[KyuJin Series] Here Comes The Boom! [Part 2]


Here Comes The Boom

GSD

Cho Kyuhyun | Cho Songjin | Lee Donghae | Kim Eun Soo | Choi Siwon | Choi Gyuwon |

PG 13

Chaptered [2 of 3]

“I won’t stop! For every minute of the rest of my life, i will fight!!”

5

He said, “She drive me crazy!”

Well you gotta chill out cause baby I don’t wanna fight with you, and every battle that we fought just made us look like fools. No you can’t have a world war III if there’s only one side fighting, and you know that there’s lesson left to learn. Everytime you attack, doesn’t drive me to fight you back then I know, that I’ll never let it be a world war III

World War III, The Jonas Brothers

(H-1)

“Aku tidak bisa tidur!!!!” tiba-tiba Songjin membuka matanya lebar. Lebar selebar-lebarnya. Wanita itu kemudian mendorong tubuh Kyuhyun yang menghimpitnya agar menjauh.

Sontak saja tubuh Kyuhyun terhuyung mundur nyaris jatuh dari ranjang yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi satu orang saja itu. Songjin turun dari ranjang. seorang diri. Terhuyung. Seperti selembar kertas yang baru dilepaskan dari atas tebing. Tampak kosong tanpa pegangan. Tapi walau tampak susah payah, tetap saja dilakukannya tanpa ada satu orangpun yang dapat mencegahnya. Bahkan mengabaikkan lengan Kyuhyun yang mencoba untuk menariknya.

Siwon berada disofa, hanya dapat memandang Kyuhyun dalam diam. Keduanya benar-benar tidak dapat mengatakan apapun kali ini. ini sudah ketiga kalinya Songjin mengeluh tentang ketidak sanggupannya untuk memejam tidur.

Menuju tempat dimana biasanya, itu adalah hal yang paling Songjin sukai. Perlahan Siwon menggerakkan tangannya, menutup telinga Gyuwon yang sedang tertidur dipangkuannya rapat. Agar tidak terbangun karena mendengar ocehan Songjin lagi sepanjang dini hari sejak tadi.

“dicoba lagi, ayo kemari! Kau belum tidur sama sekali sejak kemarin, kau perlu istirahat Songjin!” Kyuhyun memerintah. Pria itu tampak begitu lelah. matanya sudah memerah dan tampak sayu.

Tadi, pria itu sudah akan nyaris tertidur kalau saja Songjin tidak mendadak berulah lagi dan membangunkannya. Siapapun diruangan itu sedang merasakan lelah yang teramat sangat bukan hanya Songjin saja.

pembagian waktu jaga walau tidak pernah diucapkan, telah terskema. Kali ini Siwon yang terjaga. Kyuhyun beristirahat bersama Songjin. Sore nanti berganti, Kyuhyun lah yang berjaga hingga pagi.

Keduanya dapat dengan mudah sepakat pada hal yang sama sekali tidak pernah mereka ucapkan. Dalam kekompakkan pembuatan rencana tidak terucap, mereka ahlinya. Namun kembali pada niatan semula bahwa rencana hanyalah tinggal rencana.

Songjin yang berulah tidak pernah masuk kedalam rencana mereka. Tentu saja ini tidak hanya membuat Kyuhyun kerepotan tapi juga Siwon.

Pria bertubuh kekar itu menengadahkan wajahnya melihat Songjin yang tampak gusar. Kyuhyun tidak tampak gusar, tapi lebih pantas disebut setengah frustasi. Pria itu tampak sangat lelah, tapi pun tidak dapat tidur begitu saja bukan hanya karena keadaan Songjin dan wanita itu sendiri yang berulah tapi juga karena rasa takutnya hasil ciptaannya sendiri.

Kyuhyun mengacak wajahnya berulang ulang kali, “Sayang—“ desahnya hampir menyerah. Sulit menahan amarah jika perasaan memanas itu sudah muncul. Dia tidak ingin menyalahkan Songjin, tidak ingin bertengkar juga tidak ingin adanya perdebatan. Tapi entah bagaimana melakukan prakteknya. Songjin seperti sedang menguji kesabarannya.

Kyuhyun turun dari ranjang dengan tubuh yang lunglai. Berjalan terhuyung mendekat pada Songjin menyetuh tangan wanita itu lalu perlahan, membawa Songjin kembali ke ranjang. “aku tidak mau tidur! Aku tidak bisa, kau dengar aku tidak sih??”

Belum juga Kyuhyun membuat Songjin berbaring diranjangnya, wanita itu sudah menggeram protes lagi. Kyuhyun melingkarkan kakinya pada kaki Songjin. Seperti membuat lingkaran pagar betis agar wanita itu tidak kabur kemanapun.

Tangannya memegang dua tangan milik Songjin yang bebas sedang dirinya sendiri duduk diatas ranjang. “aku tahu.” Suara Kyuhyun sangat pelan terdengar nyaris seperti berbisik karena lelah yang menghantamnya habis-habisan.

Sejak malam tadi Kyuhyun sama sekali tidak dapat tertidur. Selalu terdapat banyak hal yang harus dikerjakannya. Menguras energinya, hingga memancing emosinya ,“tapi kau harus istirahat.” Lanjutnya. “dimana yang sakit?”

Wajah tegang Songjin yang memucat berubah perlahan menjadi sayu. Wajahnya juga tampak lelah, tapi wanita itu tidak dapat melakukan apapun selain menggeram karena perutnya benar-benar terasa melilit.

Tangannya lalu menyentuh perutnya sambil bibirnya mengerucut, merasakan rasa melilit itu kembali datang mengganggunya. Untuk sesaat, Songjin tampak begitu lemah, mengadukan pada bagian mana tubuhnya terasa kacau. “ini~” adunya manja kepada Kyuhyun menyentuh perutnya.

lalu baru saja mengadukan pada bagian mana tubuhnya terasa kacau, tiba-tiba, Songjin begitu saja, menubrukkan tubuhnya pada Kyuhyun merengkuh seperti mencekik pria itu kencang. Menenggelamkan wajahnya pada selipan bahu dan leher Kyuhyun. Tangisan yang ditahannya susah payah itu pecah. Songjin memeluk Kyuhyun begitu erat seperti wanita itu ingin mencekiknya.

Kaki Songjin menghentak-hentak kencang. Wanita itu terlalu geram dengan rasa melilit, nyeri, perih dan tidak nyaman yang dirasakannya sejak tadi— “perutku terasa melilit, punggungku pegal, kakiku sakit, aku lelah tapi aku tidak bisa tidur! Tubuhku sakit semua!!”

Sedang Kyuhyun menghela nafas. Pria itu perlahan mengangkat tangannya mengusapi punggung Songjin naik dan turun berulang kali. Saling memandang dengan Siwon yang tampaknya ikut mengernyitkan wajah karena merasakan betapa Songjin sedang dalam kondisi terburuknya.

Pria dengan Koran pagi ditangannya itu lalu merogoh sakunya. Memberikan gerakkan kepada Kyuhyun untuk memberitahu pria itu bahwa dia akan menghubungi orang tua mereka.

Mungkin dengan hadirnya para orang tua nanti dapat memberikan mereka jalan keluar untuk menetapkan, harus bagaimana bersikap meladeni Songjin yang sedang kesakitan.

Lagipula, para orang tua masih belum ada yang tahu bahwa Songjin sudah masuk rumah sakit dan akan melahirkan sebentar lagi.

“aku ingin pulang, Kyuhyun-ah! Aku ingin pulang.” Songjin merengek seperti bayi. Kyuhyun merasakan bahunya basah. Air mata Songjin merembesi pakaiannya sendiri. hal itu terang saja membuatnya mendesah panjang, menghela nafas lagi.

Bukan dia yang merasakan sakitnya. Bukan dia pula yang merasakan nyeri dan perasaan tidak nyaman lainnya. Maka dalam masalah ini, Kyuhyun tidak dapat melakukan aksi protes apapun pada rengekan Songjin, yang biasanya, dan hingga kini masih selalu membuatnya kesal bukan main, namun harus mati-matian mengulur kesabaran.

“dimana lagi yang sakit? Berbaring dulu, biar kupijati kakimu.” Kyuhyun melepaskan rengkuhan Songjin. Pria itu membantu Songjin agar berbaring diranjangnya, lalu perlahan-palan, mulai menyentuh kaki jenjang milik Songjin memijitinya.

Tapi sepertinya, itupun masih belum cukup untuk mengurangi rasa kacau yang Songjin rasakan. Songjin kembali menangis, berguling menyamping ditempatnya memeluk perutnya sendiri. membekap wajahnya pada sebuah bantal. berulang kali mengatakan bahwa perutnya terasa sakit bukan main, terpelintir, seperti ada ular yang mengigiti kulit perutnya.

** **

“apa perutku akan meledak? Apa ada ular didalamnya? Kenapa rasanya sangat sakit?”

Songjin bertanya polos disela isakannya. Tidak ada satupun orang didalam ruangan itu yang tidak menghembuskan nafasnya. Kyuhyun, Siwon, Gyuwon, Eun Soo, Choi Ki Ho, Park Aeri, bahkan dokter Han sekalipun ikut membuang nafas mereka bersamaan, saling menatap dengan Kyuhyun seolah sedang bercakap panjang, berkeluh tentang Songjin yang merajuk lagi karena merasa kesakitan.

Sejujurnya, didalam ruangan itu bukan hanya Songjin saja yang tampak frustasi menanti kelahiran bayinya. Tidak perlu meninggikan keegoisan tentang siapa yang sedang sakit, atau ketakutan. Semua orang disana merasakan hal serupa.

Walaupun Kyuhyun memang tampak lebih parah. Pria itu terlihat sangat lelah lengkap dengan wajah yang tegang dan tubuh mengkaku.

Rambutnya tidak lagi tertata dengan rapih karena semenjak tadi, hanya rambut itulah yang dijadikannya penghantar kekesalan, saat rasa frustasi, emosi, serta berbagai perasaan campur aduk lainnya, yang tidak bisa dijelaskan sendiri olehnya. Rasa itu telah mulai membuncah bagai jagung mentah, siap memuai untuk menjadi santapan cemilan popcorn.

“aku membawa buah-buahan. Kau mau? Ayo ikut eomma.” Park Aeri yang pertama kali mendekati Songjin setelah wanita berusia 24 itu menangis.

Perhatian mulai terpecah satu-persatu. Choi Ki Ho kembali menuju meja bundar disamping jendela besar bersama dengan Gyuwon. Eun Soo berkutat dengan ponselnya, sedangkan Kyuhyun bersama Siwon keluar ruangan.

Dua lelaki tampan itu bersamaan menjatuhkan diri mereka pada kursi. Sama-sama mengacak wajah lelah. menguap lebar dan membuang nafas panjang. Siwon memperhatikan sekelilingnya, tampak tenang.

Berbanding terbalik dengan suasana didalam kamar rawat inap Songjin. Semua orang sedang mencoba membuat Songjin untuk lebih tenang tanpa memberikan wanita itu obat penenang.

“apa yang dokter Han katakan?” Siwon mengusap wajahnya lagi, lalu besandar dikursinya. Bersedekap, memejamkan mata dengan wajah menengadah kelangit-langit. Tubuhnay terasa remuk. Rasanya ingin sekali tidur, tapi sejak tadi, bahkan pada waktu jatah tidurnya, dia tidak dapat melakukannya.

Pikirannya tengah melayang kesana kemari. Telinganya pun sedang panas karena mendengar tangisan Songjin kadang muncul, kadang menghilang. Pria itu sama kalutnya dengan Kyuhyun atau ayahnya.

Kyuhyun menarik nafas. Menggidikkan bahu lalu ikut bersedekap menyandarkan tubuh kekursi. “banyak. Terlalu banyak.” Ucapnya terdengar berat. “intinya, kami sedang sama-sama menunggu Songjin untuk berkata, ‘aku menyerah. Kita lakukan ini dengan cara lain saja’ kalimat pernyataan semacam itulah~”

“apa dia benar-benar tidak mampu melakukannya secara normal?”

“aku tidak cukup yakin. Dokter Han pun begitu. Kami hanya… tidak ingin mengambil resiko. Yang terlalu besar. Yang terlalu membahayakan.”

Siwon tidak Nampak berfikir kali ini. pria itu tampak seperti tertidur. Duduk tenang dengan nafas yang teratur. Begitupula dengan Kyuhyun. Kedua pria itu seperti mencuri waktu untuk melakukan hal yang tidak pernah mereka lakukan lagi itu sejak kemarin.

Namun lama terdiam, Siwon kemudian bersuara, “kau tahu itu tidak akan berhasil, kan?” tanyanya masih diposisi yang sama. Alis-alis Kyuhyun bergerak pelan menjawab pertanyaan Siwon ketika itu. “dia keras kepala.” Keduanya menyuarakan kalimat yang sama diwaktu yang sama.

Tertawa pelan. Kecut. Menyedihkan pun bersama setelahnya. Entahlah, hal tersebut seperti terlalu mudah untuk ditebak. Seperti bukan rahasia umum lagi bahwa wanita brutal bernama Songjin itu, memang terkenal dengan kekerasan kepalanya.

Mata Siwon kemudian terbuka lebar. Merah. Pria itu menggosok wajahnya dan menoleh kanan kiri menelisik sekitar lagi lalu bangkit, “aku pulang sebentar. Nanti aku kembali. Kau sebaiknya istirahat Kyuhyun-ah. Bukan hanya Songjin saja yang butuh istirahat, tapi kau juga.”

Siwon menepuk bahu Kyuhyun. Tentu, perintah kosong yang hanya akan menjadi angin lalu. Berkerja bersama dengan udara, masuk kedalam telinga dan keluar lagi setelahnya. Yang Kyuhyun angguk dan iyakan, namun pria itu kemudian bangkit dan masuk kedalam kamar rawat nomor 1010 disampingnya lagi.

Memperhatikan Songjin bersama dokter Han. Songjin sudah lebih tenang daripada tadi. tidak ada isakan lagi walau wajahnya masih kusam dengan sisa lembab dibawah matanya.

Tidak ada rengekan atau keluhan mengenai apapun lagi walau Kyuhyun masih mendapati Songjin sesekali mendesis, meringis, sambil memegangi perutnya. “pembukaan dua.” Han Eunjung mendadak mengejutkan Kyuhyun.

“pembukaan dua?”

“ya.”

Kening mulus Kyuhyun lantas bergelombang. Mata pria itu mengarah pada Songjin, lalu pada kaki Songjin yang terbuka melebar, sengaja ditutupi oleh selimut putih. “hitungan sederhananya, pembukaan satu artinya, satu jari dapat masuk, pembukaan dua, dua jari yang masuk dan seterusnya.” Gyuwon berjalan mendekat. Berhenti tepat disamping Kyuhyun, menyenggol bahu pria tinggi itu.

Lalu otak cerdas Kyuhyun berlarian kemana-mana. Membayangkan makna pembukaan pada proses persalinan membuatnya mendadak merasa merinding. “dua.. jari?” wajah Kyuhyun terlihat pucat.

“kau tidak tahu?”

“belum,” Kyuhyun menggeleng tampak begitu bodohnya. “belum sama sekali.” Lalu menoleh pada dokter Han seperti meminta penjelasan lebih, dan hanya dijawab oleh anggukan kecil dokter berwajah teduh itu.

Tangan didalam jaketnya itu sedang saling meremas. Bergerak seakan ingin mengacungkan tanda ‘2’ tinggi-tinggi namun teredam. Membayangkannya saja, membuat Kyuhyun mendadak mulas dan menelan ludah berulang kali.

“dan sebaiknya kau beristirahat Songjin. Karena kau memerlukan energi ekstra untuk persalinanmu. Yang.. entah kapan akan terjadi—“ Han Eunjung tersenyum lebar seraya melontarkan lelucon, namun tidak begitu dianggap apik oleh Kyuhyun lagi.

Pernyataan persalinan yang entah kapan akan terjadi itu seperti batu yang sengaja dihantamkan pada wajahnya secara terang-terangan. Jantung Kyuhyun berdebar-debar lagi, lebih kencang, sama seperti tadi sebelum dirinya keluar dari ruang inap ini, untuk melepas lelah bersama Siwon sesaat.

“aku tahu.” Tapi Songjin menanggapinya secara santai tidak seperti dirinya. Bahkan sepertinya, setelah menyadari bahwa seluruh kepala didalam ruangan tersebut— sedang dalam kondisi suasana hati yang cukup baik, Kyuhyun merasa heran. Bahwa dokter Han terlampau hebat, dapat membuat semua orang merasa tenang. Atau setidaknya, tampak tenang.

Bahkan Songjin. Saat dirinya sekalipun, tidak dapat membuat wanita itu merasa tenang. Kyuhyun ingin mencekik dirinya sendiri hanya karena hal tersebut. Pria itu menghela nafas panjang sambil merunduk.

Lantai rumah sakit yang terbuat dari marmer hitam tampak elegan itulah kini yang menjadi titik fokusnya. Betapa Kyuhyun baru menyadari bahwa lantai itu terlihat begitu indah dan mewah. “aku akan selalu berada diruanganku. Panggil aku saat kau membutuhkanku, Songjin.” Dokter paruh baya itu kembali tersenyum. Mengusap perut Songjin dan membantu agar kaki Songjin kembali menjadi lurus lagi tidak menekuk. Merapihkan selimutnya, lalu mengusap kepala Songjin cepat, “kau wanita yang kuat kau tahu itu kan?” tuturnya. “semua akan baik-baik saja. percaya padaku.”

** **

“Geez!” Eun Soo mendesis, melemparkan remote televisi keatas meja dan bersedekap sambil menekuk wajahnya. “aku heran dengan serial drama milik kita. Kenapa selalu menggambarkan wanita yang lemah, yang mudah menangis bahkan saat ciuman pertama mereka tidak dilakukan oleh orang yang mereka inginkan? Tanpa sengaja hilang begitu saja? lucu sekali.”

Mantan pemenang kontes kecantikan itu semakin menyetel wajahnya hingga tampak menyeramkan saja. pendapatnya mengenai tidak masuk akal— kegiatan menangis tersedu lantaran ciuman pertama dilakukan bukan dengan orang yang diinginkan itu selalu membuat mulut tajamnya mengeluarkan komentar-komentar pedas.

“itu ciuman pertama, eonni” Songjin menyahut dari tempatnya.

“oh come on! It was just a kiss. A first kiss. Not first sex,” Eun Soo mengibaskan rambut panjangnya geram. “theres no special things on it. Just a kiss—“

“well its was just a kiss. But I doubt you won’t feel the same when you got the kiss from some guy— what?” Nara, anggota baru didalam kamar rawat inap nomor 1010 itu berhenti memasukan cupcakes jar kedalam mulutny untuk menyindir sahabatnya, namun berhenti karena Eun Soo melemparkan pandangan sinis kepadanya.“am I right? Huh?”

“i always do a kiss with ‘some guy’, for your information, madam!”

“uh huh?”

“and still. Nothing special!”

Nara menggerakkan alisnya ringan, sebagai tanggapan atas rasa malasnya beradu debat dengan wanita keras kepala macam Eun Soo seperti ini. yang otaknya kadang terlalu berisikan hal-hal sinis, negative dan selalu bersikap otoriter.

“Uh huh— and what about your last kiss with ‘some guy’ that you meet?” Kyuhyun yang sejak tadi diam kini ikut menyahut.

“which guy?”

“that guy!”

“which guy?!”

Kyuhyun tersenyum menggoda bersamaan dengan Songjin, Gyuwon dan Siwon. Membuat wajah Eun Soo kini mendadak tampak panic. “uh huh. You know what I mean” pria tinggi yang sedang berbaring bersamaan dengan Songjin itu terkekeh geli mendapati Eun Soo semakin panic saja.

“tidak ada yang special.” Mati-matian Eun Soo menarik kewibaannya panjang-panjang agar tidak kepalang malu, digoda oleh semua kepala disana. Gyuwon merunduk menyembunyikan tawanya sedang Siwon malah terang-terangan tertawa lepas disana.

“what about the butterfly that hit your stomach?” alis Siwon terangkat tinggi.

Seluruh orang disana tertawa lepas. Bahkan Nara yang tidak mengetahui apapun ikut tertawa. Setelah hal tersebut, wanita itu barulah meletakkan sendok can jar berisi cupcakes miliknya— mengganti tangannya untuk bersedekap saja, “which guy?” Tanya Nara kepada Eun Soo seperti menginterograsi.

“that handsome doctor. Right Eun Soo-sshi?” Gyuwon tertawa menimpali.

“Tck! Ayolah! Itukan hanya ciuman pertama! Jangan berlebihan!!”


6

Another Her Shocking Ideas

Nobody gonna love me better, I must stick with you forever. Nobody gonna take me higher, I must stick with you. You know how to apprectiate me, I must stick with you my baby. Nobody ever made me feel me this way, I must stick with you.

Stickwitu, Pussycat Dolls

(The Day)

Kyuhyun dikejutkan dengan benda berat yang menimpa perutnya. Matanya terbuka— memerah dan sembab. Berat juga sayu. “apa?”

“aku yang harusnya bertanya, ini apa?” Siwon menunjuk tabletnya diatas perut Kyuhyun. Benda berat yang tadi membuak Kyuhyun mendadak sesak nafas dan panic sesaat karena terkejut.

Kyuhyun mengangkat tablet itu dari tubuhnya malas-malas. Wajahnya kusut lebih kusut dari ranjang bekas pakai, atau kemeja kotor. Dipikirnya, terjadi sesuatu yang mengejutkan, yang membuat wajah tampan Siwon mendadak menjadi terlihat mengencang.

Namun kemudian Kyuhyun tertawa ringan. Menjatuhkan kepalanya lagi diatas bantal, mengembalikan tablet itu kepada Siwon. Tanpa merasa perlu untuk membaca kelanjutak artikel, yang menuliskan tentang dirinya dan Songjin tertangkap basah berciuman ditengah trotoar pada tengah malam.

“itu subuh pagi tadi.” Kyuhyun mengusap wajahnya halus. Melirik pada Songjin yang terlihat tenang tertidur pulas disampingnya. Memeluk erat lengan kanannya, seperti tangan pria itu adalah sebuah guling.

Nafasnya terbuang pelan. Kyuhyun membalik tubuhnya memunggungi Siwon dan menghadap kepada Songjin. Menyudahi seara sepihak pembicaraan yang menurutnya tidak penting untuk dilanjutkan. Sisa tangannya yang kosong, mulai bekerja untuk mengusapi punggung Songjin naik dan turun.

“menggelikan sekali. Itu tempat umum Kyuhyun-ah. Kau tidak pernah merasa aneh dengan tingkahmu yang kadang berlawanan dengan usiamu?” Siwon berbicara, sambil berjalan memutar tubuhnya agar dirinya dan Kyuhyun berhadapan lagi.

Bukan terintimidasi, Kyuhyun malah memutar bola matanya malas menanggapi Siwon, “aku melakukan itu dengan istriku memangnya ada yang salah?”

“Yeah— biasanya itu hanya dilakukan oleh sepasang remaja yang baru berpacaran saja.”

Kyuhyun mendengus, “anggap saja, itu karena aku tidak pernah berpacaran dengan Songjin.”

“itu memalukan..”

“aku yang melakukannya dan aku tidak merasa malu. Kenapa kau yang malu?”

“dan menggelikan—“ Siwon menambahkan. Keduanya terdiam sejenak saling berpandangan meyalurkan tatapan kosong satu samalain. “hey, aku hanya menciumnya. Bukan menyerangnya dijalanan. Ayolah!”

“Cih!” Siwon mendesis, “kau benar-benar..”

“kau harus mencobanya sesekali, Hyung. Itu menyenangkan! Apa kau pernah bercinta ditoilet? Haha! Jangan terlalu sering bertingkah seperti pria berusia 60-an! Kau jadi tampak lebih tua! Bahkan Appa tidak bertingkah sepertimu.”

“bicara saja dengan tembok!” Siwon mendengus lagi, seperti naga bernafas api. Pria itu kini lebih memilih meninggalkan ruang rawat inap itu saja dibandingkan bertahan bersama manusia setengah setan yang selalu membuat semua orang merasa kesal.

Selepasnya, Kyuhyun menyemburkan tawa tanpa sadar bahwa Songjin telah terbangun. Dan sadar bahwa wanita barbarnya telah terbangun ketika usapan lembut didadanya berasal dari tangan dingin Songjin. “ada apa?”

Kyuhyun diam. Mengamati wajah pucat Songjin lama, lalu mengecup kilat bibirnya. “menurutmu, lebih menegangkan mana? Bercinta ditoilet umum atau berciuman ditengah jalan?”

“Hah?” Kening Songjin berkerut kencang setelah mendengar pertanyannya, dijawab pertanyaan lagi oleh Kyuhyun. Pertanyaan aneh.

“kita pernah melakukan semuanya, kan?”

“aku lupa—“ wajah Songjin terasa panas. Tapi wajah wanita itu sama sekali tidak berubah warna menyemburatkan kemerahan seperti biasanya. Kini, semalu apapun, semarah atau sekesal apapun Songjin, wajah polos wanita itu tidak pernah berubah warna seperti dulu lagi. Membuat Kyuhyun merasa kurang dan tampak tidak suka.

“tck, ayolah kita pernah melakukan keduanya. Bagaimana dengan ciuman kemarin malam? Seseorang mendapatkan gambar kita dan mengunggahnya.”

“aku ingat yang itu.” Songjin tampak malu sekaligus sebal mengakui bahwa wanita itu baru saja tertular virus konyol-tidak ingat tempat milik Kyuhyun.

“kalau saat kita bercinta ditoilet?”

“kapan?”

“dulu—“

“yang mana?”

“kau lupa, atau pura-pura lupa?” alis Kyuhyun meranjak naik, memasang kecurigaan kepada Songjin, bahwa wanita itu hanya bertingkah menyebalkan dengan pura-pura lupa saja agar memancing dirinya untuk berbuat sesuatu kepada Songjin. Atau apa masuk akal, jika rasa sakit yang dirasakan Songjin, membuat wanita itu mendadak kehilangan kemampuan daya ingatnya? Lucu.

“aku tidak ingat.” Songjin mendengus. “aku lupa kita pernah bercinta.”

“Woah!” Kyuhyun menunjukan ekspresi keterkejutan yang berlebihan. Menjauhkan tubuhnya dari Songjin dan melipat tangan didada, “kau lupa? Lalu apa alasanmu sedang berada disini dengan perut sebesar itu?”

“kau tahu penyakit busung lapar?”

“Cih!” Kyuhyun mengangkat sudut bibirnya sinis, “Jangan tolol Cho Songjin. Kau membuat aku semakin yakin kalau otakmu yang sedikit itu semakin menjadi sedikit saja.”

“mana kutahu? Aku lupa rasanya bercinta. Denganmu. Kau kan.. seperti alergi tidak mau menyentuhku lagi.” Perkataan Songjin terdengar seperti gerutuan. Seperti aduan balita tentang betapa kesalnya dia karena mainannya baru saja disambar orang.

“jadi kau pura-pura lupa.. karena ingin bercinta denganku lagi?”

“aku tidak pura-pura lupa. Aku memang lupa!” Songjin memberengut lama, namun lalu menyengir kuda begitu lebar. “bagaimana kalau diingatkan?” tuturnya lengkap dengan wajah polos nan tolol.

“diingatkan?” kini kening Kyuhyun lah yang berkerut, “maksudmu,?”

“….kau tahu—“ Jari-jari Songjin bermain pada kancing kemeja Kyuhyun.

Wajah Kyuhyun Nampak terkejut walau kemudian, pria itu dapat merubahnya dengan cepat lagi, “sekarang? Disini?” tanyanya.

“kau bilang kau senang dengan hal yang menegangkan?”

“Yeah, tapi saat aku mengatakannya, bercinta didalam ruang rawat rumah sakit dengan pintu tidak terkunci dan kemungkinan pintu dapat terbuka setiap lima menit tidak termasuk salah satunya.”

Songjin semakin mengerucutkan bibirnya. Wajahnya tampak sebal bukan main dengan penolakan mentah-mentah Kyuhyun.

Sedangkan Kyuhyun bersedekap, menikmati kekesalan Songjin dengan satu alisnya yang terangkat. Dengan segala balon-balon pertanyaan tentang mengapa wanitanya kini menjadi semakin mesum saja. Seolah bertranformasi menggantikan dirinya yang kini malah sedang kuat-kuatnya mengikat rasa ingin menyerang wanita barbar itu.

eotte?” Kyuhyun tidak sadar, mendadak terkejut ketika mendapati wajah Songjin hanya berjarak tipis dari wajahnya. Wanita itu tanpa basa-basi meraup bibirnya habis. Melumat seperti ketika dirinya sedang menggebu ingin mengecap bibir tipis kegemarannya.

Awalnya Kyuhyun hanya dapat diam. Pun ketika Songjin menariknya mendekat hingga menghimpit dan berakhir berhadapan dengan wanita itu— hanya menggunakan dua lengannya sebagai penyangga agar tidak menibani tubuh Songjin serta gundukan besar diperut wanita itu.

Rasanya manis seperti buah strawberry. Mungkin lip gloss yang digunakan Songjin memiliki rasa. Atau mungkin, memang bibir wanita itu saja yang telah tercetak diingatan Kyuhyun dengan rasa semanis buah merah itu.

Ciuman Songjin seperti hipnotis. Mampu membuat Kyuhyun diam menuruti apa yang wanita itu perintahkan. Satu tangannya beralih mengusap kepala Songjin lembut. Nafasnya telah kacau sekacau warna kulit wajah yang telah berubah dari pucat menjadi merah.

Susah payah Kyuhyun memperingatkan dirinya sendiri bahwa saat ini, melakukan hal yang wanita itu inginkan bukanlah hal yang tepat. atau.. katakan saja ini adalah hal yang tepat mengingat betapa lamanya mereka tidak bercinta. Tapi pun, sepertinya itu bukanlah alasan yang pantas mengapa seorang pria meniduri wanita yang akan melakukan persalinan mungkin dalam kisaran waktu tidak lebih dari 24 jam lagi, dirumah sakit, hanya untuk menyalurkan nafsunya saja.

“ini tidak benar.” Kyuhyun berkata disela ciuman yang terlepas. Nafasnya tersengal begitupun Songjin.

Wanita itu seakan tidak perduli. Menarik kerah Kyuhyun lebih kencang hingga hidung mereka bertubrukan lagi. Meraup bibir tebal itu lagi banyak-banyak. Namun Kyuhyun masih memiliki kesadaran serta akal sehatnya.

“Songjin—“ Kyuhyun menarik dirinya. Melepaskan ciuman mereka namun tidak memberikan jarak banyak pada wajahnya dan wajah wanita itu. Kening mereka saling menempel.

Seperti dengan melakukan hal tersebut, mereka dapat berkomunikasi melalui telepati. Nafas Kyuhyun yang memburu menghantam wajah Songjin. Berbeda dengan Kyuhyun yang wajahnya telah berubah warna menjadi merah, Songjin sama sekali tidak merubah warna wajahnya. Masih saja pucat tanpa bercela.

Kyuhyun memandangi Songjin lama. Tangannya tadi kini beralih mengusap pipi Songjin lembut sambil pria itu mencoba menata pernafasannya yang kacau. “kemarin kau bosan dengan tubuhku. Sekarang kau menolak bibirku.”

“aku bukan bosan dengan tubuhmu. Aku juga bukannya menolak bibirmu.”

Songjin tampak tidak perduli. Wanita itu bersedekap kuat, melampiaskan kekesalannya karena sebelum itu mencoba menajuhkan tubuh Kyuhyun agar tidak menghimpitnya lagi. Kalau tidak akan bercinta, untuk apa pria itu tetap berada diposisi seperti ini?

Sama sekali tidak perlu.

“ciuman pertamamu tidak dihabiskan denganku, dan mungkin ciuman terakhirmu pun bukan denganku. jadi kau mengacaukan semuanya sekarang. Kau tidak ingin bercinta denganku lagi. Kau tidak pernah tahu, kapan saat terakhir itu datang kan?”

Wajah Kyuhyun mengernyit tegang. Emosinya hampir membuncah lagi ketika Songjin mulai membahas waktu terakhir, kesempatan terakhir, seperti wanita itu akan mati didetik ini juga.

“apa itu alasanmu menunggu kencan kita berakhir kemarin, baru kau mengatakan bahwa kau merasa tidak nyaman lagi karena kemungkinan besar bayi didalam perutmu akan keluar?” alis Kyuhyun naik tinggi lengkap dengan wajah keparat mengejek kebodohan wanita barbarnya.

“kita jarang berkencan.” Songjin tampak bersungut menolak menatap kembali Kyuhyun diatasnya, “diluar.” Lanjutnya. “kau sibuk. Sangat sibuk. Kalaupun kau berkata bahwa kau dapat melakukannya, kau pasti akan melupakannya. Pada akhirnya hanya aku yang berkencan dengan diriku sendiri.”

Kyuhyun kembali ingat akan puluhan janji-janjinya kepada Songjin bahwa pria itu akan mengajaknya kemari, kesana, kesini, tapi berujung pada kegagalan. Kadang lupa, kadang memang mendadak tidak dapat pergi karena pekerjaan yang menginterupsi, kadang sakit. Terlalu banyak alasan sederhana yang membuat rencana itu menjadi kacau.

Dan percayalah, kini Kyuhyun sedang merasa ditampar habis-habisan oleh Songjin berkat celoteh sederhana dari bibir tipis Songjin tadi.

Semakin Kyuhyun mengingatnya, semakin pria itu merasa tidak nyaman lagi untuk berdekatan dengan Songjin.

Wanita itu terang-terangan menunda mengatakan bahwa terjadi kontraksi yang berarti bahwa bayi didalam perutnya agak segera keluar, hanya untuk menghabiskan waktu kencan ‘langkanya’ bersama Kyuhyun.

Pantas saja wajah wanita itu terlihat pucat sejak awal Kyuhyun melihatnya. Terang saja. Songjin bukan lapar seperti yang dikiranya. Songjin menahan rasa sakitnya sendirian. Hanya untuk sebuah kencan yang sebenarnya bisa didapatkannya kapan saja.

“dengar—“ Kyuhyun merunduk lesu, “aku minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu.” Keluhnya lirih. Wajahnya memanas dan mendadak merasa sangat malu bahwa diam-diam, pria itu merasa ingin menangis. Hanya karena masalah seperti ini? ayolah.. dia pria kan? tidak lucu pria menangsi hanya karena hal sepele begini.

“kau selalu membuatku berjuang untuk mendapatkan apa yang sebenarnya, seharusnya aku dapatkan tanpa harus bersusah payah.” Lagi-lagi Kyuhyun seperti tertampar.

Matanya membesar terlihat panic. Yang tidak disadari Songjin, bahwa tubuh Kyuhyun semakin lama menjadi semakin lemas. “kau tahu, tidak sedikit hubungan yang berakhir hanya dengan alasan itu. Masalah sepele yang rasanya tidak sepele.”

“kita tidak akan berakhir hanya karena hal seperti itu.” Kyuhyun berkata tegas disela kelesuanya.

“salah satu dari tiap pasangan yang memiliki masalah serupa pasti akan pergi meningalkan pasangan mereka.”

“well— aku tidak akan pergi hanya karena hal itu.”

“itu tidak ‘hanya!!’ dan kenapa kau harus pergi kalau tentu saja karena kaulah pelakunya!”

“jadi kau yang ingin pergi karena hal itu?”

Songjin terdiam ketika Kyuhyun memutar pernyataannya menjadi pertanyaan untuknya sendiri. seperti boomerang.

Yang membuatnya lucu adalah ketika lidahnya kelu tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun, ketika seseorang didalam dirinya menjerit berkata bahwa ‘jangan lucu, kau tidak akan sanggup melakukan hal itu Park Songjin tolol’.

Kyuhyun merunduk lesu lagi. Keningnya menyentuh kening Songjin lagi. Nafasnya, menubruk wajah Songjin lagi. “kau tidak bisa meninggalkanku.” Ucapnya lebih terdengar seperti memohon. Bukan pernyataan ketus kelas atas khas milik seorang Cho Kyuhyun. “dengar, aku berjanji akan bertahan kalau kau juga melakukan hal yang sama, deal?”

Songjin mendengus kencang membuang wajah, “aku tidak ingin menjanjikan hal yang aku tidak tahu apa aku mampu menepatinya atau tidak.”

Agak emosi Kyuhyun bersuara, “kau hanya perlu diam dan tinggal bersamaku saja!” ujarnya tampak frustasi sedikit membentak.

“lupakan!”

deal?”

“aku tidak ingin berjanji apapun! Aku bukan dirimu yang senang menebar janji!”

“……. Jadi Deal?”

Kyuhyun menjadi lebih bersikeras memaksanya. Songjin bersedekap kesal membuang wajah pada Kyuhyun. Pria tampan yang entah apa sengaja memasang wajah polos agar paksaannya diterima, atau entah mungkin karena pria itu telah terlanjur putus asa saja.

“jangan konyol Songjin—kita harus tetap bersama.”

“tidak ada yang mengharuskan hal itu untuk terus terjadi.” Tangan Songjin memanjang ketika dia berbicara. Menarik sebuah tombol kabel, pemanggil perawat untuk datang kekamarnya.

“kita bukan lagi remaja tolol yang bersama hanya karena saling menyukai. Kita memiliki tanggung jawab lain, kalau kau lupa, sebentar lagi kau akan melahirkan bayi kita. Dia bukan milikmu, atau milikku. dia milik kita. Jadi kita memiliki alasan lain, lebih konkret untuk tetap bersama!!”

“itu terjadi karena ketidaksengajaan saja, kan?” wajah Songjin tetap santai ketika dia berbicara. “beruntung, kita terikat didalam pernikahan. Jadi berita kehamilanku, tidak membuat orang-orang berfikir macam-macam atau buruk. Kalau saat itu aku tidak mabuk, mungkin kita sudah tidak bersama lagi sekarang.”

“apa kehamilan membuatmu berubah menjadi monster menyebalkan?” Kyuhyun menggeram dengan wajah mengencang memerah. Matanya yang lelah karena terjaga dua malam itu terbuka lebar, juga memerah.

Songjin tidak memerdulikannya. Dia terus menekan tombol pemanggil perawat untuk datang kekamarnya sedari tadi. merasa tercekik dengan kerumitan yang dibuatnya sendiri. “mungkin saja—“ jawabnya halus.

Mata Kyuhyun memicing tajam, “kau tahu, kau tidak perlu jadi menyebalkan hanya karena aku menolak kita bercinta. Aku sudah bilang, aku memiliki batasanku sendiri untuk hal itu.”

“jadi sekarang kau yang menggebu ingin bercinta atau apa? Aku jelas sudah tidak membahas masalah itu lagi sejak tadi. dan lagipula, aku tadi sudah berkata, lupakan! Kenapa kau masih saja berada disini? pergi! Kau membuatku tidak nyaman kalau tubuhmu terus disini!” Songjin mendorong Kyuhyun.

“Songjin,” Kyuhyun menghela nafasnya panjang, “kita tidak harus bertengkar hanya karena masalah ini. dan aku sudah katakan tadi, aku memiliki batasanku sendiri untuk hal itu. Dan bosan dengan tubuhmu, tidak masuk kedalam salah satu dari sekian alasan mengapa aku tidak menyentuhmu. Kau ingin aku terus-menerus berkata hal yang sama tentang betapa aku tergila-gila dengan tubuhmu hanya karena kau senang dipuji, atau kau memang sebodoh itu sampai aku harus selalu mengulang, mengingatkan hal yang sama itu padamu setiap saat?”

Mata Kyuhyun semakin memicing. Dengan kasar dia menyingkirkan tombol ditangan kiri Songjin dan membuangnya jauh. Menyalurkan kekesalan, pada tombol tidak bersalah itu. “berhenti menekan tombol itu. Aku masih ingin berbicara dengamu!” omelnya kencang.

“dengar, berapa kali aku harus mengatakan bahwa kehamilanmu bukanlah ketidaksengajaan, kebetulan karena kau mabuk dan aku menidurimu atau karena kau mabuk maka aku memanfaatkanmu. Kita menikah. Kau istriku, kenapa kau membuatku tampak seperti lelaki brengsek yang baru saja menghamili wanita polos yang tidak dikenalnya sama sekali? Kalau saja aku bisa melakukannya sejak lama tapi aku tidak bisa karena kau bahkan tidak terlihat sama sekali tertarik dengan pria sepertiku! Kau selalu berkata kau teman terbaikku, kau teman terbaikku, saat aku sama sekali tidak berminat untuk menjadi temanmu! Aku ingin mendapatkan lebih, dan kenapa aku tidak bisa? Selama itu kau selalu memanfaatkanku menjadi tukang pukulmu saat seseorang yang bahkan tidak kukenal, kau bilang mengejek atau menganggumu disekolah. Atau saat kau mulai melakukan hal konyol, atau saat kau merengek meminta ini dan itu padaku. Kalau untuk menjadi seperti itu aku bisa, kenapa aku tidak bisa melakukan yang lebih lagi? Dan aku selalu mendapatkan apa yang kumau, jadi kenapa kau tidak bisa mendapatkanmu? Dan aku tidak pernah tahu kalau menghamili seorang istri adalah kesalahan bagi seorang suami. Apa itu dosa besar? Dengar baik-baik, dikamusku, tidak ada yang namanya kebetulan! Aku melakukannya dengan sengaja, dengan senang hati karena aku ingin membuatmu terus berada didalam jangkauanku. Kalau aku tidak menidurimu saat itu, kau pergi. Kau tahu? Kau ingat beasiswa tololmu itu? Aku bahkan tidak pernah merasa senang saat kau mendapatkannya. apalagi menyetujui? Pertama aku melihatnya, tentu saja aku terkejut. Kau wanita bodoh dengan kemampuan otak minimalis mampu mendapatkan beasiswa semacam itu adalah hal yang tidak masuk diakal. Lalu hal kedua yang melintas didalam pikiranku adalah membakar surat-surat itu sampai habis!”

Ada suara isakan yang pelan terdengar dan semakin kencang bersamaan dengan mata yang basah. Airnya mulai tampak semakin banyak, saat tanpa keduanya sadari, beberapa orang telah mematung disekitar mereka dalam diam.

Jung Nari— perawat yang dipanggil Songjin melalui tombol tadi telah datang sejak tadi. begitupun dengan Siwon, Gyuwon, Eun Soo, Donghae, atau bahkan para orang tua.

Semua tampak diam tidak dapat berbicara apapun, juga tidak berniat sedikitpun untuk menginterupsi entah karena ingin mendengar lebih banyak atau murni merasa terkejut saja.

Banyak berbicara lengkap dengan emosi yang memburu membuat nafas Kyuhyun tercekat dan kacau. Tidak, tidak hanya nafas pria itu saja yang kacau namun isi kepala yang sering diagungkan— cerdas nan mutakhir itu pun ikut berantakan seperti baru terserang tsunami.

“kau tolol!” maki Kyuhyun ketus memandang tajam Songjin. “kau wanita paling tolol yang pernah kutemui, kau tahu? Tapi aku mencintaimu. Aku mencintaimu sampai aku sering merasa tolol. Kau membuatku selalu berfikir, jadi sebenarnya, siapa yang tertolol diantara kita?”

“lebih baik kau pergi—“

“dan kau selalu berfikiran tolol. Tapi aku selalu melakukan hal tolol setelah kau berfikir tolol. Aku bosan menjadi orang tolol karenamu, aku juga ingin pergi. Kau tahu? Aku sangat ingin pergi, tapi saat aku berada jauh darimu, aku merasa bahwa aku baru saja meninggalkan sesuatu yang seharusnya kubawa. Aku seperti baru kehilangan benda berhargaku, dan rasanya sangat tidak nyaman. Jadi aku selalu memutuskan, untuk bersamamu.”

“kau tidak bisa berada disini saat aku melahirkan nanti.”

“dan kenapa aku harus menuruti lagi pemikiran tololmu itu?” Kyuhyun meremas bantal yang Songjin pakai. “permintaanmu terlalu tolol untuk kuturuti. Aku memiliki hak untuk berada dimanapun yang aku inginkan.”

Bukan hanya Kyuhyun yang memicing, namun Songjin melakukan hal serupa. Wanita itu kini tampak tidak lagi takut dengan yang Kyuhyun lakukan padanya. Wanita itu seakan juga menantang Kyuhyun agar baiklah, jika memang perdebatan kali ini, harus diselesaikan dengan cara bergulat untuk menemukan siapa pemenangnya.

Tapi kemudian, Kyuhyun menarik nafasnya panjang dan membuangnya kasar, “tidak ada yang pergi. Tidak kau, atau aku. Titik.”

Bibir Kyuhyun tertutup, namun cepat terbuka lagi saat Songjin tampak ingin berbicara. Sudah pasti menyanggah, atau menyela keputusannya. “aku yang berhak memutuskan.” Titah Kyuhyun tegas.

Mendekatkan wajahnya lagi, menandangi lagi betapa mendadak, walau tampak bersungut dengan wajah mengeras, Songjin tetap bertingkah seperti biasa, menutup matanya takut-takut ketika Kyuhyun mulai memperlihatkan tingkah saat pria itu akan menciumnya.

“aku mencintaimu.”

Kyuhyun bersuara sangat pelan. Seperti ingin, bahwa pernyataan manis itu hanya didengar olehnya dan Songjin saja. bukan orang-orang lain disekitarnya yang sedang menonton keributan mereka.

Kyuhyun menempelkan bibirnya pada kening Songjin. Meleset beberapa senti dari bibir yang dikira Songjin, dan deretan orang disana, akan dilahap pria itu.

Jung Nari tampak terkesiap, menutup mulutnya dan rahang yang terjatuh dengan papan berjalan ditangannya. Merasa malu dan iri secara bersamaan, saat disana, tidak ada orang lain yang dapat memberikan tanggapan apapun mengenai apa yang sedang terjadi.

“aku sangat mencintaimu, dan kita belum bercinta. Jadi kau tidak akan kemanapun, okay?”


7

Here Comes The Boom

Little darling, the smiles returning to the faces. Little darling, seems like years since it’s been here. Here comes the sun, here comes the sun and I say it’s all right

Here Comes The Sun, The Beatles

ada suara jeritan dan tangis dari dalam kamar nomor 1010. Semua orang panic, tanpa terkejuali Han Eunjung serta beberapa perawat didalam ruangan tersebut.

“pembukaan 10!!” Jung Nari panic berteriak.

“tapi ketubannya belum pecah!” perawat baru— lainnya, menimpali berteriak sama kencangnya. Entah ditujuakn kepada siapa karena satu-satunya yang berwenang, dokter Han sedang diam bersedekap tampak berfikir keras untuk memutuskan apa yang harus dilakukannya.

Sementara para perawat berteriak kencang mengerubungi Songjin, Songjin sendiri sedang menangis kencang karena perutnya terasa begitu nyeri. Perih, pedih dan panas disaat yang sama.

Rasa sakit yang tidak dapat dijelaskan kepada siapapun itu dilampiaskannya dengan tangisan tanpa henti. Meremas kuat besi ranjangnya, sambil menarik nafas banyak-banyak.

“pecahkan.” Dokter Han sejak tadi diam, kini berbicara. “bawa keruang operasi.” Perintahnya kemudian kepada seluruh perawat yang membantunya.

“Eomma!”

“aku disini. aku disini.” Park Aeri langsung melompat mendekat, mengikuti ranjang Songjin yang bergerak, didorong berjalan menuju lift. Park Aeri merasakan Songjin meremas tangannya begitu kuat. Seperti juga sedang menunjukan betapa rasa sakit yang sedang dirasakan Songjin membuatnya tidak bisa berhenti ikut menangis.

“jangan ikut.” Namun lalu, Songjin membuat Park Aeri terkejut.

“mwo?”

“tinggal disini.”

“tapi—“

Songjin mengibaskan-kibaskan tangannya kesana kemari. Wajahnya basah, penuh dengan peluh dan wajahnya semakin pucat saja warnanya. “tidak ada. Yang ikut.” Katanya susah payah.

Melarang seluruh orang untuk mengekorinya. “aku—“

“tidak.” Songjin pun membantah cepat ketika Siwon menerobos masuk kedalam kerumunan ikut mendorong ranjangnya. Ingin ikut masuk kedalam lift.

“tapi ini aku Songjin!!”

Siwon tampak tersinggung. Tampak tidak suka dan tidak terima dengan keputusan sepihak Songjin. “aku tahu.” Nafas Songjin terlihat semakin terbatas saja. “tapi kau juga tidak.”

Wajah Siwon mengeras kencang. Kini priaitu benar-benar tersinggung oleh larangan Songjin untuknya. sedang Park Aeri yang ikut merasa tidak terima dapat memahami keputusan Songjin lalu menarik Siwon menjauh, pria bertubuh atletis itu menolaknya mentah-mentah.

Merogoh saku mengeluarkan ponsel, nanum tangan Songjin mengibas lagi. Menjatuhkan ponsel tipis itu hingga terbanting tanpa sengaja kentantai. “tidak juga Kyuhyun.” Ujar wanita itu seperti mengerti bahwa siapa yang Siwon tuju saat pria itu mulai memainkan ponselnya disaat genting seperti saat ini.

“mwo? Yaa! Hal bodoh apa yang sedang kau rencanakan?” Siwon geram menunjuk Songjin dengan telunjuknya. Menusuk-tusuk kening berpeluh Songjin seperti dengan melakukan hal itu, maka Songjin mendadak dapat menjadi pintar, dan sadar bahwa semua orang disekitarnya sedang merasa panic bukan main.

Kyuhyun sedang entah berada dimana. Pria itu pergi setelah keributan yang dilakukannya dengan Songjin. Yang membuat banyak orang berdecak jengah dengan keributan lain mereka— namun juga tampak terharu.

Kyuhyun seperti ingin menjauh, daripada terus-terusan bertahan ditempat yang sama dan membiarkan emosinya memanas seperti sedang direbus diatas kompor. Pria itu langsung pergi tanpa berbicara apapun, tidak mengatakan apapun dan membuat semua orang semakin panic karena Kyuhyun tidak dapat ditemukan disudut manapun, pada rumah sakit besar ini sejak Songjin mulai perlahan-lahan mengalami pembukaan-pembukaan secara berurutan.

“jangan beritahu Kyuhyun. Dia lebih baik tidak berada disini. jangan ada satupun yang menghubunginya. Jangan.” Ujar Songjin, terakhir sebelum pintu lift tertutup setelah dokter Han masuk.

semua orang diam dan tidak dapat berbicara apapun lagi, sampai hembusan kencang menyapu wajah mereka. Angin kencang berasal dari tubuh yang melesat begitu cepat.

Ikut masuk kedalam lift, menyelipkan tubuhnya dari kedua belah sisi pintu otomatis, yang telah nyaris tertutup sedikit lagi. “kau tidak boleh ikut!”

Kyuhyun hanya terus menutup mulutnya membiarkan suara Songjin hanya melewati telinganya saja. hanya dokter Han yang dipandanginya dengan wajah mengeras pucat. Seperti saling berbicara tanpa perlu bersuara. “kau tidak boleh ik—“

Suara Songjin terbenam karena bibir yang mendadak menyatu tanpa dapat digerakkan lagi. Kyuhyun yang pandai, membuatnya berhenti mengoceh hanya dengan menjepit bibir tipis itu menggunakan dua jarinya. “berisik!!”

** **

Ada suara jeritan yang tertahan. Berganti dengan tangisan kencang, lengkap dengan wajah memerah. Teriakan terdengar, bukan karena rasa perih yang muncul melainkan perintah agar seseorang segera meninggalkan ruang persalinan disana.

Songjin yang terus menerus berteriak, memerintahkan agar Kyuhyun pergi. Keluar dari ruang persalinan disana membiarkan Dokter Han serta para perawat bekerja, tapi pria tinggi itu sama keras kepalanya seperti wanita barbar bertenaga kuda itu.

“bisakah kau berhenti berbicara dan lakukan hal lain saja seperti menghirup nafas banyak-banyak selain melakukan hal sia-sia seperti itu?”

Kyuhyun semakin merasa kesal dan Jengah, bahwa kini, sedari tadi Songjin memerintahkannya untuk pergi, namun wanita itu pun jelas-jelas mencengkram tangannya terlalu kencang. Jadi katakan, bagaimana cara Kyuhyun untuk pergi?

Songjin menggeram untuk kesekian kalinya. Wajah wanita itu benar-benar dipenuhi peluh. Berulang kali Kyuhyun membersihkannya, tetap saja titik-titik kecil akan kembali muncul diwajah Songjin.

Kyuhyun tidak tahu lagi, air diwajah Songjin muri hanya keringat, atau wanita itu sedang juga menangis karena rasa perih yang selalu dikatakannya kepada perawat dikanan kirinya. Tapi mata Songjin tidak memerah sama sekali. Hanya wajahnya saja yang semakin tampak pucat. Terlalu pucat untuk ukuran wanita melahirkan yang seharusnya berubah menjadi kemerahan karena terdapat begitu banyak tekanan dari dalam tubuh untuk dikeluarkan segera.

Pembukaan sudah mecapai 10 tapi air ketuban belum kunjung pecah. Para perawat tidak ada satupun, yang berani atau mau mengambil resiko dan hanya diam menunggu keputusan dokter Han sambil membantu Songjin, memberikan arahan agar wanita itu tidak panic.

“dipecahkan saja.” dokter Han berbicara kepada salah satu perawat tidak jauh darinya sambil memakai sarung tangan karet. Mendengarnya, Kyuhyun mendelik terkejut, “apa? Dipecahkan?” paniknya seketika. Didalam kepalanya, memecahkan selaput berisi air ketuban akan sama halnya seperti memecahkan balon berisi air.

Namun dokter Han hanya mengangguk cepat tanpa banyak menanggapi betapa paniknya Kyuhyun saat itu, walau dirinya pun tahu seperti apa hantaman rasa panic itu membuat segalanya menjadi tidak nyaman.

“ya. Tidak bisa menunggu lagi. Terlalu lama menunggu, terlalu besar resiko bagi bayi. Dia bisa saja terlilit tali pusar.”

“keluarkan dia sekarang!!! Sekarang!!”

Songjin menjerit kencang. Menarik nafasnya banyak menggebu-gebu— melepaskan tangan Kyuhyun untuk meremas pakaiannya sendiri, seakan dengan melepaskan pakaian itu, maka bayinya pun akan langsung keluar. Semudah itu.

“ya, kami akan melakukannya—“

“SEKARANG!!”

“dokter han lebih pintar darimu bodoh, kau tidak perlu memerintahnya seperti itu dia tahu apa yang harus dilakukan—“

Kyuhyun sempat ikut panic. Bergantian memandangi Songjin dan dokter Han, sambil berbicara panjang, namun Songjin berteriak lagi padanya, “KAU DIAM SAJA!” ucap wanita itu bersama dengan kalimat akhir Kyuhyun yang panjang tadi.

Pria itu kembali mengalah. Menutup mulut mengikuti perintah Songjin, menggantikan besi ranjang yang Songjin remas kuat-kuat dengan tangannya lagi. Merasa terhina jika Songjin terus melakukan hal itu, sedangkan inti dirinya terus berada diruang persalinan yang menyeramkan baginya itu, padahal hanya untuk menemani— dan membatu Songjin ketika wanita itu sedang merasa kesakitan.

Ditengah kelut— ramainya ruang persalinan tersebut, mendadak pintu terbuka menjeblak lebar. Doktar Han seakan tidak terkejut dengan kemunculan Siwon yang mendadak seperti itu.

Dokter paruh baya itu hanya memutar bola matanya jengah, menanggapinya, lalu beralih kepada beberapa perawat lain disekitarnya. Berbicara memberikan pengarahan.

Mata Songjin berkilatan. Terkejut, mendadak melihat Siwon pun ikut repot memenuhi ruang persalinannya. “KAU—!!”

“BERISIK!” Siwon ikut berteriak. Tampak lebih galak dibandingkan dengan Songjin sesaat setelah wanita itu melihat Siwon disekitarnya.

Songjin menggeram mendapatkan jawaban yang sama dari Kyuhyun maupun Siwon saat dirinya benar-benar tidak mengerti mengapa dua orang ini begitu sulit untuk diberitahu.

Rentetan umpatan serta makian telah berbaris diujung lidahnya. Siap untuk meledak, namun tidak satupun yang dapat Songjin keluarkan sesuai rencananya. Semua menjadi kacau, lidahnya menjadi kelu saat rasa perih dan melilit lagi-lagi menghantamnya.

Dia menjerit kencang, saat merasakan bahwa bayi didalam perutnya menendang berulang-ulang. “dia bergerak! Bergerak! Aaarrrrgh!!” Songjin mengigit kencang bibir bawahnya meredem persaaan campur aduk yang dirasanya.

“ya Tuhan! Eomma!!” kepala Songjin menghempas terjatuh, dia menangis tersedu tidak mengerti apapun lagi. Tidak mengerti apalagi memunculkan ide untuk membuat rasa sakit itu, setidaknya menyingkir sebentar saja.

perutnya terasa panas dan nyeri. Nyeri, seperti terdapat ribuan ular didalamnya, yang sedang bergantian mengigiti kulit terdalam perutnya. Sedangkan bagian bawah perut pada bagian kantung kemihnya terasa berat, panas gatal dan sangat perih.

“astaga, astaga. Ahhhh!”

Songjin terus menerus bersuara. Menyuarakan apasaja. Saat matanya berkeliling, saat dirinya menemukan berbagai peralatan tajam yang berada diruangannya, Songjin cepat-cepat membuang wajahnya jauh. “kenapa ada itu disini?” tanyanya kepada Kyuhyun.

Meminta penjelasan, alasan tentang adanya peralatan semacam itu diruangannya mengingat dia memutuskan untuk melakukan persalinan secara normal, maka pisau bedah dan sebagainya seharusnya tidak berada disini.

“itu apa?”

“ITUUUU!!” Songjin memekik sambil menangis. Mengeluarkan banyak air mata tanpa mau kembali menoleh arah tadi dimana dia melihat pisau bedah berderet dimeja.

Siwon sadar, menunjuk meja dengan lapisan kain hijau itu dengan dagunya kepada Kyuhyun lalu perlahan, mengusap kepala Songjin lembut, “itu bukan apa-apa. Tidak perlu dipikirkan.”

“tapi aku tidak menggunakan itu!!”

“tentu saja kau tidak menggunakannya.” Siwon mengangguk mantap ikut setuju.

Pria berotot itu sempat melemparkan pandangan sesaat kepada Kyuhyun. Keduanya sama-sama bernafas kasar. Ikut sesak nafas sama halnya dengan Songjin kali itu. “kenapa ada disini?”

“untuk berjaga-jaga.” Siwon bersuara, namun tak lama, Kyuhyun menimpalinya terburu-buru, “karena tempatnya memang disini. jangan pikirkan meja itu. Lihat aku saja. lihat aku,” Kyuhyun menarik wajah Songjin agar menoleh padanya.

Ada perasaan aneh yang membuatnya merasa sesak ketika mendapati wanita yang biasanya berteriak-teriak kencang didepan wajahnya itu, kini terlihat tidak berdaya bahkan sulit untuk mendapatkan oksigennya.

“kau melakukannya dengan baik.” Kyuhyun bertutur pelan. Tersenyum mengusap peluh diwajah Songjin, “aku sulit bernafas—“ Kyuhyun mengikik, bertingkah mencekik lehernya sendiri, menggunakan satu tangan bebasnya. “kau cantik sekali.” Usainya kemudian.

Senyum kecut Kyuhyun tampak muncul sumringah namun setengah hati. Ada gurat kekhawatiran dan bayangan ketakutan, pertanyaan bagaimana jika yang berderet mengisi wajah dan kepalanya saat ini.

“bohong”

“oh ayolah, aku bukan pembohong, kau tahu itu”

Nafas Songjin tersengal. Wanita itu meremas dua tangan yang digenggamnya, Siwon dan Kyuhyun bersamaan. “wajahku penuh keringat. Aku tidak cantik.”

“Hey, saat kita bercinta, bukan hanya wajahmu saja yang berkeringat tapi seluruh tubuhmu—“

“kau berlebihan.”

“kenapa baru menyadarinya?” Kyuhyun mengangkat satu alis lantas tertawa.

Untuk sesaat saja, Kyuhyun mampu membuat focus Songjin teralihkan. Membuat wanita itu tertawa walau masih dalam kondisi menyedihkan. Kyuhyun meremas lebih kuat tangan Songjin. Mengusap punggung tangannya dengan jari-jarinya lembut, lantas tersenyum tipis setelahnya.

Hanya hal ringan itu saja yang dapat dilakukannya. Seberapapun inginnya dia untuk menghentikan rasa pedih itu, toh itu bukanlah kapastitasnya. “Hey dengar,” Kyuhyun bersuara saat sekitar hening dan hanya terdengar suara mesin detak jantung saja— membuat suasana tampak lebih mencekam daripada teriakan Songjin tadi.

“kau tahu, kita akan menjadi orang tua. Bukankah itu keren?” Kyuhyun mengacungkan ibu jari menyengir lebar. Anggukan lemah Songjin menjawab alakadarnya saja untuk sesaat, sampai suara pelan wanita itu terdengar lagi, “ya. Kau akan menjadi Ayah.”

** **

“kau siap Songjin? Kita akan memulainya.” Dokter Han yang tadi menghilang, kini muncul tiba-tiba dengan pakaian berbeda. Dia memakai sebuah kain penutup berwarna biru dengan cap dikepalanya berwarna senada. Terdapat sebuah masker yang menutupi mulutnya, yang belum ditutup secara sempurna hingga semua orang masih dapat melihat bibir Han Eunjung yang bergerak-gerak ketika wanita itu berbicara.

“oke. Aku mau kakimu untuk naik kesini.” Dokter Han menarik sebelak kiri kaki Songjin dan kanan dilakukan hal yang sama oleh perawat yang ikut dalam proses persalinan disana. “… aku ingin terus terbuka seperti ini, dan kau menahannya. Okay?”

Songjin menelan ludahnya. Ada rasa takut yang dirasanya mendadak. Yang sejak tadi tidak muncul sama sekali, kini memenuhi hati dan pikirannya. “ya.” Susah payah dia membuat bibirnya dapat bekerja sama, serta suara yang seirama dengan otaknya untuk bersuara menjawab.

“saat aku berkata, dorong, kau tahan nafasmu dan menekannya keluar seperti yang kau lakukan ketika kau buang air besar, tapi lakukan kali ini secara perlahan-lahan, okay?”

“ya.”

“aku akan berhitung 1 sampai 10 dan saat aku menghitung kau mendorong. Saat aku berkata stop, maka hentikan dorongan itu—“

“ya.”

“aku hanya memintamu untuk itu, kau paham penelasanku, Songjin?”

“aku paham.”

“bagus. Kau melakukannya dengan sangat baik Songin.” Han Eunjung tersenyum ramah mengusap perut Songjin, “kita akan segera bertemu dengannya. Kau siap?”

** **

“…….. 7, 8, 9, 10. Okay stop.”

Songjin meraup oksigen begitu banyak disekitarnya. Siwon memejamkan matanya. Entah berdoa atau entah tidak sanggup untuk melihat begitu menyeramkannya matanya kali ini dapati.

Hal yang seperti ini, yang Gyuwon tidak bisa lakukan membuatnya sadar mengapa istrinya itu bersikeras ingin merasakan apa yang Songjin selalu rasakan dan menjadi begitu bersemangat ketika Songjin berada disekitarnya.

“aku memulai lagi, tarik nafas lagi, Songjin—“ Dokter Han memberikan aba-abanya dan mengangguk, “1, 2, 3 , 4, 5—“

Kyuhyun meringis. Dia benar-benar tidak dapat mengontrol betapa anehnya ekspresi yang dikeluarkannya sedari tadi hanya karena mengamati Songjin yang menahan nafas sekaligus mencoba mendorong bayi didalam perutnya seperti sedang bertempur melawan tentara romawi bersenjata lengkap.

Yang Kyuhyun lakukan selain membersihkan peluh dikening Songjin, adalah ikut menarik nafas dan menahannya, ketika dokter Han memerintahkan Songjin unuk memulai menarik nafas atau menyudahinya.

Bukan hanya Kyuhyun. Siwon pun melakukan hal yang sama. Penglihatannya ditutup untuk sementara. Hanya indera pendengarnya yang diaktifkan. Mengikuti bagaimana dokter Han mengarahkan Songjin sambil meremas tangan Songjin dengan dua tangannya erat.

“Stop.” Dokter Han mengangguk mengangkat ibu jarinya. “satu kali lagi kini lebih keras, okay. Kita mulai, 1, 2, 3, 4, 5, 6—“

“appo.” Songjin menghentikan dorongannya dihitungan ke6. Tubuhnya lemas tapi terlihat masih begitu menyimpan semangat untuk meneruskan hal ini dengan cara yang seharusnya.

“appo?” Siwon dan Kyuhyun bicara bersama. Tampak panic, melebihi paniknya Songjin. “appo?”

Songjin mengangguk. Menangis, lalu menggeleng, “lagi—“ perintahnya tegas. “lagi, lagi!”

“Okay, tarik nafas dalam—“ Songjin meraup oksigen banyak-banyak lagi. “konsentrasi, Songjin… okay. 1 – 2 – 3 – 4 – 5 – 6 – 7 – 8”

belum sampai habis dihitungan ke 10 lagi, Songjin telah lagi-lagi memutuskan untuk berhenti. Kepalanya terhempas dan nafasnya tersengal. “aku tidak bisa. Sakit sekali.” Songjin terisak. “terlalu sakit.”

Kyuhyun dan Han Eunjung langsung menatap satu samalain. Keduanya memiliki keputusan yang sama bahwa akan lebih baik jika Songjin menyudahi hal ini disini, dan persalinan dilanjutkan dengan cara Caesar, walau persalinan dengan cara normal, telah dilakukan setengah jalan. Itu masih lebih baik.

Tapi lagi, Han Eunjung mendadak terpana dengan kebulatan tekad Songjin, yang tanpa disadarinya, telah memajukan tubuhnya lagi dan bersiap. “lagi?”

“lagi.”

Kyuhyun menggeleng berulang kali kepada Dokter Han. Seseorang didalam dirinya telah berteriak berkata hentikan. Tapi dia pun sadar, tidak ada yang dapat dilakukannya kali ini selain melanjutkan hal ini saja, sekarang.

“okay—“ Dokter Han mengangguk canggung kepada Songjin, namun kemudian menurunkan bahu tegapnya kepada Kyuhyun.

Semua diantara mereka telah mengibarkan bendera putih dan meruntuhkan segala ide cemerlang, bahwa mereka akan melakukan persalinan secara Caesar apapun yang terjadi, lepas sesaat setelah Songjin berkata bahwa dirinya tidak sanggup lagi.

Itulah mengapa peralatan bedah, pisau dan sebagainya tertata rapih diatas meja disudut ruangan. Meja yang sempat membuat Songjin menangis ketakutan saat melihatnya.

“kau yakin Songjin?”

“lakukan saja dengan cepat!!”

“maksudku—“

frustasi, Songjin menggeram kencang. Melirik Kyuhyun memicing ketika pria disampingnya itu bukan memberikannya dukungan, malah berbisik pelan, memerintahkannya untuk berhenti saja.

“kau gila?” Songjin tampak lebih menyeramkan daripada medusa kali ini, melirik Kyuhyun beringas.

“jangan membuat aku harus memilih antara kau dan dia!”

“aku baik-baik saja.”

“kau tidak sedang baik-baik saja!!”

“lebih baik kau pergi saja.”

“uh-huh? Coba saja buat aku pergi!” remasan Kyuhyun pada tangan Songjin membungkam Songjin untuk terus meladeni pria tinggi itu berdebat. Rasa perih dan melilit diperutnya benar-benar terasa tidak tertahankan lagi.

“lakukan sekarang, aku mohon sekarang” Songjin mengiba ditengah tangisannya lagi. Matanya memerah, tangan kirinya berusaha dengan sendirinya untuk melepaskan tangan milik Kyuhyun yang tersangkut, bertautan dengan miliknya.

Menggantikan tangan besar itu dengan besi, tulang sisi ranjang yang lebi keras dan kuat. Sembari meraup oksigen, Songjin mengisak tanpa dapat berhenti, membuat Kyuhyun yang semula geram kini malah berbalik iba.

“dengar, maaf— aku hanya..”

“lanjutkan, Songjin.” Siwon menyela Kyuhyun. “Kau bisa. Kau tahu, Victoria Beckham yang kau aggungkan itu melahirkan 4 anaknya dengan cara seperti ini. kalau dia bisa, kenapa kau tidak?!” Siwon terkekeh menyemangati Songjin, lalu mengangguk meremas tangan Songjin.

Tersenyum lebih lebar dari semula, mendadak mendapat dopping energy entah darimana. Ditengah isakannya, Songjin mengikuti Siwon, tersenyum, lalu tertawa setelahnya pelan, “bagaimana kalau Angelina Jolie?”

“astaga! Kau mau bergossip, cepat selesaikan ini dulu, lalu temui Eun Soo dan Gyuwon!” decak Siwon merasa jengah sesaat, namun kemudian tertawa bersamaan dengan Songjin.

Maka intermesso ringan itu berakhir dengan Dokter Han yang memulai hitungannya, Songjin menarik nafas dan menahannya. Mendorong menggunakkan sekuat tenaganya.

Sambil terisak, sambil meremas tangan Siwon, sambil berdoa dalam hati, juga menelan seorang diri, rasa pedih yang sedang dirasanya.

Hanya beberapa menit saja Kyuhyun mampu diam bersedekap menonton proses persalinan yang membuat seluruh buku kudungnya meremang itu.

Hanya beberapa menit itu pulalah Kyuhyun akhirnya, memutuskan untuk kembali mendekat pada ranjang. Menggantikan pinggiran besi yang Songjin remas dengan tangannya ikut memberikan sedikit kekuatan yang dimilikinya, jika sekiranya Songjin membutuhkan itu.

Matanya terbuka lebar. Begitupula dengan Siwon dan dokter Han ketika melihat, bagian kepala Bayi mulai tampak. Siwon tidak berhenti membuka dan menutup mulutnya layaknya ikan kehabisan air untuk bernafas.

Ini adalah kali pertamanya menonton secara langsung proses persalinan, dan tentu, baginya ini benar-benar menyeramkan. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana teori sederhana yang menjelaskan betapa sempitnya lubang tersebut, namun dapat mengeluarkan bayi dalam ukuran yang tidak kecil.

Sobek, terkoyak? Pasti. Jika tidak, lalu bagaimana teorinya, dapat keluar bayi berukuran sebesar itu dari lubang yang kecil. Rahang Siwon terjatuh tanpa disadarinya. Kakinya lemas, tulang-tulangnya, seakan tidak lagi sanggup membuatnya bertahan untuk berdiri lebih lama lagi.

Sedang Kyuhyun, mata pria itu telah memerah panas. Air mata mendesak untuk keluar dari tempatnya.

Menyebalkan adalah, ketika pria itu benar-benar tidak bisa menguatkan pertahanannya, membuat wajahnya perlahan dialiri cairan berwarna bening itu.

“lagi Songjin. Tarik nafas panjang, 1 – 2 – 3 – 4 – 5 –“ Songjin menahan nafas begitu kuat. Ditelinganya, suara hitungan dokter Han trdengar mulai samar, dan semakin samar.

Sisa hitungan pun hanya ditangkapnya seperti bisikan saja semakin lama. Lalu membuatnya mendesah lega serta air mata yang lebih deras keluar, adalah ketika dia mendengar suara tangisan bayi begitu jelas.

“Namja—“ Dokter Han tersenyum sama leganya seperti Songjin. Sama tampak paniknya dengan Kyuhyun, dan sama terpananya, seperti Siwon.

Disaat yang sama, Donghae berjingit masuk. masih berusaha mengenakan pakaian operasinya perlahan-lahan, lalu ikut membelak terkejut, terpana, dan tampak sama tololnya dengan Siwon memandangi bayi mungil berlumuran darah ditangan Han Eunjung.

Tujuannya semula untuk menghampiri Songjin, dibelokkannya kembali keluar. Berteriak didepan pintu operasi seperti ditempat itu hanya ada mereka saja, “NAMJA!!!!”

“mworago?”

“huh?”

“aku seorang kakek?”

“Astaga! Aku Nenek!”

** **

“mau mengguntingnya?” Dokter Han menyerhkan sebuah gunting perak kepada Kyuhyun menggunakan satu tangannya. Suara tangisan benar-benar memekakkan ruang persalinan disana, tapi tidak satupun disana yang merasa terganggu.

Perasaan lain seperti takjub yang lebih mengerubungi. Lalu lega. Dan beralih menjadi kepuasan membludak, bahwa apapun yang mereka perjuangkan serta lakukan dengan begitu susah payah kali ini berhasil.

Tangisan tidak hanya berasal bayi lelaki dengan darah diseluruh tubuhnya saja itu, melainkan Kyuhyun, yang mendadak tertunduk lemas melihat bayi digendongan Han Eunjung.

Satu tetes air matanya, jatuh tepat diatas sepatunya. Tangannya bergemetar hebat, menggapai gunting yang dokter Han berikan padanya. Kyuhyun seperti baru saja selesai berperang, lalu benar-benar kehabisan tenaga. Bahkan kakinya terasa terlalu lemas. Juga sama layaknya Siwon, terasa seakan tidak sanggup untuk menyangga tubuhnya sendiri.

Kyuhyun menyandarkan setengah tubuhnya pada ranjang Songjin. Menarik nafas dalam berulang kali. Mengacung, mendekatkan gunting tersebut pada putranya. Tali pusar yang diangkat oleh Nari, salah satu perawat disana semakin membuatnya gugup.

Tangannya benar-benar terasa kebas. Bergetar hebat saat semakin gunting itu mendekat.

Tatapannya jatuh pada wajah kecil putranya. Berlumuran darah serta cairan plasenta yang lengket.

Menangis tersedu tanpa henti, juga sama sepertinya, sedang bergemetar mengigil. “a—aku boleh?”

“kau ayahnya,” nafas Kyuhyun menjadi berat, “digunting?” dia bertanya lagi memastikan.

Menggunting? Maksudnya.. digunting seperti ketika dia menggunting kertas? Memotongnya begitu saja? memisahkannya?

Apa tidak sakit? Tidak mengeluarkan darah? Bagaimana kalau tangisannya semakin mengencang saja karena dia merasa sakit? Bukankah bayi ini masih terlalu kecil untuk merasakan rasa sakit?

Untuk sesaat, Kyuhyun hanya dapat diam. Tidak melakukan apapun selain memandangi bayinya lekat. Mengamati bentuk mata, hidung, bibir— semua berukuran sangat kecil dan tampak ringkih.

Dokter Han mendekatinya berjalan perlahan, membuat jantungnya semakin merasa terpompa semakin lama dokter itu berjalan mendekat. Jantungnya seperti akan melompat, keluar dari tempatnya dan lari tunggang langgang.

Wanita dengan masker yang telah tanggal itu tersenyum menangguk kepada Kyuhyun, “ya.” Jawabnya tanpa dapat berhenti tersenyum. “Lakukan dengan cepat.” Perintahnya.

Tubuh Kyuhyun menegang seketika, “astaga!” mulutnya mendesah putus asa. dia menggosoki wajah lelahnya. Perasaan takut mendadak mengerubungi. Jantungnya seperti sedang mengerjainya saja. berdetak cepat, sangat cepat, terlalu cepat, bersama tangannya yang akhirnya dapat juga digerakkannya. Terangkat, walau berat.


 8

Become a Mom and Dad

There’s a time for us, someday there’ll time for us. Time together and time to spare, time to learn, time to care, someday, somewhere we’ll find a new way of living. We’ll find there’s a way of forgiving. Somewhere.

Somewhere, Barbra Streisand

Bayi lelaki berkulit merah padam yang telah dibersihkan dan diberikan kain tipis sebagai penutup agar tidak kedinginan itu tampak tidak bisa diam berada diatas dada Songjin, menendang udara berulang kali sambil mengeluarkan suara yang tidak akan dapat dimengerti oleh banyak orang dewasa disana.

Tangan kecil, masih memiliki keriput-keriput tipis dan kuku yang terlihat tajam menggenggam erat telunjuk Kyuhyun kuat. Beratnya 2,5 kilogram, dan panjang 50,1 senti meter.

Telah memiliki rambut-rambut tipis cukup lebat juga memiliki mata kecil yang indah. Satu tangan yang hanya dapat menghentak awalnya itu, bergerak kesana kemari seperti mencari sesuatu, lalu kepala yang tergeletak lemah didada Songjin terangkat.

Bayi itu seperti mencari-cari sesuatu, sampai akhirnya tangannya menepuk payudara Songjin pelan, dan mengusal, bergerak kesana kemari berusaha seorang diri hingga mulutnya akhirnya dapat mengulum putingnya.

Decakan tipis kontan lolos ketika bayi polos itu sedang sibuk menghisap, “Cih! Jinjja!”

Kyuhyun setengah menggerutu, setengah merasa geli. Didalam ruangan itu hanya terdapat Dokter Han disudut ruangan yang sedang meneliti beberapa berkas, Kyuhyun, Songjin dan Hyun Gi saja.

Setelah keramaian yang terjadi sebelumnya, ruang persalinan itu masih belum membolehkan banyak orang untuk masuk kedalamnya. Termasuk Donghae, yang semula mengindik perlahan mencoba ikut memenuhi kerumunan perawat dalam proses persalinan Songjin yang menghebohkan.

“Dia tampan.” Songjin seakan sedang berbisik dengan suara seraknya. Wajahnya masih penuh keringat seperti dia baru saja bertempur melawan pasukan romawi yang menyerang, dan dirinya melawan seorang diri saja.

Songjin tersenyum haru, mengusapi punggung Hyun Gi lembut perlahan-lahan. Gurat kepuasan dan kesenangan tampak begitu jelas pada wajahnya. Keringat yang tersisa diwajahnya, entah apakah hanya sebatas itu saja, atau juga bercampur dengan air matanya melihat dua mata besarnya itu sedang memerah dan suara yang terdengar tidak baik-baik saja.

“Yeah—“ Kyuhyun tampak enggan menjawab. “dia memiliki genku jadi itu masuk akal saja.” dia memutar bola matanya cepat. Wajah arogannya kembali setelah beberapa saat lalu yang terlihat hanyalah panic panic dan panic.

Kyuhyun menggoyangkan tangannya yang sedang Hyun Gi remas walau bocah itu masih menyedot brutal seperti benar-benar kelaparan “you did the right thing.” Kyuhyun tersenyum kepada Songjin lebar. “good job!”

Songjin hanya tersenyum tipis melirik Kyuhyun sesaat, lalu perhatiannya kembali lagi pada bayi merah diatas tubuhnya itu. Seperti ketampanan Kyuhyun benar-benar sudah terbanting habis semenjak adanya lelaki lain didalam ruangan itu, yang keluar dari dalam tubuhnya sendiri.

Dan lagi, Songjin pun merasa lucu. Kyuhyun yang menurunkan harga diri dengan memujinya seperti ini adalah kegiatan yang amat sangat jarang ditemuinya. Pria itu lebih sering terdengar mengolok, atau mencibir habis-habisan apapun yang dikerjakannya.

“terimakasih.” Kyuhyun menusap kepala Songjin sama lembut seperti Songjin yang mengusapi Hyun Gi. Tersenyum lagi lalu mengecupi kening Songjin berulang kali.

Mata Songjin terasa berat. Air mata yang awalnya keluar perlahan-lahan itu kini bagai tsunami yang terus menerus mengucur tanpa hentinya. Sedikit senggukan yang dikeluarkannya, benar-benar membuat Kyuhyun baru tersadar bahwa sejak tadi wanita itu menangis.

Pandangan Songjin mengabur ketika Kyuhyun terkekeh dan bibirnya beranjak turun mengecup bibirnya. Kening pria itu mengerut saat sadar, bahwa bibir wanita brutal ini memiliki rasa manis yang tidak biasa.

“kau memakai pemoles bibir?”

Sambil mengusap air matanya Songjin tertawa pelan, “berjaga-jaga kalau kau ingin menciumku.” Jawabnya polos membuat Kyuhyun tidak dapat menahan tawanya lagi untuk membludak lebih banyak.

Membayangkan kapan Songjin sempat memakainya saja membuat Kyuhyun benar-benar tidak habis pikir dengan wanita ini. “ya ya ya~” Kyuhyun menganggukan kepala mengacak rambutnya yang telah kacau sejak sangat lama itu, “kau memang benaar-benar menggelikan wanita aneh.”

Kyuhyun mengulang decakannya seraya menggelengkan kepala. Memandangi Songjin lekat— Nampak begitu iba namun juga bangga mengakibatkan lidahnya menjadi kelu tidak dapat bekerjasama dengannya untuk mengucapkan banyak kalimat didalam kepalanya lagi. “aku mencintaimu.”

Keterkejutan Kyuhyun berlanjut. Matanya seperti baru saja disiram dengan taburan pasir halus— membuatnya mengerjab berkali-kali. Terang saja, Songjin baru saja mengambil kalimat sederhana yang baru akan dikeluarkannya namun tergganjal oleh kelunya lidah miliknya.

“kau apa?” Bukan menggoda atau pura-pura tidak mendengar agar Songjin menjadi kesal dan mengulangi apa yang baru diucapkannya, namun Songjin memang hampir tidak pernah memberikan pernyataan semacam itu padanya.

Terang saja, mendadak Kyuhyun merasa wajahnya seperti baru saja dilempar dengan bongkahan batu besar. Sayang kali ini rasanya tidaklah sakit, melainkan menyenangkan.

Perlahan guratan terkejut itu berubah menjadi semuan warna merah pada pipi gembil milik pria dengan tinggi 180 itu. Kekehan bisa saja keluar, kalau saja didetik selanjutnya, Songjin menciumnya atau melakukan hal manis lainnya, dan bukannya malah terlihat sesak nafas dan menghentak-hentak.  Mencengkram kain ranjangnya sendiri dan berusaha berbicara dengan suara tersendat seakan sedang dicekik.

Sontak warna kemerahan dipipi Kyuhyun tadi lenyap begitu saja, berganti pucat perlahan-lahan ketika dokter Han langsung berlari menghampiri mereka. Memerintahkan Kyuhyun untuk mengambil Hyun Gi dan langsung menekan tombol bantuan.

sisa suara yang terdengar adalah tidak stabilnya suara mesin detak jantung, teriakan, tangisan Hyun Gi, dan helaan nafas panik Kyuhyun.

Sial!

** **

(H+3)

Kyuhyun menutup buku yang sudah dibacanya selama beberapa hari belakangan ini untuk mengatasi kebosanannya. Buku tebal karangan Nicholas Sparks itu memiliki tulisan tangan Songjin diatas post it yang wanita itu sengaja tempelkan dulu ketika mereka bertengkar. ‘Grumpy Kyu’. tulis Songjin saat itu.

Melihat pada halaman itu dan menemukan potongan kertas sialan itu membuat Kyuhyun langsung malas melanjutkan membaca kisah roman picisan tersebut. Kyuhyun melemparkan buku itu keatas meja begitu saja.

Kepalanya kemudian menoleh, mengamati mesin pendeteksi detak jantung— terdengar mengeluarkan bunyian yang sama. Senada, tanpa pernah memiliki perubahan kenaikan juga penurunan.

Songjin seperti tertidur ditempatnya. Memejam, diam, tidak bergerak sedikitpun kecuali bagian dada yang tampak naik dan turun secara konstan. Tanda wanita itu bernafas.

(H+10)

 “Roti?”

Sambil mengunyah, Siwon memberikan sepotong rotinya kepada Kyuhyun. Pria yang awalnya enggan menerima itu, mau tidak mau menyambarnya juga, ketika Siwon tidak juga berhenti menurunkan tangannya dari depan dadanya. Memaksanya agar mengambil cepat pemberiannya itu.

Dengan niat yang tampak tidak utuh Kyuhyun mengambilnya. Menyobek, dan menjejalkannya kedalam mulutnya. Dalam keheningan diruangan berukuran sangat besar itu— dua pria dengan tubuh tinggi wajah tampan yang tidak lagi terlihat tampan namun kacau, sibuk mengunyah. Menghela nafas berat. Mengunyah. Memandangi sekitar— dengan pandangan kosong. Mengunyah. Menelan dengan malas. Menghela nafas.

Mengulur air mata.

(H+20)

“Tidak ada perubahan.”

“tidak.” Geleng Donghae. Matanya kosong menatap Songjin ditempatnya, masih tergeletak tanpa berdaya. “belum.” Namun mendadak dia merasa bahwa pernyataannya adalah pernyataan yang salah, sarat akan keputus asaan.

Dia tidak ingin menjadi orang yang penuh dengan keputus asaan hingga tampak frustasi, walaupun jika kenyataannya memang seperti itu, namun optimis adalah hal yang selalu diusungnya tinggi dalam menangani puluhan pasiennya.

“belum ada kemajuan apapun. Belum. Nanti.” Jelasnya lebih panjang meyakinkan Eun Soo yang tampak sama khawatirnya dengan banyak orang. “nanti pasti ada.” Yakinnya— entah berasal dari mana keyakinan kosong miliknya itu.

(H+30)

Didalam gendongannya, Hyun Gi tampak tenang menghisap ibu jarinya sendiri. bayi lelaki mungil itu hanya satu-satunya penghiburan bagi Kyuhyun sepanjang malam ini.

Ruangan besar tempatnya berada terasa terlalu luas hingga dingin benar-benar sanggup membuatnya merasakan perasaan-perasaan aneh. Sepi, dingin, sendiri dan hanya ditemani oleh suara kecapan Hyun Gi menghisap ibu Jarinya.

Jika saja Songjin tidak dalam kondisi ‘berhibernasi’ seperti itu, wanita itu pasti sudah akan mengganti ibu jari mungil itu dengan putingnya yang mengeluarkan air susu untuk melepaskan dahaga bocah berusia 30 hari itu.

Menyedihkan adalah ketika bayi polos itu sama sekali tidak mengerti, mengapa ketika dirinya merasa lapar, dia hanya mendapatkan tubuh yang diam tanpa mau memeganginya seperti dulu, ketika dia menghisap puting sumber air susu itu.

Untung saja, bayi polos berusia 30 hari itu belum mengerti apa-apa dan belum dapat melemparkan pertanyaan apapun.

(H+45)

“detak jantungnya melemah— aku menamahkan beberapa mesin untuk menyokongnya saat ini. tapi aku tidak tahu akan berapa lama mesin-mesin ini membantunya. Kau tahu… aku hanya seorang dokter. Aku bukan Tuhan yang bisa menjanjikan kehidupan bagi pasienku. Yang bisa kulakukan hanyalah mengerjakan tugasku semaksimal mungkin.”

Bagai baru disiram air es kutub, Kyuhyun dan Siwon hanya dapat mematung diam tanpa berkomentar. Hanya mata yang bergerak kesana kemari, memperhatikan tubuh wanita berusia 24 itu. Wajah Songjin kian memucat.

Suara mesin pendeteksi detak jantung yang selalu mengeluarkan suara konstan itu kini terdengar tidak sesering kemarin dalam mengeluarkan suaranya. Dulu, setiap detik mesin itu akan berbunyi. Sekarang, setiap 2,5 detik barulah bunyi-bunyian itu terdengar.

Dalam diam mata memerah Siwon perlahan berair. Mengeluarkan segelintir-segelintir air yang langsung diusapnya saat tanpa sengaja turun. Sedangkan Kyuhyun, benar-benar memiliki sikap lilin. Diam mematung— entah akan berbicara apa.

Kakinya lemas. Tubuhnya remuk, kepalanya sakit, nafas dari hidungnya, terasa sama beratnya dengan nafas wanita yang sejak satu bulan lalu itu tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya.

Ingin menangis, namun suara ayahnya yang berkata bahwa pria dilarang menangis berputar-putar didalam kepalanya. Sialan!! Benar-benar sial!!

(H+50)

“Scrapbook”

“Scrapbook?” Kyuhyun mengernyit kepada Siwon ketika itu. ikut memungut foto-foto dan banyak kertas yang memenuhi meja bundar disana hingga tidak menyediakan ruang sedikitpun untuk diisi oleh benda lainnya. “ya.” pria berlesung pipi itu tersenyum lebar, sambil menggunting sebuah foto ditangannya.

“ada penambahan anggota baru.” Siwon terlihat riang dalam wajah lesunya. “aku ingin membuat album foto keluarga.”


9

Letter For You

Though near or far I will find a way to send my love. Only pray that it didn’t come back, return to sender. If you are reading this, I hope that things are well and you can text me back , you can write me back, just check your mail

Love Letter, Kelly Rowland

(H+60)

Suara tangisan itu terdengar samar-samar ditelinga Kyuhyun. Dia sengaja menjauh dari kerumunan orang-orang yang mengelilingi peti terbuka berisi tubuh manusia yang begitu dikenalinya itu.

Sejenak suasana hening. Hujan mulai turun rintik-rintik, membuat Kyuhyun terpaksa meninggalkan taman belakang rumahnya untuk kembali kedalam, menguburkan diri didalam keramaian lagi.

Tapi pun, sebenarnya bukan semata rintik hujan saja yang membuat Kyuhyun pergi, namun lebih dari itu— tangisan Hyun Gi yang meraung-raung membuat hatinya seperti teriris dan semakin teriris.

Terasa pedih juga nyeri, yang sialnya harus ditelannya bulat-bulat seorang diri tanpa dapat dibagi kepada siapapun, dan kalaupun bisa, toh sifat berceloteh menceritakan kesukaran diri kepada orang banyak bukanlah sifat dasar milik pria berusia 27 itu.

Bukan ingin memendamnya sendiri juga, tapi jika becerita pun tidak aka nada orang yang dapat benar-benar mengerti bagaimana rasa remuk yang sedang dirasakannya.

Atau jawaban dukungan standar yang akan didapatkannya, tentang perintah agar dirinya menjadi kuat untuk menjadi ayah tunggal bagi Hyun Gi. Mendidik, membesarkan dan menjadi ayah teladan, mengingat kini, tanggung Jawabnya bukan berkurang walau Songjin tidak lagi ada, namun tetap sama, atau bahkan bertambah dengan hadirnya Hyun Gi. Bayi lelaki yang usianya baru menginjak 2bulan.

Terus berada dirumahnya membuat Kyuhyun semakin merasa tidak nyaman. Dia ingin segera pergi dari rumahnya sendiri, tapi disatu sisi dia tidak ingin berada jauh dari tubuh yang hanya dapat dilihatnya untuk terakhir kalinya ini sekarang.

Disisi lainnya, terus berada didalam bangunan ini terasa sangat berat baginya. Terlalu banyak kenangan manis, konyol, menyebalkan, mendebarkan, bodoh, yang telah dilaluinya bersama wanita bodohnya selama 3 tahun hidup bersama.

Senja itu mulai merubung. Mendung membuat senja yang seharusnya terlihat dengan langit berwarna oranye indah, menjadi terlihat gelap mengitam seperti sedang ikut berduka bersama dengannya. Dan hujan yang mungkin akan turun sebentar lagi, seperti wujud dari tangisan alam mewakili Kyuhyun yang sejak tadi menahan air matanya.

Dia masih memiliki pedoman, bahwa pria tidak boleh menangis. Tidak pantas. Ayahnya sering berkata begitu padanya dulu saat dia masih kecil. Jadi mungkin, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengajarkan kepada Hyun Gi pelajaran yang sama.

Maka sore itu, dengan tubuh lelah juga mata yang sayu— tampak lelah sekaligus memerah, Kyuhyun memaksakan dirinya walau setengah terhuyung untuk masuk kedalam rumahnya lagi.

Tepat didepan sliding door kaca terdapat sebuah papan Styrofoam persegi besar dengan warna kegemaran Songjin, pink. Diatasnya menempel begitu banyak kertas bertuliskan segala macam kata-kata dari para tamu, yang sebagian besar adalah kerabat mereka berdua.

Sebagian besar berisi pesan kepada Hyun Gi agar tumbuh menjadi anak yang tampan, cerdas dan ceria. Dan sebagian lagi ditujukan untuk Kyuhyun sebagai ayah tunggal kini, agar merawat Hyun Gi dengan baik, sabar, dan agar dirinya kuat untuk melalui segalanya seorang diri.

Hatinya seperti diremas. Matanya semakin memerah dan dadaknya terasa sesak. Berulang kali Kyuhyun mempertingatkan dirinya sendiri agar tidak menangis. Lelaki tidak boleh menangis. Jangan menangis! Maka air mata yang hampir keluar itu bisa bekerja sama dengannya untuk kemudian kembali masuk.

Sebelum benar-benar membaur kedalam kerumunan, Kyuhyun merogoh sakunya. Mengeluarkan selembar kertas berukuran sedang yang sudah tidak berbentuk lagi karena remasan dan setengah basah berwarna menguning bekas jiplakan air karena sempat jatuh kedalam kolam saat pria itu menuliskannya tadi pagi.

Kyuhyun menusukkan sebuah peniti kecil pada kertas diatas Styrofoam tersebut sambil menahan nafasnya. Kertas miliknya berukuran lebih besar jika dibandingkan dengan milik yang lain disana.

Dia melirik selembar post it berwarna biru dengan tulisan tangan Siwon. Kertas sebesar itu, hanya bertuliskan satu kata saja, ‘Bodoh!’ bacanya pelan didalam hati. Mendadak, membuatnya ingat bagaimana caranya meneriaki Songjin jika isi kepala wanita itu mulai bergeser lagi.

Kyuhyun kemudian membuang nafasnya panjang dan berat, berjalan meninggalkan papan tersebut menuju Hyun Gi didalam pelukan Eun Soo, yang sedang menangis meraung-raung mungkin karena ikut merasa sedih, menyadari kini dirinya tidak memiliki Ibu.

“Hai, tampan!” gurat kesedihan tidak tampak diwajah Kyuhyun saat pria itu menyapa putranya. Senyumannya lebar. Sehening itu orang-orang disekeliling Kyuhyun menanggapi pria tinggi itu menyapa putranya, sehening itu pula kemudian tangisan Hyun Gi mereda. Berganti isakan kecil, matanya berkilat melihat wajah yang dikenalnya itu menghampirinya juga akhirnya. “mau berjalan-jalan dengan Appa?”

Hanya kepada Hyun Gi sajalah Kyuhyun tersenyum lebar dan mau berbicara. Dia seperti tidak memerdulikan orang-orang disekitarnya, bahkan Eun Soo yang menggedong Hyun Gi pun diabaikannya.

Kyuhyun mengambil Hyun Gi, menggendongnya dengan cara berbeda dari Eun Soo tadi. Kyuhyun menelungkupkan tubuh mungil Hyun Gi disalah satu sisi bahunya. Membuat Eun Soo, Ibu dan Ayahnya kini hanya mendapat pemandangan punggung serta popok Hyun Gi saja.

Kyuhyun membawa Hyun Gi menjauh setelahnya. Tangisan Hyun Gi sepenuhnya hilang ketika Kyuhyun menepuk-tepuk bokong kecil Hyun Gi sambil berbicara kepada putranya itu santai membawanya keluar ruangan lagi. Mengabaikan banyak mata yang sedang memandanginya terkejut, atau sedih, atau bahkan penuh rasa iba.

** **

Tidak ada rasa hebat lainnya, yang dapat menandingi rasa..

Saat aku mampu melepas rindumu ketika kau merindukan ayahmu.

Saat aku bisa mengajakmu berkencan tidak dengan uang tapi hanya dengan berbaring diatas kursi malas satu hari penuh. Menonton kisah Romeo-Julliet yang kau benci, atau memutar ulang kisah penguin biru bodoh yang tidak aku sukai.

Rasa saat aku bisa membujukmu, agar tidak marah lagi denganku karena aku merasa bosan tidak berbicara denganmu.

Saat aku bisa menciummu tanpa melakukannya secara diam-diam lagi.

Saat aku bisa membuatkanmu susu cokelat hangat ditengah malam, ketika kau berkata bahwa kau tidak bisa tidur.

Lalu rasa bangga saat aku bisa membuatmu tertidur lelap, hanya dengan memelukmu, karena diluar sedang turun hujan yang lebat dan kau menggerutu, kau membenci petir.

Saat kau tetap keras kepala tidak mendengarkan laranganku. Ketika aku melihatmu tertidur pulas disofa, karena terlalu lama menungguku pulang dari kantor.

Saat aku bisa mengajarimu berenang, ditengah rasa takutmu dengan air. Walaupun berakhir rusuh karena kau berkata, aku mesum.

 

Tidak ada rasa lain yang dapat menandingi rasa saat aku berhasil mengatakan padamu,

Bahwa selama ini aku menyukaimu, tapi aku terlalu malu dan takut untuk mengakuinya, hanya karena aku tidak ingin memiliki jarak denganmu, karena kau merasa aneh denganku setelah aku mengakui hal itu.

 

Tapi kau benar. Kau yang mengatakannya lebih dulu padaku. Walaupun itu tanpa disengaja karena kau mabuk, menelan begitu banyak soju sekaligus dengan bodohnya. Kau benar. Kau yang melakukannya lebih dulu, bukan aku. Tapi aku yang lebih dulu jatuh cinta denganmu. Jadi aku yang menang!

 

Wanita bodoh, kau melanggar janjimu sendiri. Bukankah, diperjanjian yang telah disepakati, seharusnya kita menjadi partner? Kau dan aku, bukan aku dan yang lain, atau aku seorang diri.

 

Jadi ingatkan aku saat kita bertemu nanti mengenai hal ini, karena aku akan menghukummu!

 

-Dari yang kau katakan tampan, dan membuatmu selalu sesak nafas-

 

158 thoughts on “[KyuJin Series] Here Comes The Boom! [Part 2]

  1. ini menegangkan bgt songjin koma berapa lama itu udah 2 bulan.
    emg ikatan darah ga bohong hyun gi tau mana appanya. kyuhyun sabar sabar sabar

  2. sbenernya kyu kebangetan loh disini..
    suami macem apa yg ga pernah samsek nganterin istrinya periksa yg pdhal songjin bisa sebulan 8x bolak balik ke rs dan cmn nemenin waktu lahiran doang 😒

    songjin sabar amatt, ngenes nasibnya
    hahaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s