Que Sera [First and Second] — 1


Before Story of Missing

Que Sera – [First and Second]

Cho Kyuhyun | Choi Siwon | Park Songjin | Shim Changmin | Lee Gyuwon.

PG – 13

Broken Heart for the first time – Love at Second Sight

 

 *

{Delete me from your friends. I don’t care what you think, let’s forget we ever met. Don’t ‘cha worry about me. So I’m sick to my stomach, when I’m think about the wasted time we spend together, Planning on forever (Oh, whatever)
Cheat me one, shame on you. cheat me twice, shame on me. I’m an idiot that I couldn’t see whats underneath. That beautiful face or there warm or worse days… surprise surprise I’m doing just fine!}
-Que sera, Miley Cyrus-

*

-TWO-

*

Nyatanya nasihat hanyalah nasihat. Park Songjin dengan segala kekeras kepalaanya, masih terus berupaya setengah mati— mencari segala cara agar dirinya mampu berenang.

Setidaknya, dapat mengapung diatas air saja dulu— yang menurutnya tak pernah mau bersahabat dengannya.

Gadis itu tidak putus asa. Siwon dan Kyuhyun lah yang menjadi guru dadakan, merasa putus asa setengah mati mengajari gadis yang isi kepalanya agak sedikit berisi dengan otak sungguhan itu.

Siwon bahkan tak berhenti mengumpat karena Songjin tidak kunjung bersedia melepaskan pelampung karet berbentuk bebek yang digunakan gadis itu sebagai cara agar dia dapat mengapung.

Songjin menolak berulang kali papan luncur yang Siwon berikan dengan alasan keamanan. Menurut Songjin, nyawanya akan terancam jika dia melepaskan pelampung bebek itu dikedalaman air 3 meter.

“kakiku bahkan tidak menyentuh dasarnya.” Protes Songjin menggerakkan kaki hingga air disekitarnya berkecipak. Dua pria disana menghembuskan nafas frustasi.

Percayalah, hanya seorang Park Songjin saja yang memiliki guru renang sesabar, setampan, dan semenarik kakak beradik ini. dan percayalah, diluar sana ada puluhan, ratusan gadis yang akan rela membayar mahal demi hal yang sedang Park Songjin lakukan saat ini.

Pria-pria itu saling bersuara bersama, “kau pikir kakiku tidak?” sambil berteriak sekencang mungkin. Menarik perhatian Park Seul Gi dimeja anggur halaman belakang rumahnya yang sedang membaca Koran melongok penasaran.

Dilihatnya tiga kurcaci itu sedang saling berdebat mengenai kaki-kaki mereka yang sama-sama tak dapat menjejak dasar kolam— betapa bodohnya pernyataan Songjin, dan paksaan dengan cara tidak baik-baik lagi, agar gadis itu segera melepaskan pelampung bebek keparat tersebut.

Park Seul Gi tertawa, bahkan Choi Siwon makhluk paling sabar yang dikenalnya pun sudah menarik urat. Itu artinya, kali ini bukanlah basa-basi lagi menyebalkannya. Bukan berita asing lagi, putrinya memang agak keras kepala.

Oh baiklah— sangat keras kepala.

Mata Songjin mulai berkaca-kaca. Mulai memerah, lantas mulai mengeluarkan air matanya ketika mulutnya bergerak gemetar, “aku takut.” Katanya pelan.

Tangannya benar-benar mencengkram pelampungnya erat. Berusaha menyeimbangkan diri ditengah kolam dengan pelampung terasa lebih mudah daripada menyeimbangkan diri ditengah kolam tanpa pelampung.

Songjin selalu membayangkan, betapa mengerikannya tenggelam kedalam air yang dalamnya tidak tanggung-tanggung itu.. Tingginya bahkan tak lebih dari dua kaki sedangkan kolam itu lebih dari dua kaki.

Kemarin dia sudah tenggelam karena nekat mencoba melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya ini dan rasanya mengerikan. Tidak bisa bernafas, sesak, hampa dan hilang kendali. Sungguh. Dia tidak berencana lagi merasakan hal serupa. Setidaknya tidak dalam waktu dekat.

“aku bahkan belum mempunyai kekasih seumur hidupku. Tidak sekalipun. Kalau aku mati, aku akan mati penasaran” lalu tangisan sendu itu mulai keluar perlahan-lahan.

Perlahan tapi pasti. Sedikit-sedikit, tapi sungguh sangat banyak cairan dari matanya itu yang keluar.

Seakan alasan konyol Songjin adalah sebuah gurauan bagi Siwon dan Kyuhyun. Membuat keduanya bertatapan sejenak lantas tertawa. Membuat mereka tampak bagai pria-pria brengsek yang tega-teganya menertawai keadaan sulit seorang gadis lemah.

“Heisssh~”

Park Seul Gi sendiri, yang entah sejak kapan telah berdiri dipinggir kolam bahkan mencibir alasan konyol putrinya sendiri sambil mengibaskan tangannya. “dari siapa kau mendapatkan otak sedikit seperti itu?” tanyanya tak berpri-kemanusiaan.

Seolah lupa bahwa yang sedang ditanya itu adalah putrinya sendiri. tapi malah memandang rendah putrinya sendiri. “lepaskan pelampung itu, kau tidak akan pernah bisa berenang kalau tidak melepaskan penghalang itu Songjin!”

“Appa~” gadis 16 tahun itu tampak begitu mengiba. Memasang wajah bagai hamster kecil, lucu, menggemaskan. “Appa saja yang mengajariku, eotte? Mereka terlalu kejam!”

“kejam?” Cho Kyuhyun yang pertama merasa tak terima. Lalu tak lama disambut oleh kakaknya, “kau yang sulit diatur! Semahal apapun kau membayar pengajar, mereka akan berhenti tepat setelah 30 menit melakukan tugasnya. Kau terlalu keras—“

ucapan Siwon menggantung saat Kyuhyun lebih dulu menimpalinya, menggunakan ungkapan lebih kasar. “bodoh!” katanya kencang tiak perduli disana ada ‘pawangnya’.

“kau bilang aku bodoh? kau yang keterlaluan! Aku tidak bisa melakukan apapun tapi kau memaksaku untuk melepaskan pelampung! apa kau kehilangan otakmu setelah dicampakkan? Aku bisa saja tenggelam dan kau tidak mengerti—“

“bagaimana bisa kau tenggelam saat aku dan Siwon Hyung bahkan berada tidak lebih dari satu meter jaraknya darimu, idiot! Aku juga tidak mau merelakan masa mudaku hanya untuk berada dipenjara karena sengaja menenggelamkan seorang gadis idiot— yang menghapal nomor ponselnya sendiri saja tidak pernah bisa setelah 2 tahun memiliki nomor baru!” Kyuhyun uring-uringan bukan main. “setidaknya aku butuh alasan lebih keren kalaupun aku harus mendekam dipenjara!”

Diatas pelampung tangan Songjin mengepal kencang. Ada rasa jengkel saat lagi lagi dia direndahkan. Biasanya tak masalah, tapi entah mengapa kali ini rasanya begitu mengjengkelkan.

Maka dengan segala keberanian yang ada, yang tersisa dan tertinggal setelah kejadian kemarin lalu, serta akumulasi dari segala bayangan hitam mengenai hal-hal menakutkan. Kemungkinan yang bisa terjadi saat sedang berada didalam kolam tanpa pengaman apapun, Songjin menghirup udara begitu banyak.

Banyak sekali hingga seolah, paru-parunya dapat menggelembung karena terlalu banyak diisi oleh udara. Lalu memejam, dan dalam hitungan dua detik, dia menenggelamkan diri.

Maksudnya bukan menenggelamkan diri seperti itu, tapi mengikuti cara banyak orang untuk melepas pelampung, yaitu mencelupkan diri sebentar lantas naik mengapung. Bernafas. Selesai.

Itu rencananya. Tapi rencana, hanyalah rencana. Dia ingat bahwa setelah seluruh kepalanya terrendam, harusnya dia segera naik.

Tapi ada yang salah. Seperti ada pusaran air yang Songjin rasakan menyedotnya. Tangannya telah naik tinggi-tinggi mengacung. Berusaha menggapai pelampung miliknya, tapi entah, dimana pelampung itu berada. Seolah menghilang.

Dalam hening, suara air dan balon gelembung yang diperhatikannya satu persatu naik tepat didepan wajahnya, terdengar suara nyaring dari 3 orang berbeda yang amat dia kenal.

~~ ~~

 

{Que Sera, sera. I could never go back, to a think that didn’t last. And I’m sorry to say, that you’re living in the past.
And if you’d ever believe, I would take you back— (NO!) it took you long to get in but you’re out so fast.}
 {The way you played your cards, shoulda told me who you are— always goin’ all in. and you hated I win. Just had me whipped too far, I shoulda known from the start that you gamble, with my heart.}

-Que Sera, Miley Cyrus-

**

“Pssst! Hei! Kyuhyun-ah! Kyu!!”

ini untuk kelima kalinya. Kyuhyun menghitung didalam hati sejak awal Shim Changmin mulai berisik menganggu dibalik punggungnya.

Pria itu mulai melakukan hal lain, selain hanya berbisik memanggilnya— yang dikira Kyuhyun tak mendengar, padahal telinga lelaki dengan marga Cho ini sudah setengah mati panas karena sedari tadi diganggu.

Dia tidak bisa memerhatikan dengan serius apa yang Hwang Seosaengnim jelaskan didepan sementara namanya terus dibisikkan, kursinya ditendangi, dan punggungnya tak berhenti mendapatkan lemparan gumpalan kertas— yang kadang lolos mendarat dimejanya, kadang menghantam punggungnya lalu jatuh kelantai.

Kyuhyun dengar. Dia bisa saja menoleh tapi sungguh, rasanya enggan untuk menoleh jika tepat dibelakang meja satu-satunya teman pria— yang dia kenal selain Choi Siwon itu, adalah Lee Gyuwon.

Terima saja, mau tidak mau dia akan dengan mudah— memiliki akses melihat gadis itu walau rasanya enggan. Walau sebenarnya dia memang ingin melakukannya.

Kecil kemungkinan untuk tidak berinteraksi jika dia tidak melihat gadis itu, sedangkan jika sudah melihat— mulutnya kadang tidak mau bekerja sama dengan otaknya yang melarang untuk bicara. Atau sekedar tersenyum simpul saja.

Itu sungguh sulit. hingga sampai saat ini, masih sesulit itu. Masih sesak itu dan masih semenyakitkan itu ternyata. Efek nyata dari patah hati yang baru pertama kali pria itu rasakan sepanjang eksistensi hidupnya.

Jadi memperkecil kemungkinan hal tersebut, Kyuhyun lebih memilih untuk diam tak menghiraukan ‘rengekan’ Shim Changmin sampai guru fisikanya itu selesai berbicara panjang.

Butuh waktu 20 menit baginya menunggu hal tersebut, hingga setelah bel— tanda akhir jam sekolahnya usai, helaan nafas yang kemudian dibuangnya banyak-banyak.

Seolah.. baru saja menggotong beban dikiri kanan pundaknya. Berat. Membuat sulit bernafas. “ada apa?” Kyuhyun menoleh. Dia tidak perlu repot-repot untuk berusaha menghindar mengintip kursi dibelakang Shim Changmin karena syukurlah, gadis itu adalah manusia kedua yang keluar dari kelas setelah guru fisikanya.

Shim Changmin Nampak geram. Bibir sexy pria itu sedikit terangkat diujungnya, ketika melihat akhirnya— sejak tadi usahanya membuahkan hasil. Syukurlah temannya ini tidak tuli. Sepanjang 3 jam tadi, dia sempat mengira kalau pria tinggi berkulit putih susu, bersuara berat serta mata cokelat madu ini mengalami tuli permanen secara mendadak, setelah 24 jam mereka tidak bertemu.

“aku kira telingamu hilang.” Hina Changmin diawal sambil membereskan buku-buku dimejanya. Menumpuknya menjadi satu tumpukan dan dibawanya dengan cara memeluk.

Bola mata Kyuhyun sontak berputar 180 derajat mendengarnya. Terlalu hiperbola, tapi biar sajalah. Dia tahu akan habis ditertawai jika mengatakan alasan yang sebenarnya.

“kau latihan?” kalimat ketiga dari lidah Shim Changmin. Dua lelaki itu berjalan bersisian menuju loker mereka didekat tangga. Ikut memenuhi lorong yang semula sepi, namun kini diisi oleh puluhan— ratusan siswa lainnya.

Mereka mulai bertingkah bebas. Mulai mengeluarkan ponsel, ipod, mulai berbicara bahkan berteriak sesuka mereka, hingga berskateboard dilorong sempit itu. “tidak tahu—“ Kyuhyun menggidikkan bahu. “sebenarnya aku agak sedikit malas.”

“Hei— ayolah!”

“tapi aku benar-benar malas!” Changmin sesekali menoleh pada Kyuhyun melihat bagaimana pria itu berbicara kepadanya, “lagipula kita sudah tidak seharusnya berada diclub itu. Tiga bulan lagi kita akan melangsungkan test kelulusan dan kukira tidak akan ada waktu lagi, kalau kau memang benar-benar ingin masuk ke Todai. Kau tahu~ kecuali kalau kau merasa cerdas.”

Changmin mengernyit terkejut sesaat, “aku kira hanya aku saja yang ingin masuk ke Todai?” taggapnya terkesima. Lantas tak lama suara desisan Kyuhyun terdengar.

Jika saja Songjin mengetahui betapa tololnya pria ini.. maka gadis itu mungkin akan berfikir dua kali untuk menyukai pria bernama Shim Changmin ini. “ya, aku sedang membicarakanmu tuan Shim yang cerdas!” puji Kyuhyun dalam kandungan sinisme amat sangat tinggi.

“Oh—“ Changmin hanya mengangguk. Keduanya berhenti tepat didepan deretan loker berpintu abu-abu. Keduanya sama-sama memasukan nomor kombinasi dalam hening. Dan keduanya masih sama-sama meletakkan buku ditangan masing-masing.

Masih. Sampai kemudian Changmin menelengkan kepalanya meringsek mendekat pada Kyuhyun hingga pria itu mundur terkejut. “Hei, aku tidak melihat Songjin sejak tadi pagi….” mata Changmin melirik loker dihadapan mereka dengan pintu warna serupa, namun terdapat sebuah dengan warna berbeda.

Pink baby, lengkap dengan gantungan pernak perik berkilauan tertempel dipintunya. Coba tebak saja sendiri milik siapa loker mencolok itu? Tak perlu berfikir keras.

Kyuhyun membuang nafasnya. Sebenarnya, ini juga adalah hal yang sudah diperkirakannya sejak kemarin setelah membayangkan jika dia datang seorang diri tanpa gadis berisik itu. “dia baik-baik saja??” Changmin menggaruki belakang kepalanya, Nampak menyembunyikan penasaran dan menekan rasa malunya hanya demi bertanya perihal yang membuat harinya dipenuhi tanda Tanya hari ini.

Changmin memperhatikan Kyuhyun. Memperhatikan seksama ketika Kyuhyun menata buku-buku didalam lokernya rapih. Memperhatikan ketika Kyuhyun mengambil tas dan mengeluarkan sebuah kunci dengan gambar kuda jingkrak. Hingga memperhatikan pergerakkan bibir tebal milik Kyuhyun.

“kalau menurutmu demam tinggi karena tenggelam pada keladalaman 3 meter sebanyak dua kali itu baik-baik saja, maka dia baik-baik saja.”

jelas Kyuhyun mengawali, yang demi Tuhan lagi-lagi membuatnya terkejut karena Changmin seketika menutup pintu lokernya tanpa aba-aba.

Memasang wajah super – ekstra – mega panic. Seperti itu adalah adik, kakak, atau ibunya sendiri yang dikabarkan tenggelam. “kau bercanda!!” pekiknya membuat seorang penskateboard berhenti sejenak untuk memandang mereka.

Kyuhyun hanya menggidikan bahu lagi tidak perduli, berjalan perlahan-lahan meninggalkan Changmin sambil menyalakan ponselnya.

Ada 3 panggilan tak terjawab. 2 dari gadis idiot yang sedang menjadi topic pembicaraan mereka saat ini dan 1 dari Siwon. Lalu terdapat 4 pesan singkat. 3 diantaranya dari Ayahnya sedangkan sisanya terakhir Ibunya.

“dimana dia tenggelam? Kenapa? Apa yang terjadi? Bagaimana bisa?” dan rentetan pertanyaan mencecar lain menghampiri Kyuhyun hingga mereka berhenti didepan sedan mengilat warna biru gelap.

Untunglah kali ini dia mendengarkan saran Siwon untuk membawa kendaraan roda empat itu. Kakaknya itu bagai peramal cuaca saja yang dapat mengetahui dengan pasti kapan dan akan terjadi hujan.

Sore ini langit kota Seoul terlampau gelap untuk hitungan pukul 4— biasanya tidak semengerikan ini. Kyuhyun masih sempat memerhatikan gumpalan-gumpalan awan diatasnya, dan suara gelegar petir sesekali menyapa pendengarannya.

“dia tenggelam karena berlatih berenang kemarin sore. Jatuh hingga kedasar karena tidak mau melepaskan pelampung. Dan tolong, jangan Tanya padaku bagaimana keadaannya saat ini karena akupun belum menemuinya hari ini. aku baru akan kesana~”

Kyuhyun bersedekap— menyandarkan punggungnya ditubuh kendaraan miliknya memandangi Changmin tampak gusar. “dia melakukannya denganmu?”

Wajah Shim Changmin perlahan terlihat sendu. Bergeser dari kepanikan yang sesaat menghampiri. Sedangkan wajah Kyuhyun perlahan menunjukan keheranan tinggi kepada pria Cassanova ini. “aku tidak ikut-ikutan tenggelam sepertinya. Aku tidak idiot sepertinya yang saat ingin melepaskan pelampung saja, harus ada acara tenggelam-tenggelam!” Kyuhyun terlihat jengkel. Namun tak lama kedua alisnya bergerak naik dan turun, “iya denganku.” ujarnya. “aku dan Siwon Hyung. Dan Ayahnya yang menjadi tim hore— berisik hanya berteriak-teriak saja saat putrinya tenggelam, karena dia juga tidak bisa berenang.”

Tanpa Kyuhyun sadari terdapat guratan senyuman dibibirnya. Perlahan menarik dua sisi bibir tebalnya keatas, hingga akhirnya dia benar-benar tertawa menggelengkan kepala sambil merunduk.

Membayangkan kejadian kemarin sore itu benar-benar menyeramkan sekaligus menggelikan. Membuat sport jantung, tapi juga gelak tawa saat Park Seul Gi hanya berteriak-teriak mengomandokan dirinya ataupun Siwon harus berenang kesisi mama untuk menangkap Songjin.

Panic. Tapi tidak melakukan apapun selalin lompat-lompat dan berteriak saja dari pinggir kolam. Sepertinya, setelah sekian lama saling mengenal, kini Kyuhyun tahu, dari mana Gen brainless Songjin berasal.

Serta ketidak mampuan gadis itu berenang. Anggap sajalah itu adalah Gen. entah akan disebuat baik atau buruk.

“dia… baik-baik saja?” ada rasa jengah yang Kyuhyun rasakan saat Changmin bertanya hal yang sama untuk kedua kalinya. “dia hanya demam.” Jawab Kyuhyun tak sadar berkata ketus menelan rasa jengkel mendadak— entah kenapa.

Sambil bersedekap layaknya bos besar dia memandang Shim Changmin lekat. Pria didepannya itu sedang memperhatikan sepatu, sepertinya. Dia hanya merunduk dan menggerakkan kaki-kakinya sejak tadi seolah sepasang sepatu kotor penuh jiplakan warna kecokelatan karena lumpur miliknya itu terlihat sungguh menakjubkan ketimbang Ferrari California T milik Kyuhyun.

Jengkel. Namun diwaktu yang sama Kyuhyun pun merasa iba— juga entah mengapa. Maka kemudian sambil membuka pintu kendaraannya Kyuhyun bergumam, “mau ikut menjenguk?” tawarnya.

Sesaat saja, ada kilatan terang dimata Changmin. Sekilas saja. untuk sesaat, ketertarikan itu jelas tak dapat ditutupinya. Walau tak lama setelahnya, pria itu dapat mengatur ekspresi, lalu mengubahnya sambil menggelengkan kepala.

“kukira tidak.” Tolaknya lantas mendadak mendengar dia baru saja diteriaki tolol oleh seseorang didalam tubuhnya. Menolak apa yang begitu ingin dilakukannya sejak beberapa menit lalu mengetahui kabar bahwa gadis incarannya itu sedang tidak baik-baik saja ternyata.

“aku harus berlatih kali ini. kesempatanku berada diclub itu tidak banyak kau tahu?” Changmin terkekeh canggung. Lalu didalam hatinya, Kyuhyun mencibir sikap malu-malu kucing Changmin mati-matian. Bahwa kesempatan pria itu untuk bertemu Songjin pun mungkin tak banyak lagi.

Bukan karena gadis itu akan mati karena dua kali tenggelam dikolam, bukan. Tapi karena Kyuhyun tahu bahwa kemungkinan besar Shim Changmin pasti mendapatkan universitas incarannya, Todai Jepang.

Maka mau tidak mau, pria itu harus pindah ke Negeri Sakura itu. Lalu bukankah itu artinya, tak lebih dari 3 bulan lagi mereka berpisah? 3 bulan itu bukan waktu yang banyak kan?

Kyuhyun selalu heran mengapa dua orang itu senang sekali menyukai dalam diam layaknya orang tolol.

Bukan. Sebenarnya lagi, Kyuhyun selalu tidak mengerti mengapa ada orang yang mau dan mampu bertahan menyukai diam-diam?

“sampaikan saja salamku untuknya. katakan.. semoga cepat sembuh.”

Changmin tersenyum kepada Kyuhyun. Lagi-lagi didalam hatinya Kyuhyun mencibir ketus, bahwa senyuman itu hanyalah senyuman palsu. Yang sebenarnya adalah wujud dari rasa gengsi tinggi saja.

“Yeah.” Masih mencibir Changmin, Kyuhyun mengangguk. “kalau sampai disana aku masih ingat— akan kusampaikan.” Katanya malas.

~~ ~~

 

Kyuhyun berjalan menyusuri ruangan besar— ruang keluarga milik keluarga Park, yang tampaknya memang lebih menyedihkan daripada pemakaman.

Sepi dan nyaris tak pernah diisi kecuali jika pemilik rumah sedang pulang. Itu pun hanya beberapa hari saja sebelum tuan rumah super sibuk itu hengkang dari rumahnya untuk berkelana ke Negara lain.

Untuk beberapa alasan, Kyuhyun paham mengapa Songjin menginginkan ketenaran. Mungkin, bukan ketenarannya yang gadis itu incar, namun fakta bahwa jika kau tenar, maka akan banyak perhatian yang menghampirimu.

Dari perhatian yang kau harapkan sampai yang paling tidak kau harapkan datang, semua akan menghampiri tanpa berbasa-basi.

Jadi paling tidak, hidupmu tidak akan sepi bagai kawasan pemakanan. Iyakan?

Sambil bersiul ringan, Kyuhyun menaiki undakan tangga. Kamar Songjin berada dilantai tiga. Lantai yang dibuat berukuran setengah dari besarnya rumah itu saja itu sengaja dibuat sebagai wilayah milik Park Songjin saja.

Warna-warni pink dan warna lembut khas gadis telah menyapa sejak diundakan akhir lantai 3. Berbagai foto dan origami digantung dilangit-langit dan ditempel ditembok. Hanya dilantai 3 itu sajalah, kehidupan dirumah besar itu terasa nyata sebenarnya.

Walaupun tetap saja, akan terasa sama hampanya, jika si pemilik sudah memiliki aura yang tak baik. Seperti saat ini. ketika Kyuhyun menemukan Songjin, hanya terpekur diam memandangi halaman rumahnya, dibalkon.

Duduk seorang diri seperti pasien rumah sakit jiwa, agaknya berlebihan bagi gadis barbar semacam Park Songjin. Ini.. hanya terlalu drama baginya.

Sejenak Kyuhyun diam. Hanya memandangi punggung Songjin sambil bersandar dipintu kaca sembari bersedekap bukanlah kebiasaannya. Tapi dia sendiri tidak mengerti, sejak kapan tubuh gadis galak ini, menarik perhatiannya.

Sepertinya Songjin menjadi lebih kurus? Dia berdiet lagi? Tapi terakhir dia menimbang— dan menjadi super heboh karena merasa senang bukan main, bobotnya hanya 38. Jadi sekarang, berapa bobot gadis ini? yang benar saja! Kyuhyun merasa mampu mengangkat gadis itu dengan satu tangannya saja! Cih!!

Tapi.. tunggu sebentar. Mengangkat Songjin? Kenapa? Dalam rangka apa??

Menyadari pikirannya mulai kesana kemari, Kyuhyun menggelengkan kepalanya berulang kali lalu melanjutkan langkahnya.

Tanpa ragu, Kyuhyun mendorong kepala Songjin dari belakang menggunakan telunjuknya saja dan berkata, “kalau selama 15 jam waktumu kau habiskan hanya untuk bertingkah seperti idiot begini, kau akan rugi besar karena sebentar lagi kau akan masuk sekolah dan kau tidak bisa tidur seperti babi lagi.”

Kyuhyun mengambil bangku kosong diseberang kanan Songjin. Menariknya agar tidak berjarak terlalu jauh dengan Songjin, lalu duduk tenang.

Songjin hanya menarik nafasnya lalu menggerakkan kedua alisnya sebagai jawaban, namun matanya masih juga sibuk memperhatikan depannya, walau dengan pandangan kosong.

Kyuhyun ikut menoleh. Dia mendapati kolam renang yang Songjin tuju sejak tadi. ada rasa sesak yang entah mengapa muncul secara perlahan-lahan, namun pasti menghambat saluran pernafasannya.

Mungkin itu adalah wujud rasa kecewanya juga, karena tak sempat menepati janjinya, akan mengajari Songjin berenang hingga paling tidak— gadis itu mampu mengambang diatas air.

Perjanjian mereka nyaris terlaksana ketika kemarin dia mengajari Songjin berenang bersama Siwon, namun lagi-lagi dan lagi berakhir dengan tenggelamnya Songjin.

Setelah kedua kalinya Songjin tenggelam, mendadak ada rasa takut yang membuat Kyuhyun bahkan menolak dirinya sendiri yang bersorak mengingatkan pemuda itu akan janjinya sendiri.

Lagipula, daya tahan tubuh gadis ini payah. Ditambah dengan kebiasaan berdiet— sepertinya sedikit banyak juga mempengaruhi kondisi tubuh Songjin, hingga gadis ini lebih mudah sakit dibanding dirinya atau Siwon.

“mau ke taman bermain?”

“huh?”

Songjin memang sedang meratapi nasibnya yang buruk karena ketololannya tak sanggup berenang padahal menurut orang banyak berenang adalah hal mudah. Dia sedang sibuk, tapi telinganya selalu jeli mendengar hal-hal yang dirinya sukai.

“taman bermain.” Kyuhyun mengulangi sambil merogoh saku jaketnya, lantas mengeluarkan dua tiket taman bermain yang sangat Songjin hafal bentuk dan warnanya. Seperti pelangi. “aku punya dua tiket. Kau mau, atau aku harus membiarkan tiket ini hangus karena hari ini adalah hari terakhir—“

“AYOO!” dan belum sampai Kyuhyun menyelesaikan kata-katanya, Songjin sudah berdiri tegap, menyengir lebar berdiri didepan Kyuhyun.

~~ ~~

*
{Whatever comes I’ll be okay, whatever life throws my way you wish I’d hurt but I’m free as bird and I’m happy no-ow-ow. I felt in the air, theres something better out there, so goodbye baby!}
-Que Sera, Miley Cyrus
*

“Aish!!”

Kyuhyun mengernyit jijik melihat cairan kuning muntahan Songjin didalam air kolam. Gadis itu sudah muntah untuk keempat kalinya, setelah menaiki wahana paling menyeramkan yang pernah taman bermain itu miliki.

Songjin tak pernah takut seperti Gyuwon saat sedang menaiki wahana-wahana disini walau penampilan dan sifat keduanya berbanding terbalik karena Gyuwon adalah gadis tomboy dan Songjin terlalu feminine— yang pasti tak akan ada satupun orang yang mengira, jika ternyata, Songjin adalah orang yang lebih asyik untuk diajak bermain ketempat seperti ini, pikir Kyuhyun.

Tapi inilah konsekuensinya. Gadis ini akan memuntahkan isi perutnya setiap menyelesaikan satu wahana per wahana. Jadi bayangkan, ada berapa banyak wahana didalam taman bermain ini, dan akan berapa kali gadis ini muntah??

Syukurlah Songjin tidak muntah jika diajak menaiki kincir angin, atau carousel. Tapi sayangnya, bukan wahana seperti itulah yang Songjin sukai.

Jadi percayalah. Park Songjin didalam dan diluar taman bermain, akan tampak seribu kali berbeda.

“kau tidak makan apapun hari ini, kan?” tak perlu berbasa basi menanyakan apa yang gadis itu lahap hari ini bagi Kyuhyun, setelah melihat cairan kuning muntahan Songjin diair. Sejak awal pun, muntahan Songjin tidak lebih dari air air dan air saja.

Kyuhyun mendesah jengkel sambil mengusapi punggung Songjin. Lalu sebenarnya, dia agak berat hati melihat sapu tangannya dipakai Songjin untuk melap bibir gadis itu.

Eww. Kali ini Kyuhyun tak bisa untuk tidak bersikap santai. Menggeleng seperti baru dituduh mencuri saat Songjin mengembalikan sapu tangannya. Percayalah, Kyuhyun lebih rela sapu tangannya hanyut dikolam ikan, bersama muntahan Songjin ketimbang sapu tangan itu kembali. “kau pikir aku sudi menyimpannya lagi setelah kau kotori secara semenena-mena begitu— ya ampun!” Kyuhyun nyaris memekik histeris.

Songjin terkekeh puas. Dia tahu dan dia hanya mengerjai Kyuhyun saja. tapi reaksi pria itu agak sedikit berlebihan. Mungkin jika yang muntah adalah Gyuwon, akan berbeda reaksi, pikir Songjin. “bercanda.” Songjin berkata disisa kekehannya.

Kyuhyun mendengus jengkel, “ayo pulang!”

“pulang?”

“apa kau ingin menginap ditempat ini?” Kyuhyun melirik tajam. “untung saja orang tuamu tidak ada. Kalau ada, aku akan habis dihajar karena membawa pergi anak gadis mereka sampai semalam ini!!” tutur Kyuhyun agak sedikit bercerita mengenai nasibnya— tampak cukup malang.

Tapi sebenarnya tidak juga. Dia merasa berhasil dan sungguh sangat puas ketika akhirnya, Songjin dapat tertawa lagi. Setidaknya, gadis itu lupa dengan keinginannya belakangan ini, yang selalu membuatnya cedera mengerikan.

Tenggelam itu… cedera juga kan?

Dan sebenarnya lagi, dua tiket tadi bukanlah khusus disediakannya bagi Songjin— karena dia adalah teman yang baik hingga begitu ingin membuat gadis itu tidak lagi bersedih.

Iya, memang ingin seperti itu, tapi tiket itu bukanlah idenya. Tiket-tiket itu Kyuhyun sediakan untuk kencannya dengan Gyuwon beberapa bulan lalu, yang kandas hingga hubungannya pun ikut kandas.

Sungguh menyedihkan. Mengingat harga tiket itupun tidak terhitung murah. Apalagi dia hanyalah seorang siswa high school saja.

“bagaimana kalau satu wahana lagi?”

“dan kau muntah lagi? Tidak terimakasih. Aku sudah sangat bosan menontonmu muntah, dan dipandangi aneh oleh orang-orang seperti aku baru saja menghamili seorang gadis lalu sekarang gadis itu sedang bertarung dengan keadaan buruknya. Tidak. Terimakasih banyak Park Songjin.”

Songjin mengerucutkan bibirnya, “Hei, ayolah.. satu saja.” bujuknya keras. Namun Kyuhyun lebih keras lagi menolak. “tidak Songjin. Cukup.” Katanya tegas.

“aku janji tidak akan muntah lagi.”

Kyuhyun mendesis— mencibir janji Songjin dengan kemungkinan hanya 10% akan terjadi itu. “kincir angin.” Tawar Songjin menunjuk wahana berupa lingkaran besar dengan box-box menggantung yang berputar amat sangat perlahan.

“okay?” Songjin menyengir, lantas desahan putus asa Kyuhyun lah yang menjawabnya. Sampai gadis itu menyeret semena-mena Kyuhyun yang terhuyung mengikuti kemana dia akan dibawa, tidak lagi perduli.

Hanya 5 menit waktu yang dibutuhkan keduanya untuk berlari dan mengantri, sampai dan duduk didalam kubikel mereka.

Wahana kincir angin adalah wahana paling aman kedua setelah carousel, bagi Songjin. Itu sudah sangat jelas. dia tidak akan muntah disana karena pergerakkan permainan ini sama sekali tidak ekstrem.

Entah apa yang Songjin sukai, tapi gadis itu tidak pernah tidak melewatkan kesempatannya menaiki wahana ini, walau apapun yang terjadi. Tak perduli kalau saja antrian kincir angin bukan main banyaknya. Dia akan tetap menaiki wahana ini.

Ini wahana favoritnya, Kyuhyun menebak setelah berpuluh kali mendatangi taman bermain ini bersama Songjin, atau Siwon.

Kyuhyun bukan tidak menyukai kincir angin, dia tidak tergila-gila dengan wahana ini seperti Songjin, tapi dia mengakui satu hal, bahwa berada diketinggian ratusan meter, dan diterpa hembusan angin segar langsung diwajahnya adalah hal yang menyenangkan juga terasa sangat nyaman. Belum lagi pemandangan kota yang akan terlihat seperti miniature dari tempat tertinggi dikincir angin ini.

Dia merasa seperti burung yang bebas. Ini sungguh menyenangkan. Kyuhyun lantas duduk santai, bersandar pada bangku dan besi-besi dibelakangnya dengan mata terpejam. Menikmati terpaan angin yang sibuk memainkan rambutnya.

Dia bisa mendengar suara angin karena dari ketinggian ratusan meter seperti ini, angin akan terasa lebih heboh daripada didasar. Dia bisa mendengar sayup suara tawa dan teriakan orang-orang. Pastilah mereka masih menaiki beberapa wahana menyeramkan itu.

Dia mendengar suara burung-burung camar. Sudah malam, tapi mereka berisik sekali.

Lalu perlahan, dia bisa mendengar suara lain— yang sontak, membuatnya tak dapat tenang lagi seperti tadi. istirahat santainya sejenak mendadak terusik.

‘mau ikut menjenguk?’

‘kukira tidak.’

‘… aku harus berlatih kali ini. kesempatanku berada diclub itu tidak banyak kau tahu?’

‘sampaikan salamku untuknya. katakan.. semoga cepat sembuh’

tanpa disadarinya, pemuda berkulit putih pucat itu mendengus kencang. pada akhirnya, hanya bagian akhir percakapannyalah yang terlampau diingatnya. ‘sampaikan salamku untuknya. katakan.. semoga cepat sembuh’ terputar berulang didalam kepalanya bagai kaset kusut, lalu lagi-lagi entah mengapa terdengar sangat menganggu.

Entah pada bagian terus menerus terulang, suara Shim Changmin, atau perintah ketua baseball itu padanya lalu mengingat fakta lain bahwa tak sekalipun dia pernah diperintah termasuk oleh kedua orang tuanya, namun guru-guru disekolahnya, adalah sebuah pengecualian. Kyuhyun masih mencoba mencari tahu dalam diamnya. Tapi sungguh sial karena tak sekalipun dia menemukan alasan mengapa dia amat sangat terganggu kali ini.

Kyuhyun tak bertahan lama. Matanya terbuka terburu-buru. Didapatinya Songjin bertopang dagu dihadapannya memandangi gedung-gedung dan mobil dibawah mereka.

Lalu seolah sadar bahwa Kyuhyun sedang memerhatikannya, gadis itu mulai bicara, “apa yang akan terjadi kalau seseorang lompat dari ketinggian ini??”

Mata Kyuhyun membelak lagi. “kau benar-benar idiot.” Hina Kyuhyun pada awalnya. Berapi-api seolah dapat melahap gadis itu dalam satu kali telan. “hanya karena tidak bisa berenang, lalu kau ingin lompat dari ketinggian begini?”

“Ya ampun!” Songjin tak kalah memekiknya. “aku tidak sebodoh itu untuk rela mati hanya karena kehabisan cara mendekati pria yang kusukai Cho Kyuhyun! Kukira sekarang kau yang idiot!”

Cih!

Kyuhyun jelas tidak akan setuju dengan sindiran akhir Songjin. Dia masih begitu yakin bahwa diantara dirinya dan gadis ini, dialah yang jauh jauh lebih cerdas dan gadis itu masihlah gadis teridiot yang pernah dikenalnya.

Songjin membuang nafasnya perlahan. Seperti Kyuhyun, Songjin juga menyandarkan punggungnya dikursi dan besi dibelakangnya. Lalu perlahan-lahan, menggeser fokusnya pada wajah Kyuhyun. “sejak awal pertama aku datang ketempat ini, aku selalu ingin melakukan satu hal.”

“tidur disini??” Kyuhyun menyeringai, lalu Songjin segera menggeleng tidak terlalu memerdulikan sindiran Kyuhyun mengenai hal yang disukainya itu, “aku ingin memiliki kenangan manis seperti didalam dongeng ditempat ini.”

salah satu alis tebal Kyuhyun, langsung terangkat naik sarat akan gambaran penuh tanya, sekaligus menghina lagi dan lagi. “kau terlalu banyak membaca dongeng Park Songjin. Kalau kau menggantungkan hidupmu pada cerita semacam itu, kau tidak akan pernah merasa puas. Akhir yang bahagia hanya ada didongeng saja sedangkan kau hidup di dunia nyata. Bangunlah!!”

Kyuhyun menjentikkan jari tepat didepan bola mata besar Songjin hingga gadis itu mengerjap berulang kali sambil mendesis dan menggaruki hidungnya. “kau yang sepertinya kurang memiliki cara berfikir terbuka.”

Melihat Songjin bertingkah seolah gadis itu memiliki jumlah otak yang utuh, Kyuhyun hanya memutar bola matanya tidak perduli. “kadang aku berfikir kalau suatu saat Changmin Oppa akan memintaku untuk menjadi pacarnya disini. dari ketinggian ini.”

Kyuhyun tertawa tipis mendengarnya, “mungkin maksudmu kau yang memintanya untuk jadi pacarmu disini? karena kalau nanti dia menolakmu, kau bisa langsung terjun!” pemuda itu merasa lucu sendiri dengan ucapannya.

Tawa yang semula hanya dikeluarkan tipis-tipis kini semakin heboh hingga perutnya terasa sakit. Tak perduli dengan Songjin yang mendengus-dengus karena merasa tidak dihargai. “kau ini kenapa ingin sekali aku lompat dari sini, huh? Kau teman macam apa??”

Bibir tipis warna pink milik Park Songjin mengerucut— pipi gadis itu menggembung besar. “tentu saja. kalau kau melompat, setidaknya ulahmu berakibat mengurangi populasi orang bodoh—“ Kyuhyun tertawa sangat kencang.

Songjin berdecak. Cho Kyuhyun memang kadang tidak dapat dikendalikan. Entah itu mulutnya, atau sikapnya. Entah bagaimana Gyuwon dapat bertahan dengan pria ini begitu lama? Songjin selalu menanyakan hal tesebut seorang diri.

Songjin kemudian memilih diam saja. memerhatikan pemandangan sebelum kincir angin mereka menyentuh posisi dasar sambil memikirkan banyak hal. Tanpa disadari, mulutnya bergerak lagi tanpa komando. Hanya mengikuti instingnya, bahwa “aku ingin merasakan hal manis seperti itu satu kali saja. apa aku benar-benar tidak pantas merasakan hal seperti itu?”

Entah pertanyaan itu dilontarkannya kepada siapa, karena Kyuhyun yang mendengar Songjin bertanya, sama sekali tidak berminat untuk menjawab pertanyan gadis itu karena tak tahu harus menjawab apa.

Beginilah yang sebenarnya, Kyuhyun bukanlah pria manis yang sering melakukan hal manis untuk gadis-gadis. Kyuhyun adalah pria yang selalu ingin jauh dari kata repot. Dia akan memilih cara semudah mungkin untuk menghindari kata repot.

Dia akan berkata ‘ya’, pada semua pertanyaan ajuan orang tuanya. Tak perduli suka atau tidak. Dia tahu, karena dengan menjawab ‘tidak’ akan ada satu-dua bahkan tiga deret pertanyaan yang muncul hanya untuknya.

Dia akan menjawab ‘tidak apa-apa. aku baik-baik saja’ jika suatu saat nanti, mungkin Siwon akan berkata jujur padanya bahwa sebenarnya pria itu menyukai Gyuwon sejak lama.

Karena Kyuhyun tahu, akan muncul pertanyaan baginya jika dia mengeluarkan reaksi lain. Pertanyaan lain seperti, ‘kenapa harus Gyuwon?’ atau bahkan menjawab singkat bahwa sebenarnya dia memang kenapa-kenapa.

Kyuhyun tak ingin repot. Hidupnya sudah rumit hingga dia tak pernah berniat ingin menambahkannya dengan kerumitan lain.

Dan yang Songjin kemukakan tadi adalah satu dari deretan keinginan para gadis-gadis, yang jelas pasti akan sungguh merepotkan untuk dilakukan.

Apakah nanti, lalu sang pria harus menyediakan bunga? Hadiah? Cokelat-cokelatan? Tidak. Itu sama sekali bukan dirinya, tapi yang mengejutkan adalah, hal merepotkan itu pernah melintas didalam kepalanya.

Bahwa nanti, dia akan melakukan hal seperti itu. Bahwa nanti dia ingin sekali melamar Gyuwon ditempat yang ratusan gadis katakan, adalah tempat paling romantis kedua setelah menara Eiffel.

Persetan dengan orientasi seksual Gyuwon yang kadang sering melenceng, bahwa gadis itu adalah seorang gadis, tapi begitu menggemari hal-hal berbau pria.

Gadis manapun pasti akan luluh jika dicekoki dengan hal semacam itu, iyakan?

Cho Kyuhyun pria yang bahkan belum genap 20 tahun itu, sepertinya memiliki sesuatu yang salah didalam kepalanya hingga telah berfikir jauh kesana.

Bahwa suatu saat nanti, dia akan membangun keluarga kecilnya bersama gadis yang disukainya. Lee Gyuwon.

Bahkan jika ingin bertingkah arogan, mengesampingkan logika, dan bertindak sembrono, dia mau mau saja melamar gadis itu sekarang. Mengajak gadis itu untuk tinggal bersamanya dengan modal harta ayahnya saja. toh mereka bukan berasal dari keluarga yang kekurangan. Dan ayahnya, pasti akan membolehkan saja asal dia dapat mempertanggung jawabkan pilihannya.

Yang menyedihkan adalah, karena pada kenyataanya hubungan mereka kandas sebelum Kyuhyun benar-benar sempat merealisasikan hal tersebut.

Dia dan Gyuwon berpisah. Dan perpisahan itu dipicu hal sederhana saja. gadis itu tidak mencintai Kyuhyun, yang Kyuhyun baru sadari belakangan ini saja. dia selalu berusaha menyangkalnya, namun ternyata rasanya sungguh tidak nyaman terus menerus berada dalam kepura-puraan.

Yang tidak dipahaminya adalah dari 7 triliyun manusia diplanet bumi ini. dari puluhan Negara yang bumi miliki, mengapa harus Korea? Dan dari milyaran jumlah pria, mengapa harus pria yang tinggal satu atap dengannya?

Mengapa harus kakaknya?

Mengapa harus Choi Siwon?

Kyuhyun tidak pernah merasa begitu terganggu menjadi seorang anak tiri selama hidupnya, namun baru kali inilah dia merasa tak nyaman.

Sungguh ingin berada jauh dari wajah pria bernama Choi Siwon itu, tapi apa daya? Mereka tinggal bersama.

Sungguh ingin marah. Dia sudah marah sebenarnya, yang walau sepertinya tidak pernah disadari Siwon bahwa Kyuhyun sedang dalam aksi protes kepadanya.

Sungguh, Kyuhyun ingin sekali lepas dari kediaman megah itu, dan hidup seorang diri. Atau setidaknya, menjauh dari Choi Siwon. Atau setidaknya, dia bisa bekerja. Tak masalah tinggal ditempat yang lebih kecil. Tak masalah jika kendaraan roda empat miliknya harus diganti dengan roda dua hingga dia cukup mampu untuk membeli sebuah mobil menggunakan uangnya sendiri.

Cukup menyedihkan. Pemikiran kelewat dewasa itu terlintas dari isi kepala seorang pemuda tak lebih dari 20 tahun usianya. Sungguh amat disayangkan karena mudah sekali membayangkan betapa sibuk dan rumitnya cara berpikir pemuda itu yang tak dapat seimbang dengan pemuda-pemuda seusianya.

“kau terlalu naïf, Kyuhyun-ah. Akhir yang bahagia memang hanya ada didongeng saja tapi kita juga mempunyai kesempatan yang sama untuk membuat akhir bahagia walaupun tidak sesempurna didalam dongeng.”

Kyuhyun tidak bisa tidak melirikan mata kearah Songjin. Untuk sesaat dan dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Dalam kondisi tidak mendesak dan cenderung sedang tidak dibutuhkan, Park Songjin dapat menjadi sangat cerdas. Itu selalu membingungkan Kyuhyun sebenarnya.

Apa jatuh cinta semakin membuat gadis ini mendadak cerdas? Atau patah hatilah yang membuat otaknya bekerja menjadi lebih bijaksana? Entahlah.

“kau tidak panas lagi.” Beritahu Kyuhyun setelah merasakan suhu tubuh Songjin ditelapak tangannya pada kening gadis itu. “besok masuk, okay!”

itu tidak terdengar seperti pertanyaan atau ajakan melainkan perintah. “huh?”

“jangan huh. Tapi okay.” Kyuhyun tampak seperti seorang ayah yang sedang memberitahu anak perempuannya. “aku membutuhkan bantuanmu, sedikit.” Kata Kyuhyun menunjukan ibu jari dan telunjuknya mendekat. Menunjukan seberapa besar bantuan yang dia butuhkan dari Songjin. “okay?”

sebenarnya suhu tubuh Songjin masih cukup hangat. Tapi dengan istirahat cukup dan memakan makanan yang pantas, Kyuhyun yakin Songjin akan sehat seperti semula esok hari.

Tidak ada alasan bagi gadis itu untuk membolos. Toh dia telah tertinggal 5 mata pelajaran hari ini. dan dengan kemampuan otak yang sedikit itu, agak cukup sulit sepertinya bagi gadis itu menyusul.

Lagipula toh, sekolah akan terasa tidak menyenangkan jika tidak ada gadis itu didalamnya.

Setidaknya… bagi Kyuhyun seperti itu.

~~ ~~

Jadi dikeesokan harinya, Songjin benar-benar menemukan Kyuhyun membawanya kesana kemari. Ke cafeteria sekolah, lapangan, kelas pria itu untuk beberapa saat saja, lalu terakhir ruang club baseball.

Ruangan yang pernah Songjin masuki sebelumnya, lalu terpergok oleh banyaknya anggota club olah raga itu yang membuat Kyuhyun pada akhirnya tersudut, harus menjelaskan secara runtun bahwa benar, dia membawa gadis itu bersamanya keruangan itu tapi mereka sungguh tak melakukan apapun.

Kyuhyun tidak heran dengan pertanyaan menyudut dari teman-teman satu clubnya, mengingat dia juga pria, dan secara langsung maupun tidak, dia tahu apa yang pria-pria itu pikirkan.

Lagipula Park Songjin cukup menarik untuk ‘dipermainkan’ jika itu yang dia inginkan. Maksudnya.. kenakalan pria. Tapi yang benar saja, Park Songjin? Apa stock gadis-gadis disekolahnya telah menipis atau apa? Kenapa harus Park Songjin jika masih ada Pamela Smith? Gadis campuran Korea – Inggris – Ukraina?

Kenapa harus dengan Park Songjin jika masih ada Naomi Han? Gadis berdarah Jepang – China? Oh ya Tuhan.. Kyuhyun tidak pernah mampu memahami teman satu clubnya ketika itu. Dia tidak bisa berhenti memutar bola matanya ketika itu!

“Umm..” Kyuhyun mengangkat tangannya menginterupsi Shim Changmin— sang ketua yang sedang berbicara didepan seluruh anggota sambil sesekali mencoretkan spidol dipapan tulis dibelakangnya. “aku ada sedikit ide, mungkin bisa membantu permasalahan kita untuk saat ini.” senyum Kyuhyun tampak sedikit kaku.

Lalu Songjin mendadak panic tak dapat berbicara, juga tidak dapat mengangkat kepalanya saat Kyuhyun menginterupsi rapat, dan seluruh pasang mata, hanya tertuju pada mereka. Gadis itu segera bersembunyi dibalik punggung Kyuhyun, memblock wajahnya sendiri secara perlahan namun pasti.

“Ya?” sejenak, mata Shim Changmin melirik Songjin dibalik punggung Kyuhyun. Dia sebenarnya ingin menendang bokong Kyuhyun hingga pria itu terpental sangat jauh karena berani-beraninya membawa gadis kedalam ruang club mereka. Lagi.

Dan sialnya, mengapa harus Park Songjin yang dibawa? Oh ayolah, seisi sekolah tidak ada yang tidak tahu bahwa hubungan Cho Kyuhyun dengan Park Songjin, kadang terlihat cukup membingungkan. Namun yang benar saja! Kyuhyun tahu betul betapa dia begitu menyukai Songjin!

Kyuhyun berdehem. Cukup canggung juga ternyata dipelototi oleh banyak pasang mata. “tentang seragam baru club ini—“ perlahan tapi pasti Kyuhyun menarik Songjin dibalik punggungnya agar tak bersembunyi lagi. “Hei!” dia berbisik kepada Songjin pelan, menoleh sebentar.

“mungkin kita tidak perlu membayar seorang pendesain dari luar sekolah, karena aku memiliki kenalan yang cukup mahir mendesain.” Songjin kontan mengerjabkan matanya puluhan kali.

Dia menoleh pada Kyuhyun semakin membuatnya tampak bagai idiot dan menggantinya memandang Changmin— begitu seterusnya. Lidahnya kelu, namun bibirnya telah terbuka siap untuk berbicara.

‘apa-apaan? Mendesain apa? Kenapa harus aku? Kenapa aku dibawa-bawa?’ sungguh seluruh pertanyaan itu akan Songjin keluarkan namun lidahnya tidak bisa bekerjasama, dan dia hanya dapat membuka mulut— berbicara bagai manusia penderita penyakit yang kekurangan oksigen, “ap— apa? Hu— h?”

“Songjin cukup mahir dalam mendesain. Dia bukan seorang professional, tapi mungkin dia bisa membantu menekan pengeluaran kita. Toh kali ini kesempatan terakhir kita berada didalam club ini, karena tak sampai 4 bulan lagi kita sudah ditendang oleh deretan junior—“

Kyuhyun menyeringai menunjuk deretan anak baru anggota baseball nya. Jelas masih terlihat newbee dengan perawakan polos, tubuh tak cukup berotot dan sikap santun— patuh pendiam.

“menekan budget.”

Shim Changmin sempat diam ditempatnya. Hanya memutar-putar spidol ditangannya tanpa berkata apapun selama lima detik lamanya.

Mendadak terasa ada lilitan diususnya hingga dirinya pikir dia perlu segera bergegas ketoilet, namun nyatanya secara logika dia tahu apa yang sedang terjadi. Sungguh, kini harusnya dia berterimakasih kepada Kyuhyun yang teramat sangat baik hati padanya.

Tapi dia adalah seorang ketua dengan kredibilitas terbaik jadi well— tidak bisa langsung mengiyakan, ‘kan? “Uh— hmm..” Changmin bertingkah pura-pura memikirkan usul Kyuhyun begitu serius.

Sedang ditengah jeda sang ketua berfikir, kondisi ruangan menjadi riuh. Beberapa mengangguk setuju dan saling berbicara pada kiri kanan mereka bahwa pendapat Kyuhyun benar adanya.

Lalu Songjin sendiri, entah lebih pantas disebut korban, atau tersangka kegaduhan, gadis itu buru-buru melotot pada pemuda disampingnya menuntut penjelasan. “aku sudah bilang, aku butuh sedikit bantuanmu, ‘kan kemarin??”

Bahu Kyuhyun bergerak saat dia berbicara. Dia mengingatkan lagi kata-katanya diatas wahana kincir angin kemarin pada Songjin. “iya aku ingat, tapi aku kira kau akan melakukan hal lain. Bukan ini!!”

Mendadak Songjin terserang kepanikan tingkat internasional – planet – semesta. Gadis itu mendadak ingin buang air kecil saking merasa gugup, dan Kyuhyun menyadarinya.

Entah merasa lucu dengan reaksi berlebihan Songjin, atau puas karena juga telah berhasil mengerjai gadis itu, Kyuhyun tertawa. Menyembunyikan tawa itu dengan tangan yang menutupi setengah wajahnya sesekali sambil menggeleng kepala. “bersikaplah normal Park Songjin, jangan seperti cacing kepanasan.”

“well aku memang kepanasan. Disini terlalu banyak pria ‘panas’” sindir Songjin sarkas “kau tidak termasuk.” Tambahnya sebelum Kyuhyun merasa bawa pria itu adalah salah satu dari deretan pria-pria berperut kotak-kotak, dengan otot besar menonjol berkat latihan siang dan malam.

“ya ya ya ya” Kyuhyun memutar matanya enggan, “tapi pria tidak panas ini baru saja membantumu untuk mendekati incaran yang selama ini hanya berani kau pandangi dari kejauhan saja, tidakkah kau menyadarinya?” Songjin mendengus sebal karena tidak menemukan sedikitpun kesalahan, dari ucapan Kyuhyun tadi. “berterimakasihlah padaku Park Songjin. Kau tidak harus tenggelam lagi kali ini untuk berdekatan dengan orang itu.” Bibir Kyuhyun berada tepat disamping telinga Songjin.

“setelah aku pikir, pendapatmu— baiklah, kukira itu pendapat yang cukup bagus.” Shim Changmin menyudari aksi tingkah palsunya dan Kyuhyun— satu-satunya yang menyadari hanya menaikan satu alis tinggi sembari menyeringai, mengejek Changmin dari kejauhan saja. “— tapi apa, Songjin setuju? Aku tidak ingin menganggu—“

“SETUJU!!”

demi Tuhan mendadak Kyuhyun merasa malu setengah mati telah membawa gadis ini bersamanya kini. Sikapnya jelas berbanding terbaik dengan beberapa menit lalu yang protes dengan aksi semena-mena Kyuhyun.

Sadar lagi dan lagi dipandangi seksama, Songjin menurunkan satu tangan yang diangkatnya tinggi. “aku—“ katanya menurunkan nada suara. Membuatnya terdengar lembut, anggun dan malu-malu, namun sungguh menggelikan bagi Kyuhyun. “aku tidak masalah.”

Dan semuanya dimulai sejak setelah rapat itu berakhir. Disini, kali ini, Cho Kyuhyun adalah seorang pahlawan. Dua belah pihak pemeran utama itu menyadarinya.

~~ ~~

“Tamu baru.” Han Jo Sung berbisik pada suaminya setelah melihat motor Shim Changmin masuk kepelataran halaman. Changmin sempat tersenyum dan bertanya dimana Songjin berada kepada mereka.

Memberitahu bahwa dia sudah membuat janji untuk bertemu dengan putri pemilik rumah ini dengan segala rentetan alasan tambahan yang sebenarnya tidak diperlukan pria itu untuk dijelaskan lagi kepada pasangan penjaga kediaman megah itu. Han Jo Sung dan Han Goora.

Pagi tadi Songjin telah berkata kepada asisten rumah tangga dirumahnya itu. Mewanti-wanti jika nanti, ada tamu untuknya. Songjin berkata, bahwa itu temannya, walau kadang, Han Goora cukup sangsi nona mudanya mampu memiliki teman selain dua cecunguk kakak beradik yang sering mondar-mandir mendatangi kediaman keluarga Park tersebut.

Lalu apa yang Songjin katakan benar adanya. Orang itu datang. Sungguh Han Jo Sung tak pernah melihat tamu lain bagi nona mudanya selain Kyuhyun ataupun Siwon.

Maka kali ini, dengan gembira, senang hati Han Jo Sung mengantarkan Changmin sampai dimana Songjin berada. “Songjin?”

“password!!” suara cempreng Songjin membuat Changmin terkekeh pelan. Dia berpandangan dengan Han Jo Sung, lalu pesuruh wanita itu hanya tersenyum kecut saja. “bello?”

“itu password lama.”

mi scusi?”

“itu juga lama!!”

Han Jo Sung terpekur diam memikirkan ulah nona mudanya. Disela sibuknya Han Jo Sung berfikir, Shim Changmin seksama memperhatikan betapa tidak main-mainnya, luas kediaman milik Songjin yang baru kali pertama dia sambangi.

Dan ditempat sebesar ini, mengapa terasa begitu kosong? Hanya tampak hidup pada lantai teratas saja— karena sepenuhnya, lantai itu dimonopoli oleh gadis bernama Park Songjin yang tulisan nama itu terukir didinding berwallpaper awan biru lembut.

Park Songjin. Mendadak ada rasa senang merayapi hati Changmin. Mungkin, itu karena pada akhirnya dia dapat datang ketempat yang sungguh sangat ingin didatanginya sejak lama, namun tak memiliki keberanian ini.

Menyedihkan. Jika diutarakan, dia akan ditertawai habis oleh ototnya yang besar besar itu. “Ah! Man—“

Tak sampai wanita berusia 40-an itu selesai bicara Songjin sudah berteriak lagi dari dalam ruangannya, “itu juga yang lama!”

Sungguh. Han Jo Sung ingin berteriak karena kesalnya. Password sialan! Dia bahkan tak tahu apapun sebenarnya tentang ulah majikannya yang sering mempermainkannya itu, namun sering memaklumi dan mendiamkan saja, sadar bahwa nona mudanya itu sungguh sangat membutuhkan perhatian yang tak begitu didapatkan dari kedua orang tuanya.

Park Songjin tumbuh dalam limpahan kasih sayang begitu banyak. Sungguh. Untuk hal itu tak perlu dipermasalahkan lagi. Namun perhatian adalah persoalan berbeda.

“Yaaa Babi air!” bukan hanya Han Jo Sung saja yang terkejut. Begitupun Shim Changmin. Kedatangan mendadak Kyuhyun membungkam pesuruh wanita itu urung berbicara, dan Shim Changmin yang membelak terkejut atas kehadiran Kyuhyun entah sejak kapan disana.

Kyuhyun berusaha membuka gagang pintu namun terkunci. “buka pintunya! kau sedang menyembunyikan makananmu atau tidak berpakaian??” teriak Kyuhyun tak pakai ampun.

Lalu mendadak, ada suara gaduh dari dalam. Tak sampai dua menit pintu kayu bercat putih gading itu terbuka lebar. Menampilkan gadis dalam balutan piyama beruangnya. Sandal kelinci super besar dan kening yang ditutupi penutup mata. “CHO PABO KYUHYUN!!” Songjin memekik.

“KAU PANGGIL AKU APA TADI? KAU MAU MATI??” lalu begitulah semua selsesai. Han Jo Sung perlahan mundur dari tempatnya setelah nona mudanya tampak ‘hidup’.

Lantas Shim Changmin, untuk sesaat terpekur diam ditempat saja menonton betapa kedua sahabat itu saling menyiksa. Bekap membekap. Pukul memukul. Jambak menjambak dan tendang menendang.

Ada rasa iri yang perlahan muncul. Bahwa hubungannya dengan Gyuwon pun sama dekatnya dengan dua orang ini, namun tak dipahaminya, mereka tidak bisa bersikap seperti yang kini matanya lihat.

Ada rasa iri, juga pertanyaan bahwa apakah bisa suatu saat nanti posisi Kyuhyun seperti itu, digantikan olehnya? Dia.. sepertinya dia merasa bahwa dia tidak seasyik Cho Kyuhyun.

~~ ~~

“karena ini uhm—“ Songji berdehem, mengambil gelas lemon tea yang sejak tadi tak pernah disentuhnya diatas meja— menyesapnya untuk menyingkirkan gugup karena Shim Changmin duduk tepat disampingnya.

Terlalu dekat. Sungguh, dia capat mencium aroma wewangian pemuda itu. Manis. Terlalu manis untuk ukuran lelaki berotot penyuka olahraga ekstrem. Tapi cukup nyaman untuk membuat Songjin tak pernah berhenti menarik nafas secara brutal, alih-alih menyingkirkan gugup, dia mengisi paru-parunya dengan aroma yang mulai detik ini, pastilah akan tercepatk jelas didalam kepalanya dengan sangat baik.

“pakaian olah raga, apa tidak sebaiknya dibuat dengan bahan yang uhm— tidak cukup tebal? Maksudku— kalian berlari kesana kemari.. berkeringat… uhm—“

Songjin jelas sangat gugup Kyuhyun tahu itu, namun pria itu diam saja. tugasnya disana sebenarnya tidak lebih dari patung yang terpaksa disisipkan karena payahnya Park Songjin tak ingin menghadapi Shim Changmin seorang diri saja.

Dia takut. Alasan Songjin yang gadis itu gunakan untuk memaksa Kyuhyun agar datang juga kerumahnya hari ini. padahal ini hari libur dan Kyuhyun telah berniat ingin tidur dan bermain game saja sepuasnya satu hari penuh.

“aku paham aku paham.” Angguk Changmin sedikit bingung dan merasa tak enak karena Songjin tampak tak nyaman dengan posisinya kini. “kau baik-baik saja?” akhirnya Changmin menanyakannya.

Dia tidak ingin keberadaannya malah mengganggu kenyamanan Songjin. Jika gadis itu tidak nyaman berada didekatnya, tak masalah. dia bisa menjauh. Walaupun sebenarnya, itu terdengar cukup bodoh, karena dia tidak ingin melakukannya.

“aku—“

“dia okay.” Ibu jari Kyuhyun terangkat. Pria itu menanggapi sambil bermain psp duduk bersila. “dia hanya kelaparan.” Lalu melirik jam dinding diatas wall of frame milik Songjin. Jam dinding yang tidak satu tokopun dibelahan bumi ini menjualnya, karena gadis itu membuatnya sendiri bersama ayahnya. “sudah lewat jam makan siang bahkan.” Kyuhyun menambahkan.

Lalu Songjin mencibirnya, “bilang saja kau lapar!” sindiran itu jelas tidak membuat Kyuhyun merasa tersindir. Pria itu hanya tertawa tanpa mengalihkan fokusnya sambil mengangguk-angguk. “mm. apa bibi Han sudah memasak untuk kita?”

“bagaimana kalau—“

“Oh tidak tidak. Tidak Songjin.” Kyuhyun buru-buru mempause gamenya. Menggeleng brutal kepada Songjin. Dia tahu apa yang akan gadis itu tawarkan dan seketika buku kuduknya meremang.

Sedangakan Changmin tak tahu apa-apa, hanya memandangi dua orang didepannya itu diam bergantian. Memperhatikan raut Kyuhyun tidak sedikitpun menunjukan gurauan, bahwa pria itu memang ketakutan. “aku lebih baik memakan makanan basi daripada memakan masakanmu. Toh berakibat sama pada akhirnya.” Ceplas-ceplos Kyuhyun berkata.

Sungguh membuat Changmin langsung menyemburkan tawa, dan tentu pelototan besar dari mata Songjin. “Kyuhyun-ah!”

“demi Tuhan Songjin, kau masih belum juga sadar kalau masakanmu itu racun??”

“tutup saja mulutmu!!” Songjin membentak. Cho Kyuhyun sialan! Langsung ataupun tidak pria itu benar-benar merusak reputasi seorang gadis rumahan baik-baik nan manis dimata Changmin, menjadi gadis metropolitan tolol, yang tak bisa mengerjakan satupun pekerjaan rumah tangga.

Well— walau nyatanya memang separah itu. seperti itu buruknya.

“kau tidak sedang berniat menambah jumlah korbanmu ‘kan?”

Songjin mendengus bersedekap. Bibir menarik itu dengan sialannya mengerucut hingga Shim Changmin yang melihatnya, lalu mendadak merasa seperti baru dihantam godam tersenyum merunduk. “aku bisa memasak, kalau ada yang tertarik.” Beritahunya menyudahi perang mulut dua sahabat disana.

“benarkah?” Kyuhyun adalah orang pertama yang menjatuhkan rahang, lalu disambut oleh Songjin sesudahnya. Changmin mengangguk “hanya masakan sederhana tapi kalau kalian tertarik—“

“Oh demi Tuhan! Percaya denganku, aku sungguh sangat tertarik!” lagi-lagi Songjin membuang nafas kencang ketika Kyuhyun mempermalukannya untuk kedua kali. Dia hanya melirik Kyuhyun disisinya mengumpat sebanyak yang diinginkannya dalam hatinya.

Maka 15 menit terakhir ketiganya habiskan didalam dapur. Mereka berniat memasak masakan paling sederhana yang katanya, Changmin sangat tahu resepnya. Nasi Goreng Thailand.

Lalu sejenak, Songjin terpekur diam memerhatikan nasi didalam penggorengan disampingnya. Ditangan Changmin sedang diaduk rata. “aku tidak mengerti. Apa bedanya dengan nasi goreng kimchi?” begitu polosnya Songjin berujar.

Tak sampai 3 detik kepala gadis itu didorong oleh tangan jahil Kyuhyun. “tentu saja berbeda. Nasi goreng kimchi jelas mengandung kimchi didalamnya sedangkan nasi goreng Thailand tidak!”

Sungguh! Benarkah jawaban itu keluar dari mulut pemuda yang katanya memiliki IQ 138? Sungguh tidak masuk akal. Dan lagi-lagi Songjin hanya dapat mencibir pelan lalu kembali menggeluti telur yang sedang digorengnya.

“Hei apa apinya tidak terlalu besar? Aku kira harus dikecilkan?” Kyuhyun menunjuk api dibawah penggorengan Songjin. Besarnya tidak main-main. Kalau sebesar itu, kemungkinan besar telur mereka akan matang dalam waktu tak sampai 3 menit lalu menghitam, kering seperti keripik.

Songjin mencibir Kyuhyun tak perduli. Dia terlampau sibuk pada pekerjaannya, menekan telur dipenggorengan dengan spatula. Hanya memberikan dengusan saja kepada peringatan Kyuhyun hingga pria itu merasa sungguh ingin melemparkan pspnya kekepala keras Songjin.

“apinya lebih baik dikecilkan. Tidak sebesar itu.” Perintah Changmin, lantas Songjin cepat mengerjakanya. Menurunkan kondisi api menjadi kondisi api sedang.

Menghentikan permainan Kyuhyun dengan pspnya hanya untuk memerhatikan tak percaya ketidakadilan baginya saat ini.

Dia sungguh ingat bahwa dialah yang pertama memberikan peringatan sialan itu, apa orang yang sedang jatuh cinta memang akan selalu menyebalkan seperti Park Songjin?

Ah entahlah, dia sudah lupa rasanya jatuh cinta. Baginya itu seperti sudah lama sekali terlewat. Jauh.

“sudah kau tambahkan garam??” seperti mendapatkan serangan Guntur, Songjin terdiam sejenak. Berfikir setengah mati apakah tadi dia sudah memasukan garam atau belum.

“….. aku lupa.” Jawabnya polos setelah berfikir begitu lama namun tak menemukan jawaban. “rasanya sudah.”

Bagi Shim Changmin, kebodohan Songjin kali ini adalah hal tolol yang menghibur sedangakan bagi Kyuhyun, tentu saja tak perlu ditanya lagi. Baginya Songjin adalah gadis tertolol dari yang tertolol. “sudah. Kau tadi sudah menumpahkan satu dus garam kedalam telur malang ini—“

“benarkah?” Songjin menyengir lebar dan Kyuhyun mengangguk. “besok lagi, lebih baik kau memakai alat pengingat milik nenek-nenek, arra!”

“eish!” Songjin mengibas, “akan lebih enak kalau ditambah merica sedikit.” Papar Changmin lagi, disambut begitu baik oleh Songjin— tak sampai 2 detik langsung menggapai botol merica didekatnya.

Kyuhyun lah yang pertama menjadi panic berteriak, “Woah!!” pekiknya histeris. “santai!” ujarnya. Entah sebenarnya lebih pantas ditujukan kepada siapa. Dirinya yang berlebihan atau Songjin yang memandanginya seperti orang tolol diam saja mengerjabkan matanya.

“biar aku saja, okay?” Kyuhyun terlihat begitu ingin berpartisipasi— begitu yang Shim Changmin tangkap hingga ketua baseball itu hanya menyengir kering.

Kyuhyun membubuhkan merica botolan dua kali tabur begitu hati-hati. Inilah perbedaan besar pada diri dua makhluk anti kompor tersebut bahwa Cho Kyuhyun menyadari kodrat dia tak cocok berada didapur dan tak sanggup melakukan apapun kecuali menghanguskan wajan saja, sedangkan Park Songjin begitu menggebu – nafsu – ingin memasak semua bahan masakan dilemari pendingin.

“cukup?” Kyuhyun tidak langsung meletakkan botol merica itu kembali ketempatnya, namun menoleh pada Changmin lebih dulu.

Changmin tampak sedikit terkejut pada awalnya, walau kemudian dia mengangguk, “ya. Kukira cukup—“ jawabnya sesungguhnya kurang yakin.

Dia tidak memerhatikan berapa banyak Kyuhyun menuangkan merica ditelur tersebut tadi. dia hanya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

2 menit setelahnya nasi goreng beserta telur matang. Masih dalam kondisi panas, Songjin memindahkan telur keatas piring kosong. Menyobeknya sedikit dan meniup.

Asap mengepul tampak heboh lantaran telur itu baru saja matang. Lalu potongan telur itu segera dilahapnya. Decakan takjub atas kemampuan memasak yang Songjin kira adalah miliknya terlontar, “enak sekali.” Beritahunya heboh menarik perhatian Kyuhyun, pria malang yang sedang sangat kelaparan itu langsung membuka mulutnya sambil tangannya sibuk dengan psp.

Pemandangan kedua. Kedua yang membuat Shim Changmin lantas mau tak mau menarik ulur sesuatu didalam hatinya— entah itu apa, namun terasa tak nyaman.

Lagi dan lagi dia membandingkan hubungannya dengan Gyuwon— karena memiliki awal pertemuan nyaris sama seperti Kyuhyun, Songjin, namun tak memiliki hubungan sekuat ataupun semenarik mereka.

Lagi-lagi dia harus berfikir, dimana letak kesalahan dari pertemanannya dengan gadis penyuka bela diri itu. Mereka yang salah, atau memang ada yang tak beres pada hubungan dua orang didepannya ini?

Atau.. bagaimana??

Tunggu dulu dia tidak harus peduli dengan hal itu ‘kan? yang harus dilakukannya adalah membuat Songjin menyukainya. Itu tidak sulit rasanya.

Tidak, dia sering membuat para gadis disekolah menjerit histeris hanya dengan lemparan senyuman saja. hanya satu gadis lagi, tidak perlu dipusingkan rasanya.

Tapi mungkin agak sedikit repot. Disini, dimanapun, akan selalu ada Kyuhyun disekitar gadis ini. Tunggu.. dia tidak sedang cemburu kan??

155 thoughts on “Que Sera [First and Second] — 1

  1. Changmin songjin sebenernya Sama2 suka tapi kyu gak mau jadi jembatan hubungan mereka berdua. Kyu sok2an bilang apa enaknya mencintai diam2 eeh gak tau nya dia juga ngelakuin itu kan.. Mau setolol apa songjin tetap lah songjin dengan segala kelebihan nya. Hhh

  2. Chang min sama song jin sama sama ga sadar kl saling suka wkwkwk. Kyuhyun masih aja mikirin gyuwon. Udalah kyuuu lepasin aja hehehehe

  3. dari dulu sampai sekarang pas udh nikah tetap aja makanan yg di masak songjin ky racun tak ada kemajuan sama sekali tp pas ada yg ngajarin dan di perhatikan dalam memasak hasilnya lumayan menakjubkan😂😂, daebakk lah chanmin cemburu sama kebesamaan dua sahabat yg absurd😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s