengan serpihan penghapus dimeja kita? Hah?”

Alisku kembali terangkat bersamaan dengan cebikan pada bibirku, “Park Songjin telah menikah! Cho Kyuhyun adalah suaminya. Kau tidak bodoh dan tahu dengan hal itu. dan kau juga pasti tahu bahwa wanita itu sedang mengandung. Dia mengandung, Lee Donghae-ssi! Mengandung benih dari pria bernama Cho Kyuhyun! mereka bercinta! Mereka telah—“

“Well, mereka suami istri, itu wajar terjadi pada pasangan suami istri.”

“Yeah, mungkin kau paham. Kau hanya tidak paham dengan arti sebuah ikatan pernikahan yang sesuangguhnya, Donghae-ssi. Aku harus membawaku ke seorang tokoh agama sepertinya.”

Desahan pendekku terlontar seketika. tubuhku maju, sedikit lebih mendekati meja, dan membuka suara dengan nada rendah yang telah tertahan pada setiap percakapan kami, “apa aku tidak boleh berteman dengan seorang wanita yang telah memiliki suami dan sedang mengandung?” Tanyaku, lengkap. Lengkap dengan nada sarkasme yang jelas akan kentara jika pria bernama Eunhyuk ini cukup sadar akan hal tersebut.

Kerutan kening menjawab pertanyaanku selama beberapa detik. Eunhyuk hanya memandangiku dalam, tanpa mengatakan apapun. setelahnya, gelengan kepala datang menghampiriku, “Tidak.” ucapnya singkat. Ikut memajukan tubuhnya hingga wajah kami hanya berselisih beberapa centi saja, “Kau tidak berniat untuk menjadi temannya. Kau tidak pernah benar-benar berniat untuk menjadi temannya. Kau berniat untuk menjadi lebih dari sekedar teman pada seorang wanita yang telah bersuami dan mengandung. Itulah masalahnya.”

** **

Apa itu salahku? Awal aku bertemu dengan Songjin, bukankah dia berkata bahwa dia seorang wanita lajang? Dan pria yang sekarang kuketahui adalah suami sah dari Songjin, dulu dikatakan sebagai Kakak seorang Park Songjin.

Dulu Songjin datang, tanpa ada embel-embel bahwa dia adalah seorang wanita terikat. apa itu juga salahku? Bahwa setiap kali aku melihat Songjin, aku seperti melihat Tiffany?

Oke, Baiklah kalau Songjin bukanlah Reinkarnasi dari Tiffany, tapi secara personality, siapa yang tidak akan mengiyakan bahwa Songjin seperti hasil foto copy dari Tiffany Hwang? Apa itu salahku, kalau aku melihatnya seperti itu?

Kenapa disini, aku seperti menjadi pemeran antagonis yang berusaha ingin memisahkan dua orang yang saling mencintai?

Aku bahkan tidak tahu kalau dua orang itu saling mencintai, karena sejak pertama bertemu denganku dan bahkan sampai saat ini, Songjin selalu seperti memujaku. Seperti aku adalah sosok yang diinginkannya selama ini.

Dia selalu berkata padaku bahwa ‘andai kau menjadi ini,’; ‘andai kau begitu,’; ‘andai kau adalah ini dan itu.’ lalu bagaimana aku tidak berfikir kalau Songjin juga memiliki rasa yang sama seperti yang kurasakan untuknya?

Apa itu salahku?

Dan apa itu juga salahku, saat Kyuhyun menyatakan secara gamblang bahwa dia adalah suami dari Park Songjin, namun dengan aksi yang menurutku tidak semestinya dilakukan oleh seorang suami?

Bagiku, Kyuhyun adalah seseorang yang salah yang pernah dimiliki Songjin. Pria itu terlalu arogan, kasar dan egois untuk dapat terus bertahan bersama dengan Songjin. Sedangkan pada sisi lain, Songjin terlihat menikmati kesalahannya.

Sudah seharusnya aku marah, ketika tahu bahwa aku telah ditipu. Songjin menipuku dengan mengatakan bahwa Cho Kyuhyun adalah kakaknya. Seharusnya aku tahu itu, ketika Kyuhyun tampak tidak bersahabat saat kali pertama kami bertemu. ketika aku mengantar Songjin pulang setelah kami pergi bersama satu hari penuh.

Bodohnya, kukira saat itu Kyuhyun hanya kesal denganku, karena terlambat mengembalikan adiknya—hingga kami kembali larut malam, nyaris pada pagi buta.

Dia seperti ingin memakanku. Meremukanku dengan tinjunya atau bahkan menggilasku. Tapi saat itu, kukira emosi tidak stabil itu muncul karena rasa Khawatir seorang kakak kepada adiknya.

Yeah, konyol sekali rasanya ketika tahu bahwa Cho Kyuhyun marah bukan karena alasan itu, melainkan ketar-ketir, Istrinya dibawa pria lain sampai pagi buta. Sialnya, pria lain itu adalah aku.

Tapi apa itu salahku, saat biarpun telah seperti itu, Kyuhyun seperti tidak perduli dan terus membiarkan Songjin menghabiskan waktunya bersamaku?

Aku sudah terlanjur nyaman bersama dengan Songjin, lalu tiba-tiba Cho Kyuhyun—pria itu datang  mengacaukan semuanya dan bicara bahwa dia adalah suami Park Songjin. ‘kalau kau belum tahu, biar kuberi tahu, bahwa wanita ini adalah istriku, dan kalau kau perlu tahu lagi, dia sedang mengandung anakku.’

Cih! pria itu bicara tanpa ada perasaan sediktpun!

Sebelum dia mengatakan, sebenarnya aku sudah tahu. maksudku—Gyuwon, pernah memperingatkannya kepadaku dulu, tapi kukira saat itu dia hanya bermain-main. Dan yang aku lihat, tidak ada hal mencurigakan dari hubungan Park Songjin dan Cho Kyuhyun ketika aku masih belum mengetahui bahwa mereka adalah sepasang suami istri.

Mereka memang tampak tidak akur—bukankah itu yang sering terjadi pada hubungan persaudaraan? Dan sesekali tampak manis, bukankah hal seperti itu juga merupakan hal yang wajar dalam hubungan antar saudara?

Mana kutahu kalau ternyata mereka adalah seorang Pria dan Wanita, yang terlalu lama bersama hingga menjadi terlalu saling mengenal, lalu kemudian terlalu menyukai satu sama lain dan berakhir pada pernikahan.

Perjodohan. Perjodohan antar sahabat dekat? Aku belum pernah mendengar cerita seperti itu sebenarnya. karena selama ini, dari cerita-cerita yang sering kudengar, biasanya para orang tua akan menjodohkan putra / putri mereka dengan orang jauh—yang tidak dikenal dan berawal dari pertengkaran dengaan akhir saling jatuh cinta karena terlalu lama diletakan pada tempat yang sama.

Istilah seperti cinta datang karena terbiasa.

Istilah itu tidak pernah terjadi padaku. tidak pada kasus Tiffany, tidak juga Songjin karena aku dapat dengan mudah sadar bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tepat pada pertemuan awal kami.

Jika yang pertama berakhir dengan kegagalan, Maka bagaimana bisa aku membiarkan kegagalan kedua terjadi?

Ini benar! sudah harga mutlak! Bahwa seharusnya aku marah ketika tahu bahwa Songjin membohongiku. Dia membohongiku sejauh ini! tapi sialnya, luar biasa sial adalah aku tidak bisa marah dengannya! Itulah yang terjadi.

Aku akan dengan mudah mengatakan ‘Ya’ pada setiap permintaan atau tawarannya, tanpa pernah berfikir untung ruginya, bagiku. Aku tidak pernah berkata ‘tidak’ dengannya ketika dia mulai merengek untuk aku agar mau melakukan sesuatu sekalipun itu adalah hal konyol.

Seperti ketika Songjin menemukan Bubble, kucing jalanan yang dibawanya malam-malam kerumah sakit, dan kemudian memaksaku untuk memeriksanya, karena bubble sekarat.

Perutnya sedikit sobek karena tertusuk benda tajam, entah apa itu dan nyawa kucing jalan itu telah berada pada batas bahaya.

Aku ini bukan dokter hewan. Tidak semestinya aku mengutak-atik tubuh hewan tapi Songjin yang datang dengan tangisan dan rengekan begitu, membuatku tidak bisa untuk berkata tidak dan tanpa berfikir apapun lagi mengiyakan untuk memeriksa bubble.

Bubble hanya infeksi karena bagian perut sobek, hingga sedikit terbuka. Sepertinya kucing itu berusaha memanjat pagar untuk menerobos sesuatu tapi gagal dan berakhir dengan luka seperti itu.

Setelah lukanya dibersihkan, dijahit, diberi obat dan dengan perawatan intensif selama beberapa hari saja Bubble kembali sehat. Lalu Songjin berkata bahwa dia tidak bisa membawa Bubble pulang, karena Kyuhyun bukan seorang pencinta binatang yang menghalal-kan binatang berkeliaran didalam rumahnya.

Maka lagi-lagi tanpa memelukan perbincangan panjang, aku mengiyakan untuk merawat bubble. Bubble adalah nama yang Songjin berikan sesaat setelah wanita itu menemukan kucing jalanan itu dan menyerahkannya padaku.

Apa itu salahku? Apa hanya aku saja, manusia yang tidak bisa berfikir waras ketika sedang jatuh cinta? atau ini juga terjadi kepada orang lain diluar sana? Tapi kenapa hanya aku yang tampak menyedihkan?

Atas dasar pemikiran, bahwa ini bukanlah kesalahanku, aku terus berfikir tak masalah untuk terus berada disekitar Songjin bahkan setelah Kyuhyun mengatakan bahwa wanita yang kusukai itu adalah istrinya.

Bahkan dengan ancaman, bahwa Kyuhyun akan melakukan hal tidak mengenakan padaku, jika aku terus berada disekitar Songjin. Setidaknya sejauh ini, pria itu tidak pernah mengatakannya langsung kepadaku. walau dengan sikapnya aku dapat dengan mudah membacanya, bahwa dia benar akan menghabisiku.

Oh—atau dia pernah mengatakannya dulu. ketika kami sama-sama di China, saat Gyuwon akan melakukan operasi ginjalnya. Tapi itu sama sekali tidak membuatku takut.

Bagiku dia malah terlihat kekanakan. Karena terus mencecar dengan kalimat yang bukan terdengar seperti peringatan, Namun ungkapan rasa cemburu. Bahwa secara tidak langsung dia mengakui, bahwa istrinya lebih nyaman bersama dengaku ketimbang dengannya.

Atau secara tidak langsung berkata, bahwa aku lebih memperlakukan Songjin lebih baik dari pada dia memperlakukan Songjin selama ini, hingga membuat istri tercintanya itu, lebih condong kepadaku dibandingkannya.

Apa itu salahku?

Kyuhyun lebih tua dibandingkan Songjin. Seharusnya itu membuat pria itu dapat bersikap seperti usianya dan memiliki tingkat kedewasaan yang lebih tinggi dibandingkan Songjin.

Namun sejauh pandanganku, Kyuhyun tampak sama konyolnya dengan Songjin. Mereka sering meributkan hal yang sebenarnya bagiku, tidak perlu diributkan. Kyuhyun tidak pernah mau mengalah, walaupun dengan Songjin. Dengan istrinya sendiri!

Apa saja dapat dijadikan bahan perdebatan mereka. untung saja Songjin tidak pernah bercerita, betapa muaknya dia dengan sikap Kyuhyun itu. kalau aku jadi Songjin, aku akan kabur bersama pria yang lebih pantas dan dapat mengerti, juga mengimbangi diriku.

Seperti aku.

“Ini.” aku menyerahkan sebuah map berisi puluhan lembar kertas didalamnya kepada Eunhyuk. Itu adalah laporan hasil seminar yang selama dua minggu ini aku tangkap. “kau tidak perlu menambahkan apapun lagi. semua sudah lengkap disana untuk permasalahan pembekuan otak. Kau hanya perlu melanjutkan sisanya. Dari seminar selanjutnya.”

Eunhyuk menghela nafasnya sambil berdecak, “Yeah. Itu pasti sangat banyak.” Keluhnya dengan wajah distel semenyedihkan mungkin.

Cih! berlebihan sekali dia ini, “pada intinya sama saja dengan aku ikut utuh atau tidak, karena toh pada akhirnya, kita akan membagi tugas kita untuk menulis laporan itu dengan pembagian seimbang. Entah dua minggu awal atau dua minggu akhir. Disini, aku sudah menyelesaikan tugasku untuk menerjakan laporan pada dua minggu awal. Sama saja kan? Apanya yang jadi masalah sih?”

“Tentu saja masalah! Aku tidak punya teman lagi disini, Sialan kau!” gerutunya memukul kepalaku dengan mapku ditangannya. “Hey, Im Yoona!” candaku dan wajahnya mengeras seperti biasa seperti ketika aku mulai membicarakan wanita berparas lembut itu.

“Hah—Sudahlah, pergi saja kau sekarang! tidak ada gunanya kau disini kalau hanya nama itu saja yang kau loloskan sebagai tamengmu untukku.” cetusnya langsung.

Aku tertawa. Tetap bertahan ditempatku dengan koper milikku sedangkan dia sudah mendorong-dorong tubuhku seperti aku benar-benar tidak diinginkannya lagi berada disini.

Seperti lupa, bahwa sejak kemarin sampai beberapa menit sebelum ini, dia masih saja merengek agar aku tidak pulang lebih dulu. aku ingin menggodanya lebih lama, tapi penerbanganku sudah mendapat panggilan.

Maka setelahnya aku hanya menyikutnya dan mendorong koperku menjauh. Sesemangat ini aku kembali. entah sebenarnya apa yang membuatku benar-benar merindukan Korea.

*

Kim Eun Soo

Mungkin aku dapat mengatakan bahwa Asia Pasific Rise Tower adalah gedung termewah di Korea untuk saat ini. tidak hanya mewah, Tapi juga megah. Bangunan ini terdiri dari dua Tower.

Tower 1, dan 2. Letaknya bersebelahan. Saling berhadapan. Memiliki sebuah jembatan tertutup sebagai penghubung antara kedua bangunan tersebut. sepertinya, pebisnis begitu sangat tertarik dengan bangunan yang memiliki harga sewa termahal seantero Korea ini, hingga Tower 3 dan 4 sedang dalam proses pembangunan.

Seperti namanya, tempat ini benar-benar membuat semua orang berdecak takjub karena ketinggian tak terjangkaunya. Bangunan ini memiliki 102 jumlah lantai. Mungkin itulah mengapa dinamakan Rise—Naik, Bangkit; karena Sampai mendongak hingga leher kebas pun kau tidak akan dapat memandang bagaimana bagian teratas dari gedung ini.

Lain ceritanya kalau dilihat dari tempat yang jauh, seperti dari Taman pusat kota. Barulah dapat dilihat bagaimana bentuk puncak tower ini.

Pantas dinamai seperti itu mengingat ketinggian teratas mencapai 1.224 Kaki.

Bentuk bangunan ini hampir 80% sama dengan gedung Empire State—di Manhattan, New York. Aku belum saja menghitung berapa Jumlah Lift yang dimiliki gedung ini, Tapi jika dibandingkan dengan Empire State, gedung itu memiliki total 73 boks Lift.

Mungkin Asia Pasific Rise Tower pun sama.

Ada beberapa alasan mengapa aku mendatangi gedung yang jika dilihat dari kamar Apartemenku, akan terlihat jelas karena jarak tempat tinggalku itu, dengan dua gedung ini tidaklah jauh. Hanya berjarak beberapa meter saja.

Hanya dengan berjalan kaki pun aku bisa sampai dengan cepat menuju dua gedung itu. Hanya saja persoalannya, aku tidak pernah mau jalan kaki. Terlalu… melelahkan. Itukan alasan mengapa diciptakan kendaraan?

Alasan pertama karena aku harus mendatangi gerai Louis Vuitton, secepatnya. Untuk mendapatkan gaun malamku yang akan kupakai pada acara Fashion Show Damon Wang. Sebenarnya aku tertarik dengan Black long Dress milik Hermes.

Gaun sialan itu menampar mataku ketika kali pertama kakiku menginjak Asia Pasific Rise Tower ini. bentuknya benar-benar… Entahlah, aku bahkan tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. It’s just Amazing.

Tapi aku ingat dengan dresscode yang ditetapkan, Fabulous Glamour in Gold. Jadi, patahlah hatiku ketika kembali mengingatnya. Pasalnya, long Dress—Hermes super cantik itu seluruhnya memiliki warna hitam. Dan entahlah, walau bisa saja aku memadu padankan supaya tetap dapat masuk dengan Dresscode tersebut, aku pikir aku akan terlihat seperti sedang menghadiri proses pemakaman saja jika tetap memaksakan menggunakan gaun itu.

Maka dengan susah payah, aku menyeret kakiku untuk menjauhi gerai Hermes dan kembali pada tujuan semulaku.

Alasan kedua, setelah mendapati gaun yang kumaksud, aku harus bertemu dengan Choi Ji Woo—Redaksi majalah Vogue, yang akan menjadikanku sebagai model, sekaligus Hot Slash Topic, pada Headline mereka untuk edisi Awal tahun.

Ketiga, aku sudah memiliki janji dengan seorang Flash Reporter majalah Glamorous, untuk makan siang bersama dan melangsungkan wawancara kecil mengenai pemilihan ajang kecantikan yang pernah kuikuti dulu, dan akan berlangsung lagi di awal Tahun depan nanti.

Busy! Hectic! Aku tidak tahu lagi harus menggambarkan seperti apa keseharianku, jika jadwal sudah menggunung. Jika sedang kosong, aku benar-benar terlihat seperti pengangguran kelas atas yang hanya berjalan-jalan, belanja, dan berguling di kasur setiap harinya.

Namun ketika memiliki jadwal. Jadwal-jadwal itu seperti mencekik-ku, tidak memberikan aku sedikit waktu untuk setidaknya menghirup nafas. Benar-benar… Payah! Aku butuh Manager!! Aku benar-benar butuh Manager!!

Aku tidak pandai mengatur sendiri keseharianku. Yeah, kecuali untuk makan, tidur, dan menikmati secangkir cokelat panas, itu lain ceritanya. Namun untuk mengatur jadwal, aku butuh seseorang yang kompeten, dalam hal tersebut.

Dan satu-satunya orang yang kukenal, adalah Lee Gyuwon. Cih, Maksudku—Choi Gyuwon. Aku lupa kalau wanita itu sudah menikah dengan pria tampan bernama Choi Siwon.

Manager terakhirku mengundurkan diri—tanpa alasan yang jelas. dia menikah dengan seorang pria yang ditemuinya di pinggiran sungai Han. Sial, kukira pria itu adalah pengamen jalanan, tapi setelah kulihat kemarin, tampan juga wajahnya.

Bagiku menikah adalah alasan tak relevan untuk mengundurkan diri dalam pekerjaan. Maksudku, di 2013 ini, tingkat kesejajaran wanita dan pria telah seutuhnya berada ditingkat yang sama. Tidak ada lagi teori yang mengharuskan wanita hanya berada didalam rumah, memasak, mengurus anak dan suami saja.

Dan alasan Lee Min Jung meninggalkanku untuk menikah kuanggap bukan alasan logis. Katakan saja dia sudah bosan bekerja denganku. apa sulitnya? Lagipula kalau dia berkata yang sejujurnya pun aku tidak akan marah, toh selama ini kerjanya tidak se-gemilang itu.

aku juga sudah berniat memecatnya, sial saja dia lebih dulu bicara ingin mengundurkan diri. Dia dua step lebih cepat diatasku. Tapi baiklah, itu tidak masalah. Masih ada jutaan manusia diluar sana yang ingin uang.

Yang menjadi masalah adalah, aku selalu bertemu dengan makhluk-makhluk pemburu uang itu, Namun tidak satupun yang membuatku tertarik untuk memperkejakan mereka. hal itu mengakibatkan aku harus mengurus semuanya sendiri, sampai aku mendapatkan seseorang itu. ITU!!

“Kau butuh seorang Asisten—Eun Soo.” Decak Gyuwon setelah sekian lama hanya mengunci mulutnya saja, dan tidak berkata apapun lagi. kukira dia sedang sariawan, tapi sepertinya tidak juga.

Gyuwon hanya… bosan dengan situasi disekitarnya. Yeah, jangan tanya padaku kenapa ada jenis wanita sepertinya, yang bosan ketika mata indah mereka dijejali dengan Tas, Sepatu, perhiasan sera Gaun-gaun cantik. Itu hanya, Gyuwon seorang saja. hanya Choi Gyuwon.

Desahan rendahku keluar. Setelah menarik sedikit ujung bibirku untuk mengulas senyuman tipis sederhana, tanganku terangkat untuk melambai pada seorang wanita didalam Gerai butik Louis Vuitton didepanku, yang akan kami masuki.

Senyuman wanita itu mekar cerah secerah matahari pagi. Mungkin dia senang, karena sebentar lagi, tokonya akan dibabat habis denganku, dan brangkas mereka akan penuh dengan uang setelah aku berbelanja. Yeah, apapun alasan itu—aku tidak perduli.

“aku butuh Manager. Oke? Bagiku Manager sudah cukup.”

Gyuwon tertawa sinis, “Tapi Manager bukan pesuruh. Tugasnya hanya mengatur jadwamu sedangkan Asisten, Yeah, kau bisa menyuruhnya semaumu!”

Gyuwon menerangkan berapi. Seperti dia tahu isi hati para Manager saja, Cih!

Aku hanya tersenyum sinis sambil mengeling malas, “Ohya?” tukasku mencibir. Dan Gyuwon kembali mendesah, “kukira aku tahu kenapa Lee Min Jung mengundurkan diri. Dia bukannya ingin menikah, tapi ingin pergi darimu. Kau menyebalkan, Eun Soo!”

“Apa itu juga alasanmu untuk menolak tawaranku menjadi Managerku?” aku kembali tersenyum. Super duper lebar hingga mungkin tampak mengerikan.

Gyuwon memutar bola matanya Jengah. Aku melanjutkan langkahku yang semula berhenti, dan kemudian langsung menuju tempat yang telah kutahu, dimana letak emas itu ada. “I’ll take this one!” ucapku santai.

Menunjuk pakaian yang tergantung disebuah gantungan berwarna emas. Pakaian itu hanya ada satu. Satu-satunya ditempat ini, dan hanya diproduksi 10 potong saja diseluruh gerai butik ternama ini, kudengar.

Semakin mendengar hal itu, aku semakin tertarik karenanya. Tunggu sampai Songjin melihat ini, aku akan tertawa puas sampai perutku sakit melihatnya menangis karena aku lebih dulu mendapatkan pakaian yang sama-sama kami incar. HA!

“Eun Soo!” tarikan pada mantelku membuatku menolehkan wajah kesamping. Wajah Gyuwon dirundung kepanikan tingkat mutakhir. Aku mengerenyit bingung melihatnya, “kenapa kau?”

“kau yang kenapa?” balasnya begitu cepat. Dia mendekatkan tubuhnya padaku. lebih tepatnya, bibir tipisnya, pada telingaku dan membisikan hal yang membuatku merasa ingin lompat ke Jurang karena merasa salah sudah menyeret wanita ini bersamaku hari ini sebagai teman berbelanja. “kau tidak lihat Harganya dulu? 1.500 Dolar, KAU SINTING? ITU 18.750.000 WON!! HANYA UNTUK SELEMBAR BAJU YANG TIDAK LEBIH TEBAL DARI SELIMUTKU DIRUMAH!!” amuknya dengan nada tak tertahankan, semakin lama semakin meninggi hingga kurasa percuma saja dia melakukan gerakan berbisik. Ini jelas bukan bisikan!

Aku hanya dapat menghela nafas dramatis sambil memandangi wajah cantiknya kasihan. Ya tuhan, tolong jangan lakukan ini lagi. ini benar-benar membuatku muak karena wanita ini, terus-terusan mengatakan hal seperti ini di setiap butik yang kami datangi, “Oh, Please Choi Gyuwon, don’t you dare give me that face—again. it’s nothing, compared that Dress!! That amazing fabulous Dress.” Geramku dengan bahu terkulai lemas.

** **

Pihak butik akan mengantar seluruh barang belanjaanku nanti malam, ketempatku. Setelah aku menyelesaikan semua yang harus kuselesaikan hari ini, aku memutuskan untuk pulang.

Gyuwon—si Ahjumma penggerutu, penilai mutlak nominal uang pada setiap benda yang kubeli itu tidak pulang bersamaku. Tadi suami tercintanya itu menelepon dan akhirnya memutuskan untuk menghampiri kami. Singkat kata, menjemput. Screw that! I don’t need somebody to pick me up. I’m already with this new lexus and we were so Happy.

Aku tertawa kecil setelahnya, mendengar seseorang didalam kepalaku berteriak-teriak kepadaku seperti itu setiap detik ketika aku mulai merasakan hal aneh yang membuat sesuatu didalam hatiku menjadi… ngilu.

Hanya dengan alasan sebuah mobil sport baru ini, seseorang itu telah mendapatkan alasan tepat mengapa aku tidak boleh merasa iri. Dia selalu membuatku bertanya-tanya, apa pentingnya merasa iri ketika seluruh hal baik, keren, gemilang dan berkilau ada ditanganku.

Selama ini, aku selalu mempercayai kata-kata orang itu. aku selalu mengikuti semua yang dikatakannya. tentang apa yang harus dan tidak untuk aku lakukan. Tentang apa yang semestinya aku katakan. tentang segalanya. 60% dia selalu benar. awalnya 100%, tapi setelah salah menilai seseorang bernama Lee Donghae—kukira itu cukup fatal, aku menurunkan total keakuratannya menjadi 60%!

Bicara tentang Lee Donghae, aku tidak ingin membicarakannya. Benar-benar tidak ingin!! Tapi sial, karena hatiku tidak bisa berkompromi dengan otakku lagi dan lagi. Pria sialan itu terus berputar-putar seperti hantu didalam tubuhku. Seluruh tubuhku seperti telah tercemar oleh Virus bernama Donghaenism.

Dan aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menghentikannya. Karena kukira, semakin aku berusaha untuk membuangnya, pria sialan itu malah terus-terusan menghantuiku. Dan itu—rasanya luar biasa tidak nyaman.

Karenanya, selepas apa yang kupelajari, aku harus bersikap santai. paling tidak kepanikan seperti ini, tidak muncul ketika aku diharuskan dengan terpaksa menghadapi pria itu.

Aku bahkan tidak ingat, sejak kapan berhadapan dengan Lee Donghae berada pada daftar hal-hal tidak menyenangkan untukku. Yeah, seingatku aku begitu merasa ter-pompa luar biasa semangat ketika tahu bahwa aku akan mendatangi pria itu, dimanapun dia berada.

Ponselku berbunyi dan bergetar. Tertera nama Shin Nara, seseorang dalam Agency tempatku menaung. Kalau aku tidak salah, ini sudah lewat pukul lima sore dan teori dalam kontrak, aku tidak memiliki keterikatan apapun apalagi kewajiban pada perusahaan ketika seluruh jadwalku tuntas, atau sudah melewati pukul lima dari pada waktu yang ditetapkan sebagai waktu standart ketika aku harus melakukan pemotretan.

Maka dengan tidak-bersemangat, dan atas dasar tidak ingin membuat keributan, aku memutuskan untuk menerima panggilannya. Nanti kalau sekiranya kata-kata wanita itu tidak menarik—bagiku, aku bisa memutusnya sepihak. Bilang saja signal burul. Mudah.

“HEY!”

“aku disini, hidup. bernafas.” Balasku sarkastik. Ucapan pertama dalam panggilan sebaiknya dimulai dengan kata-kata manis bukan dengan… HEY!

Suara tawa terdengar setelahnya. Shin Nara memiliki suara yang lembut. Aku sebenarnya sering berfikir, wanita itu lebih cocok bekerja sebagai radio DJ, dibandingkan menjadi Humas dalam perusahaan kami.

Kerjanya hanya dibelakang meja. Padahal tubuhnya cukup menarik walau pendek. Wanita ini bahkan lebih pendek dibandingkan Songjin. Wajahnya cantik. Sebenarnya, lumayan kalau untuk dijadikan cover majalah Pria dewasa—hanya sayang, keberuntungan tidak memihaknya. Itu saja masalahnya.

Dan menurutku, pekerjaan yang tepat baginya melihat kekurangan-kekurangan itu, adalah Radio DJ. Suara Nara halus dan begitu lembut. Kalau mendapatkan penilaian melalui jenis suara, Shin Nara akan terhitung sebagai wanita tidak berpendirian yang lemah. Berbanding jauh dengan aslinya yang menggila.

“kau sibuk? ada pekerjaan menarik. Untukmu. Ini menarik, sangat menarik, karena mereka hanya menginginkanmu. Bukan orang lain. Demi Tuhan—Kim Eun Soo! Kau akan dibayar mahal untuk yang satu ini, dan seribu persen aku yakin kau tidak akan mampu menolaknya!” Nara berucap tanpa jeda.

Uang. Bagiku, Inti dari mendapatkan uang adalah kelangsungan hidup yang baik. inti dari kelangsungan hidup yang baik adalah berbelanja tanpa rasa menyesal. Inti dari rasa menyesal adalah rasa bersedih yang muncul, ketika kau baru mengeluarkan uangmu untuk berbelanja. Dan atas dasar hal tersebut, aku mencoba menekan rasa malasku,untuk menggunakan mulut dalam salah satu kegunaan semestinya, bicara, —dan meladeni wanita diseberang. “Go On.” Ucapku sambil menekan tombol angka 15 pada lift yang baru kutumpangi.

“ada perusahaan kosmetik terkenal yang ingin meluncurkan prodak terbaru mereka. sebuah Parfume. Dan menginginkanmu menjadi Brand Ambassador mereka untuk prodak itu.”

Dahiku berkerut seiring dengan penjelasan Nara, “Parfume?” Duh! Yang benar saja, “Eun Soo—ayolah! Dengar penjelasanku dulu! ini bukan Parfume biasa! kau tebak apa label mereka?” Nara mulai bertingkah. Dia terlalu menyukai permainan, ‘ayo buat aku kesal’ dan ini benar-benar waktu yang tepat!!

“Nara..”

“Kim Eun Soo! Berhenti bersikap menyebalkan dan dengarkan aku! kau ini sedang PMS ya?” gerutunya memotong kalimat yang bahkan belum keluar sepenuhnya dari mulutku. “Ayo tebak dulu! kau menyukai label ini—“

Helaan nafas panjangku lolos, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Aku melanjutkan langkahku menyusuri lorong dengan karpet merah tebal sebagai alasnya. Kiri kananku, terdapat lukisan lukisan abstrak berwarna-warni.

Aku kurang paham dengan keindahan bentuk seni ini. maksudku, dimataku aku melihat lukisan-lukisan ini seperti prakarya anak TK yang tidak sengaja menumpahkan kaleng cat nya pada kanvas mereka.

Maaf saja kalau aku bukan penikmat seni yang baik. setiap orang memiliki ketertarikan mereka masing-masing dan itu tidak harus sama.

“Kre-At?”

“Nope.”

“Azature?”

“Nope.”

“Cle de Peau Beaute?”

“Almost.”

Mataku menyipit dengan sendirinya. Aku merasa seperti sedang bermain Quiz, dan Nara adalah Juri sekaligus presenter menyebalkan yang setiap detik para peserta memberikan jawaban dengan lugasnya dia akan berucap menggunakan nada suara menyebalkan. “Ah—Nara!”

“Ayolah.. sedikit lagi.” desak Nara, namun aku benar-benar sudah malas berfikir lagi. otaku sudah tidak bisa digunakan selain untuk membayangkan bagaimana nikmatnya ranjangku, karena sebagai Informasi saja, tubuhku rasanya remuk!! “Aku menyerah. Katakan atau kumatikan panggilanmu sekarang!”

“Eun Soo Jinjja! kau sedang PMS dan kau benar-benar menyebalkan! sama sekali tidak asyik!” geram Nara.

Jangan salahkan aku kalau aku jadi tidak asyik lagi untuk bermain. kepalaku sedang tidak karuan isinya. masalah menata hati dan logika yang hancur setelah Lee Donghae sialan itu bertingkah saja masih membuat denyutan tersendiri yang tidak bisa hilang.

Lalu pertanyaan dari Flash Reporter majalah Glamorous tadi membuatku semakin sakit kepala! Dia membeberkan bahwa menurutnya selama ini, ajang pencarian bakat melalui kontes kecantikan hanyalah sebuah ajang untuk mengumpulkan wanita sejenis yang kebanyakan tidak berotak.

Well, dia tidak mengatakan bahwa kami tidak berotak. Tidak secara gamblang. Hanya saja, aku terlalu cerdas untuk menerjemahkan bahwa pertanyaan ‘sebutkan satu alasan  sederhana, yang mendeskripsikan bahwa kontes kecantikan perlu untuk diadakan selain sebagai wadah untuk mengumpulkan wanita dengan Hobby yang sama??’ 

Bukankah itu kalimat halus dari, ‘katakan alasanmu, mengapa kontes kecantikan itu perlu untuk diadakan, karena setahuku itu hanyalah tempat dimana seluruh wanita tidak berotak yang memiliki hobby menghamburkan uang, membicarakan orang lain, menghina keburukan orang, berwajah cantik hasil operasi plastic dengan tubuh indah berkumpul?’ 

Iyakan? Atau hanya aku yang berpikiran seperti itu karena aku memang sedang mengalami Pra Menstuarsi Syndrom?? Sialan! itukan menyebalkan!!

“Hanya hari yang buruk.” Jelasku menormalkan nada bicaraku. Aku tidak ingin menambah jumlah musuh. Sudah terlalu banyak orang yang tidak menyukaiku. Aku tidak mungkin hidup ditengah orang yang selalu membuatku merasa jatuh semakin dalam kan?

Walau sudah bersikap acuh, ejekan yang didengar setiap hari akan mempengaruhi pola pikirmu dan membuatmu merasa rendah. Pada akhirnya, kau akan membenarkan ucapan mereka, padahal sudah jelas, mereka hanyalah kumpulan orang yang sebenarnya iri dengan apa yang kau miliki.

“Tsk, pasti karena Lee Dongh—“

“STOP!” putusku cepat. Bulu kudukku sudah meremang ketika nama itu hampir keluar dengan mudahnya. Nama itu memang selalu berputar dikepalaku, tapi paling tidak, aku tidak pernah mengucapkan nama itu dengan mulutku. Tidak lagi—sejauh ini.

Nara mendesah panjang, mungkin disana kepalanya sedang bergeleng-geleng seperti ketika dia menemukan seseorang, yang tidak bersikap semestinya, seperti yang diharapkannya, “Eun Soo, sadarlah. Semua orang pernah patah hati. All you have to do is move on!” paparnya dramatis. Aku mendapatinya dramatis karena telingaku menangkap nada bicara penuh penilaian, seakan aku tidak melakukan hal itu. Move On. Yang pada dasarnya, sedang kulakukan, tapi move on tidak semudah ucapan saja. perlu kerja keras untuk mengimplementasikannya.

“Haah—whatever!” decaknya mulai malas, “ it’s DNKY.”

APA? Langkahku seketika berhenti. Dan pada detik berikutnya aku merasa ingin melompat kegirangan saking tidak percaya pada pendengaranku sendiri, “DNKY?!”

“Yeah, like I said before. You gonna love this one”

“I am!!” jeritku kegirangan. Sekarang aku tidak bisa menahan kakiku untuk melompat kegirangan lagi. aku benar-benar merasa luar biasa senang.

Seketika, aku lupa dengan seluruh hal buruk yang terjadi kemarin, atau tadi, atau jauh pada hari-hariku sebelumnya. Ini DNKY!! Astaga! aku pasti sedang dihinggapi dewi keberuntungan!

“jadi, apa ini artinya iya?”

“Tentu saja tentu!!” seruku lagi. terserah orang akan mengataiku norak. Yang mengataiku norak itu belum saja melihat gambarku di billboard besar sepenjuru dunia nanti. Saat mereka telah melihatnya, aku yakin mereka akan iri habis-habisan denganku!!

“Tapi dengar penjelasanku dulu, ini seperti program amal. Hasil penjualan parfume ini akan disumbangkan seluruhnya untuk Yayasan yang bergerak melawan kelaparan di Afrika. Apa kau—“

“tidak masalah! Tidak masalah. Aku ambil. Aku-ambil.” Putusku langsung. tidak perlu berpikir dua kali untuk brand sekelas DNKY. Sekarang, ada dua hal yang bisa ku pamerkan kepada Songjin, nanti! HAHA!

“Oke.. sistematis perjanjian dan seluruh keterangannya sudah kukirim melalui email. Kalau oke, datang ke kantor besok untuk tanda tangan kontrak.”

“sekarang juga boleh.” Candaku dan Nara seperti menggebukan sesuatu. Benda keras pada meja kemudian kembali menggeram, “BESOK! YEOJA SINTING! KAU BIPOLAR YAAA BARU SAJA MARAH-MARAH LALU TIBA-TIBA SEPERTI INI SEDETIK KEMUDIAN??” amuknya kemudian.

Aku hanya tertawa menanggapi kisruh omelannya dan menganggukan kepala. Memasukan kembali ponsel kedalam saku blazerku dan terus berjalan. Setelah sekian lama senyuman rasanya mengilang dari wajahku, sekarang rasanya mudah untuk melakukannya lagi.

Semudah itu kebahagiaanku kembali. hanya semudah dan sesederhana itu saja.

Namun dalam sepersekian detik, senyuman tadi langsung menghilang. Aku terpaksa harus melenyapkannya, setelah mendapati sosok yang kukenal, berdiri didepan pintu apartemenku.

Dia menyadari kedatanganku, karena itu dia langsung menghampiriku walau setelahnya, memberikan jarak pada kami beberapa jengkal. Cukup jauh, meskipun jika dibandingkan dengan jarak semula, ini lebih dekat.

“Eomma bilang, kau sakit—aku jadi.. Em..” ucapnya menggantung. Tangan kanannya menggosoki tengkuknya. Dan rambut blonde itu dia sisir menggunakan jari jari tangannya. “sepertinya, kau sudah sehat.” Lanjutnya setelah mata hijau-nya, meneliti tubuhku seperti alat scanner berulang secara seksama.

Tubuhku menjadi kaku. Aku tidak tahu harus melakukan apa, kecuali diam ditempatku, bernafas, dan mengedipkan mata setiap tiga detik sekali. rasanya canggung.

Mulutnya kembali terbuka, ketika sadar bahwa jika tidak ada satupun diantara kami yang memulai pembicaraan, maka tidak akan ada pembicaraan bahkan sampai kiamat datang, “Kau tahu, aku hanya ingin memastikan. Kau sudah sehat. Itu bagus. Sepertinya tidak ada lagi yang harus dipermasalahkan. Aku.. aku pulang saja.” Tukasnya langsung. cepat secepat secepat pesawat Jet melesat.

Kakinya yang panjang pun sudah langsung melangkah menuju lorong disisi kirinya. Yang aku tahu, pada bagian lorong sana tidak ada Lift, jadi apa dia sudah gila ingin turun dari lantai 15 menggunakan tangga darurat?

“Tunggu. Luke.” Tahanku. Aku sedikit terkejut ketika aku dapat mengucapkan namanya dengan tanpa amarah sedikitpun. Keluar begitu saja, seperti aku tidak pernah memiliki riwayat masalah apapun dengannya.

Pria Kaukasian itu berbalik. Mempertontonkan lagi wajah yang sebenarnya dapat kukatakan cukup tampan. lumayan, untuk hitungan seorang pria berusia awal tiga puluhan, dia masih terlihat seperti berusia pertengahan dua puluhan.

“Wanna some Hot Chocolate?”

Luke terdiam ditempatnya. Selama beberapa detik dia hanya memandangiku tanpa ekspresi. Mungkin didalam kepalanya sedang ada perdebatan, tentang menolak atau menerima tawaranku. Dan setelah melewati lima detik—yang bagiku terasa seperti lima tahun, pria itu seluruhnya memutar tubuh menghadapku lagi, “I Prefer Black Coffee, Can i?”

Dan tanpa merasa perlu memikirkan jawaban atas tawaranku tadi, aku mengangguk cepat sambil membuka mulutku, “Sure.”

** **

“apa Eomma yang memberi tahukan mu?” aku meletakan sebuah cangkir berisi kopi hitam. Seperti permintaan pria ini semula. Aku juga meletakan sebuah nampan kecil berisi sebuah tube keramik berisikan Creamer dan sebuah wadah kecil berisi beberapa sachet gula.

Aku tidak pernah langsung memberikan gula pada setiap cangkir minuman yang kubuat. Aku tidak suka jika seseorang melakukannya padaku, dan aku menerapkannya untuk orang lain. Paling tidak, jika orang lain itu adalah tamuku.

Aku menarik bangku tinggi, berhadapan dengan Luke, dan lalu menatap wajah pria didepanku seksama. Luke mengangguk pelan. mengiyakan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu untuk ditanyakan.

Mudah tertebak. Tentu saja dia tahu dari Eomma. Dia kan kaki tangan wanita itu!

Aku tersenyum sinis menanggapinya. Mengaduk cokelat panasku sebelum meminumnya, “lalu.. apa Eomma juga yang mem—“

“tentu saja tidak!” Luke mengerang, nyaris memekik bahkan sebelum aku mengatakan seluruh pertanyaanku. Apa semudah itu menebak apa yang ingin aku katakan? aku tidak pernah tahu kalau aku tipe orang seperti itu. “Tidak, Eun Soo. Eomma tidak memintaku untuk datang. Dia hanya menelepon untuk bertanya bagaimana kondisiku, lalu seperti biasa—kau muncul diantara percakapan kami.” Luke tertawa renyah.

Aku tidak tahu apa hal yang menyenangkan dari nama seorang adik tiri terangkat ditengah pembicaraan mesra keluarga? Bukankah itu menyebalkan? setidaknya, itu terjadi padaku, saat jika Eomma, memiliki waktu senggang untukku, putri kandungnya, dan menghubungi, lalu nama putra tiri-nya, Luke Schdmit atau suami kedua-nya, Peter Schdmit muncul sengaja atau tanpa sengaja.

Aku bukan orang yang akan berkata suatu hal tanpa alasan yang tepat. Saat aku berkata kepada Songjin, bahwa hanya ada dua tipe pria di dunia ini, kalau tidak Gay, ya Brengsek, itu benar adanya.

Contohnya sudah terjadi dikehidupanku sendiri. maka dari itu aku menanyakan hal tersebut kepada Songjin. Dan aku sedikit kecewa dengan jawabannya yang menggantung. Apa sulitnya mengakui kalau Kyuhyun itu pria brengsek.

Well, untuk Gay sepertinya tidak. Kyuhyun terlihat seperti pria normal pada umum-nya. itu terlihat dengan jelas ketika matanya menangkap tubuh wanita. Apalagi wanita dengan pakaian berpotongan dada rendah. Wanita yang aku maksud adalah Songjin.

Aku pernah mendapatinya sedang  memandangi pada titik itu ketika kami sama-sama mendatangi acara makan malam pada Grand Opening Bello Wedding Dress House, milik Songjin sendiri.

Ketika itu Songjin menggunakan gaun malam peach yang cantik. Detail dan jenis bahan benar-benar tepat akurat, membuat pakaian itu tidak terlihat berlebihan, namun juga mewah disaat yang sama. Aku tidak pernah mudah memberikan pujianku bagi banyak orang, tapi harus kuakui bahwa Songjin memang berbakat dalam mendesign.

Dengan itu tadi kataku, potongan rendah pada dada, dan backless, adalah ciri Khas pakaian rancangan Songjin.

Disana, Kyuhyun tampak seperti Namja penggoda yang selalu berada di Kelab malam. walau sebelumnya, dia mengomel mati-matian sesaat sebelum acara dimulai, mengomentari betapa kesalnya dia karena Songjin menggunakan pakaian yang menurutnya tidak pantas.

Tapi toh, sepertinya diam-diam dia menyukai pemandangan ‘berpotongan rendah’ itu. entah didepan, atau dibelakang. Kyuhyun selalu mencuri pandang kearah ‘itu’ ketika dia memiliki kesempatan. Pria mesum!

Tapi itulah yang membuatku merasa Kyuhyun tampak seperti pria Brengsek. Dan lagi, Sonjin pernah mengatakan bahwa Kyuhyun pernah membawanya ke sebuah Kelab malam bernama ‘Fame’ dan disana pria tinggi itu disambut bak seorang raja.

Kyuhyun jenis pria penyuka kehidupan malam. itu mudah saja terlihat. Dan akan lebih mudah bagiku untuk memutuskan bahwa Kyuhyun tipe pria Brengsek.

Apalagi yang dilakukan pria didalam kelab, tempat berisikan wanita penghibur dan penari telanjang, dengan berbagai jenis cocktail tingkat tinggi memabukan?

Banyak contoh yang dapat kuberikan.

Salah satunya adalah Ayahku. Dia bukan pria brengsek. Sayangnya tidak. dia hanya… Gay.

Aku tidak bercanda dengan yang satu ini. dulu, setelah tidak lagi menjabat sebagai Miss.Korea, ibuku pernah bermain Theater, disanalah dia bertemu dengan Ayahku. Aku tidak tahu bagaimana kisah percintaan itu terjadi.

Ibuku tidak pernah mau menceritakan secara terperinci dan hanya mengatakan bahwa ‘Eun Soo, kau punya Ayah, dia sedang tidak disini. setelah dia kembali dari pekerjaannya, Aku akan membawamu bertemu dengannya’ dan terus bicara seperti itu hingga usiaku mencapai tiga belas tahun.

Selama tiga belas tahun aku tidak paham mengapa seluruh temanku memiliki dua orang tua sedangkan aku hanya satu?

Baru setelahnya, ketika aku mulai tidak tahan dengan pertanyaan teman-temanku tentang dimana Ayahku? Siapa Ayahku? Aku mulai menjadi bocah pemberontak.

Aku selalu mencecar Ibuku dengan pertanyaan dimana dan siapa ayahku? Sampai sepertinya, Ibuku merasa lelah, dan akhirnya mengatakan kebenaran seluruhnya. Bahwa aku dilahirkan tidak dalam ikatan pernikahan.

Aku memiliki Ayah seperti anak pada umumnya, Tapi ayahku tidak sama seperti ayah pada umumnya. satu tahun setelahnya, Ibuku membawaku menemui seseorang. Seorang pria dengan tubuh kurus tinggi berkepala botak. Dia memakai kaca mata bulat seperti boboho yang sering kutonton.

Aku tidak mengerti apa yang salah dengan Ayahku? Dia baik-baik saja. dia tampan dan bertubuh tegap. Suaranya merdu bahkan ketika berbicara normal. Bukan bernyanyi. Orangnya baik hati dan ramah. Selalu tersenyum dan tertawa. Sering menawariku Ice Cream atau permen pada setiap pertemuan kami.

kenapa Ibuku tidak ingin tinggal bersama dengannya? Ayahku tidak tampak seperti pria jahat dengan jaket kulit hitam dan mobil pick up. Aku ingin juga tahu bagaimana rasanya hidup bersama dua orang tua seperti teman-temanku lainnya.

Satuhal yang kudapati alasannya, adalah dari mulut Ayahku sendiri. kelainan itu tidak akan didapati hanya dengan menonton wajah tampannya saja. butuh waktu yang banyak untuk mengetahui bahwa kelainan itu ada, dan bahkan Ayahku tidak dapat menjelaskan mengapa hal itu sampai terjadi padanya.

Dia tahu bahwa dia seorang Gay sesaat setelah dapat menghamili ibuku. Dia langsung dapat sadar bahwa kepuasan dan Obsesinya tidak terletak pada tubuh wanita, seperti pria kebanyakan, Namun pada gender sama dengannya.

Lalu, bisa apa aku untuk mengomentarinya? Tidak ada satu orang pun yang lahir dan menginginkan hal itu terjadi pada dirinya, atau diri putra putri mereka! aku tidak membutuhkan waktu untuk menyadari hal tersebut.

Rasa penyesalan itu ada. Memang ada namun dengan alasan yang berbeda. kenapa Ibuku menyembunyikan kejujuran sebesar ini dariku? Walau sepahit apapun itu, aku tetap memiliki Hak untuk mendapatkan penjelasan bagaimana aku bisa sampai ditempat ini.

Dan dengan menutupi kebenaran, tidak menyelesaikan masalah. Semakin bertambah-nya usiaku, aku semakin penasaran dengan kebenaran kebenaran itu.

Tumbuh besar dilingkungan kelas ‘idola’, aku memiliki pengalaman lebih banyak pada seluruh hal dibandingkan anak seusiaku. Aku paham, dan melihatnya langsung dengan mata kepalaku bahwa ternyata ada Gay; pecinta sesama jenis, lelaki. Dan lesbian; bagi wanita.

Ada Bisexual, pecinta keduanya. Ada juga makhluk Desperate—golongan pesimis yang lebih menyukai bermain-main dengan pasangannya hanya untuk mendapatkan kesenangan sesaat.

Namun pada satu titik aku menyadari satu hal, bahwa mereka semua tetaplah manusia yang lahir dengan kepemilikan hati. ketidaksempurnaan mereka, tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak dicintai, apalagi tidak mendapatkannya sama sekali.

Begitupun dengan Ayahku. Ayahku seorang Gay. Tapi bukan berarti dia tidak pantas mendapatkan kasih sayang cinta kasih. Bagaimanapun masalahnya, Ayahku tetap Ayahku. Tidak perduli bagaimana keadaannya.

Dan selepas itu, hubunganku malah menjadi lebih dekat dengan Ayahku dan Ibuku si wanita super sibuk itu semakin berjarak denganku.

Pada usiaku ke lima belas, Ibuku menikah lagi dengan seorang pria berkebangsaan Italia yang menetap di Korea. seorang Photographer bernama Peter Schdmit. Dan secara tidak langsung, hal itu membuatku memiliki kakak tiri bernama Luke Schdmit.

Aku tidak tahu apa alasan tepat yang membuatku merasa kesal setengah mati dengan kedua Schdmit itu. entah kenyataan bahwa Ibuku menjadi lebih sering berada dirumah setelah menikah dengan pria itu, atau alasan bahwa Ibuku memiliki hubungan lebih dekat dengan Luke, kakak-tiriku ini, lebih daripada aku, orang yang seharusnya memiliki posisi nomor satu untuknya.

Empat tahun menikah, Peter memutuskan untuk pension dan kembali pulang ke Negara asalnya, Italia. Sedangkan Luke, dia terlalu lama berada di Korea. luarnya saja jenis Kaukasian, dalamnya, dia seorang warga Asia—lebih Asia dibandingkan warga Asia.

Maka Luke berpindah kewarganegaraan menjadi warga Korea Selatan setelah usianya menginjak 18, dan memilih untuk hidup di Negara ini sampai saat ini. hanya sesekali saat liburan musim panas, atau musim dingin, dia kembali ke Italia.

Hal ajaib adalah, Ibuku memutuskan untuk menetap, hanya untuk dapat menjaga kami. Aku dan Luke. Silahkan bertepuk tangan atas dasar kemanusiaannya itu, tapi aku tidak ingin melakukannya. Semenjak kehadiran Luke, Ibuku seperti tidak menginginkanku lagi.

Atau seperti itulah yang kulihat dengan mataku, dan hatiku mengiyakan argument tersebut.

Maka setelahnya, aku memutuskan untuk tinggal terpisah. Untung saja aku memiliki alasan tepat untuk hal tersebut. kampusku di daerah Incheon dan rumahku di Seoul, butuh waktu dua jam untuk pulang pergi setiap harinya. Itu tidak efisien. Waktu adalah uang.

Aku tinggal didorm kampusku, lalu setelah lulus, aku mengikuti ajang pemilihan kecantikan itu, dan menang. Mendapatkan uang dari sana juga pekerjaan. Dengan itu aku resmi hidup terpisah dari Ibu dan kakak tiriku.

Mereka harus berterimakasih kepadaku, karena aku memberikan apa yang mereka inginkan. Bukankah begitu?

** **

Jika aku dapat menghitung lalu membandingkan jumlah kemampuanku, dengan seseorang bernama Park Songjin, maka dengan percaya diri akan kukatakan, aku lima ribu kali berada lebih tinggi diatasnya.

Park Songjin hanyalah seorang wanita biasa yang beruntung karena hidup ddiantara keluarga dengan kemampuan financial sempurna. Entah itu keluarganya sendiri, atau keluarga dari pasangannya. Kyuhyun.

Hal itu yang kebetulan, membuat Songjin dapat melakukan apapun dengan uang. Dan dengan uang pula, dia dan lingkungan Sosial ditemukan. Aku dapat mengatakannya seperti itu.

Walaupun sekarang, telah dibuktikan bahwa Songjin mampu untuk bertahan sendiri tanpa kantung emas keluarganya, nyatanya berada bersama Kyuhyun tetap membuatnya hidup ditengah kantung emas. Dan pekerjaannya sendiri pun, menghasilkan kantung emas yang sepadan.

Untuk beberapa hal, seperti itulah cara dunia mempermainkan manusia.

Park Songjin tidak pintar. Dia bahkan terkesan lamban, karena selalu terlambat dalam mencerna sesuatu, tapi bukan berarti dia bodoh. Aku tidak mengatakan seperti itu.

Ditengah seluruh keberuntungannya itulah, lagi lagi Songjin mendapati keberuntungan lainnya seperti wajah khas wanita Asia yang tidak dapat diluwatkan begitu saja. Songjin cantik. Dia memiliki wajah dengan rahang tirus berukuran normal, bibir tipis sempurna berwarna pink, kulit putih mulus tanpa celah dan terlihat penuh perawatan. Sedangkan hal lain yang kebanyakan warga Negara ini inginkan, sampai mereka harus melakukan Operasi terlebih dahulu sebagai wujud kerja keras atas apa yang mereka inginkan itu, Mata yang besar.

Keberuntungan lainnya adalah, Songjin terlahir dari keluarga yang sempurna. Yeah, bagiku kesibukan orang tua yang menggila tidak bisa dikatakan sebagai kekurangan, walaupun Songjin terus mengangkat malasah itu. bahwa dia hampir jarang bertemu kedua orangtuanya, karena keduanya sibuk bekerja.

Ambil positivenya, untuk siapa mereka bekerja kalau bukan untuknya? Paling tidak, mereka tidak membiarkan Songjin kedinginan, kelaparan dan kekurangan asupan dana selagi Tuan dan Nyonya Park sibuk berpencar pada kesibukan mereka masing-masing,

Menurut Songjin, Ayahnya diambil tiba-tiba pun adalah sebuah ketidak beruntungan baginya. Tapi bagiku, itupun tidak masalah. Itu  masih bukan sebuah wujud ketidak beruntungan untuknya, nyatanya, Songjin masih dilingkupi keluarga yang hangat walaupun Park Seul Gi meninggal dunia.

Kyuhyun selalu memastikan Songjin, bahwa dia tidak akan merasa kesepian walaupun Park Seul Gi tak ada lagi. kalaupun tidak Kyuhyun, Siwon atau Gyuwon akan melakukan hal serupa.

Atau… Lee Donghae.

Yeah, pria sialan itu tetap saja bersikeras menempel pada Songjin biarpun Kyuhyun sudah memberikannya banyak peringatan. Atau Lee Donghae terlalu bodoh untuk menyadari bahwa kurangnya intensitas pertemuan Songjin dengannya akhir-akhir ini, diakibatkan karena Kyuhyun yang melakukan aksi bungkam dengan Songjin, ketika pria tinggi itu tahu bahwa istrinya lebih sering menghabiskan waktu bersama pria lain.

Untuk alasan sederhana, dan segamblang itupun Donghae masih tidak dapat mencernanya. Sepertinya, Lee Donghae adalah tipe orang, yang harus mendapatkan bogeman mentah dulu untuk menyadarkan bahwa apa yang dilakukannya salah.

Semakin aku memikirkan tentang pria itu, aku semakin menemukan logika ku kembali. bahwa Lee Donghae tidaklah sekeren itu. dia tidak secerdas itu. dia tidak seramah itu. dia tidak sesopan itu. dia tidak sehangat itu.

Atau… dia memang akan seperti itu jika pada orang yang tepat, dan dapat kukatakan bahwa aku bukanlah orang yang tepat untuknya. Aku tidak bisa menilainya dengan pasti karena tepat atau tidaknya seseorang berada disisi seseorang bukankah harus melalui proses pendekatan yang intens baru dapat menilai dengan akurat?

Aku melakukan pendekatan intens itu, tapi Donghae malah mengatakan aku menakutinya karena bertingkah seperti bayangan untuknya, dan itu menyeramkan juga menyebalkan untuknya.

Seharusnya, walau seperti itu, dia bisa mengatakannya dengan cara dan kata-kata yang lebih halus. Dia tidak perlu mengatakan sambil memaki, berteriak dan mengataiku ini dan itu. aku menyukainya, tapi suka saja tidak cukup sebagai alasan dasar untuk mau dimaki, diteriaki atau dikatai seperti aku adalah seseorang yang tidak memiliki perasaan.

Seperti aku tidak akan sakit hati mendengarnya. Well, aku bukan Songjin yang bisa terima dengan lapang dada ketika Kyuhyun meneriakinya, memakinya, atau melakukan hal tidak menyenangkan lainnya.

Dan pada satu titik, hal itu tidak dapat dikatakan sebagai hal menyebalkan karena setiap orang akan memiliki anggapan yang berbeda. seperti Songjin dan Kyuhyun, begitulah keseharian mereka sejak dulu hingga sekarang.

Saling memaki sepertinya adalah wujud perkataan cinta yang dipelesetkan bagi mereka.

Berkelahi seperti tidak ada hari esok, walau yang kutahu, mereka tidak akan pernah bertengkar lebih dari 48 Jam. Tadinya aku akan mengatakan 24 Jam, tapi kemarin Songjin bercerita bahwa Kyuhyun mendiamkannya sehari semalam dan kukira itu adalah pertengkaran kali pertama mereka yang berlangsung lebih dari 24 Jam.

Walau pada akhirnya, keduanya lebih memilih untuk saling meminta maaf. Entah Songjin atau Kyuhyun yang lebih dulu melakukannya. Tapi bagiku itu adalah hal konyol.

Kalau marah ya marah saja. kalau masih belum bisa memaafkan ya jangan dimaafkan dulu. hal yang dipaksakan akan berakhir tidak baik. seperti berkata ‘Yeah, aku sudah memaafkanmu’ tapi didalam hati masih menggumpal kekesalan.

Itu hanya akan berakhir dengan satu hal menyeramkan. Dendam.

Lain halnya dengan Gyuwon dan Siwon, mereka lebih sering bertukar pujian, atau kata manis yang berlebihan karena mereka adalah pasangan picisan. Sedangkan bagiku, cinta tetaplah cinta. tapi harus selalu ada kubikel yang memisahkan dan menjaga cinta itu, yakni sebuah hal sederhana, ‘saling menghargai’.

Seperti yang kukatakan tadi. setiap orang memiliki pendapat mereka masing-masing.

Maka dengan alasan tersebut aku dapat mengatakan bahwa Songjin adalah wanita paling beruntung yang pernah kutemui sepanjang hidupku. Aku mengakuinya, walaupun aku tidak mengatakannya secara langsung kepada wanita itu.

Kurasa tidak perlu.

Maka, dengan pertimbangan tersebut lah, aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum tipis kepada pria dihadapanku. rambut cokelatnya tersapu angin yang semakin lama semakin terasa menyeramkan dengan kapasitas kibasan yang besar dan hawa dingin yang ikut bersamanya.

Aku mendorong sebuah tas kertas kecil bertuliskan Cadbury kembali kepadanya. Aku tidak perlu mengintip kedalamnya, untuk tahu bahwa yang Donghae bawakan untukku adalah tumpukan cokelat. “aku tidak suka cokelat murahan.” Ucapku santai.

Maaf saja kalau kata-kataku terdengar arogan tapi itulah kenyataanya. Aku memang penikmat cokelat panas. Aku lebih menyukai cokelat panas dibandingkan kopi, tapi aku tidak suka dengan cokelat batangan, dalam bentuk apapun.

Cokelat batangan hanya akan membuat gumpalan lemak didalam tubuhmu. Menutupi jantungmu dengan lemak jahat hingga membuat kerja alat vital pada tubuh manusia itu tidak berfungsi dengan baik dan akhirnya membuatmu mati.

Donghae tertawa. Tawanya terdengar renyah dan lembut disaat yang sama. Walau sebagian pada diriku telah kehilangan respect untuknya, tapi aku masih menyukai yang satu ini. tawanya. “Sial, seharusnya aku membelikanmu Silverqueen.” Ujarnya ditengah tawa.

Aku menggeleng lagi, “sudah kubilang aku tidak suka cokelat murahan.” Cetusku. Kuangkat cokelat panas dicangkir milikku, dan sepertinya hal tersebut membuat Donghae tidak begitu suka karena matanya memandangi cangkirku bengis, “itu juga cokelat.” Tukasnya.

Dagunya menunjuk cangkirku tidak senang. Aku tersenyum tipis ditengah sesapanku. “didalam sini tidak ada pemanis buatan dan aku tidak menambahkan gula untuk minuman ini.”

“Tsk, tetap saja cokelat. Dan harganya hanya seribu won. Murahan.” Dengusnya seperti tidak terima. Aku mengerling malas.

Atau pernyataan aku tidak suka cokelat murahan, hanyalah satu dari sekian alasan yang melintas dikepalaku, ketika pertama kali aku bertatap muka dengan Lee Donghae dan dia memberikanku satu tas penuh cokelat yang katanya adalah oleh-oleh dari Singapore.

Oleh-oleh atau sebuah pernyataan maaf secara tidak langsung? itu bagiku sama saja. seperti penjilat. Donghae mendesah pendek. Tangan besarnya menggosoki tengkuk sambil merunduk sedikit.

Memandangi tas tak bersalah dimeja kami kasihan. Mungkin dia sedang berfikir, apa yang akan dilakukannya dengan seluruh cokelat itu kalau aku tidak mau menerimanya. “seharusnya aku membelikanmu Godiva Chocolate. Bukan Cadbury—iyakan” katanya pelan.

Aku menggeleng menoak statement nya. ini kali ketiga dia salah tentang diriku. “sama saja. aku lebih suka Chocopolagie, atau minimal… Noka.” Ucapku sambil mengangguk dan mata Donghae membesar setelah aku berbicara.

Memandangiku tidak percaya, seperti aku adalah hantu yang dilihatnya tanpa sengaja, dan dia ingin memastikan apakah aku benar hantu, atau hanya wanita dengan wujud seperti hantu. “Chocopolagie, kau sinting.” Dengusnya. “2.600 Dollar untuk 450 gram.”

Aku menarik nafas singkat untuk menanggapi keterkejutan yang kuanggap berlebihan. Apa aku harus selalu berhadapan dengan makhluk seperti ini disepanjang hidupku? Demi tuhan aku muak dengan tingkah Gyuwon, apa sekarang Donghae akan melakukan hal yang sama? “atau Noka. Kan sudah kubilang begitu!”

“Yeah, kalau kau masih waras, dua brand itu adalah prodak cokelat termahal sedunia. Aku tidak yakin dengan rasanya. Hanya karena itu adalah cokelat para bangsawan di Inggris sana, bukan berarti kau harus menyukainya agar tampak seperti bangsawan kan?”

Apa? Dia pasti sedang melucu. Dan tolong jelaskan, apa dia benar-benar serius dengan kalimatnya itu? wajahnya benar-benar patut untuk dikasihani sekarang. “aku tidak memakan itu hanya karena aku ingin menjadi seorang atau sama seperti seorang bangsawan. Aku memakannya, karena Ayahku selalu membelikanku itu setiap dia pulang dari pekerjaannya setelah berbulan-bulan meninggalkanku. Jangan salahkan aku kalau aku terbiasa dengan makanan seperti itu, aku tidak pernah sengaja membiasakan lidahku untuk melakukannya tapi lingkungan sekitarku yang mencekokiku dengan hal itu. salahku?” rajamku skeptic.

Donghae menatapku datar setelahnya. Menyandarkan punggungnya pada tulang kursi rotan yang didudukinya. Tak lama, bibirnya menyunggingkan senyuman datar untukku,”kau masih marah denganku, aku benar kan?” tanyanya melenceng.

Melenceng dari percakapan kami tentang jenis cokelat yang ada didunia ini, dan harga-harga fantastisnya. Aku hanya mengerutkan kening, mengernyit membalas pandangannya dari tempatku, Yeah. Dia cerdas untuk memutuskan apa yang terjadi disekitarnya. Tapi dia salah. dia salah menilaiku kali ini.

Aku menggeleng pelan dengan utasan senyum membalas senyumannya, “Tidak. aku tidak marah.” tukasku. Donghae langsung membalas pernyataan singkatku tadi dengan gelengan yang lebih kencang, “kau marah.”

“kau akan membuatku benar-benar marah kalau kau terus mengatakan bahwa aku marah kepadamu, Donghae-ssi. Berhentilah. Aku pusing mendengarnya. Aku tidak marah denganmu. Harus berapa kali aku mengatakannya?  Aku-tidak-marah. aku kecewa. Marah dan kecewa adalah dua hal yang berbeda.” tandasku.

“karena itu kita bertemu. aku tidak ingin hubungan kita semakin terasa aneh. aku tahu aku salah, aku minta maaf. Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu, saat itu aku sedang terlalu lelah. Kau lihat sendiri jumlah pasienku. Aku satu-satunya dokter yang bertugas dan kau tiba-tiba datang—“

“membuatmu berfikir bahwa aku hanya ingin bermain-main denganmu, dengan mengatakan bahwa aku sakit? berakting seperti aku seorang pasien yang ingin berobat hanya untuk dapat meluangkan waktu bersamamu? Yeah.. aku sering berfikir seperti itu. kukira Asyik bermain seperti itu denganmu. Membuatmu kewalahan karenanya, tapi aku cukup cerdas untuk tahu bahwa kesehatan bukan hal yang tepat untuk dipermainkan. Kau terlalu dirundung ketololan, dan kemarahan hingga tiadak bisa untuk sekedar memutuskan apa aku sedang bercanda atau serius. kau ini dokter macam apa?”

*

Lee Donghae.

“membuatmu berfikir bahwa aku hanya ingin bermain-main denganmu, dengan mengatakan bahwa aku sakit? berakting seperti aku seorang pasien yang ingin berobat hanya untuk dapat meluangkan waktu bersamamu? Yeah.. aku sering berfikir seperti itu. kukira Asyik bermain seperti itu denganmu. Membuatmu kewalahan karenanya, tapi aku cukup cerdas untuk tahu bahwa kesehatan bukan hal yang tepat untuk dipermainkan. Kau terlalu dirundung ketololan, dan kemarahan hingga tiadak bisa untuk sekedar memutuskan apa aku sedang bercanda atau serius. kau ini dokter macam apa?”

Eun Soo mencecarku panjang. Untuk beberapa waktu, hal yang dapat kulakukan saat ini hanyalah diam mengunci mulutku dan mendengarkan semua omelannya, hanya untuk membuatnya puas, lalu tidak bersikap dingin lagi denganku.

Dan untuk beberapa hal, aku baru menyadari bahwa Kim Eun Soo adalah wanita cerdas. aku sempat mengira bahwa dia adalah tipe wanita Shopaholic kebanyakan seperti yang pernah kutonton bersama Songjin dulu di bioskop.

Tentang wanita penyuka berbelanja, penggila kartu kredit, penggombal, jahat dan tidak berotak. Nyatanya, Eun Soo cukup cerdas dalam beberapa hal. Jangan salahkan aku kalau aku sempat mengiranya seperti itu.

Aku selalu memiliki perkiraan yang sama, bagi wanita yang dapat bergaul seutuhnya dengan Songjin tanpa memiliki celah, karena kukira mereka sejenis. Bukan bodoh, tapi lamban. Lamban dalam segalanya.

Aku baru tahu, kalau Eun Soo memiliki pendidikan terakhir S2 dari University of Incheon dan lulus dengan hasil memuaskan. Cumlaude. Dan coba tebak apa Jurusan yang diambilnya?

Akupun tidak bisa mengiranya tapi Kim Eun Soo gadis shopaholic ini memiliki gelar master dalam pendidikan hukum yang diambilnya. Oke, itu keren.  dia seorang ahli hukum yang beralih profesi sebagai model. Begitukan?

Pantas saja Eun Soo dapat membuatku semakin merasa tidak enak hati karena sikapku dulu, dia seorang ahli pembicara yang biasa membuat orang lain merasa bersalah dengan hanya berkata-kata.

Aku seperti tidak diberikan kesempatan kedua, bahwa pada kenyataannya aku sudah mengakui kesalahanku. Aku menyesal setengah mati dan aku meminta maaf. Tapi Eun Soo sepertinya adalah tipe wanita pendendam yang tidak mudah memberikan maaf begitu saja.

aku bahkan ragu dia akan tetap memaafkanku, atau malah akan mencap aku sebagai pria menyedihkan yang pintar berakting karena jujur mengatakan bahwa aku pulang hanya untuknya.

Aku sedang berada ditengah tugas Negaraku yang penting. Dan memutuskan untuk  menyudahinya, untuk sekedar berada disini dengannya, mengatakan permohonan maaf. Berbaik hati memberikan apa yang nyaris seluruh wanita dipenjuru dunia sukai, tapi malah merasa tolol, dan menyedihkan karena ternyata Kim Eun Soo seorang wanita kelas atas yang tidak mau memakan cokelat berharga 5 dollar Singapore pada setiap bar-nya.

Lebih memilih memakan cokelat dengan harga puluhan juta per seperempat Gram nya, dan mengatakan hal tersebut gamblang. Akui saja, Lee Donghae kau tidak mampu melakukanya. Harga sepotong cokelat yang dimakannya sama dengan jumlah satu tahun gajimu.

Dia baru saja mengatakan bahwa dia kecewa, sedang yang kutangkap dia masih marah juga sakit hati. asal tahu saja, bagiku sakit hati adalah sebuah ilusi dari ketidak pahaman. Ketidak pahamannya kali ini jatuh pada niat baikku yang tidak ingin memperburuk masalah.

Hubungan kami sebelum ini cukup baik. aku merusaknya. Aku sadar dan aku menyesal. Atas dasar perasaan menyesal itulah aku meminta maaf. Jika kalimat Songjin benar,bahwa semua orang pernah melakukan kesalahan, sepertinya pernyataan tentang aku memaafkanmu sangatlah pantas aku dapatkan. Melihat usahaku saat ini.

Begini, aku mungkin tidak membalas rasa suka darinya, tapi bukan berarti kami harus bertengkar, kan? Kami tidak harus menjadi musuh, hanya karena aku tidak membalas cintanya.

Aku mencoba menerapkan teori itu dengannya, tapi wanita ini mempersulitku. Dan desahan panjang Eun Soo semakin membuatku yakin bahwa dia masih marah denganku. sejak tadi dia memandangi jam tangannya seperti tidak nyaman berada bersamaku disini dan ingin cepat-cepat kabur.

“kau belum bisa memaafkanku, karena kau belum bisa memaafkan dirimu sendiri hingga kau tidak bisa mengakui secara jujur bahwa selain kecewa, kau juga marah. kau marah denganku karena aku berkata kasar denganmu dan juga marah dengan dirimu sendiri, karena kau tetap menyukaiku bahkan setelah aku mengatakan hal jahat itu kepadamu. Katakan bahwa aku salah.” komentarku setelah menilai ini dan itu.

Eun Soo adalah seorang wanita yang mudah dinilai. Tapi untuk menerka seperti apa jelasnya wanita ini sebenarnya, adalah permasalahan lain. Dan aku membutuhkan waktu lebih banyak untuk melakukan itu. untuk sekedar memahami, bagaimana seorang Kim Eun Soo.

“kau tidak berhak menilaiku.” Eun Soo berkata tajam dan aku hanya menggidikan bahuku santai, “Semua orang melakukannya. Kenapa aku tidak boleh?” bantahku. “sejauh yang kudapat, kau bukan seorang pengidap Munchausen, yang harus berpura-pura sedih atau sakit untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Kau bukan Anti Social Freak, yang tidak suka berkumpul dengan banyak orang. Kau hanya seorang pemilih. Katakan lagi bahwa aku salah, Hm?”

Eun Soo hanya terdiam ditempatnya. Tidak melakukan hal lain kecuali meremas-remas tissue ditangannya. Pada beberapa hal, itu membuatku merasa menang. Penilaianku atas wanita elit berkelas tinggi dengan hati sekeras batu didepanku ini… Tepat pada sasaran.

“Kau tidak perlu memaafkanku kalau kau belum mau. kata-kataku benar kan? Kau belum mau, bukannya tidak mau?”

Bibir Eun Soo bergerak sedikit tanpa wanita itu mengeluarkan suara sepelan apapun. anggaplah itu sebagai persetujuan atas pertanyaanku. “kalau begitu, masih ada kesempatanku untuk memperbaiki semuanya kan?” tambahku.

“Omong-omong, dengan acara Peragaan busana yang dulu kau ceritakan, undangan itu masih berlaku kan? Sepertinya aku bisa datang. Jadi, apa kau sudah menyiapkan busana untukku? jangan buat aku terlihat buruk disana, Oke?” aku mengangkat ibu Jariku setinggi wajahku dengan senyuman lebar, lagi dan lagi Namun Eun Soo malah menarikan senyuman sinisnya. Untukku.

“kau tetap datang kan? Kau tidak akan bilang kalau kau tidak jadi datang, iyakan?” tebakku atas respon dinginnya. Aku ingat pernah menolak tawarannya, jangan katakan bahwa dia tidak akan datang hanya karena saat itu aku berkata bahwa aku tidak bisa datang denganya.

Sekarang aku disini! dia pikir, untuk apa aku disini? pulang lebih awal dalam pekerjaanku. Menyogoknya dengan cokelat murahan, kalau bukan agar dapat memperbaiki semua kesalahanku? Memperbaiki apa yang baik dan hancur karena kesalahanku. Untuk menarik kata-kata yang tidak sepantasnya keluar ketika itu, dan menarik tolakan pada ajakannya tentang datang pada malam gala acara para orang kelas atas itu.

“kau pikir? Aku tidak akan datang hanya karena kau tidak ingin datang denganku ketika itu? Oh, Lee Donghae-ssi, Bless your brain, tapi aku tidak sebodoh itu untuk berfikir bahwa aku rela melewatkan datang pada acara designer terbaik di Korea!”

“bagus kalau begitu.”

“tapi kita tidak akan datang bersama. Tawaran untukmu sudah melampaui batas tanggal maximal yang telah kutetapkan. Kadarluasa! Aku datang dengan atau tanpamu, semudah itu.”

Decakan tawa tanpa kusadari keluar dari mulutku, bukan apa-apa, hanya saja mendengarnya bicara seperti itu aku merasakan hal konyol didalamnya, “kau tidak akan mau datang sendirian! Dan Songjin, pasti datang bersama Kyuhyun. kau tidak akan menggandeng balon udara berbentuk Robert Pattinson bersamamu kan?” candaku setelahnya.

Dan Eun Soo ikut tertawa atas ucapanku. Kami sama-sama tertawa lepas untuk beberapa saat dan kemudian Eun Soo lebih dulu menghentikan tawanya dengan mengibaskan tangan diudara. Seperti mengatakan, ‘hentikan sekarang, ini terlalu konyol’ dan aku mengikuti tidak lama setelahnya.

“Tentu saja tidak. aku tidak se-Depresi itu. aku tidak akan datang sendiri, asal kau tahu saja.” ujarnya. Satu alisku terangkat tinggi kemudian. Eun Soo mengangguk pasti dan telunjuknya mengarah pada tembok kaca disisi kiri kami “aku datang dengannya.”

Satu detik setelahnya, aku mendapati seorang pria Asing ber-rambut emas dengan tubuh tinggi tegap baru saja turun dari Suv Subaru hitam. “dia?” aku ikut menunjuk orang yang Eun Soo maksud.

Awalnya aku pikir, wanita gila ini hanya bergurau dan kehabisan materi untuk membuatku merasa terus tersudut, hingga menunjuk sembarang orang begitu saja. tapi tak lama, pria yang dimaksud itu melambai kearahku. Kepada kami. Kepada… Eun Soo maksudku.

Eun Soo memberikan arahan agar pria tersebut tidak menghampirinya, dan tetap berada ditempatnya saja. “kau tahu, sepertinya aku harus pergi. jemputanku sudah datang.” Ucapnya santai tanpa rasa bersalah.

Setidaknya, dia harus sedikit merasa bersalah karena pertama, dia menolak cokelatku. Kedua dia membuatku merasa bersalah setengah mati. ketiga dia membuatku merasa tolol dengan kembali lebih cepat ditengah pekerjaanku—dan menolak untuk datang denganku pada acaranya. Dan ketiga, meninggalkanku lebih dulu seperti ini!

Harga diriku seperti sedang dipermainkan disini. Sialan! aku tidak pernah tahu kalau Kim Eun Soo dapat sehebat ini memutar balikan semua hal, dan memiliki kemampuan membuat orang lain merasa tidak berguna dan payah disaat yang sama.

Mulutku membuat gua-nya sendiri tanpa berdiskusi dulu denganku. semuanya melakukan hal memalukan itu, “Kau bercanda, kan?”

“I’m not in that mood for Joking around, Dude.” Tangkisnya cepat. Tapi aku kemudian menoleh pada pria disana lagi. dia benar-benar mengikuti apa yang Eun Soo maksud. Dia berdiri disamping Suv nya saja sambil memperhatikan kami.

Atau aku. lebih tepatnya aku. seperti ingin memakanku hidup-hidup. “aku pergi hanya dua minggu, kau sudah punya pria baru?” keningku berkerut seiring dengan kebingunganku.

Eun Soo tertawa kencang begitu puas. menertawaiku bercampur dengan tawa menyedihkan, sinis dan rasa dramatis yang sering kutonton ditelevisi, “Lee Donghae-ssi, semua orang pernah patah hati. itu adalah hal yang wajar terjadi. all you have to do is Move on. And I’m really working so hard for that thing.” Eun Soo bangkit dan sedikit mendekatkan tubunya padaku, “Kau tidak akan menginterupsiku kan? Kalau kau tahu cara menghargai kerja keras seseorang dan ingin membuatku berikir dua kali mengenai hal buruk tentangmu. Kau tidak akan melakukannya. Iyakan?”

-tbc- 😀

PS: Banyak yang minta kelanjutan ceritanya Donghae sama Eun Soo setelah kemarin aku masukin potongan cerita mereka ke Kyujin series -__- akhirnya, aku bikin cerita lepas mereka, gak gabung sama Kyujin. semoga menghibur^^

43 thoughts on “[ Lee Donghae – Kim Eun Soo ] Fix A Heart 1

  1. Suprisingly banget ceritanya. Eun soo yang keliatan fine, hidup nya enak, bergelimangan harta ternyata punya keluarga yg kacau. Emang gak ada yang sempurna didunia ini.
    Dan donghae keliatannya bener-bener nyesel sama sikapnya dulu. Dia mati-matian minta maaf tapi ya bener sih. Mendingan juju sama diri sendiri, gausah pura pura udah maafin kalo ternyata masih sebel. Nanti jatohnya dendam.
    Sukaa banget akuu sukaa. Jangan lama-lama ya thor next nya 😀

  2. Donghae harusnua ketampol digituin eun soo. Biar deh biar dia belajar kalo sikapnya kemarin itu salah. Aku suka sama eun soo dia main halus buat ngelawan donghae.
    Dan aku takjub eun soo pasti tajir melintir ya? Itu cokelat harganya buset. Dress nya juga. Gila apa? Gimana gyuwon gak mencak mencak? Gila emang eun soo gila!!
    Pantesan si songjin ngotot mulu minta pinjem black credit card nya kyuhyun huahahaha

  3. series ini nyeritain dr sudut pandang donghae-eunsoo. eunsoo yg tnyata punya keluarga berantakan, dblik khdupannya yg kliatan sempurna. donghae yg ha tau hrus nyalahin siapa atas cintanya ke songjin. dan skrg, dia berusaha mati-matian buat dapetin maaf dr eunsoo.
    smga aja dimaafin, 🙂
    galuh, ayo lanjut 😀

  4. aku suka banget tulisan authornim.
    menurutku author pinter nyampein kepribadian,sifat castnya dari pemikiran cast itu sendiri.dan bener2 kerasa perbedaannya pada setiap cast
    jadi feelnya bener2 kerasa #maaf kalo jadi banyak ngomong gak jelas gni.hehe 😀
    pokoknya aku SUKA.wkwk

  5. ok dilanjut jga nie cerita dongae eunsoo. keren tu eonni. donghae dibuat menyesal plus merasa tak berdaya keren. suka bgt ama karakter eun soo. jangan mau terlihat lemah didepan lelaki yg udh bikin sakit hati. kekekekeke…. ok eonni good job. keep writting ya.

  6. surprise banget ada cerita donghae ma eunsoo ini, bikin aku tertaw lebar atas perlakuan eunsoo ke donghae 😀
    donghae yang tak bsa menyanggah semua perkataan eunsoo yang semakin menjelaskan perbedaan kelas sosial mereka, wkwkwk biarikan donghae menyesali semua perkataan & perbuatannya yang telah menolak wanita secantik, secerdas dan sekaya eunsoo, bikin dia jatuh hati ma eunsoo thor ekekeke

  7. omg perasaan baru kemarin aku nanyain perihal FF khusus donghae-eunsoo di twitter eh langsung dipublish gitu aja xD kak galuh, gomawo !! ^o^ ternyata emang panjang yeeee ceritanya, tapi bagus! wah, ternyata Donghae suka sama Songjin karena dia merasa melihat Tiffany di diri Songjn gitu ya? hahaha dan sepertinya aku juga terkena virus “Donghaenism” hahahahahahahahaha xD

    next chapter ditunggu nih, jangan lama2 ^^

  8. sepertinya Eun Soo yang gantian nyuekin Donghae… hehheeh
    Biarin si Hae oppa biar nyesel tuh sama sikapnya yang dulu, 🙂
    Ditunggu kelanjutan ceritanya author… smga di cerita selanjutnya gantian Hae oppa yg ngejar-ngejar cintanya eun soo… 🙂

  9. Bagusss unn baguus banget penggambarannya oke !
    Tapi aku msh ga ngerti tadi kan si eun soo lgi sma kak tiri nya Luke di dpn apartemen eun so.. Tapi kok tiba2 lg duduk di cafe sma donge aja ? Kapan dtng ny si donge ?
    Tolong jelaskan unn 😀

  10. hei reader baru nih gua..
    sumpah gua nahan napas bca adegan donghae sama eunsoo..

    berhubung gua lagi tergila” ama donghae ak bacanya yg maincast.ny si abang ikan aja..

  11. dibalik kehidupannya yang sempurna ternyata tidak sesempurna luarnya..
    agak nyesek baca nih ff..
    dicerita ini dijelaskan sekali apa yang terjadi antara 2 pasangan ini kyujin ma haesoo..
    jadi tambah paham..
    palagi penggambaran cerita oleh authornya jelas banget..
    tambah suka deh baca ff disini..
    lanjut baca ya..

  12. kim eun soo hrga driya tinggi bgt
    pmikirannya jg klas atas bgt
    agk jomplang klo sm donghae tp tetep kren ffnyya,pnsaran gmna mreka akhirnya

  13. Sukaaa niiih haha, puas banget bacanya eon, gimana rasanya jadi orang tolol lee donghae? haaaah, nggak tau kenapa suka bangeet niih sama cerita donghae-eunsoo, eunsoo cepet banget perasaannya berubah -sikapnya. Aaa, keren, jatuh cinta sama karakter eunsoo disini! Nggak bisa bilang apa-apa lagi, pokoknya K E R E N! Hihi 😀

  14. neumo joha..
    oh lee donghae menyedihkan, bener2 daebak eunso buat donghae keki
    klo gak salah cowok yg jemput eunso itu luke kan? oppa tirinya hiihi

  15. this is what I want, cerita mereka sendiri
    eun soo ternyata punya keluarga yang berantakan dibalik gaya hidupnya yang sempurna
    dan donghae, gak tau gimana jadi bego dalam nyikapin hubungannya sama songjin dan nganggep itu hal biasa, hufft
    itu pasti Luke kan? come on lee dong hae shi sadar dong tentang perasaanmu ke eun soo

  16. Alurnya agak bngung… lg ketemu luke ktnap tb2 ngobrol ama donghae?!?! *mungkin efek bca g lngsung selesai* hehehehe
    Eunso bner2 wanita tgar.. dan donghae bner2 bebal… wkwkwkw

  17. ayo eunso buat hae…yg klepek2 ma kamu……
    emang eunso dilawan walupun ebenernya hatiiinya belum move on tp eunso jangan sampe keeliatan klah ma hae……… ocehhh

  18. Ini cuman penjabaran tentang donghae dan eunsoo ya…
    Walaupaun diakhir cerita muncul interaksi diantara mereka berdua…
    Dan hanya kata2 ketus aja yang keluar dari mulut eunsoo…

  19. Jangan sama yoona dong hyukpa! Shireoyo Joldae Andwae!
    donghae oppa juga jangan bahas tiffany mulu! eish ~_~ ud ckp kyuhyun ada si seohyun ~_~

    hmmmm jd ini bagian dr Missing jg y tp d specialisasikan(?) u/ menjabarkan kisah eunsoo kapel?

    deuuuuh msh jaman2’a ngejar songjin nih dsni haepa o.O ud sm eunsoo aj sonoooo klian cocok 😉
    hrs’a seminar’a d Indonesia aj di Bandung 😀 nanti klian ngendong dkmr aq :* wwwww
    Beda lah! ketjehan songjin kmn2 yes drpd s tiffany! wwwwww
    dsni eunsoo agak mnyebalkn yaks bossy -_-
    mka’a eun soo klo org ngmg tuh bo ya dnger dl toh ndok ahir’a kmu jg yg jingkrak2 kn ksenengan hhh
    deuuuh ssh amat sih itu nyebut “Schdmit”. gmn cara baca’a cb :O
    kyu emg mesum dr dl yaks hhhhh diem2 merhatiin dada songjin ckckck byuntae epil
    hmmmm jd eun soo itu y bsa dblg ada sdikit rasa iri’a sm khidupan songjin yg sll enak ga prnh kekurangan & dklilingi org2 yg mengasihi dy?
    HAH?! jd ayah eun soo gay?! bru tw stlh ayah & ibu’a yadong?! bru krasa gay’a? no komen. bingung mw komen apa.

    ada sdkit slh ktik lg hhe

  20. Eunsoo emg ccok temenan sama kyu. Sama sama mnusia sarkasme. Kasian donghae merasa bersalah. Tapi slah dia sndri sih nething mulu sama eunsoo

  21. Wah ini cerita bagian dari ff mising suka banget ma ceritanya donghae tu agak nyebelin tu,sekarang ngerasain klu ga dianggap ma eunsoo he..he..

  22. yah namanya hati. kalau boleh tau, author terinspirasi dari mana/siapa sampai bisa bikin karakter yg punya mulut pedas seperti eun soo atau kyuhyun?

  23. eun soo..critany ckup complex trnyta…
    hmm…donghae dah buru” pulang demi…eeehhh eun soo ny mlh bkin dy mkir yg bkn”..
    ck..bju sgtu hrg ny?? kirany songjin gmn reaksiny klo tau y???

  24. Eun so memang wanita keren.. tapi tetep authornya yang lebih keren.. tau ah gak tau harus mau bilang apa. Cuma bisa bilang keren sama author bisa2nya buat cerita semengalir ini, berasa kehidupan mereka nyata adanya.. feelnya slalu dapat. Donghai dibuat kebingungan buat ngadepin eun soo , sekarang dia seperti pria tolol yg cuma mau mengharpkan maap dengan dibela2in pulang cpet dr singapore eehh wanitanya dengan judesnya nanggapin hae dan malah jalan ma pria lain walaupun itu kakaknya. Tapi hae mikirnya itu pria pasti pacarnya eun soo. Hhh

  25. Sepertinya Donghae udah mulai cemburu ke eun seo …… mungkin hatinya udah mulai menyukai eun seo secara tidak langsung …

    Btw cowo yg jemput eun seo itu pasti oppa tirinya dia …. si Luke 😂😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s