[KyuJin Series] Here Comes The Boom! [Part 3]


Here Comes The Boom

GSD

Cho Kyuhyun | Cho Songjin | Choi Siwon | Choi Gyuwon | Lee Donghae | Kim Eun Soo |

PG 13

Chaptered [3 of 3]

 

10

Bad Dreams

I was thinking ‘bout her, thinking ‘bout me, thinking ‘bout us, what we gon’ be, I open my eyes, it was only just a dream

Just a Dream, Nelly

Pukul dua dini hari. Kyuhyun terjaga saat dia mendengar suara berisik. Matanya bergerak kesana kemari, mengelilingi ruangan kantornya. Mencari bunyian yang membangunkan tidurnya itu, lalu disadarinya, suara itu bukanlah dari ruangannya, atau sekitarnya.

Suara itu adalah suara tangisan bayi. Hyun Gi. Bocah berusia 2 bulan itu terus menerus menangis. Kyuhyun nyaris bosan juga kesal mendengarnya. Bayi lelaki itu seperti tidak lelah sekalipun menghabiskan waktunya semalam suntuk untuk menangis dan terus menangis.

Kyuhyun menghela nafasnya berat. Mengusap wajah kasar, lantas menjatuhkannya diatas meja begitu saja. tubuhnya terasa lemas. Mimpi sialan tadi adalah mimpi kesekian yang muncul ketika tanpa sengaja matanya terpejam— dan dirinya melayang bebas kealam bawah sadar.

Selalu datang mimpi yang sama. Orang yang sama. Cerita yang sama. Kejadian yang sama selama minggu-minggu belakangan ini.

Mungkin, itulah mengapa Kyuhyun enggan untuk tidur secara sengaja, seberapapun lelah tubuhnya. Tidurnya kali ini adalah tidur yang terjadi tanpa kesengajaan. Seingatnya tadi, dia sedang membaca laporan rekap keuangan lyx serta laporan hal-hal penting pada resort itu selama sebulan belakangan ini.

Wajah Kyuhyun terlihat tegang walau nafasnya tidak memburu, lantaran mimpi buruk yang menghantamnya. Hanya berwarna pucat— terlalu pucat, juga bekas aliran air mata seperti sungai terjeplak jelas. Cepat-cepat Kyuhyun membersihkannya, ketika sadar dia tidak akan tampak keren dengan bekas air mata seperti itu.

Dia bukan seorang remaja ingusan yang baru dibuang begitu saja oleh pacarnya. Memalukan sekali jika dia memiliki penampilan seperti itu.

Sambil melakukan hal itu, Kyuhyun menyalakan laptopnya lagi. Mati— menghitam lantaran ditinggal tidur.

Dia ingin melanjutkan pekerjaannya. Mengerjakan hal yang bermanfaat saja ketimbang tidur, tapi malah memimpikan hal yang tidak ingin dilihatnya. Walau bukan tidak mungkin, mimpi-mimpi itu akan menjadi kenyataan, jika sampai bulan-bulan kedepan, atau tahun-tahun kedepan, Songjin bersikeras bertahan dengan hibernasinya. Tidur cantiknya.

Namun belum juga Kyuhyun menekan tombol power laptopnya, pintunya terbuka lebar. Gyuwon. Ada Gyuwon dengan si sumber berisik itu. Bayi lelaki berukuran satu setengah kali botol soda 1 liter. Kecil mungil, tapi suaranya bukan main mengganggu.

Kyuhyun tampak tidak suka saat Gyuwon menganggunya kali itu. Wajahnya langsung mengencang serta keningnya pun ikut mengerut. “ayolah, Kyu” Gyuwon menimang Hyun Gi seperti seorang ibu kepada anaknya, tapi tangisan itu tidak kunjung mereda.

Kyuhyun mendengus kecang. Sempat membuang wajahnya kepada layar laptop miliknya, kini telah menyala. Namun pendiriannya tidak sekuat itu. Seberapapun kesalnya dia kepada Hyun Gi. Bayi lelaki itu— putranya sendiri, dia tidak pernah benar-benar tega untuk tetap diam.

Ada perasaan nyeri didadanya, saat mendengar tangisan Hyun Gi, lagi dan lagi mengalun melewati telinganya. Lantas terdapat rasa perih seperti pergelangan tangannya baru saja disayat hingga memiliki luka besar mengaga lebar, dan seseorang dengan kejamnya menaburkan garam pada luka tersebut.

Sialan memang. Seperti kepada Songjin— marahnya tidak akan bisa bertahan lama, kini sepertinya hal yang sama terjadi kepada Hyun Gi.

Dia marah kepada bayi kecil itu. Terdapat sebuah hantaman kencang diwajahnya, ketika seseorang berkata— nyaris berteriak kepadanya dari dalam tubuhnya sendiri, bahwa bocah itu adalah penyebab mengapa Songjin tidak juga bergerak diranjangnya hingga saat ini.

Yang menyebabkan dia tidak bisa tidur. Atau tanpa sengaja tertidur, namun memimpikan hal yang tidak-tidak. Bayi itu, yang membuatnya tidak merasa nyaman dengan hidupnya. Kali itu. Kali itu saja.

Lalu Kyuhyun teringat, betapa dulu dia begitu mengaggumi si perusuh yang berisik itu ketika dia masih berada didalam perut Songjin. Orang pertama yang selalu memohon, agar si perusuh itu cepat keluar, karena sudah tidak sabar ingin melihat wajahnya. Tapi lucunya kini Kyuhyun malah belum melihat bagaimana rupa putranya sendiri dengan jelas.

Pernah. Tapi hanya sekilas. Sebentar saja saat Songjin menyusuinya, yang tidak lebih dari satu jam saja itu. Itu bukan waktu yang lama, untuk seorang Ibu menyentuh bayinya setelah perjuangan keras yang dijalaninya sebelumnya. Katakanlah Kyuhyun ayah yang buruk, tapi selepas Songjin tidak menunjukan adanya ‘kemajuan’ dalam tidur panjangnya, pria itu begitu enggan untuk menyentuh putranya sendiri.

Tidak menyentuh. Berada disekitar bayi tidak bersalah itupun malas. Mendengar suaranya, membuat telinganya sakit.

Kyuhyun ingat, dialah orang pertama yang selalu membangunkan putranya dengan nyanyian sederhana dipagi hari. Memberikan usapan pelan, sampai dia mendapatkan balasan sederhana berupa tendangan halus, atau pergerakkan apapun dari dalam perut Songjin ketika itu. Hingga akhirnya, mau tidak mau Songjin ikut terbangun karena ulah mereka. Kyuhyun dan Hyun Gi yang masih didalam perut— yang bahkan belum mengerti apa-apa.

Kyuhyun juga selalu ingat, dialah orang terakhir yang juga selalu bernyanyi untuk bocah itu dimalam hari. Selambat apapun dia kembali dari kantor. Tidak pernah sekalipun dia melewatkan waktunya, untuk berinteraksi dengan janin tersebut.

Mengajaknya bicara, bercerita, bermain, bahkan berkonspirasi untuk membuat Songjin lebih ‘jinak’ dan mudah diatur.

Kini Kyuhyun heran. Perasaan bersemangat menggebunya itu, entah hilang kemana. Sisanya hanyalah perasaan kosong, hampa dan ringan. Ringan, terasa terlalu ringgan hingga seringkali Kyuhyun merasa, tubuhnya dapat terbang melayang hanya karena tersapu hembusan pendingin udara saja. terlalu konyol, bagi orang secerdas Cho Kyuhyun.

Inilah yang Kyuhyun maksud, akan menjadi ayah seperti apa jika dia melakukannya hanya seorang diri saja. dia tidak pernah berjanji akan menjadi ayah yang baik dengan berada disekitar putranya itu terus-menerus.

Dia tidak pernah berjanji mampu memberikan proteksi, kenyamanan, dan sebuah keluarga kepada putranya kelak, jika dia melakukannya seorang diri. Seperti ada yang hilang, dan tidak sesuai jika dia melakukannya sendirian.

Dan itu benar terjadi. Syukurlah Kyuhyun tidak pernah menjanjikan apapun kepada Songjin dulu. Dia hanya berkata, bahwa dia oke, dia mampu melengkapi seluruh kebutuhan Hyun Gi kelak. Apapun itu. Tapi kembali pada permasalahan awal, kenyamanan sebuah keluarga yang utuh, tidak mampu diberikannya.

Kini Kyuhyun tampak menyesal. Dia tahu bagaimana rasanya terbuang. Tahu bagaimana rasanya memiliki pertanyaan, mengapa orang tuanya membuangnya? Atau, mengapa hidupnya terasa berbeda, tidak seperti milik orang lain?

Kyuhyun tahu betul bagaimana rasanya berada ditengah orang baik yang berkata bahwa mereka menyayanginya, tapi perasaan hampa itu terus ada tidak mau hilang, sekuat apapun caranya untuk menyingkirkan perasaan itu.

Kyuhyun tahu, rasanya tidak memiliki siapa-siapa, dan putranya tidak sepertinya. Hyun Gi masih memiliki orang tua. Masih ada Songjin— Ibunya, walau mati kaku bagai putri tidur dalam dongeng. Dan dirinya, Ayah kandung. Hidup. Bernafas. Bergerak.

Jika ketidakadilan itu dapat dilenyapkan, dan perasaan terbuang itu dapat diminimalisir, Kyuhyun tahu apa yang harus dilakukannya. Dia harus membuat putranya setidaknya tahu, bahwa dia masih memiliki keluarga— walau mungkin tidak utuh.

Jadi terseok-seok Kyuhyun menyeret kaki menuju Gyuwon. Berdiri didepan wanita itu namun mengambil jarak satu jengkal. Masih tampak takut, atau entah enggan, dan tangisan Hyun Gi yang memekakkan telinga, tidak membuatnya merasa pengang lagi, meskipun Gyuwon terlihat terganggu.

Desahan panjang Kyuhyun lontarkan, melihat wajah Hyun Gi memerah padam. Dua tangan kecilnya terkepal kuat, seperti sedang mengajak bertinju seseorang. Siapa saja.

Mulutnya terbuka lebar saat tangisan itu semakin Kyuhyun lihat nyata. Bukan lagi terlihat seperti tangisan melainkan jeritan. Kakinya meggejal tidak tenang. Tubuhnya bergetar seperti kedinginan, padahal dia telah memakai berlapis-lapis pakaian, serta kain untuk selimut penghangatnya.

Tangan Kyuhyun bergetar saat bergerak menuju Hyun Gi. Sampai saat bocah itu telah berpindah tangan— tubuh kecil itu menelungkup didada kirinya, dan Kyuhyun menepuk-tepuk bokong mungil Hyun Gi— secara reflex dilakukannya tanpa pernah seorangpun mengajarkan kepadanya, bagaimana cara membopong bayi yang baik dan benar— Kyuhyun melakukannya dengan sangat baik.

Maka melihat hal tersebut, Gyuwon mengelakan nafas lega. Bukan lega karena akhirnya, bebannya hilang, melainkan lega karena akhirnya, Kyuhyun mau menyentuh putranya sendiri.

Dia sengaja tidak membiarkan Hyun Gi dibawa oleh Ayah – Ibu mertuanya, selepas kondisi Songjin memburuk seperti itu. Gyuwon selalu yakin bahwa suatu saat, Kyuhyun akan melunak dan Hyun Gi berada bersama dengan orang semestinya bayi itu berada, dan kini keyakinan yang telah ditentang oleh begitu banyak orang, baik Ayah – Ibu mertuanya, Siwon sendiri, Donghae juga Eun Soo, Gyuwon patut berbangga diri karena kemauannya berjalan sesuai dengan apa yang diharapkannya.

** **

Telah dua jam lamanya keadaan menjadi hening dan tenang. Tidak lagi terdengar tangisan menderu, jeritan— yang membuat telinga siapa saja langsung sakit ketika mendengarnya.

Gyuwon hanya dapat tersenyum tipis melihatnya. Melihat Hyun Gi tertidur diatas tubuh Kyuhyun. Menghisap ibu jarinya seperti itu adalah dot dengan susu. Tidak jauh berbeda dengan Hyun Gi, Gyuwon mendapati Kyuhyun sama tenangnya, dengan putra sematawayangnya tersebut.

Sekilas, orang yang tidak mengerti akan menyangka bahwa pria 27 tahun itu tertidur, namun Gyuwon memiliki kepekaan lebih tinggi dibangingkan siapapun selama ini.

Senyumannya masih menyembul lebar, ketika dia mengusap kepala Hyun Gi lembut yang sudah ditumbuhi rambut berwarna hitam. “dia tidak pernah setenang ini sebelumnya.” Tutur Gyuwon Nampak puas.

Cukup sedikit tersinggung juga sebenarnya. selama ini terlalu banyak upaya yang dilakukannya, atau orang-orang sekitarnya hanya untuk membuat Hyun Gi tenang. Atau setidaknya, tidak menangis lagi saja. itu sudah lebih dari cukup.

Banyak yang gagal. Eun Soo, Donghae, Siwon, Ayah – Ibu mertuanya, bahkan dirinya sendiri. dia tidak pernah merasa sepayah ini sebelumnya dalam mengurus batita. Banyak yang mengaggumi kemampuannya dalam satu hal itu, namun kini, kemampuannya seperti perlu dipertanyakan lagi.

Hyun Gi tidak pernah tenang saat berada dengannya, menangis meraung seperti baru saja terjatuh dari jurang, menghantam kepala hinga berdarah-darah. Tapi dengan Kyuhyun, Hyun Gi diam.

Tidak memerlukan waktu lama bagi Kyuhyun. Pun tidak memerlukan banyak aksi— atau gerakan. Kyuhyun hanya meletakkan Hyun Gi diatas tubuhnya— pria itu sendiri berbaring disofa. Menepuk-tepuk bokong Hyun Gi, dan konyol saja, tangisan Hyun Gi mereda.

Gyuwon masih ingat dengan jelas bahwa dia pun melakukan hal yang sama, seperti apa yang Kyuhyun lakukan saat ini.

Dia bahkan menambahkan banyak improvisasi dengan nyanyian, senandung ringan sederhana, berjalan-jalan mengelilingi gedung kantor, menarik perhatian bayi lelaki itu dengan banyak hal, namun Hyun Gi tidak mau tenang.

“dia tidur?” Kyuhyun bertanya dengan mata memejam. Dia mengantuk, tapi tidak ingin tertidur lagi mengingat mimpi sialan yang tidak ada bagus-bagusnya, selalu menghampirinya sebagai tamu tidak diundang.

Gyuwon hanya menggedikan bahu— tanpa Kyuhyun menyadarinya. Menjawab pertanyaan pria itu semudah itu saja. Kyuhyun merunduk perlahan, memeriksa Hyun Gi— sedikit terhibur atas aksi konyol Hyun Gi, namun juga tampak menyedihkan disaat yang sama. Ketika Hyun Gi menghisap ibu jari miliknya— yang ukurnnya hanya sebesar penghapus pinsil saja.

Seperti yakin bahwa ibu jari itu akan mengeluarkan air susu untuk melepas dahaganya, Kyuhyun melihatnya lebih pada kemirisan. Selama ini Hyun Gi harus menerima keputusan Kyuhyun, yang menentang ide semua orang untuk memberikan asi dari ibu pengganti, dan lebih memilih memberikan susu formula saja padanya.

Jika bukan Songjin, maka tidak dengan siapapun.

Kyuhyun yang keras kepala, Kyuhyun yang tampak keji, diam-diam merasa pedih dengan pemandangan hasil keputusannya sendiri.

Perlahan Kyuhyun beranjak bangkit. Mengangkat Hyun Gi hati-hati menyerahkannya kepada Gyuwon lagi, namun wanita itu menaikan alisnya tinggi-tinggi tampak enggan.

“aku sudah menyentuhnya selama lebih dari 30 jam, dan kau hanya baru 2 jam saja.” mentah-mentah Gyuwon menolak Kyuhyun. Membuat bayi yang sedang tertidur itu bergerak-gerak diudara lemas, dengan mata tertutup, dan suara kecapan dari ibu jari yang dihisap. “tidak. Itu urusanmu.”

Gyuwon mengibaskan tangan wujud penolakannya dan langsung bangkit meninggalkan tempatnya— meninggalkan ruang kerja Kyuhyun.

Membiarkan si Ayah muda— baru itu seorang diri ditengah atmosfer canggung. Kyuhyun tidak pernah berurusan dengan anak-anak, balita, atau bahkan bayi sekalipun. Ini adalah kesempatan pertamanya menimang bayi— berusia 2 bulan. Putranya sendiri.

Helaan nafasnya keluar, bersamaan dengan kepalanya yang terjatuh dipunggung kursi, serta kembalinya Hyun Gi diatas tubuhnya. Bayi kecil tidak berdaya itu kembali menggeletak— tubuh melengkung seperti udang, menjelaskan bahwa udara disekitarnya, terasa terlampau dingin baginya. Maka dengan reflex yang dimilikinya lagi, Kyuhyun memeluk tubuh Hyun Gi. Mengusapi punggungnya berulang-ulang. Berharap munculnya rasa hangat atas gesekan antar kulit tersebut.

Ditengah keheningan— kesendiran, Kyuhyun mengingat mimpinya tadi. tangisan Hyun Gi, sama kacaunya seperti saat ini. tadi. ketika didalam sana bayi itu berada digendongan Eun Soo, tapi disini, dia berada ditangan Gyuwon.

Sama lagi, hanya dirinyalah yang dapat membuat Hyun Gi diam. Tenang, hingga lama-kelamaan, jatuh tertidur pulas, nyenyak.

Satu yang tidak disukainya dari mimpinya. Bagian peti brengsek dengan tubuh kaku Songjin selalu ada dan tidak pernah berganti dengan adegan yang lain.

Seakan tidak bosan terus menerus muncul. Tidak ingin mendapatkan adegan lain yang lebih pantas. Kyuhyun menutup matanya. Percakapan Songjin dengannya muncul satu persatu.

“kau tahu? Hidup itu seperti hujan. nyaman, tapi sebentar”

Songjin tidak pernah mengerti betapa efek dari perkataannya, membuat Kyuhyun tidak dapat tinggal diam ketika itu. Rasa tidak nyaman yang muncul serta ketakutan itu semakin menghantui, bukan hanya pada diri wanita itu sendiri, namun begitu pula Kyuhyun.

“aku takut.” Kyuhyun mendengar suaranya sendiri didalam telinganya. “masih banyak sekali hal yang ingin kulakukan denganmu.”

“kau ini lucu. Bertingkah seperti aku akan mati saja.”

“bagaimana kalau iya?”

“huh?”

“……. Aku bisa saja melakukan semuanya sendiri, tapi aku tidak ingin melakukannya sendirian.”

Nafas Kyuhyun tersengal. Memejamkan mata ternyata bukan solusi yang tepat karena dengan begitu, wajah pucat pasi Songjin malah berputar-putar dan tampak semakin jelas saja dimatanya.

Matanya terbuka lebar memandangi langit-langit ruangannya. Putih. Bersih. Kosong, dan hampa. Ditengah kehampaan itu lagi dia mengingat kejadian beberapa waktu silam dipantai Eurwangni, Incheon.

Ketika pertengkaran yang semestinya terjadi— diredamnya mati-matian hingga hanya berakhir petuah-petuah darinya, bagi wanita barbar yang keras kepala itu. “..aku serius dengan yang kukatakan tadi. kau boleh melakukannya, aku mengijikanmu. Aku bahkan baru saja berfikir kalau kau memang harus melakukanya saat nanti jika aku tidak ada.”

Bibir Kyuhyun mengatup—rahangnya mengeras. Persoalan lain yang panjang saat itu— tentang menikah lagi. Perintah menikah lagi. Perintah.

Songjin benar-benar gila. Wanita itu dengan teganya memerintah seperti itu pada saat bahkan dirinya masih bernyawa. Berdiri tegap bersama Kyuhyun.

Wanita itu otaknya memang agak sedikit bergeser hingga kegilaan atau ketololan sudah tidak dapat dibedakan lagi. Kadang Kyuhyun merasa lucu, kadang merasa malu.

Tapi permintaan tolol itu bukanlah suatu kelucuan lagi dari minimnya daya kerja otak Park Songjin. Wanita itu memang agak…. Entahlah seperti apa Kyuhyun dapat menjabarkannya.

Perasaan tolol terlebih tolol adalah ketika Kyuhyun mendapati dirinya, jatuh cinta mati-matian dengan wanita tolol yang otaknya nyaris sama dengan otak udang besarnya.

Pertanyaan besarnya yang sampai saat ini tidak pernah menemukan jawaban, bahwa, mengapa harus Songjin? Dari sekian puluh juta manusia, dari puluhan ribu wanita, dia bisa saja mendapatkan yang lebih ‘benar’. Atau setidaknya, yang terlihat lebih pantas bersama dengannya.

“kau tidak sehebat itu untuk melakukannya seorang diri!” suara Songjin mengema diruangannya— entah bermuara darimana.

Kyuhyun tampak terkejut, dan lantas menggemeretakkan giginya. Dalam kondisi bibir terkatup pun Kyuhyun masih bisa menggeram pelan berbicara kepada suara itu, “aku sanggup melakukannya, aku sanggup!” balas Kyuhyun ketus.

Kemarahannya perlahan mereda, ketika sadar tidak seorangpun sedang berbicara padanya. Didalam ruangannya hanya terdapat dirinya, dan Hyun Gi yang tertidur pulas.

Lagipula, bocah 2 bulan itu belum bisa berbicara sefasih itu— hanya untuk merendahkan kemampuannya. Itu hanya imajinasi konyol Kyuhyun yang berasal dari alam bawah sadar, akibat rasa lelah yang bertumpuk.

Kyuhyun kemudian mengendurkan bahu tegangnya. Sia-sialah kini seluruh yang dilakukannya, ketika menyadari bahwa Songjin mungkin saja benar. Bahwa wanita itu sebenarnya tahu, bahwa dia akan pergi meninggalkan dirinya dan bayi yang telah dikandungnya dan dilahirkannya susah payah.

Mungkin Songjin benar, dan selama ini Kyuhyun lah yang terus-menerus menyangkal fakta, bahwa apa yang Songjin katakan adalah benar. Peringatannya, perintahnya.

Maka dipagi buta itu, ketika matahari mulai menampakkan dirinya— memberikan sinar menyilaukan, mengganggu penglihatan Kyuhyun—lagi lagi reflex, menutupi Hyun Gi dengan jasnya yang tersampir dipinggir kursi dekatnya, Kyuhyun mendapati dirinya duduk termangu dengan mata yang tidak bisa berhenti mengeluarkan air tidak berwarna.

Tanpa suara, tanpa isakan, namun terasa bukan main perih dan sesak.

“—let me put in this way, with me you’re number one. And there isn’t even number two . it’s not because I love you but because I only love you. if I don’t have you, then I won’t have any other choices…..”


 11

Breathe!

I remember when we kissed, I still feel it on my lips. The time that you danced with me, with no music playing. I remember the simple things, I remember ‘till I cry, but the one thing I wish I’d forget. The memory I wanna forget. Is goodbye.

Goodbye, Miley Cyrus

Masih sama seperti sebelumnya. Ruang rawat nomor 1010 itu hanya berisi mesin, seorang wanita tidak sadarkan diri dan seorang pria yang terus menerus berbicara kepada wanita tidak sadarkan diri itu, tidak perduli dengan anggapan orang tentang dirinya yang telah kehilangan otak, atau tingkahnya dianggap konyol oleh banyak perawat yang keluar masuk kedalam kamar tersebut.

Siwon tidak perduli. Lebih tepatnya, tidak lagi memerdulikan apa yang orang lain katakan untuknya. pria itu hanya terus berkutat membuat scrapbook— hasil idenya sendiri, memilah beberapa foto dari begitu banyak foto yang diambilnya dari rumah.

Mengoceh meminta pendapat Songjin apakah bersedia gambar-gambarnya dimasukan kedalam album foto buatannya. Tentu saja Songjin tidak menjawab. Tapi Siwon terlampau nekat— dengan mengandalkan bunyi mesin, detak jantung Songjin sebagai jawabannya.

Aku bunyian pelan, artinya, oke.

Dua bunyian pelan atau tiga secara terburu, artinya tidak.

Donghae telah mengamati lama, segala yang terjadi diruangan 1010 itu tanpa banyak berbicara. Ada dua orang yang sangat sulit untuk dimengertinya kali ini.

Yang diketahuinya, seharusnya Kyuhyun lah yang berada disini. yang terlihat frustasi nyaris menggila mengajak berbicara pasien koma 2 bulan lamanya. Tapi disini, Choi Siwon lah yang melakukannya.

Pria berlesung pipi, tubuh tegap atletis itu sama sekali tidak sudi menyingkirkan bokong dari ruang rawat nomor 1010. Jika ada yang mengusiknya, bersiaplah bergulat saat itu juga.

Sedangkan Kyuhyun, pria itu adalah kebalikannya. Tidak sudi berada diruang rawat itu. Pun tidak berada dirumahnya. Tidak melenggang dari kelab malam satu ke kelab malam lainnya memang. Hanya berada dikantornya. Diruang kerjanya sampai mati bosan.

Lebih memilih sibuk dengan tumpukan pekerjaan daripada terlihat menyedihkan, menangis disamping tubuh istirnya.

Donghae bahkan tidak mengerti mengapa awal hari dimana Songjin mengalami komanya, Kyuhyun langsung bersikap anti habis-habisan terhadap Hyun Gi. Pria itu.. ah, entahlah.

Membingungkan. Memusingkan. Pemarah dan berubah menjadi hulk dalam seketika, jika ada yang berani mengusiknya.

Disaat seluruh pengunjung datang menjenguk Songjin. Kerabat dekat, Ayah – Ibu, Kyuhyun tidak juga kunjung telihat batang hidungnya. Pria itu memang menggelikan.

Eun Soo yang bahkan memiliki jadwal penuh— bersikeras mengambil day-off, hanya agar dapat lebih sering mengunjungi atau berada dirumah sakit besar itu. Wanita itu sama enggannya dengan Kyuhyun. Menolak berada diruang rawat 1010 itu, tapi Eun Soo masih lebih baik karena terus berada disekitar lantai 10 itu— tidak lenyap kemanapun.

Sesekali turun, menuju cafeteria bersama Gyuwon atau Donghae. atau Nara jika manager itu datang. Atau juga Luke, jika kakaknya itu memiliki waktu senggang— datang membawa banyak sekali buah-buahan serta makanan bagi siapa saja disana.

Mereka semua berkumpul diruang tunggu yang sepi. Hanya berteman dengan kursi-kursi dan meja kosong. Pendingin udara yang sialannya, bisa membuat flu seketika, serta sesekali, cleaning service datang untuk membersihkan sisa bekas-bekas makan mereka.

Maka siang itu, itulah yang terjadi lagi diruang tunggu kosong itu. Satu meja makan persegi panjang berisi segala roti dan buah-buahan. 5 kepala. 4 awalnya, lalu seorang lagi datang tanpa direncanakan.

Luke mengunyah roti yang dibawanya tadi. Eun Soo mencomot anggur berulang ulang kali mengganjal rasa lapar, namun bukan diwaktu makan siang. Gyuwon menghangatkan diri dengan cangkir kopinya, menggenggam cangkir keramik itu erat.

Donghae, terlihat seperti seorang dokter pengangguran, sedari tadi hanya ikut duduk duduk santai tanpa melakukan apapun selain memainkan stetoskop miliknya yang digeletakkan diatas meja. Sedang orang tambahan yang datang tanpa direncanakan adalah Lee Sungmin.

Sungmin mendengar kabar bahwa Songjin telah melahirkan dari Changmin. Changmin adalah parternya dalam pekerjaan sosialnya kali ini, pembuatan panti asuhan di Bundang.

Sepengamatan Sungmin, dibanding Kyuhyun, Changmin terhitung lebih sering mengunjungi kamar nomor 1010 tempat Songjin berada. Dia juga ingin bertanya mengapa, tapi selalu merasa bahwa waktu tidak pernah tepat untuk dirinya menanyakan hal seperti itu.

Siang itu matahari menyorot bengis kepada mereka melalui kaca jendela tebal. Namun pendingin udara bekerja lebih baik— membuat udara panas itu tidak terasa sedikitpun oleh mereka.

Kelimanya duduk dengan tenang. Melakukan segala hal yang tak penting untuk dilakukan. Mereka jelas tidak memiliki kegiatan lain yang lebih bermanfaat, tapi entah bagaimana merasa enggan mengangkat kaki dari ruangan itu. Rumah sakit itu. Seeprti tidak mau tertinggal berita sekecil apapun. Ingin menjadi pewarta pertama mengenai kondisi wanita barbar tak sadarkan diri disana.

“Hyun Gi…” Eun Soo mulai mengacaukan keheningan, dengan menggumam nama bayi lelaki mungil itu. Didalam kepalanya, berputar-putar wajah lucu menggemaskan yang selama ini selalu membuatnya menjadi senang mendadak jika bayi itu berada disekitarnya. “dimana Hyun Gi?”

perlahan, Eun Soo menoleh pada Gyuwon. Wajahnya yang layu juga lemas namun masih terlihat luar biasa cantik itu tergeletak diatas meja kaca— bernasib sama dengan bungkus plastic roti milik Luke. “huh?”

“tidak denganku…” jawab Gyuwon sama malasnya. Wanita itu mendesah panjang dengan beratnya. Menarik tubuh untuk bersandar pada punggung kursi, lantas melipat tangannya didepan dada. “Kyuhyun.”

………..

hanya terdengar suara ketukan kaki dari hentakkan heels milik Eun Soo ketika itu, sampai sesorang sadar akan sesuatu, terkejut hingga mata yang terkantuk miliknya itu mendadak terbuka seperti baru saja disiram air sangat banyak.

“Kyuhyun? Maksudmu.. kau meninggalkan Hyun Gi dengan Kyuhyun??”

Bukan hanya Donghae saja yang melebarkan matanya. Secepat itu Eun Soo paham, secepat itu pula wanita itu menggerakkan tubuh— berposisi sama. “kau gila?”

Luke, menyadari bahwa terjadi kesalahan. Pria kaukasian itu pun berhenti mengunyah, lalu ikut memandangi Gyuwon penuh tuntut seperti yang lain, seakan melakukan hal sama adalah wujud bentuk solidaritas tinggi.

“sendiri?”

“berdua!”

“dia ayahnya!” Gyuwon meredam ekspresi penuh tanda Tanya serta tuntutan yang tertuju padanya tanpa henti. Menatap kembali orang-orang didepan dan sampingnya, sama penuh tanyanya seperti mereka tadi. “dimana letak kesalahan yang kulakukan? Aku menyerahkan anak itu kepada yang bertanggung jawab.”

Donghae yang awalnya memiliki keterkejutan melebihi yang lain perlahan mengendur. Sadar bahwa yang Gyuwon katakan adalah benar, dan tentu saja, yang berwajib atas anak laki-laki montok menggemaskan itu adalah Kyuhyun. Memangnya siapa lagi?

Tapi pun, meninggalkan Hyun Gi bersama dengan Kyuhyun saja, membuat bukan hanya Donghae saja menjadi mendadak khawatir. Hampir seluruh orang dimeja makan persegi panjang itu merasakan hal serupa.

Kyuhyun menjadi agak tertutup— dan lebih pendiam. Pemarah, juga sembarangan. Pria itu bahkan terlihat jelas, tidak mengurus dirinya sendiri dengan baik. Ditinggali Bayi 2 bulan yang membutuhkan banyak perawatan, apa sanggup?

“aku kira kau harus memberi tahu Paman.” Tutur Sungmin menengahi. Menggedikkan bahunya. “beri tahu Paman atau Bibi, kalau Hyun Gi tidak denganmu lagi. Tapi Kyuhyun.”

“sudah.”

“lalu?” Eun Soo yang paling cepat menyahut. Wajahnya sudah tidak lagi tergeletak diatas meja. Sudah tegap searah dengan bahunya.

Wajah Gyuwon tampak tidak lagi santai seperti tadi. mengernyit kencang, mengerutkan kening-keningnya. Matanya tertuju pada satu-satunya orang yang sedari tadi tampak tidak setuju dengan keputusannya untuk menyerahkan anak lelaki itu pada ayahnya sendiri, “menurutmu?”

Mulut Eun Soo terbuka. Berbagai rentetan jawaban, selaan, serta makian bahkan telah berbaris rapih dipangkal lidahnya, namun otak cerdasnya pun menyadari bahwa tidak ada yang salah, dari apa yang Gyuwon lakukan.

Hanya saja…. baginya, itu terasa tidak tepat. sungguh tidak tepat. Kyuhyun seperti sedang dirundung kelabu dan Hyun Gi bukanlah jawaban tepat, agar pria itu menjadi sedikit terlihat ‘hidup’ walau sebenarnya, sudah semestinya hal itu terjadi. Itu anaknya. Kenapa harus merasa terbebani dengan hadirnya anak itu?

Kalau Kyuhyun dapat menggunakan otak cerdasnya lebih baik lagi, pria itu sudah sepatutnya sadar bahwa kondisi Songjin kali ini, bukanlah kesalahan Hyun Gi. Tidak sama sekali.

Jadi seluruh sikap antipatinya terhadap Hyun Gi selama ini, sebenarnya sangatlah tidak beralasan. Tapi yasudahlah, toh saat ini, bayi laki-laki itu sedang ada bersamanya. Kyuhyun adalah seorang pria dewasa yang sudah tahu harus melakukan apa selanjutnya. Dia bukan anak-anak yang harus diberikan pengarahan tentang apa yang baik dan apa yang buruk.

Tentang apa yang harus dilakukan yang tidak boleh dilakukan.

Maka menyadari hal itu, mengendurlah kekerasan hati Eun Soo. Wanita itu mengalah. Hanya mengangguk setuju— atau.. entahlah. Pura-pura setuju pun tak masalah dan menghelakan nafas panjang, menyelipkan rambut ke belakang telinga “tapi..” gantungnya terlihat ragu-ragu. “bagaimana kalau…. Dihubungi saja?” dia berusul.

Ada rasa tidak nyaman yang semakin lama semakin membesar. Seperti bola es yang semakin lama, semakin membesar. Dan entahlah, mendapati kondisi Songjin seperti ini, mendadak Eun Soo merasa memiliki kewajiban tambahan, terhadap bayi laki-laki itu.

Dia sempat berfikir, bahwa Songjin pasti akan melakukan hal yang sama, jika dia berada diposisinya. “menelepon Kyuhyun?”

“aku tidak membawa ponsel.”

“aku bawa!” Sungmin yang sedari tadi hanya diam, mendadak cepat mengacungkan ponselnya diudara. Merasa canggung karena diperhatikan dengan pandangan aneh seperti itu, pria itu hanya menyengir kuda, meletakkan ponselnya diatas meja, ditengah.

Kim Eun Soo lagi. Tangan pertama, tercepat meraih ponsel tipis tersebut. Namun sadar akan kelancangannya, wanita itu meletakkan ponsel milik Sungmin diatas meja lagi. Tersenyum getir sebagai wujud penyesalannya.

Ah, Kim Eun Soo tidak pernah begini konyol sebelumnya. Tidak selain untuk Lee Donghae dulu.

.

.

.

“Tidak bisa?”

“tidak.”

Saambil menggeleng, Luke memainkan jari-jari diatas ponsel miliknya. Sedang Eun Soo tampak semakin cemas, wanita itu tidak dapat duduk tenang lagi. “apa.. kita datangi saja?”

Kelimanya berpandangan. Donghae adalah pria pertama yangmenumpahkan senyuman tidak terbaca kepada wanita ketus berambut panjang tersebut, “Hey, dia bersama Ayahnya, apa yang perlu dikhawatirkan lagi?”

Eun Soo menenggak kalengan bir miliknya lagi. Hanya tidak ingin berdebat, dan agar kekesalannya terhadap dokter tampan yang selalu dielu-elukannya ini mereda, juga menghilangkan dorongan untuk menghantamkan kepala Donghae ketembok.

Dia benar-benar membayangkan segala kemungkinan buruk yang terjadi dengan Hyun Gi saat sedang bersama dengan Kyuhyun saja. mungkin bayi lelaki itu menangis meraung-raung karena kehausan dan Kyuhyun hanya duduk diam memperhatikan anaknya seperti itu.

Atau dengan cerdasnya, Kyuhyun meninggakan Hyun Gi didalam box diruang tengah, sedangkan pria itu berada didalam kamarnya merayakan kelabunya seorang diri.

Ketololan ketololan konyol tersebut benar-benar tampak nyata didalam kepala Eun Soo. Entah bagaimana cara mengeluarkan— atau menyingkirkannya.

Penolakan Kyuhyun terhadap Hyun Gi selepas tidak sadarkan dirinya Songjin, membuatnya mudah untuk berfikir hal buruk mengenai Ayah baru itu.

“mungkin kita bisa mencobanya lagi nanti—“ Luke tersenyum getir memasukan ponsel kedalam saku, dan mendorong sebungkus roti kepada Eun Soo. Adiknya itu sama sekali belum menyentuh karbohidrat dalam jenis apapun selama lebih dari 30 Jam.

Bohong jika mendadak Eun Soo menolak dan berkata tidak lapar. Dan sepertinya pun, Eun Soo enggan untuk menolak sadar bahwa memang benar, dia lapar.

Luke membagikan roti-roti itu kepada yang lain. Semua didalam meja itu, pasti juga merasa lapar, tapi pun memiliki keputusan yang sama. Tidak ingin pergi, karena tak ingin tertinggal sekecil apapun berita, kemajuan atau bahkan kemunduran tentang Park Songjin.

Acara pembagian roti itu sempat berhenti saat Luke akan menyerahkan sebungkus lagi kepada Sungmin. Siwon datang. Wajah pucat dan nafas menderu, menggambarkan hal buruk, biasanya.

Maka kelimanya dimeja itu pun bangkit. Ikut mendelik, ikut mendebarkan jantung bagai pukulan drum. “Songjin!” seru Siwon nyaris mendelik. “Tolong hubungi Kyuhyun!” perintah Siwon tajam “Songjin sadar!”


 12

Lullaby

Dream on my boy, it’s like a journey to the Greenland. Until the morning comes love love, say hello lalala. I promise you just feel warm inside. Im dreaming of you, you’re dreaming of me. Make a wish then close your eyes and fall into the dream, and we’re sleep on

Lullaby, Morrie

Memasuki lorong lantai dua, ruang tengah dengan sofa-sofa, disana sedang penuh— banyak terlampir kain-kain pakaian berwarna biru, putih, hijau dan merah dengan ukuran mungil. Bungkus popok, dan bahkan popok bekas pakai diatas meja.

Disisi lain, ada 2 sumber keributan yang terjadi kini. Kamar utama, terdengar tangisan nyaring Hyun Gi. Melengking, meronta. Bayi lelaki itu menuntut sesuatu yang tidak dimengerti oleh Kyuhyun.

Kyuhyun sudah menggendongnya. Membawa Hyun Gi mengelilingi rumah mereka, melantunkan nyanyian kecil yang dulu sempat berhasil membuat Hyun Gi tenang, namun tidak kali ini.

Pada sisi lain didapur— Kyuhyun dengan seksama membawa cara pembuatan susu pada pinggiran box. Instruksinya, masukan 3 sendok susu, campur dengan air panas dan biasa. Kocok.

Kenapa cara membuatnya, nyaris sama dengan pembuatan milk shake? Seberapa panas air yang dimaksud dalam table instruksi disini? sebesar apa botol yang dimaksud ditabel ini— apa sama dengan botol miliknya hingga air yang dimaskukan nanti, akan sama pula takarannya.

Banyak yang Kyuhyun belum tahu. Dia tidak pernah mengurus bayi manapun sebelumnya. Menyentuhpun tidak. Ini benar-benar murni kali pertamanya. Dia tidak ingin melakukan kesalahan dipercobaan pertamanya.

Kepalanya berdenyut bukan main sejak kemarin malam dibuat berfikir terlalu banyak. Tentang Songjin, Hyun Gi, bahkan dirinya sendiri. bukan hanya nasib Songjin saja yang menggantung. Nasib Hyun Gi pun sama. Apalagi dirinya.

Tidak banyak yang Kyuhyun dapat lakukan perihal mengurus anak. Semalaman, meolak tidur, Kyuhyun mencari cara-cara mengurus anak dari yang paling remeh sampai tersulit.

Dari cara memasang popok, hingga menjawab pertanyaan jika suatu saat Hyun Gi telah menyadari bahwa keluarga yang dimilikinya tidak utuh, dan bertanya, ‘dimana eomma-nya?’.

Kali ini Kyuhyun tidak pikir panjang lagi. Dia mengikuti instruksi dari karton box susu ditangannya. 3 sendok besar susu— melesat menuju dispenser mengisinya dengan air panas dan dicampur air biasa.

“sabar Hyun Gi, aku sedang membuatkanmu susu.” Teriak Kyuhyun dari dapur. Tidak mengecilkan volume suara Hyun Gi serta raungannya.

Kyuhyun berjalan cepat, melemparkan kain lap dibahunya sembarangan sambil mengocok botol susu Hyun Gi.

Sesampainya dikamar, pria 27 tahun itu tanpa basa-basi langsung mengangkat Hyun Gi kedalam gendongannya. Langsung menjejalkan dot botol susu milik Hyun Gi, namun bayi itu malah menangis semakin kencang saja.

Kyuhyun diam. Tidak mungkin ada tahap yang dilewatkannya dalam membuat susu tadi. dia melakukannya sesuai seperti apa yang tertulis. Maka keningnya berkerut. Mengamati wajah Hyun Gi berubah warna menjadi merah luar biasa. Keringat pun muncul titik-titik kecil dikeningnya.

“tidak enak?” Tanya Kyuhyun bingung. Sama polosnya dengan bayi dalam gendongannya. “katanya ini susu termahal yang ada diswalayan itu. Jadi… tidak enak?”

Kyuhyun tampak berfikir keras. Mengocok botol susu Hyun Gi lagi lebih kencang. Mungkin masih ada serbuk susu yang tersisa didasar botol hingga rasa susu belum sekental itu.

Tapi Hyun Gi masih menangis kencang saat dia menyodorkan dot kemulut kecilnya sambil membuang wajah, seperti juga mengatakan bahwa susu sialan itu rasanya memang tidak enak.

Disaat yang sama, bel rumah berbunyi. Kyuhyun melesat menuju dapur lagi. Tanpa memencet intercom, dia bisa melihat wajah Gyuwon. Wanita itu tampak tergesa menekan tombol intercom sambil berteriak-teriak ‘keluarlah, aku tahu kau didalam’ yang diabaikan saja oleh Kyuhyun.

Raut tergesa itu menjadikan tamparan baru bagi Kyuhyun. Mungkin, berita buruk yang selalu mendatanginya dalam mimpi akhirnya terjadi juga. Tubuh Kyuhyun mendadak lemas. Kakinya menjadi lemah tampak tidak cukup kuat untuk menopang tubuhnya sendiri apalagi ditambah Hyun Gi walau bayi laki-laki itu beratnya tidak seberapa.

“Hyun Gi, kurasa kau harus berhenti menangis. Hadapilah. Kau pria. Pria tidak boleh menangis, apalagi mengeluh.” Ucapnya kepada anaknya sembari berjalan menuju sofa. Segalanya bisa lebih mudah dilakukan jika dia duduk.

Kyuhyun menarik nafas dalam-dalam dan menghelakannya panjang. Untuk sesaat, tangisan Hyun Gi hanya tedengar bagai dengungan nyamuk ditelinganya. Berisik, mengganggu, tapi mudah untuk diabaikan.

Didalam hatinya, Kyuhyun mengulang berkali-kali pesan ayahnya, bahwa pria tidak boleh menangis. Tidak boleh. Jangan. Kepada dirinya sendiri, baru mungkin, dia bisa memaksakannya kepada anaknya setelah dia sendiri mampu melakukannya kali ini.

Kyuhyun mulai berfikir, apa yang akan dilakukannya setelah ini. Songjin tidak lagi ada. Mungkin dengan rumah sebesar ini, akan terasa sepi. Atau mungkin, lebih baik dia menjual rumah ini saja dan pindah ke apartement dekat kantornya.

Atau mungkin, jika memungkinkan berada di Lyx untuk sementara waktu bisa dilakukannya. Tapi kemudian Kyuhyun mengerang pelan dengan bahu terkulai, Songjin pun pernah ke Lyx. Jadi tepatnya, jika dia ingin pergi, maka dia harus pergi ketempat dimana dia dan Songjin belum pernah datangi.

Cukup banyak sebenarnya, tapi otak cerdas Kyuhyun sedang teresendat sementara waktu. Dia tidak berfikir untuk menikah lagi, tapi dia juga memikirkan tentang Hyun Gi yang akan tumbuh dengan tanpa kehadiran seorang ‘Ibu’. Malangnya.

Perlahan, disadari atau tidak matanya mulai terdesak dengan rasa panas dan buram karena genangan air yang mengumpul dipelupuknya. Lucu! Seseorang didalam tubuhnya masih berteriak-teriak ‘kau bukan pria jika kau menangis!’ saat sebagian besar otaknya bekerja berfikir beberapa langkah panjang bagi hidupnya serta Hyun Gi setelah ini.

Suara tangisan, bel, denyutan kepalanya— semua serempak mengerjai Kyuhyun disaat yang sama. Kepalanya penuh terasa ingin meledak, ketika pria itu tersadar dari lamunannya karena tetesan susu dari botol milik Hyun Gi dipunggung tangannya.

Rasanya panas sekali membakar kulitnya.

Ah, tololnya. Kyuhyun pun sadar. Bukan karena susu itu terasa tidak enak maka Hyun Gi menangis. Anaknya menangis karena susu buatannya terlalu panas.

Ah tentu saja, “aku akan mendinginkannya. Maaf. Maaf. Aku tidak tahu.” Kyuhyun membopong Hyun Gi— menelungkupkan anaknya pada bahunya sambil menepuk-tepuk pantat Hyun Gi. Berjalan menuju dapur dibelakangnya.

Sepuluh menit waktu yang diperlukan. 5 menit untuk mengeluarkan seluruh balok es yang berada didalam lemari pendingin. Memasukannya kedalam baskom, memberikan air dan mengenggelamkan botol dengan ukuran 500 ml itu kedalamnya.

Didiamkan dua menit lalu langsung Kyuhyun jelalkan pada Hyun Gi.

“kau pasti sangat lapar, eo?” Kyuhyun bergerak kesana kemari sambil memperhatikan betapa Hyun Gi terkesan terburu-buru menyedot susunya.

Helaan nafas beratnya entah sudah berapa kali melontar. Juga bunyian bel rumahnya dengan ocehan Gyuwon dari Interkom. Telepon rumahnya yang berdering tidak kunjung berhenti.

Nyanyian penghantar tidur Hyun Gi, kini terdengar begitu menyedihkan. Tidak banyak yang dapat dilakukan Ayah muda— baru itu, dan Cho Hyun Gi, bayi lelaki yang esok hari akan berusia 3 bulan itu hanya dapat memejam, menikmati susu hangat buatan Appa— nanyian merdu suara Appa, tanpa menyadari kegetiran disekitarnya.


13

Do men cry?

Same bed but it feels just a little bit bigger now. Our song on the radio but it don’t sound the same. When our friends talk about you, all it does just tear me down. ‘Cause my heart breaks a little when I hear your name

When I Was Your Man, Brunno Mars

Senyuman kering muncul ketika gelengan yang sama dilakukan oleh Siwon selepas sambungan telepon pria itu dan istrinya terputus. Seperti Luke, juga Donghae. “sudahlah.” Ujar Songjin melemas akhirnya. Semangat yang dimilikinya, perlahan menyusut pada garis terrendah. Entah apa yang terjadi dengan Kyuhyun. Pria itu tidak dapat ditemui dirumah, tidak dapat dihubungi ponselnya atau telepon rumah.

Gyuwon berasumsi bahwa Kyuhyun berada dirumahnya mengingat mobil yang biasa dipakai oleh Kyuhyun, terparkir manis digarasi— pria itu hanya menolak untuk bertemu dengan semua orang.

Jika kemarin Kyuhyun menolak untuk menemui Songjin, maka kini semua orang telah dianggapnya sama. Kadang, jika Kyuhyun sedang menyebalkan— segala tentangnya akan berubah menjadi luar biasa menyebalkan.

Ada satu yang membuat kekhawatiran datang dari semua orang, bukan hanya Songjins aja yakini keberadaan Hyun Gi pun artinya sama tak terjamahnya, seperti menghilangnya Kyuhyun.

Tidak ada yang tahu bagaimana bayi itu sekarang. Sehat atau sakit, kenyang atau sedang kelaparan, sedang terbagun atau tertidur, berada ditempat yang layak… atau tidak?

Semua orang dapat berasumsi buruk mengenai Cho Hyun Gi— bayi malang yang kini usianya menginjak tepat 3 bulan terlebih Songjin dan Siwon, yang terlalu memahami bagaimana sifat mendasar Kyuhyun— yang agak keras kepala, dan tidak cukup perduli dengan sekitar.

Songjin merasa tercekik, jika ingat betapa tidak teraturnya hidup Kyuhyun dan dirinya selama ini— merasa khawatir jika hal itu langsung anaknya rasakan diawal hidup bayi lelaki tidak bersalah itu. Hyun Gi masih terlalu kecil untuk merasakan kasarnya butiran nasi, jika Kyuhyun cukup tolol, dan memberikan makanan berat itu kepada bayi berumur 3 bulan.

Songjin tahu Kyuhyun tidak sebodoh itu. Kyuhyun tidak sebodoh dirinya. Pria itu cerdas. Terlalu cerdas hingga tidak banyak orang mampu memahami seorang Cho Kyuhyun. Tapi kemungkinan itu akan selalu ada, dan Songjin hanya dapat meringis pelan, melihat pakaiannya yang sudah diganti beberapa kali, karena air susu yang merembes.

Seharusnya Hyun Gi disini, maka permasalahan sederhana seperti air susu begini dapat teratasi. Tapi Kyuhyun tidak dapat dihubungi dimanapun. Songjin pun lupa dimana terakhir kali dia meletakkan ponselnya. Tasnya yang diletakkan diruang kosong didalam nakas, telah lenyap.

Sepertinya diapun harus ingat bahwa dia tidur tidak dalam waktu yang pantas. 3 bulan bukan waktu yang sebentar. Dan Songjin hanya dapat mengulum senyum— torehan rasa terimakasih, ketika terbangun beberapa hari lalu, mendapati orang yang sama disekitar ranjangnya.

Tersisa Siwon, sudah lebih dari cukup untuknya merasa lega, bahwa masih ada yang perduli dengannya. Lalu setelah itu, perlahan satu persatu wajah-wajah yang dikenalnya datang.

Ayah Ibu mertuanya. Ibunya, Kim Eun Soo, Lee Donghae, Luke, bahkan Lee Sungmin sekalipun. Hanya Kyuhyun saja yang tidak ada.

“aku akan mencoba menghubungi Kyuhyun lagi. Dan selama itu, kau habiskan makanmu saja.” perintah Siwon mengacak rambut Songjin beranjak pergi.

Wajah pria itu, sama payahnya dengan wajah Songjin si pasien. Lusuh, kantung mata besar, janggut yang belum dicukur dan mata memerah. Percayalah, jika pria ini menyanggah perintah Gyuwon untuk kesekian kalinya lagi— untuk pulang dan beristirahat, maka tubuh tegap satu-satunya sisa yang dimiliki seorang Choi Siwon selain wajah tampan, juga akan musnah terkena hantaman bertubi dari wanita yang mahir melakukan bela diri taekwondo tersebut.

“…. Jadi,” tersisa Lee Sungmin disana. Duduk tegap— melipat kakinya perlahan, “apa rasanya berhibernasi?” Tanya pria itu begitu polosnya— tersenyum lebar berniat mengubah kelabu mejadi pelangi lagi didalam kamar pasien 1010 itu. “puaskah?”

** **

Karena mimpinya, Kyuhyun tidak kembali keranjang untuk meneruskan tidurnya— walau telah sepantasnya, dia melakukan hal itu lebih banyak tidak perduli dalam jarak waktu yang tidak banyak.

Tapi sepertinya, Kyuhyun lebih memilih berada didunia nyata yang terasa pahit-asam, dibanding merasakan mimpi— yang seharusnya, dimana-mana terasa manis.

Mata pria itu tertuju pada kalender meja disamping coffee maker diatas counter dapurnya. Dalam diam, Kyuhyun menghitung telah berapa lama Songjin tidak berada disini, dan akan sampai kapan kira-kira hal seperti ini terus berlanjut.

Tidak sadarkan diri Songjin, berusia sama dengan usia Hyun Gi. Hari ini Hyun Gi berusia tepat 3 bulan. 3 bulan tidak sadarkan diri, bukan waktu yang sebentar. Kyuhyun tidak akan menampik, hidupnya menjadi tidak tertata dengan rapih.

Jika itu hanya dialami olehnya, mungkin bukan suatu masalah besar. Dia sudah cukup dewasa untuk menerima ketidak rapihan hidup. Itu bukan hal asing. Tapi Hyun Gi masih terlalu muda untuk merasakannya.

Jadi mungkin, inilah yang Songjin maksud, tujuan paksaan wanita itu agar Kyuhyun menikah lagi selepas alfanya kehadiran wanita itu disekitarnya. Memberikan keteraturan hidup bagi Hyun Gi, dan jika mungkin Kyuhyun akan merasakannya bila berkenan.

Lalu Kyuhyun mulai berfikir, ini bukan tentang menikah lagi untuk memberikan Hyun Gi keteraturan hidup, karena Hyun Gi, masih memiliki Ibu— walau kehadirannya dipertanyakan. Songjin ada. Dirumah sakit. Hyun Gi bisa bertemu Ibunya setiap saat jika saja dia berkenan. Semudah itu sebenarnya.

Permasalahannya adalah, Kyuhyun lah yang masih belum ingin, melihat Songjin masih saja terdiam dikondisi yang sama setiap kali dia kembali— diam dan memejam.

Yang diingatnya, Songjin itu liar. Senang berteriak, berlari-lari, memiliki keseimbangan yang buruk, tidak punya otak— baiklah, yang ini agak berlebihan. Punya, mungkin— tapi hanya sebagian kecilnya saja yang digunakan.

Jarang mendengar perintahnya, senang protes, selalu mendebatnya. Jadi mungkin, tidak heran jika Kyuhyun merasa linglung, mempertanyakan kehadiran Park Songjin versi barbar ini, dibandingkan dengan yang sering ditemuinya, dalam kurun waktu 3 bulan belakangan— versi tenang, seperti bukan- seorang-Park Songjin baginya.

Disore hari, rencana Kyuhyun adalah mendatangi rumah sakit. Mau tidak mau, hal ini harus terjadi juga. Dia tidak bisa mengabaikan hal penting bahwa dia masih menjadi seorang suami, dan memiliki istri walaupun keberadaannya bisa dipertanyakan, dijadikan deretan pertanyaan panjang sampai berhari-hari.

Maka disore berawan itu Kyuhyun seorang diri menenteng baby stroller berisi Hyun Gi yang sedang tertidur memasuki Seoul General Hospital. Tidak seperti biasanya ketika datang, kali ini tidak ada sapaan ramah bagi pihak keamanan yang menyadari kehadiran Kyuhyun semenjak mobil pria itu memasuki lobby.

Sepertinya, mereka pun cukup cerdas untuk paham alasan mengapa suasana hati Kyuhyun tidak pernah membaik semenjak beberapa minggu belakangan. Mereka lebih merasa terkejut, saat melihat kehadiran Kyuhyun, setelah beberapa lama pria itu tidak memunculkan batang hidung sedikitpun, padahal jelas seseorang yang mereka juga kenal tengah berada didalam gedung tersebut dilantai 10 dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Jantung Kyuhyun berdegup kencang. Matanya lurus, tanpa melirik kesana sini memandangi angka digital pada lift yang dinaikinya terus menujukan perubahan angka. Semakin meningkat, mendekati angka 10.

Semakin dekat, jantungnya meronta. Seakan terdapat sebuah balon didalam dadanya, yang telah terlalu lama ditiup— akan pecah saat waktunya tiba. Dan dentingan lembut seperti suara lonceng dari lift setelah menunjukan lantai yang dituju telah sampai, membuat kaki Kyuhyun terasa berat untuk bergerak.

Dari tempatnya berdiri saat ini, terlihat jelas pintu cokelat berukuran dua kali pintu biasa yang menarik langsung perhatiannya ketika pintu lift terbuka. Tempat itu masih saja terlihat sama. Tenang dan sepi. Sama saja seperti pemakamam yang sepi juga tenang.

Beban ditangan kanannya bergerak. Sedikit melirik, Kyuhyun melihat Hyun Gi terbangun— juga sedang memandanginya dengan tanda Tanya menggantung di kening. Bayi 3 bulan itu seakan paham mengapa ayahnya hanya diam ditempat tanpa mau bergerak sama sekali— dengan terbangun dari tidur tanpa menangis, seperti kebanyakan bayi-bayi lain, tapi juga bertanya-tanya mengapa membutuhkan waktu begitu lama untuk berdiam?

Percayalah, jika Cho Hyun Gi dapat berbicara mungkin bayi itu akan mengoceh— mencela kepayahan Kyuhyun dalam menyikapi masalahnya ini, Kyuhyun terlihat seperti kertas tissue— terombang ambing diudara begitu saja.

“kau tahu siapa yang akan kita temui sekarang, Hyun Gi?”

Kyuhyun menarik wajahnya tidak lagi memandangi putranya tapi lurus menghadap pintu kamar rawat Songjin dari kejauhan setelah melompat keluar lift. Bayi lelaki montok itu bergerak menggujal ditempatnya. Kyuhyun meringis kecil kepada Hyun Gi meihat anaknya, tampak bersemangat tidak seperti dirinya.

Seingat Kyuhyun, dia menggunakan kecepatan standar dalam langkahnya berjalan kali ini. entah bagaimana sekarang pintu bertuliskan angka 1010 sudah berada tepat didepan hidungnya.

Didalam sepatu, kakinya bergerak-gerak tak nyaman. Liurnya kali ini rasanya begitu sulit untuk ditelan. Dia tersentak, merasakan dinginnya gagang pintu tersebut— sama seperti gambarannya pada suasana didalam ruangan itu sama dinginnya, terasa tidak menyenangkan.

Dan benar saja. apa yang dilihatnya saat ini, terasa sama seperti yang selalu dibayangkannya. Nafasnya mulai tersengal lagi. Darah seperti berhenti mengalir didalam tubuhnya. Hembusan angin yang berasal dari pengingin udara, terasa berlebihan— hingga sewaktu-waktu dapat membuat Kyuhyun melayang terombang-ambing tidak menentu.

“permisi,” Kyuhyun merasa suaranya menjadi semakin berat. Beberapa cleaning service yang sedang membersihkan ranjang kosong. Kemarin— beberapa minggu lalu, terakhir Kyuhyun kemari, ranjang itu masih diisi oleh Songjin. Jadi ini adalah contoh kesialan miliknya, untuk sekian banyak kesialan yang telah mendatanginya. Masih juga belum puas membuat jantungnya kembang kempis. “bolah aku tahu kemana perginya pasien yang dirawat diruangan ini?”

“wanita itu? ah…” wanita yang ditanyai nampak bingung berfikir, kemudian tak lama, bertanya dengan temannya “pasien disini kemana?” tanyanya. namun lantas, hanya gelengan yang menjadi jawaban wanita itu serta mnyeluruh, mendadak menjadi jawaban seluruh pegawai cleaning service disana.


14

Warm

Can you feel the love tonight? How it’s laid to rest. It’s enough to make the kings and vagabonds believe, the very best.

Can You Feel The Love Tonight, Elthon John

Ada yang berbeda, dari pemandangan kali ini. bahwa mendapati Kyuhyun duduk tenang, tanpa melakukan apapun selain memelintir ujung-ujung kemejanya, adalah hal-hal sederhana, yang tidak pernah Choi Ki Ho lihat dari putranya lagi selama lebih dari 10 tahun lalu.

Tapi setelah melihatnya lagi sekarang, kenangan itu seakan menyeruak masuk seenaknya, kedalam ingatannya lagi. Membuatnya ingat saat dulu Kyuhyun kecil merengek meminta perhatiannya untuk ditemani bermain— tapi kesibukannya benar-benar membuat celah diantara Kyuhyun maupun Siwon terlihat jelas.

Dan biasanya, setelah penolakan itu dia akan mendapati Kyuhyun duduk seorang diri didepan kolam ikan, mencelupkan kakinya membiarkan ikan-ikan kecil bermain disekitaran kakinya sambil meremas ujung pakaiannya.

Berbanding jauh dengan Siwon yang hanya mengiyakan dan beranjak kekamarnya, entah melakukan apa. Mungkin juga sedang merenung—sama kecewanya dengan Kyuhyun ketika itu, atau mungkin tidak. Entahlah. Siapa yang tahu?

Kebetulan, sepertinya memang hanya Kyuhyun dilorong tersebut yang menarik banyak perhatian, mengingat mungkin itu karena hanya pria itulah satu-satunya orang, yang berada dilorong kosong, sepi dan dingin disana— Siwon melihatnya, menyenggol lengan Songjin, dengan mata masih memandang lurus kepada Kyuhyun.

“Hng?” Songjin hanya sedikit bersuara saja untuk menanggapi— dia masih sibuk membaca laporan rekam medisnya, pemberian dokter Han tadi. tapi mendapati Siwon tidak menyahut, membuatnya mau tidak mau mendongak untuk melihat wajah tinggi Siwon disampingnya.

Wajah Siwon lurus kedepan. Terlihat jelas sedang memperhatikan sesuatu— Nampak sangat menarik. Begitupun ayah mertuanya. Maka lalu Songjin ikut menoleh.

Perasaan aneh, senang membuncah, ingin bersorak bercampur aduk didalam hatinya ketika dilihatnya, Kyuhyun berada hanya berjarak tidak lebih dari 30 meter jauhnya. Ada rasa hangat yang kemudian mengisi kekosongannya selama ini.

Songjin ingin melakukannya seperti yang sering dilihatnya ditelevisi. Berlari sambil berteriak memanggil nama Kyuhyun. Itu terdengar dramatis dan melankolis, tapi dia harus ingat bahwa ini adalah rumah sakit.

Bisa dirajam habis-habisan kalau dia sampai melakukan hal itu. Itu sama artinya dengan membangunkan singa tidur. Dan mungkin pihak keamanan akan menendangnya jauh-jauh dari sana. Padahal dia masih memerlukan perawatan medis— sebagai polesan akhir. Begitu kata dokter Han tadi— yang tentu saja, tidak dimengerti Songjin apa artinya.

Jadi setelah dipikir masak-masak sambil berjalan pelan bersama dengan siwon dan Ayah mertunyanya, Songjin memutuskan untuk melakukannya dengan tenang. Dan setelah dilihatnya lagi, itu memang keputusan yang tepat, saat mendapati bahu yang bergetar milik Kyuhyun.

“kau menangis?” Songjin tidak menyapa. Dia lebih tertarik untuk mengoreksi mata dan telinganya saja kali ini. ini adalah pemandangan langka yang hampir tidak pernah dilihatnya.

Ah, oke— baiklah, Kyuhyun pernah melakukan ini sebelumnya. Dipemakaman orang tuanya, sebelum Songjin melahirkan dulu. Tepat didepan pusara keluarganya. Seperti tidak malu kalau mungkin saja, arwah keluarganya itu sedang menontonnya menangis sambil mencibir bahwa apa yang Kyuhyun lakukan membuat pria angkuh itu Nampak payah sebenarnya.

Songjin mengetuk-ketukan jemarinya diatas kepala Kyuhyun yang merunduk— lalu mendadak bergerak karena suaranya, mungkin mengganggu atau menginterupsi aura berkabung Kyuhyun.

Pria itu langsung menengadahkan wajah dengan mata memerah. Basah. Benar, Kyuhyun menangis dan entah bagaimana, Songjin bukan merasa tersentuh melainkan langsung menyemburkan tawanya bukan main puas.

Biar saja jika nanti pihak keamanan datang untuk menyeretnya keluar dari rumah sakit ini. kalau mereka tahu Cho Kyuhyun yang dingin ini sedang menangis, mereka pasti juga akan melakukan hal yang sama. Tertawa terpingkal-pingkal.

“KAU—??”

“kau?” Songjin mengulang pertanyaan Kyuhyun untuknya. tidak tahulah, apakah sebenarnya itu pantas dimasukan kedalam golongan pertanyaan. Itu hanya satu kata. Tidak panjang dan bahkan hanya terdiri dari tiga huruf saja. satu-satunya yang membuat Songjin merasa bahwa kalimat Kyuhyun tergolong kalimat pertanyaan adalah karena diakhir ucapan itu, terdapat tanda Tanya. Jelas pertanyaan.

“iya aku. Kau menangis?”

“kenapa kau disini? kau masih hidup?”

“hei hei, aku bertanya lebih dulu. Kau.. menangis?”

tidak hanya Songjin yang memberikan pertanyaan berulang. Begitupun Kyuhyun. Didetik pertama, pria itu terkejut. Lalu didetik kedua, keterkejutan itu ditambah dengan wajah yang memucat. Lalu selanjutnya, pria 27 tahun itu hanya dapat terbengong bodoh— memandangi sosok wanita dihadapannya, yang sedang beruntung, lebih tinggi darinya karena dirinya sedang duduk kali ini.

mengerjab berulang kali, dengan tangan terangkat menyentuh milik Songjin. Hangat.

Didetik selanjutnya, yang Songjin tahu hanya bahwa tubuhnya sedang ditimpa beban dua kali beratnya. Bukan main membuatnya sulit untuk berdiri memberikan topangan. Lantas hanya bisa berdiri, berputar itupun dengan tenaga ekstra entah berasal darimana, hanya untuk menyandarkan punggungnya pada dinding, lalu ikut merengkuh tubuh pria yang entahlah, melanjutkan tangisan atau hanya sedang merasa terkejut saja.

Dan yang Kyuhyun tahu, sebenarnya amat sangat sederhana juga murahan. Bahwa aroma, suara serta sentuhan yang didapatkannya kali ini sama seperti yang diingatnya. Hangat.

** **

“aku ingin pulang. Apa aku boleh pulang?” Songjin menarik ujung lengan jas Kyuhyun. Pria itu sedari tadi sibuk berbicara dengan seseorang diseberang melalui ponselnya.

Tingkah Songjin kali itu adalah gangguan terakhir yang bisa diterima oleh Kyuhyun. Pria itu berjanji akan menghubungi sang penelepon lagi nanti dan memutus percakapan itu dalam satu kali sentuhan ringan diponselnya, lalu memasukan ponselnya itu kedalam saku, sambil memandangi Songjin lama.

Tidak marah. Bukan. Ini bukan pandangan jengkel yang biasanya muncul ketika dia merasa terganggu dengan ulah Songjin yang menganggunya habis-habisan saat dia sedang serius bekerja, tapi ada rasa lain, rasa hangat yang mengisi hatinya. Rongga yang sempat berlubang lantaran terlalu lama didiamkan begitu saja.

Kyuhyun tersenyum sederhana. Tipis. Merasa.. entahlah, jika ini akan disebut berlebihan. Tapi mendengar rengekan Songjin— yang sebenarnya menyebalkan, sama saja dengan Hyun Gi ketika meminta susunya, terdengar menyenangkan baginya kini.

Kyuhyun mengusapi kepala Songjin. Lalu turun menyelipkan rambut nakal tak tertata yang menjuntai, pada belakang telinga wanita itu dan mulai menggerakkan ibu jarinya pada sekeliling tulang rahang Songjin.

Rasa hangat itu tidak bisa diabaikan. Bahwa didalam mimpinya, dia tidak menyentuh Songjin. Hanya melihat wajah atau mendengar suara, namun langsung dapat tahu betapa dinginnya saat saat itu.

Ini berbeda. Songjin yang ini terasa hangat. Tidak seperti Songjin yang ada didalam mimpinya. Dan sepertinya, Kyuhyun sedang merasa tidak perduli dengan segala kecanggungan— reaksi dari segala sikapnya kepada Songjin. Sedangkan wanita itu sudah mati-matian menahan rasa malu dan wajah yang memerah, tapi Kyuhyun tidak kunjung menyudahi pekerjaan— mengaggumi dirinya, padahal dia telah meyakinkan diri bahwa dirinya, bukanlah sebuah pahatan buatan pemahat ternama.

“Kyuhyun-ah~”

“beberapa waktu belakangan ini aku bermimpi buruk.” beritahu Kyuhyun tegas.

“huh?”

Kyuhyun menarik nafas panjang. Menyudahi ‘pekerjaannya’ dan melempar tubuhnya pada punggung sofa— memejamkan mata. “pertama kau mati. Tidak bergerak dan dingin.” Lanjut Kyuhyun lancar, tapi terdengar nada gusar didalamnya.

“lalu kau hidup. Berbicara. Bergerak. Tapi dingin. Aku tidak suka.” Kyuhyun menoleh pada Songjin. Menggapai wajah wanita itu lagi menyentuhnya. “aku tidak bisa memilih mana yang lebih baik. tidak ada yang lebih baik diantara keduanya. Tapi aku tahu, kalau hal itu bisa saja terjadi. Kemungkinan terbesarnya, memang itulah yang akan terjadi, kalau melihat kau yang begitu-begitu saja dari hari ke hari tanpa adanya perubahan. Dan kadang, aku harus sadar bahwa pada beberapa kasus, aku tidak bisa hanya mengandalkan keberuntungan yang rasanya jarang berpihak padaku. Iya ‘kan?”

“mimpi… apa?”

Kyuhyun mendengus menjawab pertanyaan Songjin. Jadi, wajah serius Songjin sejak tadi itu bukan gambaran bahwa wanita itu mendengarkan apa yang dikatakannya sejak tadi? ya tuhan.. wanita ini bukan main bodohnya. “aku kan sudah bilang. Kau mati.” Kyuhyun terlihat jengkel. Mulutnya terbuka lagi ketika melihat Songjin, tampak akan menanggapinya, “dan aku tidak akan bercerita tentang itu. Aku tidak suka mengingat-ingat hal buruk.”

Kyuhyun kembali memejam. Bayangan mimpi buruk itu tidak sepenuhnya menghilang hanya karena kini dia tahu bahwa itu hanyalah sekedar mimpi dan Songjin yang nyata, berada disini, disampingnya. Bayangan itu hanya memudar. Entah kenapa tidak mau menghilang. Atau mungkin itulah yang harus dimilikinya. Bahwa jika ada beberapa hal yang tidak bisa disingkirkan begitu saja, mungkin memang disanalah mereka harus berada. Dan mimpi sialan itu adalah salah satunya.

Gerakan lembut yang dirasakan dari kulit wajahnya, membuat bayangan mimpi menyeramkan itu semakin mengabur dan mengabur. Hanya menyisakan suara-suara halus— sama dengan yang didengarnya saat ini dari wanita dihadapannya.

Memandangi Kyuhyun seperti tidak terurus, membuat Songjin berfikir keras bahwa permintaannya untuk pulang mungkin terlalu berlebihan kali ini. tapi tak lama Kyuhyun membuka mata, “aku akan bicara dengan dokter Han supaya kau dapat pulang hari ini.” tuturnya pelan. Mengusap wajah Songjin juga lalu tersenyum, dan kembali memejam. “bisa beri aku waktu sepuluh menit saja?” pinta Kyuhyun. “dan.. bisa tolong, jangan hentikan itu?”

“apa?”

Kyuhyun tidak menjawab. Tetap diam, namun menarik tangan Songjin yang bergeriliya diwajahnya. Menyentuhnya— mengarahkan tangan itu pada kepalanya.

Songjin hanya duduk termangu. Diam. Didetik awal dia memang diam tidak paham. Namun kemudian perlahan, ketika Kyuhyun seperti sedang mengajarinya sesuatu, dan melepaskan tangannya— tangan miliknya bergerak sendiri halus tanpa arahan siapapun lagi. Mengusapi kepala Kyuhyun perlahan-lahan.

Kyuhyun benar-benar tanpak kekanakan. Atau.. baiklah.. katakan saja bahwa hal murahan.. sederhana itulah yang ingin dirasakannya semenjak alfanya wanita itu selama ini. ada sensasi berbeda yang dirasakannya, yang hanya akan didapatkannya, jika Songjin yang melakukan itu, bukan orang lain. Bukan Ibunya, atau wanita lain disekitarnya.

Tapi tunggu sebentar. Memangnya, berapa banyak wanita yang berada disekitarnya saat ini?

Songjin mengalihkan pandangannya pada laki-laki lain didalam ruangan itu. Putranya. Hyun Gi. Berada distroller sedang melakukan hal yang sama seperti yang Kyuhyun lakukan. Tidur.

Bedanya adalah, Songjin tahu bahwa Hyun Gi benar-benar tidur sedangkan Kyuhyun tidak benar-benar sedang tertidur, tapi tidak tahu pasti apa yang Kyuhyun sedang lakukan saat ini. hanya memejam itu saja. tidak lebih.

Bayi 3 bulan itu terlihat bersih. Putih kemerahan warna kulitnya. Tubuhnya montok. Berlipat-lipat ditangan sampai jari-jari tangan dan kakinya yang kecil. Jelas menggambarkan, bahwa dengan pemandangan seperti ini, tidak mungkin Kyuhyun menelantarkan anak ini.

Dibagian kiri hand stroller tersebut, terdapat satu botol dot kecil berukuran 500ml berisi cairan berwarna putih. Itu pasti susu. Kembali meyakinkan Songjin bahwa Kyuhyun telah melakukan hal yang benar, jadi bayangannya mengenai betapa kejam Kyuhyun mengurus anak mereka adalah salah.

Kyuhyun melakukan dengan benar. Hyun Gi bahkan berpakaian rapih. Jumpsuit oranye dengan motif kepik. Bahkan dikepala yang telah ditumbuhi rambut-rambut itu, terpasang sebuah penutup kepala lucu bermotif pororo.

Songjin mendapati dirinya tertawa pelan ketika menyadari hal tersebut. Kemudian menyadari lagi bahwa Kyuhyun sedang melakukan hal yang sama ketika merasakan hangatnya hebusan nafas Kyuhyun dari bahunya, dan gerakan perlahan pada perutnya— seperti menarik, namun lalu merenggang. Membuat tubuhnya sempat kaku selama beberapa detik karena terkejut. “harusnya aku protes. Dia benar-benar mirip denganmu.” Kyuhyun terdengar seperti mengeluh menyerempet protes. bukan melontarkan pujian.

“Jadi kau tidak terima?”

“tentu saja!” Kyuhyun meletakkan dagunya pada bahu Songjin santai. “aku ingat aku juga berpartisipasi dalam pembuatannya.” Cibir pria itu tanpa mau berbasa basi.

Songjin hanya menaikan satu alisnya sebagai respon. Cukuplah dia saja yang tahu bahwa Kyuhyun memang sedikit ‘tidak sopan’ menyerempet mesum.

Songjin memperhatikan tangan Kyuhyun yang menyentuh wajah tenang Hyun Gi, “kening ini, baiklah— ini mirip seperti milikku. tapi mata, hidung, bibir..” jari-jari Kyuhyun menyentuh seluruh bagian wajah anaknya, “semuanya mirip sepertimu. Mana adil?”

Songjin mendengus. Dengusan itu benar-benar semakin menjadi saat dalam diam, dia pun menyadari bahwa sedikit banyak, benar apa yang Kyuhyun katakan bahwa memang, sepertinya rupa Hyun Gi mencetak wajahnya tanpa basa basi.

Hidungnya memang tidak terlalu mancung. Tidak seperti milik Kyuhyun. Baiklah, katakan saja itu kekurangan pertama. Tapi itu bukanlah sebuah keburukan juga, kalau kemudian, Hyun Gi mendapatkan kelopak mata jiplakan miliknya. Bukan milik Kyuhyun. Matanya lebih besar ketimbang mata Kyuhyun. Lalu bentuk bibir sempurna. Utuh berwarna pink. Mungkin itu adalah beberapa hal lain yang patut untuk disyukuri lagi.

well— ambil sisi positivenya, dia terlihat cantik.”

“tapi dia laki-laki Songjin. Mana ada laki-laki cantik? Bagaimana kalau nanti bukan wanita yang menyukainya tapi laki-laki juga?”

“Yaa!” tubuh Songjin bergerak. Ingin berputar menjambak rambut Kyuhyun setelah mendengar alasan tolol pria cerdas itu, tapi tidak berhasil karena Kyuhyun menahannya hingga dia tidak dapat memutar tubuh lebih banyak selain menolehkan kepala saja. “jangan bodoh!” gerutu Songjin kesal, namun hanya disambut oleh bibir tebal yang tiba-tiba tanpa aba-aba menyentuh bibirnya. Melumat lembut— mengeluarkan suara decapan pelan. “itu dia. Aku berharap dia tidak mewarisi kebodohanmu. Akan sangat merepotkan nanti..” bicara Kyuhyun saat bibirnya bahkan belum satu mili pun menjauh dari milik Songjin. Bergerak-gerak semaunya, didepan milik Songjin, tidak perduli jika saja Songjin mendadak tertarik untuk mendapatkan kecupan kedua, atau ketika, atau empat dan seterusnya.

Diamnya Songjin adalah wujud dari banyak hal. Bahwa pertama, dia membernarkan juga mengamini kata-kata Kyuhyun. Semoga puranya tidak mewarisi kebodohannya, tapi mendapatkan kecerdasan Kyuhyun saja. cukuplah mata, hidung dan bibir miliknya yang turun untuk Hyun Gi. Itu sudah sangat lebih daricukup.

Songjin selalu merasa bahwa tidak ada hal lain didirinya yang bisa diturunkan kepada anak-anaknya selain kondisi fisiknya saja.

Kedua, Songjin berfikir keras untuk mengubah posisinya kini, agar nafasnya dapat kembali teratur dan otaknya tidak berbelok, melenceng kesana kemari memikirkan yang tidak perlu. Tapi sepertinya sulit, bahwa disisi lain, dia merasa nyaman. Dan sialnya, sepertinya Kyuhyun menyadari hal itu. Itulah mengapa, pria itu tidak kunjung bergeser sedikitpun dari tempatnya.

“tapi,” gantung pria itu. Mendekatkan bibir lagi. Dan Songjin hanya dapat mengumpat berulang kali didalam hati. “aku harap dia menurunkan ini.” Songjin tersentak saat Kyuhyun menyentuh dadanya. Mengedipkan mata jutaan kali.

“kau ingin… dia miliki payudara sepertiku?” begtu polosnya pertanyaan tolol itu meluncur, sedang Kyuhyun— sedang berada diposisi antara ingin sebal karena demi tuhan! Park Songjin benar-benar menghilangkan otaknya setelah 3 bulan berhibernasi, tapi juga ingin tertawa karena begitu polosnya Songjin bertanya.

Raut terkejut, tidak bisa disingkirkan begitu saja dari wajah Songjin.

Kyuhyun menghela nafas panjang. Memang, seharusnya dia memakai cara yang lebih mudah untuk berbicara dengan wanita ini. “bukan payudaramu.” Bodoh! tambah Kyuhyun didalam hati kencang-kencang. “tapi hatimu.”

“hatiku…..??”

mata Songjin berputar saat wanita itu berfikir keras. Bagian hatinya yang mana yang bisa disumbangkan kepada Hyun Gi? Dan omong-omong, kenapa Hyun Gi memerlukan sumbangan hatinya? “apa.. dia sakit hati?”

Oh, ya Tuhan…

Kyuhyun mengusap wajahnya putus asa. Ini sudah satu 1 hari 14 jam Kyuhyum menahan kesabaran untuk tidak meneriaki Songjin bodoh. tapi demi tuhan, otak wanita ini memang sangat menyedihkan, dan Kyuhyun tidak tahu lagi akan mampu bertahan sampai kapan, tidak mengumpat serta mengatai Songjin karena kebodohannya sendiri itu.

Yang Kyuhyun maksud adalah ketulusan walau kadang menyerempet pada polos berlebih yang Songjin miliki, yang Kyuhyun harap akan menurun pada Hyun Gi kelak.

Boleh merasa angkuh jika sedang diperlukan— ditempatnya. Mudah bersosialisasi artinya mudah mendapatkan teman. Tidak seperti dirinya, yang selalu kesulitan untuk membaur ditempat baru.

Santai, dan mungkin— jika boleh, Kyuhyun ingin agar Hyun Gi memiliki bakat seni Songjin dalam menggambar. Mungkin suatu saat itu akan diperlukan anaknya nanti.

Tapi Ah, Songjin terlalu bodoh untuk mengerti penjelasan seperti itu. Dan Kyuhyun, terlalu malas untuk menjabarkannya satu persatu.

“sudahlah—“ tutup Kyuhyun menyerah. “dia memang pantas mirip sepertimu. Toh saat itu kau yang memperkosaku. Gen mu pasti muncul lebih banyak dibanding milikku.” cibir Kyuhyun tak perduli ditengah keputus asaannya. Masih berdoa dalam hati supaya setidaknya, kebodohan Songjin tidak menular pada Hyun Gi.

Songjin hanya dapat mengernyit jengkel, sambil meruntuk tidak kauran mendengar Kyuhyun selalu menagung-agungkan kondisi bahwa saat itu, dimalam itu memang iya, dia yang lebih dulu menyerang Kyuhyun.

Tapi hey, dia sedang mabuk! Dan itu adalah kali pertamanya dirinya mabuk. Mana pernah dia tahu bahwa hal seperti menggoda— atau semi menggoda.. ah.. entahlah seperti apa itu namanya disebut, tapi toh kalau tidak direspon, hal itu tidak akan terjadi kan?

Dan Songjin selalu ingin mengingatkan— sebenarnya sedikit membela diri namun selalu gagal entah bagaimana, bahwa bukankah pada malam itu, hanya dirinya sajalah yang mabuk sedangkan Kyuhyun tidak?

Jika Kyuhyun ‘waras’ itu artinya pria itu dapat melakukan banyak hal benar termasuk mengendalikan dirinya yang sedang mabuk. Dan mungkin saja, jika itu berjalan benar, acara tidur meniduri itu tidak akan terjadi. Iyakan?

Tapi sudahlah. Toh dengan hal itu terjadi, keduanya kini mendapatkan hal lebih besar, dan indah. Seperti yang diinginkan walau tidak direncanakan sebelumnya. Cho Hyun Gi.

Berhenti memikirkan hal-hal yang dapat membuatnya kesal, Songjin lantas membuang nafasnya kasar. Anggaplah itu bagian dari rasa jengkel ketidak imbangan sikap yang selalu Kyuhyun tekankan bahwa dirinya tampak teramat sangat liar— meniduri seorang pria, menggodanya lebih dulu, atau entahlah hal-hal mengerikan lainnya.

“berapa lama kau tidak tidur?” tanyanya mendapati kantung mata besar Kyuhyun terlihat mengerikan. Menggantung hitam begitu— tentu saja itu menarik perhatiannya sejak kemarin awal dia bertemu Kyuhyun lagi. walau tentu saja, ketampanan Kyuhyun sepertinya adalah hal mutlak kepemilikian pria itu karena tidak sedikitpun Kyuhyun terlihat buruk seperti gembel dipinggiran jalan dengan keadaan seperti itu.

Mengganggu. Tapi tidak mengurangi ketampanan— itu terdengar sangat lucu dan aneh kan? cih! Untuk yang satu itu, Songjin pasti menolak mentah-mentah untuk mengakui. Malu tentu saja. memangnya alasan apalagi yang lebih pantas untuk diberikan? Harga dirinya sudah terbanting habis-habisan karena Kyuhyun selalu mengangkat masalah tentang acara tidur meniduri itu.

Kyuhyun melirik sinis. Lebih tepat dikatakan mengolok habis-habisan hanya dengan satu sapuan pandangan, “kau pikir aku separah itu sampai rela terjaga berhari-hari, hanya untuk menunggumu sadar?”

Songjin diam, “tidak.” Jawabnya singkat. Kyuhyun tidak ditemuinya ketika pertama kali matanya terbuka. Siwon lah yang berda disana yang dapat disimpulkan, bahwa pria itu jugalah yang selama ini selalu berada didekatnya. Menemaninya berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Songjin ingin saja protes dengan fakta-fakta menyedihkan itu. Tapi lagi, dia tidak ingin adanya keributan yang muncul, hanya karena kekecewaan miliknya saja. mungkin itu bukanlah hal yang penting lagi untuk saat ini. atau memang itu tidak pernah penting.

Kyuhyun ikut diam bersama Songjin. Menonton perubahan air wajah Songjin sampai beberapa saat setelahnya mendesah ringan, “tapi aku memang melakukannya.” Lirihnya menyerah untuk meninggikan harga dirinya lebih lama. Dia sudah terlalu lelah dengan segala permainan nasib. “tidak tertarik bertanya kenapa?”

Suara desisan Songjin terdengar sebelum wanita itu bertanya, “kenapa?”

“karena itulah hal buruk yang kudapat ketika aku tertidur, aku mendapatkan mimpi menyeramkan itu.” Jelas Kyuhyun. “mungkin…” Kyuhyun meneguk liur dan melipat tangan, “bukan tentang mimpinya. Tapi gambaran saat kau tidak ada. Itulah masalahnya, dan aku tidak mau lagi merasakan bagaimana mengerikannya. Jadi, bukankah lebih baik aku terjaga saja? toh bocah ini, akan mengganggu tidurku juga setiap empat jam sekali.”

Rona kemerahan perlahan muncul mewarnai wajah Songjin yang semula, masih tanpa warna— sedikit pucat. Lebih baik sebenarnya. Kyuhyun hanya mengatakan apa yang terjadi tanpa perlu dikarang, ditambahai ini dan itu lagi, dan Songjin terlihat ‘hidup’ lagi. Tapi tentu saja, seperti biasanya, pria itu tidak akan mau berhenti sampai disana saja kan?

Songjin memgangi dua pipinya terasa panas. Wajahnya, sebenarnya yang terasa panas, “kau benar-benar menyukaiku ya, Kyuhyun-ah?” tanyanya begitu berbunga-bunga. Merasa baru saja diberikan pujian, padahal tidak satu pujianpun yang sedang Kyuhyun lontarkan tadi.

“memangnya begitu?” Kyuhyun mengernyit heran menonton Songjin tampak bagai cacing kepanasan. “aku hanya tidak mau kehilangan yang menyenangkan saja—“

“aku?”

“meneriaki seseorang bodoh!” Kyuhyun mengencangkan lipatan tangannya didada. “tidak mungkin aku meneriaki Eun Soo bodoh. kau sendiri tahu betapa cerdasnya dia. Dan Gyuwon, kurasa aku bisa habis dihajarnya kalau aku melakukan hal itu. Jadi siapa lagi yang bisa kupanggil bodoh selain kau?”

Songjin berhenti terpana, “itu??” sungutnya. Melotot kepada Kyuhyun. mendapati alasan pria itu begitu tidak menyenangkan untuk telinganya dengar.

Sama sekali tidak manis. Bayangan manis mengenai pangeran berkuda putih tampan yang datang menyelamatkan ditengah kepelikan itu langsung tercoreng begitu mudahnya.

“aku kira kau memang tidak mau aku tinggal—“ Songjin nyaris berbisik, menyamakan suara dengan dengungan melintasnya lalat. Kini, untuk mengurangi rasa kecewanya, lebih memilih untuk bermain dengan Hyun Gi yang tidur. Menyentuh jari-jari kecil milik bayi 3 bulan itu namun cepat-cepat Kyuhyun menarik tangan Songjin.

Seperti berbakteri— mematikan, dan sangat berbahaya jika bayi tidak bersalah itu tertular, “jangan ganggu dia. Dia baru saja tidur!” omel Kyuhyun, membuat Songjin mendelik terkejut bukan main. Mendadak, merasa tidak terima atas omelan sepihak Kyuhyun.

“aku hanya menyentuhnya saja!” suara Songjin melengking. Tidak berdampak banyak selain memekakkan telinga. Dan ah, tentu saja.. Hyun Gi. Bayi laki-laki itu menggujal terkejut dan langsung bergerak kesana kemari. Mengeluarkan suara rengekan berupa tangisan putus-putus dengan mata masih terpejam.

Satu alis Kyuhyun meranjak naik perlahan. Inilah yang dimaksudnya kepada Songjin. Kebiasaan berteriak wanita itu mungkin tidak mengganggunya, tapi Hyun Gi tentu saja akan merasa terganggu.

Songjin berdecak sebal. Iya, dia tahu kalau yang dilakukannya salah. Dan sepertinya, tidak perlu lagi untuk berdebat tentang hal itu. Tentang siapa yang benar dan salah. Lagipula Kyuhyun sudah beralih mengacuhkannya.

Pria itu sibuk menidurkan Hyun Gi lagi tanpa membopong bayi laki-laki itu. Hanya menepuk-tepuknya saja sambil bersenandung ringan. Tiba-tiba Songjin mendapati mulutnya mendesis melihat keakbaran diantara Kyuhyun dengan anaknya sendiri.

Merasa lucu saja, Kyuhyun tidak pernah selembut itu dengannya. Mungkin. Iya, yang diingatnya selalu begitu. Apalagi bersenandung hanya agar dia tertidur.

Memangnya pernah dia semanis itu? Ah, pernah? Kapan? dulu? Yang mana? Dimana? Sudahlah lupakan. Memikirkannya benar-benar membuat emosi meranjak naik.

** **

Songjin hanya bisa menyumpal telinganya dengan headset ketika seluruh orang didalam ruangannya sedang terkesima dengan laki-laki kecil yang bahkan belum menumbuhkan giginya itu.

Ibunya, Ayah mertuanya, Gyuwon dan Siwon yang paling tampak heboh. Mereka terus menerus berkata bahwa Hyun Gi terlihat menggemaskan. Tampan. Lucu. Terlalu banyak pujian yang dilontarkan orang-orang bagi Hyun Gi— membuat diam-diam Songjin menggumam didalam hatinya, bahkan bayi itu belum bisa melakukan apa-apa, tapi semua orang terus menerus berkata ‘Hyun Gi pintar’.

“aku tidak pernah dibilang pintar~” dengus wanita itu begitu polosnya. Tidak sadar, bahwa sedari tadi Kyuhyun tidak berada didalam kerumunan itu melainkan berdiri disudut dinding dekat ranjang, melipat tangan memperhatikan betapa cemburunya Songjin atas perlakuan orang-orang terhadap anaknya sendiri. iya, anaknya sendiri. tolol sekali kan kedengarannya?

“apa aku boleh membawanya berjalan-jalan??” ijin Gyuwon penuh harap. Menggunakan mata berbinar-binar seperti mengharapkan undian sebuah pulau, dan semakin berkilat ketika Kyuhyun mengangguk mau tidak mau.

Terpaksa. Dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia berkata tidak. Mungkin tinjuan keras sudah menghampirinya dengan kutukan-kutukan tanpa henti. Dan lagi, dia ingin memiliki waktu berkualitas lain dengan Songjin, yang kali ini, tidak akan digunakannya sia-sia, untuk menceramahi wanita itu betapa bodohnya dia karena merasa cemburu dengan anaknya sendiri.

“jangan terlalu banyak terkena angin.” Pesan Kyuhyun. Melirik jam dinding lalu bersuara lagi, “dan satu jam lagi dia harus kembali untuk makan.” Kyuhyun melirik Songjin dengan sudut matanya. Maksudnya, wanita itu harus menyusui Hyun Gi sebagai makanan anak mereka. tapi wanita itu tampak tidak terlalu memerdulikan segalanya lagi.

Sepasang suami istri yang haus akan hadirnya anak itu langsung mengiyakan saja persyaratan Kyuhyun, diikuti oleh seorang lagi, pria tua berusia awal 60-an. Siwon melirik ayahnya— mendadak merasa geli bukan main. Pria tua itu benar-benar.. ya Tuhan~

Sedang Park Aeri, selalu sadar akan keadaan yang tidak lagi kondusif. Tiga partner menggilanya sedang pergi dan berada didalam ruangan itupun sepertinya bukanlah pilihan.

Aroma perdebatan telah diciumnya. Walau selalu merasa ingin tahu, tetap saja, Park Aeri akan cepat sadar bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa dijamahnya. Hanya Kyuhyun – Songjin sendiri sajalah yang dapat menyelesaikannya. Maka setelah memutuskan ini dan itu, Park Aeri ikut melesat pergi. Entahlah, mungkin melipir masuk kedalam cafeteria— membeli kopi atau roti.

Setelah memastikan hanya berisi dirinya dan Songjin saja, Kyuhyun cepat-cepat mendekat keranjang. Mengamati sekilas ranjang berukuran tidak terlalu besar itu, tapi tetap pada kemauannya. Mengambil lahan semaunya. Duduk berselonjor, santai, tanpa perduli bahwa Songjin sedang memandanginya bengis saat ini.

Atau.. katakan saja pura-pura tidak tahu. Karena menanggapi ketidak sukaan Songjin, hanya akan berbuntut panjang saja. dan tentu saja melelahkan.

“kau terlihat tidak senang?”

“dan kau terlihat sangat senang?” balas Songjin cepat tanpa harus berpikir banyak.

Kyuhyun tersenyum lebar. Menjadikan dua tangannya sebagai bantal dadakan yang diletakkan dibelakang kepalanya. Ditekuk ala kadarnya saja. “aku tidak punya alasan untuk merasa tidak senang, iyakan?” sahut Kyuhyun retoris.

Semoga saja Songjin sadar dengan sikapnya, walau sebenarnya Kyuhyun juga tahu Songjin memang sangat sulit diberitahu jika keras kepalanya sedang kumat seperti saat ini.

mmm~” Songjin hanya membalas sekenanya saja. malas berbicang lebih lanjut. Juga melakukan hal yang sama. Memejamkan mata. Mendengarkan alunan music instrument milik Dave Koz yang membuatnya dapat merasa damai untuk beberapa saat saja.

Hanya untuk beberapa saat hingga kedamaiannya terganggu lagi. Menurutnya. Dengan beban yang tidak bisa dikatakan ringan, dan cengkraman dari kuat— hingga melonggar diperutnya.

Hangat nafas Kyuhyun dibahunya semakin lama terasa semakin teratur. Pria itu tidak perduli bahwa sebenarnya, dia baru saja membuat seorang wanita merasa sesak nafas karena terlalu terpesona ditengah kerasnya usaha wanita itu, untuk meyingkirkan reaksi menjijikan itu dari tubuhnya sendiri.

“aku ingin menjawab pertanyaanmu.”

“pertanyaan yang mana? Aku tidak sedang mengajukan pertanyaan apa-apa.” Songjin menyahut ketus.

“aku memang tidak bisa tidur selama ini. aku tidak ingin tidur lebih tepatnya.” Saat Kyuhyun berbicara, Songjin mengetuk-ketukan jemarinya diatas pahanya sendiri mengikuti melodi dari suara saxophone.

Kyuhyun merapatkan dada bidangnya. Ada rasa hangat yang mendadak membuat Songjin termenung. Dia sudah hampir lupa, kapan merasakan kehangatan seperti ini lagi, sejak terakhir kali pria itu memeluknya, namun tidak diakhiri atau diawali oleh keributan.

Pelukan yang hanya digunakan pria itu untuk membuatnya diam, tidak mengoceh lagi. Biasanya, itu cukup ampuh digunakan Kyuhyun.

“aku juga tidak ingin kau pergi. Karena itu aku berada disini.”

“aku tidak merasa tersanjung. Kemarin saat aku tidak sadar, kau tidak disini.”

Kyuhyun menunjukan ringisan. Nyeri terasa nyata kini. “itu—“ gantungnya bersuara berat. “aku akan menjelaskan alasanku nanti, mengapa aku tidak mau disini kemarin. Tapi aku bersungguh-sungguh kali ini. kau tidak ingin bersorak senang mendengarnya?” goda Kyuhyun setengah tertawa sambil memejam. Hidungnya ditekan dalam-dalam pada bahu Songjin lalu dengan seenaknya, menghirup aroma tubuh wanita itu. Dia tidak berbohong kali ini. dia memang merindukan yang satu ini.

Songjin masih terlihat dingin. Dan Kyuhyun bukan lagi ingin membuat wanita itu sadar atas kesalahannya, melainkan tertawa yang semakin lama semakin mengencang. Tubuh pria itu berguncang hebat. Tawanya berakhir dengan gigitan pelan pada bahu Songjin. “kau benar-benar menggelikan, tahu tidak?”

Songjin, cemburu dengan anaknya sendiri. anaknya sendiri! bagaimana Kyuhyun harus menahan tawanya lagi?

Kyuhyun berdehem meluruskan suara dan kembali diposisinya. Seprtinya, posisi yang orang lihat akan membuat tulang sakit itu begitu diminati pria tinggi tersebut. Dia sama sekali tidak berniat untuk merubah posisinya, walau kini Songjin terlah memberikan lahan lebih luas untuk Kyuhyun jika dia ingin merebahkan tubuh. Pria itu ingin yang lain. Berdempetan seperti ranjang itu sangatlah sempit.

Iya sempit. Memang sempit, tapi tidak sesempit itu juga jika hanya untuk dibuat merebahkan tubuh dalam posisi normal.

“aku mau tahu—“ gantung Songjin menunggu jawaban Kyuhyun, tapi pria itu terus saja diam. Hanya usapan pelan pada perutnya saja yang menandakan bahwa pria itu mendengar. “selama aku tidak ada, berapa banyak wanita yang mengerubungimu?”

Cemburu lagi. Kyuhyun setengah memekik didalam hati. Tapi yang dikeluarkannya, lagi-lagi hanya senyuman tipis. “tidak banyak,” jawabnya memulai. “kalau Gyuwon, dan Ibuku masuk kedalam hitungan. Mereka boleh kau masukan kedalam daftar.”

Wajah Songjin berubah masam. Kyuhyun berniat untuk berbohong, atau memang sedang membohonginya? “90 hari hanya dua wanita itu saja yang menghubungimu? Ibumu dan mantan pacarmu?”

Kyuhyun sedikit mencelos dengan sindiran Songjin sebenarnya. tapi benar juga apa yang dikatakan Songjin. Suka tidak suka, Gyuwon memang benar mantan pacarnya kan?

“kau tidak merencanakan untuk membuat scenario perselingkuhan yang mutakhir kan?” selidik Songjin— membuat Kyuhyun jengah.

Dia ‘kan bertanya wanita mana saja yang meneleponnya. Dia tidak bertanya menelepon ke ponsel yang mana? Ponsel yang dipegangnya bahkan baru menyala kemarin. Beberapa saat ketika dia memutuskan untuk datang kerumah sakit, dengan keberanian seadanya dua hari lalu.

Kalau ponsel dengan nomor yang lain, dia yakin puluhan wanita sudah menghubunginya. Iya, mereka itu pegawainya. Akan kemana lagi mereka menghubungi atasannya jika tidak kesana? Dan sepertinya akan memerlukan waktu panjang lagi bagi Kyuhyun untuk menjelaskan bahwa ponsel itu bahkan tidak ditangannya.

Tertinggal dilaci meja kerjanya dikantor.

“aku mau tahu—“ Suara Songjin terdengar lagi. Kali ini tangan wanita itu bekerja cekatan merogoh saku celana Kyuhyun untuk mengeluarkan ponsel pria tersebut. “berapa kali Seohyun menghubungimu, dan kau tidak ingin aku tahu?”

mendengar tuduhan semena itu Kyuhyun langsung menghembuskan nafas bagai banteng. Mengambil kembali ponselnya yang Songjin acung-acungkan diudara. “nah! Tercium gelagat aneh. Yang aku katakan benar terjadi ‘kan?”

Kyuhyun mengamati wajah Songjin seksama. Wanita itu selalu saja tampak bersemangat ketika sedang memberikan tuduhan kejinya. Mengorek tanpa tahu sopan santun. Tanpa perduli jika saja mungkin kalimat tuduhan-tuduhannya itu membuat sakit hati orang lain. Sayang sekali Kyuhyun terlalu paham dengan sifat buruk Songjin yang itu, hingga jutaan maklum, telah dikeluarkan Kyuhyun bagi Songjin secara cuma-cuma.

“aku mau jujur. Sebaiknya kau mendengarkan yang satu ini baik-baik.” Kyuhyun memerintahkan tajam.

Jari-jarinya bergerak menyentuh layar ponselnya. “menunjukan foto perselingkuhanmu, huh?”

“aku menghubungi seorang wanita.” Terang Kyuhyun. Mendadak, cibiran demi cibiran Songjin membungkamnya sendiri. terkejut dan merasakan hawa dingin menamparnya bagai godam. “setiap jam, setiap hari, aku menghubunginya. Aku berharap banyak dengan yang satu ini, untuk menjawab panggilanku. Aku ingin berbicara banyak dengan wanita ini. ceritaku sudah menumpuk untuk dibagi dengannya.”

Songjin semakin diam. Tangannya diatas bantai dibelakang tubuhnya, sedang meremas kuat bantal tersebut. Mendadak, rasa ingin menghantamkan kepala Kyuhyun terasa semakin nyata baginya. “tapi sepertinya aku yang sial. Dia tidak pernah sekalipun menjawab panggilanku.”

“cinta bertepuk sebelah tangan, ya?” Songjin menyindir.

“mungkin.” Bahu Kyuhyun bergerak santai.

“kasihan sekali kau—“

“memang.”

“Seohyun?”

“bukan.” Tolak Kyuhyun cepat tanpa berbasa-basi. Membalikan layar ponselnya menghadap wajah Songjin, hingga lagi-lagi, wanita itu benar-benar merasa terhantam benda berat, “namanya Cho Songjin.”

** **

“Songjin~”

“Hng?”

“mau tahu rahasia lain lagi?”

Songjin diam. Tidak ingin langsung menjawab karena semakin kemari, Kyuhyun terasa semakin menyeramkan baginya. Tidak terlalu baik bagi kinerja jantungnya.

“aku tidak suka rahasia.”

“ini hanya diantara kita.” Kyuhyun meyakinkan Songjin cepat. “dan Siwon Hyung kalau kau mau menganggapnya terlibat juga.”

Kening Songjin berkerut kencang. Tidak sadar bahwa Kyuhyun bergerak-gerak tak menentu untuk merogoh dompetnya. Pria itu mengeluarkan selembar photo berukuran sedang yang dilipatnya dua.

“karena Siwon Hyung yang memberikannya, jadi mungkin dia sedikit terlibat.” Kyuhyun terlihat enggan untuk mengakui hal tersebut.

Benar saja. rahasia milik Kyuhyun ini memang selalu tidak pernah membuat jantungnya berhenti bekerja dalam kapastitas tidak normalnya. Songijn mendelik terkejut melihat foto 3 orang balita didalam sebuah foto ditangannya.

Memperlihatkan satu balita, sedang sibuk dengan selang air dan seorang lagi bersama satu-satunya balita perempuan disana sedang menempelkan bibir mereka didalam kolam renang karet. Entah sengaja atau tidak, tidak ada satupun diantara mereka yang mengetahui itu.

“Siwon Hyung bilang, itu saat aku berusia lima tahun. Berarti kau tiga tahun, iyakan?”

Kyuhyun tersenyum dibahu Songjin. Melipat foto tersebut hingga hanya tampak seorang balita laki-laki dan perempuan saja yang terlihat didalamnya. “begini lebih baik—“ tuturnya terdengar jahat. Tapi tidak gagal membuat Songjin diam-diam tersenyum, yang terus-terusan ditahannya hanya karena tidak ingin menurunkan harga diri lebih jauh lagi.

“pasti ada yang salah dengan gambar ini.” Songjin mencibir. Ikut mengamati gambar itu dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya dia pikirkan dulu hingga bisa begitu saja menempelkan bibirnya pada bibir seorang pria seenaknya.

“aku tidak akan membahas siapa yang lebih dulu melakukannya.” Ucap Kyuhyun seolah dapat membaca jalan pikiran Songjin saat itu. “hanya saja.. yang aku lihat disini benar-benar membuatku lega.”

“lega?”

“entah itu seks pertamaku, atau ciuman pertamaku, semua kulakukan dengan orang yang tepat.”

“kau mau mengerjaiku lagi?” Songjin mendelik curiga.

Kyuhyun tersenyum lebar, “bukan.” Tolaknya lembut. “hanya untuk membuatmu berhenti membandingkan dirimu dengan yang lain, dan berhenti merasa cemburu.” Kyuhyun mengusalkan hidung mancungnya kedalam lipatan bahu Songjin. “dan membuktikan kalau kau salah. Bahwa ciuman pertamaku bukan dilakukan dengan Gyuwon. Tapi denganmu.”

Kyuhyun mencium pipi Songjin saat wanita itu masih mencerna penjelasan sederhana Kyuhyun. Kali ini bukan karena tak paham, tapi sikap Kyuhyun membuatnya merasa bagai dibolak balik diatas penggorengan. Dia benar-benar kehabisan stock kata-kata, untuk bertingkah menyebalkan lagi, mendebat penjelasan Kyuhyun.

“aku tidak menghitung itu sebagai ciuman pertamaku. Aku masih terlalu kecil untuk sadar kalau itu adalah sebuah ciuman.” Mendadak lidah Songjin menemukan saja kalimat sanggahan yang dikiranya tidak akan didapatkannya.

“terserah kau saja. tapi aku menghitungnya resmi. Tidak tahu siapa yang melakukannya lebih dulu. Tapi kalau melihat apa yang terjadi selama ini, aku rasa hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Kau memang begitu terobsesi padaku, ‘kan?”

“enak saja! aku masih punya harga diri!”

“tidak seberapa banyak lagi sekarang didepanku— sudahlah.”

“dasar tidak sopan!”

“iya, mengumpat saja semaumu. Setidaknya aku mendapatkan fakta lain, bahwa istriku memang tergila-gila padaku.”

“kau menggelikan, Cho Kyuhyun. Kau tahu?”

“aku tahu. Tapi kau juga sama menggelikannya. Jadi apa kita pasangan menggelikan?”

Songjin kini benar-benar kehabisan umpatan. Ingin menjerit kencang, tapi satu-satunya yang dia ingat hanyalah mungkin para perawat akan buru-buru mendatanginya dengan panic, namun kemudian menertawai serta mencibirnya karena dia baru saja mengatakan alasan konyol mengapa dia menjerit.

“kau saja yang menggelikan. Jangan bawa-bawa aku.”

“Ahh.. jadi kita masih meneruskan perdebatan ini? aku mengantuk sebenarnya. apa perdebatan ini bisa dipause sebentar? Hanya 30 menit saja, lalu aku akan bicara dengan dokter Han, meminta ijin agar kau boleh pulang, dan kita pulang. Bagaimana? Kau boleh terus mengoceh tentang hal ini nanti dirumah.”

“pulang?” Songjin mendengus. “aku ingat aku menyuruhmu berbicara dengan dokter Han kemarin. Tapi kau berkata ‘berikan aku waktu 10 menit saja lalu aku akan berbicara dengan dokter Han meminta ijin untukmu agar boleh pulang’ tapi kau tidak melakukannya, dan malah memarahiku karena aku menyentuh anakku sendiri. aku heran sebenarnya kau ini hidup diplanet mana? 10 menitmu sama artinya dengan 10 jam. Apalagi 30 menit?”

Songjin terlihat menggerutu habis-habisan. Sedang Kyuhyun tidak bisa menolak apapun karena yang terjadi memang seperti itu. Dia sendiri tidak mengerti mengapa terus menerus melakukan hal yang sama. Mengulur, hanya karena alasan yang sama. Yang sebenarnya jika hanya untuk bersantai atau bermalas-malasan bersama Songjin bisa dilakukannya bahkan lebih leluasa dirumah.

“baiklah baiklah.” Kyuhyun menyerah. Tetap menyeret tubuhnya walaupun enggan, menjauh. Bangkit lantas merapihkan pakaiannya. “aku menemui Dokter Han sekarang. Kau senang?” pria itu terlihat sama saja dengan gerutuan Songjin sedari tadi sebenarnya.

setelah membuang nafas kasar, Kyuhyun benar-benar melakukan hal itu. Menyeret kaki menjauhi ranjang. Dan berhenti saat mendengar Songjin memanggil namanya, “apalagi sih?” bentaknya.

Melihat dengan santainya Songjin melambai— tanda panggilan untuk menghampiri wanita itu, membuat Kyuhyun semakin jengkel saja. “memangnya kau pikir aku ini apa? Kau benar-benar keterlaluan! Aku dilempar kesana, kesini. Diperintah ini, itu.” omelnya tanpa berhenti namun tak urung memutar arah menghampiri Songjin lagi.

“cepat biacara!! Apa maumu? Wanita jahat!”

Songjin mengerutukan bibir mendengar kalimat akhir Kyuhyun. Harusnya, dialah yang menyematkan panggilan tertinggi itu bagi Kyuhyun. Dia separuh yakin, semua orang akan setuju dengannya, bahwa Kyuhyun memang selalu tampak kejam bagai lex luthor.

Songjin bukan terpancing walaupun ingin juga mengutuk Kyuhyun dengan panggilan serupa. Tapi melihat Kyuhyun menekuk wajahnya, hilanglah sudah semua perkakas kebapakan, yang sedari kemarin membuatnya terpesona.

Yang dilihatnya saat ini hanyalah Cho Kyuhyun pria 27 tahun, namun terlihat bagai bocah 5 tahun. Memajukan bibir, mengerucut dengan wajah kusut. Tawa Songjin tidak habis dilontarkannya hanya untuk mencemooh bagian sederhana itu.

Sambil masih tertawa, Songjin merentangkan dua tangannya diudara. Melambai, meminta Kyuhyun untuk lebih dekat lagi dengannya. Lalu setelah Kyuhyun menurutinya, pria itu sendiri yang kemudian tersentak.

Tiga puluh detik. Ternyata diapun sama payahnya dengan wanita ini saat mendapatkan serangan mendadak. “Hei, kau ini wanita—“ ujarnya sambil sesekali, mengecap bibirnya kembali. Ingin menyicipi rasanya lagi, tapi terlalu malu untuk melakukannya lebih dulu mengingat kekesalannya sedang berada didepan wajahnya sendiri. “dimana harga dirimu? Kau baru saja membuangnya secara cuma-cuma lagi. Yang tadi itu sisanya ‘kan? ckck habislah kau sekarang Songjin.” Kyuhyun meneruskan ejekannya.

“terserah kau sajalah. Omong-omong, mau tidur denganku?”

Kyuhyun mendesis, menegapkan tubuh melipat tangan “Astaga, permintaan apalagi ini? bahkan aku belum mengerjakan perintahmu yang tadi. kau ini benar-benar wanita tukang perintah ya!”

“ini bukan permintaan. Ini tawaran.” Sanggah Songjin. “aku hanya sedang berbaik hati saja. itupun kalau kau mau.” Songjin menggidikan bahu santai sambil merubah posisi duduknya menjadi rebahan. Menepuk banal sebelumnya. Masih menyisakan lahan kosong disampingnya.

Kyuhyun melirik curiga. Entah apa yang sedang wanita ini rencanakan, tapi tawaran ini cukup mengggiurkan memang. Dia mengantuk. Sejak kemarin dia mengantuk berat, dan masih terus menolak untuk tidur. Hanya kopi yang ditenggaknya banyak, berharap dengan meminum cairan pekat itu, maka kehidupan matanya akan menyala untuk beberapa jam kedepan. dia juga menolak untuk kemanapun, selain kekamar kecil saja yang juga berada didalam ruangan ini.

Dia tidak benar-benar ingin meninggalkan ruangan ini sebenarnya, tapi entahlah Songjin selalu bersikeras agar dia melakukannya untuk menemui dokter Han. Tanpa jaminan apapun, bahwa sekembalinya pria itu, dia tidak akan mememukan pemandangan yang sama seperti kali pertama kakinya menjejak lagi lantai ruangan ini, setelah sekian lama, dia tak ingin kembali.

“aku sedang tidak berminat meniduri wanita.”

Songjin tertawa sambil menggeleng-geleng, “aku tidak mengajakmu untuk menduriku. Aku mengajakmu untuk tidur bersamaku, itu berbeda Kyuhyun-ah!”

Oh? Bukan?

Kyuhyun sedikit terlonjak dengan kata-kata Songjin. Tidak menamparnya memang. Hanya saja membuatnya terlihat seperti pria super mesum dengan harapan tinggi bahwa dia sedang digoda agar berakhir ‘mengerjai habis’ si penggoda tersebut.

“bagaimana dengan dokter Han?” mata Kyuhyun menyipit curiga.

“itu…” Songjin menggantung tampak menimbang sesaat, “bisa kau lakukan setelah ini. jadi kau tertarik??” Songjin menepuk-tepuk bantal kosong disampingnya.

Kyuhyun masih bertahan dengan tangan terlipat dan wajah angkuh yang ketus. Tapi matanya benar-benar terlihat seperti anak anjing kelaparan, “ayo sini..” Songjin tersenyum.

“30 menit?”

“30 menit.” Songjin mengangguk mantap. Tidak lama waktu yang diperlukan setelahnya. Kyuhyun berputar dan melompat diranjangnya seperti bocah ompong diwaktu tidurnya.

Songjin menggeleng sembari berdecak, “kantung matamu—“ komentar Songjin sedikit iba, mengusap bagian yang dibicarakannya itu. “kau minum-minum?”

“kenapa kau senang sekali menduhku sih?”

“aku tidak menuduh. Hanya saja kau tidak terlihat seperti baik-baik saja sebenarnya.”

“memangnya sejak kemarin kau menanyakan kabarku? Aku memang tidak baik-baik saja. kau saja yang tidak bertanya.” Kyuhyun mendengus kencang. Merasa jengkel, namun rileks saat Songjin mulai mengusapi belakang kepalanya lembut berulang-ulang.

“tidur, Kyuhyun-ah.” Alih-alih mendengarkan perintah Songjin, Kyuhyun malah mendekatkan tubuhnya pada wanita itu saja. menenggelamkan wajahnya, pada lekukan leher wanita tersebut, tapi caranya tidak membuat Songjin berhenti berbicara, “aku bilang tidur.” Perintah wanita itu lebih tegas.

“tidak bisa.” Kyuhyun menjawab lesu. “aku lelah, tapi tidak bisa tidur.”

“itu hanya mimpi.” Kyuhyun mengira Songjin melupakan hal sialan itu pada awalnya. Tapi kemudian terkejut juga saat untuk pertama kalinya, Songjin seolah dapat membaca pikirannya sangat mudah.

Dia bukan tidak bisa tidur, tapi tidak ingin tidur. Tidak ada jaminan apapun yang membuatnya sudi patuh, bahwa saat matanya terbuka nanti dan semua hal yang dilaluinya saat ini adalah sekedar mimpi bukan kenyataan. Kenyataan, bukankah biasanya akan terasa lebih pahit daripada mimpi? Jika mimpi itu manis, mungkin itu memang sudah seharusnya karena mimpi hanyalah sekedar bunga tidur?

“aku juga takut.” Beritahu Songjin lebih pelan. Sama— memasukan wajahnya kedalam lipatan leher Kyuhyun. Baru inilah kali pertama, Kyuhyun membuat kepalanya sejajar dengan kepala Songjin, mengingat perbedaan tinggi mereka, masuk akal jika selama ini Kyuhyun lebih leluasa untuk meletakkan dagunya diatas kepala Songjin saja, sedang wanita itu menubrukan wajah didada Kyuhyun setiap malam.

“tapi kukira ini nyata, bukan mimpi. Aku juga— punya mimpi buruk yang sama. Kau akan menertawaiku kalau aku menceritakannya.”

“kau?”

mmm.” Kyuhyun mendesah panjang, “sangat tidak keren.” Lanjut Songjin membuatnya sedikit tersenyum aneh. “ayo tidur, Kyuhyun-ah. Kau harus tidur. Bagaimana kalau kau mati karena kau tidak pernah tidur?”

Kyuhyun memuntahkan tawanya lebih keras. Tubuh pria itu berguncang. Akhirnya, hanya bahu Songjin lah yang dapat membekap suara tawa pria itu karena Kyuhyun sendirilah yang menenggelamkan wajahnya disana. “nanti mimpiku benar-benar jadi nyata.”

“tidak ada alasan keren lain untuk kematianku, huh?”

Kyuhyun merasakan kepala Songjin menggeleng. Dia tertawa lagi. Lebih pelan tapi masih saja menimbulkan rasa nyeri diperutnya. Dia menepuk-tepuk punggung Songjin lembut, yang sebenarnya juga berinti sama, semoga dapat menenangkannya juga, “aku akan baik-baik saja, Songjin percaya padaku.” Tuturnya meyakinkan.

“aku juga.” Songjin ikut menyahut. “aku akan baik-baik saja, jadi tidurlah.”

“kau yang tidur.”

“kau! aku sudah terlalu banyak tidur.”

“jangan membantah lagi. Tidur Songjin.”

“aku yang menyuruhmu tidur lebih dulu, jadi tidurlah sekarang!” suara Songjin terdengar menginggi. Sudah malas dengan perdebatan lagi rupanya. “apa aku harus bernyanyi seperti yang kau lakukan untuk Hyun Gi supaya kau tertidur?”

Kyuhyun melongo mendadak. Bernyanyi? Dia gila? “kau tega sekali, mimpiku akan semakin buruk saja, Songjin. Suaramu ‘kan bagai terompet sangkakala.”

Kyuhyun meringis. Cakaran dalam dipunggungnya terasa nyata perihnya walau tubuhnya sedang dilapisi pakaian saat ini. “terakhir aku mendapatkan itu saat kita bercinta, iyakan?” tapi kemudian kekehanlah yang dikeluarkannya.

Lalu Songjin? Hanya tertunduk malu dalam diam. Tidak berniat lagi merespon apalagi membuka percakapan lebih dulu dengan Kyuhyun karena tahu bahwa jika dia berulah lagi, mungkin Kyuhyun bisa membuat jantungnya melompat dari tempatnya semula.

Menit menit berlalu dalam keheningan. sepertinya pendirian Kyuhyun dengan kondisinya sedang berbanding terbalik. Nafas pria itu sudah terasa teratur Songjin rasakan. Dia pasti sangat lelah mengurus dirinya sendiri, serta bayi yang belum pernah dipelajari lebih dulu olehnya, bagaimana cara penanganannya.

Dia hanya melakukan semua itu dengan modal dasar naluriah seorang Ayah. Tidak lebih, tidak ada embel-embel lain. Dan untuk beberapa hal, Songjin lah yang merasa beruntung bukan main mampu memiliki pria seperti Kyuhyun saat ini.

Pria itu memang menyebalkan, angkuh, selalu bertindak semaunya sendiri, egois, dan keparat disaat yang bersamaan, namun lucunya dapat juga bersikap tegas dan tepat dikeadaan termendesak apapun.

Sejenak saja, Songin merasa bahwa dialah satu-satunya makhluk paling beruntung sedunia. Dan Kyuhyun memang benar, bahwa dia tidak memiliki alasan lain untuk tidak merasa bersyukur karenanya.

Pria itu… selalu mempunyai caranya sendiri untuk mengajarkan kepada dirinya tentang apa yang harus dan tidak untuk dilakukan. Tentang apa yang benar dan salah tanpa harus banyak mendikte sebodoh apapun dirinya seperti yang semua orang tahu. Dan yang terpenting, tetap memilih berada bersamanya disaat— bisa saja sebenarnya, dia mendapatkan yang lebih baik. Yang selalu orang katakan. yang lebih cantik, yang pria itu sendiri pernah ucapkan. Yang lebih cerdas, seperti mendiang ayahnya pernah berpesan. Yang lebih mampu mengurus pria itu secara layak— tutur ibunya dulu.

Mendadak rasa membuncah membuat Songjin merasakan ledakan rasa senang. Merengkuh Kyuhyun lebih erat, menghidupi aroma kayu manis— aroma khas yang dimiliki Kyuhyun. Terkekeh senang seperti orang gila setelahnya tanpa dapat dikendalikannya sendiri. “Kyuhyun-ah?” Songjin sedikit menggoyang tubuh Kyuhyun, namun sepertinya pria itu memang teralu lelah hingga telah terlelap secepat itu. “aku mencintaimu.” Kata Songjin malu-malu.

Dia terlalu enggan mengucapkannya saat pria itu membuka mata karena pasti akan diejek habis-habisan tanpa henti. Jadi kadang, menyimpannya sendiri akan terasa lebih baik.

Namun pergerakkan tubuh Kyuhyun merengkuhnya, membenarkan letak tubuhnya sendiri mengejutkan Songjin sesaat. “mmm.” Pria itu mendengung asal.

“aku tahu Songjin.” Kyuhyun bersuara parau ditelinga Songjin.

Percayalah, itu hanyalah sebuah kebetulan saja mengingat bibirnya sedang berjarak dekat dengan telinga wanita itu. Kyuhyun ikut mengusap punggung Songjin dan kembali tenang setelah beberapa detik berupaya membenarkan posisinya. “aku tahu.” Ulangnya tetap parau, namun bercampur tawa tipisnya kini.

167 thoughts on “[KyuJin Series] Here Comes The Boom! [Part 3]

  1. hoho akhirnya bangun juga nih si putri tidur.

    itu seriusan kyuhyun belum pernah jenguk songjin + ngerawat hyun gi sama sekali ????
    wah wah suami + bapak macam apa dia. langsung main nyalahin hyun gi pula. dia cuma gumpalan daging gatau apa2 keleussss

    kalo songjin tau selama 3 bulan kyuhyun gamau ngerawat hyun gi. jadi apaan tuh kyuhyun nanti.

    hyun gi jelas montok lah. kan dia minumnya susu formula. bukan asi

  2. waahh..kyu nangis..mkirny mmpi buruk tu kjdian x y??? songjin bknny tny kbar or apa..mlh sbuk ngetwain kjdian langka itu..ckck (kyu..cengo..mkir nyata n hlusinasi)
    hyun gi jd idola baru..palagi wat woncouple..harabe n halmeoni mpe rela dtg pgi” wat ktmu si baby montok..kkk
    songjin..klwat dah ah..kyu hrusny klo ngomong yg detail..jd ga slah tanggap..

  3. adah kah cerita ff yg lebih mengharukan dari pada yg ini … daebakk ffnya 😍😍😍 sedih terrharu,menegangkan dan lainlain nya menjdi sstu dalm ff ini … enga bisa dah ngomong apah2 ama ff tetang songjin dan kyuh makin cinta 😂😂😂 … mian yh eon klo aku komen di part akhirnya karena aku ngebut baca😀😁😁😁😊… yg penting aku suka ama ff eon

  4. Series yg ini keren kak.. Menguras emosi. Aku sampek di kira gila sama tmen2 karna baper baca ff ini di sudut kelas pas lagi jam kuliah. 😀

  5. Kalo Songjin tau selama tiga bulan kyumbul ogah megang Hyun Gi kira kira gimana ya?? Apa yang akan terjafi?? Perang dunia ke 3 kah?? Atau lebih parah 😂😂

  6. pst sulit rasanya brd diposisi kyu. dia tertekan bgt slma 3 bln. bingung jg gelisah. tpi skrg smua tlh terbyrkan dgn sadarnya songjin. tpi ttp aja otaknya gesrek walaupun udh berhibernasi slm itu

  7. Greget sendiri pas baca bagian yang lain berusaha menghubungi kyuhyun tapi kyuhyunnya susah dihubungi .. kyuhyun seperti sembunyi dari kenyataan .. untung aja dia inisiatif pergi ke rumkit dan akhirnya ketemu songjin

  8. akhirnya songjin bangun juga😭, yaelah aku bacanya sampai berderai-derai air mataku, untung itu semua hanya mimpi buruk kyuhyun ketika songiin meninggal😭, tp kyuhyun masa iya anti sm hyun gi, dan untung jg kyuhyun tak anti lagi sama hyungi malah dia jadi belajar mengurus bayi, daebakkk ffnya walaupun baca ulang tetap aja tak ada kata bosan.. selalu bikin kangenn

  9. Pasangan abnormal yg tingkat kenormalannya perlu di ragukan 😂😂😂😂

    Sabar yach hyun gi. ….. punya ortu kayak mereka 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s