Que Sera [First and Second] — 2


Before Story of Missing

Que Sera – [First and Second]

Cho Kyuhyun | Choi Siwon | Park Songjin | Shim Changmin | Lee Gyuwon.

PG – 13

“Broken Heart for the first time – Love at Second Sight” 

Note: Harusnya saya hari ini posting ‘Perfect Two‘ seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya. tapi serius, ditengah jalan saat saya sedang nulis, tiba-tiba feel cerita itu lenyap. saya gak terlalu ambil pusing karena toh saya bukan penulis professional yang dikejar deadline dengan editornya. jadi, sambil nunggu feelnya balik, saya posting Que Sera dulu, yang sebenarnya sudah selesai tulis sebagian besar, tapi saya tahan untuk posting karena ada 90 Days. 

90 Days juga yang saya pikir akan 5 part saja ternyata melebar jadi 7. saya heran sendiri dan sedang koreksi lagi. takut ceritanya kemana-mana dan malah jadi boring karena seharusnya, 90 Days punya konflik yang sedikit lebih rumit dibandingkan Missing. percayalah, kalian baru tahu awalnya saja. saya sedikit ragu kalian yang bilang ‘aku suka Songjin disini. lebih tegas.’ akan menyesal karena ternyata disini dia sedikit bitchy LOL.

anyway, sekedar mengingatkan, total cerita Que Sera ini terdapat 6 kisah. sejauh ini saya baru posting 3. Jadi masih ada 3 lagi sisa before story pasangan aneh ini. Semoga gak bosan. dan semoga terhibur dengan lanjutan Que Sera ini karena cerita inipun saya tulis saat mood sedang iya-iya enggak-enggak. tapi semoga tidak mengecewakan. terimakasih! Happy reading!! ^^


Pagi hari disatu akhir pekan, Kyuhyun dibangunkan oleh suara gaduh. Awalnya, dia mengira itu hanyalah ulah Ibunya yang baru saja kembali dari bepergian bersama ayahnya. mungkin mereka sedang sibuk menyeret-nyeret koper menaiki undakan tangga. Namun lama kelamaan, suara gaduh itu benar-benar terdengar semakin nyata, dan tak mungkin orang tuanya menyeret koper-koper lalu berputar-putar didepan ranjangnya hanya untuk sengaja membuat kegaduhan, demi menganggu tidurnya.

Bantal yang Kyuhyun pakai untuk menutupi wajahnya, agar setidaknya, separuh suara gaduh itu dapat terblokir, nyatanya tak sanggup menghadang suara cempreng namun halus, milik seseorang yang dikenalnya. Barulah saat itu Kyuhyun sadar— bahkan ditengah kondisi tidur setengah terlelapnya, suara itu bukanlah suara gaduh yang Ibunya buat, namun Songjin. Mengingat hal tersebut, emosi Kyuhyun mulai mendidih.

“demi Tuhan kau pikir jam berapa sekarang?!” Kyuhyun membentak, menyentak bantal yang menutupi seluruh wajahnya. Gadis tersangka utama— Songjin, benar sungguh telah berada disana. Berdiri disamping meja computer lebih tepatnya. Memilin jari-jarinya, tampak gugup karena mungkin, baru saja tertangkap basah menjadi penyusup seperti pencuri, namun tak urung tetap menyengir begitu polos pada Kyuhyun.

Nyawa Kyuhyun belum sepenuhnya kembali. satu-satunya cahaya yang berasal dari lampu tidur berbentuk bintang, didinding tepat diatas meja komputernya sanggup membuatnya menyadari bahwa pakaian Songjin bukanlah piyama lagi, namun sebuah summer dress berwarna kuning mencolok.

Panjangnya hanya selutut. Memiliki tangan buntung. Dan sepertinya pakaian itu tidak memiliki bahan yang tebal. Cukup tipis jika matanya yang masih sedikit sayu itu benar melihat, bahwa pakaian Songjin sedikit menerawang. Syukurlah gadis itu tidak langsung menggunakan bra didalamnya, namun terdapat tanktop, atau sejenisnya sebagai pelapis.

Park Songjin mengerucutkan bibir memandangi sekitarnya sebelum menjawab pertanyaan dari Kyuhyun, mengenai pukul berapa saat ini. dan setelah sanggup menerka, tanpa memandang jam dinding, Songjin meringis, “sepertinya masih sangat pagi.” Adalah jawaban paling ringkas dan terkesan tak banyak ambil pusing atas sindiran didalam pertanyaan Kyuhyun tadi, untuk sadar, sebenarnya Kyuhyun baru saja mempertanyakan hal lain.

Seperti, memangnya apa hal yang sangat penting hingga dipagi buta, ketika matahari saja bahkan belum muncul. Ketika suara burung-burung pun, juga belum terdengar. Ketika separuh manusia di Negara ini, pasti masih bergelung didalam selimutnya, namun Park Songjin, gadis ini sudah berada didalam kamar seorang pemuda.

Sungguh bukan Khas seorang Park Songjin.

Dan jika saja gadis itu waras, seharusnya Songjin tahu bahwa sungguh, apa yang dilakukannya bukanlah hal tepat. keduanya paham bahwa mereka sedang mencapai usia pubertas. Setidaknya, seseorang harus memperingatkan salah satu dari mereka mengenai hal berbahaya apa yang mampu terjadi jika kebetulan keduanya mendadak hilang akal.

Kyuhyun terkepekur seorang diri. 70 persen nyawanya kini telah kembali ketubuhnya. Kyuhyun semakin menyadari hal lain lagi yang sungguh membuatnya terpana.

Bukan. Bukan karena kebetulan pagi ini, Songjin terlihat sangat cantik dengan balutan dress sederhana itu. bukan seperti itu. tapi diatas segalanya, Kyuhyun sadar bahwa ini adalah hari minggu. Dan semua orang tahu, bahwa hari minggu adalah jadwal hibernasi Park Songjin.

Jadi, jika pada hari libur seperti ini, Park Songjin sudah tak berada diatas ranjangnya. Tidak berbalutkan piyama hello kitty, dengan penutup mata kain berwarna pink mencoloknya— pastilah baru saja terjadi hal penting.

Maka Kyuhyun segera menaruh kecurigaan besar. Matanya menyipit kala bibirnya secara reflex bertanya, “ini masih terlalu pagi untuk bepergian. Kau mau kemana?” kepada Songjin dengan wajah tidak bersahabat sedikitpun.

“kencan.”

“kencan?”

orang gila mana yang akan kencan dipagi buta seperti ini? dan kencan dimana? Hutan? Mendengarkan bersama-sama suara burung hantu saling bersahutan? Atau dilaut? Mendengarkan deburan ombak sambil berpegangan tangan?

Itukah jenis kencan yang Songjin maksud disini? agaknya itu terdengar tolol.

“Changmin Oppa—“

“Changmin menganjakmu berkencan?” sontak Kyuhyun terkejut menyadari bahwa ternyata, teman lelakinya itu telah memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya. Akhirnya. Batin Kyuhyun didalam hati. Sayang, gelengan Songjin meruntuhkan segalanya. “tidak?”

“sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa ini boleh disebut kencan. Tapi kemarin Changmin Oppa berkata ingin menonton pertandingan baseball, dan kalau aku mau, aku boleh datang.”

Oh.

Kyuhyun tidak melanjutkan pertanyaan mengenal hal itu lagi. Sudah terlalu jelas kini, bahwa sebenarnya Changmin tidak mengajak Songjin berkencan. Bukan. Belum.

Pertandingan baseball itu juga akan didatanginya nanti bersama sebagian anggota club baseball sekolahnya. Itu adalah tontonan bulanan yang tak boleh dilewatkan bagi mereka. Yang tak Kyuhyun pahami, mungkin Changmin lupa, atau tidak sadar bahwa Park Songjin bukanlah penyuka baseball.

Sebenarnya, segala olahraga yang memiliki aroma maskulin, tak pernah Songjin sukai— apalagi pahami. Jadi kini, mungkin perlahan-lahan Kyuhyun mulai paham, mengapa komputernya menyala terang seperti itu, menampilkan halaman web browser.

Setidaknya, kini Kyuhyun paham, mengapa Songjin telah berada dihadapannya sepagi ini dengan dandanan yang tak wajar. Iya, tidak wajar untuk pemandangan seorang Park Songjin dipagi hari.

Kyuhyun mendesah sambil menggosoki wajah. Dia betumpu pada salah satu sikunya. Sedikit merasa kesal saat sadar mengapa Songjin dapat berada dikamarnya sepagi ini, adalah salah satu kesalahannya. Dia tak pernah melarang gadis itu sebelumnya untuk berkunjung pada jam berapapun.

“kemari.” Kyuhyun melambai-lambaikan tangannya pada gadis yang sedang terpekur bingung seorang diri. “sini.”

“ada apa?”

“kemari dulu.” Perintah Kyuhyun berusaha tidak menggeram karena jengkel Songjin tak kunjung menghampirinya. “kesini.” Kyuhyun tetap menggerakkan tangan diudara.

“kau mencari tahu tentang baseball dikomputerku?” cecar Kyuhyun langsung tanpa basa-basi saat Songjin telah berada pada jangkauannya. Kepala gadis itu mengangguk ragu bagai robot. Seperti sedang berpikir, apa harus mengatakan jujur atas ulahnya, atau berbohong saja.

“dan apa yang kau temukan?”

bola mata hitam Songjin segera berputar keatas. Gadis itu berpikir sejenak walau belum sempat menjawab, Kyuhyun malah menyentaknya hingga jatuh terjembab pada sisi kosong ranjang. “kau tidak menemukan apapun. Tidak akan menemukan apapun sebenarnya, kalau kau mencari semacam contekan atau sejenisnya. Aku tidak pernah menyimpan apapun selain game didalam computer itu. benar-benar idiot.”

“aku perlu tahu baseball itu games seperti apa.”

Kemudian Kyuhyun tak lagi sibuk dengan selimutnya. Tercengang sesaat memandangi keidiotan Songjin dan segala rasa tak percaya pada gadis itu. “baseball bukan games, Songjin. Itu olahraga!” jelas Kyuhyun terdengar menarik urat.

“aku tahu. Tapi bisa digolongkan kedalam games juga kan?”

“games macam apa?” mata Kyuhyun berwarna merah, mungkin adalah campuran dari terbangun-mendadak-karena-tamu-tak diundang, dan kekesalan berbicara pada seorang gadis dengan kemampuan otak yang minim, namun terus menerus mencoba mengajaknya beradu kecerdasan. “otakmu itu hanya sedikit, Park Songjin. Dan kau terbangun dari tidurmu pagi-pagi sekali.”

Itu sudah jelas tak perlu ditanya lagi dilihat dari seperti apa Songjin menata rambut panjangnya. Kyuhyun tak memiliki ide lebih baik pukul berapa Songjin bangun pagi ini sebenarnya? apa pergi menonton baseball dengan label ‘bersama’ Shim Changmin memang begitu menarik perhatiannya sebesar itu?

“— aku rasa sebagian isi kepalamu masih ingin tidur. Jadi tidurlah dan jangan berisik. Aku lelah.”

“kau gila? Pakaianku!!”

“kau bisa melepasnya kalau kau mau.” Kyuhyun mengibas tangan tak peduli. Dia memunggungi Songjin sambil memeluk guling lagi. Memejam. “toh aku tidak tertarik dengan tubuh tipismu.”

“tidak bisa!”

“Songjin,” Kyuhyun menarik napas panjang, “santailah sedikit. Pertandingan itu baru akan dimulai 8 jam lagi. Saat ini, para pemainnya pasti masih memakai baju tidur. Bukan seragam club.”

Dan bahkan stadion baru akan dibuka pukul 10. Tambah Kyuhyun tak disuarakannya lagi. Rasa kantuknya sudah kembali menerjang dan sungguh, jika saja Songjin masih berulah mengganggunya, dia sudah memiliki ide untuk menerjunkan gadis itu melalui jendela kamarnya yang lebar.

** **

“Even the stars, shine a bit bright I’ve noticed when your close to me.
Still it remains a mystery.
Anyone who’s seen us knows whats going on between us.
It doesn’t take a genius, to read between the lines.”
–Lea Salonga and Brad Kane, We Could Be In Love.

*

Seperti perkiraan Kyuhyun. Stadion baru dibuka pukul 10 pagi. Itupun belum terdapat siapapun disana. Stadion itu masih kosong, hingga dirinya dan Songjin yang sudah datang lebih dulu, harus memutar mencari tempat, setidaknya sampai stadion itu berisi orang, selain petugas kebersihan.

Ada sebuah kedai Ice Cream sederhana disudut jalan. Sesunguhnya, mungkin hanya itulah yang mata Songjin lihat, sepanjang perjalanan menuju stadion kali ini. akui saja, dia tidak sedikitpun menaruh minat pada baseball-nya. Shim Changmin lah yang menjadi titik pusat dari segalanya. Alasan mengapa dirinya rela hengkang dari ranjang dipagi buta demi berdandan mempercantik diri.

“kau bisa memesan menu lain. aku jamin mereka tidak hanya menjual ice cream” tutur Songjin paham kemana arah berpikir Kyuhyun kala matanya tak sengaja berseborok dam Kyuhyun menunjjukan wajah tidak suka. Kyuhyun bukan pecinta ice cream, walau bukan juga pembenci. Hanya saja.. bukankah ini masih terlalu pagi untuk segelas ice cream?

Sayangnya disaat bersamaan Kyuhyun sadar, tak satupun kedai disekitarnya telah siap melayani pelanggan, kecuali kedai ice cream itu. lagipula, seberapapun dirinya menolak datang, seberapapun ide membeli hot dog jauh lebih baik, tetap saja dia perlu mencari kursi untuk duduk, ‘kan?

Sesampainya dikedari tersebut, Kyuhyun pun tak heran saat mendapati antrian panjang dan separuh kursi kosong yang tersedia, telah terisi penuh. Itu pasti karena alasan sama mengapa dirinya bisa berada di kedai ini. Kebanyakan pelanggan memakai atribut club baseball yang nanti akan bertanding.

Sepertinya, sebagian dari mereka mendapatkan kenyataan yang sama sepertinya. Mereka tak memiliki pilihan.

“cokelat?” lalu Kyuhyun tersadar bahwa sedari tadi dirinya hanya diam mengamati sekitarnya tanpa memerdulikan keberadaan mereka yang telah didepan meja kasir. “huh?” Kyuhyun memiringkan kepala.

Songjin memutar bola mata jengah, “kau mau rasa apa?”

“untuk aku?”

“bukan. Untuk petugas kebersihan distadion tadi.” sinis Songjin pada Kyuhyun ketus. “aku tidak pesan. Kau saja.”

“kau tidak pesan?”

“kau tidak pesan?”

kini tak hanya Songjin, namun Kyuhyun pun ikut tersentak menyadari terdapat ‘tamu tak diundang’ hadir diantara mereka. “kau disini” telunjuk Kyuhyun mengacung pada dada bidang Changmin. Mendapat balasan berupa raut wajah apa itu-adalah-pertanyaan? Dari ketua club baseball tersebut.

Kyuhyun lantas menyadari jenis pertanyaan, atau entah kalimatnya yang salah. Terdengar cukup tolol, maka dirinya menyengir canggung, tak tahu kenapa, sambil menggosoki tengkuk, berkata “maksudku—“ ingin menjelaskan lebih jauh mengapa dirinya terkejut, namun sepertinya, Changmin tidak terlalu ambil pusing.

“aku vanilla dan lemon. Kau?” pertanyaan itu jelas tak diutarakan untuknya. Kyuhyun mudah saja menyadari hal itu saat melihat Changmin sudah mulai sibuk dengan Songjin-nya. “cokelat.” Gadis itu menyengir lebar.

“dan?”

“cokelat.” Lantas Kyuhyun ikut menyahut pada pertanyaan Changmin bagi Songjin. “seberapapun banyaknya kau bertanya, jawabannya akan sama sampai kiamat nanti. Cokelat.” Papar Kyuhyun tenang. Meninggalkan meja kasir untuk mencari kursi bagi mereka.

** **

“kau bilang tadi kau tidak ingin!! Jangan makan milikku terus Kyuhyun-ah! Kau bisa memesannya sendiri!!”

sesungguhnya kepala Shim Changmin terasa pusing mendengar keributan disekitarnya. Sekitarnya yang ramai telah luar biasa berisik, namun pengunjung paling berisik terdapat dimejanya. Kyuhyun dan Songjin, sepasang pengunjung yang sepertinya lupa dengan usia.

Keduanya memperdebatkan jumlah ice cream didalam mangkuk besar dihadapan mereka. Mangkuk ice cream itu milik Songjin dan Kyuhyun yang tadi berkata tidak akan memesan, malah menjajah ice cream milik Songjin sedikit demi sedikit, tapi sanggup menghabiskan setengah scoop seorang diri.

“itu kan masih banyak!” Kyuhyun tak mau kalah dengan suara tinggi. “aku hanya meminta sedikit. Kau masih punya dua scoop lagi, kenapa tidak berbagi saja?”

“tidak ada istilah berbagi didalam ice cream!” Songjin menggeser mangkuk miliknya menjauh dari Kyuhyun untuk memeluknya didepan dada, namun saat itu Kyuhyun dapat dengan cekatan menarik mangkuk itu juga hingga posisi mangkuk tak bergeser kemanapun. Tidak kekiri, tidak juga kenanan.

“CHO KYUHYUN!!”

“YAAA!”

Changmin menggosok wajah letihnya. Sungguh. Bahkan pertandingan pun belum ditontonnya, namun pagi ini ada pertandingan lain yang telah menjadi suguhan baginya. “Hei,” ujarnya berusaha melerai.

Changmin sengaja menyelipkan tangannya pada dua atlete tarik menarik otot itu namun tak sanggup mendapatkan celah. Changmin tak berhenti disitu saja. pada akhirnya, Changmin segera menarik mangkuk sundae itu sebelum ice cream didalamnya tumpah hanya karena ketololan dua orang itu.

“kau bisa ambil punyaku.” Kata Changmin sedikit malas pada Kyuhyun. Dia tidak mempunyai pilihan lain selain memberikan miliknya atau dua cecunguk ini akan terus bertengkar.

Lalu Kyuhyun seperti baru saja tersengat listrik. Tersentak dan memandangi sekitarnya. Tidak semua orang memandanginya memang. Hanya beberapa saja. sepasang kekasih dimeja sampingnya, dan pengunjung lansia yang menertawainya sambil terang-terangan menunjuk dirinya.

Saat itulah Kyuhyun sadar, dia baru saja melakukan hal bodoh. berebut ice cream dengan seorang wanita dan terus menerus bertahan pada pendiriannya tak mau kalah, adalah hal tolol kesekian yang tanpa sadar Kyuhyun lakukan.

Dia sungguh tak menyadari hal tersebut. Biasanya Kyuhyun memiliki isi kepala yang paling cemerlang diantara mereka. Diantara semuanya. Diantara orang disekitarnya. Namun keberadaan Songjin seolah dapat mencemari otak cemerlangnya hingga dapat bersikap tak wajar.

Kyuhyun membuang napas dan menggeleng santai pada Changmin, “tidak” ujarnya melupakan ice cream keparat itu dan menyandarkan punggung pada kursi— kembali pada posisi nyamannya.

“tidak terimakasih.” tepat disaat Kyuhyun menolak, matanya melihat beberapa anggota club baseball sekolahnya datang menggunakan jaket berwarna biru dengan model yang sama mendekati mejanya.

Shim Changmin kemudian sibuk pada anggotanya. Berhigh-five ria sambil bertukar tonjokan bersahabat. Saat itulah Kyuhyun merealisasikan keinginan yang belum sempat dilakukannya. Tangannya langsung bergerak jahil menepuk belakang kepala Songjin.

Gadis yang sedang tentram memakan ice cream itu langsung tersedak. Ice cream disendok itu tak jadi masuk kedalam mulut, namun menempel sebagian pada bibir dan hidungnya— berantakan. “cepat habiskan!” perintah Kyuhyun ketus sebelum Songjin sempat meledak bagai gunung berapi. “mereka sudah datang. Kita pergi sebentar lagi.”

Namun sebuah tissue perlahan bergeser diatas meja, berhenti didepan mangkuk sundae Songjin. Changmin tersenyum teduh berkata, “habiskan saja ice cream-mu dulu, baru kita pergi. Santai saja.”

Sungguh sebuah pemandangan berbeda kala memandang Shim Changmin dan Cho Kyuhyun. Bagai surga dan neraka yang berdampingan. Atau bagai malaikat kebaikan, dan kejahatan dikanan kiri pundakmu.

Lima belas menit kemudian seluruh rombongan club baseball sekolah termasuk Kyuhyun, Songjin dan Changmin mendapati diri mereka sedang berdesakkan untuk masuk kedalam stadion. Sungguh, itu adalah kali pertama Songjin menjajakan kaki kedalam stadion terkenal seantero Korea itu.

Bukan apa-apa, selama ini Songjin hanya tidak pernah menemukan alasan termasuk akal sesederhana mungkin mengapa dirinya perlu repot-repot mendatangi stadion dipusat kota ini, seberapapun seringnya dia melewati tempat ini saat sedang bepergian.

Didalam kepala Songjin, stadion hanya akan berisi pria-pria berkeringat kotor, memainkan permainan yang tidak menarik dan tidak dimengertinya sama sekali. Kali ini saja, Songjin sebenarnya tak terlalu menaruh minat. Tapi tak perlu diingatkan lagi mengapa dirinya bersikeras untuk ikut. Yeah. Tentu saja. itu mudah sekali untuk ditebak bukan?

Saat berdesakkan, Songjin memiliki kesempatan untuk berada lebih dekat hingga menghidup aroma tubuh Changmin yang mengantri didepannya. Saat itu jantung Songjin berdegup tak karuan. Ada rasa senang luar biasa dan perasaan aneh, yang menyerang perutnya saat merasakan kesenangan dilevel tertinggi seperti ini.

Seperti merasa ingin menjerit dan pup disaat yang sama. tangannya dingin— mungkin. Itu hanyalah apa yang Songjin rasa saja secara reflex ketika yang dapat dilakukannya untuk menekan euphoria kegembiraannya hanyalah meremas tangannya sendiri.

Kyuhyun memilih untuk tidak ambil pusing saat menyadari Songjin sedang bertingkah bagai cacing kepanasan didepannya. Dia ingin menjahili Songjin lagi dengan mendorong belakang kepala gadis itu. namun terlalu banyak pasang mata, anggota club baseballnya yang sedang memperhatikan gadis itu.

Kyuhyun hanya tak ingin saja menjadi momok pembicaraan saat menjahili gadis itu. pada akhirnya. Kyuhyun hanya menjejalkan kedua tangan kedalam kantung jaket baseball miliknya. Matanya kemudian mulai menelusuri lapangan hijau yang terpampang dihadapannya. sungguh pemandangan yang menakjubkan. Ribuan orang sedang berkumpul menjadi satu. Ini bahkan lebih keren dibandingkan menonton konser!

Usai mendapatkan kursi sesuai kelas dari tiket mereka, Kyuhyun berdecak kagum pada Joon-Gu, salah seorang anggota club nya yang mampu mendapatkan tiket untuk kursi strategis. Tidak terlalu diatas, juga tidak terlalu dibawah. Mereka berada ditengah-tengah. Posisi yang tepat untuk melihat kesekeliling lapangan, juga sebuah layar besar dipinggirnya, yang biasanya dipakai untuk menyrot pemain lebih dekat.

Shim Changmin memanggil seorang penjual popcorn dan soda. Pria itu membeli banyak sekali popcorn bagi seluruh orang yang datang bersamanya. Lalu Kyuhyun membeli hot dog dan salah seorang yang tak Songjin tahu namanya membeli soda.

Songjin mendesah hebat melihat pangkuannya berisi banyak sekali jenis makanan. Ada popcorn, hot dog, beberapa jenis permen, soda serta khusus untuknya, pemuda yang tadi memiliki tugas membeli soda membelikannya sebotol air mineral. Seolah sadar dan tak perlu diberitahu, bahwa gadis sepertinya tak tertarik dengan soda.

“seperti ini setiap kali kau menonton pertandingan?” baru kali ini suara Songjin kalah besar daripada suara gaungan apapun. Kini suaranya kalah, dibandingkan jeritan puluhan ribu penonton baseball ketika melihat dari layar besar dipinggir lapangan, para pemain telah berjajar memasuki lapangan. Tak terkecuali Kyuhyun, Changmin, ataupun anggota baseball lainnya dikanan kiri, atas dan bawah Songjin.

“mm.” hanya kepala Kyuhyun yang mengangguk untuk menjawab. Sebagian besar konsentrasinya sedang berada pada deretan pemain baseball asal Los Angles Dodgers. Kyuhyun berdiri dari tempatnya untuk melihat para pemain itu. tentu saja dia akan mendukung team baseball negaranya.

Namun diatas segalanya, Kyuhyun tak bisa menipu diri bahwa dirinya cukup tertarik pada deretam pemain asing lawan mereka kali itu. “kau lihat pemain dengan rambut sedikit panjang disana?” Kyuhyun tak menghiraukan Songjin yang sedang kerepotan dengan makanan-makanannya.

Usai duduk, Kyuhyun menunjuk layar besar dihadapannya dengan telunjuk lalu mendekatkan bibir pada telinga Songjin. “yang itu.” dia mengarahkan telunjuknya pada seseorang dengan topi bertuliskan LA yang sedang mengunyah permen karet. “namanya Hyun-Jin Ryu”

“dia warga negara Korea Selatan?”

“iya.”

“lalu kenapa dia berada disana? Bukan di team kita?” Songjin bertanya polos.

Sesungguhnya, itu bukanlah pertanyaan aneh. Dan tentu saja pertanyaan semacam itu, biasanya adalah pertanyaan yang akan keluar dari mulut penonton bukan penyuka baseball. Atau jenis olahraga permaianan lainnya. “kalau punya kesempatan lebih bagus, kenapa tidak?” bahu Kyuhyun bergidik saat dirinya menjawab pertanyaan Songjin. “dia menghabiskan masa sekolahnya disini. tapi kemampuan permaiannya diakui sampai kesana, itu contoh-contoh kesempatan bercampur keberuntungan yang tidak akan datang dua kali. Kalau sanggup diambil, kenapa tidak?”

“entahlah.” Songjin ikut menggidikkan bahu, “untuk alasan keluarga? Sahabat? Memangnya apa rasanya hidup sendiri di Negeri orang begitu?”

“kau kan tidak tahu apapun Songjin. Kita hanya penonton.”

“tetap saja, untukku itu terdengar cukup aneh. Family stick together right?”

 

pelafalan bahasa inggris Songjin yang berantakan bagi telinga Kyuhyun membuat pria itu segera menoleh memandang Songjin jijik. Seolah berkata, rakyat jelata sepertimu sebaiknya tak perlu berurusan dengan bahasa asing, atau sejenisnya. Atau entah apa, arti lirikan itu. yang Songjin tahu, Kyuhyun hanya sedang bersikap sok-pintar, khas Cho Kyuhyun sekali, maka gadis itu segera melambaikan tangan berkata, “aku tahu aku cantik. Tidak perlu terang-terangan merasa terpana begitu.” Sambil memasukan gigitan besar hot dog.

Namun tak sampai dikunyaha ketiga, Songjin menjerit kencang dengan wajah perlahan berubah warna menjadi merah. Sebagian besar orang pasti berpikir bahwa Songjin sudah terkena euphoria semarak baseball seperti penonton kebanyakan disini.

Tak banyak yang sadar bahwa sebenarnya Songjin baru saja terkena perangkap setan. Kyuhyun terbahak-bahak melihat Songjin kalangkabut karena hot dog pedasnya. Songjin tak pernah bermasalah dengan makanan pedas, tapi hot dog distadion, hanya memiliki dua variant rasa. Pedas atau… super pedas. Tapi hey, Songjin mana tahu hal itu? dia kan.. belum pernah kemari sebelumnya!

Masih sambil terbahak-bahak Kyuhyun memperhatikan Songjin berjibaku dengan botol air mineral hingga tandas dalam waktu cepat. Gelas soda miliknya memang tidak dicicipinya sama sekali. Hanya kubus es yang Songjin ambil lalu dikulumnya lama. Namun sepertinya, rasa pedas itu tak juga hilang.

“itu yang kumaksud tadi. dan yeah, aku terpana Park Songjin.” Adalah kemudian ejekan yang Kyuhyun muntahkan sambil memberikan lengannya untuk akhirnya Songjin gigiti menahan rasa pedas dilidah gadis itu.

Kyuhyun menekankan nama lengkap Songjin layaknya pemain antagonis didalam drama-drama. Lengkap dengan picingan mata dan nada menyeramkan.

kini, tak banyak yang sadar bahwa ada orang lain yang sedang lebih terpana. Seperti pertandingan yang baru dimulai dilapangan, tidak seberapa menariknya hingga orang itu malah memandangi seorang pemuda dengan tawa menggeleggarnya, dan gadis yang sedang kepayahan menahan rasa pedas— berusaha untuk tak menangis ditempat.

Terpana. Memandangi betapa lucu, serta menyebalkan keduanya terlihat. Iri, mengapa dirinya tak bisa seperti itu bersama dengan Gyuwon sahabat kecilnya juga. Dan bertanya, apa hanya dirinya saja yang merasa tak nyaman serta heran, mengenai hubungan pertemanan dua orang itu, apa yang seperti itu… wajar?

** **

“One single smile a helping hand.
It’s not that hard to be a friend.
So don’t give up stand ’til the end.
There’s more to life than just to live.
When you love someone, and they break your heart, don’t give up on love.
Have faith, restart just hold on!”
–Jonas Brothers, Hold On

*

Tepuk tangan, suara tawa, terompet, jeritan serta puluhan wujud ekspresif lainnya oleh para penonton didalam stadion menggema, menggaung begitu ramai. Dragons team baru saja mencetak home run. Semua orang pendukung Dragons merasa begitu gembira.

Hanya Songjin seorang lah yang tak beranjak dari kursinya. Gadis itu sudah kepalang bosan, satu jam berada dikursinya dan hanya mengunyah saja hingga kini pasokan makanannya nyaris habis.

Hot dog sisa sialan itu telah diberikannya kepada Changmin— yang langsung menerima dengan sukacita, tanpa perlu dipertanyakan lagi mengapa. Popcornnya hanya menyisakan wadahnya saja sedangkan kini, hanya ada satu jenis permen yang Songjin makan.

Kalau pasokan makanannya benar-benar habis sebelum pertandingan usai, gadis itu tak tahu harus melakukan apa distadion itu sebenarnya. dia tidak tertarik sama sekali dengan baseball. Sungguh. Ditengah tepuk tangan meriah mengelilinginya, Songjin malah merasakan kantuk hebat.

Terlalu mengantuk untuk sadar dan menjerit senang karena kepalanya baru saja dipasangkan topi milik Changmin— pemuda tampan, alasan mengapa dirinya sudi menginjakkan kaki ditempat penuh lelaki berkeringat seperti ini.

Kemudian, dalam lima menit selanjutnya, Songjin tak lagi mendengar suara gemuruh, riuh tepuk tangan atau jeritan. Pandangannya menjadi sayu. Dia jatuh tertidur.

** **

“aku suka Hyun Jin Ryu. Dia pitcher yang hebat.”

“usianya sama dengan kita omong-omong.” Changmin menimpali lalu Kyuhyun mengangguk. “hanya satu tahun lebih tua saja. dia sungguh hebat.” Matanya mengikuti kemana Hyun Jin Ryu berlari.

Kyuhyun sadar, seharusnya dia tidak mengaggumi team lawan sebesar itu. namun pesona Pitcher kelahiran Seoul itu memang sungguh tidak terbantahkan. “aku harus meletakan salah satu dari suku namanya untuk nama anakku nanti.” Gurau Changmin terkekeh.

Kyuhyun mencebikkan bibir tak mengiyakan ataupula menganggap itu adalah ide tolol. Sesungguhnya, dia sendiri pun memiliki ide yang sama. Untuknya sendiri, sudah sungguh jelas, dia memang akan memberikan satu suku namanya untuk putra atau putrinya nanti. Itu seolah menjadi sebuah kewajiban hingga jika tidak dilakukan, seperti calon anak itu nanti, bukan benar-benar anaknya.

Lagipula, namanya sudah memiliki salah satu suku berbunyi ‘Hyun’ jadi mengapa harus berandai akan memberikan satu suku nama pitcher terkenal itu? kkk~

Diantara Changmin dan Kyuhyun, terdapat Songjin sedang mendengkur keras. Dua pemuda itu saling berpandangan, dan tertawa mendengar dengkuran Songjin cukup kencang untuk ukuran gadis pesolek sepertinya.

Changmin tersenyum kering, bertanya kepada Kyuhyun, “bagaimana rasanya?” dengan mata menerawang jauh pada lapangan hijau didepannya. Pitcher kesukaan mereka sedang berlarian ditengah lapangan.

Alis-alis Kyuhyun sempat bertautan. Dia tidak tahu apa harus memikirkan jawaban untuk pertanyaan aneh itu, atau bahkan perlu menjawabnya? Itu terdengar seperti bukan pertanyaan omong-omong.

“berisik.” Kata Kyuhyun memulai. “jauh dari kata tenang. Pusing. Repot—“ lalu ketika sadar seluruh jawabannya tak satupun mengandung aroma positive, Kyuhyun berinisiatif sebagai sahabat yang baik serta tak ingin menjatuhkan martabat Songjin dihadapan lelaki-incarannya itu, Kyuhyun menambahkan, “nyaman” sebagai penutup yang indah.

Jika terdapat sound effect, Kyuhyun menginginkan music yang dramatis untuk kebaikannya kali ini.

“repot?” Changmin tak cukup terkejut mendengarnya. Dia terkejut ketika Kyuhyun sanggup memadukan kata repot, dengan nyaman, karena yang dirinya tahu, dua hal itu selalu berlawanan.

Kyuhyun mengangguk-angguk. Sambil melepaskan jaketnya, kemudian menyampirkan pada pangkuan Songjin karena omong-omong, angin berhembus cukup kencang berulang kali sedangkan Songjin hanya menggunakan summer dress berpotongan rendah. Membuat separuh paha mulusnya sempat menjadi tontonan gratis para lelaki disana diawal tadi.

Tapi jika memberikan jaketnya diawal tadi, Songjin yang malah akan marah. Mungkin, itulah maksud mengapa gadis gila ini memakai pakaian berpotongan rendah. Sejak awal Songjin telah bertekad untuk menjadi penggoda. Dia mungkin telah menjadi setengah frustasi memikirkan cara untuk mendekati Changmin. Setelah ide belajar berenang, pada akhirnya memberikan hasil yang buruk. Begitupun menonton pertandingan baseball, yang dikiranya akan terasa mengasyikan. Dia ingin menggoda Shim Changmin. Pasti. Ungkap Kyuhyun dalam hatinya.

“kau ingat, aku pernah bercerita, Songjin tenggelam?”

“yeah.”

“dia memaksaku dan Siwon Hyung untuk mengajarkannya berenang.” Agar dapat ikut club renang dan melakukan hal-hal romantis didalam kolam seperti di drama televisi bersamamu. Lanjut Kyuhyun tak disuarakannya. Terlalu malas untuk menanggapi keriuhan yang pasti akan Changmin muntahkan.

Jika itu terjadi, acara menonton baseball kali ini tak lagi menjadi acara menonton baseball. Namun acara sebar menyebar informasi, ditengah stadion dalam pertandingan baseball. Begitu.

Kyuhyun melupakan seluruh anggapan itu dan menggantinya dengan ingatan lain, ketika Songjin tenggelam dan Park Seul Gi ikut berisik melompat-lompat sambil berteriak dipinggir kolam. Agaknya Kyuhyun mulai sadar, dari siapa gen ribut itu Songjin dapat.

Kyuhyun sibuk pada ingatannya sendiri. tak menyadari Changmin sedang memerhatikannya seksama menunggu penjelasan lanjut darinya. Saat sadar, Kyuhyun hanya tersenyum menutupi tawanya sambil menggelengkan kepala. Menjelaskan memorinya sedikit saja dengan penjelasan lebih sederhana, “sangat repot sampai kau pusing.”

“dan nyaman?”

well, Songjin tidak seperti yang kau lihat, dengan nafsu makan sedikit. Dia makan seperti bulldozer. Menjamah apa saja. banyak sekali, walau setelah itu dia pasti akan diet habis-habisan. Tapi percayalah. Dia tidak semanis itu. dan kukira hal seperti itu yang membuat kau akan merasa nyaman saat sedang bersama dengannya. Hal yang tidak akan kau dapatkan dari gadis-gadis saat ini. gadis-gadis kebanyakan. Kau tahu.. seperti— Hyerin, Boora…“

Kyuhyun bahkan kehabisan kata-kata. Kosakata gadis miliknya hanya ada 4. Pertama, Ibunya. Kedua, Park Aeri, ibu Songjin. Ketiga, Songjin sendiri dan keempat, Lee Gyuwon. Dari seluruh wanita yang sangat dikenalnya itu, tak satupun yang Kyuhyun rasa pantas untuk dibandingkan satu samalain.

Namun jika melihat sepintas saja, para gadis yang tiap pagi selalu sengaja melewati lokernya hanya untuk bertubrukan mata, atau sengaja melewati mejanya saat dirinya sedang makan siang di cafeteria, Songjin memiliki kepribadian lebih baik daripada itu.

Atau mungkin, sesungguhnya Songjin sama saja dengan para gadis genit itu. hanya saja dia mengenal Songjin lebih lama, sedangkan para gadis itu tak dikenalnya selain nama saja. Kyuhyun merasa tak boleh menilai seseorang jika tidak mengenalnya lebih jauh terlebih dulu. Kyuhyun sendiri tak ingin mendapatkan hal serupa, karena itu dia tidak melakukannya. Walau tetap saja percuma. Bukankah menilai sebelum mengenal, kini telah menjadi trend baru?

Changmin tertawa renyah kala Kyuhyun hanya tersenyum seadanya. Dia menggali ingatan akan Songjin yang dipunyainya. Hanya ada satu kata baginya penilaian bagi Songjin. “dia itu lucu.” Ungkap Changmin jujur, menekan lidah topinya dikepala Songjin untuk menghindari sinar matahari yang mulai mengguyur kursi penonton.

Kyuhyun lantas mengganti senyumannya dengan tawa. Tawa kencang. sangat kencang. “dia tidak lucu. Dia hanya bodoh. dia tidak benar-benar mencoba untuk membuat orang tertawa. Hidupnya dikepung oleh orang-orang lebih cerdas darinya. Banyak dari orang cerdas itu menganggap yang Songjin lakukan lucu. Frekuensi berpikirnya tak sama dengan orang kebanyakan.”

“itu keterlauan namanya.” Tindih Changmin buru-buru kepada Kyuhyun. Untung saja Songjin sedang tertidur, karena jika tidak, Changmin tak tahu keributan macam apalagi yang akan muncul. Keributan ice cream tadi adalah contoh sederhana, dari permasalahan sederhana.

Tadi, Kyuhyun baru saja menghina Songjin bodoh berulang kali. Kalau Songjin tak tidur, mungkin leher Kyuhyun sudah tak menempel lagi dengan tubuhnya.

Namun Kyuhyun tidak tertawa menanggapinya. Wajahnya tampak tegas menandakan bahwa dirinya memangs edang serius berbicara kali ini. Bahunya bergerak santai bersama dengan punggung yang perlahan menempel dikursi lagi, lalu dengan suaranya yang terdengar lebih santai Kyuhyun menjawab, “aku bukan sedang menghinanya. Aku hanya sedang menjelaskan apa yang kutahu tentangnya, yang tidak kau pahami. Dan aku tidak mengatakan bahwa hal itu buruk.” Paparnya.

Kyuhyun juga melakukan hal yang sama seperti Changmin. Hari sudah mulai siang dan matahari mulai merajalela. Kyuhyun mencoba menjauhkan sengatan matahari pada tubuhnya sendiri, dan tubuh Songjin dengan menarik lengan gadis itu untuk lebih dekat padanya. “dia cukup merepotkan. Seperti saat ini.” ujarnya lagi, menunjuk Songjin yang tak sadarkan diri, dan membuat sekitarnya kerepotan untuk menjaganya bagai babysitter yang sedang menjaga bayi.

“kalau kau tidak merasa terganggu dengan kerepotan-kerepotan sejenis ini, kau bisa mencoba untuk mengajaknya berkencan.”

“aku?” telunjuk Chamgmin mengarah pada wajah pria itu sendiri. “jadi aku boleh mengajaknya kencan?” pemuda tinggi nan tampan itu tampak terkejut. Jenis-jenis wajah terkejut yang sungguh tak dibuat-buat. Seperti meyakinkan bahwa yang didengarnya adalah benar-benar tak pernah diperkirakannya.

Melihat hal tersebut, Kyuhyun tak lagi sibuk dengan matahari, apalagi Park Songjin yang sedang diguyur matahari. Ada hal lain yang mungkin akan menjadi pusat kesibukannya kali itu. Cassanova dihadapannya ini, apakah baru saja menunjukkan sisi termenggelikannya dalam diri seorang pria, dihadapannya? yang benar saja!

“maksudku—“ Changmin menggeleng dan tersentak hebat saat sadar, dirinya dan Kyuhyun telah berpandangan layaknya pasangan kasmaran yang lama tidak berjumpa, begitu intim dan mesra. “aku kira aku membutuhkan izinmu. Atau Siwon Hyung?”

Kyuhyun lantas buru-buru mendesis kencang merasa jijik sekaligus heran, sekaligus tidak habis pikir, “kau pikir aku pawangnya, atau apa?”

“karena kalian begitu dekat.”

“itu bukan berarti aku akan membatasi siapa yang akan berkencan dengannya.” Jelas Kyuhyun tegas. Dia seperti tak ingin mendapatkan julukan bodyguard atau apapun sejenisnya, atas hubungan dekatnya dengan Songjin. Tindakan itu terlalu berlebihan jika harus dilakukannya. Dan mengapa dia harus memiliki ide untuk melakukan hal semacam itu? apa itu memang perlu? Untuk apa? Apa untunya untuk dirinya?

Kyuhyun termenung memikirkan hal tersebut. Lantas seseorang membuatnya teringat bahwa kesimpulan Changmin tidak terdengar konyol, saat dirinya sendiri ingat bagaimana Siwon memperlakukan Songjin. Tak lama, Kyuhyun mengeluarkan suara decakan serta cebikan dibibir ketika satu persatu ingatan itu mulai memenuhi kepalanya, “aku tidak begitu.” Katanya meyakinkan diri sendiri. sebenarnya, berusaha memberitahu dirinya sendiri juga, untuk tidak bersikap seperti itu.

“Tapi mungkin Siwon Hyung akan sedikit menyebalkan. kau tahulah. Pria tua itu—“ potongnya sendiri. Siwon terlalu memanjakan Songjin. Terlalu. Keterlaluan. Pasti, suatu saat nanti Songjin akan merasa terkejut bukan main ketika menyadari bahwa kenyamanan semu itu membuatnya menjadi bergantung dan tidak mandiri sedikitpun.

Kyuhyun sungguh menyesalkan hal itu, namuns sudah kepalang terjadi. Jadi jika ingin disesali lagi, rasanya percuma. Dia lalu menoleh pada Changmin. Sedikit merasa heran mendapati ternyata Changmin sedang memerhatikan seluruh perkatannya saksama. Seperti sedang mencerna informasi pemberian guru mereka disekolah.

“tak perlu ambil pusing. Songjin tidak seperti yang kau dengar dari cerita orang-orang disekitarmu. Dia—“ Kyuhyun menggantung kalimatnya sebentar. Berpikir. Mencari padanan kata yang sesuai. Menggambarkan Songjin ternyata tak semudah itu. telah mengenal Songjin lebih lama daripada siapapun, malah menjadi salah satu alasan terkuat mengapa dirinya tak bisa asal menjelaskan seperti apa Park Songjin sebenarnya.

seperti terdapat sebuah kewajiban untuk mejelaskan kepada siapapun yang mencoba bertanya, ‘mengapa kau berteman dengannya lama sekali?’ adalah suatu penjelasan tak langsung mengenai rasa nyaman bahwa bersama Songjin, rasanya memang nyaman. Itulah mengapa mereka saling berdekatan. Itu adalah asalan sederhananya. Namun Kyuhyun merasa tak bisa mejelaskan seperti itu kepada Changmin.

“— dia tidak separah yang kau bayangkan.” Lantas pada akhirnya, hanya kalimat sepenggal itu sajalah yang mampu Kyuhyun lepaskan.

Dia tidak separah itu. Songjin memang menyebalkan. Dia pesolek seperti Lana, atau penggila ketenaran seperti Hanna. Namun sungguh, Songjin tak separah itu. Songjin berbeda. Hanya saja, Kyuhyun tak tahu harus dengan cara apa menjelaskan kepada semua orang yang bertanya.

Bersama dengan penjelasan Kyuhyun mengenai Park Songjin kepada Shim Changmin, terdapat teriakan riuh dari para penonton distadion. Awalnya, keduanya mengira seseorang mencetak home run lagi selagi keduanya sedang mengobrol penting dan tak memerhatikan pertandingan.

Namun setelah menyadari bahawa yang sebenarnya terjadi, terdapat kamera keparat yang sedang menyorot ketiganya. Lantas diperbesar dan hanya menunjukkan Kyuhyun, dengan tubuh Songjin yang sedang bersandar, tertidur santai didada kanan Kyuhyun.

Para anggota baseball yang duduk diatas Kyuhyun ribut saling bersorak sambil mendorong-dorong punggung Kyuhyun menggodanya. Sedang yang dibawah, mereka berdecak kagum dan iri, sambil menepuki kaki panjang Kyuhyun. Memaksa Kyuhyun untuk segera melakukan hal lebih daripada itu.

Kemudian terdapat tulisan Kissing Cam, dibawah layar yang menampilkan gambar manusia tom-and Jerry itu.

Kyuhyun terkejut bukan main melihatnya. Kissing Cam itu adalah ide yang gila dan biasanya, dia hanya menertawai penonton yang sedang sial terkena sorotan kamera keparat itu. Kyuhyun tak pernah memiliki ide, bahwa dirinya akan masuk juga pada akhirnya dilayar besar sialan itu.

Maka Kyuhyun segera melambaikan satu tangannya saja, karena tangan lainnya, sedang (terpaksa) dipinjamkan untuk sandaran gratis gadis bulldozer ini.

Agaknya, seseorang yang menyorot mereka secara keji tak menyadari bahwa gadis bodoh ini sedang tertidur pulas dan tak mungkin melakukan ciuman. Pun jika sedang tidak tertidur, tetap mustahil bagi Kyuhyun melakukan hal itu kepada Songjin. Bukankah rasanya aneh mencium bibir sahabatmu sendiri?

“dia tidur!” teriak Kyuhyun berusaha menjelaskan sambil memandang layar besar didepannya. Dan tentu saja, suaranya tak cukup menggeleggar untuk berlawanan dengan suara riuh penonton lain disana.

Kyuhyun berusaha memberitahu kiri kanannya. Namun banyak dari mereka terus berdecak menggoda lebih menyebalkan. Mereka hanya mengangga bahwa itu adalah penolakan Kyuhyun saja karena tak ingin berciuman didepan khalayak umum. Sebenarnya itu juga sebuah alasan yang masuk akal. Tapi lagi, tidak dilakukan bersama Songjin. Tidak. Tidak akan.

Kyuhyun lalu menoleh pada Shim Changmin bermaksud meminta pertolongan, namun Changmin terlihat tidak mau tahu dengan menjauhkan tubuh tak ingin terkenal sial sorotan kamera.

Didalam hati, Kyuhyun merepeti cameramen sialan dibawah sana dan bertekad untuk mencari orang itu— memberikan satu tonjokan kencang. namun waktunya untuk membayangkan itu tak pernah ada. Semua orang telah semakin kencang bersorak dengan teriakan “Kiss! Kiss! Kiss!” berulang kali menyudutkannya.

Kyuhyun tak punya pilihan lain. yang Kyuhyun tahu, dia bergerak tanpa komando begitu saja. Mendapati dirinya sendiri segera merunduk, mendekap tubuh Songjin pada seluruh bagian dada bidangnya, lalu menekan bibirnya pada puncak kepala berlapis topi baseball dengan tulisan Dragon –team yang kini sedang mereka beri dukungan.

Dalam diam Kyuhyun menyumpahi para anggota baseballnya yang keparat— ikut menggodanya dan memaksa dirinya untuk melakukan hal ini. dan dalam diam, ada lilitan kencang diperutnya. Membuatnya merasa mulas bukan main. Seperti sesuatu berada didalam perutnya, sedang bermain-main didalam sana.

Kyuhyun menekan wajahnya lagi pada puncak kepala Songjin. Gadis ini, bahkan dari balik topi baseball tebal ini, aroma shampoo—

Strawberry-nya tercium begitu jelas. apa semalam tadi, Songjin memang benar-benar tak tidur dan hanya sekuat tenaga merias diri demi kencan-dalam tanda kutip-ini? apa semalam, Songjin merendam kepalanya kedalam kubangan jus strawberry atau apa?

Aroma ini sungguh manis. Kalau Kyuhyun sedang hilang akal, bisa-bisa dia langsung membuka mulut lebar-lebar dan merauk satu gigitan penuh kepala-strawberry-Park Songjin ini.

Lalu terdengar suara “uuuuu” dari para penonton. Sepertinya mereka semua kecewa karena ciuman itu tak sesuai dengan harapan mereka. Namun jauh diatas segalanya, waktu seperti sedang berhenti bagi Shim Changmin. Suara riuh sekitarnya, seperti berubah menjadi teriakan gerakan lambat. Semua bertepuk tangan, bersorak, dan mendecak dalam frekuensi lambat dimatanya.

Mendadak, seperti terdapat ruang kosong menyergapnya. Keinginan besar yang baru dirasanya, yang tadi sempat membubuhkan rasa gembira berlebihan bahwa mungkin, dia memiliki kesempatan untuk berkencan dengan Songjin, seperti yang Kyuhyun sampaikan, pudar.

Changmin mulai membandingkan dirinya sendiri dengan Cho Kyuhyun. Jika saja dia benar mengajak Songjin pergi, apa Songjin akan nyaman bersamanya? Apa Songjin akan merasa senang?

Apa bersama dengannya terasa sama nyamannya saat Songjin sedang bersama dengan Kyuhyun? Apa dia akan terlihat sesenang itu?

Satu persatu pertanyaan sederhana itu mulai merayapi isi kepala Changmin.

Apa, Songjin akan tetap setenang itu saat tanpa sengaja tertidur didadanya, lalu padahal, sekitarnya sedang mengeluarkan suara luar biasa berisik, bahkan dengan tubuh sandarannya itu sedang berguncang-guncang karena dorongan dan pukulan sana-sini?

Waktu, seperti sedang membantu menunjukkan segalanya bahwa yang dipikirkannya selama ini, mungkin adalah benar. Mungkin, Kyuhyun dan Songjin tak hanya sekedar pasangan lelaki dan perempuan, yang saling mengenal sejak kecil. Mungkin apa yang Gyuwon katakan benar adanya.

Mungkin mereka bukan hanya satu diantara sekian banyak orang yang terpaksa, tanpa sengaja, tanpa direncanakan, saling memahami saja. mungkin, memang terdapat hal yang lebih daripada itu, yang tak Songjin dan Kyuhyun sendiri pahami.

Atau mungkin, keduanya masih tak paham atas perasaan mereka masing-masing. Lagipula memangnya siapa yang tahu?

Oh, baiklah.. Gyuwon mengetahui hal itu sejak sangat lama. Kini Shim Changmin pun mengetahuinya begitu jelas. sangat sangat jelas.

** **

“Aku lapar.” Songjin memejamkan mata mendengarkan rintik-rintik hujan menerjang jendela disisi kirinya. Seperti rintik air hujan itu, suasana hati Songjin sedang amats angat buruk usai menyadari selepas tidur tanpa sengajanya distadion tadi, dia tak tahu apa-apa lagi selain terbangun sudah berada diranjang kamarnya.

Hari masih belum terlalu malam. Songjin panic bukan main. Dia bertanya kepada siapapun yang ditemuinya, dan sialnya, dirumahnya tak ada siapapun kecuali Han Jo Sung, dan Kyuhyun saja. Bibi Han jelas tak tahu apa-apa dan Kyuhyun adalah seorang tersangka utama, namun Songjin sadar dia baru saja berhutang budi karena Kyuhyun tak meninggalkannya digedung stadion tadi seperti gelandangan usai pertandingan.

“kenapa kau tidak bangunkan aku??” yang ada, Songjin hanya sanggup menggerutu pada sikap Kyuhyun untuknya tadi. seperti tak tahu cara berterimakasih.

Lucunya Kyuhyun merasa tak heran sedikitpun, ketika Songjin malah merepetinya dengan omelan seperti itu, dibandingkan sebuah rasa terimakasih, dan mungkin berbaik hati membuatkan teh panas, kopi panas, atau minuman apapun yang panas untuk udara sedingin ini.

Kyuhyun hanya terus memainkan pspnya tidak memerdulikan Songjin seolah gadis itu tak ada disekitarnya. “kau benar-benar membiarkanku tidur, saat Changmin Oppa berada didekatku! Bagaimana kalau dia melihat hal yang buruk saat aku tidur? Bagaimana kalau—“

“dia mendengar dengkuranmu yang keras seperti beruang.” Imbuh Kyuhyun dapat membaca kekhawatiran dikepala Songjin. “Nah!” lalu Songjin menjerit setuju mengacung-acungkan telunjuk didepan wajah Kyuhyun. “itu maksudku!!”

“Lalu?” Kyuhyun tidak menemukan alasan mengapa hal sesederhana itu layak untuk dipermasalahkan. Sedang Songjin semakin terkejut pada kepolosan-garis miring-kesinisan Kyuhyun. “lalu?” bentaknya kencang-kencang.

“aku terlihat buruk sekali kau tahu itu. aku terlihat sangaaaat buruk!”

Kyuhyun masih tidak mengerti mengapa hal itu masih perlu dipermasalahkan. Semua yang mengenal Songjin pasti tahu seperti apa gadis itu ketika tertidur. Dengkuran yang keras, wajah kosong, mulut mungkin jatuh menganga (ini sebuah pengecualian, tapi yeah, masukkan saja) lalu?

Bukankah semua orang pun memiliki kondisi terburuk mereka ketika tertidur? Lalu dimana letak permasalahannya?

“Changmin Oppa pasti akan semakin tidak tertarik dengaku. Akh, kau benar-benar bodoh, Kyuhyun-ah! Seharusnya kau—“ Songjin berhenti berbicara ketika Kyuhyun meninggalkan kursinya saat dirinya sedang mengeluarkan puluhan konsonan kata dalam waktu satu menit secara cepat bagai kereta ekspres.

“kau mau kemana?” ada nada kesal, marah dan puluhan perasaan kacau lainnya kala Kyuhyun meninggalkannya begitu saja. terlebih ketika dirinya masih berbicara pada pria itu. itu tidak sopan? Iyakan? Meninggalkan seseorang yang sedang berbicara padamu?

“pulang?” lalu Songjin berdiri cepat-cepat usai Kyuhyun menjawab, tanpa memandangnya. Psp keparat itu masih lebih menarik daripada dirinya. Selalu. “aku seorang diri dirumah sebesar ini, dan kau tahu itu. kau ingin pulang? padahal besok kau tidak ada jadwal datang kesekolah. Setidaknya kau bisa menemaniku atau apalah itu. kau benar-benar tidak tahu cara meminta maaf yang benar ya? Aku tidak tahu lagi bagaimana mengatakannya, tapi kau sangat sangat sangat menyebalkan, kau tahu itu Kyuhyun-ah?”

“bisa kau tutup mulutmu sebentar saja?” sepertinya, Kyuhyun yang telah kepalang pusing dan harus berkonsentrasi dengan gamenya memilih untuk mempause permainan itu untuk mendelik pada Songjin.

Bibir Songjin begitu tipis, mungkin itulah mengapa Songjin dapat berbicara terus menerus tanpa berhenti, setidaknya bibit itu tak memiliki berat yang nyata saat Songjin menggerakannya.

“aku ingin keluar mencari makanan. Aku lapar. Mendengarmu memarahiku tidak membuatku kenyang. Kau mau ikut, atau terus disini sambil marah-marah?”

Kyuhyun memang tidak membentaknya lagi. Kyuhyun berbicara dengan nada yang tegas— bukan bentakan seberapapun pria itu sedang merasa jengah bukan main atas sikap Songjin padanya.

Entah bagaimana, tiba-tiba balik memarahi Songjin tak menjadi keinginannya malam ini. perutnya masih sedikit mulas saat melihat wajah Songjin lekat. Atau, ketika tanpa sengaja mata mereka berseborok. Rasanya kupu-kupu itu masih hinggap didalam sana dan belum ingin pergi.

“kau tinggal?” Kyuhyun mengajak untuk terakhir kalinya. Kali ini, dia benar-benar melakukannya dengan intonasi yang halus. “atau ikut, hm?”

** **

“satu bulan lagi kau akan melakukan ujian kelulusan, iyakan?”

“Hmm.”

“kau, sudah berpikir, maksudku— seperti, ingin melanjutkan pendidikanmu kemana?”

Kyuhyun mengangkat wajah yang sedari tadi sengaja ditundukannya agar tak terus menerus berhadapan dengan Songjin. Sambil menggulung pastanya, kening Kyuhyun mengerut, “kenapa?”

“bukan apa-apa.” Songjin menggeleng. Ada sedikit rasa kecewa yang masih Kyuhyun coba atasi. Dia tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, saat sedang bersama dengan Songjin, dan membuat suatu percakapan serius dengan gadis ini.

lalu tak lama Kyuhyun yang cerdas paham mengapa Songjin memulai topic tak menyenangkan ini, “kalau kau ingin tahu, Changmin akan melanjutkan pendidikannya ke Jepang. Todai University. Dia akan masuk menggunakan beasiswa olahraga. Baseball. Itu alasannya dia selalu lebih memilih berlatih baseball setiap memiliki kesempatan.”

“aku tidak bertanya tentang Changmin Oppa.” Gerutu Songjin mengacak-acak risottonya. “tapi informasi itu boleh juga. Terimakasih.”

Cih. Kyuhyun meyeringai tak percaya pada sikap Songjin. Gadis ini benar-benar… entahlah. Untuk pertama kalinya, Kyuhyun merasa kehabisan kata-kata untuk merepeti Songjin dengan makian.

“jadi, Changmin Oppa akan pindah ke Jepang?”

“tidak. Dia akan pulang pergi setiap hari dari Korea ke Jepang.” Jawab Kyuhyun tak peduli. Dia menyindir kebodohan pertanyaan Songjin dengan sebuah jawaban ketus.

Didalam hati, Kyuhyun sungguh sedang menggerutu. Dia terlalu bosan dengan topic Changmin dan Changmin. Namun agaknya, topic itu memang harus didengarnya berulang-ulang mengingat Songjin masih terkena syndrome-prince-charmingnya, pada Shim Changmin yang tak sedikitpun terlihat Charming, bagi Kyuhyun.

“menurutmu, akan berapa lama dia pergi?” Songjin tak peduli lagi pada risotto-nya. Padahal tadi, dia sendiri yang mengatakan berulang kali bahwa dirinya lapar. Sepertinya topic Shim Changmin memang sedang menjadi pengendali diri Park Songjin kali ini.

“aku tidak tahu.” Bahu Kyuhyun bergidik, “aku tidak peduli juga.” Imbuhnya lagi, “kenapa kau tidak lebih tertarik dengan topic, akan kemana aku setelah ini karena hey, aku adalah satu-satunya temanmu.” Kyuhyun melirik Songjin sinis dari sudut matanya tajam.

tak mengapa kalau sedang jatuh cinta. Tapi seharusnya Songjin tahu bahwa semua orang akan bosan setengah mati jika mendengarkan ratapan menyedihkan manusia setengah patah hati seperti itu.

“kau paling akan melanjutkan di Universitas yayasan sekolah.” kata Songjin asal. Dia menjauhkan piring risottonya kepinggir meja. Bahkan mencium aroma keju dan kaldu dari nasi italia itu membuatnya mendadak mual. Risotto kepiting yang malang.

“bagaimana kalau tidak?” Kyuhyun mendengus “bagaimana kalau aku juga akan pergi jauh? Itu tidak penting untukmu?”

pergi jauh versi apa yang sedang Kyuhyun ingin coba katakan disini? apa pergi melanjutkan pendidikan ke Luar Negeri dan baru kembali lima sampai enam tahun kemudian?

Saat Songjin tak lagi ingat bagaimana rupa Kyuhyun, apalagi suara pria itu karena mereka tak saling berhubungan usai kelulusan Kyuhyun?

Saat Kyuhyun kembali, dan Songjin telah memiliki 3 orang anak dan telah 2 kali berganti suami? Itu.. seperti didalam serial drama yang pernah ditontonnya. Memangnya, kisahnya harus semenyedihkan itu juga?

“Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan ketidak hadiran Appa dan Eomma dirumah. Dulu, aku selalu penasaran, seperti apa rasanya, pulang sekolah dijemput oleh Ayah atau Ibu mereka. Aku sering bertanya, apa rasanya merayakan ulang tahun bersama orang tua dan keluarga dekat mereka?

“lalu aku mulai terbiasa dengan hal itu. kemudian aku menyukai seorang pria. Dia juga akan pergi sebelum aku memiliki keberanian penuh untuk mengatakan bahwa aku menyukainya. dia juga boleh pergi. Aku akan terbiasa dengan hal itu. sekarang, kalau kau juga ingin pergi, kau bisa pergi. Toh aku sudah terbiasa ditinggalkan. Jadi ditinggalkan lagi dengan satu dua orang, apa bedanya?”

Songjin berbicara serius. kali ini gadis itu menunjukkan wajah yang mengencang. Biasanya, jika sudah seperti itu, maka tak lama Songjin akan menangis. Namun kali ini, Kyuhyun telah diam untuk menunggu kapan Songjin akan mempermalukannya dimuka umum, yang sayangnya tak kunjung terjadi.

Songjin hanya menghela napasnya usai meraup banyak oksigen disekitarnya. Songjin terpekur ditempatnya memandangi buku menu beludru berwarna biru dengan pandangan kosong menerawang.

Mendadak, ada rasa gugup seperti yang Kyuhyun rasakan distadion siang tadi. mendadak, memandangi wajah Songjin terasa menakutkan untuknya. dan mendadak, untuk pertama kalinya Kyuhyun merasa iba pada Songjin dengan segala kemewahan yang melimpah, namun tak sungguh-sungguh dinikmatinya.

Mendadak, Kyuhyun malah bertanya pada dirinya sendiri apa dia benar-benar ingin pergi, atau sekedar menggoda Songjin, karena jika iya, menggoda, lelucon ini sepertinya tidak lucu sama sekali.

Kyuhyun tahu betul bagaimana rasa sepi dan kosong seperti yang Songjin rasakan. Dia masih lebih beruntung karena Orang tuanya tak pernah mencoba untuk membiasakan dirinya atau Siwon bagai anak-anak tanpa induk sekalipun apa yang Choi Ki Ho lakukan, sebenarnya sama saja seperti yang Park Seul Gi lakukan.

Datang ke Negara satu dan lain. pulang, lalu pergi lagi. Datang, lalu menghilang. Namun setidaknya, Kyuhyun merasa pernah tahu bagaimana rasanya merayakan ulang tahun yang dihadiri kedua orangtuanya. Setidaknya, dia lebih tahu bagaimana rasanya ‘memiliki’ orangtua— yang benar-benar orangtua.

“aku tidak akan kemana-mana.” Tiba-tiba Kyuhyun mengatakannya. Dia tidak tahu bahwa itu adalah sebuah angin surga bagi Songjin. Seperti menjanjikan yang dirinya sendiri tak tahu akan terjadi, atau tidak. “appa memintaku untuk melanjutkan ke Brown University, tapi kukira tidak.”

Kyuhyun terlihat terlalu yakin pada keputusannya. Seharusnya dirinya tahu, lembar tawaran beasiswa dari universitas terbaik seantero Inggris seperti itu tak akan pernah datang dua kali untuknya. namun mendadak, entah bagaimana hal itu tak penting lagi untuknya.

Mungkin Songjin benar. Mungkin dia akan melanjutkan pendidikannya di universitas yayasannya saja. yang berada satu kompleks dengan taman kanak-kanak, middle school hingga high school tempatnya bersekolah kini.

Mungkin hidupnya memang hanya akan berputar-putar disana saja. Mungkin Songjin memang selalu benar jika sudah menerka-nerka seperti itu.

“kenapa tidak?”

“terlalu jauh.”

“aku baik-baik saja, sungguh.” Songjin mengangguk pasti berulang kali. Kyuhyun segera memicingkan mata memandangi gadis pemakan segalanya itu. “kau kira aku tidak pergi karenamu?” kau terlalu mengenalku kalau begitu. Lanjutnya tak Kyuhyun serukan.

Bahu Songjin bergerak ragu. Mulutnya merapal kata, “mungkin” juga penuh keraguan. Mungkin Kyuhyun memang sepeduli itu padanya. Mungkin mereka memang saling membutuhkan hingga tak bisa berjauhan, begitupun dengan Siwon. Atau mungkin, keberadaannya hanyalah menjadi pemberat saja.

Mungkin, seharusnya Kyuhyun bisa mendapatkan yang lebih baik daripada universitas sekolahnya, walau pasti, Kyuhyun akan menjadi yang terbaik ditempat itu. siapa yang tak tahu kecerdasan pria tengik ini? semua guru-guru tak bisa melakukan protes atas sikap Kyuhyun yang terkadang tak sopan, namun disaat yang sama, Kyuhyun selalu memberikan kontribusi besar bagi sekolah itu.

“kau bisa pergi. masih ada Siwon Oppa disini. dia memang tidak seasyik kau untuk bermain game. Atau, ketaman bermain. Atau, mencari makanan lezat ditengah malam—“ Songjin memaparkan seluruh hal yang sering dilakukannya bersama Kyuhyun.

Kyuhyun merunduk menyimpan senyuman, dan rasa senang yang aneh yang baru saja menghantamnya. Itu adalah hal aneh kesekian dihari ini, yang dirinya rasakan sejak kissing cam keparat itu.

“tapi Siwon Oppa tidak pernah menghinaku. Atau memanggilku bodoh. aku menjeggalku supaya aku sengaja terjembab. Atau—“

“hei!” Kyuhyun mendelik menyudahi Songjin merepetinya lebih banyak. Songjin terkekeh kemudian. Meleletkan lidah pada Kyuhyun jahil, “kau bisa pergi, lalu kembali setelah kau menjadi pengusaha atau pegawai di NASA. Atau setelah kau berhasil mendarat di Planet Mars. Atau setelah kau menjadi menteri keuangan Korea. Lalu kau terlihat cukup tampan dengan kemeja, jas dan dasi—“

“cukup tampan?” Kyuhyun mendesis, “bukankah itu terdengar lucu?” dia meminta pengakuan lebih dari gadis barbar ini sebelum mulutnya mulai meneriaki Songjin dengan sebutan bodoh lagi. Lalu Songjin menyerah. Bahunya terkulai lemas saat tawa keringnya keluar, “baiklah, baiklah, terlihat tampan.” Ralatnya.

“sungguh?”

“Oh— yang benar saja! baiklah baiklah, kau memang terlihat sangat tampan dengan pakaian semacam itu. kau senang?”

“sedikit.” Kyuhyun tak acuh melahap gulungan pasta terakhirnya. “kau terlalu meninggikan harga dirimu untuk memuji sahabatmu sendiri. lucu sekali.”

“kau juga!”

“apanya?” Kyuhyun tampak malas, “aku sering mengatakan padamu kalau kau cantik. Kau memang cantik. Tapi kan sayang, otakmu, dan tingkahmu, dan Ah, kepribadianmu itu agak sedikit—“ Kyuhyun sengaja menggantung pernyataannya diudara begitu saja. dirinya sendiri merasa tak sanggup untuk melanjutkannya. Terlalu banyak hal-hal buruk Songjin yang bisa meleleh keluar dari mulutnya tanpa ampun, dan tanpa berbasa basi.

“kau akan kembali dengan uang yang banyak.”

“uangku sudah cukup banyak.”

“maksudku, untuk mampu membeli rumah. Dan beberapa kendaraan. Lalu kau akan membawa wanita yang akan kau nikahi, untuk bertemu dengan Paman dan Bibi, Siwon Oppa, orang tuaku, aku—“

“orang tuamu? Kau?” Kyuhyun menyeringai begitu keparat, “aku kira hal itu adalah hal yang hanya dilakukan oleh keluarga inti saja? kau? orang tuamu? kau serius?”

Songjin mengibaskan tangan serta kuku panjang mengilap jika terkena terpaan sinar cahaya lampu, “anggap saja aku dan orang tuaku pemeran pembantu.” Jelasnya tak ambil pusing.

“itu terdengar menarik. Maksudku, kau tidak bisa menunda kedewasaan yang menghampirimu kan? cepat atau lambat, kita pasti akan menikah dengan seseorang. Kau percaya itu Kyuhyun-ah? Aku bahkan tidak pernah berani membayangkan aku akan menikah dengan siapa. aku takut, bagaimana jika pria yang akan kunikahi nanti, ternyata tidak benar-benar membuatku nyaman? bagaimana kalau dia tidak benar-benar mencintai aku? lebih parah, bagaimana kalau kami sama-sama tidak saling mencintai? Maksudku— kita bisa saja ‘kan mengambil pilihan yang salah? Bukankah, biasanya, kita melakukan kesalahan dulu sebelum tahu mana yang benar?”

92 thoughts on “Que Sera [First and Second] — 2

  1. Que sera punya sisi sendiri .. Gimana Kyuhyun dan Songjin sebelum merried.. Ckckck benar2 masa2 labilnya kyuhyun,biasanya aku paling gak terlalu senang sama dialog yg panjang2 di ff tapi kalau baca part dimana ada Kyuhyun sama Songjin jadi senyum2 sendiri.. Ada juga yahh pasangan aneh kayak mereka,hehe terlepas dari itu semua saya suka banget berlama2 baca ff disini,keren (y)

  2. Ending nya sesuatu bgt mksdnya kalimat yg dpke songjin,,bnr kata dia kita sering nemuin hal ato ngelakuin yg salah dlu sebelom ketemu yg baik. Bayangin songjin ngomong itu di ending rasanya kelabilan ato keanehan songkin di awal bc hulang seketika hehehheee

    Tp dr smua ini yg paling bkin menganga krn luar biasa itu adalah galuh, bikin ini dalam kondisi gk baik tp justru menghasilkan yg luar biasa kyk gini

    Galuh fighting

  3. Finally Que sera back,,
    detik-detik perasaan kyuhyun mulai terungkap,,, suka ada kiss cam, songjin bakal tau nggk ada kejadian kayak gtu?
    Masih penasaran kenpa kyuhyun bsa jadian ma gyuwon, gemana perasaan gyuwon yg sebenernya,,
    walau katanya nulisnya dgn mood iya-iya enggk-enggak,, tetep asyik kog ceritanya,, karna udah ke konsep sama KYUJIN couple 🙂

    buat 90days, nggk sabar nunggu konflik rumit mereka berdua,,,
    berharap songjin jd sadis sama kyuhyun. Hahah
    karakter songjin jd bitchy “WOW” penasaran bgd,,, gemana jadinya..
    Semangat buat karyanya, semoga kedepannya lancar dn dlam mood yg iya-iya 😀

  4. kak galuuuuuuuuh akhirnya que sera terbit jugaaa {}
    selalu penasaran sama kehidupan mereka dari bayi sampe punya anak selucu hyun gi *.*
    masa masa cinta eunhyuk (monyet) nya kyujin beneran gregetan bikin pengen cium hyun gi hahaha
    cwang kasian yee dia pasti sakitnya tuh disana pas liat kyuhyun cium kepala songjin. sakit kak sakiiiittt
    memelas banget ya topic pembicaraan terakhir mereka, songjin pasrah bgt kayaknya *peluk*
    kyuhyun ciyee ada butterfly terbang di perut ciyeee seneng ciyeee pengen makan kepala songjin ciyeee deg degan ciyeee jatuh cinta ciyee
    kak itu shampo yg dipake songjin shampo apaan sih ? wangi banget gitu kayaknya, sabunnya merek apa ? kok rasa coklat ? beli dimana ? tanyain songjin dong kak galuh ._. kena iklan shampo sama sabunnya dia nih (oke out of topic)

    beneran kak suwer deh ga ngerti lagi pengen ngungkapin kayak gimana kalo baca fanfict mereka .-. rasanya tuh nyata.. mereka beneran hidup ! feel nya dapet ! oke maksimal pokoknya !
    semangat terus ya kak galuh buat cerita kyujin based on missing ini, biar cerita ini terus hidup ^^
    dan para siders segera bertaubat akan kesidersannya

    fighting kak ! stil wait for next chapter 😀

  5. Oh jadi awal mula nya begini toh…sebenarnya kyu memang sudah menaruh perasaan kenapa sahabatnya itu…tapi kenapa gyuwon menerima ajah…apa ada gajah di balik batu? maksudnya gyuwon sudah menyukai kakaknya kyu?

    di tunggu 90 days nya…uhh gak sabar..hehehe

    semangat thor ~

  6. wahh bener tuh kata songjin yang di akhir hehe duhh mereka lucu ya before married nya hehe ngga nyangka aja ehh sekarang udah ada hyun gi hehe , fighting ka galuh ^-^

  7. Setelah d logout akhirnya bisa comment lagi senangnya…
    ahhh…akhirnyaa publish juga meskipun menunggu yg ada hyun ginya…tapi tak apa ini sudah cukup menghibur.
    terimakasih galuuh…semoga feels buat menulis tumbuh kembali…hiii
    aku akan sabar menunggu

    sukaa sama adegan yg berebut ice cream terlihat sosweet dn yg pasti changmin iri banget.
    kissing cam klo terjadi sekarang pasti d sosor abiss tuu ama kyu…hahaha…overall ak suka ceritamuu…
    as always you are my fav author… 💋

  8. anjay pertanyaan terakhir songjin yang bertubi tubi itu mengarah ke calon pasangan nanti siapa,sedangkan disini kita tau kalo calonnya yang dia iang iangi itu didepan matanya sendiri noh*kkk,, ahhh kyuhyun kyuhyun jadi itu ciuman pertama mu sm songjin toh dan yah walaupun bukan dibibir tapi itu masih dikategorikan sebagai ciuman-walaupun tak langsung karena ketutupan topi :p-

    aigoo aigoo sebenarnya mereka dari zaman sma kaya gini dah nunjukin betapa manisnya mereka, berawal dari teman dari kecil,teman bersandar,teman satu satunya,naik jadi pasangan yang dijodohin dan nikah, jadi patner berdebat,patner hidup,dan berakhir dengan hadirnya hyungi,, uhhh

    kalo misalnya hyungi dah gede dan calon adik perempuan itu juga sama sama gede mungkin lucu yah kalo kisah cinta orang tuanya diungkapin dan diceritain..*kkk…

    joha ditunggu series selanjutnya…

  9. Ditunggu2 akhirnya keluar juga ff ini
    Huaaa.. dsni kyanya kyu udh mulai ad perasaan ama songjin.. tp kpn songjinnya sadar??
    Gyuwon n cangmin aj udah sadar..
    Daebak daebak
    Ditungggu next captnya y..
    Hwaiting

  10. “aku tahu aku cantik. Tidak perlu terang- terangan merasa terpana begitu.” eeiiiy Songjin, percaya dirimu tinggi sekali, pantes HyunGi sekarang juga begituu -_-

    di part ini rasa cinta Kyuhyun ke Songjin mulai tumbuh(?) tapi dianya ga pekaaaa. Aku suka bgt waktu kesorot kamera di stadion itu, apa tadi namanya? Aku lupa hehe

    Songjin kalo lagi serius bisa mikir bener juga ye? Dia keliatan dewasa bgt apalagi pas endingnya ini.

    Ditunggu lanjutannya kak Galuh, fighting^^

  11. suka bgt sama songjin , dia selalu engak bisa ke tebak, kalimat yg trkh itu bener2 ngena bgt, walau otak nya pas2 an klau dlm ke adaan mendesak selalu berguna tu otak…

  12. Ini mereka berdua bodoh,apa memang terlalui nyaman dengan sebutan’sahabat’ sihh..
    Jelas2 orang lain ajja udh nyadar seberapa ada perasaan suka diantata keduanya…
    Aergh..bikin penasaram tingkat lanjut nihh ceritanya..
    walaupun matanya udh sedikit ga berkompromi…

  13. Jadi yang mulai menyadari perasaanya hanya kyuhyun saja…
    Bahkan kata2 mengerikan tentang “pergi” pun diangap hal biasa ama songjin…
    Apa karena hal yang udah biasa terjadi dihidupnya,jadi tak perduli…

    Tapi makasih aja buat si kyu yang bisa menjanjikan untuk tidak pergi…
    Jadi songjin tidak benar2 akan kesepian…

  14. terus hibernasi laaaah wkwkwkk parah
    udah ga aneh lh klo mreka b2 brisik, justru aneh bgt klo mreka adem ayem akur kaia mie ayam(?)
    sbnr’a so sweet bgt tw suamiKYU itu!! aduuuuh mw bgt lh tdr d dada kyu :* trs jd sorotan smw org awawawaw
    changmin kyuhyun siwon dewasa cm songjin doang yg msh kaia bocah manja olo2 ckck. gpp sling mlengkapi kyujin;D
    keren eon ff’a! alur’a ga monoton! alur’a naik trun ga flat jd ga bosen baca’a. cm ksel aj sm kepolosan songjin deuuuuh 😛

  15. hallo kak galuh.. mau ninggalin jejak
    ini salah satu ff yg uda aku baca maav baru komen sekarang.
    songjin Gk bisa jauh dari si cho.. begitupun sebaliknya bener 2 sweet couple: D

  16. Ahhh so sweet ada kiss nya.
    Kyuhyun ajak songjin bertengkar mulu,
    Duch ksian changmin pasti sakit banget habis diterbangin eh lngsung dijatuhin.
    Kyuhyun gk sadar2 ya ma perasaannya changmin ma gyuwon aja sadar cikcikcik

  17. kata2 songgggjin sesuatu bnget nyampe ke hati…hahhahahahah
    emang bener kita ga tau kehidupan kita nanti bakalan kya apa… dan untuk mendapatkan ssuatu yg baik kita harus lewatin sgala ujian

  18. Si tampan udah mulai peka nih..
    Ciyeeee yg abis nyipok jidat songjin..
    Sumpah ya 2 pasangan ini pasti punya banyak ide buat berdebat..
    Kaya ahok vs dprd ajja

  19. haha…tu kyujin y ampuunn…ga nydar dah jd bhan tontonan..berebut sprti bcah 5th…chang ajj ma shbtny ga bgtu”bngt..pi kyujin sllu gtu..hal remeh pun bkal jd ajang perdbtan (prdbatan capres ajj kyny klah..hahaha)
    hoho..jd chang mrsa ga yakin liat kdkatan kyujin..tu songjin sking nyman pa mank sngja ga mo bngun..pdhal kyu d dorong” ge pas mrk k tngkap cam kissing…ckck

  20. entah mengapa ketika songjin berbicara seperti tuh serasa dunia nyaman yh 😂😂😂😂 … sesuatu banget klo benr kyuh menghilang dlm kehidupan songjinn untuk sesaat

  21. Que sera menjelaskan betapa dekatnya kyuhyun dan songjin. Mereka memang belum mengerti perasaan mereka satu sama lain, tp hati mereka yg lebih dulu tau bagaimana perasaan mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s