[KyuJin Series] Number One


Number One

GSD

Cho Kyuhyun | Cho Songjin

PG 13

Oneshot

“Look, let me put it this way. With me, you’re number one and there isn’t even a number two. it’s not because I love you, but because I only love you. if I don’t have you, then I won’t have any other choices.” – Cho Kyuhyun.

Dia melakukannya lagi. Wanita itu. Memaksa sepasang telinga Kyuhyun untuk mau tidak mau mendengarnya. Berusaha membuat diri agar tampak tuli pun akan sia-sia saja. satu-satunya yang bisa membuatnya tidak mendengar ocehan itu lagi adalah benar-benar membuatnya tuli, seperti para penyandang tunarungu.

Kyuhyun terus melanjutkan pekerjaannya dalam tenang. Maksudnya.. mencoba untuk tenang. Berusaha untuk terlihat tenang. Tapi yang sebenarnya dirasakannya adalah ketidak tenangan sama sekali.

Jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Tangannya tidak lagi seringan itu untuk menulis, atau berganti mengetik.Tapi jika dihentikan, maka Songjin pasti akan dengan mudah menyadari bahwa Kyuhyun sedang tidak baik-baik saja, dan itu tidaklah mungkin ditunjukan didepan diri wanita itu saat ini.

Jika kondisi wanita itu bahkan sedang tidak baik-baik saja, apa pantas sekarang dia juga ikut-ikutan bersikap tidak baik-baik saja? bukankah…. Yang seharusnya terjadi jika salah satu tampak lemah adalah… salah satu dari mereka menguatkan?

Itukan pernikahan? Saling menguatkan saat merasa lemah.

Menyediakan bahu saat dibutuhkan?

“Kau tahu Songjin?” Kyuhyun menghentikan jarinya mengetik. Menggeser kursi kerjanya mengarah pada Songjin disampingnya. Disofa hitam dengan buku Shakespeare ditangannya. “aku benar-benar…”

bosan mendengarmu bicara jadi diamlah. Tutup mulutmu dan habiskan saja membaca buku yang tidak kau mengerti itu. Diam dan tunggu aku sampai selesai mengerjakan seluruh pekerjaan sialan ini. kita pulang kerumah. Kau dan aku beristirahat dan aku akan kembali ketempat ini esok hari jika kau memulai hari dengan ocehan tidak bergunamu itu lagi.

Kyuhyun mengataknnya dengan lantang. Didalam hatinya tentu saja karena entah pertengkaran macam apalagi yang akan muncul jika dia benar-benar mengeluarkan kalimat-kalimat itu.

Kepala Kyuhyun berdenyut. Tentu saja rasa marah itu ada. Tapi lagi, semarah apapun dia dengan wanita bodohnya, akan kalah saing dengan bobot perasaan kesal, karena sebenarnya, dia tidak bisa benar-benar marah dengan wanita itu.

Tidak bisa.

Yang selama ini dilakukannya, hanyalah mencoba untuk marah. Atau mempertahankan amarahnya jika itu sedang diperlukan.

“makan. Apa kau mau makan? Apa kau lapar? Karena aku.. sangat…” satu tangan Kyuhyun meremas kertas, entah itu adalah kertas apa— yang berada diatas mejanya. Meremasnya sekuat tenaga membayangkan kertas itu adalah wanitanya.

Meremasnya hanya untuk membuat agar otak wanita itu yang bergeser segera kembali ketempatnya lagi. “lapar.”

** **

Maka selepas keluar dari gedung Millennis Corporation, Kyuhyun membawa kendaraannya melaju dengan sangat cepat menuju suatu tempat. Dalam perjalanan, dia sama sekali tidak menghiraukan ocehan Songjin lagi yang mulai muncul. Dengan inti topic yang sama.

Dia mulai menanggapi Songjin saat wanita itu mulai merasa heran karena rute yang dilewati mereka bukanlah rute tempat yang diketahuinya. Bukan rute menuju Bistro, bukan rute menuju cart bar langganan Kyuhyun. Bukan myeongdong. Bukan pula rumah mereka.

Perjalan memerlukan waktu kurang lebih satu setengah jam. Mungkin bisa lebih lama jika Kyuhyun tidak mengendarai dengan kecepatan mengerikan. Tapi toh, sejauh itu Songjin hanya diam mempehatikan jalan raya sambil mencoba untuk menebak, akan kemana mereka malam ini?

Dan inilah, awalnya dia memang penasaran. Tapi kini, dia tidak tampak terkejut ketika mendapati hamparan laut didepan matanya.

Dia berada dipantai Eurwangni. Pantai yang terkenal dengan pasirnya yang luar biasa berwarna putih. Jika saja ini pagi atau siang hari, warna putih cemerlang itu akan terlihat dengan sangat jelas.

Tapi ini adalah malam hari, maka pasir-pasir itu terlihat sedikit kecokelatan karena bercampur dengan warna lampu jalanan yang berwarna kekuningan.

Kyuhyun lebih dulu turun dari mobilnya. Yang pertama pria itu lakukan adalah berdiri tegap merenggangkan tangannya lebar-lebar menghirup aroma laut yang asin.

Dia membiarkan angin yang kencang menyapu wajahnya. Membuat rambutnya jadi tidak tertata dengan rapih lagi. Membuat keningnya sekarang dapat dilihat dengan sangat jelas.

Pria itu lalu berjalan sebentar, maju beberapa langkah lebih jauh dari kendaraannya yang terparkir, menjorok kebibir pantai. Dia melinting celana bahannya sampai sebatas betis, lalu Kaki-kakinya bermain dengan pasir-pasir. Menguburnya sendiri, dan terlihat lagi saat air menghempaskan pasir-pasir yang menutupi kakinya itu.

Sedang Songjin lebih memilih untuk duduk diatas cap mobil sambil menikmati suara deburan ombak yang terdengar sangat jelas berulang kali. Awalnya dia merasa aneh dengan apa yang Kyuhyun lakukan. Bermain air dan pasir. Tapi lama kelamaan, Songjin mendapati hal tersebut cukup menyenangkan untuk dilakukan.

Maka setelah mengamati Kyuhyun dari kejauhan, wanita itu menghampiri pria tinggi yang sedang berjongkok mengacak-acak pasir dengan sebuah wadah minuman bekas ditangannya.

“aku membuat bagian belakangnya.” Songjin mengambil satu wadah minuman bekas yang Kyuhyun pungut tadi dan dibuatnya untuk membentuk sebuah kotak-kotak yang kokoh dari pasir laut.

Maka sesudahnya, disanalah mereka. Dua orang dewasa yang sedang bertingkah seperti bocah dengan bermain pasir ditengah malam tanpa memerdulikan sekitar.

Tidak saling bercakap, tidak saling memandang. Namun dapat bekerja sama dengan sangat baik membuat sebuah bangunan tinggi nan megah dengan bermodalkan pasir murahan saja.

** **

“buruk sekali.” Kyuhyun berkata setelah menjilat ice creamnya. Matanya mengarah pada istana pasir hasil karyanya dengan Songjin tadi. niat keduanya adalah membuat istana megah dengan atap mengerucut khas seperti apa yang kastil-kastil biasa miliki.

Terlihat rumit dengan banyak pintu dan ukiran. Dengan tangga yang panjang hingga istana tersebut terlihat sangat tinggi dan membutuhkan kerja ekstra untuk naik sampai kedepan pintu masuk saja.

Tapi keinginan hanyalah sebatas keinginan.

Yang sebenarnya terjadi, istana pastir mereka tidaklah lebih dari empat buah tumpukan pasir berbentuk kotak-kotak alakadarnya saja.

Satu-satunya hal yang mungkin membuat orang-orang berfikir bahwa ‘oh, itu istana pasir’ adalah sebuah bendera yang Kyuhyun buat lagi-lagi seadanya dengan sedotan dan tissue yang saling dikaitkan.

Didalam tissue itu bertuliskan, ‘ini istana pasir, karya Kyu-Jin’. Jadi jika ada orang tolol yang mungkin akan bertanya gundukan menjijikan apakah ini, mereka dapat membaca tulisan dikertas tissue itu.

“aku ingat kita pernah membuat yang jauh lebih baik dari pada itu.” Desah Kyuhyun terlihat sedikit kecewa dengan hasil karyanya sendiri.

pikirannya lalu terbang saat usianya masih baru tujuh, sedang Songjin baru lima tahun. Mereka senang sekali mampir pada playground sekolah mereka dulu hanya untuk berkotor-kotor ria membuat istana pasir.

Sama seperti tadi. bekerja sama membuat sebuah bangunan. Tapi yang diingatnya, kemampuan mereka lebih baik daripada sekarang. “aku ingat kita pernah membuat pagar yang mirip dengan tembok china.”

“aku juga ingat kita pernah membuat atap mengerucut seperti Hogwarts. Bukan seperti itu…. Yang itu terlihat seperti….” Kyuhyun menggantung kalimatnya. Dia memandangi karyanya lagi dengan pandangan bingung karena bentuk atap istana yang dibuatnya tidak seperti bentuk atap pada umumnya.

Atap yang ini datar. Berbentuk datar karena berulang kali Kyuhyun mencoba untuk membuatnya setidaknya membentuk seperti kubah tapi hasilnya malah menjadi datar.

Berulang kali dirombak pun terus menerus menghasilkan bentuk yang sama jadi karena kesal, Kyuhyun menyerah saja dan menjadikannya datar.

Keduanya mendesah panjang. Sepertinya.. keduanya sama-sama terlihat kecewa karena bentuk istana pasir kali ini benar-benar payah dan jauh daripada ekspektasi mereka sebelumnya.

Hanya diam mendengarkan suara deburan ombak, sambil merasakan hempasan angin mengacak rambut dan Ice cream milik mereka masing-masing.

“Kyu~”

“Hmm?”

“kenapa kau tidak ke Lyx bersama Siwon Oppa kemarin lalu?”

Kyuhyun melumat ice creamnya lebih dulu. Mengecap lidahnya sendiri untuk menikmati rasa vanilla yang terjeplak disana. “Hngg… karena aku malas?” Kyuhyun terdengar seperti mengajukan pertanyaan balik kepada Songjin.

“tapi Lyx kan urusanmu bukan Siwon Oppa.”

“urusanku urusannya juga. Lyx kan berada dibawah naungan Millennis. Jadi apa yang menjadi urusanku dengan Lyx, juga menjadi urusan perusahaan. Itu artinya Siwon Hyung ikut berurusan dengan apapun yang terjadi di Lyx. Itu artinya, urusanku urusannya juga. Kecuali kau.” Kyuhyun menoleh. Tidak tersenyum tapi juga tidak menunjukan wajah seramnya kepada Songjin.

Pria itu hanya menoleh dan diam. Memperhatikan wajah Songjin dengan sangat seksama. “kau adalah urusanku yang tidak bisa dipindah tangankan, atau diwakilkan oleh siapapun.”

Songjin diam. Hanya menganggukan kepalanya dan membuang wajah saat Kyuhyun terlihat belum selesai memandanginya seperti sedang memberi penilaian akan sesuatu diwajahnya.

“Kyu~”

“Hmm?”

“aku… serius dengan yang kukatakan tadi.” suara wanita itu terdengar parau. “kau boleh melakukannya, aku mengizinkanmu. Aku bahkan beru terpikir, kau harus melakukannya saat jika saja nanti aku tidak ada.”

Kini Kyuhyun lah yang diam. Beberapa jam yang lalu saat mereka sedang sibuk membuat istana pasir, topic ini sempat menghilang. Tapi setelah istana pasir bodoh itu selesai, topic yang bodoh inipun kembali naik.

Sepertinya memang perlu untuk dibahas. Entah perlu karena sebuah keharusan agar permasalahan lain tidak muncul, atau karena agar Songjin menjadi diam saja.

“tentang menikah lagi?” Kyuhyun melirik Songjin sebentar. Lalu kembali menggeluti ice creamnya, “aku tidak mau.” Jawabnya santai seperti topic ini tidak pernah membuat hidupnya terasa sedikit kacau akhir-akhir ini.

tangannya lantas merogoh saku celanannya mengeluarkan sebuah sapu tangan dan memberikan sapu tangan itu kepada Songjin.

Wanita itu sempat mengerutkan kening karena bingung tiba-tiba Kyuhyun menyerahkan sapu tangannya. Padahal dia memakan Ice cream dengan anggun dan tidak membuat lelehan itu ada dibibirnya, atau bahkan dipasir.

“untuk menghapus air matamu kalau-kalau kau ingin menangis karena aku menolak untuk melakukan apa yang kau minta.” Tutur Kyuhyun sama santainya seperti tadi.

pria itu berhasil membuat Songjin kesal dan membuang sapu tangan tidak bersalah itu kepasir dan lalu terbawa terbang karena angin yang kencang. “bagus.” Kyuhyun memandang sapu tangannya terbang bagai selembar tissue yang ringan. “Itu harganya sama dengan sepasang sepatu Jimmy Choo mu.”

Mengabaikan perkataan Kyuhyun tadi, Songjin berhenti mengaduk ice cream cup nya dan mengubah posisi menghadap Kyuhyun sepenuhnya. Dengan galak wanita itu memandangi suaminya seperti ingin menelannya bulat-bulat, “aku serius Cho Kyuhyun! Aku serius! kau harus melakukannya! Kau tidak akan sanggup melakukannya seorang diri. Membesarkan anak bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan seorang diri. Dan kau— kau bahkan selalu kesulitan memilih dasi mana yang akan kau gunakan untuk kekantor setiap pagi. Apa dengan modal seperti itu, kau pikir kau sanggup untuk memilihkan apa yang terbaik untuk anakmu nanti, hah? Kau tidak sehebat itu untuk melakukan hal besar seperti itu seorang diri.”

Seperti rasa ice cream yang akan hilang lepas lewat dari tenggorokan setelah baru dimasukan kedalam mulut. Nasib yang sama terjadi pada ucapan-ucapan Songjin pada telinga Kyuhyun.

Seluruh teori konyol tentang keharusan Kyuhyun untuk mencari siapapun itu.. wanita yang Kyuhyun anggap pantas dan mampu untuk membantunya menjadi partner dalam membesarkan anak mereka nanti, semua masuk telinga kanan Kyuhyun, dan keluar melalui telinga kiri pria itu.

Sejak tadi. sejak berhari-hari yang lalu. Demi tuhan bahkan permasalahan mereka tentang metode melahirkan yang rumit itu saja belum selesai. Sekarang wanita itu berulah lagi dengan memberikan penawaran, menurut wanita itu, tapi bagi Kyuhyun adalah sebuah perintah.

Tapi ini tentu saja perintah yang bodoh.

“Cho Kyuhyun, kau dengar aku?!” Songjin mulai tampak geram ketika Kyuhyun tampak tidak perduli dengan apa yang dilakukannya. Apa yang diucapkannya. Pria itu seperti manusia yang baru pertama kali merasakan apa itu ice cream dan sedang tergila-gila dengan rasa yang lembut, manis dan dingin dilidahnya.

“ya. Aku dengar, sedikit.”

“sedikit?”

“suaramu tertelan suara ombak.. jadi jangan salahkan aku..” bahu Kyuhyun bergerak kasual menyamai mulutnya yang berbicara malas menjawab pertanyaan paksaan wanitanya.

“Cho Kyuhyun!”

“Hey, kau tahu tidak? aku baru tahu kalau kedai yang menjual ice cream ini tadi, mereka juga menjual seafood ramyeon. Kau mau? Kita ‘kan belum makan apa-apa sejak tadi!”

“aku tidak ingin makan!”

“tapi sepertinya ramyeon nya lezat sekali. Disana bahkan ramai, jadi kukira pasti lezat.”

“Kyu~”

“disana ada ramyeon gurita. Kau suka gurita ‘kan? kita kesana sekarang? Aku lapar sekali!”

“Kyuhyun-ah~”

“sepertinya mereka memasaknya sendiri dan tidak menggunakan ramyeon instan, jadi kali ini, kau kujinkan untuk makan ramyeon! Berbahagialah kau sekarang!”

“CHO KYUHYUN!!” nafas Songjin terbuang memburu. Matanya memerah dan sudah berkaca-kaca lantaran kesal Kyuhyun abaikan. Atau bertingkah menyebalkan. Itu sama saja dengan mengabaikannya. “AKU TIDAK MAU MAKAN! AKU SAMA-SEKALI TIDAK MAU MAKAN! AKU MAU KAU DENGARKAN AKU! TOLONG DENGARKAN AKU!”

satu tangan Songjin telah mengepal kencang. Jika saja tangan kirinya tidak digunakannya untuk memegang cup ice cream cokelat dengan ekstra caramel sebagai toppingnya itu.. mungkin juga sudah diremas-remasnya.

Sedang Kyuhyun masih saja terlihat sangat santai menanggapi istrinya yang telah meledak-ledak seperti kembang api dengan tiba-tiba seperti itu. Dia hanya menarik napasnya panjang, menghirup banyak-banyak oksigen melalui hidungnya, lalu menghabiskan ice cream vanilla sampai melahap cone nya dalam satu kali bukaan mulut saja.

Kyuhyun merogoh-rogoh sakunya untuk mengambil sapu tangan lalu baru teringat bahwa sapu tangannya tadi telah hilang entah kemana, lantas dengan mudahnya dia melepas dasinya dan digunakan semaunya untuk membersihkan tangannya yang sedikit kotor terkena lelehan ice creamnya sendiri.

Helaan napasnya terdengar lagi kencang. “tidak perlu berteriak-teriak seperti itu padaku, aku tidak tuli.” Ujarnya pelan. “dan lagi aku tidak pernah berteriak seperti itu padamu bahkan saat kau tidak mau mendengarkan ku saat kubilang, demi kebaikanmu sendiri, kau harus melahirkan dengan cara Caesar, iyakan?” bibirnya menggoreskan senyuman tulus yang polos.

Dia menghela napasnya lagi. Diam-diam juga menyadari, dalam hari ini saja, telah berapa banyak helaan napas yang keluar dengan ritme yang tidak dapat dibilang santai? “jangan mencoba mengatur apa yang harus dan tidak untuk kulakukan saat kau tidak lagi berwenang didalamnya Songjin. Kau tidak berhak mengaturku seperti itu.”

“aku tidak berhak?”

“Ya!”

“aku?”

“Iya. Kau.”

Songjin membelakkan matanya. Dia merasa seperti baru saja ditampar oleh Kyuhyun dan lidahnya lagi dengan berkata seperti itu. Seperti selama ini, dia bukanlah siapa-siapa dan hanya tidak sengaja lewat saja dihidup pria itu. Tidak membekas apalagi dianggap.

“karena saat kau pergi dengan cara seperti itu… itu sama artinya dengan kau pergi meninggalkanku begitu saja. jadi aku akan memperlakukanmu sama seperti orang yang pergi meninggalkanku begitu saja juga. Sama seperti mereka yang tidak berhak apapun atas diriku. Kau juga.”

Songjin menyatukan alisnya dengan kening yang berkerut semakin rapat. Otak sederhananya mencoba untuk mengartikan apa yang Kyuhyun katakan tadi dan satu-satunya yang dapat dipahaminya adalah bahwa Kyuhyun benar-benar akan menghapusnya jika saja dia memang benar-benar tidak lagi bersama dalam artian yang utuh dengan pria itu.

Semudah itu. Sesederhana itukah? Kenapa terdengar dan terasa kurang ajar betul? Tidak berprikemanusiaan mengingat jika memang itulah yang harus terjadi, setidaknya sebelum ini pun mereka memiliki banyak kenangan yang dapat diingat. Bukannya dibuang begitu saja seperti itu!

Songjin menutup mulutnya karena rasa kesal yang mengumpul didalam kepala dan hatinya. Dia ingin menangis tapi rasanya sangat malu untuk melakukan hal itu maka dengan susah payah, tangisannya itu dipendamnya semampu dan sekuatnya.

Dilihatnya, Kyuhyun menarik napasnya panjang dan langsung membuangnya melalui mulut. Jika ini masih musim dingin, asap mengepul pasti juga ikut keluar dari mulut pria itu tadi.

Dia merenggangkan tubuhnya hingga terdengar suara bergemeretak, lalu bersandar lagi dicap mobilnya. Menjadikan dua tangannya sebagai tumpuan sandaran atas tubuhnya.

“berhentilah melakukan semua itu Songjin.” Ucap Kyuhyun akhirnya memecahkan keheningan. Menggantikan suasana dingin perlahan-lahan. “kau bisa menyuruhku membeli makanan yang kau mau ditengah malam. Kau bisa membangunkanku saat punggungmu terasa sakit maka aku akan memijatimu sampai kau bisa kembali tidur. Kau boleh membuatku berhenti bekerja selama yang kau mau hanya Karena kau ingin aku menenamimu bersantai dirumah. Melakukan hal yang penting dan yang tidak penting sekalipun. Kau boleh membuatku kesal dengan komentar tololmu setiap hari. Kau boleh memarahiku seperti yang kau mau seperti biasanya. Kau boleh mengganggu tidurku saat aku sedang mati kelelahan. Kau boleh menolak saat aku ingin menidurimu dan berteriak memaksaku untuk tidur disofa. Kau boleh mencekokiku dengan masakanmu yang sebelas dua belas dengan racun tikus. Kau boleh melakukan semua itu, kau bisa melakukan semua yang kau mau semaumu atas diriku, tapi kau tidak bisa memaksaku untuk memilih wanita lain, lagi untuk bersamaku jika kau ingin pergi. Kau tidak boleh melakukannya. Kau tidak boleh membuangku begitu saja seperti itu, Songjin. Itu bukan yang seharusnya dilakukan.”

Kyuhyun diam. Memandang Songjin lama dalam diamnya. Tangannya tidak lama terangkat, mengetuk-ketukkan jari-jarinya diatas kepala yang keras itu. Berharap jika dia melakukan hal itu, maka otak yang bergeser itu segera kembali ketempatnya semula. “aku bahkan lebih senang saat kau menuduhku berselingkuh dari pada memintaku menikah dengan wanita lain.” Ujarnya lebih pelan.

“setidaknya aku tahu, saat kau cemburu, itu artinya kau perduli denganku. dan jika seperti ini keadaannya… aku malah jadi berfikir, apa kau sudah bosan denganku sampai kau mati-matian menyuruhku pergi ke Lyx untuk bertemu Seohyun, berdekatan dengan wanita itu lama-lama daripada aku harus berdekatan dengan istriku sendiri. atau kau dengan polosnya… mencoba membuatku tertarik dengan temanmu sendiri saat kau tahu.. bahkan temanmu itu tergila-gila dengan Lee Donghae? Dan kau juga tahu, aku tidak akan bisa menyukai Eun Soo seperti aku menyukaimu. Tapi kau terus mencobanya, dengan modal bahwa Eun Soo masuk kedalam kriteria wanita ideal yang kusuka? Kau tidak sedang mendepakku kan?”

“mendepakmu?” mata Songjin menyipit mendengarnya. Terkejut dan merasa heran disaat yang sama. Bagaimana bisa Kyuhyun berfikir bahwa dia sedang mencoba untuk membuang pria itu jauh-jauh, padahal yang terjadi selama ini adalah malah dia selalu ingin menarik Kyuhyun agar terus-terusan berdekatan dengannya?

Apa pria itu sudah gila, atau baru saja menjadi tolol?

Songjin menarik napas dan membuangnya secara teratur perlahan-lahan. Seperti Kyuhyun yang sedang mengamati seksama matanya, dia pun mengumpulkan keberanian yang sejalan untuk melakukan hal tersebut lama-lama. “kau gila?” Songjin nyaris berbisik saat mengatakannya. Suaranya terdengar serak seketika.

“aku tidak akan sudi melakukan hal seperti itu. Bagaimana bisa kubuang kau begitu saja? memangnya kau ini sampah?”

“dan aku juga tidak sudi untuk melakukan apa yang kau perintahkan sejak kemarin. Ayolah, realistis saja. tidak ada satupun diantara kita yang senang melihat masing-masing kita nyaman bersama dengan orang lain, iyakan?”

Kyuhyun menggeser rambut-rambut yang menutupi wajah Songjin karena terpaan angin. Menyelipkannya dibalik telinga berulang kali saat sepitan itu terlepas. Tangannya perlahan-lahan dan berulang kali mengusap lembut pipi Songjin dengan buju jari telunjuknya.

“kita tidak perlu menambah materi perdebatan kita, Songjin. Kepalaku ini sudah cukup pusing dengan tingkahmu yang tidak menuruti perintahku untuk permasalahan nyawa lain ditubuhmu, dan bagaimana caramu untuk mengeluarkannya dengan kondisi baik-baik saja, tanpa ada salah satu dari kalian yang terluka. Atau tanpa ada pilihan untukku agar memilih salah satu dari kalian. Aku tidak bisa memilih. Jadi kumohon, jangan tambah lagi dengan yang lain. please~ no more argument, okay?”

“kau pusing karena masalah perdebatan? Tapi toh selama ini kau selalu mendengarnya. Kau tahu aku tidak pernah mau menghentikan pembicaraan masalah itu, ‘kan?”

Kyuhyun berdecak berulang kali menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan wanita yang telah 3 tahun menjadi istrinya itu, “Yeah. It’s because sometimes i’d rather lose an argument to you than lose you to an argument.”

Kyuhyun tersenyum jahil menyapukan ibu jarinya pada bibir bawah Songjin. Membersihkan krim lengket sisa ice cream bekas wanita itu tadi. dan menjilat ibu jarinya sendiri setelahnya.

Seberusaha apapun Songjin memakan makanan itu dengan anggun, wanita itu memang tidak akan pernah bisa menghabiskannya dengan cara yang anggun.

Anggun dan Songjin adalah dua hal yang saling bertentangan. Kacau dan Songjin, barulah pantas disandingkan bersamaan.

“Look,” Kyuhyun memutar tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan. Dua tangannya bertengger dibahu kecil Songjin setengah meremasnya. “don’t try to do something wasted. You are who you are. You’re weird, you’re lame, you run into things, you spill food, you trip, you scream about random and stupid stuff. But that’s why I like you. I like it that way. Let me put it this way. With me, you’re number one and there isn’t even a number two. it’s not because I love you, but because I only love you. if I don’t have you, then I won’t have any other choices. It’s not about having the perfect relationship, no. I’m not doing this on that way. It’s about finding someone who matches you and will go through everything without giving up.”

Kyuhyun berhenti meremas bahu Songjin. Satu tangannya kembali sibuk dengan rambut panjang wanita itu yang berterbangan kemana-mana karena angin kencang pantai. “kalau kau sendiri yang mengatakannya, bahkan untuk memilih dasi mana yang akan kupakai saja aku kerepotan, jadi bagaimana bisa aku menentukan pilihan besar lainnya jika kau tidak ada untuk membantuku? Kau adalah partner terbaik yang pernah kupunyai. Kau co-pilot terbaik dan terhebat. Jadi apa yang bisa dilakukan seorang pilot jika tidak mempunyai co-pilot dalam penerbangannya? Apa dia pikir dia bisa melakukannya seorang diri? Didalam pesawat itu memiliki banyak crew tapi tidak satupun diantara crew itu yang paham bagaimana cara menerbangkan pesawat dengan benar, iyakan? Jangan coba-coba menentang apa yang tidak bisa kau tentang Songjin. Bukan hanya aku yang tidak bisa melakukannya seorang diri. Kau juga tidak akan bisa melakukannya dengan benar seorang diri saja jika aku tidak ada. Jadi berhentilah bersikap seolah-olah kau akan mati besok, meninggalkanku dengan seorang bayi yang tidak tahu apa-apa tentang Ibunya. Meninggalkanku dengan sekumpulan orang yang tidak tahu apapun tentangku apalagi bayiku. Aku mencintaimu. Aku sudah mengatakannya berpuluh juta kali padamu aku mencintaimu. Aku sangat sangat mencintaimu jadi berhenti mendepakku dengan cara menawari suamimu sendiri ini kepada wanita-wanita yang kau anggap layak untuk bersama denganku. tidak ada satupun yang layak bersamaku selain kau. Kau satu-satunya. Sudah kukatakan jika tidak dengan kau, aku tidak mau dengan siapapun lagi. Titik. Permasalahan ini, selesai sampai disini.”

** **

“semuanya 30.000 Won.” Wanita berusia kisaran 60-an itu menyerahkan buku berisi bill kepada Kyuhyun sambil terus-terusan memandangi Kyuhyun seperti menganggumi sebuah mahakarya terbaik yang pernah dilihatnya seumur hidup. “Chogi—“ dia meremas-remas tangannya sendiri. “apakah… apakah kau Cho Kyuhyun?” tanyanya malu-malu seperti remaja yang sedang bertemu idolanya.

Sedang Kyuhyun merasa terkejut melihat reaksi nenek-nenek itu, dan Songjin menahan tawanya geli membekap mulut, mundur bersandar pada kursinya. “Y— Ye.. halmeoni…”

“ah aku sudah menduganya! Aku tahu itu kau sejak pertama kau membeli Ice Cream itu!! Aigoo~ tampannya.” Lalu mendadak serangan itu datang. Wajah Kyuhyun yang masih terkejut itu dikejutkan lagi oleh remasan tangan nenek penjual ramyeon itu diwajahnya.

Gemas gemas dan entah perasaan apalagi yang bisa menggambarkan betapa napsunya nenek-nenek pemilik kedai itu menggerayangi wajah Kyuhyun. “bagaimana bisa kau setampan ini. kau bahkan terlihat lebih tampan daripada ditelevisi atau dikoran.”

Kyuhyun sesak napas karenanya. Megap-megap mencari oksigen sekaligus mencoba meminta bantuan Songjin untuk setidaknya menghentikan serangan medadak itu tapi Songjin pun sepertinya menikmati bagaimana Kyuhyun tersiksa saat itu.

Satu menit lebih setelahnya, barulah sepertinya keliaran nenek pemilik kedai itu terpuaskan. Hanya menyisakan ringisan dengan tampilan gigi yang tidak utuh lagi.

Kyuhyun menggerutu dalam diamnya. Mulai berfikir akan melakukan hal yang sama pada Songjin karena tadi, istrinya itu malah dengan santainya menertawainya saat dia berada diantara hidup dan mati karena nyaris kehabisan oksigen.

Sambil terus mengomel, tangannya meraba-raba sakunya. Tapi mendadak wajahnya menjadi panic saat menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang, “Astaga!” pekiknya.

Kyuhyun lalu meruntuki dirinya sendiri yang lupa tidak membawa dompetnya lagi setelah tadi dia pergi dengan Henry kesebuah toko buku sebentar saat jam makan siang, dan meletakkan dompet itu didalam laci mejanya.

“kenapa?” Songjin memiringkan kepalanya karena sang nenek itu seperti sengaja memblokir jalannya untuk melihat wajah Kyuhyun sejak tadi.

“dompetku!” Kyuhyun mendelik terkejut. “dompetmu?” tak lama Songjin ikut mendelik. “dilaci!” Kyuhyun menjadi lebih panic berbicara nyaris berbisik kepada Songjin. Ikut menggerak-gerakkan kepalanya kesana kemari karena demi Tuhan nenek pemilik kedai ini mengganggunya bukan main.

Kyuhyun dan Songjin diam. Berfikir. Tidak lucu kalau setelah menghabiskan dua porsi Seafood Ramyeon dan berbagai embel-embel makanan lainnya, mereka pergi begitu saja dengan beralasan dompet tertinggal.

Itu nama baik yang dipertaruhkan dan sebenarnya, terdengar menjijikan juga hanya makan dikedai ramyeon saja tidak sanggup membayar.

Heningnya keduanya berakhir ketika Songjin tiba-tiba berbicara kepada Kyuhyun, “Oh! aku lupa. Obatku ada dimobil. Bisa tolong ambilkan?”

“dimobil? Dimananya?”

“tas pink-ku.”

Tak lama Kyuhyun langsung bangkit berdiri. Meminta ijin pada nenek pemilik kedai untuk pergi sebentar agar nenek itu berhenti memperhatikan wajahnya dengan cara yang berlebihan itu.

“Halmeoni.. jadi begini—“ sambil melirik punggung Kyuhyun menghilang, Songjin membuat perhatian nenek pemilik kedai itu kini tertuju hanya padanya seorang.

** **

“aku tidak lihat ada tas pink disini.” Kyuhyun sibuk mengacak-acak bagasinya. “didalam juga tidak ada. Kau yakin meletakkannya ditas pink? Tidak ada tas pink dimana-mana, Songjin!”

Songjin tertawa geli melihat Kyuhyun repot melakukan ini dan itu. Kancing teratas kemejanya telah tanggal dan jasnya sudah hilang entah kemana. “semangat sekali mencari tas pink” goda wanita berotak minimalis itu sambil masuk kedalam mobil, duduk manis di kursi penumpang.

Melirik dua kali Kyuhyun dari kaca spion tengah, Songjin lalu menekan klakson dua kali membuat Kyuhyun menghampirinya. “demi tuhan kau sedang bercanda atau apa? Tidak ada tas pink dimana-mana. Kau sudah sepikun itu mungkin. Kau tidak meletakkannya ditas pink, iyakan!”

Songjin semakin membesarkan tawanya saja melihat Kyuhyun berpenampilan seperti baru kalah judi “tidak ada tas pink Cho Kyuhyun sayang.” Tawa Songjin semakin keras. “ayo masuk kedalam aku kedinginan. Sebaiknya kau peluk aku saja daripada menghabiskan waktu diluar mencari yang tidak ada.”

Wajah kosong Kyuhyun mendadak menjadi datar, lalu kepala itu menjadi miring dan semakin miring semakin lama sampai barulah pria itu sadar bahwa dia sedang dikerjai, “Apa katamu?”

“aku kedinginan. Peluk aku~” Songjin terdengar setengah merengek menggoda Kyuhyun. Tapi Kyuhyun benar-benar sedang serius dengan yang satu ini, “bukan yang itu. Yang lainnya!” protesnya menggebu.

“yang mana?” Songjin masih terkekeh. Mengusap peluh dikening Kyuhyun dengan tangannya lalu memajukan tubuh melumat bibir Kyuhyun lama, “yang ini?” katanya merubah nada suara menjadi lebih rendah.

“bukan.” Kyuhyun menggeram habis-habisan dengan tangan mengepal. “yang lainnya!”

“tidak ada tas pink?”

“kau mengerjaiku?”

“aku harus membuat nenek pemilik kedai tadi mengalihkan fokusnya darimu baru aku bisa berkata kalau suamiku yang tampan tidak memiliki uang karena dompetnya tertinggal dilaci kantor, dan istrinya yang cantik ini hanya mempunyai uang cash sebanyak 15000 won saja.”

“HAH?”

“jadi aku memberikan uang yang kupunya itu dan meminta agar nenek pemilik kedai tadi berbaik hati membiarkan aku membantunya mencuci semua piring kotor didapur.”

“Itu saja?”

“ya. Ayo masuk dulu cepat. Jangan terlalu banyak terkena angin laut begitu. Kau bisa sakit!” perintah Songjin halus namun tegas.

Dia menutup kacanya hingga Kyuhyun tidak lagi bisa bersentuhan dengan cara apapun lagi dengannya selain pria itu berputar dan masuk kedalam mobil mereka. “lalu?” Kyuhyun masih saja tertarik dengan tragedy makan tanpa uang mereka.

Dia memandang Songjin curiga sambil menarik tangan wanita itu dan memperhatikannya seksama, “Jadi kau bisa mencuci piring?” sindir Kyuhyun tanpa disadarinya sendiri sambil memandangi jemari lentik Songjin dan berfikir, bagaimana bisa istrinya itu mencuci piring dengan kuku sepanjang ini?

Dan mengingat dirumah mereka memiliki mesin pencuci piring yang bisa membersihkan piring-piring dengan otomatis jadi tentu saja kecurigaan Kyuhyun sangat beralasan.

Mendengar kesinisan Kyuhyun itu, Songjin cepat menarik tangannya lagi sambil medesis, “tentu saja aku bisa! Memangnya aku ini istri yang cuma bisa duduk-duduk manis sambil mengikir kuku menunggu suamiku pulang?”

“Tidak.” Kyuhyun menggeleng cepat menolaknya. “tapi kalau menodong kartu kredit untuk belanja, ya. Kau tipe istri yang begitu!”

“mwoya!!”

“jadi apalagi yang kau lakukan selain mencuci piring Nyonya? Hm?” Kyuhyun ternyata lebih cerdas dari itu. Tidak semudah itu untuk mendapatkan jawaban sederhana yang ringan bagi masalah yang tidak bisa dibilang ringan juga.

Dan melihat Songjin menahan tawanya seketika saja kecurigaannya seperti telah tervalidasi sempurna. “aku memberikan nomor ponselmu!”

“M—mwo?!”

Nafas Kyuhyun mendadak sesak dan matanya membelak terkejut. “ayolah, bersikaplah adil dengan penggemarmu. Tua atau muda mereka sama-sama penggemarmu. Walaupun giginya sudah habis—“

“nomor pribadiku? CHO SONGJIN?!!” Kyuhyun melotot semakin lebar bukan lagi karena terkejut tapi karena kesal.

“tapi setelah aku memberikan nomor itu.. dia membolehkanku pergi~ jadi kan luamayan, Kyuhyun-ah. Nomor dan namamu bisa kujual semudah itu ternyata.” Kekeh Songjin tidak berdosa.

Dia terus terkekeh sambil mengkancingkan kancing teratas kemeja Kyuhyun. Mengusap dada bidang pria itu entah seperti sedang menggoda atau apa. Memajukan tubuhnya membaui aroma tuhbuh Kyuhyun dan mengdesah panjang ditelinga pria itu. “Hmmm… kau baumu enak sekali.”

Hmmm..ohya? jangan mengalihkan pembicaraan wanita bodoh!” sambil menahan geraman yang muncul karena marah dan mungkin gairah yang perlahan tersulut Kyuhyun tetap saja mengetuk-ketukkan jari-jarinya dikepala Songjin berkali-kali. “kau ini tolol atau apa memberikan nomor pribadiku semudah itu, hah?”

“hanya dengan seorang nenek-nenek, Cho Kyuhyun. Ayolah~ apa hal terburuk yang bisa seorang nenek-nenek perbuat?” Songjin tertawa geli dengan kencang sangat lama. Tapi menyadari Kyuhyun tidak juga ikut tertawa, mungkin saja dia memang baru melakukan sebuah kesalahan. “baiklah baiklah. Maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi. Jangan marah begitu.”

Protes Songjin berhenti menciumi aroma tubuh Kyuhyun dan menjauh dari tubuh pria itu beberapa jengkal dengan bibir mengerucut. “itukan terpaksa.”

“aku tidak marah. Aku hanya berfikir….” Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. “aku benar-benar mengantuk, dan disana ada penginapan. Jadi bagaimana kalau kita bermalam disana saja?”

Songjin melirik bagunan tidak jauh dari kedai Ramyeon tempat mereka makan tadi. gedung berlantai 5 yang tampak tidak terlalu bagus untuk ditempati, tapi memiliki nenonbox bertuliskan ‘motel’ “sebuah motel?” Songjin menaikan satu aslinya tinggi sedikit terkejut dengan pilihan Kyuhyun yang agak… hmm.. begitu, tidak tepat.

“ya. Apapun itu.”

“ya apapun itu. Tapi itu motel Kyuhyun. Motel. Kau tahu makhluk-makhluk macam apa yang biasa mengisi motel?”

“…..Yeaaaaaaah……” Kyuhyun semakin menggaruki kepalanya.

“dipagi hari nanti saat kita keluar dari sana, kau akan terlihat seperti lelaki hidung belang yang baru saja menyewa seorang gadis untuk bersenang-senang semalaman suntuk, kau tahu? Kau tega melihatku tampak seperti pelacur?”

Kini, Kyuhyun lah yang tertawa terbahak menanggapi protesan polos istrinya, “tidak ada pria yang mau menyewa wanita hamil untuk teman ‘bersenang-senangnya’ Songjin. Mereka pasti akan mencari wanita dengan tubuh ramping agar dapat bergerak dengan mudah kesana kemari.. kau tahu maksudku, ‘kan?” Kyuhyun mengerling genit membuat Songjin mendesis sebal.

“Pokoknya tidak!” Songjin meruntuk mengencangkan wajahnya, “ayolah ini hanya di Incheon, Kyuhyun-ah!”

“aku benar-benar mengantuk Songjin. Paling tidak aku butuh tidurku.”

“yasudah kau tidur saja dimobil. Aku yang menyetir.”

“tidak. Aku tidak suka tidur didalam mobil.”

“ayolah.”

“tidak.”

“Tsk!”

“hanya beberapa jam saja.” Kyuhyun menyudahi perdebatan mereka dengan menyalakan mesin mobil. Menjalankan kendaraan roda empat miliknya itu menuju motel yang dimaksudnya. “bilang saja kau memang berniat ingin meniduriku. Setidaknya carilah tempat yang layak!”

Kening Kyuhyun berkerut lagi. Kini dibuatnya menahan keheranannya pada wanita barbar itu. Apa dia baru saja mendengar permintaan terselubung wanita itu untuk menidurinya setelah wanita itu sendiri yang menggodanya tadi? “keputusanku masih sama sayang. Tidak ada seks sampai permasalahan tentang cara melahirkanmu yang memusingkan itu selesai. Kecuali kau setuju denganku untuk melakukannya dengan cara Caesar. Mungkin aku akan berfikir ulang untuk menggerayangi tubuhmu lagi. Toh aku juga ingin. Berapa lama aku tidak menyentuhnya?”

Kyuhyun tersenyum keparat mengusap lembut pipi Songjin hingga sampai pada lehernya menggunakan punggung jemarinya perlahan-lahan. Dan tidak terkejut sedikitpun saat tiba-tiba Songjin menyingkirkan tangannya itu secara mendadak, “lupakan saja mimpimu itu!” dengus Songjin bengis.

stubborn!”

“mesum!”

“mesum? Hey, aku tidak menidurimu hampir 7 hari lamanya. Kau bilang aku mesum? Bukankah tadi kau yang menggodaku?”

“tutup saja mulutmu!” kilah Songjin melipat tangannya didada. Kini dia benar-benar membuat jarak antar dirinya dan Kyuhyun. Yang dilakukannya hanyalah memandangi lautan dari tempatnya saja dan berharap jika saja dia bisa melemparkan Kyuhyun ketengah laut sana untuk menu makan malam para ikan hiu. “kau bahkan tidak punya uang. Bagaimana cara membayar sewa kamarmu nanti?”

Kyuhyun diam. Sial. Yang satu itu baru saja membuatnya berfikir ulang tentang menyewa kamar motel dan melibas jalan raya untuk kembali kerumah walaupun matanya sudah asam tidak lagi tahan untuk menyetir bahkan 10 menit kedepan.

Tapi seterkejut itu dirinya, secepat itu pulalah otaknya bekerja. “Hey, berapa kira-kira harga jam tanganmu?”

“kenapa?”

“aku baru memikirkan sebuah ide menarik.”

“aku tidak tertarik”

“aigoo~ dengar dulu!” Kyuhyun menarik wajah Songjin agar menatapnya lagi. “bagaimana kalau kita berkencan dengan kondisi terbatas seperti ini? tanpa uang. Mau coba?”

“kau gila? Bagaimana bisa?”

“tentu saja bisa. Jam tanganmu dan jam tanganku ini bisa dipakai untuk membayar banyak hal kan?” Kyuhyun tersenyum sumringah tampak sangat penuh dengan semangat menggebu untuk melakukan hal yang belum pernah dilakukannya.

“aku punya.. jam tangan, dua ponsel, jas dan sepatu mahal. Dan kau punya…” Kyuhyun memperhatikan Songjin dari ujung rambut hingga ujung kakinya menimbang-nimbang, “kau… umm.. sepatu?”

“Andwae! Ini Prada!”

“aish! Ayolah! Jam tangan itu juga bisa dipakai kan?”

“andwae! Ini Gucci!!”

“tasmu.. ponselmu… ayolah kita coba oke! Pasti seru!!”

“kau sudah gila, huh?!!” Songjin mendelik sangat lebar pada Kyuhyun. Benar-benar dia ingin sekali membuang suaminya itu kedalam laut lepas untuk makan malam ikan hiu disana.

“aku hanya ingin mengetesmu saja. kau bisa bertahan denganku dalam keterbatasan atau tidak??”

“MWOYA?!”

Jadi ya, sebenernya cerita ini muncul tanpa adanya rencana sama sekali.. tau-tau lagi gak bisa tidur, kepikiran hal ini dan akhirnya malah bikin cerita mereka beneran tentang apa yang aku pikirin itu. ini bener-bener gak terrencana… gak ter… ahsudahlah.

143 thoughts on “[KyuJin Series] Number One

  1. Emang kyu idola para nenek2. Hhhh kencan tanpa modal apanya kalau semua barang bermerek songjin yang ludes.. songjin ini masih aja parno sama wanita yg sedang melahirkan

  2. Beruntung banget itu nenek pemilik kedai jadi iri pengen juga nguyel- nguyel wajah tampannya sikyu. Ternyata songjin pinter juga menggunakan kesempatan dalam kesempitan.

  3. oh ternyata di hanya ngetes songjin. . . .hehe. .* cie yang bentar lagi melahirkan. . .ya ampun songjin jangan mati d0ng . . .

  4. Kencan dengan duit seadanya 😂😂 Embul embul sarap emang… Tapi itu topik melahirkan dan kematian emang ngeri yaaah… Dan itu Songjin nyuruh Kyuhyun nikah lagi, setrong banget yaah 😭😭😂😂

  5. Ya ampun songjin kok sodor2in cwe ke kyuhyun .. mungkin dia takut ga selamat saat melahirkan .. tapi kan harusnya positif thingking

  6. oh nooo songjin nyuruh kyuhyun menikah lagi😱😱,ahaha fans kyuhyun bertebararan dimana-mana nenek aja ngefans berat sm dia:v, ciee yg mau kencan ala kadarnya wkwkw….. yg terakhir bikin ketawa songjin ngak rela kalau barang² bermereknya jd korban:v

  7. Pingback: Kumpulan FF Kyuhyun Wordpress Terbaru - Triknesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s