[KyuJin Series] Sharing You


Sharing You

GSD

Oneshot

Cho Kyuhyun | Cho Songjin

Begini, ada pemandangan menyebalkan yang lagi-lagi Kyuhyun dapatkan hari ini. seperti biasa, ruang rawat Songjin tidaklah pernah sepi— tentu, kecuali ketika tiba waktunya tidur, hingga membuat Choi Siwon dan Gyuwon akhirnya rela melepaskan keponakan mereka, Hyun Gi dari jeratan tangan-tangan gatal menyentuh bayi laki-laki tersebut.

Ayah Ibunya yang bekerja lebih rajin daripada petugas keamanan rumah sakit, datang setiap hari, dipagi buta dan sudah memulai keributan. Bertujuan satu saja, ingin bertemu cucu mereka.

Hyun Gi telah menarik hati banyak orang, walau tidak tampak seperti itu dengan Ibunya sendiri— Songjin. Yang terkadang, masih mempertanyakan kepada Kyuhyun siapakah yang akan dipilihnya jika mereka berada didalam sebuah kapal dan Kyuhyun hanya boleh menyelamatkan satu orang saja.

Kyuhyun pasti akan selalu pura-pura tuli, pura-pura tidur, pura-pura sibuk bahkan pura-pura merasa ingin ketoilet jika Songjiin mulai berulah seperti itu lagi. Dan kali ini, hal itu terjadi lagi.

Baru saja semenit lalu Songjin mengajukan pertanyaan yang serupa. Terang saja membuat geram Kyuhyun hingga akhirnya, pria itu mendiamkan Songjin— menjaga jaraknya sedikit lebih jauh.

Itu masih 1 persoalan saja. ada persoalan baru lagi. Akhir-akhir ini Songjin senang sekali menanyakan kepada semua orang tentang bobot tubuhnya.

Sebenarnya, bobot Songjin tak tampak sebegitu besar seperti yang sering dipermasalahkannya.

Tentu saja bobotnya naik. dia adalah wanita yang mengandung dan baru saja melalui persalinan. Bukankah, hal itu adalah hal yang sangat wajar terjadi kepada seluluh wanita saat mereka mengandung?

Kyuhyun benar-benar tidak habis pikir dengan ulah Songjin yang satu ini lagi. Karena ulah Songjin ini, pria itu mati-matian menahan amarahnya lagi, hingga hanya keluar berwujud dengusan.

Mendengus melihat Songjin menolak mati-matian porsi makan siangnya— “aku bosan makanan rumah sakit.” Alasan yang Songjin gunakan kali ini, dan tentu, bukan hanya Kyuhyun saja yang mendengus karena mendengar alasan klise itu. Siwon pun melakukan hal yang sama.

“dia itu—“ gumam Siwon. “sekali-kali aku akan membenturkan kepalanya kedinding agar dapat bekerja lebih benar daripada sekarang. Bodohnya keterlaluan.”

Sedangkan Kyuhyun tidak lagi marah karena penolakan Songjin melainkan puluhan alasan lain, yang diyakininya, cepat atau lambat akan terjadi. Entah sekarang, nanti, esok atau lusa. Entahlah tapi pasti terjadi. “Egois.” Kata Kyuhyun geram.

Matanya memandang lurus kedepan. Kearah Songjin bersama Park Aeri dengan sendok nasinya. Songjin seperti anak balita yang sedang disuapi makanan ditaman bermain. Wanita itu hanya sibuk dengan pspnya saja tak memerdulikan Ibunya yang mati-matian meminta agar setidaknya beberapa suapan saja masuk kedalam mulut Songjin.

“Hei, apa menurut kalian, Songjin terkena baby blues sindrom?”

Kyuhyun mengerjabkan matanya. Perlahan-lahan mengalihkannya pada Gyuwon, namun bukan hanya Kyuhyun saja. Siwon pun tak lama melakukan hal serupa. “huh?” mereka lantas meunjukan ekspresi terkejut bersamaan.

“yeah. Merasa kurang percaya diri, cemas, merasa takut dengan segala hal, susah tidur.. apa menurut kalian.. Songjin memiliki kemungkinan terkena sindrom itu?”

mata besar Kyuhyun mengerjab-kerjab begitu polosnya. Dia pernah mendengar istilah penyakit sederhana yang biasanya mendatangi para wanita-wanita yang baru saja melakukan persalinan— baru saja memiliki anak.

“dan Hei Kyuhyun-ah, apa dia juga masih mempertanyakan Seohyun?”

** **

Baby blues? Tidak.

Kyuhyun yakin Songjin baik-baik saja. dia hanya sedang merasa… perhatian yang dulu terpusat padanya, kini perlahan terpecah. Songjin harus berbaik hati, menerima, membagi seluruh perhatian orang-orang padanya, kepada anaknya Hyun Gi.

Itu terbukti dari sekian kali wanita itu terus menerus merecoki Kyuhyun ketika pria itu sedang menimang Hyun Gi. Kali ini Kyuhyun harus sedikit berterimakasih karena Ayah Ibunya sudah pulang, itu artinya ruangan ini akan sepi tak seramai pasar.

Gyuwon dan Siwon— seperti biasa, menculik Hyun Gi mengajak bayi itu berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit. Untuk persoalan pasangan itu, Kyuhyun mungkin harus sedikit memahami lagi bahwa mereka mungkin haus akan adanya keturunan, namun mengingat kondisi Gyuwon yang tidak memungkinkan untuk memiliki keturunan dari rahimnya sendiri, dan kekeraskepalaan wanita itu menolak saran semua orang untuk mengadopsi saja, rasanya memiliki anak adalah hal yang cukup sulit bagi mereka.

Kehadiran Hyun Gi pastilah memberikan harapan baru bagi mereka. Biarlah. Toh dalam kondisi apapun, Kyuhyun dan Songjin tetaplah orang tua sah bayi mungil itu. Fakta bahwa anak mereka mendapatkan banyak sekali perhatian dari sekitar, rasanya bukan hal yang pantas dipermasalahkan. Bukankah itu juga salah satu anugerah yang patut disyukuri?

Dan Seohyun? Oh ayolah— memangnya kapan Songjin pernah berhenti membahas tentang wanita cantik berambut panjang kepala manager lyx resort itu?

Jadi malam itu, ditengah heningnya kamar nomor 1010— Cho Kyuhyun datang setelah menghilang selama lebih dari 3 jam. Meringsek masuk kedalam selimut diatas ranjang berukuran single milik Songjin hingga pemiliknya menoleh dan mengeluarkan desisan bagai ular. “sempit Kyuhyun-ah! Kau mau apa?”

Sebenarnya, Songjin masih ingin mengomel. Namun omelannya terredam karena mendadak, Kyuhyun meletakkan satu karton pizza berukuran jumbo. Daging sapi, jamur dan taburan keju— yang Songjin rasa, juga mendapatkan tambahan keju lagi sebagai toppingnya, mengebul asapnya diudara. Terasa masih hangat.

Kyuhyun juga meletakkan sebotol air mineral, dan satu kaleng soda. Pria itu menyambar remote dinakas kiri, sisi milik Songjin lantas menyalakannya. Mencomot sepotong pizza tersebut, memakan sambil menonton dengan tenang. Tidak sadar sedang diperhatikan dengan tatapan aneh oleh istrinya.

Atau.. baiklah. Dia sadar, tapi lalu kenapa? Memang itu ‘kan tujuan Kyuhyun sekarang? agar perhatian wanita itu hanya tertuju padanya kali ini.

“makan pizzanya. Bukan menonton wajahku saja.” kata Kyuhyun disela kunyahannya. Dia mendengar Songjin mendengus karena tuduhannya yang ternyata tepat sasaran. Pastilah begitu.

Kasurnya bergerak. Selimut dikakinya, naik hingga menutupi separuh tubuhnya, tapi menutupi nyaris seluruh tubuh Songjin. “aku tidak lapar. Aku ingin tidur.” Beritahu Songjin begitu ketusnya.

Awalnya Kyuhyun tidak menghiraukan. Pria itu mendiamkan saja Songjin dengan apa yang wanita itu inginkan. Sampai potongan pizza ditangannya habis, menepuk-tepukkan tangan untuk membersihkan remahnya, mencomot satu potong pizza lagi lalu menyingkirkan boxnya diantara tubuhnya dan Songjin— untuk sementara keatas nakas disisinya. “Songjin,” panggil Kyuhyun bersuara rendah.

Songjin tidak tidur. Dia tahu. Wanita itu hanya.. entahlah. Sedang bergelut dengan kekesalannya sendiri saja entah itu apa. Efek shim changmin sudah menghilang rupanya, dan Songjin kembali menjadi Cho Songjin yang sebenarnya.

“kau belum memakan apapun sejak pagi tadi.”

Songjin menggerakkan tubuh bermaksud menyingkirkan tangan Kyuhyun dibahunya. “itu karena aku tidak lapar.”

“lapar atau tidak, bukankah kau tetap harus makan?”

“Tidak ada yang mengharuskanku. Jangan berisik, Kyuhyun-ah aku ingin tidur!”

Kyuhyun membuang nafasnya cukup panjang. Sabar.. sabar Cho Kyuhyun, sabarlah. Batin pria itu dalam hatinya.

Kyuhyun merapatkan dadanya pada punggung Songjin. Menyelipkan rambut panjang Songjin kebelakang telinga lalu mendekatkan bibirnya, “aku yang mengharuskanmu. Sekarang ayo makan!”

Sebagai tambahan, Kyuhyun menepuk bokong Songjin menyamarkan tawanya sendiri dalam tundukan. Dia lupa, kapan terakhir kali mereka saling menyentuh dalam kondisi lebih intim ketimbang hanya berciuman, atau berpelukan saja.

Ranjang berukuran tak seberapa itu bergerak-gerak heboh karena Songjin menggeliat diatasnya seperti ulat. Wanita itu langsung membalikkan tubuhnya menghadap Kyuhyun, menghujani pria tampan itu dengan sorotan terkejam yang dipunyainya selama ini. “itu pizza. Aku ini pasien. Memangnya pasien mana yang dibolehkan memakan makanan seperti itu?” Tanya Songjin nyaris memekik hingga diakhir kalimatnya.

Sedangkan Kyuhyun yang diomeli tidak melakukan apa-apa kecuali diam membiarkan wanitanya berbicara sampai habis. Sampai menghirup udara banyak-banyak lagi karena kehabisan oksigen. “kau tidak mau makanan rumah sakit.”

“lalu apa aku memintamu untuk membelikanku pizza?”

“iya.” Kyuhyun mengangguk. Menyengir lebar membuat dia terlihat lebih muda daripada usia sebenarnya. wajahnya tampak menggemaskan sebenarnya. jika saja Songjin tidak sedang merasa kesal setengah mati dengan pria itu. “ditelingaku, aku seperti mendengar kau bicara, ‘Kyuhyun sayang, aku bosan makanan rumah sakit. Belikan aku makanan yang lain, eo?’ begitu!” tutur pria berusia 27 itu lancar berbicara juga lancar menggoda.

Mendengarnya Songjin langsung mendesis geli. Mendadak mual melihat Kyuhyun bertingkah layaknya balita. Berlagak menggemaskan walau yah— siapa juga yang dapat berkata bahwa pria itu tidak tampak menggemaskan?

Songjin membuang wajah jengkel. Wanita itu segera menutupi dirinya dengan selimut lagi, kini tak tanggung tanggung. Hingga ujung kepalanya pun ditutupunya, sambil berujar “aku tidak mau!” katanya begitu mudahnya.

Pantaslah Kyuhyun yang sejak sangat lama menyimpan kekesalannya kini perlahan mulai muncul satu persatu. Matanya tertutup ketika dia mencoba mengontrol emosinya lagi. “Songjin—“

“aku tidak mau, Kyuhyun-ah! Berhenti memaksa! Kau ini kenapa sih?”

“aku tidak apa-apa. Hanya Hyun Gi nanti yang akan kenapa-kenapa.” Papar Kyuhyun melembut. Pria itu.. benar-benar mengatur emosinya dengan sangat baik.

Tak sampai setengah detik Songjin menyibakkan selimutnya, “Hyun Gi lagi!” pekiknya.

“Songjin, Hyun Gi tidak mendapatkan asi yang seharusnya didapatkannya selama 3 bulan awal masa kelahirannya. Aku tidak tahu, dan sebenarnya tidak cukup tega melihatnya harus menelan mentah-mentah kesialan, tidak mendapatkan haknya lagi hanya karena ibunya merasa cemburu?”

“cemburu?” alis Songjin terangkat. Kyuhyun mengangguk. Meletakkan potongan pizza kembali pada boxnya. Sepertinya percakapan ini akan memakan waktu lama dan sepertinya, Songjin masih sedikit keras kepala tidak mau mendengarkannya lagi saat ini.

biarlah. Masalah ini pasti bisa diatasinya secara perlahan-lahan.

Kyuhyun tersenyum. Mengusap kepala Songjin lembut perlahan-lahan, “Hyun Gi itu anakmu, kenapa harus merasa cemburu dengan anakmu sendiri?”

“kau kira aku begitu? Kau sudah gila rupanya.”

“sepertinya kau yang idiot.” Makian Kyuhyun pun terucap begitu halusnya. Siapapun yang mendengar langsung, pastilah akan menyemburkan tawa lantaran Kyuhyun menekan emosinya hingga nada suara terdengar bergetar.

“kau menolak menyentuh Hyun Gi—“

“hei! Aku bukan menolak! Aku hanya masih belum bisa menggendongnya dengan benar. Daripada terjadi sesuatu dengan tubuhnya? Bukankah bayi itu sangat ringkih?” Songjin menolak mentah-mentah tuduhan awal Kyuhyun padanya.

Kyuhyun menampilkan wajah masam seolah berkata ‘yasudahlah terserah kau saja’ yang sebenarnya membuatnya jengkel bukan main. Sejak awal kesadarannya, Songjin tak pernah memiliki inisiatif untuk menggendong Hyun Gi bahkan ketika bayi itu meraung dalam tangisan.

Alasannya satu. Yang selalu wanita itu elu-elukan. Dia tidak bisa menggendong bayi dengan benar. Bayi masih memiliki tulang yang rawan. Daripada terjadi sesuatu dengan anak mereka, lebih baik tidak sama sekali.

Jadi yang selama ini Songjin lakukan jika wanita itu akan menyusui Hyun Gi adalah membiarkan siapapun itu— meletakkan anaknya ditangan yang telah disiapkannya untuk menampung Hyun Gi.

Membiarkan bayi itu meminum asinya sampai puas, lalu menyuruh orang lain lagi untuk mengangkat anaknya.

Begitupun jika dia sedang sangat ingin menggendong Hyun Gi. Yang sebenarnya— terjadi sesekali saja. Songjin masih menggedongnya dengan kaku.

Ah— Cho Songjin bukanlah ibu yang baik.

“Baiklah,” Kyuhyun menyetujui dengan berbagai tambahan alasan buatannya sendiri. baiklah baiklah.. yang itu masih dapat ditolelir, “tapi bagaimana nanti kalau kita sudah pulang? Aku tidak mungkin bersamamu 24 jam penuh ‘kan? dan juga semua orang disini. bagaimana kalau nanti dia menangis karena lapar, tapi kau terlalu takut untuk mengambilnya dari box?”

“Songjin, tidak ada orang yang langsung berhasil mengerjakan suatu hal. Bahkan Ibumu dulu pasti juga kesulitan saat pertama kali dia memiliki anak. Tapi semua itu bisa dilakukan karena belajar kan? dan tidak masalah dengan adanya kesalahan. Disitulah letak point terpentingnya. Setelah melakukan kesalahan, kau akan tahu mana yang benar dan tidak. Bersikaplah sedikit dewasa Songjin. Kau seorang Ibu sekarang. Kau bukan lagi remaja ingusan yang senang keluar masuk pusat perbelanjaan hanya untuk menghabiskan uang dan waktu saja, iyakan?”

ada nada sarkas yang Kyuhyun tunjukan pada kalimat-kalimat akhirnya. Bahwa sebenarnya, itulah yang Songjin sering lakukan dulu. Dulu sebelum wanita itu memiliki anak. Tidak masalah ‘kan sebenarnya? tentu saja tidak!

“maksudmu aku bukan Ibu yang baik! Begitu?” bagai mendengar debuman kencang— pecahnya balon, atau ban ditengah jalan raya disiang bolong, Kyuhyun tersentak oleh pertanyaan polos Songjin. “kalau begitu ceraikan saja aku dan nikahi wanita lain yang kau rasa bisa mengurusmu dan Hyun Gi dengan baik. Kalau perlu, carilah yang memiliki lekuk tubuh bagai gitar spanyol.” Hantam Songjin terus mengoceh sesuka hatinya.

“Seohyun misalnya? Atau entahlah.. siapa wanita yang kau kira pantas. Aku sudah bosan dipandang sebelah mata. Diberi predikat Ibu gila, bodoh, sekarang kau sendiri yang berkata— aku kejam. Daripada Hyun Gi berakhir seperti Cinderella dengan Ibu tirinya lalu kau hanya akan merasa sedih dan kecewa saja”

“Songjin—“

“lakukanlah.. aku sudah membolehkanmu. Silahkan saja~”

“kalau aku berniat melakukannya, sudah sejak lama aku melakukannya. Tidak perlu menunggu selama ini!!”

“lalu kenapa tidak kau lakukan?”

“menurutmu kenapa?”

“kau cerdas, kau tampan dan uangmu banyak. Mana ada wanita yang akan menolak?”

Kyuhyun merunduk menyembunyikan senyumannya. Sungguh, omelan Songjin yang terakhir tidak didengarnya sebagai omelan melainkan pujian. “karena yang kubutuhkan adalah rumah. Kau mengerti?”

“ambil kalau begitu. Itu rumahmu bukan rumahku. Sejak awal juga seperti itu, ‘kan?”

Kyuhyun menghela nafasnya. Pria itu terkekeh— membuat Songjin berfikiran mungkin saja karena ulahnya, kini Kyuhyun menjadi gila. Pria itu jelas-jelas menyembunyikan tawanya dalam tundukan berulang kali sebelum mendekat dan mengusapi wajahnya dengan buku jari-jari panjang pria itu.

Sialan. Dari sekian banyak hal yang tak dapat ditolaknya, mengapa sentuhan pria menyebalkan ini pun masuk kedalamnya? Songjin hanya dapat mengutuk dirinya sendiri yang tampak bukan main tololnya dihadapan Kyuhyun.

“rumah, Songjin. Bukan bagunan berbentuk rumah. Tapi tempat yang membuatku merasa, bahwa aku berada dirumah saat bersama dengan mereka. Orang-orang yang memberikanku rasa nyaman hanya dengan duduk bersisian walaupun diam tidak saling berbicara. Mengerti maksudku? Kenyamanan. Dan yang seperti itu, aku tidak menemukannya pada Seohyun. Atau wanita manapun. Jadi berhentilah menjajakkanku kepada wanita lain. aku tahu kau bodoh, tapi yang benar saja! kau tega-teganya mendepakku begitu saja setelah kau bosan denganku?”

“kau ini bicara apa?”

“aku berbicara tentang hubungan yang sehat, Cho Songjin. Hubungan sehat tidak selalu dipenuhi tawa dan kesenangan saja. Bagaimanapun juga keluarga yang dewasa perlu belajar dari rasa sedih dan kecewa. Itu sudah sering kita lewati ‘kan?”

Kyuhyun diam menunggu Songjin menjawab tapi sepertinya, wanita itu sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. hanya menggulung-gulung selimutnya sambil mengerucutkan bibir— menolak untuk bersiborok mata dengan Kyuhyun yang tak pernah lepas menonton setiap detik pergantian ekspresi wanitanya.

Kyuhyun menarik nafasnya lalu membuang perlahan. Pria itu menyentuh wajah Songjin dengan buku-buku jarinya perlahan-lahan. Menelusuri tulang wajah Songjin, lalu dengan hati-hati memberikan kecupan singkat dibibir tipis Songjin.

“kemarin, kau memiliki teori tentang pilihan, ‘kan? aku memiliki teori lainnya. Tentang kenyamanan.” Beritahu Kyuhyun. “begini, hal yang paling sulit untuk dilakukan oleh pria dewasa adalah bertahan dengan pilihannya. Kau benar. Bertahan memang pilihan akhir. Diluar sana, akan ada sangat banyak wanita-wanita cantik, cerdas, baik, dan tentu sangat menarik. Tapi bagiku, belum tentu yang paling cantik, yang paling cerdas dan yang paling baik dapat menjadi teman hidup. Kau paham maksudku?”

ditengah jeda diamnya Kyuhyun Songjin menggeleng begitu polosnya. Wajahnya jelas Nampak seperti anak anjing yang kehujanan.

“aku lelaki dewasa dan karena lelaki dewasa paham bahwa satu-satunya wanita yang bisa menjadi teman hidupnya adalah dia yang mampu mengendalikan kenyamanan. Nyaman Songjin, apa kau memahaminya? rasa nyaman ketika berdekatan, nyaman ketika berjauhan, Nyaman saat berselisih pendapat—“ senyum Kyuhyun melolos manis, “juga nyaman saat membangun pendapat-pendapat, walau berselisih paham. Jadi bagiku terlalu muluk-muluk namanya kalau pasangan dalam suatu hubungan memiliki perjanjian untuk tidak saling menyakiti. Itu hal yang mustahil. Begini, aku tidak pernah menjanjikan untuk kita tidak saling menyakiti. Tapi aku berjanji akan bertahan meskipun kadang, salah satu dari kita merasa disakiti. jadi jangan tawarkan aku kewanita-wanita lain dulu. aku masih ingin bersamamu lebih lama.”

Ada gumpalan air yang membuat Songjin merasa matanya tak lagi focus untuk melihat. Dan dengan keparatnya Kyuhyun tertawa seakan baru saja memenangkan lotre. Air mata Songjin yang wanita itu sembunyikan dalam tundukan, seakan menjadi piala tersendiri bagi Kyuhyun.

Jadi beginilah, semudah ini untuk membuat wanita barbar nya menjadi jinak. Hanya dengan menggunakan nada bicara dan kata-kata yang sesuai. Sebenarnya, dan hal baik lainnya adalah— ide memunculkan Shim Changmin dapat dicoretnya dari daftar.

“maaf—“ sayup-sayup terdengar suara Songjin bergetar. Menahan tangisan bukanlah kemampuan wanita itu. Sama sekali bukan. Jadi mengertilah Kyuhyun mengapa suara itu terdengar menyedihkan saat ini. “aku bukan bermaksud jahat— atau ingin bertingkah diluar batasku kepada Hyun Gi. Hanya saja, kukira selama ini aku sudah siap. Ternyata tidak juga.” Beritahu Songjin mengiba. “aku lupa kalau memiliki anak, sama artinya aku harus berbagi dirimu dengan yang lain. Sebelumnya aku tidak pernah melakukannya. Rasanya cukup aneh. Dan kau menyebalkan. Aku membencimu tapi aku juga mencintaimu.”

Kyuhyun sontak tertawa mendengar pernyataan polos terus terang Songjin. Wanita itu— seperti baru tersambar petir dapat berbicara begini terbukanya tanpa disaring dulu.

Biasanya bukankah wanita itu memiliki gengsi yang tinggi, bahkan hanya untuk berkata aku mencintaimu saja? terang saja kini Kyuhyun merasa tersanjung bagai baru memenangkan piala Oscar.

Pria itu terkekeh, “Ah!” Kyuhyun bernafas lega. “ternyata kau yang lebih mencintaiku. Baguslah kalau begitu. Aku juga harus berbagi dirimu dengan laki-laki lain mau tidak mau, kau tahu? Itu juga menyebalkan sebenarnya. kau—“ Kyuhyun menyandarkan tubuhnya diheadboard ranjang, melipat tangannya sebagai bantal dadakan. “coba katakan lagi yang itu” perintah Kyuhyun mengangkat wajahnya angkuh.

“yang itu yang mana?”

“yang tadi. kau membenciku tapi apa?” goda Kyuhyun senang, “telingaku sedang sedikit bermasalah. Aku tidak mendengarnya jelas. Coba diulangi lagi!”

Cih! Percayalah, Songjin paham betul bahwa dirinya sedang dibodohi saja oleh pria mesum ini. kabut terharunya mendadak lenyap hanya karena nila setitik saja. nila tolol Cho Kyuhyun itu.

“tidak.”

“Hei! Ayolah!” Kyuhyun mengulurkan tangan menyentuh Songjin dari pinggul yang ditariknya kuat agar mendekat dengan cepat. “ulangi lagi. Aku kenapa?” paksanya menuntut.

“aku lupa” Songjin tidak mau kalah. Terus bertahan dengan pendapatnya sendiri saja. “kukira kau yang terlalu mencintaiku. Menyedihkan sekali. Seleramu dibanting habis-habisan? Bukankah dulu kau pernah berkata, kau menyukai wanita berkaki jenjang, memiliki dada besar, kening yang indah bla-bla-bla” cemooh Songjin tepat didepan wajah Kyuhyun.

Membuat pria itu tidak bisa untuk menyembunyikan rasa gelinya saat Songjin mengorek masa lalu menggelikan obsesi masa remajanya. “entahlah.” Bahu Kyuhyun bergidik. “dadamu cukup besar.” Tandas Kyuhyun tentu saja membuat wajah Songjin sontak memerah menahan malunya.

Kyuhyun menggerakkan tubuhnya membuat mau tak mau dada Songjin yang tumpah diatas dada Kyuhyun karena wanita itu sedang bertumpu pada tubuh Kyuhyun saja pun ikut begoyang. Kyuhyun terkekeh-kekeh senang— atau entahlah, terkadang pria itu bisa sama mesumnya dengan lelaki hidung belang didalam kelab malam. Iyakan?

“membanting harga, Cho Kyuhyun~ssi?”

tawa Kyuhyun menggema, “kau cukup cantik walaupun bukan yang paling cantik kenapa aku harus membanting harga?”

“harapanmu tidak terpenuhi kan?” Songjin melirik Kyuhyun dari sudut matanya. Kyuhyun menggeleng sambil tersenyum sesekali. Membelai wajah Songjin seolah menganggumi pahatan terbaik karya pemahat dunia, “entahlah. Aku juga tidak tahu.” Katanya terdengar menyerah. “mungkin setinggi apapun standar yang ditetapkan, akan selalu kalah saat kau jatuh cinta tanpa alasan, aku benar ‘kan?”

Cho Hyun Gi – 3 months yo.

🙂

120 thoughts on “[KyuJin Series] Sharing You

  1. Hoho, ini ketika bayinya baru lahir dan 3 bulan bagaimana kelanjutannya pasti akan makin seru. Ah, Kyujin memang sayang untuk dilewatkan.

  2. hyungi gemesin banget jd pengen nyubit wkwk….. untung songjin sm kyuhyun gak bertengkar walaupn sebenarnya sedikit sih….

  3. ya ampun imutnya gemes liatnya . . . . . .3 m0nth mksudnya paan? ya ampun songjin bikin kesel aja . eh btw kak sejauh ini belum ada m0ment antara songjin dan baby nya

  4. Ngomong manis ujung ujungnya tetep aja debat 😂😂 Dan demi apa itu Songjin cemboker sama anak sendiri 😂😂 Aduh nak semoga kamu nggak mewarisi sifat absurd emak bapak mu nak 😂😂

  5. Emang ada yah ibu yg bisa cemburu sama anaknya .. sepertinya jika ingin menjadi ibu harus mempersiapkan segalanya ..

    Makin penasaran sama kehidupan kyujin apalagi ada anggota baru .. yakin pasti makon seru

  6. hyun gi gemesinn😆😆,
    songjin wkwk sedikit cemburu sm anaknya sendiri, ibu baru emng banyak ketakutannya mungkin sih 😅😅 aku tak tau juga aku kan blm punya anak’-‘😂😂, nikah aja blm wkwk…. percakapan kyujin emng manis tp tak afdol kalau tanpa adanya perdebatan didalamnya

  7. Sangat di sayangkan kalo ngelewatin Kyujin …. momen2 yang selalu campur aduk .
    Di baca berapa kali pun gak akan bikin bosen 😊😊😊😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s