[KyuJin Series] Her Bad Habit


Her Bad Habit

GSD

Cho Kyuhyun | Cho Songjin | Choi Siwon

PG 13

Oneshot

 

“sepatu sepatu sepatu, tas, sepatu, tas, tas, dompet, dress, tas, tas—“ Kyuhyun tidak berhenti berdecak sambil mengetuk-ketukan bolpoint ditangannya keatas meja.

Matanya menatap sengit Songjin dihadapannya yang sedang memilin serbet sambl mengerucurtkan bibir. Wajah wanitanya itu sama sekali tidak tampak bersalah dan tampak tidak terlalu perduli meskipun warna wajah Kyuhyun sudah memerah lantaran menahan gejolak amarahnya.

Bagaimana tidak? Songjin lagi-lagi berulah. Dalam kurun waktu tidak lebih dari 2 minggu saja, Songjin sudah membuat salah satu kartu kredit milik wanita itu menyentuh batas limitnya. Dan coba tebak, semua itu dihabiskan untuk apa saja?

Tas, sepatu, pakaian, dompet. Benda-benda yang sama yang terdapat dilemari mereka. Yang menumpuk tertata rapih dilemari kaca tanpa pernah wanita itu bahkan menyentuhnya.

Terang saja Kyuhyun meledak habis-habisan saat mendapatkan surat dari Bank yang mengirimkan rincian tagihan kepadanya. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Dan buruknya, ternyata kehamilan tidak bisa menghentikan nafsu berlebih Songjin dalam hal berbelanja.

Selelah dan sesulit apapun kaki wanita itu untuk berdiri dan berjalan, tetap saja Songjin seperti memiliki tenaga ekstra jika untuk berbelanja.

“apa yang dipusingkan, sih? Kau ‘kan tinggal membayarnya saja. masalah selesai. Kenapa harus dibuat panjang?” gerutu Songjin yang membuat Kyuhyun semakin membelakkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan istrinya itu.

“tagihan ini nyaris menyentuh 10 juta won Songjin. Dan kau tidak main-main, menghabiskannya dalam waktu kurang dari 2 minggu saja. Kau sadar berapa banyak uang yang kau habiskan kali ini hanya untuk benda-benda tidak pentingmu itu?”

selepas Kyuhyun, Songjin lah yang kini tiba-tiba mendelik karena merasa tidak terima. “tidak penting?” suara protesnya meninggi terdengar. “itu Prada, Gucci, Michael Kors, dan Hermes! Dibagian mana yang kau bilang tidak penting??”

sepasang mata tajam Kyuhyun bahkan tidak pernah berhenti memicing tajam kepada Songjin sedari tadi. tapi melihat wanitanya itu berani menjawabnya lagi, padahal jelas terlihat disini, siapakah yang salah dan yang benar, membuat Kyuhyun menjadi lebih kesal kepada Songjin.

Wanitanya itu benar-benar sulit untuk diatur. Sangat sulit.

Setidaknya, jika dalam kondisi seperti ini, tidak bisakah wanita itu hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakannya saja tanpa menjawab? Mengingat posisinya berada diposisi yang salah? Kenapa wanita bernama Songjin ini selalu keras kepala?

Habis sudah kesabaran Kyuhyun untuk memberikan toleransi kepada istrinya mengenai kebiasaan buruk ini. napasnya keluar bagai naga bernapas api melalui hidungnya. Berisi gumpalan amarah, rasa kesal dan perasaan lain seperti ingin menjejalkan wanitanya itu kedalam bak sampah atau saluran pembuangan air.

Kyuhyun merasa sangat marah hingga rasanya ingin menjerit histeris karena walaupun sedang dalam kondisi seperti ini saja, Songjin masih juga tidak bisa berhenti bicara membela dirinya sendiri bahwa yang dilakukannya tidaklah salah.

Bahwa benda-benda yang dibeli wanita itu, bukanlah benda yang tidak penting atau semacamnya. Pembelaan tentang betapa Songjin pun memerlukan usaha ekstra untuk berebut dengan wanita lainnya yang juga sudah mengincar benda-berda keluaran terbatas itu sejak sangat lama, sama sepertinya.

Dan bibir wanita itu semakin mengerucut hebat ketika Kyuhyun meliriknya dari sudut mata, “memangnya kenapa hal seperti ini saja dipermasalahkan? Ini kan bukan masalah besar. Memangnya kau sedang berada diambang krisis yang membuatmu akan bangkrut karena membayar tagihan kartu kreditku atau apa? karena itu kau marah-marah saat aku berbelanja. Dan kenapa kau merasa ini adalah hal penting lalu tiba-tiba menjadi perduli? Biasanya kau tidak pernah mempermasalahkan hal ini.” bahu Songjin bergidik santai saat mengatakannya.

“KAU—“ suara Kyuhyun langsung naik. lebih tinggi dibandingkan suara cempreng Songjin tadi yang mengeluhkan tentang perbedaan reaksi Kyuhyun akan perilaku langganan Songjin. telunjuknya berada tepat didepan hidung mancung Songjin. Matanya terbuka pada kapasitas maksimalnya. “KAU DIHUKUM!”

“dihukum?” kening Songjin berkerut bersamaan dengan kepalanya yang langsung dimiringkan. Tapi raut wajah bingung karena mendadak Kyuhyun bicara seperti itu tergantikan cepat dengan tawa saat menonton wajah Kyuhyun yang baginya terlihat lucu, entah karena apa. “kau ini kenapa, Kyuhyun-ah? Jangan bertingkah seperti Appa saat baru melihat hasil nilai test-ku yang buruk. Kau bukan Appa! Hahaha ayolah~ kau akan terlihat seperti pria berusia 50-an jika terus mengatakannya!” Songjin malah tertawa lebar sambil mengibas-kibaskan tangannya diudara memandang rendah Kyuhyun saat pada kenyataannya, sebenarnya pria itu sedang benar-benar ingin menghukumnya.

“aku menarik seluruh kartu kreditmu. Juga kartu debit mu. Kau hanya bisa memegang uang cash secukupnya perhari sampai aku sendiri yang menentukan kapan kau bisa memegang kartu-kartumu lagi. Tidak ada berbelanja dan aku menyita mobilmu.”

“apa? Enak saja!! kau tidak boleh melakukannya!” Songjin pun ikut mendelik kepada Kyuhyun. Seperti dapat saling bertelepati, mata keduanya memicing pada dompet pink dan sebuah kunci mobil milik Songjin diatas meja. Dan seperti bocah lima tahun yang melihat permen bertebaran diatas meja, keduanya memperebutkan hal yang sama, namun tangan Kyuhyun bekerja lebih cepat dibandingkan Songjin.

Hingga pria itu dapat menyambar cepat benda-benda itu dan langsung memasukannya kedalam saku, menyimpannya sendiri. “kau tidak bisa melakukannya Kyuhyun-ah! Apa yang harus aku lakukan kalau aku tidak boleh berbelanja! Kau bahkan mengambil kunci mobilku! Bagaimana jika aku bosan dirumah dan ingin pergi?”

“kau bisa pergi denganku. katakan saja kemana kau ingin pergi.”

“kau bukan supirku! Dan kau bekerja! Bagaimana jika aku dalam kondisi mendesak yang membuatku harus pergi saat itu juga.”

“Jangan menjadi tolol. Ada taxi dan alat transportasi umum dimana-mana Songjin. Semuanya mudah kecuali jika kau sendiri yang menolak untuk menaiki kendaraan-kendaraan itu hanya karena alasan tidak masuk akalmu saja.”

mendengarnya, Songjin menghela napas dalam kencang-kencang. Giginya bergemeretukkan menahan rasa kesal sama seperti Kyuhyun yang juga sedang mati-matian kesal olehnya.

“kembalikan Kyuhyun-ah!” Songjin bersuara rendah, menurunkan volume meningginya setelah menarik kesabarannya. Matanya terpejam ketika wanita itu menarik napasnya dalam.

“Tidak.” Tolak Kyuhyun mentah-mentah. “kau dihukum sampai..” mata Kyuhyun kesana kemari saat memikirkan waktu yang tepat untuk menghukum Songjin. Tapi kekesalannya membuatnya tidak bisa berfikir cepat hingga pria itu hanya dapat menggeram semaunya, “sampai waktu yang tidak terhingga!! Sampai aku sendiri yang mengatakan bahwa masa hukumanmu telah selesai.” ujarnya galak.

“kau gila? Lalu apa yang harus kulak—“

sebelum Songjin habis menyelesaikan ucapannya, mata Kyuhyun sudah memicing lagi tajam, “yang bisa kau lakukan?” tanyanya tidak percaya dengan pertanyaan yang akan Songjin ajukan.

“dasar wanita bodoh! bisa-bisanya kau mempertanyakan apa yang bisa kau lakukan disaat seperti ini! otakmu yang setengah itu sudah hilang setengahnya lagi? Kau benar-benar tidak malu membuat dirimu tampak semakin bodoh setiap harinya?? Apa yang bisa kau lakukan? Kau bisa melakukan hal yang sepantasnya kau lakukan sebagai seorang wanita yang telah menikah, seperti mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti memasak untuk suamimu yang baru pulang kerja. Membuatkannya sesuatu. Atau kau bisa melakukan hal yang sepantasnya seorang wanita mengandung lakukan. Seperti entahlah, melakukan sesuatu terhadap kandunganmu. Mempersiapkan kesanggupan tubuhmu untuk persalinan yang terjadi tidak akan lama lagi. Melakukan sesuatu yang berguna Songjin! Yang beruguna, apapun itu! Bukannya menghabiskan uang untuk membeli yang tidak penting saja setiap harinya, dan membuatku heran bertanya-tanya kemana kau pergi saat aku pulang dan bahkan kau belum ada dirumah. Apapun itu Songjin. Melakukan hal yang berguna! Kenapa kau bisa-bisanya mempertanyakan hal semacam itu lagi padaku? Apa itu karena selama ini kau tidak pernah melakukan hal yang berguna?”

** **

Siwon hanya dapat menggeleng pelan melihat Songjin didepannya. Duduk manis dengan kaki berselonjor, sibuk berkutat dengan jari-jarinya memperhatikan kuku-kuku tangannya serius. sama seriusnya seperti saat Gyuwon sedang mengerjakan pekerjaan analisisnya dikantor. “apa hanya itu yang kau lakukan seharian? Mengecat kuku mewarnainya dengan warna-warna berbeda?”

Siwon menghempaskan tubuh disamping Songjin diatas karpet. Langsung meletakkan tubuhnya untuk tidur terlentang dengan dua tangan terbuka lebar. Bergerak perlahan-lahan sambil menikmati betapa halusnya karpet mahal yang sedang ditidurinya ini.

Yang ini pasti selera Songjin melihat warna dan corak dari karpet ini. Tentu saja tertebak dengan sangat mudah.

“Jangan menyepelekan pekerjaan ini, Oppa. Ini tidak mudah. Kadang aku memoleskannya dengan tidak rapih jadi aku harus menghapusnya dan mengulangnya lagi.”

Suara Songjin terdengar seperti sedang menggerutu. Mengadu kepada Siwon tentang betapa sulit hidupnya dalam mewarnai kukunya seharian penuh ini. mendengarnya, Siwon hanya dapat tertawa pelan dan menggelengkan kepala. Cukuplah baginya sadar mengapa Kyuhyun satu hari ini memiliki suasana hati yang buruk dikantor menurut pengaduan Henry dan Gyuwon kepadanya melalui telepon.

Semua orang sudah terkena semprotan pria berkulit putih susu itu bahkan sejak pertama kali Kyuhyun menginjakkan kaki digedung kantor berlantai 50 itu.

“apapun itu—“ ujar Siwon tidak perduli memejamkan mata setelah merasakan kenyamanan berada pada posisinya. “kalau kau istriku. Kau sudah kumasukkan kedalam sekolah kepribadian, pendidikan untuk menjadi seorang istri yang baik. Pantas saja Kyuhyun selalu uring-uringan. Kalau terus seperti itu, mungkin lima tahun lagi seluruh rambut dikepalanya akan berubah warna menjadi putih. Dan sepuluh tahun setelah itu dia sudah berada ditempat pemakanan. Mati terkena serangan jantung karena memiliki istri sepertimu membuat semua lelaki akan cepat mati kau tahu?”

Songjin mengerucutkan bibirnya mencela ucapan Siwon yang baginya, terdengar tidak lebih dari sekedar cemoohan saja. bukan sebuah masukan yang mungkin dapat membuatnya berfikir dua kali mengenai sikapnya yang salah selama ini.

Seusai mencelupkan tangan-tangannya pada sebaskom air es untuk mengeringkan secara kilat cat kuku yang baru dipakainya, Songjin ikut berbaring bersama Siwon meletakkan kepalanya bersisian. “dan kau juga akan mengoceh tentang kartu kreditku yang melewati batas limit? Atau menjemputku untuk berangkat sekarang?”

“apa?” dalam sekejab Siwon merubah posisinya. Duduk bersila lengkap dengan wajah terkejutnya. “lagi?” wajahnya menunjukan keterkejutan teramat sangat ketika mendengar kabar yang sama, permasalahan yang sama dengan situasi yang sama kembali terulang. “kartu kredit milikmu mana lagi yang terkena limit?”

amex?”

alis Siwon semakin terangkat tinggi saja ketika Songjin mengatakannya begitu mudah. “amex.” Ulangnya pelan. Yang sebenarnya merasa sedikit heran mengapa Songjin dapat mengucapkannya begitu mudah mengingat sudah kesekian kalinyalah wanita barbar itu melimitkan kartu kredit berlogo American express nya itu.

“dan biar kutebak. Kau dan Kyuhyun bertengkar karena hal itu?”

“Ya.” Bibir Songjin mencebik “dia agak pelit belakangan ini. aku heran, apa sebenarnya yang terjadi dengan perusahaan? Apa terjadi sesuatu yang membuat brankas miliknya lenyap atau apa?”

Siwon diam. Hanya dapat memandangi wajah Songjin yang bisa-bisanya terlihat tidak menunjukkan rasa bersalahnya sama sekali dan malah meributkan tentang betapa pelitnya suaminya itu.

“serius Songjin? Kau benar-benar wanita termenyebalkan yang pernah kutemui.” Komentar Siwon lepas begitu saja. pria itu memperhatikan kemana saja pergerakkan tubuh wanita itu. Yang sepertinya mulai tampak tidak nyaman dengan seluruh sorotan tajam Siwon untuknya.

tapi lagi, sadar bahwa hal itu bukanlah kapasitasnya untuk mempersalahkan, maka Siwon hanya dapat menyimpan kekesalannya, rasa heran dan sedikit perasaan ingin menjenggut Songjin sekencang yang dapat dilakukannya kembali pada tempatnya semula dan langsung bangkit dari tempatnya. “ayo pergi!” perintahnya tiba-tiba secara mendadak.

“itu koperku.”

“apa?”

Songjin menunjuk sebuah koper biru-pink berukuran sedang disamping sofa menggunakan dagunya. Matanya seperti ikut berpartisipasi untuk memberitahu bahwa seluruh barang-barangnya terdapat didalam tas bergambar pororo itu kepada Siwon. “cat kukuku masih basah. Aku tidak mungkin membawa koperku sendiri kan?”

** **

“Jadi dua minggu di Miami kau tidak membawa apa-apa selain wajah kusut itu?”

Songjin melirik Siwon yang sedang menyetir dengan wajah tertekuk . sama sekali tidak terlihat ramah apalagi tampak ingin bergurau sepanjang perjalanan sejak tadi.

“jadi, apa sekarang kita akan langsung menemui Abeoji, atau membeli kado dulu?” Siwon tetap diam, serius berkendara. Telinganya seperti sengaja ditulikan kali ini. sebenarnya banyak yang ingin dibicarakan bersama Songjin.

Dan mengingat Songjin adalah seorang partner in crime yang selalu membuatnya nyaman untuk membicarakan banyak hal, cukup sulit bagi Siwon untuk mendiamkan Songjin begitu saja. “… apa tidak ada makanan sama sekali? Aku lapar~”

Siwon menghela napasnya dalam, “Jadi apakah kau bisa diam dan berhenti berbicara tentang segala hal, lalu aku akan mengatakan padamu betapa menyebalkannya kau? Kalau ya, sekarang diamlah.”

** **

Senyum Kyuhyun mengembang lebar ketika melihat Audi R8 hitam mulai terlihat memasuki pelataran hotel. Menyadari bahwa itu adalah Siwon bersama Songjin, seperti telah bersiap menyambut, pria itu tetap berdiri bersandar didepan pintu masuk sedangkan Gyuwon disofa terus-terusan memaksa pria itu untuk duduk saja.

Hari ini adalah ulang tahun pernikahan orang tua Siwon dan Kyuhyun. Perayaan kecil-kecilan sepertinya akan diadakan di Bundang selama dua malam saja. tidak bisa terlalu lama mengingat beberapa pekerjaan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Dan pagi ini Kyuhyun telah berangkat lebih dulu bersama Gyuwon sedangkan Songjin sengaja dibuatnya berangkat bersama Siwon setelah pria itu kembali dari Miami, mengingat bagaimana sulitnya Songjin untuk bangun pagi. Sepertinya membangunkan wanita itu dipagi-pagi buta begitu adalah sebuah criminal yang enggan Kyuhyun lakukan.

“Hai,” senyumnya mengembang. Tangannya perlahan terangkat untuk mengusap ujung kepala Songjin tapi membuatnya terkejut, wanita itu seperti sama sekali tidak melihatnya yang sudah berdiri bagai patung selamat datang diambang pintu.

Malah berjalan mendahuluinya hingga Kyuhyun hanya mendapatkan udara kosong saja. dipandanginya, Songjin langsung berjalan cepat menuju lift dan masuk ketika pintu itu terbuka untuknya.

Tidak mengatakan apapapun, dan tidak melakukan apapun membuat Kyuhyun melongo heran. “kenapa dia?” mata Gyuwon mengikuti arah lift kaca itu berjalan naik keatas dengan cepat. Begitupun Kyuhyun.

Kepala pria itu cepat-cepat menggeleng untuk menjawab, “kesalahan apalagi yang aku lakukan kali ini?” gumam Kyuhyun tampak berfikir keras.

“eh?”

“apa aku melupakan sesuatu pagi ini?” kepala Kyuhyun miring, dan semakin dimiringkannya saat pria itu berfikir keras.

Pagi tadi dia bangun seperti biasa. Mandi, bersiap untuk menjemput Gyuwon dirumahnya lalu berangkat menuju Bundang bersama-sama.

“maksudmu?”

“apa wanita hamil memang selalu memiliki mood yang kacau seperti itu?” Tanya Kyuhyun polos kepada Gyuwon. Sedang wanita itu malah terlihat heran dengan pertanyaan dan segala gumaman kosong yang Kyuhyun ucapkan entah kepada siapa.

Maka dimalam hari sebelum makan malam, Kyuhyun tampak berusaha keras mencoba mencari tahu mengapa Songjin mendiamkannya begitu saja tanpa alasan penting. “kau marah padaku?” tembak pria itu langsung tanpa berbasa-basi.

Sambil mengancingkan kemejanya, Kyuhyun berdiri tegap layaknya sebuah patung yang sedang dipakaikan pakaian oleh pemiliknya. Matanya memandangi Songjin kemanapun wanita itu melesat, tidak menanggapinya.

Menuju ranjang mengambil ponsel, menuju lemari mengambil sepatu. Berjalan melewatinya menuju meja rias memakai make up namun belum selesai Songjin memakainya, wanita itu sudah melenggang lagi menuju lemari. Mengambil beberapa helai pakaian lain dan meletakkannya diatas ranjang.

“Songjin~”

Kyuhyun hanya bergerak secukupnya. Memutar-mutar tubuhnya ditempatnya agar terus mengarah pada Songjin, kemanapun wanita itu pergi memunggunginya. “kau marah padaku karena aku menyita seluruh kartu kredit dan mobilmu?”

“Tidak.”

“Tidak?” kening Kyuhyun mengerut, “lalu kenapa kau mendiamkanku? Apa aku baru saja melakukan kesalahan yang tidak aku sadari?”

Songjin melewati Kyuhyun lagi menentang dua buah sepatu. Sebuah heels dan sebuah flat shoes dikiri kanan tangannya. “tidak.” Jawabnya enggan. Kerutan pada kening Kyuhyun semakin menjadi saja.

Jika Songjin tidak marah karena masalah kartu kredit atau mobil, atau kesalahan lain yang tidak disadarinya, lalu kenapa juga wanita itu harus mendiamkannya seperti ini sejak awal kedatangannya tadi?

Jika memang tidak, bukankah seharusnya wanita itu dapat bersikap biasa saja dan tidak menekuk wajahnya seperti itu? Atau setidaknya, menyapanya atau entah apa hal lain yang dapat dilakukannya. Jika didiamkan seperti ini, siapapun pasti akan berfikir bahwa mereka memang sedang dimusuhi secara medadak kan?

“Songjin!” kesal diperlakukan tidak sepantasnya kesabaran Kyuhyun mulai menghilang perlahan-lahan. Entah disadari atau tidak, Kyuhyun langsung menarik kencang lengan Songjin, lalu terdiam saat menyadari ketika wanita itu mendesis, mengejutkannya. “aku tidak marah padamu dan aku sedang bersiap-siap jadi bisa tolong tinggalkan aku saja?” pinta Songjin mengejutkan Kyuhyun lagi.

Kyuhyun benar-benar diam pada detik awalnya. Sulit memutuskan harus melakukan hal lain selama yang dipikirkannya hanyalah ingin menarik wanita itu duduk berhadapan dengannya dan berbicara tentang apa yang sedang terjadi. Yang tidak dipahaminya.

Namun pada lain hal, Kyuhyun pun merasa enggan untuk meladeni sikap kenakanak Songjin yang selalu muncul pada saat seperti ini, dan mengharuskannya untuk memohon hingga tampak kehilangan wibawanya sebagai seorang suami.

“kalau itu maumu.” Kyuhyun hanya menggidikan bahunya malas. Meratakan ekspresi wajahnya membuang raut bingung, marah ataupun sedikit senyuman yang sebenarnya selalu diselipkan pria itu dalam kondisi apapun dirinya bagi wanita barbarnya.

Helaan napas Kyuhyun terdengar berat. Kakinya pun terasa lamban berjalan, tapi mau tidak mau diseretnya menuju pintu keluar sebelum tangannya melemparkan sebuah dasi sembarangan.

Tidak jadi memakainya karena tidak bisa memasangnya dengan benar seorang diri.

“Jangan gunakan sepatu berhak. Terlalu berbahaya untukmu menggunakannya sekarang.” Pesan Kyuhyun datar lalu suara debuman pelan pintu terdengar jelas ditelinga Songjin.

Selepas Kyuhyun pergi, barulah wanita itu berani menoleh pada arah pintu untuk melihat pemandangan yang lagi-lagi tampak mengerikan baginya. Kyuhyun marah. Baginya Kyuhyun yang marah akan terlihat sangat menyeramkan.

** **

“Eomma memasak?”

Park Aeri dikejutkan oleh kehadiran Songjin yang seperti hantu. Menyelip diantara seluruh perkakas dapur dan tumpukan bahan-bahan masakannya. Wanita itu hanya menggumam sebagai jawaban atas pertanyaan putrinya.

Sisanya, wanita paruh baya itu hanya terus melanjutkan menakar sekarton susu kedalam gelas ukur, “aku membuat pudding. Kau mau membantu?”

“ya.” Songjin tampak riang menyelipkan rambutnya dibelakang telinga dan terlihat siap. Diam didepan counter dapur menunggu instruksi Park Aeri. Usai menakar susu, Park Aeri lah yang heran melihat Songjin berdiri tegap seperti patung tanpa melakukan apapun juga sedari tadi.

“kenapa diam saja?” wanita berusia 50-an itu mengerling heran pada Songjin sambil mulai mengocok susu dengan mixer. “apa yang harus aku kerjakan?” pertanyaan Songjin tadi malah membuatnya mengernyitkan wajahnya, “apa yang harus aku kerjakan?” Park Aeri mengulang pertanyaan Songjin terkejut.

Matanya demi Tuhan mengelilingi counter dapur dan mendapati banyak sekali yang dapat dikerjakan. Seperti hal termudah, mengupas jeruk sebagai topping puddingnya nanti. Atau mulai memasak adonan diatas kompor dengan api yang kecil?

Memperhatikan reaksi Songjin tampak kosong dengan sekitarnya, Park Aeri perlahan menarik napas panjangnya. Menurunkan kecepatan mixer yang sedang digunakannya hingga berhenti.

Wanita itu bersedekap seperti siap menginterograsi putrinya sendiri karena baru saja tertangkap basah mencuri perhiasannya atau entah barang berharga lainnya.

** **

Sebenarnya acara ulang tahun pernikahan itu tidaklah mewah. Hanya sebuah makan malam biasa oleh orang-orang terdekat saja. bersantai dan mengobrol panjang lebar.

Semalaman penuh makanan tidak kunjung berhenti dihidangkan, walaupun acara terkesan tidak formal sama sekali. Wine pun berulang kali dikeluarkan. Yang seharusnya membuat satu-satunya penggila wine secara terang-terangan bersorak.

Tapi kali ini Kyuhyun malah menghabiskan waktunya untuk memutari hotel yang luasnya setengah dari resort miliknya, lyx. Seperti seorang Ibu yang baru kehilangan anaknya, Kyuhyun memutari hotel dengan wajah panic, dan kepala yang tidak berhenti bergerak kekanan dan kiri.

“kau lihat Songjin?” bisik Kyuhyun ditelinga Siwon. Gelengan yang sama menjawab pertanyaan Kyuhyun lagi.

Ibunya, Ayahnya, Gyuwon, Sungmin semua orang sudah ditanyainya mengenai keberadaan wanita barbarnya tapi entah kemana Songjin pergi. Menghilang bagai baru saja tersapu angin kencang. “mungkin dia lelah dan kembali kekamar?”

“Tidak.” Kini Kyuhyun yang menggeleng. “aku sudah kekamar tadi. kosong.”

Siwon mulai memindah fokuskan perhatiannya dari mengikuti percakapan antar Ayah Ibunya kepada Kyuhyun disampingnya.

“dia tidak kabur karena kalian bertengkar ‘kan?” mata Siwon menyipit, ikut berbisik ditelinga Kyuhyun agar para orang tua tidak mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan hingga tidak ikut panic seperti keduanya kini.

“bertengkar? Aku tidak merasa bertengkar dengannya kali ini. jadi kenapa dia harus kabur?”

Bahu Siwon bergerak pelan. Matanya mulai dibuatnya mengelilingi sekitarnya. Tapi sejauh yang dilihatnya, hanya halaman rerumputan hijau dengan pohon-pohon dengan bunga bermekaran.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan adik iparnya disana. Dan sialan, jantungnya mulai ikut berpacu kencang. Wanita itu sedang mengandung. Demi Tuhan, apa dia sudah gila untuk pergi hanya karena perkelahian kecil saja?“kukira kalian sedang bermusuhan—“

“sepertinya dia sedang kesal denganku, tapi aku tidak merasa sedang kesal dengannya jadi menurutku kita sedang tidak bertengkar.” Kyuhyun meremas serbet makan dipangkuannya erat lalu memutuskan untuk berlalu saja meninggalkan meja makan dan keramaian.

Butuh waktu lebih dari satu jam lamanya hanya untuk bergerak tanpa menemukan. Sia-sia. Sambil mendesah pasrah mengacak wajahnya, Kyuhyun meletakkan jasnya sembarang dilantai.

Tangannya bersedekap didada, dan otak cerdasnya mulai berfikir tentang hal-hal yang mungkin menjadi kesalahannya kali ini. satu-satunya hal yang dapat diingatnya adalah omelannya kemarin mengenai kebiasaan buruk Songjin setelah dia mendapatkan perincian tagihan kartu kredit dari bank.

“dasar wanita bodoh! bisa-bisanya kau mempertanyakan apa yang bisa kau lakukan disaat seperti ini! otakmu yang setengah itu sudah hilang setengahnya lagi? Kau benar-benar tidak malu membuat dirimu tampak semakin bodoh setiap harinya??”

Kyuhyun mulai mendengar suaranya sendiri berputar didalam kepalanya. Suaranya terdengar sangat jelas dan jernih. Membuat napasnya semakin terasa berat.

“Apa yang bisa kau lakukan? Kau bisa melakukan hal yang sepantasnya kau lakukan sebagai seorang wanita yang telah menikah, seperti mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti memasak untuk suamimu yang baru pulang kerja. Membuatkannya sesuatu. Atau kau bisa melakukan hal yang sepantasnya seorang wanita mengandung lakukan. Seperti entahlah, melakukan sesuatu terhadap kandunganmu. Mempersiapkan kesanggupan tubuhmu untuk persalinan yang terjadi tidak akan lama lagi. Melakukan sesuatu yang berguna Songjin! Yang beruguna, apapun itu! Bukannya menghabiskan uang untuk membeli yang tidak penting saja setiap harinya, dan membuatku heran bertanya-tanya kemana kau pergi saat aku pulang dan bahkan kau belum ada dirumah.”

Kepala Kyuhyun mulai berdenyut-denyut kencang. Semakin jelas suaranya sendiri terdengar, semakin kencanglah denyutan dikepalanya terasa.

Matanya mulai kesana kemari memandangi kolam renang sebagai latar belakang dari kamarnya. Mencoba mencari sebuah pengalihan, tapi Kyuhyun benar-benar muali merasa bersalah dengan ucapannya sendiri kepada Songjin.

Dan mungkin, itulah mengapa Songjin mendiamkannya. Mungkin saja karena kata-kata kasarnya yang terucap lagi tanpa disadarinya. Itu pasti yang membuat Songjin marah dengannya, dan mendadak menghilang saat ini.

“Apapun itu Songjin. Melakukan hal yang berguna! Kenapa kau bisa-bisanya mempertanyakan hal semacam itu lagi padaku? Apa itu karena selama ini kau tidak pernah melakukan hal yang berguna?”

pada puncak denyutannya, saat matanya mulai mengkabur, bayangan hitam dibagian tersudut kolam renang yang sedang duduk seorang diri membuatnya akhirnya menghembuskan napas lega.

** **

Tubuh Kyuhyun sedikit menegang. Tangannya mengepal didalam saku celananya sendiri. dia mulai mengigiti bibirnya dan berfikir apa harus menghampiri Songjin yang seperti sedang tampak asik dengan dunianya. Menangis entah karena apa, atau menghampiri wanita itu.

Namun isakan demi isakan yang didengarnya membuatnya pada akhirnya memutuskan untuk mendekat saja. entah apa yang akan terjadi nanti, entah Songjin akan mengusirnya atau entah apa.

Perlahan tanpa mengeluarkan suara-suara berlebih, Kyuhyun menghampiri Songjin berdiri tegap disampingnya. Tampak enggan untuk duduk agar sekedar menyamakan tinggi mereka agar percakapan dapat terasa lebih mudah tanpa ada salah satu yang merasa sakit leher karena harus mendongak terus menerus.

“aku kira kau diam-diam pulang.”

Tubuh Songjin seperti baru saja dikejutkan tiba-tiba. Terlonjak dan langsung menjadi tampak panic, saat keberadaanya ditemukan. Kepalanya menoleh kesana kemari untuk memperhatian meja makan jauh dari jarak pandangnya. Mendapati dimeja makan itu, Ayah Ibu mertuanya, Ibunya dan bahkan seluruh tamu yang datang masih sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. berbincang sambil menikmati wine.

Dia lalu menoleh dan sedikit mendongak tapi kemudian cepat-cepat merunduk lagi ketika sadar Kyuhyun sedang mengamatinya seksama. Seperti heran dan mempertanyakan apa yang sedang dilakukannya, padahal dia sudah melihatnya sendiri. apa yang sedang wanita itu kerjakan.

“Jangan menangis disini. kalau kau ingin menangis lagi setidaknya cari tempat yang aman. Ada banyak orang yang sewaktu-waktu dapat menemukanmu dalam keadaan seperti ini. kau sendiri yang akan repot nanti kalau Appa lihat kau menangis. Ayo pindah.”

Kyuhyun merogoh sakunya mengeluarkan sapu tangannya. Melayangkannya kepada Songjin yang sama sekali tidak ditanggapi apik oleh wanita berbadan dua itu. “kau tidak harus berbicara denganku kalau kau tidak mau. Aku tidak akan memaksa. Tapi ayo pindah. Hapus dulu make up mu yang luntur itu”

Sepuluh menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Kyuhyun hanya dapat diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun saat Songjin hanya diam ditempatnya sambil masih menyisakan senggukannya.

Tangisannya sudah mereda sejak beberapa waktu yang lalu setelah mereka pindah kekamar. Tapi konyolnya, ternyata suara isakan itulah yang sebenarnya mengisi kekosongan diantara keduanya, dan setelah tangisan Songjin mereda, praktis tidak ada suara lain lagi yang akan mengisi kekosongan itu.

Tanpa ingin mengeluarkan protesan apapun itu, Kyuhyun mengulum lidahnya dan mendecah pelan. Merapihkan rambut-rambut Songjin yang menutupi wajahnya karena wanita itu terus merunduk sedari tadi. “kau mungkin lelah. istirahat saja. aku keluar dulu, mungkin Appa mencariku.” Ujar Kyuhyun mengacak pelan rambut Songjin dan berlalu.

Sambil mengigit lidahnya untuk menahannya mengeluarkan tangisan lebih kencang, pada akhirnya Songjin lah yang tidak dapat diam lagi terus menerus. Suara bimbangnya mulai terdengar serak bersamaan dengan suara tangisannya yang ditahannya mati-matian. “Jangan pergi dulu~”

Tangannya sigap menarik belakang kemeja Kyuhyun kencang melarangnya pergi kemanapun lagi. “Jangan pergi~”

“aku tidak pergi. Hanya turun menemui Appa.”

“Jangan marah padaku, Kyuhyun-ah.” Mendadak Songjin mulai menangis lagi. Membuat Kyuhyun terpaku heran bersamaan dengan rasa terkejut yang perlahan muncul.

“ya~” dia berbalik badan kembali pada tempatnya. “aku tidak marah, kau ini kenapa?”

Songjin terisak semakin kencang dan semakin menjadi selepas Kyuhyun berbicara mengutarakan rasa bingungnya, “kalau begitu kau marah saja. kau membuatku merasa bersalah kau tahu tidak?” protes Songjin begitu polosnya mengucek matanya berulang-ulang.

“Ha?”

“kau marah saja. tapi bagaimana kalau jangan terlalu galak?”

“Hah? Maksudmu?” Kyuhyun berada diambang batas kebingungan dan rasa ingin tertawa entah karena apa. Tapi mendengar Songjin berkata hingga membuatnya perlu memutar otaknya lebih kencang, serta membuatnya ingin tertawa disaat yang sama benar-benar menggelikan.

Kyuhyun menyisakan ulasan senyum tipis disudut bibirnya saja. hanya dapat diam selama beberapa saat ketika istrinya sudah merubah warna kulit wajah menjadi merah dan hidungnya itu pun ikut memerah seperti hidung badut ditaman bermain.

Dengan sangat perlahan-lahan dia mulai mengusapi punggung Songjin lembut, hingga pada akhirnya menarik wanita itu untuk memeluknya, “kenapa aku harus marah padamu, Hng?”

Senyumnya terulas lagi sama tipisnya. Tangannya mengusapi punggung Songjin dan yang lainnya hanya bertenger disekeliling pinggang wanita itu saja. diam seperti sedang menjaga sesuatu.

“karena kartu kredit itu? Sudahlah. Aku sudah melupakannya. Kenapa kau yang menangis begini? Harusnya kan aku yang menangis karena kau menguras dompetku.” Kyuhyun terkekeh geli mendengarnya bicara sendiri. seolah dia baru saja melemparkan sebuah lelucon hanya untuk dirinya sendiri.

namun kemudian Songjin menggeleng. Menangis lebih kencang lagi sembari membenamkan wajahnya dibahu Kyuhyun meremas tubuh pria itu yang tampak kencang walau tidak berotot seperti Siwon.

“karena menjadi istri yang buruk.” Dalam senggukannya, Kyuhyun mendengar Songjin berbicara walau tidak terdengar jelas. “semua orang mengatakannya padaku, Kyuhyuh-ah. Siwon Oppa, Gyuwon eonni, Eomma dan bahkan Appa pernah berkata hal yang sama sebelum dia pergi. Dia bilang kau bisa saja meninggalkanku karena aku bukan wanita yang baik untuk menjadi seorang istri. Dia bilang, kau bisa saja mencari wanita lain yang lebih mampu mengurusmu ketimbang kau yang terlihat kerepotan mengurusku. Mereka semua berkata sama. Bahwa aku tidak bertanggung jawab. Kau mengerjakan tugasmu dengan benar tapi aku meninggalkan pekerjaanku dan malah lebih sering memusingkanmu. Kita tampak seperti bertukar pekerjaan. Tapi bukan, aku malah semakin merasa bahwa aku tidak mengerjakan tugas-tugasku. Kau tidak marah padaku karena hal itu pula. Kau membuatku semakin merasa bersalah dan tidak berguna saja.”

“Hah?”

** **

Kyuhyun menguruti pelipisnya dengan satu tangan saja. tangan yang lainnya diletakkan diatas kayu kursi begitu saja. yang dilakukannya hanyalah menonton bagaimana Songjin terus mengoceh tentang betapa buruknya wanita itu menjadi seorang istri selama ini.

“Oke.. oke.” Kyuhyun menarik napas sebelum berbicara lagi, “oke aku paham. Sudah hentikan dulu ocehanmu dan tangisanmu. Sudah sudah.” Seperti sudah menyerah karena telinganya berdengung tanpa henti, Kyuhyun akhirnya mengibarkan bendera putih tanda kekalahannya.

“tapi aku memang seburuk itu Kyuhyun-ah.” Bukannya berhenti seperti yang Kyuhyun perintahkan, Songjin malah lagi-lagi menangis membuat Kyuhyun mati-matian menahan dirinya untuk tidak menjedukkan kepala pada tembok beton.

Kyuhyun mengacak wajahnya berulang kali lalu memanjangkan kakinya untuk menyenggol-senggol kaki Songjin yang menggantung dari tempatnya duduk diatas ranjang, “kubilang diam. Diam.” Dia mulai memunculkan wajah seriusnya kali ini dan Songjin hanya dapat menahan tangisannya mati-matian dengan konyolnya.

Sejujurnya, dari seluruh yang Songjin katakan menganai keburukan wanita itu menjadi seorang istri memanglah tepat. kata-kata orang sekitarnya yang menegur wanita itu pun benar.

Kyuhyun memang merasakannya bahwa semakin hari, Songjin bukannya berusaha bersikap seperti sebagaimana semestinya, bahwa wanita itu adalah seorang wanita yang telah bersuami bahkan nyaris memiliki bayi tidak lama lagi, tapi malah bertingkah semakin kekanak-kanakan saja semakin lama.

Membuat Kyuhyun tamak seperti mengurusi seorang anak, atau bahkan, jika sedang bersama, tidak sedikit orang yang tidak megenal mereka akan mengira bahwa mereka adalah adik dan kakak. Pasangan suami istri sama sekali tidak membekas pada mereka.

Kyuhyun lantas melebarkan matanya lebih besar, ketika Songjin tampak ingin menumpahkan tangisannya lagi. Dia benar-benar telah kehabisan cara lagi untuk menyadari dan meladeni betapa mudahnya istrinya itu menangis.

Nafasnya tersengal diawal, bukan karena ingin ikut menangis karena merasa putus asa melainkan tertawa menonton wajah Songjin yang semakin memerah saja setiap detiknya.

“kenapa kau tidak pernah mengatakannya, Kyuhyun-ah? Kenapa kau bahkan tidak pernah menegurku?”

Kyuhyun tertawa. Memelorotkan tubuhnya untuk duduk dilantai berhadapan dengan Songjin. Sedikit mendongak untuk menyamai posisi wajah Songjin yang berada beberapa senti lebih tinggi darinya. “aku sering menegurmu. Aku sering berkata kalau kau bodoh kan?” kekeh Kyuhyun geli menyamarkan tawanya agar tidak menyembur lebih kencang.

“kau tahu aku bodoh. kenapa kau harus melakukannya dengan cara yang membuatku tampak semakin bodoh saja?”

“lalu kau mau aku seperti apa? Membentakmu karena kau belum membereskan rumah dengan benar saat aku berangat atau pulang kerja? Atau aku harus mengamuk karena kau tidak pernah menyiapkan makanan untukku sampai aku harus mengandalkan bistro saat aku lapar? Jangan menangis. Diam!”

Kyuhyun melebarkan lima jarinya didepan wajah Songjin saat dirinya mengatupkan bibir selesai berbicara, dan Songjin tampak ingin menumpahkan air matanya entah karena merasa tersindir, atau murni karena rasa bersalahnya.

“dengarkan aku kali ini. kalau aku berkata kau telah menjalankan tugasmu dengan benar, kau pasti akan menangis satu minggu penuh karena kau tahu aku sedang berbohong dan berkata seperti itu hanya untuk membuatmu merasa lebih baik, yang padahal sama sekali tidak membuatmu jadi lebih baik. Iyakan?”

Kyuhyun diam. Entah menunggu Songjin membenarkan ucapannya, atau hanya memberikan jeda pada kalimat lainnya yang akan keluar dengan menghapus air mata Songjin. Terus menerus keluar seperti keran air saja. wanita itu benar-benar menangis habis-habisan kali ini.

“sebenarnya, kalau kau ingin aku jujur, kau memang seburuk itu. Kau membuatku kesal karena jarang mendengarkan kata-kataku. Kau tidak membereskan rumah saat padahal kau tahu, kau harus membereskannya. Tapi kau menundanya. Kau masih tidur seperti babi saat seharusnya kau sudah bangun, untuk setidaknya menyiapkan sarapan untukku. Setidaknya, segelas kopi. Tapi setiap pagi, aku harus membuatnya sendiri. kau hanya bangun untuk membantuku memakaikan dasi, lalu kau tidur lagi. Dan sejauh itu, kau masih marah saat setiap kali aku berusaha menciummu, walaupun hanya seklias. Jadi kadang, aku merasa heran, sebenarnya aku ini pria lajang atau sudah menikah?”

membayangkan bagaimana dia harus berjuang sendiri setiap pagi membuat Kyuhyun meringis tipis. Terasa konyol dan tidak pantas, tapi sejauh dan sebanyak itu, baru sekaranglah dia merasa bahwa semua itu benar-benar dilakukannya seorang diri.

Jadi selama ini, itu artinya dia tidak merasakan apapun mengenai hal-hal itu, apalagi perlu melontarkan protesannya karena banyak hal itu. “tapi kau tahu, aku tidak perduli dengan hal itu.” Kyuhyun menggidikan bahunya.

“baiklah, aku perduli. Kadang aku ingin saja merasakan bagaimana pagi hariku saat aku mendapatkan sarapanku diatas meja. Bagaimana aku menonton punggungmu sibuk saat kau bekerja memilihkan pakaian untukku setiap paginya. Tapi kembali lagi, selama ini aku tidak merasakan bahwa itu adalah hal berat yang harus aku lakukan. Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. kau tidak seburuk itu untukku. Itu ‘kan komentar orang-orang, dan sudah seharusnya orang-orang berkomentar. Itukan tugas mereka. Mengomentari kehidupan orang lain. Mengurusi orang lain. Tapi disini, kau dan aku yang menjalaninya. Dan sejauh ini, aku tidak merasakan bahwa hal-hal itu membebaniku.”

Ada kilatan tajam pada mata Songjin yang Kyuhyun dapati bahwa wanita itu tidak sedang ingin menangis lagi namun mengintimidasinya. Terlihat menyudutkan tapi menyedihkan disaat yang sama, “kau kira aku berbohong? Terserah kau saja kalau kau tidak percaya denganku. itu urusanmu. Tapi kalau kau mau tahu apa yang aku rasakan selama ini. begitulah yang aku rasakan.” Kyuhyun menggidikkan bahunya.

Dia memandangi Songjin lagi dalam diam. Wanita itu seperti sedang kebingungan untuk bersikap. Seperti pusing mendengar suaranya sendiri atau orang-orang lain didalam kepalanya hingga berkali-kali Songjin menghela napasnya sambil memejamkan mata.

“jangan dengarkan mereka Songjin. Dengarkan aku saja.” kata Kyuhyun melembut. Mulai bangkit untuk duduk berdampingan dengan Songjin. Lalu menarik wanita itu untuk duduk diatasnya. Mengusapi kepala wanita itu sama lembutnya. Menariknya untuk memeluk, “aku yang harus kau dengarkan. Bukan mereka. Jangan pusingkan hal yang tidak seharusnya kau urusi.”

Songjin mulai terisak lagi dengan suara lebih pelan. Tangannya berulang kali mengusap wajahnya menghentikan air matanya sebelum benar-benar bergerak membuat pola yang jelas diwajahnya.

“maaf—“ Songjin bersuara lirih. Tidak sadar bahwa Kyuhyun sedang memunculkan senyum gelinya disudut bibir, “untuk apa?” Tanya pria itu Nampak malas. “kalau kau meminta maaf karena hal yang baru saja kujelaskan tadi, lebih baik kau tarik lagi maafmu. Aku menolaknya. Aku merasa tidak ada yang perlu dimaafkan dari hal itu karena kita sedang sama-sama belajar Songjin. Kau sedang belajar untuk menjadi seorang istri dan aku belajar menjadi seorang suami yang benar. Namanya saja belajar, kalau terjadi kesalahan itu adalah hal yang wajar. Dan sebenarnya, jika memang harus, jika memang ada orang yang lebih pantas untuk melakukannya, itu adalah aku.”

Kyuhyun menarik senyumannya lebar namun tampak getir saat dipamerkan. Seperti ada yang menahannya untuk melakuan hal itu lebah benar. Kyuhyun menarik Songjin lebih kencang meletakkan dagunya diatas kepala Songjin, menghidu aroma shampoo bayi yang digunakan oleh wanita itu. “banyak pria yang berfikir bahwa mereka sudah melakukan dengan benar apa yang para wanita inginkan, seperti menikahi mereka, menafkahi mereka, memberikan mereka hidup yang cukup. Tapi sebenarnya, wanita lah yang melakukannya berpuluh kali lebih banyak dibanding pria.” Ujar Kyuhyun menggantung.

“dengan kau menikahiku, itu artinya kau mengganti namamu, menjadi namaku. Kau pergi meninggalkan keluargamu, untuk hidup bersamaku. Kau mengandung anakku. Membuat tubuhmu yang semula sempurna, menjadi kacau karena kau menjadi gemuk. Kau merasakan sakit ditubuhmu. Kau kehilangan waktu tidurmu karena rasa sakit yang sewaktu-waktu datang, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuat rasa sakit itu hilang. Kau melahirkan anakku, dan padahal kau sendiri tahu, melahirkan adalah masa dimana semua wanita bertaruh nyawa. Kau bisa saja sewaktu-waktu mati. Kau meninggalkanku karena hal itu. Dan bahkan setelah sejauh itu, setelah sebanyak itu yang kau berikan untukku, anak yang keluar dari tubuhmu setelah kau rawat susah payah itu akan memiliki namaku. Jadi sebenarnya, akulah yang harus berterima kasih dan meminta maaf padamu. Jadi aku minta maaf karena sudah menjadi egois denganmu.”

Seperti mendapatkan sebuah tamparan yang nyata, Songjin malah tampak tercengang menyaksikan sendiri betapa Kyuhyun lagi-lagi menurunkan arogansinya.

Seperti yang Siwon katakan padanya. Semua orang yang bahkan tidak mengenal Kyuhyun dengan baik pun tahu bahwa pria itu telah menekan segala arogansinya pada titik terendah setiap kali pria itu berurusan dengannya.

Jika pun kemarin Songjin mendapati Kyuhyun yang meledak-ledak kepadanya sampai mengeluarkan umpatan-umpatannya yang kasar, itu tidak lebih dari pada akumulasi pria itu saat dihadapkan pada persoalan yang sama.

Mungkin disini, Kyuhyun lah yang salah. Karena bukan Kyuhyun lah yang seharusnya meminta maaf lalu berterima kasih, namun dirinya. Dia sama sekali tidak menghasilkan apapun, tapi mengeluarkan begitu banyak yang tidak main-main banyaknya.

Dia selalu menuntut haknya ketimbang menjalankan kewajiban. Terlalu banyak menyepelekan hal yang seharusnya tidak disepelekannya karena tahu, itu adalah tugasnya.

Mungkin, selama ini, Songjin lah yang terlalu bersantai dan memudahkan segalanya. Mungkin memang benar. Sebenarnya, dia memang seburuk itu. Tapi Kyuhyun enggan untuk mengatakannya.

Tapi saat Songjin memikirkan hal tersebut, kata-kata pria itu mencuat bagai batu-batu apung yang dilemparkan dalam genangan air, “kau kira aku berbohong? Terserah kau saja kalau kau tidak percaya denganku. itu urusanmu. Tapi kalau kau mau tahu apa yang aku rasakan selama ini. begitulah yang aku rasakan.”

Napas Songjin terasa berat. Tercekat setiap kali wanita itu ingin menarik napasnya untuk mengisikan oksigen pada paru-parunya. Dari sebanyak ini pun, memang benar apa yang Siwon ucapkan, bahwa sebenarnya tidak ada alasan yang pantas bagi dirinya untuk menceraikan Kyuhyun, tapi bahkan sebaliknya.

Kyuhyun memiliki seribu alasan pantas untuk menceraikannya. Seluruh bayangan-bayangan menyeramkan itu seperti mencuat satu persatu. Mungkin rasa getir inilah yang Kyuhyun rasakan ketika kemarin dia benar-benar bersikeras meminta agar mereka tidak bercerai.

Maka dengan seluruh hal tersebut, air mata yang semula tidak terencana untuk keluar pun keluar lagi perlahan-lahan. Memberikan isakan yang lebih pelan dari pada sebelumnya, namun berhasil membuat Kyuhyun merasa heran bahwa Songjin seperti memiliki tangki air mata yang luar biasa banyak ditubuh kecilnya. “Jangan ceraikan aku, Kyuhyun-ah” Songjin mulai memohon seperti saat wanita itu meminta Kyuhyun untuk membelikannya sesuatu.

“apa?” Kyuhyun yang tampak terkejut menurukan telinganya hingga sejajar dengan wajah Songjin lagi. “kau bilang apa tadi?”

“Jangan— ceraikan… aku.” Suara Songjin terdengar bergetar karena wanita itu mengatakannya sambil menahan tangisan yang sewaktu-waktu bisa saja meledak-ledak.

Tapi lain halnya dengan Kyuhyun, pria itu malah mendadak tertawa lepas. Meloloskan seluruh tawanya yang ditahannya sedari tadi, sejak pertama Songjin mulai menangis dan bertingkah konyol disaat yang sama.

“kau ini benar-benar— Tck” Kyuhyun semakin gemas mendapati betapa bodoh wanitanya ini. pria itu benar-benar menangkup kepala Songjin dengan dua tangannya, lalu mengacak-acak rambutnya tidak perduli serapih apa tatanan yang telah dibuat oleh wanita itu untuk menghadiri pesta kecil-kecilan makan malam saat ini.

“bagaimana bisa kau berfikir sejauh itu? Bahkan aku tidak pernah memikirkannya. Membuatnya melintas didalam kepalaku pun tidak pernah. Astaga kau Cho Songjin. Sebaiknya kau berhenti menonton drama-drama yang mencemari isi kepalamu ini. kenapa kau berfikir aku akan melakukannya??”

“karena— kau memiliki alasan yang tepat untuk melakukannya.”

“lantas kalau aku memiliki alasan yang tepat untuk melakukannya, aku akan melakukannya begitu??”

gerakan perlahan pada bahu Songjin membuat Kyuhyun tidak dapat berhenti mengelengkan kepalanya. Menyalahkan segala pola pikir Songjin serta benar-benar mengumpat untuk wanita itu. “Jika aku berada dalam sebuah peperangan, maka aku sudah berada pada posisi dimana aku sudah terkepung oleh lawanku dan tidak ada jalan keluar lagi. Aku kalah telak habis-habisan. Aku sudah babak belur bahkan sebelum aku mencoba untuk kabur. Jadi menurutmu, apa aku masih berminat untuk kabur dengan taruhan nyawaku yang akan lenyap karena jikapun aku mampu kabur, aku pasti akan mati-mati juga. Entah itu karena kehausan, atau kehabisan tenaga.”

Kyuhyun mengusapkan telapak tangan besarnya pada pipi Songjin. Menggerakkan ibu jarinya untuk meraba garis bibir wanita itu dengan amat sangat perlahan lalu mulai maju untuk mencicipinya lagi. Melumatnya lebut seperti bibir tipis itu adalah sebuah permen kapas yang memang harus dinikmati perlahan-lahan membiarkan rasa manisnya lumer dilidah.

“aku tetap harus meminta maaf—“ Songjin berusaha untuk terus bernapas dengan benar ketika Kyuhyun menyapukan bibirnya pada pipinya. Tubuhnya terasa menegang. Merasa takut jika apa yang dipikirkannya terjadi, dan sebenarnya hal itu dapat terjadi setiap saat.

Bahwa Kyuhyun bisa saja berpaling darinya semudah pria itu menjentikkan jari. Mendepaknya jauh-jauh. Dan bisa dilihat nanti, siapakah yang akan babak belur karena merasa ditinggalkan. Karena merasa, sandarannya mendadak hilang, hingga tidak dapat berdiri dengan benar dan terhuyung-huyung seperti kertas diatas angin.

“Tck, sudahlah. berhenti meminta maaf” sama halnya dengan Songjin, napas Kyuhyun tampak sama tercekatnya. Pria itu habis-habisan menghidu aroma lili yang dimiliki oleh Songjin tanpa merasa malu sama-sekali oleh wanita itu.

ciumannya beranjak menelusuri tulang bahu, serta tengkuk yang terlihat jenjang karena gaun yang dikenakan Songjin mengekspose bagian leher ditambah dengan rambut Songjin yang setelah menangis habis-habisan tadi, digelungnya asal.

“aku tidak masalah dengan hal itu, selama kau bisa belajar dari kesalahanmu. Kesalahan bukan untuk ditangisi, tapi diperbaiki.” Tutur Kyuhyun sambil menarik tangan Songjin yang melingkari pinggangnya, untuk bertengger dibahunya saja. “aku tidak memiliki banyak toleransi untuk orang-orang disekitarku, tapi untukmu, aku menyediakan jutaan toleransi. Karena untukku, kau adalah pengecualian dalam segala hal.”

Kyuhyun berhenti menghujani Songjin dengan ciumannya. Beralih memandang wanita itu lekat dalam jarak yang tipis. Napasnya memburu padahal dia baru saja menghabiskan waktunya, mungkin tidak lebih dari dua puluh menit untuk bermain-main dengan separuh bagian tubuh wanita itu saja.

“apa itu artinya aku sebodoh itu? Maaf. Aku benar-benar meminta maaf. Aku akan mengganti uangmu yang kuhabiskan kemarin. Aku akan bekerja. Aku juga akan belajar memasak agar kau bisa pulang dan makan dirumah saja. tapi jangan buat aku melakukannya secara cepat. Kau tahu aku tidak pintar. Aku butuh waktu lebih banyak dibandingkan orang lain.”

“kau akan mengganti uangku?” alis Kyuhyun meranjak naik. “dengan cara apa kau akan mengganti uangku? Itu bukan jumlah yang sedikit kau tahu itu.”

Songjin mengerucutkan bibirnya, “aku tahu.” Ujarnya lirih. 10 juta Won bukan jumlah yang sedikit memang. Dan sebenarnya, dia dia sendiri pun tidak tahu harus melakukan apa untuk mengganti seluruh uang-uang itu.

“aku akan bekerja.”

“bekerja?” kini dua alis Kyuhyun terangkat begitu tinggi. Tampak mencemooh dan merendahkan ide Songjin. Mengejek dan menyalahkan hal tersebut didalam hatinya. “dan apa yang menurutmu, akan membuatku mengijinkanmu melakukan hal itu?”

“apa?”

“bekerja.”

“kau tidak pernah melarangku sebelumnya. Kenapa kau sekarang melarangku?”

Kyuhyun membuang napas lagi. Terlau banyak helaan napas yang dibuangnya sia-sia karena meladeni bodohnya seorang Songjin kali ini. “begini, Cho Songjin.” Kyuhyun merendahkan suaranya. Memilin anak rambut Songjin yang jatuh keluar dari ikatannya, “aku memiliki aturan main sendiri, yang tidak dapat diganggu gugat mengenai hal ini oleh siapapun.” Ujarnya dalam dan lembut namun terdengar yakin.

“aku masih sangat mampu membiayaimu, kau tahu? dan kalaupun suatu saat nanti terjadi sesuatu denganku sampai mungkin aku akan kewalahan untuk membiayaimu, aku akan tetap berusaha untuk memenuhi tugasku. membiayaimu, memberikan tempat dan kehidupan yang pantas adalah kewajibanku. itu adalah hak dasar milikmu yang bisa kau tuntut padaku. jadi aku akan membolehkanmu bekerja, selama alasanmu bekerja adalah karena kau ingin mengisi waktumu untuk hal yang berguna. Karena kau ingin melakukan apa yang kau suka seperti kemarin, kau membuka butik karena itulah yang kau sukai. Dan semua orang tahu kalau kau memiliki bakat disana. Tapi jika kau bekerja untuk mendapatkan uang. Bahkan jika alasan kau ingin mendapatkan uang itu karena untuk memenuhi kebutuhanmu seperti… berbelanja.” Kyuhyun tersenyum miring begitu keparat. Tampak tampan sekaligus menyebalkan disaat yang sama.

Kepala pria itu menggeleng pasti sebanyak dua kali, “aku tidak mengijinkannya. Aku tidak akan pernah mengijinkannya bahkan jika kau menangis karena memohon, sampai kantung matamu jadi menghitam sehitam panda—“ Kyuhyun terkekeh, “maaf saja aku tidak mengijinkanmu untuk yang satu itu.”

Songjin terlihat geram dan sama sekali tidak menikmati apa yang Kyuhyun nikmati saat ini. entah pria itu sebenarnya sedang menggodai wanita itu atau murni mengatakan hal tersebut tanpa memiliki maksud terselubung lainnya. “dengarkan aku dulu.” Kyuhyun berkata pelan. Menarik pipi Songjin untuk berhenti menekukkan wajah untuknya dan menggantinya dengan tarikan asal yang menyerupai senyuman.

“didalam pernikahan tidak ada milikku atau milikmu. Semuanya milik kita. Semua benda yang ada. Semua hal yang ada, semua berlabel kita. Bukan kau atau aku. Jadi saat aku mendapatkan sesuatu, itu artinya kau juga mendapatkannya. Saat kau mencapai sesuatu, begitu juga denganku. uangku uangmu juga. Rumahku ya rumahmu juga. Mobilku, bahkan tubuhku.”

Kyuhyun menjatuhkan seluruh tubuhnya diatas kasur dan menjadikan dua tangannya sebagai bantal dadakannya. Mengamati Songjin dari kejauhan lagi, mendapati kantung mata wanita itu benar-benar menjadi besar, mungkin karena sejak tadi, yang dilakukan wanita itu memang hanyalah menangis meratapi hal bodohnya, tingkahnya, atau perkataan semua orang disekitarnya.

Tangan Kyuhyun bertengger dipinggul Songjin. Menggerakkannya secara lembut dan berjalan perlahan menuju bagian perut juga mengusapnya begitu lembut. Seperti bagian itu adalah sebuah kepingan kaca ringkih yang dapat pecah dalam satu sentuhan saja.

Senyumannya lalu merekah ketika dia tengah sibuk bermain dengan bagian menonjol itu. Seperti menunjukan sebuah kebanggaan dan rasa senang disaat yang sama. Seperti ingin pamer, tapi entah pamer kepada siapa.

Lalu lama mengusapnya, senyumannya berubah menjadi lebih cerah ketika merasakan berbagai pergerakkan dari dalam perut itu. Seperti sedang bertelepati atau entah apa yang Kyuhyun lakukan. Hanya menyentuhnya dan bayi didalam sana terasa begitu riang hingga membuat Songjin mengernyit menahan rasa ngilu karena mendadak merasakan hal yang berbeda dari dalam tubuhnya.

“dan tentang obsesi memasakmu. Katakanlah aku memang ingin merasakannya bahkan jika kesempatanku hanya satu kali seumur hidup untuk mencicipi hasil masakanmu dengan susunan rasa yang tepat. bukan sebuah racun.” Kyuhyun tertawa mengguncangkan tubuhnya.

“tapi kau tahu, aku bersyukur kau tidak bisa melakuannya. kau tahu? Aku tidak suka melihatmu terluka, atau melukai dirimu sendiri. sengaja atau tanpa kau sengaja. Apapun itu alasannya. Sekecil apapun goresan itu.”

Songjin mulai memutar matanya jengah, “jangan berlebihan—“ tukasnya sebal.

“aku sudah pernah bilang, kalau aku menggantungkan hidupku padamu, ‘kan? jadi pikirkan saja sendiri, bagaimana kacaunya hidupku nanti, kalau kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri dengan benar. Saat kau sakit, aku juga sakit. Kau pernah memikirkan mengapa keanehan itu terjadi selama ini, sejak dulu, tanpa pernah berubah siklusnya? Apa kau pernah bertanya, mengapa hal itu bisa terjadi, atau memang yang kukatakan adalah benar. Bahwa aku membutuhkanmu, lebih daripada kau yang membutuhkanku?”

Songjin diam. Tidak ingin menolak apalagi menyanggah saat yang Kyuhyun katakan adalah benar terjadi. Yang selama ini terjadi, begitulah yang ada.

“tidak ada yang namanya kebetulan, Songijn. Dikamusku, tidak ada yang namanya kebetulan.” Ucap Kyuhyun lembut. Mengusap pipi Songjin dengan buku jarinya. “dan kau selalu mengatakan bahwa selalu ada alasan mengapa semua hal terjadi, iyakan?”

“Yeah—“ kini Songjin tampak enggan menyetujui. Menolak mentah-mentah berulang kali untuk melirik bola mata cokelat milik Kyuhyun secara terang-terangan.

“teoriku, mungkin itu adalah alasan sederhana. Penjelasan tentang sejauh dan seperti apa aku mencintaimu. Teorimu?”

Songjin diam. Bersedekap mengamati wajah Kyuhyun tampak terlalu sempurna bagai sebuah pahatan mahakarya seniman terkenal. Bagai batu pualam hingga Songjin merasa tidak cukup pantas, untuk dicintai dengan cara seperti itu. Seluas dan sedalam itu.

“teoriku… malam ini kau mendadak menjadi cheesy. Aku berfikir, apa mungkin kau melakukannya karena kau ingin meniduriku? Karena begitulah selama ini yang terjadi. Tapi sejauh ini, kau terlihat tidak lagi tertarik dengan tubuhku, bahkan kau sendiri berkata tadi, aku gemuk. Iyakan?” Songjin menyeringai tajam, mengkopi trademark Kyuhyun terang-terangan.

“jadi, aku tidak memiliki teori penting apapun untuk menyangah. Tapi aku juga tidak mau menyetujui semudah itu. Lelaki biasanya akan menjadi manis jika ada yang diinginkan. Aku sedang mencari tahu, apa yang kau inginkan saat ini?”

lantas seusai Songjin berbicara, wanita itu dikejutkan oleh tubuh Kyuhyun yang mendadak menjadi duduk tegap seperti semula lagi, membuatnya oleng, namun lantas tangan pria itu sendiri yang membuat Songjin tetap berada ditempatnya dengan selamat. “kau ini benar-benar picik kau tahu?” runtuk Kyuhyun sinis.

Menyelipkan rambut Songjin dibelakang telinganya lagi lalu menyentil dahi wanita itu sekencang-kencangnya,

“kadang cinta memang tidak memiliki alasan apapun, yang bisa dijelaskan dengan logika. Itulah mengapa Marie Therese memilih gantung diri setelah Picasso meninggalkannya untuk kembali bersama Dora Maar. Mengapa Romeo dengan bodohnya langsung menenggak racun saat melihat Julliet terkapar tidak bergerak, dan botol itu berada ditangannya. Kau tidak bisa menemukan alasannya, karena terkadang, banyak dari hal-hal itu memang tidak memiliki alasan.” Jelas Kyuhyun tampak geram kepada Songjin.

“jadi kau ingin menggantung dirimu jika sewaktu waktu aku meninggalkanmu?? Hah! Lucu sekali kedengarannya!” cibir Songjin bersedekap sama sinisnya. Menyalakan lirikkan tajamnya serta senyuman merendahkannya.

Sedang Kyuhyun pun sama melipat tangan didada namun tanpa kerucutan dibibir yang mungkin dapat membuatnya tampak menggemaskan jika itu dilakukan.

Pria itu hanya menggerakkan bahunya yang nampak enggan. “mungkin tidak seperti itu. Tapi sesuatu yang buruk, pasti akan terjadi padaku.” Ujarnya telihat serius kali ini. “dan aku tidak bisa menebaknya nanti, akan seburuk apa jika hal itu sampai benar-benar terjadi.”

“kukira selama ini hal buruk sudah banyak menimpamu. Ditambah saat aku menguras dompetmu untuk berbelanja— dan kemarin saat kau marah-marah. Kau pasti sudah terlau pusing mengurusi hal seperti ini kan?“ Songjin menggantung kalimatnya. Merasa sebal tapi juga lucu disaat yang sama entah bagaimana.

“kau mau tahu yang sejujurnya?”

“tentang uangmu kemarin itu?”

“tentang uang kita.” Kyuhyun meralat tegas. Terlihat tidak ingin diganggu gugat atas keputusannya.

“aku marah bukan karena kau menghabiskannya untukmu bersenang-senang, tapi coba bayangkan dengan uang sebanyak itu, apa yang bisa kau berikan untuk orang-orang disekitarmu yang benar-benar membutuhkan uang-uang itu Songjin? awalnya aku juga tidak terlalu memahami hal seperti itu. tapi aku sedang bekerja sama dengan Sungmin Hyung membuat sebuah rumah sakit dan sekolah untuk anak-anak yang membutuhkan. dan aku sudah melihatnya sendiri bagaimana hidup mereka. aku tidak bisa membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada kita, lalu anak kita akan merasakan hal yang seperti itu. aku sudah bilang berapa kali, kau tidak hidup seorang diri, sayang. ada banyak orang disekitarmu yang bisa kau bantu.”

Kyuhyun mengusap pipi Songjin berulang kali. menyapukan jemarinya menelusuri bentuk rahang Songjin seperti seorang pemahat yang sedang mengaggumi karyanya sendiri.

“dan pada persoalan lain, aku akan mengatakan hal yang sama. Bahwa aku tidak perduli dengan hal itu, kau memang seperti itu dan itulah kau. aku sudah pernah berjanji kalau aku akan menerimamu dalam kondisi baik dan buruk kan? aku juga sudah berjanji akan membuatmu bahagia. Jadi jika kalau saja katakanlah ini adalah hal terburuk, bahwa kau memilih bersamaku bukan karena kau mencintaiku, tapi karena alasan lain, seperti alasan wajahku, uangku atau status sosialku, aku tidak akan melakukan protes apapun karena saat itu kita sama-sama berjanji dengan yang tertinggi. Aku melakukannya dengan tulus. Kalau kau tidak, itu urusanmu. Aku benar-benar tidak mengharapkan apapun, selain bersyukur karena dapat menguncimu untuk berada didalam jangkauanku karena itu memudahkanku untuk melakukan apa yang kuinginkan.”

“seperti menduriku?” Songjin lagi-lagi menjadi sinis, dan tampak gerah dengan segara hal picisan yang Kyuhyun lontarkan sejak tadi. “seperti mencintaimu. Membuatmu merasakan bagaimana rasanya jika aku mencintaimu, jadi mungkin kau akan berfikir dua kali untuk pergi dariku, karena kau tahu, tidak ada orang lain yang mampu melakukannya sebaik aku.”

Kyuhyun tampak sangat percaya diri mengatakannya. Tanpa dibubuhi senyuman angkuh atau embel-embel lirikan merendahkan khas miliknya yang biasanya muncul ketika pria itu mulai meninggikan dirinya sendiri.

Kali ini, semua itu meluncur begitu saja seperti pria itu melakukan pengakuan dosa-dosanya. mengatakannya secara terang-terangan begitu polosnya tanpa perduli aibat apa yang akan didapatakannya. “dan yeah.. kau benar. Untuk menidurimu juga termasuk.” Lalu tak lama, wajah polos nan menggemaskan itu lenyap berganti seringaian mesum yang Nampak sama, seperti yang sering pria itu pamerkan.

Matanya jatuh, tanpa berbasa-basi turun menuju gaun malam Songjin. Menuju pada dada wanita itu yang tertutup dengan gaun berhahan sutera lembut. Rasa puas yang tergambarkan sederhan dan ekspresi tentang betapa terkejutnya pria itu ketika menyadari ukuran yang berbeda pada dua gundukan itu, lalu teringat, bahwa istrinya sedang mengandung. Tentu saja itu berpengaruh terhadap ukuran buah dada.

Songjin bukannya tidak menyadari bahwa Kyuhyun sedang mengamati tubuhnya dengan wajah yang menyebalkan seperti yang selalu tidak disukainya. Tapi mengerjai pria itu setelah sekian lama tidak melakukannya memang tampak menyenangkan bagi Songjin. Maka wanita itu mendiamkan saja Kyuhyun untuk melakukan apa yang diinginkannya.

“Jadi—“ Songjin mulai bersuara. Setelah memberikan batas waktu maksimal bagi Kyuhyun untuk memandangi tubuhnya sesukanya, dia mengangkat wajah pria itu untuk menghadapnya lagi. “kau berpikir bahwa aku bersamamu karena aku menginginkan hartamu, status sosialmu atau ketampananmu, huh?”

“itu hanya kemungkinan terburuk. Kemungkinan terbesar lainnya, bisa saja kau yang jatuh cinta padaku setengah mati.”

“kau tahu.” Songjin menggerakkan dagunya dan meninggikan wajahnya hingga tampak angkuh tapi juga menggoda disaat yang sama. Entah apakah itu akan berhasil pada percobaan yang selalu dilakukannya, tapi membuat Kyuhyun tidak pernah tidak tertawa menanggapinya. “aku jatuh cinta setengah mati denganmu. Jadi uangmu, status sosialmu, apalagi wajahmu, hanyalah bonus saja. menurutmu apa aku pernah berpikir untuk menghabiskan waktuku bersama teman bermainku yang senang menjahiliku, atau mengejekku jelek, huh? Kalau saat itu aku bisa memilih, kau tahu siapa yang akan kupilih.”

“……. Aku juga tidak pernah tahu kalau aku akan menyukai gadis jelek berambut kusut yang senang bermain pasir dengan ingus yang mengalir.” Kyuhyun mengernyitkan wajah hingga terlihat begitu meyakinkan.

Sampai saat Songjin menyadari segalanya. Merubah wajah riangnya menjadi datar lengkap dengam bola mata yang menggelep. Mendadak jengutan kencang pada rambut cokelat Kyuhyun lah yang ditariknya kuat-kuat. Digenggamnya dengan kekuatan utuh, “kau bilang apa? Ingus mengalir?” Songjin menjadi brutal tanpa aba-aba.

“aku berkata yang sebenarnya.”

“Sialan!” Songjin semakin mengencangkan jengutannya, mengabaikan Kyuhyun yang meringis kesakitan, “aku tidak semenjijikan itu saat aku masih kecil! Tarik lagi ucapanmu!!”

“ucapanku yang mana? AKH— Songjin, sakit. Hentikan kumohon.”

“ingus mengalir itu! Kau kira hidungku sungai yang mengeluarkan aliran ingus menjijikan!”

“Songjin!!” Kyuhyun meringis lebih kencang. Mengigit bibirnya berusaha melepaskan tangan Songjin dikepalanya dengan tangan kosongnya, tapi Songjin selalu mendapatkan tenaga ekstra entah dari mana jika wanita itu mulai menjadi brutal dan barbar. “aku tetap mencintaimu walaupun kau memiliki ingus yang mengalir seperti itu. Lepaskan—AKH! Sakit Songjin. Demi Tuhan, kau ingin mempunyai suami botak ya?”

“Shiero!”

“Appo~”

 

137 thoughts on “[KyuJin Series] Her Bad Habit

  1. Songjin tingkah lakunya yg barbar, kyu mulutnya yg barbar.. mereka mau sweet2an kayak gimana ujung2nya bakalan berantem. Hhhh bener2 pasangan absurd

  2. aku yang cew aja mengakui kalau songjin wanita yang menarik. dia bisa berperilaku tanpa di duga, paling suka kalau songjin udah kelewat polos. beneran ngegemesin.

  3. kapan songjin mau belajar jadi seorang ibu rumah tangga yang benar? Walau udah dimarah-marahin karena hobinya yang bener-bener buruk nantinya sadar terus habis itu selesai. tp semoga aja nanti ada perbaikin sifat dr diri songjin sendiri

  4. Hahaha endingnya bagi pasangan itu pasti berantrm lagi berantrm lagi .. smg songjin nya cepet bérubah jadi lebih dewasa
    . Ga kebayang gimana saat songjin ngurusin anaknya .. pasti lucu

  5. Kalo dipikir pikir kyu keren juga yak 😂😂😂 sanggup aja gitu sama songjin nya yg begidu yahh tapi namanya cinta 😂😂😂

  6. haha lagi romantis²nya dgn kata² yg super sweet tp tetep aja berujung ‘penganiayaan’ wkwk… kyuhyun sih pake acara bilang ‘ingus mengalir’ segala 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s