[KyuJin Series] Here Comes The Boom! [Part 1]


Here Comes The Boom

GSD

Cho Kyuhyun | Cho Songjin | Lee Donghae | Kim Eun Soo | Choi Siwon | Choi Gyuwon | 

PG 13

Chaptered [1 of 3]

Cr-Poster : Ocin

1

The Dating

You took the time to memorize me, my fears, my hopes, and dreams. I just like hangin’ out with you all the time. All those times that you didn’t leave, it’s been occurring to me I’d like to hang out with you, for my whole life.

-Stay stay stay, Taylor Swift

(H-3)

Ada hal lucu dari sikap Songjin belakangan ini. yang membuat Kyuhyun bukan malah khawatir, tapi lebih ingin menggodai wanita itu saja.

Songjin bertingkah seperti baru bertemu dengan seorang selebriti Hollywood didepan matanya saja, atau bahkan baru melihat Barrack Obama melintas dihadapannya.

Songjin seperti sedang ketakutan, atau entah apa itu adalah rasa gugup saja. Tubuh wanita itu terasa kaku. Tampak jelas dari bahunya yang meneggang, atau tubuhnya yang mengeras seperti batu saja. tidak bergerak ditempatnya diam mematung. Atau yeah, bergerak. Sedikit. Saat Kyuhyun mencoba mendekat padanya. Maka Songjin akan dengan cekatan menggeser tubuhnya satu jengkal kesamping.

Tingkahnya seperti ini adalah kencan pertama mereka, sekaligus perkenalan pertama. Songjin benar-benar mengaja jaraknya dengan wajah yang tegang dan pucat.

Saat itu Kyuhyun mencoba untuk mendekat lagi. Tapi kemudian, dalam hitungan detik saja Songjin sudah menggeser tubuhnya lagi satu jengkal lebih jauh. Tentu saja hal itu membuat Kyuhyun menjadi jengkel, walau terselip tawa renyah akibat tingkah abnormal Songjin kali ini padanya.

“Jadi kau mau apa?”

Akhirnya Kyuhyun hanya dapat menanyakan hal itu dari jarak yang cukup jauh dari Songjin. Menghadap pada wanita itu biarpun Songjin menolak untuk melakukan hal yang sama.

Wanita itu tidak langsung menjawabnya. Dia sibuk meremas tangannya sambil mengigiti bibir bawahnya. Ini benar-benar tampak seperti mereka adalah pasangan remaja ingusan yang baru saja saling menyatakan cinta dan langsung berkencan buta.

Lucunya, ini memang lucu. Songjin tidak pernah bertingkah lebih konyol daripada ini sebelumnya. Tapi menjengkelkan tentu saja. ini membuat Kyuhyun cukup sulit untuk menjangkau wanitanya saat dia ingin bertanya, atau berinteraksi dalam hal sekecil apapun. Sedikit merepotkan.

“popcorn.” Mata Songjin mengarah pada dinding dengan gambar poster menyala menampilkan jenis-jenis popcorn yang bioskop itu miliki. “milk shake, keripik kentang—“

“Ya!” Kyuhyun langsung bersedekap menyela Songjin ketika wanita itu berbicara, “ini bukan restoran. Ini bioskop, apa yang kau pikirkan? Jangan memesan terlalu banyak!” protes Kyuhyun sekaligus mengingatkan.

Pria itu berdecak heran sambil menggelengkan kepala, lalu membalik tubuh menghadap counter dengan pelayan dihadapannya dan memesan satu buah popcorn dengan ukuran besar.

Menimbang untuk memilih jenis minuman samapi terhenti ketika Songjin berulah lagi, “satu?” wanita itu terlihat terkejut mendengarnya.

“Ya.”

“Tapi kita berdua!”

“bukannya kita sedang berkencan?” Kyuhyun menampilkan raut wajah super polosnya, “aku kira akan lebih romantis kalau kita membeli satu box saja untuk berdua.”

Hey!

Songijn tersentak mendengarnya. Tubuhnya menjadi lebih kaku daripada sebelumnya dan matanya, tidak benar-benar bisa dipaksakannya untuk bersiborok dengan milik Kyuhyun karena mendadak, melihat wajah pria itu membuat wajahnya sendiri terasa panas.

Suara tawa pelan yang berasal dari pelayan didepan conter terdengar jelas melewati telinga Songjin. Entah menertawakan betapa lugunya sikap Kyuhyun, atau menertawakan fakta yang terlihat bahwa saat ini, Cho Kyuhyun sedang mengatakan terus terang bahwa pria tampan dengan wajah bagai dewa yunani itu sedang melakukan kencan buta dengan seorang wanita hamil berperut besar seperti ikan paus.

Hanya perlu menunggu waktu untuk membuat Kyuhyun menjadi lebih konyol karena ucap dan tingkahnya sendiri.

“aku tidak mau satu berdua. Aku mau satu!” Kyuhyun membelakkan matanya sesaat. Hingga kemudian malas berdebat ditengah keramaian seperti ini, pria itu hanya menghelakan nafasnya saja dan memesankan satu buah bak popcorn lagi dengan ukuran sedang.

Lima belas menit kemudian, lama menunggu Kyuhyun menghampiri Songjin dengan dua buah popcorn ditangan kanan dan satu buah gelas kerton besar ditangan kirinya. “Milk Shake cokelat.” Ucap Kyuhyun sebelum Songjin bertanya, minuman jenis apakah yang akhirnya dipesannya.

Desahan kecewa tampak lolos kecil dari bibir Songjin. Bukannya mencoba untuk nakal, tapi sama dengan waktu kandungannya kali ini, Songjin sudah tidak pernah lagi mengecap manisnya soda. Untuk sesekali saja, terkadang ingin sekali lidahnya merasakan itulagi namun Kyuhyun selalu melarangnya. Dan dapat terus-terusan memergokinya saat dirinya sedang mencoba diam-diam mencuri start untuk merasakan sedikit saja soda dari dalam kulkas.

No soda, no coffee, no instant ramyeon, no instant food~

Peraturan rumit yang pria itu sendiri buat kadang membuat Songjin ingin berteriak seperti orang gila. Semua larangan pria itu adalah semua jenis makanan dan minuman yang paing enak yang ada dimuka bumi ini.

Kyuhyun menyodorkan gelas besar itu kepada Songjin ketika pria itu akan duduk dikursinya, tapi Songjin menolak mentah-mentah dan malah mencomot kantung besar popcorn ditangan Kyuhyun yang lain.

“minumnya letakkan saja disana.” Perintah Songjin semaunya menunjuk meja kecil disamping lengan Kyuhyun dengan dagunya membuat Kyuhyun mendengus bagai naga, memandangi box popcorn miliknya, diserobot oleh wanita barbarnya begitu saja.

demi apapun, sebesar apapun nafsu makan Songjin karena wanita itu sedang dalam masa kehamilan, tetap saja lambung wanita itu tidak akan sanggup menampung popcorn sebanyak itu.

Tapi wanita itu benar-benar keras kepala dengan selalu melakukan apa yang diinginkannya saja tanpa memikirkan alasan-alasan lain yang masuk diakal, yang selalu melintas didalam kepala Kyuyun namun selalu dianggap remeh oleh wanita itu sendiri.

“jangan mengeluh padaku kalau nanti perutmu sakit karena terlalu banyak memakan makanan itu!” dengus Kyuhyun sebal.

Sepanjang pemutaran film, Kyuhyun yang tidak berhenti tertawa karena tokoh kartun yang bertingkah konyol, bersamaan dengan beberapa penonton lainnya tanpak menikmati. Tawa renyahnya sempat berhenti, saat mulutnya berhenti mengunyah, dan kakinya disilangkan untuk membuat tubuhnya berposisi lebih santai.

“aku membeli tiket tadi agar kau menonton filmnya, bukan wajahku.” Sindir Kyuhyun sambil mengunyah popcorn yang baru dimasukannya kedalam mulut. Masih sempat menonton bagaimana penunggang naga itu jatuh terhempas kedaratan, baru setelah itu menoleh pada Songjin membuat wanita itu baru sadar bahwa tadi, Kyuhyun memang sedang berbicara kepadanya.

“Huh?”

Songjin melompat terkejut ditempatnya. Hidungnya langsung bergesekan tanpa sengaja dengan hidung Kyuhyun karena pria itu mendadak menoleh padanya, hingga membuatnya cepat-cepat memundurkan wajahnya sendiri.

“Bukannya… tidak—“ Songjin mengusapi tengkuknya karena panic. Sedetik setelahnya, menjejalkan segenggam popcorn miliknya kemulut, hingga penuh. Pun masih belum membuat Kyuhyun memalingkan wajahnya.

“ada apa?” Kyuhyun menyipitkan matanya memandang curiga kepada Songjin, “apa perutmu sudah sakit karena menelan popcorn untuk empat orang sendirian?” Kyuhyun lalu melirik popcorn dipangkuan Songjin yang sudah tinggal separuh saja.

sedikit merasa terkejut dengan kemampuan Songjin dalam mengunyah dan menjejalkan makanan kedalam lambung kecilnya, walau tidak ditunjukannya secara terang-terangan.

Dipandangi dalam jarak sedekat itu, masuk akal saja jika Songjin mendadak menjadi panic, dan semakin panic hingga wajahnya terasa panas. Entah bagaimana awal mulanya hingga saat dia memandang Kyuhyun, yang melintas didalam kepalanya adalah betapa tampannya pria itu dalam balutan jas formal ketika pria itu melakukan pemotretan untuk majalah Men’s Health tadi.

Dan sialanlah rongga pernafasannya yang tidak pernah bisa untuk bekerja sama dalam keadaan genting semacam ini. hingga membuatnya kembali sesak nafas dan hanya dapat mengigiti bibirnya saja.

Bahkan dalam gugupnya, Songjin dapat merasakan bagaimana titik-titik keringat kecil mulai bermunculan dikeningnya, dan bukan tidak mungkin akan menjadi lebih banyak saja jika Kyuhyun tidak terus-terusan bertingkah menyebalkan dan cepat-cepat membuang wajah tampan sialan itu kembali pada layar besar dihadapan mereka saja.

Songjin hanya diam. Merasakan hangat nafas Kyuhyun menghantam wajahnya habis-habisan. Jika pria itu tidak gila dan mencoba menggodanya dengan ingin menyentuh tubuhnya ditempat seperti ini.. semoga saja otak cerdasnya itu masih sedikit tersisa hingga dapat sadar bahwa ini bukanlah tempat yang tepat.

“wajahmu pucat sekali, kenapa? Masih merasa sesak nafas karena merasa aku ini sangat tampan?” Kyuhyun meledek terang-terangan. Wajah Songjin kian memanas karenanya.

Lain dengan Kyuhyun yang menunjukan senyum tawa mencela, Songjin hanya dapat diam seperti patung Dolhareubang. Patung pahatan terkenal dipulau jeju, dengan hidung mengernyit sekaligus wanita itu yang menahan nafasnya menahan rasa gugup.

“Jadi kenapa kau tidak mengatakannya langsung saja padaku? Kenapa harus diam-diam seperti seorang penggemar begitu? Well— Luke membuatku sedikit mulas karena puas tetawa saat dia bercerita tadi betapa kau bertingakah seperti seorang penggemar yang baru melihat idolanya. Jadi setiap hari kau merasa sesak nafas saat melihatku?”

Kyuhyun tertawa pelan. Terus maju dari tempatnya mendekatkan wajahnya. Matanya lurus tertuju pada mata cokelat milik Songjin, lalu berganti turun pada bibir pink wanita itu dan kembali lagi pada matanya. “kau terpesona denganku, huh?” Kyuhyun nyaris menumpahkan kekehan yang dipendamnya lama.

Lalu teringat bahwa ini adalah tempat terbuka, mungkin saja akan ada orang yang merasa heran mengapa seseorang tertawa bahkan pada saat cerita sedang tidak lucu sama sekali.

Maka Kyuhyun hanya menarikan ulasan senyum keparatnya lalu meraup bibir Songjin dengan tenang. Popcorn ditangannya telah berada dimeja kecil bersanding dengan gelas karton milk shake jumbonya, entah kapan dia meletakkannya disana.

Tangannya kini berganti focus. Menelusup perlahan untuk meyentuh pinggang Songjin dari tempatnya, lalu menarik wanita itu untuk lebih mendekat, sedang tangan lainnya sepertinya adalah satu-satunya hal yang membuatnya ingat untuk memiliki control, memperingatkannya bahwa ini adalah tempat umum.

Walau rasanya, terasa lebih mendebarkan jika dilakukan ditempat umum, karena tentu saja otak kanan dan kiri harus bekerja sama dalam membuat situasi tetap pada sinkronasinya hingga aman berkelanjutan.

Suara decakan terdengar jelas. Bersyukurlah keduanya karena suara debuman music meredam ulah konyol keduanya yang memilih bermesraan ditempat umum.

Kyuhyun terus menggesekkan hidung mancungnya seperti sedang berusaha muntuk membuat percikan api yang berasal dari gesekan hidung mereka, dan pada waktu yang sama, Songjin yang sedang tidak mampu untuk bernafas pun mampu mengimbangi dengan ikut melilitkan lidahnya, bermain tenang.

“masih sesak nafas juga?” cibir Kyuhyun saat melepaskan bibirnya untuk melihat perubahan warna wajah Songjin dan terpana dengan warna pucat yang masih saja terlihat jelas. Tawanya membuncah sesaat dirinya merasa geli, lalu setelah itu dia kembali melumat bibir tipis Songjin memperlakukannya seperti ice cream— takut akan meleleh jika dibiarkan terlalu lama.

Satu tangan yang tadi menjadi kontrol sepertinya telah sedikit hilang kendali karena kini hinggap pada pipi Songjin, menyentuh pipi hingga pada bagian belakang kepala Songjin, bertugas sama dengan tangan satunya yang menarik wanita itu agar lebih dekat, seperti masih saja kurang, jarak tipis diantara mereka.

“aku ingin strawberry—“ Songjin memutus ciuman mereka untuk berbicara layaknya orang menggerutu. Mengerucutkan bibir sebagai tameng utama ketika wanita itu menginginkan sesuatu dari semua orang dan kini, dia melakukannya lagi kepada Kyuhyun.

“kita sudah membicarakannya. Kau tahu aku sudah mencarinya dimana-mana tapi sulit sekali sekarang untuk mendapatkan strawberry, lain kali saja, eo?”

“tapi aku mau sekarang.”

“Cho Songjin—“ Kyuhyun menyipitkan mata membuang cepat-cepat kepada Songjin hingga wanita itu mendadak tertunduk lesu, menerima dengan pasrah mau tidak mau.

Kyuhyun berbicara layaknya Park Seul Gi yang sedang mengomentari kemauan Songjin ketika itu. Memberikan penekanan dalam dengan wajah yang tercetak tajam.

Sadar bahwa mendadak Songjin menjadi takut, dan mengerti bahwa lagi-lagi itupun bukan kebiasaan Songjin untuk merasa takut dengannya jika dia sedang menasehati wanita itu seperti ini, Kyuhyun kembali tertawa pelan.

Jika Songjin adalah seperti anak anjing liar yang diambil untuk dipelihara, maka saat ini wanita itu sedang bertingkah begitu jinak setelah dimasukan kedalam sebuah tempat penampungan sementara.

“Baiklah-baiklah, kita akan mencari strawberry nanti setelah makan. Kau lapar?” Kyuhyun menebak asal dengan modal wajah pucat Songjin dan tangan dingin wanita itu dan sedikit bergemetar.

Entah bergemetar karena memang lapar atau masih juga merasa terpana akibat terhantam ketampanan Kyuhyun.

Songjin mengangguk pelan tanpa bersuara. Merasakan betapa bibir Kyuhyun yang lembut masih saja bertengger tepat didepan bibirnya membuat ketika pria itu berbicara, Songjin dapat dengan mudah merasakan bagaimana bibir tebal itu bergerak-gerak.

“kalau begitu ayo kita makan.” Kyuhyun mendadak bangkit. Mengulur tangan Songjin yang tadi sempat digenggamnya membawa wanita itu pergi. Terang saja membuat Songjin merasa heran karena bahkan pemutaran film belum selesai seutuhnya.

Ini masih dalam pertengahan cerita, bagaimana bisa mereka pergi begitu saja? dan sadar akan kebimbangan Songjin, Kyuhyun lalu kembali duduk ditempatnya, “kenapa? aku sudah tidak tertarik dengan film ini lagi. kau ingin menonton lagi? Sepertinya sejak tadi kau bahkan tidak perduli dengan filmnya dan malah lebih tertarik denganku, iyakan?” Kyuhyun meledek

Rona kemerahan mulai muncul dipipi pucat Songjin. Terlihat jelas ketika sinar dari layar super besar didepan mereka menyorotkan warna cerah hingga Kyuhyun dapat memperhatikan Songjin seksama. “kita makan malam saja. ayo!”

** **

“Hanya menonton dan makan malam saja bukan kencan namanya. Kencan harus ada yang special.”

“harus? Siapa yang mengharuskan? Kau?”

“kenapa harus aku?” Songjin menutup buku menu ditangannya dan mulai bersungut lagi. “itu batas standar semua wanita. Kau masih juga belum mengerti? Bahkan kau pernah berpacaran sebelumnya tidak sepertiku. Menggelikan sekali pria sepertimu.”

Kyuhyun hanya diam. Tidak menyahut apalagi berencana untuk mendebat walau yakin saja, pria itu akan memenangkan perdebatan ringan buatan Songjin kali ini dengan begitu mudahnya.

Hanya tidak ingin memulai keributan yang berlebih karena lagi-lagi, mengingat mereka berada direstoran dengan daya tampung orang sangat banyak, pasti akan sangat memalukan bukan hanya untuknya saja melainkan bagi Songjin juga jika mereka berkelahi ditengah keramaian seperti itu.

Belum lagi seorang pelayan yang sedari tadi hanya diam mematung menonton keributan kecil dimeja nomor 10 itu tanpa berhenti.

Kyuhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Heran saja, bagaimana bisa Songjin yang tadi merasa begitu terpana olehnya, kini mendadak seperti membencinya setengah mati?

Songjin yang bahkan gugup saat berbicara dengannya, kini kembali lagi seperti semula, menjadi Cho Songjin yang pemarah dan galak. Yang barbar dan brutal. Yang bahkan tidak pernah memiliki urat malu, bagi dirinya sendiri.

Zosui” Kyuhyun memutuskan cepat. Malas membaca lebih banyak deretan nama menu makanan didalam buku menu restoran Jepang tersebut, dan langsung mengucapkan satu-satunya menu yang matanya pertama kali lihat. Dia mengangkat wajahnya, menutup buku menu ditangannya dan menyerahkannya kepada pelayan disampingnya.

“Jadi kencan seperti apa yang para wanita inginkan?” Kyuhyun bersuara lagi setelah pelayan yang melayaninya pergi. Bertanya kepada Songjin dengan penuh penakanan bermakna pada kata ‘wanita’ padahal jika saja semua orang mendengar, mereka dapat langsung mengerti bahwa Kyuhyun hanya sedang mengatakannya menggunakan nada sarkasme.

Dan mengabaikan nada sarkasme Kyuhyun kali itu, Songjin memutar matanya saat berfikir tentang model kencan yang terlintas dipikirannya, “Bunga, hadiah—“

“boneka beruang sebesar pintu?” Pria berkulit putih susu itu menarik senyuman sinis melalui sudut bibirnya mengejek pola pikir Songjin— terlalu mudah dibaca dan ditebak.

Songjin lantas mendengus ketus bertopang dagu, “kau menyebalkan!” runtuknya terlihat kesal sekaigus putus asa. Malas memandang Kyuhyun yang sedang terkekeh mencibirnya tanpa dirinya sadari.

“tadi kau bilang aku terlalu tampan. Sekarang kau bilang, aku menyebalkan. Apa semua suasana wanita mengandung memang seburuk suasana hatimu?” Kyuhyun melipat tangan didada dan bersandar pada punggung kursi menjauh dari meja makan segiempatnya. “aku hanya ingin berkencan denganmu kenapa harus dibuat repot?”

Kyuhyun ikut mendengus pelan melalui dua lubang hidungnya. Tidak memperhatikan betul ketika Songjin menekuk wajahnya— membuatnya semakin tidak paham dengan yang terjadi dan terkejut saat Songjin mendadak tampak ingin meledak, “jangan terus-terusan berbicara seperti itu! Apa kau tidak malu dilihat banyak orang?”

Alis Kyuhyun bertautan rapat, “malu? Kenapa aku harus malu?”

“karena kau berkata bahwa kau berkencan, dan yang orang lihat adalah kau pria muda tampan terlihat aneh karena menghabiskan malam dengan seorang wanita. Hamil.”

Kening mulus miik Kyuhyun semakin rapat saja menghasilkan kerutannya. Benar-benar tidak mengerti maksud lebih dari omelan Songjin kali ini padanya. Ini bukan pujian jika telah diucapkan dengan nada yang bersungut-sungut. Iyakan?

“aku tidak mengerti.”

“kau harus mengerti!!” Songjin sedikit membesarkan suaranya walau tidak terdengar lebih kencang seperti ketika wanita itu sedang berteriak dirumah. “kau harus mengerti karena kau membuatku malu setiap kau mengatakan terang-terangan didepan orang-orang kita berkencan.”

“Tunggu—“ mata Kyuhyun mengerucut, memandang Songjin curiga, “apa kau sedang merasa malu karena kau berkencan…. Denganku?”

“aku tidak malu! Tapi kau yang akan malu!”

“karena?”

“karena aku wanita hamil!”

“lalu?”

“aku hamil!”

“aku tidak mengerti.” Kyuhyun diam. Menggosoki dagunya lama berfikir panjang, lalu sampai pada satu titik bahwa pembicaraan mereka hanyalah sebuah omong kosong. Dan waktu telah terbuang banyak karena dirinya baru saja mengikuti kebodohan pola pikir Songjin yang merasa bahwa dirinya malu menghabiskan malam bersama dengannya—? Wanita hamil? Maksudnya wanita gemuk?

Geez!!

“mereka tahu kau istriku.” Kyuhyun membuang nafasnya mengulur kesabarannya lagi lebih panjang mempersiapkan segala kemungkinan omong kosong lainnya yang akan ditanggapinya kali ini.

“Jangan sombong, tidak semua orang tahu aku istrimu.”

“karena itu aku perlu mengatakannya, kan?”

“kau itu kenapa sih?”

“kau yang kenapa? Kau benar-benar aneh. Kau dan cara berfikirmu yang…. Konyol. Memangnya kenapa kalau aku menghabiskan malamku denganmu? Kau kan istriku memangnya dengan siapa lagi aku harus berkencan kalau bukan denganmu? Kau yang aneh, kau!!” Kyuhyun menunjuk-nunjuk Songjin dengan botol bubuk cabai yang digenggamnya erat, “kita tidak harus berdebat pada hal yang sangat jarang kita lakukan seperti ini, kan? kau sendiri yang mengatakannya, kita hampir tidak pernah berkencan, jadi tutup saja mulutmu dan jalani apa yang sedang kau jalani. Toh kita tidak tahu kapan lagi kita akan sempat melakuan hal ini nanti. Kau akan sibuk dengannya dan mungkin aku akan tersingkirkan jadi diam saja. kau diam saja!”

Kyuhyun kini terlihat lebih bersungut daripada sebelumnya. Matanya menunjuk perut Songjin bersama dengan dagunya seperti fetus didalam perut Songjin adalah hal yang menggelikan atau musuh bebuyutan yang selalu membuatnya kesal.

“dan lagi, ini kencan yang berbeda. Bukankah biasanya kita hanya menghabiskan waktu dirumah saja dan berakhir diranjang? Itu.. kencan kita kan?” sedikit geli dengan pernyataannya sendiri, Kyuhyun merundukkan kepalanya sambil tertawa.

Hingga Songjin yang sedang kesal pun jadi ikut tertawa. Puas tertawa menghabiskan waktu sampai Kyuhyun menyadari hal yang sama lagi kali ini, “yaa~ kau yakin kau baik-baik saja? wajahmu pucat sekali, ada apa?”

Songjin menggeleng cepat seraya tersenyum tipis sebagai jawaban. Masih menyisakan tawa hingga pelayan akhirnya datang membawkaan pesanan mereka dengan sebuah nampan besar.


2

The Emergency

I think we have an emergency, and you do your best to show me love, but you don’t know what love is. So are you listening? So are you watching me?

Emergency, Paramore

“apalagi yang akan kita lakukan setelah ini?” Kyuhyun menggeleng pelan menjawab pertanyaan Songjin. Memilin rambut panjang cokelat milik Songjin memainkannya.

Keduanya telah menyelesaikan makan malam mereka dan kini hanya duduk seperti manusia dungu karena merasa terlalu kenyang didalam mobil sambil bersantai mendengarkan lagu.

Songjin merapatkan tubuhnya pada Kyuhyun menarik lengan pria itu memeluknya erat. Menjejalkan hidungnya untuk menyesap aroma tubuh Kyuhyun saat diwaktu yang sama, Kyuhyun pun menghidu aroma strawberry shampoo Songjin dalam-dalam. “aku tidak tahu.” Jawabnya dengan mata kosong memadang kedepan. “apalagi yang ingin kau lakukan?”

“apa yang biasanya kau lakukan saat kau berkencan?”

“menghabisi wanitaku diranjang.”

“dengan Gyuwon eonni juga?”

Kyuhyun tersentak, matanya tidak kosong lagi. Melirik Songjin seperti ingin mencekik wanita itu kencang-kencang, namun berakhir hanya dengan menjitak kepala itu pelan, “aku hanya menidurimu. Mungkin kau yang berencana untuk meniduri pria lain?”

“aku tidak secantik itu untuk menggoda para pria agar mereka mau meniduriku.”

“tapi kau selalu berhasil menggodaku.”

“tidak selalu.”

“iya.”

“buktinya kau tidak tergoda untuk meniduriku lagi.”

Kyuhyun tertawa mendengarnya, “aku memiliki batasanku sendiri untuk melakukan hal itu, tapi aku berkata yang sebenarnya. kau memang mampu menggodaku.” Kyuhyun mengeratkan rengkuhannya, kali ini berhenti memainkan rambut wanita barbarnya.

“Jadi… sekarang kau tidak berencana untuk meniduriku?” Songjin bertanya terang-terangan begitu polosnya hingga air wajah Kyuhyun sontak berubah cepat.

Pria itu hanya merasa heran saja, belakangan ini Songjin benar-benar bekerja mati-matian untuk membuat pertahanannya runtuh dan berakhir menyeret wanita itu keatas ranjang bersamanya.

Menggoda habis-habisan sampai melakukan apa yang tidak pernah dilakukannya. Seperti menggunakkan lingerie super tipis, dan jelas sekali bahwa sebelum ini, Kyuhyun membutuhkan kerja ekstra hanya untuk membuat Songjin sudi mengenakan gaun tidur namun tidak pernah berhasil satupun.

“kukira tidak.” Kyuhyun masih terlihat limbung saat menjawab Songjin. Merasakan tangan Songjin, tidak lagi melingkari tubuhnya seperti menemukan perbedaan lain seperti pria itu sebelumnya terbalut selimut tebal lalu kini tidak lagi. Sepasang tangan hangat itu beralih menyentuh perut besarnya. Mengusap berulang kali dengan kencang.

“jadi.. kencan kita sudah berakhir?”

“kukira iya.”

Terdengar suara helaan nafas yang berasal dari dua lubang hidung Songjin. Jelas itu berasal dari wanita itu karena Kyuhyun sedang tidak melakukannya kali ini. “kalau begitu, bisa kita kerumah sakit sekarang?”

“kerumah sakit?” untuk detik awal pandangan kosong Kyuhyun kembali. Tidak benar-benar memikirkan apa yang Songjin pinta kali itu. “kenapa kerumah sakit?”

“karena kurasa… dia sedang memberontak untuk keluar.”

Kyuhyun masih juga belum menemukan titik fokusnya, hingga pada detik kelima pria itu sadar dengan apa yang terjadi dan langsung mengumpat habis-habisan, “Shit!” dia memaki kencang.

Langsung melompat dari jok belakang ke jok kemudi dalam satu kali lompatan saja dan menyalakan mesin mobilnya. “shit shit shit shit!!”

Kaki Kyuhyun langsung menginjak pedal gas. Bekerja sama cekatannya dengan mulutnya yang mengutuk keadaan. Mengutuk situasi. Mengutuk kendaraannya yang tidak berjalan secepat yang diharapkannya. Mengutuk pengendara lain yang menghalangi jalannya. Mengutuk dirinya sendiri, bahkan kini ikut mengutuk bagi Songjin yang sedang menahan rasa sakit dengan mendesiskan suara-suara pelan.

Berusaha meredamnya dengan bibir yang ditutupnya sendiri dengan gigi, mengigitnya. Meremas gagang pintu, meremas jok sampai meremas rambutnya sendiri.

** **

“Kontraksi.”

“Hanya kontraksi.”

“Hanya kontraksi?”

“itu hal yang biasa terjadi dalam proses persalinan, Kyu! kau pernah membaca buku atau tidak sih?”

Mata Kyuhyun memicing. Seakan dengan bersuaranya Songjin, semakin membuat telinganya nyeri atau entah apa. Pria itu terang terangan meremas tangannya sendiri menahan rasa kesal.

“tutup saja mulutmu!” makinya ketus.

“kita pulang saja, ini hanya kontraksi biasa.”

“aku bilang tutup mulutmu!!!”

Belum puas Kyuhyun membuat Songjin tersudut dia lalu kembali menoleh pada perawat didekatnya. Bahkan perawat wanita berpapan nama Jang Juri itu terkesan ikut takut-takut meladeni Kyuhyun seperti layaknya Songjin kali ini. “Apa dokter Han ada?”

“ya, diruangannya.”

“aku bisa bertemu dengannya?”

“tentu.”

Mata Jang Juri memperhatikan sekeliling. Memperhatikan Songjin dan Kyuhyun berulang kali sepeti juga meminta pendapat Songjin apakah aman jika lelaki berkepala panas ini pergi meninggalkannya untuk menemui dokter kandungan tersebut.

Dalam diam Songjin mengangguk lambat, lalu setelahnya, perawat dalam kisaran akhir dua puluhan itu berjalan menjauh darinya. “ikut aku.” Ujarnya kepada Kyuhyun.

“Kau!” Kyuhyun mendadak memutar tubuh sesampainya pria itu diambang pintu. Menunjuk Songjin seperti menunjuk arah bidik senapan. “diam disini dan jangan kemana-mana. Kau dengar? Aku kembali, kau harus masih berada disini!!”

** **

Kyuhyun mengedarkan pandangannya pada sekeliling ruangan. Tidak seperti rumah sakit pada umumnya, ruang kerja Han Eunjung memiliki dominasi warna pink lembut.

Orang yang Kyuhyun kira pada awalnya adalah lelaki mengingat betapa Songjin selalu menggebu saat menceritakan betapa hebatnya dokter kandungan itu memperlakukannya, terkadang membuat Kyuhyun harus mati-matian menahan nafas karena kesal.

Lucu sekali saat bertemu langsung kali ini, barulah Kyuhyun menyadari bahwa orang itu adalah seorang wanita. Selama ini Kyuhyun hanya dapat berhubungan melalui telepon saja. banyak bertanya ini itu, yang pantas dan harus dilakukannya untuk menangani Songjin.

Siwon lebih sering bertemu dengan dokter ini. tapi pria itu pun tidak pernah menjelaskan padanya bahwa dokter ini adalah wanita.

Dan yang Kyuhyun bayangkan jika seorang dokter kandungan adalah lelaki itulah yang membuatnya telah berfikir yang macam-macam.

Rasa malu karena sempat merasa kesal dengan dokter yang ternyata begitu sabar meladeninya dan menangani Songjin, membuatnya kalah telak kali ini. Kyuhyun hanya dapat diam ditempatnya. Bersedekap sambil memperhatikan sekeliingnya. Tembok berwarna soft pink yang tidak banyak ditempel berbagai macam perkakas kesehatan seperti pada ruang kerja seorang Dokter pada umumnya.

“kontraksi rahim itu hal yang wajar. Dalam tahap ini biasanya hal itu akan terjadi setiap 5 menit sekali atau bisa lebih. Setelah itu calon Ibu akan mengalami pembukaan. Maksudku, bagian awal rahim akan semakin membesar, pembukaan 1 sampai 10. Pada pembukaan 10 baru persalinan dapat dilakukan. Itu artinya mulut Rahim telah terbuka sampai 10 senti besarnya.”

Lagi-lagi Kyuhyun mengernyitkan wajahnya. Membayangkan apa yang dokter Han jelaskan padanya membuatnya merinding sendiri. itu artinya pada bagian milik Songjin akan sobek, terbuka, atau entah apa istilah umumnya, sampai sebesar 10 senti.

Dia benar-benar tidak bisa membayangkan lagi bagaimana rasanya nanti. Bahkan sejauh itu, bayinya pun belum dapat keluar.

Berkali-kali Kyuhyun berdehem mengalihkan rasa gugupnya. Dia hanya memainkan tangannya, meremasnya kencang berulang kali. Mengigiti bibirnya. Menggoyang-goyangkan kakinya.

Seluruh tubuhnya sedang tidak bisa tenang sama sekali kali ini.

“itulah yang kumaksud dengan mengapa Songjin sebaiknya tidak melakukan persalinan normal. Karena inkompetensi serviks akan membuatnya.. mungkin tidak bisa mencapai pembukaan 10nya. Itu berbahaya dan karena itu kusarankan Caesar saja. aku tidak mengada-ada untuk masalah itu. Aku menangani beberapa pasienku dengan kondisi yang sama. Beberapa diantaranya sama keras kepalanya seperti istrimu, tapi diakhir waktu mereka tidak sanggup lagi menahan sakitnya hingga menyerah dan memilih Caesar. Apa kita harus menunggu saja sampai Songjin memohon padaku karena dia sudah tidak tahan lagi menahan rasa sakitnya?”

Kyuhyun diam lagi.

Dia benar-benar tidak ingin membayangkan Songjin memohon seperti itu karena telah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya. Tapi wanita itu benar-benar keras kepala dan akan menjadi sangat menyebalkan jika sudah berurusan dengan masalah ini. terbukti berapa lama masalah ini mereka miliki sampai detik ini pun Songjin masih bertahan dengan pendapatnya.

“Jika kontraksi sudah benar-benar semakin sering terjadi, ini umumnya ini menandakan kepala bayi sudah semakin dekat, akan ditandai oleh pecahnya ketuban. Tapi belum tentu juga, ada beberapa diantaranya yang sampai tiba disini, sampai mengalami kontraksi berkali-kali tapi ketuban mereka belum juga pecah. Adalagi beberapa yang memang harus sengaja dipecah oleh kami.”

“sengaja dipecah?”

“Ya. Seperti balon. Sengaja dipecah.”

Mati-matian Kyuhyun menahan rahanganya agar tidak jatuh. Dia benar-benar ingin menyudahi percakapan menyeramkan ini, tapi dia sendiri pun tidak tahu menahu tentang tahap proses persalinan dan harus tahu.

Setidaknya, jika begitu dia akan tahu harus bersikap seperti apa nantinya. Han Eunjung ikut diam. Merasakan ketakutan Kyuhyun, wanita berusia 40-an itu tersenyum tipis, “semua wanita ingin melahirkan secara normal. Kau harus tahu itu. Aku mengerti mengapa Songjin terus memaksa untuk melakukannya secara normal karena dulu, akupun begitu.”

“kau.. terkena penyakit itu juga?”

Han Eunjung mengangguk santai, “ya, Cho K—“

“Kyuhyun saja.” Kyuhyun menepis.

“Kyuhyun-ah. Ya, dapat dikatakan begitu.” Dokter Han mencebikan bibirnya sambil menggidikkan bahu pelan, “tapi pada akhirnya aku melakukannya Caesar.”

“untunglah kau tidak keras kepala seperti Songjin.”

“wanita.” Han Eunjung tersenyum tipis, “kami memang keras kepala, itulah mengapa kami menjadi wanita. Bukan pria.”

“kalau begitu kau juga harus tahu bagaimana sakitnya kepalaku hanya karena masalah ini saja.”

“rileks, Kyuhyun-ah. Hanya itu kuncinya. Kau dan Songjin. Atau mungkin, Songjin yang harus lebih melakukannya, dan yang dibutuhkannya adalah dukunganmu. Sebenarnya, hanya itu saja kuncinya.”

Sambil bersedekap lagi, Kyuhyun menyandarkan tubuhnya dipunggung kursi menjauh dari meja. Pria itu seperti ingin menarik nafas banyak-banyak namun mendadak menjadi kesulitan.

Lucu sekali bahwa dia baru saja diperintahkan untuk rileks saat sesuatu didalam dadanya berdetak begitu cepat seperti ingin melompat keluar sejak tadi. “lakukan jalan-jalan kecil. Songjin membutuhkan itu untuk memperlancar proses persalinannya karena akan melemaskan otot-otot disekitar pinggul, paha, dan perut. Dan mungkin akan lebih membantu pada proses pernafasannya. Kau tidak tahu betapa sesaknya wanita saat mereka dalam proses kelahiran, Kyuhyun-ah”


  3

The Ignorance

You treat me just like another stranger. Well it’s nice to meet you sir! I gues I’ll go, I best be on my way out. Ignorance is your new bestfriend.

Ignorance, Paramore

(H-2)

Songjin tidak berubah.

Dia meninggalkan wanita itu tidak lebih dari 45 menit dan belum ada tanda-tanda bahwa warna pucart diwajah Songjin akan segera berganti dengan warna kemerahan seperti biasanya.

Tidak juga berganti saat wanita itu tertawa sekencang-kencangnya. Warna wajahnya masih pucat. Lengkap dengan ringisan yang disamarkan oleh gigi giginya yang menggigiti bibirnya sendiri.

Siwon pasi sadar, atau Gyuwon juga. Tapi mereka lebih memilih untuk tidak membahas permasalahan itu. Tidak seperti Kyuhyun yang langsung merasa terganggu dengan hal itu dan memilih pergi saja dari kerumunan. Semakin menjauh dari keramaian, menuju balkon.

Setelah sempat berada diruang UGD tadi, Kyuhyun memutuskan untuk menginapkan Songjin dirumah sakit saja. bukan masalah jarak dari rumahnya ke tempat ini. tapi dia tidak mengetahui apapaun, dia juga tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk menangani Songjin nanti, jika sewaktu-waktu wanita itu mulai merasa kesakitan lagi seperti tadi.

Maka saat ini, kamar rawat inap luas pada lantai 10 itu tidak terasa seperti sebuah kamar rawat rumah sakit setelah Siwon dan Gyuwon datang. Mereka bergelut, bergurau, dan memaikan segalanya ditempat itu. Berisik. Tapi terasa lebih baik. Setidaknya lebih baik dari pada hanya diisi oleh pasangan barbar yang sedang berperang dingin kali ini.

Bersyukurlah bahwa mereka tidak harus berbagi kamar dengan siapapun karena kamar berukuran lebar itu hanya diperuntukkan bagi satu pasien saja hingga tiga orang itu dapat bermain hingga jika saja ingin berlarian dari sudut kesudut.

“Hey, omong-omong kau sudah menyiapkan nama?”

“nama?”

“Ya. Nama. Kau akan memberinya nama, kan? kau tidak mungkin memanggilnya sepanjang hidupmu atau membuat orang-orang memanggilnya dengan panggilan ‘Hey kau!’ iyakan?”

Gyuwon ikut tertawa bersama Siwon. Memukul pria kekar itu kencang setelah pria itu berbicara begitu cerdas, tapi juga bodoh disaat yang sama. “Cho Hyun Gi, eotte?”

“Hyun Gi?”

“Hyun kuambil dari nama belakang Kyuhyun dan Gi kuambil dari nama belakang ayahku Seul Gi. Eotte? Bagus kan?”

Siwon diam. Begitupun dengan Gyuwon. Tapi yang lebih merasa terhantam kali itu ialah Kyuhyun. Tubuh pria itu menegang tapi tetap saja menolak untuk menoleh walaupun hanya untuk sekedar mengatakan bahwa itu adalah nama yang pantas, atau bahkan jika ingin menolak, jika menurutnya itu nama yang buruk.

Yang Kyuhyun lakukan hanyalah menganggukan kepalanya ringan didalam kegelapan untuk menyetujui kata-kata Songjin sambil masih saja terus meremasi tangannya sendiri. ingin menghilangkan rasa gugup serta amarah, tapi ternyata, prakteknya tidaklah semudah itu.

“Jadi, Hyun Gi huh?”

Kegugupan Kyuhyun berubah menjadi keterkejutan saat Donghae menghampirinya tiba-tiba. Entah kapan dokter itu masuk kedalam ruang kamar nomor 1010 itu. Bahkan sejak tadi yang Kyuhyun dengar adalah suara Siwon atau Gyuwon.

Kyuhyun memandang sengit kearah Donghae. Pria itu tidak terlihat menggunakan jasnya. Pakaian kebesaran dokter itu entah berada dimana. Jika begitu, mungkin ini artinya sekarang bukanlah waktu kerjanya.

“aku tidak tahu.” Kyuhyun menggerakkan bahunya pelan setelah rasa terkejutnya berangsur menghilang. “itu idenya. Bukan ideku.”

“Jadi, kau tidak setuju?”

“apa aku bilang aku tidak setuju?” Kyuhyun bersuara jengkel lagi. “Cho Hyun Gi tidak terdengar buruk. Lumayan. Mungkin karena ada namaku juga disana hingga itu terdengar keren.”

“Cih!” Donghae ikut menyandarkan tubuh dibesi balkon. Tidak seperti Kyuhyun yang mengarah pada jalan raya kota seoul, Donghae mengarahkan tubuhnya pada sliding door kaca yang terbuka lebar sambil memperhatikan Songjin, Siwon, dan Gyuwon yang sedang saling mengejek satu samalain. “aku harap anakmu nanti tidak mewarisi sifat narsismu karena itu cukup menjijikan, kau tahu?”

“tapi akan lebih baik daripada dia mewarisi isi kepala Songjin. Aku tidak tahu bagaimana caranya meladeni dua orang bodoh sekaligus.” Kyuhyun terdengar jelas mengejek wanitanya mentah-mentah, tapi berbeda karena kali ini dibubuhi tawa pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Sedangkan Donghae tersenyum lebar mendengarnya. Telinganya baru saja mendapatkan lampu hijau bahwa suasana hati Kyuhyun sedang membaik sedangkan disaat yang sama, wanita barbar itu tampak meringis kesakitan lagi.

Kontraksi lainnya. Terjadi lagi.

Mungkin itulah mengapa Kyuhyun tidak menghadapkan tubuhnya pada ruangan mewah dibelakangnya dan lebih memilih untuk menikmati gemerlap kota Seoul dari ketinggilan lantai 10 sebuah gedung rumah sakit.

“tidak perlu gugup. Kau tenang saja seluruh dokter disini berpengalaman. Mereka tahu cara terbaik untuk menangani Songjin.”

“apa kau sedang memuji dirimu sendiri?”

Donghae tersentak. Terkejut sesaat baru kemudian menyadari apa yang dikatakannya dan menyadari statusnya sebagai dokter ditempat ini. benar saja Kyuhyun berkata begitu. “kalau menurutmu begitu…” Donghae menggidikkan bahunya santai, lalu ikut memutar tubuh menghadap arah yang sama seperti Kyuhyun.

“apa kau pernah menghamili seorang wanita?”

“Huh?” lagi-lagi Donghae terkejut dengan pertanyaan ceplas-ceplos Kyuhyun saat itu. Wajahnya mendadak menjadi kencang. “kau gila?”

“apa kau tahu bagaimana rasanya menjadi seorang suami dengan istri yang sedang mengandung tapi bukan dalam kondisi kandungan yang baik-baik saja? kau tahu Songjin terkena inkompetensi serviks?”

“aku tahu yang itu. Tapi—“

“dan apa kau tahu bagaimana rasanya berada diposisi terjepit, saat kau was-was menanti anakmu lahir. Merasa bersemangat dan medadak senang Karena hal itu, tapi disaat yang sama, kau tahu bahwa itu tidak akan menjadi baik-baik saja untuk istrimu? Apa kau tahu rasanya? Kau pernah merasakan takut bahwa kau akan ditinggalkan oleh orang yang menurutmu penting? Bagaimana kalau setelah ini kau tahu bahwa Eun Soo mengalami kecelakaan dan koma?”

“YAA!” kepalan tangan yang menjadi sebuah tonjokan ringan hinggap dilengan Kyuhyun pemberian Lee Donghae. Pria itu mendesis kesal tapi kemudian diam karena menyadari betapa kalutnya Kyuhyun kali ini.

Jadilah malam itu, terdapat dua lelaki tanpan didalam kamar rawat inap nomor 1010 yang tidak benar-benar bisa untuk memaksakan wajah terstel ceria. Keduanya tampak muram. Diam dengan pemikiran mereka masing-masing.

Memandang betapa banyaknya mobil yang berlalu lalang, padahal jelas kini waktu telah menunjukan tengah malam. Saling meremas tangan masing-masing, karena bingung harus menyalurkan rasa takut kemana. Tidak dapat saling menguatkan, karena pada diri masing-masing, memiliki jumlah ketakutan nyaris sama.

Dalam hening Donghae tersenyum tipis, matanya menerawang jauh kedepan, “kau tahu dimana pertama kali aku bertemu dengan Songjin?” ucapnya pelan. “disana.” Dia menunjuk sebuah halte bus tepat didepan pagar besar rumah sakit. Menunjuk kearah bagunan permanen yang memiliki atap dari sebuah atap transparan.

Donghae lalu melirik jam tangannya dan kembali tersenyum. “tepat jam 12 malam. Seperti saat ini.” gumamnya halus. Lalu melanjutkan kalimatnya dengan tawa ringannya saja membayangkan saat wanita brutal itu tanpa sengaja terpeleset karena jalanan dipenuhi kerak es mengingat itu adalah musim dingin.

Kyuhyun diam setelah sebelumnya pria itu hanya membalas nostalgia Donghae dengan desisan sinis mencibir— lengkap menunjukan wajah ketusnya, “romantic sekali.” Kyuhyun berucap begitu sinis.

“kau benar-benar pecemburu yang menyebalkan. Kau tahu, saat itu Songjin pingsan. Pingsan karena terpeleset dan membentur tiang halte bus. Aku jamin kau tidak ingat atau bahkan tidak tahu yang satu itu.”

“aku?” Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri. wajahnya tampak terkejut. Atau mungkin.. lebih tepat dikatakan pura-pura terkejut saja. “aku tidak tahu? Aku tinggal bersamanya bagaimana mungkin aku tidak tahu dan tidak sadar?” pria tinggi itu mendesis sambil menggelengkan kepala merasa heran saat semua orang kala itu benar-benar terkesan menyudutkannya.

Kyuhyun memutar tubuhnya, bersandar pada pagar balkon. Akhirnya dapat melihat Songjin yang telah berganti pakaian menjadi piyama rumah sakit. Wanita itu tersenyum tipis padanya, tapi Kyuhyun Nampak masih malas menanggapinya hingga hanya membuang wajahnya cepat-cepat. “aku tahu saat itu dia terjatuh. Aku melihat lukanya. Aku mengganti perbannya.”

Donghae mencebikkan bibir melirik Kyuhyun malas, “aku bersunguh-sungguh. aku melakukannya.” Kyuhyun tampak tidak terima ketika Donghae menumpahkan tatapan seolah dirinya adalah seorang pembohong. “aku melakukannya tanpa Songjin tahu. Saat itu dia sedang tidur, kau tahu?” Kyuhyun bersedekap.

“malam itu aku menunggunya pulang. Tapi Songjin tidak juga kembali sampai tengah malam. Sampai aku mendengar pintu terbuka pada jam 2 pagi. Kau tidak tahu betapa sebelumnya, aku mengira dia hilang atau diculik. Songjin tidak cukup cerdas untuk mengingat sebuah rute. Bisa saja dia bertemu dengan temannya, mabuk lalu lupa jalan pulang.”

“dia tidak mabuk. Dia bersamaku.”

“aku ingin marah karena sadar bahwa Songjin pulang ditengah malam seperti itu. Apa yang dilakukannya? Bersamamu? Dia seorang wanita dan kau pria. Bukan hanya aku yang bisa berfikir macam-macam. Dan pulang sendirian ditengah malam? Kau tahu itu berbahaya untuk wanita? Aku bahkan tidak pernah membolehkan Ibuku melakukannya!”

“kau berfikir terlalu jauh. Kami tidak melakukan apapun. Sama sekali tidak.”

“siapa yang tahu?” Kyuhyun melirik bengis. Matanya mengkilat tajam, dua tangan didalam lipatannya mengepal kencang. “tapi aku ingat, mungkin Songjin bosan karena aku tidak pernah memiliki waktu untuknya saat aku sedang sibuk dengan Gyuwon. Bukannya aku tidak memprioritaskan istriku sendiri, tapi dalam kondisi itu, Songjin berada pada posisi baik-baik saja sedangkan seseorang— orang lain disekitarku itu sedang terancam mati. Kau seorang dokter, kau tahu siapa yang harus kau dahulukan saat kau berada diposisi seperti itu. Jadi aku tidak bisa memarahinya karena dia pulang larut. Aku harus bertingkah baik-baik saja. Bahwa tanpa sengaja aku tertidur diruang makan sampai dia menghampiriku, baru aku bisa meneliti seluruh tubuhnya dengan cepat melihat apakah sesuatu terjadi dengannya? Apa dia baik-baik saja? lalu aku melihat perban kecil itu dan lagi-lagi aku harus berpura-pura bodoh seperti hal itu tidak menggangguku, padahal aku benar-benar terkejut melihatnya pulang dengan lilitan sialan itu dikeningnya. Dan esok harinya, aku harus menunggu sampai dia tertidur dulu untuk mengganti perban itu dan melihat separah apa luka pada pelipisnya.”

“well—“ Donghae menarik nafas dan menahannya lama. Diam lalu ikut berputar. Kembali mendapati Siwon, Gyuwon Songjin, dan kini satu anggota bertambah lagi dengan hadirnya Eun Soo disana.

Donghae menggosok tengkuknya seraya tersenyum canggung. Bingung harus berkata apa, setelah Kyuhyun berbicara begitu panjang, menjelaskan hal menyedihkan itu denga nada seperti pria itu sedang mengadu padanya. Dia tertawa. Pelan, lalu lama kelamaan menjadi kencang dan mengencang.

“itu…. Saat itu kalian masih sama-sama bertingkah tolol dengan tidak mengatakan bahwa kalian saling menyukai?” Donghae meledek.

Kyuhyun melirik sinis, “aku mengira dia menyukaimu! kalaupun aku harus memaksanya agar dia menyukaiku, itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar!”

“tapi dia memang menyukaiku.”

“sayangnya, seleranya tidak serendah itu.”

Donghae mencebikkan bibir seraya membuat lipatan-lipatan tipis pada keningnya, “Yeah.. tapi setidaknya ketika itu, aku selalu ada untuknya sedangkan kau tidak. Karena kau sibuk dengan urusanmu sendiri.”

Alis Kyuhyun meranjak naik. Donghae sedang terang-terangan mengajaknya bergulat atau apa? Pria itu jelas-jelas tanpa ragu membuatnya ingin melempar dokter dengan tinggi tidak lebih daripadanya itu dari lantai 10 ini. “kau tidak mengerti maksudku?” namun lalu alis Donghae ikut meranjak naik. “maksudku, jangan lakukan hal yang sama lagi. Berhenti bersikap keras kepala dan lihat betapa Songjin sedang dalam kondisi tidak nyaman. Kau masih juga tega meninggikan egomu? Kalau Songjin sudah keras kepala, kau tidak harus melakukan hal yang sama kan? kukira kau bisa bersikap lebih dewasa daripada Songjin. Kyuhyun-ah, Songjin sedang membutuhkan dukunganmu.”

Donghae mengernyit kepada Kyuhyun. Membuang nafasnya kasar, menepuk bahu Kyuhyun kencang sebelum pergi menghampiri empat orang didepannya, yang sedang membuat sebuah lingkaran entah memainkan permaian apa.


4

Our Fears

I would never leave you alone. Sometimes I just forget say things I might regret. It breaks my heart to see you crying. I don’t wanna lose you, I could never make it alone.

The glory of love, Peter Cetera

“kau tahu, menurutku hidup itu seperti hujan. sebentar tapi nyaman, atau nyaman tapi sebentar??” Songjin tampak berfikir karena kalimatnya sendiri. memutar mata mengerutkan kening tapi terus memainkan topi milik Siwon ditangannya. “ah, nyaman tapi sebentar. Iyakan Oppa?”

Alis-alis Siwon bergerak saat pria itu melirik pada Gyuwon dan Eun Soo. Lalu mengadahkan wajah kepada Kyuhyun didepannya. Pria yang sedang berdiri santai bersedekap memperhatikan mereka dalam diam sejak tadi.

Sama sekali tidak ikut berpartisipasi dalam percakapan sekecil apapun yang mereka buat. Tangannya memeluk Songjin, menyambar topi miliknya dan memainkan penutup kepala itu.

Tidak langsung dapat menjawab karena memiliki beberapa alasan sendiri selain tentu merasa tidak sependapat dengan wanita berambut panjang cokelat itu dan alasan terutama, adalah Kyuhyun yang memberikan tanda padanya untuk menyingkir mengganti posisinya sebagai bantal Songjin ketika itu bagi pria itu.

“kau tahu, aku lapar. Aku belum memakan apapun sejak pagi tadi jadi kukira aku harus membeli sesuatu dulu. Aku kecafetaria dulu.” Siwon menepuk lengan Songjin menyingkirkan wanita itu agar tidak bersandar padanya lagi.

Siwon lantas menepuk-tepuk seluruh tubuhnya seperti menghilangkan debu karena pria itu baru saja berguling-guling diatas pasir. “ayo.” Dia mengajak Gyuwon kemudian.

“aku juga lapar. Aku ikut.”

“ini jam 2 pagi. Kukira seorang model sepertimu akan memiliki dosa besar jika memasukan karbohidrat pada jam-jam seperti ini.” Gyuwon tampak terkejut mengernyitkan wajah kepada Eun Soo.

Wanita berkaki jenjang dengan tinggi 178 itu pun ikut mengernyit sama seperti pasangan Choi tersebut. “dan siapa yang berkata bahwa aku akan memasukan karbohidrat kedalam lambungku?” alis tegas itu meninggi salah satunya. “for your information, fruit isn’t a carbohydrate. You got it?”

“Eyyyy—“ Siwon dan Gyuwon kompak mengibaskan tangannya diudara mencela dan Songjin tertawa melihat Eun Soo yang kalah telak, walau apa yang dikatakannya memang benar adanya.

Sedangkan Donghae yang tadi berada disini, telah menghilang menuju ruangannya untuk menyelesaikan beberapa laporan miliknya yang dikatakannya telah terbengkalai lama karena terlalu banyak mengerjakan hal lain.

Sepeninggal Eun Soo Gyuwon dan Siwon yang Songjin lakukan hanyalah diam ditempat yang sama. Memainkan remote televisi, mencari acara kartun dan memperhatikannya. Bukan menonton.

Atau sesekali, wanita itu mengecek ponselnya. Seperti akan terjadi perubahan signifikan setelah setiap tiga detik matanya memicing serius pada layar hitam gadget canggih tersebut.

Kyuhyun tidak diam ditempatnya. Lelah berdiri terlalu lama, pria itu beranjak pindah menuju meja makan bundar disamping perapian. Merogoh sakunya mengeluarkan ponsel, lalu dalam sedetik saja, pria itu telah sibuk dengan alat canggih nan mahal miliknya.

Songjin, ponsel tipis berwarna putih miliknya itu bergetar. Mengeluarkan suara dentingan ringan tanda sebuah pesan singkat masuk. cepat-cepat Songjin menarik ponselnya lagi dari atas meja, dan wanita itu tampak terkejut melihat nama Kyuhyun muncul dilayarnya.

Hai

3 huruf saja rangkaian kata yang mata Songjin lihat. Wanita itu tampak heran dan tidak mengerti dengan yang sedang terjadi, atau Kyuhyun inginkan. Sejak tadi pria itu mendiamkannya lalu sekarang, padahal mereka merasa ditempat yang sama.

Songjin melirik Kyuhyun jauh disampingnya. Pria itu duduk disebuah kursi dengan kepala merunduk memegangi ponselnya diam. Tangan satunya lagi berada diatas meja. Mengetuk-ketukan jari-jarinya pada meja kaca disana. Tampak jelas seperti menunggu sesuatu.

Songjin mengernyit lagi menoleh pada ponselnya, lalu kembali pada Kyuhyun dan begitu terus dilakukannya sampai suara dentingan lainnya mengejutkannya lagi.

Tidak ingin bicara denganku? 😦 

Songjin tampak terkejut lagi dengan pesan singkat keduanya. Dia melirik pada Kyuhyun lagi namun pria itu masih dalam posisinya semula. Merunduk memandangi ponselnya seperti orang bodoh.

Jari-jari Songjin lalu bekerja lebih cepat diatas layar ponselnya. Suara dentingan yang sama terdengar lagi namun bukan pada ponselnya. Kini Kyuhyun lah yang mengangkat wajahnya.

Menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi mengangkat ponsel sampai setinggi wajahnya.

Kukira kau yang tidak ingin bicara denganku. kau sudah tidak marah lagi?

Bunyi dentingan terdengar lagi. Kini Songjin lah yang mengangkat ponselnya setinggi wajah.

Aku masih marah. Tapi aku ingin menciummu, aku harus bagaimana?

Songjin tertawa tanpa bersuara sambil menutup wajahnya yang mendadak memanas. Wanita itu lalu melirik pada Kyuhyun disebrangnya masih menyisakan tawa tipisnya.

Kyuhyun tampak bersusah payah menarik sudut-sudut bibirnya untuk melengkungkan garis yang sama, seperti yang sedang Songjin lakukan untuknya. Pria itu terlihat canggung dan kaku. Masih juga belum mau beranjak dari tempatnya saat matanya terlah bersiborok dengan milik Songjin.

Kalau menginginkannya, sebaiknya kau kemari.

Songjin tersenyum sekenanya setelah mengirimkan pesan itu lagi kepada Kyuhyun. Suara dentingan mendandakan pesan telah masuk. Kyuhyun mengangkat ponselnya lagi, dan tidak butuh banyak waktu untuk membuat pria itu melengkungkan senyuman lebar.

Pria itu lantas mengangkat wajah menoleh pada Songjin. Wanita itu menepuk-tepuk lahan kosong disofa tempatnya duduk sambil menyengir kuda begitu polosnya. Lalu mengisi seluruh lahan kosong disana dengan kakinya— duduk berselonjor melipat kaki. Bersandar pada tangan kursi mengharap pada arah Kyuhyun.

Kalau posisimu seperti itu, lebih baik aku tidak menghampirimu. Aku tidak bisa mengontrol tubuhku sendiri saat sudah bersentuhan denganmu, kau tahu? Bagaimana kalau kau yang kemari?

Songjin mengernyitkan keningnya lalu menggelengkan kepala sebagai jawaban kepada Kyuhyun. Pria itu menggerakan bahunya tanda sama putus asanya seperti Songjin.

Tidak.

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya menjadi tampak menggemaskan. Bertingkah seperti balita yang tidak mendapatkan jatah mainannya lagi-lagi mampu membuat Songjin tertawa walau kepala wanita itu tetap saja menggeleng tanda menolak.

Satu menit..

Dua menit…

Tiga menit…

Songjin mendadak dikejutkan dengan sofanya yang bergerak-gerak kencang secara bergelombang. Lalu dikejutkan lagi dengan kehadiran Kyuhyun yang memblokir arena pernafasannya.

Tanpa berkompromi, tanpa banyak berbicara, Kyuhyun langsung meraup bibir Songjin mengejutkan wanita berperut besar itu ketika Songjin sedang bermain games dari ponselnya.

Ponsel naas itu tergeletak begitu saja dilantai setelah tidak sengaja terlempar. Dua tangan Songjin kemudian berganti melingkar pada bahu tegap Kyuhyun. Jika bernafas adalah hal yang penting dan jika berciuman dengan lelaki bertubuh tinggi ini membuat arena pernafasan Songjin sempat terblokir, maka kini Songjin tidak butuh hidungnya lagi untuk bernafas.

Raupan brutal itu selesai saat Songjin mendadak merintih dan beralih memegang perutnya, tidak lagi mengalungkan tangannya di bahu Kyuhyun.

Appo?” suara Kyuhyun terdengar serak. Songjin hanya tersenyum tipis seraya menggeleng. Jawaban standar yang telah Kyuhyun tebak sebelumnya. Pria itu hanya menghembuskan nafas panjangnya perlahan.

Kyuhyun mengusap wajah Songjin lembut menggunakan buku jarinya. Menyelipkan rambut wanita itu kebelakang telinganya lalu lagi-lagi memajukan wajah.

Tertawa ketika melihat Songjin langsung menutup wajahnya lagi dan menekan hidung wanita tersebut dalam-dalam. “bodoh!” cibirnya bersuara halus. Pada hitungan kelima bibir tebal Kyuhyun telah menempel lagi dikulit wajah Songjin.

Kali ini kening mulusnyalah yang menjadi sasaran. Sempat membuat Kyuhyun kembali tertawa lirih ketika mengingat betapa semula Songjin telah begitu percaya diri bahwa dia akan mencium wanita itu dibibirnya lagi.

Kyuhyun mengulangnya berkali-kali. Menempelkan bibirnya pada kening Songjin dan menghidu aroma rambut wanita bermata bulat besar itu. “mau jalan-jalan?”

“aku boleh keluar dari sini?”

“tidak keluar untuk kembali kerumah—“ Kyuhyun menarik diri menjauh. Memandangi Songjin lengkap, dari atas kepalanya hingga ujung kaki wanita itu. “tapi berjalan-jalan disekitar tempat ini saja.”

Mendengarnya, Songjin langsung mendesis. Nyaris memelototkan mata pada Kyuhyun jika saja pria itu tidak sedang memandanginya dengan wajah mengeras. Songjin kembali merundukan kepalanya. Memungut ponselnya lalu memainkan benda itu dengan bibir mengerucut.

“kau baru mengalami kontraksi. Belum ada pembukaan sama sekali, aku tidak bisa mengambil resiko dengan membawamu pulang.”

“……….”

“baikah-baiklah…. Mungkin kita bisa berjalan-jalan menyusuri beberapa tempat disekitar sini.”

“…………”

“Hey!” Kyuhyun mencolek kaki Songjin berkali-kali menggoyang-goyangkannya. “kukira kita sudah berdamai.”

Bibir Songjin semakin mengerucut saja dan Kyuhyun hanya dapat mendesis, “mau kucium lagi? Ada apa dengan bibirmu itu?” Kyuhyun menyilangkan tangannya didada.

Kini Songjin lah yang mendengus kencang. “aku tidak mau. Lagipula untuk apa? Pagi buta begini tidak ada pusat perbelanjaan yang buka!”

“aku tidak ingin mengajakmu mendatangi pusat perbelanjaan. Aku mengajakmu berjalan-jalan.”

“apa bedanya?”

Kyuhyun menarik ulasan senyum miringnya sesaat. Menggeleng-geleng mencoba memaklumi lagi kekeras kepalaan, kebodohan dan seluruh sifat menyebalkan Songjin padanya. Lagi.

Pria itu mengusap wajahnya menahan kekesalan. Lalu mendekat pada Songjin lagi, mengusapi wajah halus milik wanita itu dengan buku-buku jarinya. Menggerakkannya seperti kulit itu adalah selembar kain sutera halus. “jelas berbeda. Aku bukan ingin mengajakmu berbelanja. Hanya berjalan-jalan.”

“aku tidak ingin berjalan-jalan. Aku tidak suka dengan pakaian rumah sakit ini. ini membuatku terlihat buruk.”

“kau boleh memakai jaketku.”

“tidak mau!”

“kau harus mau, sayang.”

Songjin kembali bersungut. Meletakkan ponselnya dipangkuan dengan kasar lalu menengadahkan wajahnya pada Kyuhyun. “kenapa memaksa?!!” omelnya kencang. Tidak membuat Kyuhyun ikut tersulut emosi kali ini. berbanding terbalik dengan kebiasaan sebelumnya, pria itu kini tersenyum lebar. Masih merasakan halusnya kulit wajah Songjin sepuasnya.

Mendekatkan bibirnya pada leher wanita itu, mengecupi lahan tersebut begitu lembut. Seperti sedang menggoda, atau memang itu adalah caranya lagi untuk membuat Songjin si wanita barbar menjadi jinak.

Lebih keparat adalah, ketika Songjin tahu bahwa Kyuhyun hanya sedang mencoba untuk membuatnya tidak bertahan pada pendiriannya lagi. Dan sialnya, dia sendiri tidak dapat menolak, atau menjauh jika pada dasarnya, sentuhan Kyuhyun memang selalu sanggup untuk membuat pendiriannya runtuh seperti tembok yang baru dihantam bandul besi berukuran besar.

Bibir Kyuhyun berhenti tepat disamping telinga Songjin. Bertindak jahil mengigitinya perlahan-lahan sampai mulutnya kemudian terbuka kecil, “karena aku ingin membuat otot pinggul, paha dan perutmu menjadi lentur, tanpa harus bercinta denganku kali ini.” bisik Kyuhyun begitu keparat tanpa rasa bersalah— tanpa menyadari apapun bahwa tubuh Songjin tengah menegang kaku akibat suara, sentuhan dan segala ide-ide gila ciptaan wanita itu sendiri sesaat setelah Kyuhyun menyapukan bibirnya tadi.

** **

“aku tidak suka pakaian ini!!!!”

Ini sudah keempat kalinya Songjin menggerutu tentang pakaian rumah sakitnya. Yang katanya memiliki model buruk. Sama sekali tidak keren, tidak up to date, dan membuatnya terlihat lebih gemuk.

Sedang Kyuhyun yang semakin bosan mendengar wanita bodohnya itu terus saja mengeluh langsung menghentikan langkah Songjin dengan memblokir jalannya. Melepas jaket yang dikenakannya, lalu langsung memasangkannya pada tubuh Songjin, tanpa banyak bicara.

Pun hal itu masih membuat bibir tipis Songjin mendesis jengkel. Kyuhyun mengecupnya kilat dan menautkan tangannya pada milik Songjin lantas membawa wanita itu kembali berjalan menyusuri trotoar.

Telinganya sengaja ditulikan saat mendengar suara Songjin, lagi-lagi masih saja mengeluhkan pakaian ditubuhnya. Entah apa yang salah dari piyama two piece itu. Modelnya memang membosankan hanya dengan bentuk polkadot-polkadot berwarna putih dan biru, tapi itu bukan alasan yang tepat juga, untuk mengeluhkan pakaian ini apalagi berkeinginan untuk merobek dan membakar pakaian ini seperti yang Songjin selalu katakan.

Wanita itu ingin melepas pakaian ditubuhnya itu dan segera membakarnya. Membuang sisa abu pembakarannya ke Sungai Han sebagai penghormatan terakhir bagi buruknya perjalanan fashion rumah sakit, semewah apapun rumah sakit itu.

Kyuhyun membawa Songjin menyusuri trotoar yang kosong dalam diam. Hanya beberapa mobil dan bus saja yang melintas. Jalanan belum banyak terisi mengingat jam baru menunjukkan pukul 3 dini hari.

Hawa dingin sisa musim dingin memang terlalu sialan. Membuat Kyuhyun yang semula memberikan jaketnya kepada Songjin, kini seperti menyesal setelah merasakan tubuhnya terhempas udara dingin yang menusuk.

Ditambah udara malam yang memang selalu terasa dingin. Tapi itu lebih baik daripada membiarkan Songjin terus mengoceh mengenai pakaian yang tidak disukainya itu.

Kyuhyun menarik Songjin memasuki sebuah supermarket 24 jam yang matanya pertama lihat. Menyeret wanita itu untuk berjalan lebih cepat tidak bergerak seperti kura-kura lagi.

Didalam supermarket itu, Kyuhyun langsung berjalan cepat mendahului Songjin menuju bagian buah. Bibirnya melengkungkan garis terbalik saat tidak mendapatkan apa yang dimaksudnya, “tidak ada strawberry, eotte?”

Songjin nyaris mengerang, melihat Kyuhyun bertingkah seperti sedang ber aegyo. “menjijikan.” Wanita itu mendesis diam-diam seraya berjalan menghampiri Kyuhyun. “lupakan saja strawberry itu sebentar. Aku butuh pakaian!”

Wajah Kyuhyun tampak kecut. Matanya menelusuri tubuh Songjin berulang kali atas dan bawah, “tapi kau memakai pakaian.”

“aku ingin pulang. Mengambil pakaianku.”

“pulang?” alis Kyuhyun terangkat satu begitu tinggi. “tidak.” Jawabnya tegas.

“kalau begitu belikan aku pakaian!! Aku benar-benar tidak ingin memakai pakaian ini!!” bibir pink itu menggerutu.

Kakinya berjalan cepat menuju pintu otomatis— keluar. Lalu terhenti mendadak karena merasakan kontraksi lainnya. Yang lantas membuat Kyuhyun tampak panic untuk sesaat.

Pria itu berdecak lagi seraya menghela nafasnya panjang, “aku akan pulang mengambil pakaianmu.” Tukas Kyuhyun tertahan. Melirik Songjin dari balik bulu matanya jengkel, “nanti.” Pria itu menegaskan tajam.

Dibiarkannya Songjin yang mendengus. Songjin yang menghentakkan kaki tidak perduli jika saja terjadi sesuatu dengan perutnya nanti. Songjin yang menggerutu dan Songjin yang tampak bosan dengan aktivitas mereka kali itu.

Kyuhyun mengeratkan tautan tangannya pada milik Songjin. Merasakan udara dingin yang menghempasnya. Membuatnya harus terlihat baik-baik saja dan tidak mengigil agar Songjin tidak menertawainya karena tadi, baru saja bertingkah seperti pahlawan kesiangan dengan memberikan jaketnya sendiri.

“aku takut. Kau tahu?”

Suara tenang Songjin memecah keheningan diantara mereka. Wanita itu terus berjalan santai beriringan bersama Kyuhyun. Mengayun-ayunkan genggaman tangan mereka memainkannya.

Masih dalam kondisi setengah tenang setengah panic karena kontraksi Songjin terjadi lagi, Kyuhyun membuang wajahnya menoleh pada Songjin. Menelurusi garis wajah wanita itu perlahan-lahan.

Hatinya mendadak terisi semburat kegembiraan ketika dia kembali mengingat apa yang dokter Han sampaikan padanya tadi, bahwa akan tiba masanya saat wanita-wanita itu akan merasa tidak sanggup menahan rasa sakitnya, lalu menyerah dan memilih untuk melakukan metode persalinan Caesar saja.

“sudah kubilang, lebih baik Caesar saja.” Kyuhyun menyengir lebar, namun lalu pupus saat Songjin menggelengkan kepala, jelas lugas menolak. “bukan tentang persalinanku. Tapi tentang keselamatan anak ini nanti. Aku berusaha semampuku. Kau tahu? Tapi kadang, manusia hanya dapat berusaha semampunya saja kan? hasil tetap saja bukan ditanganku. Kau tahu sejauh apa tentang inserviks kompetensi?”

Bahu Kyuhyun bergidik pelan. Pria itu bungkam— hanya menyetel wajahnya agar tetap tenang, dan tidak memunculkan gurat kekecewaan berlebih.

Kyuhyun memandangi sekelilingnya. Masih sepi dan begitu lengang. Kalau dia berteriak saat ini untuk menyalurkan segala kekesalannya, mungkin hanya akan beberapa orang saja yang melihatnya.

Reaksi yang dihasilkan tidak akan serepot ketika pria itu melakukannya disiang hari atau minimal, pada saat matahari telah berada diatas kepala. Tapi lagi, berteriak sepertinya terlalu ekstreem untuk dilakukan, mengingat betapapun kencangnya dia melakukannya, bahkan jika sampai memutus pita suaranya pun Songjin tetap akan berpegang teguh pada pendiriannya.

Wanita itu tidak pernah sekeras kepala ini sebelumnya. Ini adalah kali pertama Kyuhyun merasa bahwa Songjin benar-benar serius dengan apa yang diinginkannya.

Dia sadar, bahwa itu bukanlah keinginan yang salah. Tidak ada yang salah. Kondisilah yang patut dipersalahkan.

Mulut Kyuhyun yang terkatup terbuka. Pria itu banyak sekali menyimpan kata-katanya sedari tadi. mulutnya telah terbuka lebar namun sayang suaranya tidak meloncur semudah mulutnya terbuka.

Maka yang ada, mulutnya hanya terbuka dan terkatup lagi berulang-ulang kali. Itu membuatnya tampak seperti ikan yang kehabisan air untuk bernafas. “aku takut.” Kyuhuyn mengeluarkan suaranya begitu pelan.

Terdengar hanya seperti gumaman saja kepada lalat yang melintas, atau pada udara kosong yang berhembus. “masih banyak sekali hal yang ingin kulakukan— denganmu.” Kyuhyun memandang Songjin kosong untuk sesaat dengan mulutnya yang terkatup.

Terlihat pasrah dan kehilangan kendali. Kosong melompong seperti kehilangan tulang sebagai penyangga daging dan kulitnya.

Untuk beberapa saat, Songjin merasa genggaman tangan Kyuhyun ditangannya tidak seerat biasanya. Tidak sehangat biasanya. Tidak senyaman biasanya.

Wanita itu hanya tertawa canggung, berharap dengan hal tersebut, suasana canggung yang tanpa sengaja tercipta dapat berubah membaik, yang sayangnya tidak. “kau ini lucu.” Kekehnya, “bertingkah seperti aku akan mati saja.”

Tangan Songjin mengibas diudara persis didepan wajah Kyuhyun. “bagaimana kalau iya?”

huh?”

Kyuhyun berhenti berjalan. Menghadap Songjin meremas dua bahu Songjin kencang. Dua detik kemudian langsung menarik wanita itu menjejalkan wajahnya pada lekukan bahu dan leher Songjin, “kau harus selalu bersamaku. Kau tidak boleh kemana-mana. Aku bisa saja melakukan semuanya sendiri, tapi aku tidak ingin melakukannya sendirian.” Suara Kyuhyun melintas ditelinga Songjin terdengar bergetar. “aku menyayangimu. Aku benar-benar sangat menyayangimu, kau tahu tidak?”

to-be-continued

PS: sebenernya cerita ini tadinya mau aku posting dari beberapa hari yang lalu, tapi waktu aku bilang aku masih nungguin beberapa hal penting itu, aku nunggu otak aku mudeng sama proses persalinan normal yang aku tonton diyoutube. ada yang masih bikin aku bingung sebelumnya, dan aku gak mau sembarangan nulis tentang cara ngelahirin yang agak sotoy -__- dan niatku juga pengen gambarin susahnya perempuan ngelahirin biar kita gak kurang ajar mulu sama mama hahaha gaya!

lagipula, aku bingung mau ngebagi KyuJin edisi ini keberapa part karena kalo chaptered takut kesedikitan, twoshot kebanyakan, oneshot kepanjangan. tapi pas aku pikir-pikir ulang, mendingan jadi 3 chapter aja. yaudah deh.. kita aja kegalauanku dari kemaren sebenernya. thank you 🙂

161 thoughts on “[KyuJin Series] Here Comes The Boom! [Part 1]

  1. Baru baca yg part ini…

    Jujur bingung, sbenernya ini ad hubungannya sma missing you ngga si eon??

    Apa aku yg ga nyambung.. Apa amnesia 😄

    Good story jujur si kurang greget ga tau knpa.. Aku ngrasa fell nya agak rda kurang dri ff mu biasanya.. Okay no problem… Lanjut next

  2. Ff Eonni benar-benar banyak aku belum ngubek semua FfFf nya dan untungnya lagi libur sekolah jadi ngubek😁
    Suka banget sma pasangan ini awalnya adu mulut dan akhirnya malah romantis-romantisan bikin gemes 😊
    Ais sumpah nyesel gak baca ff ini dulu jadi gak tau awal mula Hyun Gi lahir dan ternyata Cho Kyu takut banget pas Songjin ngelahirin

  3. Tulisannya rapi banget kak, feelnya juga dapet … Seneng bacanya !!! Fighting eonni nulisnya 💪💪💪

  4. Masa pesan pesan kyuhyun sama songjin gatau kenapa kepotong-potong, apa aku doang kali yaa, yaudah tak apa. Btw, abis romantis selalu yaa ada adu argument nya.
    Bagian akhir lagi sweet malah TBC-_-

  5. hoho kencannya diterusin di rumah sakit. tapi masa sesantai itu bilang butuh ke rumah sakit sekarang. songjin nahan sakitnya sampe kyuhyun ga sadar. bener2 keras kepala si songjin.

    jadi kyuhyun wajar lah takut banget. apalagi kondisi si songjin bener2 sulit.
    songjin juga keras kepala. iya lah setiap wanita pasti pengin lahiran normal tapi ya kalo kondisinya gitu apa ga pake caesar aja. ckckck

  6. dah mnjlang detik” y??? jd yg nyri nama songjin…
    kyu nrima” ajj..
    kyuhyun yg ngrsain kalut..kalo” dy ruz suruh milih antra ibu n bayi ny…

  7. Uhuuuuuu seberapa kesal pun cho kyuhyun pada istrinya. Tetap… hal yang sangat diinginkannya adalah selalu melangkah bersama istrinya. Sekalipun itu sangat melelahkan karena tingkah gila istrinya… disaat bersamaan itu juga hal yang sangat sangat membahagiakan. Tidak masalah menyebalkan asalkab tidak menyakitkan. Benerkan cho? 😊😊😊😃😂

  8. Ngakak pas kyujin smsan padahal 1 ruangan.. mau ngelahirin hyun gi berat banget ya jalannya. . Makanya sampai sekarang kyu masih nahan gak mau nidurin istrinya seblom masang kb, tp songjin masih ngotot buat anak 1 lagi. Gak sia2 pengorbanan mereka karna hyun gi anak yg cerdas. Hhh

  9. sbg prmpuan pst pengen bgt lahiran normal. cma ya ini kondisinya beda. tpi ttp aja krs kPla. kyu jg pst getar getir

  10. Oh … cerita tentang persalinan nya yah ..
    Kiraian awalnya cerita ttng kncan gitu ..

    Songjin ada2 aja masa, mwu lahiran ditahan2 .. untung aja baru kontraksi ..

  11. aku sedih bacanya kyuhyun harus semangatin songjin, melahirkan tak semudah apa yg terlihat di drama~~ melahirkan itu seakan nyawa kita diantara hidup dan mati.

  12. ini pas songjin mau ngelahirin ya kebawa galaunya kyuhyin baca ini. kirain pas awal baca mereka kencan pertama itu pas awal kenal ternyata kencan pas songjin hamil haha lucu
    songjin yang pd mau lahiran normal pdhl dia jauh lebih takut keknya dari pada kyuhyun. dia kaya gitu mungkin biar kyuhyun ikutan tenang padahal kyuhyun aja udah takutnya setengah mati

  13. Kyu jadi suami udah sabar banget yach ngadep ini istri macam Song jin .
    Calon bapak yang sayang keluarga nich .

  14. Oh my god, akhirnya aku menemukan ff missing after story dengan tema persalinan songjin di dalamnya
    Hehehehe
    Kerennnn super duperrr keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s