[KyuJin Series] ACT 1


[KyuJin Series] ACT 1

{When my stupid girl don’t wanna talk to me}

Vignette

 

“Songjin—“

Untuk kesekian kalinya dimalam ini, Kyuhyun mencoba membuat istrinya agar setidaknya bersuara padanya. Tak lagi mendiamkannya karena pertengkaran konyol dipesta perusahaan tadi siang.

Sayangnya, suasana hati Songjin sepertinya memang telah sungguh memburuk. Topic Seohyun itu.. seolah adalah boomerang bagi wanita itu sendiri. seharusnya, Songjin lah yang sadar bahwa Kyuhyun bukanlah pria manis yang akan berkata seperti romeo bahwa dia adalah satu-satunya wanita yang dicintai dan akan terus dicintai oleh pria itu, walaupun jika, kenyataannya, mungkin memang seperti itu.

Desahaan putus asa milik lelaki berusia 27 itu akhirnya muncul setelah sekian lama tertahan. Dia melepaskan tangannya yang sedari tadi dipaksakannya tersangkut bersama jemari wanitanya. Dihempaskan begitu saja.

Kyuhyun lantas mengacak-acak rambutnya. Kini lenyaplah sudah tatanan rapih bagai ceo muda tampan nan sensual. Kini, wujud seorang Cho Kyuhyun tak lebih layak daripada gelandangan. Dasinya entah telah berada dimana sejak pertengahan acara, sejak wanitanya dibawa oleh ibunya menuju entah kemana. Sejak wanita itu menolak mentah-mentah berbicara padanya, apalagi pelukannya. Disentuhpun, Songjin akan langsung menyingkir.

“kau tahu—“ kata Kyuhyun mengawali protes yang sepertinya akan panjang dijabarkannnya. “kau sendiri yang membawa-bawa Seohyun. Kau sendiri yang membandingkan dirimu dengannya. Kau sendiri yang membuat kau menangis. Aku hanya melanjutkan apa yang kau mulai, kau ingat?? Lalu sekarang, kau menyalahkanku. Ya ampun, seharusnya aku tahu kalau kau seadil dan secerdas itu~”

Kyuhyun mendengus sinis. Matanya tak lagi berpindah sesekali pada wanita disampingnya dengan seorang bayi yang sedang tertidur didadanya dengan menghisap ibu jari.

Dia terlalu kesal untuk mencoba. Terlalu malas untuk diabaikan lagi. Dan tubuhnya sedang terlalu lelah untuk menanggapi sifat kekanakan Songjin yang sedang dalam mode aktif. “terserah kau saja kalau begitu.” Tutup Kyuhyun dengan nada tenang, walau wajahnya tak sedikitpun menggambarkan hal serupa.

~~ ~~

Pagi hari,

Matahari pagi ini, seolah sedang ikut berkomplot dengan segala yang tak beres dalam hidup Kyuhyun kali ini. taka da sinar, langit pun mendung. Ini baru pukul 8 pagi omong-omong.

Sayup, terdengar suara petir. Tak begitu kencang, tapi cukup menandakan bahwa hujan deras akan datang dalam kapasitas tidak sedikit. Kyuhyun, yang baru saja terbangun— belum memiliki keseluruhan nyawanya, bergerak-gerak malas diatas sofa, lalu memaksakan diri untuk duduk.

Seluruh tubuhnya terasa bukan main pegalnya. Mungkin ini adalah salah satu efek buruk dari tidur bukan ditempatnya. Sofa bukanlah ranjang untuk ditiduri seberapapun empuknya, seberapapun mahalnya, dan sebeberapapun nyamannya.

Walau terdapat tambahan kata bed dibelakang kata sofa, yang berarti tempat untuk duduk sekaligus dapat untuk tidur, tetap saja, judulnya adalah sofa. Maka tak heran jika kali ini Kyuhyun merasa remuk bukan main pada seluruh tulang-tulangnya. Ini sudah entah malam keberapa pria itu tidur disofa.

Masih merenggangkan tubuh, menangkis udara pagi hari yang baginya terasa sungguh tidak bersahabat, ditambah beberapa hal yang banyak, baru disadarinya, bahwa tenggorokannya sakit, kepalanya pusing hingga sekitarnya terasa berputar, cukup untuk membuat Kyuhyun mengerang atas ketidak nyamanannya kali ini.

Lalu suara tangisan. Tangisan bayi. Hyun Gi. Terdengar meraung.

Dalam limbung Kyuhyun berjalan cepat menuju pintu kedua dari tiga pintu dibelakangnya sambil berbicara “appa datang~” walau entah terdengar seperti apa. Tenggorokannya lebih terasa sakit saat dia mencoba untuk berbicara dan suaranya terdengar agak serak.

Tak sampai ditempat tujuan, Kyuhyun membatalkan rencananya menimang Hyun Gi, saat terlihat Songjin sudah lebih dulu berada didalam kamar putra mereka. “hei, kenapa menangis?” suara wanita yang telah cukup lama tak Kyuhyun dengar itu terdengar begitu lembut melintas ditelinganya.

Kyuhyun hanya diam. Tak pergi tak juga masuk. hanya memerhatikan interaksi Ibu-anak tersebut seksama. Songjin tampak ragu untuk meraih Hyun Gi, padahal bayi itu telah menjulurkan tangannya seolah meminta ditimang.

“Um—“ lalu Songjin menggaruki kepalanya cukup lama. Memerhatikan Hyun Gi sambil sesekali melemparkan pertanyaan kepada putranya, “ada apa??” seolah putranya itu, dapat menjawab “tak masalah ada apa denganku. angkat saja dulu aku!!”

Kyuhyun, ditempatnya sungguh telah tak sabar ingin melesat. Bukan untuk menyalahkan ketakutan Songjin yang hingga kini masih urung tak kunjung berani menggendong putranya namun mengangkat putranya tersebut dan memberikannya kepada Songjin. Tapi kemudian, rencananya tak dilanjutkan.

Walau tampak kaku. Walau taampak gemetar dan jelas tidak percaya diri, perlahan-lahan Songjin mulai mengulurkan tangannya kebawah. Tak sampai 2 menit bayi 4 bulan nan montok itu sudah berada didalam gendongan wanita barbar tersebut.

Bagai baru diberikan boneka, Hyun Gi, bayi laki-laki dengan pipi penuh menarik minat semua orang yang melihat untuk mencubit, langsung ikut— melakukan hal sama, memeluk Songjin sambil menjatuhkan kepalanya dibahu kiri Songjin. Wajahnya tampak lelah, telah berwarna merah karena terlalu lama menangis. Tangan dengan jari-jari gemuk tersebut mengepal.

“kau takut petir?”

sambil mengusap lembut kepala plontos tak berambut tersebut Songjin bertanya kepada Hyun Gi. Bayi mungil itu hanya menjawab dengan isakan kecil. Entah mendandakan bahwa dia masih takut, atau hanya ingin mencari perhatian saja dan sedang bersikap manja. Tapi apapun itu— hal tersebut membuat Kyuhyun betah berlama-lama hanya berdiri diambang pintu, lupa dengan tubuhnya yang lemas dan mengabaikan suhu ruangan yang baginya terlalu menusuk kali ini.

Songjin berjalan menuju kursi disudut ruangan didepan jendela dan duduk. Hyun Gi, didudukannya dipangkuan. Wanita itu membersihkan sisa air mata Hyun Gi sambil terkekeh sesekali, “kau lucu sekali kalau menangis, seharusnya tadi kurekam saja kau!”

Komentar konyol Songjin tidak sepenuhnya salah. Sepertinya Kyuhyun merasakan hal serupa hingga tak sadar kepalanya mengangguk tanda menyetujui. Lalu didalam ingatannya terputar beberapa bulan lalu saat Songjin masih belum sadar dari tidur panjangnya, lalu hanya dirinyalah yang mengurus putranya seorang diri.

Tak jarang Kyuhyun terhibur oleh tangisan sendu putranya lantas lupa bahwa sebenarnya, dia juga sedang kalut karena hidupnya pun sedang bukan main kacau, ibu dari anaknya tak memiliki kemajuan medis apapun dan sedangkan dia sendiri ingin menangis tapi air matanya tak kunjung dapat keluar. Entah bagaimana caranya mengeluarkan rasa sesak yang membuat pernapasannya terganggu saat itu.

Ah, seharusnya dia merekam tangisan putranya itu dulu.

“Oh—“ Songjin terkejut ditempat. Hyun Gi menangis lagi. Tangannya terkepal bergerak-gerak diudara. Seolah ingin menunjukkan kepada Songjin, bahwa ada yang salah dengan salah satu jarinya. Itulah mengapa sejak tadi dia menangis.

Songjin mengamati tangan munggil berisi Hyun Gi, lalu menangkapnya, dan menariknya mendekati mata miliknya. “kau terjepit apa sayang?” ada setitik darah disudut ibu jari Hyun Gi.

Songjin lalu menoleh pada ranjang milik Hyun Gi, lalu mendesah panjang— tersadar akan sesuatu. Dulu, dia pernah memperdebatkan persoalan ini dengan Kyuhyun, ketika mereka secara mendadak merencanakan untuk membeli ranjang bagi Hyui Hyun Gi. lalu kini dirinya sadar bahwa Kyuhyun benar. Sebenarnya, yang terjadi adalah, Kyuhyun akan selalu benar dan dirinya, akan selalu salah. Itu telah tercetak bagai hukum alam.

“Ranjang seperti itu memang berbahaya.” Katanya berbicara sendiri, mengamati pasrah ranjang putranya yang terbuat dari kayu ek, dengan salah satu sisi memiliki engsel agar dapat dinaik turunkan.

Kemudian Songjin kembali pada Hyun Gi. Putranya, masih memamerkan jari kecilnya sambil memanyunkan bibir. “tidak apa-apa. Ini akan baik-baik saja.” katanya lembut membersihkan darah yang hanya setitik disana, mengcupnya, lalu meremasnya didalam genganggam begitu mudah agar hangat “Okay?” wanita 24 tahun itu berkompromi dengan bayi berusia 4 bulan saja, lalu baru kali ini baginya terasa sulit karena Hyun Gi memamerkan wajah sungguh tidak sahabat.

Namun tidak. Sepertinya, Hyun Gi memang tidak sependapat. Bayi itu melonjak-lonjak ditempatnya berusaha menarik tangannya yang sedang Songjin simpan. Berceloteh “tu-tu-tu” dengan bahasa bayi yang berantakan, dan yakinlah, tak ada seorangpun didalam rumah itu yang mengerti, Hyun Gi protes. Tapi mata-mata cokelat Hyun Gi seolah berbicara pada Songjin bahwa, “lihat baik-baik!! Ada sesuatu keluar dari sana dan rasanya sakit. Kau bilang tidak apa-apa??”

Maka tak hanya Songjin yang tampak bingung. Kyuhyun ditempatnya, diam dengan kening berkerut. Seolah didalam otak geniusnya itu, sedang bekerja sebuah translator canggih untuk memahami apa yang putranya ingin sampaikan.

“ini tidak apa=apa, sayang.” Songjin tertawa menyambar lagi tangan kecil putranya. Menciuminya, menggenggamnya, meletakkannya lebih erat didalam pelukannya dan memaksakan agar bayi itu kembali bersandar di bahunya.

Flower gleam and glow

Let the power shine,

Make the clock reverse,

Bring back what once was mine.

 

Heal what has been hurt

Change the fates’ design

Save what has been lost

Bring back what once was mine. What once mine.

Lalu nyanyian dari suara yang sebenarnya tidak merdu, namun juga tak sumbang menjadi pengantar Cho Hyun Gi kembali tertidur. Menjadi batasan waktu akhir bagi Kyuhyun, untuk enyah dari persembunyiannya.

Kembali sendiri, sadar bahwa saat ini, masih tak ada celah baginya untuk memperbaiki apa yang sedang kacau.


NOTE: perspective-nya gak aku lanjut. sorry ya. sudah selesai di 2 bagian aja. untuk yang masih belum paham dan bertanya-tanya, siapa sih yang bawa Songjin pergi?? Changmin kah?… saranku, baca ulang yang bagian 1-nya, karena cerita itu aku  buat dalam alur mundur bukan maju.

beberapa juga banyak yang minta scene Songjin sama Hyun Gi. sebenernya aku pernah kepikiran buat bikin satu oneshot tentang mereka. tapi kayaknya makin banyak aja yang kepengen dan akunya belum bikin-bikin oneshot yang aku maksud itu (lagi agak gak mood aja). jadi yah, segini dulu aja scene mereka ya.

seminggu lagi aku udah mulai aktif kuliah. pasti bakal sibuk banget. jadi sorry ya kalo seminggu ini bakal bertebaran postingan Kyujin. sorry lho kalau jadi bosen sama mereka atau malah emang udah bosen dari kapan tau. just in case aja takutnya gak bisa sesering ini lagi posting diblog. tapi semoga sih enggak karena nulis juga salah satu dari sedikit refreshing aku.

soon, aku posting act 2 nya^^

108 thoughts on “[KyuJin Series] ACT 1

  1. msih tdur d sofa..hoho. kesian bang epil..
    songjin msih mogok bicara ma kyu??
    ck…mkirin kt” kyu kmren y??
    songjin klo da chang mank ga bkin kyu cmburu??
    akhrny brani jg..gendong mbul jr

  2. kyuhyun ternyata blm pindah ke kasurnya, masih aja betah di sofa, gegara blm baikankah?? songjin hyun gi moment😍😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s