[Post For Kyuhyun’s Birthday] Birthday Disaster 9


Author: GSD

Title: Birthday Disaster 9

Cast: Cho Kyuhyun, Cho Songjin, Choi Siwon, Choi Gyuwon, Choi Ki Ho, Lee Donghae, Kim Eun Soo, Seohyun, Shim Changmin, Henry.

Rating: G

Length: Chaptered.

Baby please don’t run away
From my bed and start another day, stay instead
I feel the sun creeping up like tick tock
I’m trying to keep you in my head but if not
We’ll just keep running from tomorrow with our lips locked
you got me begging, begging

Baby, please don’t go
If I wake up tomorrow will you still be here?
I don’t know if you feel the way I do
If you leave I’m gon’ find you
Baby please don’t go

(Mike  Ponser –  Please don’t go)

 

 

Sepertinya, disadari atau tidak hari sial itu akhirnya datang juga pada Kyuhyun. Hari dimana seluruh apa yang dipendamnya meledak keluar. Hari dimana pada akhirnya rasa geram dan tangan yang gatal itu akhirnya dapat tersalurkan.

Tapi sialnya, hari besar itu datang tepat dihari besarnya pula. Hari ini hari ulang tahunnya. Dan hari ini pula lah dirinya terpekur menghadapi seluruh kerusuhan, yang membuatnya menjadi seolah adalah seorang tersangka. Pria bajingan yang tega memukuli pria baik-baik nan polos.

Katakanlah seperti itu, tapi wajah Shim Changmin baginya kini, entah mengapa tak terlihat polos ataupun baik-baik. Dimatanya Shim Changmin tak pernah terlihat baik-baik saja, apalagi polos. itu terlalu berlebihan untuk diharapkan. Apalagi sejak kehadirannya saat ini, selalu membuat Kyuhyun merasa bagai terancam akan posisinya yang dikiranya tak aman. Sama sekali tak aman.

Rasa perih itu datang lagi, ketika Eun Soo menempelkan kapas basah bercampur alcohol pada pelipis Kyuhyun dengan luka goresannya yang dalam. Wajah tampan Kyuhyun, kini berisikan corang coreng luka berwarna kemerahan.

Kemejanya yang berwarna putih, terlihat kotor dan lusuh karena terdapat bercak darah dan tentu menjadi lusuh setelah berkelahi tadi.

Praktisnya, Kyuhyun terlihat seperti gembel.

Iya, gembel tampan yang tak akan dilewatkan gadis-gadis yang melintas saat mendapati ada seorang gembel tampan berwajah garang namun tegas dan tampak menggemaskan seperti Cho Kyuhyun.

Ringisan Kyuhyun semakin menjadi. Eun Soo seakan sengaja menekan kapas tersebut pada sobekan lukanya. “jealous..” wanita berkaki jenjang itu mengejek Kyuhyun geli.

Tawanya sesekali terlepas. Membayangkan betapa buruknya wajah Kyuhyun tadi ketika melompat untuk menghajar Changmin. “harus kuakui, aku suka gayamu tadi. That guy—whatever his name—“ mata Eun Soo berputar malas, “dia perlu untuk dihajar. indeed.” Anguk Eun Soo mantap, sekaligus untuk meyakinkan Kyuhyun betapa dirinya pun, begitu tak menyukai Shim Changmin, dan tanpa alasan rasional, ingin juga ikut menghajar Changmin.

Dia membuang kapas lamanya dan menggantinya dengan yang baru, lalu membersihkan luka lainnya, ditulang pipi pada wajah Kyuhyun sebelah kanan, terlihat sama buruknya. Terlihat jelas terkena sebuah bogeman mentah, berjejak telalu jelas. berwarna biru keunguan, memar. “kau menonton serial twilight?”

Kening Kyuhyun berkerut. Dia menoleh pada Eun Soo aneh, lalu menggeleng perlahan. Dia masih belum bisa menggerakan kepalanya semaunya karena denyutan itu sedang datang dari berbagai arah diseluruh tubuhnya. “kalau begitu kau harus menontonnya! Kau harus lihat pria bernama Jacob Black. Kau—Tadi—Terlhat sama percis dengan Jacob Black. Dia akan berubah menjadi warewolf kalau sedang tersulut amarah. Dia akan melakukannya secara tidak terkontrol, dulu saat dia masih belum tahu cara mengontrolnya, saat dia marah. Lalu Whoos! Sudenlly become a big big big wolf. Yeah, bedanya kau tidak menjadi warewolf. Persamaan antara kau dan manusia setengah serigala dalam film itu hanya kalian sama-sama marah, dan melompat, menghajar lawan kalian. Sama-sama menyeramkan. Itu saja.”

Eun soo bercerita panjang sedang Kyuhyun tidak tertarik sama sekali dengan komentar Eun Soo mengenai twilight atau warewolf sialan itu. Jangankan mencoba mengingat serial menye-menye seperti itu. untuk bekerja keras berfikir, mencari alasan tepat mengapa dirinya bisa bersikap begitu tidak terkontrol saja Kyuhyun harus meringis kuat-kuat menahan nyeri.

Itu sama sekali tidak diperdulikannya. Yang diperdulikannya saat ini, yang membuatnya mati kesal dan merasa sakitnya terasa lebih mencabik dari pada yang seharusnya dirasakannya adalah karena pada saat seperti inipun, Songjin tidak memperdulikannya.

Songjin tidak disini.

Setelah tragedy pemukulan tadi, Songjin tidak berbicara apapun dengannya. Wanita itu hanya menangis, dan mengikuti ayah mertuanya, Donghae serta Henry untuk membantu Changmin. Mereka semua berada didalam ruang kerja Siwon.

Mereka seperti terpecah menjadi dua kubu dengan perbandingan anggota yang tak sesuai, bahkan terlampau timpang. Seluruh orang tadi, menjejalkan tubuh mereka kedalam ruang kerja Choi Siwon tak terkecuali Songjin. Hanya Kim Eun Soo lah yang berada bersama Kyuhyun.

Kali ini pun Kyuhyun sempat mempertanyakan mengapa Eun Soo berada dipihaknya. Atau itu hanyalah sebuah alasan klise tentang wanita itu yang masih tidak mau berada dekat dengan dokter bedah otak itu.

Siapapun tahu kalau hubungan mereka masih memiliki hal yang belum terselesaikan.

Tapi pertanyaan itupun disingkirkannya saat ini. kali ini tak ada yang lebih penting daripada pertanyaan bagaimana bisa Songjin tetap berada disana, sedangkan tubuhnya disini pun terlihat sangat butuh pertolongan.

Tidak sepayah Changmin, atau bahkan Siwon, tapi dia tetap membutuhkan pertolongan.

Jika Songjin paham bahwa posisinya adalah seorang istri. Istrinya. Maka sepatutnyalah Songjin menyeret kakinya kemari secepatnya, untuk mengurusi dirinya. Bukan malah orang lain seperti itu.

Dan kalau Songjin paham, bahwa mengapa dirinya dapat bertindak seliar itu, seluruhnya disebabkan karena wanita itu sendiri, pastilah Songjin telah merasa tersanjung mati-matian. Sayangnya, bagi Kyuhyun, Songjin tetap menjadi Park Songjin yang selalu membuat kecewa dalam segala pilihan dan tidak perilakunya.

“kau ini pria cerdas, Cho Kyuhyun. Biarpun kukatakan tadi, aku menyukai caramu, menghajar pria itu, tapi seharusnya kau lebih tahu satu hal, bahwa kau seseorang yang berpendidikan. Hanya kelompok manusia kurang berotak, atau bahkan tak berotak sama sekalilah yang menyelesaikan masalah mereka dengan kekerasan. Kau memakan bangku sekolah. Kau berpendidikan. Selesaikan masalahmu secara classy! berpendidikan.”

ceramah Eun Soo seksama. Berbicara layaknya seorang Ibu kepada anaknya. Layaknya seorang kakak, kepada adiknya, tapi Kyuhyun tidak perduli. bagaimana bisa menyelesaikan masalah seperti ini secara classy? apa maksud wanita ini adalah dirinya harus bernegosiasi dengan Shim Changmin dalam pembagian posisi serta status dirinya dan pria sialan itu?

Cih! yang benar saja! dalam hal semacam ini, tidak ada yang namanya Classy atau cara berpendidikan. ini seperti rantai makanan. memakan atau dimakan. dan lagi, sepertinya dia tidak perlu mempertegas hal yang sebenarnya telah tampak tegas dimata seluruh orang. bukankah dirinya mempunyai status yang pasti dari Park Songjin?

kalau ada yang berniat mengusiknya, maka orang itu pastilah orang gila. dan menyelesaikan permasalahan semacam ini, sederhana saja. hanya perlu menunjukan siapa yang lebih berpengaruh. siapa yang lebih memiliki hak.

Mencibir nasihat Eun Soo, Kyuhyun lebih memilih untuk mengabaikannya saja dan membuat matanya sesekali melirik pada ruangan didepannya. Tidak terlihat jelas bagaimana keributan disana terjadi, namun sesekali, kerusuhan itu memang terlihat dengan berlalu lalangnya orang-orang yang terlihat dari pintu kaca buram disana.

Dia hanya mencari Songjin. Tapi pun, sejak tadi Songjin tak didapatinya. “screw the classy way!” tangan Kyuhyun mengepal. Dia menahan amarahnya untuk melejit lagi hingga Eun Soo menghentikan kerjanya, “and now, you wanna punch me in the face like you did before?” komentar Eun Soo skeptic.

heran dengan emosi bocah didepannya ini yang selalu berapi-api. entah apakan dia yang merasa telah terlalu tua, atau anak muda seusia Kyuhyun ini memang memiliki tingkat ketidakstabilan emosi seperti ini?

Wanita bertubuh tinggi langsing itu sama sekali tak takut dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk, bahwa Kyuhyun akan menghajarnya juga. Dia bukannya takut melainkan merasa heran, “kau benar-benar tidak bisa mengendalikan emosimu, Cho? Astaga. Pantas saja Songjin lebih memilih untuk berada disana ketimbang disini denganmu.” Dengus Eun Soo tidak habis pikir. “kau pikir, dia tidak menghampirimu karena apa?”

Kyuhyun menoleh. Langsung menuju wajah tirus Eun Soo. Dia seperti mencari jawaban, walau malu jika terlihat terlalu tertarik akan persoalan, ‘mengapa Songjin tak disini dengannya’.

Itu memalukan, tapi dia membutuhkan alasan rasional—setidaknya untuk membungkam perdebatan didalam hatinya tentang pilihan Songjin yang tak sesuai menurutnya, menetap diruangan yang salah dan mengabaikannya. “She’s afraid of you.” Terang Eun Soo santai.

“aku tidak ingin menghakimi. Dan tolong jangan salah sangka. Aku disini, bukan berarti aku berada dipihakmu,tapi juga tidak dipihak pria itu. Tapi tadi kau sukses membuat semua orang ketakutan. Bahkan rekor! Kau membuat Gyuwon takut! Itu rekor kan? bahkan kukira jika dimasukan kedalam kandang yang sama, seekor Singa lah yang akan takut dengan Gyuwon. Jadi kubilang, kau baru saja memecahkan rekor!”

Eun Soo masih sempat menyelipan candanya, walau tak seutuhnya Kyuhyun terima. Pria itu masih belum puas. Masih ingin alasan lebih tepat, mengapa Songjin tak disini dengannya. “tapi sejujurnya, kau memiliki alasan lain untuk dijauhi. Bahkan aku berfikir, akan pantas jika Songjin pada akhirnya meminta berpisah darimu—“

Kyuhyun langsung melirik tajam. Hari ini terlalu banyak kata berpisah atau perceraian yang didengarnya, dan kata sialan itu seperti terus menerus menghantuinya, tak pernah hilang dari isi kepalanya.

Semua orang seakan ingin membuatnya ingat dengan hal sialan itu. Semua orang, seperti menginginkan hal itu terjadi pada dirinya dan Songjin. “untuk sesaat, kalian membuatku iri dan merasa aneh karena tetap bertahan pada prinsipku untuk terus seorang diri sampai tidak tahu kapan aku menginginkannya, bertahan tanpa pasangan. Tapi lagi, kalian pun membuatku merasa bersyukur tidak memiliki pasangan. Kau tahu apa yang salah dari hubungan kalian? Trust. There’s no trust between you guys. and if you called it love, you must be wrong. Love doesn’t hurt, Cho. Love doesn’t hurt, manipulate, or control.”

Kyuhyun mendesis pelan, “even control?” Kyuhyun mengembalikan kalimat Eun Soo lengkap dengan intonasi sarkasnya. Dia membayangkan, bagaimana jadinya bila Park Songjin tanpa kontrolnya. Mungkin saat ini, wanita itu tidak lagi mengusung marganya sebagai nama depannya saking melihat– betapa– Park Songjin memiliki sifat yang dapat membuat kepalanya langsung terasa ingin pecah.

Eun Soo lalu tertawa pelan. Dengan manner yang tepat, jemari lentiknya itu menutupi bibirnya ketika dia tertawa. Nyaris terlihat seperti bangsawan. “kau tahu control seperti apa yang aku maksudkan. Dan yang selama ini kau lakukan, tidak terlihat seperti control yang baik—hanya seperti sebuah tali pengikat saja. Tali biasa. Kau mengikatnya, karena hanya tidak ingin dia pergi darimu, karena kau telah nyaman bersama dengannya, katakan bahwa aku salah?” tantang Eun Soo saat itu juga.

Mata wanita itu melipir miring mengiris pandangan Kyuhyun untuknya. Pandangan Eun Soo seribu kali lebih tajam saat ini. dia mampu melakukannya, karena tahu bahwa selama ini, Kyuhyun melakukan hal yang salah. “dengar, ada 4 hal yang membuat wanita merasa nyaman. Kepastian, pengertian, perhatian dan kesabaran. Katakanlah kau memberikan hal pertama. Kau memberikan Songjin kepastian. Kau menikahinya. Oke, baiklah ada kejelasan dalam hubungan kalian. Tapi kau tidak memberikannya hal ke dua. Pengertian. ambil saja contoh sederhana tentang bagaimana Pengertian itu. Apa kau mengerti betapa sulitnya berjalan dengan bobot lebih dari 10 kilogram ditubuhmu? Disini?” Eun Soo menepuk perut ratanya, “kau mengerti, bagaimana remuknya tubuhmu? Bagaimana kau tidak bisa bergerak leluasa, bagaimana rasanya tidak dapat tidur dengan nyenyak karena tulang punggungmu terasa sangat pegal? Bagaimana kakimu terasa nyeri? Kau mengerti dengan hal semacam itu? Katakan kau paham. Katakan kau paham, lalu jelaskan alasanmu, membawa lari wanita dengan kandungan sebesar 7 bulan ditengah pusat perbelanjaan seperti kalian adalah penjahat yang sedang dikejar oleh pihak berwajib, dan kau melakukannya hanya karena alasan sepele? Kau tidak ingin Songjin bertemu dengan Changmin? Oh god! Cho Kyuhyun, how old you are? 27? I don’t think so. Seems like you only 4!”

Eun Soo mendecak-decak berulang kali. dia ingat video call terakhir dengan Songjin ketika wanita itu berada di Bundang untuk mendatangi konferensi dan Songjin bercerita bahwa Kyuhyun membawanya pergi berlari-lari seperti mereka baru dikejar keamanan karena tertangkap basah mencuri.

Setelah memikirkan ulang alasannya, Songjin barulah paham. kyuhyun bersikap seperti itu, karena tidak ingin dirinya bertemu, sengaja atau tidak dengan Shim Changmin.

kalau saja Kyuhyun mengatakannya baik-baik bahwa dia tidak suka. sebenarnya, tidak perlu mereka belarian seperti itu. hal itu benar-benar terlihat bodoh jika dipikirkannya terus. Dan Eun Soo masih terus mendecakkan bibir ketika mengingat keseluruhan hal yang Songjin ceritakan itu padanya.

Cho Kyuhyun yang pintar, Cho Kyuhyun yang bodoh pula.

“Perhatian?” Lanjutnya. “Aku tidak melihatnya kau memberikan itu kepada Songjin. Apa selama ini kau merasa melakukannya? Kurasa tidak. Menurutku, kau hanya menaruh matamu, pada pria-pria yang terlihat akan menghampirinya. which is, mereka akan menusikmu juga. Kau lebih memperhatikan bahaya yang kau rasa akan membuat posisimu berada diposisi membahayakan kelak. Kau lebih pantas disebut bodyguard dari pada suami. Dan demi Tuhan! bahkan seorang bodyguard bertugas melindungi orang lain, tapi kau—kau hanya melindungi dirimu sendiri. dan kesabaran?? Kejadian barusan tadi, membuatku berfikir ulang tentang point terakhir itu. Kau sendiri bisa merasakannya. Katakan padaku lagi bahwa aku salah!!”

Kyuhyun menggerak-gerakan bibirnya. Dia sepenuhnya ingin membantah. Berkata bahwa yang dilakukannya semata untuk melindungi Songjin. Untuk membuat hubungan mereka tetap bertahan dan malah seharusnya, Sonjin lah yang berterimakasih padanya, karena berkat jasanya, mereka masih bersama hingga detik ini.

Setidaknya, hingga detik ini.

Tapi sialanlah Kim Eun Soo dan lidah sarkasnya. Seluruh sanggahan Kyuhyun dapat seketika lenyap bergantikan pertanyaan apakah benar, atau jika mungkin itu adalah hal yang tepat?

Tidak ada yang pernah berhasil membuatnya mati kutu kehabisan bahan perdebatan bahkan Songjin sekalipun. perdebatan dengan Songjin, lebih sering dinikamtinya karena itu membuatnya merasa dapat mengerjai istrinya itu hingga pada akhirnya, dia sendirilah yang memperoleh banyak keuntungan.

Tapi perdebatan dengan Eun Soo saat ini, tidak ada sedikitpun dari hal ini yang dirasa bisa dinikmatinya.

Dia merasa baru saja tertimpa tangga, dan kemudian tiba-tiba seseorang menyiramnya dengan emberan air es. Lalu sekonyong, orang lain tidak dikenal ikut-ikutan menyerangnya dengan memaksakan balokan es masuk kedalam pakaiannya.

Eun Soo merenggangkan kedua tangannya tinggi-tinggi membuang rasa pegal, lalu mendekat pada Kyuhyun, mencondongkan tubu mengikis jarak, “she loves you. How do I know? Simple. We’re same, we’re woman. If a woman stupid enough to love you after you broke her heart, I guarantee you, she is the one.”

~~ ~~

Jalan raya lengang, music classic, seorang diri dan sepi.

Kyuhyun mendenguskan nafasnya berkali-kali. Menonton sekitarnya kesal. Marah. Ingin marah. Atau malah sudah marah, tapi tidak tahu kemana harus melampiaskannya.

Dari seluruh penjuru manusia dipelosok bumi, katakan siapa yang tidak menyukai ulang tahun? Bukan perkara kontrak hidup— usia dibumi yang terlihat berkurang, tapi pada bagian kejutan dalam perayaan pesta tersebut.

Siapa yang tidak menyukai kejutan pada hari ulang tahun? Bukankah itu artinya, terdapat perhatian yang besar dari orang sekitar kepada dirinya? Tapi jika kejutan itu berupa keributan yang menjadi berakhir dengan perkelahian bahkan nyaris permusuhan, Kyuhyun lebih baik memilih agar orang-orang disekitarnya, tak lagi memerdulikan tentang ulang tahunnya.

Ini tidak lagi lucu. Tidak lagi menyenangkan dan yeah, ini ulang tahun termengesankan seumur hidupnya.

Mengesankan. Terlalu mengesankan. Baru inilah kali pertamanya, ulang tahun dan mendapatkan kado sebuah kabar perceraian.

Siang tadi selepas keributan, Songjin memang tidak menampakkan diri. Tidak pula menghampiri Kyuhyun. Wanita itu tak berada dimanapun. Tidak dalam jangkauan mata Kyuhyun. Namun mengejutkan, pada sore hari ketika itu, Kyuhyun dikejutkan oleh keberadaan wanita itu— meringsek masuk kedalam ruang kerjanya tanpa permisi.

“Aku mengundurkan diri.” Ucap Songjin ketika itu. Menyerahkan satu buah amplop putih tanpa coretan apapun dibagian luarnya.

Kyuhyun hanya diam dan tidak menggubris Songjin, tapi seakan sadar bahwa wanita itu menginginkan perhatiannya, Songjin lantas memberikan benda lain kepada dirinya. Mau tidak mau membuatnya mendongak— menengadahkan wajahnya.

Sebuah map cokelat. Sama polosnya, tapi lalu yang membuat pria itu terkesiap ialah ketika Songjin memintanya kembali lagi, “lihat ini baik-baik. Baca, pahami, tanda-tangan, lalu berikan kepadaku lagi secepatnya” perintah Songjin menyodorkan map cokelat tersebut bernafsu.

“apa?” seketika itu pula Kyuhyun membalasnya. Santai. Terlalu santai, tapi tak ada satupun yang tahu bahwa didalam hatinya, sedang terjadi kerusuhan besar. Seperti sekumpulan kelompok barbar yang sedang membakar sebuah desa. Kacau.

Wajahnya masih menyisakan beberapa plaster untuk menutupi luka. Tapi beberapa lagi didiamkan saja terbuka. Dia tidak lagi perduli tentang rasa nyeri yang menggerayangi tubuhnya karena perkelahian tadi.

Kali ini tedapat rasa nyeri lainnya, yang membuatnya kehabisan kata-kata. Kehabisan cara, dan kehabisan stock ekspresi raut wajah— untuk dipamerkan kepada Songjin.

Untuk sesaat, Kyuhyun hanya dapat diam. Memandangi map cokelat tersebut seksama. Butuh 60 detik lamanya, agar kesadarannya dapat kembali pulih. Seperti memberikan waktu untuk nyawanya yang semula melayang-layang, dapat kembali lagi masuk kedalam tubuhnya.

“baca, pahami, dan tanda-tangan?” Kyuhyun menarikan senyuman berbahayanya, menggeleng tak percaya, “aku memerlukannya.” Songjin membalasnya sangat cepat. Seperti tak sabar, kalau bisa diberikan oleh Kyuhyun saat itu juga, lebih baik seperti itu.

Jelas saja Kyuhyun tak percaya, apakah Songjin baru saja meminta sebuah persetujuan darinya? Kalau iya, katakanlah seperti itu— telah sepatutnya Songjin memintanya dengan cara yang lebih… manusiawi?

Kyuhyun menghela nafasnya dalam. Tangannya tadi telah menggengam map tersebut, namun lalu diletakkannya lagi diatas meja. Melemparnya. Kepalanya menggeleng kekiri dan kanan sambil bibirnya mengulaskan senyum.

Saat itu dia merasa begitu kasihan. Kasihan dengan dirinya sendiri. apakah dia baru saja merasakan hal yang selalu orang katakan sebagai hal terburuk sedunia? Pengkhianatan? Hal seperti diserang dari belakang tanpa persiapan apapun atas dirinya? Oleh wanitanya sendiri?

Ayolah~ yang benar saja!

Jemari Kyuhyun menggerayangi wajahnya. Luka-lukanya bahkan belum mengering seutuhnya. Jika terkena sapuan udara kencang, seperti pintu yangterbuka secara medadak dengan brutal seperti tadi yang Songjin lakukan, rasa nyeri dan pedih itu dapat sekonyong kembali, tapi Songjin seakan tidak memerdulikannya.

Atau tepatnya, terlihat tidak memerdulikan hal itu. Mata Kyuhyun nyaris tak pernah salah. Setidaknya seperti itulah.

“apa isi didalam map ini?” telunjuk Kyuhyun bekerja menyentuh-nyentuh bagian depan map tersebut tanpa minat. Menonton wajah Songjin yang entah tak berani atau tak ingin menatapnya, tapi wanita itu selalu mengalihkan pandangannya ketika sengaja atau tanpa sengaja, mata mereka bersiborok. “katakan saja. Aku ingin mendengarnya langsung darimu. Pasti ini hal yang menarik. Iyakan?”

“kau bisa membacanya sendiri. kau akan tahu.” Tanggap Songjin menolak untuk menjelaskannya. Dia memutuskan untuk beranjak pergi saja. Terlalu malas, dan tak berminat untuk mendapati pertengkaran kesekian kalinya. Dan hari ini dia sedang terlampau geram untuk melihat wajah favoritnya itu babak belur.

Terlihat kasihan, tapi juga menyebalkan disaat yang sama. Hingga Songjin tidak dapat memutuskan, apakah harus mendekat untuk melihat luka-luka itu, atau berpaling pergi saja seperti dia tidak melihat apapun. tapi bertingkah tidak tahu apa-apa juga sama sulitnya seperti menahan air mata.

“surat perceraian?” Kyuhyun menebak. Menaikan satu oktaf suaranya. Dia ingat betapa tadi songjin mengatakan bahwa wanita itu ingin sekali mendatangi pengadilan. Meminta surat perceraian dan melewati bagian konsultasi karena tak ada lagi yang perlu untuk dikonsultasikan.

Kyuhyun hanya tidak habis pikir tentang mengapa Songjin dapat tega berbuat seperti ini? dan tanpa memberikan alasan rasional kepadanya? Ini lelucon terlucu dihari ulang tahunnya. atau.. apakah dia baru saja mengikuti acara televisi dengan dirinya sebagai pemeran utama, orang yang dikerjai? kalau begitu semua ini pasti hanyalah jebakan. dan diam-diam, disekitarnya terdapat banyak kamera pengintai.

Tapi kalau jebakkan, Songjin tidak akan bisa menangis lancar seperti itu. wanita itu payah dalam berakting. Jadi setelah Kyuhyun pikir ulang, ini pasti bukanlah sebuah jebakan ulang tahun atau apapun itu yang sebelumnya dipikirkannya.

pertanyaan Kyuhyun tadi membuat Songjin berhenti berjalan dan segera membalik tubuhnya. Sesaat, Songin memandangi Kyuhyun sama anehnya, seperti pria itu yang memandanginya.

Keduanya tampak seperti alien yang saling merasa aneh dengan bentuk tubuh mereka masing-masing. Namun lantas, Songjin mengembalikan kesadarannya cepat. Mulutnya bergerak lagi, “seperti yang kau inginkan.” Tanggapnya selepas itu. Tersenyum memaksa lantas melangkah pergi lagi.

Dia membiarkan Kyuhyun mendengus tidak percaya sambil meremas ujung map tersebut marah, “berapa lama kau merencanakan ini dariku dengan parter barumu? Ingin membuangku? Atau menyingkirkanku? Park Songjin—kau tidak akan bisa. Kau tidak akan mendapatkan tanda-tanganku. Asal kau tahu saja, kau tidak bisa kabur kemanapun, tidak sama sekali terlepas dari jangkauanku.” Suara Kyuhyun melejit naik pada nada suara tertinggi.

Dia telah berdiri dibalik meja kerjanya. Mengayunkan map tersebut diudara dengan tangan kanannya, dan hanya mendapatkan tanggapan sederhana, bahwa Songjin begitu percaya bahwa Kyuhyun akan melakukan hal yang diinginkannya, “kau akan menandatanganinya. Kau pasti menandatanganinya.” Yakin Songjin terlalu bulat. terus mengulangnya sampai wanita itu keluar dari ruang kerjanya.

Pada detik yang sama, map tersebut telah berpindah tempat, menjadi tergeletak diatas lantai layaknya benda tak bertuan. Kyuhyun menggeram, berteriak, mengacak apa yang ada dihadapannya, tanpa ada satupun yang berani menghentikannya.

Segelintir pegawainya, hanya berani menontonnya dari balik kubikel mereka. Toh itu tidak terlihat jelas. Kaca pemisah diantara mereka sangat tebal dan  buram. Tapi suara Kyuhyun dapat menembus tembok kedap suara disana. Apa itu lucu? Kyuhyun terlihat seperti mosnter kelaparan yang sedang marah.

“persetan dengan perceraian, pengadilan, apapun itu dia tidak akan mendapatkan persetujuanku.” Geram Kyuhyun sesampainya dirumah, setelah dirinya melompat turun dari mobilnya dan masuk menaiki tangga menuju kedalam rumahnya.

Dia berjalan cepat. Terlalu cepat. Tujuan pertamanya adalah mencari keberadaan wanita yang membuatnya pusing setengah mati belakangan ini. Merasa repot dan entahlah— hari ini terasa terlalu banyak hal tidak tepat terjadi.

Tapi melangkah kemanapun mengitari seisi rumahnya sampai pada lantai ketiga, Kyuhyun juga tidak menemukan keberadaan Songjin. Tidak diruang kerjanya, atau bahkan diseluruh kamar-kamar didalam rumah besarnya.

Nihil. Semua kosong. Tidak ada jejak Songjin pernah melangkahkan kaki memasuki bangunan ini sebelumnya. Hal yang teramat mengecewakan, bahwa sebenarnya, jika itu memang diperlukan, Kyuhyun akan mebuat sebuah percapakan sederhana dengan wanita itu untuk menanyakan segala hal tak tepat pada hari ini.

Secara baik-baik. Setidaknya, itulah rencananya.

Tapi absennya Songjin saat ini, membuat Kyuhyun menyingkirkan ide nya tersebut dan lantas malah menjadi kesal lagi. Rasa kesal yang tersulut entah keberapa kalinya hari ini.

Dia menghempaskan diri disofa. Menghela nafas panjang dan berat. Menyandarkan kepalanya dipunggung sofa sambil memejam. Menguruti pelipisnya, karena kepalanya terasa berdenyut.

Memikirkan kemungkinan terbesar, tentang dimana keberadaan Songjin hingga selarut ini belum juga kembali, dan kemana wanita itu pergi. Sudah pukul 11 malam. Seharusnya Songjin telah berada diatas ranjang mereka dan tertidur seperti babi seperti biasanya.

Dulu. Saat Songjin nya, masihlah Songjin yang dikenalnya.

Kemungkinan pertama, Songjin berada dirumahnya. Rumah orang tuanya maksudnya. Tapi kemungkinan itu kecil— mengingat Ibu mertuanya, Park Aeri, sedang tak berada di Korea. Wanita paruh baya itu masih di Jepang.

Dan Songjin tidak akan mau berada didalam bangunan besar seorang diri. Katakanlah seperti itu, karena pelayan tidak akan selalu mengekori wanita itu kemanapun dia ingin pergi kan?

Maka kediaman Songjin, Kyuhyun coret dari daftar didalam kepalanya.

Pilihan kedua adalah apartement Eun Soo. Itu memungkingkan. Karena Eun Soo sedang berada pada day off—nya dan menghabiskan harinya untuk bersantai ditempatnya, menikmati hal yang akan sangat jarang ditemuinya itu.

Tapi Eun Soo berkata, bahwa tadi dia dan Nara akan pergi berlibur ke Jeju selama dua hari. Jadi itu pun, bukanlah jawaban yang benar juga.

Kemungkinan terbesar adalah rumah Siwon. Songjin pasti bersembunyi disana. Entah bagaimana, Kyuhyun pun dapat memberikan kepastian nyaris 90% bahwa istrinya berada disana.

Tapi hal yang memalukan adalah bertanya kepada pasangan itu tentang keberadaan Istrinya, mengingat tadi, dia baru saja menghajar kakanya itu mati-matian karena telah membohonginya tentang keberadaan Songjin malam kemarin.

Akan sangat memalukan, dan terlihat seperti menjilat ludah sendiri. maka saat itu juga, Kyuhyun memutuskan untuk menghubungi Eun Soo. Setidaknya, saat ini, Eun Soo lah yang paling memungkinkan untuk diajaknya berbicara.

“I’m here miserable man~” Kyuhyun mendengus pelan ketika Eun Soo menyapanya dengan sapaan menggelikan itu lengkap dengan suara merendahkan juga menyedihkan, walau dalam sudut hatinya pun, dia membenarkan panggilan itu— seakan pantas disematkan untuknya saat ini.

Kyuhyun berdehem tak hanya bertujuan untuk meluruskan suaranya, tapi juga bermaksud mengulur waktu, untuk mencari kalimat yang tepat untuk disampaikan kepada Eun Soo— bertanya dimana keberadaan istrinya, “itu—“ Kyuhyun tampak bingung mengatakannya. Menggaruki kepalanya yang tak gatal.

“She’s not with me, you know that, right?”

Kyuhyun berdecak. Kepalanya mengangguk mengiyakan. Diapun paham, Songjin tak sedang bersama dengan model terkenal bermulut pedas itu. Tapi dengan bantuannya, mungkin Kyuhyun akan tahu dimana keberadaan Songjin. “jam 11 malam Eun Soo, kau tahu berbahaya untuknya berada diluar sana sendirian.”

Eun Soo terbelak menertawakan ucapan Kyuhyun, “kau yakin dia seorang diri?”

Eun Soo tidak sedang bermaksud menggoda Kyuhyun, tapi dia tahu bahwa Songjin tidak mungkin berada diluar sana seorang diri. Songjin mungkin mencari tempat untuk sendiri, tapi dia tidak mungkin sendirian. disekitarnya, terlalu banyak orang yang selalu ikut repot dengan hidup wanita itu. kadang Hal seperti itu yang membuat Eun Soo merasa iri, dan hal itulah yang membuatnya yakin bahwa saat inipun, Songjin tidak mungkin sendirian diluar sana. dimanapun wanita itu berada.

Dan Kyuhyun mempercayainya. Setengah hati dia memang mengambil pemikiran terburuk itu, bahwa mungkin saja hal seperti malam kemarin ditemuinya lagi. Wanitanya itu bersama dengan pria berpanggilan ‘sialan’ hasil buatannya itu.

Tapi berniat mengurangi denyutan dikepalanya, Kyuhyun mencoba berhenti memikirkannya dan mendepak susah payah wajah mengesalkan itu dari dalam kepalanya, “coba tanyakan dengan Siwon. Aku tidak tahu apapun tentang Songjin karena tadi setelah keluar dari ruanganmu, aku benar-benar pulang dan tidak masuk kedalam ruang kerja Siwon. Kau tahu, disana ada si sialan itu.”

Kyuhyun tertawa singkat. Lawakan terbaru yang telinganya dapat. Ternyata benar apa kata Songjin tentang kesamaan akan dirinya dengan Eun Soo. Setidaknya mereka sama-sama diawali dengan kepemilikan ‘peliharaan’ si sialan.

Setidaknya, dalam kurun waktu nyaris 24 Jam, dia menemukan hal lucu yang memang benar-benar lucu bagi telinganya dengar.

“Lee Donghae—“

“whatever” terdapat selipan nada malas dalam suara Eun Soo. “Siwon. Coba hubungi Siwon.” Eun Soo berusaha merubah topik saat mulai mencium bom ledekan yang kemungkinan besar akan Kyuhyun lemparkan untuknya.

 dan decakan ketus lah yang menjawab tawaran Eun Soo tadi. Dalam sekejap, Kyuhyun memutus panggilan antaranya dan Eun Soo begitu saja, tanpa permisi.

kenapa baik Choi Siwon maupun Shim Changmin, keduanya tampak menyebalkan saat ini untuk telinganya lewati?

Kyuhyun menyingkirkan ponselnya jauh. Melemparkannya begitu saja dan kemudian berbaring disofa. Meluruskan tubuhnya hinga tubuhnya mengisi seluruh ruang kosong pada sofa kulit tersebut.

dia teringat kata-kata Eun Soo lantas tertawa getir untuk dirinya sendiri, ‘If a woman stupid enough to love you after you broke her heart, I guarantee you, she is the one.’ 

“Siapa yang mematahkan hati siapa?” Kyuhyun menggumam, “sepertinya aku yang sering jadi korbannya. memangnya aku tidak terlihat seperti sering patah hati? Cih! menggelikan!” maki Kyuhyun sebal. matanya memejam. Dalam sekejap, kesadarannya telah lenyap. Nafasnya menjadi teratur dan dengkuran terdengar kencang mendominasi ruangan.

Cho Kyuhyun yang malang, dia pasti sangat lelah dengan harinya kini.

~~ ~~

Songjin memutuskan untuk berpindah tempat, setelah disekitarnya Nampak terlalu berisik dan membuatnya sakit kepala. Ayah mertuanya selalu menanyakan bagaimana kondisinya setiap menit, lalu Ibu mertuanya pun tak jauh berbeda.

Siwon berdebat dengan Gyuwon tentang keputusannya setuju membohongi Kyuhyun kemarin. Berbicara tentang dirinya yang telah dapat mengetahui bahwa hal seperti ini akan dapat terjadi, atau bahkan lebih buruk.

Gyuwon telah berulang kali memperingatkan Siwon bahwa Kyuhyun tak bisa dibohongi begitu saja. Dan setelah seperti ini, tidak perlu ditebak lagi, alasan apapun pasti akan hanya ditolak pria itu mentah-mentah.

Lagipula, marahnya Kyuhyun beralasan, walau berlebihan.

“ini hanya terjadi satu tahun satu kali. Yang namanya surprise ya memang harus ada bumbu-bumbu tipuan. Mana ada yang melakukan surprise dan berkata jujur dengan korban mereka? Disini siapa yang bodoh sih? Aku, kau atau Kyuhyun??”

Siwon mengoceh sembari memandangi wajahnya yang amburadul. Dia berkaca, dan mengernyit menonton wajah tampannya sedang luar biasa kacau. Tidak lebih kacau dari Changmin tadi, tapi terakhir kali wajahnya seperti ini, pun memiliki alasan yang sama. Karena wanita bernama Park Songjin ini beberapa tahun silam, dari  tangan orang yang sama.

“kau tetap salah! Aku sudah mengingatkanmu! Dan aku tidak pernah setuju dengan caramu!” amuk Gyuwon lebih kencang, “kau hanya berbicara! Kau sendiri tidak memiliki ide apapun untuk membantuku kemarin!!” Siwon memberengut jengkel.

Tapi disini, Songjin lah yang lebih jengkel. Pada lain hal, dia merasa bahwa seluruh keributan ini sebenarnya bermuara dari dirinya. Dia merasa tidak enak hati dan bersalah, selalu hanya menyebabkan keributan saja dimanapun dirinya berada. Jika saja dia tidak berkeinginan untuk membuat kue sialan itu, semuanya pasti tidak akan terjadi.

Jika saja dia dapat berfikiran lebih cerdas, membuat kejutan yang tidak menghasilkan hal mengejutkan semengejutkan kejutan ini. Dasar kejutan sialan!

Songjin menggelengkan kepala menolak, saat Choi Ki Ho menawarinya potongan kiwi dan melon. Dia lapar, tapi dia lebih merasa ingin tahu apakah Kyuhyun telah makan atau belum.

Tapi dikotak yang sama, pada sisi yang berbeda, dia pun merasa sebal dan luar biasa Jengkel, dan tidak perduli, dan berharap dia tidak perlu mencemaskan pria pemarah itu.

Dia sedang marah dengannya! Seharusnya dia bersikap seperti orang marah pada umumnya! Songjin menggeram sebal dengan dirinya sendiri yang plin plan, sembari kakinya diseret menuju ayunan pada halaman belakang rumah Siwon dan Gyuwon.

Bangunan ini tidak lebih luas dari pada rumahnya. Terlihat sama elegant dengan miliknya, namun tidak lebih besar dari kepunyaannya itu. Lokasi terfavorit Songjin ditempat ini adalah ayunan rotan ditaman belakang dengan pemandangan kolam ikan.

Dirumahnya juga terdapat kolam ikan, lengkap dengan gazebo untuk bersantai. Ukurannya jauh lebih luas dari tempat ini, tapi disini terasa lebih hangat dibandingkan rumahnya.

Sapuan angin malam yang dingin tidak menghentikan Songjin untuk mencari udara segar bagi perputaran oksigen bersih didalam paru-parunya. Untuk dialiri sampai keotaknya membuatnya nyaman dan tak lagi merasakan pusing.

Rambutnya menghempas. Seperti ingatannya yang tak juga mau terhempas dari otaknya tentang kejadian siang tadi. Bukan kue hasil kerja kerasnya yang membuatnya menangis saat ini. bukan pula makian Kyuhyun— itu terasa gamang karena pria itu telah terlalu terbiasa memakinya.

Seperti makian telah menjadi makanan sehari-harinya dari pria tersebut.

Terdapat rasa ganjil, yang membuatnya selalu bertanya mengapa Kyuhyun tampak berbeda. Tentang mengapa Kyuhyun tampak terlihat seperti monster dan bukan dirinya sendiri, seperti Kyuhyun yang dikenalnya dulu.

Acara membayangkan, memikirkan, hingga tertegunnya membuat Songjin terkejut, saat Siwon menyampirkan sebuah jaket tebal pada tubuhnya, lalu merangkulnya. Memeluknya dari samping seakan paham apa yang sedang Songjin pikirkan saat ini, dan pahambahwa udara sedang terlalu dingin untuk dilewatkan seorang diri saja diluar ruangan. “kau masih ingat prom night membosankan 6 tahun lalu yang kita datangi bersama?” Siwon merapihkan rambut Songjin. Menyelipkannya dibelakang telinga, lalu melipat kaki panjangnya.

Hmm..” biarpun tak paham, Songjin mengangguk. Mengerutkan kening dan sedikit menoleh kepada Siwon yang sedang tersenyum kepadanya. “prom night terpayah sepanjang hidupku.” Cibir Songjin lantas teratwa dibarengi Siwon, “aku juga.”

“semuanya berawal dari sana, Songjin.” Setelah terkekeh bersama, Siwon bisa cepat merubah wajahnya menjadi serius. Tak ada lagi sisa tawa dan kekehannya. Dia menatap lurus kepada Songjin seksama.

Sama seperti dulu, saat Songjin tertangkap basah ingin menyembunyikan kembar ujiannya dengan nilai buruk— atau membolos dari sekolah hanya untuk mendatangi game center saja.

Siwon tampak seperti seorang ayah yang sedang serius menceramahi anaknya setelah sekian banyak hal salah yang dilakukan oleh anak itu. Bahkan dirinya belum mengatakan apapun, tapi atmosfer keduanya berubah menjadi lebih dingin.

“ini bukan tentang kau. Ini tentang adikku.” Lanjut Siwon. Menjawab gurat kebingungan diwajah Songjin. “ada sedikit kesalahan yang Kyuhyun lakukan. Kukira itu telah diselesaikannya dulu. Tapi melihat tingkahnya belakangan ini, aku jadi sangat yakin bahwa dia belum benar-benar melakukan apa yang seperti kuperintahkan dulu. Secara lengkap. Tanpa ada yang disisakan.”

Songjin membuat matanya mengerjab. Bola mata besar, sebesar bola ping-pong itu mengerjab-kerjab ditengah malam seperti mata kelinci yang berapi. Tapi juga terdapat tanda Tanya didalamnya.

Antara paham dan tak paham, Songjin memutuskan untuk diam mendengar Siwon berbicara sampai setidaknya, ada yang dipahaminya. “kau tahu kenapa kau datang bersamaku ke prom night payah itu?”

“karena aku sama payahnya dengan pesta sialan itu.” Mata Songjin berputar 180o jengah. Jangankan mengingat keseluruhan jalannya pesta, memikirkannya saja Songjin sudah malas.

Siwon lantas tertawa. Dia kini yakin seribu persen bahwa Kyuhyun belum mengatakannya. Entah apakah motivasi pria itu, tapi Siwon terlalu yakin bahwa Kyuhyun belum mengatakannya kepada Songjin, tepat seperti apa yang diperintahkannya.

“alasan lain yang lebih rasional?” ledek Siwon masih menyisakan tawanya. Gelengan Songjin membuatnya berdecak kecewa kemudian, “ayolah, ini permainan seru dan mudah. Coba tebak mengapa kau datang denganku. Tebak!” paksa Siwon.

Songjin mendengus, “kau diam-diam menyukaiku. Kau membuatku datang keacara itu denganku.” Jawabnya sebal. Sudah paham otaknya tak seberapa bagus untuk bekerja bermain teka-teki.

Dan lagi kondisi mereka saat ini, sedang dirundung puluhan masalah yang bertumpuk menjadi satu memenuhi otak tak seberapanya itu, masih juga Siwon bermain-main dengannya.

Siwon tertawa lebih kencang. Setengah merunduk karena perutnya menjadi sakit. Berkat Songjin, akhirnya hari ini dia memiliki hal yang pantas untuk ditertawakan. Hal yang pantas dianggapnya lucu selain keributan berkat kesalah pahaman siang tadi.

Selain kejutan yang gagal itu.

Selain wajahnya babak belur karena Kyuhyun ikut menghajarnya habis-habisan setelah pria itu menghajar Changmin.

“nyaris mendekati. Tapi tidak sepenuhnya benar.”

“Kau menyukaiku? Jinjja Oppa?!” Songjin melongo hebat. Sedang siwon tampak terkejut setengah mati dengan tubrukan jawaban Songjin lengkap dengan pelototan panic dari wanita itu, “ini affair!” Songjin menggumam.

Bibir Siwon menjadi beku selama sepersekian detik. Selama sepersekian detik itu dia merasa tak percaya dengan daya permikiran Songjin seakan tak memiliki perbaikan atau kenaikan kasta setelah tingal bersama Kyuhyun nyaris 4 tahun lamanya. “kau benar-benar ratu lelucon, kau tahu?” Geleng Siwon tidak habis pikir.

“kalau aku harus membuat affair, aku jelas akan memilih wanita yang setidaknya tidak membuatku pusing. Kau hanya membuat kepalaku ingin pecah kalau kau sudah membuka mulutmu!” Siwon menoyor kepala Songjin berulang kali sambil berdecak.

Park Songjin memang benar-benar sesuatu.

“jawabanmu nyaris benar. Nyarissss. Sedikit lagi.” Telunjuk dan ibu jari Siwon nyaris merapat, untuk menunjukan betapa jawaban Songjin tadi hampir mendekati kebenaran. Hampir. Baru hampir.

“lalu?”

“tidak berminat menebak?”

“aku sedang tidak minat bermain tebak-tebakan.”

Alis Siwon terangkat tinggi mendengar jawaban Songjin kembali tertuang dengan nada paraunya. Baru saja sedetik tadi mereka bertukar tawa, dengan cepatnya awan mendung itu kembali lagi.

Atau memang caranya saat ini salah. Songjin sedang tidak bisa diajak bercanda.

“sudah kubilang, ini tentang Kyuhyun. Dan pria yang disebutnya sisialan itu. Mereka berdua bukan hanya membuat kepalamu saja ingin pecah, tapi aku juga!” dengus Siwon seperti mengadu.

“kau tahu Kyuhyun menyukaimu?”

“bukan hal yang baru—“

“seberapa banyak kau tahu tentang hal itu?”

well— Kyuhyun cukup sering mengulangnya sampai aku bosan, sebenarnya.”

“sekarang? Bagaimana dengan dulu?” kini dua alis Siwon bekerja naik dan turun. Menunggu Songjin menjawabnya, sambil melakukan apa yang ingin dilakukannya karena tak sabar— Songjin terlalu lamban untuk menyadari maksud perkataannya. “6 tahun lalu?”

“6 tahun lalu??”

“6 tahun lalu.” Angguk Siwon. “tepat 6 tahun yang lalu.” Dia meyakinkan Songjin.

Wajah Songjin menjadi kosong. Jawaban, jelas tak tampak pada wajah polosnya nan datarnya itu.

Hanya semburat ekspresi datar dengan kepala yang dimiringkan dan terus menjadi miring selama detik kedetik berjalan. “Prom night?” Songjin mengulang untuk meyakinkan. Siwon mengangguk, tapi kemudian dia terlalu malas untuk meladeni cara berfikir Songjin yang seakan mandek.

Siwon terdiam. Dia ingin membuat Songjin menyimpulkan sendiri, tapi dia juga tak tahu harus berbuat apa. Dalam kerja keras berfikirnya, dia kemudian terinagt dengan rumah pohon dihalaman belakang rumahnya. “Ah! Rumah pohon itu!” wajah Siwon berbinar cerah. Matanya terbuka lebar—terlalu lebar. Dia tersenyum luar biasa lebar.

“rumah pohon Kyuhyun itu?”

“bukan itu milikmu.” Ralat Siwon cepat-cepat. Tangannya bergerak bersama dengan kepalanya ikut bergerak kekanan dan kiri. “dia tidak menyukai hal seperti itu. Dia membuatnya karena kau menginginkannya. Bukankah kau menginginkan rumah pohon setelah rumah pohonmu ambruk terkena badai dulu? HAHAHA!”

Songjin hanya dapat mengangguk canggung. Dia masih mencoba untuk menyatukan titik-titik terpisah untuk menjadi sebuah gambar yang pas untuk dijadikannya jawaban, “lalu?”

“lalu?” Siwon mendelik, “lalu apa yang terjadi sebelum rumah pohon itu ada? Bukankah kau sedang melakukan aksi protes entah kepada siapa-mu itu, tidak ingin melakukan apapun dan tak ingin kemanapun karena Shim Changmin pergi begitu saja tanpa memberikan kabar apapun? Dan sama sekali tidak berinisiatif untuk membawamu ke prom? Dan kau bertingkah berlebihan dengan gaya hiperbolamu itu, bertingkah dan berkata, bahwa kau adalah wanita terjelek, termengenaskan, termenyedihkan, terpantas untuk dikasihani sedunia karena tidak ada satupun pria yang mengajakmu datang kesana. Kau merasa payah karena kau melewatkan kesempatan prom terakhirmu dengan seseorang yang bukan kau harapkan. Aku. Kau ingat? Kau marah. Aku terciprat imbasnya. Aku, Kyuhyun ayah ibumu, bahkan pesuruh dirumahmu ikut kau marahi. Cih! Menggelikan! Kekanakan sekali!”

Songjin tertawa renyah. Dia kemudian mengingat lagi, betapa konyolnya dirinya ketika itu. Dia marah dan kesal kepada semua orang karena hal sederhana itu saja, “menurutku itu tidak kekanakakkan, Oppa. Saat itu, kau harus paham bahwa seluruh gadis disekolah mendapatkan pasangan mereka untuk datang ke acara payah itu. Dan lihat aku saat itu, tidak ada seorang pun yang sudi menawarkan dirinya untuk datang denganku. Tidak satupun. Bahkan ketika itu aku sedang dekat dengan Changmin Oppa, tapi dia juga tidak menawariku. Saat itu aku berfikir ‘astaga, apa aku benar-benar begitu jelek sampai terlihat menyedihkan seperti itu?’ kau tidak paham hal seperti itu Oppa. Memang menggelikan, memang kekanakan. Tapi aku merasa benar-benar payah saat itu. Dan karena hal itu aku menjadi bahan ledekan. Aku tidak ingin kembali ketempat itu. lucu ya? tapi karena hal itu, aku mati-matian merasa tertindas dan terintimidasi. padahal, sekarang aku juga berfikir hal yang sama, kenapa juga aku sampai berlebihan seperti itu. tapi itu yang namanya masa muda. memangnya kau tidak pernah melewati hal konyol seperti itu dulu? mana ada orang yang hidupnya lurus-lurus saja sepanjang hidupnya? Eissh~”

Siwon menghela, “kenapa wanita begitu perduli dengan kepopuleran? Astaga.. menggelikan!” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. berwujud rasa heran yang membuatnya terus berfikir kebiasaan konyol para wanita itu membuatnya merasa bodoh. “apa yang kalian dapatkan dari hal seperti itu??”

Bahu Songjin berherak naik turun beberapa kali sebelum bibirnya mengatakan “tidak tahu” sebagai jawabannya. Dia memang tidak tahu. Tapi dia merasakan kepuasan tersendiri saat mendapati titik teratas pada rantai kehidupan sekolah menengah atas— seperti ratu, menduduki tahta tertinggi. “kepopuleran—“

“tatapan memuja, diperlakukan bagai seorang penguasa? Huh?”

“kurang lebihnya—“ Senyum tipis Songjin, dibalas dengan mendengusnya Siwon sinis. Merasa jijik dengan hal seperti itu, lantas merasa bersyukur bahwa dirinya dilahirkan menjadi seorang pria. Untung saja seperti itu karena jika dia adalah seorang wanita, dia benar-benar tidak tahu apakah kuat bertahan dengan permainan begis semacam itu.

“tapi seperti itupun aku tidak mendapatkannya, kan? Tck, disadari atau tidak, aku memang sepayah itu— Seohyun yang bahkan bukan berada diangkatanku, menjadi incaran banyak pria untuk datang ke pesta itu. Untung saja kau tidak jadi salah satunya.”

“Yeah— itu karena aku tidak tertarik dengan pesta seperti itu.”

“tapi kan kau tetap datang. Denganku. jadi tawaranmu dulu itu terpaksa karena kau tidak mempunyai pilihan lain, hah? ini skandal. tidak ada yang boleh tahu hal menyedihkan ini lagi” kekeh Songjin.

“kau yang menyimpulkan begitu. Bukan aku. Enak saja kau bilang aku tidak ada pilihan lain. Bahkan Jessica mengajakku saat itu dan aku menolaknya. Jangan salah tangkap tapi pesta sekelas itu—aku tidak tertarik. Lebih tepatnya, aku bahkan bosan dengan pesta, Park Songjin. Apa kau tidak merasakan hal seperti itu? Berapa juta kali kita mendatangi pesta dengan kelas jauh lebih besar ketimbang pesta sederhana seperti itu?”

“huh?” bibir Songjin membentuk lingkaran kecilnya, lantas Siwon mengejar jawabannya sesegera mungkin, “kita biasa mendatangi pesta yang sepuluh kali lebih meriah dibandingkan pesta sekelas prom night seperti itu kan?”

“Hnggg–” jawaban Songjin mengambang. Siwon benar. dia ingin mengangguk untuk membenarkannya tapi malu karena tidak ingin merasa jauh lebih konyol lagi. apa dari seluruh orang dipelosok bumi ini, hanya dirinya sajalah yang memiliki kenangan masa menggelikan saat sekolah menengah atas?

Dan waktu terlus bergulir. Semakin malam. Semakin mecekam. Semakin dingin. Semakin tidak membuat keduanya merasa tertarik untuk terus membuka mata dan bukan hal yang aneh, keduanya merasa sangat lelah.

Siwon paham. Sangat paham. Itu membuatnya menghela dan kemudian bangkit, “kemana?” Songjin seperti protes. Seakan sebal karena cerita mereka dibiarkan menggantung.

Tapi Siwon bukan sedang ingin menghentikan apa yang ingin diberitahukannya kepada Songjin. Dia hanya tidak ingin mereka menjadi patung es karena terlalu lama berada diluar saja. “pindah. Kedalam. Kau tidak lelah memangnya? Keponakanku kedinginan. Dia membisikiku, dia bilang ‘paman buat ibuku angkat pantat dari sini. Aku kedinginan’ begitu katanya.”

Siwon mengatakannya begitu polos. Dengan raut yang tepat dan intonasi yang sesuai, membuat Songjin mau tak mau tertawa kencang. Pada akhirnya, keduanya saling sahut menyahut tertawa puas.

“kajja!”  Siwon megulurkan tangannya. Memaksa Songjin untuk benar-benar angkat pantat dari ayunan rotannya.

Setidaknya, tidak membuat Songjin memiliki penyakit lain selain sakit kepalanya adalah alasan yang tepat untuk diberikan kepada Kyuhyun jika nanti dia bertemu dengan pria itu dan dia menyanyakan, bagaimana kondisi istrinya.

Itu kalau Kyuhyun ingat, bahwa pria itu masih memiliki seorang istri.

~~ ~~

“disini,” telunjuk Henry menekan kertas didalam map tebal berbulu beludru dengan warna hitam elegan itu. Menunjukan dimana saja Kyuhyun harus membubuhkan tanda-tangannya, “disini.” dia melakukannya lagi, dan kemudian melakukan hal yang sama selama dua kali lagi.

“selesai. Semua biar aku yang urus, kau bisa kembali Hyung. Kau terlihat payah. kau belum kerumah sakit? sepertinya kau.. demam? iya tidak?” Ibu jari Henry teracung tinggi sampai didepan hidungnya. Sejak tadi dirinya menyarankan kepada atasannya itu untuk kembali saja. lalu wajah Kyuhyun menggambarkan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.

Keadaannya memang payah. Sudah tiga hari Kyuhyun tampak bagai mayat hidup. Dia ada disini, tapi juga seperti tidak ada disini. kantung matanya semakin menjadi saja. Seakan menggambarkan bahwa pria itu selalu menghabiskan malamnya dengan mata terjaga— entah apa yang dilakukannya.

seperti semalam lagi pria itu terjaga dimalam hari, maka keesokan harinya dia akan berubah menjadi seekor panda. lingkaran hitam dimatanya tidak main-main mewarnai wajah putih pucatnya.

“bagaimana dengan meeting bersama amarex?”

Henry lantas mengibaskan tangan santai, “itu urusanku. Bukan meeting penting yang harus kau hadiri. Aku bisa menggantikannya. Atau jika aku butuh seseorang, ada Seohyun. Mudah. Kau pulang saja, hyung. berobat dan tidur!”

Kyuhyun tersenyum kecut. Tidak mengangguk untuk membenarkan, tapi juga tidak ingin menggeleng untuk menyalahkan, bahwa dia merasa butuh istirahat. Tapi sebanyak apapaun dirinya meronta untuk hal tersebut, tetap saja dia tidak bisa menikmati empuknya ranjang besar sialan dirumah itu.

“kau membutuhkan bantuan. Ah, seharusnya aku merekrut sekertaris! Kalau kau mau, kau bisa mencarinya sendiri. Aku hanya perlu memberikan beberapa pertanyaan untuknya saja nanti.”

Kyuhyun menghela. Berkata yakin. Kali ini dia tidak ingin mematok apapun untuk sekertaris selanjutnya. Yang penting dapat bekerja cekatan dan tahan banting. Itu saja tidak lebih lagi.

Intinya adalah, tidak membuat satu-satunya Asisten yang dimilikinya itu pada akhirnya mengibarkan bendera putih, menyerah dan dia menjadi lebih repot karena bekerja dua kali lipat dari biasanya—seorang diri, sampai dia perlu merekrut orang lain untuk menggantikan posisi Henry saat ini.

Menurut pengalamannya, merekrut seseorang tidaklah mudah. merekrutnya mudah. tapi membuat mereka dapat bekerjasama dengan baik itu bukan perkara mudah. belum lagi masalah kecocokan– itu point penting kesekian yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Henry tersenyum, memandangi Kyuhyun santai. Seakan berbicara ini bukanlah masalah besar untuknya, “aku baik-baik saja sebenarnya, kalaupun aku harus bekerja seorang diri.” Akunya tak perduli.

Menggidikan bahu seakan ini bukanlah permasalahan untuknya. “santai saja Hyung. Kau perlu sedikit… bernafas~”

Kyuhyun mengernyitkan wajahnya, bagian bernafas itu tidak main-main sulitnya. baru inilah kalipertamanya merasa kesulitan bernafas ditengah limpahan oksigen gratis yang planet bumi ini sediakan. Seakan sebenarnya, terdapat oksigen khusus untuk dirinya dan sekarang oksigen itu menghilang entah kemana.

Dia sedang berada diambang batas bahaya. Tidak tahu sampai kapan bisa bertahan tanpa ‘oksigennya’

Henry tersenyum. Terus meyakinkan Kyuhyun bahwa sebenarnya, dia merasa mampu untuk melakukan dua pekerjaan sekaligus, seperti apa yang Gyuwon lakukan sampai saat ini.

Songjin mengundurkan diri. Wanita itu benar-benar mengundurkan diri dan tidak pernah memunculkan wajah lagi digedung ini, ataupun didepan wajahnya.

Tidak sampai 3 hari ini. pun tidak ada kabar apapun, melalui alat komunikasi sesederhana apapun itu. Tidak ada deringan telepon bertuliskan ‘Cho babo’ diponselnya, atau pesan singkat. Atau hal menjijikan lainnya bahkan jika itu perlu, tidak ada sepucuk surat, atau entah apapun itu, media komunikasi apasaja yang pernah planet ini miliki.

Pada hari-hari pertama Kyuhyun merasa marah. Berfikir bahwa Songjin bisa-bisanya bersikap kekanakan seperti itu kepadanya. Iris telinganya jika tidak terjadi keributan besar, saat dirinya melakukan hal yang sama.

Park Songjin bahkan akan bersikap lebih mengerikan, dibandingkan dirinya. Kyuhyun selalu mensugesti dirinya seperti itu.

Lantas dihari kedua, Kyuhyun mulai merasa bosan. Bukan lagi marah, namun aneh, dengan alasan Songjin yang menghilang dan tak menghubunginya sama sekali.

Baiklah, mereka sedang bertengkar. Tapi pertengkaran sehebat apa yang sampai membuat wanita itu seakan lupa bahwa dirinya masih memiliki suami?

Kyuhyun merasa terabaikan. Atau benar, Songjin memang tak lagi perduli.

Dan dihari ketiga kini, Kyuhyun telah sampai pada titik frustasi. Dia telah membanting harga dirinya untuk menghubungi Siwon lebih dulu— langsung. Tapi kakaknya itu berkata, Songjin tidak bersamanya. Entah berbohong atau memang benar, tapi Siwon terus meyakinkan Kyuhyun bahwa Songjin hanya bermalam ditempatnya selama satu hari saja.

Setelah itu Siwon pun ikut bingung, dimana Songjin berada. Wanita itu hilang. Bahkan tidak memberikan kabar apapun kepada dirinya, yang jelas-jelas berada dipihak netral.

Semakin membuat kepala ingin pecah, Songjin mematikan ponselnya. Praktis tak ada lagi yang bisa Siwon, Kyuhyun atau siapapun lakukan kini.

Mereka mendatangi kediaman Songjin di Cheodamdong, tapi pelayan disana bahkan berkata bangunan itu kosong dan hanya berisi beberapa pelayan saja sampai saat ini.

Mereka ikut bertanya kemana Nona besarnya pergi, dan sekonyong khawatir secara serempak. Itu semakin membuat Siwon dan Kyuhyun bingung.

Kyuhyun mendatangi Lee Donghae dan pria itu malah ikut membelak panic ketika tahu Songjin menghilang. Tidak ada satupun yang berminat untuk bertanya kepada Shim Changmin.

Setelah keributan itu, bukan hanya Kyuhyun saja yang menjaga jarak dengan Changmin. Bahkan Eun Soo yang tak tahu apapun ikut menjauhi pria tersebut.

Dari keterangan Gyuwon, mereka semua tahu bahwa Songjin tidak bersama Changmin. Gyuwon bahkan dapat memastikannya.

“masih belum ada kabar?” seakan paham, Henry dapat menebak dengan mudah melalui waut wajah Kyuhyun yang kusut. Kyuhyun menggelengkan kepalanya untuk menjawab, lalu lebih memilih bergumul dengan buku terbaru miliknya, Inferno karya Dan Brown.

Sebenarnya, ini adalah hal lucu lagi. Betapapun cerdasnya seseorang, buku bergenre sciene – fiction tersebut jelas membutuhkan konsentrasi penuh untuk memahaminya. Sedangkan dengan satu kali pandang saja, semua orang dapat langsung mengerti, konsentrasi bukanlah hal yang sedang seorang Cho Kyuhyun miliki saat ini.

“mungkin Songjin menyusul Ibunya di Osaka. Aku dengar Ibu mertuaku sedang disana menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda dulu.”

“aku rasa tidak.” Cepat-cepat Henry menyela. “bukan ingin sok menggurui, tapi dengan kandungan sebesar itu, biasanya maskapai penerbangan tidak menganjurkan wanita ikut dalam penerbangan kemanapun itu, kecuali itu adalah hal mendesak. Itu… aku juga tidak paham dengan hal itu, tapi sepupuku pernah tidak jadi kembali ke Korea, karena sedang mengandung besar, dan akhirnya melahirkan ditempat Ayah Ibuku sana, di Canada. Peraturan lucu ya? Tapi itu benar-benar terjadi Hyung!”

Kyuhyun diam. Beberapa hari ini dia seperti kehilangan isi kepalanya saja. Itu bukan hal yang baru untuk dipahami. Tapi itu sama sekali tidak melintas didalam pikirannya, “bagaimana dengan butiknya? Mungkin noona disana??”

Hal lain lagi yang membuat Kyuhyun terkesiap, karena dari sekian banyak tempat yang didatanginya untuk mencari Songjin, bisa-bisanya dia melewatkan butik milik istrinya itu di myeongdong.

“ah!” wajah Kyuhyun tampak lebih cerah. Dia menutup buku tebal ditangannya dan meletakan itu diatas mejanya. Kehilangan Songjin selama beberapa saat memang tidak membuatnya mati.

Tidak juga membuatnya pingsan mendadak atau terkena serangan jantung. Tapi lebih konyol, otak cerdasnya seperti ikut pergi bersama dengan istrinya itu. Kyuhyun bahkan tidak ingat, kapan terakhir kali, dia menjadi begini tololnya.

Maka berbekal keyakinan bahwa Songjin berada disana, Kyuhyun benar-benar meninggalkan pekerjaannya saat itu dan melesat menuju myeongdong yang hanya berjarak tak lebih dari 3 blok saja dari kompleks kantornya.

Matanya berbinar, ketika menemukan apa yang dicarinya memang benar ada disana. Senyumnya mengembang. Seperti bocah idiot, Kyuhyun tidak bisa mengontol apapun yang sedang dilakukannya.

Awalnya dia berniat untuk mengejutkan Songjin. Berrencana untuk melupakan apa yang sudah terjadi sebelumnya, namun lantas rencana itu berganti. Dari kejauhan pun, Songjin tampak tidak ‘aman’ untuk diajak bercanda.

Dia sedang mengomeli seorang pekerja yang sibuk keluar masuk butiknya dengan dus-dus besar. Kyuhyun melambai canggung, ketika akhirnya Songjin menemukannya berdiri menontonnya mengomel dari depan pintu kaca.

~~ ~~

Hanya terdengar alunan music dari saxsophone yang sejak tadi menjadi live music dalam café berukuran setengah dari satu lantai gedung dilantai 50 perusahaan tempat Kyuhyun bernaung.

Alat music tiup itu membunyikan lagu-lagu milik Dave Koz. Saxophonist ternama asal California. All I see you, seakan judul yang tampak tak tepat. Terlalu memiliki tempo beat yang cepat dan terlihat ceria ditengah suasana canggung nan dingin yang terjadi diantara keduanya dan sama sekali tidak ada keceriaan sedikitpun.

Tapi toh, itu bukan lagu pilihan mereka.

Café berama mnemonic itu adalah pilihan Songjin. Café terdekat yang ada disekitar butiknya. Dia bahkan menolak ajakan Kyuhyun untuk ke Bistro saja. Tempat mereka biasa menghabiskan waktu sambil mengunyah sampai perut terasa ingin pecah.

Secangkir Hot Green Tea Latte, beradu dengan caramel Macchiato. Kyuhyun Nampak puas saat Songjin tidak keras kepala seperti biasanya dan memesan kopi, “kenapa lihat-lihat??” Songjin melirik jengkel.

Kyuhyun terus-terusan mengulum senyum seperti remaja ingusan yang akhirnya dapat berkencan dengan seniornya setelah berjuta kali menyatakan cinta namun ditolak. Menjijikan.

Bahu Kyuhyun bergerak saat dia menggidikannya. Kyuhyun lantas menyimpan tawanya dalam tundukannya saja. Kalau Songjin melihatnya lagi, bisa-bisa habis ditendangnya dia dari tempat ini, tanpa dia memiliki kesempatan untuk berbicara banyak.

“ada apa dengan ponselmu?” Kyuhyun memilih membuka percakapan dengan pertanyaan ringan. Walau memiliki inti sama. Menginterograsi.

“baik-baik saja. Sehat.” Ketus Songjin menjawab. Dia menyesap hot Green tea lattenya, lalu menyisakan busa pada bibir atasnya.

Teringat akan serial drama secret garden, ide jahil Kyuhyun menyembul, tapi melihat wajah tak bersahabat Songjin, pria itu menendang jauh-jauh seluruh ide-ide jahil yang keluar atau akan keluar dari dalam kepalanya.

Dia lebih memilih untuk memberikan Songjin selembar tissue, lalu kemudian menikmati minumannya sendiri dan music dalam café tersebut.

“aku menghubungimu.” Jutaan kali. Seharusnya Kyuhyun menambahkan yang satu itu juga. Tapi dengan jawaban singkat Songjin tadi, itu seperti menggambarkan dengan jelas bahwa embel-embel terakhir protesannya itu, tidak perlu ditambahkan untuk memberi bumbu pertengkaran.

Alis Songjin bergerak naik cepat. Tidak tinggi—menandakan bahwa wanita itupun entah bagaimana merasa terkejut dengan hal yang tak seharusnya dikagetkannya itu.

Bukankah itu hal yang wajar jika Kyuhyun menghubunginya? Pria itu pasti mencarinya setelah dirinya menghilang beberapa hari tak memberi kabar. “aku mendatangi Siwon Hyung. Kukira kau disana, tapi Siwon Hyung bilang kau pulang dua hari lalu. Jadi, kau dibutikmu selama dua hari ini?”

Songjin mengetuk ketukan kukunya diatas meja bundar Kayunya. Dia mengigiti bibir bawahnya seperti ingin mencegah bibirnya bergerak tak terkendali hingga akhirnya mengatakan dimana keberadaannya selama ini.

Yang sebenarnya, memang benar. Dia menginap dibutiknya. Untunglah didalam butiknya itu, terdapat sebuah ranjang.

Tidak besar, tidak seempuk miliknya dirumah, tapi cukup nyaman untuk beristirahat.

Songjin mendesiskan desisan panjang. Matanya melirik jengah kesegala sudut. Dia seakan ingin menunjukan bahwa basa basi Kyuhyun kini memang sangat basi. Dan ada apa dengan membawa embel-embel Siwon? Apa Kyuhyun sedang menunjukan kepadanya bahwa pria itu mampu menurunkan egonya untuk menghampiri Siwon lebih dulu setelah kesalahan konyol yang dilakukannya??

Mendapati air wajah Songjin sedari tadi, Kyuhyun tidak dapat berhenti menghelakan nafas panjang dan dalam. Wanita itu masih marah dengannya. Tidak perlu ditanyakan. Itu sudah terlalu— sangat jelas tampak.

Dan alasan kemarahannya pun tidak tertutupi oleh apapun. Lagi-lagi Kyuhyun menyadarinya. “aku harus kembali ada banyak sekali yang harus kuurus, apa yang ingin kau katakan, Kyu?”

“kau sibuk?”

“lumayan. kenapa? kau terkejut melihatku pertama kali sibuk begini?” balas Songjin sangat cepat.

Kyuhyun menggeleng, “aku.. butuh sekertarisku kembali. Aku kerepotan.” Lidah Kyuhyun malah mengatakan hal diluar rencananya. Lidah sialan itu berbelok seperti mengerjainya.

Hal itu membuat Songjin melontarkan tawanya dingin, “kemana perginya wanita favoritmu itu memangnya? Dia juga ikut pergi? Seharusnya dia senang aku pergi. Setidaknya tidak ada yang mengintimidasinya lagi kan disana?”

Seohyun. Songjin membahas Seohyun, tapi Kyuhyun begitu cermat membalik perkataan wanita itu hingga Songjin merasa sebal telah berkata hal yang sialannya membuatnya mati-matian menutupi rasa malunya dengan ekspresi tak terbaca.

Dia memang sedang kesal dengan Kyuhyun. Masih. Masih begitu marah. Terlalu marah. Sangat marah. Tapi pun, dengan godaan sedikit, hatinya yang lembek itu menjadi seperti agar-agar, “ini dia, aku sedang bernegosiasi dengan wanita favoritku untuk kembali. Jadi kau tertarik? Karena aku sangat tertarik denganmu.”

Sialan. Kyuhyun mampu mememukan raut ketertarikan dari tingkah dingin Songjin padanya sejak tadi. “ah, kau bilang diwawancaramu dulu suamimu sudah mati dimedan perang di Gaza, kalau begitu tidak masalah ‘kan berkencan lagi?? tertarik berkencan denganku?” Kyuhyun mengerling genit, tapi Songjin malah mendengus, “Cih! aku tipe wanita setia. Pergi saja kau ke kelab malam kalau hanya mencari wanita untuk bersenang-senang.”

Mata Kyuhyun terbuka lebar. Pipinya meronakan warna kemerahan saat pria itu tertawa kencang, “HAHA! Aku tahu itu!” dia merasa begitu senang tanpa alasan lain yang memiliki nilai kemasukakalan lebih tinggi.

“sudahlah, aku serius. Aku harus kembali, Kyuhyun-ah. Pekerja-pekerja itu membutuhkanku.” Erang Songjin setelah setengah menit diam mengamati tingkah Kyuhyun yang pecicilan.

“aku juga membutuhkanmu.” Potong Kyuhyun disela tawanya, “dan aku tidak bercanda dengan yang satu itu.” Lanjutnya mencoba untuk serius. Tapi tawanya entah bagaimana tidak dapat berhenti.

Tawa pertama yang berhasil dimilikinya, pun keluar berkat Songjin. Seakan memiliki sulap, atau jampi khusus agar suasana hatinya dapat membaik setelah bertatap muka langsung dengan wanitanya, terlepas dari segala kebodohan yang sering diangkatnya tinggi-tinggi, Park Songjin selalu dapat membuatnya merasa senang dengan cara tak tertebak— bahkan terkesan murahan.

Songjin menghela nafasnya panjang, “pekerja itu membutuhkan arahanku untuk membawa dus-dus itu, Kyuhyun-ah..” terang Songjin perlahan.

“memangnya ingin kau bawa kemana?”

Songjin diam. Menjadi diam seribu bahasa ketika omelan Kyuhyun dulu melintasi kepalanya lagi. Dia masih ingat dengan sangat jelas kata-kata Kyuhyun malam itu didalam mobil, ‘kau bukan seorang pendesain dengan desain yang telah memiliki nama. Hasil karyamu, memangnya siapa yang pernah menggunakannya? Maksudku—selebriti terkenal! Yang namanya besar! yang memiliki nama! Siapa?  Ratu? Pangeran? Ah~ Eun soo? Tidak! Eun Soo tidak termasuk karena dia hanya model yang kau gunakan dalam promosi-mu. dan dia temanmu. Kim Eun Soo tidak termasuk. Jadi, siapa sebenarnya orang itu? memangnya kau sehebat apa hingga mereka begitu menggebu tertarik dengan hidupmu? kau pun bukan seseorang penggerak—yang telah membuat suatu hal baik untuk dunia seperti seorang penggerak penghijauan lingkungan. Aktivis pembela hak asasi manusia. Aktivis pecinta binatang. Kau bukan perwakilan Unesco, Unicef, WWF, PBB. Kau itu siapa? kau bukan siapa-siapa!’

 

“Songjin?” telunjuk Kyuhyun menyentuh punggung tangan Songjin untuk mencolek. Menyadarkan wanita itu dari lamunan panjangnya. Menyadari jemari dingin Kyuhyun dikulitnya, Songjin merasa seperti baru terkena setruman hingga membuatnya terkejut dan menarik tangannya cepat-cepat.

Berlebihan, dia sendiripun tidak paham mengapa hal itu dilakukannya. Dan yang lebih merasa tertampar ialah Kyuhyun. Pria itu seperti baru saja melihat bagaimana Songjin tampak tak lagi nyaman dengan keberadaannya, “ada apa?”

“aku menutup butikku.” Semudah itu pernyataan itu meluncur, semudah itu pula Kyuhyun merasa lagi-lagi terkejut. “ada apa? Apa ada masalah dengan kontrak sewa gedungnya?” dia langsung mengingatkan dirinya sendiri untuk menghubungi Seo In Jung, pemilik gedung asli— tempat butik milik Songjin itu ada.

“tidak.” Songjin menggeleng. Dia juga mengatakan tidak ada alasan-alasan lain yang Kyuhyun kemukakkan sebagai terkaannya. “aku hanya merasa… tidak sebaik itu untuk memilikinya. Maksudku— tidak semampu itu. Atau.. belum.” Tutur Songjin mengatakan alasannya.

Sambil menggosoki tengkuknya, dia sedikit merundukan wajah. Rasanya ingin menangis, melepas hal yang amat disukainya ini. Tapi dia memang harus melakukan ini.

Dan saat ini, Kyuhyun seperti baru saja ditampar berulang kali. Berkali-kali Songjin mengejutkannya dengan pengakuan-pengakuan dan sikapnya yang berbeda.

Hanya terpisah 3 hari saja, terlalu banyak perbedaan nyata yang ditemuinya. Lantas bagaimana dengan ide berpisah konyol wanita ini nanti?

“kemarin kau mengundurkan diri dari pekerjaanmu dikantor, secara sepihak. Mengejutkan. Tapi aku paham bahwa kau melakukannya bukan karena motivasi yang sesuai. Tapi butikmu? Kupikir kau menyukai kegiatan ini. atau lagi-lagi, aku salah menilaimu??”

“mungkin.” Senyum Songjin kecut. Menyesap lagi hot green tea lattenya dan meletakkan cangkir keramik itu perlahan tanpa menghasilkan suara gementing khas tubrukan benda keramik. “kau harus tahu kalau kau tidak bisa selalu merasa benar, kan?” sindirnya retoris.

“Tapi Songjin, menutup butikmu bukan langkah yang tepat.”

“kenapa?” Songjin mengerenyit aneh, “kau yang berkata dulu, aku bukan seorang pendesain yang memiliki nama. Pelangganku tak banyak dan kalaupun terdapat orang ‘bernama’ yang memakai jasaku, itu hanya Kim Eun Soo. Miss Korea, model terkenal—yang sialnya, adalah juga temanku. Aku bukan siapa-siapa. Alasanku, ya hanya sesederhana itu. Karena aku tidak semampu itu.”

“tapi kau menyukainya.”

“Kyuhyun-ah, menyukai tidak bisa menjadi alasan yang kuat untukku mempertahankan butik ini.”

“setidaknya kau menikmatinya, kan?”

Songjin mengangguk mantap, “tentu saja! Aku sangat menikmati mendesain. Tapi hanya sebatas itu saja. Seharusnya aku belum sampai ada ditingkat setinggi ini. memiliki butik sendiri itu… terlihat cukup memaksakan diri. Saat seluruh orang bahkan tahu aku belum semampu itu. Aku menyukainya. Aku menikmatinya, bukan berarti aku harus menghabiskan hidupku untuk hal yang kusukai dan kunikmati. Iyakan?”

Kyuhyun hanya dapat berdiam diri saja memandangi penjelasan Songjin untuknya. dia tidak pernah tahu sejak kapan Songjin mampu berfikir sejauh ini, dan barulah Kyuhyun menyadari, Songjin mengingat terlalu baik, tapi mengartikan kata-katanya dengan artian berbeda.

Bukan meragukan kemampuan Songjin dalam mengelola bisnisnya sendiri, atau mempertanyakan kehebatan Songjin dalam mendesain, tapi memang benar. Setelah diulang lagi berkali-kali didalam kepalanya, Kyuhyun merasakan bahwa kata-katanya itu lebih condong kepada mengejek dan meragukan. Meremehkan dan juga menghina.

Seberapapun dirinya ingin mengatakan bahwa itu bukanlah maksud ucapannya. Seberapapun dirinya ingin berkata bahwa sebenarnya, maksudnya hanyalah untuk melindungi Songjin dari media yang sering membuat wanita itu merasakan perasaan tidak nyaman.

Yang sering membuat Songjin uring-uringan karena para media selalu membeberkan berita yang berbeda jauh dari pada kenyataan asli.

Tapi lagi, orang setolol apapun pasti akan ikut sadar bahwa Songjin tidak juga salah dalam menerjemahkan kata-katanya.

Kini Kyuhyun hanya dapat mematung. Mulutnya bisa saja bergerak berkata, ‘kau salah paham’ untuk kesekian kalinya dari keseluruhan kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka selama ini, tapi Kyuhyun benar-benar tidak bisa mengeluarkan kata-kata apapun dari mulutnya, selain kata maafnya. “itu bukan maksudku.” Lirihnya bersama dengan ribuan rasa penyesalan.

Tapi penyesalan tidak lagi ada artinya.

Kini barulah Kyuhyun merasa jarak diantaranya dan Songjin menjadi lebih luas dari pada sebelumnya. “Bagaimana dengan Luna?” sebut Kyuhyun pada satu-sautnya pekerja dibutik istrinya itu.

Songjin menjawabnya cepat, bahwa Luna telah lama diberhentikannya dari pekerjaannya itu, dan Kyuhyun mencoba mencari pertanyaan lain tentang kemana Songjin akan memindahkan pakaian-pakaian pengantin hasil rancangannya itu, lalu sekejab Kyuhyun merasa terkejut karena jawaban Songjin, “aku melelangnya secara online. Uang hasil penjualannya aku sumbangkan ke Unicef.”

Semudah itu Songjin menjawab, semudah itu Kyuhyun menjatuhkan rahangnya, “semuanya??” dia mengerjab tidak percaya. jumlahnya pasti ada sangat banyak. dan semua hasil desain itu, adalah hasil kerja keras Songjin selama ini. bagaimana bisa dia melepaskan semua itu begitu saja, seperti tidak terjadi apa-apa? seperti tidak merasakan apa-apa?

“hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membantu mereka yang memang membutuhkan. Aku tidak pintar. aku tidak bisa menjadi pengajar bagi anak-anak disana. Aku tidak memiliki tenaga yang besar untuk ikut mengangkut bahan-bahan bangunan dalam pembuatan gedung sekolah mereka. dan Aku juga bukan aktivis mereka tapi rasanya senang bisa membantu kelangsungan hidup anak-anak lain diluar sana. Mengingat sebentar lagi aku akan memiliki anak. aku hanya berharap setidaknya, semoga anakku mendapatkan kebahagiaan seperti yang mereka punyai. atau kalau bisa lebih daripada itu. Untuk anakku.”

Songjin tersenyum tipis. Sarat akan rasa pahit dan puluhan rasa kacau yang dirasanya sejak beberapa hari belakangan ini menimpanya. Sedang Kyuhyun benar-benar tidak dapat mengatakan apapun lagi untuk mengomentari apa yang Songjin lakukan.

Dia tidak ingin berbicara apapun lagi. Dia tidak ingin mengeluarkan kesalahan lagi. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi. Tapi baginya, sikap Songjin terlihat terlalu ekstrem.

Dan semakin terkejut serta tersudut, dirinyalah alasan dibelakang semua itu. Lebih tepatnya—seluruh hinaannya.

Kekecewaannya lantas kembali muncul, ketika dirinya akhirnya mengatakan permohonan yang selalu ingin dikatakannya sejak awal pertama matanya bersiborok dengan wanita bertinggi 163 itu, “kau masih tidak ingin pulang, Songjin?”

“aku butuh waktuku, sendiri.”

“kapan kau akan pulang?”

gelengan Songjin membuat bahu Kyuhyun terasa semakin berat saja. Dia seperti gagal hari ini datang menemui Songjin. Dengan niat awalnya memboyong Songjin kembali selepas dirinya menemukan wanita itu, nyatanya tidak semudah itu.

“Omong-omong, map yang kemarin aku berikan. Kau sudah menandatanganinya? Dimana? Kau membawanya?”

Rahang Kyuhyun mengeras seketika. Map sialan itu, mungkin adalah alasan mengapa Songjin mau menemuinya kali ini. maka dengan geraman tertahan, Gemetetakkan gigi kencang Kyuhyun menahan amarahnya mati-matian. “map cokelat itu? Ah, aku memasukannya kedalam perapian. Lumayan untuk mendepak hawa dingin dirumah. penghangat dirumah ada yang rusak.”

Terkejut setengah mati, Songjin langsung berdiri mengangkat bokongnya. Matanya membulat panic. Dia tidak pernah merasa sekesal ini dengan sikap arogan Kyuhyun, tapi kali ini, ini telah melewati batas kesabarannya! “MWO? KAU GILA?” paniknya bersama dengan pompaan jantung tidak stabil ditubunhya.

Kyuhyun dihadapannya, tidak merasakan kepanikan yang sama dan lantas hanya merasa santai. Wajahnya jelas menunjukan kemenangan tersendiri, berhasil melenyapkan map beserta isinya itu menjadi hempasan abu, dan melihat berapa frustasinya Songjin seketika saat tahu hal tersebut dilakukannya.

Kyuhyun melakukannya dipagi hari tepat dimana dia baru saja terbangun dari tidurnya. Sesederhana itu, dia tidak merasakan kekhawatiran yang sedang Songjin rasakan sekarang.

Wanita dengan rambut cokelat panjang itu menggeram tidak habis-habisnya. Ingin marah, tapi percuma. Dia terlalu hafal dengan peringai Kyuhyun yang tidak pernah mau kalah dan senang ketika merasa menang dalam kompetisi apapun itu dengannya.

Tapi tidak marah pun terasa khayalan baginya. Dia sedang benar-bena terlalu menyesal dengan seluruh sikap semaunya, tidak berhati dan puluhan kebiasaan buruk Kyuhyun lainnya.

Tangan Songjin mengepal. Dia ingin sekali mengamuk seperti yang selalu dibayangkannya. Menghancurkan apapun yang ada. Memukul lawan bicaranya, seperti Kyuhyun yang melakukan hal seperti itu setiap kali pria itu merasa marah. “keterlaluan!” geram Songjin

Sedang Kyuhyun berleha melipat kaki memandangi Songjin santai. Alisnya terangkat tinggi, mengulang kata ‘keterlaluan’ yang istrinya itu lontarkan untuknya, “keterlaluan adalah, memutuskan hal sebesar perpisahan secara satu pihak saja. Kalau kau lupa biar aku ingatkan, pernikahan itu adalah ikatan antar dua belah pihak. Kau dan aku. seharusnya keputusan sekecil apapun itu, kita putuskan bersama. Kau tidak bisa selalu memutuskan banyak hal semaumu saja. Dan omong-omong, siapa yang berniat melepaskanmu, huh?”

“aku tidak bisa? Kenapa aku tidak bisa? Kau sering melakukan itu! Kenapa aku tidak boleh melakukan apa yang kau lakukan kepadaku?!” amuk Songjin seketika.

Kakinya menghentak kencang. Mata dan wajahnya telah terasa panas. Sejak dulu menahan tangisan bukanlah kapastitasnya. Dia sering mencobanya dan terakhir kali, dia pernah sukses melakukannya ketika menjadi seorang sekertaris beberapa waktu lalu.

Bermaksud tidak ingin dinilai wanita lemah, tapi kemarin adalah kerja keras terhebatnya. Dia masih ingat betapa tajamnya lidah Kyuhyun— berulang kali melontarkan amukan untuknya ketika itu. “dan siapa yang berniat bercerai?? Cho Kyuhyun?! Kau benar-benar manusia tertolol yang pernah kutemui! Kau pikir map itu berisi surat perceraian?? Kalau kau berfikir seperti itu, aku benar-benar meragukan kecerdasan yang selalu kau banggakan itu! Kau mau tahu? Map itu berisi rekam medisku! Kau selalu bertanya ada apa denganku, ada apa dengan kandunganku? Didalam map itu terdapat jawabannya!!! Pagi hari, dihari ulang tahunmu saat aku berkata bahwa aku akan datang terlambat kekantor, saat itu aku mendatangi Donghae Oppa. Memohon agar dia membantuku mengambil rekam medis yang sebenarnya tidak boleh dibawa pulang oleh pasien. Tapi aku memintanya! Aku memintanya agar kau bisa membacanya sendiri dan mengerti!! Seperti yang kau bilang, aku ini bodoh, jadi aku mencari cara termudahku untuk memberitahukan kepadamu seperti apa penyakit sialan yang membuatku selalu merasa nyeri diperutku! Itu tentang anakmu, bodoh!! didalam sana, juga terdapat formulir persetujuan tentang penolakan operasi. Aku ingin kau menandatanganinya!! Dan kau membakarnya? Bagus sekali! Sekarang aku harus mengatakan apa kepada Donghae Oppa dan pihak rumah sakit untuk menjelaskannya?? Kau memang benar-benar manusia teregois yang pernah aku temui sepanjang hidupku! Kau tahu?”

Nafas Songjin menjadi seperti banteng— tak teratur. Bercampur dengan air mata yang telah merembes, berteriak-teriak ditengah café membuatnya sukses menjadi tontonan gratis banyak orang sore itu.

Tanpa mau lagi menunggu Kyuhyun, Songjin meninggalkan pria tinggi itu dalam keterkejutannya seorang diri. Baru saja Kyuhyun merasa, seperti baru dilempar batu sebesar kapal selam. “dan Ah! Satu lagi, kalau kau mau tahu, selama ini, seburuk apapun kau memperlakukanku, aku sama sekali tidak pernah berfikir tentang perceraian. Berpisah denganmu, adalah pilihan terakhir yang selalu aku tendang jauh-jauh. Aku tidak ingin berpisah dengamu. Sama sekali tidak pernah ingin. Tapi kau telah membuat keputusanku itu terasa salah. Aku tidak tahu, Kyuhyun-ah… kalau memang selalu seperti ini, mungkin lebih baik kita berpisah. Kita tidak bisa selalu seperti ini. aku bosan selalu memperdebatkan hal yang sebenarnya, tidak pantas untuk diperdebatkan setiap hari. Terserah kau saja. Pilihannya hanya kau yang pergi kepengadilan meminta surat perceraian itu, atau aku yang mengambilnya!”

~~ ~~

“Songjin! Yaa! Cho Songjin, tunggu aku!!”

secepat Songjin pergi, secepat itupula Kyuhyun membuntutinya. Semakin Songjin menaikan kecepatannya, seperti itulah Kyuhyun menambah daya kerja kakinya.

Mereka tampak seperti melakukan adegan cheesy didalam serial Drama. Saling kejar mengejar hanya untuk salah satu dari mereka mendapatkan perhatian lebih.

Lebih tepatnya Kyuhyun. Selepas Songjin memberitahukannya, bahwa yang dilakukannya adalah ketololan. Tentang map cokelat tak bersalah yang dibakarnya bulat-bulat.

Wanita itu benar-benar merasa menyerah dengan perilaku Kyuhyun. Pada detik yang sama pulalah, Songjin sudah tak lagi merasa mampu, untuk menanggapi keras kepala seorang Cho Kyuhyun atas segala hal.

“Tsk, Songjin, ayolah~ dengarkan aku sebentar.”

“aku sudah terlalu banyak mendengar. Telingaku sudah panas! Lebih baik kau pulang!”

“itulah. Ayo pulang denganku!”

“Aku tidak ingin pulang!!!”

Songjin berhenti berjalan lalu berbalik dan menghentakkan kaki sekencang-kencangnya.

Kyuhyun benar-benar keras kepala. Berkali-kali dirinya mengatakan bahwa dia tidak ingin pulang, tapi Kyuhyun terus memaksanya. Atau memaksa, telah mendarah daging menjadi kebiasaan pria itu sekarang?

“kau harus pulang.” Kyuhyun berkata lirih. Mencoba menggapai jari-jari Songjin yang bebas, namun Songjin lebih cepat lantas menyembunyikan kedua tangannya dibalik tubuhnya. “bagaimana denganku nanti?”

“kau ingin teman? Panggil saja Seohyun mu untuk datang kerumah.”

Kyuhyun menggeram keras mengepalkan tangan kuat, “dia bukan Seohyunku!!” hentaknya tajam. Tapi kemudian amukan itu ditariknya lagi. Disimpan kuat-kuat. Bahunya terkulai lagi. Memohon Songjin agar kembali.

Hanya dengusanlah yang menjawab tawaran Kyuhyun. Songjin kembali berjalan cepat. Terlalu cepat. Sangat cepat, hingga Kyuhyun mengack wajahnya frustasi, “hey! Jangan berlari seperti itu! Astaga! Kau sedang—“ bibir Kyuhyun mengatup. Songjin berjalan lebih cepat dari pada sebelumnya. Membuatnya mau tak mau harus ikut berlari kecil karena sialnya, jalanan sedang begitu licin. “…mengandung”

Salah menapak, walau tidak ingin terjadi, tapi hal yang buruk bisa saja terjadi seketika. “Songjin!” Kyuhyun mendelik. “Jangan berlari, demi Tuhan lihat sekelilingmu!!”

Kyuhyun memandangi es-es licin disekitaran kakinya, juga kaki Songjin. Wanita itu gila, nyaris berlari diatas es yang licin. Dia pikir dia seorang ahli separti pemain skating atau apa?

“Pulang! Aku tidak ingin bertemu denganmu dulu!!”

“aku tahu, tapi dengarkan aku dulu!!”

“pulang!!”

“aku tidak tahu kalau didalam map itu berisi rekam medismu! Kau tidak mengatakannya!!”

“aku bilang baca!!” Songjin membalik tubuhnya. “aku mengatakannya! Jangan selalu menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri!”

“kau hanya menyuruhku membacanya. Kau tidak mengatakan kalau didalam sana ternyata berisi berkas-berkasmu, kan?”

Kyuhyun tidak sanggup lagi membuat suaranya bertahan pada intonasi langganannya. Yang tinggi dan mendominasi. Kepalanya berdenyut kencang. Jantungnya pun berdebar debar tak karuan.

“aku mendengarmu berkata, kalau kau ingin kita berpisah! kau ingin mendatangi pengadilan, meminta surat perceraian itu dan melewati bagian konsultasi. Jadi kupikir, kau benar-benar melakukannya.”

Kyuhyun menrundukan wajah menyembunyikan desakan panas dari dua bola matanya. Wajahnya mengengadah lagi ketika dirasanya, perasaan aneh itu telah menghilang biarpun untuk sesaat.

“apapun itu masalahnya, apa kita tidak bisa membicarakannya dulu baik-baik?”

Songjin menarik ulasan senyum sinisnya. Membicarakan baik-baik? Seperti dirinya tidak memberikan waktu kepada mereka untuk membicarakan segala hal dengan cara yang lebih manusiawi.

Dengan cara seperti yang diinginkan Kyuhyun. Cara baik-baik.

Songjin menelusup masuk kedalam pintu butiknya yang hanya terbuka separuh. Seperti melarang Kyuhyun untuk ikut melakukan hal yang sama sepertinya, “aku bosan melakukan segalanya dengan cara baik-baik.” Tambah Songjin ketus.

“jangan ikuti aku lagi, kau pulang!!” hanya menggunakan kekuatan tidak seberapa, Songjin menarik sliding doornya untuk memperkecil jarak diantaranya dan Kyuhyun.

Sedang Kyuhyun terus mencoba untuk membuat dirinya—setidaknya— dapat melakukan apa yang sejak tadi masih membuatnya berfikir kesana kemari. Tentang ketololannya, tentang kekeras kepalaannya, arogansinya.

Tentang perceraian yang tidak seharusnya terjadi, tapi malah akan terjadi karena deretan rasa egoisnya. “aku mohon, Songjin.” Kyuhyun mengiba.

Mata Songjin terpejam. Sekuat tenaga dia menahan perasaan— ingin melempar Kyuhyun kedalam jurang, atau mengacak wajah pria itu seketika dan terfokus pada segala meditasi yang sering dilakukannya.

Inhale, exhale, inhale, exhale..

Lima detik setelahnya dia menjadi terlalu yakin untuk mengunci pintu butiknya. Memberikan larangan terang-terangan bagi Kyuhyun untuk terus berada disekitarnya. “pulang!” dia berteriak dibalik kaca kedap suara itu.

Kyuhyun memang tidak mendengarnya, tapi gerakan bibir yang sejak tadi dihafalnya, lelafalkan kata-kata yang sama, membuat Kyuhyun dapat mengerti apa yang Songjin katakan dibalik kaca tebal tersebut.

Maka kemudian, mulutnya pun ikut bergerak. Sama seperti kepalanya. Dan tangannya mengetuk berkali-kali pemisah antara dirinya, dan Songjin dihadapannya. Pintu kaca sialan yang tebalnya minta ampun ini, “Jangan terus seperti ini. Maafkan aku. Dengarkan aku dulu. Kita bisa menyelesaikannya baik-baik. Ayolah, buka pintunya. kita perlu berbicara~”

Mohonnya seksama. Dengan lirih, dengan perasaan putus asa, dan gemuruh teriakan dari seluruh suara tak berwujud yang sedang meneriakinya, memakinya, sekaligus menertawainya. “Songjin, Maaf—“

135 thoughts on “[Post For Kyuhyun’s Birthday] Birthday Disaster 9

  1. Ya… Kyuhyun salah paham, amplop coklat bukan berkas perceraian rupanya, huh leganya😊
    Nah, sekarang songjin yg gak mau pulang, xia pasti butuh waktu sendiri,,
    Semoga aja cepat baikannya😊

  2. syukurdeh semoga masalahnya cepet kelar .. kyu juga sihmakannya jangan terlalu mudah menyimpupkan apa yang sebenarnya dia bkm ketahui atau terka ..

  3. Ternyata amplop coklat itu isi nya rekam medis nya songjin.. nah nah loh.. gara2 kyu ngomong dgn enteng nya klo amplop coklat nya dy bakar , songjin nya jd murka.. kyuhyun jg sih bukannya di intip dulu itu amplop. Kalo di intip dulu mah kemungkinan ud baikan tuh pasangan.. semoga cepet selesai yy kyu.. ayo semangat terus.. buat songjin luluh lg dan bsa balik ke pelukan mu lg.. fighting.

  4. kyuhyun aga sedikit berlebihan juga sih. cuma karena cemburu dia sampe ngira kalo songjin bakal nyerain kyu.
    huhuu 😦

  5. Akhirnya si cho itu kena imbasnya..makanya jgn marah” aja bisanya trus menarik kesimpulan sendiri begini kan jd nya..nyesel gak??kesel bgt sm si pabbo itu walaupun sbnrnya gak spnhnya slh dia tp kelakuannya itu lohhh…Skrg songjin beneran minta cerai…

  6. rasain tuh kyu akhirnya nyesel jga,songjin udh terlalu sakit hati samu lu…ihhh jdi ikut kesel sekligus jdi kasihan juga sma kyu
    smga mereka baikkan

  7. nah loh ternyata isi map nya catatan medisnya songjin? kirain surat perceraian, aku jga sama kaya kyuhyun nyangkanya itu surat cerai, yah pantes aja kyuhyun ngebakar map itu sebelum liat isinya..
    trus sekarang??? Rasain ajaa deh buat Kyuhyun skrg kelimpungan, udh bwt Songjin nangis2 dri kemaren2 :p

  8. ck…skrg kbngungan sndri bgtu songjin g d tmuiny d rmh..bhkan bujuk wat pulang breng pun d tolak mntah”..
    akibt ktkutan bkal d cerein, berkas rekam medis songjin jd korban??? pa bnr” msuk perapian??? ckck..cho kyu???

  9. Kyuhyun mah emang egois…
    Pantes aja kalo dia dapet ceramah panjang dari eunsoo…
    Biar otak dia itu jadi bener lagi…
    Bisa berfikir jernih…

    Untung maap itu bukan surat cerai…
    Kalo iya,ngak tau lah kyuhyun bakal kayak apa…
    Mungkin jadi zombi kali ya…

    Seharunya emang dibaca dulu lah…
    Menyesal kan jadinya…
    Padahal itu hal penting yang ingin songjin tunjukkan padamu cho kyuhyun… Huhhh

  10. hadeh kyuhyun makannya baca baca songjin bilang begitukan’ eh ini malah di bakar, perceraian yg hanya sekedar ucapan eh malah mau jd kenyataan, semoga mereka cepet baikan….

  11. Nah kan kyuhyun baru sadar kalo dia itu kelewat arogan…
    Itu scene terakhir kaya scene drama drama gitu..
    Sejauh ini ff nya,penggambaran ceritanya keren lho kak author..
    Next ceritanya gimana ya,?

  12. kyuhyun mah emang agak sulit buat diajak mikir dengan kepala dingin
    dia ngerasa kalo dia yg paling bener ewww
    songjin udah berusaha jujur dengan ngasih tau rekam medisnya, eh malah dibakar sama kyuhyun dikiranya surat cerai okeh masalah baru hahaha
    sekarang kyuhyun yg kelimpungan gara2 songjin gk mau pulang wkw
    bagus songjin, biar kyukyu agak mikir dulu hahaha

  13. Bener2 pasangan absurd.. kyu kalau gak pakai emosi gak bisa apa. Eun soo mulutnya bener juga ya.. agak terharu sama kata2nya. Hhh

  14. kyuh sering skali bilang cnt k songjin tp dia tdk memberikan perhatian yg d butuhkan seorang istri,dia terlalu bekerja keras sehingga lupa msh ada yg butuh perhatiannya.akhir2 ini kyuh sllu marah2 d berkata kasar klu songjin melakukan kesalan,tp tolerasansi sedikitpun.kyuh terlalu egois d keras kepala klu sdh menyangkut songjin,cemburu membutakan matahatinya d membuat emosi menguasainya.dan masalah rekap medis seharusnya dia membaca dl isi amplopnya,bkan lnsng membakar tnp melihat isinya,kyuh ckup cerdas utk th bwh perbuatanya itu bodoh.

  15. Hadeeuuhhh cho kyuhyun pabo…
    Di suruh d baca malah menyimpulkan sendiri.. Nahh… Sekarang udah tau salah, malah mau nyalahin songjin..
    Rasanya pengen nyekik tuh bocahhhh..

  16. nah , nyesel kan kyu . salah sendiri marah” gt 😦 songjin kan jd takut sama kyu . ih sebel jg liat kyu yg gt 😦 pengen di makan aja rasanya/loh

  17. di part ini kelakuan kyuhyun yg lgsung membakar catatn medis songjin tanpa membaca dulu berhasil membuatku emosi juga , hh yg bodoh itu kyuhyun bukan songjin , hanya saja songjin tidak mengungkapkan apa yg ingin dia lakukan atau yg ingin dia inginkan dia hanya ingin org lain terlebih suaminya lebih peka dengan keinginannya tnpa mengukapkannya ah bingung tp begitulah menurutku hehehe
    sudahlah kyu pulang saja kelakuan bodohmu itu membuat org emosi * peace V 😅😅

  18. kalo diposisi kyuhyun, mungkin sama. Karna songjin bilangnya isi map berkas perceraian plus minta tanda tangan ya pasti ga akan dibaca dan mikir harus cepat-cepat musnahin map beserta isinya haha ternyata songjin bilang gitu bukan beneran melainkan udah gedeg akut sama kyuhyun. Nah loh, jadi yang bodoh bukan songjin aja melainkan suaminya juga wkwk

  19. Wah kyuhyun bener2 seenaknya banget main bakar2 aja padahal padahal itu surat rekam medisnya songjin..
    sekarang pusing sendiri deh tuh kyuhyun, songjinnya ga ma pulang trus malah beneran pengen cerai pula..

  20. Nahloh emosi nih sama kyuhyun,main bakar bakar aja kek sampah. Gak ngebayangin jadi songjin bakal gw bejek bejek tuh muka suaminya 😂😂

  21. sebenarnya kasihan banget sama kyuhyun…tapi mungkin dengan masalah ini bisa merubah sifat kyuhyun jadi lebih baik lagi terutama ke songjin..

    dan semoga kyujin gak jadi berpisah yaa..😀😀

  22. Emosi bacanya 😂 sama2 keras kepala, dan suka cemburu satu sama lain. Gk papa deh kalo songjin butuh waktu buat sendiri, tapi jangan lama2, kasian kyuhyunnya, walopun sebenernya gue juga sebel sama kyuhyun wkwk

  23. hadeh kyuhyun parah² masa map nya di bakar tanpa di baca dulu, tp songjin juga sih tak memperjelasa tentang map itu eh kok aku jadi pusing😆,kyujin sama² keras kepala, padahalkan songjin ngak mau pisah tp kyuhyun udh salah paham sm yg di dengarnya pas mau surprise itu, adeh aku komen berbelit-belit😅 .

    ffnya kyujin selalu kereennnn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s