Que Sera [Passion and Anger]


GSD

Cho Kyuhyun | Choi Siwon | Park Songjin | Shim Changmin 

PG – 13

Chaptered

[Before Story of Missing] – Que Sera

“Whatever Will Be, Will Be”

ONE

*

Pukul 4 sore. gadis dengan ransel pink berbentuk boneka itu masih terlihat berdiri didepan gedung olahraga sekolahnya. Seragamnya masih lengkap. Bando pita dengan motif polkadot itu juga masih bertengger manis dikepalanya. Semuanya masih rapih, sama seperti kondisi 4 jam terakhir kedatangannya tadi.

Ini entah sudah keberapa kalinya dia mengecek jam ditangannya. Setiap detik rasanya tangan gadis itu naik hanya untuk memastikan bahwa waktu kedatangannya tepat. tidak terlalu cepat, tidak juga terlalu lambat. Itu pada awalnya.

Namun kemudian, dibeberapa jam belakangan Park Songjin— nama gadis itu, mulai jengah dan kesal karena waktu yang terus berjalan, tapi orang yang dinantinya tidak kunjung datang. Lagi-lagi dia merasa tertipu. Seharusnya, tadi dia mengiyakan saja ajakan Siwon untuk ikut pria itu berlatih taekwondo dikampusnya. Setidaknya, disana ada pria itu— dan baiklah, disana juga pasti terdapat banyak orang, ‘kan?

Um.. maksudnya, pria tampan dengan tubuh kencang khas para atlete. Memiliki perut kotak-kotak yang selalu mampu mempermainkan debaran jantungnya.
Sialan! Peruntungannya memang benar-benar menyedihkan belakangan ini.
~~ ~~

“Jadi, bagaimana latihan berenangnya?” pertanyaan Choi Siwon dikeesokan pagi setelah penantian panjang berbuntut nestapa itu berhasil membuat suasana hati Songjin mendadak buruk.

Gadis berusia 16 itu melirik tajam pelaku utama orang diseberangnya yang sedang menyumpal telinga dengan headset— tidak memperhatikan sekitarnya. Sibuk dengan dirinya sendiri. Sibuk mengikuti irama music hingga debumannya terdengar sampai keluar.

Mulut Songjn mendesis bagai ular “Tanya saja sendiri dengan setan itu!” gerutu Songjin. Mendadak, nasi goreng Thailand buatan asisten rumah tangga— istri supir pribadi keluarga Choi yang tidak pernah tidak disukainya itu terlihat membuat mual. Mendadak, Songjin merasa perutnya penuh seketika. Padahal sejak kemarin, memangnya apa yang sudah dia masukan kedalam lambung? Kalau air mineral dan sebotol jus jeruk itu termasuk makanan, baiklah— hitung saja itu kedalam menu makannya kemarin.

“sepertinya bukan kabar yang menyenangkan?” Siwon memasukan sendokan terakhir nasi gorengnya kemulut, “Padahal aku kira hari ini ruang makan ini akan diisi ocehan Kyuhyun tentang tenggelamnya kau dikolam. Ternyata tidak.. baiklah, baiklah.” Choi Siwon si pria berlesung pipi nan manis juga baik hati seperti pangeran berkuda putih itu hanya menanggapi santai.

Sudah bosan dengan kelanjutan cerita, jika dia bersikeras bertanya ada apa dengan teman baik dan adiknya ini kemarin. Tapi melihat raut wajah dan tingkah laku Songjin, sepertinya dia tidak perlu bertanya lagi mengenai apa yang terjadi kemarin.

Kyuhyun pasti lupa dengan janjinya sendiri untuk mengajari Songjin berenang dan Songjin terlalu bodoh untuk percaya— lupa kalau pria jelmaan setan itu memiliki ingatan serupa dengan para kakek-kakek, hingga menunggu berjam-jam ditempat mereka berjanji.

Yah.. biasanya masalahnya tidak jauh dari situ saja, berputar-putar. Kyuhyun yang pelupa, dan Songjin yang keras kepala.

Ditengah kunyahan khidmat menikmati sarapannya, Siwon merasakan ujung lengan kemejanya ditarik oleh seseorang. Pria itu menoleh cepat, tidak terkejut melihat ekspresi yang sama diperotntonkan gadis berambut panjang sebahu tersebut, “antar aku kesekolah?” kalimat yang samapun Siwon dengar lagi.

“kau tahu arah kampusku tidak sama dengan sekolahmu, Songjin.” Siwon menjawab sembari mengunyah perlahan-lahan sarapannya dimulut. Sambil mengunyah, tangan lain pria itu yang semula kosong dibuatnya menarik Koran diatas meja milik ayahnya yang belum terjamah. “Kyuhyun.” Ujarnya.

Persis setelah dia mengeja nama adik tirinya, pria bernama Kyuhyun itu menarik headsetnya. Menggulung bersama dengan ipodnya, lalu menjejalkan kedalam tas asal-asalan. “ayo berangkat!” dia berseru menyambar ransel— menggantungnya disalah satu bahu.

“sana!” Siwon mendorong tubuh Songjin untuk cepat-cepat pergi meninggalkan meja makan. Berhenti merajuk agar dia mengantarkan gadis itu kesekolah dan mengekor dengan seseorang yang pantas diekori saja. toh mereka bersekolah disekolah yang sama. Arah mereka jelas sama.

“Tck!”
“Jangan berdecak decak seperti itu. Ini sudah hampir jam 7 pagi. Kau mau terlambat? Kau nanti yang akan dihabisi Kyuhyun. Sudah sana pergi!”

Songjin sadar. Betapapun merajuknya dia kepada Siwon, pria itu tidak akan merubah keputusannya untuk mengantarkannya kesekolah walau sudah menangis darah, walau akan mengemis sampai pingsan. Maka dengan segala keterpaksaan dan rasa jengkel yang menumpuk, mau tidak mau, suka tidak suka, Songjin menyeret kakinya juga.

Dia berdecak sinis saat Kyuhyun menyodorkan helm kepadanya, dan menolak untuk berpegangan walau Kyuhyun melarikan motor sport itu seperti orang sakit jiwa yang baru mendapatkan SIM nya.

Butuh tiga puluh menit jarak tempuh, dari rumah keluarga Choi sampai ke Hanyang School. Dan dengan cara mengendarai Kyuhyun yang seperti itu, jelas saja tidak membutuhkan waktu 30 menit. Mereka sampai lebih cepat.

Kyuhyun menyadari air wajah Songjin yang buruk hanya memajukan bibirnya mencela, “ini masih pagi. Tapi wajahmu sudah seperti bokong sapi.” Katanya tanpa memerhatikan gadis yang dicelanya itu. Dia sibuk menggantungkan helmnya dan yang tadi Songin pakai dimotornya.
Menyadari terdapat sesuatu yang salah, Songjin mengerang meremas tali ranselnya, “kau masih belum sadar juga ya? Kau lupa dengan janjimu lagi!! Aku menunggumu didepan gedung olahraga kemarin! Jam 1! Didepan gedung olahraga!”

Kyuhuyun terperanjat. Diam mematung beberapa saat sampai dua detik kemudian menepuk keningnya kencang, “Astaga!” serunya heboh. “aku lupa Songjin! Iya aku ingat sekarang! Astaga!”

“Astaga!!” bibir tipis Songjin mencibir Kyuhyun. Mengikuti bagaimana aroma kepanikan sedang mengerubungi Kyuhyun untuk sesaat setelah menyadari kesalahan yang dilakukannya. “kau menyebalkan!” gadis bermata besar itu menghentak kaki melenggang pergi.

“hei hei! Baiklah baiklah. Aku salah aku lupa, maaf.”
“lupa?”
“mm.”
Songjin berjalan semakin cepat setelah Kyuhun mampu mengimbangi langkahnya. Gadis itu mendadak merasa semakin jengkel saja dengan pria yang sedang dipelototi oleh sebagian besar gadis-gadis disekolah mereka ketika mereka berjalan bersama menyusuri lorong.
Hal yang tidak disukainya dari berjalan beriringan bersama Kyuhyun, adalah pemandangan seperti ini. dia selalu merasa bagai seekor kijang lemah yang sedang diincar oleh puluhan singa kepalaran.

Dan sialnya, jelaskan bagaimana dia bisa untuk tidak merasakan hal tak nyaman ini kalau setiap hari paginya harus dilalui bersama dengan tokoh utama— yang sebenarnya adalah incaran para singa-singa kelaparan itu dengan berangkat bersama?

“asal kau tahu, aku tidak seperti mereka yang mengidolakanmu, Cho Kyuhyun—“ Songjin mengawali kalimat protesnya dengan geretakkan tidak berarti. Tentu tidak berarti, memangnya sepayah apa Kyuhyun sampai bisa merasa merinding dengan geretakkan murahan khas Park Songjin?

“jadi jangan coba-coba berbohong padaku! Kemarin kau bukan lupa, kau sengaja melupakannya. kemana kau kemarin?”

Kyuhyun tidak terkejut. Hanya merasakan kebodohan berulang saja. tentu tentu. Sepertinya aktifitas berbohong dengan gadis yang satu ini tidak bisa terus menerus dilanjutkan. Songjin terlalu memahaminya. Dan hanya kekehan tanpa dosa sajalah yang akhirnya Songjin dapatkan, “— itu.. kau tahu ya?” Kyuhyun menggaruk-garuk kepalanya, padahal tidak terasa gatal sedikitpun. Hanya.. canggung.

“aku ke Bisokop dengan Gyuwon” ada nada penuh bangga yang Kyuhyun keluarkan ketika itu. Wajahnya berseri bagai penjudi ulung— baru memenangkan lotre jutaan dollar. “dan waktunya hanya bisa kemarin, karena Gyuwon harus berlatih dengan clubnya untuk perlombaan musim semi nanti. Jadi yaah—baiklah, itu salahku.“

“keterlaluan sekali!” tangan mungil Songjin mengepal kuat sebagai alih-alih menunjukkan kemarahannya. Tapi wajahnya, memang memerah seolah terdapat rentetan makian yang ingin disemburnya, namun tertahan.

“aku kan sudah minta maaf—“
“tapi seharusnya kau bicara saja! kenapa harus berbohong? Aku menunggumu seperti orang bodoh berjam-jam didepan gedung olahraga. Aku bertemu Dong Sun bersama antek-antek sialannya itu, aku lapar, aku haus, dan kau asyik berkencan dengan pacarmu!!”
“itu diluar rencanaku!” suara Kyuhyun meninggi, namun Songjin cepat membalasnya lebih tinggi, “apapun itu!” pekik gadis itu menghentikan tatapan kagum gadis-gadis lain disekitar mereka.

Yang baru Songjin sadari, kini mereka mendapat perhatian lebih daripada sebelumnya. Keduanya melirik kanan kiri masing-masing. Benar-benar tidak mengerti dengan sekeliling yang memperlakukan mereka layaknya Thor dan loki yang sedang bertengkar. Berhenti melakukan kegiatan mereka hanya untuk memandangi sumber berisik saja.

“sudahlah—“ Songjin lebih dulu mengalah membuka suara, “lupakan saja. aku sedang malas melihatmu—“

~~ ~~

“pulang?” Kyuhyun menyambut Gyuwon dengan senyuman dan semakin melebar ketika gadis itu mendatanginya dari kejauhan. Seragamnya sudah berganti dengan pakaian serba hitam. Sabuk berwarna serupa melingkar dipinggangnya.

Gadis kelahiran Hokkaido itu menggeleng menjawab ajakan Kyuhyun. Senyumnya berbanding terbalik dengan manisnya senyuman Kyuhyun “aku ada latihan.” Tuturnya tampak sedikit kecewa. “kau pulang sendiri, tidak masalah?”
Tidak. Sama sekali tidak masalah. Memangnya masalah apa yang akan terjadi kalau hal ini terjadi sudah begitu sering hingga sebenarnya, Kyuhyun sudah hafal dengan jawaban kekasihnya itu, setiap dia menunggu dilahan parkir sekolah sampai Gyuwon menghampirinya.

“Okay.” Kyuhyun tidak menyadari nada lesunya terdengar jelas. Dia buru-buru memasang helm untuk menutupi raut kecewa yang begitu kentara selepas penolakan lagi yang didapatkannya. “benar tidak masalah?”

“masalah apa?” kesal Kyuhyun jelas-jelas tak dapat ditutupunya. Dia mulai merasa jengkel dan menjadi panas. “aku biasa pulang sendiri kenapa harus ada masalah?”
“eish~ jangan marah, Kyuhyun-ah!”
“aku tidak marah!”
“kau marah!”
“tidak.”
“iya!”
“Tck!”

Gyuwon diam. Gadis itu melipat tangan dan hanya memperhatikan Kyuhyun saja tanpa banyak bicara. Kyuhyum marah. Mungkin karena waktunya terlalu banyak tersita oleh club taekwondo-nya. Belakangan ini kapatisas pertemuan untuk latihan club bela dirinya semakin bertambah saja mengingat perlombaan hanya menunggu satu musim lagi. Dia bisa saja membolos— dia telah memahami diluar kepala gerakan gerakkan yang pelatih ajarkan padanya. Itu bisa saja dilakukannya, tapi tentu malu— jika mengingat dialah salah satu anggota yang dipilih untuk mewakilkan sekolahnya bersama 3 orang lain.

“sudah makan siang?” memecah keheningan diantara mereka, Gyuwon membuka suara bertanya dengan kesabaran tinggi kepada Kyuhyun. Hanya tersenyum tipis ketika pria itu menjawab pertanyaannya dengan gerakkan bahu saja. “kalau begitu makan siang dulu, kutemani.”

~~ ~~

“Songjin!”
Teriakan memanggil namanya itu membuat gadis bernama serupa tersebut menghentikan langkah untuk menyeberangi jalan raya. Dong Sun sialan. Pria itu bersama dengan dua pengikutnya— yang tampak bagai anjing peliharaan tidak bisa dipisah sedikitpun dari Jung Dong Sun.

Laki-laki bertubuh cukup tambun dan berkacamata itu menghampiri Songjin sambil tertawa-tawa entah karena apa. “sendiri saja?”

Cih! Songjin benar-benar menyesal setengah mati batal menyebrang. Firasatnya tidak pernah baik jika sudah berhubungan dengan laki-laki bernama Jung Dong Sun ini. Entah kesalahan macam apa yang telah dilakukannya, Dong Sun selalu mencoba mengerjainya tidak pernah tidak.

Itulah mengapa sebenarnya Songjin selalu malas berkeliaran seorang diri dikawasan sekolahnya. Tapi harus bagaimana lagi juga? Dia tidak memiliki teman disekolahnya sendiri.

Teman, oke ada. Kenal. Hanya saling mengenal, tahu nama-nama mereka, tanpa memiliki keinginan sedikitpun untuk berteman. Nasibnya tidak pernah beruntung dalam lingkaran social semacam ini. sama halnya dengan Kyuhyun sebenarnya.

Tapi baiklah— seprtinya memang tidak dapat dipungkiri jika Kyuhyun bekerja lebih baik dibandingkan Songjin. Pria itu memiliki beberapa teman yang dapat dikatogerikan sebagai teman. Bukan teman yang muncul ketika tugas-tugas kelompok muncul saja, atau kepentingan-kepentingan pribadi lainnya.

Teman berkeliaran diwilayah sekolah. teman makan, teman belajar, teman mengobrol. Shim Changmin lah salah satunya. Lalu Gyuwon. Cukuplah dua orang itu saja yang dimilikinya. Urusan Park Songjin, itu masalah bebeda.

“dimana Kyuhyun?” mata Dong Sun dengan dua orang pengawal— oh baiklah, temannya itu bergerak mengelilingi jalanan. Tidak sedikitpun ujung hidung Kyuhyun tampak. Membuat ketiganya sepertinya senang hingga tak dapat menutupi seringaian. “kau sendiri ya?”

~~ ~~

“tidak bisa tidak bertengkar ya dengan Songjin? Apa kau harus selalu seperti itu?”
“aku?” Kyuhyun bersingut ditempatnya memundurkan wajah lebih jauh lagi dari jarak yang telah dibuat oleh Gyuwon dihadapannya. “kau bicara, seolah-olah aku ini pria brengsek saja.”

Gyuwon diam sejenak memandangi wajah Kyuhyun yang tidak bisa lagi ditutupi kekesalannya. Kulit Kyuhyun putih, tapi menjadi kemerahan karena emosi meninggi sejak awal perbincangan mereka. Topic pembicaraan mereka kali ini adalah Songjin. Maksudnya, keributan yang terjadi dipagi hari tadi— sepertinya telah menyebar keseluruh penjuru sekolah hingga tidak ada satupun yang tak tahu jika dua sahabat itu bertengkar. Lagi.

“karena kau pria.” Kata Gyuwon setelah berdiam lama “seharusnya kau mengalah saja.”
Kyuhyun menaikan sedikit ujung bibirnya seusai Gyuwon menyarankan hal tersebut kepadanya. Memang, disamping Siwon, sepertinya tidak ada lagi yang paling mengenal dirinya selain dirinya sendiri.

Kyuhyun mengerutkan kening ketika merasa bahwa Gyuwon adalah salah satu dari sekian banyak deret orang yang tidak memahaminya. Entah apa yang salah dari wanita yang telah menjadi kekasihnya selama 3 tahun belakangan itu. Rasanya nyaman, tapi ada rasa tak tepat yang tidak bisa dijelaskannya, dan tak bisa untuk terus menerus didiamkan.

“memangnya apalagi kali ini?”
lagi-lagi kening Kyuhyun bergerak-gerak. Dia benar-benar merasa tersudut, kali ini seperti dialah yang paling bersalah. Dia penyebabnya. Dia yang memulai. Padahal Kyuhyun merasa Gyuwon juga berikut serta dalam persoalannya kali ini. tentu saja. dia sengaja mendepak jadwal menjadi guru renang dadakan sore itu untuk berkencan dengan kekasihnya ini ‘kan?

“bukan urusanmu.”
“bukan urusanku?” Gyuwon tampak terperanjat. “rahasia? Kau merahasiakannya? dariku?” gadis itu mengerjab-kerjab setengah terkejut dengan jawaban cepat Kyuhyun yang terdengar ketus bukan main.

Sedang pria itu sambil mendengus meletakkan sumpitnya diatas mangkuk yang isinya bahkan belum habis setengahnya, “tidak semua permasalahanku kau harus tahu ‘kan?” semburnya. “kau bukan ibuku. Aku juga butuh ruangku sendiri!”

~~ ~~

Suara deruman mesin motor yang terdengar sangat jelas baru saja memasuki garasi membuat Siwon dan Songjin menoleh bersamaan. Keduanya sedang mengobrol santai sambil bermain kartu, namun berhenti sesaat setelah menyadari, Kyuhyun baru saja masuk kedalam ruang santai mengacak- acak rambutnya dengan satu tangan. Ditangan lainnya terdapat satu helm berwarna merah milik pria itu.

Wajah Kyuhyun terlihat suntuk. Tertekuk begitu lusuh. Dua orang dengan masing-masing kartu ditangan mereka itu melirik jam dinding dan langsung saling memandang saat menyadari jarum pendek masih mengarah diangka 4.

Bukan apa-apa, hanya saja pagi tadi Kyuhyun berkata akan pulang terlambat karena akan pergi bersama Gyuwon. Mereka hanya belum tahu bahwa rencana Kyuhyun yang manis itu kembali gagal untuk berjuta-juta kalinya.

“bagaimana kencannya?” pertanyaan sambutan Siwon meluncur diwaktu yang tak tepat. Kyuhyun langsung tampak emosi setengah mati saat Siwon menanyakannya. Langkah yang tadi akan diteruskan menaiki undakan tangga menuju kamarnya sekonyong berbelok menuju tempat dimana Siwon dan Songjin bermain kartu. Sedangkan pria berlesung pipi itu begitu polosnya memandang Songjin terlihat bingung.

“kau sengaja ya bertanya agar aku menjadi lebih kesal??”
“Huh?”
“kau tahu kencanku gagal lagi, ‘kan?”
Siwon dan Songjin berpandangan. Keduanya.. sama tampak tololnya kini. Songjin yang lebih cepat menyadari karena dia penonton langsung betapa malangnya nasib Kyuhyun dengan kisah percintaannya yang sering diduakan oleh kegiatan rutin club taekwondo Gyuwon disekolah.

Menyadarinya, Songjin berhenti menunjukan wajah ‘tidak tahu apa-apanya’ itu dan merunduk saja sembari memikirkan langkah selanjutnya untuk mengalahkan Siwon.

“kenapa gagal?”
“kenapa bertanya?”
“aku ‘kan tidak tahu apa-apa, karena itu bertanya. Ada yang salah?”
“yang salah itu jelas pertanyaanmu. Kau tidak lihat bagaimana wajahku ini? ada bekas-bekas baru melakukan kencan atau tidak??”

Dua lelaki itu sibuk bersungut-sungutan dan Songjin satu-satunya manusia yang paling tidak tertarik dengan keributan baru disekitarnya itu. Mendadak perasaan menggebu ingin memenangkan Siwon menghilanglah sudah.

Hasrat untuk menang karena taruhan berupa pesuruh pribadi 24 jam selama satu pekan itu… tidak lagi menarik hatinya.

Songjin mendecak. Menghela nafas, memutar bola mata jengkel dan bangkt dari duduk, “aku pulang sajalah.” Beritahunya membungkam adu mulut dua pria disana. “terlalu sore.” Songjin menunjuk jam dinding.

“kau pulang?” lalu dua pria itu malah membelokkan topic pembicaraan mereka. Mendadak seakan lupa dengan inti pembicaraan sengit mereka. Mengerjabkan mata beberapa kali saja setelah keduanya sama-sama melirik jam dinding yang sama.

“Yaah, curang! Pertandingan kita belum selesai! Kau mau menyerah tanpa perlawanan lagi? Kalau begitu aku menang!”
Siwon menunjuk-tunjuk lima kartu diatas meja, yang sebelumnya selalu dippeganginya sedang Kyuhyun memilih percakapan jenis lain, “aku kira kau akan menginap lagi.”

“aku menginap karena memiliki tujuan. Kemarin itu karena aku kira seseorang akan berbaik hati mengajariku berenang. Sekarang untuk apa? Aku pulang saja~”

“dirumahmu juga tidak ada siapa-siapa!” Siwon dan Kyuhyun bebarengan bersuara. untuk yang satu mereka menjadi kompak karena tahu bahwa yang mereka katakan adalah benar.

Sebenarnya nasib mereka bertiga sama saja. orang tua mereka tidak terlalu sering berada dirumah. Hanya ditinggali rumah besar dan kosong bersama satu-dua orang asisten rumah tangga tetap saja akan membuat seseorang itu mati kebosanan ‘kan?

“tidak masalah. Aku pulang saja.”
Songjin mengibaskan tangan diudara tampak menyepelekan. Seakan kesendirian tidak pernah membuatnya suntuk hingga memaksa untuk pulang saja sore ini. Melenggang santai meninggalkan pusat keributan tadi bejalan menuju garasi, namun kemudian berbalik diambang pintu, “aku boleh pinjam Kim Dong Ah Ahjussi untuk mengantarkanku? Dimana dia?”

Kyuhyun dan Siwon diam. Pria itu sama-sama sedang meningat-ingat keras dimana supir pribadi keluarganya itu berada terakhir kali mereka melihat. Tiga detik, Siwon mengangkat telunjuknya mengarah pada halaman belakang rumahnya dan Kyuhyun menunjuk dapurnya.

Bagus. Keduanya memang terlalu kompak jika ditanya tempat dan arah.

Songjin membuang nafas melipat tangan didada memandangi dua pria tampan— namun sayang sedang terlihat terlalu tolol kali ini. “yang benar saja? ada berapa Kim Dong Ah Ahjussi sebenarnya? dua?” sindir Songjin.

Siwon menyadari bahwa dirinya dan Kyuhyun memiliki jawaban berbeda segera menurunkan tangannya lalu tersenyum kecut pada Songjin. “aku tidak tahu.” Katanya kemudian. “mau aku saja yang antar?” dia menawarkan— berdiri merogoh saku mengeluarkan kunci.

Tapi cepat— Kyuhyun bergerak lebih dulu daripada Siwon menuju Songjin sambil memasang helm ditangannya, “aku saja.”

~~ ~~

Siwon dan Kyuhyun benar. Tidak ada siapapun didalam rumah besar milik keluarga Park itu kecuali seorang asisten rumah tangga bernama Han Jo Sung, dan suaminya Han Goora.

Dua pekerja itu langsung tersenyum lebar melihat anak majikan mereka— Songjin, akhirnya kembali juga setelah dua hari berpamitan— katanya ingin menginap dirumah milik keluarga Choi.
Mereka sudah tidak asing dengan kehadiran Kyuhyun maupun Siwon. Mereka hafal betul siapa laki-laki itu dan selalu membolehkan keduanya masuk bahkan jika si pemilik rumah tidak sedang berada didalamnya.

Keduanya tersenyum kepada Kyuhyun sedang Songjin telah melesat masuk kedalam rumahnya sendiri secepat anak babi yang baru dilepas dari kandang. “aku tidak tahu kalau kalian akan datang Kyuhyun-ah. Aku belum memasak apa-apa, kalian sudah makan??”

Wajah Kyuhyun sekonyong memucat. Pria itu buru-buru menoleh kebelakang dimana pintu masuk utama rumah tersebut berada. Takut-takut Songjin mendengar. Dia tahu seberapa bahayanya jika gadis itu mendengar. Kyuhyun langsung meletakkan telunjuknya dibibir. “biar saja. aku bisa memesan. Terimakasih bibi, tapi tolong jangan beritahu Songjin. Aku bisa mati.”

Han Goora terbahak mendengar permohonan polos Kyuhyun. Pria itu sedang sibuk mengurus beberapa bunga-bunga yang sepertinya sedang diberikan pupuk baru. Mengacungkan ibu jarinya diudara patuh. Atau mungkin sebenarnya— dia juga tahu kalau dapur akan sangat menjadi menyeramkan jika nona mudanya itu sudah bermain-main disana. Jadi mengambil jalan aman saja. mereka patuh untuk bungkam.

Kyuhyun menemukan Songjin berjongkok didepan rak berisi deretan kepingan DVD. Sedang memilih— membuat Songjin terlihat lebih serius ketimbang sedang mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. “aku tidak mau romeo & julliet lagi!”

Gadis yang tingginya tidak seberapa itu melompat-lompat seperti anak kelinci saat Kyuhyun mencomot semaunya kepingan DVD kesukaannya. Sampai kiamat pun sepertinya tidak akan ada yang bisa membuat Kyuhyun menjadi bosan dengan salah satu cerita favoritnya karya Shakespeare itu.

Sulitnya memiliki kaki pendek, Kyuhyun lebih cepat memilih film, lebih cepat pula memasukannya kedalam alat pemutar ketika Songjin masih berikeras untuk memilih film lain.

Pria itu sudah duduk santai disofa empuk super besar berwarna hitam— kulit milik ruang santai keluarga Park sambil berselonjor bagai dipantai. Songjin hanya mendengus meratapi kekalahannya. Pada akhirnya— ikut membanting diri ditempat yang sama. Padahal dia telah memilih satu judul film yang ingin ditontonnya.

Coba saja tebak apa? Kyuhyun mendengus setelah melihat gambar sampul DVD tersebut. Pria berkacamata bersama robot kucing berwarna biru. Apa yang ada diotak gadis berusia 16 itu? Disaat orang-orang seusianya menyukai drama roman, gadis ini malah menggilai kartun sampai buta.

“kau tahu apa yang membuatmu tidak juga bisa mendekati Shim Changmin?” Kyuhyun membuka suara tanpa menoleh. Dia selalu serius memperhatikan layar televisi jika gambar Leonardo DiCaprio telah muncul sebagai pembuka dalam serial drama suntingan novel penulis terkenal itu. “kau terlalu kekanakan Songjin. Mana ada gadis berusia 16 tahun masih memakai piama bergambar kelinci sebesar pulau begitu?” Kyuhyun melirik pakaian Songjin.

Gadis itu sudah berganti dengan baju tidurnya— padahal jam 6 sore pun belum. “Mana ada gadis berusia 16 tahun yang memakai ransel badut kesekolah? Itu hanya kau saja didunia ini.”

Kyuhyun bergeser-geser mencari posisi lebih nyaman. Menarik bantal untuk dipeluknya sedang kepalanya berada diatas paha Songjin semaunya. “baiklah-baiklah, maaf. Kemarin itu memang salahku. Seharusnya aku datang untuk mengajarimu berenang.”

“aku tidak kesal denganmu karena itu!”
“iya, aku tahu. Seharusnya aku mengabarimu kalau aku tidak akan datang.”
Helaan nafas Songjin yang kuat menampar wajah Kyuhyun, membuat pria itu sadar bahwa itulah reaksi yang akan didapatnya setelah dia mengakatan semuanya.

Meminta maaf bukanlah persoalan mudah. Jika dilakukan dirumahnya, pastilah Siwon melihat dan tentu saja dia akan menjadi bahan olokan sepekan penuh. Biarlah ini menjadi rahasia mereka berdua saja. tidak semua orang harus tahu juga ‘kan?

“bukan itu.” Songjin tampak jengkel lagi. Kyuhyun yang cerdas belum kunjung dapat membaca mengapa Songjin marah dengannya. Padahal dia sudah membicarakannya pagi tadi.

Tapi… mungkin juga tidak. Mungkin sebenarnya, Kyuhyun paham mengapa. Hanya saja hal ini cukup sulit untuk dijabarkannya. Dia juga tidak mengerti mengapa dia sampai melakukan hal itu. “kenapa aku berbohong?”

Kyuhyun menggeser matanya dari layar televisi disamping, berpindah keatasnya pada Songjin. Gadis itu hanya diam memperhatikan Kyuhyun bicara sambil menyetel wajahnya geram. “aku tidak tahu.” Kyuhyun menjawab pertanyaannya sendiri mencoba tampak polos, yang sebenarnya diaturnya habis-habisan lantaran lagi-lagi ada hal yang membuatnya tidak mengerti, mengapa lagi-lagi dia ingin berbohong kepada gadis hiperaktif ini.

Jawaban sebenarnya ada. Kyuhyun hanya menyimpannya. Tidak paham juga dengan hasrat menggebunya, mengapa dia ingin menyimpannya tidak membagi. Dia tidak ingin Songjin kecewa karena tahu dia tidak dapat datang. Semudah dan sesederhana itu. Padahal hanya semudah itu saja. tapi entahlah. Lidahnya ini memang sedang sering sulit diatur belakangan ini. sama saja dengan hatinya.

“kau tidak pernah berbohong sebelumnya padaku. Kenapa? kau tidak percaya lagi denganku?” Songjin berfikir keras. Mengingat adakah satu diantara sekian banyak rahasia Kyuhyun yang diketahuinya lalu dibocorkannya kepada banyak orang.

Mulutnya kadang sering tidak bisa dikontrol jika sudah berbicara. Mungkin dia pernah kebablasan. Tapi sekuat apapun dia berusaha mengingat, tidak ada satupun kejadian yang membuatnya ingat bahwa dia pernah membeberkan rahasia pria tinggi ini.

Dia penyimpan rahasia yang baik dia dapat menjaminnya. Sungguh.

“aku tidak masalah kalau kau tidak bisa mengajariku saat itu, Kyuhyun-ah. Aku tidak memaksa. Aku masih bisa menunggu, atau mungkin, aku akan meminta orang lain untuk mengajariku. Sebenarnya— kau tidak perlu berlebihan begitu. Aku kira selama ini kita berteman, kenapa kau… merasa sungkan seperti itu denganku?”

Songjin menggantungkan pertanyaan akhirnya menjadi gumaman saja. lebih tepat dipertanyakan kepada dirinya sendiri dan mendadak membuatnya menjadi kelabu. Hanya Kyuhyun dan Siwon lah teman yang dimilikinya— terorinya. Jadi jika salah satu dari mereka hengkang, praktis semakin menipislah deretan jumlah temannya itu. Menyedihkan sekali bukan?

“Hei!” Kyuhyun melihat Songjin termenung beberapa saat. Pria itu memukulkan bantalan kursi diwajah gadis itu membuat Songjin kembali kedunianya. “aku sudah minta maaf. Dan berhenti menyimpulkan sendiri apa yang tidak seharusnya. Bukan seperti itu Songjin. Kau masih teman yang baik.” Beritahu Kyuhyun yakin. “sungguh. Walaupun kau memang super menyebalkan. selalu menyusahkanku. Merepotkanku, baiklah-baiklah… nyatanya.. kukira memang hanya denganmu saja semuanya terasa tepat.”

“tepat?” Songjin merunduk memiringkan kepalanya. Diwajahnya mendadak menggantung tanda Tanya besar. “tepat apanya?”

dan sekonyong Kyuhyun pun diam. Sial. Mulutnya lagi-lagi bekerja tanpa berkompromi dulu dengan otaknya. Dia sendiri tidak tahu apa maksud tepat dari yang dikatakannya tadi.

tepat apa? Tepat… mungkin tepat karena mereka telah bersama lama. Teorinya, bukankah itu artinya hanya gadis itu saja yang mengetahui dirinya luar dan dalam? Mereka seperti amplop dan perangko?

Sendok dan garpu? Kaki kanan dan kaki kiri. Bersisian.

Tapi tunggu sebentar…. Sendok tidak selalu harus berpasangan dengan garpu ‘kan? dinegara ini sendok lebih sering berpasangan dengan sumpit?
Hei, ini terlalu membingungkan. Ini tidak seharusnya menjadi sulit. iyakan?

“Kyuhyun-ah?” kepala Kyuhyun terdorong-dorong karena telunjuk Songjin menusuk-tusuk kepala pria itu. Kyuhyun baru sadar setelah teriakan kedua Songjin yang membuat gendang telinganya nyaris pecah. “kau ingin aku tuli ya?” Kyuhyun mengamuk.

Tangannya cepat sekali menangkap kepala Songjin karena gadis itu tadi sempat merunduk untuk mendekatkan bibir pada telinganya. Lantas menggenggam rambut hitam Songjin dan menariknya kencang, “Kyuhyun-ah.. aku bisa botak, hentikan!” pinta Songjin bersuara tidak jelas.

Gadis itu ditarik terus menerus kebawah hingga membuat mau tak mau setengah tubuhnya pun meringkuk merunduk hingga akhirnya jatuh terlentang.

Tak mau kalah, Songjin ikut melayangkan tangannya. Menempelkannya diwajah Kyuhyun membuat Kyuhyun kesulitan bernafas. “Songjin!!” tangan kanan Kyuhyun akhirnya melepaskan genggaman pada rambut Songjin. Memukul sofa lebar tempatnya berbaring. “aku.. thidak bhisa..” Songjin terus menekan tangannya sambil meringis. pasalnya, jambakkan Kyuhyun semakin menguat saja. “bhernafasss—“

“AAAAH APPO!!”
karena teriakan Songjin lah yang membuat Kyuhyun seketika melepaskan jambakannya. Tangan kanannya tadi sempat menggenggam kencang pergelangan tangan milik Songjin. Yang gadis itu kibas-kibaskan diudara selepas bebas dari ‘kurungannya’.

Kyuhyun mencelos terkejut melihat pergelangan Songjin yang membiru. Tadi dia memang mencengkramnya kencang, tapi rasanya tidak mungkin dalam waktu secepat itu sudah membiru. Hanya tidak masuk diakal. “ini kenapa?” penasaran dan ingin melihat lebih jauh, Kyuhyun menyambar tangan Songjin tersebut.

Gadis yang sedang mati kutu— mendadak merasa takut dan terkejut disaat yang sama namun entah karena apa itu cepat-cepat menarik tangannya lagi. Menyembunyikannya dibelakang tubuhnya, “bukan apa-apa.” Jawabnya gugup melemparkan cengiran tolol.

“Hei, aku belum selesai!” Kyuhyun bersingut menyelinapkan tangan-tangan panjangnya untuk menemukan milik Songjin tadi, menariknya lagi memperhatikan seksama. “ini tidak mungkin karena kau jatuh, jadi aku kira kau punya alasan yang lebih masuk akal. Ini kenapa?”

Songjin meringis alih-aih mencoba menyengir lagi. Dia ingin menarik tangannya namun Kyuhyun sepertinya masih penasaran saja, ada apa dengan bekas garis biru yang melingkar seperti gelang ditangannya itu.

“Songjin?”
“— ini bukan apa-apa.”
“Oh, ayolah~”

Kyuhyun yang mulai jengah, malas meladeni kerumitan Songjin kali ini. dia cerdas. Dia sudah menyimpulkan apa yang terjadi, sebenarnya. hanya ingin lebih memastikannya lagi saja.

Songjin mengigiti bibirnya. Duduknya tidak lagi tenang. Satu-satunya hal yang ada dipikirannya hanyalah ingin kabur dari cecaran Kyuhyun— karena semakin lama, wajah Kyuhyun terlihat menyeramkan saja untuknya. “Dong Sun tadi—“

“Jung Dong Sun?” Songjin belum menyelesaikan penjelasannya. Kyuhyun terpana akan ketepatan perkiraannya lagi kali ini. dia sudah terpikir sejak tadi bahwa Songjin lagi-lagi dikerjai oleh gerombolan Jung Dong Sun. seperti yang tadi dikatakan, hanya memastikan. “apalagi sekarang?”

yang dilakukannya. Yang dilakukan lelaki gempal itu. Laki-laki menyebalkan biang rusuh sekolahnya itu selalu mengerjai banyak orang. Dia selalu mengejar orang-orang yang tampak tidak memiliki pertahanan apapun. Kebanyakan korban ulah Jung Dong Sun adalah gadis-gadis. Songjin adalah salah satunya yang lebih sering dikerjai.

Sengaja melemparkan permen karet agar sepatu Songjin menginjaknya, meletakkan kodok diloker Songjin, hingga menyembunyikan pakaian olah raga Songjin yang semula, wanita itu letakkan diloker mejanya. Hingga pada akhirnya, Songjin mengalah tidak mengikuti kelas olah raga kemarin lalu.

Jung Dong Sun memang terkenal… menyebalkan. Tentu saja Songjin adalah sasaran empuk mengingat gadis itu selalu tampak tidak bisa memberikan perlawanan apa-apa.

“Hanya pergi kekedai Ice Cream saja.” jelas Songjin menggidikkan bahu, “dia membelikanku Ice Cream cokelat.”
Lagi-lagi Kyuhyun dapat membaca, kemana arah persoalan ini sebenarnya, “biar kutebak, kau tidak pergi dengan sukarela ‘kan?”

Awalnya, Songjin sama sekali tak menjawab. Tidak mengiyakan, atau berkata tidak. Tidak juga menggeleng, atau mengangguk. Tapi lantas menurutnya terlalu lama— dan Kyuhyun membuatnya harus bertahan lama disofa, padahal perutnya sudah keroncongan. “kalau kubilang tidak, kau akan mentraktirku ramyeon?” Songjin tampak bersemangat jika telah membicarakan makanan.

“aku lapar Kyuhyun-ah!”
“jelaskan saja dulu.”
“tidak dengan sukarela.” Songjin mencibir, “kapan pernah aku berada disekitarnya dengan sukarela?” keluh Songjin tampak menyedihkan. Mengusapi pergelangan tangannya yang terasa semakin nyeri karena Kyuhyun pegang-pegang.

“kenapa tidak menolak? Katakan saja tidak dan kau pergi. Kenapa kau ini bodoh sekali sih?”
dicemooh tiba-tiba seperti itu, membuat Songjin mendelikkan matanya tekejut. “kau kira aku tidak melakukannya?” tuduh gadis itu bersuara lebih kencang daripada Kyuhyun. “dia tidak takut denganku, memangnya apa yang membuatnya harus merasakan itu? Dia hanya takut denganmu.” Dengan mata besarnya, Songjin melirik Kyuhyun dari sudut mata besarnya galak.

“karena itu aku harus selalu menempel denganmu. Tapi akhir-akhir ini… kau sibuk dengan Gyuwon.” Bibir Songjin mengerucut ketika mengakatannya.

Mendadak dia merasa malas dengan topic menyedihkan yang membuatnya tampak tak berdaya. Tidak bisa melakukan apa-apa, tidak memilki kekuatan dan kemampuan apapun.

Mengingat Kyuhyun yang selalu memiliki waktu untuknya bermain bersama, entah sekedar mengobrol— bermain kartu atau berjalan-jalan mencicipi banyak makanan pinggiran jalan, kini Kyuhyun sedang terlalu sibuk dengan persoalannya sendiri. dan tentu saja, itu bukan salah Songjin jika mendadak, dia merasa Kyuhyun semakin menjauh darinya. Sebenarnya, itulah yang terjadi.

Pertama, menjauh. Kedua, berbohong. Lalu ketiga apa? Lenyap sekaligus?

Kyuhyun ikut mengendurkan bahunya merunduk. Dia memandangi kakinya ketika kini dia sedang duduk bersila. Menggerakkan jari-jari kakinya secara acak. “mau tahu yang sebenarnya terjadi?” tawarnya. Kepalanya sama sekali tidak diangkatnya seolah sebenarnya, hal yang ingin dikatakannya ini adalah aib memalukan baginya.

“kenapa?”
“Gyuwon memutuskanku sepekan lalu.”
“huh?”
“dia berselingkuh. Katanya.”
“selingkuh? Huh??”

perlahan Kyuhyun mengangkat wajahnya. Tersenyum namun terasa hambar. “kalian berpisah?” seperti ada petir yang baru saja menyambar Songjin hingga wanita itu semakin terlihat tolol dengan wajahnya yang penuh tanda Tanya. “kenapa.. berselingkuh lalu berkata jujur? Dengan siapa? Bagaimana bisa? Kenapa??”

“dia tidak mencintaiku.”
“hee.. itu tidak mungkin. Tentu saja dia—“
“dia tidak mencintaiku Songjin!”
“dia bicara begitu?”
“tidak.”
“lalu?”
“…aku tahu saja.”
“kau bukan cenayang. Kau tidak bisa bahasa kebathinan Cho pabo Kyuhyun.”
“tapi aku memiki insting. Yang selalu tepat.” putus Kyuhyun sangat cepat. “jadi menurutmu… bagaimana?”
“dia berselingkuh dengan siapa?”
“teman lamanya yang sekarang tinggal diIncheon. Takshi Takumi.”
“woah.. Jepang?”

Kyuhyun mengangguk. Tapi tak lama setelahnya pun menggeleng. Dia kemudian ingat, bagaimana sepekan lalu ketika pertama Gyuwon mengatakan kepadanya bahwa dia berselingkuh. Memutuskan hubungan mereka lalu Kyuhyun hengkang mencari pria bernama Takashi Takumi itu bermodal cerita sepotong-sepotong penjelasan Gyuwon.

Kyuhyun akhirnya menemukan Takasih Takumi di salah satu dormitory milik Incheon National University. Tanpa babibu menghajar habis pria yang sebenarnya tak tahu apa-apa itu hingga beram, lalu pergi begitu saja tanpa banyak bicara.

Mendadak Kyuhyun sadar bahwa mungkin, bukan Taksih Takumi lah orang yang membuat hubungannya dengan Gyuwon merenggang. Bukan. Mungkin.. ada yang lain. Yang Kyuhyun belum tahu siapa. Mungkin, tugasnya saat ini adalah menata hidupnya lagi sambil mencari tahu.

“dia pasti lebih tampan darimu, Kyuhyun-ah. Jepang! Kulitnya pasti lebih lembut daripada kulitmu. Dan wajahnya jelas saja pasti lebih tampan daripada kau.”

Songjin terkekeh-kekeh menutup mulutnya terlihat geli sendiri ketika berbicara. Sedang Kyuhyun melirik Songjin dengan frustasi, “lucu ya?” sindir pria itu jengkel. “aku serius Songjin. Kau tidak bisa— sedikit berempati karena masalahku ini?”

Songjin diam mengentikan kekehannya— berganti menjadi gumamnan ketika gadis itu memikirkan sesuatu. “jadi aku harus ikut sedih ya?”

“HARUS!”
“tapi bersedih itu tidak baik. Bagaimana kalau bertanding Diablo? Kalau aku menang— kau menjadi budakku satu minggu penuh ya!”

kelabu Kyuhyun sontak meredup— bergantikan kabut merah terang, lantaran Songjin mulai berulah lagi. Gadis itu.. tidak pernah lebih baik bermain games dibandingkan dirinya, tapi selalu sombong dengan mengajak bertanding— memberikan taruhan yang tidak main-main.. tololnya. “kau serius tidak ingin mengganti tawaranmu?” sepertinya, Kyuhyun langsung tertarik dengan tawaran Songjin tadi. mulai tersenyum dengan menarikkan sudut bibirnya perlahan-lahan.

“tidak.”
“yakin?”
“iya.”
“kau akan kalah Park Songjin.”
“nah, inilah yang buruk dari dirimu, Kyuhyun-ah. Kau terlalu sombong. Merendahlah sedikit. Aku tidak sepayah yang kau kira.”

Songjin bangkit— melesat berlari bagai ninja mengambil psp miliknya dikamarnya dilantai dua, dalam lima menit telah duduk dihadapan Kyuhyun lagi. Sedangkan Kyuhyun sendiri sudah memegang psp miliknya. Yang selalu dibawanya kemanapun dirinya pergi. Seakan lebih berharga ketimbang ponsel ataupun dompet.

~~ ~~

“kenapa kau sangat ingin belajar berenang? Sebelumnya kau anti air kan?”
“aku ingin ikut club renang disekolah—“

Jawaban polos Songjin sontak saja membuat Kyuhyun melonjak terkejut. Bangkit dari rebahannya hanya untuk memandang wajah gadis bermata besar itu ketika berbicara, “apa? Coba ulangi lagi?” Kyuhyun memerintah sambil menajamkan telinga setajam yang dapat dibuatnya.

Mungkin saja telinganya sedang bermasalah. Mungkin ini reaksi awal dari patah hati kecil yang dirasanya. Mungkin saja. tapi ditantang begitu, Songjin cepat-cepat mendengus. “aku serius, Kyuhyun-ah. Jangan berlebihan begitu.”

Songjin menarik kemeja seragam Kyuhyun semena-mena, agar Kyuhyun kembali meletakkan tubuhnya saja dikasur bersamanya. Daripada duduk tapi dia selalu mendapatkan tontonan wajah mencibir Kyuhyun yang menyebalkan?

“Kenapa?” Kyuhyun menahan tawanya susah payah. Songjin si anti air, mendadak ingin ikut club renang sekolahnya adalah hal yang nyaris mustahil. Dan selalu ada alasan mengapa suatu hal terjad ‘kan? untuk persoalan ini pasti juga ada alasannya.

Keheningan membuat Kyuhyun menoleh kekiri. Melihat apakah Songjin tertidur mendadak setelah dilempari pertanyaan seperti itu, atau gadis itu terkena serangan jantung mendadak?

Songjin yang diam ikut menoleh, “Changmin Oppa… ada di club renang sekolah, ‘kan?” Songjin bertanya tapi terlihat tidak cukup yakin. Entah tidak yakin dengan pertanyaannya atau tidak yakin dengan dirinya sendiri. kemampuanya maksudnya.

“mm.” angguk Kyuhyun. “dia berada hampir disemua club Songjin. Tidak perlu bertanya lagi.”
Yang Kyuhyun maksud adalah, bahwa Shim Changmin lelaki incaran Songjin itu ialah tipe pria aktif yang tidak bisa tinggal diam. Shim Changmin masuk kedalam banyak club sekolah seperti baseball, basket, English club, swimming club, bahkan juga terdaftar diclub music.

Songjin selalu berangan dan menyimpulkan, mungkin jika dia mencoba untuk aktif— ikut disalah satu club sekolah yang Shim Changmin ikuti, kapastitas bertemu dengan ketua Baseball itu sangatlah besar.

Tapi club Baseball tidak menerima gadis-gadis. Kemungkinan untuk tetap berada dekat dengan club itu adalah dengan menjadi cheerleaders. Tapi Songjin tidak bisa menari. Tubuhnya tidak cukup lentur.

Lagipula, club cheers terkenal dengan gadis plastic yang membuat para gadis-gadis disekolahnya jengah, walau tentu, bukan rahasia umum lagi kalau para pria sangat mengaggumi gadis-gadis cheers. Kebanyakan dari anggota cheers pastilah gadis-gadis yang dibenci oleh nyaris seluruh kaum hawa disekolahnya.

Dan lagi, Songjin tidak pandai bergaul. Mencari teman dikelasnya saja sudah seperti mencari kutu. Sulitnya bukan main, apalagi jika harus membaur bersama gadis-gadis berukuran tubuh 0 itu? Rasanya.. cukup berlebihan.

Basket. Songjin bisa saja mendaftar diclub itu, tapi dia mungkin tidak akan mampu menanggung rasa malu akibat ditertawakan setiap hari karena tinggi badannya tidak sampai setengah tiang ring basket. Itu juga.. membuatnya terlihat menyedihkan, jadi tidak. Itu bukan pilihan tepat.

English Club.. ah sudahlah. Lewati saja yang satu ini.
Club music sebenarnya memiliki peluang cukup besar untuknya bergabung. Songjin menguasai piano. Tapi didalam club music itu terdapat Jung Dong Sun jadi club ini pun sudah sepatutnya untuk dilewatkan saja.

Terakhir hanya club renang. Yang tampak masuk akal dan mengkhayal disaat yang sama. Masuk akal karena berenang mungkin dapat dipelajari dengan cepat. Namun mengkhayal, karena telah seumur hidup Songjin mencoba belajar berenang, namun tak pernah kunjung berhasil.

Jadi, mengerti dimana letak kesalahannya dari semua hal-hal ini? membingungkan ‘kan?

“Jadi, kalau aku ikut club renang, aku bisa bertemu Changmin Oppa ‘kan, Kyuhyun-ah?”
pertanyaan Songjin membuat Kyuhyun diam berfikir. Kyuhyun tidak pernah sadar, betapa Songjin menyukai Changmin seperti nobita menginginkan mesin-mesin dari kantung ajaib doraemon.

Sulit dijelaskan dimana letak hal bodoh yang Songjin terus utarakan, namun konyol juga. Masuk akal saja. hanya Songjin yang masih belum tahu jika sebenarnya berulang kali Shim Changmin melakukan hal yang sama sepertinya. Meminta Kyuhyun untuk mendekatkan dirinya dengan Songjin, yang selalu Kyuhyun tolak— karena merasa sungkan. Bukan Sungkan dengan Shim Changmin— hanya saja, Kyuhyun selalu merasa bahwa dia perlu menyaring siapa-siapa yang akan mendekati gadis cerewet ini.

Hanya karena merasa, dia perlu melakukan itu Karena Songjin adalah temannya?
Shim Changmin adalah pria yang selalu ditempeli banyak gadis dimana pria itu berada. Jika mereka benar bersama, bisa bayangkan betapa lelahnya tugas Kyuhyun hanya untuk meladeni tangisan atau tumpahan keluhan mengenai Shim Changmin yang selalu tertangkap basah bermesraan dengan gadis-gadis lain?

Itu hanya akan merepotkannya saja, ‘kan?

“tapi kau tidak bisa berenang, ‘kan?”
“tapi bisa dipelajari, ‘kan?”
“tapi tidak secepat kau belajar mengunyah.”
“tapi aku harus masuk ke club itu. Jadi aku harus bisa berenang!”
entah kali ini Songjin berbicara kepada siapa. Gadis itu seperti sedang menggumam sendirian. Memandangi lekat langit kamarnya.
“Songjin, kami sudah duduk ditahun terakhir. tidak sampai 6 bulan lagi kami keluar dari sekolah dan saling berpencar menuju universitas pilihan masing-masing. Percuma saja kau memaksakan diri untuk masuk club renang kalau tidak sampai 6 bulan lagi Changmin tidak ada disana.” Jelas Kyuhyun tegas.

Kau tidak akan memiliki satu teman pun, tambahan yang juga menjadi penjelasan Kyuhyun tapi tak dipaparkannya. Entah bagaimana, hal itu terasa penting saja. bahwa Songjin yang tidak terlalu mudah untuk berbaur mengingat kemampuan bersosialisasi gadis itu sangatlah buruk. Lebih buruk ketimbang dirinya, atau Siwon.

Tidak sampai 6 bulan lagi para siswa tahun akhir akan segera lulus dan konyol saja jika saat baru saja Songjin berhasil masuk kedalam club itu, tak lama Changmin pergi.

Tanpa dimengerti Kyuhyun, Songjin tersenyum sangat lebar, “itu artinya aku masih mempunyai waktu beberapa bulan lagi, ‘kan Kyuhyun-ah?”

Astaga.. gadis ini pasti sudah gila! “Oh, ayolah Songjin. Jatuh cinta juga bukan berarti kau menjadi tidak berotak.”
“memangnya…. Orang-orang lain memiliki otak kalau sedang jatuh cinta?” Tanya Songjin begitu polosnya. “kalau cintaku tidak berotak, apa itu artinya, aku menyukai Changmin Oppa tanpa bersyarat?”

~~ ~~

“Kyuhyun-ah!” pria yang sedang menghabiskan jus jeruk dari sebuah botolan itu nyaris tersedak dengan kehadiran Songjin mendadak. Gadis itu semaunya saja datang, mengindik menyuruh orang-orang disekitar Kyuhyun untuk menutup mulut dan mengejutkan pria itu dengan dorongan kencang.

Bersyukurlah, meja makan cafeteria sekolah mereka permanen. Jadi tidak ada kemungkinan terlepas— terguling karena kekuatan dorongan Songjin, mengingat gadis itu kelihatannya saja seperti gadis-gadis normal lemah lembut yang anggun, tapi jika sudah rusuh, kekuatannya dapat mencapai 1000 kali kekuatan kuda.

“aku pulang denganmu ya. Jok belakang motormu, sudah kosong ‘kan sekarang?” Songjin setengah mencibir. Sebenarnya tidak begitu juga, gadis itu juga bermaksud untuk membuat Lee Gyuwon gadis yang Kyuhyun katakan berpacaran dengannya namun memutuskan pria itu secara sepihak agar cemburu. Nyatanya, dimeja seberang gadis itu memang tampak buru-buru mengalihkan wajahnya. Senyuman Songjin mulai merekah karenanya.

“kau baru selesai latihan Baseball?” Songjin mengalungkan tangannya dileher Kyuhyun dari punggung pria itu. pertanyaan retoris Songjin hanya Kyuhyun tanggapi dengan putaran bola matanya saja. tentu saja, orang bodoh pun tahu bahwa Kyuhyun baru saja selesai berlatih Baseball-nya.

Pertama, pria itu mengucurkan banyak keringat. Pertanda sederhana bahwa dia baru melakukan kegiatan ekstra yang membuat cairan tubuh itu keluar.
Dan Kedua, pakaian seragam baseball yang sudah sangat jelas dipakai Kyuhyun. Hanya orang bodoh yang masih akan mempertanyakan kebenaran itu lagi?

Tapi sudahlah, jika itu keluar dari mulut Songjin, akan selalu terdengar masuk akal. Tidak akan ada yang sudi meragukan keidiotan gadis lincah itu ‘kan selama ini?

Kyuhyun menghela nafasnya. Menarik Songjin untuk duduk disampingnya saja agar tidak bergelayutan seperti monyet ditubuhnya yang panas dan lengket.

Pria itu tidak terburu untuk menjawab ataupun meladeni ulah Songjin, walau dia memahaminya, bahwa Songjin hanya ingin membuat Gyuwon cemburu saja. “sudah lebih baik?” Kyuhyun memelototi agar tampak jelas, lebam biru dipergelangan tangan Songjin, tanpa memiliki maksud yang sama seperti yang Songjin lakukan— mengeluarkan seluruh perhatiannya hanya untuk membuat seseorang merasa cemburu.

Songjin ikut mengamati tangannya sendiri diatas meja. Lingkar biru dipergelangan tangannya itu tidak langsung menghilang memang— setelah Han Jo Sung mengompresnya.

Hanya memudar. Tidak terlalu tampak lebamnya. Masih nyeri tetntu saja, kalau itu tidak perlu ditanyakan lagi.
Mendadak Songjin mengangkat wajahnya, mengeluarkan cengiran “tapi hari ini aku tidak melihat satupun dari mereka. Mungkin entahlah— mereka membolos bersama? Itu ‘kan yang biasa mereka lakukan? Itu lebih baik daripada mereka ada disini.” papar Songjin— tatapan kebencian benar-benar ditunjukannya.

Kyuhyun menghela nafasnya— mengatur pernafasan yang kacau lantaran latihannya kali ini menguras habis-habisan tenaganya. Atau mungkin, itu yang sengaja dilakukannya supaya tidak lagi terlalu ingat dengan keributan sebenarnya tidak tampak begitu kecil— tapi Kyuhyun selalu memberitahu dirinya sendiri bahwa statusnya bersama Gyuwon, masihlah sama seperti dulu. Mereka hanya sedang bertengkar saja. itu hal biasa ‘kan dalam satu hubungan?

“aku pulang denganmu ya? Ya?” Songjin membahas topic awal— alasannya datang menemui Kyuhyun. Alasan yang ini bukanlah hanya sekedar basa basi saja. dia memang ingin pulang bersama karena supirnya Han Goora tak bisa datang akan menjemput orangtuanya dibandara.

Kyuhyun diam— hanya perlahan beranjak pergi meninggalkan mejanya menuju keluar cafeteria. Ada suara derap langkah terseok dapat dipastikan adalah milik Songjin. Kaki gadis itu tidak sepanjang kakinya. “Tidak bisa~”

“kenapa?”
“aku harus berbicara dengan Gyuwon. Permasalahan ini harus diselesaikan secepatnya.” Sambil berbicara Kyuhyun membuka lokernya. Melepas pakaiannya yang basah keringat lantas menggantinya dengan pakaian kering.

Songjin ikut mengamati. Bukan, bukan mengamati Kyuhyun yang sedang bertelanjang dada memamerkan dada bidang putih mulus miliknya yang basah oleh keringat— sedang dibersihkan alakadarnya saja menggunakan pakaian kotornya tadi. Songjin lebih tertarik dengan isi loker pria itu.

Wajah Songjin mengernyit kecut. Gadis itu ingin tertawa saat menyadari tak satupun dari botol-botol didalam loker itu adalah botol parfume Kyuhyun. Beberapa botol itu ialah botol deodorant, sabun dan shampoo. Tak ada wewangian macam apapun. Tidak sekecil apapun. Membuat Songjin nyaris ingin mendengus bagi sahabatnya itu.

Kyuhyun yang tampan, andai saja para gadis-gadis pengaggumnya itu tahu kalau pria ini jorok tidak pernah memakai wewangian apapun dan hanya mengandalkan sabun saja untuk menghilangkan bau badannya setelah berjemur dibawah terik matahari.

Songjin mengambil salah satu botol dari tiga botol disana. Sabun cair milik Kyuhyun beraroma pinus. Memperhatikan botol berukuran sedang itu lekat.

Sedangkan Kyuhyun sendiri setelah mengeringkan tubuhnya dengan pakainnnya sendiri dan handuk kecil, dia mengambil kemeja putih seragam sekolahnya. Simpanan cadangan yang selalu berada didalam loker ruang clubnya. “apanya yang harus diselesaikan?” Songjin mulai berbicara lagi. “Bukannya memang sudah selesai? Kalian berpisah.” Kyuhyun melonjak— tersentak karena pertanyaan Songjin, yang ditelinganya terdengar bukan seperti pertanyaan melainkan pernyataan.

Berpisah? Hei, dia ini laki-laki. Dimana harga dirinya kalau rela ditendang begitu saja dari hubungannya sendiri?
Tidak. Masih ada yang belum diselesaikan dari permasalahannya kali ini. ada. Dan mungkin ini adalah waktu-waktu terakhirnya. Sekarang, atau tidak sama sekali.

Mulut Kyuhyun terbuka. Berbagai penjelasan panjang sudah akan dimuntahkannya bagi ucapan polos Songjin tadi, namun tak diucapkannya karena tak lama, pintu ruang ganti clubnya terbuka dan segerombolan lelaki masuk sambil berbincang, tertawa, melucuti pakaian mereka.

Biji mata Kyuhyun terbuka lebar. Dia baru sadar bahwa sedari tadi diruang ganti ini hanya ada dirinya dan Songjin saja. dia tidak tahu kalau seluruh team-nya akan datang secepat ini. demi Tuhan tadi mereka semua masih berada dibench didepan lapangan— sedang mencari perhatian para anggota cheers yang berlekuk tubuh aduhai.

“Songjin! Tunggu aku diluar!” Kyuhyun memerintah, berbisik dari belakang tubuh gadis itu namun Songjin tak bergeming sama sekali. Gadis itu diam mematung ditempatnya menelan ludah.

Sedang diwaktu yang sama, para pria juga baru menyadari anggota baru didalam ruangan mereka. Beberapa ikut mematung mengerjabkan mata. Merasa sedikit terkejut karena tak pernah ada perempuan manapun yang masuk ketempat ini, lalu mendadak sekarang, ada seorang gadis. Cantik, juga memiliki tubuh yang tak kalah dari para anggota cheers. Beberapa tersenyum sumringah, beberapa lagi bersiul. “Woah, anggota baru!”

Lee Jung Seok adalah pria pertama yang menyadarinya. Berjalan lebih cepat daripada sebelumnya untuk menghampiri Songjin. Wajah Songjin menjadi kecut— mendadak hidungnya seperti dihantam aroma lembab.

Terang saja semua pria-pria ini masih berkeringat setelah berlatih selama tiga jam penuh dibawah terik matahari. “Hai!” Kyuhyun memutar bola matanya ketika seluruh teamnya seperti baru saja mendapatkan piala baru sehabis bertanding.

Satu persatu mereka seperti mencari perhatian Songjin dengan menyapa gadis itu menggunakan suara yang diatur sekeren mungkin. Atau, satu persatu dari mereka mulai merapihkan pernampilan lusuh mereka. Atau juga, mulai menyapa— melambaikan tangan, tersenyum. Ah— entahlah. Mereka semua kini tampak seperti pria-pria hidung belang dipinggiran jalan.

Songjin mendadak menjadi pusat perhatian. Dikerumuni oleh banyak orang, dan semua orang-orang itu, adalah lelaki. Lee Jung Seok bersandar diloker, menghadap Songjin. Memerhatikan gadis itu sambil tersenyum yang dikiranya dapat membuat Songjin terpana. “apa yang kau lakukan ditempat ini? ini ruang ganti pria, Songjin.”

Songjin melongo. Bukan. Dia bukan terpana akibat wajah Lee Jung Seok yang sedang disetting setampan mungkin oleh pemilik wajah itu sendiri tapi terkejut karena pria itu tahu namanya, “kau mengenalku?”

Percayalah, Kyuhyun ingin sekali menjedukkan kepalanya ketembok sampai pening, jika hal itu bisa membuatnya lupa ingatan dan tidak ikut ditertawakan akibat ulah tolol Songjin. “tentu saja aku tahu! Siapa yang tidak tahu Park Songjin memangnya disini??”

Tadi itu bukan suara Lee Jung Seok melainkan Shim Changmin. Dan matilah Songjin! Gadis itu kini sedang mengalami masa shock tak terhingga— tak terputus oleh waktu. Iya, jika saja Kyuhyun tidak menyikutnya— memaksa gadis itu untuk segera sadar dan bergegas pergi dari tempat ini.

Ya Tuhan!! Didalam hati Songjin menjerit bukan main kencangnya. Shim Changmin berada didepannya! Berbicara dengannya, sedang tersenyum untuknya, mimpi apa dia semalam?

“Songjin!”
Kyuhyun masih berusaha untuk membuat Songjin bergerak. Mendorong punggung gadis itu menggunakan sikunya. Tubuhnya sendiri masih menghadap kelokernya. “Songjin ayolah!”

“biar kutebak, membantu Kyuhyun berganti pakaian??”
Shim Changmin tersenyum begitu menawan dibalik pertanyaan berbau sinismenya. Efek jatuh cinta, dimata Songjin pertanyaan tadi tak didengarnya. Titik pusatnya jatuh disatu tempat. Wajah yang biasanya, hanya dilihatnya secara diam-diam saja dan senyuman lima jari Changmin, telah menjadi yang paling menawan diantara senyuman dari pria-pria lain dilingkarannya saat ini. “iya. Ya…” jawab Songjin gugup. Dua detik barulah sadar bahwa jawabannya salah. “tidak… umm, bukan. Tidak aku tidak menemani—“ dia menoleh kebelakang. Kyuhyun sudah berpose, menaikan satu alisnya seolah juga ikut mencecar untuk menunggu jawaban Songjin.

“aku sedang memberikan ini.” Songjin mengangkat sabun ditangannya. “untuk Kyuhyun. Untuk mandi. Iya.”

“Oh—“ Changmin berdehem, “senangnya. perhatian sekali.”
“lebih tepatnya berlebihan.” Kini Kyuhyun yang sedari tadi diam akhirnya mulai ikut berbicara. Dia mengambil botol sabun miliknya ditangan Songjin lantas tersenyum seadanya.

Sebenarnya ingin mencakar wajah gadis bertubuh kecil didepannya ini— tapi yasudahlah. Energinya sedang tidak sebanyak itu kali ini. “terimakasih sabunnya. Kau bisa pergi”

Kyuhyun sibuk mendorong-dorong Songjin sampai didepan pintu. “pulanglah! Jangan tunggu aku!”
“tapi Han Goora Ahjussi—“
“naik bus!!”
“tapi ‘kan..”
“cepatlah!!”

pria tinggi itu mengusir Songjin seperti sedang mengusir anak anjing yang tanpa sengaja kehujanan, dan berteduh didepan etalase toko. Agar tidak merusak pemandangan, keberadaannya tidak boleh terlihat disana.

Kyuhyun bisa saja bernafas lega karena Songjin tak lagi merushinya disana. Walau sambil mengutuk, menghentak-hentak dalam jalannya dan melakukan banyak hal buruk lainnya untuk menyalurkan kemarahannya, Songjin tetap pergi.

Sedang disanalah sekarang. Kyuhyun sedang beridiri menyudut dipintu karena mendadak dihujani tatapan penuh Tanya dan curiga dari sekelompok teamnya. “apa yang kalian lakukan?”

“tidak ada.”
“benarkah?”
“Y—ya.” Kyuhyun mengerutkan kening, “Hei! Ini tidak seperti yang kalian pikirkan! Aku tidak tertarik dengan gadis seperti dia—“

tidak ada yang menyahut. Tidak ada yang berbicara. Hanya gerakan serupa dilakukan oleh hampir seluruh orang disana, mendadak tanpa terrencana. Satu alis yang perlahan naik, serta tangan melipat didada.

Sial! Habislah hidupnya sekarang!

~~ ~~

“Songjin,”
perhatian Songjin sedikit terbagi dengan kehadiran Han Jo Sung mengejutkannya. Wanita berusia 40-an itu tampak memegang se-ember pupuk.

Pekerjaan yang entah sampai kapan akan selesai. Menurut Songjin yang dilakukan asisten rumah tangga sewaan Ayahnya ini hanya tertarik untuk merecoki tanaman-tanaman saja.

Sedangkan Park Aeri, Ibunya beranggapan bahwa itu adalah hal yang sangat bagus mengingat wanita itu sangat senang menanam banyak bunga-bunga namun sadar bahwa dia nyaris tak pernah ‘tinggal’ dirumah besar itu.

Jika Han Jo Sung ada, setidaknya amanlah kehidupan pepohonan milik Park Aeri. Pasangan Han telah bekerja bersama keluarga Park sangat lama. Songjin ingat, pertama kali Han Jo Sung datang dan dirinya langsung mendapatkan teman bermain untuk sesaat. Sampai kemudian ayahnya lebih sering memberikan tugas-tugas, pekerjaan kepada wanita itu ketika pergi keluar kota atau luar Negeri.

Walau bagi Songjin, kadang menyebalkan. Mereka telah Songjin anggap seperti keluarga. Tanpa celah, Songjin sering mengajari Han Jo Sung dalam hal fashion.

Iya, Han Jo Sung memang hanya seorang pesuruh tapi Songjin rasa siapapun berhak untuk mengenakan pakaian pantas dan menarik.

Han Jo Sung, wanita paruh baya itu tersenyum menunjuk Songjin, “tanganmu sudah lebih baik?”

Tak lama Songjin teringat tentang tangannya yang membiru. Dia mengangkatnya dan memperhatikan. Masih sakit tentu saja. lebih tepatnya nyeri. Tapi lemabnya sudah memudar. “sedikit” jawab Songjin tersenyum tipis beranjak duduk dipinggiran kolam renangnya. Mencelupkan kaki berkecipak.

“Appa, Eomma sudah datang?”
“Sudah.” Seketika senyum Songjin merekah. Senang bukan main tentu saja namun sayang, tak lama senyuman itupun pudar kembali saat Han Jo Sung melannjutkan penjelasannya. “tapi sedang diantar ke Busan. Mungkin besok sore baru akan kembali.”

Hah. Senyuman Songjin yang memudar tadi nyaris muncul lagi ketika dia teringat akan kemampuan isi kepalanya mengenai orang tuanya. Entah mengapa, bukan hal mengejutkan saat tahu bahwa Park Seul Gi dan Park Aeri tidak langsung pulang kerumah sesaat setelah menginjakkan kaki ke Negara tempat kelahiran mereka.

Bisnis. Sampai mati bosan yang mereka kejar mungkin hanyalah itu. Sebanding memang dengan apa yang dihasilkan. Tapi rasanya, tak sebanding dengan apa yang dikorbankan.

Songjin telah terlanjur terbiasa hidup sendiri tanpa kehadiran orang tua secara fisik. Ayah ibunya ada, tapi Nampak seperti virtual saja. berhubungan melaui panggilan video, chatting online, email, pesan singkat. Semuanya yang terasa nyata namun juga tampak tak nyata disaat yang sama.

Songjin tidak mengeluh. Dia sudah tahu bahwa yang orangtuanya lakukan adalah untuknya. terima saja, dan berfikir logislah— dia tidak akan mendapatkan tas Gucci, sepatu Jimmy Choo, gaun-gaun cantik Prada semudah itu jika orang tuanya tidak berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya itu kan, walau beralasan hanya untuk periksa lapangan langsung, atau mengikuti rapat dibanyak tempat?

Sudahlah.. ada harga ada barang. Katakan saja begitu.

Maka disanalah Songjin. Merasa mati bosan karena Kyuhyun yang semula— dipikirnya dapat menemaninya bermain, ternyata lagi-lagi mendepaknya didepan wajah tanpa basa-basi.

Dan Siwon, setiap sore seperti ini dia selalu berlatih taekwondo ditaman kota bersama puluhan orang lain digrupnya. Jika memaksa datang kerumah mereka pun Songjin memiliki kendala.

Pertama, Han Goora tidak ada. Praktis Songjin harus menaiki transportasi umum, dan Songjin tidak menyukai transportasi umum.
Taxi? Sama saja.

Kedua, disanapun tidak ada siapa-siapa jadi kalaupun dia datang, apa yang akan dilakukannya? Berbicara dengan pohon pinus kah? Atau mengajak bertanding catur, palang-palang tinggi?

“Siwon tidak datang?” Songjin menggeleng sebagai jawaban. Han Jo Sung tersenyum kecut tanda keprihatinannya terhadap Songjin. Bagai hidup disangkar burung. Betapa membosankannya.

“kau ingin makan?”
“tidak.”
“diet?”
Songjin tersenyum lima jari. Kadang Songjin merasa bahwa wanita yang satu ini sepertinya terasa lebih mengerti dirinya ketimbang ibunya sendiri. “akan kusiapkan buah. Harus tetap makan, Oke?”

~~ ~~

Sore itu mendung. Awan kelabu menutupi langit kota Seoul seakan mengikuti suasana hati Kyuhyun yang tidak menentu. Hanya berawan gelap— mengeluarkan tanda-tanda nyata akan turunnya hujan.

Membuat banyak orang, sudah memegang payung mereka untuk berjaga-jaga jika saja hujan tiba-tiba turun tanpa peringatan.
Sama saja seperti Kyuhyun yang sedang merasa kosong, dan marah disaat yang sama. Kebas. Dan entah deretan rasa tak nyaman lain yang terang-terangan mengganggunya.

“aku hanya ingin tahu beberapa hal.” Pria tinggi itu mulai bersuara lagi setelah tak seorangpun diantara dirinya ataupun Gyuwon yang berkeinginan memecahkan keheningan buatan mereka sendiri.

“kemarin kau kerumahku?” Gyuwon mengangguk. Rahang Kyuhyun semakin mengeras saja menahan gejolak berapi— entah tersulut karena apa alasan pastinya. Dia hanya sedang… kesal. “dan kau tahu aku tidak ada, ‘kan?”

“iya. Kim Dong Ah Ahjussi memberitahukanku kau meningap dirumah Songjin.”
“siapa yang kau cari dirumahku? Tujuanmu kerumahku? Pasti kau ingin menemui seseorang, ‘kan?”

Gyuwon mengangguk lagi menjawabnya. Dia tak ingin banyak bersuara, paham bahwa Kyuhyun dapat bersuara lebih kecang jika dia mengencangkan suaranya. “kau.”

Kyuhyun tersenyum. Bukan senyuman ramah yang biasanya diberikan bagi gadis berdarah jepang-korea ini, namun senyuman sinis, yang kian lama berubah menjadi tawa tipis sarkasme, menanggapi jawaban pendek Gyuwon.

Lagi-lagi Kyuhyun merasa, ada yang salah dari hubungan mereka. Memang ada. Tapi dia tidak pernah bisa untuk menjelaskan jika dihadapkan dengan pertanyaan ‘apa?’.

Dia sendiri tidak tahu. Alasan yang dipahaminya dan terus menerus dia coba untuk menerima adalah bahwa Gyuwon tidak mencintainya. Bukan tidak mencintai lagi tapi memang tidak pernah mencintainya.

Itu mungkin alasan terkuat yang Kyuhyun punyai.
Sejujurnya dia mulai ragu dengan alasan berselingkuh Gyuwon— terkesan tak masuk diakal saja, bahwa setelah Kyuhyun pahami, Takashi Takumi dengan Gyuwon sudah tidak lagi saling berhubungan dalam waktu dekat ini.

Jelaslah sudah, Gyuwon hanya memakai nama pria itu saja sebagai tamengnya. Itu adalah tugas kedua Kyuhyun, untuk mencari tahu alasannya. Mengapa?

“dan aku tidak ada. Kenapa kau masih terus dirumahku malam itu?” Kyuhyun menyelidik curiga. Matanya memicing serius, membuat sesaat Gyuwon lupa akan pertanyaan pria itu dan hanya terpaku dengan wajah mengerikan Kyuhyun saja.

“itu—“ Gyuwon mengigiti bibirnya. Gugup itu sudah jelas terlihat sedari tadi. mata Kyuhyun terlalu jeli untuk melihat hal-hal sepele seperti itu. “Siwon Oppa juga salah satu mentorku dalam pertandingan di musim— Hei! Apa sekarang kau sedang membalikkan keadaan?”

Gyuwon sadar, pertanyaan Kyuhyun hanya pancingan kecil agar dia dapat mengatakan semuanya secara gamblang. Kyuhyun terlalu cerdas untuk dipermainkan. Katakan saja seperti itu. Jadi percuma, Kyuhyun tahu.

Kyuhyun tahu. Hanya belum merasa yakin bahwa selama ini— wanita yang telah menjadi kekasihnya sejak tahun awal mereka berada di High School ini menaruh perasaan terhadap kakaknya, dan jika tebakannya kembali tepat, Siwon memiliki perasaan yang sama. Itu masih.. kemungkinan saja.

Tapi kemungkinan besar. Sangat besar. Sepertinya. Entahlah. Yang satu ini sangatlah sulit untuk Kyuhyun jelaskan, apalagi jabarkan. Hal ini hanya dirinya yang merasa. Lama. Sudah sangat lama namun disimpannya seorang diri.

“aku tidak membalikkan keadaan, Lee Gyuwon. Aku memaparkan keadaan yang kutahu.”
“kau tahu apa memangnya?”
“banyak..”
“kau menuduhku berbohong kali ini?”
“dan yang kulihat, kau memang berbohong. Mungkin suatu saat aku akan mengerti mengapa. Tapi tidakkah menurutmu, aku pantas mendapatkan alasan yang lebih masuk akal Gyuwon? Satu saja! berikan aku alasan untuk tidak memikirkan apa yang selama ini aku bayangkan. Kau—“ Kyuhyun mengatupkan mulut.

Ada beberapa makian yang sebenarnya ingin dikeluarkannya, tapi entah bagaimana lidahnya masih bisa dikontrol tak seperti biasanya “aku hanya tidak menyangkanya saja, Gyuwon. Demi Tuhan, Choi Siwon? Dia kakakku! Apa tidak ada lelaki lain didunia ini? setidaknya, apa kau tidak ingin mencari yang sedikit lebih jauh? Ini terlalu dekat. Apa rencanamu setelah ini? mendekati kakakku?”

“setelah menuduhku berbohong, kau menuduhku tertarik dengan kakakmu, kau sama saja brengseknya denganku kalau begitu.”

Kini Gyuwon yang tersenyum. Gadis itu memandangi Kyuhyun lantas memberikannya senyuman tipis sarat akan rasa iba, “kau masih belum sadar juga? Kau dan Songjin itu—“

“HEI!” emosi tinggi membuat Kyuhyun akhirnya menumpahkan amarahnya dengan menggebrak meja miliknya. Beberapa orang dikiri kanan depan belakang mereka memperhatikan seksama keributan yang Kyuhyun buat.

Baguslah, karena ulah Kyuhyun, kini semua orang malah semakin menyadari betapa menyedihkannya seorang Cho Kyuhyun kali ini.

Pria tampan yang digandrungi banyak gadis, mendapatkan banyak surat pernyataan cinta didalam loker ini sedang menuntut sebuah kejelasan dari gadis yang mendepaknya. Iya didepak. Seperti membuang botol air mineral dipinggiran jalan. Menyedihkan bukan?

“jangan bawa-bawa Songjin. Dia tidak tahu apa-apa!”
Gyuwon semakin melebarkan senyumannya sambil menggeleng-geleng kepala, berdecak decak, “itulah. Aku sangat yakin bahwa Songjin memang tidak tahu apa-apa. Bahkan sebenarnya, kalian memang sama-sama tidak tahu apa-apa. Tapi ditengah ketidaktahuan itu, kalian memiliki banyak hal. Kau tidak sadar kau menyukainya, Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun membuang wajahnya jengkel. Menyukainya? Menyukai siapa Songjin? “tentu saja aku menyukai Songjin. Kalau aku tidak menyukainya, kami tidak akan berteman selama ini!”

“jangan naif. Kau tahu bukan itu yang kumaksud—“ Gyuwon semakin mantap dengan posisi bersedekapnya. Memperhatikan Kyuhyun dengan ekspresi terkejutnya. Terkejut, bingung, terkejut, bingung lagi, sambil dalam hati menggumam juga mempertanyakan kecerdasan milik pria bermarga Cho ini.

dalam keheningan sementara, ponsel milik Kyuhyun bergetar. Keduanya sama-sama menoleh. Senyuman Gyuwon terangkat sangatlah lebar ketika menemukan nama ‘Songjin’s home’ ditengah ponsel yang menyala dengan alunan music itu.

Seolah tuduhannya tepat, dan sedang didukung oleh dewi fortuna. Keberuntungannya memang tidak bisa dipertanyakan lagi kini.

“angkat!” perintah sinis Gyuwon. Kyuhyun tidak bergeming. Dia hanya melirik layar ponselnya saja, dan mengabaikannya. Matanya sudah menyipit tajam kearah Gyuwon lagi seperti semula. “kenapa?” gadis berambut pendek itu tampak santai— tidak menyisakan kegugupan lagi kali ini.

“kenapa tidak kau angkat? Ingin mengabaikkan kata-kataku ya?
“bukan urusanmu.”
“memang. Songjin lah urusanmu. Bukan aku.”
Mata Kyuhyun semakin menyipit saja. didalam lipatannya, satu tangannya mengepal. Rasanya ingin menghancurkan sesuatu kali ini. benar-benar membuat jengkel setengah mati!!

“katakan aku salah, bahwa sejak awal kau tidak mencintaiku. Kau bersamaku, hanya agar bisa lebih dekat dengan Siwon Hyung. Pembelaanmu??”

“Songjin.”
Kyuhyun mendesis jengkel lagi. Songjin lagi Songjin lagi. Selalu Songjin yang gadis ini angkat. “jangan bertingkah seolah kau cemburu dengan Songjin. Kau tidak pernah sekalipun cemburu padaku, kau tidak mencintaiku. Katakan saja iya! Aku mengenal Songjin lebih lama daripada aku mengenalmu, dan jika ada yang harus kupilih diantara kalian, aku rasa aku tidak perlu berfikir ulang.”

Gyuwon bukan sedang merasa ada seseorang yang menginjak dadanya hingga dia sulit bernafas, karena dinomor duakan lagi. tidak. Bukan itu permasalahannya. Bahwa sejujurnya— tidak satu persen pun dari kalimat Kyuhyun tadi menyatakan kesalahan, yang dapat disanggahnya dengan angkuh. Tidak.

Sebagian besar yang Kyuhyun katakan, nyaris benar. Hanya kalimat akhir Kyuhyun, rasanya membuat dirinya bagai ditendang jauh setelah merasa begitu diinginkan sangat menggebu oleh pria dihadapannya ini.

Tentu saja. jika diberi pertanyaan yang sama, pastilah Gyuwon akan menjawab tanpa ragu. Kyuhyun akan menyingkirkannya untuk Songjin pasti. Itu sudah sangat pasti.

“dia sahabatku. Aku tidak pernah memiliki teman selain Songjin. Saat kau tidak pernah ada, dia selalu ada. Saat aku mempertanyakan dimana kau saat aku membutuhkanmu? Yang kulihat sangat jelas berdiri didepan wajahku persis adalah Songjin bukan Gyuwon. Kau menuduhku berselingkuh juga, karena hal seperti ini? Lee Gyuwon, tidak semua orang memiliki kemampuan bersosialisasi dengan baik, kau tahu. Bersyukurlah kau memilikinya.”

Saat Gyuwon akan menjawab— menjabarkan seluruh tumpukan kalimat pernyataan tambahannya mengenai seberapa tak pahamnya seorang Cho Kyuhyun dengan perasaannya sendiri, kali ini percakapan terinterupsi dengan deringan kedua ponsel Kyuhyun.

Masih berasal dari nama yang sama. Menghadirkan senyuman Gyuwon tanda kemenangannya. Dengusan pun tak urung Kyuhyun lontarkan. Dia menyambar ponselnya dan memasukan kedalam ranselnya begitu saja tak perduli dan tidak memiliki hasrat sedikitpun untuk menjawabnya.

Baginya saat ini, urusannya ini lebih penting daripada apapun. “Kau—“ Gyuwon urung berbicara. Kali ini ponselnya yang berbunyi. Sama dengan Kyuhyun, gadis itupun mengacuhkannya. “apa yang kau rasakan saat sedang bersama dengan Songjin? Huh? Nyaman? Aman? senang?”

Kyuhyun bungkam. Gyuwon terus menggerakkan bibir berencana membuktikan tuduhannya yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai tuduhan juga. “kau sadar Kyuhyun-ah bagaimana bahayanya rasa nyaman itu?” alis Gyuwon naik kedua-duanya.

“karena nyaman bisa membuat orang lupa kalau mereka hanya sebatas teman.”
“Omong kosong!!”
Gyuwon menggeleng cepat. Kali ini tidak memberikan secuil pun senyuman sinis, mengejek apalagi mengintimidasinya. Kali ini, yang dikatakannya adalah benar. Bahwa selama ini, setidaknya begitulah yang dirasakannya.

Sayang, rasa itu tidak didapatkannya dari Kyuhyun.

“kau akan mendapatkannya suatu saat nanti, Kyuhyun-ah. Percaya padaku. Bukankah kadang, kita harus menghadapi beberapa kesalahan dulu sebelum bertemu dengan hal yang tepat? apa.. kau merasa denganku adalah hal tepat?”

bagai dilempar tongkat petir, Kyuhyun bersumpah bahwa Gyuwon tak pernah memiliki kemampuan membaca isi hati— pikiran orang-orang tapi nyatanya, gadis ini seakan sedang mendikte seluruh yang dirasakan serta yang dipikirkannya, tanpa Kyuhyun harus repot-repot menjelaskannya.

“Kyuhyun-ah, kita masih begitu muda. Jangan pusingkan masa muda kita dengan bayangan pasangan hidup, atau mencoba untuk jatuh cinta dengan seseorang hanya karena kau ingin tahu bagaimana rasanya jatuh cinta. Kukira selama ini kau melakukan hal yang tepat. berteman adalah hal yang lebih pantas. suatu saat nanti semua akan berjalan seperti semestinya, tanpa kau harus repot menyetirnya, bahwa nanti, tanpa kau sadari tiba-tiba kau bertemu dengan apa yang mereka katakan sebagai belahan jiwa. Atau kau menyadari, bahwa kau hanya ingin menghabiskan sepanjang hidupmu dengan teman baikmu—”

bunyian ponsel— bukan main sialan mengganggu mereka sedari tadi. tidak satupun diantara mereka yang enggan untuk mengakuo bahwa suara sialan itu memang bejad mengganggu.
“Oppa—“ sejurus, Kyuhyun seakan tak perlu bertanya, siapa orang diseberang diponsel Gyuwon. Gadis itu bisa berubah menjadi sedikit lebih hiperaktif— jika Choi Siwon berada didekatnya.

Kali ini… anggaplah pria berlesung pipi itu ada diantara mereka, melalui panggilan interupsi itu. Kyuhyun hanya menonton Gyuwon yang sejak tadi mengatakan ‘ha?’ dan berkata bahwa suara orang diseberang itu terdengar kurang jelas.

Satu detik.. dua detik.. tiga.. lima.. mendadak wajah Gyuwon menegang. Gadis itu meneguk liur langsung menjauhkan ponsel dari telinganya, “Kyuhyun-ah, sebaiknya kau pulang sekarang.”

“baguslah. Setelah menuduh, mendepak, kau juga mengusirku secara tidak terhormat.”
“Songjin tenggelam!”

~~ ~~

“PARK SONGJIN!! JANGAN MAKAN ITU DULU!!”
Kyuhyun disambut oleh suara teriakan dari lantai 2 ketika baru memasuki ruang tamu kediaman keluarga Park dilantai 1.
Pria itu seperti ninja, sangat cepat melesat dari ruangan satu keruangan lainnya. Dari lantai 1 kelantai 2. Mendelik terkejut melihat gadis bodoh itu sedang duduk lemas disofa.

Siwon didekatnya, memegang cup kecil berisi beberapa pil. “Hai!” Songjin melambai lemah kepada Kyuhyun. Membuat Kyuhyun langsung mendengus sekencang-kencangnya.

Sialan benar gadis ini. sudah membuatnya menyetir seperti orang gila, membuatnya berfikir yang macam-macam— bahwa sekarang dia sedang tidak sadarkan diri atau entahlah, hal dramatis lainnya.
Intinya tidak mampu melakukan apa-apa. Tapi sekarang, dia melambai dan menyengir begitu bodoh dan polosnya? Oh ayolah—.

“KAU—“ telunjuk Kyuhyun mengacung diwajah Songjin.
Kyuhyun melemparkan helm miliknya keatas sofa yang empuk. Pria itu buru-buru mengambil banyak bantalan sofa dan dilemparkannya kewajah Songjin tanpa memikirkan banyak hal lagi. “KAU MASIH SAJA HIDUP? MATI SAJA SEKARANG!!!”

~~ ~~

“kenapa kau bodoh sekali?” suara Siwon terdengar sayup ditengah terputarnya animasi doraemon pada televisi 80’’ dihadapan mereka. Songjin, Kyuhyun dan Siwon. Ketiganya berlindung dibawah selimut bulu tebal, lebar dan panjang. Seakan korban keganasan ‘kolam renang keluarga Park’ itu ialah mereka bertiga, bukan hanya Park Songjin saja.

“kau tahu kau tidak bisa berenang, kenapa masih menceburkan diri seperti kau seorang perenang handal? Tidak ada siapapun.. bagaimana kalau tadi tidak ada yang melihatmu? Bagaimana kalau tadi, kau ditemukan tapi tidak dalam kondisi seperti itu? Kondisimu bisa lebih parah daripada tadi kau sadar?”

Songjin menghela nafasnya. Dia memutar ulang ide gilanya sore tadi ketika kolam renang dan pertanyaan sederhana ‘mengapa dirinya tak kunjung dapat berenang’ menjadi satu-satunya yang ada didalam pikirannya.

Kenapa?
Itu pertanyaan yang tepat. kenapa? Kemungkinan tenggelam seperti ini sudah dibayangkannya setiap kali dia memandang kolam renang. Tenggelam itu pasti. Dia dan air.. tampaknya tidak akan pernah memiliki hubungan harmonis.

“kau membuat jantungku hampir copot.” Beritahu Siwon berkeluh kesah. Sore tadi dia mendapatkan panggilan dari istri Han Goora— yang memberitahukannya bahwa Songjin tenggelam. Beruntunglah Songjin langsung ditemukan tak lama setelah gadis itu tercebur.

Sesaat setelah asisten rumah tangga paruh baya itu mendengar suara air yang pecah. Keributan dan teriakan meminta tolong.

Ada perasaan hampa ketika panggilan itu berlangsung. Membuat untuk sesaat saja, Siwon merasa dunianya berhenti. Akui sajalah, Songjin memang hanya satu-satunya teman miliknya.

Yang dikenalnya, yang dipahami dan memahaminya, partner in crimenya. Tak ada yang lebih baik atau lebih buruk daripada gadis ini. pantaslah Siwon merasa kelu ketika awal kedatangannya, melihat Songjin berwajah pucat pasi dengan seluruh tubuh masih basah kuyup. “jangan diulangi.”

Perintah akhir Siwon ditengah jeda film yang hening. Songjin tak bersuara. Pun tak membuat Siwon penasaran— lantas mencari tahu mengapa gadis itu tidak menanggapinya.

Choi Siwon hanya mengulum lidahnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari televisi. Tidak menyadari bahwa walau tak mendapat perhatian dari orang yang diajaknya berbicara, pria itu tetap mendapatkan perhatian dari kepala lainnya.

Dia mengalungkan satu lengannya pada bahu Songjin. Mencari kehangatannya dengan memeluk gadis itu dari samping dalam diam yang khidmat. Masih menonton betapa cengengnya nobita, dan betapa baiknya doraemon.

Menyadari betapa dirinya dan doraemon memiliki peran yang sama saja mengenaskannya— sering merasa kesal saat Songjin melakukan hal bodoh, tapi toh, terus membantu.

Sedangkan Kyuhyun, pria itu hanya diam menelan bulat-bulat segala pertanyaannya didalam kepalanya saja. menoleh kepada Siwon, memperhatikan wajah kakak tirinya itu melalui celah cahaya yang kadang menyinari wajah mereka.

Merasa ragu, dan jengkel disaat yang sama— tanpa alasan yang pasti. Namun memiliki hasrat menjadi pemain gulat malam ini walau tahu, pria yang sedang diperhatikannya lekat ini begitu sanggup menjatuhkannya dalam satu kali sentuhan saja.

~~ ~~

Pukul tiga tiga puluh sore Kyuhyun menyelesaikan kelas terakhirnya. Dia menemukan Songjin diantara ramainya lorong karena jam sekolah baru 10 menit lalu berakhir.

Kyuhyun sempat termenung walau tidak terkejt mendapati Songjin duduk diantara kursi penonton menghadap lapangan. Kepalanya ikut bergerak seperti arah pandang gadis itu, lantas menemukan Shim Changmin dalam duduk bersama beberapa orang yang dikenalnya, dimeja bundar dirumput hijau— daerah terpinggir dilapangan sekolahnya.

Seribu persen Kyuhyun yakin. Kondisi Songjin belum cukup pulih untuk kembali masuk hari ini. tapi walau pemalas, Park Songjin tak akan pernah rela untuk membolos, karena satu alasan ini saja.

Aktivitas rutin gadis itu yang selalu Kyuhyun pertanyakan. Tentang gadis itu yang selalu menyukai memandangi pria bernama Shim Changmin dari kejauhan saja tanpa pernah mencoba untuk berbicara langsung.

Dia bisa mewujudkannya kalau gadis ini meminta sebenarnya. tapi tanpa permintaan langsung, dia tidak mau bertindak apa-apa. Lagipula Cho Kyuhyun bukan tipe orang yang senang merecoki hidup orang lain. Cukuplah hidunya sudah terrecoki oleh banyak hal. Dia tahu bagaimana rasa tak nyamannya. Dia tidak ingin orang lain merasakan hal yang sama.

“aku penasaran, akan sampai kapan Hwaeji Seonsaengnim tidak kunjung sadar kalau kau selalu tidak pernah berada dikelasnya.” Sapaan Kyuhyun sambil ikut duduk berisisan dengan Songjin. Mengomentari kebiasaan konyol gadis bermata besar itu dijam pelajaran akhirnya.

Gadis itu tidak sungkan untuk membolos jam pelajaran terakhirnya, hanya untuk memandangi seseorang dari kejauhan saja setiap minggunya. Ditempat yang sama. Dengan cara yang sama.

Dia menyandarkan punggungnya pada kursi dibelakangnya, juga menyampirkan tangan kiri kanannya dan berselonjor ria. Ikut mengamati Changmin sambil bertanya, apa yang membuat pria dikejauhan sana, selalu menarik perhatian gadis-gadis, tak terkecuali gadis disampingnya ini.

Wajah Shim Changmin, baginya tak setampan miliknya. Pria itu hanya lebih tinggi darinya. Tapi itupun hanya beberapa centi saja. tidak akan ada orang yang menyadarinya kalau mereka tidak benar-benar mencoba menghitungnya.

Satu-satunya orang bodoh yang melakukan itu hanyalah Park Songjin. Dan menurut Kyuhyun, satu-satunya kelebihan milik pria itu yang Kyuhyun akui. Sisanya, bahkan pria itu tak secuilpun lebih hebat dibanding dirinya. Entahlah… sepertinya ada yang salah dari mata gadis-gadis penggila Shim Changmin.

“Sepertinya tidak masalah, toh aku tidak pernah menyukai matematika..”
Kyuhyun menarik sudut bibirnya menjadi ulasan senyuman miring. Empat orang gadis yang melintas dihadapannya dari jarak 10 meter, pasti akan mengira kalau Kyuhyun sedang menggoda mereka. “tetap saja. bukankah, sebaik-baiknya tupai melompat, akan jatuh juga?”

“aku sudah jatuh berkali-kali. Tidak ada salahnya jatuh lagi.”
“kalau kau tidak naik kelas karena kebiasaan bodoh ini, apa juga tidak masalah?”
Kyuhyun akhirnya mendapatkan perhatian penuh Songjin atas pertanyaan sarkasmenya hingga gadis itu menoleh enggan. “kau agak berlebihan.” Komentar Songjin singkat. “ini tidak seburuk itu.”

“tidak seburuk itu, tapi separah itu. Kenapa tidak kau katakan saja kau menyukainya? Selesai permasalahaan.” Saran Kyuhyun. Dan kau tidak akan menyesal karena toh cintamu tidak bertepuk sebelah tangan. Lanjutan komentar pria tinggi itu yang tidak dikatakannya.

Mengingat kemarin Shim Changmin memburunya karena bertanya mengenai Songjin dan membuat waktu bermain gamesnya melayang lantaran meladeni sesi bercerita lelaki bermarga Shim itu mengenai.. Songjin.

Iya. Songjin. Park Songjin. Gadis ini. yang hanya selalu berani menganggumi pria bertubuh atletis kedua setelah Choi Siwon dari kejauhan saja. menggelikan.

“ini tidak semudah yang kau bayangkan Kyuhyun-ah.”
“juga tidak serumit yang kau bayangkan.”
“Oh ayolah,”
“aku saja yang melihatmu seperti ini sudah sangat bosan. Apa kau tidak pernah bosan dengan rutinitas ini?”
“kalau aku bilang ‘ya’ apa kau akan diam dan tidak menggangguku sekarang?”

Kyuhyun mendecak jengkel sebagai jawabannya. Dia bukan sedang kehabisan kata-kata untuk meladeni Songjin. Dia hanya telah kehabisan cara untuk membuat gadis ini berhenti menyukai seseorang dengan cara tak semestinya seperti ini.

“memilih untuk diam. Memperhatikan dari jauh. Bagian mana yang terlihat menyenangkan?” pertanyaan Kyuhyun tak terdengar seperti pertanyaan. Itu terdengar seperti pernyataan yang dilontarkan menggunakan nada sinisme tingkat tertinggi.
“mendoakannya diam-diam, apa tidak termasuk?” tambah Songjin sambil menyapukan senyumannya tipis dan langsung merunduk ketika melihat Shim Changmin nyaris bersiborok mata dengannya. Sedang Kyuhyun langsung memutar bola matanya malas. Melambai santai kepada Shim Changmin dari tempatnya. “ya ya.. apa katamu saja.” tanggapnya enggan.

Songjin menarik nafasnya dalam. Menyimpannya sesaat dengan dada membusung lalu menghembuskannya perlahan-lahan melalui mulut kecilnya.

Baginya Kyuhyun tak pernah tahu rasanya melakukan hal ini. mencintai dalam diam bukanlah suatu keinginan melainkan salah satu cara teraman baginya dalam mencintai. Sebenarnya juga bagi setiap orang yang melakukannya. Bagi setiap orang yang terlalu malu untuk menyatakan suka secara langsung, tapi terlalu enggan untuk menarik diri.

Jadi, nikmati sajalah sendiri rasa sakitnya.

Kyuhyun tak pernah tahu, karena pria itu selalu berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Begitu ‘kan?
“ini tidak menyenangkan, Kyuhyun-ah. Tidak ada yang menyenangkan dari mencintai diam-diam. Tapi ada sensasi aneh yang akan kau rasakan saat kau mencintai orang yang tidak mencintaimu. Kukira inilah yang membuat aku tidak pernah merasa bosan.” Terang Songjin diplomatis.

Sebenarnya, dia tidak tahu lagi cara teraman untuk menjelaskan kepada Kyuhyun jika pria itu masih juga mencecarnya dengan pertanyaan yang sama agar memberikannya penjelasan lebih masuk akal.

“kukira setiap orang mempunyai cara mereka sendiri untuk jatuh cinta, tanpa membaginya dengan orang yang dia cinta.” Lanjut Songjin lalu melirik Kyuhyun dari balik bulu mata lebatnya, “sama halnya dengan, setiap orang yang memiliki cara mereka sendiri untuk menyembunyikan tangisannya ‘kan?”

“Hei—“ begitu cepatnya Kyuhyun menyadari sindiran remeh dari perkataan Songjin padanya tadi. dia mati-matian mendengus berulang kali menolaknya. Siapa memangnya yang sedang menyembunyikan tangisan?

Park Songjin benar-benar salah besar. Memiliki kisah cinta yang kandas bukanlah alasan tepat baginya menangis. Itu bukan tangisan karena hubungan yang kandas, atau pelampiasan rasa sakit— dari kesadaran bahwa menjadi nomor dua setelah sekian lama bersama adalah rasa yang bukan main sialan menyakitkannya.

Itu bukan tangisan karena alasan-alasan remeh itu. Semua orang salah mengira. Setengah dunianya memang hancur untuk sesaat. Ada beberapa bagian dihatinya, yang mendadak menjadi mati rasa. Tapi biarkan saja toh hanya untuk sesaat. Dan lagipula, itu hanya setengah dan sebagian kecil dari hatinya.

Lihat saja berita baiknya, hatinya masih berfungsi. Dia tidak langsung mati hanya karena patah hati. Sebenarnya pun patah hati tidak mematikan, kecuali orang itu sendiri yang mematikan dirinya bealibi patah hati.

“sebenarnya, mencintai diam-diam bukan keharusan. Tapi pilihan. Ini caraku,”
“terdengar sangat masuk akal—“ sinis Kyuhyun.
“aku mencintai Changmin Oppa dengan caraku sendiri. bukankah sudah kukatakan, setiap orang memiliki pilihan dan cara mereka masing-masing untuk jatuh cinta?”

~~ ~~

“aku tidak mengerti.” Kyuhyun mengunyah jjajangmyeon-nya cepat-cepat. “dengan teori bercintamu. Rasanya tidak masuk akal.”

Songjin yang bertopang dagu hanya menjadi penonton kerakusan Kyuhyun karena melahap dua porsi mie hitam dalam waktu tak kurang dari 30 menit itu memutar bola matanya lagi.

“kau boleh menyukai siapapun karena mencintai seseorang adalah hak dasarmu. Sama halnya denganmu yang memiliki hak untuk mencintai siapapun, mereka juga memiliki hak untuk tidak mencintaimu. Kukira itu cukup adil— dan beralasan kuat mengapa mencintai diam-diam tidak diperlukan dalam kasus mencintai.”

Songjin mengedikkan bahunya malas, “entahlah. Anggap saja cara ini adalah pilihanku.”
“tapi itu melelahkan, ‘kan?” Kyuhyun mengungkitnya lagi. Dia tidak akan pernah bosan mengungkit yang satu ini. rasa lelah karena mencintai diam-diam itu pasti bukan main tidak nyaman.

“aku tidak bilang tidak.” Aku Songjin mengangguk. Dia menarik gelas lemon squashnya, menyesap melalui sedotan melingkar.

Suasana kedai makan kecil disana tampak cukup lengang. Tak banyak orang yang datang sore ini. mungkin karena cuaca yang tidak terlalu bersahabat. Sepanjang hari ini kota Seoul dipayungi mendung namun sepanjang mendung, hujan hanya datang satu kali saja dipagi hari tadi.

Sialnya, udara menjadi sangat dingin dan angin berhembus tidak dalam kapasitas normalnya. Cukup menyulitkan banyak orang yang berjalan kaki dengan payung terbuka ditangan mereka.

Songjin menolak makan. Dia hanya sibuk mengamati trotoar yang penuh dengan orang berlalu lalang. Ada seorang wanita paruh baya, mungkin berusia sama seperti ibunya, sedang berjalan penuh kerepotan karena angin yang kencang menyibakkan mantelnya, serta payung miliknya yang nyaris ikut terbawa terbang bersama daun-daun kering.

Cinta diam-diam memang merepotkan. Sama halnya seperti yang terjadi dengan wanita berpayung hitam tersebut. Memilih keluar rumah ditengah tidka menentunya cuaca, hanya untuk berbelanja— yang mana sebenarnya, dapat dilakukan eok hari ketika cuaca sedang mendukung, tak seperti saat ini.

Wanita itu memilih untuk bersusah payah berjalan ditengah angin membawa banyak tas kantung kertas. Persetan dengan logo brand ternama yang tertera. Keselamatan, bukankah nomor 1? Wanita itu pasti paham akan resiko dari ulahnya saat ini.

Seperti halnya dirinya. Walau paham akan resiko dari mencintai diam-diam, tapi melakukannya adalah pilihan. Bukankah.. keselamatan hatinya adalah nomor 1?

“Sudahlah, kau tidak akan mengerti biarpun kujelaskan berjuta kali, Kyuhyun-ah~”


Udah sakit mata, jempol pegel scrolling? kepanjangan? gak apa-apa lah ya emang aku sengaja kok hahaha 😉 see ya at part 2!

101 thoughts on “Que Sera [Passion and Anger]

  1. sepanjang baca ff mu kayaknya ini yang paling aku suka hahaha
    ceritanya menarik banget karena kesederhanaannya.
    dan emang dari awal udah cukup penasaran sama masa lalu kyujin hahaha

  2. Ohh ceritanya masa-masa sma gitu ya? Hihi lucu sih mereka, masih belum memahami perasaan yg sebenarnya terus kerjanya bertengkar mulu hahaha XD, jadi pengen punya kisah cinta kaya gini:p
    Nice kak, keep writing:))

  3. finally ! selesai baca juga yeeeeay 🙂
    yes masa masa SMA dulu ya, kesian juga si songjin susah bersosialisasi gtu. kasian temennya dikit 😦
    ciyee kyu, jadi ceritanya kmu blm ngerti sma peraaaan kmu sendiri ya ? haha itu nama nya jatuh cinta jg sayaaaaaang~
    songjin emang selalu begitu ! aneh ! kalo ga gtu bukan park songjin nama nya hahaa
    pake tenggelam segala hahaaaa aduuh 😀
    kyujin jjang ! ^^

  4. baru baca ><
    kyujin sweet banget waktu masih sekolah, lemotnya songjin belum kelihatan .. emang kadang beberapa orang lbh memilih untuk mencintai secara diam-diam 🙂

    semangat kak galuh utk part 2nya~

    xoxo

  5. finally gue udah baca ini galuh, hahahaa. ini ff terpanjang sepertinya ya, tapi sama sekali gak ngebosenin. ngeliat kyuhyun sama songjin, mereka kaya amplop sama perangko ya gak bisa dipisahin. oh ya, siwon itu ikut klub taekwondo juga gak galuh? apa gyuwon ikutan klub taekwondo buat menarik perhatian siwon? secara setelah married mereka kan suka latian taekwondo bareng.

  6. Si gyuwon sadar…klau ia trus brsama kyuhyun,dia tidak hnya membohongi kyuhyun soal perasaan dia tapi juga ia sadar…yg dibutuhkan.kyuhyun songjin bukan gyuwon. Meski alasan utama jrna ia tidak bisa move on dari siwon

  7. Ya ampun.. Sudah lama aq tak brkunjung ke blogmu gal. Dan sepertinya aq ketinggalan byk cerita ini. huhuu…
    Rasany puas trbayarkan. hahaa.. Krna ff nya yg ini puanjangggg skali. hahaa..

  8. dari awal kyuhyun emang nggak ngerasa gyuwon cinta sama dia. dia juga lebih nyaman sama songjin, kyuhyun aja yg belom nyadar kalo kata kata gyuwon itu bener. dia suka sama songjin tanpa sadar.
    songjin juga kasian nih, kyuhyun sih pelit jadi dia belom bisa pendekatan sama changmin. ah, bilang aja cemburu lu kyu.
    siapa yg nyangka di masa depan kyuhyun bakal sayang setengah mati sama songjin, nggak malu malu buat mesra mesraan xD
    gret! aku mau baca part selanjutnya ya. maaf naru baca sekarang ya kak

  9. Penjelasaaab bgmn bgmn kyu mulai di sadarkan oleh gyuwon mengenai songjin, dan bgmn kyu sebenernya ga suka kalau songjin suka sama changmin, aku dr kmrn2, baca putus2 dan baru selese skrng, dan selalu suka sama jalan cerita kyu n songjin. Waktu nya baca next chap.

  10. Demi apa? Udah lama gk mampir keblog eh ternyata tulisannya semakin bgs ajah kak 😀 Ampe jempol pd keseleo tp tak apalah demi songjin aku rela berkorban AHAHAHAHA

  11. Huwaaaahhhh ini bener-bener panjang author-nim hahahaha tapi keren, jadi gemes dah si kyu gak cepet-cepet sadar kalo dia suka ama songjin, agak keki juga sih baca cerita kyu yg masih suka ama gyuwon tapi ceritanya bagus sih, alurnya rapi gak buru-buru jadi oke-oke aja hehehehe

  12. Wooow before story nya keren 😀
    Awal nya aga mles bca, soal nya kan Kyu masih cinta sma Gyuwon, tpi akhr nya bca jga.
    dari dlu emng Kyu udah cinta sma songjin kli ya? menomer satukan dia, dripada Gyuwon, dan rasa khawatir nya itu nunjukin smua nya, ampe Gyuwon aja sadar kekeke
    Cuman Kyu nya aja yg nutup hati buat ngakuin itu, cma songjin nih yg blum ketebak, bnran ska sma Changmin atau lbh suka sma Kyu?
    Ga masalah cerita nya panjang dan jari pegel dan mata lelah, klau cerita nya keren, nextt part.

  13. puas bacanya panjang~ banget
    pas baca juga senyum senyum sendiri ngeliat ke keras kepalaan mereka berdua. ais kyuhyun emang dasarnya suka sama songjin tapi males buat ngakuin

  14. Berasa baca novel online~ ini bener-bener panjang kaya sungai Han ditambah kili Ciliwung!! 😀 yang baca aja pegel, aku ga bisa bayangin yang ngetik cerita ini.

    Eonni~ idemu ini benar-benar, adaaaa aja kalo tentang Kyujin. Btw, aku suka bgt sama omongannya Songjin tentang jatuh cinta diam-diam. Ini kok Songjin bisa sekolah bareng Kyu? Bukannya mereka beda 2 taun ya? Apa adek kelasnya?

    Heeey Kyuhyun babo yang tampan, kamu sebenernya jatuh cinta sama Songjin, apa ga sadar jugaaaa??

    Itu si Songjin make acara tenggelam pula HAHAHA parah ini orang, cuss baca part selanjutnya, kita lihat Songjin latihan berenang :3

  15. Omongan songjin sesuatu sekali…hahahha bisa berkata2 bijak juga…

    Gyuwon sadar ada sesuatu tak kasat mata yg terjadi antara songjin dan kyuhyun…

  16. oo.. Jd gt ..
    Mrk emg berteman mulai dari kecil,
    Dan mrk g pernah ad rasa pada awal x.. Justru mrk pny org2 yg mrk sukai..
    Duh mencintai diam2 sprt yg songjin lakukan it adl pilihan yg amat sulit

  17. Kyuhyun hanya belum menyadari bahwa dia sebenarnya menyukai songjin lebih dari sahabat..
    Tapi ikatan persahabatan mereka jadi terlalu rumit jika dijabarkan untuk saling berbagi rasa..
    Sejauh ini kyuhyun hanya ingin melindungi dirinya dari ditinggalkan oleh org2 terdekatnya..terutama songjin dan siwon..
    makanya dia rela menyimpan semua rasa sakit itu sendiri…karna belum tentu berbagi apapun masalah orang lain akan meringankan perasaan terluka itu..
    Gyuwon terlalu pengecut untuk jujur..
    Aku baca kalimat songjin tentang mencintai diam2 itu..itu emang teramat menyakitkan..
    Dan rasa menyakitkan itu hanya mampu dirasakan sendiri dan dinikmati sendiri..
    dan resiko terbesar dari mencintai dalam diam adalah obsesi ingin memilikinya sampai ke dosis tertinggi..dan hanya bisa tetap diam..

  18. hahah… jadi emang benar kalo Kyu lah yg lbh dlu cinta pada Songjin tapi malah harus disadrkan oleh orng lain! Dan yg bikin gregtnya orng itu adlh mantannya sndiri! Tsk! Kyupil babo dgn gengsi selangit ke tujuh! :3

  19. Mulai ngubek ubek dari awal ya eon…
    Maap kalo bikin ngak nyaman…

    Ngak nyangka bakal sedramatis itu kisah percintaan kyujin…
    Yang satu udah patah hati…
    Satunya ngak berani deket sama cowok pujaanya…
    Tapi songjin lebih beruntung ketimbang si kyu…
    Setidaknya changmin juga tertarik ama songjin nya…

  20. aku masih heran sebenarnya, knp kyuhyun bisa suka sama gyuwon?dia cinta apa suka ya??tp knp terdengar egois ya kyuhyun di missing, kayaknya dia pengen gyuwon tp ga mau changmin deket2 songjin..

    setuju sama teori bercintanya songjin 😀

  21. Aq baca lagi ff ni.
    Kyuhyun egois banget disini dy thu songjin suka ma changmin bgitu sebaliknya tp np jg dy diam ja. Kyuhyun gk sadar ya klau dy suka ma songjin sampai gyuwon aja sadar loe. Meski gk cinta sakit juga ya jdi gyuwon, kyuhyun secara terang2an gk mau lepas dy tp kyuhyun selalu jadiain gyuwon no 2. Untung songjin pilih cinta diam2 ma changmin cb kalau gak siapa yg bakal susah ya kyuhyun.heheehehe
    Tp gue sera ny gk diterusin ya atau aq aja yg gak tahu

  22. Sesuai rekomendasi eon baca ff ini dulu😆
    huh kyuhyun nyebelinnnn pelupaaa
    Walaupun tingkah sojin kekanakan tapi pemikirannya bukan anak anak😆
    sukaaa karakter sojin, suasana gaduh😂

  23. ck…kyu boong krn g mau songjin kcwa..wlo sdrhna pi buat songjin mnding jjur ajj x..toh dy ngarti klo wkt tu kyu dah pny cwe..biarpun nntiny jg psti ttep kcwa..
    gyuwon jg..np ruz php-in kyu..gtu kan jdny..hmm tau np kdng bnyk org jg lakuin hal yg sma..
    songjin mank aneh..dah tau g bs renang nekat bngt bljr sndri..alhsil tngglm..untg msih da yg liat n slmat daaahh…kyu mpe lgsg ngbrit gtu tau kbrny..wkkk

  24. Kyu babo.. Gyuwon aja tau siapa yg dicintai kyu, tp dirinya sendiri gak sadar… Kisah cinta kyujin nyesek juga ya.. . Haha ini ff panjang bener

  25. teori songjin tentang cinta diam-diam patut di acungin jempol wkwkw… tumben rada benerr hehe mungkin sih, tp aku tak tau juga aku blm pernah mencintai orang secara diam-diam’-‘, flashback kyujin😐😐 dan kisah cinta pertama mereka😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s