[KyuJin Series] ACT 2


[KyuJin Series] ACT 2

{Guess what? today, i spend too much time wondering why i’m not good enough for anybody~}

Vignette

“Kau sungguh kekanakan!”

Omelan itu terdengar terlalu kencang ditelinga Songjin. “aku malu melihatmu tidak memiliki kemajuan apapun hingga sampai saat ini!!” lalu ditambah suara pukulan dimeja kayu terdengar nyaris sama kencangnya. Tapi bagi Songjin, pengakuan akhir Ibunya lah yang membuatnya bagai terhantam godam.

Yang Songjin ingat hanya pengakuan langsung bahwa Ibunya sendiri merasa malu memiliki anak sepertinya. Puluhan pertanyaan lalu dengan sendirinya berkumpul didalam kepala Songjin. Pertanyaan mendasar adalah, “mengapa?” tapi coba bayangkan apa yang akan terjadi, jika dia sampai berani menyela waktu panjang Ibunya yang sedang naik darah padanya, yang entah, akan selesai sampai kapan.

Songjin, Air matanya mungkin tidak keluar kali ini. mungkin persediaan miliknya telah banyak terkuras sejak kemarin lalu, dibanyak tangisan miliknya pada pukul 2 dini hari ditoilet seorang diri, lalu kini cadangan air mata milik wanita konyol itu mulai menipis.

Atau tangisan itu memang belum waktunya keluar biarpun sesuatu rasanya telah mendesak mata bulat besarnya hingga terasa tak nyaman. Namun entahlah. Tapi yang jelas, Songjin berusaha setengah mati agar tangisan itu tak muncul lagi, setidaknya, tidak dihadapan Ibunya.

“24 tahun. Sudah menikah. sudah memiliki satu anak, tapi sikapmu tidak ada bedanya dengan bocah-bocah ditaman bermain taman kanak-kanak! Apa yang sebenarnya kau pikirkan Park Songjin?! Kau membuatku malu telah melepaskanmu menikah! Seharusnya saat itu kukurung kau dirumah dengan puluhan pelatihan agar kau tidak menjadi seperti ini!!”

Park Aeri menarik napas dalam dan membuangnya menghentak. Seolah bebannya sungguh berat, mengurusi satu anak wanitanya yang telah menikah, namun menurutnya tak bisa melakukan apa-apa. Itu sungguh membuatnya malu setengah mati karena telah membiarkan seseorang menikahi putrinya, lalu membiarkan orang tersebut mengetahui secara perlahan-lahan bahwa putrinya tak bisa melakukan apapun kecuali bersolek dan menghabiskan uang.

Dan desahan menghentak milik Park Aeri tadi, sungguh mengakhiri omelan panjangnya mengenai sikap putrinya kali ini. sorot matanya menggambarkan kemarahan bercampur kekecewaan. “oh ya ampun.” Dia menyandarkan punggung dikursi melepas penat. “apa dosaku kali ini?”

~~ ~~

“Eish~”

“kau bukan tamu kenapa aku harus membukakan pintu untukmu? Kau punya tangan untuk membuka pintu sendiri!!” Kyuhyun mendengus sebal. Tidurnya terganggu hanya karena suara bel konyol Siwon. “masuk.” perintahnya ketus.

“kau bagai gelandangan, kau tahu?.” Komentar Siwon awal masuk kedalam rumah Kyuhyun siang itu.

“aku sedang sakit. Apa yang kau harapkan dari orang yang sedang demam??”

“entahlah~” bahu Siwon bergerak-gerak, “setidaknya, aku tidak pernah membayangkan akan disambut dengan wajah dan tatanan rambut seperti itu.” Matanya melirik pada rambut kacau Kyuhyun. Memerhatikannya dari belakang sambil mengikuti Kyuhyun melangkah. “kau sudah kerumah sakit?”

tsch.” Suara desisan sinis menyahut tak lama. “aku hanya demam bukan kanker, Hyung.” Balas Kyuhyun santai dan tenang. Langkahnya berhenti tepat didepan kamar Hyun Gi. Kamar bernuansa hijau tosca tersebut terasa terlalu hening lantaran pemiliknya sedang tidak disana. Pergi bersama Songjin sejak pagi tadi.

Siwon memandangi kamar Hyun Gi sambil bertolak pinggang. Sesungguhnya pria itu ingin memiliki ruang serupa dirumahnya namun entah siapa yang akan mengisi. Gyuwon tak dapat mengandung dan keputusan untuk mengadopsi belum sepenuhnya dibicarakan dengan serius oleh pasangan tersebut.

Hanya sapuan iri saja, yang ditunjukkan matanya kali itu, “jadi apa yang harus kulakukan?”

“aku ingin kau membawa pergi ranjang itu dan menggantinya dengan yang kukatakan kemarin.”

“membawa pergi??” Siwon membelakkan mata ketika begitu mudahnya Kyuhyun berkata. seolah ranjang yang dimaksud itu seperti sepeda lipat  yang dapat dibentuk menjadi ukuran terkecil. “membawanya pergi seperti aku membawa pergi sekantung apel?” Siwon bergantian memandangi ranjang Hyun Gi dan Kyuhyun.

“yeah—“ Kyuhyun melipat tangan didada. Bersandar diambang pintu memerhatikan seksama ranjang milik putranya. Songjin belum mengetahui keputusannya untuk mengganti ranjang Hyun Gi. Jika nanti wanita itu pulang, pasti wanita itu akan sedikit ribut. Tapi itu lebih baik daripada melihat Hyun Gi menangis lagi karena tangannya terjepit engsel. “biar kutebak, Songjin bosan dengan modelnya?? Modelnya sudah ketinggalan zaman?”

mendadak, aura ketenangan Kyuhyun mulai tak berada digaris normalnya. Rasa miris sekaligus kesal dan tak habis pikir bercampur menjadi satu. Lalu dia mulai bertanya kepada dirinya sendiri, apa istrinya memang memiliki ‘label’ seburuk itu hingga jika terjadi sesuatu, lalu sesuatu itu menjurus pada hal bodoh, negative, atau bahkan buruk, selalu Songjin lah yang terkena imbas.

Kejadian kemarin, saat tangan Hyun Gi terjepit bukan salah Songjin ‘kan? bocah itu sendiri yang memasukan tangannya dan tak sengaja, kebetulan terjepit?

Bukankah.. saat itu Songjin yang malah datang dan menenangkan Hyun Gi? Wanita itu tak pernah memiliki nyali untuk menggendong Hyun Gi sebelumnya, namun lantas memaksakan diri hingga akhirnya mampu memindahkan bayi itu kedalam pelukannya.

Lalu, dengan suaranya yang berada dibatas bahaya, wanita itu masih berani bernyanyi untuk membuat Hyun Gi berhenti menangis sekaligus membawa bayi itu untuk kembali tidur karena pukul delapan seharusnya bukan jadwal jam ‘hidup’ bayi itu.

Bukankah.. itu artinya Songjin tidak melakukan apapun?

Ah— Kyuhyun sungguh melupakan orang pertama yang memilih mati-matian ranjang tersebut dulu. Iya. Sudahlah, lupakan bagian itu. Dia benar-benar bosan berdebat dengan siapapun termasuk dirinya sendiri mengenai wanitanya yang hingga kini, pergi kemanapun dia tak tahu.

Kyuhyun menghela napasnya panjang, “aku bosan dengan modelnya.” Ujarnya lantas pergi begitu saja. “kau sudah mendapatkan emailku? Tolong bawakan aku ranjang seperti itu. Letakkan saja disana biar aku yang memindahkannya nanti.” Dagu Kyuhyun mengarah pada ruang santainya, “sekarang.” Lalu seperti bos besar, pria itu tak tanggung memerintah kakaknya.

Tidak menghiraukan dengusan tak percaya Siwon bahwa Kyuhyun baru saja bersikap begitu sopan padanya.

~~ ~~

22:30  PM

“kau buang ponselmu kemana??”

Songjin baru saja sampai, baru saja menaiki tangga dari garasi menuju ruang tengah dikejutkan oleh bayangan gelap dan tinggi yang langsung membentaknya dengan suara tinggi.

Kyuhyun disana, berdiri, kusut, wajah memerah dan tentu, menggenggam ponselnya tampak sungguh tidak bersahabat. Seolah dapat menelan Songjin dalam satu kali telan tanpa perlu mengunyahnya lebih dulu.

“tidak perlu berteriak kau akan membangunkan Hyun Gi.” Beritahu Songjin berbanding terbalik dengan sikap Kyuhyun yang meledak-ledak. Wanita itu meletakkan dua tangannya didepan telinga kiri dan kanan putranya— alih-alih agar tak mendengar suara Kyuhyun yang kencangnya tak main-main. “ponselku baik-baik saja.” jawabnya kemudian sambil berjalan menuju kamarnya, lalu berjalan terus menembus kamar lain dengan pintu tersambung, menuju kamar Hyun Gi.

“lalu kenapa aku tidak bisa menghubungimu??” Kyuhyun masih jengkel walau memelankan suaranya— juga tak ingin Hyun Gi terganggu karena perdebatannya dengan Songjin.

“aku tidak menjawab panggilan masuk.” begitu santainya Songjin menjawab. Mengejutkan Kyuhyun yang telah begitu ingin mengacak-acak wajah wanita itu, lantas wanita itu sendiri ikut terkejut ketika menyadari, tak ada ranjang putranya didalam kamar bernuansa tosca tersebut.

Matanya pergi kesana kemari, tapi tak kunjung menemukan apa yang dicari sedangkan pemandangan terakhir yang dilihatnya adalah mata Kyuhyun dibelakangnya— yang sedang sungguh malas dipandanginya, hingga membuatnya langsung membuang wajah cepat-cepat. Juga mengurunkan niat untuk bertanya kemana ranjang milik Hyun Gi kepada Kyuhyun atas dasar rasa tinggi hatinya.

Songjin hanya membuang napas panjang dan berjalan lagi menuju pintu. Menuju kamar lain tak jauh dari kamar Hyun Gi.

“Hei Park Songjin kau tuli? Aku sedang bicara denganmu!!”

“dan aku sedang sibuk, apa kau tidak bisa menunggu sebentar saja? setidaknya aku harus tahu dimana aku bisa meletakkan Hyun Gi, lalu kau boleh memarahiku kalau itu yang kau mau!!” Songjin meringis menyamarkan ledakan kekesalan— tak ingin berakhir menjadi tangisan walau matanya telah terasa panas. “sebentar saja!”

“kemana kau satu hari ini??” Kyuhyun tak menghiraukan permintaan Songjin. Pria itu bersedekap, seolah tak memiliki waktu lagi untuk membiarkan wanitanya meletakkan putra mereka sebentar saja.

“aku pergi~”

mata Kyuhyun berputar jengah, “Oh tentu. Aku tidak lupa dengan yang satu itu, untungnya aku masih sadar saat kau melakukannya pagi tadi.” sinisnya tak tanggung, tak lupa menyelipkan tarikan senyuman mengintimidasi membuat untuk sesaat saja, Songjin merasa tak bernyali untuk melawan. “kemana??”

“bertemu temanku.”

Kemudian kesinisan Kyuhyun berganti menjadi tawa. Bukan jenis tawa renyah yang biasa pria itu tampilkan ketika sedang mendengar kalimat sederhana Songjin yang ditelinganya malah menjadi sebuah lelucon. “Benarkah? Teman? Teman macam apa?”

“teman—“

“kau bisa membaca jam kan?”

“yeah—“

“sadar sekarang sudah jam berapa?”

“aku tahu itu.” Desah Songjin kemudian. Dia tidak pernah merencanakan akan pulang semalam ini, namun Ibunya tadi sungguh membuatnya mau tak mau duduk tegap bagai patung hanya untuk mendengarkan petuah, omelan, dan beberapa kalimat yang tak ingin didengarnya. “itu karena—“

“dan kau membawa Hyun Gi.” Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan. Kyuhyun menjatuhkan fokusnya pada Hyun Gi didalam pelukan Songjin. Masih tertidur tenang seolah tidak mendengar keributan dihadapannya. “sebenarnya aku berharap kau menjadi sedikit lebih pintar kali ini, Songjin. Tapi sepertinya, itu permintaan yang terlalu berlebihan.”

“tidak ada pilihan lain. Aku tidak bisa meninggalkan Hyun Gi denganmu, kau bahkan sedang sakit. Memangnya seberapa banyak imun bayi? Kau ingin dia tertular karena kau seharian menggendongnya??”

“kau tahu aku sedang sakit. Kau masih pergi. Dan apa kau belum tahu kalau terlalu rawan untuk bayi, keluar dari tempatnya sebelum setidaknya, berusia 6 bulan?? Memangnya seberapa banyak imun seorang bayi?

“aku tahu, tapi akan lebih berbahaya kalau—“

“teman macam apa yang kau temui hingga selarut ini, dan membiarkan seorang wanita, dengan bayi, mengemudi—“

“aku tidak mengemudi! Kau bahkan masih menyita mobilku!!”

“teman yang mana?” alis Kyuhyun satu terangkat. Wajahnya sarat akan hinaan bercampur kemarahan lalu rasa tak nyaman yang berasal dari tubuhnya karena demam yang sedang menyerangnya, membuatnya semakin ingin marah tak perduli dengan alasan apapun lagi. “memangnya kau punya teman?” sindirnya, “seberapa banyak teman yang kau punya memangnya?”

Songjin hanya diam. Tak memiliki waktu untuk berfikir lagi. Matanya sungguh telah memerah namun jika ini adalah sebuah rekor, pastikan bahwa ini adalah rekor terbesarnya. Tak setitikpun air mata yang dikeluarkannya— tak peduli bahwa matanya kini sedang terasa sungguh panas.

Yang Songjin lakukan hanyalah mengusapi punggung Hyun Gi sambil sesekali mengerutkan keningnya. Membentak dirinya sendiri agar ingat dengan ratusan omelan Park Aeri tadi sambil berdehem, menarik napasnya dalam.

“kau tidak perlu sekasar itu Kyuhyun-ah. Aku hanya pergi dengan ibuku memangnya apa yang salah dari pergi dengan ibuku?”

139 thoughts on “[KyuJin Series] ACT 2

  1. waaahh…mpe rumah kn omelan lgi…
    songjin pula..klo dr td lgsg ngmong ktmu ibuny y..psti kyu pham..
    nysek shrian dpet omelan sno-sni…sprti ga da bnr”ny sm skali..ck

  2. Gak tega ngeliat songjin yang selalu dimarahin trus.. kalaupun songjin gak bisa apa2 itu juga salahnya orang tua dong . Yang gak ada waktu buat nemenin anaknya. Giliran gini malah marah2 terus ma songjin.

  3. hadeuh kasian benar songjin😣😣, yg sabar ya, pergi dgn ibunya malah kena omel, pulang² di introgasi kyuhyun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s