[KyuJin Series] I Almost Do 1


Author: GSD.

Title: I Almost Do

Cast: Cho Kyuhyun, Cho Songjin, Choi Siwon, Choi Gyuwon, Lee Donghae, Kim Eun Soo, Seohyun, Lee Hyuk Jae.

Rating: G.

Length: Chaptered [1 of 3]

Athazagoraphobia – Fear of Forgetting, being forgotten or Ignored, or being replaced”

Sudah pukul satu pagi dini hari, Songjin masih juga belum terlelap. Matanya masih terbuka lebar, seperti kelelawar yang hidup pada malam hari. Atau wanita itu kini memang lebih pantas disebut seperti itu. seperti kelelawar yang hidup dimalam hari, dan beristirahat disiang hari karena hal yang semakin lama, semakin sering terlihat seperti kebiasaan, entah sejak kapan.

Jemarinya, memainkan rambut-rambut kecokelatan Kyuhyun dihadapannya. Bahkan pria itu sudah terlelap seperti babi saat ini. setidaknya, terlihat seperti itu. dan yang Songjin lakukan hanyalah memperhatikan bagaimana Kyuhyun tertidur.

Kyuhyun terlihat manis jika sedang tenang. Tanpa keributan. Tanpa kalimat-kalimat menyebalkan. Tanpa ejekan. Tanpa segala sesuatu yang menyebalkan, Khas seorang Cho Kyuhyun—seperti saat ini, dia tampak sangat manis. Terlalu manis.

Tapi dalam diam, Songjin sangat begitu yakin, jika dia melakukan apa yang sejak tadi diinginkannya, pria itu tidak akan terlihat manis lagi. sama sekali tidak.

Kyuhyun pasti akan marah. mengamuk dan menggeram seperti biasanya. Ketika dirinya mulai mengganggu malam Kyuhyun dengan rengekan ini dan itu ditengah malam. Kali ini, Songjin ingin sekali memakan Lasagna.

Bagaimana caranya dia bisa mendapatkan Lasagna sialan itu, tanpa harus membangunkan Kyuhyun? sedangkan disaat seperti ini, mana berani dia pergi keluar sendirian? Dan lagi, diluar sedang turun salju. Bukankah lucu jika pergi hanya untuk sebuah Lasagna?

Songjin menarik nafasnya panjang dan berbalik menjadi terlentang. Memandangi langit-langit kamarnya, dan lukisan awan kebiruan disana, Nampak tidak membuatnya tertarik seperti biasanya.

Tanpa Songjin sadari sebelumnya, bahwa gerakan lembut jemarinya-lah yang membuat Kyuhyun nyaman dalam tidurnya. Sedangkan ketika wanita itu menghentikan kerja tangannya, membuat Kyuhyun mau tidak mau membuka kedua matanya.

Ada rasa yang berbeda ketika Songjin tidak lagi menyentuh bagian dari tubuhnya ketika itulah hal yang sedang diinginkannya saat ini.

Dalam diam, Kyuhyun memperhatikan Songjin seksama. Istrinya itu seperti sibuk menghitungi jumlah gumpalan awan dilangit kamar mereka sambil menggembungkan pipi, lalu mengempiskannya lagi. menggembungkan dan mengempiskan. Seperti itu seterusnya.

Dan Kyuhyun dapat saja dengan mudah paham, mengapa Songjin menjadi begitu gusar. Haah—setiap malam pun, Songjin selalu bersikap seperti ini. aneh saja, entah bagaimana kali ini istirinya itu tidak membangunkannya seperti biasanya.

“….. makanan aneh apalagi yang kau ingin makan sekarang?” tebak Kyuhyun tepat pada sasaran. Sedangkan Songjin terkejut karena Kyuhyun tiba-tiba saja terbangun, membuatnya semakin terkejut, karena ketika menoleh, Songjin langsung mendapati mata besar Kyuhyun didepan wajahnya percis.

Mata Songjin mengerjab berkali-kali ketika mulutnya, tidak dapat berkata apa-apa. Wanita itu terlebih dulu berfikir apa hal salah yang telah dilakukannya, hingga membuat Kyuhyun terbangun dari tidurnya yang terlampau lelap?

Sialan! Apa tidak bisa sekali saja, dia tidak melakukan kesalahan?

“A—aniyo.” Geleng Songjin gelagapan. Kepalanya menggeleng terus menerus dengan wajah kaku seperti saat dia baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan fatal. “aku baru mau tidur. Jaljayo~” serunya menarik selimut. Membelakangi Kyuhyun meninggalkan pria berpipi Chubby itu terbengong sendirian.

Songjin itu kenapa? dia kenapa lagi? kenapa seperti robot begitu? kenapa dia terlihat aneh seperti ini adalah kali pertamanya mereka tidur bersama. Kyuhyun sama sekali tidak memahami sikap Songjin yang semakin hari, semakin membuatnya tidak mengerti. Ada yang berubah. Yang Kyuhyun sendiri belum sepenuhnya sadar dan paham.

Tapi apapun itu, Songjin menjadi tampak aneh. hal sederhana itu saja, yang membuat pria berusia 26-itu hanya dapat menghirup udara banyak-banyak dari sekitarnya, dan kemudian membuat Songjin mau tidak mau berputar menghadapnya lagi. “apa?” ulang Kyuhyun bertanya. Sedangkan Songjin malah balik bertanya padanya.

“apanya?”

“apa lagi yang kau inginkan?” Songjin kembali mengerjabkan mata. menggigiti bibir bawahnya, menimbang apa dia harus berkata jujur, atau tetap pada pendiriannya semula. Sebenarnya, dengan tidur, mungkin rasa mengidamnya itu akan hilang dengan sendirinya.

“Ngg—“

“Jangan berlagak seperti remaja labil seperti itu. itu menjijikan. kau tidak pantas, tahu tidak?”

Kyuhyun mengejek cepat, ketika Songjin masih dalam proses pemikirannya. “katakan saja apa. Buat ini menjadi mudah.” Kyuhyun sudah tidak sabar lagi sebenarnya. Songjin tampak seperti anak belasan tahun yang sedang mengandung. Merepotkan juga membingungkan.

“…aku Ngg—“ satu alis Kyuhyun terangkat tinggi. Kalau sampai pada hitungan kesepuluh dari angka satu yang dimulainya didalam hati habis, dan Songjin belum juga mengatakan apa yang diinginkannya, maka dia sudah bertekad untuk membawakan Songjin makanan apapun itu, yang matanya dapat ketika pertama dia keluar kompleks rumahnya setelah ini.

Songjin menegguk liurnya sendiri, jantungnya mempompa tak karuan lagi, “Lasagna. Tapi tidak perlu rep—”

“Lasagna?” kening Kyuhyun berkerut memotong perkataan Songjin sebelum wanita itu menghabiskannya. Haah—Oke, jadi yang sejak tadi membuat istirnya tampak kelimpungan seperti orang gila dan tidak bisa tidur adalah makanan Khas Italia itu?

Jujur saja, ini menggelikan! ini benar-benar menggelikan. Lasagna! Hanya sebuah Lasagna bodoh saja!! Kyuhyun menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya kasar. Dihempaskannya selimut tebal nan nyaman, yang menutupi tubuh-nya.

Baiklah. Malam ini dia harus bertempur ditengah hujan salju lagi, hanya untuk mencari sepotong Lasagna, agar anaknya tidak mengalami kondisi menjijikan selalu meneteskan liur seperti apa yang Songjin katakan jika dia menolak untuk mendapatkan apa yang Songjin inginkan.

Dengan cekatan Kyuhyun memakai Sweater, dan jaket tebalnya. Sebuah tarikan dari ujung jaket tebal miliknya, membuatnya menoleh dan langsung mendesah malas ketika Songjin sedang memandanginya, dengan wajah mengiba.

“kau disini saja, Oke? Aku yang pergi.” tukas Kyuhyun tegas. tapi ketegasannya kali ini sama sekali tidak berpengaruh banyak pada Songjin. Istrinya itu mencebikan bibir bawahnya, dan masih saja memasang tampang menyedihkan—bercampur dengan permohonan tingkat mutakhir yang dapat dilakukannya.

“Please?”

“Untuk apa kau ikut? apa enaknya berada diluar?”

.

.

“……..”

“Tidak.”

“….Ple—“

“Songjin!”

Kyuhyun mengerang sebal. Dalam beberapa hal, Songjin mungkin memang menjadi lebih mudah diatur. Tapi Songjin tetaplah Songjin si wanita keras kepala yang tidak pernah mau mendengarkan!

Otaknya itu terlalu pendek untuk berfikir bahwa sebenarnya, Kyuhyun sedang mencoba untuk bersikap seperti suami pada umumnya. yang ingin agar istrinya merasakan nyaman hangat perapian ditengah udara dingin.

Biarpun dia sedang seperti orang tolol berputar-putar dikeramaian, ditengah dinginnya hujan salju—jika ingin digambarkan secara berlebihan juga mengenaskan.

Dengan sebal karena lagi dan lagi, Kyuhyun kalah dengan perdebatan tanpa suaranya, pria itu menggeram murka, “Arrasseo!!!” dengusnya kencang. tidak terima kalau dia kalah, tapi juga sebal dengan dirinya sendiri karena entah bagaimana dapat menjadi begitu tidak berdaya. Cih, payah! “pakai pakaianmu!!” gerutu Kyuhyun sambil melengos pergi, keluar kamarnya.

** **

Cho Kyuhyun.

Baiklah, ini hanya sebuah Lasagna. Aku bisa mendapatkannya, di Supermarket 24 Jam yang masih banyak buka pada Jam-Jam rawan seperti ini. setidaknya, mereka pasti menjual Lasagna beku.

Ini tidak sesulit malam kemarin ketika aku harus mencari Antipasto.

Sepanjang pengamatanku beberapa minggu ini, Songjin selalu mengidam masakan Italia. Spaghetti, Pizza, Ravioli, Antipasto, dan sekarang Lasagna. Entah seperti apa bentuk anakku itu, kukira kedua orang tuanya berasal dari Korea Asli tanpa ada campuran darah Negara lain. Tapi dia sangat suka dengan sesuatu berbau Italia.

Atau ini adalah semacam keturunan genetika, karena Songjin begitu menyukai Italia, dibandingkan Negara manapun. Ketika wanita lain tergiur dengan Paris—Perancis, maka istriku akan seribu persen lebih memilih Florence—Italia.

Jika seluruh wanita lain mengidam-idamkan makan malam romantic diatas menara Eiffel, maka Songjin akan lebih menginginkan, makan malam di pelataran Ponte Vecchio.

Aku tidak paham. Memang mungkin, tidak akan pernah paham dengannya, selama apapun aku bersamanya.

“Kyu,”

Aku menggumam pelan menanggapi panggilannya—dan terus memperhatikan jalanan lengang dihadapanku. Tentu saja lengang, jam seperti ini, dalam kondisi seperti ini, semua orang pasti lebih memilih untuk meringkuk didalam selimut mereka. aku juga seperti itu, kalau saja dapat memilih. Tapi pilihan seperti itu, sayangnya tidak datang padaku kali ini. lagipula, dalam kondisi seperti ini, memangnya aku punya pilihan lain?

“kau tahu Chianti—Red wine? Atau… Amaretto, Limoncello??

Songjin membuatku membelak. Bukan apa-apa. Hanya saja, aku tidak pernah tahu kalau Songjin mengerti tentang Wine, dia tidak seperti ku.

Wawasannya tentang minuman berjenis itu tidak dimilikinya sama sekali. danlagi, setahuku, Songjin tidak pernah menyukai Wine. Setahuku. Atau itu hanya setahuku saja, dan ternyata selama ini aku salah?

“Ya. kenapa?”

aku menjadi pensaran dengan mimik wajahnya. Tapi kemudian, aku tidak mendapati hal berbeda ketika dia membicarakan hal tersebut. maksudku—dia masih santai memainkan PSP-nya, dan terus menggumamkan nyanyian tidak jelas seperti sebelumnya. “Aniyo—hanya bertanya.” Jawabnya santai.

iya, hanya bertanya. Itu hanya katanya saja asal-asalan. Tapi dua detik kemudian mulutnya terbuka lagi dan membuatku sedikit terkejut mendengarnya. Atau.. lupakan bagian sedikit itu. aku memang terkejut, “Aku mau!”

“HEI!” pekik-ku kencang, secara reflex, tanpa kusadari sebelumnya, “kau gila?”

“Aish~ santai saja, Cho Kyuhyun!” dengusnya seperti terkejut dengan sentakanku sebelumnya. Tapi percayalah, aku yang paling terkejut saat ini. ingat terakhir kali bagaimana reaksi tubuhnya ketika dia meminum minuman beralkohol?

Yeah, itu memang menyenangkan. Park Songjin seperti bukan Park Songjin. Dan sepuluh ribu persen, aku pasti akan mengulangnya semauku kalau wanita barbar ini tidak sedang mengandung.

Satu-satunya cara agar aku dapat melakukan apapun pada tubuhnya, tanpa harus melakukan permohonan, atau perdebatan panjang terlebih dulu, adalah membuatnya mabuk setengah mati. kalau sudah seperti itu, siapa yang paling akan diuntungkan?

Tentu saja aku!

Tapi yang benar saja, aku belum gila hingga membiarkan hal ajaib itu terjadi. setidaknya, walau rencana seperti itu akan selalu ada didalam kepalaku, aku tidak akan merealisasikannya dalam waktu dekat ini.

Dan apa tadi katanya? Santai? isi kepalanya mungkin sudah semakin berkurang. Coba tunjukan padaku, suami mana yang bisa bersantai-santai dan bersikap tenang ketika istri mereka menginginkan mengecap minuman beralkohol ditengah masa mengandung mereka?

Iris telingaku! Hanya suami gila!

“Tidak.” putusku memberi harga mati.

“Tapi, Kyu—sepertinya amaretto terasa cukup—“

“Tidak!”

“Eiy, kau ingat tidak dengan kata-kataku kemarin? Halmeoni depan rumah kita itu, bicara kalau permintaan bay—“

“Aku tidak perduli! aku tidak perduli dengan sebanyak apa liur yang akan menetes. Aku akan mencari dokter terbaik didunia untuk menghilangkan penyakit tolol itu dari anakku nanti! Kalau kau berani menyentuh minuman seperti itu—sekarang. kucincang kau sampai habis, Bodoh!” ancamku pasti.

Dan seiring dengan terkatupnya mulutku, Songjin ikut mengunci mulutnya. dia kembali memainkan PSP-nya, walau dengan wajah tertekuk dan bibir penuh gerutuan.

Biar saja dia merasa kesal. Aku lebih kesal! Setidaknya, dia harus memilah apa yang pantas dan tidak untuk diinginkannya dalam mengidam. sedikit hal yang masuk akal. Mengidam Antipasto pada pukul 3 pagi memang tidak masuk akal.

Antipasto adalah makanan berat, khas Italia yang disini hanya bisa didapatkan pada restoran besar. sedangkan ketika itu, restoran besar mana yang masih buka pada pukul 3 pagi?

Tapi setidaknya, didalam kepalaku Antipasto masih lebih masuk akal dibandingkan Chianti, Amaretto, atau Limoncello. Setidaknya, Antipasto tidak memiliki kandungan buruk yang dapat membahayakan Janin. Sedangkan Chianti, Amaretto, dan Limoncello, memiliki kandungan alcohol tertinggi diantara red wine Italia lainnya.

Songjin tidak akan mampu bertahan lama dengan alcohol sebesar 2% saja. apalagi 20%? Dia bisa pingsan dan tidak akan bangun lagi. lalu bagaimana nasib anakku?

Kalau saja wanita ini memiliki cukup otak untuk berfikir seperti itu, seharusnya dia tidak perlu mengatakannya dan menghancurkan suasana, yang sebelumnya, sebenarnya tidak membuatku merasa jengkel karena harus terjaga dipagi buta. Mencari sepotong Lasagna beku sialan!

“aku hanya bicara. Tidak perlu marah-marah, Kan? Galak sekali—“ desisnya sinis. Tapi terdengar menyedihkan ditelingaku. Atau aku saja yang memang sedang aneh, karena belakangan ini selalu tidak bisa untuk melihat Songjin dalam kondisi seperti itu.

Seperti.. bergumul dengan rasa kecewa, putus asa? Atau apalah itu. sesuatu, sedang terjadi pada tubuhku, dan yang kutahu sepertinya, ini tidak baik.

“Maaf—aku kan juga hanya bicara. Maksudku, minuman seperti itu tidak baik diminum wanita hamil. Maaf, Maaf.” Ujarku menurunkan nada bicaraku. Haah Cho Kyuhyun, kau payah! Kau tahu itu? Payah!

Kuselipkan jemariku, pada ujung-ujung anak rambut kepala Songjin, mengusapnya perlahan, lalu turun pada jari-jarinya, meremas. Membuatnya mau tidak mau, berhenti bermain console, karena satu tangannya sedang kusita, kkk~

“Aku tidak mau Lasagna!”

Tiba-tiba Songjin bicara setelah baru saja satu detik aku memberhentikan mobil didepan sebuah Supermarket 24 Jam yang kumaksud. Aku menoleh cepat dengan kening berkerut kencang, “Apa??!”

“aku tidak mau Lasagna! aku tidak mau!”

Songjin mengatakannya, seperti dia adalah balita yang menolak diberikan susu oleh Ibunya saat sudah waktunya bocah itu meminum susu. Bibirnya mengerucut panjang, dan wajahnya terstel tampak menyebalkan! demi tuhan ini menyebalkan!

“Songjin~!”

“Aku mau Sup Abalone dan Kepiting asparagus!”

“APA?!”

“Sup Abalone dan Kepiting Asparagus!!! Ayo Kyu~ Cari!”

Astaga ya Tuhan.. setelah menggila dengan masakan Italia, dan aku mendapatkan restoran Italia yang buka ditengah malam, sekarang bukan masakan Italia lagi—kemauannya.

YA TUHAN!!

***

Aku tidak lagi ingat, sudah berapa lama aku melakukan hal serendahan ini. aku bahkan tidak lagi perduli dengan kondisi kening yang akan hancur karena berkali kujedukkan pada meja kerjaku.

Asal tahu saja, itu meja kaca. Tapi kepalaku masih juga berdenyut hebat seperti sebelumnya. Dan sepertinya, menjedukannya pada meja kaca pun bukan solusi terbaik.

Suasana ruanganku hening. Atau katakanlah begitu. sebelum Henry—menginterupsi kegiatanku dan dengan wajah polosnya telah berada beberapa jengkal saja dari hadapanku. Aku bahkan tidak ingat, kapan dia masuk kedalam sini, yang aku tahu, tiba-tiba saja dia sudah berada disini.

Didepanku. Seperti hantu. Menenteng beberapa map ditangan dengan wajah polosnya, “ada email dari Seohyun-ssi. Dia bertanya kapan kita akan tepatnya sampai di Lyx, Hyung?”

“akhir pekan ini.”

“…Ah, oke. Lalu untuk ruangan yang diminta, itu—“

“suruh saja dia menyiapkan apa yang sudah kuperintahkan kemarin. Kukira penjelasanku sudah jelas. kecuali kalau terjadi sesuatu dengan isi kepalanya saat itu, sampai dia lupa dengan kata-kataku. Dia baru bisa bertanya lagi.”

Putusku sepihak. Beriringan dengan kepalaku yang berdenyut semakin menjadi, ingin sekali rasanya aku lari dari tempat ini dan pulang. melepas kepalaku untuk diistirahatkan sampai rasa mencekram itu hilang sepenuhnya.

Henry hanya dapat mematung mendengarku bicara. Bocah itu mengangguk dan membuka sebuah buku bersampul hitam beludru ditangannya, “lalu jadwal wawancaramu dengan beberapa media—disana sepertinya akan..”

Tunggu.. “beberapa?” aku bersingut ditempatku. Menyipitkan mataku seminimal mungkin yang dapat kulakukan, “beberapa?”

“Yeah. Beberapa.” Angguk Henry. “Men’s Health, Forbes, People Magazine..”

“Mwoya? Sejak kapan dua majalah terakhir itu ikut? Tunggu.. bukankah itu terlalu banyak? Maksudku—mereka tidak meminta perizinan atau—“

“mereka melakukannya.”

“mereka melakukannya?”

“Yeah.” Angguk Henry semakin yakin. Lalu menunjuk wajahku dengan bukunya, “aku sudah mengatakannya kemarin denganmu, Hyung.”

“Kemarin?” mataku semakin mengecil. Bukan karena curiga lagi namun bahkan jika ada kalimat lain yang tepat yang dapat kubuat untuk menggambarkan betapa tololnya aku saat itu.

Kemarin itu kapan, bahkan aku tidak ingat. Kapan tepatnya aku meng-iya-kan seluruh deretan hal tersebut untuk masuk kedalam jadwal pekerjaanku. Disana. Sial!

“Siwon Hyung dan Gyuwon Noona juga akan melakukannya untuk People Magazine. Seperti kau dan Songjin Noona, Hyung!”

“Apa? Aku dan Songjin?”

“Hyung~!” Henry mengerang gemas—setengah putus asa sedangkan aku hanya dapat menumbukan kembali wajahku pada meja kacaku dan mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi, “Arrasseo. Arrasseo.”

“Arra! sepuluh menit lagi, Hyung—“

“sepuluh menit lagi apa??” aku menggeram kencang dan Henry terlihat mundur beberapa langkah kebelakang.

“rapat.. dengan.. Tuan besar.” ujarnya berhati-hati. Seperti tahu, jika saja terdapat kesalahan pada susunan kata-katanya, maka aku akan segera menggulingkan meja didepan kami—hanya karena mood yang sedang kacau.

Dia meningatkanku tentang rapat akhir tahun yang sebentar lagi akan dilaksanakan bersama dengan seluruh direksi, aku, Appa serta Siwon Hyung. aku hanya dapat meloloskan helaan pendek dari sekian banyak rasa tak karuan yang kurasa.

“… Oke, dua puluh menit. Hanya—dua puluh menit.” Mohonku dengan bersungguh-sungguh. aku membutuhkan waktu setidaknya untuk membuat kepalaku berhenti berputar-putar tak karuan seperti ini.

Mengembalikan kadar konsentrasi yang sepertinya semakin lama, semakin menyusut jumlahnya. Dan membuat rasa kantuk sialan ini segera pergi. semalaman aku tidak bisa tidur, hanya untuk mencari semangkuk sup abalone, dan kepiting asparagus.

Dua makanan brengsek itu kudapatkan di Incheon. Pada rumah makan China 24Jam yang untung saja masih buka. untuk hal itu—aku harus berterimakasih entah kepada siapa. tapi dengan masih adanya kehidupan pada rumah makan itu, setidaknya, Nasibku tidak menjadi semakin mengenaskan.

Henry berdehem pelan, sambil membenarkan letak dasi yang sepertinya baik-baik saja. masih menggantung sempurna dilehernya. Bersamaan dengan hal tersebut, aku sadar bahwa Henry sedang menggeleng.

Tidak bisa. Yeah, tentu saja tidak bisa. Mana bisa aku menggeser waktu rapat besar seperti ini? setidaknya, jika Appa tidak ada didalamnya, aku bisa saja melakukannya, tapi Jadwal Ayahku itu kan lebih mengenaskan dariku. Jadi sepertinya, memang tidak ada pilihan lain.

“Oke, Oke. Bawakan aku Kopi. Sekarang!” perintahku memutus. Karena yang ada didalam kepalaku hanyalah secangkir cairan kental hitam itu sajalah yang dapat membuat, setidaknya mataku bekerja sesuai fungsinya selama beberapa saat walau dalam tekanan.

Dan hal mengejutkan lainnya adalah Henry yang tiba-tiba langsung meletakan sebuah gelas cup dari salah satu kedai kopi tak jauh dari gedung ini. sekali lagi dia membuatku berfikir, bagaimana bisa dia bekerja seperti ninja. “wow, kau cepat.” Aku hanya dapat berkomentar singkat untuk hal ini.

Sedangkan tanganku langsung cekatan menyobek tutup pada gelas tersebut seperti yang ada pada tanda dan meminumnya sebanyak yang dapat kusedot dalam satu tenggakan.

Tanpa merasa perlu untuk setidaknya menunggu kerja kafein pada tubuhku, aku bangkit dan mengancingkan jasku. Mengangguk pada Henry dan berjalan beriringan menuju ruang rapat disamping ruang kerjaku.

** **

“Kau  terlihat kacau, kau tahu?” komentar Siwon Hyung selepas dia menghabiskan seluruh makan siangnya. Makan siang kami. Makan siang yang terlambat, karena dilakukan pada pukul lima sore. tapi ini lebih baik dari pada sama sekali tidak lapar mengingat kami—tidak pernah memiliki kebiasaan sarapan untuk mengawali hari.

Aku hanya menggerakan kepalaku hingga menyerupai anggukan, hanya untuk menjawabnya. Apapun itu, sebaiknya itu terlihat seperti sebuah persetujuan, bahwa aku memang merasa seperti itu pada tubuhku.

“semalam Songjin melakukannya lagi.” desahku sebal, menghabiskan Jus jeruk-ku, sedangkan Siwon Hyung terbahak karenanya. Entah pada bagian mana, kalimatku terdengar lucu.

“Apalagi sekarang?”

“Lasagna.” tuturku ditengah tenggakanku dalam menghabiskan Jus-ku. Siwon Hyung menggerakan bahunya asal dengan bibir mencebik, “itu mudah. Lasagna beku dijual dimana-mana.”

“Ya, tapi itu hanya awalnya. Setelah sampai ditempat yang kumaksud—dia mengerjaiku. Meminta Sup Abalone dan Kepiting Asparagus.”

“Abalone?” Pria didepanku mengerjab beberapa saat. Lalu setengah detik setelahnya seperti setelah menimbang ini dan itu dia menganggukan kepala seperti sedang mengiyakan sesuatu yang baru saja terbentuk didalam kepalanya, “Berkelas juga mengidam Abalone. Kau merogoh berapa Won untuk makanan mahal begitu?” sindirnya.

Sedangkan disini, aku tidak perduli berapa Won yang telah kukeluarkan semalam, hanya untuk semangkuk Sup Abalone, makanan yang menurutku sangat biasa saja, tapi diagungkan oleh sebagian orang, karena mereka beanggapan bahwa Abalone merupakan menu tak tersentuh, yang hanya dapat mereka nikmati pada perayaan besar saja.

Aku tidak peruli. Demi Tuhan, aku tidak perduli. yang membuatku kesal bukan karena Songjin meminta Sup Abalone seharga 500.000 Won, tapi kenyataan bahwa dia mempermainkanku malam itu. bagaimana tidak, setelah kami sampai didepan Supermarket yang menjual Lasagna beku tiba-tiba saja keinginannya berubah secepat membalikan telapak tangan.

“kau tidak tahu, dia hanya menghabiskan waktu lima detik saja pada makanan sialan yang dimintanya itu! lalu setelah itu menyingkirkannya jauh-jauh dan berkata kalau makanan-makan itu mengganggu penciumannya! Dia sudah gila Hyung! itu jam tiga pagi! Aku bisa gila kalau Songjin terus seperti ini!!” runtukku setengah mengamuk. Mengacak rambutku berkali-kali frustasi.

Dan seperti tidak mengerti dengan penjelasan panjangku tadi, bahwa Songjin sedang mempermainkanku dengan hanya menyentuh mangkuk-mangkuk makanan yang diinginkannya itu, menyicipi sedikit kuah pada masing-masing menu, dan kemudian menyerahkan makanan-makan itu untukku saja, Siwon Hyung malah tersenyum geli dan berkata dengan nada yang dipikirnya, mungkin akan terlihat menggemaskan.

Sayang sekali bagiku itu menjijikan. Dan wajah yang dipasangnya ketika bicara dua kata menggelikan itu, “So Sweet~” ujarnya. Dua tangannya terkatup rapat, diperluknya didepan dada.

Itu menjijikan.

“Hyung~” aku menggeram pelan. menyamarkannya dalam suara serak pendekku. Pria ini belum pernah dijadikan samsak atau apa?

Siwon Hyung kembali terawa. Kini aku dapat memastikan bahwa terdapat unsur rasa Kasihan pada tawa yang dilontarkannya—padaku.

Sedangkan aku lebih memilih mengamati sekitarku yang ramai. Sebagian besar pengunjung café ini adalah para pekerja kantoran yang tidak mau terjebak dalam kemacetan panjang Jalan rata Seoul, sehingga sama seperti kami, mereka memilih untuk bersantai sambil bertemu dan berbicang-bicang ringan dengan orang-orang yang mereka inginkan.

Café ini cukup nyaman. Walau tampak sedikit sesak, karena pengunjung yang melebihi kapastitas ruangan. Beberapa dari mereka dengan terpaksa harus mengantri untuk membawa pulang pesanan mereka hanya karena mereka tidak mendapatkan tempat untuk duduk.

Semakin sore, tempat ini semakin ramai. Begitu yang kutahu. Sedangkan bagiku, makanan disini tidak begitu istimewa. Hanya lokasi yang kebetulan strategis—hingga membuat tempat ini banyak diminati.

“Kau tahu, aku selalu ingin merasakan hal seperti itu. tapi kan, kau tahu sendiri. aku tidak bisa,” Siwon Hyung bicara. Nadanya kini, tidak sedikitpun terselip ejekan. Bahkan aku mendapati bahwa pria berlesung pipi ini, sedang merasakan sesuatu yang membuatnya iri.

Tapi percayalah, hal seperti ini, sepertinya tidak ada yang perlu untuk dibuat iri. Terpaksa bangun dipagi buta hanya untuk mencari sesuatu yang kadang tidak mendapatkan penghargaan sebanding dengan kerja keras untuk mendapatkannya, tidak menyenangkan. Rasanya payah, dan terkadang itu membuatmu ingin membanting sesuatu saking kesalnya.

Wajah Siwon Hyung mendadak berubah. Sedikit sendu walau tidak ada air mata atau tundukan pilu. Bahwa mengingat fakta, Gyuwon tidak dapat mengandung—sebenarnya itu tidak mengejutkan untukku.

Efek pengobatan dan segala terapi yang Gyuwon lakukan dalam proses pengobatan gagal ginjalnya dulu, membuat kantung rahimnya bermasalah dan kering. Hal tersebut berakibat pada satu hal fatal.

Bahwa Gyuwon hanya memiliki kemungkinan 10% untuk mengandung.

Bisa saja dipaksakan, tapi sudah pasti terdapat efek buruk dibaliknya. Dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika Gyuwon tetap memaksakan untuk memiliki anak dari rahimnya sendiri adalah kematian. Penjelasan termudah,efek keseluruhan pengobatan tersebut adalah, tubuh Gyuwon tak lagi sekuat dulu untuk melakukan banyak hal yang selama ini dikiranya mampu dia lakukan.

Tubuh Gyuwon tidak akan sanggup menahan kemungkinan terburuk dari mengandung. Maka Gyuwon hanya memiliki dua pilihan saja. tetap ingin memiliki anak dari rahimnya sendiri, tapi dengan kemungkinan terburuk itu, atau dia bisa memiliki anak dengan cara lain. Seperti tanam benih.

“ini bukan jaman batu. Kau bisa mendapatkan anakmu sendiri dengan inseminasi. Dan kukira, sekarang sudah sangat lazim penggunaan jasa Ibu pengganti. Maksudku, tetap dengan pembuahan yang kau dan Gyuwon lakukan, tapi menggunakan jasa rahim wanita lain.”

“aku paham dengan hal itu! tapi Gyuwon tetap tidak mau melakukannya! Dia malah membodohiku ketika aku menawari rahim wanita lain untuk mengandung bayi kami. Maksudku— aku tidak segila itu untuk memiliki anak, sampai dengan sukarela meniduri wanita lain. ini masih dengan benih aku dan dia! kami hanya meminjam rahim wanita yang lebih kuat. Itu saja maksud tawaranku. Tidak lebih. aku tidak paham dimana letak kesalahannya. Kau paham dengan ini??”

Author’s

Kyuhyun berjalan santai, menaiki undakan untuk sampai pada ruang santai rumahnya. Tangan kanannya, menenteng sebuah paper bag berisi Spaghetti, Ravioli, dan Lasagna beku, dalam jumlah cukup banyak, sedangkan tangan kirinya membawa makanan matang bagi Songjin.

Pria itu separuh yakin, bahwa istrinya pasti belum memakan apapun untuk makan malamnya. dan anggapannya itu runtuh seketika, saat mendapati Songjin sedang menikmati semangkuk besar sereal—mengunyah sambil sibuk menonton televisi dengan decak kagum sesekali terlontar.

“Ini pekerjaanmu seharian ini?” sindir Kyuhyun sinis. Pria itu seperti tidak terima, bahwa dirinya setengah mati membuat tubuh tetap terjaga, untuk bekerja sedangkan Istrinya hanya duduk-duduk santai, makan seperti babi sambil menikmati siaran serial Drama.

Kyuhyun tidak tahu lagi, apakah definisi keadilan yang selalu diagungkan Tuhan, jika melihat pemandangan seperti ini. rasanya kata adil itu jauh dari ekspektasinya saat ini.

Kyuhyun hanya dapat menghela nafasnya panjang. Berjalan terus meletakkan dua tentengannya pada meja mini bar didapurnya, dan lalu terhuyung kembali, menghempaskan diri pada sofa yang sama dengan yang Songjin duduki.

Gelombang besar membuat tubuh Songjin ikut bergerak karenanya. Tapi toh, itu sama sekali tidak membuat Songjin mengurangi sedikit saja konsentrasinya pada tontonan dihadapannya. Seperti Kyuhyun adalah makhluk tembus pandang takasat mata.

Lagi lagi Kyuhyun hanya dapat menyeruakkan kekesalannya dengan menarik kasar dasi dilingkar lehernya. Melepasnya cepat dengan emosi, dan lalu melemparkannya asal. Sesekali melirik pada Songjin, tapi Istrinya itu masih juga acuh.

Yaah—setidaknya, sambutan sederhana seperti pasangan menikah pada umumnya, ketika salah satu dari mereka baru saja kembali setelah menyelesaikan aktivitas panjang mereka, itu bukanlah sebuah permintaan yang muluk-muluk, kan?

Bukan. hanya Park Songjin yang terlalu acuh, atau malah Kyuhyun yang terlalu gengsi untuk memulai? Sehingga membuat pria itu harus puas dengan sambutan suara decakan kagum Songjin, ketika Aston Kutcher menodongkan Pistolnya pada Katherine Heigl saat wanita itu tahu bahwa suaminya adalah seorang pembunuh bayaran.

Lucu bahwa hingga saat ini, terkadang mereka masih tampak seperti pasangan baru yang masih juga malu-malu untuk melakukan Skinship—tanpa keduanya sadari.

Songjin kemudian melirik Kyuhyun, dan berdecak mencibir. Suaminya itu tidak sekeren, tidak setinggi dan tak juga setampan Aston Kutcher. Dan entah bagaimana, rasanya itu membuatnya geli saat membayangkan jika tiba-tiba saja Kyuhyun berkata bahwa sebenarnya pekerjaannya selama ini adalah sebagai pembunuh bayaran.

Dan Itulah yang membuatnya sangat sibuk dan selalu meninggalkannya selama ini.

Mendapati pandangan tolol Songjin, Kyuhyun menaikan wajah nya tinggi, “Apa lihat-lihat?” gerutunya sebal. Setidaknya, harusnya Songjin jangan memberi ekspresi seperti itu kalau tidak ingin bersikap manis dengannya.

“Ani.” Geleng Songjin santai. meletakan mangkuk serealnya, lalu memungut dasi Kyuhyun yang terdampar asal dikarpet dibawah meja. Songjin kemudian berjongkok dan membantu Kyuhyun melepaskan kaus kaki serta kemudian mengambil jas yang Kyuhyun letakan sembarangan di bagian lain sofa.

Kyuhyun tampak terkejut untuk beberapa saat. Dalam beberapa detik, pria itu berfikir bahwa ada kesalahan,yang terjadi didalam isi kepala Songjin, hingga tiba-tiba wanitanya itu bersikap seperti apa yang diinginkannya.

Tidak ada perlawanan, sanggahan ataupun omelan. Tidak ada kalimat ketus dan tidak ada jambakan atau apapun itu—pada hal yang dapat menggambarkan tepat bagaimana seorang Park Songjin begitu barbar biasanya.

Songjin hanya melenggang pergi dengan santainya tanpa merasa perlu untuk melakukan banyak hal tersebut. seperti Kyuhyun, tidak melakukan hal apapun yang dapat membuatnya kesal setengah mati. “Hey!” Kyuhyun mengangkat kakinya, menghalangi langkah Songjin, lalu memperhatikan seksama wajah Songjin.

Tidak ada apapun yang membuat wanita itu dapat dikatakan aneh? wajahnya biasa saja. tetap berbentuk oval dengan pipi yang seperti akan tumpah. tidak ada make up dan terpenting ialah tak ada raut kesal.

Tidak ada dengusan, tidak ada omelan, tidak ada sindiran atau desisan sinis ketika Songjin melakukannya. Pun sampai wanita itu pergi meninggalkannya dengan tangan penuh ‘perkakas’ milik Kyuhyun.

Semakin merasa aneh, Kyuhyun menggapai satu tangan bebas Songjin diudara dan kemudian menarik wanitanya lagi hingga berada didepannya percis. Namun setelah beberapa saat mereka pada posisi seperti itu, Kyuhyun sendiri yang kehilangan kata-katanya. Yang dilakukannya hanya diam tanpa mengatakan apapun. Dia bahkan tidak tahu, kenapa tiba-tiba dia menarik Songjin mendekat. Aneh. “kau kenapa?” Songjin memecah keheningan.

Sedangkan Kyuhyun masih tampak rancu dengan sekitarnya. Menggelengkan kepala beberapa kali seperti pikiran-pikiran konyolnya dapat hilang setelah kepalanya itu bergerak tak beraturan seperti tadi. “Aniyo~” Kyuhyun bicara. Kepalanya menjadi miring sekian derajat hanya untuk memperhatikan kembali wajah Park Songjin.

“kau mau mandi, atau makan dulu?” Tawar Songjin. Mengusap rambut Kyuhyun diatas dahinya lembut. Beberapa detik, Kyuhyun menjadi tak mengerti dan hanya sebuah argument bahwa dia baru saja melakukan kesalahanlah, yang membuat Songjin bersikap berbeda dengannya.

“ada Sup ayam, Khao Khai Chiao dan nasi Goreng Thailand.” Songjin berkata lagi—menawarkan jasanya. membuat Kyuhyun tampak lebih terkesima. Disamping menikmati apa yang Songjin lakukan, Kyuhyun masih terus berfikir bahwa kemungkinan argument-nya telah berada pada titik bahaya. Mungkin 80% perkiraannya tepat.

Hanya saja, kesalahan apa yang dilakukannya kini, tanpa sepengetahuannya?

Kyuhyun menyipitkan matanya curiga. Atau mungkin, Songjin-lah yang baru saja melakukan kesalahan, dan sikap manisnya ini adalah cara wanita ini menutupi segalanya. Namun Songjin terlalu cerdas jika hanya untuk mengira, bahwa Kyuhyun sedang berfikiran macam-macam, “kau tidak pernah sekali saja berfikir bahwa aku sedang mencoba melakukan tugasku, ya? sensitive sekali!” decak Songjin sebal akhirnya. Wanita itu menghempaskan tangan Kyuhyun dan akhirnya benar-benar menjauh.

“akhirnya marah juga—“ gumam Kyuhyun sepelan hembusan angin, sambil menggosoki tengkuknya, merunduk menyembunyikan tawanya. Setelahnya, Kyuhyun hanya dapat terdiam bingung sambil menonton wajah tampan Aston Kutcher pada televisinya, “ini bukan karena kau kan? Kau tidak lebih tampan dariku, sampai bisa membuat istriku bertingkah manis dan berfikir lurus? Cih!”

**

Selepas mandi, Kyuhyun mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil. pria itu sudah berpiyama lengkap. Piyama bergambar kelinci dengan warna biru. Sedangkan Songjin memakai pakaian yang sama dengan gambar kelinci pink besar ditengahnya.

Couple t-shirt, Couple Pajamas, Couple Shoes atau apapun itu yang bertitik point pada sesuatu yang kembar sebenarnya tidak benar-benar Kyuhyun sukai. Dia nyaris mengamuk, ketika Songjin memaksanya untuk masuk kedalam sebuah toko yang menjual berbagai benda bagi pasangan.

Itu menggelikan. iyakan?

“Hey, aku tidak harus menggunakan ini kan?” gerutu Kyuhyun tidak terima. Bukan karena pria itu pada akhirnya menyetujui untuk membeli salah satu dari sekian banyak koleksi Couple Things, lalu dia mau menggunakannya kan?

Dia hanya setuju untuk membeli agar supaya Songjin dapat menutup mulutnya dan mereka segera keluar dari toko laknat itu. Kyuhyun bicara, sambil tangannya mengacak lemarinya sendiri. mencari apapun itu, karung goni pun oke, asal tidak pakaian seperti ini.

Seakan menggunakan pakaian itu akan membuat harkat martabatnya jatuh pada titik terendah, walau kini tak ada satupun orang yang tahu selain dua makhluk itu sendiri bahwa mereka sedang mengenakan pakaian kembar. Toh tak ada juga yang merasa berkepentingan meletakan kamera pengintai untuk menonton bagaimana konyolnya Kyuhyun ketika menggunakan pakaian tersebut!

Sedangkan Songjin hanya melirik Kyuhyun dari tempatnya sebal, namun tidak melakukan apapun atas dasar rasa geramnya. untuk beberapa alasan, Songjin lebih memilih untuk menutup mulutnya, dibandingkan berbicara dan kemudian malah membuat perdebatan panjang. Setelah lima menit, Kyuhyun mendapatkan celana tidur dan sebuah kaus polos abu-abu untuk pakaian santai rumahannya. Kemudian barulah dia menghampiri Songjin diranjang mereka.

Songjin kembali membuat Kyuhyun tercengang, ketika pria tinggi itu mendapati Istrinya, sedang berkutat dengan salah satu buku tebal, yang sudah dipastikan bukan biografi seorang Kimora Lee Simmons atau Alexander McQueen.

Lagi-lagi, Kyuhyun mengamati Songjin dalam diam. seribu persen kini, dia begitu percaya bahwa sesuatu terjadi. dan sepertinya, ini bukan saat yang tepat jika hanya berasumsi sedangkan kondisi Songjin sudah terlihat mengerikan.

Yeah, setidaknya membaca buku dengan perkiraan tebal sebanyak 560 halaman, dan mengandung kalimat-kalimat medis itu membuat Kyuhyun begitu yakin, bahwa Songjin sedang mengalami sesuatu.

Sambil mengambil console didalam laci nakasnya, Kyuhyun membuka mulutnya, “Akhir pekan ini, pembukaan perdana Lyx Ressort.” Ujarnya. Sedangkan Songjin menggumam tak menentu untuk menjawab pernyataan Kyuhyun sederhana.

“kau sudah menyiapkan semua barang-barangmu? Jangan lupa periksa lagi keperluanmu. Jangan ada yang tertinggal apalagi tercecer. Jangan menyulitkan dirimu sendiri nanti disana.”

Kyuhyun bicara, membuat perhatian Songjin teralihkan sementara. Wanita itu menatap suaminya polos—sedikit tercengang, walau pada akhirnya ekspresi datarnya lagi lah yang dimunculkannya “aku ikut?” tanyanya konyol.

Ah, ya tentu saja, apa dia pikir Kyuhyun mau pergi sendiri untuk acara sebesar ini? “Aigoo, ada apa dengan pertanyaanmu? kau ingin aku datang tanpa pasangan? Maksudku— aku pemilik Resort itu Songjin! Dan datang pada pesta peresmianku sendiri, seorang diri? begitu?” tanya Kyuhyun tak percaya. Tega sekali Songjin padanya.

“Hmm—“ bahu Songjin melemas. Sekarang Kyuhyun semakin tak percaya, “Songjin, ini Miami! Musim panas dibulan desember. Bukannya kau senang dengan musim panas?”

“Aku suka semua musim.” Bantah Songjin cepat. Mematahkan pernyataan Kyuhyun hingga pria itu harus kembali memutuar otak untuk alasan selanjutnya, “disana banyak wanita sexy berbikini. Kau tidak takut aku akan terpincut dengan salah satu dari mereka?” goda Kyuhyun kemudian. Namun Songjin kembali tidak menanggapinya seperti apa yang dibayangkannya.

Wanita itu malah sedikit geli bercampur jijik ketika Kyuhyun berkata bahwa dia  mungkin saja akan tersesat ditengah lautan wanita berbikini yang sedang melakukan Tanning.

“Yeah, lalukan saja kalau itu maumu.” Tukas Songjin polos, yang sebenarnya lebih berinti pada memberikan ancaman. Lakukan saja kalau itu yang pria itu mau, lalu setelahnya, siap-siap menerima hukumannya. Tapi Cho Kyuhyun terlalu pusing dan lelah untuk sekedar menyadari bahwa yang Songjin katakan adalah tada larangan tajam.

Pria itu mendengus tak percaya, Songjin dapat semudah itu bicara untuk topic seberbahaya ini. mengalihkan kekesalannya, Kyuhyun mulai memainkan psp-nya dengan gemas. Menekan tombol-tombol disana bertenaga. “Arra! Jangan menyesal kalau aku bertemu dengan wanita sexy dengan dada lebih besar darimu dan bokong yang penuh!” Kyuhyun mengamcam, yang kemudian, lagi-lagi tak mendapatkan respon tepat dari Songjin.

** **

Pukul dua dini hari. Seperti biasa, Songjin tidak juga dapat terlelap dan malah ingin memakan sesuatu. Sekarang, wanita itu sangat ingin memakan Hakau. Dia tahu restoran dekat rumahnya, yang menjual makanan itu. tapi dia ragu, apa Kyuhyun akan membolehkannya keluar sendirian, sepagi ini dalam keadaan seperti ini?

Tentu saja tidak! Kyuhyun tidak akan membolehkannya.

Tapi Kecuali ……… jika pria itu tidak tahu!

Tepat sekali. Kyuhyun tidak perlu tahu bahwa dia pergi. kalau Kyuhyun tidak tahu, maka semuanya akan aman terkendali.

Maka setelahnya, Songjin terkekeh puas atas rencananya sendiri. bangkit dari tidurnya dan beralih menuju ruangan lain pada kamarnya, yang berisikan pakaian, sepatu serta perlengkapan asesoris lainnya. Dia mengambil mantel dingin, sepatu boots, dan Shawl.

Saat melewati Kyuhyun, Songjin tampak senang setengah mati karena Kyuhyun masih terlelap. Lima jarinya digerakan didepan wajah Kyuhyun dan menyengir lebar ketika Kyuhyun tidak memberikan reaksi apapun. bagus. Setidaknya, ini awal yang bagus.

Langkahnya lalu berjingit menuju pintu keluar, kunci mobil sudah berada ditangannya. Namun dua langkah lagi menuju pintu, sesuatu yang empuk membuatnya terhuyung. Secepat kilat Songjin menoleh dan mendapati bantal dibawah kakinya.

Dari tempatnya, Kyuhyun sedang melipat dua tangan didada memperhatikan Songjin seksama. Pria itu baru saja mendeklarasikan untuk perang batal atau apa? Seenaknya melempar seperti itu! “Yaak!”

“mau kabur kemana kau?” tanya Kyuhyun tanpa berbasa-basi dulu. pria itu menatap Songjin menuntut. Meminta penjelasan atas sikap wanita itu yang tak tepat.

Sejak tadipun Kyuhyun tahu bahwa Songjin tidak bisa tidur. Dan kemudian merencakan hal busuk yang dikiranya tidak Kyuhyun ketahui. Kyuhyun diam, hanya ingin tahu sejauh mana Songjin akan bertingkah. “—i..itu.” Songjin mulai gugup. Pandangan tidak focus dan tangan mengarah kemana-mana sesukanya. “aku mau..”

Cho Kyuhyun’s

Enam miliyar orang di seluruh dunia ini, dan aku jatuh cinta pada wanita yang tidak pernah mau mengalah dalam berdebat. Paling suka mengambil alih control, walau kadang berakhir konyol. Bermulut tajam, tapi kadang tidak seimbang dengan kemampuan otak yang paspasan?! Haah—.

Benar-benar aneh dan merepotkan.

Lucunya, aku tidak pernah merasa sesenang ini, direpotkan oleh orang lain selain diriku sendiri. Ah—tapi aku lupa. Sejak kapan tepatnya Park Songjin pernah kuanggap sebagai orang lain untukku.

Aku hanya dapat mengernyit ketika Songjin lagi-lagi memasukan Hakau—entah keberapanya itu, kedalam mulutnya. aku yang hanya menontonnya saja sejak tadi, menjadi sangat kenyang.

Karena Songjin seperti penyedot debu, menghabiskan seluruh hakau pada wadah-wadah bamboo yang tersedia. jika saja dalam satu kotak terdapat tiga buah, maka secara akumulasi, 15 Hakau telah dibabatnya seorang diri.

Yang aku katakan seorang diri itu benar-benar tepat tanpa tambahan apapun. Songjin memang seperti orang yang belum makan selama 15 tahun hingga mampu menghabiskan 15 hakau dalam waktu secepat ini. dan selama masa mengidamnya, aku kira inilah kali pertamanya menghabiskan apa yang diinginkannya.

Biasanya Songjin hanya bernafsu besar dengan tenaga kurang. berkata ingin ini dan itu. anu dan ini, tapi pada akhirnya, semua yang dia minta akan berakhir masuk kedalam perutku. Dia hanya tanpa-rasa-bersalah, menjajal dua tiga sendok dan kemudian tanpa-rasa-bersalah lagi, melemparkannya padaku. tidak berperikemanusiaan.

Bertahan ditengah malam setelah seharian bekerja dan pulang, kemudian menghadapi mood istri yang kacau bagai telah dihantam badai Katarina saja sudah sangat melelahkan. Lalu dipaksa untuk mengantar kesini dan kesitu tanpa melihat keadaan dan kondisi. Mengemudi ditengah rasa kantuk hanya untuk mencari hal-hal konyol. Demi tuhan, kalau ini hanya terjadi padaku saja, aku akan menuntut wanita didepanku ini sekarang juga!

“Apa?” aku menajamkan pendengaranku. Pada perkataan Songjin untuk kesekian kalinya, aku terkejut setengah mati, “aku mau lagi.” ucapnya dengan wajah polos bersamaan dengan cengiran khas-nya.

Lihat! Aku tidak salah dengan menyebutnya penyedot debu kan?

“kau sudah menghabiskan lima wadah dan kau mau lagi?” mataku begitu saja memicing. Memperhatikan wadah-wadah kosong disisi meja kami dan wajah Songjin bergantian tidak percaya.

Yeah, aku paham kalau Songjin memang sedang mengandung. Dan Wanita mengandung, biasanya memiliki porsi makan yang meningkat. Tapi ini lain daripada yang lain. Porsi makan Songjin melonjak naik dengan mengejutkan.

Jika dibuatkan grafik, maka garis yang berada pada angka 3—untuk hitungan kasar pola makan normalnya, melonjak naik pada angka 10 secara drastic. Kalau aku tidak jantungan, aku pasti sangat luar biasa selama ini.

“ini enak, Kyu!” bela Songjin bagi dirinya sendiri. jarinya mulai memainkan sumpit dan menyodorkan sebuah Hakau sisa terakhir diwadah miliknya padaku, “aaa!”

“Shiero!” tolakku mentah-mentah. Menjauhkan wajah dari jangkauan tangan dan sumpit milik Songjin, lengkap dengan kening yang berkerut memandanginya. Dia ini kenapa?

“coba dulu. aku tidak bercanda saat berkata ini enak! Ini benar-benar eeenaaak!” komentar Songjin berlebihan. Kalau rumah makan China ini butuh seseorang untuk iklan mereka, maka aku akan menyodorkan Songjin langsung tanpa berbasa basi dulu.

“untukmu saja, sudah.” Aku menolak lagi. aku juga menggelengkan kepalaku berkali-kali. Tapi Songjin terus menyodorkan makanan berisi udang tersebut kemulutku, walau aku sudah menggeleng berjuta kali sambil mengatakan tidak, Songjin tetap akan membuatku memakan makanan itu, apapun yang terjadi.

Songjin tidak pernah mau sedikitpun kalah. Tidak pernah. Jadi sebenarnya, percuma saja aku mendebatnya. Hanya saja, kadang aku merasa mendebat apa yang Songjin utarakan adalah hal termenyenangkan karena aku tahu walau Songjin tidak pernah mau kalah, atau bahkan merasa kalah, dia tetap akan kalah jika sudah berhadapan denganku.

Tapi ya memang seperti itu. kadang aku selalu kembali pada alasan awal, bahwa Park Songjin tidak pernah mau kalah. Dan salah satu hal yang membuatnya senang biasanya adalah kemenangan. Jadi, aku ini terhitung suami yang baik. karena walau bagaimanapun tampak bodoh dia didepanku, beberapa kali, aku akan dengan besar hati mengalah.

Hanya agar supaya istriku merasa senang. Aku romantis kan?

“kau akan menyesal seumur hidup kalau kau tidak membuka mulutmu dan memakan hakau ini.” ancam Songjin seperti aku akan takut dengan kata-katanya. Atau.. apa aku harus ber-tingkah pura-pura takut, hanya untuk kembali membuatnya senang? Eish~

Sambil menghela nafas panjangku, aku membuka mulutku dan dalam setengah detik, Hakau itu sudah berpindah lokasi, berada didalam mulutku.

Hal yang mengejutkan adalah, Songjin tidak bercanda dengan kata-katanya tadi. bahwa Hakau ini memang enak. Dan sialnya, dia sangat puas setelah mendapati wajahku yang tampak-menikmati-makanan-hasil-cekokannya. “Tsk, Arra. Ini enak.” Kataku singkat.

Senyuman sinis menjawab kata-kataku tadi. Yeah, nikmati saja kemenangan kesekian kalinya milikmu itu, Bodoh!

Dan tanpa menunggu sampai makanan itu habis masuk melewati tenggorokanku, aku sudah mengangkat tanganku untuk memanggil pelayan. Memesankan tiga porsi lagi untuk kami. Dua untuk Songjin dan satu untuk aku.

“Omong-omong…aku serius dengan kata-kataku tadi, Songjin.”

Aku membersihkan sudut bibirku yang tadi sedikit terkena tetesan air dan minyak wijen dengan selembar tissue. Songjin didepanku, hanya mengabaikan kata-kataku dan memainkan ponselnya, sambil menunggu pesanan kami selanjutnya datang. “Songjin~” panggilku mengulang.

Songjin hanya menanggapiku dengan gumaman-nya saja, “Hmm?” sahutnya, tanpa memalingkan wajahnya padaku sedikitpun.

“aku serius. lihat aku dulu.”

“Hmm? Waeyo?” dia baru mengangkat wajahnya. Masih juga menampilkan wajah polosnya yang membuat aku mati-matian menahan kesal. Dia ini hanya sedang berpura-pura tidak tahu! aku juga tidak tahu apa motivasinya melakukan hal ini terus menerus.

Apa membuatku kesal, juga termasuk dalam daftar mengidamnya? Brengsek!

Kupenjamkan mataku sesaat sambil juga menenggelamkan kembali rasa kesal diubun-ubunku. Hal yang terus kuingat adalah, ini tempat umum. Dan aku sedang tidak berminat untuk membuat keributan, ditempat umum.

“kau harus ikut denganku besok lusa.”

Aku memutuskan untuk bicara, tanpa memberikan pilihan apapun untuknya. Setidaknya, kalau dia cukup pintar untuk mencerna, aku sedang tidak memberikannya kesempatan juga untuk menolak. aku mau dia ikut bersamaku! Semudah itu saja, kenapa harus dibuat repot sih?

Bibir Songjin mencebik dan kening mulusnya mengkerut. Menyatukan alis matanya seketika, “kenapa harus?” tukasnya penuh ekspresi kebingungan. Dan aku tidak tahu, bahwa ini adalah cara terbarunya untuk membuatku tampak bodoh dan bingung disaat yang sama. Sialan sekali dia ini!

“karena memang harus!”

“kenapa?”

“Yaa… karena.. memang sudah seharusnya begitu.” jawabku kelimpungan setengah mati. sebenarnya, alasannya mudah saja. aku ingin menghabiskan waktuku bersamanya. Aku tidak ingin lagi, menghabiskan waktu lebih dari 72 Jam seperti yang kulakukan terakhir kali tanpa dirinya, karena kutahu rasanya tidak menyenangkan. Hanya semudah itu, kenapa dia juga tidak mengerti sih? Kenapa harus aku jelaskan secara rinci, kenapa aku ingin dia ikut? dia tidak sebodoh itu kan?

Tepat saat Songjin akan membuka mulutnya lagi, pesanan kami datang bersamaan dengan seorang pria berwajah ramah dengan mata yang hanya sebesar benang jahit. Tipis.

Dia tersenyum lebar dan meletakan seluruh pesananku, lalu membungkuk dan pergi. sebelum Songjin mendapatkan Hakaunya lagi, aku lebih dulu menyimpan tiga wadah Hakau itu dengan tanganku. Memeluknya. Tidak perduli bahwa beberapa pasang mata sedang memperhatikanku, dan berfikir bahwa aku pria serakah dan pelit yang tak mau berbagi dengan seorang wanita.

“Yaak!”

“Songjin—!” aku memulai dengan suara rendahku. Berdehem dan menatapnya lekat, “kita buat perjanjian. Kalau kau ingin kita tetap pergi ke Florence-mu, untuk Roberto Cavalli— apalah itu kau menyebutnya. Aku tidak perduli. —kau harus ikut denganku, besok lusa. Eotte?”

“Teknisnya, aku tidak benar-benar memaksa agar kau bisa menemaniku. Sebenarnya. aku tahu kau sibuk. super duper sibuk. jadi, pinjamkan saja aku Black Credit Card-mu, Eotte?”

Sialan! “Songjin!” aku melotot lebar. wanita ini benar-benar! yang ada dikepalanya itu hanya Black Credit Card saja, dan tidak pernah berganti sejak dulu! Astaga!! “Aku serius, Songjin!!”

“Aku juga~” erangnya tak mau kalah. “mana adil?” soraknya tiba-tiba kencang, seperti sedang menonton pertandingan sepak bola. Aku sendiri terkejut, namun bukan pada teriakannya. Pada pertanyaannya yang mengatakan bahwa aku tidak adil? “bagian mana yang menurutmu.. tidak adil?” mataku memicing. “dan sejak kapan kau jadi tidak tertarik dengan Miami? Karena setahuku, walau tidak dapat berenang Park Songjin akan tetap seperti orang gila saat ditawari pergi ketempat dengan pantai yang indah?”

Aku semakin memicingkan mataku, curiga. Tubuh Songjin menjadi sedikit kaku, walau tak lama, bahunya terkulai lemas. Kepalanya tertunduk dan lagi lagi dia memainkan sumpitnya, “kenapa namaku masih juga Park Songjin?” gerutunya.

Astaga!

Ayolah, aku ini baru saja akan memulai mengulitinya. Kenapa dia membuatku jadi tidak focus dan malah ingin tertawa seperti ini? “Songjin~” erangku. Dan Astaga! sejak kapan aku bisa jadi selemah ini dengannya? Pasti ada yang salah denganku.

Songjin mengangkat wajahnya dengan pipi menggelembung dan bibir yang mengerucut. Dia tampak kesal. Maksudku—benar-benar kesal. Tapi aku juga tidak tahu, bagaimana bisa aku malah menikmati ekspresinya saat ini? “Yah!”

“bukannya namaku seharusnya bukan Park Songjin lagi?” wanita ini menggerutu lagi. aku semakin tidak bisa menutupi cengiranku yang lama kelamaan menjadi sebuah tawa, “serius, Songjin!”

“Aku juga serius, Cho Kyuhyun!!”

“Ah—memangnya kau ingin kupanggil apa??”

Songjin terdiam. Mulutnya bergerak, tapi tidak mengeluarkan suara apapun sedangkan tak lama menjadi bungkam. Dia lalu menarik tanganku yang melindungi Hakau kami sejak tadi dan berusaha mengambil satu porsi makanan ini. “Apa? Kau ingin kupanggil apa memangnya?” ulangku bertanya. Menahan wadah bamboo yang sedikit lagi akan berpindah tangan. “Cho Songjin, begitu?”

Satu alisku terangkat bersamaan dengan sudut bibirku yang ikut tertarik, Membuat suatu senyuman tersendiri.

Songjin mendecah. Lalu mendesis dan mengerling sinis padaku. tangannya menarik wadah bamboo ditanganku tanpa ampun, “minggir—ini Hakau-ku!!” omelnya seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya.

Aku semakin tersenyum menghadapinya, “iya?”

“APA SIH?” sewotnya tiba-tiba.

“Oh, iya. jadi begitu.” putusku sepihak dengan senyuman semakin melebar.

Untuk beberapa hal, aku selalu merasa bahwa hal seperti ini yang mungkin membuatku tergila-gila dengan wanita ini. Songjin adalah satu-satunya wanita yang tidak perduli atas apapun dan dengan semaunya berteriak-teriak seperti manusia rimba didepan wajahku langsung.

Mampu berkata tidak, disaat semua wanita pasti akan mengiyakan apapun yang kukatakan. Dan akan jual mahal dulu setengah mati, hanya untuk sekedar mendapatkan apa yang diinginkannya, jika keinginannya bersangkutan denganku.

Satu diantara beribu alasan tak rasional. Bukan berarti aku suka dan terima begitu saja diperlakukan seperti itu. aku bukan pria yang mau diinjak-injak begitu saja. hanya, aku merasa, Songjin memiliki apa yang wanita kebanyakan tidak pernah miliki.

Keberanian berkata tidak, pada apa yang setengah mati diinginkannya.

“bisa saja sebenarnya. tapi aku juga minta gantinya.” Aku tersenyum lebar. selebar yang bisa kulakukan untuk menutupi tawa yang bisa saja akan membludak karena aku tahu, ini tidak akan mungkin terjadi. “Panggil aku Oppa!”

“APA??!!”

“cukup adil kan?”

Aku masih mempertahankan senyumku senormal yang kumampu untuk terus berkadar sama, sambil menikmati ekpresi terkejut Songjin seperti baru saja melihat hantu. Sebenarnya, aku tidak tahu apanya yang aneh dari panggilan ‘Oppa’ untukku.

Bukankah sudah seharusnya, dia memanggilku seperti itu? aku ini lebih tua darinya! Dan lagi, itu juga kewajibannya. Bahkan Eun Soo yang memiliki usia sama dengan Donghae pun, memanggil pria sialan itu Oppa!

Dan memangnya, tidak bisa ya aku mendengarnya memanggilku Oppa dalam keadaan normal, tanpa dia sedang tidak ada maunya, seperti meminjam Black Credit Card-ku?

Aku boleh tersinggung karena hal ini kan? Hanya saja, akan sampai kapan kalau aku harus mengikuti rasa kesalku, karena Songjin tidak juga mau memanggilku seperti seharusnya dia memanggilku?

Decakan singkat menjawab tawaranku tadi. Songjin menyerah. Bukannya menyerah untuk memanggilku Oppa hingga aku bisa memanggilnya seperti apa yang dia inginkan, tapi dia menyerah untuk mendapatkan Hakaunya, karena tidak ingin memanggilku dengan sebutan itu. “Tsk, Arra! Ambil saja Hakaunya! Lagipula aku sudah kenyang!”

Songjin mengumpat. Marah. dan berjalan cepat meninggalkan meja kami dengan kunci mobil-ku ditangannya. Meninggalkanku dan Hakau kami begitu saja.

Ya Tuhan.. dia itu kenapa sih??

** **

Udara malam ini tidak main-main dinginnya. Serpihan es disana sini yang membuat jalanan licin juga tidak main-main menyebalkannya. Beberapa orang nyaris terpeleset karenanya termasuk aku!

Semua hal disekitarku, menjadi tampak menyebalkan. apapun itu.

Semua karena Songjin yang entah mengapa juga jadi menyebalkan. kalau aku harus terus bertahan seperti ini sampai lima bulan kedepan sampai anakku lahir, aku tidak tahu apa aku mampu melakukannya.

Yang jelas, aku akan mati muda kalau selalu seperti ini caranya.

Kuletakan paper bag berisi hakau yang pada akhirnya tidak termakan, pada Jok belakang dan lalu kembali pada kemudi, tempatku. Songjin sedang membaca buku dengan tenang sambil menyumpal telinganya dengan ipod.

Ini adalah satu diantara sekian banyak hal yang membuatku tak mengerti. Aku tidak pernah tahu, sejak kapan tepatnya Songjin menyukai buku sebagai media mengusir rasa kesalnya. Karena sepengetahuanku, hanya berbelanja, makan, dan menggambar-lah hal yang biasa dilakukannya saat sedang kesal.

Oh—atau menangis. ngg.. juga tidur!

Aku melirik sedikit pada buku tebal ditangan Songjin. Sudah sejak tiga hari yang lalu, aku mengamati buku ditangannya itu. tebal. Sangat tebal dan dapat kupastikan bahwa itu buku berbahasa asing.

Buku bersampul biru dan pink itu terlihat menarik kalau hanya dilihat dari sampulnya saja. kalau dari sampulnya saja, aku dapat paham, mengapa Songjin membelinya. Tapi kalau dari isi, aku tidak tahu mengapa Songjin tetap terus membacanya. Dan setahuku, kemampuan bahasa asingnya tidak sekeren itu sampai dia bisa menelan ratusan kata berbahasa asing disana, tanpa perlu merasa repot berbekal kamus.

Songjin tanpak tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang serius membaca. Untuk sesaat, kupikir dia malah sedang ketiduran, sambil membiarkan buku tebal itu tetap terbuka. Mungkin saja dia ingin terlihat keren dengan penampilannya seperti itu. hahaha!

Tapi kemudian, Songjin mengejutkanku. “Stop!” perintahnya. Menarik-narik lengan jaketku. “Stop Stop disini! cepat!” paksanya lagi.

Begini yang aku tidak suka. Sudah mendiamkanku sesukanya, lalu sekarang mulai bertingkah lagi dengan minta berhenti dipinggir jalan. lalu setelah ini apa? Turun dari kendaraan ini dan berjalan sampai rumah? Dia pikir ini Drama yang sering ditontonnya?

Aku harus mengejarnya dengan wajah mengiba? Arrrgh!!

“Kyu! Berhenti! Cepat! Tolong ber—“

“SONGJIN!!” aku sudah tidak tahan lagi, kemudian malah membentaknya tanpa kusadari. Alih-alih ingin berbicara, aku menghentikan mobil seperti apa yang dimintanya dan Songjin langsung melesat cepat keluar, tanpa aba-aba.

Aku bisa saja meledak lagi. melihat wanita itu berlarian cepat menjauh, lagi-lagi meninggalkanku seperti orang bodoh, sama saat ketika tadi, dia meninggalkanku begitu saja di restoran. Namun kemudian, aku terkejut karena Songjin merunduk 90o lalu aku mendengar suara yang sangat kuhafal.

Aku menghampiri Songjin setelah aku mengambil sebotol air mineral dari dalam dashboard. “Gwaenchana?” tanyaku Khawatir. Tapi Songjin merentangkan tangannya panjang-panjang.

Memberikan jarak diantara kami—nyata. “kau tunggu disana saja. jangan dekat-dekat.” Ucapnya serak, lalu kembali memuntahkan semua isi perutnya pada rerumputan didepannya.

Kuputuskan untuk mengabaikan perintah konyolnya dan terus menghampiri. Menyentuh tengkuknya, lalu mengusap punggungnya. Songjin kembali mengangkat wajahnya. Matanya melotot padaku, seperti yang sudah kuperkirakan bahwa dia akan marah saat aku melanggar apa yang diperintahkannya. “sudah diam saja.” aku bicara terlebih dulu, sebelum Songjin.

“keras kepala!” umpatnya dalam tundukan berupa gumaman yang tentu saja tertuju padaku.

Haah—siapa yang dia bilang keras kepala? Aku? iris telingaku kalau dia bisa melakukan hal yang sama yang dia perintahkan padaku saat hal ini terjadi denganku. dasar keras kepala!

“minum—“ kusodorkan botol air mineral ditanganku padanya. Wajah Songjin memucat. Titik-titik keringat membasahi keningnya, dan nafasnya jadi tidak beraturan. Sedikit kasar karena aktivitasnya tadi.

Kusampirkan poni panjang Songjin pada kiri kanan telinganya dan membersihkan peluh pada dahinya. Rasa ingin marah tadi, seperti menguap begitu saja, dan tergantikan dengan rasa iba.

Pregnant Nausea, Emesis Gravidarum.

Aku pernah membaca artikel ini dari internet. Wanita hamil cenderung lebih sering mual lalu memuntahkan seluruh isi perutnya karena terdapat peningkatan produksi hormon estrogen yang memancing peningkatan keasaman lambung.

Ini hal wajar yang seharusnya terjadi pada wanita hamil pada awal masa kehamilan. Tapi aku tidak pernah tahu, kalau bahkan sampai minggu ke 16, para wanita hamil masih juga merasa hal seperti ini. setahuku, dari apa yang kubaca, hanya terdapat 12% dari 100% wanita hamil yang masih juga merasa mual pada kehamilan, dan akan terus merasa mual, sampai masa kehamilan bulan ke-9.

12 dari 100 itu bukan hal yang wajar, karena itu berarti, hanya terdapat sepersekian saja, dari keseluruhan banyaknya jumlah wanita hamil. Dan kenapa aku tidak terkejut dengan fakta bahwa Songjin termasuk dalam 12% itu?

“habiskan.” Perintahku lagi, ketika Songjin hanya menenggak setengah dari seluruh isi air didalam botol plastic itu. awalnya Songjin menggeleng untuk menolak. kurasa dia juga sudah tidak ingin, tapi dia baru saja membuang seluruh isi perutnya dan aku tidak bisa untuk tidak memaksa agar Songjin setidaknya mengisi tubuhnya dengan sedikit cairan ini sampai aku mendapatkan sesuatu untuk mengisi perutnya lagi, “ayolah~” aku mengangkat botol ditangannya Karen Songjin tidak kunjung mau melakukan apa yang kuminta. Walau dengan keterpaksan yang jelas, toh pada akhirnya, Songjin mendekatkan lagi botol tersebut pada bibirnya. “Good girl.” Senyum tipisku mengembang setelah botol ditangannya kosong.

Beberapa menit dalam diam, setelah kurasa Songjin sudah lebih baik dari beberapa menit sebelumnya tadi, aku menyampirkan lenganku pada bahunya dan membawanya untuk kembali kemobil.

Aku terus meyakinkan diriku sendiri yang aku tahu walau faktanya memang akan seperti itu. semua akan baik-baik saja. hanya saja, aku tidak pernah merasa  baik-baik saja, kalau Songjin sudah mulai melakukan hal seperti ini, tidak perduli apakah ini juga selalu terjadi padanya dirumah.

Aku tetap tidak pernah merasa tenang saat Songjin sudah kembali melakukan hal seperti ini.

Sambil membantu memasangkan sabuk pengaman, aku hanya dapat menutup mulutku ketika Songjin meruntuk, “aku baik-baik saja. bisa tidak berlebihan, tidak sih?” dia menggeram.

Menyingkirkan tanganku yang sedang bekerja untuk membantunya memasang sabuk pengaman dan akhirnya, dia sendirilah yang memasangnya. Aku hanya dapat mengulum bibir—membiarkan apa yang ingin dilakukan wanita ini. lakukan saja sesukanya.

Seperti Songjin yang bebas melakukan apa yang diinginkannya, mengutuk diriku. Aku pun memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang ingin kulakukan. Membungkamnya dengan bibirku.

Amukan kembali datang padaku. aku tidak benar-benar ingin membalasnya dan hanya tersenyum menanggapinya. Mengacak rambut kecoklatan Songjin sebelum memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, “Tidur.” Ini perintah terakhirku untuknya. Kukatan dengan nada rendah, Halus. Namun penuh penekanan, bahwa jika dia tidak melakukannya, aku bisa melakukan hal-hal lain hanya agar dia melakukan apa yang kuperintahkan sekarang.

Kabar baiknya, Songjin memahami hal terselubung yang kumaksud hingga tak lama, walau masih dan tetap dengan wajah tertekuk, wanita itu meluruskan Jok-nya dan memunggungiku. “Good Girl.”

** **

Cho Songjin’s

Pagi yang dingin, benar-benar dingin. aku hanya dapat kembali menggulung tubuhku didalam selimut lagi, dan membiarkan matahari bertingkah semaunya. Persetan dengan itu, aku masih mengantuk.

Kutarik lagi selimut tebalku sampai pada dagu dan memejam. menikmati empuknya ranjang, dan hangatnya berada dibalik selimut memang hal ternyaman yang pernah ada. Tapi hal lain membuatku mau tidak mau harus membuka mata, lagi.

Semalaman, aku tidur sendiri? kemana Kyuhyun?

Sisi kananku, yang biasa Kyuhyun tempati kosong dan sama sekali tidak berbekas bahwa tempat itu baru saja ditiduri. Terlalu rapih, bahkan. Itu membuatku curiga, apa mungkin Kyuhyun tidak berada dirumah semalaman?

Tapi.. semalaman itu semalaman apa? Bukannya semalaman kami bersama? Aku Khilaf—melahap terlalu banyak Hakau, dan lalu muntah karena mual. Lalu aku tidur dan entahlah setelah itu apa yang terjadi lagi.

Kyuhyun pasti memindahkanku dari mobil kemari. Tapi lalu, seharusnya dia berada disini. bersamaku, mengingat mulai kemarin dia tidak lagi benar-benar diharuskan untuk datang ke perusahaan.

Aku bisa saja terus berfikir bahwa dia tidak disini karena mencari ‘penghiburan’ lain diluar sana, setelah perdebatan kecil kami semalam. Tapi Syukurlah aku mendengar denting suara keramik beradu yang dapat kupastikan berasal dari dapur.

Karena kami tidak pernah memiliki asisten rumah tangga, jadi aku dapat memastikan bahwa keributan itu berasal dari seseorang dan orang itu adalah Kyuhyun.

Aku tersenyum puas, saat tahu bahwa pemikiranku tepat adanya. Itu Kyuhyun. entah apa yang sedang dilakukannya. Tapi dia tampak sibuk. dan memandanginya dari belakang seperti ini, adalah hal yang selalu aku sukai. Punggungnya, dilihat dari sisi manapun terlihat hugable.

Atau tidak..sebenarnya.. secara keseluruhan, Kyuhyun memang tampak Hugable. Dan aku tidak bisa untuk tetap diam ditempat, berlagak sok keren melipat tangan didada dan hanya memperhatikannya saja.

Aku lebih senang memeluk. Atau bahkan menciumnya. Maka setelahnya, aku mendekat dan menyisipkan kedua tanganku pada tubuhnya. Merengkuh punggungnya, merapatkan pada wajahku. menghirup aroma tubuhnya. Dia belum mandi, haha! Tapi aku selalu menyukai aroma tubuhnya saat seperti ini.

“kau sudah bangun?” Kyuhyun tampak terkejut saat aku tiba-tiba memeluknya. Tubuhnya menegang seperti kami adalah pasangan baru dan kontak fisik adalah hal yang masih tabu untuk kami lakukan. Cih! berlagak seperti perjaka!

“tunggu dulu.” tahanku cepat ketika Kyuhyun akan berbalik, untuk mendapatkan posisi yang dianggapnya, mungkin nyaman. Tapi aku sedang ingin ber-egois ria dengan dirinya. Jadi aku hanya terus menekan ujung hidungku pada punggung tegapnya.

“aku suka baumu.” Kataku pelan. memejamkan mata, menikmati semua yang dapat hidungku tangkap. Bahu Kyuhyun berguncang, tanda bahwa pria itu sedang tertawa. Aku tidak bisa untuk berfikir bahwa apa yang dilakukannya adalah benar menertawai tingkahku, karena tidak sampai satu detik, aku sudah terduduk diatas salah satu Kitchen board yang kosong.

Kyuhyun meletakan kedua tangannya pada sisi kanan dan kiriku. Menumpukan pada dua tangan yang ditekannya pada meja tersebut, dan lalu memperhatikan wajahku dari jarak sedekat ini. dia gila. Aku bisa saja pingsan!

Satu alisnya kemudian terangkat sambil masih terus memperhatikanku. Wajahnya itu, seperti bertanya apa-aku-sudah-gila? Atau.. hal konyol apa yang kau mimpikan tadi, sampai kau bertingkah ajaib seperti ini?

Apapun itu, aku tidak memperdulikannya. aku mendekatkan wajahku pada wajahnya—lalu secepat kilat menyentuhkan bibirku pada bibirnya. “Morning Kiss” kataku sambil terkekeh geli.

“Songjin~!” Kyuhyun mengerang. “kemarin malam, kau yakin tidak ikut memuntahkan isi kepalamu lagi?” cibirnya sarkasme.

Tsk! Aku ini hanya ingin bersikap sebagaimana seharusnya aku bersikap saja. kenapa juga dia harus meledekku? Selalu seperti ini! dia ini maunya apa sebenarnya?

“apa ini karena anakku?” Kyuhyun menebak. Satu tangannya beralih menyusup masuk kedalam pakaianku dan menyentuh perlahan perutku. Tangannya terasa dingin, atau entahlah, tubuhku yang terlalu hangat?. Aku hanya dapat menggidikan bahu kasual, “Molla—“ jawabku seadanya. Sesukaku.

“kalau begitu, lebih baik kau mengandung saja selamanya. Aku akan sangat berterima kasih karena aku menyukai hal seperti ini untuk sarapanku.” akunya santai, polos. Tanpa rasa berdosa. Otaknya pasti sedang membeku. Kasihan sekali.

“Cih! kau saja yang mengandung kalau begitu.” selaku langsung. “kau kira enak membawa-bawa beban yang semakin lama semakin bertambah? Menahan rasa pegal dipunggung? Menahan rasa mual setiap saat? Dasar maniak!” desisku. Tidak lupa untuk mengerling tajam kepadanya dan mendecak.

Pagi ini, dari sekian hasrat menggebu untuk meringkuk didalam tubuh pria bernama Cho Kyuhyun—aku baru saja melakukan tiga hal secara bersamaan yang biasa pria itu dapatkan hanya pada siang atau malam hari. Tidak pagi hari karena aku belum bangun.

Tapi..tunggu, aku bahkan ragu bahwa sekarang masih pagi. Matahari sudah benar-benar semangat setengah mati bersinar, diluar sana, walaupun hawa dingin masih juga terus terasa, seperti tidak terinterupsi.

Kyuhyun tertawa, kemudian menenggelamkan wajahnya pada rambutku yang tersampir dibahu. “karena itulah aku berterima kasih. Kau mau melakukannya secara Cuma-Cuma untukku.” ucapnya penuh percaya diri. Mataku tak kuasa untuk tidak berputar Jengah dua detik setelahnya, karena merasa material lembut namun dingin, merambat pada tengkuk-ku, “Demi tuhan, Cho Kyuhyun ini masih pagi. Kau mau apa?” protesku sebal. Bisa tidak sih, dia ini tidak berfikiran mesum, sebentar saja?

“omong-omong, aku juga suka baumu. Kau Hmm..wangi.” Jawabnya santai sambil terus mengendusi sekitaran tengkuk dan leherku. Jinjja! bagaimana bisa dia berkata aku wangi, “aku belum mandi, Ish~!” aku mendorong bahunya menjauh dengan perasaan campur aduk.

Kesal, malu, khawatir, malu, malu, dan … malu. Akh!

Kyuhyun tertawa santai, namun dengan volume cukup kencang. didepan wajahku. dekat telingaku. Kalau aku tidak tuli, itu keajaiban namanya. Dia hanya memandangiku sebentar, lalu tangannya bergerak lagi menyingkirkan rambutku dari bahu dan mulai melakukan apa yang dilakukannya tadi.

Astagaaaa!

“Yaaak! Aku bilang aku belum mandi! kau ini kenapa sih?” geramku kesal. Dia benar-benar mesum! benar-benar.. Astaga. ya Tuhan!!

Kyuhyun tertawa lagi dari tengkukku. Hembusan nafasnya terasa kontras dengan udara yang dingin. Bibirnya yang halus dan dingin membuatku menyadari bahwa dia tidak lagi sedang mengecupi bagian-bagian disana, namun hanya menempelkan ujung bibirnya saja dan tertawa! “memangnya apa bedanya kau sudah mandi dan belum? Seperti ada pengaruhnya saja untukku, hmm?”

“Kyu~!”

Sekarang aku benar-benar telah putus asa setengah mati. kalau saja dia ingin meniduriku, paling tidak lakukanlah ditempat yang lebih pantas. Dan aku tidak suka melakukannya ditempat yang keras. seperti meja dapur. Please?

Pikiranku sudah kemana-mana. Ini dan itu. kemungkinan ini akan terjadi, dan itu akan terjadi, namun tiba-tiba sebuah jitakan malah membuatku sadar bahwa sejak tadi aku melamun. “dasar mesum!” cibir Kyuhyun.

Apa katanya? Sial! “Apa? Kau yang mesum! kenapa aku?” tuntutku tidak terima. Meninggikan wajah hanya agar tidak sejajar dengan wajah Kyuhyun, tapi percuma saja. takdirnya memang selalu akan lebih tinggi dariku. Bahkan setelah aku duduk diatas meja dapur yang notabene memiliki tinggi yang….. pantas. Standar.

Saat menikah dengannya, seharusnya aku sadar bahwa aku memiliki kemungkinan besar untuk terkena penyakit sakit leher, hanya karena harus selalu mendongak untuk menatap wajahnya.

Kyuhyun yang tinggi dan tak terjangkau. Semerana itu ya nasibku ternyata?

“siapa yang ingin menidurimu? Berniat pun tidak sama sekali. walaupun aku bisa saja melakukannya, tapi aku sedang tidak ingin.”

Kyuhyun menjelaskan perlahan. Namun penjelasannya malah membuat pertanyaan baru didalam kepalaku, “kenapa tidak ingin?” tanyaku menuntut. Persetan apakah aku terlihat rendahan dan malah merengek untuk segera ditidurinya. Aku tidak suka dengan kata-katanya tadi, jujur saja.

“kenapa kau bertanya seperti itu? dan kenapa tiba-tiba.. kau jadi tertarik untuk aku tiduri? Hmm?”

Aku memutar bola mataku berfikir. Sejujurnya, aku tidak memiliki jawaban apapun untuk menjelaskan, mengapa rasa aneh itu terasa begitu nyata dan sedikit menyakitkan kalau harus dipikir lagi.

“aku—hanya.. Hng..” aku masih berfikir. Setengah mati. dan Kyuhyun kembali tertawa. Dua detik puas memperhatikan kekalutanku, Kyuhyun menepuk kepalaku pelan, lalu menarik tengkukku dan melumat bibirku.

Satu detik.

.

Dua detik.

.

Hanya tiga detik. sial. Tapi tiga detik, yang menghasilkan efek luar biasa. aku terengah setelahnya dan Kyuhyun puas menertawaiku seperti biasa. Puas dan merasa menang.

“ini masih cukup pagi. Dan kau tidak harus melakukan apapun lagi hari ini, kan? Kau ingin kembali tidur?” tawar Kyuhun setelahnya. Air wajahnya berubah ketika kembali mendapati wajah panikku, “tidur benar benar tidur Songjin. Bukan tidur seperti itu.” Ujarnya memberikan tambahan kutip pada kalimat tidur keduanya.

Oh Baiklah, Sepertinya.. memang otakku yang bermasalah kali ini.

Aku menggeleng untuk menolak tawarannya, “aku tidak mengantuk lagi.” keluhku. Kalau tadi dia tidak membuat keributan dengan keramik-keramik berdentingan, akan kupastikan aku masih tertidur pulas ditempatku!

“mau..kubuat mengantuk?” Kyuhyun bicara lagi dengan nada yang.. AKH! Bagaimana aku tidak bisa untuk tidak berfikir aneh, saat wajahnya saja sudah terlihat seperti itu? dan ada apa dengan gaya bicaranya itu? kenapa seperti Ahjussi hidung belang? AAAH!

“Nah, kau sendiri yang berfikiran kotor, Songjin.” Tukasnya. “Maksudku.. aku baru saja membuatkanmu susu hangat.” Ujar Kyuhyun lalu menyodorkan segelas susu hangat padaku. aku bahkan tidak tahu, kapan dia menyiapkannya.

“aku baru membaca artikel, katanya susu juga bisa dijadikan satu alat untuk mengurangi rasa mual saat wanita hamil, dan pen-dopping energy. Semalam aku membeli susu khusus untuk Ibu hamil. Aku tidak bisa menemukan yang rasa cokelat. Nanti, setelah ini aku akan coba mencarinya di Supermarket besar. semalam kan, aku membelinya ditoko kecil. dipagi buta begitu, Supermarket besar tidak ada yang buka.” tuturnya panjang seperti mengadu layaknya akan kecil. aku cukup terkesan dengan apa yang dilakukannya. Ini benar-benar..entahlah. aku tidak tahu harus berkomentar apa.

Aku tidak pernah menyukai susu dengan Variant rasa Vanila. Terlalu mual hanya untuk diendus dari kejauhan. Apalagi diminum? Aku lebih menyukai rasa cokelat. Setidaknya, bau Khas susu itu telah menghilang dari indera penciumanku. Tapi sekarang, aku tidak bisa untuk terus meninggikan ego dan menyepelekan apa yang Kyuhyun lakukan.

Sekecil apapun itu, ini tetap… ah~ Molla!

“Jangan dicium baunya. Langsung ditelan saja. tahan nafas dan habiskan.” Kyuhyun berujar saat mendapati aku mengernyit ketika gelas kudekatkan pada wajahku, lalu aroma Khas susu Vanilla seakan menampar wajahku.

Pada ambang batas kesadaran. Antara meneruskan ego tentang ‘aku tidak pernah menyukai variant rasa Vanilla’ dan ‘aku harus menghargai Kyuhyun karena telah melakukan ini’ aku benar-benar merasa seperti digerus.

Namun pada akhirnya, aku memaksakan diriku sendiri untuk menenggak cairan berwarna putih kental pada gelasku, dengan mata tertutup. Rasanya.. Hoeek! Susu Vanilla, aku benci susu Vanilla!!

Aku terus mengernyit sampai saat Kyuhyun membuka suaranya penasaran, “Eotte?” dia bertanya antusias. Aku terdiam memperhatikan wajahnya. Dan segala yang tergambar dengan jelas pada Air wajahnya. Aku tersenyum sendiri melihatnya, “Mashita! Gomawo~” seruku kencang, lalu tertawa.

Kyuhyun ikut tertawa setelahnya. Mengambil gelas ditanganku dan meletakannya pada mesin pencuci piring otomatis dibawah kakinya. “kau tidak pandai berbohong, Haha. Aku akan mencari yang rasa cokelat nanti. Kau ingin makan sesuatu? Roti bakar? Sereal? Atau apa, yang lain? Aku pesankan dari Bistro—ya, kau kenapa?”

Ditengah rentetan kalimatnya, aku hanya dapat memperhatikan Kyuhyun seksama setiap detik, perdetik. Inilah hal konyol yang kusayangkan dari diriku sendiri. kalimat Kyuhyun tadi, seharusnya adalah dialogku!

“Aigoo, apa yang sedang kau perankan pagi ini, Tuan muda? Kau tampak berbeda.” aku mencibir sambil mengalungkan kedua tanganku pada bahunya santai. Kyuhyun tertawa tipis, kembali meletakan tangannya pada meja dikanan kiri kakiku, menjadikan itu sebagai tumpuannya. “maksudmu..tampak mengesankan, begitu?” Kyuhyun tersenyum miring.

Senyuman arsimetris khas miliknya, yang selalu membuatku sesak nafas, dan sialnya, sepertinya dia telah mengetahui hal yang satu itu. “bisa juga. kecuali kalau kau sedang menutupi sesuatu.”

“dan lebih tepatnya, sesuatu itu adalah?”

Aku menggerakan bahuku pelan, asal-asalan. Mencebikan bibir sambil memandangi wajah Kyuhyun yang hanya berjarak tiga centi saja dari wajahku. aku dapat merasakan nafasnya yang harum dari jarak sedekat ini. “entahlah. Mungkin.. surat cinta?”

Dua alis Kyuhyun saling bertautan, “surat cinta?” dia mengulang kata-kataku. Sedangkan aku mengeluarkan ponsel hasil selundupan, hasil temuanku beberapa saat setelah mataku terbuka tadi.

Ponsel Kyuhyun yang tergeletak dinakas.

Ibu jariku bergerak diatas layar hitam pada ponsel Kyuhyun, lalu membuka salah satu aplikasi dengan tumpukan jenis yang sama. Aku berdehem membersihkan suara, sebelum bicara lagi, “annyeong, Oppa. disini sangat cerah. Jangan sampai menyesal, kau akan datang secepatnya, kan?”

 “Oppa, bisa beritahu aku saat kau akan berangkat nanti? Hanya untuk mempermudah segalanya saja.”

“Oppa, persiapannya sudah hampir selesai. Kalau kau memiliki waktu, hubungi aku dulu. ada beberapa hal yang harus aku bicarakan denganmu.” 

Aku tersenyum lebar, menyudahi hal menjijikan dengan suara yang kubuat seperti anak tikus. Menggelikan. sedangkan Kyuhyun hanya memandangiku datar, tak berekspresi sama-sekali. “romantis sekali, Cho Kyuhyun.”

“Tsh, itu Seohyun!”

“Seohyun…”

“Seohyun, Songjin! Astaga! daya ingatmu buruk sekali ya? dia Junior-mu dulu. Bodoh!”

“Yeah, aku tahu. ini Seohyun. Aku masih bisa membaca. Namanya tertulis di alamat pengirimnya.”

“..lalu?” satu alis Kyuhyun terangkat tinggi. Begitupun denganku kemudian, “lalu?”

Kyuhyun menghela nafas panjangnya dan merunduk sambil menggelengkan kepala. “Jadi ini, yang membuatmu bersikap aneh selama ini?”

“Karena?”

“kau menuduhku berselingkuh.”

“aku tidak bicara begitu.”

“tapi kau melakukannya.”

“tidak.”

“Iya. Songjin. Kau melakukannya.”

“Tsch!”

Kyuhyun diam. tidak lagi melanjutkan, atau memotong kalimatku. Hanya diam dan memperhatikanku dengan sangat lama. entah apa yang ada didalam kepalanya sekarang, tapi satu hal yang kutahu bahwa aku akan kalah jika juga mengalihkan pandanganku darinya.

Karena pada satu hal, aku berada pada posisi benar, dan pria didepanku sudah jelas bersalah. Ini tidak akan serumit itu, kalau saja Kyuhyun tidak menjadi keras kepala. “terserah kau saja, akan berfikir seperti apa. Itu otakmu. Bukan otakku. Hak-mu untuk memikirkan apapun sesukamu. Lagipula toh, dijelaskan seperti apapun kau tidak akan pernah mengerti. Atau mau mengerti. Atau mencoba untuk mengerti, iyakan?”

-TBC-

162 thoughts on “[KyuJin Series] I Almost Do 1

  1. Waaahhh..komenanku taun kemarin msh keliatan ya..hahahaha
    semua sikap songjin ke kyu yg gak biasa kyu pasti berpikiran mcem2….
    aigoo…kyujin pas didapur so sweet bnget

  2. Hahahahaa disini kyuhyun yang mesum apa songjin yaa yang mesum 😀
    Ohh jadi songjin cemburu, suka bagian kalo songjin nya lagi cemburu ke kyuhyun, kan itu tanda sayang/cinta, hahahaha apa dahh:D

  3. Suka sama pasangan ini.. Saling sayang tapi egonya pd tinggi. Kyu cemburu sama donghae trus songjin cemburu sama seohyun.. cemburu itu tanda nya kan cinta..

  4. hah kapan pasangan ini sehari aja kgk bertengkar bingung sma kyuhyun songjin marah2 salah baik salah maunya kyk gmna…

    cie cie songjin cemburu kyuhyun pun cemburu jdi sama2 cemburu wkwkwk

  5. sekesel-keselnya kyuhyun diturutin jga tuh kemauan Songjin.. lucu bgt merekaa, walaupun sering beradu mulut tpi mereka itu so sweet bgttt

  6. waaahh..kyu lgsg bngun dr tdurny gegara songjin brenti mainin rambutny??? ta pkir dah pules ky kebo..ha ha
    ni couple klo ga ribut sehari pasti brasa aneh..n mkir psti ada yg g beres..gtupun klo slh stu dr mrk b’sikap manis…heeuuhh..da ada ajj..
    kyu blm prnh ikut k dkter klo songjin ge cek up y???
    songjin jealous y?? hmm.pdhal mah kyu g bkal trtarik ma yeoja mn pun..hti n pkiranny dah pnuh wat istri barbar ny trcinta..heeuuhh..klo songjin tau kirany gmn y reaksiny..?? kkk

  7. Meskipun kesel sama maunya songjin tp kyu tetep aja nurutin hehehe maklumin aja kyu namanya org ngidam, di part ini mrk berantemnya gak banyak wkwk kyu lebih milih ngalah ya..
    Ciyehhhh songjin cemburu nih sama pesan dr seohyun ckckck tp mnrt aku wajar sih cemburu meskipun si seohyun itu karyawannya kyuhyun dan prnh kenal krn junior songjin tetep aja harusnya jgn panggil oppa wkwk

  8. Ahhh jd songjin cemburu liat sms seohyun k kyuhyun ☺
    Meskipun kyu ksel dgn ngidam.nya songjin tp ttp aj d turutin… Manissss bgt 😊😊

  9. Seohyun. Muncul nama baru. Aku ketawa” gaje saat membaca perdebatan kyuhyun dan songjin. Mereka pasangan yg unik. Aku ingin baca yg awal sebelum mereka menikah, karena aku msh bingung dg jln ceritanya. Tapi aku jg bingung ff mana yg awal kisah dr mereka

  10. Ini panjang banget tapi Alhamdulillah nggak bikin bosen… Okk aku suka banget sama adegan songjin cemboker … Mereka itu cinta pake banget tapi gengsinya juga tinggi pake banget… And Seohyun.. Dari dulu gw selalu punya feeling buruk sama ini cewek 😐… Baca namanya aja gw udah mulai darting 😂😂

  11. songjin udah ketularan mesum hahaha ih ada seohyun?? dia disini jadi apa lagi, tp dr dulu kalo nama dia muncul bawaannya langsung yg ga baik

  12. Sepertinya mereka berdua berubah .. jadi sedikit lebih pengertian ke satu sama lain, saling memperhatikan,

    Suka sifat kyuhyun yg perhatian sama songjin

  13. Mengulang cerita lama yg gak pernah ngebosenin
    Selalu suka dengan semua cerita ada disini
    Ngeselin,nggemesin,so sweet dan semuanya jadi satu😁😁😁😁

  14. kyuhyun suami idaman walaupun agak gitulah 😆😆, baru aja mereka ada scen drama romantis di dapur tp ada aja sesuatu hal yg menghancurkan moment romantis itu, aku baca ulang lagi hehe… gak pernah ada bosannya kalau baca ff kyujin,

  15. Wow ada cast baru lagi nih apakah Seohyun akan menjadi sumber masalah dalam rumah tangga mereka? Cuss lanjut ke part berikutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s