[Post For Kyuhyun’s Birthday] Birthday Disaster 7


Author: GSD

Title: Birthday Disaster 7

Cast: Cho Kyuhyun, Cho Songjin, Choi Siwon, Choi Gyuwon, Choi Ki Ho, Lee Donghae, Kim Eun Soo, Seohyun, Shim Changmin, Henry.

Rating: G

Length: Chaptered.

“And please tell me if I’m wrong, tell me if I’m right. Tell me if you need a loving hand, to help you fall asleep tonight. Tell me if I know, tell me if I do. Tell me how to fall in love the way you want me to.”

-(ED SHEERAN – Cold Coffee)-

you always have a choice. 

“Shiero! Kalau aku masuk ke kelas, Dong Sun akan melakukan sesuatu padaku lagi!”

“Jadi kau mau membolos?”

“aku tidak punya pilihan lain!”

“Tentu saja kau punya! Pilihanmu adalah, diam disini seperti orang bodoh, dan membiarkan Dong Sun menang karena kau bersembunyi darinya, atau kau bisa memilih kembali kekelasmu dan hadapi bocah gemuk itu!”

“Shiero! dia akan mengerjaiku lagi, Kyuhyun-ah! Aku takut!”

“Ish~ sebenarnya apa yang membuatmu takut dengannya?”

“karena Dong Sun menyeramkan!!”

“aku lebih menyeramkan dari Jung Dong Sun!”

“………..”

“Jangan coba-coba membolos! Dan kembali kekelasmu, sekarang Park Songjin!!”

“Shiero!”

“Aish, kenapa kau begitu takut dengan Dong Sun? apa yang dilakukannya padamu? Apa dia berkata ingin memakanmu juga? Apa bekal makanannya habis sampai dia ingin memakanmu dan kau menghindarinya karena kau tahu kau akan ditelannya dalam satu kunyahan saja?!”

“B—bukan begitu..”

“lalu kenapa? Jelaskan padaku kenapa kau takut dengannya?”

“…..kau janji tidak akan marah??”

“mwo?”

“Janji dulu! Kau tidak akan marah nanti!”

“……….”

“Ah sudahlah lupakan saja~”

“Arra arra. Aku tidak akan marah. ceritakan padaku. Kenapa?”

“A—aku.. aku memanggilnya babi.”

“…….. dan?”

“….dan menumpahkan bekal makanannya. Mencoret pakaiannya dengan spidol—”

“Mworago?”

“Sengaja.”

“Astaga! KAU GILA, HAH?”

“kau sudah janji tidak akan marah!!”

“tapi kau melakukannya dengan sengaja—kau pikir kau ini apa?”

“dia menghinaku lebih dulu! Kenapa aku tidak boleh marah saat ada orang lain yang tidak mengenalku sama sekali menghinaku begitu??!”

“Bodoh! Tentu saja karena dia tidak mengenalmu, maka dia bisa berbicara semaunya! Dia berkata, karena dia tidak tahu apa-apa tentangmu. Kenapa kau harus repot memikirkan hinaan dari orang yang tidak mengenalmu? Kau bisa marah, dan lebih pantas marah saat orang terdekatmu, yang begitu mengenalmu menghinamu!! Kenapa kau ini bodoh sekali Park Songjin?!”

 

~~ ~~

Kyuhyun diam ditempatnya. Potongan dialog percakapan antar dirinya dan Songjin ketika mereka berada dibangku menengah atas itu kembali terulang. Perjanjian konyol dengan kelingking yang sekarang sedang disodorkan lagi oleh Songjin didepan wajahnya membuatnya mengingat semua hal itu lagi.

“janji tidak akan marah?”

Songjin mengulurkan kelingkingnya didepan hidung mancung Kyuhyun. Wajah Songjin terstel sendu. Memunculkan ekspresi 80% nyaris sama dengan kejadian yang baru saja melintas didalam kepala Kyuhyun.

Dulu dia bisa langsung mengiyakan saat berjanji akan tidak marah dengan hal aneh yang Songjin lakukan.

Tapi setidaknya, berhadapan dengan Jung Dong Sun hingga mau tak mau berakhir dengan perkelahian satu lawan satu tidak lebih menyeramkan dan menggerus emosi dibandingkan hal yang akan diketahuinya setelah ini nanti, jika dia bersedia menautkan kelingkingnya juga dan berjanji bahwa dirinya tak akan marah.

Itu seperti sebuah lelucon. Bahwa bagaimana bisa dirinya tak marah dengan hal konyol yang telah Songjin perbuat? Bagaimana bisa?

Dan lagi, hal ini menyangkut dengan hidupnya. Janin didalam perut wanita berambut panjang itu adalah benihnya, hidupnya. Bagaimana bisa dia tak marah jika mendapati sesuatu yang buruk terjadi dengan calon buah hatinya?

Jemari Kyuhyun bergerak. Tapi bukan untuk mengangkat kelingking dan menautkan miliknya dengan milik Songjin melainkan menggosoki dagunya yang terasa agak sedikit kasar.

“Janji tidak?” Songjin menggoyangkan tangan serta kelingkingnya lagi untuk ketiga kalinya. Ketika mendapati, Kyuhyun tidak tertarik dengan tawarannya kali ini.

Diam-diam, Songjin merasakan kekecewaan yang teramat besar, dan sadar bahwa hal buruk mungkin saja akan terjadi setelah ini.

“Kenapa aku tidak boleh marah?” Kyuhyun melipat tangannya didada. Melewatkan tangan mengantung Songjin diudara serta kelingking kecil itu. “apa terjadi hal yang buruk dan selama ini kau menyembunyikannya dariku?”

Alis Kyuhyun terangkat, seperti seorang detective yang mengadili seorang suspect saat mengatakan hal yang sebenarnya telah diciumnya sejak lama, namun sejauh ini, dia tidak melakukan apapun hanya agar tidak terjadi pertengkaran berlebih antar dirinya dan Songjin.

Wajah Songjin yang semula tenang, kini kian memucat lagi. Pikiran Kyuhyun tentang terjadi hal yang buruk, semakin terasa masuk akal dan nyata terdengar, “kau benar melakukan hal konyol, lagi, Cho Songjin?!”

Mendapatkan tuduhan lengkap dengan ekspresi yang tepat, membuat Songjin merasa tak terima dan teradili. Dia merasa tak terima, kalau hal ini terasa seperti kesalahannya saja. Hanya dirinya. “kau menuduhku apalagi sekarang?!” gerutunya sebal, menurunkan kelingking teracungnya itu.

“aku tidak menuduhmu. Aku hanya bertanya.”

“kau jelas bertanya dengan nada yang kau buat seperti aku ini penjahat! Apa kau pikir aku tega melakukan hal yang buruk dengan anakku sendiri,? Cho Kyuhyun babo!!”

Kyuhyun menjadi diam setelah belum apa-apa, Songjin sudah menaikan nada biacaranya. Bahkan pembicaraan pokok tentang pertanyaannya sejak tadi saja belum dijawabnya, tapi Songjin telah seperti menarik uratnya.

Hal seperti inilah yang kadang tidak Kyuhyun inginkan. Seperti hidupnya tidak bisa merasakan ketenangan sebentar saja. Menahan rasa kesalnya, Kyuhyun menyedot udara sekitarnya brutal.

Seakan paru-parunya telah benar-benar kosong dan memerlukan pasokan oksigen lagi secepatnya. Bahu tegapnya naik dan menjadi tegang selama beberapa saat, sebelum wajahnya yang sama tegangnya, mati-matian dibuatnya terlihat santai, dengan berbagai cara serta paksaan dari seseorang didalam kepalanya, “mau pizza?” bibirnya melengkungkan senyuman tipis.

Songjin sibuk memainkan kaki, menonton dan bertanya-tanya sebenarnya seberapa pendek dirinya, ketika sedang duduk bahkan kakinya tak dapat menyentuh lantai hingga membuat posisinya menggantung— mengangkat wajah sedikit terkejut dengan perubahan suasana mencekam, tiba-tiba menjadi santai, “mworago?”

“Aku tahu tempat yang menjual pasta dan sejenisnya disekitar sini. Kau pasti suka. Mau?”

terlalu terkejut, pada akhirnya Songjin hanya dapat mengangkat wajahnya sambil menganggukan kepala, tanpa mengeluarkan satu patah katapun. Entah apa yang terjadi dengan Kyuhyun akhir-akhir ini, yang didapatkannya, Kyuhyun terasa begitu berbeda.

Ini seperti bukan Cho Kyuhyun yang dikenalnya, yang akan mengganti topic lalu mencari kesibukan lain ketika apa yang diinginkannya tak didapatnya seketika.

Cho Kyuhyun yang dikenalnya, akan mencari sejuta cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya detik itu juga. Bukan yang akan mengendur, lalu menyerah begitu saja saat tidak mendapatkannya, “Arra, bersiaplah. Dan tolong, jangan gunakan sepatu berhak tinggi. Jalanan diluar sedang licin luar biasa dan es dimana-mana. Kau bisa langsung terjeledak—mengingat keseimbanganmu yang agak mengkhawatirkan…”

Kyuhyun melenggang pergi begitu saja setelah berbicara panjang semaunya. Membiarkan Songjin yang kemudian menekuk lagi wajahnya setelah terasa panas karena Kyuhyun terlihat begitu memperhatikannya. “Sialan!” mulutnya mendengus kencang.

~~ ~~

Capellini Pomodoro—“

pomodoro?” Kyuhyun mengerutkan kening, berbicara setengah menggumam membuat Songjin berhenti berbicara kepada pelayan wanita yang sedang mencatat seluruh pesanannya lalu mengalihkan wajah pada Kyuhyun, “tomat,” jelas Songjin singkat lalu kembali menyapukan mata pada buku menunya.

Kyuhyun memutuskan untuk menutup buku menunya saja. Dari seluruh menu yang dilihatnya, hanya beberapa yang dimengertinya melalui jenis-jenis pasta yang ada seperti spaghetti, ravioli, tortellini, atau penne.

Untuk jenis dalam penyajiannya, dia sama sekali tak mengerti dan nyaris tak perduli. Dan sadar bahwa apapun yang dipesannya, setelah masuk kedalam perut akan sama saja bercampur dengan makanan lain.

Maka Kyuhyun memutuskan untuk diam dan menonton betapa Songjin begitu seksama memandangi buku menunya. Menganggukan kepala dan dengan mata berkilat, memandangi seksama tulisan-tulisan didalam buku bersampul beludru biru itu.

Demi dewa langit dan bumi, Kyuhyun hampir tak pernah menemukan Songjin terlihat begini seriusnya bahkan dengan pekerjaannya sendiri sekalipun. tapi jika sudah menyangkut Italia dan segala hal lepas pada fakta bahwa sesepele apapun, Songjin akan menjadi begitu detail.

Dalam diam dan bertopang dagu, Kyuhyun menarikan ujung bibir membentuk sebuah senyuman. Sedikit tidak perduli saat pelayan wanita disamping Songjin yang kemudian malah menyadari hal tersebut lalu melemparkan senyuman padanya seakan Kyuhyun terlihat sedang mencoba untuk menggoda pelayan tersebut, “kau sudah makan sebelum ini??”

Pertanyaan Songjin membuat Kyuhyun yang tak sadar sedang dilempari senyuman sumringah dari pelayan wanita disana memecahkan segala situasi canggung. Kepala itu langsung menggeleng, bersamaan dengan mulut yang sedikit terbuka, “Belum. Belum.”

“sama sekali?” alis Songjin sedikit terangkat mendengar Kyuhyun berbicara gugup. Seperti seseorang baru saja membuatnya sadar dari lamunan panjangnya, namun dalam kondisi yang sama, Songjin bertanya seperti seorang penyelidik saja. Mata besarnya menyipit, memcing menatap Kyuhyun tak percaya, “sejak pagi tadi?”

“Y—ya.” Kyuhyun mengangguk, “aku tidak sempat karena harus melakukan beberapa hal bersama Sungmin dan Siwon Hyung, dan—“

Kyuhyun berhenti berbicara saat Songjin mengibaskan tangannya, menandakan bahwa wanita itu tak perduli dengan alasan Kyuhyun kali ini.

“Jangan membuat pembenaran. Aku tidak memerlukan alasanmu, toh kau bukan bocah 5 tahun yang perlu kuingatkan apa yang harus dan tidak untuk kau lakukan.” Ucap Songjin acuh, mengulang kalimat langganan Kyuhyun yang sering diucapkan pria tersebut kepada Songjin ketika dirinya sedang marah, atau kesal.

“kalau begitu jangan pasta.” Songjin berbicara lebih tepatnya kepada diri sendiri. memutuskan untuk mencoret menu pasta yang telah dipilihnya untuk Kyuhyun dan buru-buru menggantinya dengan makanan lebih padat, “Shrimp Bay Scallop risotto with mushroom, Calm risotto with bacon and Chives, Baked risotto primavera?”

tawar Songjin pada Kyuhyun. Menarik ujung rambutnya dan memelintirnya disekitaran telunjuk sambil menunggu Kyuhyun memberikan keputusan, namun sampai beberapa menit, Kyuhyun hanya memandangi buku menunya tanpa memberikan keputusan apapun.

Pada dasarnya, apapun itu Kyuhyun tak lagi perduli. Apapun yang akan ditelannya, toh akan bercampur menjadi satu didalam perutnya nanti. Dan lagi, apa bedanya dari ketiga jenis masakan nasi yang Songjin tawarkan itu padanya?

Semua terdengar sama enaknya, sama bentuknya dan terbuat dari bahan yang sama. Hanya topping yang membedakan masakan-masakan nasi tersebut, “kusarankan Shrimp Bay Scallop risotto with mushroom. masakan udang direstoran ini terkenal enak, dan selalu menjadi main dish tempat ini, am I right?

Suara jernih dan dalam yang tiba-tiba saja datang menginterupsi, membuat tiga kepala, yakni Songjin, Kyuhyun dan pelayan wanita disana segera menoleh. Pelayan dengan buku kecil ditangannya itu tersenyum dan menganggukan kepalanya, “si,” jawabnya yang berarti mengiyakan atau membenarkan, dalam bahasa Italia.

Songjin tersenyum. Segera bangkit berdiri untuk menyapa Changmin sedangkan Kyuhyun seperti tak terkejut dengan kedatangan Changmin, mengganggu waktu berkualitasnya bersama Songjin.

Senyuman ramah Changmin seperti tak dihiraukan Kyuhyun. Pria berkulit putih susu itu hanya memberikan anggukan kepala ringan penuh sopan santun untuk membalas sapaan Changmin dan kemudian berpura-pura sibuk dengan buku menu ditangannya ketika Songjin dan Changmin berpelukan sesaat. “berkencan dan tidak mengajakku?” goda Changmin sambil tertawa pelan.

Tanpa mendapatkan perintah dari siapapun, pria itu segera menarik kursi dan mengambil posisi berhadapan dengan Kyuhyun dan Songjin. Kedatangan Changmin tak membuat segalanya menjadi lebih baik. Atmosfer sekitar perlahan menjadi dingin.

Kyuhyun tidak begitu pandai untuk menutupi rasa tak nyaman ketika terdapat anggota tak diundang mengganggu aktivitasnya. “dalam teoriku berkencan adalah hubungan antar dua sisi saja. Bukan tiga.” Komentar Kyuhyun sinis menanggapi godaan Changmin, yang kemudian mendapatkan balasan berupa gelak tawa pria tersebut.

“kau benar. Seharusnya kita bisa double date. Tapi aku kehilangan Seohyun ditengah festival lampion tadi.” Changmin masih menyisakan kekehannya.

“kau berkencan Oppa? Dengan Seohyun??” tiba-tiba Songjin menjadi begitu tertarik dengan pembicaraan tak berdasar ini.

sedangkan Kyuhyun, benar-benar masih menunjukan rasa tak nyamannya, namun juga tidak dapat menutupi bahwa dirinya pun ikut terkejut mendengar penyataan Changmin. Seperti baru tersedak oleh makanan, dan kemudian segelas air membuat kerongkongannya menjadi nyaman lagi. Tiba-tiba Kyuhyun merasakan sebuah rasa lega yang tak bermakna.

Jadi Seohyun berhasil berkencan dengan Changmin? Jadi apa itu artinya mereka telah berpacaran dan pria ini tidak akan mengganggunya lagi?

Kyuhyun mengangkat wajahnya dan menutup buku menu yang sedang digelutinya untuk memandang wajah Changmin seksama, sama seperti Songjin saat ini, untuk mendengarkan pengakuan Changmin, “aku tidak tahu apa ini disebut berkencan, tapi kalau kau pergi dengan Kyuhyun, dan aku ingin ikut pergi bersama kalian, bukankah itu berarti aku harus membawa pasanganku juga? Maksudku— seorang wanita? itu kan maksudnya double date? tidak harus pasangan, tapi dengan lawan jenis??” wajah Changmin menjadi polos bukan main membuat Kyuhyun merasa sebal dan kecewa.

Jawaban seperti ‘oh iya, aku sedang berkencan dengan wanita itu’ atau sejenis itu, yang sebenarnya sedang Kyuhyun harapkan. Bahwa jika Changmin berkencan dengan seorang wanita, siapapun itu— itu artinya posisi Songjin menjadi aman. Namun yang teraman lainnya adalah dirinya sendiri.

Setidaknya, dia tak perlu merasa khawatir, atau curiga, bahwa dalam satu waktu, Songjin dapat bertemu dengan Changmin dan terjadi sesuatu diantara mereka. Lepas dari fakta bahwa dirinya dan Songjin telah terikat dalam suatu hubungan pernikahan, tapi siapapun tahu bahwa cinta pertama, tidak mungkin bisa begitu saja dilupakan apalagi dilewatkan.

Mata Kyuhyun kemudian menjelajah keseluruh sisi restoran Italia ini, lalu sesaat itu membuatnya merasa kecewa dan bodoh, bahwa mengapa dia berinisiatif membawa Songjin ketempat seperti ini?

Yang dimaksudkannya adalah masakan italia. Kenapa Italia? Tentu saja Songjin sangat suka, Park Songjin begitu menyukai Italia lebih dari apapun, tapi pria sialan didepannya ini pasti akan berada disekitar sini mengingat hidupnya selama ini dihabiskan dinegara pemilik pasta tersebut. Lidahnya pasti telah terbiasa mengecap masakan berbumbu kental seperti itu, hingga walaupun telah sampai ditempat kelahirannya ini pun masakan Italia pastilah masih dicarinya.

Dan siapa yang tidak tahu, bahwa Lasferra adalah restoran italia terkenal di Bundang? Seketika itu pula Kyuhyun merasa begitu… cerdas. “kau mau Shrimp Bay Scallop risotto with mushroom, Kyuhyun-ah?” Songjin mengacaukan perdebatan didalam kepala Kyuhyun dengan suara lembut yang melintasi telinganya.

M—mworago? Hmm? Oh.. ah, iya. Boleh. Apapun—“ setengah panic dan setengah terkejut, Kyuhyun mengangguk tanda setuju, lalu melemparkan senyumannya kepada Songjin dan mengusap kepala Songjin lembut.

Sedangkan Songjin seperti bingung ketika Kyuhyun lagi-lagi menjadi seperti tak biasanya. Bukannya malah berfikir bahwa kehadiran Changmin-lah yang membuat Kyuhyun tampak seperti kehilangan otak, tapi kemudian, sebuah wajah melintasi kepala Songjin.

Dia tersenyum ringan sambil menganggukan kepala kepada pelayan wanita tersebut untuk menyetujui untuk menu tersebut agar dicatat sebagai pesanan berikutnya, “sepertinya ada yang sedikit kecewa karena seseorang tidak juga hadir disini,” gumam Songjin santai. Tidak memerdulikan ekspresi Kyuhyun yang langsung terkejut dengan sindirannya.

Cho Kyuhyun’s side

 

Songjin seperti orang kalap. Pesananya begitu banyak hingga aku setengah curiga dan setengah khawatir, bahwa sepertinya mustahil saja dia dapat menghabiskan semuanya.

Lebih dari dua jenis sphagetti dipesannya. Penne dan risotto untukku. Aku bahkan tidak yakin akan sanggup menghabiskan risotto yang Changmin sebut-sebut main dish restoran ini. aku tidak merasakannya. Maksudku, makanan ini enak, tapi ya sama saja. Sphagetti dan penne itu juga enak.

Aku tidak banyak bisa berkomentar, karena Songjin terus berbicara. Aku tidak merasa aneh dengan mood-nya yang langsung berubah 180o ketika bertemu dengan pria favoritnya itu.

Selama inipun, itulah yang terjadi sejak dulu, jika matanya telah mendapati sosok pria yang kukira tidak lebih tampan dariku, tapi memiliki entah apalah itu, yang membuat Songjin bagai disihir. Terlalu memuja.

Percakapan mereka tak lebih dari hal-hal yang kukira Songjin begitu ingin tahu mengapa, ada apa, bagaimana, seperti apa. Songjin tertarik dengan percakapan ini, karena Changmin terus mengatakan betapa Indahnya kota Florence tempatnya tinggal selama ini.

Aku juga tidak merasa aneh, bahwa Songjin menjadi besemangat. Aku paham bahwa Songjin begitu menggilai Negara pembuat pasta itu. Aku juga paham bahwa Songjin sangat ingin datang kesana, dan aku membuatnya gagal ketika itu bahwa tanpa sengaja dan tanpa direncanakan, aku malah mengisi rahimnya dengan hal penting lainnya.

Semua tampak wajar. Tidak berlebih dan tidak juga kurang. Aku tidak melihat hal yang aneh dari gerak-gerik Changmin kepada Songjin, yang sejauh ini kudapati mereka hanya saling bertukar cerita, dan sesekali menyelipkan godaan dan pujian murahan yang membuat semburat kemerahan, muncul diwajah istriku.

Tidak ada yang berlebih. Setidaknya, seperti itu yang selalu kutanamkan dalam pikiranku agar aku tidak merasakan panas, atau rasa kesal yang berlebih. Setidaknya, aku tidak membuat keributan dengan langsung menyeret Songjin pergi bersamaku saat pertama kali kulihat Changmin menghampiri meja kami.

Setidaknya, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku baru saja melakukan sesuatu yang benar dan pantas. Bahwa posisiku berada diposisi aman dan tidak akan dapat diganggu gugat oleh siapapun lagi.

Setidaknya, aku harus menyakinkan diriku sendiri lagi dalam point terakhir itu. Setidaknya, begitulah. “Ini enak sekali!” Songjin memekik girang setelah memasukan baked raviolinya. Tanpa komando, garpu ditangannya lalu tiba-tiba saja sudah bertengger didepan mulutku, “kau harus coba!” ujar Songjin riang dan tanpak terlalu bersemangat menjejalkan pasta jenis lain itu kepadaku.

Seketika itu juga aku menggeleng, menolak. Bukan karena aku telah kenyang setengah mati karena risotto sialan ini yang porsinya bukan main banyak seperti untuk sepuluh orang, tapi hiasan warna hijau dalam cream putih yang menempel di ravioli itu, sepertinya agak mengerikan, “apa itu sayuran?” aku menunjuk selembar tipis dedaunan yang ikut terbawa—terjepit diantara ravioli dan garpu stainless Songjin.

“bayam.”

Shiero!”

“kau harus coba, ini enak sekali, Kyuhyun-ah!” Songjin mendelik. Menarik uratnya untuk meyakinkan bahwa raviolinya sangat enak. Aku tahu itu enak. Aku bisa melihatnya dari betapa matanya berkilat dan wajahnya yang menjadi super sumringah ketika sedang memakannya. Tapi itu adalah sayuran, dan sejak kapan dia mengenalku hingga masih saja belum paham bahwa aku dan jenis makanan hijau tak pernah memiliki hubungan lebih dari sekedar saling mengenal saja.

andwae—“ aku menolak setengah mengiba. Garpu itu sudah maju dan terus maju. Sedikit lagi mampu menyentuh bibirku, dan aku tidak tahu apa jika terus mengatupkan bibir seperti ini, maka racun itu akan terus masuk atau memilih mengibarkan benera putihnya saja menyerah.

Songjin terus berusaha menjejalkannya padaku, seperti tidak perduli dengan nasibku saat ini, dan bagaimana diriku nanti seletah menelan dedaunan itu nanti, “tck, sayang—“

“bayam tidak akan membunuhmu, Cho Kyuhyun sayang,” Songjin tersenyum berbahaya dan menyeringai. Memainkan kalimatnya diakhir kata, hingga telingaku sama sekali tidak mendapatkan sapaan mesra namun yang ada malah seperti sebuah sindiran saja. “ayolah—“

dan suara kekehan, kudapatkan dari pria sialan yang mengganggu waktu berkualitasku bersama Songjin. Si sialan itu seperti senang dan terhibur ketika aku berada diambang batas bahayaku, “seenak itukah?” Changmin bertanya seperti untuk memastikan lagi dan tidak melihat bagaimana ekspresi Songjin ketika pertama kali memasukan makanan itu kedalam mulutnya.

“ya. Kau mau coba Oppa?” Songjin membelokan garpu didepan mulutku menuju si sialan itu seenaknya saja. Buru-buru aku membelokan arah tuju garpu itu dan langsung memasukan ravioli beserta dedauan makanan kambing itu kedalam mulutku. Aku rela menelan racun seperti apapun itu bentuknya, tapi aku tidak pernah rela melihat apa yang seharusnya menjadi milikku, berpindah posisi atau bahkan dirampas begitu saja oleh orang lain. “enak.” Komentarku singkat dengan kepala mengangguk untuk meyakinkan Songjin dan mengabaikan lembaran bayam diatas lidahku, sedang bergerak kesana kemari seperti mengajak berkelahi.

“aku tahu itu!” Songjin mendengus sambil bergumam dan lalu melakukan hal yang sama seperti padaku tadi kepada Changmin.

Melihatnya melakukan itu, aku merasa seperti baru saja ditampar bolak balik berkali-kali.

Entah apakah memang istriku yang terlalu polos, atau aku yang berlebihan sampai aku tidak menyukai apapun yang dilakukannya bersama si sialan itu. Apapun, termasuk saling melemparkan pandangan tak terdefinisi sialan itu, yang kudapatkan sejak tadi, setelah Changmin memutuskan untuk menggangu waktuku dan Songjin.

“kau benar ini enak. Mereka memanggangnya dengan tepat. Ravioli dapat mengendur kalau terlalu lama dimasak tapi mereka memasaknya dengan sempurna. Aku masih bisa merasakan panggangan itu dengan tekstur halus pada ravioli ini.” cetusnya. Seperti seorang komentator makanan.

Dan Songjin sedikit berjingit dari tempatnya, melebarkan senyuman, “kau benar!! Aku juga bisa merasakan keju parmesan yang meleleh!! Dan lada, dan peterseli—“

Tanpa kusadari aku mendecah heran dengan komentar Songjin, “kau bahkan tidak bisa memasak. Lalu sekarang kau bertingkah seperti komentator masakan??” sindirku langsung.

Sebenarnya agak sedikit lucu, melihat Songjin begitu bersemangat dan mengucapkan satu persatu bumbu-bumbu dasar yang digunakan dalam ravioli baked-nya mengingat bagaimana wanita ini selalu dapat menghanguskan setiap masakan yang disentuhnya, “tapi kau selalu memakan masakanku.”

“mungkin karena aku terlalu mencintaimu. Jadi aku rela memasukan racun kedalam tubuhku.”

“Cih!” kalimat manisku dibalas dengan desisan sinisnya lengkap dengan wajah jijik seperti aku baru saja melakukan hal menggelikan, “Cheesy.”

“aku suka keju.” Tanggapku santai, tanpa menghiraukannya lagi.

Aku tidak perduli dengan tanggapannya mengenai hal manis, bahwa Park Songjin tidak pernah menyukai hal picisan, tapi selalu mengharapkan hal picisan itu dapat terjadi dalam hidupnya. Dia bahkan lebih aneh dariku.

Jadi siapa yang lebih cheesy diantara kami?

Semburan tawa kencang serta sorotan tak terbaca berkali-kali dilemparkan Changmin padaku dan Songjin secara bergantian. Dia seperti mendapatkan sebuah tontonan gratis dari segala hal yang aku dan Songjin lakukan.

Inilah yang tidak kusukai dari orang lain yang mengganggu waktuku dengan Songjin. Beberapa dari mereka hanya akan menanggapi bahwa kami sedang bergurau atau sengaja membuat lelucon untuk mereka tonton, yang pada dasarnya adalah tidak.

“jadi, aku melewatkan banyak sekali hal penting selama aku pergi, huh?” tanyanya melipat tangan diatas meja, rapih. Matanya mengarah padaku, lalu Songjin dan kembali padaku dengan waktu lebih lama.

Dia seperti sedang mengadiliku, meminta pertanggung jawabanku, atau melakukan hal semacamnya.

Aku tidak tahu pasti, tapi yang dapat kupastikan, Changmin seperti sedang memojokanku. Seperti menyadari apa yang kukhawatirkan selama ini, dan sekarang, dia sedang memintaku untuk menjelaskan mengapa aku malah seperti menusuknya dari belakang, dengan tidak mengatakan kepada Songjin bahwa dirinya pernah meminta wanita itu untuk menjadi teman kencannya tapi karena aku, semua hal itu tidak terwujud.

Tapi yang benar saja, itukan permasalahan sekian tahun yang lalu. Semua orang bahkan telah melupakan bagaimana pesta prom night payah itu berlangsung. Aku tidak datang, dan kudengar banyak yang melewatkan pesta itu karena tidak seru dan membosankan.

Kalau Changmin masih juga mengungkit permasalahan sepele itu, apa bedanya dia dengan anak TK yang tanpa sengaja meninggalkan permennya dibangku taman lalu mempertanyakan kemana perginya permen miliknya kepada seluruh orang?

Songjin bukan permen, dan dia milikku. Setidaknya sekarang seperti itu!!

“aku tidak tahu.” Aku menggeleng, “kukira tidak ada yang berubah sejak setelah kau pergi sampai kau kembali lagi sekarang.” Tanggapku. Menarik gelas limun dan menyedotnya melalui sedotan melingkar.

“seperti kau yang menikah dengan Songjin? Siwon dengan Gyuwon? Atau wajahmu yang mengisi beberapa kolom blog gossip local?” Changmin menunjuk Songjin dengan dagunya lalu menyipit curiga lantas tersenyum setelahnya, “kau menjadi artis dadakan dengan menjadi model Damon Wang?”

“bukan seperti itu—“ aku lebih dulu membuka mulut ketika Songjin akan melakukan hal yang sama. Biar aku yang menjelaskan, agar semua dapat menjadi lebih jelas dan tidak berbelit-belit. “itu tidak sengaja dilakukan. Saat itu kami hanya berniat untuk datang sebagai penonton. Bukan pemain. Tapi Kim Eun Soo membawanya kebelakang panggung dan semua itu tejadi begitu saja.”

“Kim Eun Soo? Maksudmu Kim Eun Soo mantan miss Korea itu?”

“ada berapa Kim Eun Soo yang kau kenal?” aku melipat tanganku ketika Changmin mengangukan kepalanya setelah berfikir beberapa saat. Mungkin dia sedang membayangkan Kim Eun Soo yang mana, mengingat aku sangat yakin terdapat puluhan wanita bernama Eun Soo yang dikenalnya.

Tidak aneh melihat reaksinya, mengingat bagaimana pria bernama Shim Changmin ini begitu menjiwai perannya sebagai Casanova dalam kelompok wanita-wanita pemujanya dulu.

“Yeah—kukira Kim Eun Soo yang kita maksud sama. Bagaimana kau mengenalnya?”

well—dia cukup terkenal di Negara ini. dia miss Korea. Kau lupa?” balasku retoris. Sedikit merasa aneh dengan pertanyaannya, padahal sebelum ini dia telah tahu siapa itu Kim Eun soo. “dia menjadi brand ambassador dalam beberapa proyekku tapi bukan itu alasannya. Songjin mengenal Eun Soo lebih dulu dibandingkan aku. Songjin pernah magang disalah satu butik milik keluarga Eun Soo, dan Eun Soo juga sedang bekerja sambilan disana. Sebelum wanita itu menjadi miss Korea. sebelum terkenal.. Jadi yaah—“

“kau magang?” Changmin melemparkan pandangan aneh kepada Songjin. Seperti bertanya-tanya mengapa wanita seperti Songjin pernah melakukan hal seperti itu atau apa? “maksudku benar-benar—“

“Yeah, dia memerlukan itu untuk lulus dari kuliahnya. Kalau kau ingat dengan syarat kelulusan Negara ini yang mengharuskan hal seperti itu terjadi—“ aku mencibir.

Hanya mengingatkan saja, kalau dia lupa bagaimana dengan cara kerja Negara tempat kelahirannya ini. “aku tahu. Aku tahu. Maksudku.. butik? Kau benar-benar mengambil design, Songjin? Seperti apa yang kukatakan dulu?” Changmin tampak terpekur memandangi Songjin.

Dan lagi-lagi aku merasa seperti orang asing dimeja ini. bukan seseorang yang seharusnya merasakan hal seperti itu, tapi lagi-lagi, akulah diposisi itu. “Yeah, aku kira kau benar, Oppa. Aku cocok berkutat didalam bidang seperti itu—“

“kau masih menggambar??”

“hanya pakaian-pakaian yang akan kukeluarkan untuk beberapa musim saja dibutikku.”

“dan kau memiliki butik pribadimu juga?”

“seperti saranmu.”

“kau menganggumkan, Park Songjin! Kau benar-benar—“ Changmin jatuh melongo sesaat dan tampak tak percaya dengan banyak hal yang baru didengarnya, “kau harus menggambarku. Kau sudah berjanji dan kau berhutang janji denganku!”

Baiklah. Hal lain lagi yang baru kutahu, bahwa mereka memliliki hal diluar daya tangkapku. Saran? Janji? Saran apa dan janji seperti apa yang mereka miliki sebelumnya? Dan mengapa aku sama sekali tidak mengetahu hal ini? lalu kenapa Songjin tidak menceritakannya padaku?

Kenapa aku menjadi seseorang dan satu-satunya orang yang selalu memberikan ekspresi tolol terhadap banyak hal yang baru kudengar, saat seharusnya, Shim Changmin-lah yang melakukan hal itu mengingat kepergiannya selama ini, dan benar.. dia benar. Dia telah melewatkan banyak sekali hal.

Jadi jelaskan padaku, kenapa dialah yang tampak tak asing dan aku disini, menjadi orang asing itu?

“Cho Songjin—“ aku meralat cepat-cepat. Menelan sendiri rasa kesal karena menjadi alien ditengah tumpukan manusia.

mwo?”

“namanya Cho Songjin. Dia telah menikah denganku. Kau lupa?” dengusku tak tertahan lagi.

~~ ~~

“Grazie..”

“Prego! A presto?”

“si!” dua manusia itu lagi-lagi saling melemparkan pandangan khas picisan menjijikan itu sambil saling melemparkan percakapan yang tidak cukup kupahami.

Yang aku tahu, Songjin baru mengucapkan terimakasih, dan yang dikatakan si sialan itu? Aku tidak tahu apa. Yang kutahu itu kalimat Tanya, “ah tepat. Di seoul? Bukankah ini hari terakhir kalian mengikuti konferensi itu?”

“ya. Sampai jumpa di Seoul. Kau bisa datang kerumahku kapan saja. Kau masih menyimpan alamat yang kuberikan Oppa?”

“ya. Aku tidak sabar melihat bangunan yang Gyuwon katakan lebih pantas untuk ditinggali separuh warga Seoul. Hahaha, apa dia berlebihan lagi?”

“kurasa ya—“ Songjin menggosok tengkuknya tapi aku lalu menggelng, “Tidak.” Ujarku memutus. Kalau yang dimaksudnya adalah ukuran kediaman kami, itu tidak lebih besar dibandingkan rumah Appa atau bahkan rumah Songjin sendiri yang sekarang hanya ditinggali Ibu mertuaku bersama dengan beberapa pelayan saja, “aku berniat memperbesarnya agar rumah kami dapat menjadi lahan bermain yang luas untuk anak-anak kami.”

Aku menekankan bagian ‘anak-anak’ hanya untuk membuatnya sadar bahwa betapa perut wanita yang sejak tadi digodanya itu sedang besar berisi janjin dan terjadi karena ulahku. Kami. Maksudku, kami.

Kalau dia cukup pintar dan menyadari bahwa aku tidak pernah menyukai kedatangannya, atau setidaknya merasa terganggu. Kalau dia cukup tahu diri saja.

“kalau begitu aku dengan senang hati menyediakan jasaku.”

“Tidak.” Aku menggeleng lagi. Aku sama sekali tidak sudi menggunakan jasanya, “aku lebih suka menggambarnya sendiri. sesuai dengan apa yang kumau—“ ujarku santai. Mengabaikan Songjin disisiku dan tangannya yang sedang meremas tanganku dibawah meja.

aniya—Oppa, Kyuhyun senang bercanda. Dia pasti akan memanggilmu saat dia memerlukannya. Kau yang terbaik!”

Reamasan Songjin semakin menguat, membuatku mau tak mau diam atau membuka mulut dan malah menjeritkan ringisan perih Karena kukunya yang menancap dikulitku, “omong-omong, kenapa kau masih tidak memanggilnya Oppa? Aku kira bahkan setelah tahu kalian menikah, kalian akan saling menyapa dengan panggilan lebih pantas… seperti yang sering dilakukan pasangan suami istri? Yeobo? Ah.. atau Chagiya? Kenapa tidak sekalian Honey, sweety?

Mendengar deretan sapaan mengelikan itu, ristotto didalam perutku seperti memberontak dan mendesak ingin keluar. Aku juga sering mempertanyakan mengapa Songjin tidak pernah mau memanggilku Oppa, mengingat aku lebih tua darinya.

Mengingat lagi, usiaku dan Changmin sama karena kami lahir ditahun yang sama. Tapi jangankan yeobo. Panggilan layak ‘Oppa’ pun tidak kudapatkan. Aku tidak bisa mengharapkan yang lebih dari itu kalau bibir wanita barbar ini saja bahkan terasa gatal kalau digunakan untuk memanggilku ‘Oppa’, iyakan?

“aku lebih suka memanggilnya setan. Itu lebih cocok untuknya kan, Oppa?”

“yeah—Hahahaha!” Songjin dan Changmin tertawa bersamaa sedangkan aku disini selalu tertinggal, merasa teraneh diantara yang aneh. Merasa terbodoh diantara yang bodoh. “aku benar-benar penasaran, bagaimana bisa kalian berakhir bersama seperti ini? maksudku.. menikah. Kau tidak menyukainya, Kyuhyun-ah! Maksudku.. kau tidak menyukai Songjin seperti ini. dengan cara seperti ini! aku melewatkan banyak sekali hal! Bagaimana bisa kalian seperti ini?”

Author’s side

“…… bagaimana bisa kalian seperti ini?” Changmin membuang wajahnya hanya kepada Kyuhyun kini. Bertanya, lengkap dengan air wajah yang penuh dengan tanda Tanya besar.

Sejenak, Kyuhyun kembali dihantui rasa panic akan pertanyaan yang seperti meminta pertanggung jawabannya. Seperti sedang memojokan, dan seperti sedang meghakiminya, atas kesalahan tak disengajanya dulu.

Suasana menjadi hening. Kyuhyun ingat sebelumnya, Changmin telah mengatakan selamat tinggal kepada Songjin. Seharusnya, itu artinya beberapa detik kemudian Changmin pergi meninggalkannya.

Teorinya seperti itu. Tapi sampai saat ini, setelah sekian belas menit berlangsung, Kyuhyun hanya dapat diam dan bertanya-tanya seorang diri, kapan Changmin akan hengkang dari hadapannya, karena saat ini, dia benar-benar merasa tidak nyaman. “aku benar-benar melewatkan begitu banyak hal.” Sesal Changmin merunduk dengan nada merendah. Tangannya sibuk menggosoki tengkuknya karena merasakan hal tak nyaman mengganggunya.

Wajah lelah Songjin bercampur dengan mata sayu karena terlalu banyak menelan makanan hingga kini yang dirasakan wanita itu hanyalah rasa kantuk membuat Kyuhyun seketika memunculkan idenya.

“kau lelah?” Kyuhyun merangkul Songjin menarik tubuh wanita barbar itu agar bersandar pada bahunya, lalu mengusapi bahu Songjin lembut membuat wanita berwajah polos nan bodoh itu menjadi semakin mengantuk saja, “haha, kau kekenyangan. Kau terlalu banyak menelan pasta malam ini, dasar bodoh. Ayo pulang!” Kyuhyun menjepit hidung mancung Songjin kencang dengan dua jarinya lalu kembai mengusap-usap bahu Songjin sambil menepukinya beberpa kali.

Sesekali Kyuhyun juga melirik Changmin untuk melihat, bagaimana ekspresi pria tersebut saat dirinya sedang berbicara kepada Songjin, atau melakukan beberapa hal yang dikiranya dapat membuat seseorang seperti Changmin kesal. Tapi senyuman polos sialan Changmin itulah yang didapatnya.

Shim Changmin seperti tidak terggangu dengan aktivitas, semanis apapun yang sedang Kyuhyun lakukan, sengaja untuk membuat Changmin merasa jengah dan memutuskan untuk pergi cepat-cepat dari kursinya.

Jika dia adalah Changmin, dia akan memutuskan untuk pegi saja sejak kali pertama hal menggelikan itu dilihatnya. Tapi sepertinya, yang dilihatnya saat ini adalah tidak tergganggunya Changmin dan malah tampak menikmati. “5 menit lagi. Aku terlalu kenyang sampai sulit berjalan.” Bibir Songjin bergerak-gerak polos membuat Kyuhyun dan Changmin tertawa bersama.

Keduanya tampak menikmati bagaimana Songjin tampak kepayahan dengan hal yang dibuatnya sendiri. terang saja, menghabiskan 2 porsi Sphagetti carbonara dan sepiring besar ravioli seorang diri seharusnya sudah membuatnya pingsan seketika mengingat porsi yang banyaknya bukan main. “kau harus bersyukur karena perutmu sudah besar, jadi kau tidak perlu takut lagi perutmu membesar karena porsi makan menggilamu” Kyuhyun mengusap perut besar Songjin sambil membayangkan bagaimana anaknya didalam sana, terjepit diantara pasta-pasta hasil kunyahan Songjin.

“ah, dan itu.. kau sedang mengandung berapa bulan?” Changmin menunjuk perut Songjin sambil mengamati dan lagi-lagi merasa sedikit aneh, bahwa Kyuhyun dan Songjin—keduanya dapat melakukan hal itu.

Dalam benak Changmin, masih tergambar jelas bagaimana Kyuhyun dan Songjin yang selama ini didiktenya hanya sebatas seorang pria dan wanita yang berteman karena kondisi. Lalu menemukan Songjin tengah mengandung anak dari Kyuhyun, tampak sedikit membingungkan untuknya.

“Tujuh.” Songjin dan Kyuhyun berucap bersama, yang lagi membuat Changmin tampak heran, mengapa keduanya dapat menjadi begitu kompak. Kyuhyun tersenyum lebar, kali ini tanpa paksaan apapun dan lalu terus menerus mengusapi perut Songjin, seakan dia sedang melakukannya kepada kepala seorang bocah.

“biar kutebak, anak kedua?” seketika Songjin dan Kyuhyun tertawa. Kepala mereka sama-sama menggeleng. Saling menatap lalu teratwa lebih kencang, membuat beberapa mata kini memandangi meja mereka dengan aneh dan terganggu, “bukan?? Aku salah? Tapi kau bilang, kalian sudah menikah selama 3 tahun?” Changmin memandang Songjin bertanya-tanya, lalu anggukan Songjin menjawabnya, “ya. Tapi aku tidak langsung begini.” Songjin meggerakan tangannya mengusap perutnya. Menunjukan perutnya yang besar.

“aku tidak mengerti.”

“kau tidak harus mengerti segalanya. ada beberapa hal yang tidak perlu kau mengerti,” Kyuhyun menyahut santai. Menggantungkan satu tangan pada bahu Songjin sedangkan satu tangannya lagi menggapai gelas limunnya.

“kau bilang kalian menikah karena dijodohkan?” Changmin bertanya lagi. Seperti masih berasa kurang akan penjelasan singkat Songjin sebelumnya, dan kini dia sedang mencoba mengorek kebenaran-kebenaran itu.

“ya.” Angguk Songjin. Namun Kyuhyun pun menggeleng, “dan tidak.”

“Iya. Kita memang dijodohkan” Songjin menengadah untuk menatak wajah Kyuhyun diatasnya lalu mendapati pria itu sedang mencebikan bibir bawahnya seperti bocah, “tapi aku mengambilmu secara resmi dari ayahmu. Jadi kita tidak sepenuhnya dijodohkan.”

“Cih, omong kosong apa itu?” decah Songjin merasa lucu. Dia kemudian kembali mengarahkan wajahnya pada Changmin sambil mengangguk, “ayahku dan ayahnya yang melakukan—“

“aku mengambilmu secara resmi. Kau lupa dengan permainan catur aku dan ayahmu?”

kening Songjin mengerut, mencoba berfikir, tapi yang berputar didalam kepalanya hanyalah bagaimana rasa krim carbonara yang masih terasa begitu kental dilidahnya terlalu lezat untuk dilupakan. “aku bukan barang. Diambil-ambil apa maksudmu?”

Kyuhyun menarik nafasnya panjang dan dalam. Songjin terus-terusan membuatnya mau tak mau mengulur kesabaran, hingga setidaknya, dia dapat menegur wanita itu ditempat yang lebih tertutup.

“kami memang dijodohkan. Tapi tidak sepenuhnya seperti itu, dan ceritanya sangat panjang. Kalau diceritakan sekarang, aku ragu apakah kita mempunyai waktu yang cukup untuk berbincang tentang masalah itu saja. Terlalu rumit.” Kyuhyun meneguk limunnya setelah meneguk beberapa kali hingga tandas dan hanya menyisakan bongkahan es saja.

Changmin terdiam. Berfikir sejenak dan tak lama memicingkan mata. Picingan itu lebih tertuju pada Kyuhyun, karena sejak tadi keduanya terus menerus melemparkan sorotan mata, “jangan katakan padaku, kau melakukannya.” Tuduh Changmin membuat Kyuhyun menggelengkan kepala sambil menggoyangkan sepuluh jarinya didepan wajah. “Oh, bukan. Tidak. Tidak. Sama sekali tidak. Bukan kecelakaan seperti itu yang membuat kami menikah, bukan.” Sanggah Kyuhyun untuk teori Changmin bahwa dirinya menikah dengan Songjin karena dia tak sengaja membuat wanita itu hamil lebih dulu.

Suasana menjadi semakin kusut dan penuh tanda Tanya. Bagi Changmin, satu-satunya alasan masuk akal adalah apa yang baru disampaikannya kepada Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun tidak mengerti dan bingung bagaimana cara menyampaikan kepada Changmin, bahwa bukan hal seperti yang dipikirkannya itulah yang membuatnya menjadi bersama dengan Songjin seperti saat ini.

Pada lain hal, Kyuhyun merasa tidak perlu dan tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan, mengapa dan bagaimana bisa dirinya kini bersama dengan Songjin. Menikah, dan hampir memiliki anak.

Sama sekali bukan kewajibannya, dan juga bukan urusan Changmin untuk mengetahui banyak hal itu.

Songjin, sebagai satu-satunya makhluk yang tak paham karena merasa kepayahan dengan dirinya sendiri menengadahkan wajah menatap Kyuhyun, lalu turun dan memberikan pandangan yang sama kepada Changmin, “maksudnya apa? Aku tidak paham.” Sahutnya.

Songjin benar-benar merasa kebingungan tentang mengapa dua pria dimejanya sedang terdiam dan saling menggelengkan kepala. Yang satu memicingkan mata, dan yang satu sibuk menggerakan dua tangan berlawanan arah.

Dan lucunya, tidak ada satupun dari keduanya, yang tertarik untuk behenti dan menjelaskan kepada dirinya tentang apa yang terjadi.

Kadang, menjadi tertinggal adalah hal yang paling menyebalkan. Seperti saat ini.

“sebaiknya kita pulang sekarang. Kau lelah, iyakan?” Kyuhyun memecah keheningan yang terjadi. Mendudukan Songjin yang semula sedang bersandar malas pada dirinya dan memanggil seorang pelayan untuk meminta bill.

Kyuhyun menarik dompetnya disaku celana, saat melihat Changmin melakukan hal yang sama lebih dulu dan telah memegang dompet kulit berwarna hitam ditangannya. “No, No. my treat.” Kyuhyun menolak mentah-mentah.

Sepertinya, bukan maksud Kyuhyun untuk menolak jika ada seseorang yang berniat membayari makan malamnya, tapi jika itu berasal dari Shim Changmin, entah apa yang terjadi hingga dirinya tidak memerlukan waktu begitu lama untuk segera menolak. “simpan saja. Uangku lebih banyak.” Ujarnya angkuh mendapatkan desisan sinis Songjin.

“dia hanya sedang pamer. dia tidak semampu itu—“ Songjin bergidik geli, dan Changmin menggerakan bahu malas, “tapi dia memang mampu kan? Resort-nya di Miami pasti menghasilkan jutaan dollar dalam satu hari saja.”

“kau tahu itu juga?” Songjin setengah terkejut dan melonjak, “ya. Siapa yang tidak tahu? Tapi sejujurnya, aku baru mengetahuinya beberapa saat sebelum kepulanganku. Aku melihatnya dari Koran, dan Seohyun juga memberitahukanku. Dia menceritakan, betapa hebatnya atasannya itu—terdengar sedikit seperti penjilat, tapi cukup mengaggumkan.”

“apalagi yang Seohyun ceritakan?” Kyuhyun tersenyum ditengah tundukannya ketika dia sedang sibuk membubuhkan tanda tangan pada bill pembayaran setelah pelayan menyerahkan kembali kartu miliknya.

Mendapati hal tersebut, Songjin lantas mendecak jengah dan bertopang dagu memperhatikan Kyuhyun malas, “kenapa tiba-tiba kau tampak senang? Kau selalu terlihat seperti itu saat nama wanita itu disebut-sebut?”

“terimakasih kembali~” Kyuhyun mengangguk kepada seorang pelayan dan lalu menoleh pada Songjin, “seperti itu seperti apa?” Kyuhyun bertanya sambil mengembalikan kartu debit berwarna silver miliknya kedalam dompet dan tersenyum, “tepat seperti itu—“ telunjuk Songjin terangkat. Tertuju pada bibir tebal Kyuhyun, menyentuhnya dengan ujung jari.

Kyuhyun terkekeh. Wajah Songjin tampak menggemaskan baginya kali ini, “dia cemburu.” Kyuhyun ikut berseri menunjuk Songjin dengan ibu jarinya, berbicara kepada Changmin.

Mwo? Ya! Tidak seperti itu! Tapi aku memang tahu, kau terlihat seperti itu saat kau sedangmm—“

Cha, ayo pulang! Changmin-ssi. Terimakasih banyak telah datang—“ Kyuhyun menutup mulut Songjin dengan tangannya, menghentikan keluarnya segala pertanyaan atau omelan yang dapat membuat seluruh kepala pasti akan memandanginya lekat-lekat dan membuatnya setangah mati malu.

Sedikit banyak juga memberikan sindiran halus, bahwa jika saja Changmin sadar, bahwa kedatangannya telah mengganggu. Sebenarnya.

Dan inti dari membawa Songjin keluar, adalah untuk mendapatkan hal yang selama ini dipertanyakannya, menguap begitu saja terlewat.

Dia belum tahu apa yang terjadi dengan kandungan Songjin, dan dia harus tahu. Tapi sekarang, Kyuhyun sedikit kehabisan cara untuk membuat Songjin mau menjawab pertanyaan-pertanyaannya dengan santai dan tidak menarik urat.

Semua itu bisa didapatkan jika suasana hati Songjin sedang membaik, dan salah satu cara membuat suasana hati Songjin membaik adalah dengan makanan. Membawa Songjin ketempat yang disukainya, juga merupakan cara. Tapi sekarang, Songjin sudah kepayahan karena terlalu kenyang.

“Sampai jumpa lagi.” Kyuhyun bangkit dan menggenggam tangan Songjin kencang. Seperti wanita itu akan kabur jika tidak diikat seperti itu, “buonanotte—“ Changmin melambai pada Songjin dan mengabaikan Kyuhyun yang telah lebih dulu menyapanya.

Ciao

~~ ~~

Minggu pagi yang panjang bagi Songjin. Paginya diawali dengan udara dingin yang menusuk. Selimutnya yang tebal pun tidak mampu untuk mengurai udara dingin itu akan tubuhnya.

Lalu Songjin terpaksa bangun, hanya karena tidak lagi mampu menahan rasa nyeri diperutnya, seperti yang sering dirasanya akhir-akhir ini. tidak ada lagi pain killer itu. Kyuhyun membuangnya sejak pertama kali pria itu melihat obat penghilang rasa sakit itu.

Maka minggu pagi Songjin, dihabiskan dengan terduduk diatas closet toiletnya seorang diri. Berusaha tidak mengeluarkan suara-suara apapun yang dapat membuat Kyuhyun terbangun dari tidurnya.

Tapi sepertinya, yang dilakukannya tidaklah sepenuhnya tepat. Songjin menggeram, ketika melihat Kyuhyun dapat masuk kedalam kamar mandi, yang sedang terisi, walaupun didalamnya adalah dirinya. “kau harus mengetuk dulu, itu baru sopan namanya.”

Kyuhyun tidak memerdulikan geraman serta dengusan Songjin. Pria itu terus berjalan, lalu bersimpuh tepat dihadapan Songjin. Memposisikan wajah, sejajar dengan perut besar istrinya.

Appo?” dia mengusap perlahan-lahan perut Songjin. “masih tidak berminat kerumah sakit?” setengah menyindir, setengah kesal Kyuhyun menengadahkan wajah untuk melihat bagaimana ekspresi Songjin saat ini.

Sejak kemarin, satu-satunya permintaannya adalah membawa wanita ini kerumah sakit untuk berbagai banyak alasan yang menurutnya tepat, dan tentu dapat menjawab segala pertanyaannya selama ini.

Tapi yang Songjin lakukan adalah menolak. Sesering itu Kyuhyun meminta, sesering itu pulalah Songjin menolak. Seperti rumah sakit, menyimpan berbagai kenangan buruk untuknya hingga dia begitu menolak untuk datang kesana.

Songjin terus menerus seperti tidak memerdulikan sindiran Kyuhyun, dan terus menggeleng. Berkali-kali menocba menyingkirkan telapak Kyuhyun diatas perutnya, tapi berkali pula lah Kyuhyun lagi-lagi meletakkan tangannya disana. Seperti menegaskan bahwa dia dapat melakukan dan mendapatkan apapun yang diinginkannya,.

“aku baik-baik saja.”

“benarkah?” alis Kyuhyun terangkat tinggi. Dia ingin menunjukan betapa tidak percayanya dirinya atas bualan Songjin kali ini karena yang diketahuinya, wajah Songjin telah memucat dan telah berkeringat, “jangan berusaha keras membuatku percaya.”

Songjin mendesis lebih kencang. Sebagian karena rasa sakit disekitaran perutnya belum juga menghilang, dan sebagian karena sikap dingin Kyuhyun—membuatnya semakin sebal dan merasakan lilitan itu lebih banyak, “kau keluar saja. Aku bisa tiba-tiba melahirkan disini kalau kau terus berbicara.” Ketus Songjin tak kalah dingin.

Kyuhyun tidak memerdulikannya. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Tak lama setelah menggerakan jemari diatas layar, dia lalu menempelkan disamping telinga, “kau menelepon siapa?” mata Songjin mengerjab ketika bertanya, “Dokter Han.” Ujar Kyuhyun datar membuat seketika, jantung Songjin berpacu kencang.

Secepat kilat, disambarnya ponsel tipis itu dan menyimpannya sendiri dalam genggaman kuatnya. Songjin meneguk ludahnya pahit, merunduk ketika Kyuhyun langsung melemparinya dengan tatapan menusuk dan tidak pernah mau mengangkat wajahnya lebih dulu lagi, “apa yang kau sembunyikan dariku sebenarnya? kenapa aku tidak boleh mengetahui apapun tentang kondisi mu? Ada apa dengan kondisi bayiku? Aku bahkan tidak tahu apapun tentangnya—!!” Kyuhyun merubah posisi, duduk bersila dilantai masih menghadap Songjin dan melemparkan sorotan tajamnya.

“kita bisa terus duduk disini tanpa melakukan apapun lagi dan hanya seperti ini kalau kau selalu mencoba menyembunyikannya dariku.” Kyuhyun melipat tangannya didada. “aku tahu, pasti terjadi sesuatu. Dan sesuatu itu adalah hal buruk. Dan karena kau selalu menutupinya dariku, aku semakin yakin bahwa ini adalah hal yang serius. Kau hanya punya pilihan Songjin, katakan padaku sekarang apa yang terjadi, dan kita bisa menyelesaikan permasalahan ini secara baik-baik saja, atau kau membiarkanku mencari tahu apa yang terjadi, dengan caraku sendiri, dengan kemungkinan, sesuatu yang buruk akan terjadi pada kita nanti.”

Seketika Songjin terdiam. Terkepur untuk sesaat dan tidak memahami makud lain dari Kyuhyun yang sebenarnya bermakna, bahwa jika itu berbahaya, maka telah dari jauh sebelum Songjin dapat mengatakannya, Kyuhyun telah memutuskannya.

Jika memang dia harus memilih, siapa yang terbaik untuk dipertahankan antara istrinya dan bayinya, mau tidak mau suka tidak suka, Kyuhyun akan lebih memilih melenyapkan calon buah hatinya.

Bukan bermaksud kasar atau menjadi pembunuh dengan melenyapkan bayinya begitu saja, disaat begitu banyak orang menginginkan adanya buah hati, tapi diatas segalanya, keselamatan Songjin lah yang terpenting untuknya.

Atau jika dapat memilih untuk mempertahankan keduanya dan dirinyalah yang dilenyapkan, pilihan itu akan menjadi pilihan yang lebih fleksibel dan tentu akan langsung diambilnya.

Tapi jika pilihan itu hanya terpusat pada Songjin atau bayinya, ika itu adalah sesuatu yang buruk, jika memang tidak ada lagi pilihan lain baginya nanti, pilihan lancing dan egois untuk tetap mempertahankan Songjin lah yang pasti akan dipilihnya.

Songjin pasti tidak akan mau menerima keputusannya dan akan menganggap dirinya gila.

Masih belum memahami maksud perkataan Kyuhyun, tubuh Songjin seketika membeku. Terpahat keras bagai patung batu karena ucapan panjang pria tinggi itu. Seketika, udara sekitarnya terasa semakin dingin saja. Menusuk diantara tulang-tulangnya. “hal yang buruk terjadi pada kita.. apa kau sedang mencoba mengancam untuk kita bercerai jika aku tidak mengatakannya padamu?” tukas Songjin tajam.

Kini Kyuhyun lah yang terkejut dan terpekur bagai patung batu pahatan, bodohnya Songjin semakin menjadi saja, “bercerai?” Kyuhyun mengerjab berkali-kali, merasa tak percaya, kalimat sacral itu, bisa juga keluar begitu mudahnya dari mulut Songjin sendiri.

“dengar, aish~ kau benar-benar bodoh. Maksudku bukan seperti itu, tapi kalau kau tidak juga mengatakannya, aku bisa mendapatkan jawaban itu dengan caraku sendiri, dan memutuskan apa yang seharusnya kita putuskan bersama, dengan caraku sendiri.”

“lalu kenapa tidak kau lakukan??” suara Songjin yang memekik, memenuhi dan menggema didalam kamar mandi luas berlantai marmer dengan warna ivory tersebut. “kau bisa melakukan segalanya seorang diri, kau kan Cho Kyuhyun yang hebat. Kau tidak benar-benar membutuhkan siapapun disekitarmu, lalu kenapa tidak kau lakukan saja apa yang ingin kau lakukan itu?”

emosi Songjin membuat Kyuhyun pada akhirnya terpancing. Pria itu menegapkan tubuhnya, dan merenggangkan otot-ototnya, seperti sudah bersiap untuk pergelutan sadis yang akan dilaluinya, “kenapa aku tidak melakukannya? aku tidak melakukannya, karena aku menghargaimu. Aku sangat menghargai posisimu sebagai seorang istri, sebagai ibu dari bayiku, sebagai seseorang yang merasakan bagaimana sakitnya dan susahnya mengandung.” Senyum sinis Kyuhyun tertarik tinggi.

“Aku tidak melakukannya, karena aku ingin kau mengatakannya sendiri kepadaku. Kau yang menjelaskannya padaku, apa yang sebenarnya terjadi, mengingat bahwa aku berhak mengetahui sekecil apapun progress yang terjadi pada bayiku. Apa kau tidak bisa berfikir disitu saja, dan berhenti selalu membawa-bawa perceraian dalam seluruh perdebatan kita? Kau tahu Songjin? Pernikahan adalah hal yang sacral dan perceraian adalah hal yang harus dijauhkan dari pernikahan, semampu yang dapat dilakukan, dan yang kulihat selama ini, kau seperti selalu menarik-narik lubang besar itu agar kita sama-sama masuk kedalamnya. Kau seperti tidak memahami apa itu komitmen dan terus bertingkah seperti bocah. Jinjja Park Songjin, sebenarnya aku menikahi wanita berusia 23 tahun atau bayi berusia 3 tahun??”

Kyuhyun menarik oksigen disekitarnya setelah berbicara panjang. Mendapati sudut-sudut mata Songjin, perlahan telah mengeluarkan air mata. Kyuhyun ingin saja menarik wanita itu lalu memeluknya. Berkata jangan menangis lagi, atau melakukan hal-hal yang dapat membuat Songjin berhenti menangis, tapi Kyuhyun telah terlampau jengah.

Songjin seperti sedang dan selalu menguji kesabarannya. Pertama tentang kecemburuan butanya terhadap Seohyun yang tampak berlebihan. Itu membuatnya selalu malu dan memiliki posisi tak nyaman jika harus berhadapan dengan Seohyun sendiri.

Kedua kehadiran Changmin yang membuatnya tampak seperti terabaikan. Karena Songjin kini lebih sering menghabiskan waktu bersama Changmin, bahkan untuk sekedar melakukan hal sepele seperti melewatkan makan siang, yang tak pernah dilakukan wanita itu bersama dengannya selama ini semenjak Songjin resmi menjadi sekertaris pribadinya.

Ketiga, tentang kondisi bayi yang selalu disembunyikan Songjin darinya. Dan diyakininya bahwa itu adalah hal yang buruk, karena jika tidak, tidak mungkin Songjin akan menyembunyikan begini kencangnya seorang diri saja.

Dan yang keempat adalah sikap Songjin yang semakin kekanakan. Lepas dari fakta bahwa Songjin sedang mengandung, dan seperti itulah wanita mengandung pada umumnya. Dengan suasana hati yang naik dan turun. Dengan segala permintaan aneh dan perilaku aneh.

Lepas dari segala hal berembel-embel wanita hamil, Songjin sudah keterlaluan. Dan Kyuhyun sudah bersusah payah menahan, menarik ulur kesabarannya sejak sangat lama, hanya untuk mencoba mengerti dan tidak membuat keributan antar dirinya dan Songjin.

Dan seperti pesan ayahnya, yang selalu dikatakan setiap kali mereka bertemu, bahwa suasana hati wanita yang sedang mengandung mempengaruhi kondisi janin, Kyuhyun hanya tidak menginginkan hal-hal buruk, terjadi lagi pada Songjin ataupun calon bayinya. Apapun itu, tidak terkecuali.

Dia telalu menyayangi keduanya. Tapi yang disayangi, selalu tak paham dan memiliki posisi sulit.

“jadi yang mana pilihanmu, hm?” Kyuhyun menantang. Masih dengan wajah dinginnya yang tidak sadar juga muncul bersamaan dengan omelannya dan segala keluhannya tentang sikap Songjin padanya selama ini.

Sementara Songjin terus mengeluarkan air mata, tanpa mau membuka mulutnya sedikitpun. Sesekali tangannya terangkat untuk mengusap air matanya, dan dia kemudian hanya diam memandangi Kyuhyun kososng, “Arrasseo. Itu pilihanmu. Setidaknya, aku bermain adil, kan? tidak ada paksaan dalam bentuk apapun disini.” Kyuhyun bangkit, berdiri tegap dihadapan Songjin.

Dua tangan yang mati-matian sudah memberontak ingin digunakan untuk menarik Songjin kedalam pelukannya dan menghapus air mata wanitanya itu, dimasukan kedalam saku celana pendeknya.

Didalam saku itu, kedua tangannya mengepal kencang. Dia berusaha mati-matian tidak menarik tangan itu, atau sesuatu yang diluar rencananya akan terjadi merusak pertahanannya. Songjin harus diberi pelajaran. Sekecil apapun itu, mengingat itulah tugasnya kini.

Menjaga, merawat, memberikan kenyamanan, cinta, kasih sayang, perhatian. Serta mendidik. Tugas Park Seul Gi dulu, adalah tugasnya kini.

“terserah kau saja, Songjin. Terserah kau.” Kata Kyuhyun singkat. Sesaat sebelum dirinya melengang pergi meninggalkan Songjin seorang diri didalam kamar mandi, melakukan apa yang ingin dilakukannya, apapun itu.

“dan kau tahu yang lucu dari seluruh hal ini Songjin?” Kyuhyun berhenti tepat diambang pintu. Berbalik lagi untuk menoleh sesaat, memandang lawan bicaranya yang masih duduk diam sambil menangis diatas closet toiletnya, “kau seperti tidak ingin memiliki bayi. Seperti menolak. Seperti tidak menginginkan kita memiliki anak. Dimataku, kau seperti tidak benar-benar menginginkan bayi itu ada disana. kau ingin menyingkirkannya, entah apa itu alasanmu. Kau seperti tidak pernah sadar, bahwa selama ini, kita memiliki hal yang lebih dan selalu membuat segalanya tampak berbeda. Kukira itu karena kehadiran-nya. Tapi ternyata aku salah. Jadi sekarang, sebenarnya, aku tidak benar-benar paham kenapa aku bisa begini senang dan selalu merasa terlalu senang saat kau bilang dia menendang, atau saat kau merengek ingin makanan ini dan itu, karena dibayanganku, dialah yang meminta semua itu padaku. Jadi aku selalu berusaha semampuku untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Sekarang kau membuatku tampak tolol karena merasa senang dengan hal yang semu, Park Songjin.”

Kyuhyun menghela nafas panjangnya. Bahu tegapnya terkulai. Dia mengakhiri kalimat panjangnya tanpa adanya ulasan senyum atau perubahan air wajah apapun yang Songjin tangkap kini.

Kyuhyun pergi, dan terus pergi hingga Songjin tidak lagi melihat punggung pria tinggi itu lagi dari sudut matanya.

Jadi, inilah minggu pagi panjang Songjin. Diawali dengan rasa sakit, dan diakhiri dengan tangisan.

~~ ~~

“Jangan tersinggung, tapi menurutku kau dan Kyuhyun, kalian tidak lebih dari sekedar sepasang sahabat yang memutuskan untuk tinggal bersama dengan sebuah komitmen.”

Changmin meneguk jus melonnya lalu menggidikan bahu dan tersenyum canggung kepada Songjin. Dia mengatakannya. Akhirnya seluruh pendapatnya pun keluar, tentang bagaimana pandangannya atas hubungan Songjin dan Kyuhyun dimatanya.

Bukan untuk mengkambing hitamkan siapapun, setelah tahu bahwa Songjin dan Kyuhyun baru saja bertengkar hebat dan selama beberapa hari, keduanya lebih memilih untuk saling diam tidak berbicara, atau berinteraksi apapun.

Suasana restoran italia tempat mereka melakukan makan siang kali ini tidak begitu ramai. Tidak seperti biasanya, ketika Songjin datang bersama Gyuwon, atau Siwon, atau malah keduanya.

Hal tersebut membuatnya dapat dengan leluasa mendapatkan lokasi startegis yang begitu disukainya jika dirinya mengunjungi tempat makan ini. tempat itu berada dilantai dua. Dilantai pertama adalah ruang indoor dan Songjin lebih menyukai suasana outdoor restoran berbau italia ini.

Segala hal disini begitu disukainya. Bukan hanya menu tetapi tata ruang, bentuk-bentuk interior dan segala pernak pernik yang mengingatkannya tentang betapa indahnya Negara yang demi Tuhan begitu ingin dikunjunginya itu.

Mendengarnya lagi, Songjin hanya dapat merunduk lalu tersenyum tipis. Ingin tertawa kencang, tapi malu. Ingin terbahak, tapi juga bingung mengapa dia harus terlihat begitu senang dengan kata singkat itu. “Kyuhyun bilang aku tidak tahu apa itu komitmen. Jadi kukira pendapatmu kurang tepat. Atau bahkan salah? Aku tidak mengerti apa itu komitmen.”

Kening changmin seketika bergelombang, pria itu mengecap saus carbonara dibibirnya kemudian membersihkan dengan serbet sebelum berbicara menanggapi Songjin, “komitmen? Kukira kau paham, tapi kau tidak menyadarinya. Komitmen adalah ketika kau memutuskan satu diantara banyak pilihan untukmu. Ketika kau memutuskan memilih ya atau tidak, dengan segala resiko dan tanggung jawabnya. Ketika kau memutuskan apakah kau mampu atau tidak, dan menjalani hal itu tanpa keluhan karena itu adalah pilihanmu. Sesederhana itu sebuah komitmen. Kita selalu melakukannya sejak kecil, tapi kita tidak pernah menyadarinya saja. Iyakan?” Changmin tersenyum.

Tiba-tiba saja Songjin merasa aneh. Jika komitmen adalah memutuskan satu diantara banyak pilihan, maka dia pernah melakukan hal itu. Terlalu sering, benar saja yang Changmin katakan, bahwa mereka selalu melakukannya sejak kecil.

Tapi lalu memilih ya atau tidak dengan segala resiko dan tanggung jawabnya? Memutuskan mampu atau tidak dan menjalani segalanya tanpa keluhan karena itu adalah pilihannya? Itu terdengar asing baginya.

Dan ucapan Changmin tentang pandangannya mengenai hubungan dirinya dengan Kyuhyun semakin tampak semakin nyata saja, bahwa mereka lebih pantas terlihat seperti sepasang sahabat yang memutuskan tinggal bersama dengan komitmen.

Dan mungkin, selama ini Kyuhyun lah yang berkomitmen, atau selama ini mereka memang hanya bertahan karena komitmen. “singkatnya, komitmen adalah tanggung jawab.” Lanjut Changmin setelahnya, membalik garpunya—dia hanya memerlukan 15 menit untuk fusilli carbonara nya, sedangkan Songjin tampak tidak tertarik kali ini dengan risotto nya.

Dan entah mengapa dia memesan risotto, padahal dia tidak pernah begitu menyukai risotto, dan pasta lah yang selalu digilainya. Pasta adalah makanan favoritnya sampai kapanpun.

Tapi melihat mangkuk risotto ini, mengingatkannya ketika dirinya, Kyuhyun dan Changmin melakukan makan malam di Bundang beberapa hari yang lalu. Wajah Kyuhyun terlihat masam saat dirinya memaksa agar risotto menu makan malam pria itu harus habis sedangkan Songjin tahu, porsi risotto itu bukan main banyaknya.

Tiba-tiba saja Songjin tersenyum tipis. Tapi disaat yang sama, dia pun merasakan sesak, yang berasal dari dadanya. Tangannya terangkat, memegang dadanya dan menekannya kuat, mungkin ada sesuatu disana yang mendesak untuk masuk, atau terdapat alasan lain, tentang mengapa rasa sesak itu selalu semakin menjadi setelah suara Kyuhyun terus berputar-putar didalam kepalanya.

“Sekarang kau membuatku tampak tolol karena merasa senang dengan hal yang semu, Park Songjin”

“terdengar mengerikan untukku. Kyuhyun bilang aku tidak bisa memegang tanggung jawab—Cih!” Songjin mendecah. Mencebikan wajah dan memasukan sendokan kecil risotto kedalam mulutnya. Rasanya tetap aneh. Tidak enak. Entahlah. Dia jadi menyesal, kenapa tadi malah memilih menu ini, dan kenapa tidak pasta saja yang sudah pasti akan dihabiskannya

Changmin tertawa menanggapi protesan Songjin. Dia memperhatikan wajah Songjin yang kini terlihat sedikit berbeda, dengan 5 tahun lalu. Songjin terlihat sedikit lebih berisi. Itu mungkin karena wanita itu sedang mengandung.

Tapi juga terdapat hal yang lain yang Changmin dapatkan. Yang sialnya, sekuat apapun dia ingin menjabarkannya, dia tetap tidak dapat menjelaskan, apakah perbedaan itu.

Yang jelas, Songjin 5 tahun lalu dengan Songjin 5 tahun kemudian, saat ini, terlihat berbeda. Perbedaan itu tampak signifikan, tapi dia tidak dapat menguraikannya.

Seluruh kata-katanya seperti ada didalam kepalanya, dan telah sampai diujung lidah, tapi tidak dapat keluar entah mengapa. “kau tidak bisa tidak selalu membawa-bawa Kyuhyun, ya? Kyuhyun bilang begini, Kyuhyun bilang begitu, kata Kyuhyun aku begini, Kyuhyun bilang aku begitu, huh?” kepala Changmin dimiringkan, dan semakin menjadi miring sekian derajat ketika dia merasa begitu aneh juga jengah. Songjin selalu membawa-bawa Kyuhyun dalam percakapan mereka.

Bukannya tidak suka, tapi terdengar aneh saja. Mereka sedang menghabiskan waktu setelah sekian lama tidak bertemu sama sekali, tidak memiliki percakapan apapun, apa tidak bisa percakapan mereka tentang mereka saja? Seperti apa yang dilakukannya selama di Italia?

Seperti menanyakan bagaimana Italia? Bukankah Songjin begitu menyukai Italia?? “kau bilang kau mendapatkan beasiswa di Florence university? Bagaimana dengan yang satu itu?” Changmin akhirnya dapat menemukan percakapan lain—lepas dari keberadaan Kyuhyun. Jauh.

Anggukan kepala Songjin serta senyuman membuatnya merasa sedikit lega. Wajah Songjin tampak berseri. Rambut kecokelatan panjangnya tersapu hembusan angin yang luar biasa dingin.

Nyaris tidak ada orang lain yang berada di bagian outdoor ini mengingat udara sedang begitu dingin dan salju terdapat dibeberapa titik dilantai. Tapi keduanya Nampak tidak perduli. Changmin menyukai aroma khas salju, dan Songjin menyukai pemandangan dari lantai dua terbuka ini, dengan pemandangan langsung ke jalan raya, berada jauh diatas mobil-mobil yang melintas, terlihat menyenangkan menonton hiruk pikuk keramaian kota.

“aku mendapatkannya,”

“Tapi?”

Kepala Changmin dimiringkan lagi, seperti tidak sabar dengan jawaban Songjin kali ini, “tapi…” mata Songjin mengerjab. Dia bingung bagaimana menjelaskan mengapa dia pada akhirnya tidak mengambil beasiswa itu, “umm… terjadi…kecelakaan, yang bukan kecelakaan.” Jelasnya rumit.

Otaknya sedang bekerja keras menjelaskan apakah itu maksud ‘kecelakaan yang bukan kecelakaan’ tentang kehamilan yang tiba-tiba diketahui oleh bagian penididikan kampusnya ketika test kesehatan itu dilakukannya.

Menjelaskan tentang beberapa malam pada minggu-minggu sebelum itu, terjadi keributan antara dirinya dan seseorang didalam kepalanya saat Kyuhyun menyibukan diri dengan Gyuwon.

Mencari cara termudah dan termasuk akal mengapa pada malam itu dia meneguk 6 botol soju sekaligus hingga mabuk. Mabuk lalu bicara kesana kemari, dan akhirnya segala yang ditutupi itu terbuka tanpa sengaja. Lalu hal itu terjadi, dan semuanya menjadi berubah, antara dirinya dan Kyuhyun. Sejak saat itu, segalanya berangsur menjadi lebih baik.

Italia memang tidak didapatkannya, tapi dia mendapatkan yang lebih baik dari pada sekedar Italia. Yaitu Kyuhyun, dan sesuatu didalam perutnya kini—tidak dapat tergantikan, oleh uang, atau bongkahan emas sebanyak apapun itu, atau bahkan.. black credit card.

Wajah mengernyit Changmin semakin meyakinkan Songjin bahwa pria itu maish belum mengerti dengan penjelasannya. Jangankan Changmin. Dia sendiripun bingung dengan apa yang mulutnya ucapkan sendiri. Sepertinya Kyuhyun tidak pernah salah dengan mengatakan bahwa dirinya terlalu bodoh.

umm.. well—“ Songjin menyelipkan rambutnya kebelakang telinga sambil memutar bola mata ketika berfikir keras, “kecelakaan. Hal yang dilakukan oleh pria dan wanita, tapi kami melakukannya tanpa sengaja.”

Changmin terdiam. Juga berfikir, lalu tak lama dia menjadi paham, “ah— jadi benar dugaanku. Kalian menikah karena hal itu?”

“Bukan!!” cepat-cepat Songjin menggerak-gerakan tangannya didepan wajah menyangkal. Dia tidak merasakan hal seperti itu. Dia memutuskan untuk menikah dengan Kyuhyun karena dia mencintai Kyuhyun, biarpun saat itu yang diketahuinya adalah Kyuhyun begitu tergila-gila dengan Lee Gyuwon. “Tidak sepeti itu. Sama sekali tidak.”

Songjin mengingat bagaimana Kyuhyun pun melakukan penyangkalan yang sama ketika diBundang kemarin saat Changmin bertanya hal yang sama. Dan lagi, Kyuhyun selalu mengatakan bahwa pria itu menikahi dirinya karena dia mencintainya. Walaupun Songjin masih bingung, cinta jenis apa yang dimiliki Kyuhyun ketika pertama mereka menikah, karena yang dilihatnya, Kyuhyun masih terlalu begitu menjatuhkan hatinya kepada Gyuwon.

Untuk hal yang satu ini, Songjin masih belum cukup paham dengan segalanya. Dan Kyuhyun selalu menjelaskannya dengan penggalan kata saja. ‘tidak’, ‘iya’ , ‘bukan begitu’, atau ‘kau salah menilai’. Tapi yang didapatkan Songjin sama sekali bukan kesalahan. Yang dilihat dan dirasanya itu memang benar nyata kan?

Tentang Laptop itu? Password dan video sialan itu? Tentang ciuman itu? Tentang semuanya?

“Bukan kecelakaan seperti itu. Sebelum itu, aku dan Kyuhyun sudah menikah. Jauh sebelum itu. Jauh jauh sebelum hal itu terjadi.” Papar Songjin perlahan-lahan. Tangannya bergerak-gerak ketika dia sedang menjelaskan hal tersebut, “itu terjadi, karena sebuah alasan. Dan alasan itu terjadi karena kesalah pahaman. Kesalah pahaman besar yang selama ini selalu ditutupi dan ditutupi.”

“…yaitu?”

Songjin diam. Mata besarnya mengerjab. Dia merasa terkejut saat menyadari Changmin memang benar-benar ingin mengetahui sedetail itu tentangnya, yang bahkan baginya kisah ini tidak ada menariknya sama sekali—malah terasa bodoh.

Dilain sisi, dia merasa malu untuk menjelaskan segalanya, karena segalanya, bermuara dari kebodohannya sendiri. iyakan?

Songjin menelan ludahnya susah payah. Membalik sendok garpu kayunya—menyisakan terlalu banyak risotto seafood yang sejak tadi hanya diaduk-aduknya saja. “ngg.. tentang Kyuhyun dan Gyuwon eonni. Umm—dia terlalu menyukai yang ternyata tidak kutahu bahwa—“

“tunggu— kau mengiranya itu adalah sebuah kesalah pahaman?” Changmin menghentikan Songjin berbicara dengan lima jari terbuka lebar didepan wajah Songjin. “tentang Kyuhyun dan Gyuwon?”

“Ya. Itu karena—“

“Songjin, itu bukan kesalah pahaman. Kyuhyun memang menyukai Gyuwon. Dia begitu menyukai Gyuwon dan aku tahu semuanya. Tentu saja aku tahu, dia selalu bercerita tentang Gyuwon sampai telingaku panas mendengarnya. Karena itu aku terkejut saat kembali dan mendapati hal yang malah berbeda dari perkiraanku. Ketika aku kembali, aku tahu bahwa Lee Gyuwon yang kukenal telah menjadi Choi Gyuwon dan kau— Park Songjin yang selalu membuatku merasakan hal-hal aneh dan konyol, yang membuatku selalu mengingatmu dan ingin kembali, telah menjadi Nyonya Cho. Aku kira.. aku kehilangan sesuatu, hal yang besar dan mahal pada saat aku mengetahui semua hal disekitarku, tidak sama dengan yang kutahu seperti dulu lagi—“

Changmin menjadi mendung seketika, bahunya bergerak lesu, tapi tak lama dia lalu tersenyum. Toh percuma saja menunjukan rasa sesal itu, karena tidak ada yang dapat dirubah lagi dengan reaksi konyolnya.

“Itu mengejutkan, kau tahu?” lirih Changmin, disambut anggukan halus Songjin. “yang mengejutkan lagi, kau tahu, kalau saja kau jadi pergi mengambil beasiswa itu, kita pasti akan bertemu. Aku sangat yakin, karena flat milikku, hanya beberapa blok saja dari Florence university. Dan kantorku, berada tepat didepan universitas itu. Kau bisa bayangkan bagaimana kita bisa menghabiskan waktu bersama disana?”

“benarkah???” Songjin terlonjak seketika. Lalu seketika itu pula, merasakan aneh dengan permainan nasib yang seperti kocokan dadu. Mencari siapa yang beruntung dan tidak. Sial sekali dirinya.

“ya. Dan bicara tentang kejutan, bukankah lusa Kyuhyun ulang tahun? Apa yang akan kau siapkan?? Kau ada ide??”

~~ ~~

“REKAP RAPAT DENGAN CJ GROUP KEMARIN!! ITU YANG AKU MINTA, DIMANA SEKARANG??”

wajah putih Kyuhyun memerah semerah udang rebus ketika sadar yang dibutuhkannya tak didapatkannya. Rekap rapat yang dilakukan Siwon dengan CJ Group, yang seharusnya juga didatanginya tapi karena dia mengurus hal lain, kehadirannya digantikan oleh Songjin dan Henry.

Tangan Kyuhyun mengepal. Tangan lainnya digunakannya berkali-kali untuk memukul meja rapat, kayu eek yang tebal dan keras hingga berbunyi nyaring. Seakan sengaja digunakan, untuk menunjukan betapa kecewa dan marahnya dirinya saat ini kepada semua orang. Kepada Henry, kepada Songjin terutama. Mengingat ini adalah tugasnya.

“Gyuwon memiliki copy nya, Kyuhyun-ah. Tenang sajalah—“ Siwon berbicara dengan focus pada laptop dihadapannya. Lalu tak lama dialihkannya laptop tersebut kepada Kyuhyun, namun ternyata itu tidak membuat Kyuhyun merasa puas seketika.

“INI HANYA SEBAGIAN SAJA! AKU BUTUH SALINAN LENGKAPNYA!!” Kyuhyun berteriak lagi.

Kening Siwon berkerut ketika Kyuhyun mengembalikan laptopnya dia lalu sibuk membaca dan mendesah. Kyuhyun benar. Yang Gyuwon catat hanyalah sebagian. Bagian yang Siwon butuhkan saja. Dan bagian milik Kyuhyun tidak ada sama sekali disana, walau pada akhirnya, rekap milik Siwon pun akan digunakannya juga sebagai hasil akhir.

Itu bukan salah Gyuwon atau Siwon, atau siapapun. Gyuwon bahkan tak salah sama sekali. Dia melakukan tugasnya saja.

Kilatan mata Kyuhyun beralih pada Henry yang sejak tadi hanya meremas-remas kertas menahan rasa gugupnya. Kemarahan Kyuhyun bukan hal yang aneh bagi seorang asisten pribadi sepertinya. Tapi belakangan ini, Kyuhyun terlihat lebih kacau dan selalu mengamuk pada hal sekecil apapun itu.

“KAU! APA SAJA YANG KAU LAKUKAN SAAT ITU?”

“A—aku.. aku.” Henry menelan ludah. Membuka tabletnya dan menunjukan diagram lingkaran yang dikerjakannya malam tadi, mengenai perhitungan pemasukan dan pengeluaran perusahaan perintah Kyuhyun beberapa saat yang lalu.

Merasa jengah, Kyuhyun menarik nafasnya begitu dalam dan panjang. Matanya memejam. Tangannya menarik dasi hitam yang melingkar dilehernya brutal. Seperti ingin menarik, lalu merobek dasi tak bersalah itu. “itu bukan yang kumaksudkan!” ujar Kyuhyun lebih tenang, setelah beberapa saat diam, dan mendapatkan sisa-sisa ceceran kesabarannya. “aku tidak perduli dengan diagram tolol itu sekarang.” Lanjutnya dengan makian didalamnya.

Gyuwon dan Siwon menghela nafasnya. Mereka cukup paham dengan hal seperti ini. seperti saat Kyuhyun merasa kesal dan jengah, yang sebenarnya bukan benar-benar dikarenakan hal yang sedang dituntutnya sejak tadi.

Masalah rekap itu, itu memang penting. Tapi ekspresi Songjin yang menjadi ciut dan hanya diam tidak berani melakukan apapun ketika Kyuhyun mengamuk, itu seperti bukan Songjin, yang kemudian langsung diketahui Siwon dan Gyuwon bahwa pasangan barbar itu baru saja bertengkar lagi. Dan Kyuhyun telah jengah, lantas melampiaskannya pada segala hal.

“ini sudah jam pulang kerja, Kyuhyun-ah. Kita bisa menyelesaikan ini besok. Sekarang lebih baik kita pulang. Kepalamu sepertinya perlu dimasukan kedalam baskom berisi balok es. Lalu nanti akan mengepul asap dan bunyi—“ Siwon segera menutup mulutnya saat berniat bercanda, tapi kemudian Kyuhyun melemparinya tatapan tajam menyeramkan. “shut up. Okay. I get it.” Desah Siwon setelahnya mengalah.

Jika Kyuhyun telah marah, segala yang dilakukannya memang sepertinya tidak bisa lagi ditentang.

“Kau! Mana hasil kerjamu??” Kyuhyun berdiri tepat disisi terbelakang meja rapat berbentuk Oval. Melipat tangan dan menonton Songjin yang kelimpungan dengan kertas-kertas serta begitu banyak map.

Bibirnya lalu mendecah, serta mengeluarkan sinisan senyum tak kalah menyeramkan “kau masih sibuk dengan kertas? Jinjja, kau tidak tahu dengan kampanye global warming yang banyak orang lakukan belakangan ini?? semua orang berlomba mengurangi penggunaan kertas atau tissue. Kau malah membuang-buangnya sia-sia. Astaga, benar-benar bodoh. Kemana perginya otak wanita ini?” Maki Kyuhyun meloloskan senyuman merendahkannya. Menggelengkan kepala, tampak begitu arogan.

Yang tidak diketahuinya, semenjak mulutnya terbuka untuk berteriak-teriak, Gyuwon telah mengepalkan tangannya keras-keras. Dan setiap matanya memejam, yang dibayangkan adalah ketika wanita itu berlatih taekwondo bersama Siwon.

Kyuhyun lah yang menjadi sasaran pukulnya. Dengan seperti itu, setidaknya kemarahannya menguap sedikit demi sedikit.

Songjin kelimpungan. Mencari map yang seingatnya, menyimpan pekerjaannya itu. Tapi dari begitu banyak map yang dibawanya, tak ada satupun berisikan rekap yang Kyuhyun minta.

Sekonyong Songjin merasakan hawa dingin menelusup masuk melewati blouse-nya. Rasa gugup serta takut kini merasukinya. Ditenagh usahanya mencari apa yang diperlukannya, gambaran wajah Kyuhyun tampak nyata menakutkan didalam kepalanya. Dan dengusan Kyuhyun berkali-kali, semakin membuat rasa menyeramkan itu terasa lebih hidup.

“a—aku rasa aku meninggalkannya dimeja. Aku ambil dulu sebentar—“

“meninggalkannya?” Kyuhyun melotot tak percaya. Memandangi Songjin tidak habis pikir. Bukankah sebelum rapat dimulai, seseorang seharusnya telah menyiapkan apa yang perlu disiapkan terlebih dulu? “kau meninggalkannya? Apa kau tidak menyiapkan semuanya dulu sebelum ini, Nona Park?”

Songjin memberengut. Entah bagaimana dia selalu merasa sebal ketika Kyuhyun menyebut-nyebutnya dengan embel-embel ‘nona Park’. Atau itu hanya karena selama ini, dia telah terbiasa mendengar Cho Songjin lebih sering ketimbang Park Songjin, atau apa? Entahlah. Yang dirasanya, hanya perasaan tidak suka.

“itu—“ Songjin menelan ludahnya. Melepaskan sepatunya dan meningalkan sepatu miliknya dibawah meja, lalu berjingit menuju pintu, “aku rasa aku salah membawa map. Tunggu sebentar, Kyuhyun-ah.”

“Kyuhyun-ah?” mata Kyuhyun menyipit bersama dengan kakinya yang diseret mendekat menuju Songjin. Menutup pintu yang telah wanita itu buka dengan kasar. “apa katamu? Kyuhyun-ah? Kau pikir kau ini siapa??” tiba-tiba saja Kyuhyun merasa sebal setengah mati dipanggil dengan sebutan langganannya itu, dan bertanya-tanya mengapa Songjin bisa memanggil pria lain yang berusia lebih tua darinya dengan sebutan ‘Oppa‘ sedangkan tidak dengannya.

perkataan Kyuhyun membuat Songjin merasa terkejut dan bingung. Butuh waktu lebih dari 1 menit untuk membuatnya sadar akan perintah Kyuhyun selama ini bahwa jika dikantor, dia harus memanggil Kyuhyun dengan panggilan resmi. “ah.. maksudku, Sajangnim.”

Kyuhyun diam. Hanya matanya saja yang bekerja memperhatikan seluruh tubuh Songjin seksama. Berapa lama dia tidak berinteraksi langsung dengan wanita barbar ini? Songjin tampak sedikit berbeda.

Lalu apa dia berdiet lagi? Wajahnya menjadi lebih tirus dari apa yang diingatnya sebelum ini. dan bagaimana bisa Songjin terasa lebih pendek dari pada sebelumnya? Atau itu hanya perasaannya saja karena selama beberapa saat ini, dia interaksi antar dirinya dan Songjin berangsur menipis secara brutal.

Mata Kyuhyun lalu turun. Memandangi telapak kaki polos istrinya, tanpa dialasi apapun.

Sepatunya lenyap? benar-benar tolol.

 

Udara bahkan sedang berada di angka minus. Berjalan-jalan dengan kaki telanjang? Apa dia ini tidak merasa dingin, atau hal sejenisnya?

Atau setidaknya berfikir hal yang lebih pantas, bahwa kakinya itu tidak boleh dibiarkan berkeliaran polos tanpa alas seperti itu!!!

“kau pikir ini lapangan sepak bola, lalu kau bisa berjalan-jalan seenaknya tanpa alas kaki? Ini kantor dan tempat ini memiliki peraturan. Aku tidak pernah membiarkan pegawaiku berjalan-jalan didalam tempat ini tanpa alas kaki! Peringatan pertama! Kau mendapatkan peringatan pertamamu, karena telah seenaknya ditempat ini. kalau kau lupa, biar kuingatkan lagi, aku bosnya! Aku yang berhak mengatur apa yang boleh dan tidak dilakukan ditempat ini. Jadi ambil sepatumu dan jangan berkeliaran ditempat ini dengan kaki polos menjijikan seperti itu!!”

Kyuhyun berbicara dengan nada yang terus naik dan semakin naik sampai akhir kalimatnya berada di volume tertingginya. Seisi ruangan tidak ada yang dapat atau berniat membuka suara. Siwon menyibukan diri dengan permainan mahjong dilaptopnya.

Gyuwon memejamkan mata, membayangkan sedang menghabisi Kyuhyun ditengah latihan taekwondo-nya. Lalu Henry membuat origami burung dari kertas foldernya.

Songjin meringis mengganti tangisannya dengan senyuman kaku yang susah payah dikeluarkannya hanya agar air matanya tidak turun merembes. Setidaknya, menangis karena dibentak karena kesalahannya sendiri sedari tadi adalah hal yang kalau bisa—benar-benar harus dihindarinya.

Mau disimpan dimana lagi wajahnya? Bukankah itu memalukan?

“apa.. aku boleh untuk tidak menggunakan sepatu kali ini? aku sedikit pegal karena hak yang—“

“aku tidak perduli!” Kyuhyun memotong. Bersuara kencang. “aku tidak perduli seberapa tinggi Hak sepatumu. Kalau kau pintar, kau seharusnya tahu dengan kandungan sebesar itu, apa pantas bagimu memakai sepatu dengan hak tinggi? Ah tapi aku lupa. Kau kan bodoh. Ah, iya! Aku yang salah. Aku lupa kalau tidak semua manusia memiliki otak. Kau mungkin salah satunya.”

Gyuwon mengepalkan tangannya lebih kencang dibawah meja. Giginya bergemeretak, sedangkan kakinya telah menghentak-hentak. Bergerak-gerak mengikuti irama hitungan yang dilakukannya sedari tadi.

1 sampai 100 telah dilewatinya. Entah akan sampai pada hitungan keberapa Kyuhyun terus mengomel.

“Songjin, kemari~” Siwon menggerakan telunjuknya. Memerintahkan Songjin mendekat padanya, lalu memerintahkan wanita itu untuk duduk dibangkunya, sedangkan dirinya setengah berjonkok dihadapan Songjin.

Siwon lantas melepaskan sepatu serta kaus kakinya. Memasangkan kaus kaki miliknya itu pada kaki Songjin lalu tersenyum lebar, “Cha! Kau bisa berlari-lari semaumu! Kajja!!”

“bagus!” Gyuwon membuka matanya dan ikut tersenyum lebar memandangi kaus kaki hitam terpasang rapat dikaki Songjin, sedangkan Henry menyengir dengan kepala terangguk. “keren Hyung!” sambut pria bermata sipit itu.

Setelahnya, Songjin melesat pergi meninggalkan ruang rapat tanpa memerdulikan apapun lagi. Melewati Kyuhyun dengan tangan menggantung dipingul dan mata yang membelak terkejut atas perlakuan Siwon kali ini, “apa yang kau pikir kau lakukan, Hyung?!”

“Apa?” Siwon menyahut santai. Menggerak-gerakan alisnya seperti ingin bermain dengan ekspresinya. Menggoda Kyuhyun. Tapi Kyuhyun sedang terlampau serius, “aku hanya melakukan apa yang seorang pria pantas untuk lakukan terhadap seorang wanita. Dan lagi wanita hamil. Kalau tidak ada yang berminat dan perduli untuk melakukannya, ya aku saja. Lagipula toh, tidak ada yang kebeatan sepertinya disini. Iyakan iyakan?”

mata Siwon berkeliling memandangi Gyuwon dan Henry bergantian. Kedua orang tersebut langsung mengangguk heboh sebagai wujud persetujuan mereka.

Tidak ada yang perduli? Aku perduli, kau sialan!!

Kyuhyun menggeram tertahan—menggemeretakkan giginya menahan amarahnya agar tidak menyembur lagi. Karena hal tersebut, wajahnya kembali memerah. Dan Siwon hanya dapat membuang nafas panjang memahami betapa adiknya terlampau beremosi belakangan ini. seperti wanita yang sedang PMS.

Seperti macan yang belum diberi makan oleh pawangnya. Galak!

“….berlari-lari semaunya?” suara tertahan Kyuhyun bercampur dengan gemeretakkan giginya, ketika Siwon tersenyum singkat, “ah! Itu.. biar saja. Dia kan suka berlari.”

“dia sedang mengandung!! kau tidak sadar betapa bodohnya wanita itu? kau liat sendiri saat kau bilang dia boleh berlari, dia benar-benar berlari!! Kau mau dia langsung melahirkan disini??”

“ah! Dan aku jadi paman? Kedengarannya tidak buruk!”

“Hyung!!!” kaki Kyuhyun menghentak. Menyalurkan rasa putus asanya, sedangkan Siwon terkekeh geli bercampur rasa puasnya.

Setelah puas tertawa, wajahnya lantas menjadi serius. Mengencang dan matanya terarah lurus hanya pada Kyuhyun, “sejak kapan kau perduli dengan bayimu? Dan sejak kapan kau perduli dengan keadaan Istrimu? Bukankah, yang kau perdulikan hanya keberadaan dia disekitarmu saja, dan tubuhnya? Kenapa tiba-tiba kau meributkan hal ini?”

Wajah Kyuhyun ikut mengencang. Seperti sedang di bombardier. Seluruh pihak menyerangnya saat ini. tidak ada satupun yang memahami atau setidaknya, mencoba memahami posisinya.

Dan apa yang Siwon katakan tadi? Bahwa dia tidak perduli dengan kondisi bayinya? Kondisi Songjin? Ah, mungkin Siwon lah yang selama ini tidak memahami keadaan, betapa dirinya begitu selalu mengkhawatirkan Songjin, namun yang didapatnya, selalu kebalikannya dari semua yang diharapkannya.

Dengusan Kyuhyun mengencang. Dia tersenyum. Senyumannya lalu mengembang menjadi tawa. Menertawai entah siapa disana. Atau bahkan dirinya sendiri, “memangnya kau tahu apa apa Hyung? Kau tidak mengerti apapun!”

157 thoughts on “[Post For Kyuhyun’s Birthday] Birthday Disaster 7

  1. Sumpah pengen ngebejek” si cho kyu pabbo hyun itu..mulutnya emg gak bisa bgt klo gak brkata” kasar…sumpah kesel bgt…sumpah nyess bgt bc chap ini..

  2. nyesekk bgt part ini, Songjin dimarahin Kyuhyun di depan bnyak orang, dibentak2 yaampunnn.. kuat ya Songjin nahan air matanya 😦 kasian bgt Songjin:(
    Kyuhyunnn please, baikan sama Songjin:(

  3. Gunungng meletuss..
    Campur aduk banget…
    Kalo kyuhyun ada di sini udah aq cincang deh…
    Tapi di songjin juga kurang diskusi sama kyuhyun, makanya hal dihadapi juga makin rumit..
    Apalagi ada campur tangan dari orang luar juga…
    Masalahnya jadi tambah ribet…

  4. Sebenernya kandungan songjin itu kenap ya?
    Kyuhyun ngamuk nya serem ya, tajem kata katanya..
    Songjin sampai mengkeret gitu..
    Kyuhyun lagi dalam mode apa sama songjin,sampe mendiamkan lama gitu.?
    Part 7 mulai memanas ya konflik nya,apa part 8 lebih memanas lagi.?

  5. Songjin keras kepala sekali sampe akhirnya kyuhyun tau sendiri
    Apa yg terjdi dengan kyuhyun saking marahnya sampe tega bnget gtu sama songjin tpi tetap dalam kemarahannya ada rasa kekhawatiran yg sangat mendalam

  6. Kasihan songjin. Sebenarnya kyu itu peduli ma songjin tapi caranya aja yang kurang tepat. Ngeselin juga kalau punya suami sifatnya sama kayak kyu

  7. aigu ! kyu ngga perlu segalak itu , kasian songjin sampe kelimpungan gt . knp makin panas aja masalahnya 😦 , sedih liat songjin di bentak” .

  8. kyuhyun keterlaluan , haruskah iya marah” seperti itu dihadapan semua orang dan blg kaki songjin menjijikan? dan kemarahan kyuhyun sebenarnya tidak beralasan cuma gara” songjin tidak blg tentang kondisi songjin dan bayinya dia jadi seperti itu melampiaskan kesemua org..

  9. Ya ampun Kyuhyun kalo marah galaknya minta ampun,
    Kasian songjin jd nya kena sasaran kemarahan Kyuhyun terus..

  10. Sebenernya maksud kyuhyun itu baik .. cuman cara penyampaiannya aja yg kelewatan ..
    Dia selalu memperhatikan songjin diam2 tanpa ada satu org pun yg twu .. makanya slalu disalah pahami jadi ga peduli

  11. orang kalo marah emang kebanyakan sukanya ngomong ceplas-ceplos ga nyadar yang dia ucapin nantinya nyakitin hati orang atau engga. sama kaya kyuhyun, versi marahnya dia malah lampiasin semuanya ke songjin. Sedikit bangga pas dia bilang tanggung jawab park seul gi yang dulu adalah tanggung jawab dia yg sekarang; buat jaga songjin, beri songjin kasih sayang dll. Tp setelah itu malah enek ke kyuhyun, marahnya dia ituloh bener-bener. Harusnya, kyuhyun kan pinter kalo misal songjin ga mau kasih tau kebenaran ttg kehamilan songjin ya kyuhyun coba cari jawaban sendiri dong ya

  12. kyuhyun kalo lagi marah..menakutkan😨😨
    galak banget sihh ke songjin..
    kasihan songjin kan dimarahin dan dibentak2 di depan banyak orang…

  13. Ada apa dengan kandungan songjin?? Coba songjin jujur, kyuhyun jadi gk ngamuk deh.

    Changmin masih ngarep yaa sama Songjin. Syok bgt pasti pas balik lg ke Korea ternyata udah nikah sama sahabatnya sendiri

  14. gila² kyuhyun ngamuk kata²nya bikin sakit hati aku sampe nyesek loh, nangis pula aku tau dia cuma khawatir tp dia itu bisa ngaksih jgn kata²nya ke songjin😭, ada apa dgn kandungan songjin ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s