Monologue – Little Secret {Cho Kyuhyun}


 

Monologue – Little Secret [Cho Kyuhyun]

By: GSD

Hai!

Namaku Cho Kyuhyun. Aku akan sedikit bercerita. Tak banyak. Hanya beberapa yang kuanggap menarik. Hidupku salah satunya. Terlalu menarik sampai aku agak kesulitan, untuk memilah, mana yang kuanggap pantas untuk kubagi dengan kalian.

Jadi, mari kita mulai.

Kalian, kenalkah dengan wanita ini?

Yeah, benar. Namanya Park Songjin. Kuubah menjadi Cho Songjin 3 tahun lalu, tepatnya 20 Desember 2011 dengan sedikit unsur paksaan yang wanita itu kira, awalnya, adalah ulah ayahku dan ayahnya— saling bersekongkol untuk menikahkan kami agar perusahaan kami menjadi lebih besar.

Well— aku tidak bisa berkata tidak dengan kalimat bahwa pada awalnya, itu adalah ide orang tuaku. Ayahku lebih tepatnya.

Kkkk~ alasan konyol sebenarnya. tampak seperti didalam serial drama televisi bukan? Harus kuakui rencana para orang tua adalah yang terhebat. Dan aku harus cukup bersyukur bahwa wanita yang akan kunikahi saat itu tidak cukup cerdas untuk memahami bahwa dia sedang dikerjai oleh seluruh orang disekitarnya. Termasuk aku.

Tapi yeah, anggaplah seperti itu. Perjodohan. Pada awalnya akupun menanggapnya begitu, karena kurasa, dan aku sungguh yakin lima puluh ribu persen bahwa saat itu dia masih— sangat— begitu menggilai lelaki lain bernama Lee Donghae, yang membuatku lupa bahwa sebenarnya bukan lelaki itulah yang harus kukhawatirkan, namun Shim Changmin.

Cinta tak tergapai, tak tersampaikan, tak tertangkap— ah entahlah akan seperti apa disebutnya, yang dulu pernah Songjin miliki dengan begitu menggebunya.

Kalian pasti paham bagaimana kami dapat saling mengenal, maka aku tidak akan menjelaskannya lagi. Itu terlalu membuang waktu.

Kalian pasti juga akan paham dengan satu ini yang akan aku jelaskan. Aku memanggilnya wanita barbar. Kalian tahu kenapa? Aku yakin kalian sangat memahami alasanku memanggilnya seperti itu karena ulahnya yang terlalu— bagai manusia primitive yang tak pernah melihat api sebelumnya, lalu secara mendadak menemukan kompor dihadapan mereka. Iya, istriku begitu menyeramkannya memang.

Tapi tahukah kalian, bahwa ada alasan lain mengapa aku memanggilnya ‘barbar’ dengan begitu manis? Kkkkk~ biar kujelaskan.

Pertama, caranya dalam meyikapi hal-hal yang dia sukai, sama saja seperti yang kubilang tadi, seperti manusia primitive yang tak pernah melihat api lalu dilemparkan kompor beserta tabung gasnya.

Atau seperti manusia jaman batu yang bertemu pesulap koin.

Ketika seorang Park Songjin telah menyukai sesuatu, dia sungguh akan memperlakukan sesuatu itu dengan begitu teliti. Begitu sabar. Begitu perhatian. Begitu manis. Dan begitu rapih.

Contoh nyata adalah hobi menggambar yang kemudian, perlahan menjadi pekerjaan sementaranya— sebelum butik satu-satunya miliknya itu dia tutup tanpa sepengetahuanku. Aku tidak butuh komentar siapapun mengenai hasil kerjanya, dan aku tidak terlalu senang bermulut manis, tapi untukku, Songjin selalu mengerjakan seluruh desainnya dengan amat sangat indah.

Untukku yang hanya seorang pria, yang tak tahu cara memadu padankan pakaian dengan tepat dan hanya mengerti fungsi dari pakaian, adalah untuk dipakai saja, sudut pandang seorang Park Songjin mempertegas penglihatanku, bahwa pakaian, bukan hanya sebuah pakaian. Pakaian adalah gaya hidup.

Contoh nyata kedua, lihatlah bagaimana dia begitu mengaggumi Shim Changmin— dan mampu bertahan begitu lama. Arsitektur yang dulu juga teman baikku. Tapi marilah kita tidak membicarakan pria ini karena seperti yang kukatakan, aku hanya akan menceritakan hal yang kuanggap menarik. Shim Changmin bukanlah salah satunya.

Alasan kedua…. Um.. baiklah, tolong jangan anggap aku mesum tapi hei! aku juga pria normal. Maksudku— apa kalian paham maksudku? Tentang sifat ‘barbarnya’ diranjang? Ah sudahlah, dokter Han mengatakan kami belum bisa melakukannya hingga 3 bulan kedepan pasca Songjin melahirkan.

Walaupun ini telah lewat dari 3 bulan setelah Songjin melahirkan, tapi tetap saja, untuk beberapa alasan penting dan masuk akal, mengingat putra kami masih terlau kecil, aku kira sungguh tak pantas jika mendadak akan ada kabar bahwa ‘Hei, Hyun Gi, kau akan memiliki adik! Kau senang?’ Cih! Anggap saja aku belum siap untuk memiliki yang kedua, ketiga atau selanjutnya.

Jadi, well— kukira aku harus menahannya seperti yang kulakukan saat pertama kali kami menikah dulu. Cukup sulit. tapi sampai sejauh ini, aku masih dapat ‘mengontrolnya’. Kalian paham maksudku ‘kan? Jadi doakan saja aku sanggup melakukannya. Sendiri.

Songjin, wanita itu sungguh menggilai makanan hijau berserat tinggi bernama sayuran, sedangkan aku tidak. Dia dapat terlihat seperti seekor kambing, saat sedang menyantap makanan hijau tersebut, sedangkan aku, melihatnya saja sudah ingin muntah.

Katanya, makanan-makanan itu yang akan membuat tubuhnya menjadi tampak bagai tubuh milik selebriti Hollywood Natalie Portman. Aku yakin kalian mengenal siapa Natalie Portman. Pemeran Black Swan itu adalah salah satu dari sedikit idolanya.

Jangan cibir pendapatku dulu, aku memang sangat mencintai Songjin yang barbarnya sungguh keterlaluan, tapi pendapatku tidak akan berpengaruh dan bercampur aduk dengan perasaanku terhadapnya. Kadang, aku sering beranggapan bahwa tubuhnya jauh lebih menarik daripada milik artis lulusan Harvard itu. Dan aku pernah mengatakannya. Tapi sesering aku mengatakannya, sesering itu pula dia menjawab bahwa itu hanya karena aku tak pernah melihat tubuh wanita lainnya, selain tubuhnya.

Well— dalam hal itu, Songjin benar.

Tapi sekali lagi, aku ini pria normal jadi mataku dapat menilai secara layak. Aku betul kan?

Aku berbicara mengenai tubuhnya. Bukan otaknya. Karena otak seorang Park Songjin, dengan otak seorang Natalie Portman tak bisa kusamakan. Bahkan rasanya, aku sungguh menghina almamater Harvard kalau aku mengakui otak Park Songjin lebih unggul daripada Natalie Portman.

Dalam sebuah artikel yang pernah kubaca, Natalie pernah berkata “aku tidak peduli jika perguruan tinggi membuat karirku hancur. Aku lebih memilih untuk menjadi cerdas daripada seorang bintang film.”

Itu sungguh lucu. Kalian tahu dimana letak lucunya? Karena aku sungguh sangat yakin bahwa dialog istriku akan berbeda. Dia pasti akan berkata, “aku lebih memilih untuk menjadi bintang film daripada menjadi cerdas” dan inilah yang terjadi sekarang.

Songjin memang tidak menjadi seorang bintang film, atau selebriti terkemuka, atau model ternama seperti Kim Eun Soo. Dia cukup dikenal banyak orang, aku tahu dan menyadari hal tersebut. Tapi Orang-orang banyak mengenalnya, karena dia menikahi seorang pria muda, tampan, cerdas yang kebetulan pada usia tak lebih dari 30, dapat membangun sebuah property dilahan asing— yang biasanya tak banyak orang sanggup melakukannya. Kebetulan, dia adalah orang pertama yang sanggup melakukannya.

Kebetulan, orang itu adalah aku. Cho Kyuhyun.

Kebetulan lainnya, adalah Ayahnya bernama Park Seul Gi. Pebisnis property, yang juga telah memiliki banyak asset di Asia, yang dalam kurun waktu 2 tahun saja sejak bangkrutnya, dapat merangkak bangkit dengan kepemilikan tiga gedung kondominium mewah di Boston, Amerika Serikat— dengan penjualan tertinggi pada tahun tersebut. Dengan kepemilikan akhir itu, dunia mengenalnya bukan lagi sekedar pebisnis tingkat Asia. Aku banyak mencontoh Ayah mertuaku.

Tapi, lupakan kebetulan. Aku tidak terlalu percaya dengan sebuah kebetulan. Anggap saja nasib. Anggap saja, nasibnya memang sebaik itu. Sykuri saja apa yang ada.

Songjin, wanita barbar itu, seringkali mengatakan aku hanya bermulut manis ketika aku mengatakan bahwa tubuhnya lebih menarik dibandingkan Natalie Portman. Dia akan langsung menghajarku habis-habisan sesaat setelah aku memujinya seperti itu.

Dia pikir aku sedang bermulut manis, tapi yang tidak istriku pahami, ini bukanlah perihal siapa yang memiliki tubuh lebih menarik daripada siapa, tapi siapa yang lebih memiliki tubuh lebih menarik, dimataku. Garis bawahi. Dimataku. Ini hanyalah sebuah penilaian standard dari mataku, dan untukku, miliknya adalah yang terbaik.

Aku tidak pernah berniat, atau mencoba, berniat membandingkannya dengan siapapun karena tak ada yang senang dibandingkan dengan siapapun. Aku tidak ingin dia membandingkanku dengan pria manapun maka aku akan melakukan hal yang serupa. Atau setidaknya, aku mencontohkannya terlebih dulu.

Semoga suatu saat, Songjin paham bahwa aku tidak ingin, tidak suka, tidak pernah suka, dibandingkan dengan Lee Donghae, Siwon Hyung, atau bahkan Shim Changmin—. Okay, lupakan itu. Aku sungguh tidak akan membahasnya.

Songjin, wanita berwajah polos namun jika kalian mengenalnya dengan baik, kalian akan menyesal pernah mencapnya sebagai wanita polos karena nyatanya, Songjin tidak sepolos itu.

Istriku bukan seorang wanita cerdas seperti Kim Eun Soo. Dia bodoh. aku mengakuinya. Songjin amatlah bodoh hingga terkadang aku menyerah dengan otaknya yang sedikit itu. Aku heran bagaimana caranya dapat lulus dari sekolah kami yang ketat, dan kuliah, lalu mampu mendapatkan beasiswa ke Italy ketika itu, walau pada akhirnya universitas memblokir izin beasiswanya, mencoret namanya dan mengganti dengan kandidat lain karena universitas mendapati bahwa Songjin sedang mengandung anak pertama kami, Hyun Gi.

Akan sangat panjang jika kujelaskan bagaimana Songjin sampai mengandung setelah menjalani kehidupan rumah tangga yang dingin hingga ditahun kedua kami. Ketiga. Sebenarnya ketiga, namun pada akhir tahu ketiga, predikat dingin itu tidak bisa terus menerus menjadi label rumah tangga kami. Aku lebih senang menyebutnya dengan…. Ikatan – rumah tangga – panas.

Mengapa panas? Aku yakin kalian mengerti apa alasannya. Lalu sama seperti Songjin, kalian akan mengatakan aku mesum. Oh, ayolah! Merasa bernafsu dengan tubuh pasanganmu sendiri bukanlah suatu dosa besar!

Tapi pernikahan bukan selalu tentang seks. Mengapa kusebut panas? Karena pada akhirnya, akhirnya aku mengerti alasannya bertahan untuk 2 tahun dan tahun-tahun kedepan kami. Kami saling mencintai. Sesederhana itu saja. namun prakteknya, kami membutuhkan waktu 2 tahun lamanya untuk saling mengungkapkan.

Itu belum termasuk dengan pertanyaan ‘bagaimana jika’ yang sering muncul, dan anggapan-anggapan buruk lain. Maka biar kusarankan satu hal. Jangan mencontohku. Jika kau menyukai seseorang, katakan saja secepatnya, sejujurnya, seperti apa yang kau rasakan. Kalian tidak akan pernah tahu bahwa dia merasakan perasaan yang sama jika kalian tidak pernah mencoba untuk mencari tahunya kan?

Pernikahan memang bukan selalu tentang seks, tapi aku tidak akan menyangkalnya, bahwa melakukannya dengan orang yang kau cintai, rasanya tak dapat dijelaskan dengan hanya satu kalimat terpanjang sekalipun. Menikahlah jika kalian ingin memahami maksud perkataanku! Lalu aku jamin, setelah itu, kalian tidak akan mencapku sebagai pria mesum lagi.

Park Songjin— istriku yang galak itu sungguh sangat menyukai warna pink. Dia sangat menyukai kegiatan yang katanya adalah salah satu dari olah raga, yaitu tidur. Bagiku, olah raga untuk pasangan menikah sudah jelas adalah olah raga ranjang.

Ya Tuhan! Apa aku membicarakan tentang seks lagi? Astaga! Kukira aku benar-benar harus tidur disofa selama satu bulan penuh agar hal ini dapat terkontrol selagi aku harus mengontrolnya habis-habisan. Sial!

Sampai dimana tadi aku?

Olah raga ranj— ah tidak, apa yang Songjin sukai. Benar? Iya!

Kurasa ada hal yang perlu kusampaikan lebih dulu, yang membuatku nyaris menyerah menanggapi kesukaannya untuk satu ini. berbelanja.

Berbelanja!!

Songjin sungguh terlalu sangat senang— menggilai— jatuh cinta dengan kegiatan bernama belanja. Seolah terdapat magnet antara dirinya dengan benda-benda dipusat perbelanjaan.

Seolah, terdapat seseorang yang selalu membisikinya untuk terus menerus menggesekkan kartu kredit, maupun debitnya dipertokoan ternama. Untuk persoalan ini, sesungguhnya aku setengah menyerah membuat Songjin, setidaknya sadar bahwa yang dilakukannya, adalah suatu kegiatan berlebihan.

Menyita dompet, dengan seluruh kartu-kartu miliknya dan hanya memberikannya uang cash setiap hari – secukupnya, ternyata juga bukan sebuah solusi. Dia tidak datang kepusat perbelanjaan, bukan artinya tidak berbelanja.

Kalian tahu online shop? Yeah. Aku tak pernah menang dalam hal ini jika melawannya. Tapi setidaknya, aku memiliki satu yang diinginkannya setengah mati. Yang aku yakin, bahwa Songjin akan rela melakukan apapun hanya agar aku memberikan benda ini padanya.

Black credit card.

Kartu kredit tanpa batas penggunaan. Kalian dapat membeli segalanya hanya dengan modal sebuah kartu. Bayangkan betapa berbahayanya jika istriku memiliki kartu hitam itu.

Sampai Songjin menangis darah. Sampai dia rela berlari memutari seoul sepuluh kali, aku tidak akan memberikan kartu itu untuknya. Tidak akan!

Lalu dia sangat menyukai tidur. Dia cukup pandai bermain console— setidaknya, aku memiliki lawan yang layak, disamping Siwon Hyung yang tak kadang payah dalam bermain starcraft, atau Diablo. Aku mengakuinya, permainan Songjin masih jauh lebih bagus daripada kakakku yang tak lebih tampan dariku itu.

Selain pink, penyuka tidur dan pandai bermain console, Songjin juga penyuka segala jenis makanan. Dia pemaakan segalanya. Dia harus bersyukur bahwa tabunganku masih lebih dari cukup untuk membiayai hobinya yang satu itu.

kurasa, motto hidupnya selama ini hanyalah hidup untuk Makan dan berbelanja,

Dia selalu makan,

lalu makan,

Makanan,

Berbelanja,

Makanan,

Dan…. Makan,

Tapi dari sekian banyak makanan, coba tebak apa yang paling disukainya? Yap! Benar! Ice Cream! Ini adalah salah satu ice cream dari kedai yang tak sengaja kami lewati ketika kami sedang menuju busan. ice cream jumbo yang jika aku memakannya seorang diri, bahkan tidak akan habis, tapi untuknya, satu pun kurang.

lalu ini adalah ice cream yang istriku katakan adalah ice cream terenak se-Korea.. well dia berlebihan. Menurutku rasanya biasa saja. penjualnya lah yang tidak biasa saja. penjualnya berwajah agak sedikit menarik. Itulah mengapa Songjin begitu histeris dengan ice cream ‘biasa saja’ ini.

selain ice cream, Songjin juga penggila makanan italia. Sebenarnya… dia bukan hanya menggilai makanannya saja namun Negaranya pun ikut serta. Dia sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki ke Negara penghasil pasta tersebut karena pertama kali kesempatannya kesana dulu hancur berantakan akibat ulahku. Kami. Maksudku, kami.

Namun percayalah padaku, aku mengusahakan sebaik yang dapat kulakukan untuk membawanya kesana. Mungkin untuk second honeymoon. Karena dengan begitu, aku dapat leluasa untuk melakukan— ah ya Tuhan. Otakku benar-benar kotor!

Maksudku liburan. Untuk liburan kami. Minus Hyun Gi. Sebaiknya liburan itu terlaksana tanpa ada gangguan, rengekan bayi yang meminta disusui. Atau memohon untuk diganti popoknya. Atau hanya ingin bercengkrama saja dengan ibunya.

Anggaplah kali itu aku akan menjadi sedikit egois. Aku tidak ingin berbagi milikku dengan siapapun. Bahkan dengan anakku sendiri. kali itu saja. pahamilah, dan jangan menyangkalnya. Berbagi sesuatu, milikmu yang paling kau sukai tak akan pernah mudah.

Lalu kalian pasti tahu apa akibat dari hobi memakan segalanya itu, Untung saja dia juga senang berolah raga. Maksudku— olah raga. Benar-benar olah raga dan bukan olah raga ranjang.

Um.. apa aku… mengatakannya lagi? Oh baiklah. Maaf.

Songjin pandai merangkai bunga. Tak banyak yang tahu, bahwa benar, Songjin memang sebodoh itu, namun dia menguasai hampir semua alat music yang ada. Aku tidak cukup yakin, ada banyak orang yang mampu menguasai begitu banyak alat music didunia ini. begitupun denganku. yang dapat kumainkan hanyalah piano, itupun tak seberapa hebat dibandingkan dengan kemampuan si bodoh itu.

Songjin mungkin adalah salah satu dari sedikit orang-orang itu. Waktu luangnya yang sungguh sangat banyak itu dulu, sering dihabiskannya untuk memainkan asal— hingga dia dapat memainkannya dengan benar, walau tak terlalu fasih seperti seorang professional, banyak alat-alat music yang Ayah mertuaku miliki dirumah megah nan kosong miliknya.

Penonton setianya adalah Aku, Siwon Hyung, dan dua asisten rumah tangganya, Han Jo Sung beserta suaminya. Ayah Ibuku kadang ikut menjadi penonton jika sedang berada dirumah. Hanya sesekali. Tapi jangan tanya bagaimana orang tuanya. Kalian dapat menyimpulkannya sendiri dengan keadaan hampa yang rumah Songjin sering miliki.

Harpa adalah alat music terakhir yang masih menjadi obsesinya dulu. Entah sekarang bagaimana. Sepertinya, aku harus mencari tahu yang satu itu jika aku memiliki waktu luang.

Songjin senang menggambar. Apa aku sudah mengatakannya? Gambarnya sungguh sangat indah. Kukira kini aku baru menyadarinya, otak kanannya lebih berfungsi ketimbang otak kirinya kkkk~ Tapi sepandai itu dia menggambar, wajahku tak pernah sekalipun digambarnya.

Mungkin menurutnya, aku bukanlah object menarik yang layak digambar olehnya. Atau mungkin, seleranya saja yang rendahan.

Baiklah, itu adalah beberapa dari segala kemampuan istriku. Aku tentu akan menjelaskan kepayahannya juga. Jika adan yin tentu akan ada yang.

Kepayahannya, aku yakin bahwa ini sungguh layak disebut payah. Selain hobi berbelanja yang sudahlah, pasti akan membuatku jengkel jika terus menerus kubahas. Ada hal lain, bahwa kurasa ini bukanlah sebuah rahasia umum lagi. Bahwa Songjin tak begitu pandai memasak. Well— menurutku, dia cukup pandai mengurusku dan Hyun Gi walau hingga saat ini, dia masih belum mampu menggendong putra kami secara layak. Itu hanya karena ketakutannya saja, akan terjadi sesuatu dengan Hyun Gi jika dia menyentuhnya tanpa bantuan siapapun.

Sampai saat ini, Songjin masih menganggap dirinya tak cukup layak untuk menyentuh putranya sendiri.

Memasak. Aku pernah mengatakan pada kalian bahwa masakan istriku yang sexy namun barbar bukan main itu adalah racun? iya, racun. sama seperti racun yang dapat mengacaukan arus perputaran darah ditubuhmu.

Aku tak mengatakan bahwa kalian akan mati jika memakan masakan Songjin, itu mungkin agak sedikit berlebihan karena tak sedikitpun wanita itu memasukan obat nyamuk kedalam masakannya, namun percayalah, kau akan terkena diare dalam waktu panjang jika kalian memilih untuk menyicipi masakannya.

Hanya dua tiga sendok, maka kalian akan tahu seberapa buruk masakannya. Atau, jika bukan diare, mungkin kalian akan terkena penyakit lainnya. Terakhir Siwon Hyung memakan nasi goreng kimchi buatan Songjin, kakakku itu terkena demam.

Mungkin aku saja yang berlebihan menganggapnya adalah efek buruk dari memasukan masakan Songjin kedalam tubuhnya, tapi aku tidak menemukan alasan lain, mengapa Siwon Hyung sampai dapat terserang demam.

Saat itu sedang tidak hujan. sedang bukan musim pancaroba, bukan musim dingin hingga mungkin, Siwon Hyung terkena Hypotermia. Aku tidak memiliki alasan lain mengapa Siwon Hyung dapat demam mendadak seperti itu!! Jadi jangan salahkan aku jika aku menganggap bahwa itu adalah efek buruk dari memakan masakan istriku.

Aku tidak akan berbohong. Songjin memang tak begitu pandai membersihkan rumah. Kami tak pernah mempekerjakan asisten rumah tangga untuk membantu membereskan rumah yang kacau.

Aku tidak terlalu senang dengan keberadaan orang asing didalam kediamanku, begitupun dengan Songjin— untungnya, kebetulan, memiliki pandangan yang sama, dan sedikit kesadaran bahwa kediaman kami, adalah tanggung jawabnya sebagai tuan rumah.

Kediaman kami memiliki 3 lantai dengan jumlah kamar tak sedikit. Aku akan paham, bahwa Songjin dapat langsung pingsan jika dia mengurusnya sendirian saja. maka karena hal tersebut, aku sering membantunya— merapikan selimut yang kusut dikamar kami, membereskan buku-buku yang berserakan, atau jika aku sedang sangat lelah dan malas, setidaknya aku tidak menambah pekerjaannya lagi. Aku hanya akan diam dikamarku bersama Hyun Gi.

Omong-omong, berdiam diri dikamar dengan anakku yang baru berusia 4 bulan itu sungguh sangat menyenangkan. Apa aku pernah bercerita bahwa sekarang dia sudah dapat berguling?

Aku yang menemukannya pertama kali seusai mandi ketika Songjin begitu tak bertanggung jawabnya, sedang entah berada dimana, meninggalkan Hyun Gi seorang diri diranjang kami, lalu aku menemukan putraku sedang menyengir padaku sambil berguling. Seolah aku baru mendapatkan porsche keluaran terbaru.

Atau mungkin lebih baik. Tapi untuk pertama kalinya dihidupku, aku menemukan hal terbaik lainnya selain seks. Yaitu dapat menonton langsung tumbuh kembang anakku. Kalian, cobalah sendiri melakukannya. Maka kalian tak akan menganggapku berlebihan.

Aku memiliki banyak benda-benda berteknologi tinggi yang tak banyak berada dirumah-rumah pada umumnya. Seperti sebuah remote control yang dapat mengatur suhu ruangan, sekaligus mengatur perapian ditungku-tungku didalam kediamanku, sekaligus mengatur air untuk menyiram rumput dihalaman hanya dengan satu kali tekan, sekaligus mengatur pencahayaan— selain kusetting dengan suara dan tepukan.

Aku menyediakan sebuah dapur canggih dan lengkap yang sayangnya membuatku terkadang merasa cukup menyesal meyediakan tempat itu untuk Songjin karena tempat menarik itu, akan selalu tampak seperti kandang sapi jika istriku telah masuk kedalamnya.

Ada alat pemanggang otomatis, penghangat otomatis serta pencuci piring dan pengering tangan otomatis. Aku tidak akan berbohong jika tempat itu adalah tempat yang paling merogoh dompetku terbanyak. Tapi melihat hasilnya, aku tidak menyesal. Sungguh. Permasalahan setelah digunakan oleh istriku, itu adalah persoalan lain.

Aku menyediakan kendaraan terbaik yang pernah ada, dan yang mampu kudapatkan dengan uangku— yang jika uangku mungkin tak cukup, aku akan mengupayakan semamampuku untuk mendapatkan apa yang kurasa perlu kudapatkan. Tak masalah bekerja keras untuk sesaat jika hasilnya dapat kunikmati dalam jangka panjang.

Ibu mertuaku, adalah satu diantara banyak orang yang tak pernah suka dengan keputusanku akan hal tersebut. Dia tak pernah setuju. Tak pernah sepemikiran dengaku. Menurutnya aku terlalu memanjakan putrinya dengan segala kemewahan dan fasilitas lengkap.

Aku selalu tak dapat menutupi rasa geliku, dan tertawa kencang ketika beliau mengatakannya padaku, atau dihadapan Ayahku, atau bahkan…. dihadapan orang banyak— yang kadang tak luput ikut membuatnya malu, jika Ibu mertuaku menyadarinya. Bahwa dia, baru saja menghina dirinya sendiri saat merendahkan kemampuan putrinya tersebut.

Mendidik Songjin untuk menjadi wanita serba bisa yang anggun adalah tugasnya 3 tahun lalu. Setelah aku merubah nama putrinya menjadi margaku, kurasa itu adalah tugasku dan siapapun, tak ada satupun yang berhak, mengomentari bagaimana caraku mendidik istriku.

Aku tidak pernah merasa nyaman ketika Ibu mertuaku, atau orang-orang disekitarku berkomentar tentang betapa bodohnya Songjin, karena menurutku, untuk saat ini, siapapun itu— yang berkomentar tentang betapa bodohnya Songjin, sama artinya dengan ikut mencibirku bodoh.

Hanya aku sajalah satu-satunya orang yang berhak berkata bodoh pada Songjin. Dia istriku! Terserah padaku akan melakukan apa pada istriku.

Ibu mertuaku, Park Aeri, selalu memberikan predikat padaku— terlalu melekat bahwa aku selalu memanjakan Songjin, walau dimataku tak pernah seperti itu.

Begini, biarku jelaskan pada kalian semua bahwa aku adalah seorang pekerja dengan jam terbang yang tinggi. Jika aku telah merasakan kepenatan dikantorku sendiri, apa aku juga harus merasakan hal serupa dirumahku? Kurasa tidak.

Itulah gunanya rumah. Adalah tempat hangat yang nyaman, dimana aku dapat melakukan apapun yang kumau. Lalu pada dasarnya, aku menyukai kepraktisan hidup. Kenapa aku harus mencari repot saat aku dapat memiliki kemudahan?

Uang yang kudapatkan kurasa lebih dari cukup untuk membeli segala kepraktisan itu. Lagipula itu uangku. Aku yang bersusah payah mendapatkannya. Apa salahnya memanjakan diri dengan jerih payahku sediri? Aku tak pernah mendengar bahwa membeli Lamborghini dengan uang tabunganmu sendiri adalah sebuah criminal. Pada dasarnya, aku hanya sedang menyenangkan diriku sendiri.

Jika dengan alasan sesederhana itu, aku masih dianggap memanjakan Songjin, maka lakukanlah. Anggaplah aku memang memanjakannya. Apa pernah ada pernyataan bahwa memanjakan pasanganmu adalah sebuah dosa besar?

Anggaplah aku memanjakan Songjin, itu tidak buruk juga. Suasana hatinya akan terus menerus terkontrol dan akan terdapat banyak sekali keuntungan yang bisa kudapatkan jika suasana hatinya sedang terkontrol dengan baik. Hei, kali ini aku bukan sedang mesum, tapi pikirkan saja sendiri apa yang akan terjadi jika suasana hatinya tak terkontrol dengan baik!!

Dia akan mendepakku seenaknya, bertolak pinggang dan menjerit, “Kyuhyun-ah, malam ini kau tidur disofa!!”. Aku paham dan cukup setuju dengan larangan itu untuk beberapa waktu belakangan ini saja walaupun aku tak pernah suka apalagi setuju.

Nyatanya, larangan itu cukup membantuku untuk menahan diri, agar aku tidak tergoda menyentuh Songjin.

Tapi bukan hanya tak senang karena didepak dari tempat tidurku sendiri. Pada dasarnya, sofa bukanlah tempat untuk tidur!! Aku tidak pernah paham dengan para istri yang senang memerintah seperti itu. Apa yang mereka pikirkan sebenarnya? bagaimana mereka mampu melewatkan satu malam tanpa melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan?

Jangan berfikir kotor. Aku tidak berbicara tentang seks sebelum tidur. Tapi aku berbicara tentang tubuh yang telah terlalu terbiasa oleh rengkuhan sederhana, atau hidung yang telah terbiasa menghidu aroma shampoo pasangan mereka. Kadang aroma itu bekerja lebih baik dibandingkan penghangat atau pendingin ruangan mahal. Bekerja lebih praktis, dari pengharum ruangan manapun yang pernah toko-toko jual.

Setidaknya, begitu untukku.

Dan ranjangku, maksudku, ranjang kami— adalah ranjang berukuran lebih besar daripada sebuah ranjang king size. Ranjang itu adalah ranjang besar dengan ukuran custom yang kupesan sendiri dari sebuah perusahaan ternama. Sangat nyaman dan empuk.

Aku yang membayar ranjang mahal itu, aku sendiri yang harus angkat kaki dari ranjangku sendiri? dan yang benar saja! apa lalu Songjin akan begitu senangnya, leluasanya, mengclaim seluruh lahan diranjang kami adalah miliknya! Lalu dia akan tidur seperti seekor babi air yang sedang pingsan?

Tentu saja! itu adalah hal kesekian, dari puluhan keburukannya. Memutuskan banyak hal sesukanya, tanpa mau berdiskusi denganku.

Itu belum termasuk larangan-larangan aneh lainnya, seperti, “kau tidak boleh menyentuhku!!” atau “kau tidak akan mendapatkan morning kiss!” atau “jangan mendekatiku! Kau hanya boleh berjarak lebih dari 2 meter atau kau akan kuhabisi Cho Kyuhyun!!”

Well, kalau ancamannya adalah menghabisi seperti yang kupikirkan, diranjang, hingga kami berdua sama-sama lelah berkeringat, mendesah. Hingga bibir kami sama-sama membengkak. Hingga dia tak bisa berjalan dan aku pingsan, lemas berdiri pun tak sanggup, Itu tidak masalah. tapi sayangnya, vesiku dan versinya berbda. “Kuhabisi” versi Songjin adalah sebuah penyiksaan seperti, menjadikanku tester masakannya, mendiamkanku hingga waktu tak terhingga, selalu ketus padaku, memusuhiku seperti aku adalah virus mematikan, menjambak, dan tak sering adalah ratusan pukulan— perang bantal.

Percayalah, wujudnya saja bantal. Rasanya akan tetap sakit.

Istriku terlampau bodoh untuk berfikir cepat disaat sedang dibutuhkan. Otaknya akan bekerja dengan fantastis saat sedang tak dibutuhkan dan disaat yang tak tepat. apa aku sudah mengatakannya bahwa istriku sangatlah— begitu menyeramkan bodohnya?

Sudah? Oh, baiklah. Kalau begitu mari bicarakan yang lain.

Pada dasarnya Songjin bukanlah seorang antisocial. Songjin hanya tak pandai bersosialisasi. Dia mampu mendapatkan teman. Hanya tak mampu berbasa-basi sebagai pembuka dalam sosialsisasi. Lingkar petemanannya memang tidak besar. Sebagian besar yang dikenalnya hingga saat ini adalah teman-temannya sejak dia masih bersekolah dulu seperti Gyuwon.

Lalu Eun Soo, yang bertemu dengannya ketika dia sedang melaksanakan tugas akhir kuliahnya— training, bekerja sementara, yang saat itu bahkan Kim Eun Soo belum menjadi seorang Miss Korea.

Jika dia tidak mampu mendapatkan teman, jika istriku yang bodoh itu tak menarik, tidak mungkin secara mendadak dia mampu mengenal seorang dokter bernama Lee Donghae.

Pria yang sempat membuatku untuk beberapa saat, memasang ‘pengaman’ begitu tinggi agar setidaknya wanitaku tak lenyap begitu saja dulu ketika aku sedang berusaha mati-matian untuk mencari segala cara agar mantan pacarku tidak mati.

Sudah kujelaskan bahwa Gyuwon adalah mantan pacarku? Menurut kalian, mengapa aku mengusahakannya agar dia tetap hidup?

Aku masih mencintainya? Aku tidak dapat melupakannya? Aku tidak bisa memilih dengan tegas antara mantan pacarku atau istriku?

Tidak. Sayangnya tidak. Aku menyayangi Gyuwon sebagai wanita yang kini telah menjadi kakak iparku. Aku menyayanginya, sebagai seorang sahabat dan selalu ingin melindunginya. Aku tidak mengatakan bahwa aku ingin melupakan hal manis yang pernah kami lalui. Mengapa harus dilupakan jika itu manis? Kukira pepatah selalu mengatakan, ambil positivenya, buang negativenya!

Aku mencintai Songjin dan tak ada penjelasan lain yang lebih masuk akal daripada itu. Aku sangat mencintainya. Aku membutuhkannya sebagai oksigenku. Songjin adalah daya tarik bumi dari gravitasi disekitarku. Yang membuatku tetap dapat berdiri tegap tanpa mengambang kesana kemari.

Lalu jika ada pertanyaan, “mengapa kau begitu memperhatikan Gyuwon daripada istrimu sendiri dulu?” Begini, jangan dulu berfikir yang lain. Biar kujelaskan secara singkat dan perlahan.

Semua itu kulakukan, karena hidup kakakku ikut bergantung pada nyawa wanita itu. Hidup keluargaku, bergantung pada nyawa kakakku, dan hidupku, bergantung pada nyawa keluargaku. Aku tidak boleh kehilangan keluarga untuk kedua kalinya, meskipun mereka tak lebih dari sekedar keluarga pengganti saja.

Apa.. aku sudah mengatakan bahwa keluarga sesungguhnya yang kumiliki telah tak ada lagi? Tidak berada disini bersamaku. Maksudku.. bernafas. Hidup. Entah sekarang mereka berada dimana. Mereka pergi tanpa meninggalkan memori apapun yang bisa kuingat hingga aku sebesar ini.

Kadang aku berfikir, itu akan lebih baik daripada aku mengingat mereka namun kemudian aku merasa sesak saat sadar bahwa mereka tak berada bersamaku lagi, mereka meninggalkanku seorang diri.

Lalu aku berfikir lagi, mungkin itulah mengapa mereka pergi. Mereka memang harus pergi karena setelah mereka pergi, aku akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik, yaitu keluargaku yang lain.

Aku memilikinya dan rasanya telah lebih dari cukup. Tak dapat dibandingkan dengan sebarapa banyak harta yang kumiliki, mereka tak dapat digantikan oleh lembaran won, lembaran dollar. Mereka terlalu berharga.

Lalu dari dalam keluarga besar itu, aku mendapatkan keluarga kecilku. Aku bahkan memiliki keturunanku sendiri. Walau wajahnya terlalu cantik untuk ukuran lelaki karena bulu matanya lentik, matanya besar, bibirnya tipis berwarna pink dan pipinya gembil membuat siapa saja yang melihat, tertarik untuk menariknya— gen Songjin terlalu kuat untuk hal itu aku tidak berhak protes kepada Tuhan ‘kan? kkkk

Kepalanya masih botak tak sedikitpun rambut yang tumbuh. Giginya tidak ada— masih berupa deretan gusi pink saja, tapi jangan coba-coba memasukan tangan kalian kedalamnya. Aku pernah melakukannya sekali dan dia mengigit telunjukku kencang sekali.

Dia hanya seorang bayi berusia 4 bulan tapi gigitannya terasa sungguh menyakitkan, bahkan tanpa gigi didalamnya.

Lagi-lagi gen Songjin yang barbar turun padanya. Dan lagi-lagi, aku tidak dapat protes kepada Tuhan. Setiap malam, aku hanya dapat berbincang dengan putraku entah apakah dia memahami maksud kata-kataku, tapi aku tak pernah sekalipun melewatkan kesempatanku untuk memberikannya pesan.

“sayang, perlahan wajah cantikmu akan pudar dan berganti dengan ketampanan. kau akan tampan sepertiku— atau lebih dariku. Kau akan menjadi cerdas sepertiku. Jangan terima begitu saja, jika Tuhan memberikanmu jatah otak ibumu. Katakan, kau ingin seperti ayahmu. Katakan kau harus menjadi lebih baik daripadaku—“ aku selalu berpesan pada putraku yang tidak sering hanya dibalas cengiran konyol, leletan lidah, liur yang menetes, suara bersin, atau cengkraman dijari-jarkiku darinya, yang sebelumnya bekerja mengusap kepala botaknya.

Namanya Hyun Gi. Cho Hyun Gi.

Aku lebih bangga memamerkan putraku itu kepada orang-orang daripada memamarkan kemampuanku menjajah tanah orang untuk membuat suatu resort dipinggir pantai, yang dimuat banyak Koran dan tabloid.

Aku lebih merasa terhormat mendapatkan predikat bahwa aku adalah Ayah biologis Cho Hyun Gi, ketimbang menjadi seorang pengusaha asing, sangat muda, bukan berasal dari ras kaukasia pertama yang mampu menembus tanah Florida dan memiliki sebuah resort mewah disana.

Aku sangat bersyukur atas apa yang kumiliki hingga saat ini. mungkin, lain kali akan kuceritakan lebih banyak mengenai keluarga kecilku. Aku ingin menjelaskan banyak tentang istriku yang aku yakini memiliki kekuatan setengah manusia, setengah kuda tempur itu. Tentang wanita yang hingga saat ini masih sungguh bukan main meletakkan harga dirinya sangat tinggi, hanya untuk mengatakan cinta padaku. Tak ingin tampak konyol hingga sangat jarang baginya, menciumku lebih dulu seberapapun dia menginginkannya, apalagi memulai seks lebih dulu.

Kemarin yang sempat terjadi, aku yakin hanyalah efek kehamilannya. Kadang membuatku berharap, sebaiknya dia mengandung saja terus sampai aku puas.

Wanita yang tak pernah berani mengaku cemburu dan hanya dapat uring-uringan ketika Seohyun, atau ada wanita lain, mulai tampak menggodaku. Menggoda tidak menggoda, sesungguhnya semua wanita disekitarku akan menjadi musuh besarnya.

Aku dapat bercerita lebih panjang, menjadikannya ber bab-bab, hanya untuk membahas betapa Park Songjin, dapat membuatku meraskaan jatuh cinta berulang kali, disetiap pagi, tepat setelah kami sama-sama terbangun dari tidur, saat rambutnya tampak kacau bagai singa jantan seusai bertempur, dan protesannya yang meraung ketika aku meminta morning kiss-ku, lalu Songjin langsung menutup mulutnya. Menolak mentah-mentah hanya karena, katanya dia belum menggosok gigi.

Atau jatuh cinta padanya, disetiap pernyataan konyolnya yang kadang sanggup membuatku malu dan bertanya, mengapa ada manusia sebodoh Park Songjin?

Aku, selalu merasa bahwa aku benar-benar sedang jatuh cinta seperti pertama kali aku melakukannya dirumah pohon dulu, ditengah rengekannya, yang lebih sering membuat orang-orang disekitarku kesal bukan main. Bahkan aku sendiri tak jarang ikut kesal dengannya.

Tentu aku marah. Tapi disaat yang sama, seolah aku merasa dihipnotis olehnya. Aku tak paham lagi sekarang, siapa yang bodoh, dan siapa yang dibodohi.

Aku jatuh cinta padanya, dan selalu merasakan hal yang sama ketika Park Songjin menangis karena dia tak sanggup membuat sebuah resep masakan yang telah dipelajarinya berhari-hari.

Aku, selalu merasa bahwa aku adalah pria beruntung dan kembali jatuh cinta padanya, tepat dimalam hari ketika kami akan tertidur, dan aku dapat merasakan manis bibirnya untuk kesekian kalinya, dengan jantung yang masih berdebar— sama kencangnya saat aku melakukannya dengan cara mencuri-curi 3 tahun lalu.

Mungkin dilain waktu, aku akan bercerita mengenai putraku yang dapat memanggilku ‘appa’. Atau aku akan bercerita tentang langkah kecil pertamanya. Aku bisa bercerita mengenai gigi susu pertamanya yang tumbuh nanti. Aku akan dengan senang hati melakukannya.

Tentu, jika wanita barbarku sedang tak berulah membakar dapur kami, atau menyiksaku semalam suntuk dengan perang bantal, atau merengek meminta ini dan itu seperti putraku.

Sampai jumpa dilain kesempatan.

Dari yang tertampan diantara yang tampan,

Cho Kyuhyun.

85 thoughts on “Monologue – Little Secret {Cho Kyuhyun}

  1. Nanti, semoga dapet suami kyk kyuhyun. Walaupun bukan kyuhyun ^^ masih baca kyuhyun ke songjin aja udh buat kesemsem plus melting sendiri. Duhhh terhayati bgt kisah ini eonn ^^ eonni sukses

  2. WUAHAHAHAHAHAHAHAHAHA HEY CHO! Kau tetap saja selalu narsis 😀 eh kak cuma mw nanya nih pengen tahu pendapatnya kyu tentang pasword laptopnya yg dulu dia kasih dengan nama “CHO GYUWON” WUAHAHAHAHA saya masih bertanya2 tentang hal itu 😀

    • Kan udah dijelasin dipostingan behind the secret. Dia memang bener bener suka sama gyuwon. Dan di que sera jg udah dijelasin kalo kyuhyun itu anak muda yg otaknya ketuaan. Planning dia udh yg paling jauh diantara anak seumuran dia. Dia sudah kepikiran buat nikahin gyuwon waktu itu.

  3. jatuh cinta lg disetiap harinya sweet bgt oppa yg satu ini…
    series kyujin ini detail bgt g bosen dibaca nunggu trs apa lg ya yg bakal dtulis galuh.. ahh blog ini slalu tak intip.tiap hari.. keren sih penulisan ceritanya

  4. Iri pingin punya suami kyak kyuhyun…. yg bener2 mencinta kita apa adanya… menerima kekurangan dan kelebihan kita…. THE BEAST Couple..♥♥♥♥♥

  5. Mr. Cho.. Kau sangat amat mesum,, hahaha
    Berharap bisa dpet suami kya kyu, yg setiap harinya selalu jatuh cinta ama songjin.. Songjin kau beruntung dpet suami macam kyuhyun.. Bnyak2 bersyukur ya cho songjin 😀
    For author hwaiting..

  6. Paling seneng kalo kyu udah bilang songjin itu tanggung jawabx, ga ada yg berhak ngatain dia bodoh atau marah-marah sama dia, so sweet sekali. Semoga nanti dapet suami kayak kyu gini hahaha bagus author-nim

  7. Eonni, itu salam perpisahan nya engga bgt ‘Sampai jumpa dilain kesempatan. Dari yang tertampan diantara yang tampan’ 😀
    Ahhh.. trnyata itu alasan Kyu knapa dlu mntingin Gyuwon trus, syukur deh kalau skrng dy cnta nya cma sma songjin aja haha.
    Klau bca couple ini itu serasa merka emng ada d dunia nyata, kesan nya real bgt, eonni keren, daebaaak!

  8. Kakkk galuuhhhh…. ini benar-benar daebakkk… (y) kak galuh bner” bisa buat para readers ngebayangin mereka itu kyk ada di dunia nyata… 😀
    ini kyuhyun bagi” cerita ttg hidupny tp songjin tau nggk ya klo dia disini dominan dibicarain??? kkk~
    kak, buat versi songjin yg brcrita ttg khdupanny…??? thanks kak galuh… keep writing n fighting ampe mau ngluangin wktu” senggang kuliahny buat ngehibur para readers.. love you kak galuh, love you kyuhyun, love you songjin, love you hyungi, n love all cast in this fanfic… ^^ hahaha

  9. yes just care, no more
    manis banget sih ini, kyu bener” cinta mati sama wanita barbarnya
    walau dia egois tapi dia tetep sabar, tabah, dan tulus ngadepin songjin
    jadi pengen baca tentng hyun gi nya

  10. Gak nyangka bgt kyuhyun segitu cintanya sama songjin…
    Baca ini dibikin ngiri sama songjin yang punya suami kyak kyuhyun, biarpun sering cek cok tapi jauh didalem hatinya kyuhyun cinta bgt sama songjin, dan jatih cinta lagi, lagi,..dan lagi….
    Dbikin trenyuh wktu kyu bilang dia jauh lebih bangga dikenal sbg ayah cho hyun gi dari pda seseorang yg punya resort mewah……
    Huaaaaa…..mereka sempurna

  11. hyhhh barbar d ranjang o< hhh mana bisa dy minta jng jd kaia ibu'a kn anak'a jg kyu klian b2 saling bkerja sama dlm pmbuatan baby hyun gi jd y hrs adil stengah2 sifat'a kaia klian asal jng oon kaia songjin aj hhhh
    sumpaaah sweet bgt kyu d part ini. ngena bgt! mskpn cm monologue tp nyess ngena k qt yg baca k dalam hati paling dasar #naonatuh
    betapa bangga'a seorang cho kyuhyun memiliki songjin & baby hyun gi 🙂 hope u guys alwas be a warm & happiness family^^

  12. Kasihan songjin sering d blang bodoh sama suami’y… Pdahal menurutku songjin gk bodoh2 amat, cuma mungkin songjin gk mau dianggap pinter… Biarkan suaminya saja yg di anggap pintar wkwkwk… Kyuhyun oppa gk bkal d cap pintar kalau tidak ada songjin yg bodoh…
    DEABAK ff’y

  13. cm songjin yg pnya swami macem gini…… hweeeee#mewek

    pingin punya swami kaya kyu….. walupun nyebelin tp bs sweet jg
    masih kah ada stok buat aku….#ngarepdikit

  14. curhatan versi kyu..ck so sweet bngt ni epil..wlo songjin bnyak kkurangan trus pny sifat yg beda ma cwe” pd umumny..toh hny dy yg bs bkin Dubai kyu jungkir balik,,nytany pas songjin koma bies lhiran..kyu jd sprti kurang hidup krn songjin ga jg bangun dr tdurny…

  15. kyuhyun udah bener2 mentok cinta sm songjin, sampai jatuh cinta lagi dan lagi sm songjin setiap harinya so sweet ea” curhatannya itu loh gimana gt, tp pas terakhir kyuhyun narsi ya “dari yg tertampan di antara yg tertampan” (emang)…….

  16. Kenapa kata2 bodoh gak pernah lepas dari diri songjin, padahal dia kan suma telat mikir aja dalam menghadapi segala hal. Hhh kyu manis banget sih.. authornya keren, slalu rapi nulisnya..

  17. Kalau tdk salah waktu di Missing (entah chap berapa) Donghae ketemu sama Songjin itu saat Kyu sama Songjin statusnya sudah suami istri. Tapi kalau di chap ini diceritakan Songjin sama Donghae ketemu waktu Songjin blm menikah..malah belum bertunangan sama Kyu..
    Maaf ya Galuh..cuma cek ricek TimeLine aja..😊😊😊
    Lanjuut baca..akh..tulisanmu okeee bangeet

  18. Semoga nanti dapet suami macam kyuhyun …… terima apa adanya , slalu ngalah udah gitu dapet bonus Ngganteng 😂😂😂😂😂

  19. Kaau bener ada di dunia real suami istri kaya gini rumah tangga mereka bener2 berwarna, saling mencintai juga saling melindungi
    Salam kenal ka 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s