[ Lee Donghae – Kim Eun Soo ] Fix A Heart 2


Author: GSD.

Title: Fix a Heart

Cast: Lee Donghae, Kim Eun Soo, Cho Kyuhyun, Cho Songjin, Choi Siwon, Choi Gyuwon.

Rating: G.

Length: Chaptered [ 2 of 4 ]

Kim Eun Soo.

“Could be worse, Not sure how, but it could be.” Kataku pada Baek Joon Sun atau seseorang, yang biasa dikenal dengan nama Damon Wang. Damon Wang adalah nama panggungnya. Menurutku, alasannya menggunakan nama Damon Wang adalah karena nama Baek Joon Sun terlalu norak untuk dijadikan sebuah nama label pada pakaian keren bertaraf International. That’s it.

Sedangkan sambil berbicara kepada Joon Sun, aku sesekali memperhatian Songjin didepanku. Sesekali pula aku masih memperagakan apa yang kuajarkan tadi kepadanya.

Tarik nafas dalam-dalam, lepaskan. Tarik nafas dalam-dalam, lepaskan—dan seterusnya.

Seperti aku yang aku ajarkan, hanya untuk membuat Songjin dapat kembali bernafas secara normal. Lagi. sialan semua ini karena ulah Joon Sun!

Pada awalnya aku dan Songjin hanya ingin mengunjunginya untuk sekedar menyapa. Menggunakan backstage pass yang kami dapatkan, datang bersamaan dengan undangan emas kami sebelumnya.

Hanya itu saja. lalu kemudian dengan mengejutkan pria ‘gemulai’ itu menodong kami untuk menjadi model pada rancangan utamanya pada section berbeda. aku section tiga dan Songjin section empat, section terakhir. dia sudah gila. Sinting!

‘Kau bercanda!’

‘Cih! hanya tinggal tiga jam lagi apa kau kira aku berniat bercanda pada acaraku sendiri?’ 

Ucapnya ketika itu. Oke, aku tidak terlalu memusingkan dengan todongan tiba-tiba ini. aku sudah biasa melakukan pekerjaan seperti ini. ini tidak lebih buruk dari kali pertamaku pada Victoria Secret Gala satu tahun lalu. walau tentu saja ini tetap mengejukan.

Mengejutkan untukku akan tetap berakhir dengan kata baik-baik saja. Dalam hal seperti ini. tapi tidak dengan Songjin. Hal pertama yang dilakukannya ketika Joon Sun mengatakan hal tersebut adalah dia yang langsung meremas buku jariku sekuat tenaganya.

Nafasnya menjadi tak beraturan, dan wajahnya pucat sepucat pucatnya. Aku tidak pernah melihat Songjin dengan kondisi seburuk ini sebelumnya. Awalnya, aku mengira ada yang salah dengan kondisinya, atau kondisi kandungannya.

Sembelit atau entahlah.. terjadi sesuatu dengan fetus didalam rahim-nya itu. tapi kemudian, Songjin memekik tertahan mengatakan ‘Tidak Mungkin’ berkali-kali, dan ketika itulah aku langsung sadar bahwa dia sedang panic setengah mati, karena seorang Damon Wang memintanya menjadi model rancangan utama pada section akhir acara ini.

“kau masih berniat menjadikannya—“

“Tentu saja!!” Joon Sun memekik memotong pertanyaanku. Padahal aku belum menyelesaikan seluruh kata-kataku. Tapi pria ini sudah melakukannya seperti aku, akan mengatakan hal menyeramkan yang membuatnya tidak ingin mendengar hal buruk itu dari mulutku.

Aku hanya menyetujuinya dengan desahan panjangku. “Asal kau tahu saja. Songjin tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Kalau kau sampai membuatnya mati karena jantungan. Siap-siap saja berurusan dengan bodyguard-nya.”

Joon Sun menatapku sekilas, mengerutkan kening dan menunjuk sesuatu, “maksudmu dia?” ucanya santai, menunjuk Songjin pada sisi kiriku. Kemudian membuatku terkejut sendiri saat mendapati Kyuhyun sudah berada disini bersama kami.

Maksudku..bersama Songjin. Pria itu entah sejak kapan disini, dan entah bagaimana pula dia dapat masuk. Melewati tiga proteksi keamanan yang ada pada setiap pintu masuk backstage. Semoga saja dia tidak melakukan hal gila seperti menodongkan senapan kejut pada tubuh pihak keamanan dan membuat seluruh penjaga itu pingsan ditempat.

….

Tidak kan? Oke sepertinya memang tidak. Kyuhyun tidak mungkin membawa senapan kejut kesini. itu dilarang. dan aku bahkan ragu apa dia memiliki senapan kejut atau tidak.

Tapi Kyuhyun selalu mengejutkan jika sudah berurusan dengan Songjin. Lalu pengamanan backstage sangat ketat. Jadi aku tidak tahu..bagaimana Anak itu dapat masuk dan berada disini.

“Is She cry?” Joon Sun berbisik. Aku hanya melirik sinis padanya, “kau yang berulah.” Sindirku halus. Itu.. contoh sindiran halus kan? Yeah, setidaknya aku menggunakan bahasa terhalusku untuk bicara dengannya.

“They’re cute anyway..” ocehnya lagi. sekarang aku tidak lagi memandangi Kyuhyun dan Songjin yang sedang berpelukan mesra, dan lebih tertarik memperhatikan wajah bundar, pria disisiku yang sedang memperhatikan pasangan gila itu. “Envy?”

Joon Sun menggidikan bahunya asal dan malas. sambil masih memandangi Kyuhyun dan Songjin, pria itu membuka mulutnya sedikit, “little bit.” Akunya tidak bersemangat.

Seperti menonton hal manis seperti itu membuat semangatnya langsung merosot turun dan turun. Yeah, asal tahu saja.. aku sudah sering melihat adegan seperti itu omong-omong. Dua orang itu memang bukan penganut PDA, tapi tanpa mereka sadari, mereka sering melakukannya didepan banyak orang.

Apapun itu. walau sentuhan ter-ringan Kyuhyun, seperti saat dia menyatukan buku jarinya pada jemari lentik Songjin, dimataku terlihat terlalu intim. Itu hal menggelikannya. Entah aku yang menggelikan, atau dimataku, Kyuhyun yang sebenarnya menggelikan.

“Sayang sekali, walau terlihat cocok tapi bagiku mereka terlalu muda untuk menikah. I bet He’s only 25.”

“26.” Ralatku. “Yeah.. too Young,” desahnya.

Entahlah, dimataku pria ini seperti sedang berkeluh kesah tentang orang yang disukainya dan lalu meninggalkannya untuk menikah. Hanya menatap Kyuhyun selama tidak lebih dari lima menit, tidak mungkin membuat pria ini jatuh cinta dengan setan itu kan? “Hey, He’s taken!” aku mengingatkan, membuat Joon Sun terkekeh sambil menganggukan kepala, “I know. But Still He’s cute. Cuteness Overload I mean.” Kekehannya berlanjut hingga aku hanya dapat menggelengkan kepala. Dasar Gay! Haha!

Joon Sun terus menggumamkan kata-katanya bahwa Kyuhyun tampan. sangat tampan, sexy, imut, keren dan terlalu muda untuk menikah ketika tangannya sibuk membantuku memakaikan busananya yang akan kuperagakan nanti—sekitar satu jam lagi. “Geez, He’s Too Young for married!” protesnya lagi.

“and she’s too Young to get pregnant.” Tambahku. Kemudian Joon Sun memandangku dengan dua mata besarnya. Tentu saja hasil operasi plastic. Geez! “Pregnant?” mulut besarnya membuat gua lebar. rahang tegasnya terbuka begitu saja.

Tunggu, hal konyol apalagi ini? jadi sejak tadi..dia tidak sadar kalau Songjin sedang mengandung? “seriously, Baek Joon Sun?” alisku bergerak menjadi satu garis yang sama.

“aku tidak tahu. maksudku—tapi tubuhnya..” matanya jelalatan memandangi Songjin dikejauhan sana dari tempat kami, “Yeah, 4 bulan. apa kau berubah pikiran? Dia wanita hamil. Kau yakin akan membuatnya sebagai model-mu juga?”

Katakanlah aku jahat. Tapi aku mengharapkan Joon Sun berkata ‘iya’. berjalan menghampiri Songjin dan mengatakan bahwa ‘maaf, tapi aku tidak tahu kau sedang mengandung. Kukira itu terlalu berbahaya untukmu. Bagaimana kalau kau tidak perlu melakukan ini? tenang saja. aku bisa mencari model pengganti. Disini banyak wanita sexy Omong-omong.’

Untuk satu kali saja. aku ingin Songjin merasa bahwa dia tidak bisa mendapatkan segalanya. Maksudku—bagiku, hidupnya terlalu sempurna.

kekayaan, status social, karier, keluarga, kisah cinta. dia mendapatkan segalanya dengan sempurna dan mudah. terlalu mudah bagiku untuk hitungan sederhana dengan membandingkan pada kehidupan orang lain.

kehidupanku contohnya? Mungkin?

Kukira selama ini tidak ada yang dapat memiliki segalanya dengan sempurna. Selalu ada cacat pada satu, dua, atau tiga, bagiannya. Jika dalam teoriku, aku cacat dalam kehidupan asmara dan kehidupan keluarga. Tapi aku tidak menganggapnya sebagai sebuah musibah. Itulah yang dinamakan timbal balik.

Seperti Yin dan Yang. Ada positive, ada juga negative.

Tapi Songjin? Aku kadang heran, apa yang membuatnya tampak digandrungi oleh banyak hal baik, sedangkan dengan konyolnya wanita itu sendiri tidak pernah menyadarinya. Itu membuatnya, nyaris kurang mensyukuri apa yang dimilikinya.

Apa yang membuat Songjin bisa mendapatkan segalanya dengan mudah dan sempurna? Apa yang membuat Songjin, dapat menjalani segalanya dengan santai walau kiri kanannya banyak yang menghujat?

Kalau untuk urusan satu itu, aku rasa akupun merasakannya. Orang-orang seperti kami memang selalu menjadi santapan sempurna bagi wanita dengan status setengah-setengah. Seperti itu, yang selalu bicara bahwa kami golongan wanita plastic.

Tapi Songjin selalu santai menanggapinya. Sampai sekarang, aku menjadi semakin curiga, apa dia sebenarnya sadar atau tidak bahwa dia banyak dibicarakan orang-orang tentang tubuhnya, wajahnya, rambutnya, segalanya!

Untuk ukuran wanita dengan popularitas, Songjin tergolong terlalu acuh pada sekitar hingga membuatnya, menjadi santapan termenyenangkan orang-orang kejam. Iya, orang-orang yang selalu mengatakan itu, bahwa kami adalah wanita plastic!

Cih! maaf saja, tapi aku sama sekali tidak melakukan operasi apapun pada wajahku hanya untuk menjadikanku terlihat lebih cantik. Aku tidak butuh itu! dan Tuhan sepertinya memang tidak berniat menjadikanku wanita jelek, karena tahu aku tidak pantas menjadi wanita jelek.

Sesederhana itu. tapi kebanyakan, sekitar kami lebih memilih untuk menilai dibandingkan mengenal lebih dulu. Itu manusiawi. Kalimat yang mengatakan bahwa cantik dari dalam, itu sepenuhnya bukan moto hidupku. Itu hanya omong kosong sebenarnya.

Cantik dari dalam? Dari dalam? Apa maksudnya adalah memakan make-up agar menjadi cantik dari dalam? Yang benar saja! don’t tell me that inner beauty is more important than outer beauty, because in this society it isn’t. no one gives you a chance to see if you’re beautiful on the inside if you aren’t on the outside, rite?

** **

Penonton bertepuk riuh. Pekerjaanku berhasil. Semua berhasil sempurna. Aku tidak terjembab, aku tidak tersandung, aku berjalan sempurna, dan seluruh mata tertuju padaku. itu hal yang terpenting.

Aku selalu bangga dengan kemampuanku itu. beberapa dari tamu, sepertinya tidak menyadari bahwa aku akan menjadi salah satu model pada section peragaan busana Damon Wang. Hingga ketika aku keluar, mata mereka membelak besar memandangiku seperti hantu pada awalnya.

Kemudian mereka tersadar bahwa yang mereka lihat adalah benar aku. Kim Eun Soo, lalu hal seperti biasa mulai terjadi. seperti mereka menunjuk-nunjuk kearahku, teresenyum lebar, melambaikan tangan atau Yeah, apapun itu.

Setelahnya, aku menuju Backstage lagi. menunggu hingga section akhir, berpose dengan empat model utama pada setiap section dan menyerahkan buket bunga untuk sang perancang busana. Selesai. Pulang. tidur.

Itu deretan rencana. Tahap awal, aku harus melakukan sesuatu yang lebih penting. Seperti membuat Songjin tampak lebih santai. sedikit.. “Hey,” aku mencolek punggung polos Songjin.

Wanita yang sejak tadi, masih saja betah menempel pada suaminya itu menoleh padaku perlahan-lahan. Aku tersenyum singkat melihatnya, tampak seperti anak kecil yang baru menangis tersedu karena kehilangan permennya, “Jangan menggantung seperti koala begitu dengan Kyuhyun. kau.. memberi tontonan Gratis untuk sekitarmu.” Jelasku.

Jari-jariku menunjuk pada sekitar kami, dan sekonyong para model yang sedang memperhatikan kami bubar. Atau menyibukan diri dengan apa yang sedang mereka lakukan.

Memoles blush on, memakai mahkota, membenarkan letak bra dan sebagainya. “tenang saja. tidak akan ada yang mengigitmu disana nanti.” Candaku. Tapi hanya Kyuhyun yang tertawa. Sedangkan Songjin, masih menampakan wajah Khawatir.

Kyuhyun menepuk punggung Songjin pelan, sebelum pria itu memutuskan untuk melepaskan rengkuhannya. “Kau Oke?” Kyuhyun bertanya menggunakan nada rendahnya.

Yeah, lagi-lagi adegan seperti ini yang akan kulihat. Kenapa menyebalkan sekali hidup ini? Eish!

Songjin mengangguk pelan, walau wajahnya masih juga menampakan kekhawatiran tingkat mutakhir. Kyuhyun tersenyum, mengusap pipi Songjin dengan buku jarinya “kau akan baik-baik saja. kau bisa melakukannya. Kau pasti bisa. Pastikan saja.. jangan… jatuh.. hehe, Oke sayang?” pesan pria itu perlahan-lahan.

Bicara satu persatu, agar Songjin dapat mencernanya dengan sempurna. Itu juga caraku saat harus berbicara serius dengan Songjin sejak aku mengenalnya pertama kali. Hanya agar Songjin dapat benar-benar mengerti.

Tapi aku tidak melakukannya semanis itu. maksudku, dengan embel-embel panggilan ‘Sayang’ walaupun Songjin termasuk golongan orang loveable.

Tanpa kusadari bola mataku berputar dengan sendirinya. Jengah dengan pemandangan konyol seperti ini. maksudku—ayolahhhhh!!  Mau sampai kapan seperti ini terus, dan kalau mereka cukup cerdas untuk sadar, mereka bukan satu-satunya orang disini. ada aku, model-model pria dan wanita, dan si perancang busana itu sendiri—yang ikut mengamati apa yang kuamati, dari kejauhan.

Wajahnya ditekuk. Haha! Kalau Kyuhyun tahu dengan yang satu ini. sepertinya dia akan menghindari kunjungan backstage meskipun kukatan bahwa Songjin pingsan!

“Sudah? Kau tidak menciumnya, atau apa?” sinisku setengah menyindir, ketika Kyuhyun berjalan melewatiku untuk keluar backstage dan kembali pada kursinya didepan sana begitu saja. Kyuhyun memasukan dua tangannya pada saku celana sambil menggeleng berkali kali dengan tawa.

Melirik Songjin satu kali lalu kembali padaku, “kau akan semakin kerepotan nanti. Dia bisa pingsan kalau aku melakukannya.” Ujarnya penuh percaya diri. Tertawa, lalu kembali berjalan lagi.

Cih! Cho Kyuhyun adalah orang dengan tingkat kepercayaan diri tertinggi yang pernah kutemui dalam sejarah hidupku selama ini. Jinjja!!

Aku kemudian beralih lagi pada Songjin. Wajahnya memang tidak sepucat tadi. seperti Kyuhyun adalah Warewolf, pria itu seakan baru saja menghantarkan gelombang panasnya pada Songjin. Hingga tangan Songjin yang semula begitu dingin, kini telah menghangat.

Oke, Kyuhyun berhasil mengembalikan Songjin. Wajahnya tidak lagi pucat, tangannya tidak bergemetar dan menjadi dingin lagi, Songjin sudah bernafas dengan tenang. Tapi tugasku masih ada satu. Songjin masih kaku.

Dia masih terlihat seperti manusia primitive yang terjebak didalam bongkahan es selama ribuan tahun dan menjadi kaku karenanya. Bongkahan itu baru dihancurkan, dan tubuh manusia primitive itu masih beku.

Aku menarik sebuah bangku dan duduk tepat dihadapan Songjin. Telunjukku, mengangkat wajah Songjin yang tertunduk pada dagunya. “kau cantik. Aku tidak pernah melihatmu secantik ini.”  ungkapku jujur. Walau tetap sebal karena Songjin memiliki segalanya. Oke ini bukan sebal seperti itu. mungkin aku hanya iri.

“aku selalu bertanya, kenapa Donghae lebih tertarik denganmu, ketimbang denganku. padahal, aku lebih cantik, lebih sexy, lebih cerdas, lebih tinggi, lebih menawan, lebih lebih lebih segalanya darimu. Haah—!” aku seperti mengungkapkan apa yang menjadi ganjalanku selama ini. mungkin inilah yang membuatku terlalu merasa kesal dengan Songjin.

“Tapi setelah memperhatikanmu dari dekat begini, aku semakin tidak tahu, apa yang membuat pria sialan itu lebih tertarik denganmu”

Songjin melihatku miris. Atau bukan. atau itu adalah wujud dari rasa iba. Aku sedang dikasihani, mungkin seperti itu intinya. Dan aku tidak suka, “Eonni~” erangnya kemudian. Aku mengibaskan tanganku cepat-cepat didepan wajah kami, “Tidak. tidak. aku baik-baik saja. aku hanya… kau tahu. seperti merasa hidup tidak adil. Tapi Well—ini adalah hidup yang sebenarnya. Hidup tidak pernah adil. Tuhan yang adil, rite?”

Aku menyusupkan jemariku pada tatanan rambut bergelombang Songjin. Merapihkan lagi agar tampak lebih sempurna. Berbeda denganku. aku diberi tatanan rambut lebih rumit. pakaianku, lebih berwarna. Sedangkan Songjin, mendapatkan gaun malam mewah yang megah. Dengan kemerlap disana sini, perpaduan warna emas—silver, dan tube yang terlihat sempurna—pas pada tubuhnya.

Jika pakaianku terlihat seperti pakaian bagi wanita kisaran usia awal dua puluhan, Songjin mendapatkan bagian memakai pakaian untuk wanita kurang lebih pada awal tiga puluhan.

Terlalu dewasa. dalam segala sisi, aku melihatnya tidak pas. bukan berarti tidak cocok. Hanya saja, setahuku kepribadian pakaian biasanya ditentukan oleh si pemakai. Model tersebut. tapi aku dan Songjin seperti sedang ditukar. Diputar balikan, seperti aku adalah remaja ingusan dan Songjin, wanita berusia penuh pengalaman.

Aku tidak paham. Sama sekali tidak mengeti dengan hal seperti ini. sebenarnya, ini yang ingin aku proteskan dengan Joon Sun tadi, tapi tidak sempat karena aku sudah harus terpaksa turun panggung.

“karena hanya Tuhan yang adil, maka menurutku, semua orang tidak memiliki hak untuk menilai. Atau, Yeah.. biarkan saja mereka melakukannya. Mereka kan tidak tahu apa-apa. Mereka hanya bisa mengomentari tanpa tahu bagaimana cara melakukan hal yang mereka komentari dengan benar. Kau tahu, kau sama sepertiku ketika pertama kali aku mendapati peragaan busanaku. Itu di Tokyo. Dan jantungku terasa ingin lepas. Tapi ayahku mengatakan ini denganku.”

Aku menguatkan remasan tanganku pada dua tangan Songjin sekuat yang kumampu. menatap bola matanya mantap dan membuka mulutku lagi, “Just do your best, take a rest, and sing a song. But sometimes it is good to have a failure while you’re young, because it teaches you so much.”

Aku menganggukan kepala memberikan tanda kepada Songjin agar tidak ada lagi yang perlu ditakutkan. Semua akan baik-baik saja. lakukan saja yang terbaik. Melakukan yang terbaik adalah usaha maximal dan sudah lebih dari cukup untuk dijadikan sebuah pembuktian bahwa kau berusaha.

Apapun yang akan terjadi, sukses ataupun tidak, semua orang akan melakukan hal yang sama. Seperti mereka yang memiliki hak untuk mengomentari, kita memiliki hak untuk tidak perduli. semudah itu. sesederhana itu.

Dan sekitar kami menjadi semakin sepi. hampir seluruh model, berada didekat panggung, atau sebagian sudah bersiap didepan panggung percis. Ini sudah masuk section ke-empat, dan Songjin harus keluar paling pertama, untuk menjadi pembuka section empat tersebut.

“it’s your turn, girl—“ aku mengerling kepada Songjin sembari menarik pelan tangannya bersamaku.

** **

Kedai kopi terkenal ini, memang tidak pernah sepi ya sepertinya? Padahal jam sudah menunjukan pukul 2 siang. Teorinya, para pekerja sudah sepatutnya menyelesaikan makan siang mereka, karena pukul 1 mereka sudah harus kembali.

Mungkin seharusnya aku sadar, bahwa sekitarku bukan lagi berisi para pekerja, melainkan mahasiswa. Yeah, mahasiswa memiliki waktu yang tak terjamah oleh Jadwal se-pelik pekerja.

Hanya tugas dan ujian yang membuat mereka selalu terburu-buru. Sisanya, aku rasa hanya beberapa dari mereka yang berfikir menghadiri kelas adalah sesuatu yang penting karena setidaknya, itulah kewajiban mereka.

Itulah sisi negative internet. Apapun bisa kau dapatkan disana. Bahkan materi perkuliahan, walau kau tidak ingin menghadirinya. Sad truth actually, moral bangsa berbanding lurus dengan kelicikan para generasi mudanya.

Kemarin, peragaan busana Damon Wang berjalan dengan super sempuna. Menghasilkan sebuah headline pada ke-esokan harinya, yang menggambarkan seorang wanita sedang berciuman dengan pria. Guess who the woman is?

Yap! 1000 point! It’s me. But for god shake, it was nothing! Its just a kiss.

Aku tidak mengerti kenapa banyak orang selalu melebih-lebihkan hal sesepele itu? kukira itu tidak penting untuk menjadi topic pembahasan. Kecuali kalau mereka menangkap basah aku sedang melakukan hubungan badan dengan pria, ditempat umum, seperti headline ini. tapi ini hanya sebuah ciuman.

And please noted that it just a kiss with Damon Wang. Which is, a gay.

Apa mereka semua buta atau bagaimana? Apa hal semudah itu tidak bisa mereka lihat dengan jelas? bahwa Damon Wang bukan pria seperti pria kebanyakan? He is a gay!

Walaupun tetap, tidak ada yang salah dari hal seperti itu. Gay, Lesbi even Bisexual. Hanya aku tidak mengerti, kenapa sebuah ciuman pantas dijadikan headline sebuah berita dipagi hari, ketimbang laporan tentang keseluruhan acara?

Aku pikir acara kemarin sangat mengaggumkan, dan tidak mungkin membuat mereka kehabisan topic untuk membahas bagaimana design pop culture hasil karya Damon Wang harus sepatutnya kalah dibandingkan berita aku dan dia yang berciuman pada akhir pentas saat aku memberikannya sebuah bucket bunga.

“—Haah.. annoying. I don’t care!” Komentarku malas. melempar asal sebuah Koran ditanganku yang Luke berikan pertama kali saat kami bertemu ditempat ini.

Dengan sumringah—seperti tidak tahu apa-apa. Dia datang dan berkomentar bahwa aku sedang melakukan atraksiku lagi. yang lebih tepatnya adalah tidak, karena aku bukan hewan sirkus. Aku juga tidak melakukannya karena sebuah scenario yang biasa dilakukan oleh pihak pertelevisian untuk menaikan rating dalam suatu acara.

Aku tidak menyukai hal seperti itu, dan tandai, bahwa kami melakukan itu—atas dasar reflex. Yang sebenarnya, mereka tidak pernah ketahui bahwa kami hampir selalu melakukannya saat kami bertemu. karena sudah aku bilang sebelumnya, it’s just a kiss. It was nothing!

Luke menyengir miring memandangku yang sedang uring-uringan menanggapi Headline pagi ini. setelah menandaskan setengah black coffee-nya, dia menggelengkan kepala beberapa kali, “Funny, Eun Soo. The truth is, there’s always some emotion behind I don’t care.” Tuturnya bergaya sok tahu. atau dia memang tahu? aku juga tidak perduli. aku benar-benar tidak perduli dan hanya ingin tahu, mengapa dia ingin bertemu denganku saat ini, “just.. talk about us. Please. Kenapa kau ingin bertemu denganku? ada yang perlu kita bicarakan?”

Aku menyesap Hot Green Tea lemon-ku, dan kembali meletakan cangkir kecil itu pada tempatnya semula, sambil terus memandangi wajah pria ber-rahang tegas dihadapanku. kalau ada yang berkata bahwa Luke Schdmit jelek, mereka pasti bodoh.

Dan aku tidak cukup bodoh untuk memperhatikan sekitarku bahwa mereka sedang membicarakan kami diam-diam. menjunjuk-nunjuk sambil bertanya, dengan siapa sekarang aku menghabiskan waktuku? Dan bukan tidak mungkin, Headline pada Koran pagi ini akan berganti dengan topic lain seperti, ‘Kim Eun Soo is dating!’ atau ‘who’s the mysterious guy with Kim Eun Soo at the coffee shop?’

Geez, Sometimes popularity, might kill yourself!

Luke kembali tersenyum. Seakan tahu bahwa aku kurang suka dengan hal berbau basa-basi. Dan yang dilakukannya sejak kemarin adalah berbasa basi. Datang menghampiriku, bersikap seperti seorang.. kakak, menawarkan jasa antar jemput dan bahkan membuat Donghae mati kutu saat mereka bertemu, saat entah dari mana dapat menyimpulkan dengan isi kepalanya sendiri, bahwa terdapat sesuatu diantara aku dan pria itu.

“kenapa kau membeciku?” tanyanya to the point. Akhirnya. Tapi itu malah mengejutkanku.

“aku tidak membencimu—?” balasku spontan yang lebih tepat terdengar seperti kalimat tanya, dibandingkan pernyataan. Sedangkan Luke menggeleng, seakan menyalahkan jawabanku atas pertanyaannya.

“No.” ucapnya santai, tapi mantap. “you do. Hate me. Why?” ulangnya bertanya.

Aku semakin mengerutkan keningku. Berfikir. Aku membencinya? Selama ini? apa terlihat seperti itu? atau… sejelas itu?

Tapi sumpah aku tidak sedang berbohong. aku bukan orang yang senang berbohong untuk menutupi sesuatu. Bukan berarti aku tidak pernah melakukannya, tapi aku selalu mengurangi intensitasku dalam melakukan hal semacam itu.

Bukankah itu alasan logis mengapa banyak orang yang tidak menyukaiku. Karena rata-rata orang menyukai hal manis, walaupun itu dikemas dalam suatu kebohongan yang biasanya akan membuat rasa pahit semakin muncul berkali lipat setelah mereka tahu bahwa hal manis itu adalah palsu?

Aku berdecak sesaat. Menimbang kembali apa yang kurasa selama ini, tentang Luke. Dan setelah sekian lama berfikir, aku dapat menyimpulkan satu hal, bahwa “aku tidak membencimu. Well—aku memang tidak menyukaimu. Tapi bukan berarti aku membencimu. Tidak menyukai dan membenci adalah dua hal yang berbeda.” terangku membuat jariku membentuk ‘V’ Sign untuk menggambarkan dua hal tersebut.

Luke ikut berdecak setelahnya. Dia mencebikan bibirnya dan mengangguk seakan paham. Menyandarkan siku pada tangan kursi dan membuat jari-jarinya menggosoki dagunya yang kasar. “dan lebih tepatnya, kenapa itu terjadi?” tanyanya kemudian.

“aku tidak tahu.” Jawabku santai, Namun nyata. Bahwa ya, aku tidak tahu mengapa aku membencinya.

“Eun Soo, kau bukan orang gila yang membenci seseorang tanpa alasan jelas, iyakan? There must be something!”

Aku menggelengkan kepalaku, dengan kening semakin berkerut dan semakin membuat kepalaku memikirkan hal yang tidak pernah sudi untuk kujadikan bahan pemikiran selama ini. “why not? God loves us with no reason—” Tuturku membela diri, Namun Luke lebih cepat menyela kata-kataku, “but you’re not god.”

“Yeah.” Mati kutu. Rasanya aku kalah telak, pada pertempuran yang aku tidak tahu apa. Tapi rasanya aku tidak punya bahan pembelaan lainnya saat ini. seperti tersudut, aku hanya dapat mengangguk seperti robot atas sanggahan Luke. Oke, dia benar. tapi karena dia benar, bukan berarti aku pun salah.

Sampai saat ini, aku juga tidak tahu kenapa aku begitu tidak menyukai Luke. Yang notabene adalah seseorang yang tidak pantas berada pada dislike list things. Rasanya konyol jika dipikir.

Luke adalah pria ter-sopan yang pernah kutemui selama ini. ter-bertanggung jawab. Ramah, baik hati dan menyenangkan. Mungkin, itulah masalahnya, aku tidak menyukai seluruh sifat baiknya itu. yang dapat membuat semua orang luluh—termasuk Eomma.

Atau mungkin, dengan fakta bahwa Eomma lebih merasa hidup, memiliki anak, setelah Luke ada. Dan dengan fakta lainnya, bahwa aku merasa terasingkan, yang mungkin sebenarnya tidak dimaksudkannya. Hanya aku yang terlalu sensitive.

Semuanya memiliki tingkat probabilitas yang seimbang.

Aku ingat Luke selalu membantu mengerjakan pekerjaan rumahku saat aku kesulitan menyelesaikannya, dan harus bertanya, tapi sayangnya, aku terlalu takut, atau malas bertanya dengan Peter, dan sialnya aku tidak punya teman untuk kuajak berdiskusi.

Aku ingat bagaimana dulu, Luke selalu menungguku didepan gerbang sekolah setiap hari saat waktu pulang sekolah, tapi aku selalu berpura-pura tidak melihatnya dan menyusupkan tubuhku diantara kerumunan, hanya agar dia tidak menemukanku. Entah bagaimana, saat itu aku merasa malu mendapati fakta harus bersanding bersama untuk pulang dengan seorang berlabel ‘tiri’.

Aku ingat bagaimana Luke selalu membelaku didepan Eomma, saat sudah jelas bahwa aku memang bersalah, dan sudah sepatutnya mendapatkan hukuman. Pria itu dengan tololnya mau ikut disalahkan, karena selalu mengkambing hitamkan dirinya sendiri atas semua kesalahanku.

Basically, there’s nothing wrong with Luke Schdmit. The only person to blame is me. And a very protective brother, he is. Tapi masalahnya, aku masih belum menemukan alasan tepat mengapa aku begitu tidak menyukai Luke.

Atau mungkin, itulah alasannya yang ada. Bahwa sebenarnya, Luke mencuri hal yang sepatutnya adalah milikku. Seperti perhatian Eomma? Yang sebenarnya juga, aku sendiri pun merasa kekurangan, tapi Luke seperti mendapatkannya secara membludak dari Eomma?

Bahwa jika dapat dijabarkan, segalanya hanya berpusat pada satu kata saja. Iri.

Dan seperti memiliki koneksi yang baik antar saudara—padahal, sudah jelas kami bukan saudara sedarah dengan logika, tidak mungkin hal konyol itu ada, Luke tersenyum singkat. Lebih menggambarkan senyuman miris sebenarnya.

“kau tahu, sebenarnya kita tidak perlu memperebutkan hal ini. Eomma bukan hal yang tepat untuk diperebutkan. She always gonna choose you. that’s the truth. Tapi kau selalu membuat semuanya kacau. Kau cerdas. lebih cerdas bahkan hanya untuk sekedar berfikir bahwa ini bukanlah masalah besar, iyakan? Ini hanya sebatas, aku butuh sosok Ibu, dan kau butuh Ayah!”

Aku mendelik mendengar ucapannya yang seakan merendahkanku, “aku punya Ayah!” balasku sinis secepat yang kubisa. Dan Luke segera mengangkat kedua tangannya, seperti dia adalah seorang tahanan yang terkepung. “oke. Oke. I mean the real father.” Tukasnya berhati-hati. dia salah lagi.

“Luke, Ayahku dan Ayahmu memang berbeda.” aku memberikan penekanan pada kata berbeda dengan teramat jelas. “tapi bukan berarti Ayahku tidak bisa bersikap sebagaimana mestinya, bahwa dia adalah seorang Ayah! dia tetap Ayah untukku!!” tandasku harga mati.

Luke mengerucutkan bibirnya. Merunduk dan menggosoki tengkuknya. Aku tidak bisa melihatnya jelas. tapi sepertinya, jika tebakanku benar, Luke tersenyum dalam tundukannya. Entah apa maksud dari hal tersebut, setelahnya aku kembali menghadapi wajah tampannya didepanku. “Oke. Aku salah. selama ini, akulah yang salah. aku minta maaf. Kalau kau merasa, aku selalu menyedot seluruh perhatian Eomma. Maaf—tapi itu bukan maksudku. Hanya saja, aku tidak pernah merasa memiliki seorang Ibu, sebelumnya. Dan saat kalian ada, rasanya—entahlah…menyenangkan?” Tawa Luke pecah bersamaan dengan kalimat tanya miliknya, walau aku masih belum paham, dimana letak hal lucu dari percakapan  kami.

Dan catat lagi, aku juga tidak paham, bagian mana yang dapat didefinisikan menyenangkan dari memiliki keluarga tambahan, ‘Tiri’.

“selama ini aku hidup sendiri. hanya ada aku dan Ayah. kami selalu berdua, dan aku tidak tahu bagaimana rasanya  menjadi seorang kakak. saat kau ada, aku merasa, kau  menggantungkan segalanya padaku. aku seperti…memiliki tanggung jawab yang terasa menyenangkan, untukku. walau sebenarnya, kau tidak pernah melakukan itu untukku. kau seperti lebih menyukai melakukan semuanya sendiri. dan pada dasarnya adalah, kau bisa melakukan semuanya sendiri. itulah masalahnya. Tapi aku tetap merasa, bahwa kau membutuhkanku. Sampai sekarang aku selalu bertanya-tanya setiap aku mendengar beritamu dari televisi atau majalah, saat kau mendapatkan masalah ini dan itu bergantian. Aku tahu kau bisa melewatinya sendiri, tapi saat kau merasa kau butuh sesuatu untuk kau pukul saat kau kesal, seseorang untuk mendengar fakta dari sisimu dan tidak melulu percaya pada berita, menjadi sapu tangan saat kau butuh setelah kau menangis? atau ingin menangis tanpa banyak orang tahu? aku ada! Kau hanya perlu memintanya. tapi kau tidak pernah melakukannya. Kau membuatku nyaris seperti orang gila! Dan kau membuatku berfikir, hal jahat apa yang sudah aku lakukan padamu, sampai kau begitu membenciku?”

Kalimat panjang Luke seakan menampar wajahku. detik ini juga, aku merasa payah. Dan jahat. Dan kekanakan. Dan Tolol. Entah hal buruk apalagi yang bisa membuatku menggambarkan bagaimana sikapku selama ini, tapi percayalah, Luke berhasil membuatku merasa buruk.

“Geez!” desisku setelah terdiam sekian lama—hanya karena tercengang dengan penjelasan Luke. dan seperti masih ingin menyudutkanku, Luke mendekatkan wajahnya padaku dengan mulut kembali terbuka, “Kim Eun Soo, all I wanna do just be a brother. A real—good— brother. For you. I love you! you’re my only little sister—you know. I really do love you.”

“I know.” tanggapku. Aku hanya dapat melakukan hal seperti ini, ketika sadar bahwa apa yang kulakukan selama ini terhitung…. Konyol? Aku tidak mengatakan bahwa apa yang kulakukan salah, tapi toh, dibalik semuanya, aku memang salah.

Atau kesalahan sebenarnya terletak pada keadaan yang tidak memberikan kesempatan bagi kami untuk berkomunikasi secara normal? Atau kesempatan itu sebenarnya ada, yang tanpa kusadari telah kusabotase menjadi tampak tidak ada? Which is, inti dari semuanya masihlah tetap adalah salahku? “….thank you.” tambahku singkat kemudian, lalu tersenyum pendek dan menggenggam punggung tangan Luke erat, mengabaikan ponsel yang terus berdering— “Thank You so much.”

** **

Percakapan terakhirku dengan Luke, membuat keadaan terasa berbeda. aku merasa aneh, dan sesuatu didalam tubuhku terasa menghangat setelahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang dapat kupastikan adalah bahwa aku merasa senang secara tidak normal. Ini..aneh.

Sejalan dengan aku yang merasa bahwa ini aneh, Songjin pun seperti merasa hal yang sama. “Eonni~” dia mencolek lengan tanganku diatas meja untuk kesekian kalinya. Wajahnya tampak terstel tak karuan dengan berbagai ekspresi didalamnya.

“kau terlihat seperti perpaduan antara orang gila dan tolol. Bagaimana menjelaskannya, ya?” Sekarang Kyuhyun mengomentariku. Dia mengalihkan perhatian dari ponsel dan menatapku—hanya untuk mencibirku. That’s soooo his habit isn’t it? Damn you, Mr. Pimple! Kalau dia tidak tampan, dan bukan ayah dari bayi yang sedang sahabatku kandung, pasti wajahnya sudah kucakar-cakar sampai rusak! Aku heran bagaimana Songjin bisa tahan bergaul lama dengan pria ini, bahkan sampai memutuskan untuk menikah dan mengandung janin, bagian dari pria ini. Yang mana kukira itu terlalu menyeramkan melihat bagaimana sifat dasar seorang Cho Kyuhyun—memiliki kemungkinan teramat besar bahwa akan menurun pada anak mereka nanti. walau Yeah, aku tidak bisa menampik juga, kalau pada beberapa bagian, Kyuhyun tampak—well.. so damn…Hot.

Sedangkan aku yang kemudian menjadi sedikit bersungut atas cibirannya, dihadapanku, Songjin benar-benar tidak bisa menutupi kekesalannya, entah karena apa, pada Kyuhyun.

Atau jika aku benar, mereka lagi dan lagi dan lagi dan lagi sedang bertengkar. Mereka selalu bertengkar. Manis kemudian bertengkar, lalu manis dan bertengkar. Tapi percaya saja padaku, kapasitas hal manis yang mereka sering perlihatkan, tidak sepadan dengan pertengkaran bak perang Hiroshima—Nagasaki di Jepang. Aku malas mengomentari hal yang satu itu.

Entah Kyuhyun yang lebih dulu membuat Songjin kesal atau sebaliknya. Yang aku tahu, mereka selalu membuat satu sama lain kesal, hanya beralasan pada sebatas hal konyol saja. Dan aku menjadi tertawa senang ketika Kyuhyun menyampirkan tangan kirinya untuk merengkuh Songjin dari tempatnya, Namun Songjin dengan cepat menyingkirkan tangannya seakan jijik!

Anggap saja itu karma kecil yang Kyuhyun dapat setelah dia menjahatiku.

“lalu… kapan kau akan mengenalkanku pada.. siapa namanya tadi? Luke?” Songjin bertanya lagi. aku baru saja menceritakan apa yang terjadi dengan ku siang tadi. secara keseluruhan, tanpa ada yang kuedit.

Aku hanya mengerang pelan dan menyandarkan punggung pada sofa Versace yang ada ditempat ini. Songjin selalu berhasil menempatkan benda sederhana, namun berkelas dimanapun dia berada.

Butiknya, adalah satu diantara sekian banyak butik yang kutahu, yang memiliki tatanan termenarik karena meletakan berbagai hal elegan dan classy dalam satu waktu bersamaan.

“kenapa kau begitu ingin bertemu dengannya?” aku mengerling curiga, Namun Songjin hanya menggidikan bahunya malas, “Molla. sepertinya menarik. Sepertinya, orangnya asyik. Dan sepertinya, dia kakak yang baik. kau beruntung. Aku selalu ingin mempunyai kakak. Sial saja aku anak tunggal. Pasti menyenangkan rasanya, saat kau tahu, kau memiliki seseorang yang bisa kau andalkan saat kau merasa kacau.” Decahnya putus asa.

Dan aku melirik Kyuhyun. kami sama-sama sedang memperhatikan Songjin dengan tatapan yang sejenis, namun bermakna lain. “Yeah, kau memilikinya dulu, lalu tidak sengaja—BAM! Kau menikah dengan orang itu. lucu, Songjin. Sangat lucu.” Sindir Kyuhyun sebal. Pria itu benar-benar tidak bisa menutupi rasa kesalnya, selalu. “dan Oh—sepertinya selama ini, aku hanya bisa menontonmu saja saat kau merasa kacau. Kasihan sekali ya kau ini.. astaga.”

Kyuhyun meletakan tangannya didada dan raut wajahnya dibuatnya semengenaskan mungkin. Yang dapat kutangkap lagi lagi dia melontarkan sindirannya. Haaah—ya Tuhan. Kenapa dua orang ini kau jadikan satu, kalau hal seperti ini selalu terjadi setiap detik mereka bersama? ini hanya membuat lelah.

“Dan… Cho Kyuhyun-ssi, kenapa kau disini?” cecarku setelah tidak lagi tahan memperhatikan perdebatan sengit diantara pasangan muda ini. Kyuhyun mencebikan bibirnya sesaat. Memasukan ponsel tipisnya kedalam saku dan merenggangkan tangannya panjang-panjang kekiri dan kanan. “bosan dirumah.” Jawabnya santai.

“Haah—itu aneh! kau bukan pria rumahan. Kau pria kantoran. Kenapa kau disini dan tidak dikantor?”

Kyuhyun menggerakan bahunya santai. memandangi sekitarnya juga tak kalah santai dan kemudian menghembuskan nafasnya cukup keras dan kasar, “apa gunanya aku memiliki bawahan, kalau diwaktu seperti ini saja aku harus masuk?” tukasnya bertanya balik padaku.

Yang dimaksudkannya waktu seperti ini, mungkin adalah akhir tahun dan sudah sepatutnya para atasan bersantai disaat bawahan mereka sedang digerus waktu untuk menyelesaikan deadline yang mencekik. Laporan akhir tahun, Khas kantoran. Itulah mengapa, aku tidak ingin bekerja kantoran.

“Dan aku hanya sedang terlalu ingin membuntuti temanmu saja,” ungkapnya lagi, tanpa menoleh pada Songjin disampingnya. “sepertinya asyik. Dan lagi, aku tahu kau akan datang hari ini. aku ingin pamer tentang Lyx Ressortku.” Kyuhyun menyengir lebar. senyuman dengan kadar 50:50 pada penilaian ramah dan sombong, berbentuk asimetris yang membuat siapa saja akan luluh, termasuk Songjin kukira.

Aku melebarkan dua mataku. Menarik diri dari tubuh yang sedang bersandar santai di sofa—hingga hair stylist yang sedang menata rambutku sedemikian rupa untuk pemotretan gaun terbaru rancangan Songjin, yang akan dipasarkan pada awal tahun baru ikut kesulitan dan bergerak cepat mengimbangiku. “Really? I mean— Miami?” sergahku tak percaya.

Kyuhyun semakin berbesar kepala dan sombong, tapi Okelah, untuk kali ini, dia boleh bersombong ria dan kuakui bahwa pria ini cukup hebat dan cerdas, “Yeah. Miami Kim Eun Soo. Miami.”

“My Lord, Oh my..! You really—“

“Great! Isn’t it?” sela Kyuhyun sebelum aku menyelesaikan pujianku sampai habis untuknya, “No!! amazing!” ralatku masih setengah tercengang. Miami. Cho Kyuhyun! astaga!

“Thank You. you’re the first one that say it to me. Not as I expected actually.” Kyuhyun tersenyum kecut padaku. satu-satunya orang yang diharapkan mengatakan hal itu pertama kali adalah Songjin, sedangkan menurut tebakanku, Songjin belum mengatakannya karena mereka sedang bertengkar. “but it wasn’t bad. Thank you.” Kyuhyun kembali tersenyum asimetris dan aku kembali berdecak kagum.

“jadi, ini hasil dari pengabaian yang terjadi pada temanku selama ini? huh?” godaku. Satu persatu kembali terulang didalam kepalaku, ketika Songjin bercerita bagaimana dia merasa sebal karena Kyuhyun seperti melupakannya.

Dan lucunya, wanita itu tidak pernah melakukan protes langsung kepada tersangka utama, tapi lebih memilih mengeluhkan semuanya kepada orang lain. Orang lain siapapun itu, dan saat dia berada didepan Kyuhyun, dia bertingkah seperti semua baik-baik saja. lucu sekali dia itu.

Kyuhyun terkekeh pada pertanyaanku. Tersenyum, sambil menyisirkan jemari pada rambut cokelatnya yang berantakan, dan menoleh pada Songjin. Tangannya kemudian mengusap ujung kepala Songjin lembut—tulus dan penuh sayang. Walau istrinya itu tampak tidak suka. “jadi apa ini sekaligus undangan untukku agar datang pada Grand Opening-nya?”

“tentu.”

“Good!”

“kau punya pasangan?” Kyuhyun meledek lagi. sialan.

“kau tidak perlu memikirkan yang satu itu, percaya saja denganku.”

Kyuhyun tertawa renyah membalas kalimat sarkasme ku. tangannya masih bermain pada tubuh songjin. Mengusapnya lembut memainkan ibu jarinya. Walau bukan lagi pada ujung kepalanya. Sudah turun pada lengan tak berisi wanita itu, yang mana selalu membuatku kesal, saat pria itu sudah melakukan hal seperti ini. seperti…. Menunjukan kalau aku tampak payah karena single? Cih!

“aku tidak memikirkannya, Eun Soo. Kisah cintamu bukan urusanku. Aku hanya ingin bilang—kalau kau butuh pasangan, karena seluruh yang datang disana nanti hampir semuanya berpasangan, mungkin kau harus membawa Luke bersamamu. Maksudku—kau harus memulai satu hal lebih dulu untuk membereskan ini, dan tidak melulu harus dia yang melakukannya, iyakan?”

“Tapi kan—“

Kyuhyun merentangkan lima jarinya didepan wajahku, mengentikanku bicara, “kau tahu kau salah, selama ini, iyakan?”

“Ya tapi—“

“kalau begitu, lakukan! Dengar, ada saatnya, seseorang harus egois. tapi ada saatnya seseorang harus sadar bahwa sok berlagak egois tidak membuat mereka tampak lebih baik dan hanya memperburuk keadaan.” ucapnya diplomatis.

Untuk satu dan lain hal, saat aku tahu bahwa pria ini cukup sinting, kekanakan dan menyebalkan, Cho Kyuhyun tampak tepat bicara mengenai hal ini. seperti pernah mengalami hal ini, tapi sebenarnya dia tidak benar-benar pernah mengalaminya.

Dia hanya dapat membaca permasalahan, dari banyak sisi dan yang kutahu bahwa itu adalah salah satu sikap yang membuat banyak orang, terus mau bertahan didekatnya. Bahwa Kyuhyun adalah orang yang dapat memutuskan tanpa menilai.

Sudah kubilang, Songjin terlalu beruntung.

“ada saatnya dimana kau harus mengalah.”

“Yaah—dasar sok tua—“ kekehku sambil mengibaskan tangan, yang hanya ditanggapi dengan wajah datar Kyuhyun seperti tampak tidak tertarik sama sekali dengan tawaku tadi. “Aku tahu aku tahu!” desisku kemudian.

Dia terlalu serius dan ini menjadi membosankan. “then do it!”

Kuputar bola mataku jengah, “I KNOWWWW CHO KYUHYUN, I KNOW!” amukku panjang. Semakin mendelik saat Kyuhyun masih juga menatapku menuntut, “I said I know—!” pelototku tidak main-main.

Sebenarnya percuma juga. Kyuhyun sepertinya satu diantara sedikit orang yang tidak memiliki rasa takut, dan aku yang sudah jelas-jelas lebih tua darinya, terasa bagai juniornya yang baru melakukan kesalahan besar.

Dia memandangi ponsel disisi kiri yang kugeletakan begitu saja dengan penuh arti. Seperti…. Aku harus menghubunginya? Sekarang? kenapa dia jadi bersikap seperti Nara versi wanita? Aish!!

Kyuhyun membuatku mau tidak mau melakukan apa yang tidak kuinginkan. Aku mencari nomor Luke diphonebook ponselku, dari sekian  banyak nomor, dan nama Luke yang berderet. Asal tahu saja, yang memiliki nama Luke bukan hanya Luke Schdmit saja.  dan kenalanku yang  bernama Luke, jumlahnya juga tidak sedikit.

Sialnya, sepertinya bukan Luke Schdmit-lah yang kudaftarkan pada ponselku. Setengah mati kuputar berkali kali pada deretan L. nama Luke Schdmit tak kunjung kutemukan.

Sedangkan aku masih dalam kebingunganku, Songjin sudah berisik mengatakn bahwa pemotretan akan segera dimulai. “I’m coming!” kataku setengah berteriak bicara. Berjalan perlahan-lahan, menuruni undakan tergesa, dengan mata masih memperhatikan layar ponsel.

Dibelakangku, jelas tampak Aura setan Khas milik seorang Kyuhyun yang seakan mengunciku, dan tidak memberikan pilihan. Bahwa dia akan memastikanku melakukan hal ini, sekarang juga. sial benar-benar sial.

“Dengar, sepertinya aku tidak punya nomornya. Bagaimana kalau nanti—“ Kyuhyun dibelakangku, memperhatikanku seksama. Namun wajahnya jelas sedang menghakimi.  Aku berhenti bicara, hanya karena merasa tersudut atas pandangannya yang seperti itu. “lalu bagaimana caranya kalian bertemu makan siang tadi? dia datang di dalam mimpimu dan kalian berjanjian?” sindirnya.

Aku mendengus layaknya banteng dan kembali mencari nomor Luke. “bukan aku yang dihubungi dia kemarin. Tapi Nara! Teman di agensiku. Semua orang yang ingin berhubungan dengaku, harus menghubungi Nara dulu. aku ini orang sibuk! kau tahu tidak?” desisku.

Kyuhyun memasang wajahnya lebih datar dari pada biasanya dan menggeleng santai, “Tidak tahu.” ucapnya tanpa rasa bersalah—sok polos.

Perhatian kami terpecah saat Songjin kembali rewel mengatakan ini dan itu. meminta aku untuk segera cepat turun, dan suara berat khas lainnya yang aku sangat hafal ikut menggema. “Tunggu—“ aku menghentikan Kyuhyun.

Kami berdua sama-sama diam dan saling menatap. Atau tidak. sebenarnya aku yang lebih memandanginya lekat-lekat. Sebagian dari tubuhku terasa kaku. Dan hawa dingin terasa nyata. Seperti aku sedang dikunci didalam ruangan pendingin. “katakan bahwa aku salah. bukan orang yang sama-sama kita maksud kan yang ada disini?” tanyaku pada Kyuhyun. “bukan dia kan pasangan ku untuk pemotretan ini? Kyuhyun-ah?”

Nafas Kyuhyun memburu seperti banteng. Mulutnya tertutup rapat dengan gigi bergemertakan. Lalu sedetik setelahnya pria itu tidak lagi menatap lurus didepannya, dan lebih memilih untuk menatap ku angker. “dari sekian banyak jenis manusia berkelamin pria dipelosok bumi. deretan pria dengan wajah menjual, kenapa harus Lee Donghae sih yang selalu wanita itu pilih? Brengsek!”

Oh God!

I’m so gonna FedEx myself to Timbuktu.

** **

Chaos, Panic, disorder.

Inhale, Exhale, Inhale, Exhale.

Park Songjin memang tidak bisa dipercaya. Dari sekian banyak hal yang telah kami perbincangkan, aku pun tolol dengan tidak memastikan bahwa pasangan-ku dalam pemotretannya kali ini adalah Lee Donghae. As always.

Aku merasa bodoh, karena tentu, Songjin akan memilih pria itu lagi. sial sekali hidupku ini. sudah jatuh, seperti tertimpa tangga pula. Can I sell my feelings on ebay? I don’t want them anymore!

Sekarang aku tahu, rasanya menjadi penghuni dunia sihir dalam kisah Harry Potter, ketika mereka merasa tidak ingin atau memang tidak boleh menyebutkan nama si penyihir dengan ukuran hidung bahaya itu.

Seperti penghuni Hogsmade yang harus berhati-hati ketika nama Lord Voldemort telah dijampi-jampi, karena setelah menyebutkannya maka sesuatu yang buruk akan terjadi, itupun terjadi padaku.

Dia-yang-namanya-tidak-boleh-disebut, aku merasa sakit perut secara berlebihan ketika namanya harus kuucapkan dengan mulutku sendiri. itu bahkan hanya dari mulutku sendiri. aku juga merasa mulas saat mendengar namanya disebut-sebut saat pemotretan tadi. demi tuhan!

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupku, mengenal dia-yang-namanya-tidak-boleh-disebut, aku merasa tak karuan setengah mati. bahkan tidak pernah lagi terbayangkan olehku akan berhadapan dengannya lagi, seperti ini. maksudku—setidaknya tidak dalam waktu dekat ini.

Aku kira, pertemuan terakhir kami di café saat dia memberikan sekantung cokelat yang kutolak mentah-mentah..itu adalah kali terakhir aku bertemu dengannya, sebelum aku setidaknya merasa siap untuk berhadapan dengannya lagi.

Aku mungkin bisa bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa dan aku jelas baik-baik saja, tapi aku tidak yakin semua ini akan bertahan selama apa. Semua orang memiliki kapasitas maximal mereka masing-masing, so do i.

Sekarang, satu-satunya hal yang ingin aku lakukan adalah cepat pergi dari tempat ini. segera. Secepat yang dapat aku lakukan. Tapi sial, Luke belum juga datang. Tadi akhirnya aku bisa mendapatkan nomornya diponselku.

Hal baru ini pun mengejutkanku. Tahu kenapa? aku tidak tahu bahwa aku sudah sejauh itu bersikap, sedangkan dengan seenaknya aku tidak menyadari hal itu, bahwa mungkin saja itu menyakitkan untuk Luke. aku menamai data Luke pada ponselku, dengan label ‘Step Brother’.

Aku terlihat seperti Lord Voldemort versi wanita ya? Ew!

“Hallo!” tepukan pada bahuku menyadarkan aku bahwa selama ini aku melamun. Selama itu, aku tidak sadar selama apa. Yang jelas aku benar-benar tidak ingin menjawab sapaan tadi. tapi sudah kukatakan bahwa pada saat seperti ini, tubuhku sedang tidak bisa diajak berkompromi.

Emm.. atau tidak. sebenarnya, tubuhku memang tidak bisa diajak berkompromi dengan dia yang namanya tidak boleh disebut itu saja. setahu dan serasa apa yang selama ini terjadi, seperti itu memang faktanya.

Aku hanya dapat tersenyum canggung menjawab kata singkat nan ramah tadi, lalu kembali menyibukan diri pada apa saja yang bisa membuatku sibuk. “Long time no see—“

Hah? Long time no see? Long time? Memangnya iya? memangnya, berapa lama kami tidak bertemu? sepertinya setengah tahun pun belum. Ini dia yang berlebihan, atau aku yang terlalu sarkas sih?

“kau baik-baik saja?” dia masih bertanya. Seperti tidak juga menyerah setelah kuabaikan berkali-kali. “sepertinya kau tampak kacau.” Oh Yeah. Bagus kalau dia sadar. Harusnya dia cukup tahu diri juga, aku kacau karena siapa.

Namun kesinisanku berputar 180o dari scenario yang ada didalam kepalaku, bahwa aku akan terus mengabaikan pria ini, nyatanya, tidak semudah itu. “managerku mengundurkan diri. Jadi aku agak sedikit repot sebenarnya, permisi—“

Aku menggapai box foundation milikku yang terjepit diantara punggung pria itu dan punggung sofa. Lee—, maksudku dia yang namanya tidak boleh disebut itu segera beranjak dari tempatnya dan malah membantuku memunguti make up ku yang bergelimangan disekitarnya.

Aduh, astaga, bukan ini yang aku harapkan dari sikapnya. Akan lebih baik kalau dia bersikap seperti dulu saja. seperti aku adalah perusuh, dan dia selalu ingin menjauh dariku. Astaga, kenapa juga aku baru sadar kalau dia seperti itu belakangan ini?

Lalu kemana saja aku ini selama nyaris satu tahun belakangan? Apa Jatuh Cinta se-dahsyat itu efeknya sampai aku tidak pernah sadar bahwa aku diperlakukan tidak semestinya oleh orang yang tidak semestinya pula?

Selama satu tahun belakangan ini, aku sangat rendahan mengemis hal yang sepatutnya bisa kudapatkan tanpa harus mengemis.

“ada apa dengan Lee Minjung memangnya?”

Aku terkesiap sesaat. Seingatku aku tidak pernah menyebut-nyebut apalagi mengenalkan manager lamaku itu kepada pria ini, jadi entah tahu dari mana dia nama managerku.

“gone. Married. Whatever it is.” Seruku malas, kalau harus kembali mengingat alasan wanita itu pergi meninggalkanku dengan kepelikan masalah yang tidak semestinya kutangani sendiri.

“Haha—Eun Soo, kau mengatakannya seperti menikah adalah hal buruk. Itu bagus. Cepat juga dia menikah. Kukira dia masih cukup muda. Apa menikah muda, memang sedang Trend ya sekarang?”

Aku menggidikan bahu kasual. Aku tidak perduli apakah menikah muda sedang jadi Trend. Aku tidak pernah mengikuti Trend. Aku membuat trend. Sesederhana itu. “alasan konyol.”  Desisku pelan, tanpa kurencanakan karena bibirku bisa begitu santainya melakukan itu tanpa adanya konfimasi pada otakku.

Bahwa sudah jelas, rancauan itu akan menghasilkan pertanyaan baru. Pastinya. Saat itu, Lee—Haah.. dia yang namanya tidak boleh disebut terdiam sejenak ditempatnya. Kepalanya menggeleng berkali, saat tahu bahwa aku baru saja mengutuk hal yang dianggapnya sacral. Menikah.

“Ya~ ada apa dengan kalimatmu itu? menikah bukan alasan konyol, Eun Soo. Kau ini aneh sekali.”

“untukmu. Untukku, itu konyol.”

“karena?”

“…yaaa.. karena menaikah bukan alasan tepat mengapa seseorang harus menghentikan aktivitasnya. Maksudku—itukan hanya.. menikah. Hanya menikah!”

“Eun Soo, itu bukan hanya menikah. Menikah tidak pernah bisa disandingkan dengan kata hanya atau sekedar. Menikah itu—“

“Well.. Well.. terserah kau saja tuan sok tahu. Tapi semua orang punya pendapat mereka masing-masing. seberapapun kau tidak menyetujui kalimatku, setidaknya, aku punya hak agar pendapatku dihargai.” Titik. Harga mati yang tidak bisa ditawar.

Kepalaku terasa mendidih bicara dengannya. Aku tidak perlu berdebat hingga membuat urat dileherku tertarik dan menjadikan wajahku menegang lalu mengeriput karena marah-marah kan?

Ayolah, perawatan pencegahan keriput pada usia dini sekarang semakin ramai dan aku tidak suka harus duduk mengantri hanya untuk mendapatkan treatment itu dari dokter langganaku. Malas.

Dan seiring dengan berhentinya topic konyol-sakral-nya menikah. Kami terdiam. Aku tidak memiliki aktivitas lain, selain harus diam dan duduk—berbagi lahan dengan pria menyebalkan ini untuk menunggu Luke.

Demi tuhan, kalau sampai sepuluh menit lagi Luke belum juga datang. Aku akan mencari taxi. Salahku tadi, tidak membawa mobil dan meminta Nara mengantarku. Songjin masih didalam.

Masih. Bersama dengan Kyuhyun, yang sudah kupastikan mereka sedang mendebatkan tentang hal ini. tentang mengapa Songjin masih juga memakai jasa Lee— pria itu, sedangkan pria lain yang memiliki kapabilitas menjadi seorang model diluar sana sangat banyak? Lebih tampan, lebih professional, lebih nyata bahwa dia seorang model.

Dibandingkan dengan seorang dokter dengan kepemilikan wajah—sedikit agak mem-model. Sedikit. Aku tidak akan konyol dengan mengatakan segalanya yang buruk tentang pria itu, walau aku kesal dengannya. Tidak seperti itu.

“kau… datang ke acara itu?” orang disampingku berbicara. Pada akhirnya, salah satu dari kami memang sudah sepatutnya untuk memecah keheningan hanya supaya kami, tidak tampak seperti patung selamat datang, didepan etalase.

“acara..??”

“Grand Opening Lyx?”

“Oh!” aku mengangguk beberapa kali. Resort mewah milik setan itu rupanya. Tentu saja. memangnya acara apalagi yang bisa didatanginya dan dibahas bersamaku? Kami tidak memiliki ruang lingkup pekerjaan yang sama, jadi rasanya agak sedikit tidak.. mungkin.

Tapi tunggu!

Tunggu dulu sebentar.. “kau.. diundang?” tanyaku terkejut setelah menyadarinya. Maksudku kan.. ini milik.. “bukan Kyuhyun. Songjin yang mengundangku. Awalnya aku memang tidak mau. rasanya tidak nyaman.  Maksudku, acara ini milik Kyuhyun. tapi kemudian, aku datang. Aku yang notabene tidak disukai pria itu. iyakan?”

Aku tidak dapat berkata tidak dan menggelng saat apa yang dikatakannya tepat pada sasaran. Yeah. Dia benar. aku memang terkejut tadi, ketika sadar bahwa yang dibicarakannya adalah Grand opening Lyx resort. Sedangkan yang semua orang tahu, bagaimana Kyuhyun begitu-tidak-menyukai-saingannya ini-berada pada radius satu meter saja.

“menurutmu, aku harus datang?” tanyanya. Aku hanya dapat mencebikan bibirku dan terdiam beberapa saat. Berfikir.

“kalau Songjin yang memintamu. Itu berarti dia benar-benar memintamu, dan ingin kau datang. Tidak perduli bahwa nyawamu terancam bahaya karena Kyuhyun pasti akan mengawasimu 24 Jam—dan 80% kemungkinan besar dia bisa saja membunuhmu disana nanti. Tapi, kukira.. entahlah. Hanya.. menghargai si pemberi undangan. Kau tau tatakramanya.” Kataku santai.

Aku sendiri heran dengan diriku yang bisa bicara mengenai hal ini, tanpa menghiraukan rasa ngilu pada hatiku saat bicara seperti ini. kau tolol Eun Soo!

“Yeah. Kau… datang?” ulangnya pada pertanyaan awal. Untuk sepersekian detik aku berencana akan berbohong saja, kalau aku tidak akan datang. Tapi aku merasa sayang, kalau aku harus menambah bak dosaku lagi hanya untuk masalah sesepele ini.

“datang.” Ujarku singkat. Padat dan jelas. aku datang.

“…tentu saja kau akan datang. Haha—pertanyaanku aneh sekali, ya?” dia tertawa sambil menggaruki kepalanya. Aku hanya tersenyum kecut lagi menanggapinya. “….. kau datang kan? Dengan siapa? maksudku—Songjin bilang akan lebih baik kalau—“

“aku akan datang dengan seseorang.” Putusku lebih dulu memotong kalimatnya sebelum aku mendengar secara keseluruhan. Aku hanya tidak ingin mendengarnya, karena kupikir sesuatu yang buruk akan terjadi jika aku membiarkan dia meneruskan kalimatnya.

Yang mana sudah pasti akan membuat kerja tubuhku kacau lagi, padahal yang sebelumnya saja belum benar-benar membaik seperti semula. Ini tidak akan menjadi mudah.

“Ah!” gumaman panjang menjawabku. “pria asing bertubuh besar seperti gorilla itu ya?”

Aku segera menoleh padanya. Hei! Yang kau bilang gorilla itu kakakku!! Kau tidak memiliki berhal untuk mengatainya gorilla karena aku satu-satunya orang yang berhak mengatainya!! Brengsek!

“dia punya nama!” amukku, “dan namanya bukan gorilla!”

Seketika tawa dokter gila itu pecah. Renyah. Dia terlihat begitu… senang? Senang?

“jangan marah begitu. aku tidak bicara tanpa sebab. Tapi pacamu itu memang terlihat seperti gorilla. Dia besar dan tinggi. Kulitnya putih kemerahan dan rambutnya pirang. Haruskah aku memanggilnya gorilla albino?”

“HEEY!” aku semakin meninggikan suaraku. Enak saja dia bicara semaunya! Walau bagaimanapun Luke itu kakakku!

“Namanya Luke! Luke Schdmit. Kau terbiasa menghina orang dari rasnya ya? dia Kaukasian. Apa yang kau harapkan dari pria seperti itu? kau mengharapkan bertemu dengan Kaukasian yang memiliki mata tipis seperti matamu?” sinisku.

“mataku? Mataku tidak tipis!”

“yeah. Operasi dimana?”

“Operasi? Eish! Kau—“ dia mengacak rambutnya kesal. Memandangiku seperti ingin memakanku saja. aku hanya memandanginya datar setelah merasa menang untuk perdebatan kami. Lagi.

“kebiasaanmu buruk sekali. kau selalu menilai orang sebelum mengenalnya. Asal tahu saja, itu namanya merendahkan. Dan tidak ada satupun makhluk didunia ini yang sudi direndahkan. Hanya karena kau memiliki kemampuan untuk melakukan hal jahat, bukan berarti kau harus melakukannya.”

“Ya! kau sedang menceramahiku?” decahnya tidak terima. Aku hanya dapat mendesis melihatnya seperti itu. seakan dia orang yang selalu benar, bahwa seorang dokter sepertinya tidak pernah salah dan tidak akan pernah salah, hingga tidak pantas diceramahi orang lain?

Pada dasarnya aku tidak sedang menceramahinya. Aku hanya sedang, mengulang kata-kata Appa yang sering Appa katakan untukku sejak dulu, sampai aku bosan mendengarnya.

Aku hanya merasa, bahwa kalimat Appa juga sangat cocok dengannya. Maksudku—dalam hal menghina, bukankah dia berada diurutan teratas? Baiklah, kedua setelah si Setan sialan bermarga Cho itu. tapi aku tidak pernah lupa karena aku korban tetapnya dulu.

“aku tidak menceramahimu. Aku hanya ingin agar kau berhenti bersikap sok pintar dan sok tahu. kau seperti itu!”

“dan bagaimana bisa kau mengatakan aku seperti itu kalau kau juga tidak mengenalku? Kau juga menilai sebelum mengenal!”

Hah! Aku? “jangan coba-coba membalikan fakta! Aku sedang membicarakan apa yang terjadi dengan kau! bukan aku!! aku hanya merasa selama ini—“

“pacarmu!” dia memutus kata-kataku ketus. Aku memicingkan mataku memandangnya sebal. Apapun itu, dia harus belajar untuk tidak memperlakukan orang sesukanya! “tutup saja mulutmu! Aku sedang membicarakanmu—“

“itu pacarmu datang!!” serunya lebih keras. menunjuk didepannya dengan dagu. Aku mengikuti arah pandangnya dan mendapati Luke sedang memperhatikan kami dari pintu kaca didepannya.

Dia berdiri santai melipat dua tangannya menghadap kami, seperti kami adalah tontonan menarik. Atau Yeah, memang  begitu adanya, tapi aku tidak sadar. Apapun itu. pria didepanku memang brengsek!

Dengan segera sambil menahan kekesalan, aku menyambar tas serta peralatanku lainnya menuju Luke. demi tuhan aku akan mendapatkan manager dalam waktu kurang dari 72 Jam!!

Aaarrrrggh!

** **

54 thoughts on “[ Lee Donghae – Kim Eun Soo ] Fix A Heart 2

  1. dong hae ngira luke itu pacar eun soo?? haha kasian
    di part ini kyu-jin muncul agak bnyak ya?? tmbh bkin eun soo iri krna kisah cintanya ga smulus songjin 😛
    gt dong eun soo, baikan sm kakakmu. dia sayang bgt lho sm kamu 🙂

  2. Wah makin seru ni perseteruan dongha ama eun so… Donghae mengira kalau luke adalaha pacar eunso, jdi salah paham lagi deh!!! Tapi aku suka ama kyu dgn songjin yg makin mesra aja. Yah, walaupun sering ada pertengkaran kecil2an……

  3. Jadi kasian sama si nemo dikacangin gtu 😀
    sini sama aku aja abaang ikan ku sayaaang :3

    bagus bgt unn cerita nya !
    Terharu sama cerita step brother nya eun so :’))

  4. Ff nya bgs bgt. Penulisan katanya, enk dibaca. Gk ribet. Dewasa kg. Daebak lah pokonya. Semua tingkah laku pemain kegambar diotak pas lg baca nya. Daebak. Ini end ? Crta ttg eunsoo banyakin doong.tpi klo bisa dia gk ush sma donge aja thor

  5. baru bisa komen, padahal dah baca dr kemaren” karna kuota abis, mian
    ini masih ada lanjutannya lagi kan? kok donghae biasa aja pas tau klo eun soo udah punya luke?
    kya, buat donghae yg ngejar” eun soo dong jebal…. 😀 aigo.. kyu bijak banget si ama permasalahannya eun soo ama luke?
    emang gitu ya, klo msh cinta ya didepan org yg sicintai ya gitu salting kaya eun soo ekekekek

    • Masih ada 1 part terakhir.. oo itu sudah pasti bakal ada wkwkwk :p wait and see.
      Yah donghae nya aja dikacangin gitu sama eun soo. Eun soo nya galak banget sama donghae gimana donghae mau ngomel gegara tau eun soo lg deket sama luke? Hahaha

  6. Dibalik kemulusan dan keberuntungan hidup songjin yang katanya sempurna, dia juga gak sempurna dan masih ada cacatnya kok. Dia keliatannya aja percaya diri padahal enggak,dan lemot. Mutlak banget itu bikin kesel tiap orang yg ngomong sama dia. Hahahaha
    Yah namanya nasib.. Tapi Keberuntungan terhebat songjin itu ya dapet kyuhyun.

  7. luke manis bgt ya.. pengen deh punya kaka yg perhatian gitu.
    lucu pas part damon wang yg curi pandang ke kyuhyun.. hahhaha aku ngebayangin klo kyu tau, dia itu gay dan lg curi2 pandang ke kyu. hihi kyu langsung begidik ngeri kya ngeliat hantu banci kali ya. hahhaha XD aku suka momen2 kyujin maupun haesoo juga luke. semua deh..
    oh iya knp donghae kya cemburu gtu eunsoo dket2 luke?!

  8. suka deh liat kyujin jadi penyegar di ff ini..
    hubungan haesoo kapan membaiknya ya..
    ditambah kehadiran luke sepertinya bikin hae cemburu..
    berarti hae mulai da perasaan ma eunsoonya..
    lanjut baca ya..
    penasaran ma kelanjutan cerita mereka..

  9. adil?? itu hal tersulit
    eunsoo cantik, cerdas, tinggi, dll tp dia juga punya kekurangan, itu keadilan kan
    donghae salah sangka, haha
    tp gpp, kalau bisa buat aja dia cemburu berat dan balik ngejar” eun soo haha

  10. dsini kitta d suruh pahaami ga semua orang bbberuntung pastiii ada aj kkkurangnya termasuk songjinnnn skalipun….
    adegan lucu ppas kyyu ma eunsssso tau klo model cwo’y hae….. kyu dh kayaaa bannteeng ngamuk aj …wkwkwkwkwkw
    eunso akhirnnnnya bisaaanerima kaka’y luke… sekian lama mereka ga saling nyapa karna kesalahppahhhaman akhiirnya biisa cairrr jg

  11. Ini namanya ajang balas dendam…
    Dengan santainya ngomong ketus kayak gitu ke donghae…
    Dan dengan ngak sadarnya donghae ngebuat eunsoo makin emosi…
    Sebut ama aja ampe ngak mau…

  12. terbang tuh kyu klo denger dblg cuteness overload hhhhhhhh 😛
    paling seneng klo kyu ud sweet k songjin >o<
    seSUJU bingits kyuhyun damn hot :*
    eun soo itu sll iri y? sm songjin sm luke? ntahlah o.O
    yeah~ sikap bossy kyu kumat ————– sombong! ck
    jng galak2 judes2 ketus2 dingin2 sama haepa dongse eun soo. tumben ga ngejar2 lg? kkkkkk
    deuh malah debat haesoo kapel ini gmn toh ckckck awal mula percintaan yg kacau unik tp seru wwwww ❤

  13. Wkwkwk kasihan donghae di skakmate ma eunsoo terus,aku rasa benernya donghae tu ada rasa ma eunsoo cuma aja masih tertutupi ma sukanya ma songjin makin suka bacanya lanjut…

  14. hmm…ni eun soo ngrsa iri ma songjin..pdhal songjin sllu mrsa drny tu ga pny klbhan sprti mrk”..org laen yg mnilai mn kita tau..
    donghae shock dg coklt favorite eun soo..ck..msh b’usha wat minta mf..yg g knjung d dpt wlo dh d blng d mf_in..
    kirany bsok hae dtg sndri or ma sp y??

  15. Ada ya kakak tiri sebaik luke.. eun soo buset dah judes bener dia. Hhh rasain tu hae sekarang diabaikan ma cewek yg bener2 cinta ma dia. Hae dulu emang blom sadar sama hatinya ke eun soo tapi sekarang kelabakan sendiri kan. Eun soo iri banget ma songjin. Hhh

  16. donghae emang sekali-kali kudu di begituin biar nyadar , dulu ada seseorang yg suka sm dia tp dia abaikan dan sekarang kebalikannya …..

  17. Judulnya ….. eun seo iri sama Songjin dan luke. Dan Keren nya lagi , sepertinya Donghae mulai cemburu ke eun seo entah karena apa ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s