[KyuJin Series] I Almost Do 2


Author: GSD.

Title: I Almost Do

Cast: Cho Kyuhyun, Cho Songjin, Choi Siwon, Choi Gyuwon, Lee Donghae, Kim Eun Soo, Seohyun, Eunhyuk.

Rating: G.

Length: Chaptered [2 of 3]

~~

“kalau kau belum tahu, biar kuberi tahu, itu namanya cemburu, sayang.” 

“Cih!” decakku sebal sambil terus mengaduk cangkir kopi dihadapanku saat ini dengan sendok kecil. Gyuwon dan Eun Soo Eonni tampak semangat sedari tadi mengatakan statement mereka. Ya, oke. Itu terserah mereka saja. itu mulut mereka. tapi untukku tidak.

“Ck, aku kesal. Sudah kubilang ini hanya kesal. Istri mana yang tidak kesal saat tahu Suami mereka sibuk berhubungan dengan wanita lain  didepan mata seperti itu?” ujarku tegas. untuk kesekian kalinya, mengatakan apa yang kurasakan.

Sedangkan Eun Soo dan Gyuwon Eonni, lagi dan lagi menggelengkan kepala mereka. seperti tampak menyerah, Eun Soo memutar bola matanya dan Gyuwon menggelengkan kepala satu kali menanggapi kalimatku. Keduanya lalu sama-sama menyeruput minuman mereka masing-masing.

Sebelum melakukan hal yang sama, aku memperhatikan cangkir milikku terlebih dahulu—mengamati seksama, “Omong-omong, berapa banyak kira-kira kalori yang ada didalam secangkir espresso ini?” torehku penasaran.

“kalau dengan creamer? Segelas espresso akan memiliki 100 sampai 110 mg kalori.”

Aku mendelik mendengarnya. Awalnya, aku yakin bahwa Eun Soo Eonni hanya sedang bercanda mengerjaiku—bahwa secangkir espresso memiliki nilai yang sama dengan sepotong sosis bakar! Ini kan namanya sia-sia kalau aku meneruskan aktivitas ini sekarang. lebih baik aku makan sosis bakar saja sekalian dari pada meminum kopi ini lalu setelah ini memakan sosis bakar!

Eun Soo eonni membuka mulutnya lagi setelah mengibaskan rambut panjangnya. Yang dimataku, adegan seperti itu terlihat membuat dirinya tampak lebih menganggumkan ribuan kali lipat. Lagi pula, statementku toh di amin-kan oleh beberapa pria didepan kami yang tak sengaja lewat.

“kalau kau ingin meminum kopi yang tidak berkalori, itu jelas Black Coffee. Kalorinya 0 mg. satu-satunya kandungan yang ada, kalau kau tidak mencampurnya dengan apapun, murni hanya kafein sebesar 80-100 mg saja. dan kalau kau belum tahu, dengan jumlah kafein segitu, itu sudah sangat cukup untuk mengganjal nafsu makan selama tujuh jam kedepan.”

Aku menggembungkan pipiku, “tapi Black Coffee tidak enak. Pahit.” Keluhku sedih. Sama sekali tidak bisa membayangkan, bagaimana cairan hitam pekat itu melintasi kerongkonganku. Pasti seram sekali.

 “kalau begitu Macchiato. Hanya 90 mg jika ditambah susu.”

“Ya tuhan, memangnya harus ya menghitung berapa kalori yang akan masuk kedalam tubuhmu? Kalau lapar, bukankah cara termudah ya makan? sama juga dengan haus atau ingin meminum sesuatu kan? Yang benar saja kalian ini!” Gyuwon mendengus sinis.

Tidak heran juga. Gyuwon eonni memang tidak pernah menyukai pembahasan seperti ini. dia bukan tipe wanita yang perduli dengan hal seperti ini. aku kira cukup disayangkan, kalau saja sedikit lebih perduli, pasti Gyuwon Eonni akan tampak lebih dari pada sekarang. dia hanya terlalu acuh dengan banyak hal. Termasuk dirinya sendiri.

“Hanya berjaga-jaga.” Komentarku asal. Menghentikan adukan yang tanganku lakukan, lalu meletakkan sendok kecil plastic bekas tersebut disisi lain cangkir.

“berjaga-jaga apa? Apanya yang harus dijaga? Fokus Kyuhyun pada tubuhmu yang kau jaga?” sindir Gyuwon—ditelingaku terdengar ketus. Wanita ini seperti Eomma yang sedang memarahiku jika lagi-lagi aku mengacaukan dapur kami.

“memangnya semua tentangku, harus berhubungan dengan Kyuhyun, ya?” aku memberengut sebal. Tentang, aku yang tampak bagai orang tolol jatuh cinta dengan pria itu, bukan rahasia umum lagi sepertinya untuk mereka. tapi juga bukan karena hal tersebut, lalu semua hal disekitarku, atau yang terjadi denganku harus selalu berhubungan dengannya kan?

Dan sekarang apalagi ini? meminum kopi dengan focus Kyuhyun pada tubuhku itu apa korelasinya? Sepertinya banyak yang selalu asal bicara kalau sudah berhubungan denganku dan Kyuhyun.

Demi mengugurkan rasa kesalku, dan juga membungkam serta menutup kemungkinan adanya komentar-komentar lain tentang aku dan Kyuhyun dari mulut dua wanita cantik dihadapanku ini, aku segera menempelkan bibirku pada cangkir-ku.

Menyesap hangatnya, untuk mengurangi rasa dingin yang terasa sejak tadi menampar tubuh. Miami benar-benar mengejutkan. Pada siang hari panasnya sampai dapat untuk memanggang. Sangat cocok untuk Tanning, tapi dimalam hari, angin berhembus sangat kencang. aku sampai berfikir bahwa kadang, bisa saja aku kehilangan keseimbanganku. Jatuh, lalu terombang-ambing terbawa angin.

Namun disisi lain, aku tidak akan mengatakan bahwa Kyuhyun salah. hampir delapan puluh persen sepenuhnya apa yang pria itu katakan adalah benar. Miami se-keren apa yang Kyuhyun katakan.

Ini kali pertamaku ketempat ini sedangkan entah keberapa untuk Kyuhyun. kurasa sebelumnya, pria itu sering bolak-balik kesini dulu dengan Siwon Oppa. lalu sebelum memulai proyek ressortnya pun dia berkunjung kesini dulu.

Dua hari berada di pulau ini, warna kulitku sudah menjadi kecoklatan. Aku Tanning sepuas yang kumau secara gratis. Tidak seperti di Korea saat aku harus Tanning disalah satu tempat spa—yang sudah pasti lagi tidak gratis.

Aku juga bisa bersantai menikmati matahari sambil menghirup aroma laut sebanyak yang kumau. Aroma pantai adalah aroma memabukan kedua setelah aroma hujan. keduanya sama-sama memiliki ciri khas mereka masing-masing dan aku menyukai keduanya.

Disini pun aku bisa membuat mataku segar karena demi tuhan, jumlah pria tampan ditempat ini seperti ber-ratus kali lipat dibandingkan Korea! dan sejauh mata memandang, aku dapat menemukan banyak pria bertelanjang dada dengan perut kotak-kotak mereka secara terang-terangan. Menyenangkan.

Kyuhyun benar. Miami menyenangkan. Musim panas dibulan Desember itu hal yang sangat luar biasa!

“Jadi, siapa nama pria yang datang dengan Donghae?” Gyuwon Eonni memecah keheningan kami—yang sebelumnya terisi oleh suara lantunan music dari salah satu kelab malam pantai terbuka dari kejauhan sana.

Aku mengangkat wajahku menatap Eun Soo Eonni sama dengan apa yang Gyuwon eonni lakukan, “Siapa?” Eun Soo menyipitkan matanya sambil menyelipkan rambut kebelakang telinga.

Aku dan Gyuwon saling berpandangan dalam diam, dengan senyum tertahan. Aigoo~ Kim Eun Soo ini terlalu—

“Oh. Donghae?”

“bukan Donghae-nya.” aku tersenyum, “temannya. Siapa?” ralat Gyuwon Eonni nyaris menumpahkan tawa. Aku setengah mati menahan tawaku juga. aku tidak ingin terlihat tidak serius dengan apa yang juga sangat ingin kutahu. Tapi melihat bagaimana respon seorang Kim Eun Soo saat nama Lee Donghae terucap itu benar-benar lucu.

Bilang saja kalau masih cinta. rasanya lucu untuk terus mempertahankan pendirian bersikap berpura-pura baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak sedang baik-baik saja. Ya, untuk beberapa hal aku paham dengan apa yang dirasakannya. Karena itu aku tidak bisa melakukan banyak hal lagi.

“Ah, maksud kalian, Eunhyuk Oppa?”

“Oppa?”

“dia delapan bulan lebih tua dariku. Menurutmu?” Eun Soo bicara khas dengan gayanya sedangkan aku dan Gyuwon lagi dan lagi saling berpandangan, melakukan aksi baca-membaca pikiran, sambil menahan tawa kami.

“sepertinya dia Single. Dia cukup tampan.” kini aku yang berganti bicara. Tidak ada unsur menggoda atau ingin mengejek. Aku mengatakan yang sejujurnya karena baru tadi siang aku melihat pria itu bermain Surfing bersama Donghae Oppa dan demi-dewa-laut- tubuhnya benar-benar mampu membuat wanita manapun menjerit histeris.

“dia tampan.” Eun Soo bicara—meralat. Mendapatkan anggukan setuju dariku dan Gyuwon Eonni. “tapi aku tidak yakin apa dia Single atau tidak. karena—“ Eun Soo mengangkat cangkir miliknya dan menyesap kembali Hot Chocolate-nya, “dia tidak terlihat seperti pria lajang. Maksudku.. Umm.. available.”

“karena?” Gyuwon tidak sabar segera menuntut penjelasan, sedangkan Eun Soo menggidikan bahunya kasual. “hatiku bicara seperti itu.”

“yah, jangan lagi percaya dengan apa yang hatimu katakan. mereka lebih sering melakukan kesalahan dibanding hal benar. ikuti isi kepalamu yang lebih masuk akal. Pria itu memang Single. Dan kau memiliki peluang besar untuk mengubah-nya. mudah, kan?”

Gyuwon bicara radikal. Aku sedikit terkejut mendengarnya. Selama ini, aku tidak pernah tahu bahwa Gyuwon yang kukenal begini nekatnya dalam memberikan saran. Mungkin memang aku belum sepenuhnya  mengenal sekitarku dengan benar selama ini. tapi Gyuwon kali ini benar-benar mengejutkanku.

Sedangkan aku yang masih terkesima dengan perilaku Gyuwon eonni, mataku yang masih hidup dengan kapasitas watt besar ini menangkap hal tak asing, yang sejak lama membuatku sebal setengah mati.

Aku menemukan penandangan ini lagi dan lagi. menyebalkan. demi tuhan apa yang dilakukan Kyuhyun dengan wanita bernama Seohyun itu sebenarnya sih? Mereka itu ada urusan apa? Kenapa sejak kedatangan kami kesini, wanita itu tampak seperti anak kecil yang mengikuti penjual permen kapas?

Dan kenapa Kyuhyun tampak-tidak-memiliki-masalah dengan hal itu? atau mereka memiliki sebuah konspirasi yang tidak kutahu, dan perlahan-lahan, mereka sedang menunjukannya padaku.

Sialan! kenapa jadi sekesal ini rasanya?

Dan kenapa harus bertemu dengan mereka? disini? Ya, aku tahu Miami bukan pulau yang besar, tapi juga tidak harus kan setiap aku berjalan sejengkal, bertemu dengan orang yang sama berkali-kali? Yang benar saja!!!

“…..kau juga mau tidak?” senggolan Eun Soo pada lenganku menyadarkanku. Seketika aku mengalihkan pandanganku dan menuju pada wanita berambut kemerahan ini, “ya?”

Oh My.. kau kenapa sih, hah?” keluh Eun Soo kesal. Jangan tanya aku kenapa. tapi tanya dengan pria disana itu. dia kenapa? dan seperti mengerti bahwa aku sudah tidak bisa lagi untuk berfikir dengan benar, Eun Soo mengibaskan tangannya diudara malas, “sudahlah. Kau pesan yang sama saja denganku.” ucapnya memutuskan.

“Jadi, yang tadi tambah satu porsi lagi. dua. Oke? Dan Umm—kau apa?” dia beralih pada Gyuwon. Aku tercengang saat melihat dimeja kami sekarang, terdapat tiga buah buku menu bersampul hitam. Entah sejak kapan buku-buku itu ada disini.

Sepertinya orientasi fokusku selalu kacau jika sudah berhubungan dengan Cho Kyuhyun, dalam hal apapun itu.

Spaghetti Carbonara saja.” Gyuwon memutus. Bicara kepada pelayan menggunakan bahasa Inggris yang fasih. Dia juga memesan minuman setelahnya dan beberapa cemilan. Kurasa. Yang dapat kutangkap seperti itu.

Maaf saja, kemampuan bahasa Inggris ku memang payah. Tidak secanggih kedua wanita ini, atau Kyuhyun. atau Seohyun. Wanita sialan itu  bahkan membuatku tercengang setengah mati karena dapat berbahasa Jepang secara fasih saat berbicara dengan Gyuwon. Lalu berbahasa Inggris ketika berbicara dengan Eun Soo.

Sombong!

Eun Soo mengulangi pesanan kami kepada pelayan pria menggemaskan yang kutaksir masih berusia kisaran belasan tahun saja, dengan gaya Khas seorang Kim Eun Soo yang selalu menggunakan nada yang… Um.. tampak terdengar seperti bibi genit ditelingaku, kalau sudah dibuat sok menggoda.

Setelah pelayan kami paham dengan seluruh pesanan kami, dia pun pergi membawa kembali tiga buku menu itu lagi. “kudengar restoran ini memiliki masakan Khas, Steak tuna-nya. kau salah memesan Spaghetti!” Eun Soo mencibir pada Gyuwon.

“seharusnya makanan Khas disini itu apapun yang berbau Seafood! Ini kan laut, yang benar saja!” aku mendengus memberi harga mati untuk adanya kemungkinan perdebatan tak berbobot setelah ini.

“Aah.. Uri Songjin sedang kesal~?” Eun Soo membuat buat suaranya sambil mengacak rambutku dan Gyuwon melakukan hal serupa, “pasti karena Kyuhyun, lagi. uuh”

“Ya. Ya. Ya!”  aku mengumpat tidak terima.

Dua wanita didepanku tertawa puas lalu Gyuwon mengangkat tangannya tinggi-tinggi diudara. Dan yang kutahu bahwa itu adalah hal yang membuat kau menjadi pusat perhatian ditengah kerumunan. Dan kemudian aku merasa jengah setengah mati berkumpul dengan dua wanita ini karena orang yang mereka maksud ialah orang yang membuat moodku hancur malam ini.

“Kalian disini juga?” Seohyun lah yang pertama bicara. Sambil tersenyum sumringah wanta itu memandangi kami. Aku Gyuwon dan Eun Soo eonni bergantian. Sedangkan Kyuhyun disampingnya, tampak santai dan menarik sebuah bangku dibelakang nya dari meja yang kosong. mempersilahkan Seohyun untuk duduk pada bangku tersebut. sedangkan dia sendiri menarik kursi berdampingan dengan kursiku.

juga? aku tidak tahu kalau sebelumnya pasangan pria dan wanita ini melakukan kencan ditempat yang sama denganku dan teman-temanku. juga? Brengsek.

Meja ini menjadi penuh. Bagiku, meja bundar sialan ini hanya cukup untuk menampung empat orang saja. bukan lima. Jadi teorinya, satu orang harus ditendang. Kalau saja aku memiliki kekuatan khusus untuk melakukan itu secara takasat mata. Aaargh!

“Aigoo, kenapa harus denganmu lagi sih aku bertemu?” Gyuwon mencibir. Aku pastikan itu tertuju pada Kyuhyun seorang, namun dengan pertanyaan menusuk yang sama, aku menujukan itu kepada Seohyun. Secara tak langsung. sudah kubilang, kalau saja aku memiliki kekuatan super! Sial sial sial!

Kyuhyun mengerling sebal atas pertanyaan Gyuwon. Menyandarkan punggung pada tulang kursi yang didudukinya dan melipat dua tangan didada, tersenyum padaku dulu, seperti sedang tidak terjadi apa-apa sebelumnya pada kami. “kau tidak akan bisa menghindar dariku. Aku salah satu pemilik tampat ini sekarang.” Ujar Kyuhyun sombong.

“Cih!”

“kukira itu sebuah ressort. Bukan restoran. Kecuali kalau seseorang merasa bangkrut lalu menjual resort mewahnya itu dan menukar dengan restoran pinggiran semacam ini.” Eun Soo bicara tanpa memandang Kyuhyun. nada bicaranya begitu tepat.

Kalau ditujukan untuk orang lain, orang lain itu pasti sudah kesal setengah mati. sedangkan Kyuhyun hanya menarik ujung bibirnya tinggi, hingga membuat sebuah senyuman sinis arsimetris Khasnya.

Aku bersusah payah untuk terus mempertahankan mulutku terkatup dan tidak mengomentari apapun hanya untuk mengecilkan kemungkinan lolosnya kata-kata tak terkontrol keluar dari mulutku.

“Well, itu proyek-ku selanjutnya. Mungkin. Sebuah restoran dan bar pantai?” Kyuhyun bicara dengan nada bahwa itu bukanlah sebuah pernyataan melainkan pertanyaan. dia juga menoleh padaku seakan meminta persetujuanku. Yang benar saja, memangnya aku ini tahu apa tentang pekerjaannya? harusnya jangan lihat aku! lihat saja wanita disampingmu itu! tanya saja dia! jangan aku!

aku menggidikan bahu asal menanggapi Kyuhyun lalu mengalihkan perhatianku pada sekitarku. restoran ini, sepertinya semakin malam akan menjadi semakin ramai.

“Ohya? kurasa itu akan dilakukan tidak dalam waktu dekat ini, kan? Karena sepertinya, sahabatku itu tidak bisa selalu kau acuhkan begitu saja. keponakanku itu butuh Ayahnya omong-omong.” Eun Soo menunjukku dengan jemari telunjuk lentiknya dan memberikan pandangan aneh seperti memerintahkanku untuk menganggukan kepalaku. sedangkan aku hanya dapat terdiam memperhatian dua orang ini yang hampir tidak pernah sekalipun sepemikiran.

Kyuhyun yang tampak kesal, hanya mencibir semaunya dan mengibaskan tangan diudara, “Cih! bicara saja kau dengan tembok!” ujar Kyuhyun tidak perduli.

Gyuwon dan Seohyun tertawa kencang. entah bagaimana, bagiku, tak masalah jika Gyuwon eonni tertawa tapi jika Seohyun yang melakukannya, kenapa tampak menyebalkan sih?

Mengakhiri perdebatan kami yang tak kunjung selesai, pelayan muda tadi datang dengan membawa sebuah troli berisi beberapa menu makanan, yang dapat kuketahui  bahwa itu adalah pesanan kami.

Seporsi Steak tuna berada didepanku lengkap dengan minuman entah apa namanya, tapi terlihat cantik dengan warna kuning kecokelatan. Pada dasar gelas memiliki serpihan, entah itu apa berwarna merah dan biru. Apapun itu namanya, tapi terlihat keren.

Dalam sekejap meja kami penuh dengan berbagai makanan. Berbeda dengan tadi yang hanya berisi tiga cangkir kopi saja. sambil mengangkat garpu dan pisauku, aku kembali mengamati makananku. “berapa kalori didalam makan ini ya kira-kira?” aku menggumam sendiri.

Memperhatikan makananku sedikit merinding karena porsi yang tidak main-main besarnya, untukku. lalu dengan tambahan mashed potates. Entah bertambah jadi berapa kalori makanan ini. “Ikan bukan hal perlu dikhawatirkan, Eonni. Tuna memiliki banyak hal baik untuk janin karena mengandung omega 3 yang tinggi. Tuna juga memiliki kandungan selenium—baik untuk regenerasi enzim antioksidan glutathione peroxidase, baik untuk menangkal radikal bebas dan pencegah kanker. Lalu mencegah obesitas karena—“

“Ya ya ya, sudahlah. Tidak perlu dijelaskan sepanjang itu, dia toh tidak akan mengerti dengan penjelasanmu,” Kyuhyun memotong kalimat Seohyun untukku semaunya. Tangannya menepuk-nepuk kepalaku seolah dia adalah seorang guru besar yang hebat sedangkan aku adalah murid tolol rendahan, Ingusan dan selalu membuat onar—yang baru saja mendapatkan sebuah kepastian paksaan bahwa aku tidak akan berbuat macam-macam lagi.

Segera, aku menyingkirkan tangan besarnya dikepalaku kuat-kuat. Kyuhyun dan yang lainnya tertawa setelahnya. Dan aku merasa seperti menjadi sebuah badut didalam suatu acara pesta saat ini. menjadi pusat perhatian memang hal yang tidak buruk tapi jelas tergantung alasannya. Dan menjadi tontonan, dan juga bahan olokan adalah contoh menjadi pusat perhatian yang buruk.

Hal yang kutahu dan jika semua kepala dimeja ini tahu bahwa tidak ada yang suka dijadikan bahan olokan bagi siapapun.

“aku tidak bodoh. Aku tahu dengan hal itu, aku pernah membaca!!” tukasku setengah meng-gas nada bicara. Dan Kyuhyun menoleh padaku. mecebikan bibir bawahnya seraya berkata, “Ohya?” padaku dengan nada dibuat-buat.

Brengsek!

Cho Kyuhyun’s side

Jam 10 pagi. Biasanya pada jam seperti ini, sejak pertama kedatangan kami disini, Songjin tidak bisa kutemukan diranjang ini. dia pasti sudah berada di luar, atau bersantai dibalkon. Duduk berdiam, menikmati matahari sambil membaca buku.

Lalu sekarang, wanita ini sedang meringkuk didalam kasur kami seperti tupai berhibernasi. Dia tidak sedang tidur. Aku tahu bagaimana saat Songjin sedang tertidur, dan diamnya kali ini dibalik selimut bukanlah sedang tidur, melainkan menghindari sesuatu.

Sejenak, aku berdiri disisi ranjang kami. Memperhatikan wajah lucu Songjin yang sedang berakting pura-pura tertidur, hanya supaya aku pergi karena mengira dia benar-benar sedang tertidur? Hah Lucu Park Songjin! Dia pikir berapa lama aku mengenalnya?

Aku tidak bisa menahan tawaku. Pada akhirnya lolos begitu saja tanpa seizinku. Tanganku lalu menyibakkan selimut yang dipeluk Songjin erat-erat, “ayo bagun. Apa yang kau lakukan, hah?” ujarku masih tertawa pelan. “jam sepuluh, Songjin!”

Songjin mendengus sebal saat aku menyibakkan selimut putihnya. Menggumam dan mengumpat berkali-kali seperti aku tidak ada dihadapannya, dan dia melakukannya terus menerus seakan aku tidak memiliki telinga untuk mendengar makian untukku itu. “mwo? kenapa dengan bibirmu? Mau kucium?” kataku menaikan satu alis tinggi.

Mataku tertuju pada bibir pink milik Songjin yang sedang mengerucut ditengah runtukkannya. Wanita itu mendesis sinis dan membuang wajahnya kearah lain. Dia bahkan lalu lebih memilih untuk berguling dan turun dari sisi terjauh kasur, ketimbang harus mengangkat satu jengkal kakinya saja untuk turun melewati sisiku.

Hal yang dapat kutahu, dia sedang mengacuhkanku. Alasannya? Masih kucoba untuk mencari tahu.

“Minggir.” Ujarnya malas. tak bernafsu sama sekali berbicara. Jangankan berbicara, bahkan hidup pun tampak tak bernafsu jika dia terus menyetel wajahnya seperti itu. aku tidak bergeming. Aku tetap berada ditempatku, memblokir jalannya.

Hanya ada satu jalan untuk menuju kamar mandi dan itu harus melewatiku. Mau tidak mau, dia harus berhadapan denganku dulu, sebelum melanjutkan apa yang dingin dilakukannya.

“Minggir!” erang Songjin lagi dengan nada lebih tinggi dari pada sebelumnya. Aku tetap diam ditempatku. Melipat dua tanganku rapih didada. “aku tidak masalah terus seperti ini sepanjang hari, Songjin. Kau masalah? Aku tidak mau menggendongmu kalau kau pegal nanti. Kau berat.” Ucapku semakin mengecilkan suaraku bersama dengan kata-perkata dalam kalimatku tadi.

Songjin mendecah sebal. Dia mengacak rambutnya hingga tampak seperti singa untuk menguraikan kekesalannya “aaarrgh—arra. Apa maumu?” geramnya.

Wajahku sontak membuat kerutan pada keningku, “mauku? Kenapa aku? pertanyaan itu harusnya dariku, untukmu.” Terangku santai. setelah kupikir, untuk beberapa hal, sepertinya aku paham dengan alasan mengapa Songjin menjadi uring-uringan denganku.

“kau selalu memutar-mutar semuanya. Aku pusing. Sudahlah minggir. Kau tidak mau aku pingsan hanya karena lelah berdiri terlalu lama kan?” sindirnya. Membuatku perlahan mau tidak mau bergeser dari tempatku. Sudah kubilang, terjadi sesuatu denganku—karena belakangan ini, selalu tidak bisa tidak untuk berkata tidak dengan wanita barbar ini.

Aku mengikuti Songjin masuk kedalam kamar mandi. wanita itu melirikku sekilas dari pantulan kaca didepan kami untuk memandangku, lalu mendesis. Dia mengisi gelas dengan air lalu berkumur beberapa kali. “Ayolah, ini masih pagi Songjin. Apa kita benar-benar harus berdebat sepagi ini? aku lelah kalau terus seperti ini.” erangku sebal. Nyaris putus asa sebenarnya.

Perdebatan dengan Songjin adalah suatu hal yang tak terelakkan lagi. hal itu pasti terjadi. jangankan perdebatan. Perkelahian pun selalu terjadi. Songjin selalu keras kepala dengan statement yang tak berbobot-nya juga bodoh dan sulit untuk diberi pengertian.

Sedangkan aku hanya mencoba untuk meluruskan segala hal yang dibuatnya kacau, tapi wanita ini selalu memperparah dengan tidak mau mendengar.

Aku tidak pernah mengharapkan juga akan bersama dengan Park Songjin yang penurut bagai bidadari yang kutahu bahwa itu tidak mungkin mengingat bagaimana kepiribadian Songjin. Tapi aku benar-benar bisa mati muda, kalau harus mengalami ini setiap hari, sepagi ini!

“Ck! Aku kan sudah bilang, Seohyun itu temanku. kami hanya berteman! Dan aku juga sudah menjelaskan denganmu berkali-kali kalau dia adalah EO acara peresmian ressort ini. jadi aku pasti akan selalu berhubungan dengannya. Tugasnya seperti Henry dan Min Ji jika disatukan, sekarang. jadi seharusnya kau tidak—“

“aku tidak cemburu!” Songjin menyelaku. Menghentakkan pasta gigi ditangan kiri dan sikat gigi ditangan kanannya pada meja marmer dihadapannya. “berapa kali juga harus aku jelaskan kalau aku tidak cemburu dengan wanita sialan itu, Hah?”

Yah.. lihat saja baik-baik. dia sendiri memiliki mata yang sehat. Seharusnya dia bicara seperti itu sambil melihat wajahnya sendiri dikaca! Lalu katakan padaku, apa dia sedang bepura-pura atau serius!

Hanya dengan mendengar nada bicaranya pun orang buta akan tahu kalau dia cemburu. Dia cemburu dengan Seohyun dan itu tidak masalah.

Setidaknya, aku tahu bahwa dia dapat mengerti bagaimana bencinya aku, saat dia selalu meninggikan Oppa tercintanya dokter amis sialan itu dibandingkan aku, suaminya!

Itu tidak masalah, dan aku baik-baik saja dengan hal tersebut, kalau sekiranya dia merasa tidak nyaman. Selama bersama dengannya, hampir tidak pernah aku mendapati bagaimana Park Songjin cemburu dan rasanya, terdapat hal menyenangkan saat mendapati hal yang kutunggu itu terjadi, didepan mataku.

Itu sama sekali bukan masalah. Masalahnya adalah, Songjin tidak pernah jujur dengan apa yang dirasanya sendiri, bahkan dengan dirinya sendiri, lalu bagaimana dia mengharapkan orang lain dapat bersikap lebih baik saat dirinya sendiri memperlakukan dirinya tidak tepat?

“buat aku percaya!” sentakku langsung menantang.

Songjin diam dan tidak menanggapi kata-kataku. Dia hanya menarik nafas panjang. Sangat panjang hingga bahu lurusnya naik secara bersamaan. Memejamkan mata, lalu terus menggosok giginya dengan tenang.

Lima menit aku menunggu dalam diam. bosan. Tapi aku tidak bisa membiarkan Songjin terus berkutat dalam hal konyolnya yang entah akan sampai kapan jika diteruskan.

Dia berkumur dan kemudian melirikku cepat. Hanya beberapa detik saja sebelum kembali berkumur lagi, “aku tidak cemburu. Kyuhyun-ah. Itu pekerjaanmu. Aku paham. Aku hanya tidak suka saat dia selalu berada disekitarmu dan kau seperti lupa waktu. Itu saja” Ucap Songjin lembut.

Nada bicaranya turun 9 oktaf secara drastic dengan mengejutkan. Hembusan nafasnya menormal dan kini, tidak tampak lagi tanda-tanda bekas amukan pada wajahnya. Tidak sedikitpun.

Dasar tolol, itu namanya cemburu! Benar-benar konyol sekali dia ini! tapi sudahlah, aku terlalu malas untuk melanjutkan perdebatan ini lagi. Baiklah, terserah maunya saja.

“kalau begitu berhenti merajuk. Kau membuatku, bingung!” protesku.

Aku merenggangkan tangan untuk menarik tangannya agar dia mendekat. Lalu menguncinya dalam pelukanku beberapa saat. Kemudian beralih pada bibirnya, menyesap dalam-dalam.  “seharusnya kau sudah pergi, kan?” Songjin bicara pada jeda time out ciuman kami ketika dia sibuk menarik oksigen disekitarnya lagi.

Yang benar saja. seharusnya dia berkata maaf atau apalah itu kata-kata romantis lainnya, dan tidak malah bicara dengan nilai kandungan pengusiran sebesar Sembilan puluh persen begini! “Aish~”

“kau memang biasanya kan—“

“lalu kenapa? memangnya kenapa? kau ingin apa kalau aku pergi? matamu itu terlalu sering menonton hal yang tidak semestinya akhir-akhir ini.” dengusku sebal. Dikiranya aku tidak tahu, selama ini dia begitu menikmati tubuh Shirtless pria-pria pantai secara gamblang? Cih!

Songjin yang seakan sadar hanya mendesis menanggapiku, “yang benar saja, apa yang kau harapkan memangnya? Ini kan pantai, Cho Kyuhyun. kecuali kalau kau mau melakukan hal serupa di depan mataku seperti yang kumau. Ditengah pantai, dibawah matahari sambil bermain surfing. Lagipula aku ragu kau bisa melakukannya! Tsk!”

Apa? Apa? Apa itu katanya tadi? bisa melakukan apa? Sialan! masih sempatnya dia meremehkanku bahkan disaat aku dapat membuatnya hamil, secepat membalikan telapak tangan? enak saja bicara semudah itu! “aku selalu melakukannya didepan matamu. Bahkan lebih dari bertelanjang dada. Kau mau aku melakukannya sekarang? dan lagi aku tidak perlu melakukannya ditengah pantai, dibawah matahari sambil bermain surfing kalau hanya untuk membuatmu terkesan. Tidak usah berlagak sok keren. sekarang jantungmu bahkan berdetak tidak karuan, bodoh!” ujarku menjitak kepalanya kemudian.

Dasar banyak gaya!  “Sudahlah, ayo cepat!” aku menyudahi segalanya dengan menarik wanita ini bersamaku, dalam rangkulan. Seketika Songjin meringsut mundur membuatku berhenti berjalan karena wanita ini lepas dari jangkauanku tadi, “kenapa lagi?”

“kemana?” tanyanya panic. Ya Tuhan. aku tidak sedang akan mengajaknya perang! Dia ini kenapa sih? “kita tidak akan bertemu Seohyun, Oke? Kita akan sarapan. Sarapan yang terlambat karena kau melakukan aktingmu sejak tadi.” dengusku.

Wajah Songjin menegang. Dia benar-benar terlihat seperti akan kuajak berperang ke Kuwait. Tidak ada seruan bersemangat saat dia mendengar kata-kata ‘makan’ lagi, entah ini adalah juga efek mengandung. Semakin lama, semakin banyak saja kemauan dan hal aneh yang dilakukannya. Dan jujur saja, kebanyakan Dari hal aneh tersebut benar-benar tidak mengenakkan, menyerempet menyebalkan setengah mati untukku.

“A—aku belum lapar, Kyu. Aku makan n—nanti saja. itu mudah,” katanya panic.

Mudah katanya? Tidak ada yang mudah untuk saat ini. dan seribu persen aku yakin bahwa dia akan lupa dengan janjinya sendiri itu, setelah beberapa saat dia menyibukan diri pada apapun yang sedang dikejarjakannya nanti. “lapar tidak lapar, kau tetap harus makan. seseorang didalam tubuhmu, harus diberi makan!” putusku pasti. “jangan membuat keadaan menjadi sulit untuk anakmu. Bahkan disaat dia belum keluar dari tempatnya. Ayo cepat!”

“T—tapi..”

Aku membulatkan kedua mataku untuk memberikan penekanan bahwa aku dapat berbuat lebih hanya untuk menyeretnya keluar demi makan paginya. Aku bahkan memundurkan waktu makan pagiku sendiri hanya untuk agar dapat melakukan makan pagiku dengannya. Apa-apaan dia? seenaknya saja!

Aku masih terus menyeret Songjin bersamaku, namun sampai didepan pintu Songjin benar-benar melepaskan diri dari cengkramanku, “Arra Arra. Aku keluar. Tapi.. sebentar,” dia terdiam, terlihat berfikir “tunggu disini.” perintahnya. Melesat pergi meninggalkanku, lalu tak lama muncul dengan konstum berbeda.

“Mwo?” Eish, dia kira ini di mana? “kenapa seperti orang Eskimo begitu? memangnya tidak panas?” tukasku tidak mengerti. Songjin baru saja mengganti piyama Winnie the Pooh-nya dengan sebuah stelan training. lalu menggunakan Hoodie berbulu tebal milikku yang kugunakan saat berangkat kesini kemarin.

“mau makan tidak?” ujarnya bicara setelahku.

“Iya, tapi—“

“kalau begitu ayo!”

“Eh?” lalu kemudian, Songjin lah yang menarikku pergi.

** **

“…… lalu kenapa kau tidak ingin ikut?”

“bukannya tidak ingin. tapi aku harus mengerjakan sesuatu, Kyuhyun-ah!”

Aku hanya menutup mulutku rapat setelahnya. Songjin kembali berulah. Kali ini dia tidak ingin ikut bersamaku keluar kamar. Sejak kemarin pun dia seperti ini dan tadi pagi, kalau aku tidak memaksanya untuk keluar, sarapan. Dia pasti tidak akan angkat kaki sedikitpun dari kamar ini.

Tampaknya, kegiatan keluar kamar menjadi hal yang paling menyeramkan baginya saat ini. entah itu karena apa.

Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Songjin. Tapi perilakunya terlalu berbeda, jika dari pandanganku. Entah apakah orang lain menyadarinya, tapi perbedaan itu terasa begitu nyata dimataku.

Aku sudah tidak lagi, berniat untuk keluar mencari udara segar. Atau sekedar berjalan-jalan. karena penolakan Songjin tadi, membuat semangatku hilang. Maka aku membelokan jalanku, menyeret kaki dari menuju pintu keluar menjadi ke kamar mandi.

Terasa Songjin mengikuti dibelakang. langkahnya tidak sebesar langkahku, tapi hentakan kakinya mirip seperti hentakan kaki gajah yang membuat lantai bergetar. “kenapa kau tidak jadi pergi?” tanyanya dibelakangku.

Aku mendengus sebal. Mencuci wajahku dengan air dari keran dan menatap wajah wanita itu dari pantulan cermin. “menurutmu kenapa?” balasku sarkastik.

Dia ini kenapa? aku ingin keluar, karena aku ingin berjalan-jalan dengannya. Aku ingin menghabiskan waktu dengannya karena sejak kemarin aku nyaris tidak memiliki waktu untuknya. Bahkan sarapan bersamanya pun terlewat beberapa kali. padahal kami berada ditempat yang sama setiap paginya. itu kan lucu sekali kalau dipikir. padahal makan pagi pun tidak akan menelan waktu berjam-jam.

Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengannya. Memangnya apa salahnya sih? dimana letak kesalahannya? Dia ini menyebalkan sekali, selalu seenaknya dengan semua orang!

Songjin meloloskan hembusan nafas beratnya dan merunduk. Bersandar pada meja marmer dibelakangnya. Mulutnya sudah terbuka untuk berbicara, entah itu apa. Tapi dapat kupastikan hanyalah sebuah gumaman tak penting yang hanya akan menimbulkan perdebatan.

Sejak pagi tadi, jutaan perdebatan sudah kami lakukan dan rasanya sekarang, aku tidak sanggup lagi untuk melalui perdebatan lainnya. Aku terlalu lelah, untuk menghadapi dirinya yang memiliki jalan pikiran aneh dan konyol.

Apa tidak bisa, seperti pasangan normal kebanyakan, kami bersikap sewajarnya saja? kukira Siwon Hyung dan Gyuwon tidak seperti ini. bahkan Appa dan Eomma pun sepertinya tidak. entah apa yang salah dari aku. atau dia? Ah—molla! sepertinya kami ini dikutuk.

Aku melemparkan diriku pada ranjang lalu menarik selimut tinggi-tinggi. Mematikan lampu diatas meja nakas disisiku dan memejam. Namun baru beberapa menit merasakan tenangnya suasana, ranjangku bergejolak.

Lalu hembusan hangat menerpa wajah sisi kiriku yang tidak tertutupi selimut. “Baiklah. Aku mengerti, ayo pergi! kau ingin kemana sih?” ucapnya pelan. nadanya terdengar mengalah namun sarat akan rasa keterpaksaan. Cih!

“Tidak perlu.” Sahutku ketus. Sudah kubilang aku tidak lagi bernafsu untuk pergi kemanapun lagi sekarang.

Tubuhku bergoyang seketika karena Songjin mendorongnya cukup keras kesana kemari. Aku tampak seperti tikus yang sedang dimainkan oleh sejumlah kucing. Terombang ambing begitu saja. “Ya~ Kyuhyun-ah.”

Songjin merengek seperti anak kecil. berkali-kali dan tanpa henti. Kalau sedang berada dipusat perbelanjaan, aku pasti terlihat seperti Ibu-Ibu yang tidak ingin membelikan apa yang anaknya inginkan.

“Diamlah. Aku ingin tidur.” Cetusku kemudian. Songjin berhenti menggoyangkan tubuhku setelahnya. Bahkan ranjang kami pun berhenti bergerak. Seperti setelah aku mengatakannya tadi, lalu Songjin berubah menjadi batu Karena terkena kutukan.

Aku masih limbung, dipenuhi segala macam jenis pertanyaan. Namun lalu setetes air jatuh tepat pada pipiku. Basah. Tidak mungkin atap ressort ini bocor. aku pemiliknya, aku tidak akan membuat tempat bobrok untuk ditinggali. Dan lagi, sekarang pun sedang tidak hujan.

Aku hanya dapat mengerutkan kening ketika merasakan hal yang sama terjadi untuk kedua kalinya, hingga memaksaku untuk mau tidak mau menoleh menghadap wanita perajuk dibalakangku itu. “Maaf~” ujar Songjin lirih ketika mata kami bertemu pandang.

Aku tidak mengerti ada apa dengannya sebenarnya. hanya karena hal seperti ini saja dia menangis seperti ini? ya Tuhan! kepalaku akan pecah sepertinya kalau semakin lama, dia terus seperti ini.

Kuhela nafasku dalam-dalam dan panjang, lalu memutar posisi menghadapnya dari sebelumnya, yang memunggunginya, dan menarik wanita itu kedalam pelukanku. “kau ini kenapa sih sebenarnya?” tanyaku bingung.

Tanganku menepuk-nepuk punggungnya pelan berkali-kali. Tangisannya semakin kencang. padahal aku tidak melakukan apapun lagi. pasti ada sesuatu. Sesuatu yang buruk lebih tepatnya.

“kau ingin pergi kemana? Ayo pergi.” ajaknya dengan suara yang bergetar. itu lagi yang masih dibahasnya. dia benar-benar tidak mengerti maksudku sepertinya. sudahlah.

Tangisannya sudah berhenti sepertinya setelah beberapa saat kudiamkan saja dia melakukan apa yang ingin dilakukannya. Hanya menyisakan isakan-isakan pelan lengkap dengan senggukan. Wajahnya menjadi merah. Hidungnya apalagi.

“Ck, sudahlah. Tidak perlu.” Ujarku menolak. melonggarkan pelukanku untuk memberikannya ruang lebih luas. Namun lalu suaranya kembali bergetar berbicara, “Ya~ aku kan sudah minta maaf. Kenapa kau masih juga marah?” protesnya hampir menangis lagi.

Demi dewa langit dan bumi, “Astaga, Park Songjin! Kau ini kenapa sih? Aku kan hanya bicara tidak perlu. Kenapa kau menangis lagi?” runtukku putus asa. Aku bisa gila kalau lama-lama dia seperti ini, mengerjaiku. “aku tidak marah denganmu. Tidak Songjin, Aish, sudahlah. Kau ini benar-benar!” umpatku setengah-setengah.

Banyak makian yang ingin kukeluarkan, tapi aku tidak dapat mengeluarkannya karena tidak tahu lagi akan menjadi seperti apa jika aku benar-benar melakukannya. Aku tidak melakukan apapun saja, Songjin sudah seperti ini.

“Sudahlah. Jangan menangis lagi~” ucapku, mengusap belakang kepalanya lembut. Tanganku satunya menyingkirkan poni pada keningnya dan menyetuh dahinya. Hanya mengecek siapa tahu dia seperti ini karena sakit. tapi suhu tubuhnya baik-baik saja. Normal.

Aku kemudian hanya dapat meletakan daguku pada atas kepalanya. Memeluknya dalam diam. kami sama-sama sibuk dengan aktivitas kami masing-masing. Songjin sibuk dengan acara meredakan tangisannya, sedangkan aku hanya menikmati aroma tubuhnya yang selalu membuatku merasa mabuk dan tidak mampu berada terlalu lama jauh darinya.

Lama kami terdiam, deheman pelan mengisi keheningan. Tak lama, remasan pada pakaianku terasa semakin nyata. Aku merundukan kepala sedikit untuk melihat apa yang sedang wanita itu lakukan, lalu kemudian terkejut saat mendapati mata bulat besarnya sedang memperhatikanku seksama, “ingin sesuatu?” tanyaku menebak. Namun Songjin menggeleng dua kali. Dia lalu membenamkan wajahnya pada dadaku dan melingkarkan tangannya pada pinggangku lebih erat dari pada sebelumnya.

Ah~ dia pasti sedang mencoba untuk menggodaku. Dasar wanita licik! Dia pasti sedang merencanakan sesuatu kan? “Ya~”

“…… apa aku sudah menjadi istri yang baik selama ini?”

Tanya Songjin membuatku terkejut. Ada apa dengan pertanyaannya itu? “maksudmu?”

“kau tahu maksudku, Kyu.”

Aku bingung. Tidak paham dengan inti pembicaraan kami saat ini yangtak menentu. Dan ketika aku mencoba untuk merundukan kepala—ingin melihat bagaimana wajahnya saat ini, itu malah tidak dapat kulakukan karena terhalang oleh kepalanya didadaku. “selama ini?” tanyaku lagi mengulang.

Aku lantas merubah posisi menjadi terlentang. Mengadap langit-langit putih diatasku seraya berfikir keras. ada beberapa hal yang kupikirkan dalam satu waktu bersamaan saat ini.

Pertama, pertanyaan wanita ini tentang apakah dia sudah menjadi istri yang baik untukku selama ini?

Kedua, hal apa yang dipikirkan wanita ini, sampai pertanyaan seperti ini dapat lolos dari mulutnya?

Dan ketiga, apa yang sebenarnya sedang dipikirkannya sampai dia bisa merasa begitu tidak percaya diri seperti ini?

Bukan apa-apa. Tapi aku mengenal Songjin tidak hanya satu dua tahun saja. aku paham dan hafal bagaimana sifat dan kebiasaan istriku diluar kepalaku. Park Songjin adalah wanita yang memiliki kepercayaan diri diatas rata-rata. Itulah yang kurasa dapat membuatnya berhasil pada banyak hal walau kadang kemampuannya tidak sebanding dengan apa yang diinginkannya.

Hampir tidak pernah aku mendengar Songjin bicara hal buruk mengenai dirinya sendiri, karena dia sudah terlalu yakin bahwa dirinyalah yang terbaik selama ini. sepertinya, untuk yang satu itu, aku yang menularkannya, kkk~.

“Kau.. selama ini..” aku menimbang lagi sebelum mengatakannya. “Cukup baik—hanya saja..”

“Hanya saja?” Songjin bertanya langsung begitu cepat dengan nada begitu antusias ditelingaku. Bola matanya membesar sebesar bola ping-pong. Aku menggeleng cepat karenanya dan tertawa pelan, “Tidak. kau, cukup baik selama ini.” kataku akhirnya dan tersenyum lebar padanya.  “Good job” pujiku dan mengacak rambutnya.

“Ck, hanya saja apa?” dia masih menuntut penggalan kalimat yang tidak sampai kuselesaikan. Aku bahkan dapat memastikan bahwa itu tidaklah penting. Aku tidak jadi mengatakannya, karena tidak ingin mendapati perdebatan lainnya saja. “Tidak apa-apa. Lupakan saja.”

“mana bisa dilupakan begitu saja? aku sudah terlanjur mendengarnya. Hanya saja apa?”

“Tidak ada apa-apa, Songjin. Astaga!” geramku semakin kesal dibuatnya. kesabaranku ini ada batasnya! Sedangkan Songjin masih melotot-melotot menuntutku untuk melanjutkan ‘hanya saja’-ku itu, aku lebih tertarik untuk bermain dengan bibirnya yang seharian ini sepertinya sangat jarang kukunjungi.

Aku tersenyum puas setelah berhasil meraup apa yang kumau, namun berbanding terbalik dengan diriku. Reaksi Songjin tidak seperti yang kuperkirakan. Wanita itu diam ditempatnya dengan wajah datar, lalu kian lama kian meredup—tampak sendu. “W—wae?”

“cukup baik itu artinya tidak lebih baik dari baik-baik saja.” gumamnya sangat pelan, sepelan hembusan angin. “ternyata aku memang seburuk itu ya?”

“Aish, lagipula kenapa juga kau memikirkan hal seperti itu?” tuntutku dengan suara meninggi. Wanita ini hanya menggelengkan kepala lemah tanpa bicara apapun lagi.

Apapun itu, seburuk apapun dirinya toh aku tidak pernah meributkannya sampai merasa terganggu karena telah memilih hidup bersama dengan wanita sepertinya, kan? Lalu apalagi yang direpotkannya sebenarnya? dia ini terlalu banyak menelan segalanya secara mentah-mentah! Makannya kubilang, dia ini bodoh.

Ah, aku benar-benar tidak ingin ada lagi perdebatan setelah ini. aku hanya ingin sesuatu yang manis bagi kami terjadi dengan lancar tanpa gangguan, satu kali saja. tanpa ada interupsi perdebatan, perkelahian, atau hal-hal konyol lainnya yang mengurangi kadar keromantisan.

Maka dengan alasan-alasan tersebut. aku tidak lagi berminat untuk menanggapi hal-hal konyol Khas seorang Park Songjin dan memilih untuk memejamkan mata saja. tidur akan lebih baik, dari pada melakukan hal aneh lainnya.

Cukup lama aku merasakan keheningan, sampai kemudian aku kembali diganggu oleh kebisingan lainnya. Mulut cerewetnya mulai bekerja lagi, kali ini aku akui membuatku tercengang karenanya. Dari mana dia mengetahui hal-hal semacam ini?

“Kyu, kau tahu tidak tubuh manusia itu, hanya dapat menahan rasa sakit sampai 45 unit saja? tapi seorang wanita yang melahirkan, merasakan sakit sampai 57 unit. Itu sebanding dengan 20 tulang yang patah disaat yang bersamaan. Kau bisa bayangkan tidak bagaimana rasa sakitnya?”

“…Ng?”

“dan kau tahu, posisi seorang wanita melahirkan itu berada ditengah-tengah antara hidup dan mati. dia ada disitu, tapi sebagian dari dirinya tidak ada disitu. Ditengah usahanya untuk mengeluarkan nyawa lain yang bersarang ditubuhnya, wanita melahirkan itu berada diambang batas bahaya. menurut penelitian Universitas Oxford—Inggris, enam dari sepuluh wanita, meninggal saat mereka melahirkan. Dari presentase itu, sepertinya melahirkan adalah hal mematikan ketiga setelah penyakit jantung dan diabetes. Walau selama ini, peralatan sudah canggih dan banyak hal yang dapat membantu proses persalinan. Sebenarnya, karena beberapa alasan itu saja, melahirkan bukan lagi menjadi hal yang mengerikan. Tapi tetap saja, kadang ini membuatku berfikir banyak hal,”

Songjin terdiam. Menyudahi celoteh panjangnya lalu mengadahkan wajah padaku yang berada lebih tinggi darinya. Tersenyum. “…jadi—“ ujarnya mengambang. Suaranya terdengar lebih lembut daripada tadi dan telunjuknya bermain-main diatas dadaku asal, “aku tidak tahu seperti apa nanti hal itu akan terjadi padaku, saat aku mengalami hal serupa. Tapi kalau nanti aku melahirkan, itu berarti aku sedang berada diambang batas bahaya. Itu artinya, aku sedang memperjuangkan dua hal terpenting didunia. menyelamatkan nyawa anakku, dan meloloskan nyawaku sendiri dari kemungkinan kematian yang bisa kapan saja datang.”

Aku mencelos mendengarnya. Sesuatu didalam tubuhku, membuat segalanya terasa ngilu bahkan saat aku menarik oksigen untuk bernafas kepalaku terasa pusing, dan segalanya menjadi tidak focus bagi penglihatanku.

Perlahan tapi pasti, denyutan mulai muncul dalam kepalaku. Bersamaan dengan itu, aku hanya dapat memejamkan mata, dan berusaha untuk mengalihkan segalanya yang sudah menjadi kacau didalam kepalaku. “buku yang selalu kau baca itu, menjelaskan tentang hal seperti itu?”

“Mm.”

“…kalau begitu tidak perlu membaca buku itu lagi setelah ini, Arra?”

“ya~”

“dengarkan saja aku. untuk satu kali saja. kau bisa tidak mendengarkanku?” aku menuntut. Songjin diam karena tampak kesal dengan perkataanku. kami kembali terdiam sebelum Songjin mulai mengoceh lagi, “Kyu—kalau aku mati karena..”

“diamlah.” Putusku cepat. Aku menguruti pelipisku sendiri menggunakan tangan kananku yang bebas, yang tidak digunakan Songjin sebagai bantalan kepalanya.

“karena melahirkan, kau harus tahu kalau selama ini, aku—“

“kubilang diam. Songjin.” Aku berkata semakin ketus. Menghentikan pijitanku dan merunduk menatapnya, “kau mengerti bahasa manusia kan? Kubilang diam, tutup mulutmu dan lakukan hal berguna lainnya saja.”

“Tapi, dengar dulu. aku belum selesai bicara. Kau ini, Ish! Dengar, nanti saat melahirkan, aku pasti juga berada pada keadaan seperti itu. aku akan berada diambang batas bahaya pada nyawaku sendiri. tidak ada yang tahu apa aku akan berhasil atau tidak. aku hanya dapat menjajikan bahwa aku akan mengeluarkan akan kita. aku janji dia pasti akan selamat, dan kau harus menjaganya. Kau harus berjanji, kau akan menjaga anak kita dengan baik. merawatnya dengan baik. memberikannya kehidupan yang baik. memberikannya kasih sayang yang pantas. Dan jelaskan, bahwa aku tidak pergi begitu saja. katakan kalau aku juga menyayanginya. Seperti kau yang juga menyayanginya. Seperti orang lain disekitarnya, yang sayang dengannya. Katakan, aku akan selalu menjaganya dari tempatku. Aku akan selalu ada untuknya, bahkan saat dia tidak menyadarinya dan katakan—”

“SONGJIN!” aku membuka mulutku lebar-lebar, dan tanpa kusadari, aku membentak Songjin begitu kencang. wajahnya menjadi kaku, lalu Songjin meneguk ludah berkali-kali dalam diam. “aku hanya bic—“

“kalau kau akan bicara yang aneh-aneh lagi. lebih baik kau tidak perlu bicara apa-apa. Brengsek!” geramku tak tahan. Beralih memunggunginya dan menarik selimutku lagi.

Sambil memejam, aku berusaha terus mengabaikan Songjin yang kembali menggerakan tubuhku seperti aku adalah tikus mainan. Aku berusaha menghentikan jantungku yang berdegup tidak karuan. entah apa yang terjadi, tapi ini terasa sangat buruk.

Bodoh sekali dia itu, karena kalimat tak berdasarnya itu, suasana menjadi seribu kali lebih mencekam dibandingkan ketika kami melakukan perdebatan terhebat apapun itu.

Bagus sekali, Songjin. Bagus!

To Be Continued

196 thoughts on “[KyuJin Series] I Almost Do 2

  1. ko songjin jadi melow gitu ya banyak bgt yang dia pikirin kayanya dibalik sifatnya yang rada asal asalan ternyata hatinya lembut bgt sampe udah mikir jauh gitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s