[KyuJin Series] Vignette – 3 Ways to Make You Obedient (Step 3)


3 Ways to Make you Obedient

Step 3

Tell You The Truth

Author: GSD

Cast: Cho Kyuhyun, Cho Songjin, Choi Siwon, Chio Gyuwon, Cho Ki Ho.

Rating: PG 13

Length: Vignette

Kyuhyun diam. Dia bukan sedang tidur walau ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan hal tersebut jika dia ingin. Dia juga bukan sedang berniat untuk bersantai, walaupun juga, inilah waktunya jika dia ingin beristirahat setelah satu hari penuh bekerja.

Kyuhyun diam membiarkan indera perabanya bekerja, menikmati bagaimana dinginnya jari-jari lentik Songjin bermain diwajahnya. Menikmati saat lima jari itu menggesek kulit dahinya, matanya, turun pada pipinya, dagunya, bibirnya, dan terus berulang seperti itu.

Seluruh tubuhnya masih berfungsi dengan sangat baik, Indera pembau dari hidung, digunakannya untuk bernafas. Mencium aroma cokelat yang Songjin gunakan kali ini sebagai sabun dengan busa yang melimpah. Membuat Kyuhyun merasa tenang, tapi dalam waktu yang sama pun juga lapar.

Indera penglihatnya dinon aktifkan. Matanya memejam— merasa enggan untuk dibuka. Nasib yang sama pun terjadi pada indera pendengarnya, jika saja itu bisa. Tapi sayangnya dia bukan seorang tua rungu yang tidak dapat mendengar suara-suara.

Beberapa suara terdengar santai. Seperti suara gemericik air yang keluar dari keran, yang Songjin buka dalam ukuran sangat kecil. Suara kecipak air ketika kakinya atau Songjin bergerak didalam tube juga terdengar sesekali. Suara tarikan nafasnya dan tarikan nafas Songjin ketika wanita itu membuat jeda dalam bicaranya.

Kalimat panjangnya yang bagi Kyuhyun terdengar bagai omong kosong, walaupun tidak juga dia menyalahkan beberapa pernyataan Songjin disana. “aku bukan pecinta sad ending, tapi aku cukup realistis untuk sadar bahwa ini adalah hidup yang sesungguhnya, bukan dalam cerita, hingga membuatku mau tidak mau meyakini bahwa disini, tidak akan ada happy ending seperti kisah cinderella, atau putri tidur.”

Songjin berucap pelan. Suaranya lembut terdengar. Tidak seperti biasa, nada yang digunakan dalam bicaranya kali ini tidak sampai mengharuskan urat yang menyembul dari leher, mata yang melotot atau hingga tangan yang terkepal hanya untuk membuat perdebatan dengan Kyuhyun.

Songjin benar-benar melakukannya dengan santai. Seperti saat wanita Pulang kerumah dengan kantung berbelanja sangat banyak ditangan, lalu tertangkap basah oleh Kyuhyun saat pria itu menyadari bahwa satu kartu didalam dompetnya menghilang.

Black credit cardnya.

Lalu dengan polosnya Songjin mengaku bahwa dia mengambil kartu tanpa batas limit pemakaian itu untuk membeli ini dan itu. Lalu wajah polos nan sialan serta suara mendayu itu membuat Kyuhyun ingin marah tapi juga menyeret wanita itu keatas ranjang dalam waktu yang bersamaan.

“tanpa terkecuali, semua makhluk hidup pasti akan mati Kyuhyun-ah. Jadi dengan atau tidaknya aku melakukan proses kelahiran normal, hidupku tetap akan dibayang-bayangi kematian. Aku berterima kasih karena kau selalu mencoba melindungiku, tapi sehebat apapun dirimu, kau tetap tidak bisa melindungiku dari kematian Kyuhyun-ah. Kematian itu bisa datang kapan saja tidak hanya padaku saja, tapi padamu juga. Semua orang. Jadi jangan bersikap berlebihan seperti itu. Lagipula toh ini hidupku. Aku sendiri yang menentukan apa yang akan terjadi dengan diriku, karena aku yang bertanggung jawab dengan diriku. Kau bertanggung jawab dengan dirimu. Semua orang bertanggung jawab dengan diri mereka masing-masing!”

Kyuhyun masih diam. Menghela napasnya sembari menegapkan tubuhnya yang menjadi sandaran Songjin kali itu. Tangannya bergerak, mengusap kulit perut Songjin yang besar berulang-ulang kali begitu lembut. Menyapukan sabun dan busa diatasnya.

Hidungnya menjalar, bergerak senti per senti menghirup aroma cokelat ditubuh Songjin. Punggungnya, tengkuknya, lengannya, bahunya, dan berakhir dilehernya. menyapukan bibir untuk mengecupnya lembut, tidak menghiraukan lenguhan Songjin yang terdengar seperti meronta saat dua tangannya meremas dada wanita itu kencang, bermain dengan dua gundukan disana.

** **

peringatan 24 tahun kematian orang tua dan kakak Kyuhyun tidak dihabiskan pria itu dalam tangisan yang mengharu biru, atau hal tersepele seperti mata yang mulai memerah.

Wajah pria itu tetap datar, tidak menunjukan adanya emosi sama-sekali. Tidak seperti Choi Ki Ho dan Istrinya yang berulang kali melap wajahnya karena air bening dari mata mereka tidak kunjung berhenti mengalir. Bahkan wajah Siwon masih tampak lebih pantas untuk ditampilkan didepan 3 pusara clan Cho disana.

Pada akhir musim dingin ini, salju tidak lagi terlihat mengotori jalanan. Hanya udara kencang yang masih menyisakan dinginnya bekas musim es itu sebelumnya.

“aku tidak pernah tahu harus menunjukkan ekspresi seperti apa saat mendatangi tempat ini.” Mata Kyuhyun tertuju pada 3 gundukan tanah didepannya. Dia baru dapat dan mau berbicara selepas Siwon, Gyuwon, Ayah dan Ibunya pergi.

“jujur saja, aku tidak pernah merasakan keterikatan apapun dengan tiga orang ini, yang katanya adalah keluargaku. Mungkin mereka adalah keluargaku, tapi bukan salahku kalau tidak satupun dari mereka yang kuingat atau setidaknya, pernah kuingat. Bahkan kalau bukan dari gambar yang Appa tunjukkan, mungkin aku tidak pernah tahu seperti apa wajah keluargaku ini.”

Suara kendaraan menderu. Mobil pertama yang melesat pergi meninggalkan kompleks pemakaman ini adalah kendaraan milik Choi Ki Ho, lalu tak lama disusul oleh Siwon. Pria itu pergi, setelah sebelumnya mengingatkan Kyuhyun bahwa malam ini mereka harus mengejar penerbangan ke langsung ke Miami untuk mendatangi Lyx, mengurus kekacauan yang sempat terjadi beberapa waktu lalu.

Kyuhyun menghela napas mengendurkan bahu, “kau tahu apa yang paling mengejutkan dari semua ini?” tanyanya. Masih terus memandangi 3 pusara didepannya dan enggan menoleh menghadap Songjin. “Bukannya aku sedang menjadi anak yang kurang ajar, tapi aku bersikap realistis. Aku tidak mengenal mereka. Keberadaan mereka seperti semu dalam hidupku. Jadi kurasa, aku tidak benar-benar perduli dengan mereka. Karena selama ini aku merasa tidak memiliki keterikatan apapun, jadi jika suatu saat nanti, entah itu kapan, jika aku bisa, dan aku berada pada posisi terjepit yang memaksaku untuk memilih siapa yang akan bersamaku lagi dikehidupan selanjutnya, 90% kemungkinan aku tidak akan memilih mereka. Aku tidak mengenal mereka. Untuk apa aku bersama dengan orang-orang yang tidak kukenal?”

Kini Kyuhyun meringis getir menoleh pada Songjin, “dan kau tahu apa yang payah dari semuanya?” Matanya menelusuri mata besar Songjin yang bergerak-gerak memperhatikan seluruh wajahnya saat ini, “kemungkinan besar hal ini akan terulang pada anak kita nanti.” Kyuhyun tersenyum kecut.

“aku tidak merasakannya. Bukan aku yang bersusah payah mengandungnya selama 9 bulan. Bukan aku yang merasakan nyerinya tulang-tulang punggung karena mau tidak mau harus membopong beban yang tidak ringan seperti itu kemanapun aku ingin pergi. Bukan aku juga yang akan merasakan sakitnya persalinan nanti. Bukan tubuhku yang terkoyak, tapi tubuhmu. Peranku disini, tidak lebih dari sekedar penyumbang sperma. Aku bahkan tidak melakukan kerja sama yang baik untuk mengurusnya, sampai aku baru mengetahui tentang penyakit yang menyerangmu secara menurun itu. Dan kau bahkan tidak membiarkanku untuk melakukan kerja sama itu setelah aku mengetahuinya. Jadi sebenarnya, aku tidak tahu apa gunaku disini. posisiku, entah berada dimana. Dan sebenarnya, aku sedikit malu untuk mengakui bahwa itu adalah anakku karena aku tidak melakukan apapun yang seharusnya seorang ayah lakukan.”

Dari lubang hidung yang sempit Kyuhyun menarik oksigen. Menjadikannya karbon dioksida begitu cepat setelah mengatupkan bibirnya. Dia membiarkan rambutnya menjadi kacau karena terpaan angin yang kencang.

Dia menonton rumput yang kini warnanya terlihat hijau, tidak saat musim dingin lalu yang membuatnya harus menjejak salju dan hanya mendapati warna putih sejauh mata memandang.

Suara-suara alam lain lebih mendominasi kali ini. Seperti suara gesekan rumput saat bergoyang, pohon-pohon pinus terdengar jelas saat ujungnya bergerak setelah tersapu angin. Atau kicauan suara burung gagak.

Burung Khas kematian itu berkoar kencang berulang kali seperti sedang mengamini apa yang Kyuhyun ucapkan.

Kyuhyun menghela napas lagi. Bahunya yang kaku itu kini benar-benar mengendur lemas, “katakan aku egois dengan memintamu sedikit memaksa untuk melakukan proses persalinan itu secara Caesar setelah aku tahu bahwa kemungkinan berhasil dari proses persalinan itu akan lebih besar ketimbang kau melakukannya secara normal. Katakan aku egois dengan memintanya sampai kau lelah menanggapiku. Katakan aku menyingkirkan keinginanmu untuk merasakan menjadi ibu yang utuh dengan caramu sendiri, seperti itu. Tapi sebenarnya, yang aku lakukan bukan hanya sekedar menyelamatkanmu agar kau dapat terus berada bersamaku tapi menyelamatkan kemungkinan anak itu memiliki Ibu kandung atau keluarga yang utuh karena aku tidak dapat melihat kemungkinan adanya keluarga utuh yang akan dimilikinya, jika kau tidak ada.”

“Kyuhyun-ah..”

“kalau kau bersikeras untuk melakukannya, kemungkinan kau akan selamat terlalu kecil. Itu sama artinya dengan kemungkinan keberadaanku disini, juga sangat kecil. Dan kemungkinan anak itu untuk menjalani hidup yang sama sepertiku, akan sangat besar. Kau tahu maksudku, Songjin?”

“Hanya kau yang akan dimilikinya nanti Kyuhyun-ah.”

“dan aku hanya memilikimu.” Kyuhyun memotong cepat, tidak terkesan marah walau tampak jelas beremosi “setelah kau mengucapkan janji mengikat itu dulu, kau telah menjadi keluargaku. Hanya kau satu-satunya. Dan jujur saja, sebenarnya aku belum menyiapkan jawaban yang tepat jika nanti ayahmu bertanya mengapa aku melanggar janjiku sendiri karena tidak menjagamu dengan benar. Aku bisa saja melakukannya tanpamu nanti Songjin. Aku bisa. Tapi aku tidak bisa menjanjikan akan memberikan tempat yang hangat atau nyaman untuknya nanti. Aku bahkan tidak yakin, apa dia bisa bersandar padaku nanti saat dia membutuhkanku, ketika aku sendiri pun tidak memiliki sandaran apa-apa. Aku tidak bisa berjanji, mampu menyediakan yang terbaik untuknya, saat yang terbaik didiriku pun tidak ada. Aku bisa melakukannya tanpamu Songjin. Tapi aku tidak bisa berjanji akan melakukannya dengan benar.”

Kyuhyun meloloskannya halus tanpa bersuara. Tanpa terdengar isakan atau bahkan senggukan ketika air tidak berwarna itu keluar dari matanya. Matanya sudah memerah. Berulang kali tangannya membersihkan setiap kali air itu menetes diwajahnya. Seperti menurunkan kadar ketampanannya jika ada yang sadar bahwa dia sedang menangis.

Dan Songjin hanya dapat terkejut dengan mulut terkatup— mengurunkan niatnya untuk berbicara menyanggah kata-kata Kyuhyun saat dalam sepanjang hidupnya dia mendapati Kyuhyun menangis.

Pria itu tidak menangis saat kemarin dia berkoar berkata ingin bercerai walau kefrustasiannya tidak dapat ditutupi. Pria itu juga tidak menangis saat sadar bahwa terdapat kemungkinan besar dia membagi hatinya ketika Shim Changmin datang, atau malah mendepaknya jauh-jauh.

Pria itu tidak pernah menangis saat mendapatkan celaan dan berbagai sumpah serapah yang menghujaninya secara terus menerus melalui mulut-mulut orang yang tidak menyukainya. Tidak sepertinya yang langsung menangis dan merasa jatuh, ketika baru saja mendengar orang-orang mengejeknya jelek diberbagai media.

Pria itu juga tidak pernah menangis saat diam-diam merasakan kesepian dengan menonton fakta yang ada, dengan seperti yang sering dikeluhkannya, bahwa dia tidak pernah benar-benar merasakan memiliki keluarga, walau telah dikelilingi orang-orang yang menyayanginya, karena sebagian kecil hatinya selalu berkata bahwa keluarga Choi hanyalah satu keluarga yang kebetulan saja dipilih oleh orangtuanya untuk dititipi dirinya setelah dilimpahi surat wasiat itu, bersamaan dengan surat-surat penting lainnya serta warisan yang tidak mungkin diurus oleh anak berusia 3 tahun ketika itu.

Tapi saat ini Kyuhyun menangis. Dan Songjin tampak sangat terkejut seperti telah lupa bagaimana raut wajah Kyuhyun saat pria itu menangis karena pria itu terlalu lama tidak pernah menunjukan yang satu itu padanya.

Atau sebenarnya…. dia saja yang tidak pernah tahu karena Kyuhyun memilih untuk tidak menunjukan rengekan cengeng itu dihadapannya.

“dan kau benar. Semua makhluk hidup pasti akan mati, tanpa terkecuali. Kau benar, kematian itu bisa datang kapan saja. dan kau benar, Ini hidupmu. Kau boleh melakukan apapun yang kau mau dalam hidupmu karena kau bertanggung jawab atas hidupmu. Tapi mungkin kau lupa setelah kita sama-sama berjanji ketika itu, kita sama-sama saling bertukar tanggung jawab atas diri kita. Dan mungkin kau lupa, aku berhak atas dirimu seperti kau yang berkata bahwa kau berhak atas dirimu sendiri. Seperti apapun kondisinya. Baik atau buruk, suka dan duka. Sampai maut yang memisahkan. Maut yang memisahkan Songjin. Maut yang mendatangimu. Bukan kau yang mendatangi Maut. Jadi kalau aku boleh berkomentar dengan pendirianmu yang lebih keras daripada batu itu, kau baru saja melanggar janjimu sendiri. Sekarang aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apalagi. Aku bahkan tidak tahu apa gunaku disini. Jadi kalau kau memang berpendapat seperti itu, lakukanlah. Kau mengurus dirimu sendiri karena itu adalah hidupmu, karena kau bertanggung jawab penuh terhadap hidupmu, karena itu yang kau inginkan. Dan aku akan melakukan hal yang sama.”

Kyuhyun mendesah panjang. Mengacak wajahnya sembari menarik nafas sangat panjang. Mengisi paru-parunya dengan banyak oksigen. Dia kemudian berjalan mundur setelahnya. Merogoh saku mengeluarkan sebuah kunci lantas melemparkannya, “aku akan kekantor. Kalau kau ingin pulang, pulanglah. Aku naik taxi.”

Ujarnya santai selepas kunci otomatis kendaraannya mendarat tepat ditelapak tangan Songjin. Mengerjabkan mata berulang kali— menguceknya. Dapat berbicara kembali seperti biasa, tanpa meninggalkan jejak bahwa dia baru saja menangis.

** **

“jam berapa penerbanganmu?”

“9 malam.” Kyuhyun menjawab ringan saat dia sedang berfikir keras kemeja mana yang akan dibawanya. Yang berwarna hitam, atau yang putih.

Jarinya menjentik saat dia sepakat dengan dirinya sendiri, lantas menyambar empat tumpuk kemeja berwarna putih sekaligus, dan menjejalkannya kedalam koper. “berapa lama kau akan pergi?”

“empat hari, paling lama tujuh.”

“apa yang akan kau lakukan disana?”

“menemui pegawaiku. Merapihkan apa yang harus kurapihkan.”

Kyuhyun beranjak bangkit menuju laci tempat dimana dasinya disimpan berderet. “apa Henry ikut?”

“Ya.”

“Gyuwon Eonni?”

“Ya.”

“apa aku boleh ikut??”

Yang Songjin lihat Kyuhyun lagi-lagi sedang berfikir terlalu keras hanya untuk memilih dasi mana yang akan dibawanya. Sama seperti ketika pria itu memilih kemeja yang sebenarnya tidak benar-benar perlu mendapatkan perhatian lebih seperti itu jika hanya untuk memilih warna. Apa bedanya memangnya?

Songjin membuang napasnya. Mengambil dua dasi berwarna hitam polos, dua berwarna biru gelap dan satu buah bermotif horizontal dengan warna hitam dan putih. Dia memberikannya kepada Kyuhyun begitu saja. “apa aku boleh ikut?” dia lantas mengulang pertanyaan yang tadi Kyuhyun lupakan atau entah diabaikan.

“Tidak.” Kyuhyun membelakanginya. Berjalan cepat menuju kopernya untuk meletakkan dasi pemberian Songjin tadi. Berjalan lagi memutari closetnya menuju bagian pakaian-pakaian santai.

Disana Kyuhyun benar-benar tidak berfikir apapun. Dia menarik segala kaus polos yang pertama dilihatnya, juga celana training miliknya. Berputar lagi menuju kopernya. “tapi aku tidak akan merepotkanmu.”

Kyuhyun mengeluarkan ponsel dari sakunya, “Jangan menjanjikan hal yang tidak bisa kau tepati.” Ujarnya sambil mengutak-atik ponsel. Lima detik kemudian, melemparkan benda tipis itu keatas kursi sembarangan dan berputar lagi menuju pintu lemari lainnya untuk mengeluarkan berbagai keperluannya selama beberapa hari itu.

Mendapatkan jawaban yang terkesan dingin, Songjin menghentikan langkahnya mengikuti Kyuhyun seperti bayangan dan lebih memilih duduk. Membiarkan matanya saja yang mengikuti Kyuhyun kesana kemari.

“kenapa Gyuwon eonni boleh ikut tapi aku tidak?” protesnya tidak senang, bibirnya mengerucut tajam. Bahu Kyuhyun bergerak halus bersamaan saat pria itu berbicara, “karena Gyuwon memang harus ikut, dan kau tidak.”

“Seohyun juga disana ‘kan?”

Dan dua pupil mata Kyuhyun langsung meranjak naik seusai Songjin berbicara. Membuat kepala Songjin yang semula terangkat, cepat-cepat merunduk turun untuk menyembunyikan penglihatannya, menghindari sorotan tajam yang Kyuhyun langsung hujamkan dengan giginya yang bergemeretak seperti ingin mengunyahnya bulat-bulat.

** **

Kyuhyun memasukan kopernya kedalam bagasi sambl berbicara kepada Henry melalui sambungan telepon. Kepalanya dimiringkan, menjepit ponselnya diantara telinga dan bahu. Terlihat kerepotan, tapi bersikeras bertingkah seperti dapat melakukan semuanya sendiri.

“dua puluh menit lagi. Tunggu saja dulu.” Dengusnya memutus panggilan mereka. Mengusalkan ponsel itu lagi kedalam sakunya dan tampak tidak terkejut mendapati Songjin yang tadi sudah menyerah untuk mengikutinya kemanapun dia pergi, kini memunculkan batang hidungnya lagi melipat tangan didada menatapnya kosong.

“Hubungi… hubungi aku setelah kau sampai disana.” Ujar wanita itu pelan.

“aku tidak bisa berjanji tapi akan aku usahakan.”

Kyuhyun sangat gesit berputar kesana kemari mengelilingi kendaraannya. Memasukan tas ranselnya kedalam jok penumpang disamping jok pengemudi, lantas lagi-lagi merasa tidak terkejut melihat Songjin masih disana. Diam. Terlihat tolol meremas ujung piyama pororonya menanhan tangisan.

Dia hanya diam. Didetik awal dia tidak dapat berbicara apa-apa. Yang dilakukannya hanyalah memalingkan wajah saat sengaja atau tidak, matanya bersiborok dengan mata cokelat Kyuhyun yang terlihat menggelap.

Dia menghirup nafas, tapi oksigen yang masuk bersamaan dengan keluarnya air mata. Terlihat keras untuk tidak membiarkannya keluar semudah itu, tapi toh, pada dasarnya semua orang pun tahu bahwa Songjin adalah wanita yang cengeng.

“Hati-hati.” Ujarnya susah payah. Membuat Kyuhyun mendecah sebal. Dia hanya akan pergi ke Miami untuk mendatangi Lyx dan akan kembali paling lama 7 hari lagi. Itu paling lama, dan tercepat hanyalah empat hari saja. Bukannya pergi untuk selamanya hingga pantas diberikan tangisan seperti itu dan ucapan perpisahan.

Songjin mengigiti bibirnya. Meremas piyamanya. Memandangi lantai garasi. Menangis tanpa bersuara. seperti anak hilang. Dia mau-mau saja menangis meraung-raung hingga terlihat lebih menyedihkan, tapi disaat yang sama, menangis seperti ini saja sudah membuatnya merasa malu setengah mati.

Kini lantai garasinya terlihat lebih menarik dibandingkan wajah Kyuhyun yang rupawan bagai dewa-dewa di Yunani sana. “Songjin~” senggolan Kyuhyun yang menusukkan telunjuknya pada lengan wanita itu pun seperti tidak memiliki reaksi apapun.

“Hubungi aku setelah kau sampai.” Tidak perduli didengar atau tidak, Songjin terus mengatakannya.

Kyuhyun berdehem. Sedikit merunduk untuk melihat wajah Songjin tapi istrinya itu malah semakin merundukkan kepala. “Ya~ Cho Songjin!”

“Hubungi aku—“

Dengusan Kyuhyun memotong kata-kata Songjin yang kalimatnya sudah tertebak diluar kepala Kyuhyun. “Eishh!!” runtuknya semakin sebal. “Ya~ dasar wanita bodoh!”

“a—aku..”

“Songjin!”

“Jangan pergi~” lalu tangisan lebih kecang pun pecah. Bersamaan dengan larangan dan tarikan kencang pada kemeja ketat yang Kyuhyun kenakan saat itu dari tangan Songjin.

Desahan panjang Kyuhyun keluar bersama dengan tangannya yang akhirnya, bersedia bergerak untuk merengkuh tubuh Songjin mendekat. Memeluknya.

Kepalanya mengangguk. Lalu kemudian menjatuhkan wajahnya kedalam rambut tebal Songjin, menciumi puncak kepala wanita itu berulang kali. “Jangan marah..”

Songjin berbicara dengan tangisan yang semakin menjadi saja. tubuhnya bergetar entah karena kedinginan atau karena menangis itu. Wanita itu menjejalkan wajahnya pada dada Kyuhyun semaunya. Tidak perduli dengan air dan cairan kental yang biasanya keluar bersamaan saat dia menangis.

“aku tidak marah.” Desah Kyuhyun pendek. Mengusap rambut panjang Songjin mengikuti alurnya hingga habis. “aku tidak marah. Kau masih belum juga paham bahwa selama ini aku menggantungkan hidupku padamu. Aku sedang berfikir, apa yang bisa kulakukan saat kau tidak ada nanti dan itu membuatku kesal karena aku tidak menemukan jawaban apapun sekeras apapun aku memikirkannya.”

“kau marah.” Songjin sesenggukan seperti bocah dan Kyuhyun menghela nafasnya lebih dalam, “kau masih belum juga sadar ya? Aku tidak bisa benar-benar marah padamu dasar bodoh!!”

125 thoughts on “[KyuJin Series] Vignette – 3 Ways to Make You Obedient (Step 3)

  1. Aaaahhh KYUHYUUUUUNNNN….!!!!!!
    Menggelinjang hati ini karna katakatamu.. duuuh daqu tersanjung sangat sumvvvah asdfghjklqwerty 😚

  2. Feel nya dapet banget oenn jadi ikut-ikutan naggis deh baca kata-kata kyuhyun tadi…..
    Jadi merinding tau bahwa kyuhyun ternyata mempunyai sisi yang halus seperti sutra haha biasanya kan kyuhyun evil banget hehe….

  3. terharu sama kata” kyuhyun
    dia udah terlalu pusing gimana caranya bikin songjin lahiran caesar, ini cara terakhirnya
    kenapa gak dari awal aja ngaku gini, mungkin songjin cepet luluh
    semoga aja habis ini songjin nurut

  4. yahhh,, d tinggalin lg de….
    itu scene t’akhir bkin aQ ampir netesin air mata…
    kyujin brasa mau pisah lama ja mereka…

  5. Yah justru aneh kalo si kyu santai aja isterinya mau menemui ajal. Kasihan amat dia kalang kabut gitu. Kandungan lemah itu masalah yang rumit. Sesar aja kemungkinan selamat kecil, apalagi normal. Heishh songjin songjin

  6. Iya sih kyuhyun oppa sekesal apapun sma songjin marah.a cuma sebentar…
    Sedih pas kyuhyun oppa bilang gg tw keluarga.a trua nnt anak.a jg bakal sma kaya dya…

  7. Hua….
    Pasti deh kalau membahas tentang hidup kyuhyun yg sebatang kara dan sekarang hanya punya songjin satu”nya yang dia punya, tempat dia mengantungkan hidupnya,.pasti nangis…hiksss

    Mau dikata apa lagi,. Emang dari sononya songjin keras kepala….kkkk

  8. black card soulmate songjin bgt y ga bs pisah deuuuuuuh deuuuh cckckckck -_-
    awawaw hots bangets part ini hohohoho 😉
    jng gt kyu gmn pun mreka b3 adl kluarga kmu yg sesunggih’a! kluarga kandung! cintai mreka spt kmu mncintai kluargamu yg skrg 🙂 mreka smw kluarga kmu smpai kpn pun 🙂
    geli baca kyuhyun blg “penyumbang sperma”, asa gimanaaaaaa gitu hhhhh geli kkkk
    kmu ud byk mlakukan yg trbaik koq kyu bwt songjin & calon anak klian 😉
    dr lubang hidung yg mancung kali kn idung kyu mancung binits 😀
    yiy lh masa rumput terlihat warna kuning 😛
    kicauan tuh burung gereja keq, ini burung gagak, serem amat -_-” biar ga serem gtu klo burung yg lain kkke
    sedih jd’a sama kata2 kyu disini 😦 maka’a klian hrs brsama smpe maut memisahkan y 😀

  9. huhuhuhu awalnya romantis bangeeeeetyt mandi bareng sender menyender huhuhu iriiiii btw ihhh duadunya meuni masih keukeuh satu mau caesar satu mau normal hahaha tp astaga bener deh kyuhyun sampe segitunya… tp kalo kasusnya begitu sihhhhh kalo aku jadi kyuhyun aku jg bakal kaya gitu. trs yah itu pas di makam huhu sumpah ngefeel banget gimana kegusaran kyuhyun huhu lanjuuuttt

  10. dari awal 1-3 aku sejujurnya setuju sama Kyuhyun yg harus in operasi ajaaa. biar semuanya yg tersakiti.. mereka sama” keras. kyuhyun udh menurunkan egonyaa demi Songjin tp kenapa kekerasan kepala songjin gg reda tp mereka akhirnya sadar kan kalo gg bs saling kehilangan. sama saling membutuhkan

  11. Alasan kyu masuk akal bgt,,,dy ga mau anaknya merasakan yg sperti dy rasakan,,,smentara songjin sperti ingn membuat anaknya merasakan yg kyu rasakan!! Jdi spa yg lbh bnr diantara mrka berdua??????????

  12. ini kok apa yang kyuhyun rasain kerasa sama pembacanya sihhh? ahh, ngebenerin juga sama apa yang kyuhyun bilang tapi juga gimana yaa… setiap ibu pasti juga pengen melahirkan normal 😦 ini keren bangeeettt, sukaa bacanyaa !

  13. sedih kenpa songjin enga peka peka si … klo si kyuh tuh mengantungkan hidupnya ama dyya tapi knp dya enga sadar2 😂😂😂😂 … kyuh sabar yh

  14. Pemikiran kyuhyun ada benarnya, pemikiran songjin jg ada benarnya. Yg tdk aku habis pikir, bagaimana kakak terpikirkan kata” yg sedemikian realistis dg tdk menurunkan kadar keromantisan

  15. Kyuhyun emng ga bisa marah sma songjin ,😊 suka bget deh sma kyujin beneran, ga tau deh hrus komen apalagi. Kerennn pokoknya 👍😊

  16. dia bnr2 udh menjatuhkan seluruh pusat hidupnya pd songjin. tpi ya namanya jg perempuan. pst maunya lahir normal.

  17. Aduh songjin kpn ngertinya sih … kapn dia ga egois .. kyuhyun kan mikirin ke depannya bukan kaya songjin yg mikirinnya buat sekarang aja

  18. nangis aku bacanya 😭😭 bingung mau komen apa, kyuhyun hanya tak ingin kehilangan songjin. dan ia juga tak ingin anaknya kekurangan kasih sayang,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s