[KyuJin Series] Vision


Vision

Cho Kyuhyun | Cho Songjin | Cho Hyun Gi | Cho Alena

 

-The Future depends on what you do today- Mahatma Gandhi

Poster by: stroberay.wordpress.com

Terjadi keributan kecil-kecilan di dalam kediaman Kyuhyun pagi ini. Songjin baru saja meminta izin untuk pergi selama dua hari satu malam ke Busan bersama Siwon.

 

Gyuwon sedang tidak berada di Korea, maka dari itu Siwon meminta Songjin agar menemaninya. Keputusan Songjin untuk tidak membawa Hyun Gi sudah bulat. Diperkuat dengan kondisi tubuh Hyun Gi— saat ini suhu tubuhnya sedang sedikit lebih tinggi dibanding hari-hari pada umumnya.

 

Namun Kyuhyun terus mengeluh. Kemarin, Kyuhyun sungguh ingat siapa yang bahkan tidak bisa menggeser bokongnya sesenti-pun dari kamar bernuansa hijau tosca tersebut. Lalu lihatlah sekarang, wanita yang sempat menghabiskan malamnya, hanya untuk duduk cemas dengan mata berkaca-kaca, dan tak bisa sedikitpun menggeser titik fokusnya pada hal lain kecuali ranjang bayi dihadapannya kini telah hilang sempurna.

 

Digantikan oleh sosok wanita yang sebelumnya, selalu menempati tubuh mungil itu. Kyuhyun sungguh tak percaya. Baru malam tadi, padahal dirinya sibuk menenangkan Songjin. Membuat wanita barbar itu yakin bahwa putra mereka baik-baik saja. itu hanya persoalan sepele. Gigi pertama Hyun Gi, kemungkinan besar akan tumbuh dalam waktu dekat. Hanya itu saja.

 

Semalam, Songjin benar-benar tidak bisa dikatakan dalam kondisi baik-baik saja. dan Kyuhyun lebih merasa khawatir pada Songjin, daripada Hyun Gi yang sedang demam. Tapi cobalah perhatikan saat ini, Kyuhyun sungguh jengkel melihat Songjin dapat berubah secepat pria itu menyelesaikan games dalam psp-nya.

 

“Siwon Hyung bukan anak kecil yang harus ditemani kemanapun dia pergi, kenapa kau harus ikut? Itu bukan urusanmu, itu urusan perusahaan!” urat-urat dileher Kyuhyun mengencang ketika dia berbicara.

 

Seolah, dilakukan begitu sengaja agar kekesalannya tampak lebih meyakinkan, dan dengan hal tersebut dilakukan, maka keputusan Songjin akan berubah. Songjin akan tinggal.

 

Kyuhyun menelan liur, “kalaupun Siwon Hyung butuh ditemani, dia bisa membawa Henry.”

 

“bukankah Henry adalah asistenmu?”

“bukan berarti dia tidak tahu apa-apa tentang proyek yang sedang Siwon Hyung kerjakan. Pekerjaan itu masih berada dibawah naungan Millennis!!” Kyuhyun meletakkan console-nya diatas ranjang sembarang. “kau tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan ini.” tambah Kyuhyun begitu ketus.

 

Sungguh. Sejujurnya Kyuhyun tidak berniat sedikitpun untuk melarang Songjin pergi. Hanya saja, selama kurun waktu beberapa minggu terakhir, dirinya terlalu sibuk. Kyuhyun menyadarinya.

 

Pria itu sedikit lupa dan tertinggal mengenai perkembangan Hyun Gi, hingga mendadak, dia menemukan putranya sedang demam karena akan tumbuh gigi.

 

Malam tadi, adalah sebuah titik balik dimana Kyuhyun sadar, dirinya tak bisa bersikap seperti itu terus menerus. Jadi, anggap saja kini dirinya baru saja tersadar. Dan saat kesadarannya kembali, apa kemudian pantaskah perannya ditukar oleh Songjin?

 

Beberapa hari ini Songjin tampak sibuk dengan beberapa hal. Membuat desain, adalah hal yang pernah dilakukannya namun kini ditinggalkan, perlahan telah dilakukannya lagi.

 

Songjin mulai kembali melakukan hal menyeramkan yang membuat Kyuhyun sungguh ingin menutup total dapurnya. Tidak ada hal yang lebih menyeramkan daripada melihat Songjin bergelut didapur.

 

Saat ini Songjin seperti sengaja membuat dirinya sibuk dengan berbagai hal. Termasuk sibuk kesana-kemari, hingga sengaja atau tidak, mengabaikan keberadaan Kyuhyun disekitarnya.

 

Ini hari libur. Keluarga normal akan melakukan hal menyenangkan seperti piknik atau berjalan-jalan bersama menghabiskan waktu. Bukannya malah saling berjauhan seperti yang akan Songjin lakukan terhadap Kyuhyun dan Hyun Gi.

 

Kyuhyun kesal, karena mengingat betapa sesungguhnya, mereka bertiga dapat menghabiskan waktu akhir pekan kali ini dengan mengunjungi kebun binatang bersama. Atau mendatangi taman bermain. Atau, hanya sekedar berjalan-jalan di taman kota saja.

 

Apapun itu. Setidaknya dihabiskan bertiga saja. itu adalah sebuah skema waktu berkualitas yang keluarga normal miliki. Lalu Kyuhyun ingat, dirinya bahkan tidak menikahi wanita normal. Bukankah seperti itu?

 

Kemudian Kyuhyun menoleh lesu pada sisi kanannya. Disana, Hyun Gi sedang tertidur pulas tidak memerdulikan betapa orang tuanya sedang berdebat panjang. Wajah Hyun Gi tampak tenang dan damai.

 

Ah— tidak. Kyuhyun beranggapan lain. Tunggu sampai bayi ini terbangun dan sadar, tidak ada Songjin disekitar mereka. Kegemparan macam apa yang akan Kyuhyun hadapi nanti? Bukankah sudah bukan rahasia lagi bahwa Hyun Gi, bayi laki-laki yang sebentar lagi akan genap berusia 6 bulan ini sungguh tidak menyukai ayahnya sendiri?

 

Kyuhyun mendesah pasarah. Dia ingat betapa Hyun Gi dulu pernah sangat bergantung padanya. Tidak bisa tidur, jika tidak berada didalam timangannya. Tidak ingin berhenti menangis, jika bukan Kyuhyun yang menghiburnya. Tidak akan tertarik untuk bermain jika bukan Kyuhyun yang menggodanya lebih dulu.

 

Jadi, anggaplah saja eksistensi Cho Kyuhyun dalam kehidupan putranya sendiri nyaris binasa.

 

Semua itu adalah saat dimana Songjin tak sadarkan diri selepas proses persalinan sialan itu. Itu adalah masa yang sangat berbeda dengan keadaan kali ini. kali ini Hyun Gi malah akan menangis jika Kyuhyun mendekatinya.

 

Akan meraung kencang bahkan saat Kyuhyun mencoba menghiburnya. Keduanya tak pernah akur. Tak pernah sejalan. Tak pernah bisa berdamai. Mungkin, perselisihan yang terjadi pada keduanya itulah, alasan mengapa Kyuhyun tidak menginginkan Songjin pergi.

 

Mungkin, itu bukanlah lagi sekedar kemungkinan-kemungkinan semata. Mungkin itu adalah sebuah kepastian jawaban mengapa Kyuhyun melarang Songjin pergi.

 

Mungkin Kyuhyun takut tak dapat menangani putranya dengan benar. Mungkin, Kyuhyun tidak ingin Hyun Gi merasa tidak nyaman hanya karena mereka harus menghabiskan waktu berdua saja membuat waktu berkualitas sebagai ayah dan anak.

 

** **

 

pukul setengah tiga sore, Kyuhyun menemukan dirinya baru saja terbangun diatas sofa. Sepertinya dia tertidur ketika sedang menghindari berbagai alasan penguat Songjin agar wanita itu dapat pergi ke Busan bersama dengan Siwon.

 

Keadaan dirumah terlalu sepi. Songjin sungguh keras kepala. Dia pasti pergi, karena jika tidak, kondisi rumah tidak akan sesunyi ini. satu-satunya sumber suara gaduh yang akan memenuhi seluruh kediaman besar ini hanyalah ulah konyol Songjin dan kecerobohannya.

 

sore ini, Kyuhyun tidak menemukannya.

 

Ada sedikit kegetiran yang kemudian Kyuhyun rasakan. Entah mengapa, berada didalam rumahnya tanpa suara gaduh, terasa membosankan. Atau mungkin, ini pun adalah salah satu alasannya mengapa sebenarnya, dia sungguh tidak ingin Songjin pergi, walaupun hanya satu malam saja.

 

Mungkin, pemandangan seperti inilah yang sering Songjin dapatkan ketika dirinya tak ada dirumah. Jadi sekarang, Kyuhyun lebih mengerti mengapa Songjin terlalu sering menganggu dirinya ketika dia sedang berada dikantor.

 

Kadang, Songjin menelepon diwaktu yang tak tepat. tapi toh, memangnya Songjin tahu apa yang sedang Kyuhyun lakukan dikantor? Wanita itu memang ‘mengurus’ segala keperluannya, tapi Millennis jelas bukan salah satunya.

 

Kyuhyun kemudian berjalan gontai setengah sadar-setengah tertidur karena nyawa yang masih belum terkumpul seutuhnya, untuk menuju kamar Hyun Gi.

 

Tadi, seingatnya bayi laki-laki itu masih tertidur ketika dirinya sedang berdebat dengan Songjin. Jadi mungkin, saat ini Hyun Gi telah terbangun mengingat pukul berapa sekarang, dan pukul berapa tadi Hyun Gi memulai tidurnya.

 

Tapi kemudian Kyuhyun hanya diam ditempat sesampainya dia diambang pintu kamar Hyun Gi. Ada yang berbeda. Pertama, Kyuhyun sungguh ingat warna kamar Hyun Gi adalah hijau tosca. Tak pernah berganti menjadi biru gelap.

 

Pun, Kyuhyun ingat. Tak pernah ada satu buah pun dekorasi pesawat yang dia pernah gantungkan dilangit kamar putranya. Jadi Kyuhyun mengerjab-kerjabkan matanya. Mengucek lebih kencang daripada sebelumnya— hanya untuk memastikan lagi bahwa yang dilihatnya adalah benar.

 

Dan matanya memang tak salah.

Kyuhyun lalu berjalan mundur dua langkah. Melihat sebuah pintu disamping kamar tidur Hyun Gi. Kamarnya. Kemudian berjalan menuju ruangan tersebut.

 

Tempat itu masih seperti didalam ingatannya. Masih.

Tapi.. sebentar. Kecuali ranjang yang nyaris memenuhi ruang tengah kamarnya, telah berganti dengan ranjang dengan ukuran lebih kecil.

 

Ah— baiklah. Mungkin terdapat kesalahan kecil disini.

Kyuhyun semakin mengerjab, serta mengucek matanya dengan cara lebih brutal daripada sebelumnya. Namun kemudian, tak lama tubuhnya terkejut dengan sentuhan lembut yang merambat, dari bahu sampai pada perutnya, kemudian memeluk tubuhnya begitu erat.

 

Kyuhyun mengendus. Bersama dengan usahanya untuk memberontak. “Yaah! Park Songjin!!” urat-urat dileher Kyuhyun membuat bentukan, cerminan seberapa kuat Kyuhyun membentak.

 

Namun ada kesalahan kecil. Kini bukan bentakan lagi yang menjawab sungutannya seperti biasanya, melainkan kekehan tawa suara seorang wanita. Kyuhyun ingat, tawa Songjin tak pernah terdengar selembut itu.

 

Lalu Kyuhyun kembali mendapatkan kejutan lain, ketika dirinya memutar tubuh. ada seorang wanita cantik. Memiliki tinggi hanya berbanding sedikit lebih rendah daripadanya saja. memiliki mata besar dan bulat sempurna. Memiliki deret gigi rapih, putih bersih. Hidung lancip sepertinya dan sungguh, ini adalah kali pertama Kyuhyun dapat terpana, melihat seorang wanita dengan penampilan yang sungguh membuatnya tak dapat berkomentar apa-apa lagi.

 

Wanita ini cantik. Terlalu cantik. Sangat cantik dan terakhir kali Kyuhyun melihat wanita dalam bentuk seperti ini, adalah dimalam pesta pagelaran busana milik designer gay— tak berambut sebelum Songjin melahirkan.

 

Ah, bukan. Wanita itu bukan Songjin. Wanita itu adalah Eun Soo. Kyuhyun tidak akan berbasa basi ketika harus memberikan penilaian, bahwa Eun Soo, memang terlihat lebih cantik daripada Songjin.

 

Tapi toh, cantik adalah penilaian tak pasti. Dan cantik, belum tentu dapat membuatnya tertarik. Dan sejauh ini, baru terdapat satu wanita saja yang bisa membuatnya bagai orang paling tolol ketika sedang berada dalam jarak yang dekat dengannya. Songjin.

 

Dan sungguh, wanita dihadapannya kali ini, bukanlah Songjin. Songjin-nya tidak memiliki tinggi seperti ini. Songjin tak pernah lebih tinggi daripada bahunya. Kepala Songjin, selalu dapat mengantuk dagu miliknya ketika mereka sedang berpelukan. Songjin pendek. Dan wanita ini terlalu tinggi untuk disamakan dengan istrinya.

 

Maka Kyuhyun hanya dapat membeku. Seseorang didalam tubuhnya mulai berterimakasih karena saat ini Songjin sedang tak ada dirumah. Yeah, setidaknya wanita barbar itu tidak perlu mengacaukan rumah karena baru saja melihat suami tampannya ini mendapatkan pelukan hangat dari seorang wanita tak dikenal.

 

Dan pada dasarnya, baru kali pertamalah ini Kyuhyun merasa nyaman dengan pelukan lain, selain pelukan Songjin. Apa.. ini dapat terhitung sebuah perselingkuhan? Kalau iya, matilah dia sekarang!

 

“apa.. apa aku mengenalmu?”

Ah! ayolah Cho Kyuhyun. Seharusnya bukan pertanyaan seperti itu yang kau lontarkan! Lalu Kyuhyun mendapati dia baru saja dimarahi tegas oleh dirinya sendiri.

 

Memang. Bukankah, seharusnya ada pertanyaan lebih penting yang lebih pantas disampaikannya seperti, bagaimana cara wanita ini masuk kedalam rumahnya mengingat pengamanan di dalam rumahnya, terbilang cukup berlebihan bagi kediaman-kediaman standar penduduk normal?

 

“apa?”

“kau..” Kyuhyun menelan liurnya. “apa aku mengenalmu?” lalu matanya berjalan pelan menelusuri tubuh wanita tersebut. Ya ampun. Sungguh, untung saja Songjin sedang tak dirumah, karena wanita ini benar-benar…

 

“Appa!”

Apa? “huh?” sontak Kyuhyun menyudahi aksi pria hidung belangnya. Dengan cepat berganti dengan keterkejutan lainnya. Serta beberapa kepanikan kecil. Wanita ini tertawa renyah menutup mulutnya.

 

Kyuhyun sempat melihat betapa kuku wanita ini, tampak cantik dengan perawatan nail arts. Songjin sering melakukan hal yang sama. itulah mengapa Kyuhyun tak merasa heran.

 

Jadi, tadi apa yang didengarnya? Wanita ini memanggilnya apa? Appa? “apa kau bil—“ tak sempat Kyuhyun melanjutkan pertanyaannya, ada hantaman keras lainnya, yang membuat tubuhnya terhuyung.

 

Wanita ini benar-benar… menggilai sebuah aktivitas bernama pelukan sepertinya. Dan sejauh Kyuhyun merasakan tubuh hangat serta aroma manis, dari tubuh wanita tak dikenalnya, telinganya mendengar pekikan nyaring, “Ayo jemput Hyun Gi Oppa dan eomma!” lalu Kyuhyun merasakan tubuhnya diseret tanpa perizinan apapun terlebih dulu.

 

** **

“Hey tampan!” gadis berambut panjang tadi terlihat begitu semringah disamping Kyuhyun. Tak pernah sekalipun melepaskan kaitan tangannya pada lengan Kyuhyun, saat Kyuhyun sendiri sebenarnya masih tidak mengerti mengapa mereka berada di airport, dan lagi, siapa pula wanita ini?

 

Mata wanita ini bekerja aktif memerhatikan sekitarnya kesana kemari sampai seseorang, sepertinya baru saja mengalihkan perhatiannya— kemudian, melepaskan kaitan pada lengannya untuk mengindik-indik berlari kecil menghampiri seseorang.

 

Ada seorang pemuda. Tampan, tinggi, tegap dan terlihat menawan sedang memeluk wanita yang sejak tadi, Kyuhyun ingat hanya bermanja-manja padanya saja.

 

Pemuda itu tampak menggunakan seragam formal berwarna putih. Lengkap dengan lencana-lencana sebagai tanda yang Kyuhyun tahu, adalah pembeda antar awak crew pesawat. Pemuda ini jelas adalah seorang captain pesawat.

 

Topi dikepalanya, masih membuat Kyuhyun ingat bahwa tugas pemuda ini adalah menerbangkan pesawat, dan salah satu tanda dilengan kanan seragam kemeja putih tersebut, menandakan bahwa pemuda ini berasal dari sebuah maskapai ternama milik Korea Selatan, Korean Air.

 

Mata Kyuhyun aktif mengikuti kemana wanita tadi, dan pemuda tampan tersebut bergerak. Keduanya saling berpelukan. Melepas rindu. Kyuhyun menarik kesimpulan sederhana bahwa keduanya adalah pasangan kekasih, sampai tiba-tiba, wanita tadi membawa pemuda tampan tersebut mendekat padanya, dan memaksa tubuh yang jelas jauh lebih tinggi daripada wanita itu sendiri untuk membungkuk dengan suara nyaring memerintah, “ucapkan salam untuk Appa!”

 

“huh?”

“Cih!”

 

tanpa disadari mulut keduanya mengeluarkan suara bersamaan. Kyuhyun dengan keterkejutan kesekiannya, dan pemuda tampan tadi, jelas-jelas menolak mentah perintah padanya.

 

Dia hanya melepaskan topi dikepalanya sambil mengesampingkan tubuh lalu kemudian tersenyum kepada sederet wanita dengan seragam serupa, yang berjalan melewatinya dengan formasi segitiga.

 

Para pramugari itu terlihat menganggumkan dengan tubuh ‘S’ line sempurna, dan Kyuhyun sungguh baru memerhatikan sebanyak itu karena sejauh ini, matanya tak akan pernah lepas dari tubuh seorang wanita yang dikenalnya, yang telah memberikan seorang putra untuknya setiap mereka berpergian menaiki pesawat. Seolah tak pernah ada waktu untuk mengaggumi tubuh wanita lain yang jelas sebenarnya, lebih menggoda.

 

“Oppa!”

“apa?”

wanita tersebut bersedekap jengkel memandangi sinis pilot tampan disampingnya. Sejenak Kyuhyun diam untuk memerhatikan keduanya. Bukan. Wanita itu lebih tepatnya. Aksi kesal wanita ini seperti pernah Kyuhyun lihat entah dimana. Rasanya tidak asing.

 

“dimana eomma?” lalu secepat itu dia dapat melupakan kejengkelannya, dan mulai sibuk pada hal lain. Focus wanita ini terlalu mudah berganti-ganti. Sama seperti seseorang yang juga pernah Kyuhyun kenal dengan jelas.

 

Songjin.

 

“didalam. masih sibuk mengurusi kau tahu— urusan wanita.”

“Ah!” dia mengangguk. Melirik pintu otomatis jauh didepannya seperti menimbang akan melewatinya atau tidak. “—dan Joon Hee Oppa?” seketika bola mata hitam pilot tampan nan tinggi itu berputar 180o sambil mulutnya mengeluarkan dengusan malas. “aku tidak tahu, aku bukan babysitternya.”

 

“Hey— ayolah.”

“aku tidak tahu!”

“Oppa! Jangan sembunyikan…”

Mata bulat besar itu terbuka lebar, “aku menyembunyikannya? Hei, aku tidak tertarik dengan lelaki asal kau tahu, Cho Alena! Aku lelaki normal!”

 

pilot tampan itu menyentak kasar terlihat murka, walau dibeberapa detik kemudian, kemurkaannya langsung lenyap lantaran matanya mendapati pramugari lain, baru saja keluar dari pintu geser otomatis dibelakangnya.

 

“Hanna? kau pulang sendiri?” suara pilot tampan nan ketus itu mendadak berbah mendayu. Lembut selembut kapas. Tak lagi tampak menarik urat apalagi berbicara dengan volume maksimal.

 

Wanita lawan bicara pemuda tampan itu hanya tersenyum seraya mengangguk— tak berapa lama langsung pergi setelah berpamitan sopan.

 

Ada suara dengusan mencela yang muncul dari bibir pink tipis mungil wanita cantik dihadapan Kyuhyun tersebut. Sambil bersedekap, matanya melirik sinis pilot tinggi tadi. “pacar barumu lagi?”

 

“pacar?” pemuda itu tertawa menggeleng, “dia hanya salah satu crew dipenerbanganku. Aku bahkan baru mengenalnya semalam.”

“tapi bukan tidak mungkin, hal itu bisa terjadi ‘kan?

bahu tegap pemuda itu bergerak halus, “siapa yang tahu kedepan bagaimana?”

 

“Appa! lihat! Hyun Gi Oppa menggoda wanita lagi!!”

“Yaah!! Alena!”

 

sedang ditengah keributan itu, Cho Kyuhyun lagi-lagi hanya dapat diam mematung. Termenung menonton, sambil mencerna dua nama yang baru diketahuinya kali ini. salah satunya, terdengar tidak asing.

 

“Cho Hyun Gi?” Kyuhyun menelengkan kepala heran. “Cho… Alena?”

 

** **

 

“2038?!!! Jadi.. usiamu… 44 tahun?” Kyuhyun menjatuhkan rahang tanpa ampun. Sendok berisi nasi yang baru akan masuk kedalam mulutnya kembali jatuh diatas piringnya.

 

Dia terdiam— berpikir keras, “jadi, usiaku 46 tahun?” pekiknya panic lagi usai mengkalkulasikan tahun dimana terakhir kali ingatannya menyimpan sosok mungil Hyun Gi yang ompong dan ‘agak’ sedikit botak. Kini putra satu-satunya itu telah menjadi seorang pemuda tampan, tinggi nan pandai. Tentunya dengan rambut yang lebat tak seperti terakhir kali Kyuhyun mengingat bagaimana rupa Hyun Gi dengan kelapa plontosnya.

 

46 tahun, yang benar saja! jadi apakah dia baru saja menaiki mesin waktu hingga dapat berada di- 24 tahun kehidupan mendatangnya? Ini benar-benar lucu! Tapi lucunya, inilah yang terjadi. Inilah yang sedang Kyuhyun rasa dan alami.

 

Sebanyak apapun kepalanya menggeleng keras. Sekeras apapun cubitan dilengannya— setiap dia membuka mata, maka sosok pemuda tampan yang dulu kerap kali dicibirnya, mendapatkan panggilan botak atau ompong. Yang sering kali menjadi lawan kerasnya dalam memperebutkan perhatian Songjin, kini telah menjadi seorang Pilot Flying.

 

Dan seorang lagi, gadis super cantik dengan kaki-kaki jenjang mulus— yang sedari tadi sungguh bersikap manja terhadapnya. Yang memilki nama Cho Alena.. adalah orang lain yang tak pernah ditemuinya, apalagi diingatnya, tapi Pilot Flying tampan itu meyakinkan Kyuhyun bahwa gadis seksi itu adalah adik kandungnya.

Dan lagi, wajah Alena mengingatkannya pada wanita lain yang saat ini duduk disampingnya. Songjin. Jika kalkulasinya benar. Maka saat ini Songjin telah berusia 44 tahun. Dan seingatnya, satu-satunya wanita yang tampak tak sesuai dengan usia sebenarnya, yang pernah ditemuinya hanyalah Kim Hanseo— ibu kandung Eun Soo.

 

Sepertinya Songjin telah memiliki pantuan tersendiri bagi hidupnya karena sungguh, diusia yang telah menginjak kepala 4 seperti saat ini, Kyuhyun tak menemukan setipis apapun itu peninggalan nyata bahwa Songjin telah berkepala 4.

 

Memang tidak juga terlihat seperti masih berkepala 2 saat mereka masih terlalu sibuk memikirkan siapa yang berselingkuh lebih dulu diantara mereka, tapi pun, Songjin tampak…. Manis.

 

Kemudian Kyuhyun mendapati dirinya sendiri tersenyum semringah. Matanya memandangi meja makan— satu persatu memerhatikan anggota didalam meja makan tersebut. Jadi, seperti inilah gambaran keluarga kecil yang dimilikinya? ini cukup keren omong-omong.

 

Dan catat, Kyuhyun tak ingat kapan pernah ‘membuat’ wanita seksi bernama Cho Alena yang kini duduk berhadapan dengan Songjin, tapi hey, sepertinya usahanya tidak buruk juga. Putrinya tampak sangat cantik.. dan omong-omong lagi, pasti ada sangat banyak lelaki yang menginginkan putrinya saat ini.

 

“kukira ada yang salah dengan appa—“ Alena mendesah. Gadis yang sedang Kyuhyun pikirkan didalam kepalanya itu berbicara setengah mendesah seolah berputus asa atas sikap Kyuhyun yang aneh sambil menunjuk Kyuhyun dengan sendok ditangannya. “Apa kepala Appa baru saja terbentur?” lanjut gadis cantik itu bermulut pedas.

 

Tidak ada keterkejutan dalam bentuk apapun yang Kyuhyun tampilkan. Mungkin itu adalah salah satu pemberiannya yang dimiliki oleh putrinya. Kyuhyun ingat bahwa Hyun Gi memiliki seluruh apa yang Songjin miliki nyaris terlalu banyak.

 

Tapi disaat yang bersamaan, Kyuhyun baru saja menemukan hal mengejutkan lain bahwa saat ini, sosok yang terlihat lebih condong pada Park Songjin itu menghilang. Lenyap entah kemana karena berganti oleh yang lain.

 

Tiap kali Kyuhyun memandang Hyun Gi, dia seolah sedang berkaca. Menemukan dirinya dalam versi lebih muda dari terakhir kali dirinya berkaca dan sempat terkejut melihat perubaha pada tubuhnya. Oh— perutnya sebenarnya.

 

Hyun Gi masih memiliki mata, hidung dan bibir khas Park Songjin. Sepertinya itu sudah melekat secara permanen, tapi sorot mata pemuda itu sungguh mengingatkan Kyuhyun akan dirinya sendiri. Ada satu yang tak pernah berubah. Hyun Gi selalu melihatnya setajam itu. Sejak kepala pemuda itu masih botak plontos saat bayi. Sejak tak ada satupun gigi yang tumbuh didalam mulutnya, dan sejak pemuda itu belum bisa mengatakan apapun.

 

Atau, sebenarnya itu hanyalah sebuah ilusi Kyuhyun mengingat keduanya tak pernah sejalan.

 

“mungkin Appa baru saja terkena Alzheimer?” Songjin seolah ikut menyemangati pencibiran Kyuhyun. Seolah tak peduli jika saja hal tersebut berpengaruh pada jatuhnya harkat martabat Kyuhyun sebagai seorang laki-laki, seorang ayah, dan suami.

 

Namun Kyuhyun sungguh tidak mengetahui apa-apa. Mulutnya hanya dapat menututp sedikit ketika dua wanita dimeja makan tertawa kencang, dan satu pemuda menyengir hambar seraya bertanya begitu polos, “apa aku terkena Alzheimer?”

 

Sungguh. Selepas pertanyaan polos itu, tak ada lagi gelak tawa dimeja makan. Hanya terdapat mata-mata bulat besar memandangi Kyuhyun penuh tanya, serta pertanyaan Songjin saat ini benar-benar menyiratkan bahwa wanita itu sungguh merasa khawatir hingga bertanya lebih polos daripada Kyuhyun tadi bahwa, “apa kau baik-baik saja, Kyuhyun-ah?” mata cerah Songjin berkedip kosong.

 

Seketika, Kyuhyun dibuatnya gugup, hingga tergagap menjawab, “Y—yeah?” menjadikannya sebuah pertanyaan daripada pernyataan.

 

“Oppa, kau menginap?” Alena tidak lagi peduli mengenai apa yang sedang terjadi dengan ayahnya. Kini perhatiannya berpusat pada Hyun Gi. “kapan penerbanganmu ke Yunani? Aku boleh ikut? Aku ingin ke santorini!” gadis itu tampak bernafsu mengatakannya. Seolah selepas dia berbicara, maka terdapat sebuah keputusan bulat, bahwa malam ini juga mereka akan terbang ke Yunani.

 

Sedang Hyun Gi nampak tidak berselera dengan pertanyaan adik-nya. Hanya menggerakkan bahu menggumamkan suara-suara tak pasti denga mata bergerak kesana kemari. “besok penerbanganku ke Paris.” Pemuda itu akhirnya bersuara. “dan eomma akan ikut—“

 

“APA?” Kyuhyun sedang berbicang dengan Songjin pun ikut berhenti bercakap. Dia dan Alena, nampak kompak memiliki reaksi keterkejutan yang sama.

 

“PARIS?”

“eomma?”

namun kekompakan keduanya tak lagi terlihat setelah keterkejutan kedua. Alena sibuk mengerjabkan mata tak percaya bahwa besok, ibunya akan pergi bersama kakak keparatnya ini tanpa sepengetahuannya sedangkan Kyuhyun… entahlah, baru saja merasakan nasib malang karena tidak sekarang, tidak juga dulu, Songjin selalu memiliki obsesi untuk meninggalkannya seorang diri.

 

“mm.” Hyun Gi mengangguk. “Ron?” lalu Alena menyipitkan mata curiga. Desahan kecewa meluncur ketika mendapatkan Hyun Gi mengangguk santai meyakinkan adiknya, bahwa penerbangan kali itu adalah Remain Over Night, yakni seluruh crew penerbangan akan menghabiskan seharian penuh di tempat tujuan penerbangan mereka sebelum kembali ke Korea.

 

“kenapa eomma?” air wajah Alena tampak muram. Kepalanya terjatuh diatas meja makan. Kyuhyun yang semula merasa patah hati bagai baru melihat jelas Songjin dan Changmin melangsungkan makan malam berdua saja, langsung merasa yakin bahwa bukan hanya dirinyalah yang merasakan hal serupa. Setidaknya, putrinya sedang merasakan hal yang mungkin bahkan lebih mengerikan daripada dirinya.

 

Hyun Gi mengeluarkan desahan panjang menonton adiknya bertingkah konyol. Menjedukkan kening keatas meja kaca mereka. Sama seperti Kyuhyun, walau tak lama melirik Songjin gemas. Wanita itu terang-terangan merasa menang setengah mati dengan menunjukkan tawa lebarnya, seolah tak peduli dengan kesedihan yang sedang dialami putrinya, sambil terus mengunyah makanannya.

 

Beberapa detik kemudian, barulah Songjin menyadari Kyuhyun memerhatikannya tajam. tapi toh, tidak ada hal penting lain yang Songjin lakukan selain meneruskan cengiran-tawa-keparatnya, sambil meleletkan lidah bagai bocah 5 tahun saja.

 

“huh?” Kyuhyun mengernyit heran. Park Songjin memang akan tetap menjadi Park Songjin tak peduli seberapa tua usia wanita itu. Maka tanpa rencana apapun, Kyuhyun mendadak bertingkah bagai oase dipadang pasir. Berkata lembut kepada Alena bahwa, “kita akan pergi kalau mereka pergi, Alena.”

 

Rengekan mengganggu berupa tangisan kecil Alena berhenti. Dia tak lagi menghadapkan wajahnya pada meja makan. Perlahan, Alena dapat mengangkat wajah polosnya memandang Kyuhyun ceria, “benar?”

 

mm. tapi Paris sudah biasa. Bagaimana kalau kita ke Italia? Florence misalnya?” Kyuhyun tersenyum simpul. Sedikit merasakan kemenangan, mengingat betapa Songjin sungguh terlalu menggilai Negara pasta tersebut dan kota Florence setengah mati.

 

Tak berapa lama pun Kyuhyun mendengar geraman dari sisi kanannya. 1-0 untukmu. Batin Kyuhyun sengaja tidak menolehkan wajah pada Songjin saat ini. dia hanya tersenyum kepada Alena, memerintahkan putrinya itu untuk menghabiskan makan malamnya segera.

 

** **

 

“Italia? Florence??!”

“aku hanya mencoba untuk bersikap adil.”

“apa yang kau tahu tentang keadilan?” Songjin bersungut. Sungguh wajahnya menampilkan kemurkaan teramat sangat dan Kyuhyun sudah terlalu hafal dengan raut wajah seperti ini. maka Kyuhyun tak menganggap serius omelan Songjin kali ini. sama seperti omelan wanita itu dibanyak hari sebelumnya.

 

“kau akan pergi ke Paris dengan Hyun Gi jadi kenapa aku tidak boleh membawa putriku pergi ke suatu tempat?”

Songjin menggeram lagi. Wanita itu kemudian sungguh menubrukkan dirinya pada tubuh Kyuhyun membawa mereka pada sudut ruangan. Mencoba melakukan hal mengerikan dengan menarik kerah kaus putih polos Kyuhyun, “kau sedang mencoba menjadi penjilat rupanya—“ dia menekan.

 

Kyuhyun sungguh tidak dapat menutupi kegembiraannya. Ada yang menarik perhatiannya kali ini. wajah Songjin tampak berubah namun tak memiliki perbedaan disaat yang sama. Kyuhyun tidak tahu bagaimana menjelaskannya tapi Songjin sungguh berbeda, “kau cantik sekali, kau tahu?” ujarnya mengusap pipi Songjin menggunakan punggung tangannya lembut.

 

Tubuh Songjin menegang dan Kyuhyun merasakannya. Dia hampir meluapkan tawa kencang ketika menyadari hal tersebut. Adalah sebuah kebanggaan diusia pernikahan ke 27 mereka, keadaan tak banyak memiliki perubahan.

 

Jantungnya masih berdegup tak karuan saat tubuh mereka berdekatan dan Songjin tampak masih kehilangan akal sehat saat mendapatkan sentuhan ringannya.

 

Pertahanan lapisan pertama Songjin tampak sudah hancur berkeping-keping. Wanita itu tampak jengkel, namun menikmati kulit tangan Kyuhyun yang merambati wajahnya, hingga turun pada lengan dan berhenti dipinggulnya. “hai.” Kyuhyun kemudian menyapa.

 

“Alena berkata kau baru pulang dari Jeju?”

“Y—yeah?”

“yeah?” Kyuhyun tersenyum. “kau berlibur?” senyum Kyuhyun melebar, “tanpaku?” dan semakin melebar. Semoga saja tidak tampak begitu dipaksakan karena berita sederhana itu sebenarnya terasa lebih menghantamnya bagai godam, tepat menubruk pada wajahnya.

 

Tak pernah sekalipun selepas pernikahan mereka, Songjin pergi berlibur seorang diri, atau dirinya yang melakukan hal itu pun sendiri. secara pribadi, Kyuhyun tak pernah merasa nyaman, dan tak pernah merasa bahwa itu adalah sebuah liburan, jika Songjin tidak bersamanya. Sebagian besar kegiatan berlibur mereka selalu dihabiskan untuk bersama-sama.

 

Kyuhyun tidak pernah ingat, kapan dirinya menjadi begitu membosankan hingga dia berada dinomor urut kedua dalam teman-kencan-asik Park Songjin dalam bersenang-senang.

 

“aku kira kita sudah membahasnya.” Songjin mendengus. “dan aku tidak menginap. Dan kau— kau bahkan mengetahuinya!” cengkraman kencang dikerah pakaian Kyuhyun merenggang. “aku hanya ingin menikmati waktu berkualitas bersama anak laki-lakiku, seperti kau yang selalu menghabiskan waktumu bersama anak perempuanmu.”

 

Sungguh, ada nada sarkas yang Kyuhyun temui didalam pernyataan Songjin. Seolah mereka adalah sepasang pria dan wanita yang menikah setelah berusia lanjut dengan membawa satu-persatu anak mereka masing-masing.

 

“aku?” alis Kyuhyun meranjak naik. entah menilai, entah mencela. Tapi yang kemudian dapat Kyuhyun tangkap, terdapat kecemburuan tinggi yang sedang Songjin rasakan. Ah— ralat, bukan sedang, tapi selalu. Atas hubungan erat keluarga kecil mereka.

 

Kyuhyun tersenyum simpul, “apa kau baru saja mengatakan, kau sedang merasa cemburu dengan putrimu sendiri?”

 

“aku?” mendadak Songjin menaikkan suaranya, “cih!” lalu mendesis membuang wajah jauh, “yang benar saja Cho Kyuhyun?!”

 

“yeah. Yang benar saja Cho Songjin! Jadi 27 tahun hidup bersama, menurutmu kau masih kurang memonopoliku?”

“aku tidak ingin memonopoli—“

“benarkah?” Kyuhyun menelengkan kepalanya lambat-lambat. Santai, namun tampak tegas mempertanyakan kejujuran pernyataan Songjin dengan langsung memutus pernyataan yang dianggapnya tak sesuai dan berkemungkinan memiliki kebenaran dalam presentase kecil.

 

“kau tidak pernah merasa ingin memonopoliku?” Kyuhyun tertegun, lagi-lagi dengan wajah super polos yang dibuat-buatnya, “tidak pernah merasa sekalipun seperti itu?” kepalanya menggeleng pelan, “karena anehnya, aku selalu merasakan hal seperti itu, saat melihatmu lebih dekat dengan Hyun Gi daripada denganku. kau tampak lebih menyukainya dibandingkan aku.”

 

Songjin benar-benar menjatuhkan rahangnya kali ini. Kyuhyun pasti telah berada diluar batasnya, berbicara segamblang ini, sama saja seperti menjatuhkan harga dirinya kebagian terdasar, dan itu tidak akan pernah menggambarkan seorang Cho Kyuhyun sama sekali. Bukankah begitu?

 

“—dan aku baru menemukan hal lain, disini. mengapa Hyun Gi tampak tidak bersahabat denganku? apa karena perselisihan dua kubu ini? aku dan Alena, kau dan Hyun Gi?” tawanya terdengar sayup. Hampa dan kebas.

 

Kyuhyun ingat seperti apa ekspresi Hyun Gi tadi, ketika dirinya dan Alena menjemput pilot muda itu selepas penerbangannya ke Jeju. Ketika Alena harus memaksa pemuda itu untuk menyapanya, itu bukanlah hal seharusnya dilakukan oleh seorang anak. Bukankah begitu?

 

“itu terdengar lucu, sayang, bukankah keluarga seharusnya menjadi satu? Bukan terbelah menjadi dua? Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi? Bisa.. jelaskan padaku?”

 

“huh?” Songjin mengerutkan kening. Melepaskan seluruh cengkramannya pada Kyuhyun kemudian perlahan tapi pasti berjalan menjauh. “kenapa tidak kau tanyakan sendiri saja dengan anakmu? Kalian yang berseteru. aku tidak tahu apa-apa. Yang aku tahu, kalian memang tidak pernah terlihat seperti ayah dan anak pada umumnya.”

 

Songjin berhenti berjalan, berdiri diambang pintu toilet bertolak pinggang berbalik menghadap Kyuhyun tampak ketus, “kau tahu, itu membuatku ingat betapa dulu kau menggilai anak itu saat masih berada didalam tubuhku. Aku sampai bosan mendengarmu berkata bahwa kau ingin dia cepat keluar dari dalam perutku. Kau ingat, bagian itu Kyuhyun-ah?”

 

** **

 

jawabannya adalah iya. Kyuhyun mengingat detail lengkap betapa dulu, dia begitu girang bukan main ketika mengetahui Songjin mengandung.

 

Kehamilan Songjin menjadi sebuah titik balik Kyuhyun terhadap banyak hal, seperti enyahnya rencana-melanjutkan-pendidikan Songjin ke Florence, Italia.

 

Seperti hubungannya bersama Songjin yang semula dingin, bahkan mereka nyaris berpisah, menjadi harmonis bahkan lebih ‘panas’ daripada sebelumnya.

 

Kyuhyun ingat, betapa mulai didetik itu, orientasi hidupnya mulai tertata rapih. Bahwa seluruh apa yang diusahakannya saat itu, semakin jelas tergambar akan diberikannya kepada siapa. Untuk memakmurkan hidup siapa.

 

Saat itu, terdapat Songjin dan bayi didalam tubuh wanita itu yang masih belum diketahui rupanya, jenis kelaminnya, tapi sungguh, saat itu Kyuhyun sudah begitu jatuh cinta untuk ketiga kalinya.

 

Kemarahannya akan dengan cepat mereda saat Songjin memberitahunya bayi didalam tubuhnya bergerak— dan mereka langsung menyibukkan diri dengan apa yang ada didalam tubuh Songjin ketika itu. Memintanya untuk bergerak lagi tak peduli apakah janin itu memahami bahasa mereka ketika itu atau tidak.

 

Kyuhyun ingat, betapa dulu, bahkan sebelum bayi laki-laki itu ada, tidurnya akan selalu terasa aman dan nyaman ketika wajahnya benar-benar berhadapan dengan perut besar Songjin. Membayangkan dirinya berhadapan dengan calon anaknya, adalah hal menyenangkan kesekian yang Kyuhyun pernah alami.

 

Jadi sekarang, dia sungguh lupa alasan mengapa setelah bayi itu lahir, kegembiraan serta ketertarikan akan menyentuh, bersama dan melakukan banyak hal bersama bayi itu lenyap? Kemana perginya?

 

** **

 

Pukul 11:30 malam— dan Kyuhyun masih duduk seorang diri didalam ruang santainya. Demi dewa Zeus, demi Athena Kyuhyun baru menyadari bahwa sebenarnya, sekitarnya memiliki perbedaan nyata, tapi perbedaan itu sungguh tidak disadarinya, mengingat beberapa jam belakangan tadi, Kyuhyun sedang-terlalu-fokus memerhatikan hal lain, seperti, jadi, ternyata saat ini dia adalah seorang Ayah, dengan dua anak berusia 24 tahun dan 21 tahun. Dia sendiri telah berusia 46 tahun— diperkuat dengan bentuk tubuh dan perut yang ehm.. sudahlah tak perlu dibahas.

 

Dan Songjin, berada pada usia 44, sedangkan pernikahannya bersama wanita menyeramkan itu sudah berjalan kurang lebih 27 tahun lamanya.

 

“wow!” hanya decakan sederhana itulah yang terus menerus Kyuhyun keluarkan, mengingat usia pernikahannya bersama Songjin. 27 tahun bukan waktu yang sebentar, dan sebenarnya, Kyuhyun sedang lebih menganggumi kemampuannya untuk bertahan hidup bersama wanita yang terkenal dengan sifat anarkis itu hingga 27 tahun lamanya!

 

Catat! 27 tahun!

 

Kyuhyun sungguh penasaran setengah mati, apa saja yang sebenarnya dia lakukan sampai bisa bertahan selama itu, sedangkan selama ini yang Kyuhyun rasakan, dia hampir sering ingin mencekik lehernya sendiri jika Songjin sudah memulai ulahnya.

 

Dan sepertinya… bukankah selama ini pun Songjin tidak tampal serela itu untuk menghabiskan hidup bersama dengannya, bukankah seperti itu?

 

Dan selagi Kyuhyun terlalu sibuk dengan presepsi buatannya, telinganya mendengar jelas sekali langkah kaki kencang bagai hagrid yang sengaja melompat-lompat dari lantai dua diatasnya agar rumahnya dapat ambruk seketika. Lalu sayup, perlahan dia mendengar suara lain berupa bentakkan kasar, “sudah kubilang jangan pergi lebih dari pukul sepuluh malam, aku sudah memberitahukanmu!!”

 

Kyuhyun menoleh, lalu menemukan Hyun Gi dibelakangnya sibuk memaki ponsel miliknya. Banyak kata-kata kasar yang pemuda itu gunakan dan Kyuhyun tak perlu bertanya, kepada siapa pemuda itu sedang marah karena pada kalimat akhir sebelum akhirnya Hyun Gi memutus sambungan, pemuda tampan itu mengutuk adiknya, “Cho Alena you little bastard, I’ll kill you when I met you later, I swear!!

 

.

.

Hening.

Hanya terdapat kecanggungan saat Cho Hyun Gi, pilot tampan itu menyadari Ayahnya berada tak lebih dari dua meter jauhnya dari tempatnya menjejak.

 

Seolah menyesali berbagai kata-kata buruk yang sudah dilemparkan secara sengaja kepada Alena, Hyun Gi tampak gugup menelan ludahnya saat Kyuhyun pun melakukan hal sama sepertinya. Hanya diam memandanginya tanpa mengatakan apapun.

 

Lalu Hyun Gi mendesah, “ini Alena—“ katanya mengangkat ponsel miliknya sebentar, lalu menurunkan dan memasukan kedalam saku jaket kulit yang sedang dikenakannya.

 

Sedang Kyuhyun mendadak merasa lebih canggung daripada sedang berhadapan dengan Songjin untuk sekedar membawa secara paksa maupun tidak, wanita itu keranjang seperti biasanya.

 

Oh— tidak seperti biasanya juga. Sebenarnya Kyuhyun sudah cukup lupa mengenai hal itu mengingat telah nyaris delapan bulan— Ah Sembilan atau lebih? Dia benar-benar menahan ‘hormon’ lekakinya itu hingga tidak meniduri Songjin begitu lama. Lucunya, ternyata dia sanggup-sanggup saja melakukannya walaupun memang benar-benar menyiksa.

 

Hyun Gi tampak mendesah panjang. Entah, apakah desahannya tadi adalah suatu wujud dari rasa putus asanya, atau malah penyesalan karena tak sengaja bertemu Kyuhyun diruang santai, pada kondisi ruangan super gelap— nyaris mustahil ditinggali makhluk hidup didalamnya, karena tentu terasa begitu hampa.

 

Tapi, disanalah Kyuhyun berada. Dan Hyun Gi tidak bisa berkomentar apapun selain gerakkan mengangkat bahu perlahan dibarengi dengan suara beratnya, “join me?” dia menawarkan Kyuhyun untuk ikut serta entah kemana.

 

** **

 

“tolong jangan beritahu eomma kalau mendatangi tempat ini.” adalah peringatan Hyun Gi kepada Kyuhyun saat pemuda itu mengisi gelas kecil Kyuhyun dengan soju, begitupun gelasnya.

 

Kyuhyun hanya mengangguk polos memandangi gelasnya, lalu pemuda tampan dihadapannya tanpa banyak bertanya.

 

Sebenarnya, adalah mustahil berbohong kepada Songjin mengenai acara minum-minum malam ini karena seperti tidak tahu saja, hidung wanita itu dapat bekerja seratus kali lebih baik daripada anjing pelacak kepolisian dalam mengendus wewangian yang tak begitu disenanginya.

 

Alkohol salah satunya.

 

Tapi toh, rencana tidak mengatakan apapun kepada Songjin malam ini mungkin adalah ide yang bagus juga mengingat adanya kemungkinan besar, interupsi menyebalkan dan suara nyaring Songjin yang akan terdengar dari sambungan telepon tepat ditengah malam nanti. Yeah.. setidaknya persekongkolan ini bukan ide yang buruk juga.

 

Menit pertama Kyuhyun dan Hyun Gi habiskan untuk diam saja menghabiskan soju dan mulai mengisi gelas-gelas mereka lagi kalau telah kosong karena habis ditenggak.

 

Keduanya sibuk mengamati sekitar mereka saksama— tapi Kyuhyun lebih tetarik memerhatikan seorang wanita yang sudah teller dan sedang merepotkan pria yang datang bersamanya.

 

Kepala wanita itu telah terjatuh dimeja dan mulutnya, sudah mengeluarkan rancauan aneh agak sedikit mengerikan, membuat si pria kelabakan.

 

Kyuhyun tertawa pelan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil merunduk untuk menyembunyikan tawa tersebut. Sungguh, wanita itu mengingatkannya kepada seseorang dan Hyun Gi seolah sadar, bahwa Kyuhyun baru saja mendapatkan tontonan gratis malam itu. Pemuda itu ikut menoleh kemeja belakangnya, lalu tersenyum simpul, “aku ingat orang tolol yang akan bertingkah seperti itu saat dia sudah terlalu banyak meminum alcohol.” Kata Kyuhyun.

 

Hyun Gi menganggukan kepala setuju, “yeah. Sangat bodoh.” umpatnya melirik meja belakangnya lagi untuk terakhir kali sebelum memutuskan untuk tak lagi memerhatikan meja tersebut seberapapun lucunya pemandangan itu.

 

“Songjin—“

“Alena—“

 

Kyuhyun dan Hyun Gi mengucapkan nama berbeda bersamaan. Cukup membuat keduanya terkejut sesaat, lalu tertawa tipis pada akhirnya. “Alena, huh?” ada dua baris gelombang pada kening datar Kyuhyun. Mengingat usia putrinya yang yeah… sepertinya terlalu muda untuk menenggak minuman beralkohol.

 

Hyun Gi mengangguk lagi sambil menyengir, “hanya beberapa gelas dan langsung terkapar pingsan.” Mata Kyuhyun langsung membulat mendengarnya, “itu tidak terdengar asing—“ungkapnya. “Songjin juga—“ mulutnya lalu terkatup, “maksudku, Ibumu,” ralatnya, “setidaknya aku tahu apa yang wanita barbar itu turunkan kepada anakku. Cih!”

 

Cengiran Hyun Gi perlahan berubah menjadi gelak tawa riuh. Dia kembali menggelengkan kepalanya seolah berharap kisah yang didengarnya tidak dapat lebih lucu lagi atau dia akan mati keram diperut.

 

Sebenarnya, kisah yang Kyuhyun ceritakan tidak terlalu lucu juga— tanpa diberitahu, Hyun Gi sudah mengetahuinya, hanya saja, entahlah.. mengapa dia ingin tertawa. Hanya ingin melakukannya saja.

 

Suasana kembali hening. Lalu Kyuhyun mulai memainkan telunjuknya diatas gelas miliknya. Belum berniat lagi untuk mengisi gelas kosong itu dengan cairan tak berwarna itu lagi. “jadi…” katanya mulai bersuara, “Korean Air, Pilot Flying, huh?”

 

Wajah Hyun Gi tampak mengernyit. Dia memandangi Kyuhyun sama anehnya seperti saat Kyuhyun menanyakan siapa itu Alena, atau, ada apa dengan wajah Songjin? Atau pertanyaan ekstreem lainnya, saat Kyuhyun bertanya mengenai siapa dirinya.

 

Tapi toh, hal tersebut tak lantas membuat Hyun Gi urung menanggapi Kyuhyun. Pemuda dengan wajah tirus, mata tajam dan rahang tegas itu menggosoki dagunya seraya memerhatikan Kyuhyun dengan mata menyipit, “kurasa Alena benar. Apa terjadi sesuatu dengan otak-mu Appa?”

 

Kyuhyun tak sempat menjatuhkan rahang. Dia terlalu ingat, dari siapa kemungkinan mulut pedas Hyun Gi berasal dan rasanya, tak pantas kalau dia menyalahkan dirinya sendiri. anggap saja itu sebuah anugerah.

 

“aku hanya—“ Kyuhyun menelengkan kepala, “sebenanrya agak sedikit pusing.” Candanya menyelipkan tawa diantara keseriusan yang sebenarnya sungguh terjadi.

 

Hyun Gi tidak tampak curiga lagi. Dia tidak lagi memandangi Kyuhyun bagai seorang penjahat atau pencuri. Dia hanya berdecak-decak memerhatikan jam tangannya, lalu menggidikkan bahu, “sebenarnya aku memiliki kemungkinan besar untuk pindah maskapai.” Katanya gamang, terdengar tidak terlalu bersemangat. “Air france?”

 

Kyuhyun berhenti memainkan jemarinya diatas gelas. Langsung mengangkat kepala saat itu juga sambil mengejabkan mata seolah baru saja terhantam cahaya puluhan juta volt langsung pada retinanya, “Air France?!!” dan suaranya tidak terdengar bagai pertanyaan sebagai fungsi memperjelas suatu kalimat.

 

Kyuhyun lebih terdengar bagai sedang memekik seperti Songjin yang baru melihat tas menarik dietalase Gucci.

Air France. Orang buta pun tahu itu bukanlah sebuah maskapai sembarangan. Itu adalah sebuah maskapai eksklusif asing milik Perancis yang harga pertiket sungguh tidak bisa dibuat candaan.

 

Jadi, kali ini Kyuhyun lebih terfokus pada kebanggaan terhadap dirinya sendiri akan kesuksesannya membesarkan si ompong dan botak itu menjadi begini luar biasanya. “wow—“ tampak senyuman miring keparat miliknya tersaji disudut bibir yang tak lama, disambut hal serupa oleh pemuda bermarga sama dihadapannya sambil mengangguk sombong, “yeah.” Katanya mengisi gelas-gelas kosong mereka dengan soju lagi, “aku tahu aku keren,” jawab Hyun Gi.

 

Dan seolah tak mau kalah, Kyuhyun menyeringai lebih lebar, “sepertinya aku tahu dari mana kau mendapatkan hal keren itu.” Ungkapnya berbangga hati membusungkan dada.

 

Keduanya tertawa bersamaan riang meneruskan rasa bangga akan diri masing-masing mereka sampai Hyun Gi memerhatikan jam tangannya lagi lalu mengganti tawa itu dengan decakkan sebal.

 

Tangannya merogoh saku jaket. Mengeluarkan ponsel lalu menghubungi seseorang, dan setelah tersambung, langsung begitu mudahnya berteriak tanpa peduli sekitar, “YAH! Sudah pukul berapa sekarang, dasar bodoh! cepat kembali aku sudah menunggumu lama sekali!”

 

Hyun Gi terlihat sungguh kesal. Satu tangannya mengepal dan wajahnya tidak lagi dapat dikatakan santai seperti tadi. warna kulit putih pucat—seperti Kyuhyun yang ada pada pemuda tampan itu perlahan-lahan berganti menjadi merah.

 

Kyuhyun memandangi Hyun Gi datar. Dia sendiri ingat dengan banyak hal saat melihat Hyun Gi seperti itu sedari tadi. dia seolah sedang berkaca dan melihat dirinya sendiri sedang mengutuk orang diseberang tanpa ampun.

 

“aku bilang kau tidak boleh melakukannya tengah malam seperti ini. siapa yang menyuruhmu melakukan hal itu semalam ini? manajermu? mana manajermu— bawa kemari, akan kupatahkan lehernya kalau berani melakukan hal itu lagi!” Hyun Gi benar-benar sudah naik darah. Dia menarik ponsel dari telinganya. Meletakkan didepan mulut dan membentak, “dua puluh menit lagi aku tidak menemukanmu ditempatku. Aku benar-benar akan kesana dan mematahkan leher wanita jalang itu kau dengar aku?!”

 

lalu sambungan terputus. Hyun Gi tampak terengah-engah dan seluruh mata disekitar meja mereka benar-benar baru saja mendapatkan tontonan gratis.

 

Kyuhyun menggosok lehernya sambil menghela nafas panhang. Dia tahu, dia mungkin sekasar itu kepada Songjin tapi dia sungguh tidak mengira, sifatnya yang buruk itu, akan menurun sebegitu samanya tanpa ada sedikitpun perbedaan kepada putranya. Dan omong-omong.. itu mengerikan.

 

Kalau seseorang diseberang sana adalah wanita.. dan Kyuhyun pastikan bahwa itu memang adalah wanita… Kyuhyun tak pernah dapat membayangkan wanita jenis apa, dari spesies manakah yang mampu bertahan dengan lelaki temperamental sepeti ini?

 

Seingatnya, populasi wanita seperti itu hanya ada satu dan itu sudah menjadi hak miliknya paten. Songjin tidak memiliki saudara kembar apalagi jenis serupa ditempat lain. Iyakan?

 

“Hei—“ Kyuhyun menyentuh bahu Hyun Gi sedikit ingin menenangkan putranya dengan mengusap lembut. “dengan wanita jangan sekasar—“

 

“Appa, aku kira kita sudah membicarakan hal ini. bukankah kita akan mencabut Alena dari manajemen lamanya? Kapan kita benar-benar akan melakukan hal itu sebenarnya?”

 

huh? Alena? Jadi.. wanita diseberang itu.. Alena?

Dan apa katanya tadi? mencabut Alena dari manajemen lamanya? Manajemen apa? Apa yang membuatnya harus mencabut putrinya itu dari manajemen lamanya?

 

Dan sungguh, ditengah kepelikkan Kyuhyun, Hyun Gi nampak tak lagi sabar menghadapi Kyuhyun hingga membuang napas kasar, “Appa! Ya ampun! Sampai kapan Appa akan memanjakan Alena dan menuruti semua keinginannya? Aku kira kita sama-sama tahu bahwa manajemen milik bocah dungu itu saat ini adalah manajemen permodelan yang paling buruk di planet ini?!”

 

“model?” Kyuhyun menjatuhkan rahangnya.

“jangan ada pertanyaan tolol lagi, Appa, oh ayolah!!”

Kyuhyun membatalkan rencana untuk menenggak sojunya. Dia mengembalikan gelas itu keatas meja dan mulai teringat betapa kaki jenjang Alena sungguh bukan main-main. Pantaslah gadis itu menjadi seorang model.

 

Tapi model? Model yang benar saja! berapa usianya memang? Dan Hei, apa Alena adalah model seperti Kim Eun Soo dan Kim Hanseo atau apa? Kalau iya, mengapa tadi saat mereka mendatangi airport untuk menjemput Hyun Gi dan Songjin yang baru kembali dari Jeju, tak ada satupun media yang mengerubungi mereka seperti ketika Eun Soo mulai memunculkan diri ditengah orang-orang kebanyakan?

 

“aku benar-benar tidak menyukai manajemennya saat ini. dia seperti sapi perah yang terus menerus dipaksa melakukan ini dan itu, tapi tidak memiliki hasil baik untuk dirinya sendiri.”

 

“selain ketenaran?”

Hyun Gi tersenyum sinis, “ketenaran yang tidak seberapa dengan kerjanya.” Balas pemuda itu langsung menenggak sojunya sampai tandas. “jadi bukankah kita pernah berbicara tentang mencabut boah dungu itu dari tempat lamanya dan membayar berapapun pinalti yang harus dibayarkan?”

 

Kyuhyun diam memutar mata dan otak. Memikirkan yang sebenarnya tidak diketahuinya sama sekali. Dia hanya mengandalkan logika kali ini. bukan ingatan keparatnya yang tidak bisa diandalkan sama sekali sejak siang tadi. “atau Appa lupa dengan perkacapan kita saat itu?” senyum sinis Hyun Gi semakin menjadi saja membuat Kyuhyun cepat-cepat menggelengkan kepala, “tidak. Aku ingat.” Ujarnya namun bertanya pada dirinya sendiri, sebenarnya apa yang dirinya ingat tentang manajemen sialan itu?

 

“aku sudah meminta tolong Eun-Ji dan Donghae samchon untuk—“

telinga Kyuhyun medadak berdengung mendengar nama Donghae diucapkan, lalu mempertanyakan satu nama wanita diawal tadi, “Eun-Ji?”

 

Hyun Gi menghela napasnya, “Lee Eun-Ji, Appa!”

“Jadi, Eun Soo dan Donghae tidak menikah? Dan Donghae menikah dengan seseorang benama Eun-Ji?” Kyuhyun menggosok dagunya saat alis Hyun Gi perlahan demi perlahan meranjak naik, “aku rasa tidak mungkin Donghae samchon menikahi putrinya sendiri dan melupakan bahwa dia telah luar biasa beruntung yang membuatku berpikir mungkin Donghae samchon adalah seorang prajurit pembela Negara dikehidupan sebelumnya sampai dikehidupan saat ini dia bisa menikahi wanita paling keren yang pernah aku kenal—“

 

“Kim Eun Soo?” ragu-ragu Kyuhyun bertanya, kemudian Hyun Gi benar-benar menjedukan kepalanya dimeja, “ya ampun Appa, kau benar-benar!!” pemuda tampan nan gagah itu kehabisan kata-katanya.

 

“Apa Siwon Hyung—“

“maksud Appa Jiwon?”

“huh?”

“apa akan bertanya lagi, apa Siwon samchon memiliki anak atau tidak, dan—“

Kyuhyun melebarkan lima jarinya tepat didepan wajah tampan putranya, “maksudmu si Kuda itu sudah memiliki anak? Yeah, aku tahu dia pasti memiliki anak. Yang ingin kutahu, apakah anak itu—“

 

“Adopsi.” Seolah dapat membaca pikiran satu sama lain, Hyun Gi dan Kyuhyun saling bersahutan memotong-potong pembicaraan mereka satu sama lain.

 

Dan seperti yang Kyuhyun khawatirkan mengenai ginjal dan kantung rahim Gyuwon, mengingat sejarah kesehatan wanita itu yang agak menyeramkan, dan tidak adanya kemungkinan baginya untuk mengandung, Kyuhyun rasa pertanyaannya adalah pertanyaan yang masuk akal dan seharusnya dapat dianggap wajar.

 

“Jiwon dan Dong Won,”

“Jiwon? Dong Won?” Kyuhyun mendesiskan tawa mencela. Siwon sungguh senang menyelipkan namanya yang serupa dengan jenis mata uang Negara mereka itu ke setiap nama orang-orang penting dalam hidupnya, seperti mendapatkan istri bernama Gyuwon. Lalu anak-anak mereka memiliki akhir yang sama, yakni Won.

 

Pria atletis itu sungguh terobsesi dengan uang rupanya cih.

 

“mereka kembar fertile dan demi Tuhan kalau Appa ingin mengulang cerita ini lagi, lebih baik temui Siwon samchon sekarang karena aku benar-benar malas mengulang cerita yang sama berpuluh kali—“ Hyun Gi bertopang dagu dengan mata memelas memadang Kyuhyun.

 

Rasanya sedih dan jengkel bukan jika setiap penjelasanmu disela dan dijadikan pertanyaan oleh lawan bicaramu?

 

“Eun-Ji berkata berapa banyak pinalti yang akan kita tanggung kalau Alena benar-benar menarik diri dari tempatnya itu.” Hyun Gi menggerakkan jari-jarinya dengan cekatan diatas ponsel lalu menunjukkan sesuatu kepada Kyuhyun yakni pesan singkat dari wanita bernama Lee Eun-Ji tersebut.

 

Matanya bergerak cepat begitu teliti membaca kata per kata disana. Ada beberapa hal yang tidak dimengertinya namun Kyuhyun mengurungkan niat untuk bertanya karena seperti yang dilihatnya tadi, Hyun Gi tampak begitu geram ketika seluruh perkatannya disela dan diubah menjadi pertanyaan tanpa ujung olehnya.

 

“100.000 dollar—“ Kyuhyun tampak menimbang lama. Menilik kemungkinan ini dan itu sampai pada akhirnya dia benar-benar malas untuk memikirkannya hingga menjawab santai, “bayar saja. tarik Alena dari tempat itu dan biarkan anak itu bebas.”

 

“well— 100.000 dollar bukan uang uang seikit, kalau Appa lupa.”

“uang masih bisa dicari. Apa aku pernah mengajarkanmu untuk menjadi perhitungan dengan saudaramu sendiri?”

Hyun Gi mengulum bibir menjadikkannya sebuah kerucutan panjang. Didahinya mulai tampak gelombang-gelombang tipis karena pemuda itu sungguh sedang menggunakkan isi kepalanya untuk berpikri keras.

 

Kemudian Hyun Gi menggeleng, “sebenarnya bukan masalah uang.” Ujarnya bersamaan dengan hembusan napas pendek, “tapi Alena pasti akan sangat marah kalau kita melakukan hal ini, karena seperti yang Appa tahu, Alena benar-benar menginginkan hal ini dengan upayanya sendiri tanpa bantuan siapapun. Bahkan Eun-Ji.”

 

Hyun Gi menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Dia memandangi sekitarnya lalu baru menyadari bahwa hanya tinggal mejanya sajalah yang terisi. Nyaris seluruh orang dicart bar pinggir jalan ini yang tadi masuk bersamaan dengannya tak lagi terlihat batang hidungnya.

 

Hyun Gi kembali melirik jam tangannya. Memerhatikan jarum pendek disana, mengarah pada angka dua. Itu sama artinya, telah nyaris 2 jam lebih dirinya dan Kyuhyun berada ditempat itu, membicarakan topic sederhana ini dan tak kunjung usai.

 

Kepala Hyun Gi terantuk lesu dengan tangan memegang erat botol hijau berukuran 700 ml tersebut, “dia benar-benar melakukan semuanya seorang diri hingga sampai dititik ini. sebenarnya, aku sendiripun tidak tega, tapi aku lebih tidak tega melihatnya seperti saat ini.” usai bicara, bibir tebal itu mengerucut lagi.

 

Mata Hyun Gi menerawang entah kemana. Tubuhnya mengarah pada Kyuhyun tapi sepertinya, jiwanya sedang melayang tak tahu kemana. Yang Kyuhyun tahu, dia sungguh meyakini bahwa Hyun Gi sungguh terlalu menyayangi Alena. Dia benar-benar lupa metode mendidik seperti apa yang telah digunakannya tapi Kyuhyun benar-benar merasa tenang sekaligus bangga kepada putranya.

 

Seolah jika saja dia harus mati hari ini, itu bukan suatu masalah besar karena Kyuhyun tahu persis bocah yang sering dipanggilnya ompong ini dapat diandalkannya.

 

Lalu Kyuhyun tersenyum. Menarik botol suju ditangan Hyun Gi menuangkannya pada gelas mereka berkata, “Hei—“ ujarnya tampak santai “jangan terlalu khawatirkan gadis itu. Dia masih urusanku. Masih tanggung jawabku, aku akan mengurusnya. Ini bukan masalah besar.” Kyuhyun menyengir lebar, “minum.” Katanya mendorong gelas Hyun Gi dengan pantat botol hingga mendekat pada dada bidang Hyun Gi.

 

“jadi bagaimana kalau kau serahkan permasalahan Alena padaku, dan beritahu aku sekarang, siapa pacarmu?”

 

** **

 

malam semakin larut, Oh— maaf, sebenarnya kini tak lagi pantas disebut malam. Sudah pukul setengah tiga—pagi buta. Semakin pagi, bukan tawa karena nyawa yang telah tinggal separuh yang ayah dan anak itu keluarkan, melainkan suara pelan, dan semakin pelan.

 

Itu karena Kyuhyun baru mengetahui segalanya. Mengenai sikapnya yang menurut pilot tampan itu, sama sekali tak adil terhadapnya jika dibandingkan dengan adik perempuannya itu. Kyuhyun menganggapnya sebagai sebuah kecemburuan standar, kakak beradik yang kerap kali terjadi.

 

Kyuhyun ingat dia pernah merasakan hal serupa kepada Siwon, namun dia benar-benar tidak pernah peduli akan hal itu dan tak pernah melakukan aksi protes kepada Choi Ki Ho.

 

Lalu Kyuhyun ingat, Songjin memang anak tunggal. Tapi wanita mahagalak itu juga pernah melakukan aksi yang sama saat Gyuwon sakit, dan nyaris seluruh perhatiannya tercurah bagi kesembuhan wanita yang kini telah menjadi ibu dari dua anak kembar, Jiwon dan Dong Won tersebut.

 

Aksi protes Songjin tak tanggung-tanggung. Kyuhyun ingat, Songjin menjadi tak waras karena meminum banyak sekali soju lalu saat dia menjemputnya, Songjin sudah setengah tidak sadarkan diri sambil menangis dan meraung meminta mereka agar berpisah.

 

Songjin benar-benar akan membiarkan Kyuhyun untuk kembali memadu kasih dengan mantan pacarnya itu yang sebenarnya adalah ketidakmungkinan bagi Kyuhyun karena Kyuhyun sendiri benar-benar telah melenyapkan Gyuwon dan menggantikan wanita ahli bela diri itu dengan wanita ahli mengamuk, entah sejak kapan.

 

Lalu Kyuhyun tersenyum simpul mengingat betapa malam itu adalah malam yang berat, mengerikan, namun juga menyenangkan disaat yang sama karena setidaknya, dengan kondisi setengah sadar seperti itu, akhirnya Kyuhyun mendapatkan malam pertamanya yang telah tertunda selama 2 tahun lamanya, dan bukankah karena hal itu juga, adalah alasan standar mengapa kini dia bisa berhadapan dengan pemuda tampan bernama Cho Hyun Gi?

 

Kyuhyun tertawa memikirkan cara termudah untuk menjelaskan hal tolol itu kepada Hyun Gi namun sudahlah, bukankah kadang ada beberapa hal menarik yang lebih pantas diendapkan saja untuk dirimu sendiri daripada harus dibagi dengan orang lain yang mungkin belum tentu akan tertarik dengan kisahmu?

 

Kyuhyun mendapati Hyun Gi lagi-lagi gusar ditempatnya. Jawabannya mudah sebenarnya. sampai detik ini, Alena belum juga muncul dan sedari tadi, terdapat gurat kekhawatiran tingkat mutakhir yang Kyuhyun anggap tampak berlebihan menghiasi wajah tampan putranya.

 

Bukankah tadi, Hyun Gi sendiri yang berkeluh kesah mengenaik ketidak adilan yang dirasakannya terhadap dirinya dan Alena? Jadi katakan, bukankah hal seperti ini adalah waktu yang tepat baginya untuk membalaskan dendamnya kepada gadis yang sedari tadi, Kyuhyun dengar dipanggil dungu oleh Hyun Gi?

 

Kyuhyun berusaha mencarikan suasana dengan mencari topic pembicaraan lain selain proses gladi resik pagelaran busana yang sedang menjadi tender utama manajemen Alena miliki hingga membuat gadis itu harus mau tak mau bertahan ditempat itu hingga sepagi ini.

 

“jadi, apa itu untuk Eun-Ji?” dagu Kyuhyun menunjuk sebuah kotak persegi berukuran mungil berwarna merah darah disaku jaket kulit Hyun Gi.

 

Pada awalnya Hyun Gi cukup tersentak mendapati Kyuhyun menyadari apa yang terdapat didalam saku jaketnya namun pemuda itu sadar bahwa sedari tadi dia mengeluar-dan masukkan ponsel miliknya dilubang saku yang sama hingga mungkin, pada akhirnya kotak sialan itu terlihat.

 

Bahu Hyun Gi melunglai sejenak. Bukan mulut yang menjawab pertanyaan Kyuhyun namun gerakan alis tebal pemuda 24 tahun itu yang naik dan turun secara enggan. “tadinya—“ ujar Hyun Gi tanpa semangat, “tapi sepertinya tidak perlu.”

 

“kenapa tidak perlu?”

bukan hal mesti ditutupi lagi, Hyun Gi tampak super enggan untuk berbicara kali ini. tidak ada emosi yang meluap seperti saat dia menjelaskan betapa bodohnya Alena dan Kyuhyun akan menimpali hal yang sama, menyamakan putrinya dengan Songjin, lalu keduanya melabeli dua wanita itu dengan pasangan dungu.

 

“dia tidak menyukaiku.”

“uh-huh?”

 

Kyuhyun tersenyum mendengarnya. Ini sudah kesekian kalinya dia mendapati segala hal pada dirinya, terulang pada putranya. Seperti emosi yang tak stabil, lidah tajam, ketampanan (ehm, itu termasuk kan?), mata tajam, cara tertawa, cara berbicara, hingga perjalanan kisah cinta bocah ini pun sama dengannya? Oh— ya ampun! yang benar saja!

 

“dia tidak menyukaimu atau kau yang belum mencari tahu hal itu?” Kyuhyun melirik curiga. Sebagian besar perasaannya merasa bahwa dia tahu akan kemana cerita ini berjalan dan berakhir nanti.

 

Hyun Gi menelengkan kepalanya dengan mata menyipit. Seolah tak ingin salah berbicara mengenai topic kali ini. bibirnya mengerucut dengan jari diketuk-ketukkan di meja kayu, “dia tidak menyukaiku. Aku dapat menjaminnya um—“ Hyun Gi menimbang, “50 persen.”

 

“hanya sebesar itu?”

“itu tidak hanya.”

“itu hanya, bodoh!” maki Kyuhyun tampak kesal. “kenapa menurutmu dia tidak menyukaimu?”

 

“—dia.. um—dia menolak lamaranku?”

“kau sudah melamarnya?”

Hyun Gi menggerakkan bahunya malas, “kurang lebih? Jika itu bisa disebut melamar.” bibir Hyun Gi tampak tenang tak memiliki pergerakkan sedikitpun namun lima detik setelahnya, bibir itu bergerak-gerak menyuarakan kekesalannya tanpa ampun, “demi Tuhan aku melakukannya ditempat yang semua orang katakan paling romantis didunia! Aku melakukannya di sebuah restoran tepat pada menara Eiffel, dan demi Tuhan aku bersumpah, aku yakin kondisi saat itu benar-benar seperti yang sering aku lihat ditelevisi jadi katakan padaku mengapa dia bisa menolakku?” Hyun Gi menarik-tarik rambutnya sendiri. menjedukkan kepalanya diatas meja kayu seolah berharap ingatan akan hal tesebut langsung rontok saat dia melakukan hal seperti itu.

 

Sedangkan Kyuhyun hanya bertopang dagu melihat putranya tampak bagai makhluk paling putus asa. Paling meyedihkan dengan tampilan kemasan yang mengaggumkan. Tak pernah ada yang akan mengira bahwa si pilot tampan nan keren ini sebenarnya hanyalah cecunguk payah yang sedang setengah mati putus asa karena lamarannya ditolak.

 

“apa maksudmu, jika kau melakukannya di Bulan, maka Eun-Ji tidak boleh menolak lamaranmu begitu?” nada sarkas tak dapat disisihkan dari pertanyaan Kyuhyun tersebut, “itu hak nya omong-omong. Bukankah lamaran adalah sebuah pertanyaan sederhana dengan jawaban ya, dan tidak? Itu sama saja dengan ajakan, dan bukankah selalu ada dua jawaban seperti posistive dan negative yang berdampingan?”

 

Hyun Gi mendesis, “bicara saja Appa dengan botol ini.” pemuda itu tampak enggan dan tak lagi menaruh simpati dalam ukuran sekecil apapun pada kalimat dewa Kyuhyun— menyodorkan botol soju kosong kepada Kyuhyun.

 

“Eun-Ji berkata, dia masih terlalu muda untuk menikah. Usianya sama seperti Alena, 21 tahun. Tapi aku ‘kan tidak memaksanya untuk menikah saat ini. aku hanya—“ ucapan Hyun Gi mengambang begitu saja saat mendapati alis-alis Kyuhyun terangkat tinggi untuknya. kepalanya lalu terantuk lagi dimeja, “ah baiklah-baiklah, aku memang memintanya untuk menikah tapi itu bukan hal yang buruk ‘kan? maksudku— aku tidak akan melarangnya untuk melakukan apa yang diinginkannya. Aku hanya ingin mengikatnya. Sesederhana itu saja.”

 

Kyuhyun diam. Berusaha mencerna rengekan putranya yang baru kali pertama didengarnya. Sungguh, kini dia dapat memahami seperti apa Choi Ki Ho dulu kala dirinya sedang mati-matian menghindari cecaran pertanyaan mengenai ‘apa kau menyukai Songjin, Kyuhyun-ah?’ walau kali ini dalam lingkup sedikit berbeda.

 

Tapi tetap saja. kedepresian itu berada digaris yang sama.

 

Kyuhyu pun sedang merasa takjub. Semula, yang diingatnya hanyalah satu dua patah kata Hyun Gi tanpa arti seperti ‘Ta!’ atau ‘Ta Ta!’ saja ketika bayi laki-laki itu sedang kesal padanya atau sedang meminta sesuatu.

 

Lalu kini, Kyuhyun dihadapkan pada Cho Hyun Gi dengan tubuh dan kemampuan berbicara yang berbeda luar biasa. Bukan lagi kata ‘Ta Ta’ yang bocah itu keluarkan tapi kini telah meranjak pada hal serius yakni pernikahan. Sungguh, Kyuhyun tak pernah merasa setua ini sepanjang hidupnya.

 

“Cho Hyun Gi, biar kuberitahu, pernikahan bukan hal yang mudah.” Kyuhyun mengawali setelah berdehem membersihkan tenggorokan. Lalu dia melanjutkan lagi bergaya seperti tetua didalam sebuah perguruan silat, “dan Eun-Ji adalah seorang wanita. Tidak ada salahnya jika wanita memikirkan masak-masak mengenai masa depan mereka.”

 

“lalu Appa pikir aku tidak memikirkan masak-masak masa depanku, dan langsung memintanya untuk menikah denganku saat aku tahu kalau aku menyukainya begitu?”

 

tidak. Kyuhyun menjawabnya dalam diam dan jawabannya adalah tidak. Hyun Gi tak tampak bagai lelaki yang mudah memutuskan banyak hal. Sejujurnya, Hyun Gi terlihat lebih tua daripada usianya karena cara berpikirnya yang agak sedikit berbeda dengan pemuda-pemuda kebanyakan.

 

Pemuda lain dengan usia sama, mungkin tidak akan ada yang sudi memikirkan tentang penikahan pada usia semuda itu. Pada jamannya saja, Kyuhyun ingat lelaki disekitarnya, lebih memilih karir mereka daripada menikah. Mereka baru akan menikah pada usia berkepala 3.

 

Kyuhyun dan Siwon adalah sebuah pengecualian. Kyuhyun tak tahu apa alasan Siwon tapi bagi dirinya sendiri, alasannya terdengar begitu murahan dan sepele. Kyuhyun hanya ingin mengikat Songjin. Tidak lebih daripada itu, adalah rencana awalnya.

 

Sekarang, pola pikir sederhana dan terkesan terlalu lebih matang daripada usianya sepertinya telah menurun pada Hyun Gi.

 

“atau jangan-jangan karena aku terlalu tua?” kemudian Kyuhyun mengernyit hebat saat mendapatkan perkiraan tolol Hyun Gi. Sungguh pemuda ini hidup dengan limpahan otak miliknya, murni menjiplak miliknya. Beruntung tak menyisakan sedikitpun milik Songjin, tapi ternyata mampu untuk menghasilkan perkiraan tolol seperti itu. Itu sungguh tidak masuk akal sebenarnya.

 

“aku 24 tahun dan Eun-Ji baru 21 tahun. Nanti saat aku berusia 30 tahun, berapa usianya?? Kalau aku harus menunggunya sampai diusia cukup untuk menikah yang sering dikatakannya, 24 tahun, berapa usiaku? Memangnya siapa yang dapat menjamin aku masih tampan diusia seperti itu?”

 

“eh?” kening Kyuhyun semakin mengerut saja dan Hyun Gi semakin melantur kesana kemari kata-katanya. Kyuhyun mengambil kesimpulan bahwa Hyun Gi sudah nyaris mabuk.

 

Sebenarnya Kyuhyun ingin memberitahu Hyun Gi bahwa mungkin, Eun-Ji mendapatkan cara pandang seperti itu dari Eun Soo mengingat jika pada akhirnya model papan atas itu dapat menikahi Donghae, itu tetap saja berarti keduanya menikah pada usia yang cukup lanjut. Berbeda dengan dirinya dan Songjin. Atau Siwon dengan Gyuwon.

 

Jika Hyun Gi bisa mendapatkan cara berpikir mengenai hidup yang cukup rumit darinya, maka Eun-Ji mungkin saja mendapatkan pemikiran seperti itu dari Eun Soo. Bukan tidak mungkin ‘kan?

 

“memangnya kau sedang bersaing dengan siapa?”

“dengan siapa saja!” Hyun Gi mendengus. “semua pria yang kukenal dan mengenalnya pasti akan berkata kalau mereka menyukai Eun-Ji. Gadis sialan itu wajahnya ada dimana-mana membuat banyak lelaki dapat mudah membuat fantasi tolol dengannya. Cih!”

 

Oh— jadi Eun-Ji adalah seorang model? Sama seperti Eun Soo dan Alena? Atau.. Eun Ji adalah selebriti? Atau apa?

 

Kyuhyun sungguh mengingat dirinya sendiri jika memangi Hyun Gi lekat. Sungguh, sepertinya teori hak paten itu menurun tanpa ampun. Dia sendiri ingat betapa resolusinya dari tahun ke tahun, adalah membuat hak paten Songjin berubah menjadi padanya.

 

Rencana hidupnya hanya sejauh itu. Sesederhana itu hingga tanpa sadar semua hal yang dilakukannya memiliki inti, tujuan kesana. Jika tidak, maka akan tersingkir dengan sendirinya.

 

Ambisi itu tak pernah berubah dan kini bahkan menurun begitu sempurnanya. Benar-benar diluar kendali.

 

Kyuhyun menenggak gelas terakhir sojunya. Pun adalah minuman terakhirnya karena setelah ini, dia tidak berminat untuk memesan lagi. Hyun Gi sudah setengah teler dan seingatnya, esok—uhm.. hari ini maksudnya, bukankan bocah ini memiliki jadwal penerbangan ke Paris?

 

Yang benar saja, dia tidak mungkin mengalami hangover saat sedang mengendarai kendaraan udara itu kan? dia bertanggung jawab terhadap ratusan nyawa dan itu bukan omong kosong!

 

Kyuhyun mendesah ringan seraya tersenyum ramah kepada Hyun Gi, “aku kira kau tidak perlu mencemaskan siapa saja yang menyukainya jika dia hanya menyukaimu.” Kata Kyuhyun santai terlihat tenang menenggak sojunya.

 

Bersamaan dengan itu terdengar suara nyaring yang kini sudah Kyuhyun hafal karena nyaris serupa dengan suara wanita anarkis-nya dirumah.

 

Alena bertalan gontai, langsung terduduk disalah satu kursi kosong dan menjatuhkan kepalanya pada bahu Hyun Gi. Matanya terpejam dengan napas putus-putus, perlahan tangannya menggantung dilengan berisi Hyun Gi, “Oppa, aku lapar.” Suara Alena lebih terdengar seperti rengekan.

 

Kyuhyun yang mengira Hyun Gi telah mabuk, langsung menarik kata-katanya ketika mendapati mata bulat besar Hyun Gi terbuka lebar setelah Alena datang.

 

Lucunya, tak ada teriakan. Tak ada omelan atau kata-kata ketus. Hanya terdapat dengusan sinis yang Hyun Gi lontarkan bersamaan dengan pemuda itu melepaskan jaketnya, kemudian menyampirkannya pada bahu lemas Alena.

 

“dasar bodoh, aku sudah memperingatkanmu tentang hal ini berulang kali.” Hyun Gi lalu bangkit, tak lama merubahnya lagi menjadi setengah berjongkok untuk memasukkan tangannya pada lipatan kaki dan tengkuk Alena.

 

Membopong gadis yang langsung tidak sadarkan diri karena mengantuk walau baru melapor bahwa dirinya lapar itu kemobil— dengan ocehan tak kunjung habis persediannya.

 

** **

 

Kyuhyun telah berada pada posisi dimana dirinya sudah tak peduli lagi pada kemungkinan bahwa dirinya sedang bermimpi atau tanpa disadarinya, dia benar-benar menjejak mesin waktu.

 

Ini sudah pukul 4 pagi dan Kyuhyun menemukan dirinya bersama dengan putranya seolah bagai partner-in-crime karena berjalan mengendap-endap untuk memasuki rumahnya sendiri.

 

Mereka sama-sama berharap agar Songjin tidak menyadari keberadaan mereka saat ini yang artinya adalah sia-sia karena tanpa aba-aba apapun, Songjin telah berada disurut ruangan baru saja menarik tali otomatis lampu hingga lampu sudut itu menyala.

 

Keduanya berhenti berjalan. Hyun Gi mengeluarkan desahan kecewa karena tak berhasil melakukan misinya sedangkan Kyuhyun, sebenarnya sedang merasa aneh. Dia tidak pernah sekalipun melakukan hal seperti ini sebelumnya. Seingatnya. Tapi persetan dengan ingatan. Dia sudah mengabaikan ingatannya sedari tadi.

 

“Cho Hyun Gi, kau dalam masalah besar, kau tahu?” suara Songjin terdengar datar dan santai, namun sama sekali tidak mengurangi efek mencekam didalamnya.

 

Hyun Gi mencebikkan bibir membenarkan posisi Alena yang miring dipunggungnya. Gadis dungu itu tidak peduli dengan semua hal ini karena dia telah tertidur pulas bertemu dengan pangeran berkuda putih didalam mimpi.

 

Lalu sungguh mata Songjin dapat bekerja begitu hebat. Kepalanya dimiringkan untuk melihat Alena dibelakang tubuh Hyun Gi sambil mengerutkan kening lalu bertanya, “ada apa dengan Alena?”

 

“Um—“ Kyuhyun dan Hyun Gi bersuara bersamaan. “dia terlalu lelah.” suara berat Kyuhyun terdengar, “lalu jatuh tertidur,” dan berakhir ditimpali oleh Hyun Gi.

 

Keduanya lalu saling berpandangan dan tersenyum, mengingat rasanya, tak pernah menjadi sekompak ini sepanjang eksistensi hidup keduanya.

 

Songjin seolah menyadari kekompakan terselubung keduanya semakin mengerutkan keningnya saja, “dan kalian bersekongkol apa?” curiganya dengan mata menyipit tangan terlipat didada. “huh?”

 

Kyuhyun menghembuskan napas panjang. Ini akan sangat melelahkan jika dilanjutkan mengingat seperti apa sifat Songjin selama ini. maka kemudian, Kyuhyun memerintahkan Hyun Gi untuk membawa Alena pergi dan Songjin menjadi urusannya.

 

Keduanya dapat membuat keputusan cepat itu dalam kondisi tegang lengkap dengan lemparan senyum tinggi disudut-sudut bibir, lalu Hyun Gi dapat berkata, “kita harus lebih sering melakukannya lagi Appa.” Sebelum melesat pergi menyengir tolol kepada Songjin lalu menaiki undakan tangga.

 

“kau minum?”

Kyuhyun mendapatkan sambutan lirikan tajam Songjin namun pria itu tak merasa jengah atau jengkel, atau kesal sekalipun. Berbanding terbalik, ada tawa yang kemudian Kyuhyun keluarkan sambil pria itu menarik Songjin bersamanya agar mendekat, “sayang—“

 

“kau tidak akan selamat biarpun menjilat seperti itu, Cho!”

“aku tidak menjilat.” Kyuhyun terkekeh, “aku ingin menciummu saja. ayo kemari!” tangannya yang panjang menarik tubuh Songjin tak peduli apakah wanita itu bersedia ataupun tidak, lalu dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya keatas sofa hingga membuat Songjin menggeram karena harus terjatuh diatas tubuh Kyuhyun yang sama sekali tidak empuk.

 

“kau baru saja mengajak anakmu untuk mabuk bersama?”

“Hey, aku tidak mabuk!” Kyuhyun membela diri. “kami tidak mabuk. Tidak ada satupun diantara kami yang mabuk nyonya, jadi berhenti memarahiku. Dan omong-omong, kenapa kau belum tidur?”

 

Songjin masih menunjukkan wajah tak bersahabat tampak menjaga jarak dengan wajah Kyuhyun dibawahnya— enggan untuk bertatap mata. “aku tidak tidur.” Dengusnya singkat.

 

“uh-huh?” ada senyuman licik yang Kyuhyun keluarkan, “tidak bisa tidur tanpaku?”

namun Songjin langsung menolaknya mentah-mentah dengan decahan ketus, “Cih!” dan Kyuhyun hanya tertawa saja melihatnya. Satu tangannya yang tadi sama-sama digunakan untuk memegangi pinggul Songjin kini beralih menyentuh wajahnya. Merapikan rambut-rambut Songjin dan meletakkannya kebelakang telinga.

 

“itu maksudnya— ya, kau tidak bisa tidur tanpaku, atau tidak, kau tidak ingin tidur tanpaku? Huh?”

 

“yang mana saja terserah kau, turunkan aku sekarang atau kau akan tidur di sofa sekarang!” ancam Songjin tak dipedulikan oleh laki-laki itu dan malah mengeratkan rangkulannya. “boleh saja tidur disini. denganmu?”

 

“kau saja.”

“tapi aku ingin tidur dengamu.” Kyuhyun mencebikkan bibirnya agar tampak menggemaskan— namun bagi Songjin, tampak menyeramkan hingga wanita itu mendesah putus asa, “eish. Menjijikan.” Ungkapnya tanpa basa-basi.

 

Menyadari hal tersebut Kyuhyun tertawa kencang. suasana hening didalam ruang santai itu menjadi riuh karena tawa dari suaranya, serta sorakan suara berat lain berasal dari lantai dua berseru, “you go dad!” dari Hyun Gi seolah menyemangati Kyuhyun untuk menggodai Songjin. “but I don’t want another sister. Or brother. Please. Just. Don’t”

 

Lalu tawa Kyuhyun semakin pecah mengisi ruang santai.

 

** **

“TA!! TA TA TA TA TA!!!!”

 

Kyuhyun tersentak— terbangun secara paksa dari tidur siangnya setelah mendapatkan banyak sekali pukulan dari tangan mungil Hyun Gi yang entah bagaimana dapat berada di atas dadanya.

 

Kesimpulan sementara adalah, Hyun Gi yang tertidur diranjang yang sama dengan Kyuhyun terbangun lebih dulu dan berusaha membangunkan Ayahnya dengan berbagai cara termasuk berteriak dan memukuli wajah tampan Kyuhyun.

 

“TA TA TA!!”

Pipi gembil Hyun Gi bergoyang-goyang. Bibir mungilnya mengerucut lucu dan keningnya mengerut karena Kyuhyun sama sekali tidak meresponsnya.

Kyuhyun menggeram, “bicara yang benar! Aku tidak mengerti bahasa bayi!” amuknya selama beberapa saat mempertahankan wajah kesal namun melihat lekat wajah Hyun Gi membuatnya tak dapat meneruskan amarahnya.

 

Lalu Kyuhyun teringat dan baru saja menyadari bahwa dia baru saja bermimpi. Sungguh, itu tidak bisa dikategorikan sebagai mimpi buruk namun juga tidak dapat dikategorikan sebagai mimpi indah.

 

Kemudian menyadari segalanya adalah mimpi saja— Kyuhyun menghembuskan napas panjang menjatuhkan kembali kepalanya keatas bantal sambil mengusap wajah berulang-ulang.

 

Dia kemudian mengamati Hyun Gi. Entah bagaimana caranya bayi ini dapat sampai diatas dadanya tapi sungguh, Kyuhyun tidak bisa untuk tidak menutupi keheranannya akan banyak hal.

 

Kyuhyun lalu menggunakan kedua tangannya untuk mencubit gemas pipi-pipi Hyun Gi seraya berkata, “yang ini bukan mimpi ‘kan?” dia sungguh menolak untuk melakukan hal itu pada wajahnya seakan takut bahwa hal tersebut akan berakibat, mengurangi jumlah ketampanannya.

 

Lalu tiba-tiba terdapat suara hentakkan keras bersamaan dengan pekikan nyaring, “YAAH! KAU APAKAN ANAKKU?”

 

Itu adalah Songjin. Langsung menghempas keatas ranjang untuk menyambar Hyun Gi namun Kyuhyun lebih cepat menggulingkan tubuh bersama dengan bayi menggemaskan itu.

 

Ada suara gelak tawa yang Hyun Gi keluarkan saat tubuhnya ikut berguling bersama Kyuhyun. “kau senang, huh?” Kyuhyun menaikkan satu alisnya tinggi melihat putranya menyengir lebar dengan gusi pink tanpa giginya.

 

“CHO KYUHYUN!! KALAU KAU MACAM-MACAM—“

“jangan berteriak Songjin. Berisik ya ampun!” Kyuhyun mendesah nampak enggan membalikkan diri untuk menghadap Songjin. “aku tidak melakukan apapun, kau pikir aku ini apa? Dia juga anakku memangnya aku tega melakukan apa dengannya?!”

 

“BERIKKAN DIA PADAKU!”

“eish~” Kyuhyun mengorek telinganya melirik Hyun Gi seraya menggeleng-geleng, lalu terkejut karena Hyun Gi mengikuti gerakannya. “eomma berisik sekali, kan?”

 

“TA!”

“Yeah.” Kyuhyun mengangguk, “disumpal saja atau bagaimana?”

kemudian Hyun Gi menelengkan kepalanya memerhatikan Kyuhyun bingung. Bayi itu seolah telah mengerti dengan percakapan sederhananya kali itu karena mendadak diam dan tampak berpikir keras.

 

Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi dan begitu seterusnya. “tidak?” Kyuhyun menggeleng. “aku rasa lebih baik tidak. Lebih baik kita yang pergi, bagaimana?” tawarnya.

 

“dan eomma boleh ikut kalau eomma bersedia berjanji untuk tidak berteriak-teriak setidaknya untuk 24 jam kedepan. bagaimana? Sempurna?”

 

“APA?” Songjin mendelik lebar. “pria ini benar-benar!!”

“kau mau?” Kyuhyun mengangguk-angguk kepada Hyun Gi kemudian bayi itu tersenyum lebar hingga Kyuhyun bertepuk tangan kencang, “kalau begitu ayo!!” lantas langsung bangkit menggendong Hyun Gi membawa bayi itu pergi bersamanya meninggalkan Songjin.

 

“Yaa! Kemana?”

“aku tidak tahu.”

“kembalikan Hyun Gi padaku!”

“dia sedang ingin bersamaku, Songjin.”

“kalian akan kemana?”

“entahlah—“ Kyuhyun menggerakkan bahu menuju ruang pakaian. Meletakkan Hyun Gi disalah satu sofa empuk disana lalu dia sendiri sibuk dengan koper dan pakaian. “pergi kemana maksudmu? Aku tidak jadi ikut Siwon Oppa ke Busan, jadi jangan membuatku malu karena kau memaksa untuk ikut!”

 

Kyuhyun tertawa mendengarnya. Tangannya tetap sibuk mengambil pakaian disana asal saja. “Busan?” suaranya terdengar mencemooh, “aku bosan dengan Busan, kalau kau ingin ke Busan, pergi saja aku tidak melarang.” Ujarnya santai. “tapi akan lebih baik kalau kau ikut dengan kami.” Lalu Kyuhyun mengedipkan mata kepada Hyun Gi yang tengkurap disofa sambil menyengir ceria.

 

“kemana?”

“mau atau tidak?”

“kemana???”

 

** **

 

Florence? Kau gila? Kenapa mendadak? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Bagaimana dengan eomma? Appa? Mereka tidak tahu kalau kita akan pergi? Astaga Cho Kyuhyun!! Demi Tuhan kau sudah gila!”

 

Songjin mengoceh tanpa henti dengan suara nyaringnya. Beberapa kursi dari penerbangan komersial tempatnya berada saat ini kosong, namun beberapa yang terisi masih dapat mencuri pandang kearah Kyuhyun dan tersenyum.

 

Beberapa diantara mereka, tentu saja para wanita dan Ah, Kyuhyun sungguh mengambil kesempatannya untuk mengamati pramugari yang berada pada penerbangan kelasnya.

 

“kau bisa tidur kalau kau mau, daripada berisik—“

“aku tidak bisa tidur! Kau gila! Tidak masalah kalau hanya Busan, atau Jeju, atau apalah itu.. tapi Florence?”

 

“apa aku baru saja mendapatkan omelan karena membawamu pergi ketempat yang selalu kau inginkan? Sayang?” ada kekehan yang kemudian Kyuhyun dan Songjin dengar— yang berasal dari seorang pramugari cantik dengan shawl dilehernya.

 

Tak banyak orang pada klasi penerbangan komersial mereka hingga siapapun yang mengoceh, pasti akan terdengar jelas dan Kyuhyun baru saja menekankan sapaan akhirnya yang seharusnya terdengar manis namun malah terdengar lucu oleh beberapa orang kursi belakang mereka serta awak crew pesawat.

 

“tapi ini Florence!”

“Yeah! Italia! Kau akan mabuk gelato sampai puas. Bisakah kau berhenti berbicara? apa kau tidak sadar kita menjadi tontonan wanita-wanita cantik disana?” dagu Kyuhyun mengarah pada pramugari-pramugari cantik dihadapannya. “atau kau ingin memamerkan suamimu yang tampan ini kepada seluruh orang dipesawat? kau bisa menggunakan pengeras suara kalau begitu omong-omong.”

 

Bersamaan dengan suara tawa lagi yang terdengar, Hyun Gi melompat-lompat dipangkkuan Kyuhyun. Dipegangi seerat apapun, bayi itu tampak terlalu agresiv kali ini dan Kyuhyun sungguh kewalahan, jika harus mengurus dua makhluk agrasiv diwaktu yang bersamaan.

 

Songjin pun, masih tampak belum puas dengan keterkejutannya karena mendadak tanpa hujan dan badai apapun, Kyuhyun membawanya pergi sejauh itu. Tak masalah jika itu hanya Jeju. Atau Busan. Tapi Italia?

 

Kyuhyun pasti sudah kehilangan akal sehatnya!

 

“Kyuhyun-ah!” belum sampai Songjin menghabiskan ocehannya lagi, Kyuhyun terlebih dulu menarik wajah wanita itu mendekat dan mendesakkan saja bibirnya tepat pada bibir tipis milik Songjin agar Songjin berhenti berbicara.

 

Dia melumat berulang kali, dan menguncinya dengan cara memegangi rahang wanita menggunakan satu tangan karena satu tangan miliknya yang lain, telah terbooking untuk memeluk Hyun Gi dipangkuannya. “jangan berisik, okay?” perintahnya tegas namun dengan suara lembut.

 

Sepertinya ini adalah langkah awal untuk mengajari Hyun Gi agar tiak mudah bersikap kasar terhadap wanita. Atau setidaknya, jikapun Kyuhyun ingin meneriaki Songjin karena wanita itu sungguh, terkadang otaknya sangat menyulitkannya, dia bisa melakukannya jauh dari wilayah, dimana Hyun Gi sedang berada.

 

Jika pada akhirnya Hyun Gi akan meniru sikap-sikapnya, Kyuhyun berharap sikap baik, yang lebih tepat dan sopan sajalah miliknya yang dapat putranya tiru.

 

“omong-omong aku berpikir kalau memiliki satu anak lagi tidak masalah. mungkin kita bisa mengaturnya. Mungkin itu akan perempuan dan mungkin aku telah memikirkan nama yang tepat.” kata Kyuhyun berentetan ketika nyawa Songjin belum kembali seutuhnya kedalam tubuhnya.

 

“eh? Huh?”

“kau tahu arti dari nama Alena?”

“huh?”

“Alena berarti cahaya. Atau keseimbangan. Atau keadilan. Atau peri yang cantik. Nama Alena tidak buruk juga kan? bagaimana?”

 

“T—tapi..” Songjin masih menyisakan 60 persen nyawa entah berada dimana dan Kyuhyun masih tega melenyapkan seutuhnya lagi dengan kembali meraup bibir wanita itu rakus. “Hm—“ lalu menggumam dan tersenyum puas ditengah kerjanya, “itu selalu membuatku ketagihan.” Ujarnya santai tidak memerdulikan semburat warna kemerahan yang perlahan muncul diwajah Songjin.

 

Seorang pemuda bertubuh tinggi, tegap berkulit putih, dengan wajah tampan lalu muncul. Terdapat banyak lencana dan topi, juga seragam yang sungguh Kyuhyun ingat terdapat didala mimpinya.

 

Pemuda itu berdiri tegap diantara dua pramugari lalu membungkuk sopan, “selamat malam” ujarnya mengawali sambil tersenyum cerah usai membungkuk.

 

Kyuhyun segera membuat Hyun Gi berdiri dipangkuannya dengan bantuannya. Dia mendekatkan wajah pada telinga mungil bayi laki-laki itu, “Lihat baik-baik, kau akan menjadi seperti itu dalam 24 tahun mendatang, kau bisa membayangkannya, huh?”

 

“TA!”

“yeah!” Kyuhyun berseru. “kau akan bekerja dikelilingi banyak wanita cantik dan kau akan melamar seorang wanita di Paris, jadi sebaiknya kau perhatikan baik-baik pemuda itu saat ini, kau mengerti Cho Hyun Gi?”

 

“aku adalah kapten yang akan menerbangkan pesawat menuju Italia, Jung Dong Shin, 24 tahun.”

Kyuhyun menyeringai, menempelkan bibirnya ditelinga Hyun Gi lagi, “kau akan sepertinya, kau dengar aku? dan setelah kau menjadi sepertinya, tolong jangan bawa ibumu bepergian terus menerus karena aku akan seorang diri dirumah.”

 

Hyun Gi menoleh memerhatikan Kyuhyun bingung. Tangannya menepuk wajah Kyuhyun kencang lalu tertawa senang, “yeah. Itu perjanjian kita, Okay? Dan aku akan berhenti memanggilmu botak—atau ompong mulai saat ini, tapi ingat perjanjian kita karena aku tidak pernah menikmati berada seorang diri didalam ruangan besar seperti orang tol—“

 

Mulut Kyuhyun mengatup. Satu kalimat kasar lainnya, sukses dihentikan sebelum sempat meluncur. Desahannya kemudian meluncur bebas. “maksudku, aku akan bosan, kalau kau membawa eomma terus menerus. Kau bisa mencari wanitamu sendiri, okay?”

 

“TA!”

“DEAL!”

 

 


PS: 90 days nya masih kurang panjang jadi saya belum bisa share. lagipula saya masih uts jadi sekarang lagi agak-agak gumoh sama ngitung apalagi liat laptop *errzzzz*  jadi saya share keluarga aneh ini dulu aja yang sedikit ceritanya *iya sedikit.. gak sampe 100 lembar kok* cih. 

btw, makasih ocin posternya keren as always!! aku padamu lah ah. :*

kalau ada sedikit typo, ya maaf-lah soalnya ini kan gak saya koreksi lagi. setelah bikin langsung saya post. agak males juga sih sebenernya ngoreksinya *lol* jadi, untuk pengertiannya, saya ucapkan terima kasih. Much love and Kisses from this potato’s baby :*

HAHAHA!

 

 

 

131 thoughts on “[KyuJin Series] Vision

  1. awaknya sih ikut bingung, eun soo? kenapa eun soo peluk” kyuhyun dirumah kyuhyun?
    trus waktu jemput hyun gi dibandara baru mikir, ah, ini pasti mimpi
    tapi keren mimpinya kyu bisa lihat masa depan gitu, haha
    jadi penasaran gimana alena bisa dibuat, trus kelanjutan hubungan donghae eunsoo sampai nikah, dan tentunya proses adopsi anak kembar siwon
    entah kenapa bayangin hyun gi jadi pilot bikin terharu, kyuhyun dan songjin bener” pinter didik anak
    jadi penasaran gimana kehidupan kyu mendatang

  2. widihhh keren banget eon^^

    Aku udah mikir ini mimpi dan ternyata….emang mimpi. Tapi aku sempet bingung kok kyuhyun pelukan sama eun soo terus bilang “appa, ayo kita jemput hyun gi oppa”

    Tapi pas di bandara itu alena, aku ngga mudeng._. Wkwk
    Btw aku bayangin hyun gi udah dewasa, pasti ganteng banget wkwk XD

  3. Yaampun,..mimpi kyuhyun berasa nyata banget…
    Salut deh sama kyuhyun yg karena mimpinya berniat bakalan mewariskan sifat yg baik” ke hyungi…
    Dan gak tau knapa interaksi kyuhyun sama baby hyungihyungi di pesawat itu bkin berkaca kaca,..secara unruk pertama kalinya ayah dan anak ini kompakan…kkk

  4. Akh Kyu..kalau “Vision” ini tahun 2038..berarti usiamu 50 tahun bukan? sudah setengah abad wkwk…dan Songjin sudah 48 tahun…tapi kalian tetep mesra ya…bikin iri dan gemes. Aku lagi ngebayangin Kyu usia 50 tahun..apakah kayak Marc Harmon yg makin tua makin Hot? OMG..he..he..he

  5. keren thor keren bgt..
    Td x sampet bingung..
    Tp pas ngerti jd seneng bgt

    Kyu bisa dpt pelajaran dr mimpi x
    Jd makin penasaran dg kelanjtan x

  6. kasian baby hyun sakit 😥 hhhh tp kocak masa ga suka sm kyu? ewwwww rasain! sibuk mulu sih ga inget anak istri, huh 😛 pasti lucu bgt baby hyun ud 6 bln :*
    waaaaaaaaaaaah mati aja klo sampe bnr kyu selingkuh ~_________~ untung mimpi
    pasti ganteng bgt baby hyun gi klo ud gede gt >o< ❤ :*

  7. Ya tuhan,,mimpi bs dkategorikan indah,,krna meski trdapat perdebatan antara dy dn hyun gi,,,mrka justru trlihat kompak…..
    Si botak dn ompong brubah mnjadi tampan……dn mewarisi sgala sifat dn otak kyu…..
    Happy family bnr2 pas buat mrka….
    Good job!!

  8. Cuma mimpi. Hyun gi pasti ganteng bgt dan sifat dia bener2 Cho Kyuhyun. Enak gitu kayaknya umur 46 anak udah gede berasa jadi hyung bukan appa. Alena versi lain Songjin kayak kembaran dia.

  9. ckck…cho kyu mimpiin khdupan th 2038??? hoho…sblm tdur ykin hyun gi msh bayi..n lgsg bngun ktmu cwe cntik..yg ktny putriny…haha otmtis bngung pke bnget..
    pi keren jg mmpiny…bahkan hyun gi jd pilot..putriny yg cntik jg s’org model..wooahh…
    won couple jg pny ank kmbar..
    hyun gi prsis kyu..usia muda pi pkiran tua..haha

    bngun” lgsg jja packing”..mo jln” ddkan k itali pula..cho kyu ni..songjin mkin bngung dg tngkah kyu..haha hyun gi ge cs ma kyuappa umm..

  10. Kyu mimpi, jadi keluarganya tambah bener2 lawak dan hyun gi dapat warisan sifat kyu.. kalau itu kehidupan nyata mereka mungkin bakalan jadi tambah seru. Hhh

  11. Mimpinya siembul emang bener bener keren yah bisa liat masa depan… Dan itu Hyun Go, aduh nak kenapa haris mewarisi sifat babeh mu itunak 😂😂??

  12. sumpah ini bagus banget,,,,suka banget,,mkin jatuh cinta deh ama cho kyuhyun ku yg tampan,,,pengen bgt punya suami kaya gini,,hehehe

  13. hyun gi pst tampan bgt kalo udh gede. mimpi kyu indah bgt. kyk melewati mesin waktu. tpi jgn tlu bhrp kyu. ntr songjin koma lg gmn ?

  14. Awalnya sih lumayan binģung sama alurnya .. tapi setelah dibaca lama2 lumayan ngerti ..
    Meskipun dalam mimpi, tapi masa depan keluarga mereka bikin iri ..
    Klo hyun gi sma eunji .. alena sama siapa yah???

  15. Daebak ….. awalnya lumayn bingung
    tapi makin ke bawah makin faham .
    Walaupun cuma mimpi , tapi itu kyak real . Gak kebayang gmna KyuJin ngedidik si ompong jadi keren gitu , trus kpn mrk bikin Alena ???
    As always daebak Kak ceritanya

  16. Woah. …. daebak
    Di masa depan, Kyu bakalan jadi besan nya Donghae.
    Meskipun cuma mimpi , tp berasa kaya sungguh

    Boleh dong mimpinya di lanjutin sampe Kyu punya cucu 😂😂😂😂
    All story always good …and I’m enjoy read it . Thanks and fighting 😊😊😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s