[ Lee Donghae – Kim Eun Soo ] Fix A Heart 4 (END)


Author: GSD.

Title: Fix a Heart

Cast: Lee Donghae, Kim Eun Soo, Cho Kyuhyun, Cho Songjin, Choi Siwon, Choi Gyuwon.

Rating: G.

Length: Chaptered [ 4 of 4 ]

Notes: 1. As alywas seperti yang kemarin aku bilang, ini panjang. karena pecahan dari 150 mc.word yang kemarin, setengahnya udah keposting. semoga gak mabok bacanya.

2. Lagi dan lagi aku mengingatkan, dua part terakhir Fix A Heart ini, berhubungan sama I Almost Do [Kyujin series]

3. Maaf karena Update-nya lama, aku bener-bener mesti bagi waktu sama kuliah soalnya.

4. Terima Kasih dan selamat membaca^^

“Love is beautiful, wonderful, and even sacred thing, but until it arrives, shouldn’t we give ourselves permission to thrive?”

Kim Eun Soo’s side

 

“Eonni, Jangan~”

Songjin menarik satu tanganku dan menguncinya kuat-kuat. Tangan yang sedang kugunakan untuk mejamahi ponselku. Dia menggenggam tanganku kencang tapi tidak terasa menyakitkan, karena kurasa kekuatannya belum benar-benar pulih. Tapi wajahnya mengencang, tanda dia sedang berusaha.

“Jangan apa?” tanyaku pura-pura tak tahu dan memindah tangankan ponsel dari tangan kiri menjadi ke tangan kanan lalu Songjin melakukan hal yang sama pada tangan kananku. “Kumohon.” Pintanya sungguh-sungguh.

Aku terdiam untuk sesaat. Menatapnya lekat-lekat. Wajahnya masih tampak begitu pucat. Belum ada semburat kemerahan seperti khas miliknya selama ini. pucat, kurus, dan sayu. dan tubuhnya masih lemas seperti tak bertulang. Sejak tadi, Songjin hanya terduduk dibangku pantai, kayu—bersamaku sepeninggal Donghae, setelah dia bekerja sebagai dokter dadakan, mengecek kondisi Songjin dan kami mengurus keadaan Songjin saat diketahui dia tengah pingsan.

Songjin pingsan.

Entah bagaimana, Ini bukan hal yang mengejutkan bagiku. dan entah bagaimana, cepat atau lambat, aku seperti mengerti bahwa dia akan begini karena melihat wajahnya yang kurasa berbeda saja, sejak beberapa hari belakangan.

Songjin menatapku, mengiba. Wajahnya benar-benar tampak kasihan. Aku bukannya ingin mengasihaninya, tapi dia memang tampak seperti itu. dan untuk alasan seperti itu saja, aku tidak mengerti apa yang terjadi dengannya sebenarnya. “Haah—“ kubuang nafasku panjang.

Menurunkan ponsel yang tadi sejajar dengan wajahku. “berikan aku alasan yang tepat mengapa aku tidak boleh melakukan ini.” kataku tegas. maksudku adalah, menghubungi Kyuhyun.

Ini tidak bisa dibiarkan kan? Kyuhyun harus tahu tentang istrinya yang pingsan setelah berolah raga disiang hari yang panas terik minta ampun seperti ini. “Kyuhyun akan marah.” ucap Songjin lirih. Nada suaranya sarat akan rasa takut yang berlebih.

Disaat Songjin yang berangsur menjadi lesu, aku malah ingin tertawa sekencang-kencangnya mendengar alasan konyolnya itu, “Kyuhyun akan marah?” ulangku tidak mengerti. Juga tidak habis pikir. Dan tidak percaya.

Aku benar-benar tidak percaya dengan kepemilikan pola pikirnya itu, “demi tuhan, Songjin, kau pingsan! Kau nyaris mati karena dehidrasi, dan kelaparan tingkat dunia. Kau bisa lihat bagaimana wajahmu sekarang dicermin. Aku bahkan tidak habis pikir bagaimana Kyuhyun tidak menyadari, bahwa tulang pipimu menirus drastis begini? Kenapa? kau takut dimarahi Kyuhyun atas kesalahanmu sendiri ini?” tanyaku menggunakan nada sarkastik-ku. “kau tahu bahwa semua hal yang kau lakukan. Memiliki resiko,  bukan?”

Songjin diam. tidak dapat menjawab apapun yang kutanyakan. Malah wajahnya berangsur menjadi semakin mengencang juga pucat. Aku menghembuskan nafas beratku, dan kembali mengangkat ponsel.

Songjin kembali melakukan hal yang sama. Kali ini dia benar-benar menampilkan wajah yang AKH—kenapa wanita ini memiliki wajah sepolos ini sih? Aku tidak bisa untuk tidak marah lagi dengannya! Tapi ini adalah salahnya, dan aku patut memarahinya!

Kenapa aku merasa serba salah seperti ini sekarang? benar-benar sial! Apa Kyuhyun juga merasakan hal yang sama dengan wanita ini selama ini? kalau iya, sekarang barulah aku paham, mengapa Kyuhyun tidak pernah banyak ber-reaksi saat Songjin melakukan aksi barbar kepadanya.

Kuhembuskan nafas kencangku, nyaris meng-gas karenanya dan menoleh kepada Songjin, “dengan satu syarat.” Kataku tegas. “ceritakan padaku, apa yang terjadi. sejujurnya. Tanpa editan. Yang se-jujur-jujur-nya! Deal?”

Sadar akan ketidakpemilikan alasan lain untuk menentang, Songjin hanya dapat mengangguk pasrah menanggapiku, dengan tubuh yang lemas.

~~

Haaaah—nafasku naik turun tak beraturan. Jadi, inilah alasannya mengapa Songjin selalu menolak ketika kuajak pergi keluar untuk berwisata kuliner, mencicipi masakan baru yang sebelumnya, kami belum pernah cicipi. selalu mempertanyakan berapa kalori yang akan masuk kedalam tubuhnya, saat dia akan memakan atau meminum sesuatu.

Alasan mengapa dia tampak lesu, tak bertenaga, bobot tubuh yang menyusut drastis hingga tulang tubuh tampak menonjol menyeramkan begini, wajah yang semakin menirus, dan selalu berolah raga seperti orang gila selama ini? bahkan disaat kami sedang dalam masa liburan. Yeah, aku tidak menyalahkan tentang olah raga-nya. tidak kalau saja dilakukan dengan cara yang benar. tapi Inilah alasannya, mengapa dia tidak mau memakai pakaian seperti pakaian yang biasa dipakainya selama ini, dan malah memakai piyama, atau jaket dingin nan tebal ditempat bermandi matahari seperti ini, seperti orang Eskimo!

Dia tidak ingin menampakan lemak yang bergelambir dengan gaya pakaian yang biasa dipakainya dulu. Haah—rasanya ingin menjedukan kepala ini ke tembok sampai hancur! Jelaskan padaku, bagian mana dari tubuhnya yang memiliki lemak bergelambir yang dimaksudnya itu? Yang mana?? YA TUHAN! aku tahu tentang krisis kepercayaan diri seperti ini, tapi pikirannya kali ini jauh sekali! benar-benar jauh!

Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali sambil terus merasa tidak habis pikir dengan wanita didepanku ini. wanita ini.. yang bisa membuat banyak pria merasa kacau seketika. bahkan disaat dirinya tengah bersuami dan sedang mengandung.

Membuat seorang pria si pria tanpa nama itu tergila-gila padanya, bahkan tak masalah kalau harus beradu jotos dengan Kyuhyun yang notabene adalah pemilik Sah darinya. Wanita ini! ya tuhan aku ingin melompat dari jurang saja kalau begini.

“Tsk, ini!” kuserahkan beberapa helai tissue untuknya. Tangisannya itu semakin lama semakin menjadi saja. wajahnya sudah seperti ini bahkan, dan aku tidak tahu, alasan apa yang akan digunakannya untuk menjelaskan kepada Kyuhyun saat pria itu nanti sadar, bahwa mata istrinya ini telah membengkak besar menjadi seperti bola basket.

Aku memberikan juga sebotol air mineral kepada Songjin, yang selalu kusimpan didalam tasku. Aku selalu membawa air mineral kemanapun aku pergi. itu adalah sebuah kewajiban!

Tiba-tiba saja aku menghela nafasku, sambil memutar bola mata jengah, ketika Songjin terasa ragu dan masih memerlukan banyak waktu untuk menerima botol minumku, “Tenang saja. air mineral tidak memiliki kalori apapun yang akan membuatmu gemuk, Songjin. Jangan konyol, cerdaslah sedikit” Seruku sebal.

Benar-benar bukan sebuah kesalahan mengapa Kyuhyun memanggilnya si Bodoh.

Decakan Songjin setelah wanita itu membersihkan air mata diwajahnya dengan tissue menjawabku, “Aku tahu!” ucapnya ringan. Tak ayal pada akhirnya, mengambil botolku juga, dan menenggak isinya.

Aku menggelengkan kepalaku lagi untuk Songjin. Sampai sekarang, aku masih benar-benar-benar-benar tidak habis pikir dengan cara berfikir wanita ini. benar-benar tidak mengerti, “kau tahu, Anorexia?” aku membenarkan posisi duduk-ku menjadi lebih santai dari pada sebelumnya yang menyamping, menghadap Songjin.

Kepala Songjin tidak menggeleng, tapi juga tidak mengangguk. Sama sekali bukan jawaban, namun wajahnya mengisyaratkan gambaran ketidakmengertian, “ini akan sangat panjang kalau aku menjelaskannya padamu.” aku memperingatkannya terlebih dahulu.

Kutarik nafasku dalam dan lagi-lagi merubah posisi duduku. Aku tidak bisa menjelaskan hal serumit itu dengan posisi yang tak tepat, kepada wanita bernama Cho Songjin, ini. akan lebih merepotkan kalau aku tidak melihat matanya secara langsung dan tepat.

Jadi aku dapat tahu, apa wanita ini benar-benar mengerti, mengerti, atau berpura-pura mengerti dengan penjelasanku.

“Haah—lupakan. Aku tidak akan menjelaskan dalam versi panjang. Kau butuh istirahat juga. tapi biar kuberitahu sedikit, Anorexia, Gangguan makan dengan gejala penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan merasa takut secara berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang. Dan dari semua yang kulihat, kuperhatikan, kutonton, kuamati sendiri, lalu kudengar dari ceritamu dan apa yang kau jelaskan padaku, semua yang kau lakukan selama ini, Cho Songjin, dapat kukatakan kau seperti itu. berinti pada satu hal ini. Anorexia. Anorexia Nervosa.”

“Anorexia Nervosa..” Songjin mengangguk-angguk sambil mengulangi ucapanku tadi, dengan wajah polosnya. Sepertinya dia memang tidak mengerti apapun selama ini, tentang hal ini.

“Yeah. Untunglah kau tak separah itu. aku pernah melihat penderita anorexia yang hanya menyisakan tulang dan kulit saja. kau.. belum. Maksudku belum. Tapi kau akan seperti itu jika terlalu lama seperti ini. kau tahu, kau bisa masuk pusat rehabilitasi karena hal ini. dan kau sebenarnya, sudah pantas sekali. sudah memiliki criteria yang tepat sebagai anggota dari pusat rehabilitasi Anorexia Nervosa. Biasanya penderita sepertimu akan mendapatkan perawatan intensif selama 3 sampai 4 tahun lamanya. Itu pun belum tentu akan sembuh total. Mungkin kalau semakin parah, butuh waktu sampai 6-7 tahun. Aku tahu dimana tempatnya dan aku bisa saja mendaftarkanmu kesana. Kau mau masuk kesana, Songjin?”

Wajah Songjin menegang seketika. wanita itu menjadi panic setengah mati, entah karena ucapanku yang mengatakan bahwa aku akan memasukannya kedalam pusat rehabilitasi, atau merinding takut karena waktu yang tidak sebentar untuk terus berada didalam pusat rehabilitasi itu.

Ekspresinya ini bahkan lebih mengejutkan daripada tadi, ketika aku akan mengadukan kondisinya ini kepada Kyuhyun. “Andwae~” ujarnya lirih dengan mata berkaca-kaca. Seperti anak kucing yang kehujanan. Membuat siapa saja tidak tega.

Tapi aku tidak boleh menyerah hanya karena wajahnya saja yang terlihat luar biasa menyedihkan itu. aku selalu akan melakukan yang terbaik bagi sahabatku, dan Songjin adalah salah satu sahabatku. Maka kali ini, aku benar-benar serius dengannya. “tidak ada alasanku untuk tidak memasukanmu kesana. Kau bisa lebih parah daripada ini. kemungkinan nya ada kalau aku tidak melakukannya. Aku tidak bisa mengambil resiko.” Ucapku lengkap dengan nada ancaman.

Tapi sejujurnya, aku tidak hanya berniat mengancamnya. Aku serius dengan persoalan ini. Anorexia bukan penyakit yang asing yang aku tahu. ini bukan penyakit asing, karena aku tahu ini adalah penyakit andalan pada selebriti apalagi model papan atas.

Mereka seakan lebih baik memakan sebatang daun bawang saja, dari pada harus memakan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya. Menurut mereka, itu akan membuat mereka tampak buruk dan jelek. Gemuk. Kenaikan bobot pada tubuh mereka.

Dan aku tidak percaya, bahwa Songjin mengalami hal ini. sekarang. dia bahkan bukan seorang selebriti, apalagi super model!

Songjin hanya mengalami sebuah fase krisis kepercayaan diri. Tapi dia memperparah semua ini dengan memendam-nya seorang diri. Jelas ini membuatnya menggila. Lalu seperti bom waktu, peragaan busana Damon Wang beberapa saat yang lalu membuat hal ini semakin parah. Bukan peragaan busananya yang memperparah tapi komentar orang disekitarnya setelah peragaan busana itu terjadi. Yang sayangnya, telinganya hanya menangkap seluruh hal negative, tanpa memerdulikan hal positive yang juga datang untuknya.

Ternyata lagi, Songjin mendapatkan tawaran yang tak sedikit kerena aksinya kemarin itu. dan tidak main-main, beberapa brand lokal terkenal ikut membanjiri tawaran untuknya.

Namun sayang, beberapa dari penawar itu menginginkan tubuh Songjin untuk sedikit lebih kecil lagi. dan bukan hanya dari para penawar itu saja yang mendesak, wanita ini baru saja tahu bahwa namanya telah mulai memenuhi jaringan blog gossip yang ada, namun sayang yang ditemuinya kebanyakan bukanlah berita postitive, lagi dan lagi.

Kebanyakan dari mereka berkomentar tentang tubuh maupun wajah Songjin, yang menurut mereka tak pantas untuk dijadikan seorang selebriti dan memerlukan operasi plastic, untuk pembenaran lekuk wajah, disana sini.

Menurutku tidak perlu. Itu sama sekali tidak diperlukan olehnya. tapi lagi, dalam kondisi seperti ini, apakah iya songjin dapat mendengarkanku? Tentu saja tidak! akal sehat-nya tidak lagi bekerja dan berada disini.

“dan kau tahu bagian terburuk dari hal ini Songjin?” tanyaku kemudian. Memindah posisikan sunglasses dari atas hidungku, kekepalaku.  “Mati.” Songjin menjawab dengan nada yang lebih tepat dapat kukatakan sebagai pertanyaan. Bukan pernyataan.

Kepalaku menggeleng, namun lalu mengangguk juga. “Tidak. tapi ya, kau benar juga. kematian adalah ujung terparah dari Anorexia seperti ini. Tapi untukmu, Khusus hanya untukmu, Songjin. ada hal yang lebih buruk daripada itu.” sahutku. “kau sedang mengandung. Apa kau ingin menjadi seorang pembunuh? Hm?”

“Mwo?”

“Ya, tentu saja. fetus itu membutuhkan asupan gizi yang baik Songjin. Seharusnya, kau tidak boleh mengurang-kurangi porsi makanmu, apalagi malah melenyapkan semuanya! Seharusnya kau malah menambah porsi makanmu. Kalau kau biasa makan satu genggam, kau harus makan dua genggam. Kalau kau biasa makan dua genggam, kau harus makan empat genggam. Dengan kau menambah porsi makanmu, asupan gizi dan nutrisi untuk janinmu akan semakin baik baginya disana, akan semakin sehat dan begitu pun sebaliknya. Saat kau mengurangi, atau bahkan melenyapkan semua jatah makanmu, akan mendapatkan nutrisi seperti apa dan dari mana bayimu didalam sana, Songjin?” ucapku panjang. Meraup udara disekitarku lagi untuk kujadikan pasokan oksigen didalam tubuh sebagai modal untuk menjelaskan betapa bodohnya wanita didepanku ini sekarang.

“kalau bayimu yang belum bisa apa-apa itu dapat keluar dan mencari makannya sendiri saat kau tidak ingin makan, itu mungkin tidak masalah. Tapi disini masalahnya, bayimu bahkan tidak memiliki daya upaya apapun. dia bahkan belum bisa melakukan apapun disana. Yang bisa dia lakukan, hanyalah diam, menunggu dengan tenang didalam sana makanan untuknya. Nutrisi dan gizi yang dibutuhkannya, dari orang yang sudah seharusnya memberikannya. KAU!”

Air mata Songjin perlahan menetes kembali dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi semakin deras saja. “Eonni, aku paham, cukup~” ujarnya sambil menahan senggukan susah payah. Tapi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja! dia sudah paham? Kalau begitu biar saja. aku belum paham. Aku sama sekali belum paham mengapa dia tega melakukan ini pada bayinya sendiri.

“aku begitu sangat menghargai seorang wanita yang dapat mengerjakan seluruh tugasnya dan mengandung disaat yang sama. Kalau kau belum tahu, Songjin, mengandung dan melahirkan, adalah kesempatan terbesar, termenakjubkan yang wanita pernah miliki jika mereka cukup beruntung untuk mengalaminya. Kau lihat bagaimana Gyuwon? Bagaimana dia begitu mengimpikan merasakan apa yang kau rasakan saat ini? dia adalah contoh wanita tak beruntung itu, yang tidak bisa merasakan apa yang wanita lain dapat rasakan. Kau tahu berapa juta wanita diluar sana yang ingin memiliki posisi sepertimu saat ini? Kau, adalah wanita dengan keberuntungan terbesar yang pernah kutemui sepanjang hidupku, Songjin. Apakah ada alasan mu lagi, untuk mengelak, dan tidak bersyukur karenanya?”

“dengar, anakmu ini, dia bahkan tidak bisa berteriak untuk memberitahukanmu bahwa dia sedang lapar atau tidak! dan selama nyaris berbulan-bulan belakangan ini, kau membuatnya sekarat dengan membabat habis jatah makanmu. Jadi tidak salah kalau kukatakan kau ingin menjadi seorang pembunuh? Kalau dia dapat bicara, menurutmu apa yang akan dikatakannya? menurutku, dia akan marah denganmu karena kau baru saja membabat Hak orang lain. Hak bayimu. Haknya! Dan jangan bahas tentang hak-mu padaku walau kau tahu kau salah. aku ini orang hukum, aku paham dengan hal seperti ini diluar kepalaku. Bayangkan apa yang akan bayimu katakan padamu, karena hal ini, Songjin! Bayangkan,  bagaimana menederitanya bayimu didalam sana? Astaga! kalau aku bisa melakukannya, menukar keberadaan bayimu, akan kuambil fetus itu dari perutmu dan memasukannya kedalam perutku. dengan sikapmu seperti ini, kau tak pantas menjadi seorang Ibu!kau kekanakan! Terlalu kekanakan! Kau pikir berapa usiamu? 18? 17? 15?, Huh? Kau tampak seperti anak remaja yang tak sengaja hamil karena tidur dengan pacarnya dan sekarang harus terpaksa mengandung hasil kenakalan mereka!”

“Eonni~ cukup. Aku mengerti aku salah. sudah cukup.”

“ini belum cukup, Songjin. Kita bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan bayimu disana. Apa dia masih bernyawa? Karena Oh—ibunya itu jahat sekali, tidak memberinya makan sama sekali dan malah memforsir diri dengan melakukan banyak hal yang semakin menyedot energy. Bahkan sampai pingsan karena apa yang masuk tidak sesuai dengan apa yang keluar! Dan lalu kau—“

“Eun Soo.. hentikan. Sudah. Cukup” tiba-tiba entah dari mana, Lee Donghae itu muncul. Memaksaku menghentikan kalimat panjangku. Aku tidak mengharapkan adanya seseorang yang menguping pembicaraan kami sebenarnya. jadi ini mengesalkan. Ini benar-benar menyebalkan! belakangan ini terlalu banyak orang tolol dan menyebalkan berkeliaran. Dia mungkin salah satunya.

Kusingkirkan tangannya yang tergeletak pada bahuku cepat-cepat dan tak menghiraukannya. Aku kembali menatap Songjin dengan dua mataku lekat-lekat.

“kau tahu apa itu Eating disorder, Songjin? Bulimia? Binge eating disorder?

“Eun Soo—“

Bulimia Nervosa? Kau—kau itu juga hampir mendekati cirri penderita bulimia! Atau, Ah—sekaligus saja kusebut kau penderita bulimia, walau masih tingkat rendah, bulimia tetaplah bulimia! Sebelumnya kau memakan banyak makanan, tapi lalu kau membuat makanan itu keluar lagi karena kau muntahkannya. Dengan sengaja. Kau dengar? Dengan sengaja! Songjin, kau ini.. kau pernah berfikir tidak, kalau kau—“

“Eun Soo!” Donghae membuatku berhenti bicara sesaat. Bisa-bisanya saat aku sedang berbicara serius seperti ini, dia memotong kalimatku dengan bentakan tak bermakna. Aku memejamkan mataku dan menarik nafasku dalam-dalam untuk meredakan emosi sesaat yang muncul karena pengganggu ini benar-benar mengganggu. Seharusnya ada sukarelawan yang melemparnya ketengah lautan untuk makan siang ikan hiu.

Setelah berhasil mengabaikan pria sialan itu, aku kembali memfokuskan diri pada songjin, “… kau tahu, apa kau pernah berfikir satu kali saja tidak untuk dirimu sendiri? berfikir, bahwa hal ini akan membuat banyak orang merasa kecewa? Banyak orang Songjin. Banyak sekali! tapi kau tahu siapa yang paling akan merasa kecewa denganmu karena hal ini, Songjin?”

Kutatap lekat-lekat Songjin yang sudah tidak bisa berkata apapun lagi. dia menangis sejadi-jadinya. Tissue yang kuberikan tadi, sudah tak terpakai lagi karena kapasitas tangisan Songjin yang membludak sedangkan aku hanya memberikannya dua helai tissue saja.

“…Kyuhyun.” tukasku pelan namun tegas. dikepalaku ini, masih teringat dengan amat sangat jelas bagaimana Kyuhyun terlihat begitu bahagia dengan calon anak pertamanya ini. aku masih ingat bagaimana pria itu menciumi berkali-kali perut milik wanita ini dipesawat kemarin.

Bagaimana Kyuhyun begitu protective menjaga kandungan Songjin. Bagaimana Kyuhyun tampak amat sangat merasa terlalu senang karena hal sederhana ini saja. sedangkan Songjin malah berfikir bahwa memiliki tubuh Ideal adalah hal yang benar baginya. Itu tidak akan salah, jika dia melakukan dengan cara, waktu dan hal yang benar. dan yang kudapati saat ini, dia benar-benar melakukan kesalahan.

Padahal, aku sangat yakin Kyuhyun 1000%  Kyuhyun akan setuju denganku, bahwa Songjin tidak perlu merubah satu apapun pada tubuhnya, atau dirinya, untuk melakukan hal itu. mendapatkan tubuh Ideal. Apa yang diharapkan dari seorang wanita hamil dengan tubuh Ideal? Itu adalah dua hal yang saling bertentangan.

Dan lagi, Kyuhyun pun pasti tak akan perduli biarpun Songjin berubah menjadi sebesar gajah sekalipun! Aku sangat yakin.

Bagaimana bisa, wanita ini tidak dapat melihat wajah mesum Kyuhyun setiap pria itu menatapnya? Sedangkan orang lain seperti dapat dengan jelas melihatnya! Astaga, dia ini benar-benar keterlaluan!

“menurutmu, apa yang akan Kyuhyun katakan kalau dia sampai tahu kau tega melakukan ini pada dirimu sendiri dan anakmu? Anak kalian? Calon anak kalian?”

“Eun Soo, kubilang Cuk—“

“KAU—!” aku tak sabar lagi. bangkit dan menghadapi perusuh mengganggu ini. “Kau tidak pantas berada disini! kau tidak seharusnya berada disini. tugasmu sudah selesai tadi. Oke? Terima kasih banyak untuk hal itu. tapi segusar apapun kau terhadap-nya, ini adalah kamarku. Jadi aku berhak untuk mengusirmu. Jadi tolong pergi. Silahkan pergi, sekarang juga. pintunya ada disana. Kau bisa melihatnya dengan jelas, bukan?”

“Eun Soo—“

“Donghae-ssi, aku sedang tidak ingin melihat wajahmu. Jadi bisa tolong pergi sekarang?”

“Songjin butuh banyak istirahat. Sebaiknya kau juga pergi. berikan waktu untuk Songjin.”

“Aku paham. Tapi aku sedang berbicara dengannya. Aku akan pergi setelah ini, tapi sekarang, tolong kau yang pergi dari sini. Tolong. kumohon.”

“kita perlu bicara, Eun Soo,”

“aku tidak memiliki keperluan denganmu, jadi tolong—“

“Kim Eun Soo, jangan keras kepala. sebentar saja, kumohon..”

“aku bisa memanggil keamanan.”

“Eun Soo dengar,”

“satu.”

“Eun Soo, tolong dengar aku dulu,”

“dua..”

Sambil berteriak, menghitung, aku berjalan cepat menuju pintu keluar dan melongokan kepalaku mencari petugas keamanan. Wajahku telah memanas secara tiba-tiba dan mataku seperti baru saja kemasukan serangga. Perih.

Sesuatu membuat bahuku terasa tercekal. Si pengganggu itu lagi rupanya. Dia mendorong tubuhku sampai aku harus keluar dari bilik-ku sendiri. “aku tidak main-main dengan ucapanku, Donghae.” Kataku serius.

Sial! Disaat genting seperti ini, aku baru merasa bahwa tempat ini memiliki jarak yang teramat luas dan jauh. Apa aku harus berjalan masuk sampai ke lobby dulu baru dapat bertemu dengan petugas keamanan?  “Minggir!” kusibakkan lagi tangannya ditubuhku.

Aku berjalan cepat kedepan, hendak mencari petugas keamanan yang tak kunjung kutemukan, namun langkahku terasa berat. Aku tidak mengerti mengapa, namun satu hal yang kutahu, dengan seenaknya Donghae menarik-narik tubuhku, membuatku kesulitan berjalan. Dia berusaha menghentikan langkahku.

“MINGGIR!!” bentakku akhirnya. Aku tidak suka bersikap kasar kepada orang lain, tapi orang ini sudah melewati batasnya. Dan aku sudah tidak bisa bersabar lagi. kesabaran itu ada batasnya, tahu? “AKU AKAN MEMANGGIL PETUGAS KEAMANAN UNTUK MEMBUATMU PERGI KALAU KAU TIDAK—“

“TUTUP MULUTMU DENGAR AKU DULU!!”

Donghae membentakku tak kalah kencang. membuatku tiba-tiba saja malah mengatupkan mulutku rapat-rapat dan mundur beberapa langkah darinya. Aku tidak pernah merasa takut dengan orang lain selama aku merasa benar, tapi Donghae kali ini dapat membuatku merasa takut karena amarahnya, pada saat aku merasa bahwa aku benar.

Teriakannya seperti ini, membuatku ingat saat dia membentakku di rumah sakit ketika itu. ekspresinya sama persis seperti ini. dia terlihat menyeramkan dengan urat otot leher yang membesar dan wajah memerah.

“…. Maaf. Jangan—takut seperti itu. aku bukannya..” Donghae terhuyung berjalan mendekat padaku. tapi entah bagaimana kakiku ini berjalan mundur selangkah demi selangkah, setiap Donghae melakukan hal yang sama. Maju selangkah demi selangkah. “…dengarkan aku dulu, tolong. kumohon, Eun Soo. Tolong. sebentar saja.” dia bicara lagi setelahnya, namun dengan nada yang menurun. Lebih pelan. sangat pelan. tapi aku masih takut dengannya. Dia masih terlihat… menyeramkan.

aku tidak tahu apa yang terjadi karena tiba-tiba saja malah aku yang menjadi menangis seperti Songjin tadi. aku berusaha membuat air mataku tidak lagi keluar, atau paling tidak jangan sebanyak ini, tapi nyatanya aku tidak memiliki kuasa apapun.

aku hanya dapat terus mengeluarkan cairan bening itu sambil membuka mulutku kecil dan terus mundur menjauhi Donghae. “tolonglah, aku mohon, pergi dari sini. Menjauhlah. Jangan…. berada…. Sedekat ini dariku.”

Author’s side

Eunhyuk nyaris tersedak potongan daging steak yang baru dimasukannya kedalam mulut kali ini, saat mendengar perkataan Luke. “Iya. tanggal 30 ini. apa yang sebaiknya kita lakukan? Kalau aku pribadi.. Well, aku memiliki beberapa hal yang akan kulakukan untuknya. Ini ulang tahun pertamanya yang dapat kurayakan bersama dengannya.” Tandas pria dengan tinggi 180 senti meter itu dengan suara bass berat dan dalam-nya.

Eunhyuk bukannya terkejut karena baru diberitahukan akan tanggal kelahiran Eun Soo. Sejak dulu pun, pria itu tahu bahwa 30 Desember adalah tanggal lahir idolanya itu. Eunhyuk hanya tidak percaya bahwa kali ini dia dapat ikut serta secara langsung dalam rencana surprise kecil-kecilan yang direncanakan Luke, Siwon dkk.

Iya, Kim Eun Soo idolanya itu. karena itu dia benar-benar panic bukan main. Sedangkan disisi yang lain, Donghae tampak sama sekali tidak menikmati makan malamnya. pria itu menerawang kosong jauh kedepan, dan tangannya memainkan garpu yang seharusnya digunakannya untuk melahap macaroni schotel-nya. Jangankan ikut bergabung dalam pembicaraan. Makan saja membutuhkan konsentrasi yang tak dimilikinya.

“Donghae-ssi,” Luke menoleh kepada Donghae setelah dia berbicara panjang kepada Siwon tadi. “kau memiliki saran? Atau malah kau memiliki rencana lain?”

Seluruh kepala kini menoleh pada Donghae. Memperhatikan dokter tampan itu dalam diamnya yang sama sekali tidak mereka mengerti. “Donghae-ssi,” Luke mengulang, namun nihil, Donghae masih diam.

“Ya~ Dementor!” kini Gyuwon yang memanggil. Suaranya bahkan lebih kencang dari suara Luke tadi, namun tetap saja, Donghae masih diam dan sibuk dengan pemikirannya sendiri. injakan kaki Eunhyuk pada sepatu Donghae membuat pria bermarga Lee itu dengan cepat kembali ‘hidup’. sadar, dan menjadi kelimpungan setengah mati dengan sekitarnya.

“Apa? Apa? Kenapa? ada apa? Kenapa?” tanyanya, jelas tampak seperti orang tulalit.

Desahan panjang lolos dari mulut Luke, Gyuwon, dan Siwon secara bersamaan ketika itu. mereka sama-sama tahu, mengapa Donghae tampak kacau seperti saat ini. pertengkarannya dengan Eun Soo lah penyebabnya. Satu-satunya orang yang tak paham dimeja bundar itu ialah Eunhyuk.

Yang pria kurus itu tahu, bahwa sahabatnya tampak aneh begini, tidak lain dan tidak bukan adalah karena Park Songjin.

Eun Soo dan Donghae bertengkar hebat di Lobby, pada siang hari, dua hari yang lalu. Siapa yang tidak melihatnya? Pertengkaran itu menjadi tontonan gratis bagi banyak tamu undangan yang ada.

Luke yang baru akan kembali dari restoran setelah ditinggalkan begitu saja oleh Eun Soo, dan Gyuwon Siwon yang akan keluar menuju pantai untuk bermain surfing pun sampai terdiam ditempat mereka karena menonton apa yang terjadi.

Mereka tidak tahu apa yang terjadi. yang mereka tahu hanya Eun Soo menangis hebat, meminta Donghae untuk pergi disaat Donghae yang mati-matian meminta waktu wanita itu, sebentar saja.

Itu jelas bukanlah hal yang biasa. Gyuwon lebih paham tentang bagaimana Eun Soo menyimpan perasan kepada Donghae, namun dokter itu tak menggubrisnya karena masih terlalu tolol menyukai wanita bersuami.

Gyuwon jugalah yang paling tahu, seperti apa hubungan Eun Soo dan Donghae belakangan ini. wanita itu juga tahu bagaimana awal mula perkelahian Eun Soo dengan Donghae, sampai mantan Miss Korea itu mati-matian ingin menjauhi Donghae, berbanding terbalik dengan apa yang wanita tinggi itu lalukan sebelumnya, yang selalu ingin berdekatan dengan Donghae tak perduli apapun yang terjadi.

Gyuwon paham. Hanya saja, permasalahan pertengkaran kedua orang tersebut yang dilihatnya tadi, tidak diketahui awal mulanya, jadi wanita itu lebih memilih untuk diam dan tidak berkomentar apapun karena merasa belum mengetahui apapun. biasanya, tak lama Eun Soo akan bercerita dengannya, tapi sampai hari ini, Eun Soo belum menceritakan apapun.

Wanita itu masih bungkam, dan Gyuwon merasa tak enak kalau harus bertanya, memaksa ingin tahu disaat seperti ini. walaupun dengan maksud yang baik. Yang Gyuwon dapat tahu adalah bahwa kali ini, permasalahan mereka pastilah serius. lebih serius daripada sebelumnya. itu pasti.

“Ya~ Dementor. Jangan seperti patung es begitu. kau jadi tambah jelek!” canda Gyuwon bermaksud mencairkan suasana. Namun hanya Eunhyuk yang tertawa. Sedangkan yang lainnya diam tidak menggerakan bibir mereka barang sedikit.

“Donghae-ssi,” Luke kembali berbicara. Menatap dalam-dalam mata Donghae. Pria itu sebenarnya juga ingin tahu apa yang terjadi dengan adiknya, tapi Eun Soo tidak bercerita apapun dengannya.

Pertengkaran terakhir mereka di restoran siang itu, cukup membuat Luke sadar dan tidak ingin membuat Eun Soo menjadi lebih kesal dengannya. Pria itu juga ikut bungkam.

“Ye?” Donghae mengadahkan wajah menatap Luke yang memiliki perbedaan tinggi nyaris 10 senti dengannya. “ada yang ingin—“ sebelum Luke menyelesaikan kata-katanya, Gyuwon lebih dulu menghentikannya dengan merentangkan lima jarinya lebar-lebar.

“tanggal 30 nanti Eun Soo berulang tahun. kami berencana membuat surprise kecil-kecilan di resort nanti.”

“Oh, Ya.. iya benar.” angguk Donghae menyetujui. Dia juga ingat bahwa tanggal 30 Desember adalah hari ulang tahun Eun Soo. Hari ini tanggal 29. Berarti, besok Eun Soo berulang tahun!

“untuk itu kami memintamu membawa Eun Soo pergi dari resort sebentar saja, saat kami menyiapkan surprise itu, bisa kan?”

Seluruh meja terkejut mendengar ucapan Gyuwon. Ini bukan kesepakatan mereka! Gyuwon berimprovisasi dengan sangat… mengejutkan. Donghae pun tak kalah terkejutnya. Pria itu mendelik panic ketika Gyuwon memintanya untuk membawa pergi Eun Soo.

Membawa pergi Eun Soo? Bagaimana bisa? Bagaimana caranya? “sepertinya tidak bisa..” Donghae tersenyum kecut dan pahit disaat yang bersamaan. Wajahnya jelas terwujud sarat akan rasa kecewa dan menyesal, bercampur menjadi satu.

“Ayolah Dementor..” erang Gyuwon memohon. Wajahnya distel semenyedihkan mungkin agar Donghae luluh. Tidak dapat disebut gagal juga. Donghae memang luluh. Tapi dia juga merasa tidak memiliki daya upaya apapun lagi terhadap satu wanita ini.

Kemarin Eun Soo benar-benar takut bukan main dengannya. Wanita itu menangis sejadi-jadinya semakin Donghae mencoba mendekat. Lalu sekarang, bagaimana bisa dia membawa Eun Soo keluar? Disaat berada pada radius satu meter saja darinya, Eun Soo sudah kelabakan?

“aku tidak tahu.. sepertinya Eun Soo tidak ingin—kenapa tidak Eunhyuk saja? dia Soofab! Kau pasti bisa, Hyukie!” Donghae menepuk bahu Eunhyuk. Pria yang tiba-tiba menyunggingkan senyum sumringahnya sangat lebar ketika Donghae menyarankan agar dirinya sajalah yang membawa Eun Soo pergi.

Namun sepertinya, itu bukan hal yang tepat. Seluruh kepala disana seperti memiliki pemikiran yang sama. Tentu saja kecuali Lee Hyuk Jae sendiri. “Tidak!” Gyuwon, Luke dan Siwon bersuara bersamaan. Suara mereka menjadi terdengar sangat kencang hingga pengunjung restoran ‘Food and Coffee’ disana, seluruhnya menoleh pada meja nomor 15 itu.

Gyuwon yang lebih dulu sadar bahwa mereka sedang menjadi pusat perhatian. Wanita itu lalu tersenyum kecut dan berulang kali mengatakan maaf kepada pengunjung yang merasa terganggu akan perilaku mereka tadi.

“maksudku—“ Siwon berdehem. Melirik Gyuwon dan Luke sebelum dirinya berbicara, mewakilkan. “maksudku.. kami disini sudah memiliki tugas kami masing-masing. Gyuwon menyiapkan dekorasi. Luke mencari kue. Aku menyiapkan tempat. Eunhyuk-ssi..” Siwon terdiam. Untuk yang satu ini, sebenarnya dia benar-benar mengarang bebas.

Apa-apaan itu dekorasi? Dia memang sudah membicarakan tentang rencana surprise kecil-kecilan bagi Eun Soo ini dengan istrinya, Songjin, Kyuhyun, Luke, dan Eunhyuk. Tapi tidak sama sekali terpikirkan untuk membuat dekorasi. Bahkan tempat khusus pun tak ada. Hanya sebuah surprise biasa saja. Kue dengan lilin diatasnya.

Lalu pertengkaran dengan Donghae membuat lima orang itu berfikir bahwa hal yang Eun Soo paling butuhkan sekarang bukanlah kado mahal ataupun gaun yang cantik. Tas bermerek, mobil sport mewah atau apapun itu. Eun Soo hanya butuh waktu dan keberanian untuk menyelesaikan masalah yang membuatnya tampak selalu uring-uringan hingga dia berubah bagai zombie belakangan ini.  lima orang tak termasuk Eunhyuk. Pria yadong itu sama sekali tidak tahu menahu tentang permasalahan yang terjadi antara Eun Soo serta Donghae.

Tapi cepat atau lambat, pada akhirnya salah satu dari kelima orang disana, harus memberitahukan kepada Eunhyuk juga nanti. “Eunhyuk-ssi menyiapkan beberapa snack.” Papar Siwon berbohong. tak lupa pria berlesung pipi itu melebarkan matanya untuk memberikan kode kepada Eunhyuk kali ini, dan Eunhyuk langsung mengangguk patuh karenanya.

“Y—ya. iya. aku menyiapkan Snack. Jadi.. tidak bisa.” Ucapnya gugup. Diam-diam merasa kecewa setengah mati. kenapa harus Donghae lagi yang mendapatkan hal menyenangkan seperti itu? dia bahkan bukan Soofab!

“Jadi Dementor.. lakukanlah tugasmu dengan baik setelah ini, Eo?” Gyuwon bicara penuh penekanan. Jelas sekali didalamnya tedapat begitu banyak arti. Sindiran halus, harapan, ancaman, paksaan. Semua itu tergabung menjadi satu kalimat singkat—yang memiliki nilai keharusan untuk berhasil sebesar 2000%.

Donghae harus berterimakasih untuk yang satu ini, bahwa apa yang diinginkannya sejak lama, yakni berbicara empat mata dengan Eun Soo akan segera terwujud. Namun entah mengapa, kali ini Donghae malah menjadi takut dan sangat enggan untuk melakukannya.

Dia takut. Takut jika dengan ini, Eun Soo malah menjadi semakin tidak ingin bertemu dengannya dan mereka benar-benar putus hubungan sama sekali. itu…terdengar menyeramkan baginya, entah karena apa.

Dia tidak ingin itu terjadi. karena itu akan lebih baik jika dia menolaknya, dan membiarkan orang lain yang melakukan tugasnya. “kalau begitu aku bertukar tugas saja dengan Eunhyuk. Aku yang menyiapkan Snack. Kau yang membawa Eun Soo keluar, eotte?”

“Shiero!” tolak Eunhyuk cepat. Pria itu mampu dengan cepat belajar. walau masih belum mengerti mengapa ketiga orang dimeja bundar ini, ingin sekali Donghae yang pergi, bukan dirinya atau orang lain lagi.

Mengapa tidak Songjin saja? “Oh iya, kalau tidak..kenapa tidak Songjin saja?” usulnya kemudian. Dan cengiran kecil muncul lewat bibir Donghae disana, “mana bisa? Kurasa Kondisinya belum benar-benar fit. Dia belum bisa dulu untuk banyak beraktivitas. Jangan. nanti dia pingsan lagi. lebih baik jangan dia—“

“Pingsan?” Siwon memotong. Wajah pria tampan itu dengan cepat berubah 180o dari santai, menjadi tegang. Matanya perlahan membesar hanya dengan mendengar dua kata saja. ‘Songjin Pingsan’. Jantungnya langsung berdegup tak karuan.

“Songjin pingsan?” ulangnya singkat namun tajam kepada Donghae. Hanya satu orang saja kini yang menjadi fokusnya secara tiba-tiba. Seperti lupa bahwa disekitarnya terdapat beberapa orang lainnya. Persetan dengan itu. Songjin pingsan dan dia tidak tahu? apa-apaan ini! ini bukan sebuah lelucon akhir tahun kan? sebaiknya tidak, karena ini benar-benar tidak lucu!

Donghae yang sadar, bahwa dia baru saja kelepasan bicara hanya dapat menghela nafas panjang menyesal. Songjin pasti akan kesal dengannya setelah ini kalau sampai wanita itu tahu, bahwa dia melanggar perjanjian diantara mereka. bahwa kejadian wanita itu pingsan dua hari lalu, tidak boleh diketahui siapapun kecuali Donghae, Eun Soo dan seorang pekerja resort yang menemukan Songjin pingsan diruang latihan Gym.

“Kapan? Bagaimana bisa? Kenapa? dimana?” Siwon langsung mengajukan pertanyaan ber-rentetan tanpa jeda. Dia benar-benar panic kali ini. “D—dua hari yang lalu, diruang Gym resort.”

Mata Siwon membelak luar biasa lebar kali ini. dia benar-benar terkejut dan panic, “kenapa kau tidak memberitahukanku, Donghae! Astaga! bagaimana bisa kau diam saja selama ini?” Siwon mengerang gemas. Dia ingin sekali meremas dokter didepannya ini.  kalau dirinya saja tidak diberitahu, Siwon seribu persen yakin bahwa Kyuhyun pun memiliki nasib yang sama dengannya. Kyuhyun pasti belum tahu tentang hal ini. entah konspirasi jenis apa yang sedang Donghae dan Songjin lakukan sekarang. tapi dia dapat mengatakan bawa keduanya benar-benar tolol.

Songjin tidak membuatnya heran. Songjin memang seperti itu. Songjin yaa… Songjin. Itu tidak membuatnya heran, ketika Songjin melakukan hal semacam ini. Tapi Donghae? Yang benar saja! dia dokter yang doktor! Apa gunana sekolah sampai jenjang S3 kalau isi kepalanya, sejenis dengan wanita labil bernama Park Songjin?

“Karena.. karena Songjin tidak ingin ada yang tahu bahwa dia pingsan. Kami sudah berjanji untuk..”

“menyembunyikannya.” Gyuwon menyelesaikan kalimat Donghae dan mendapatkan anggukan lemah dari dokter tersebut.

“bagaimana bisa kau menyetujui hal konyol itu, Donghae? Ini bukanlah hal yang bisa dimainkan! Ini serius, seharusnya kau tidak bersikap seperti itu. sebagai dokter yang baik—“

“aku tidak berperan menjadi dokter disini. tapi menjadi seorang teman. Aku berjanji, karena Songjin memintaku dan aku menghargainya, karena dia temanku.” papar Donghae cepat tanpa jeda. Namun lalu, hal tersebut membuat Siwon merasa lebih geram.

Benar-benar percuma pria bernama ‘Lee Donghae’ ini sekolah tinggi! Percuma!

Siwon meremas serbet makannya kuat. Dia nyaris menggeram, entah bagaimana caranya lagi, untuk menutupi rasa kesalnya kepada Donghae, “dan aku kakak-nya, Donghae!” Siwon menyahut. “aku lebih dari sekedar temannya. Aku kakaknya! Aku berhak untuk tahu apa yang terjadi dengan adikku. Dan saat itu adikku dalam kondisi bahaya. katakan apa alasan konyolmu untuk menutupi hal buruk yang terjadi dari seorang adik kepada kakaknya? Kau tahu? kau benar-benar membuatku tidak tenang sekarang.” Siwon merundukan kepalanya. Meremasi kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut denyut.

Telinganya berdengung. Dan pikirannya menjadi kacau bukan main sekarang. dia khawatir bukan main dengan kondisi Songjin yang ternyata diam-diam melemah seperti ini, “apa ini ada hubungannya dengan kandungannya?” Siwon kemudian bertanya setelah ingat bahwa kandungan Songjin termasuk dalam golongan kandungan lemah.

Dia ingat karena selama ini, dialah yang selalu menemani Songjin kerumah sakit untuk control kehamilan, ketika Kyuhyun tidak pernah bisa. Ah—adiknya itu bahkan nyaris tidak pernah bisa melakukan hal se-mudah itu, bahkan kepada istrinya sendiri.

“Tidak. kurasa dia tidak..”

“Jangan pakai kurasa. Itu berarti kau tidak yakin dengan dirimu sendiri. katakan saja sejujurnya. Bagaimana kondisi keponakanku?” Siwon sudah tak tahan. Nada bicaranya meninggi tanpa disadarinya. Gyuwon hanya dapat diam menutup mulut ketika Siwon mulai seperti ini lagi. dia tidak akan berani melakukan apapun, ketika Siwon sudah mulai marah.

Luke pun sama dengan Eunhyuk dan Gyuwon.  Mereka hanya dapat menutup mulutnya saja. Luke lebih paham dengan kekhawatiran yang Siwon rasakan. Seumur hidupnya, dia selalu dihantui rasa kekhawatiran semacam itu karena pertengkarannya yang tak berujung dengan Eun Soo. Dia tidak akan menyalahkan Siwon yang terlihat agak berlebihan, karena toh, Siwon bukanlah orang yang patut murka semurka ini ketika tahu bahwa Songjin pingsan. Kyuhyun lah yang lebih pantas.

Tapi menilai tidak akan menyelesaikan masalah. Luke tahu bagaimana kedekatan tiga orang itu sejak dulu, dari cerita Eun Soo padanya. Kyuhyun – Songjin – dan Siwon. Mereka tampak seperti siput dengan cangkangnya. Tidak akan bisa bertahan jika cangkang itu hilang.

Nafas Siwon masih memburu, namun tak sehebat tadi. dengan cepat pria itu dapat menguasai emosinya dan mengontrolnya, “katakan” Siwon mencondongkan tubuhnya kepada Donghae lebih dekat. Suaranya menjadi rendah. Tipe suara yang menunjukan bahwa pria itu sedang serius berbicara, “kenapa dia bisa sampai pingsan?”

Siwon terus mececar. Sedangkan Donghae tidak tahu harus berbuat apalagi. Dia sudah jatuh kedalam kolam. Sudah terlanjur basah. Kenapa tidak sekalian saja menjadi basah kuyup? “Haah—“ nafasnya keluar bagai orang yang terlilit banyak hutang. Berat sekali. “dia.. dehidrasi karena—“

“dehidrasi?” belum sempat Donghae menyelesaikan penjelasannya, Siwon sudah memotongnya. Wajahnya penuh dengan ekspresi kepanikan. Lagi. “bagaimana bisa? Memangnya apa yang dia—“

“karena itu, dengar aku dulu.” tukas Donghae. Memandangi satu persatu mata disana bergantian. “Songjin dehidrasi. Kukira dia juga terkena Anorexia. Dan kemungkinan besar, dia juga terkena…. Bulimia.”

Dengan kalimat singkat itu saja, seluruh wajah dimeja bundar itu memegang bukan main. Jantung Siwon benar-benar ingin lepas karenanya. Yang didengarnya itu… nyata kan, benar??

Dan hanya dengan kalimat singkat itu saja, membuat Siwon benar-benar periu untuk memutuskan satu hal yang diyakininya begitu penting saat ini. lebih penting dari apapun itu. “Donghae-ssi, kita harus bicara empat mata. sekarang juga.”

** **

“Oh Shit!” Eun Soo memaki. Kakinya menghentak kencang pada pasir pantai yang diinjaknya kencang, hingga kakinya nyaris terbenam dilautan pasir itu. “Shit Shit Shit!” dia kembali mengutuk.

“Sorry, girl. Maybe next time. Tomorrow, Okay?” Seorang pria dengan pakaian serba putih dan topi tinggi warna senada tersenyum kecut kepada Eun Soo. Dia adalah seorang pemilik kedai Ice krim potong.

30 menit lamanya Eun Soo mengantri untuk mendapatkan Ice cream potong terkenal, Khas Miami itu. walaupun ini adalah malam hari, jelas peminat Ice Cream terkenal itu tidak menyurut. Dan Eun Soo menjadi salah satu korbannya.

Selama dia datang ketempat ini, tidak pernah sekalipun dia berhasil mendapatkan Ice Cream Potong terkenal itu. hanya sering mendengar kabar saja, bahwa kata orang, Ice Cream ini sangatlah enak.

Ice Cream tetaplah Ice Cream. Apa bedanya dengan Ice Cream lainnya? Teorinya masih tetap sama dengan yang dulu. tidak akan pernah berubah, namun entah  bagaimana, malam ini hal itu seakan hancur berantakan.

Oh bukan malam ini saja. sebenarnya, sejak dua hari yang lalu sejak hidupnya terasa semakin kacau, Eun Soo telah menjadi layaknya wanita hamil yang mengidam, hingga menelan Ice Cream tanpa jeda, banyak sekali.

Katakan jenis Ice Cream apa yang belum dicicipinya sejak dua hari yang lalu? dia bahkan yakin bobotnya sekarang melonjak naik karena hal tersebut. tapi persetan dengan bobot tubuh. Selain cokelat, Ice Cream selalu menjadi obat terajaib dalam penyembuhan masa kritisnya seperti saat ini.

Eun Soo begitu menginginkan Ice Cream potong tersebut. dia bahkan sudah membayangkan bagaimana ketika potongan beku makanan manis tersebut lumer dilidahnya.

Oh—sial sekali dia sekarang.

Dia dan puluhan pembeli lainnya, yang terpaksa harus membelokan rute karena mau tidak mau harus terima dengan pasrah, mereka kehabisan snack dingin itu.

Sambil mendumel sebal, Eun Soo berjalan menuju sebuah mini market tak jauh dari kedai kecil Ice Potong ini yang berada disebrang jalan. wajahnya ditekuk bukan main, tapi toh, itu tidak membuatnya berhenti menjadi bahan godaan anak-anak muda yang berkumpul ditepian jalan dengan skateboard mereka.

Eun Soo hanya menghela nafas sambil memutar bola mata jengah menanggapinya, “tidak sopan!” gerutunya sebal. Terus melangkah masuk kedalam mini market dan berhenti didepan sebuah kulkas besar dengan tumpukan berbagai jenis Ice Cream.

Matanya sibuk kesana kemari. Memilih rasa apa yang ingin dipilihnya. Dia tidak benar-benar tertarik dengan hal ini, sebenarnya sejak kemarin, Ice Cream inilah yang dibelinya. Dan sekarang, dia tidak memiliki pilihan lain selain mengambil Ice Cream ini, lagi.

Pilihan Eun Soo jatuh pada variant rasa Chocolate chip. Sebenarnya dia juga ingin mengambil Gold Medal Ribbon atau Vanilla Burnt Almond, Oh, atau Butterscotch Ribbon. Semua itu adalah Variant rasa kesukaannya. Di apartement-nya, seluruh variant rasa Ice Cream amerika itu memenuhi lemari pendinginnya. Jumlah-nya melebihi stock bahan masakan bahkan. Seperti memberikan cadangan saja, bahwa tiap satu tabung berfungsi sebagai pengganjal remuknya hati.

1 tabung 1 masalah. Benar-benar tersusun rapih.

Tapi Eun Soo cukup sadar diri dengan kapasitas lambungnya yang tidak sekeren dan semampu itu.

Maka dengan berat hati, pilihannya hanya tertumbuk pada 1 jenis saja, Eun Soo hanya membawa setabung besar, 1 Liter Baskin Robbins variant rasa Chocolate Chip tersebut, dan memeluknya seperti dia membawa bayi. Lalu berputar menghampiri satu rak dibelakangnya, dan meraup berbagai jenis box cokelat dalam satu tarikan.

Setelahnya, Eun Soo membayar dan menenteng satu paper bag penuh berisikan jajanan hasil belanja dadakannya menuju sebuah taman bermain disisi terpojok pantai.  Taman bermain ini sudah sepi kerena pada jam-jam seperti ini, tidak ada orang tua yang mengizinkan anak-anak mereka bermain.

Ini bukan jam bermain lagi, melainkan jam tidur.

Hembusan singkat nan berat, penuh makna lolos dari bibir plum Eun Soo ketika tangannya membuka tutup tube Ice Cream-nya. bosan dan kesal karena gagal mendapatkan Ice Cream keinginannya itu benar-benar menyebalkan.

Apa nasibnya harus selalu seburuk itu tentang hal-hal yang diinginkannya? Tidak mendapatkan apa yang di-inginkan itu rasanya benar-benar menyakitkan bukan main ternyata.

Sebenarnya, Itu bukan hal yang asing lagi bagi Eun Soo, tapi yang benar saja—apa pada hal sesepele ini pun, dia harus merasakan kekecewaan, lagi? Demi tuhan, itu hanya sebuah Ice Cream. Sepertinya tuhan benar-benar tidak menyukainya.

Eun Soo hanya memandangi Ice Cream-nya datar. Tanpa ekspresi apapun yang dapat menggambarkan kekecewaannya. Matanya terpejam dan wanita itu menarik nafasnya dalam-dalam. Menghembuskan perlahan hingga bahu menegang-nya perlahan, berangsur terkulai, “Keluar dari situ, Donghae-ssi. Jangan bersikap seperti kau adalah penguntit yang ingin mencuri.” Ucap Eun Soo santai. dingin. namun tegas dan sarkas.

Dari tempatnya, Donghae tercengang dan terkejut bukan main akan hal ini. bagaimana bisa Eun Soo dapat mengetahui keberadaannya? Dia sudah bersembunyi dengan benar. benar-benar mata elang!

Perlahan tapi pasti, Donghae akhirnya melangkahkan kaki keluar dari tempat persembunyiannya. Dibelakang sebuah pohon kelapa tinggi nan kurus. Benar-benar tempat yang tepat untuk menyembunyikan tubuh dengan ukuran lebar dua kali lipat dari pohon tersebut. Lee Donghae yang cerdas.

“A—aku. aku tidak sedang um.. itu apa.. tadi aku.. ngg.. kesana dan ini.. ngg..” Donghae tergugup. tangan pria itu berkeliaran kesana kemari diudara entah untuk apa dan karena apa. Dia menjadi takut dan jantungnya berdegup bukan main kacaunya.

Hembusan angin laut membuat atmosfer disekitarnya menjadi Nampak seribu kali lebih mencekam. Dia sudah bersiap, membuat kuda-kuda untuk kabur jika saja kemudian Eun Soo menjadi menggila seperti layaknya hari kemarin saat bertemu dengannya.

Sedangkan Eun Soo didepannya, tak lagi tampak meledak-ledak seperti saat ketika dia bertemu dengan pria yang telah membuats egalanya menjadi kacau baginya ini. Dia hanya menyendokan Ice Cream-nya dengan tenang dan damai, tanpa sekalipun mengadahkan wajah untuk menatap si penguntit sejak tadi. “Duduk,” Ucapnya dingin.

“….Hah?” Donghae melongo. Ucapan panjangnya mencari alasan yang tak bermakna dan tak berujung tadi berhenti hanya dengan satu kata saja dari mulut Eun Soo. Telinganya seakan tak percaya mendengarnya, “Apa?” paniknya.

Kalau telinganya tak salah dengar, wanita ini baru saja mempersilahkannya untuk duduk, bersanding bersama? tapi Ini benar. telinganya masih belum rusak, dan Kim Eun Soo mengatakannya.

“Oh—sudah jadi tuli ternyata. Yasudahlah lupakan. Aku tidak suka mengulang kata-kataku.” Ujar Eun Soo begitu ketus tapi disaat yang sama, dia bisa membuat nadanya begitu datar, tidak menampilkan apapun selain kesan galak dan dingin secara bersamaan.

Donghae terlonjak ditempatnya dan langsung melompat pada sebuah bangku kayu panjang didepan Eun Soo yang kosong. selama ini, bukanlah ini yang dia inginkan? Berbicara empat mata? “aku duduk. Aku duduk. Aku dengar. O—oke.” Pria itu sigap mendaratkan bokong disana, takut. Takut kalau saja Eun Soo mengubah pikirannya. Biasanya begitulah wanita, cepat mengubah pemikiran dalam hitungan detik saja.

Setelah Donghae duduk, keadaan menjadi hening. Hanya terdengar suara deburan ombak dari kejauhan, gesekan dedaunan pohon palem dan kelapa. Suara tarikan nafas, dan geleguk tegukan ketika Eun Soo menelan Ice Creamnya ditenggorokan. Donghae lantas hanya dapat memperhatikan Eun Soo memakan Ice Cream-nya dengan tidak berselera. “Ada apa?” tanyanya kemudian. Memecahkan keheningan yang tercipta secara sengaja oleh keduanya.

Dahi Eun Soo berkerut. Tanpa merasa perlu untuk mengadahkan wajah menatap si lawan bicara, Eun Soo terus mengunyah. Dia lebih memilih untuk menatap meja kayu yang sedang digunakannya, atau memandangi lautan dari kejauhan.

Intinya, menghindari kontak mata dengan pria yang sedang membuat hatinya berdenyut-denyut tak karuan ini, dan terus berusaha setengah mati menguatkan pertahanannya agar tidak menoleh untuk sedikit saja menatap lawan bicaranya, karena dia tahu percis apa yang akan terjadi setelahnya saat itu terjadi.

“ada apa?” ulang Eun Soo. Bertanya, tapi sibuk memandangi batu karang besar didepannya. Yang ada dibibir pantai.

“K—kau memintaku untuk.. duduk.. apa ada yang..”

“aku hanya mempersilahkanmu untuk duduk, kalau kau mau. bukan berarti aku harus membuat suatu percakapan denganmu kan?” tukasnya dingin. kembali menuangkan sarkasme dalam kalimatnya. Membuat Donghae lantas tersenyum lebar. ini Khas Kim Eun Soo. Benar-benar Kim Eun Soo.

Bukan seperti Kim Eun Soo yang ditemuinya dua hari lalu atau beberapa hari sebelumnya yang menangis hebat hanya karena dirinya meminta sedikit waktu untuk berbicara. Dan terus menjauhinya karena berbagai alasan.

Kim Eun Soo yang dikenalnya, begitu dingin dan keras kepala. senang berbicara dengan nada santai tapi mengandung kesinisan dan tentu sarkasme yang tidak dapat dilepaskan begitu saja. Kim Eun Soo yang dikenalnya, tidak pernah lari dari masalah, semenyeramkan apapun, seberat dan sekacau apapun masalah itu.

Senang rasanya, mendengar Kim Eun Soo yang dikenalnya telah kembali, “lagipula ini tempat umum. Bukan milikku.” Tambah Eun Soo. Wanita itu mengedarkan matanya dan memperhatikan bangku sejenis seperti yang sedang digunakannya. Hanya terdapat tiga, termasuk yang sedang dipakainya sekarang ini jumlahnya.

Donghae tersenyum semakin lebar, “entah bagaimana, aku menunggumu untuk bicara seperti itu.”

“seperti itu apa?”

“Sinis?”

“I have black belt in sarcasm,” respon Eun Soo santai. dia kembali memasukan sesendok penuh Baskin Robbins, Chocolate chips-nya.

Donghae tidak memilih untuk menanggapi kesinisan Eun Soo. Pria itu meletakan satu kotak persegi panjang ke meja dan mendorongnya sampai mengenai tube Ice milik Eun soo, “mau barter?” tawarnya.

Mata Eun Soo tidak bisa untuk tidak berkilatan melihat Brugundy Ice Splash yang setengah mati membuatnya kesal karena kehabisan tadi. Donghae mati-matian menyembunyikan kekehan lucunya menonton wajah Eun Soo yang begitu tampak seperti hulk kelaparan.

Di detik ketiga, ketika Eun Soo masih menunjukan kilatan itu dengan hebatnya wanita itu dapat mengontrol seluruh hal menjijikan itu Dari wajahnya, hingga ekspresi datar dan dingin-nya lagi lah yang ditampilkannya kepada Donghae, “aku sudah punya Ice Cream-ku.” ujarnya singkat. “lagipula harga milikku lebih mahal dibandingkan milikmu. Tidak sebanding untuk barter.”

“kau ini,” Donghae mendecak,  “apa aku harus selalu berurusan dengan perbandingan harga ketika berhadapan denganmu?”

Donghae mengangkat satu alisnya tinggi. Namun dalam hatinya menggumam takjub pada pertahanan wanita cantik ini, Hebat juga. “Brugundy Ice Splash, kudengar ini yang terbaik yang tempat ini punya.” Donghae tersenyum.

“Yeah.”

“mau barter?” Donghae mengulang tawarannya.

Seseorang didalam hati Eun Soo sudah berteriak-teriak berkata IYA! tapi mulutnya dapat dengan baik bekerja sama dengan otaknya. “aku punya Ice Cream ku sendiri.” ulangnya sama. Harga dirinya masih begitu tinggi rupanya. “lagipula, milikku sudah tidak baru lagi. aku sudah memakannya.” Tukas Eun Soo. Menunjukan lubang besar dibagian paling atas pada tube Ice miliknya.

Donghae memiringkan kepalanya menatap tube tersebut seraya menampilkan wajah, pura-pura berfikir keras dan tak lama kemudian mengamit tube besar itu—mendekapnya. “tak masalah. Aku ingin tahu Ice Cream macam apa yang selalu dimakan seorang selebriti besar sepertimu.” Katanya ringan.

Merampas sendok ditangan Eun Soo dan semakin menggali lubang besar didalam tube. Donghae lantas memasukan satu sendokan besar kedalam mulutnya lalu tak lama dia menggumam seraya menganggukan kepala, “kau tahu Ice Cream dikedai kecil milik paman Jung? Di dekat stasiun tv MBC?” Donghae bicara dengan mulut penuh.

Dua alis Eun Soo bertautan. Dia berusaha berfikir susah payah, kedai es milik paman Jung. Paman Jung yang mana pula dia tak tahu?

“Ah—aku lupa, kau tidak pernah makan ditempat murahan ya? Ngg.. itu..” Donghae berhenti. Menyendokan satu suapan besar lagi kedalam mulutnya yang besar. “…itu juga kedai es terkenal di Seoul. Di Korea bahkan! Kedai itu sudah ada sejak Ayahku masih remaja. Aku sering kesana dengan Ayahku. Aku kenal dengan Paman Jung-nya! sekarang aku lebih sering kesana dengan Hyukie. Sama seperti es yang ini, yang kau inginkan ini. sampai kau marah-marah karena kehabisan, kita juga harus mengantri untuk mendapatkan es milik paman Jung. Kadang kalau tidak beruntung bisa kehabisan juga. tapi aku tidak pernah kehabi san, Omong-omong. Walaupun kedainya sudah tutup, kalau aku datang, Paman Jung pasti memberikan satu untukku. Hebat bukan?”

Eun Soo terdiam. Dia hanya dapat menajamkan pendengaran, mendengarkan ucapan Donghae yang tidak memiliki jeda. Terucap cepat seperti kereta ekspres. Eun soo masih tidak ingin menengadahkan wajah untuk setidaknya, menghormati si lawan bicara dengan melakukan kontak mata.

Wanita itu hanya mendesis sinis tidak peduli dan mengacak paper bag miliknya tadi, mengeluarkan seluruh isi cokelat yang dibelinya. “Ah!” suara Donghae terdengar lagi “Toffiffe, Belgian, Dcolse, Maxinm’s!!” pria itu menyebutkan Brand cokelat yang dibeli Eun Soo.

“Itu kan cokelat murahan!! Kenapa kau membelinya? Kau bilang kau hanya makan cokelat mahal?” desis Donghae tak terima. Dia jadi teringat akan nasib cadburry-nya yang akhirnya harus tandas dimakan Eunhyuk ketika itu.

“Yeah, kalau kau cerdas, kau akan tahu kau tidak dapat menemukan Godiva disana.” Balas Eun Soo tak kalah sinis.

“tapi kau tetap membelinya.” Donghae menyipitkan mata. “dan.. memakannya.” Sambungnya saat Eun Soo mulai memasukan Maxinm’s kedalam mulutnya.

“aku sudah membelinya, untuk apa tidak memakannya!” decah Eun Soo sebal. Donghae terlalu banyak berkomentar tentang apapun saat ini. dia butuh sebuah lakban untuk merapatkan bibir sialan itu!

“aku juga sudah membelinya kemarin. Cadburry itu. kau tidak memakannya!”

“aku tidak membelinya. Kau yang membelinya.”

“tapi aku membelinya untukmu.” Protes Donghae lebih sebal.

“dan kutolak. Jadi itu tetap milikmu.” Donghae mendengus tak percaya mendengar kata-kata Eun Soo. “jahat sekali.” umpatnya. Menggali lebih dalam cokelat didalam pelukannya dan memasukannya kedalam mulut tak kira-kira banyaknya karena ber-emosi.

“hanya sebuah cokelat. Toh cokelat tidak memiliki perasaan.” Acuh Eun Soo ambigu, sambil mengunyah anggun, layaknya putri raja. Donghae mecebikan bibir, “tapi yang membeli memiliki perasaan. Aku sakit hati, kau tahu?” desisnya.

“Oh—“ tanggap Eun Soo singkat. Sama sekali tidak tertarik dengan hal yang satu itu sepertinya. “setidaknya hanya karena cokelat. Bukan karena hal lain yang lebih menyakitkan.” Ujar Eun Soo memulai kalimat sarkas-nya.

“dan aku akan lebih sakit hati, kalau kau juga menolak Ice Cream barter ini.”

“barter?” Eun Soo menyahut, “kapan aku setuju untuk barter denganmu? Kau hanya datang, duduk dan merampas ice cream-ku tanpa perduli apa aku setuju dengan tawaranmu atau tidak. iyakan? Apa aku pernah berkata iya untuk tawaranmu?”

Donghae tercengang. Sekarang dia merasa seperti perampok karena memakan yang bukan hak-nya. perlahan kunyahannya memelan hingga berhenti. Dia meletakan sendok didalam tube nya dan mendorong tube tersebut kembali kepada Eun Soo. “baiklah, aku minta maaf. Ini kukembalikan.” Ujarnya menyesal.

Menyesal yang entah bagaimana malah membuat Eun Soo ingin tertawa mendengarnya. Dia sudah tak tahan lagi dan akhirnya menengadahkan wajah menatap dua mata Donghae. Benar-benar polos. Seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan besar dan kemudian terkejut karena tertangkap basah oleh Ibunya.

“It’s okay. Just.. eat that.” Eun Soo mengernyit memandang tube Ice-nya. minatnya akan Ice Cream amerika itu sudah tak lagi ada, “aku tidak suka memakan bekas orang.” Aku-nya jujur.

“aku—aku sehat kok. Aku tidak berpenyakitan yang bisa membuat kau tertular dan mati—“

“It’s okay. It’s okay I know. I know, Lee Donghae-ssi. Aku hanya tidak berminat lagi dengan Ice Cream.”

“Brugundy Spalsh-nya juga?”

Keduanya sama-sama merunduk memandang balok es didepan mereka. Eun Soo mencebikan bibir dan terdiam ditempat. Dia ingin sekali memakan Ice cream itu, tapi entah mengapa orang-orang didalam tubuhnya sedang berdemo, melarangnya untuk memakan Ice cream tersebut. jangankan hanya memakan. Bahkan menyentuh pun ikut menjadi larangan. Benar-benar aneh. Ice Cream ini tidak ber-virus mematikan, kan?

“Yeah.. I guess so.” Desah Eun Soo menyesal. Bahunya bergidik kemudian lalu kembali memasukan potongan cokelat dengan amat sangat anggun, disela desahan putus asa Donghae. “Kau—begitu.. membenciku ya? bahkan Ice Cream-ku pun jadi korban-nya.”

“Tidak.” jawab Eun Soo singkat. Mengunyah Maxinm’s-nya dengan tenang. Donghae menggelengkan kepala membantah, “Tidak salah lagi maksudmu.”

“terserah kau saja. itu mulutmu bukan mulutku.”

Donghae menelan ludahnya. Memeras otak setengah mati, mencari cara untuk berbicara tentang permasalahan mereka, bagaimana mengatakan semua itu tanpa harus terdengar kembali jahat? Namun semua itu sama sekali tidak didapatkannya.

“Aku—Maaf. Aku sungguh menyesal. Maafkan aku, Eun Soo.” Ujar Donghae lemah. Sangat lemah dengan bahu terkulai, seakan dengan mengatakan hal itu seluruh kekuatannya menguap entah kemana. Donghae lalu menaikan arah pandangnya sedikit  keatas, kepada Eun Soo. Wanita itu masih mengunyah dengan santai, seperti dia tidak  baru saja mengatakan apapun.

Seperti tidak terjadi apapun sebelum ini. “Eun soo—aku..”

“aku pernah dengar itu.” Eun Soo memotong kata-kata Donghae. “tapi tidak dengan tambahan menyesal.” Lanjutnya. “Well said. Kau membuatku terkesan.” Eun Soo melirik Donghae sekilas. Hanya sedetik dan langsung kembali membuang wajahnya.

“Eun Soo, aku serius. aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa bersikap seperti itu padamu dulu. dirumah sakit ketika itu. aku benar-benar bodoh. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu, aku tahu. aku hanya..” perkataan Donghae mengambang. Dia ingin bicara dengan kata-kata seperti yang telah dilatihnya didepan cermin selama ini, tapi semua itu tampak tidak sesuai dan juga tidak dapat keluar dari mulutnya semudah ketika dia sedang berlatih.

Ternyata, meminta maaf sama sulitnya dengan memaafkan. Sama dengan rasa kelu pada pangkal lidahnya hingga dia tak dapat mengatakan dengan sempurna permohonan maafnya, Donghae rasa, Eun Soo berada pada posisi lebih sulit darinya.

Itu sudah pasti.

“kau benar. tidak ada pembenaran yang bisa kugunakan. Dan lagi, aku tidak sedang berniat untuk melakukan apapun untuk membenarkan apa yang telah kulakukan saat itu. itu benar-benar tidak seharusnya terjadi.”

“Donghae-ssi, kau pikir.. aku seperti ini karena kau memaki-ku dirumah sakit ketika itu?” Eun Soo bertanya tak percaya. Menatap Donghae seksama secara takjub, tidak mengerti dan tidak habis pikir. Tidakkah pria dihadapannya seharusnya sadar, bahwa permasalahan mereka jauh lebih dalam dibandingkan bentakan dan makian pada siang hari yang kacau itu?

“Y—ya?”

“Cih~” dengan cepat Eun Soo membuang wajahnya sambil teryawa sinis setelah mendesis tak percaya. “aku tidak setolol itu. tapi ya, itupun salah satu yang membuatku merasa…… tolol. Benar-benar tolol. Super tolol.” Eun Soo setuju. selama ini, dia memang tolol. Dan yang paling membuatnya merasa tolol adalah, bahwa dia tidak pernah sadar bahwa dia bersikap tolol dalam waktu yang tak sebentar.

Entah bagaimana pandangan orang-orang padanya menonton ketololannya itu selama ini. mereka pun tega sekali tidak ada yang mengingatkan.

“Eun Soo.. kau tidak—“

“sudahlah, aku paham. Sebenarnya, awal kerisuhan ini adalah dariku. Ini kesalahanku.” Senyum Eun Soo mengembang tipis. berwarna kemirisan dan sedikit tambahan penyesalan.

“aku tolol. Kau tidak menyukaiku. aku memaksakan sesuatu yang tidak semestinya terjadi. awalnya kita tidak memiliki masalah apapun tapi aku menjadi…” Eun Soo terdiam. Berfikir, lalu tersenyum dalam tundukannya, “sebenarnya aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkan bagaimana tololnya aku selama ini.” kekehnya geli.

“kalau aku tidak memulainya, kau tentu tetap bersikap biasa saja padaku. itu yang sebelumnya terjadi pada kita kan? Haah— lalu aku memaksakan hal yang tidak seharusnya terjadi itu. setiap saat, setiap hari, setiap menit, detik.. membuatmu tersudut dan tidak memiliki pilihan selain mengikuti permainanku daripada kau direpotkan lebih jauh olehku. Aku bersikap semauku atas dirimu,  dan itu benar-benar menyulitkanmu. Aku sadar, itu tidak sepantasnya terjadi, dan selama ini, kau teranggu dengan hal itu, iyakan?”

Donghae terdiam. Dalam hati yang selalu sejalan dengan pikirannya, yang biasa berkata iya ketika akal sehatnya merasa jengah dengan seorang Kim Eun Soo pun tidak dapat bicara apapun lagi sekarang. Donghae hanya..diam. mulutnya tidak mampu bergerak sama sekali.

“aku paham. Sekarang aku paham dengan hal itu. maksudku—aku memang menyebalkan sekali. aku mengganggu dan menyusahkan. Aku merepotkan dan membuat onar.” Eun Soo tersenyum miris. Membayangkan apa yang dilakukannya selama ini dan ya ampun, dia baru sadar kalau dia benar-benar seburuk itu. pantas saja Donghae menjadi kesal bukan main kepadanya!

“dan maaf karena selama ini aku bersikap kekanakan dengan menghindarimu. Itu bukan maksudku, tapi aku tidak bisa berbohong. seperti rasa malas saat setiap kau melihatku, aku juga merasakan hal yang sama. Bedanya, aku merasakan beberapa perasaan lain selain rasa malas.” papar Eun Soo begitu santai. matanya bergerak keatas saat wanita tinggi itu mulai berfikir, “marah, kesal, kecewa. Seperti itulah.”

Nafas Eun Soo mulai tak beraturan. Tidak mudah ternyata mengatur emosi dengan berpura-pura baik-baik saja saat ternyata yang dirasa adalah sebaliknya.

Matanya mulai perih lagi. dia ingin menangis, tapi terlalu malu untuk dilakukannya sekarang. didepan orang lain lagi. hal itu membuatnya tiba-tiba seperti orang gila tertawa kencang sendiri ditengah keheningan malam dan deburan ombak. “Hahaha—ini benar-benar lucu.” Ujarnya. Menghapus air mata yang terlanjur keluar tak memerdulikan peringatan yang telah dikumandangakannya melalui otak.

Donghae sendiri tidak pernah paham mengapa Eun Soo mengatakan bahwa ini adalah hal yang lucu. Baginya, ini sama sekali tidak lucu, namun aneh. Eun Soo terlihat seperti pasien rumah sakit jiwa yang tertawa sambil menangis.

Eun Soo sadar, keadaannya saat ini tampak aneh bersampur dengan menjijikan. Dia tampak seperti orang gila, maka tak lama Eun Soo memutuskan untuk menyambar tasnya dan berjalan meninggalkan meja kayu. Meninggalkan Brugundy Spash Ice-nya, Baskin robbins nya, dan deretan cokelat lainnya yang bahkan belum disentuhnya sama sekali.

Donghae langsung cepat-cepat melompat, mengekori Eun Soo. “aku tidak menyalahkanmu dengan hal ini. aku  tahu, kalau aku berada diposisimu, aku mungkin akan merasakan hal yang sama. Tapi—“ Eun Soo memutus. Berhenti berjalan dan membelokan diri menghadap Donghae. Air matanya yang tadi tampak sangat jelas mengalir, sekarang sudah menghilang tak berbekas. Tak ada tanda-tanda sedikitpun, bahwa Kim Eun Soo baru saja menangis.

Eun Soo mengacungkan telunjuknya tepat didepan wajah Donghae dan wajahnya yang berjarak 10 senti meter. Bergaya, seperti seorang Ibu yang sedang memarahi anak-anak mereka, “tapi aku adalah seseorang yang tahu tatakrama dalam bersikap. Aku tidak akan membuat orang tuaku menyesal karena berfikir bahwa mereka salah mendidikku ketika aku melakukan hal yang tidak semestinya, lalu menyalahkan perceraian sebagai tersangka utama hingga menganggapku sebagai seorang anak korban broken home. Tidak. Keluargaku memang hancur, tapi itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap cara orang tuaku mendidikku. Aku seorang anak yang dididik secara benar oleh Ibu dan Ayahku dan aku tahu bagaimana aku harus bersikap sesuai dengan ajaran mereka yang tepat. Aku tidak akan membuat orang lain merasa kecil, atau bodoh, atau perusak keadaan apalagi merasa tidak berguna hanya karena mereka merasa jatuh cinta. karena aku tahu bahwa itu bukan keinginan mereka. karena aku tahu, jatuh cinta adalah Hak semua orang.”

Eun Soo terdiam. Menarik nafas pendek dan kembali melanjutkan jalannya, “Lee Donghae-ssi, you should know that Falling in love isn’t a choice. I didn’t choose you. my heart did. And I don’t even know what the reason is. I just.. do. Is it wrong? My fault?”

“Aku mengerti.” Donghae menanggapi. Kepalanya mengangguk seraya dirinya yang menyetujui pernyataan Eun Soo. “aku mengerti dengan hal itu.”

“You do?” Eun soo melotot. Terkejut tidak percaya. Atau… sebenarnya itu hanya berpura-pura tidak percaya. Dan Donghae tahu betul bawa Eun soo sedang menyudutkannya kali ini. “Yeah..” Donghae menggosoki tengkuknya yang memanas. “aku..sedikit banyak aku paham. Aku tahu bagaimana rasanya.. menginginkan sesuatu tapi pada saat yang sama, aku juga tahu bahwa aku tidak akan mendapatkannya.”

Eun Soo menganggukan kepalanya berkali-kali. “good. Tapi aku tidak begitu… percaya, kau tahu rasanya, Donghae. Karena.. kau tidak menerapkan apa yang kau rasakan itu pada dirimu sendiri. kau malah seperti.. melampiaskan rasa kesal karena kau tidak mampu mendapatkan apa yang kau inginkan kepada orang lain yang sama sekali tidak memiliki kesalahan apapun atas keinginanmu yang tidak terwujud itu.” tandas Eun Soo, “dan itu bukan hal yang baik untuk dilakukan.”

“dengar, jatuh cinta itu adalah hak setiap makhluk Donghae. Hak-ku untuk jatuh cinta dengan siapa saja, termasuk denganmu. Dan kau memiliki hak untuk tidak membalas rasa cintaku, tapi kau tidak memiliki hak untuk memperlakukanku dengan tidak semestinya seperti yang selama ini kau lakukan—hanya karena kau tidak merasakan hal yang sama sepertiku, atau bahkan merasa terganggu karena ulahku. Kau bukan orang bodoh. Kau  orang berpendidikan. Kau tahu bagaimana harus bersikap. Kau pasti diajari itu oleh Ayah Ibumu, kan?” Eun Soo mulai bicara dengan nada ketusnya.

Donghae terdiam. Lalu tersenyum kecut amat sangat tipis. Matanya turun memperhatikan pasir pantai dikakinya, “Ayahku.. sudah meninggal lama sekali sejak aku masih kecil, dan Ibuku.. karena hidup kami yang tidak menentu setelah ditinggal oleh Ayahku, Ibuku pergi ke Jepang untuk bekerja dengan Pamanku. Karena biaya bolak-balik yang tak terjangkau bagi kami, Ibuku menetap di Jepang dan hanya kembali sesekali ketika ada perayaan besar saja. Selama ini, aku dan kakak-ku hanya tinggal bersama kakek-ku di Mokpo, lalu aku mendapatkan beasiswa Kedokteran dan aku pindah ke Seoul.”

Eun Soo mencelos mendengar pengakuan Donghae. Dia sama sekali tidak tahu dengan yang satu ini. selama ini dia selalu merasa mengetahui segalanya tentang Lee Donghae, tapi ternyata tidak. dia hanya sok tahu. ternyata, masih begitu banyak yang tidak diketahuinya mengenai pria ini.

Bahwa Donghae tidak lagi memiliki Ayah, dan Ibunya? Pantas saja dia tidak pernah melihat Donghae bersama Ibunya. Dan pantas saja Donghae tidak pernah membicarakan tentang Ayahnya. Dia hanya sering berbicara tentang kakeknya dan Kakak-nya.

Kakeknya yang begini, kakeknya yang begitu. Kakak-nya yang selalu sibuk mengurus rumah makan kecil di tempat kelahirannya. Selepas itu, nihil. Eun Soo benar-benar semakin sadar bahwa dia tidak akan cukup baik untuk bersama dengan Donghae, melalui banyak fakta yang baru diketahuinya sekarang ini saja. setelah jaraknya dan Donghae semakin menjauh.

“Sudahlah.” Keluh Donghae. “Aku bukannya sedang berniat untuk membuat diriku tampak kasian. Aku tidak butuh dikasihani, dan aku tidak suka dikasihani.” Donghae tertawa, meredakan tubuh Eun Soo yang menegang. Eun Soo kesulitan untuk meneguk ludahnya sendiri. entah bagaimana rasanya terlalu menyakitkan ketika dia mencoba untuk melakukannya. “Hey, jangan melamun!” Donghae menepuk bahu Eun Soo kencang sambil tertawa. “tidak perlu memikirkan diriku.” Ungkapnya penuh percaya diri “Aku baik-baik saja dengan hidup seperti itu. rasanya menyenangkan juga. penuh tantangan, haha!”

Eun Soo mengerlingkan mata. “aku tidak.. tidak memikirkanmu. Sok tahu!” dengusnya sebal, berbohong. sebenarnya dia merasa tidak enak setelah mendengarnya. Entah ini adalah rencana busuk Donghae untuk membuatnya luluh atau apa, tapi ini benar-benar berhasil membuatnya merasa tidak nyaman.

“Jadi..?”

“Jadi kau masih bersalah dengan hal itu. sikapmu! Hal itu.. hal.. apa yang terjadi denganmu atau keluargamu, tetap bukan hal yang pantas untuk dijadikan pembenaran. Kau beruntung kau berhadapan denganku. aku harap kau tidak melakukan hal yang sama dengan orang lain. Karena itu tidak benar. Geez! aku benar-benar gila karena tetap bertahan nyaris satu tahun penuh diperlakukan buruk dan busuk seperti itu olehmu. Gila!”

Bibir donghae terkatup, tak lama ujung-ujung bibirnya menarik tinggi hingga membuat satu ulasan senyum, “pertama, aku tidak sedang mencoba untuk membuat pembenaran dengan alasan apapun. aku tahu aku salah dan kata-katamu benar. seutuhnya benar, 1000%. Kedua, aku rasa kau benar-benar jatuh cinta denganku, Eun soo. Kau sampai kehilangan akal sehatmu seperti itu.. kkk~. Dan ketiga, kau tidak gila. Itu hanya.. jatuh cinta. dan tidak ada yang salah dari jatuh cinta.”

“Cih, benar-benar sombong!” desis Eun Soo merasa terhina. Langkahnya dipercepat namun secepat apapun langkahnya, Donghae selalu dapat menyeimbangkan langkahnya. Tentu saja begitu.. langkah Donghae dapat dua kali lebih besar ketimbang langkahnya, walaupun tinggi mereka nyaris sama.

“Fall in love isn’t a choice. To stay in love is. Aku benar kan?” celetuk Donghae ditengah usahanya untuk menyamakan langkah dengan Eun Soo. “Yeah!” Eun Soo menoleh cepat pada Donghae. Berhenti berjalan untuk memandangi wajah Donghae takjub, “Yeah! Positive! Tepat! Kau benar!” pekik Eun Soo seraya tertawa.

“and I choose to stop. And leave. Gone.” Tandas wanita berkulit putih pucat itu, namun sedang berubah menjadi kecokelatan lantaran aksi tanningnya bersama Songjin sejak awal kedatangan mereka kesini.

Keduanya, baik Eun Soo  maupun Songjin, tampak seperti manusia purba yang baru pertama kali melihat computer. Terlalu girang saat mendapatkan matahari melimpah ruah. Tanning Gratis!!

“K—kenapa?” Donghae mencelos seketika. hatinya seperti baru saja ditinju dan rasanya benar-benar sakit serta sesak. kenapa bisa seperti ini?

“because, I said so. And Because..”

“you hate me.”

“what? N—no! no no no. it’s not like that.. it’s just.. because..”

“you hate me,”

“I don’t!!”

“yes you do. You . do. Hate. Me.” Ucap Donghae penuh penekanan. Tajam dan serius.

it’s fall in hate. Not fall in love. Aku benar lagi, kan, Eun Soo?” lirih Donghae. Dia masih mengingat seluruh kata-kata Eun Soo dipesawat, saat dia sibuk kesana kemari, bolak-balik ke toilet yang sebenarnya hanya untuk melihat apa yang Eun Soo dan Luke sedang lakukan ditempat mereka. dia merasa kesal, mengapa kursinya harus berada didepan pasangan itu. bukan dibelakang? itu merepotkannya dalam aktivitasnya mengamati pasangan selebritas itu!

“Masalahnya, Luke, kita bukan tuhan. kita hanya seorang manusia biasa yang memiliki keterbatasan untuk memaklumi segala hal yang terasa menyakitkan. Bukannya tidak termaafkan. Hanya saja, maaf tidak bekerja semudah pengucapannya. Haah—kau bahkan tahu sendiri, mengucapkan maaf pun tidak semudah itu. Jadi sebenarnya maaf tidak hanya sekedar maaf. Dengan mengucapkan maaf, tidak akan langsung membuat luka itu sembuh. Butuh waktu untuk meredakan sakitnya. Itu belum termasuk dengan rasa nyeri yang selalu muncul, saat tanpa sengaja kesalahan yang menyakitkan itu melintas lagi. atau hal yang membuat rasa sakit itu ada, kembali muncul sengaja atau tidak. maka lubang itu akan mengaga lagi. terasa perih lagi. sesak lagi. dan kadang, butuh waktu dari awal lagi untuk memulai penyembuhannya.”

“bisa kita ganti bagian berkuda putihnya? Ini 2013, nyaris 2014 omong-omong. Bukan 213 sebelum masehi yang harus menggunakan kuda kemana-mana. Kasihan pangeran-pangeran itu kalau harus selalu datang terlambat karena menaiki kuda.” 

“Oh My… Eun Soo..Okay Okay!  Well.. So?”

“We changed the White horse part into Lamborghini, deal?” 

“wow, so he drive a Lamborghini?”  

“No. but in my eyes, yes.” 

“woah.. you really fall in love, sist.”

“Nah.” 

“it’s fall in hate.” 

Eun Soo kembali terdiam. Termenung karena tak tahu lagi harus mengelak seperti apa. Donghae benar, dan dia tidak mau lagi berbohong lebih banyak atas segala hal. Ini..sudah menjadi kebohongan terakhirnya. Memaafkan Donghae. Jika mengikuti kata hati terdalam, tentu saja dia belum sepenuhnya dapat memaafkan pria itu, namun akal sehatnya lagi lagi dapat berperan lebih dalam perasaannya kali ini.

Dia tidak akan hidup dengan nyaman, ketika rasa benci dan amarah itu terus merubungi dirinya. Dia harus melakukan sesuatu. Setidaknya, dengan membuang salah satu dari dua perasaan mengganjal itu dulu. perlahan-lahan, pasti bisa kalau dicoba.

Maka Eun Soo pun mendepak rasa amarahnya. Namun Naas, benci itu masih tersisa dan dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menangani yang satu itu. dia hanya berharap waktu dapat membantunya perlahan-lahan nanti.

“aku.. A—a..ku.. Hngg…” Eun Soo tergugup tiba-tiba. Bibirnya kelu tak dapat digunakan, sedangkan Donghae kembali tersenyum miris. Miris untuk dirinya sendiri. tangannya terangkat untuk merangkul Eun Soo kemudian, “Gwaenchana. Aku tidak menyalahkanmu, kalau kau begitu membenciku. Aku memang menyebalkan. dan pantas untuk dibenci.” Tuturnya. Bahkan hatinya terasa pedih ketika mengatakan hal tersebut dari mulutnya sendiri.

“Hanya saja.. kita tidak harus bermusuhan kan? kau tidak harus menjauhiku. Kita bisa memulai segalanya, tanpa menyisakan hal-hal mengganjal seperti itu lagi. kita, masih bisa jadi teman kan?” pintanya memohon. Sekonyong, Eun Soo segera mundur selangkah dari tempatnya berada dengan kepala yang menggeleng hebat. “Tidak tidak. kau salah paham, Donghae. Tidak seperti itu. aku hanya..” Eun Soo bungkam. Bibirnya kembali kesulitan untuk bicara. Setidaknya mengatakan yang satu ini, bahwa dirinya masih begitu.. “I love you. and I still do. i love you even when I hate you. that is why I’m mad!! I’m mad to myself!!!” terangnya.

Eun Soo merasa terjebak oleh keadaan yang tanpa disadari, telah dibuatnya sendiri. dia masih begitu menyukai Donghae. Namun disaat yang sama, diapun merasa terganggu dengan perasaan semacam itu. dan sejak lama, dia tak dapat memenukan jalan keluar, dari gang buntu ini. ini benar-benar merepotkannya. Ini jelas bukan kesalahannya. Tapi tentu bukan juga Donghae. Ini entah kesalahan siapa.

Donghae memandang Eun Soo sedih. Ini bukan hal yang benar. hatinya berkata, bahwa ini adalah salah dan bukan yang seperti ini yang diinginkannya, “I love you and I’m in love with you, are two totally different things, Eun Soo. It will never be the same. Not again.” ungkapnya lirih. “you will never look at me in the same way ever again. You’ll never be that girl again. The girl who comes running back every time I push her away, the girl who loves me anyway..”

“Donghae—“

“Women use silence to express pain. You know she’s truly hurt when she choose to ignore you.” lanjut Donghae. Dia kembali mendekat untuk merangkul Eun Soo yang tampak membatu mendengar perkataan Donghae tadi, “dan kau menjauhiku selama ini. jadi.. itu bukan hal yang tidak beralasan, kan?”

“Donghae, tapi—“

“Tidak masalah, Eun Soo. Aku mengerti, butuh waktu. Kau butuh waktu dan aku tidak akan memaksamu. Ambil waktumu, nikmati semuanya. Rapihkan lagi apa yang sudah kukacaukan, sembuhkan apa yang luka. Andai saja aku bisa membantu, tapi dalam hal ini, kau harus bekerja sendiri. atau..  mungkin tidak. aku pernah dengar, kata orang, patah hati dapat sembuh hanya dengan satu cara. Adanya orang baru. Dan Luke.. aku bersyukur dia ada untukmu. Gorilla itu..” Donghae tertawa sambil menggeleng, “maksudku.. pria itu.. dia..kupikir dia pria baik-baik. hanya saja, aku masih tidak suka cara kalian bergaul yang menurutku terlalu.. kelewat batas seperti itu. semoga Luke bisa membantumu.”

“Donghae, Luke itu bukan—“

“Gwaenchana. Aku mengerti, Eun Soo. Santai saja.” tarikan nafas Donghae semakin berat karenanya. Benar-benar berat mengakui apa yang tidak ingin kau akui dan selalu kau sangkal. Donghae benar-benar merasa kacau saat ini. “Psychology says, men tend to forget but never forgive. Women forgive but never forget. Dengan alasan itu, aku tidak perlu cemas karena kau pasti tidak akan pernah melupakanku, kan? hahaha!” tawa Donghae menggema.

Memaksakan tawa itu tidak enak. Dan Eun Soo mendapati itu adalah hal aneh. ketika Donghae tertawa, namun tidak dengan matanya, “kau ini kenapa sebenarnya?” tanyanya bingung dengan sikap Donghae.

“tidak. hanya merasa lucu saja tiba-tiba, Haha!” Donghae kembali tertawa.

“Ah—lagipula, Move on bukan berarti memaksakan untuk melupakan. Move on adalah, memberikan kesempatan pada hal baru dengan cara yang lebih baik. semoga saja Luke seperti itu. aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Jangan sampai kau mati karena patah hati denganku.”

“Mwo? Mworago??”

“Iya. nama ilmiahnya Stress Cardiomyopathy!”

“aku tidak se-depresi itu, Donghae!” elak Eun Soo semakin tidak terima. Meringsut kabur dari rangkulan Donghae dan melipat dua tangan didada rapih. Melotot kepada Pria yang sedang terbahak-bahak karenanya.

“Nah, inilah salah satu yang kusuka darimu. Kau bisa menempatkan dirimu pada kondisi terkacau sekalipun. Pertahananmu kuat.” Puji Donghae. Hal tersebut membuat Eun Soo mendengus sambil menyunggingkan senyum sinis, “seingatku, kau tidak pernah menyukaiku. kau selalu bilang, aku perusuh.” Sindir Eun Soo.

Donghae tersenyum tipis, menggaruki kepalanya. Habis katakata bukanlah hal biasa terjadi jika sudah berhadapan dengan wanita pemilik mulut sarkas seperti Eun Soo, “banyak hal yang tidak permanen, dan kukira perasaan-pun salah sau contohnya.”

“benar. seperti aku yang tidak lagi meletakan respect-ku padamu?”

“Eun Soo~”

“kau bilang kau akan memberiku waktu? Kalau begitu terima saja sekarang apa yang ada.” Tutur Eun Soo mengencang. Donghae hanya dapat menelan ludahnya pahit dan tersenyum kecut lagi. dia tahu bahwa Eun Soo orang yang keras. keras kepala, keras hati, keras pendirian.

“Baiklah,” balas Donghae melemah, “asal kau tidak menjauh dariku saja. aku merasa lebih baik saat kau berada disekitarku.” Aku-nya penuh kejujuran. Sambil tersenyum polos, dapat membuat Eun Soo luluh seketika, jika saja dia tidak cepat-cepat membuang pandangannya, dan terus memperhatikan bola mata Honey Brown milik Donghae.

“aku tidak bisa janji.” Eun Soo berkata tegas. Donghae terdiam. Benar-benar terdiam,mengkaku dan tak dan tidak dapat menggerakan anggota tubuh manapun miliknya.

“Eun Soo~” ucapnya lirih, “selama ini kau selalu berada disekitarku. Aku telah terbiasa dengan kehadiranmu. Kalau kau pergi begitu saja, aku tidak tahu aku akan seperti apa.” Papar Donghae semakin melemah. Dia merasakan kesedihan yang benar-benar tak dapat dijelaskan secara terperinci. Hanya… sedih.

Eun Soo membuang nafasnya panjang, “selama ini aku juga terbiasa dengan makian-mu. jadi kenapa tidak kau kembali saja lagi seperti Lee Donghae yang kukenal? Sebenarnya ini menyulitkanku. Kalau kau bertingkah seperti pria normal pada umumnya begini.” Jelas wanita tinggi dengan alis mata tebal itu kesal.

“Eun Soo, aku..serius. aku tidak bisa—“

“aku juga serius Donghae. Kau lihat apa diwajahku ini, ada guratan bekas aku membuat lelucon?” Eun Soo kembali menyindir. Membalik tubuhnya, menunjukan wajahnya pada wajah Donghae. “aku serius. lebih serius lagi, dengan jarak tenggang waktu yang kau berikan, dan aku butuhkan. Aku butuh waktu, dan kalau kau terus berada disekitarku, aku tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah ini.” keluh Eun Soo menaikan suara.

“berhenti selalu muncul tiba-tiba dihadapanku. atau berada disekitarku. Kau dan aku sama-sama tahu bahwa kau tidak suka berada disekitarku. Atau aku yang berada disekitarmu. Jadi, tolonglah, mengerti. Bukan karena aku membencimu. Tapi aku butuh waktu.” Mohon Eun Soo bersungguh-sungguh.

Air mata yang sedari tadi berhasil disembunyikannya, kini menelusup lagi untuk keluar. Mata bening Eun Soo telah berkaca-kaca. Rasanya panas dan perih. “aku akan pergi.” Eun Soo menyingkirkan sebulir air mata yang merosot cepat turun melewati pipinya. “aku akan ke London selama dua bulan. Mungkin, atau bisa lebih lama.”

Donghae semakin terdiam. Tubuhnya terasa seperti sedang ditampar dengan bongkahan es besar. dingin, dan sakit. lalu denyutan, entah berasal darimana, mulai mengelilingi seluruh tubuhnya, “apa.. berteman denganku begitu sulitnya untukmu?”

“Iya.” Eun Soo mengangguk. “kau tidak akan bisa hanya berteman saja dengan orang yang kau cintai, mungkin disitu letak permasalahannya.”

“Jadi, kau pergi karena kau tidak ingin berteman denganku?” keluh Donghae. Ingin protes dan membodohi Eun Soo seketika. dan seketika pula pada saat yang sama, Eun Soo terbahak ditengah tangisnya lagi. “yang benar saja, Lee Donghae-ssi,” erang-nya merasa tak percaya. Pria ini bisa menjadi bodoh juga ternyata.

“kau tidak sepenting itu bagiku sampai harus merelakan tanah kelahiranku hanya karena aku merasa patah hati. jangan konyol~” tangan Eun Soo mengibas kencang didepan wajah Donghae. Cat kuku merah, dengan bebatuan mengkilat sebagai hiasan diujung atasnya berkilauan saat sorot lampu taman otomatis, tak sengaja melintas.

“aku mendapatkan pekerjaan baru. Dari sebuah Brand. Kau tahu DKNY?” Eun Soo menoleh pada Donghae dan seketika pria itu menggeleng bodoh begitu polos.

“Geez! Dimana selama ini kau hidup? Narnia?” sindir fashionista itu mendecak tak percaya, “aku terpilih menjadi brand Ambassador untuk prodak terbaru mereka. sebuah parfum. Golden Delicious. Karena itu aku harus berada di London, karena aku harus berada dilokasi selama aku harus ikut dalam promosi pemasaran mereka.”

Dongahe tetap terdiam. Persetan dengan DKNY, dia bahkan tidak tahu menahu tentang seluruh brand terkenal yang selalu Eunhyuk agung-agungkan selama ini. baginya, yang penting pakaian itu nyaman dan layak digunakan, itu sudah cukup.

Pikirannya sedang melayang kemana-mana. Dua bulan di London itu bukan waktu yang sebentar omong-omong, entah ini benar karena Eun Soo mendapatkan job, atau hanya alasan wanita ini saja agar dapat menjauh darinya?

Donghae meremas jemarinya sendiri dan mengigiti bibir bawahnya, “memangnya..kau sudah memiliki manager?” tiba-tiba Donghae teringat bahwa Lee Minjung baru mengundurkan diri karena menikah. Membuat Eun Soo kelabakan sendiri dengan seluruh pekerjaannya, “tidak.” jawab Eun Soo singkat.

Kaki Jenjangnya terus berjalan santai menuju resort didepan sana. Tak jauh lagi, bangunan megahnya sudah terlihat sangat jelas dari kejauhan sini. Benar-benar..mewah. seirama dengan namanya, Lyx.

Isi kepala Donghae mulai berfikir yang tak semestinya. Dia pasti sudah gila, dia sendiri pun tidak tahu mengapa dia bisa berfikir seperti ini, “mau kutemani?” tawarnya tulus.

Seketika Eun Soo membuang wajahnya kepada Donghae lagi bukan main cepatnya. Matanya mendelik tak percaya, “M—maksudku.. sampai kau mendapatkan man..ager.” jelas Donghae terbata-bata. Sekarang dia yakin bahwa dia sudah gila!

Mata Eun Soo mengerling bukan main tajam kepada Donghae. Tidak perduli bahwa saat ini, Lee Donghae sedang terlihat bagai anak anjing menggemaskan yang baru saja kehujanan. Menggemaskan dan menyedihkan.

Karena ucapan Donghae tadi, nafas Eun Soo seketika menjadi memburu. Bukannya merasa tersentuh, wanita itu malah merasa sebal dan kesal bukan main. Urat marahnya terlihat dengan jelas diwajahnya dan tangannya mengepal. Menahan agar tidak mengamit batu pantai kecil-kecil dikakinya ini, dan melemparkannya kepada Donghae sampai kepala pria itu bocor.

Bukankah sudah jelas apa yang dikatakannya tadi? bahwa dia membutuhkan waktu untuk banyak hal? Sepertinya Donghae tak paham bahwa banyak hal itu seluruhnya tertuju pada dirinya.

“aku tidak butuh.” Ketus Eun Soo seketika. “Nara sudah setuju untuk menemaniku selama aku disana.” Papar Eun Soo menjelaskan.

Kepala Donghae mengangguk kemudian. Merasa paham, walau sekonyong merasakan kekecewaan karena niat baiknya ditolak mentah-mentah. Tapi sebenarnya, tidak lucu juga kalau dia mengajukan cuti selama dua bulan penuh hanya untuk berada disekitar seorang wanita seperti itu. bukan alasan yang masuk akal. Dan lagi, itu berarti dia mempertaruhkan nyawa orang lain. Pasien-nya.

Keduanya berjalan dengan tenang beriringan. Melewati gerbang besar pintu masuk resort, dan memasuki lobby. Namun tak lama, Donghae tersadar akan sesuatu, tangannya menghentikan tubuh Eun Soo yang akan maju selangkah lagi melewati pintu  belakang resort, “Nara itu…” Donghae menggantung kata-katanya seraya berfikir kuat, “pria atau wanita?” tanyanya polos.

Geraman kesal segera lolos dari bibir tipis Eun Soo. Tidak tanggung-tanggung, Hermes bagnya pun melayang tinggi dan sampai pada kepala Donghae. Menghantam dengan kencang, “PABO!” murka Eun Soo seketika.

** **

“HAPPY BIRTHDAY!!!” sorak enam kepala disana bersamaan. Gema karena teriakan itu merambat hingga keseluruh ruangan. Kertas berwarna warni meledak dari sebuah tabung. Melayang-layang diudara begitu cantik, dan jatuh mengotori lantai.

Sebuah kue berwarna putih dan pink berbentuk Heels dengan hiasan pernak pernih berkialauan disodorkan didepan wajah Eun Soo oleh Luke. riuh tawa menggelegar ditengah keterkejutan Eun Soo ketika dia baru akan membuka bilik-nya.

Instrument lagu ‘selamat ulang tahun’ segera berkumandang melalui Grand piano hitam, yang entah sejak kapan bertengger direrumputan dekat pintu. Seorang panist pria menggerakan jemarinya gemulai diatas tuts –tuts tersebut sambil tersenyum manis menonton keterkejutan Eun Soo, dan tingkah enam + satu kepala yang tadi datang bersama dengan Eun Soo.

~~ ~~

“Jangan dipotong.” Protes Eun Soo saat pisau kue ditangan Gyuwon nyaris menyentuh bagian tengah heels pink kue ulang tahunnya. Wajahnya menyiratkan kesedihan, “Kue-nya bagus.” Bibir Eun Soo menjadi monyong seketika.

Sejak tadi, dia terus melarang orang-orang untuk memotong kue ice cream itu hanya karena bentuknya yang luar biasa cantik.

“pabo!” runtuk Gyuwon. Dan Eun Soo menahan nafasnya ketika pada akhirnya, pisau kue itu membelah Heels cantik disana. Teorinya, seharusnya yang berulang tahun yang memotong. Tapi Eun Soo benar-benar tak tega kalau harus merusak sepatu cantik dikue-nya itu.

“ini!” Gyuwon meletakan piring berisi kue potongan pertama kepada Eun Soo. “saranku, berikan untuk Donghae Oppa saja.” matanya kemudian berkedip nakal.

“Cih!” Eun Soo mendesis sambil menyibakan rambut penuh gaya. Lee Donghae harus berpura-pura tak mengengar runtukan tajam itu yang tertuju padanya dan menyibukan diri memperhatikan sekitarnya saja.

Eun Soo tersenyum dan menyerahkan potongan pertama pada kue-nya kepada Luke. “untkku?” pekik Luke tak percaya. Eun Soo mengangguk senang tersenyum lebih lebar. “Woah! Thank you so much, sweety.” Luke ikut tersenyum dalam ketakjuban.

Dia memeluk tubuh langsing Eun Soo begitu erat. Entah perasaan bahagia apalagi yang dapat dikatakannya. ini semua terasa bagai mimpi saja untuknya. Tunggu sampai orang tua mereka tahu, bahwa hubungan mereka membaik. Luke benar-benar akan pamer setengah mati.

Kecupan singkat dibibir oleh keduanya membuat seluruh mata terkejut. Satu mata yang bersikap datar, hanyalah mata berwarna Deep Brown, milik Kyuhyun seorang. Pria itu hanya  menggelengkan kepala sambil mendecak tidak habis pikir.

Sepasang mata yang melotot paling lebar, ialah mata Donghae. Tentu saja, dia tahu bahwa gaya berpacaran Kim Eun Soo berbeda. tapi dia tetap tak percaya keduanya melakukan hal seperti ini dimuka umum. Dimukanya percis. Apa sebenarnya Eun Soo sengaja melakukannya? Dia ingin membuatnya kesal? Iyakan?

“What?” Eun Soo bingung memperhatikan semua orang yang memandanginya terkesima. “Geez!!” desah Eun Soo panjang, membuang napas kasar, “Come on! it’s just a kiss!!” gerutunya sebal setengah mati. ini mereka semua yang norak, atau dia yang berlebihan?

Setelahnya, kue cantik berbentuk sepatu itu sudah lenyap tak bersisa. Eun Soo memotong-motongnya, dan membagi kepada seluruh tamu resort yang dikenalnya. Terakhir, dengan potongan terbesar, Eun Soo memberikannya kepada Songjin, “cepatlah. Ambil ini!” paksa Eun Soo ketika Songjin menggelengkan kepalanya terus-menerus.

Songjin menolak kue lezat yang sebenarnya, membuat liurnya ingin menetes sejak tadi. “biar aku saja.” Kyuhyun akhirnya bosan dengan adegan dorong mendorong piring dihadapannya, dan berinisiatif mengambil potongan kue tersebut untuknya.

Ditangannya, piring berisi Kue itu tidak langsung diberikannya kepada Songjin. Kyuhyun memegangnya, dan mengiris sebuah potongan kecil lalu melahapnya sendiri. matanya memperhatikan Eun Soo yang sedang ditodong menyanyi oleh Luke.

“Aku serius! dia bisa bernyanyi, suaranya bagus!” papar Luke penuh semangat, yang kemudian seketika disetujui oleh Eunhyuk. “benarkah?” Gyuwon dan Siwon bertanya bersamaan. Mereka tak pernah tahu bahwa selain berlenggat lenggot diatas catwalk, bergaya didepan camera dan menghabiskan uang, ternyata Eun Soo dapat melakukan hal lain.

“you have no idea! She can do anything!” Luke berkomentar bangga. Terlalu bangga hingga membuat Siwon Gyuwon dan Kyuhyun mengernyit sendiri, “buktikan saja.” komentar Siwon.

Gywuon lalu berjalan cepat, berbicara kepada seorang pianist pria pekerja resort itu untuk menyingkir sebentar, memakan kue jatahnya, dan memberikan tempatnya kepada Eun Soo sebentar saja.

“ayo, selebriti papan atas yang sangat terkenal. Buktikan perkataan Luke!” tangan Gyuwon melambai-lambai menanggil Eun Soo untuk menghampiri Grand piano hitam mengkilat tersebut.

Setengah mati Eun Soo menggelengkan kepala sambil berjongkok melindungi diri. Semua orang memaksanya untuk bernyanyi, tapi dia tak sepercaya diri itu untuk melakukan apa yang sering dilakukannya saat dia masih berusia sepuluh tahun itu.

“demi tuhan itu 17 tahun yang lalu!! suaraku sekarang lebih bisa membuat gendang telinga pecah! Ayolah! Aku tidak ingin!! Jangan begini!!” Eun Soo sudah nyaris ingin menangis karenanya. Namun Luke, Siwon dan Eunhyuk tak memerdulikannya dan terus menyeret wanita itu sampai kedepan piano.

“Cha, bernyanyilah!” Siwon mempersilahkan.

“Shiero!!” tolak Eun Soo mentah-mentah.

“Ya~ setidaknya, berikanlah sebuah timbal balik. Kami sudah sangat berbaik hati melewatkan waktu istirahat kami untuk membuat kejutan ini untukmu.” Sindir Siwon membuat Eun Soo berdecak, “memangnya ini keinginanku?” rajamnya langsung.

“Eish~ stop it! Just do it!” papar Luke membalik dan menahan tubuh Eun Soo ketika wanita itu akan kabur. “do it!!” Luke melotot lebih lebar.

Dengan terpaksa Eun Soo menekan tuts asal, “you are my sunshine..my only sunshine..” bibir tipis itu mulai bernyanyi namun lalu Gyuwon, Eunhyuk Luke dan Siwon mengerang kencang bersamaan, “Eisssssh!”

“itu lagu anak TK! Tidak ada wanita berusia 27 tahun bernyanyi lagu seperti itu!” ledek Eunhyuk. Siwon dan Luke tertawa karenanya, dan Gyuwon mengangguk. “another song please?”

“aku tidak tahuuuuu!” Eun Soo ingin sekali menjeukan kepalanya pada piano didepannya saat ini.

Ditengah pemaksaan dari seluruh kepala kepada Eun Soo, yang pada akhirnya membuat Kim Eun Soo tak bisa melakukan apapun tak terkecuali kabur, jemari lentik Eun Soo mulai bermain diatas tuts piano.

Lirikan matanya terarah pada Gyuwon yang sedang seperti penyanyi classic, menyandarkan tubuh di piano. Lalu bergeser pada Siwon juga berada tak jauh darinya. Duduk bersila dibawah rumput. Menyandarkan punggung pada sebuah pohon kelapa besar dibelakangnya.

Luke duduk bersisian dengannya dibangku hitam panjang dan empuk ini. Tarikan nafas Eun Soo menghirup selurh oksigen disekitarnya mengawali bibir mungilnya terbuka,

I Wish I could believe you, then I’ll be alright
But now everything you told me really don’t apply to the way I feel inside
Loving you was easy, once upon a time
But now my suspicions of you have multiplied
And it’s all because you lied
I only give you a hard time,
‘cause I I can’t go on and pretend like
I haven’t tried to forget this
But I’m much too full of resentment

Luke tidak membual. Suara Eun Soo memang indah. Dan yang pasti juga tidak sumbang. Seluruh mata tidak ada yang tidak terkejut melihatnya untuk pertama. Karena pada dasarnya, Kim Eun Soo tidak terlihat memiliki kemampuan seperti itu. “Kubilang juga apa, suaranya bagus!” Eunhyuk mengomentari sambil tersenyum lebar disamping Donghae.

“aku tidak tahu kalau Eun Soo dapat bernyanyi…?”

“Ah kau ini,” dengus Eunhyuk pada sahabatnya. Melirik tajam sesaat, “tentu saja. memangnya tahu apa kau tentang Eun Soo?”

I may never understand why
I’m doing the best I that I can and I
Tried and tried to forget this
I’m much too full of resentment
I’ll always remember feeling like I was no good
Like I couldn’t do it for you like your mistress could
And it’s all because you lied
Loved you more than ever
More than my own life
The best part of me I gave you
It was sacrifice and it’s all  because you lied.

Hembusan angin laut membuat tubuh Donghae seakan tak bertulang. Entah pada bagian mana, pada lagu yang Eun Soo pilih untuk dinyanyikan, atau sekedar merasa tak enak saja. tapi perasaan tak nyaman muncul tanpa henti ketika wanita berparas cantik itu bernyanyi.

Ini benar-benar menyedihkan, bukan karena lagu dan atmosfer yang sekonyong berubah ketika pertama Eun Soo membuka suara, melainkan rasa tak terdefinisi yang mengganggu aliran darah Donghae.

Matanya kemudian mejadi panas. Seperti serangga besar, mendesak masuk. Membuatnya berair dan terasa perih bukan main.

Donghae mengarahkan mata pada Songjin. Hatinya seakan mencelos ketika lagi dan lagi menonton pasangan itu tampak berbahagia. Bukan kesal, hanya tak suka entah mengapa.

Kyuhyun dan Songjin seakan tak memerdulikan bahwa Eun Soo sedang menyanyikan lagu tersedih sepanjang jaman. Entah bagaimana, mungkin keduanya mencerna lirik per-lirik disana, dan mengubahnya menjadi lagu cinta berlirik sangat manis.

Keduanya seharusnya merasa tersentuh atau lebih parah menangis. tapi yang Donghae dapati, keduanya malah sedang asyik menikmati dentuman tuts dan suara merdu Eun Soo.

Donghae mendesis pelan, ketika semakin memperhatikan Kyuhyun dan Songjin. Tangan setan itu sedang melingkari tubuh Songjin. Mengusap lembut perut yang telah sedikit membesar karena kehamilan 4bulannya, dan tangan satunya mengecupi punggung tangan Songjin, sambil terus memperhatikan Eun Soo bernyanyi.

Songjin sendiri bersandar santai pada tubuh Kyuhyun. meletakan kepalanya dibahu tegap Kyuhyun dan satu tangannya yang bebas, ikut menyentuh tangan besar Kyuhyun yang sedang menyentuhi perutnya berkali-kali. Mereka saling bergandengan erat, Mereka benar-benar menikmati hal ini sepertinya.

Itu menjijikan! Donghae merasa geram bukan main. Lagi-lagi dia harus disadarkan fakta, bahwa kedua orang disana benar-benar saling mencintai. Dan entah bagaimana caranya untuk menyelinap masuk. Sepertinya, baik Kyuhyun maupun Songjin benar-benar merapatkan segalanya agar tak seorangpun dapat mengganggu mereka.

Donghae mengadahkan wajahnya. Memandangi langit dengan kilauan bintang. Matanya menjadi semakin panas dan panas dan panas. Rasanya benar-benar tidak nyaman berada disini. demi tuhan! sisi lain tubuhnya ingin dia untuk segera pergi saja, tapi sisi lainnya menahan, Eun Soo didepan sana terlihat sangat cantik dan menawan.

Dan omong-omong, ini kali pertamanya melihat Kim Eun Soo bernyanyi, wlau toh, dia merasa begitu tertampar dengan nyanyian Eun Soo.

I know she was attractive but I was here first
Been ridin’ with you for one years, why did I deserve to be treated this way by you?
I know your probably thinking, what’s up with Bee?
I been crying for too long, what did you do to me?
I used to be so strong but now you tool my soul
I’m crying can’t stop crying
You could’ve told me that you wasn’t happy
I know you didn’t wanna hurt me, but look what you’ve done to me now
I gotta look at her in her eyes and see she’s had half of me
How could you lie

Eun Soo tersenyum kecut diakhir nyanyiannya. Beriringan dengan itu, Eunhyuk menoleh pada Donghae dan mendapati sahabatnya itu sedang sibuk memandangi langit dengan cara yang aneh.

Tawa mencibir lolos tak lama, “tenanglah,” Eunhyuk menepuk bahu Donghae. Membuat pria tampan itu, terkejut dan langsung menurunkan wajah menatap pada Eunhyuk, “kesempatan bisa jadi datang lagi, tapi memang butuh perjuangan ekstra untuk yang kedua.” Papar Eunhyuk bijak. Tersenyum lebar, menepuk bahu Donghae lebih kencang dan lalu bangkit pergi, “aku ingin makan kue ku.. ahh.. lelahnya~” dia menggumam, menrenggangkan tubuh.

Seiring dengan hilangnya tubuh Lee Hyuk Jae dari sisinya, terpaan hawa dingin angin laut membuat tubuh Donghae merasa sekonyong dapat terbang terbawa arus. “aku juga!” ucapnya kencang. mengusap pipinya yang basah sebelum bangkit kabur menyusul Eunhyuk dengan cepat.

Nothing hurts more, than trying so hard to be good enough and being replaced by someone better.

Mungkin tuhan selalu memiliki alasan mengapa Dia memasukan seseorang kedalam hidup, dan lantas mengeluarkannya kembali. selalu ada alasan, mengapa kau bertemu seseorang. Entah apakah dia adalah orang yang kau butuhkan, untuk mengubah hidupmu karenanya, atau kaulah satu-satunya orang yang akan dapat mengubah hidupnya. 

Kadang, perpisahan tidak buruk juga. kadang, mungkin perpisahan adalah sebuah wujud sederhana dari sebuah kebahagiaan. Karena mungkin, untuk satu dan lain hal, kau akan terus merasa tersakiti jika tidak berpisah. Itu bukan berarti kau tidak akan bersama lagi. suatu saat jika memang dikehendaki, jika itu adalah hal baik, sesuatu itu pasti akan kembali lagi.

“saat kau mencintai orang yang salah, Tuhan pasti tahu. Dia mematahkan hati mu agar kau cukup kuat untuk meninggalkannya.”

“atau…,menjadi kuat bukanlah sebuah pilihan lagi, melainkan keharusan saat kau sadar bahwa menjadi kuat adalah pilihan terakhir yang kau miliki.” Donghae bersuara. Merangkul Eunhyuk saat keduanya berjalan beriringan menuju Eun Soo dan Grand pianonya.

“Gwaenchana,” Eunhyuk kembali tersenyum. Menepuk bahu Donghae dan mengeratkan rangkulan mereka. “orang bilang, memakan makanan manis bisa membuat perasaan menjadi lebih baik. ayo!”

62 thoughts on “[ Lee Donghae – Kim Eun Soo ] Fix A Heart 4 (END)

  1. Ngakak bgt bagian si singjin ditakuttin wkwkkwkwk.S donghae kasian, tp gpp bbuat pelajaran buat Doi. Biar Ga bentak2 eunsoolagi

  2. Jadi ini ngegantung lg?
    Soalnya donge kan blom tau luke itu kakaknya eunsoo,, duh kasian donge patah hati,,
    Sbenernya donge suka eunsoo ga sih? Ahh menggalau bersama donghae dlu nihh,, kasian dongenya patah hati sendiri..
    Itu si eunsoo mang cocok dlunya ngambil jurusan hukum ya.. Secara klo berargumen kata”nya ga dapet dikalahin,, cocok jd pengacara,,hahaha
    Apalagi wktu ceramahin songjin yg wktu dy hbs pingsan itu,, dan galak bgt lg..sampe donge aja takut sm eunsoo,,
    Mudah”an ada cerita” donghae-eunsoo lainnya,,
    Dan kyujin series jg,,
    Wahh panjang dan tidak membosankan kq luh,, keren nihh,, cm endingnya kasian donge,, hiks

    • Gak bener-bener gantung sih sebenernya conclution-nya ada cuma gak ngablak keliatan hehe 🙂
      Donghae suka eun soo. Tapi ada tapinya ini. Dia masih suka songjin. Sepertinya bakal ada lanjutan tapi sepertinya cuma ficlet-ficlet gitu. Kyujin seriesnya ditunggu aja ya, hehe, thank you 🙂

  3. Haa… Kasian ama donghae yg lg patah hati. Mudah2an suatu hari nanti eunso bisa nerima dy balik…. Tp aku suka banget ama pasangan kyujin, mereka makin mesra aja dech……..

  4. ni lagi selain songjin, tokoh yg paling bikin gregetan
    DONGHAE..odong bgt
    gak ngerti juga sama perasaan sendiri

    aku jg kalo jd eunsoo males bgt deh
    udah ditolak, eh malah diajakin temenan…mana ada yg mau!!

    songjin juga disini asem bgt!!keras kepala banget sumpah..
    penasaran gimana setelah siwon tahu soal pingsannya songjin krn anoreksia nervosa entu…gak mungkin kyuhyun masih gak tahu kan…
    songjin bener2 oon bgt…disaat gyuwon pengen bgt hamil, songjin malah gak ada bersyukurnya sama sekali..perasaan abis diceramahin eunsoo, si songjin nyesel dan sadar kalau dia salah..kok masih keras kepala gak mau makan kue sih??
    kurang apalagi coba kyuhyun..walaupun kyuhyun juga kurang peka, tapi tetep aja dia gak pantes dikecewain gini dong..

    ini salah desainer itu…hurrr

    baca ff author bikinn mood naik turun..
    eunsoo bener2 dewasa banget ya..
    setiap omongannya tuh bener2 maknanya dalem..
    aku heran drmana author dapet nasihat2 ala eunsoo tiu..hahahahhaha

    good job banget deh
    ditunggu kyujin seriesnya!!!bikin dong si songjin jera biar gak oon lagi xD

  5. sebenernya aku malah seneng banget kalo ffnya panjang.
    sukaaaa…
    yaampun, songjin kena anorexia. itu belum kyuhyun tau ya, nggak tau deh bakal kayak gimana kalo dia tau. marah besar pasti, siwon aja udah kayak gitu. donghae… poor you. tapi jangan nyerah ya, siapa tau di almost i do bisa jadian xD
    emang siapa sih yg nggak iri sama harmonisnya kyuhyun songjin? mereka itu saling melengkapi dan bikin ngefly. se.la.lu
    cinta deh sama eonnie… aku tunggu karya berikutny. love you la~

  6. Well written! Aku suka banget ceritanya. Probably even better than the kyujin ones lol. Lebih seru lagi kalo dilanjutin nih :p lol kidding. But i just want to say that i love your writings, esp in this story (bcs i dont really like songjin’s character). I hope you will write this couple fics some more! Nice job!

  7. Couple ini kalo lagi berantem bisa lebih parah dari Kyujin couple ternyata hahaha Donghae lucu waktu jd stalker Eun Soo…ngumpetnya kurang jitu pak dokter 🙂

    Songjin emang rada error tuh masa lagi hamil mikirin diet aduuhhh….
    Duh masih gantung ini endingnya Donghae patah hati dan tetep salah paham sama hubungan Eun Soo – Luke #elus-elusHae 🙂

  8. Ga bs ngomong,pokokny suka bgt ama ceritany.suka sama karakter eun soo.menunggu klanjutn kyujin.penasarn gmn marahnya si kyuhyun,krn karakter kyu itu 11 12 ama eun soo.salut sama outhorny,bs mbuat cerita semenarik ini.dtunggu karya slanjutnya

  9. Akhirnya…. ini bener-bener harua diaimpulin sendiri ya? Si donghae akhirnya stuck di songjin sama eun soo? Dia mulai suka eun soo tapi masih suka sama songjin begitu?
    Kyuhyun gak tau kalo songjin pingsan, dan songjin kena anorexia karena alasan random?
    Kesimpulan yg bisa aku ambil segitu doang. Tapi asli ini keren banget. Setelah ini, ada lagi gak eon, cerita tentang eun soo donghae? Kalo bisa ada dong.. karena masih banyak bgt yg belum terpecahkan. Maksudku, emang gak semua harus happy ending sih, cuman aku oenasaran bgt gimana akhirnya mereka ini.
    Aku penasaran juga sama kyujin-nya eon!! Aaaaah jangan bikin aku stress sendiri dongggg. Plissss kyujin-nya di posting eon 😦

    Aku suka banget deh sama gaya penulisan eonni yg santai, tapi tepat, rapih, dan gak norak. Jalan cerita yg gak ketebak, alur yang pas, kondisi yg real (gak muluk-muluk/mengada-ada). Kenapa eonni gak coba bikin buku aja? Aku sih yakin nya bakal tembus ke penerbit kalo tulisan macem begini sih.

    Semangat ya eonni! Aku tunggu postingan selanjutnya^^ fighting eonni^^v

  10. Bener, ini memang harus disimpulkan sendiri. Saya jadi paham maksud kata-kata luke lagi, tidak semua cerita bagus berakhir happy ending. Contohnya seperti ini. Saya suka cara penulisan kamu. Rapih. Benar benar rapih.
    Dan ceritanya memang terasa nyata. Bukan fantasi seperti ff yang sering saya baca di blog lain. Tingkat ke mature-an kamu terlihat dari gaya bahasa dan cara penulisan kamu. Saya suka. Saya rasa tulisan kamu memang pantas ditinggu karena menarik dan memberi banyak pelajaran bagi yang membaca juga 😀

  11. Aaaaa akhirnya selesai juga yeaay !
    Tapi kok gantung gtu 😦 donghae itu sbnernya msh suka songjin ? Aigoo nemo ckckc
    aku suka cara debat eun so sma donghae wkwkw
    dan pada akhirnya takdir memutuskan bahwa donghae sama eunhyuk jadi eunhae ! Eunhae jjang !! Uapaini haha 😀
    aaaaa ka gal pkoke aku minta kelanjutan ff ini yaa =) mau mereka semua bahagiaa ^^

  12. Akhirnya lanjutan yg bikin aku penasaran dipublish jga….Eonni ceritanya ngena banget deh dihati aku, keren banget 🙂
    Walaupun tidak berakhir dgn happy ending tp tetep seru dan seneng banget akhirnya si Donghae dibuat galau dicerita ini..abis kmrn2 sikapnya nyebelin sih sm Eun Soo….heheeh
    Tapi berhubung ini akhirnya gk buat mreka jadian mudah2hn nnti ada kelanjutan yg buat mreka jadi sepasang kekasih ya eonni… 🙂

  13. ceritanya masih gantung eon… pasti ada lanjutannya kan..?????????? aku kira happy end…. kasian donghae patah hati terus…

    oh ya eonni.. almost do.nya kapan mau di post…???????

  14. Sukaaaaa bgt sama ending nya. Biar si donge tau rasa noh. Hah makan tuh nyesel, eng enak. Maunya di london si eunsoo ktmu cwok siapa gitu eon biar nyesel-nyesel-nyesel bgy si donge nya. Daebakk. Kyujin ditunggu segera eonni ^^

  15. BTW, Ini ada lanjutannya gak? Sumpeh bener2 membuat orang penasaran dgn cerita selanjutnya 😀 gak tahu kenapa aku suka sekali sama tokoh eun soo, dgn kalimat2nya yg berhasil membuat orang mati bicara :-D, di tunggu kelanjutannya yah

  16. Kak Galuh ini kenapa endingnya kayak gini? ihh sumpah mataku berkaca-kaca baca bagian akhirnya 😥 kenapa Donghae dan Eunsoo harus berakhir seperti itu? Donghae juga cinta Eunsoo juga kan? aaaaahhh aku gak rela T______T
    kasian Donghae… udah deh kalau gini caranya mending Donghae sama aku aja #eh

  17. wkwkwk…. akhirnya donghae dibikin kelimpungan ma eun soo, sampe mo nyalonin diri bt jadi manajer karna takut kehilangan eun soo, ga tau padahal eun soo lagi mo usaha bt ngelupain dia kali ya kkkkk…
    nextnya kyujin lagi?
    yg when i meet your mother kpn di lanjut?

  18. semoga masih ada sequel donghae sm eunsoo..
    sedih bgt jd eunsoo, di terima engga tp ngejauh g boleh. abang ikan plinplan ih!
    semangat author ^^9
    mian baru komen cz baru selesai baca.

  19. gak nyangka songjin bisa krisis kepercayaan diri..
    lagi2 yg kelihatan sempurna di luar blm tentu sempurna didlm..
    penasaran ma apa yg dilakukan kyuhyun jika tau hal ini..
    pasti dijelasin di ff berikutnya kan..
    kirain kisah haesoo berakhir manis ternyata tidak seperti yang kubayangkan..
    selalu ada karma dalam kehidupan..
    selain cerita yang menarik jg ada hikmah yang terkandung didalamnya..
    author q suka sekali karyamu..

  20. Teruuss itu gimana donghae!? Aaaa, jadi eunsoo masih mikir-mikir ya sama hae? Ckckck kasiaan… Semoga mereka bisa bersatu yaah :’) jadi donghae bisa dibuka hatinya -sadar. Kalau sebenernya perasaan dia salah sama songjin kekeke

  21. poor donghae..
    trkdng jatuh cinta ama org yg slh membuat kebahagiaan trsendiri tpi tdk sebnding dg kepahitan yg lbih dominan

  22. kenapa ini?? kok gantung? eun soo donghae gimana?
    penguntit amatir haha
    sedih baca curhat mereka berdua, gak tau mau nyalahin siapa
    itu eunhyuk makan mulu pikirannya

  23. akhirnya hae ngerasain jg patah hati yg eunso rasanin….. sakitnya tuh disini……wkwkwkwkwkw
    songjiiiin kyknya msh amatuhh…. ssssiwoon bwklbum bilang ama kyu masalh songjjin ppinggsan … tunggu tu songjin amkan kyu…hihihi

  24. Ini super panjang juga akhir ceritanya…
    Apalagi banyak konflik yang terjadi antara dua orang yang masih aja galau itu…
    Bakal keren kali ya,kalo mereka nyalonin buat jadi presiden…
    Saling berdebat menunjukkan ego masing2…
    Kekeh ama pendirianya…
    Dan Ngak akan ada yang berani menyela kegiatan berdebat mereka…
    Ditambah lagi sikap bodoh yang donghae miliki yang ngak kunjung sadar ama perasaanya…
    Percuma aja sekolah tingginya itu… Bikin gemes aja…
    Padahal kan udah ngerasain nyeri di hatinya kan…

  25. oh iya bnr yg kcapean olahraga itu! ckck songjiiiin songjiiin. eh tumben songjin ga slh nyebutin sebutan asing? dl prasaan sll slh pas nybutin nama slh satu wine pas adegan d club klo ga slh ada sungminpa & hyukpa jg (kalo ga slh) hhhhe apa slh ff gtw deh wwwww ntahlah lp saking byk’a ff kyu yg dbca 😀
    iy sih bgus eun soo bkin songjin sadar, tp lama2 kaia agak trll keras dh ngasih tw’a, ksian songjin tmbah stress(?) trs eh malah eun soo jg yg ikt histeris dah o.O
    sweeeeeeet wonpa kaia kaka yg sgt syg sm adik’a mskpn bkn adik kandung ❤
    kocak! dl eun soo yg byk ngmg haepa cuek, eh skrg kebalikan'a hhhhhh
    sukses trs yaws bwt pasangan haesoo 😉 cpt susul kyujin kapel & wonwon kapel yaks 😉

  26. Seru authornim nih ff meski endingnya ngantung,donghae baru sadar ma perasaannya ketika eunsoo mau kelondon sequel dong thor tentang donghae ma eunsoo please

  27. ini beneran fanfiction kan? jujur aku merasa gak baca ff. alur ceritanya yaa seolah2 gak dibuat dengan sengaja. aku pernah bertanya di komentar sebelumnya untuk meyakinkan kalau ini hanya fiksi kan? bukan kisah nyata? hehe
    oya author. kalau boleh ngungkapin perasaan yg mengganjal nih, aku mau nanya: pernah gak author punya ide/rencana atau sekedar ber-andai, kalau kyujin story ini dijadikan drama aja? hehehe😀
    aku sering be-andai andai masalahnya. membayangkan karakternya diperankan oleh sosok aslinya..
    waah 😍

  28. hmm..si cntik yg o*n..ckck…no mkan jja ribet itung” brp kloriny…lhaaa ge hamil tkut bnget d ktai gendut?? klo kyu tau..g kbyng dah ceramahny bkal spnjng ap..
    hae yg pny gelar doktor ikutan ajj on-on…
    sok teu…bkin eun soo kesel..
    pi mo ksel” tngkt dewa jg,,htiny msih terpaut ma dong”..

  29. Kirain bakalan happy ending.. gak taunya masih gantung.. padahal penasaran banget ma kisah mereka , gimana bisa kok akhirnya pacaran secara diam2..

  30. songjin omg pake acara diet² segala apakah dia tak sadar kalau dia lagi mengandung, sekali-kali tak apalah eun soo bilang gitu sm songjin biar dia sadar kalau apa yg selama ini dia lakukan yaitu diet salah besar itu bisa membahayakan kandungannya dan dirinya sendiri.
    aku kira donghae sm eun soo bakal kek dulu lagi, tp ternyata blm bisa😟 donghae dan kata-kata dulu itu terlalu keterlaluan dan kejam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s