[Post For Kyuhyun’s Birthday] Birthday Disaster 8


Author: GSD

Title: Birthday Disaster 8

Cast: Cho Kyuhyun, Cho Songjin, Choi Siwon, Choi Gyuwon, Choi Ki Ho, Lee Donghae, Kim Eun Soo, Seohyun, Shim Changmin, Henry, Luke.

Rating: G

Length: Chaptered.

 

Some things we won’t understand
And we’re both so tired of being misunderstood
So let’s just turn around and walk away
And hold on to what was good
There ain’t nothing that can save us
We’re too close to the end
And what’s the use of going on
If we lie to each other, every word that is said
It’s too late for us now
Cause we can hear the countdown
It’s getting close
It’s gonna blow
Stop the madness! Before it explodes 
Before it’s out of our control

-Before it explodes (Charice)-

Tepat pukul 10, ketika keadaan kantor telah melengang, beberapa lampu telah dimatikan karena aktivitas dalam gedung berlantai 50 ini telah sepenuhnya berakhir pada hari ini, Songjin baru menemukan map dengan isi rekap rapat yang sore tadi Kyuhyun minta dengan begitu menyeramkannya.

Songjin lupa, dia meletakan map biru bersampul tebal beludru itu disalah satu laci pada meja kerjanya. Setelah mendapatkannya, cepat-cepat Songjin menggunakan sepatunya yang tadi sempat tergantikan oleh lapisan kaus kaki saja, lalu sandal tipis pinjaman Henry.

Dengan perasaan tak menentu, takut dan lelah teramat sangat, Songjin perlahan masuk—berjalan ditengah begitu luasnya ruang kerja berdominasi warna hitam dan putih tersebut milik Kyuhyun, dan berdiri tepat didepan meja kayu besar yang dengan satu kali lihat saja, dapat terlihat betapa angkuh keadaan seisi ruangan tersebut.

“Maaf aku baru menemukannya.” Songjin bersuara pelan ketika menyodorkan map tersebut kepada Kyuhyun. Seperti tak perduli, atau memang tidak perduli karena yang dicarinya ini telah kelewat batas tenggang—sore tadi, Kyuhyun hanya bergumam asal, memerintahkan Songjin untuk meletakannya saja disudut mejanya.

Songjin lalu melirik jam tangan dilingkar tangannya, memastikan bahwa benar, jam pulang kerja telah dilewatinya dan saat ini telah pukul 10 malam tepat, “ada yang kau butuhkan lagi, Kyuhyun-ah?” suara Songjin terdengar begitu lelah.

Entah apakah sebenarnya pekerjaannya ini yang menguras tenaga, atau tubuhnya saja yang sudah tak lagi mampu mengikuti segala aktivitasnya. Setidaknya kali ini saja. Ketika dia tidak benar-benar seorang diri, dan tak lupa bahwa didalam tubuhnya pun, sedang berada makhluk lain.

Mungkin itulah alasan mengapa dia mudah lelah belakangan ini.

Tegukan ludah Songjin terdengar jelas, ketika tangan Kyuhyun yang tadi sedang sibuk mengetik diatas keyboard, lantas terhenti ketika dirinya menggumamkan panggilan tak resmi itu.

Tapi dia telah memastikan dengan benar, bahwa dia benar. Jam kerja telah habis dan tidak ada kewajiban baginya lagi untuk memanggil Kyuhyun dengan sebutan Sajangnim.

Kini Kyuhyun telah kembali menjadi Cho Kyuhyun seperti biasanya. Cho Kyuhyun suaminya. Bukan Cho Kyuhyun atasannya.

Hanya 2 detik Kyuhyun berhenti mengetik, pada detik selanjutnya pria itu berdehem dan merenggangkan dasi hitam dilingkar lehernya. Kepalanya menggeleng. Menjawab pertanyaan Songjin tadi. Seperti suaranya sedang habis karena berteriak-teriak ditengah rapat sore tadi.

“..apa..kau masih sibuk?” kepala Songjin sedikit dimiringkan ketika berbicara. dia bertanya perlahan. masih sedikit takut dengan Kyuhyun dan mengingat bagaimana seramnya Kyuhyun tadi sore ketika memimpin rapat dan lantas mengamuk. Wajah Songjin tersetel penuh tanda Tanya. Hanya sedang sedikit heran, apa saja yang Kyuhyun sibukan sejak sore tadi selepas rapat panas itu selesai?

Pria itu hanya duduk dibelakang meja, dan melakukan segalanya dengan wajah serius. Terlalu serius. Biasanya, Songjin menyukai raut wajah Kyuhyun saat pria itu sedang serius melakukan sesuatu. Tetapi kali ini, dia tidak menemukan perasaan berdebar dan terpesona itu, dan malah terlampau takut bahkan jika hanya untuk mengangkat wajah, mengintip Kyuhyun perlahan dari balik tembok kaca—pelapis ruangannya dan ruangan pria tinggi tersebut.

“Maksudku… apa kita bisa pulang bersama? Ini sudah terlalu malam untuk kereta. Dan bus—aku tidak tahu sampai jam berapa mereka beroperasi.”

Songjin memejamkan mata dan dua tangan yang disembuyikan dibelakang punggungnya itu, jari telunjuk dan tengahnya sedang berkaitan erat. Berharap Kyuhyun lupa untuk menjadi pintar, dan berfikir bahwa tentu saja, pada pukul 10, hanya tinggal beberapa bus saja yang masih beroperasi, sedangkan kereta sudah tak beroperasi lagi. Tapi masih ada taxi. Songjin masih dapat pulang seorang diri dengan taxi.

Songjin berharap, bahwa Kyuhyun lupa, jika Negara ini memiliki taxi yang beroperasi 24 Jam. Yang tidak perduli akan ditumpangi jam berapapun, selarut apapun itu, mereka akan dengan senang hati mengantar asal dibayar.

“aku lembur.” Jawab Kyuhyun datar sambil mengetik—dan terus mengetik. Mengabaikan diri untuk setidaknya menengadahkan wajah, menatap lawan bicara barang sebentar. Pria itu seperti tak sudi. Atau malas. Atau… sengaja.

“aku bisa menunggu.” Seperti tak memahami maksud perkataan Kyuhyun, Songjin langsung menjawab pernyataan pendek Kyuhyun tadi dengan intonasi yang cukup tak tepat. Terlalu ceria.

Mata Songjin berkeliling. Menemukan sofa putih yang sepertinya cukup empuk untuk disinggahi beberapa waktu sambil menunggu Kyuhyun selesai dengan pekerjaannya. “aku boleh menunggu??”

Dua alis Kyuhyun bergerak sesaat setelah Songjin memberikan penawaran. Bibirnya mencebik sebentar, lalu bahunya bergerak bersama dengan bibirnya juga melakukan hal sama, “terserah kau saja.”

Kyuhyun berkata membuat Songjin merasa senang hanya karena alasan sepele saja. Dibolehkan bersama dengan pria itu selama beberapa saat setelah didiamkan begitu lama. Melompat ringan berjalan menuju sofa, membuat Kyuhyun, sebenarnya ingin melempar wanita itu dengan vas bunga diatas mejanya, untuk membuatnya ingat bahwa dia sedang mengandung, dan hari ini, dia telah terlalu terlalu terlalu banyak berlari.

Pikiran konyol Kyuhyun melintas, bahwa jika Songjin kini terus-terusan melompat, anak mereka didalam perut wanita itu bisa langsung melorot turun. Rasanya sedikit tidak keren jika tempat lahir dalam surat kelahiran anaknya nanti, tertera jelas ‘diruang kerja Cho Kyuhyun’.

Tapi dengan brutalnya, Kyuhyun membuang segala hal tersebut dari dalam pikirannya dan membuat dirinya yakin bahwa segala aksi bungkamnya selama ini adalah tepat dan beralasan. Untuk membuat Songjin sadar, bahwa sebenarnya, pria itu perduli.

Sangat. Terlalu perduli. Dan hanya untuk membuktikan perkataannya semula. Percakapan didalam kamar mandi mereka beberapa hari silam, dengan janjinya yang akan membiarkan Songjin melakukan apapun sesukanya, sejak saat itu.

Dia tidak akan merubah sikapnya, sampai Songjin merubah pikirannya bahwa dia pantas untuk mengetahui kondisi tentang bayinya, atau bahkan tentang istrinya sendiri itu.

Mereka menikah. Dia suaminya. Kenapa juga harus ada yang disembunyikan diantara mereka? Itukah yang Songjin sukai? Atau sebenarnya, dibalik semua hal ini, masih adalagi rahasia-rahasia yang disembunyikan wanita itu darinya?

Pernikahan macam apa sebenarnya yang menyimpan begitu banyak rahasia?

Songjin menghempaskan diri diatas sofa. Dari sudut matanya, Kyuhyun memperhatikan dengan teliti. Kalau sampai wanita itu berani menjatuhkan diri begitu santai, tangannya tak segan-segan akan melayangkan vas bunga tadi sampai hinggap dikepala wanitanya. Hingga membuat Songjin sadar bahwa wanita itu sedang mengandung.

Dan apapun yang dilakukan wanita itu sejak tadi, telah terlalu berbahaya untuk didiamkan. Sebenarnya dia itu benar-benar perduli dengan kandungannya atau tidak? Berdiet, memakan obat sembarangan, berlari-lari, melompat.

eungg… kau sudah makan Kyuhyun-ah?” Songjin melipat kakinya bersila. Baru saja sedetik duduk, Songjin langsung berdiri lagi. Hanya meletakkan tasnya, dan sepatu. Berjalan tanpa alas kaki, lagi. Berkeliling mengelilingi rak buku disudut ruangan.

Songjin menoleh, ketika pertanyaannya tidak sedikitpun Kyuhyun respon. Pria itu sibuk. Mengetik. Entah apa yang sedang diketiknya. “setelah ini, mau makan di Bistro??” Songjin tampak semakin bersemangat.

Perutnya belum diisi nasi sejak pagi tadi. Hanya roti, roti roti dan roti sampai mabuk. Sampai tenggorokannya sakit menelan gandum. Hanya untuk menyisakan harapan jika Kyuhyun mungkin mengajaknya makan siang kali ini. Tapi pria itu pun tidak meninggalkan gedung ini sejak awal pertama kedatangannya.

Bahkan juga tidak dengan menggeser kaki turun dari lantai 50 ini.

Jemari Songjin menelusuri buku-buku tebal, yang kebanyakan berbahasa inggris dan tidak begitu dipahaminya. dan selera membaca Kyuhyun jauh berbanding dengan dirinya yang menyukai buku-buku penuh warna—gaun-gaun catik atau sepatu elegan.

Kyuhyun penyuka serial thriller, cerita dengan keharusan kepemilikan daya pikir tajam dan kisah picisan. Deretan pertama, teratas pada rak buku kaca tersebut seluruhnya adalah karya Dan Brown.

Pada deretan kedua, Songjin menemukan penuh dengan karya milik William Shakespeare, Mary Mackay, dan Nicholas Sparks.

Songjin hanya tahu kisah romeo and Juliet dari Shakespeare. Mary Mackay— Songijn baru pertama kali mengetahui penulis wanita kisah romance tersebut, berharap mengetahui karyanya adalah hal yang agak sedikit mustahil, karena namanya saja baru didengarnya.

Dan Nicholas sparks? Siapa yang tak tahu pria romantis penulis banyak buku manis tersebut? Tapi Songjin pun tak pernah membacanya.

Hanya tahu karena menonton bersama dengan Kyuhyun dibeberapa kesempatan. The Notebook, a walk to remember, The lucky one, Message in a bottle, yang pada akhir ceritanya selalu mampu membuat wanita itu mengurai air mata, namun lantas mencibir, bahwa pria-pria dalam kisah tersebut terlalu mellow. Mendayu, cengeng. Dan berakhir dengan perdebatannya bersama Kyuhyun. Bahwa Kyuhyun meyakini pria-pria tersebut bukan seperti apa yang Songjin katakan, melainkan hanya bersikap manis kepada wanita-wanita mereka. Sedangkan Songjin selalu tepat pada pendiriannya.

Songjin menoleh lagim menyadari pertanyaannya tidak ditanggapi Kyuhyun lagi sama sekali. Membuatnya sedikit kecewa, namun hal itu tidak membuatnya patah semangat untuk membuat Kyuhyun berbicara kepadanya. mereka telah terlalu lama tak berbicara empat mata secara langsung, tanpa membawa embel-embel pekerjaan.

Songjin lantas mengambil salah satu buku karya Nicholas Sparks dan membawanya kembali bersamanya. Duduk bersila disofa kulit mahal milik Kyuhyun.

Bibir mungilnya mendecah, saat seperti yang telah diperkirakaannya, buku tersebut berbahasa Inggris. Sampai kepalanya meledak-pun, buku ini tak akan dapat habis dibacanya. Tapi matanya menangkap salah satu kata pembuka pada halaman pertama buku tersebut dan senyumannya terurai perlahan. Dia memang tidak memahami bahasa Inggris sebaik itu, tapi jika untuk hal sesederhana ini, otaknya masih mampu mencernanya.

‘To Aille: I love you. I am who I am because of you. You are every reason, every hope, and every dream I’ve ever had, and no matter what happens to us in the future, everyday we are together is the greatest day of my life. I will always be yours. –Noah.’

“always be yours.” Songjin mengulang sedikit kalimat akhir disana. Senyumannya merekah. dia berbicara sedikit kencang, sedikit ingin mengganggu Kyuhyun dengan godaannya. Hanya ingin tahu apakah Kyuhyun masih juga tidak meresponnya. tapi memang benar, Kyuhyun dan lagi-lagi memberikan pemandangan yang sama dan nampak tak perduli dengannya. dengan apapun yang sedang dilakukannya.

Dengan wajah menyeramkan, kening berkerut, alis mata bertautan, Kyuhyun diam, terlihat terlampau serius. Sedikit ragu bercampur takut, Songjin tetap melangkahkan kaki mendekati meja kerja Kyuhyun ditengah ruangan.

Duduk berhadapan dengan pria tersebut dan meletakan buku bawaannya diatas meja. “ada highlight pen?” tangan Songjin terjulur mengadah, dan tanpa banyak bicara, Kyuhyun memberikan apa yang diminta Songjin.

“Always be yours.” Lidah Songjin mengulangnya lagi, lalu terjepit diantara bibir atas dan bawahnya ketika tangannya sibuk mewarnai penggalan kalimat kesukaannya itu dengan highlight berwarna kuning terang.

~~ ~~

Pukul 11:45, Songjin terbangun karena perut yang tiba-tiba saja terasa melilit. Seperti biasa. Matanya memejam untuk menahan rasa sakit itu. Ide Pain killer sialan itu, sudah melintas lagi dikepalanya. Namun kemudian wajah Kyuhyun yang sedang mengamuk lantaran mendapati dirinya meminum pain killer tersebut membayanginya dan segeralah ide bodoh itu pun lenyap.

Songjin meletakan kepalanya diantara lipatan tangan diatas meja. Menyembunyikan wajahnya dari jangkauan siapapun, untuk meringis kuat tanpa ada yang menyanyakan ‘ada apa dengannya’ karena itu akan menjadi terlalu merepotkan.

Entah dalam berapa menit Songjin melakukan hal tersebut, setelah rasa nyerinya hilang, barulah dirinya sadar bahwa ruangan tempatnya berada telah sepi. Lampu meja memang masih menyala. Tapi Kyuhyun sudah tak lagi berada didepannya.

Kyuhyun berada disudut ruangan. Berdiri seorang diri, memandangi jutaan kerlap-kerlip lampu kota yang indah, dengan satu tangan menggenggam gelas tinggi—berisi cairan berwarna merah.

Seperti Kyuhyun yang tak menyukai Songjin meminum tramadol, Songjin pun tak menyukai betapa Kyuhyun begitu mengilai wine. Pasalnya, kebiasaan itu akan menghasilkan penyakit-penyakit aneh karena Kyuhyun pecandu alcohol, pria itu tak bisa mengontrol kadar cairan alcohol yang masuk kedalam tubuhnya.

Walau tentu, seberapapun banyaknya Kyuhyun menyesap alkohol, jarang sekali Songjin mendapati pria tersebut mabuk.

Suara ringtone yang dikenal, dari ponsel milik Songjin meja depan sofa jauh disampingnya membuat keduanya sama-sama menoleh pada arah yang sama. Dua detik Songjin menonton ponselnya berkedip ditengah kegelapan ruangan, satu detik setelahnya lalu naik menatap Kyuhyun yang entah, sejak kapan, sedang menontonnya terkejut seperti itu.

Sadar akan hal tersebut, Kyuhyun seakan malas lalu mengalihkan wajahnya sangat cepat. Menyesap minumannya, dan kembali seperti asik dengan aktivitasnya sendiri.

Bibir Songjin membulat, saat terkejut mendapati begitu banyak panggilan tak terjawab pada ponselnya, berasal dari satu nama saja.

Jadi, sejak tadi ponselnya berbunyi berisik dan dirinya tak tahu karena tidur. Ketiduran lebih tepatnya. Dan Kyuhyun diam saja. Atau Kyuhyun diam, karena merasa terganggu dengan suara deringan itu, sampai akhirnya pria itu memutuskan untuk berhenti bekerja karena konsentrasinya terpecah?

Sekonyong, terlalu banyak pertanyaan yang berputar didalam kepala Songjin.

Songjin segera mereject panggilan berisik itu, dan mengganti mode ponselnya menjadi silent, lalu tak lama jarinya sibuk mengetik. Mengirimkan pesan kepada si penelepon tadi.

Semoga saja setelah ini, Kyuhyun tidak mengomel karena pekerjaannya diganggu oleh suara berisik ringtone ponsel. “Kau sudah selesai, Kyu?”

“kau bisa pergi kalau kau mau pergi.” Bukannya menjawab pertanyaan, Kyuhyun malah Nampak seperti baru saja mengusir. Nadanya Dingin. Pria itu bicara kepada Songjin, namun seperti enggan untuk melihat wajah lawan bicaranya itu. Wajahnya tetap lurus kedepan. “sepertinya dia sudah menunggumu dibawah. Atau kalau belum, minta saja dia untuk menjemputmu. Kau bisa pulang tanpa harus menungguku. Tanpa harus naik taxi. Kau pergi saja. Urusanku masih sangat banyak.”

Setengah terkejut setengah panic, Songjin mengerjabkan matanya puluhan kali memandangi Kyuhyun. Bagaimana dia bisa tahu kalau Shim Changmin yang menghubunginya? Lalu bicara semudah itu seperti mengusirnya, agar wanita itu angkat kaki saja dari tempat ini.

Kalau memang keberadaannya mengganggu, katakan saja terus terang. Kalau memang sejak tadi dia tak ingin Songjin berada disini, katakan saja bahwa dirinya tak perlu berada disini.

Membawa-bawa orang lain dalam pertengkaran mereka, apakah itu adalah kebiasaan pria itu sekarang?

Sepertinya Kyuhyun masih belum dapat menangkap maksud dari apa yang Songjin lakukan, bahwa wanita itu sebenarnya hanya ingin bersama dengannya. Entah apa yang sedang Kyuhyun lakukan, Songjin tidak perduli. Yang diperdulikan wanita itu hanya agar dapat berada didalam jangkauan pria itu saja. Tidak lebih.

Tapi pria itu seperti jengah dan ingin membuangnya. Tapi, seburuk apapun kemarahan Songjin terhadap Kyuhyun, toh wanita itu tak dapat melakukan apapun lagi, selain menghela nafasnya dengan berat, “tapi aku ingin bersamamu. Kalau aku pulang, dirumah juga aku akan sendirian. Aku menungumu disini saja. Aku janji tidak akan berisik. Tidak akan mengganggumu. Tidak akan meminta apapun. Aku janji tidak akan merepotkan. Apa aku boleh tinggal?” Pinta Songjin lengkap dengan wajah mengibanya. memohon.

Wajah Khas yang selalu ditunjukannya saat sedang merajuk kepada Kyuhyun untuk berbagai hal—termasuk pinjaman Black Credit card yang tak pernah didapatkannya hingga kini.

Wajah Kyuhyun semakin menegang. Rahangnya mengeras ketika pria itu berbicara penolakan dengan sangat tegas, “Tidak.” Suara Kyuhyun terdengar dalam dan berat, “pulanglah.”

Seperti ingin menangis ditempat, mata Songjin telah berkaca-kaca. Hal termenjijikan yang didapatinya lagi adalah suaranya yang jika mulutnya dibuka, pasti akan terdengar parau dan itu menggelikan. Dia baru sadar betapa cengengnya dirinya.

“Arra.” Desah Songjin ringan. Merunduk lesu memeluk Kyuhyun dari samping erat selama tiga detik saja. Batas waktu tersingkatnya yang entah bagaimana dirasanya baru saja Kyuhyun berikan saat pria itu sama sekali tak memberikan respon apapun pada sikapnya saat ini.

Kakinya lalu berjinjit, bibirnya berusaha menggapai pipi Kyuhyun untuk meningalkan kecupan ringan—dan dapat dilakukan pada akhirnya, walau dengan begitu susah payah. Mengingat tingginya dan tinggi Kyuhyun. Untung saja lehernya tak langsung patah.

“Jangan Pulang terlalu malam, eo?”

“……….”

~~ ~~

“Ponselmu tertinggal??”

Songjin Nampak terkejut, ketika apa yang Kyuhyun katakan benar adanya. Shim Changmin telah menunggunya dilobby. Tepat didepan pintu berputar kaca gedung mewah perusahaan bernama ‘Millennis’ tersebut.

Dengan jeans, kaus buntung, jaket dan sepatu kets, Changmin terlihat terlalu santai. Dan tampan tentu saja. Sesaat Songjin terpana, mendapatkan Changmin tampak bukan main terlihat seperti model-model dalam billboard-billboard yang sering dilihatnya.

Pria itu sedang tersenyum ramah, namun juga menyelipkan wajah penuh rasa khawatir, ketika matanya melihat Songjin baru saja keluar lift seorang diri, terlihat kesulitan dengan tubuhnya sendiri.

Secepat angin berhembus, secepat itu pula tas selempang Songjin dapat berpindah tangan tanpa disadari wanita tersebut.

Atau mungkin sadar. Terasa. Tapi sedang terlampau terpana menonton pangeran tampan dari negeri dongeng. Hingga pertanyaan Changmin pun diabaikannya sesaat. Hingga pria tersebut, perlu untuk mengulangnya lagi. Hingga Songjin, akhirnya menampilkan wajah Khas Park Songjin yang terlihat nista, “ya?”

Mata Songjin terarah lurus. Hanya pada satu titik saja. Wajah Shim Changmin. Senyumannya membuat kaki Songjin sekonyong melemas. “ponelmu? Aku menghubungimu berkali-kali. Tapi hanya pesan singkat bertuliskan, ‘I’ll call you back’ yang aku dapat, dan aku bahkan sangat yakin kalau kau mendapatkannya dari template ponselmu, bukan kau yang mengetik.” ulang Changmin geli, dan Songjin tersadar.

Kepalanya menggeleng, tapi matanya masih tertutu diwajah itu saja, “ponselku baik-baik saja.” Jawab Songjin lalu seketika sadar, dan mengutuk dirinya sendiri karena telah bersikap tak keren sama sekali, dan menjatuhkan harga dirinya hingga tertangkap basah sedang menganggumi terlalu heboh, pria dihadapannya. “bagaimana kau tahu??”

Changmin tertawa, mendapati Songjin tampak seperti baru saja kerasukan makhluk astral. Terlihat kosong baik wajah maupun pandangan mata. “yeah, aku ingat ceritamu dulu pada bagian ‘aku tak bisa berbahasa asing’ dan Kurasa kau masih seperti itu.” Tutur Changmin teratwa. Mengacak rambut Songjin dan mengamit lengannya untuk berjalan bersama keluar gedung, “mobilku diseberang sana. Kau masih sanggup jalan sebentar kan???”

“kalau kubilang tidak?”

bahu Changmin bergerak pelan, “aku akan menyewakan jasa gendongan—“

wajah Songjin memanas. dia merasa malu, tapi juga senang karena alasan tak masuk akal. dia sering dipuji. Kyuhyun pun sering memberikannya pujian. iyakan? atau.. kadang-kadang. yeah– apapun itu.

Tapi sudahlah, persetan dengan hal itu. semuanya berinti sama. memuji. dan rasanya dipuji memang selalu memiliki sensasi mendebarkan dan menyenangkan.

Keduanya berjalan bersama menuju tujuan mereka dengan kekehan dan beberapa ledekan yang saling dilemparkan. terlihat senang. Berbanding terbalik dengan seseorang didalam ruangannya, yang sedang berdiri tegap seorang diri seperti patung pahatan, tugu selamat datang.

Tenang, diam, dan tak berekspresi. Gerakan pertamanya muncul, ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya. Ketika itu kepala seorang pria menyembul dari balik pintu kayu dengan warna putih gading tersebut.

Pria berseragam gelap dan topi, dengan tubuh tegap dan mata sipit hanya satu garisnya saja itu membuka mulutnya, “mereka sudah pergi, sir.” Lapor penjaga keamanan gedung tersebut kepada Kyuhyun.

“ya.” Kyuhyun memutar kaki gelas tingginya kesana kemari. Gelas tersebut telah kosong sepenuhnya, jadi dipelintir seperti apapun, tak akan ada air yang mengotori karpet berbentuk bulu berharga fantastis itu. “terimakasih.” Kepala Kyuhyun mengangguk hormat—atas dasar bahwa penjaga keamanan itu berusia lebih tua darinya. Tapi wajah serta tingkah tanduknya, tak ada yang dirubahnya.

Praktisnya, Kyuhyun tampak.. kosong.

Pendingin udara diruanganya kini terasa terlalu dingin. Tak seperti sebelumnya, ketika Songjin masih berada didalam sini. Terasa cukup nyaman. Walau masih sama dinginnya.

Kyuhyun lantas membuang wajahnya kesamping, pada sofa yang tadi sempat Songjin tempati beberapa saat dan meja kerjanya, tempat tidur dadakan Songjin, lalu tampak terkejut, ketika melihat sebuah post it berisikan gambar dan tulisan tangan Songjin untuknya.

Tentu saja untuknya. Ini ruangannya. Awalnya Kyuhyun sempat curiga jika saja itu bukan untuknya, tapi namanya tertera diakhir kata goresan highlight Songjin. Dan persetan dengan semua pikiran kejamnya, hal sederhana itupun dapat membuatnya langsung mengembangkan senyuman. Sesaat.

‘Grumpy Kyu~ 😦 ’

~~ ~~

 

Sepanjang perjalanan dari kantor menuju rumahnya, Songjin terus duduk tegap dengan tangan memainkan ponsel. Dia memiliki sebuah rencana, tapi tidak tahu, bagaimana cara menjalankannya.

Untuk ulang tahun Kyuhyun.

Idenya sudah tertanam sejak berminggu-minggu sebelumnya. Tapi dengan alasan yang sama, dia sering mengabaikannya. Dia tidak tahu bagaimana cara menjalankannya. Tepat, benar-benar tak tahu.

Kuluman lidah Songjin berakhir, ketika mobil yang dinaikinya, tengah berjalan cepat dan akan memasuki salah satu dari dua jalan terpecah. Dua arah yang berbeda. Seketika itu pula, Songjin menarik lengan jaket kulit Changmin, “tahu The Mendacium apartement?”

Changmin membuat keningnya berkerut sesaat, namun lantas tersenyum, “aku masih ingat tempat tinggalku sendiri—“

Untuk sesaat, Songjin tampak terpana. Terkejut karena fakta lain yang didapatkannya. Bahwa Changmin berada diapartement yang sama dengan apartement yang akan ditujunya kali ini.

Tapi rasa terkejutnya tidak lebih besar daripada rasa penasaran bagaimana dia dapat menjalankan misinya untuk memberikan kejutan sederhana bagi Kyuhyun besok.

Besok adalah hari ulang tahun Kyuhyun.

“bisa antar aku kesana?”

Changmin tertegun, “ke apartementku??” ulangnya tampak terkejut, namun lalu Songjin menggeleng cepat, “bukan. Ya. Maksudku.. aku harus bertemu seseorang disana. Bisa.. antar aku kesana??”

~~ ~~

“Kau gila, huh? Kau mau aku mati dicekik Kyuhyun??” Eun Soo terkejut. Wajahnya tampak panic, tapi gerak tubuhnya tetap sama seperti semula. Tanpa pergerakan bombastis ala-ala seseorang terkejut. Atau bahkan panic.

Songjin mendatanginya ditengah malam. Bercerita, lantas meminta bantuannya. Rencana Songjin untuk membuat kue mungkin dapat dipahaminya. Eun Soo paham, bahwa memang benar, hadiah yang dibuat oleh tangan sendiri, memiliki nilai artistic, dan gambaran kesan manis lainnya. Akan terasa lebih special.

Lalu paham bahwa Songjin tak bisa memasak. Sama sekali. Itu adalah permasalahan kedua. Tidak tersedianya bahan, itu permasalahan ketiga. Dan mengacak dapurnya, itu permasalahan keempat.

Tapi dari keseluruhan permasalahan yang ada, bukan itulah permasalahan inti mereka. Sedangkan Songjin terus mengiba dengan matanya bagai anak anjing— yang tak bisa dilewatkan oleh pria manapun, Shim Changmin sedang nampak tercengang. Sedikit tak percaya, bahwa tempat yang didatanginya, adalah apartement milik model terkenal sekelas Kim Eun Soo.

Wanita yang sering dilihatnya dimajalah, televisi, atau papan papan reklame super besar dipinggiran jalan tengah kota. Yang paling membuatnya tercengang lagi adalah, dia baru saja mengetahui kalau tempat tinggalnya hanya berbeda lantai saja dengan wanita berwajah arogan namun tampak luar biasa cantik ini.

“apa yang harus aku katakan kepada Kyuhyun? Berkata bahwa ‘Songjin ingin menginap ditempatku karena kami memiliki beberapa hal yang harus kami urus?’ lalu kau pikir Kyuhyun akan percaya begitu saja? Membiarkanmu bermalam ditempatku tanpa ingin mencari tahu, apa sebenarnya urusanmu denganku itu sebenarnya? sampai kau bermalam ditempatku? Dengar, aku memang tidak menyukainya jika dia sudah bertingkah karena dia akan berubah menjadi pria menyebalkan, tapi aku tidak akan mengabaikan kecerdasannya yang menganggumkan itu. Dia tidak sebodoh itu untuk ditipu! Dan dia akan menjadi berlebihan—sangat berlebihan, jika sudah berurusan denganmu, jadi aku malas berurusan dengannya kalau sudah menyangkut tentang dirimu!”

Jemari lentik Eun Soo mengibas. Kukunya yang panjang, berkilat terkena sapuan cahaya lampu ruang santainya. Eun Soo terlihat seperti kepayahan karena berbicara sangat panjang kepada Songjin hanya dengan satu tarikan nafas saja.

Karena itulah mungkin, setelahnya wanita dengan tinggi mencapai 178 itu hanya diam tanpa berbicara apapun saat Songjin lagi-lagi mencari perhatiannya dengan merapatkan dua telapak tangannya lalu memberikan pandangan khas ‘anak anjing’ sialan itu.

Eun Soo mendesah sambil mengerang. Mengibaskan rabut panjangnya— “kau terlalu mendadak. Kenapa tidak sejak kemarin? Kalau kau berkata kemarin, mungkin aku masih bisa memikirkan bagaimana caranya. Tapi kalau seperti ini? aku bukannya tidak ingin membantu. Tapi bayangkan saja sendiri bagaimana reaksi Kyuhyun saat dia sadar kau tidak ada dirumah malam ini?”

Songjin mengendurkan bahunya. Rencananya memang seperti itu. Tapi kesibukannya itu yang membuat rencananya selalu mundur dan mundur untuk dilakukan.

Kemarin konferensi. Lalu datang ke rapat satu dan lainnya, belum lagi mengurus ini dan itu. Menata Jadwal si pria pemarah itu dan mengikuti kemana pria itu pergi. Itu terlalu merepotkan dan melelahkan untuknya.

Pandangan Songjin lantas menyingkir, dari Eun Soo—menuju Luke dimeja makan—tak jauh dari sofa, tempat Changmin, Eun Soo, dan Songjin berkumpul. Luke yang tak tahu menahu tentang apapun itu langsung tersedak ditengah malam malam super terlambatnya.

Sepulang kerja, kini Luke lebih sering berkunjung keapartement Eun Soo untuk meminta wanita itu membuatkan sesuatu baginya. Tak jarang juga pria kaukasian itu bermalam, jika memang dia sudah terlalu malas untuk angkat bokong dari tempat tinggal adiknya itu. “don’t ask me—“ tangan Luke melayang diudara. Kedua-duanya, seperti buronan yang baru tertangkap basah. “I don’t know anything.”

“ I know you are.” Mata Eun Soo berputar bersama dengan rasa jengah kepada pria tampan tersebut, “just.. shut up and eat.” Wajah angkuh Eun Soo mulai terlihat lagi. Dan Changmin tampak menikmati permainan ekspresi serta berbagai cara Eun Soo berbicara, atau menggerakan tubuhnya.

Sampai sekarang dia masih sedikit bernorak ria dengan bersikap tak percaya bahwa Kim Eun Soo berada dihadapannya. Kediamannya, hanya berjarak 5 lantai lebih tinggi dibandingkan lantainya. Rasanya masih sedikit tidak masuk akal.

“excuse me, are you okay?” menyadari dipandangi secara tak biasa saja, Eun Soo menjadi risih dan pada akhirnya menegur dengan intonasi tak mengenakannya. Dia memang menyadari bagaimana cara Shim Changmin menatapnya, tapi sejak tadi, dia tak terlalu memerdulikannya, tapi tentu saja, terlalu lama didiamkan membuatnya tak nyaman.

“ne? Ah? Oh.. yeah. I’m good.” Angguk Changmin tampak gugup, tertangkap basah sedang memperhatikan Eun Soo lekat. Sedangakn Eun Soo masih merasa risih dengan keberadaan Changmin disekitarnya.

Wajahnya lalu membentukkan guratan berbeda ketika kini aktivitasnya malah berganti seperti Changmin yang tadi mengamatinya secara diam-diam. Tapi Eun Soo tidak melakukannya secara diam-diam. Wanita itu lebih memilih untuk melakukannya terang-terangan. Teramat jelas. Wajahnya melukiskan gambaran angkuh bercampur rasa tak suka yangbenar-benar tidak bisa ditutupinya lagi. Alisnya saling beratutan, seperti sedang berfikir keras, “who are you?” tanyanya lengkap dengan nada sarkas.

“huh?” sesaat, Changmin seperti linglung. Tak disangkanya, Kim Eun Soo dapat bersikap ‘tajam’ tak hanya dengan Songjin saja. Namun pun dengannya. “her friends.” Dagu Changmin menunjuk Songjin disisinya. Seperti untuk menegaskan pula, bahwa wanita disisinya itulah yang mengajaknya kemari. Bukannya dirinya yang merengek untuk ditunjukan, dimana letak tempat tinggal model terkenal yang namanya baru saja naik daun itu??

Alis Eun Soo perlahan naik. tinggi dan semakin meninggi. Dengan hanya satu alisnya saja yang terangkat seperti itu, itu membuat Eun Soo tampak seperti nenek sirhir jahat dalam serial wicked. Sayang tak ada warna hijau diwajahnya, “Her friends?” nada sarkasme itu kembali terlontar.

Mungkin kini lebih bercampur dengan ironi, dan aroma retoris.

“kau tahu Songjin, mungkin kau bisa meminta tolong Siwon untuk memberi tahu kepada Kyuhyun. Seperti.. kau bermalam ditempatnya. Itu lebih masuk akal dan kukira Kyuhyun tidak akan rewel. Ketimbang kau mengatakan kau bermalam disini. Apa dia tahu rencanamu ini? maksudku.. bermalam diluar rumah.”

Songjin terdiam. Kepalanya menggeleng menjawab pertanyaan Luke. dan Changmin nampak lebih terkejut karena tak menyangka bahwa pria lain didalam ruangan ini, yang sama sekali tak memiliki wajah ataupun terlihat memiliki kemungkinan dapat berbahasa korea secara fasih, berbicara dengan amat amat sangat lancar—bahasanya.

“aku baru mengatakan ini sekarang dengan kalian.”

“kalau begitu.. itu saranku.” Bahu Luke bergidik. Bibirnya menyunggingkan senyuman tulus, lalu pria itu segera meneruskan aktivitasnya, menghabiskan makan malamnya, sereal cokelat dengan susu melimpah ruah.

Tak lama Eun Soo ikut terdiam. Lama berfikir, wanita itu pun akhirnya mengangguk, dan anggukan tersebut menjadi semakin meyakinkan saja, “Yeah. Kurasa Luke ada benarnya. Kau bisa melakukan itu. Lalu kita baru bisa melakukan apa yang ingin kau lakukan. Tapi aku tidak akan melakukannya kalau nanti Siwon menolak. Pahamilah posisi Kyuhyun Songjin, dia hanya tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu.”

~~ ~~

Nafas Kyuhyun terdengar begitu teratur, ketika pria itu masih terlelap lemas diruangannya. Sofanya yang empuk, sepertinya sangat cocok menjadi tempat tidur dadakan bagi pria bergolongan darah A tersebut.

Namun tidur lelap tak sengajanya itu, disudahi oleh deringan ponselnya didalam genggaman tangan. Entah apa maksud pria tersebut, tidur berteman ponsel. Namun seperti mendapatkan keuntungan dari hal tersebut, Kyuhyun dapat langsung meletakan ponsel tersebut disamping telinganya.

Tubuhnya masih terbujur lemah diatas sofa. Wajahnya tampak lelah. dan nyawanya belum kembali seutuhnya masih melayang-layang membuat keputusan, apakah akan kembali atau tidak. “Kyu~”

“hmm??”

“kau.. dimana?” Siwon seperti paham, dan dapat mengira bahwa keberadaan Kyuhyun bukanlah dirumahnya. Disuatu tempat diluar rumahnya. “kantor…?” lalu tebakannya menjadikan dirinya tampak seperti cenayang yang dapat mengetahui tanpa melihat.

Sedang Kyuhyun mengangguk, tanda membenarkan—namun mulutnya tertutup. Lupa bahwa percakapan mereka adalah melalui telepon yang hanya memberikan suara saja. Bukan gambar.

Dia kemudian mengeratkan jasnya sebagai selimut dadakan, saat merasa udara terlalu dingin menyapu tubuhnya. “wae Hyung?” suara Kyuhyun terdengar lemah. Tepat seperti seseorang yang sedang memaksakan hidup ketika takdirnya adalah untuk tidur.

Siwon terdiam. Tak ada suara apapun dari seberang, yang malah membuat Kyuhyun semakin tenang untuk melanjutkan tidurnya. Suara deheman, membersihkan kerongkongan membuat 5% dari 100% nyawanya kembali. “Songjin..”

Hanya menyebutkan nama wanita barbar itu saja, lantas nyawa Kyuhyun berangsur kembali 45% banyaknya. Matanya kini dapat terbuka walau masih mengerjab-kerjab karena merasakan silau, sorot lampu dari lampu meja di meja kerjanya.

“ya?”

“dia bermalam ditempatku.”

Kyuhyun kini terbangun seutuhnya. Pria itu merubah posisi menjadi duduk. Disandarkannya tubuh tegapnya dipunggung kursi. Menguap. Mengacak wajahnya hingga kini sepenuhnya, matanya tak lagi merasakan silau hanya karena terkena sedikit terpaan silaunya lampu. “dia dan Gyuwon, memiliki hal yang mereka akan lakukan bersama. Aku tidak mengerti apalah itu.. urusan wanita— apa itu tidak masalah? Dia akan kembali besok pagi-pagi dan tetap bekerja seperti biasa. Jangan khawatir.”

Kyuhyun diam. Dia tidak ingin berkata tidak dan terlihat seperti pria pengekang, yang melarang ini dan itu, tapi melakukan perang dingin dengan Songjin saja sudah terasa sulit untuknya.

Lalu ketika wanita itu memutuskan untuk pergi setelah dirinya sendiri memang yang memerintahkan, pun rasanya sangat tidak nyaman. Praktisnya, baginya berada jauh dari Songjin memang terasa sama tak tepat. Banyak hal yang tampak ganjil.

Seperti jika malam nanti dia kembali, akan memeluk siapa saat tidur nanti? Seperti pagi hari ketika terbangun, tidak ada morning kiss—atau keributan pasca morning kiss. Itu bukannya aneh?

“terserah saja.” Tapi kemudian kyuhyun menyingkirkan perasaan ketergantungannya itu seperti meniup tumpahan debu diatas meja. Ingatan akan keributan terakhirnya dikamar mandi di minggu pagi itu masih terasa begitu nyata.

Jika mengingat itu, dia terus-terusan merasa sebal karena merasa, posisinya tampak terabaikan. Tak berarti.

“Dengar, aku tidak memaksa. Kalau kau bilang tidak, dia akan pulang mal—“

“Tidak. Tidak. Terserah saja. Itu urusannya. Terserah” setengah sebal setengah jengah, bercampur dengan perasaan tulus bahwa dia memang benar mengijinkan Songjin untuk bermalam bersama Siwon dan Gyuwon, tapi juga merasa sebal karena wanita itu meningalkannya, semuanya bercampur menjadi satu didalam kepala Kyuhyun hingga suara yang dihasilkan, terdengar bagai mencibir. Sinis dan kasar.

“kau yakin?”

Tidak.

Tentu saja tidak. Tapi pernikahan adalah kompromi. Jadi bersikap egois, hanya akan memperburuk keadaan. Mungkin saja yang dimaksud dengan urusan wanita antar Gyuwon dan Songjin adalah saling bertukar cerita mengenai masalah yang sedang mereka hadapi kini.

Mungkin itu karena, Songjin masih belum dapat menceritakannya kepada Kyuhyun, tapi wanita itu membutuhkan seseorang sebagai seorang pendengar, karena menyembunyikan sendiri perasaan tak enak serta rahasia besar seperti itu—terlalu membuatnya lelah.

Mungkin itu karena dirumahnya tak ada satupun wanita lain yang dapat Songjin ajak bercerita bertukar pikiran. Mungkin.

Hanya sebatas itu yang dapat Kyuhyun simpulkan dan perbuat. Lagipula, toh malam ini dia tidak benar-benar berencana untuk pulang. Suasana dirumahnya pun sedang memuakan untuknya. Karena itu tadi, dia tidak dapat menjanjikan apapun ketika Songjin melarangnya untuk pulang larut.

“ya.” Kyuhyun menjawab setelah berdehem membersihkan kerongkongan. Mengambil waktu dua detik untuk berfikir apakah dirinya yakin, dapat tidur nyenyak tanpa memeluk guling langganannya, kalau nanti dia memutuskan pada akhirnya untuk pulang—lalu tak mendapati wanita barbar itu disana.

“baiklah. Ada yang ingin kau sampaikan dengannya?”

seketika itu Kyuhyun langsung menggeleng untuk menolak. Jangan salah kaprah, yang ingin dibicarakannya dengan wanita itu sangatlah banyak. Tapi untuk berbicara saat ini, dia merasa tak yakin dapat melakukannya tanpa membuat salah satu dari mereka mulai membentak—yang akan diakhiri dengan tangisan Songjin, seperti bisa.

Itu terdengar sebagai ide yang buruk baginya. Maka kepalanya menggeleng, “tidak. Tidak ada.”

Maka setelah itu, percakapan hangat antar Siwon dan Kyuhyun berakhir canggung. Siwon yang sadar bahwa kedua adiknya itu sedang tak ‘sejalan’ tidak ingin terlalu mengurusi, walau tampak gatal, ingin menarik keduanya.

Mendudukan dimeja yang sama dan mulai menyidang. Membuat apa yang sebenarnya sedang diributkan itu selesai.

~~ ~~

Songjin girang setengah mati saat Eun Soo mengatakan bahwa Siwon berkata, Kyuhyun mengijinkannya bermalam disana. Dimanapun itu sebenarnya, Kyuhyun tak tahu jika tidak ada satupun dari mereka membuka mulut.

Namun Eun Soo tidak mengatakannya secara utuh. Bahwa sebenarnya Siwon berkata, Kyuhyun terdengar tak begitu yakin. Tapi toh, walau begitu pria itu mengijinkan. Sebenarnya bukan mengiyakan. Hanya sebuah kesimpulan sederhana saja yang bisa disimpulkan setelah jawaban menggantung Kyuhyun tadi.

“He said whatever.” Bisik Eun Soo kepada Luke. “I guess they were arguing this time.”

Luke menggidikan bahunya. “like always.” Menyadari bahwa pasangan muda itu, dimatanya tak pernah terlihat tidak bertengkar. Walau sebanyak itu pertengkaran mereka, sebanyak itu pula kemesraan yang terlihat. Tapi tetap saja. Tampak aneh jika dimenit pertama mereka seperti sedang saling mengacungkan kampak, lalu dimenit ketiga mereka tertangkap basah berciuman panas.

Terdengar sedikit tidak masuk akal. Tapi Luke membuat dirinya kembali ingat, bahwa cinta memang kadang tidak masuk diakal.

“I think I know what the reason is.”

Mata keduanya kini mengarah kepada Changmin yang sedang duduk bersama disofa bersama Songjin. Membaca sebuah buku resep—kue tart. Songjin teramat penuh obsesi untuk membuatkan Kyuhyun seloyang kue tanpa adanya kerak hitam yang membuat kue itu terasa pahit.

Itulah alasannya mendatangi Eun Soo. Yang diketahuinya, Eun Soo pandai memasak. Walau Eun Soo terus berkata, pandai belum tentu mahir. Dan membuat kue, hanya pernah satu kali dilakukannya dulu bersama ibunya.

Praktisnya, jika anak dan ibu memasak bersama, biasanya sang anak akan berada diposisi sama sibuk dengan sang ibu. Iya, sibuk memakan.

Maka sebenarnya, kali ini Eun Soo tampak sedikit tak yakin, akan membantu atau tidak. Kemampuannya tidak secanggih itu.

“that hunk~” tawa Eun Soo lepas seketika. Mendapatkan pelototan tajam dari Luke Karena baru bersikap seperti wanita nakal dengan para pria. “what?” Eun Soo mengerjabkan matanya, “he’s hot and you know that right?”

Luke mengangguk santai. Menghela nafasnya sambil merogoh saku mengeluarkan ponsel, “yeah, and what about another hot hunk in your next door?”

Seketika itu Eun Soo menggeram jengkel. Matanya berputar 180 derajat lengkap dengan ekspresi ‘kenapa nama itu harus lagi melewati telingaku’ yang memiliki sensasi membosankan untuknya. “shut up.” Bibirnya mendesis, saat bokongnya terangkat, dan kakinya bergerak menghampiri Songjin dan Changmin.

“Oh yeah sure, baby. Sure.” Luke menyembunyikan senyum gelinya menggodai Eun Soo. Senang melihat raut jengkel diwajah adik semata wayangnya itu.

look—Songjin,” Eun Soo melengok didepan Songjin, bertolak pinggang sebelum merampas buku resep kue ditangan Songjin, “honestly, I’m not that expert making a cake, or any food—but uugh” dua tangan Eun Soo tiba-tiba mengepal. Wajahnya memerah dan mengencang, “whatever!” Eun Soo megerang. Sebal sendiri karena masih mengingat bagaimana Luke membuatnya akhirnya terbayang wajah ‘another hot hunk’ tetangganya itu.

“Eonni~” Songjin Nampak ketakutan. Dengan geraman kencang begitu, Eun Soo terlihat seperti Dr. Bruce Banner yang sedang akan bertranformasi menjadi hulk.

Eun Soo menarik nafasnya dalam, lalu mengeluarkan perlahan-lahan. Matanya memejam. Dia berusaha mengingat banyak gerakan yoga, yang membantunya dalam mengontrol emosi. “I’m okay.” Ujarnya. Disambut kekehan Luke kencang, “you sure baby?

“LUKKKEEE!!” kaki jenjang Eun Soo menghentak-hentak. Sedangkan Luke tertawa penuh kepuasan. Sampai akhirnya Eun Soo mau mengakui apa yang disangkalnya sendiri, sepertinya Luke akan terus mengerjai model terkenal itu.

“okay. Listen, first, we need the ingredient. Tepung, telur, blablabla.. kurasa aku memiliki beberapa bahannya, tapi tidak semua, jadi kita harus membelinya. Kau sudah menentukan apa yang ingin kau buat?”

Songjin mengangguk dan menunjukan sebuah kue berwarna cokelat dengan menghungus tegak, lengkap dengan gambar lelehan cokelat ditengahnya. Seketika itu Eun Soo menepuk keningnya, “kau terlalu tinggi berkhayal—bocah ingusan.” Serunya nyaris frustasi.

Dan menjadi semakin frustasi ketika Songjin terus-terusan menunjukan gambar kue yang agak—terlalu—membuat kepala pecah jika dibuat hanya dengan judul ‘coba-coba’ dalam waktu satu malam saja seperti saat ini.

“bagaimana kalau ini?” Eun Soo menunjukan sebuah gambar kue berwarna putih, “he likes white, right?”

“biru.” Ralat Songjin.

“kita bisa mengganti warnanya menjadi biru, kalau kau mau.”

“tapi.. apa itu tidak terlalu… biasa?” Songjin mengernyitkan wajah. Memandangi gambar tersebut seakan ragu untuk membuang waktu berharga semalaman, hanya untuk membuat kue dengan bentuk tak mengesankan sama sekali.

Eun Soo mengacak wajahnya entah telah keberapa kalinya. Luke hanya dapat tertawa menonton bagaimana Songjin pun dapat membuat Eun Soo menggila. Atau lebih tepatnya, Eun Soo tampak seperti wanita yang sedang akan datang bulan.

Tapi kalau bukan, memang seperti itulah Kim Eun Soo. Penuh sarkasme lengkap dengan tambahan perasaan jengah yang selalu dapat muncul jika menemukan hal-hal yang tidak dianggapnya tepat.

“Hey, aku ini pemula!” Luke mengangguk mengamini pernyataan Eun Soo. “dia hanya memasak saat moodnya datang saja. Kau lihat apa tadi menu makan malam yang dia sediakan untukku. Jadi karena sekarang dia setuju membantumu, kau harus merasa berbahagia Songjin—“ Luke menimpali.

“arrasseo.” Songjin mendesah. Pada akhirnya dia merasa putus asa juga dan kemudian setuju.

Sudah bagus kue yang akan dibuatnya nanti tidak hanya dibuat dengan campur tangannya saja karena kalau iya, sudah akan dipastikan, tertebak, bagaimana rasa dan bentuknya.

Setelah Eun Soo memerintahkan Songjin mencatat bahan-bahan yang dibutuhkan, keduanya bersiap untuk pergi ke swalayan 24 jam yang terletak tak jauh dari apartement the Mendacium.

Eun Soo memberikan jaket super tebalnya kepada Songjin. Sedangkan dirinya sendiri hanya menggunakan jaket tebal biasa dan sandal flip flop. Sangat tidak pantas, jika dilihat, sebagai model papan atas, bergaya seperti gelandangan, “kakiku bisa buntung kalau 24 jam memakai heels terus, kau tahu?” dengus Eun Soo menyadari pandangan Songjin dan Changmin Nampak sama.

Tertulis jelas, penuh dengan pertanyaan ‘kenapa dan bagaimana bisa’. Hanya karena dirinya seseorang terkenal, bukan berarti dalam kurun waktu 24 Jam hidupnya akan selalu tertuju untuk karirnya saja kan?

Kadang bergaya seperti gelandangan untuk sesaat terasa menyenangkan. Persetan dengan apa kata orang.

“you’re not come in, baby?”

“I’m here. Make sure that everything’s all right.” Luke tersenyum miring. Membuat Eun Soo mendecah ringan bersama dengan Songjin seketika. “boys will be boys.” Eun Soo berkomentar gamang sambil berlalu. Tak memerdulikan lagi apa yang Luke akan lakukan.

Paling nanti sekembalinya mereka, Luke sudah tidur seperti babi dikamarnya. Atau tertidur disofa dengan televisi menyala. Pemandangan sehari-hari.

“is he your boyfriend?” Changmin yang sejak tadi terlampau penasaran akan hubungan Luke dan Eun Soo akhirnya membuka suara. Bertanya. Menggebu. Namun lagi-lagi seperti tak suka, Eun Soo membalas pandangan polos Changmin seperti ingin menusuknya. Mencincang tubuhnya dan membuang tubuhnya ke sungai amazon agar dimakan ikan piranha.

Entah bagaimana, tanpa alasan yang jelas, Eun Soo tidak meyukai Changmin. Sejak awal kedatangan pria itu ketempatnya. Mulai memandanginya seperti seorang pria mesum. Lalu bertanya-tanya banyak hal.

Mengganggu.

“is that your business?” Tanya Eun Soo sinis. Melirik Changmin dari sudut matanya tajam, “or actually, it was your job.” Eun Soo semakin menyelipkan nada ketidaksukaannya pada Changmin terlampau nyata. “bothering others?”

~~ ~~

kejadiannya terjadi sangat cepat. Malam itu, tepat pukul 01:00 dini hari, ketika Kyuhyun sedang berkendara pulang. Pria itu berhenti pada sebuah cart bar untuk membeli beberapa botol soju.

Seorang diri ditengah malam bukanlah hal yang aneh. Disekitarnya terdapat pria-pria lain, yang sepertinya sedang bernasib sama dengannya. Tersingkirkan.

Awalnya Kyuhyun sama sekali tidak merencanakan untuk pulang, tapi kemudian dia mendengar suara petir yang menyeramkan. Sepertinya, malam ini akan terjadi hujan yang cukup deras.

Hanya karena alasan sederhana itu sajalah alasannya pulang. Takut jika sewaktu-waktu, mungkin Songjin membutuhkannya mengingat wanita itu dan petir, tidak pernah memiliki hubungan yang akur.

Tapi kemudian, rencananya pulang malah menjadi malapetaka baginya. Tubuh Kyuhyun seperti baru disambar petir yang sedari tadi mengganggu ketenangan malam kota Seoul.

Seperti seember es, baru saja ditumpahkan ketubuhnya begitu saja, saat dia melihat seorang wanita, dengan perut besarnya berjalan menuju swalayan 24Jam bersama pria yang tampak tak asing baginya.

Seingatnya, Siwon berkata tadi bahwa Songjin bermalam ditempatnya. Urusan wanita.. entah itu apa. Berusaha menyingkirkan pikiran kotornya, tapi Kyuhyun melihatnya semakin jelas, karena swalayan 24Jam itu berada tepat diseberang depan cart bar yang disinggahinya.

Jika Siwon berbohong padanya, itu memang mengesalkan, tapi apa alasannya? Kenapa pria itu tega membohonginya dan sekarang, membuatnya melihat dengan jelas Songjin yang seperti sedang berkencan dipagi buta seperti ini.

Dengan pilihan tempat yang tak keren sama sekali.

Changmin tampak berhati-hati memegangi Songjin, agar wanita itu tak terjatuh karena jalanan yang licin. Cara Changmin memegangi Songjin, sama seperti caranya memegangi Songjin ketika mereka sedang berjalan bersama setiap saat.

Atau, itukah hanya sebuah ilusi bahwa sebenarnya, Changmin melakukannya dengan lebih baik?

Entahlah, hati Kyuhyun terasa bagai baru tertohok, menimbulkan luka dan lalu luka tersebut diberi garam. Rasanya, seperti baru saja ada seseorang yang menendang dadanya sampai dia merasa sulit untuk bernafas.

Lucu. Matanya panas. Tapi tidak ada air satupun yang keluar. Hanya tangan yang dirasanya semakin kecang dan mengencang, digunakannya mengepal. Giginya bergemeretak.

Satu hal yang diketahuinya pasti, bahwa besok, saatnya dia menghajar salah satu dari deretan nama-nama yang telah terdaftar didalam kepalanya saat ini. menghajarnya sampai habis, tanpa perlu meminta penjelasan lagi, mengapa.

Semuanya telah terlihat sangat jelas baginya.

~~ ~~

“AAAAA NOOOO!! NO NO NO NO!!” lagi-lagi Eun Soo menjerit. Menjerit ketika Songjin begitu polosnya memasukan tambahan pengembang kedalam adonan kue-nya.

Tapi terlambat. Adonan itu sudah dimasukan. Telah bercampur kedalam adonan yang sedang dimixer.

“kau sudah memasukannya tadi, kenapa kau masukan lagi??” erang Eun Soo berputus asa. Sekarang barulah dia mengerti, mengapa Kyuhyun sering berkata, bahwa bencana adalah, ketika Park Songjin memasuki dapur. Ketika wanita itu mencoba bereksperimen. Ketika wanita itu sendirilah yang membuat eksperimennya hancur.

Eun Soo memandangi adonan dalam mixer otomatisnya sedih. Dia sedang membayangkan, akan menjadi sebesar apa kelak kue ini nanti. Dia sama sekali tidak ingin ikut campur tangan dalam pembuatan kue ini.

Songjin berkata bawa dia ingin memberikan kejutan berupa kue cantik untuk Kyuhyun, kalau begitu itu artinya satu-satunya yang berhak bekerja adalah Songjin dan sisanya, hanya sebagai pendamping.

Sebenarnya, Eun Soo dapat menangani semua ini seorang diri. Cerita Kyuhyun tentang bagaimana Songjin membuat dapur menjadi kandang sapi jika wanita itu telah memasak tidak sepenuhnya ditemui Eun Soo.

Atau mungkin, itu karena wanita itu selalu mengingatkan untuk melakukan apalagi selepas hal yang sedang Songjin lakukan saat itu. Jadi acara masak memasak Songjin, tampak terskema dengan baik. Eun Soo terlihat seperti seorang coach. Dan Songjin pemainnya.

Maka dengan wajah terstel angkuh serta sebal, Eun Soo mengalihkan wajah kecounter dapurnya. Didekat situ, terdapat meja makan. Terdapat dua lelaki yang menempati.

Luke memiliki alasan mengapa pria itu disini. Pria itu tamunya. Dia memang bermalam disini. Sudah tak perlu dibahas panjang. Tapi Changmin? Dia sama sekali tidak melakukan hal lain kecuali duduk diam menonton dirinya dan Songjin sibuk berkutat didapur. Entah apa yang didapatinya dari hal membosankan seperti itu.

“what are you doing here, actually?” Sambil mengaduk mentega dan cream, Eun Soo melayangkan pertanyaannya kepada Changmin.

Mendapat pertanyaan semenusuk itu, ternyata tak membuat Changmin merasa tak nyaman, apalagi tertampar. Bahwa yeah, sebenarnya pertanyaan itu pula terdapat didalam benak Luke. tapi Luke masih dapat mengontrol mulutnya saja, hingga sejak tadi, pria itu lebih memilih untuk mencemili snack Eun Soo. Buah-buahan dari dalam kulkas wanita berkaki jenjang itu.

Changmin menggosok tengkuknya. Tersenyum malu-malu dengan wajah yang bagi Eun Soo tampak benar-benar menjijikan, “aku tidak baru memujimu kan? reaksimu benar-benar aneh.” tanggapnya menggelengkan kepala.

“aku hanya.. entahlah— seperti mimpi melihat orang yang selalu kulihat wajahnya dipapan reklame itu muncul didepan mataku.”

“eh?” Luke dan Eun Soo sama-sama terlihat terkejut dan… terkejut. Sedang Songjin, sedang sibuk menakar tepung lagi diatas takaran timbangan, untuk membuat adonan lain.

Dia merencanakan untuk membuat kue tart bertingkat 2. Dengan segala filosofi yang sempat dijelaskannya kepada Changmin, Eun Soo dan Luke, namun tak satupun dari ketiganya yang mampu menangkap maksudnya.

Ketiganya membiarkan Songjin dengan filosofinya khas Park Songjin—yang absurd dan tampak membuat sel-sel diotak pingsan sesaat karena telah berusaha bersusah payah mencerna maksud wanita tersebut.

“aku meihatmu ditelevisi. Saat kau di London ketika itu. Kau tampak sangat cantik.” Puji Changmin. Eun Soo sendiri tak Nampak tersipu walau telinganya baru saja mendengar dirinya dipuji seperti itu.

Tangannya malah mengibas, dan mulutnya menggerakan sahutan, “I know” untuk menanggapi pujian tersebut pernuh percaya diri.

“kau benar-benar sangat cantik, Eun Soo. Sama seperti Ibumu. Aku tahu Ibumu. Kalau kau mau tahu, kami pernah bekerja sama untuk membuat butik ditempat tinggalnya. Aku fansnya sejak saat itu, dan sejak saat itu, aku sering mencari informasi tentangnya, atau kau sendiri. Dan kenapa sekarang dia tinggal di Italia sedangkan kau disini? apa kau memiliki masalah dengan Ayah tirimu? Kau tahu.. seperti difilm-film yang sering kutonton tentang Ibu atau Ayah tiri. Apapun yang berbau tiri. Cinderella dengan ibu dan adik-adik tirinya..”

Alis Eun Soo dan Luke bergerak naik bersama. Keduanya tampak seperti baru memberikan signal-signal dan melakukan percakapan dari signal tersebut. Luke menahan tawanya. Berusaha untuk tidak menumpahkan semua itu saat ini.

“yeah. Aku tahu yang satu itu juga. Tapi sekarang aku sedang tidak mau tahu. I don’t care what she did out there. That is her life so she can do what she wanna do” Kilah Eun Soo tak perduli. Benar-benar ditunjukannya tanpa mendapatkan saringan terlebih dahulu.

Semakin saja Eun Soo meyakini dan merasa bahwa Changmin pantas sekali dicoret dalam daftar good guy. Walau tetap. Tanpa dapat dipungkiri, Changmin terlihat tampan. Hot. Seperti yang selalu dikatakannya sejak tadi.

Tapi hal yang satu ini, membuatnya tampak geli dengan pria berrambut hitam tersebut, “kau tahu, Changmin-ssi… kau tampan. Sangat tampan.” Bibir Eun Soo mengulaskan sebuah senyuman lebar. “tapi kau seperti wanita. Terlalu banyak bergossip. Dan kau seperti tak memiliki pekerjaan. Seperti ini, kau duduk menunggu aku tak tahu apa. Kau pengangguran? Karena kalau aku jadi kau, aku lebih baik tidur diranjang empuk-ku, daripada menonton.. atau… um.. menunggu wanita hamil yang sedang membuat sebuah surprise untuk suaminya? Kalau aku jadi kau.. aku lebih baik merasa tahu diri saja dan mundur perlahan, karena menginginkan yang bukan seharusnya diinginkan itu terasa cukup tidak nyaman, pada akhirnya. Percayalah, aku tahu perasaan semacam itu. Aku ahlinya. Kau tahulah.. semacam destroyer.”

Saat Shim Changmin masih sibuk mencerna rentetan kalimat panjang Eun Soo, Luke didepan Changmin memandang adiknya tidak habis pikir. Memberikan tatapan ‘lagi?’ untuk kalimat sinisnya.

Sedangkan Eun Soo, tampak tak merasa bersalah sama sekali.

~~ ~~

“Dia membuatnya?” Siwon tertegun. Begitupula dengan Gyuwon. “sendiri?”

kue tart berlapis cream dengan warna biru dihadapan mereka tampak bukan khas Park Songjin sama sekali.

Walau masuk diakal juga, kalau itu adalah hasil buatan Songjin, jika dilihat dari cara pengolesan cream yang seperti hasil prakarya anak TK.

Tak memiliki nilai seni dan Siwon yang paling memiliki imaginasi, bagaimana rasa dari kue tart ala kadarnya ini.

Bentuknya lumayan, walau terlihat terlalu mengembang. Lebih besar daripada ukuran kue tart pada umumnya. Dan dia nyaris tertawa, saat Eun Soo bercerita bahwa Songjin berkeinginan membuat kue tersebut bertingkat 2, tapi apa daya, kue terakhir memiliki teksture yang terlalu mengerikan dan sangat keras.

Terlalu lama dioven hingga berwarna hitam dan seperti keripik pada lapisan pertamanya. Keras. Pahit. Kalau luarnya saja sudah seperti itu, bagaimana dengan dalamnya?

Kue kedua itu terlalu keras, seperti batu. Entah apalagi yang Songjin masukan kedalam adonan ketika itu, apa yang kelebihan dan apa yang kekurangan, atau malah, apa yang tidak dimasukannya sama sekali.

Eun Soo menghilang sesaat, lalu Songjin melakukan aksinya. Berulah layaknya chef handal karena merasa mampu, setelah membuat kue pertama tanpa kegagalan.

Setidaknya ukuran yang seikit berlebihan itu tidak dianggapnya sebagai suatu kegagalan.

Pada akhirnya Songjin harus berbesar hati, menerima, bahwa takdirnya hanya dapat membuat satu saja kali ini. masih untung kue-nya itu berbentuk. Kalau dia membuatnya sendiri, mungkin keluar dari oven pun tak akan memiliki bentuk lagi.

Sepertinya, Eun Soo benar-benar memiliki andil besar dalam pembuatan kue ala kadarnya ini.

Siwon lantas mengerling menatap Eun Soo curiga. “kau yakin tidak menaruh tanganmu sama sekali disini??”

Merasa bagai tawanan, Eun Soo menarik lengan pakaian Luke. mengacungkan kakaknya itu seperti bocah yang sudah tak tahu lagi bagaimana cara menunjukan bawa dirinya tak bersalah. Bukan khas Kim Eun Soo sama sekali, “aku punya saksi matanya!!” dengusnya jengkel.

Lalu Gyuwon lah yang pertama kali menemukan Changmin, tergeletak disofa didepan televisi, “lalu apa yang bocah itu lakukan disini??”

Melihat Changmin, Eun Soo mendesah malas lagi, “kau tahu, aku juga punya pertanyaan yang sama tentang mengapa pria itu selalu mengekori Songjin?”

Gyuwon dan Siwon saling berpandangan. Keduanya sama-sama sedang berfikir, apakah harus atau tidak menjelaskan kepada Eun Soo saat ini, tapi Eun Soo tampak tak lagi sabar dan ingin mengetahui apa yang terjadi. “I smell bad news here~”

“ceritanya panjang. Mungkin Gyuwon dapat menjelaskannya kepadamu kurang lebihnya. Aku harus cepat-cepat membawa Songjin kembali agar Kyuhyun tidak curiga dan berubah menjadi.. Cho Kyuhyun.. kau tahu, haha.. bocah itu.” Bahu Siwon bergerak. Dia lalu menoleh kepada Gyuwon. “aku tinggal sebentar, oke?” mengecup kening wanita itu lalu pergi menuju kamar dimana Songjin terlelap.

“Luke, watch out the girls, okay~”

“hey hey!  watch out? Dia kakakku! Bukan anjing peliharaan!!” maki Eun Soo saat Siwon terlihat kesulitan membopong Songjin untuk dibawa kemobilnya.

~~ ~~

wangi khas minuman pahit nan kental, pahit itu mengusik Kyuhyun dari tidur panjangnya. Kopi. Hidung Kyuhyun bekerja layaknya seutas tali yang dikaitkan pada mesin penarik otomatis. Mencari dari mana asal wangi harum tersebut.

Pemandangan yang asing Songjin dapati pagi ini, satu buah ranjang king size, sepenuhnya dibuat menopang tubuh Kyuhyun seorang.

Seperti seorang tawanan, Kyuhyun tertidur dengan tangan dan kaki direntangkan lebar. Dia menjelajah seluruh kawasan kasurnya, seperti telah berjaga-jaga dan tak ingin berbagi dengan siapaun.

Bunyian suara kicau burung, terdengar. Semakin lama semakin jelas dan jelas. Tapi hal yang menandakan bahwa pagi hari telah menyingsing adalah saat silau matahari pagi mengganggu tidurnya.

Membuat wajahnya seketika diguyur panas. Silau.

Tubuhnya berguling, menjauhi sumber panas itu, namun disisi yang sama, tiba-tiba panas itu pun menyergap wajahnya.

Tubuhnya bergerak-gerak, memberontak. Menyuruhnya melanjutkan istirahatnya, karena tidur selama 3 jam saja ternyata tak cukup baginya. Lalu usapan dingin dipipinya, membuatnya sedikit membuka mata, walau kesadarannya belum sepenuhnya datang, “selamat pagi~!!!” Songjin berseru ceria.

Dalam mata silau Kyuhyun, pria itu masih dapat memeriksa seperti apa penampilan istrinya kali ini dari ujung kepala hingga kaki. jelas pakaian yang dikenakannya saat ini, bukanlah pakaian yang dikenakannya kemarin.

Kaus putih polos, jeans maroon, berpadu cardigan hitam bertumpuk dengan mantel hijau tosca berbulu membalut tubuh Songjin. Terlihat terlalu santai. Sangat santai jika tujuannya adalah kantor.

Lalu tangan yang dingin, aroma segar mint yang keluar dari mulut wanita itu ketika berbicara membuatnya yakin bahwa Songjin baru saja selesai mandi. “aku sudah siapkan kopimu. Ayo bangun!” perintah Songjin tegas. Namun halus.

Sebuah cara yang hampir tak pernah dilakukan wanita itu untuk membangunkan Kyuhyun dari tidurnya. Dia tidak pernah semanis itu. Membangunkan Kyuhyun adalah aktivitas yang paling disukainya.

Karena dia bisa bertingkah semaunya seperti mencipratkan air kewajah pria itu, atau membuat pria itu pengap dan nyaris kehabisan oksigen dengan membekapnya menggunakan bantal.

Tapi biarlah. Kali ini berbeda. Hari ini hari special. Kyuhyun berulang tahun. Songjin ingin melakukan sesuatu yang berbeda bagi pria yang mampu menjungkir balikkan hatinya itu.

Kyuhyun menggumam sesukanya. Menenggelamkan wajahnya pada tumpukan bantal seperti semula dan mencuri dialog pagi Songjin, “5 menit lagi.” Pintanya memohon.

Songjin ingin tertawa mendengarnya. Jadi, seperti inilah yang Kyuhyun dapati setiap pagi ketika membangunkan dirinya? Ini tampak lucu, tapi juga menyebalkan. Dan terang saja Kyuhyun akan mengutuknya jika dalam kurun waktu 5 menit kali jutaan pangkat banyaknya yang dimintanya, tak pernah berjalan mulus. Karena sekeras apapun usahanya membangunkan dirinya toh dia akan terlelap terlelap lagi.

Kalau begitu, Kyuhyun memang luar biasa sabarnya untuk menanggapi paginya yang tak menentu itu. Karena dirinya saja saat ini sudah merasa sangat jengkel dengan Kyuhyun yang malah meneggelamkan diri kedalam tumpukan bantalnya dan tidak menanggapinya lagi.

Dia kembali tertidur. Pulas. Lengkap dengan mendengkur. Aish~

“Ya~”

“5 menit!”

“kau bisa terlambat nanti, Kyuhyun-ah!”

sontak Kyuhyun menggeram didalam tidurnya. Cukup sulit memisahkan antara geraman dan dengkuran. Keduanya hampir memiliki suara yang sama.

Kyuhyun menggerakan bahunya. Menolak sesuatu yang berat, menindih bagian tersebut selama beberapa saat. Mengusir lengan Songjin disana. Pria itu seperti tak ingin diganggu oleh apapun, dan siapapun saat ini.

Kepalanya pusing, berputar-putar karena terlalu banyak meminum soju semalam. Itu memang tidak membuatnya mabuk tapi percayalah, efek yang dihasilkan dari minuman itu terlampau membuat kepala pening, enam botol ditenggaknya seorang diri.

“Kyu~” Songjin mencoba membangunkan Kyuhyun lagi. Menggerakan bahu Kyuhyun walau Kyuhyun terus bergerak, menandakan bahwa dia tak suka diganggu saat ini, “kau bisa terlam—“

“aku bosnya.” Kyuhyun memotong. “Kenapa aku harus takut terlambat? Aku bisa datang kapan saja.” Amuk Kyuhyun ketika itu.

Suaranya tenggelam didalam tumpukan bantal. Tapi terdengar jelas ditelinga Songjin. Seperti microphone yang diletakan disamping telinga.

Songjin terkejut. Merasa salah karena mengganggu tidur pria tinggi itu, Songjin lantas beralih mengusap kepala Kyuhyun lembut. “kau pulang jam berapa semalam?” tanyanya halus. Sejauh ini, Kyuhyun belum pernah menunjukan gelagat semacam ini, atau paling tidak, selama usia pernikahan mereka yang baru seumur jagung.

Tapi lagi-lagi hanya dengukuran, atau entah geraman Kyuhyun lah yang menjawabnya.

Songjin mengerenyit, “nafasmu bau alcohol. Kau minum semalam?” wanita itu mendekatkan bibirnya ketelinga Kyuhyun untuk membuat pria itu lebih mendengar suaranya. Dan dari jarak sedekat itu saja, aroma menyengat alcohol dari mulut Kyuhyun menyeruak menusuk-nusuk indera penciumannya.

Tangan Songjin mengibas diudara. Seperti dengan Kyuhyun bernafas saja, udara langsung tercemar dengan aroma tak sedap itu, “Jangan ganggu aku Songjin.” Kyuhyun bersuara seperti tak niat berbicara.

Saat ini dia masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang tercecer satu persatu.

“kau berangkat saja duluan. Aku menyusul. Aku masih ingin tidur beberapa jam lagi.”

“itulah yang ingin kukatakan juga. Aku minta ijin datang terlambat ya. Aku ada urusan penting pagi ini. aku akan datang secepat setelah urusanku itu selesai. Aku usahakan kurang dari jam makan siang, aku telah kembali dikantor. Boleh tidak??”

urusan penting yang Songjin maksud, adalah pertanyaan yang melintasi benak Kyuhyun seketika itu. Ingin bertanya apakah urusan penting itu, tapi tubuhnya tak membiarkannya menurunkan ego sedikitpun, hingga dirinya hanya diam ditempat, memejam, tak menanggapi pertanyaan Songjin.

Setelah nyaris hitungan dalam hatinya beranjak ke menit ke 2, Kyuhyun barulah berbicara. Setelah pula tak ada satupun diantara keduanya yang terlihat berniat membuka suara.

“sejak kapan kau membutuhkan ijinku untuk melakukan yang ingin kau lakukan?” balas Kyuhyun skeptic dan ketus. Yang sebenarnya membuat Songjin sedikit tertohok dan merasa ditampar.

Tapi Songjin lalu ingat. Kyuhyun terlihat lelah. malam tadi saja dia melihat sendiri betapa sibuknya Kyuhyun dengan segala pekerjaannya. Lalu malam tadi pula, mungkin kyuhyun pulang larut. Jadi tidak ada alasan untuk berdebat dengan orang yang sedang setengah mati kelelahan.

Songjin mengalah. Dia memilih untuk menghentikan perdebatan ini dibandingkan melawan Kyuhyun. Kepalanya lalu mengusap kepala Kyuhyun lembut secara terus menerus. Seperti itu adalah candu yang ingin dilakukannya setelah nyaris 12 jam tak bertemu. Tak memeluknya. Tak mencium. Tidak mendapatkan bantal dadakannya semalaman Karena tertidur dikamar Eun Soo, hal tersebut membuatnya benar-benar tidur menggunakan bantal-bantal asli. Bukan bantal dadakan ala Kyuhyun, dengan dada bidang yang menurut Songjin sering disebut sebagai dada keras seperti aspal itu.

“arra.” Angguk Songjin setuju. Dia bukan setuju dengan pertanyaan yang terdengar bagai pernyataan ditelinganya itu, tentang sejak kapan dirinya memerlukan ijin Kyuhyun untuk melakukan hal yang ingin dilakukannya.

Dia mengangguk setuju, dengan seseorang didalam dirinya sendiri yang berkata bahwa jangan ganggu Kyuhyun dulu pagi ini, dan lakukan saja apa yang ingin dirinya lakukan saat ini. pasalnya, waktu terus berjalan.

Wajah Songjin lantas turun. Mendekat pada belakang kepala Kyuhyun tersebut. Memberikan kecupan hangat yang terasa asing dan dingin bagi Kyuhyun pagi ini. tubuhnya terasa bagai sedang ditusuk-tusuk dengan paku tajam, ketika dia merasakan bibir Songjin mendarat dipangkal kepalanya.

Gambaran-garambaran tercetak jelas didalam kepalanya, tentang apa yang matanya lihat malam tadi. Apa yang Siwon katakan kepadanya, dan apa yang dirinya sendiri simpulkan malam itu. Semua diputarnya lagi, dan sekonyong, rasa nyeri itu muncul.

Seperti rasa nyeri itu semakin nyata saja, Kyuhyun mengerakan tubuhnya perlahan. Bermaksud menolak kecupan Songjin pagi ini untuknya. Agar wanita itu berhenti melakukan hal tersebut dan segera pegi saja saat ini.

Songjin bukannya tak menyadari bahwa Kyuhyun sedang mengawali paginya dengan suasana hati yang buruk kali ini. rasa lelahnya pasti menjalar kemana-mana. Songjin merasa iba. Tak merasa aneh, pun saat Kyuhyun sontak menggulingkan tubuh menjauhinya ketika dirinya sedang membenamkan wajah pada sela bahu Kyuhyun hanya untuk menghirup aroma tubuh pria tersebut.

~~ ~~

Lorong panjang undakan tangga berukuran kecil itu mengeluarkan suara. Tak lebih dari pada suara bisik-bisik yang terdengar sayup dari ruang dipintu pertama setelah puluhan anak tangga disana.

Sisanya, hanya berisikan derap suara sepatu yang terdengar berat. Jika ada yang kurang kerjaan menghitung seberapa tinggi orang dengan suara derap sedalam itu, pastilah dia tahu bahwa si pemilik kaki, memiliki kaki yang panjang.

Bisik-bisik yang tadi terdengar sayup, kini terdengar semakin jelas semakin langkah kaki itu mendekat pada pintu kaca buram dengan tinggi dua kali pintu normal.

Kyuhyun, satu-satunya orang yang sedang menyusuri lorong tersebut sedikit merasa heran, ruang presentasi dikantornya ini apakah baru saja menjadi lokasi arisan bagi para pegawai wanitanya?

Suara itu kemudian terdengar cukup jelas, walau karena bercampur dengan suara orang lain yang berbicara, suara nyaring yang pasti dapat langsung ditebak, berasal dari mulut seorang wanita itu terdengar paling mendominasi diantara yang lain. “no. no. no and no. I’m so busy and there’s no time for relationship.”

Tak perlu membuka pintu, Kyuhyun langsung paham siapa pemilik suara itu. Kim Eun Soo. Model bertubuh langsing nan tinggi itu berbicara dengan gaya khasnya. Sudah tertebak dari intonasi-nya. Kim Eun Soo selalu memiliki gayanya sendiri dalam melakukan segala hal.

Lorong dan undakan tangga masih cukup panjang dan Kyuhyun terus menyusurinya, namun suara-suara yang tadi hanya berupa bisikan itu kini perlahan-lahan dapat didengarnya semakin jelas.

Dia berfikir, menghitung, dan bertanya-tanya kira-kira ada berapa orang didalam sana dan mengapa mereka berada disana? Lalu terdengar suara tawa. Kencang dan ramai bersamaan.

Tapi suara tawa yang paling keras dan mendominasi keluar dari suara berat seorang pria. Itu pasti pria. Tak ada wanita yang memiliki pita suara sedalam itu.

Ayahnya. Kyuhyun menyimpulkannya, lalu mendapatkan jawaban. Ayahnya tertawa, sambil mencoba berbicara didalam tawanya. Kali ini tidak dapat didengar jelas, karena suara ayahnya dan suara debatan Eun Soo terdengar bersuara bersamaan.

Eun Soo seperti menolak sesuatu. Namun lalu suara yang dihafalnya, terlalu dia hafal—selalu berada didalam kepalanya, berputar-putar disana, sebagai suara pengantar tidurnya dan mampu membuatnya merasa hangat dalam kondisi sedingin apapun berteriak.

Suara itu berteriak dengan seseorang. “aku ingin bercerai! aku benar-benar akan menceraikannya! Aku akan datang kepengadilan, melewati bagian konsultasi karena aku tidak butuh berkonsultasi dengan siapapun lagi, dan langsung meminta surat perceraian itu! Titik!!”

Saat itulah Kyuhyun berhenti berjalan. Kakinya tak lagi bergerak untuk menaiki undakan, namun hanya berdiri tegap. Lalu terdengar suara tangisan, “dia tidak memahamiku. Sejak awal kami memang tidak cocok bersama. kami selalu bertengkar. Dia terlalu keras dan aku adalah pihak yang selalu mengalah dan disalahkan.”

Saat itu, kaki panjang Kyuhyun tak lagi mau berjalan. Susah payah dia berusaha menggerakannya. Tapi sama sekali tidak mau berkerja sama. Seperti melarang, atau mendikte, jangan melangkah lagi atau kau akan menyesal.

Lalu hal lain yang membuatnya tertohok, seperti baru saja disiram berember-ember es. Suara riuh yang mengiyakan—mengamini, menyetujui rengekan Songjin itu—entah siapa saja, dia tak dapat mengenalinya satu persatu.

Dia memang tidak mengenalinya. Tapi dia mendengar dengan jelas, apa-apa yang mereka katakan. Tak ada yang mengatakan tidak. Semua berucap riuh, menerikakkan kata “YA!”

“ya, sepertinya itu memang pantas. Dia perlu diberi pelajaran.” Itu suara Siwon. Dia berbicara lantang seperti sedang berkampanye. Berapi-api menyemangati Songjin. “mau aku antar ke pengadilan? Atau, sekaligus saja, aku yang mengambil surat perceraian itu?”

“aku mau datang sendiri! Jadi aku bisa melihat wajah-wajah orang sok tahu yang akan berkata, ‘pikirkan lagi keputusanmu masak-masak’ dan langsung meninjunya! mereka tahu apa memangnya?!!”

“untuk apa menikah kalau pada akhirnya bercerai? Hah, itulah mengapa aku tidak ingin terburu-buru mencari pendampingku. Toh selama ini, aku baik-baik saja hidup sendiri.” Eun Soo berkata lagi. Namun kalimatnya ini, mendapatkan penolakan dari banyak suara disana.

Meneriaki wanita itu dan mengatainya sok tahu. SOK – TAHU!

“kau belum berkeluarga jadi kau tidak tahu bagaimana rasanya memiliki pasangan hidup yang selalu merepotkanmu!!” Gyuwon berteriak. Sama kencangnya dengan suara Songjin tadi. “kalau kau terus menunda pernikahanmu sendiri, Lee Donghae yang kasihan. Lagipula memangnya kau mau menikah setelah tumbuh kerutan diwajahmu? Atau malah rambut yang memutih??”

Ayahnya. Itu suara Choi Ki Ho. Berbicara menggodai Eun Soo, “Paman!!”

“aku hanya mengatakan dari sudut pandangku saja! Kalau kau sudah berumur sepertiku nanti, kau baru akan paham bagaimana pentingnya seorang pasangan hidup untukmu.”

“aku tahu tapi kenapa harus Lee Donghae?!” ada suara hentakan terdengar kencang. Seperti sebuah buku, atau benda keras yang diadu dengan meja, atau benda lain yang sama kerasnya.

Tawa riuh itu kembali tumpah. Mereka pasti menertawai reaksi Eun Soo jika sudah digoda dengan Donghae. “karena kalian saling menyukai. Ah, anak muda.. kenapa repot sekali sih dengan urusan hati? Suka ya suka, kenapa harus bertingkah pura-pura tak ingin padahal ingin sih?”

“siapa yang menyukai—? aaargh!”

“Paman, sudahlah, dia malu kalau terus digoda.” Kyuhyun terkesiap mendengar suara Donghae. Jadi si pendek itupun ada didalam sana? Berani juga dia ternyata menginjakan kaki kesini?

Lalu kemudian suara tawa dokter bedah otak itu pun ikut meluber, “tapi wajahnya Lucu ya? Memerah seperti udang rebus.” Donghae terdengar geli.

Kyuhyun berdiri, seorang diri, dan hanya dapat terus memikirkan, ada apa dengan semuanya sebenarnya? apa sedang ada hal yang perusahaan siapkan lagi sampai semua berkumpul, dan yang bukan keluarga pun bisa ikut hadir?

Tapi melupakan godaan ayahnya untuk Eun Soo ataupun Donghae, Kyuhyun memutar kembali suara Songjin didalam kepalanya.

Matanya memejam sebelum tangannya menggapai kenop gagang pintu kaca tersebut. Menarik nafas panjang, lalu membuangnya melalui mulut.

Rahangnya mengeras. Tangan satunya yang kosong, mengepal menahan ledakan amarah yang sejak kemarin ingin sekali disalurkannya kepada nama-nama didalam daftar yang telah dibuatnya sendiri.

“aku ingin bercerai! aku benar-benar akan menceraikannya! Aku akan datang kepengadilan, melewati bagian konsultasi karena aku tidak butuh berkonsultasi dengan siapapun lagi, dan langsung meminta surat perceraian itu! Titik!!”

suara didalam semakin riuh. Bayangan-bayangan tubuh yang banyak dan penuh bergerak-gerak hilir mudik. Keadaannya terbalik, menjadi begitu hening ketika kemudian dia membuka pintu.

Semua orang diam ditempatnya. Membatu dengan apa yang sedang mereka kerjakan ketika itu, seperti Gyuwon, yang sedang memompa sebuah balon, namun lalu berhenti saat melihat Kyuhyun datang.

Sepertinya, Kyuhyun datang pada waktu yang tak tepat. Segala perkakas pesta dadakan untuknya belum sepenuhnya terpasang. Seperti balon-balon, banner bertuliskan selamat ulang tahun untuknya, sedang dipasang oleh Siwon dan Changmin.

Bukan hanya mereka saja yang terkejut. Kyuhyun pun merasakan hal yang sama, walau wajahnya mati-matian dibuatnya tak mengeluarkan ekspresi apapun saat itu.

Semuanya terjadi terlalu cepat. Menyadari kehadiran si pemeran utama, seluruh orang didalam ruang santai itu langsung sekonyong sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri. Choi Ki Ho adalah orang pertama yang meledakkan birthday popper.

Potongan kertas berwarna-warni, berkilat terkena pantulan cahaya matahari, semua melayang-layang diudara. Mengotori lantai, meja, kursi, bahkan bahu-bahu tegap berbusana disana.

Lalu letusan kedua muncul. Birthday popper kedua diledakan oleh Eun Soo dan lantas, Siwon melakukan hal yang sama sebagai akhir dari penyebab kebisingan suara ledakan pada ruang berdominasi warna putih tersebut.

Semua orang bersorak. Mengucapkan selamat ulang tahun. Wajah mereka berseri-seri. Semua memamerkan senyuman terbaik mereka.

Kejadiannya sangatlah cepat. keributan itu berlangsung terlampau cepat. Ketika itu Songjin mendekat. Membawa kue hasil buatannya yang agak menggelikan untuk dilihat, tapi memiliki kebanggaan tersendiri ketika wanita itu membawanya kehadapan Kyuhyun.

Seperti ingin pamer. seperti ingin membuat Kyuhyun terkesima, dan merasa menyesal sering mengejeknya payah dalam memasak. Tak ada lilin angka, tapi terdapat lilin berwarna-warni memenuhi lingkaran kue disana. Nyaris menutupi bagian atas kue tersebut.

Songjin menyodorkannya kepada Kyuhyun. Tepat didepan dada pria itu. Tersenyum terlalu lebar sambil setengah berbisik, “jangan lupa permohonannya!” dia mengingatkan Kyuhyun menggunakan mata berbinar.

Mata Kyuhyun turun. hanya memandangi kue biru tersebut dalam diam, tanpa keinginan melakukan apapun lagi terhadap makanan tersebut. sama sekali tidak berselera. Jangan salahkan kuenya. salahkan perasaan sialan yang selalu menghantuinya itu. Dia tidak dapat memikirkan apapun kecuali rasa jengah yang semakin lama semakin menjadi karena perasaan tersebut.

Monster didalam tubuhnya itu seperti kraken. sudah berteriak-teriak seperti meminta untuk dilepaskan.

Dia memandangi wajah Songjin dan merasakan rasa-rasa aneh yang dirasakannya malam tadi dicart bar. Matanya naik lagi, memandang Songjin lalu entah bagaimana untuk dijelaskan, Dia merasa semakin jengah.

Rasa jengah itu bercampur dengan rasa sesak dan nyeri. Ingin marah dengannya, tapi seseorang seperti mengatakan bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk dilakukan.

Tapi seseorang lain didalam tubuhnya telah meneriaki wanita itu dengan banyak makian sadis. Lalu orang lainnya pun berteriak—memakinya dengan makian yang sama persis.

Tanpa arahan siapapun, tak lama setelahnya tangan Kyuhyun melayang naik. menepak piringan datar ditangan Songjin tersebut hingga kue biru tak bersalah itupun tumpah. Tergeletak tak berdaya, mengotori lantai kayu disana.

Dalam hitungan detik, Kyuhyun tak lagi ada dihadapan Songjin melainkan bekerja, menggerakan tangannya lagi untuk memberikan pukulan kencang pada wajah Shim Changmin bertubi tubi menggunakan seluruh kekuatannya. bernafsu ingin mengacaukan wajah pria favorit wanitanya itu.

Pria yang sebenarnya, sejak tadi, hanya berdiri sambil memegang salah satu bagian banner yang baru satu sisinya saja terpasang ditembok dan sisi lainnya baru akan dipasang ditembok dengan wajah kosong dan tak berbicara apapun, tapi langsung jatuh terhuyung.

Terlempar seketika dari undakan kaki tangganya dan tergeletak dilantai, berhimpitan dengan tubuh Kyuhyun diatasnya. Kyuhyun seperti lupa, bahwa yang sedang dipukulinya adalah makhluk hidup, bukan benda mati seperti guling, yang bisa tak memberikan reaksi apapun ketika dia memberikan tinjunya kesana.

Wajah Changmin telah menggambarkan pemandangan buruk. Entah dari mana saja, bercak darah itu muncul, tapi Kyuhyun seperti kesetanan. Dia terus menghajar Changmin dan tanpa henti melakukannya sambil menggeram layaknya monster.

“ASTAGA!! KYUHYUN!!” Choi Ki Ho, orang pertama yang langsung berlari untuk melerai. Menarik tubuh Kyuhyun yang lebih tinggi darinya itu dengan susah payah.

Sedikit berhasil. Terangkat tapi Kyuhyun terus bergerak hingga pria itu terjatuh lagi diatas tubuh Changmin yang setengah sadar setengah hidup. Kyuhyun melanjutkan pukulannya. Tak memerdulikan apapun. Mulutnya ikut bekerja. Memaki, “kau mau mati? Aku bisa melakukannya saat ini juga! Dasar kau brengsek! Kau tahu aku sudah muak denganmu sejak lama, kau tahu, hah?!”

“YAA! Kau gila?!” Siwon dan Donghae bergerak bersamaan menarik tubuh Kyuhyun. Berhasil. Kyuhyun terangkat, namun lalu pria itu menarik senyuman miring diwajahnya, memandang Siwon, pun seperti memandang daging segar oleh seekor singa kelaparan, “kau juga!” tukas Kyuhyun pelan. Tapi terdengar tajam dan mengerikan.

“kau membantunya! Dan kau membantunya!” Kyuhyun menunjuk Changmin dan Songjin dengan telunjuk kiri dan kanannya bersamaan.

“maksudmu?” bukan hanya Siwon saja yang menanyakan, namun nyaris seluruh kepala disana selain Shim Changmin karena telah tak sadarkan diri, melayangkan pertanyaan yang sama.

Seakan tak memerlukan jawaban lagi, Kyuhyun kembali mengangkat tangannya. Sasarannya kini, berganti orang. Bersamaan dengan pukulan yang Siwon terima, ruang santai dalam gedung berlantai 50 itu menjadi riuh. Setengah melerai, setengah berkumpul mengerumini Changmin, membantu pria itu, setengah lagi terkejut membatu dan sisanya….. menangis.

178 thoughts on “[Post For Kyuhyun’s Birthday] Birthday Disaster 8

  1. sedihh bangett, kslahphaman yg mkin brlanjut ..
    hncur deh jdinya surprisenya Songjin, Kyuhyun oppa juga gk brprsaan bnget ampe ngjtuhin tuh Kue, gak tau apaa klo Songjin udah buat sush” tu kue ..

  2. Kyaaaa…. Kyuhyun pasti murka banget dia, sampe mukulin changmin kayak gitu….
    Yah,, gagal deh surprise party buat kyuhyun😥😥😥

  3. emosi nya kyu keluar smua kaya gunung meletus.. ga bisa nyalahin kyuhyun juga sih klo dia jd kalap bgtu soal nya dy care bgt sm songjin. Takut ada apa2 sm songjin dan ank nya.. ya ampun itu pesta kejutannya jd kacau balau bgtu. Harus nya mereka bsa saling berkomunikasi dgn baik biar gk terjadi kesalahpahaman.. setiap pasagan kudu bsa saling mengerti satu sm lain. harusnya jg songjin jujur ajh ttg kondisi nya yg sebenar2a. Jujur lebih baik dripd bo’ong. Ya walaupun terkadang jujur itu menyakitkan

  4. Astaga sampe kyk gini jd nya….kyu bener” nyeremin bgt smpe siwon jg kena bogam mentah..kslh pahaman jd serius bgt skrg…gimana ni nasib songjin???

  5. kyu bnr2 salah paham knapa jadi makin rumit,ksihan song jin kue bikinan dia rusak gra2 kyu..

    cmburu sh cemburu tpi kgk gni jga harus dengan kepala dingin

  6. Kyuhyuuuuuunn!!! itu kue udah susah2 dibuat sama Songjin!! malem2 songjin beli bahan2, pdahal lagi ngandung! ga berperasaan bgt si Kyuhyun sumpahh pengen nyekek tuhh si kyuhyun!!

  7. kslhphaman yg mkin b’tmbh..masing” ga knjung d obrolin..huufftt..hny b’spekulasi yg blm tntu sprti tu adany..
    surprise yg mlh b’akhir dg kributan…

  8. Kalimat perceraian itu bagaian dari surprise ulang tahun bukan sih???
    Tapi kok malah acara nya jadi hancur gini…
    Ngak jadi acara senang2, tapi malah kesedihan…
    Tambah kayak apa ntar rumah tangga kyuhyun sama songjin…

  9. Kyuhyun nyeremin ngamuknya brutal..
    Dia terlalu shock mungkin, udah stress trus galau mikirin songjin,,
    udah diambang batas kesabaran,dikasih kejutan ya gini ini jadinya..
    Serius, itu nyeremin ngamuknya kyuhyun..

  10. Kyu kejam banget kasian Songjin udah buat Kue susah susah tapi di depak itu kuee. Over all suka sama karakter kyu kejam nya dapet banget hihi

  11. Kyuhyun bikin emosi gewlaaaaaa pen bejek2 omaygad
    dasar nggak tau terima kasih, songjin udah buat tart susah2, dibelain belanja malem2 padahal perut segede balon omaygaddd
    entahlah nama2 binatang bakalan keluar ini buat marahin kyuhyun

  12. Jadi gak sesuai rencana, kyuhyun ngamuknya nyeremin bnget padahal gak seperti yg dia pikirin
    Kasian songjin dah belanja sampe mau belajar bikin kue tpi semuanya ancur

  13. Buyar deh rencananya songjin. Salah paham yang gak kelar2. Kyu main anarkis langsung mukulin changmin. Emosinya udah meletus

  14. Kyuhyun sebenernya kamu salah paham 😥 kasian kan tuh songjinnya niatnya mau kasih suprise lagi hamil pula jd berantem gini

  15. Kyuhyun slah paham lagi deh, kasihan songjin udh susah payah buat kue ulangtahun, tp kyuhyun mlh seenaknya buang gitu aja.

  16. kyu … kasian songjin sampe segitunya masa . itu kue nya dia bikin susah payah :”( ,ya ampun kyu sensitif sekali .

  17. aduh aduhh kyuhyun ngeri bgt kalo marah ah tidak dia kalap karena salah paham sampek menghajar changmin seperti itu 😓 kyu telah dibutakan oleh amarah sama slah paham jadi gagal deh surprise buat dia dan itu kue yg dibuat mati”an oleh songjin di buang gitu aja kasian songjin..
    tp changmin aneh juga sih habis ngantar sobgjin ke apartement eun soo bukannya pulang malah nungguin songjin hmmm tp bukannya waktu blnja sama eun soo juga yaa?? tp kok cuma songjin sama changmin yg diliat kyu..

  18. lagi harinya dia tp malah ricuh. Aku juga heran changmin kok kayak nggak tau diri banget, tau songjin udah sama kyuhyun tp masih ngintilin cewek yang lagi hamil. Iya karuan udah lama ga ketemu tapi gak gitu juga kan? Plus saat bareng songjin, changmin malah ngomporin wanita hamil ><

  19. Ah kyuhyun rese kalo lagi jealous gitu, main pukul pukul orang seenal jidat 😑 kasian woy songjin. Negative tihinking muluk si gembul wkwk selow kyu selow inget istri lagi hamil. Keren thor, mau baca dari awal ah mau coba mecahin pw nya hehe

  20. Kok aku jadi nangi yah.. kasian tau songjin udah nyiapin trus dilempar gitu kue nyam seharusnya kyu bsa brkpala dingin gitu dn tdk lngsung main tonjok aja. Jadi ingat orang bilang ‘komunikasi adalah salah satu hal penting dalam suatu hubungan’. Nah kan

  21. Kok jadi kaya gini yah ..
    Aq ga tau lagi siapa yg salah disini ..
    Kyuhyun atau songjin pasti mereka sedih .
    Ga ada yg berjalan lancar

  22. Kyuhyun gak bisa kontrol emosinya…sampe hajar shim changmin dengan brutalnya…
    kalo begini terus kesalahpahaman ini malah gak terselesaikan…
    jadi tambah rumit😲😦😦😧😧

  23. pesta ulang tahunnya kok jadi begini, kyuhyun salah paham salah banget waduh kasian Changmin jadi korban kasihan juga yg lain😭😭😭 salah pahamnya ini agak berat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s