Monologue — Bad Wifey {Cho Kyuhyun}


Monologue – Bad Wifey [Cho Kyuhyun] 

Dear wifey,

let someone love you just the way you are–  

as flawed as you might be,

as unattractive as you sometimes feel,

and as unaccomplished as you think you are. 

It’s okay you if you failed,  you can try again.

it’s okay if your mom yelled at you,

she have things going on to.

It’s really okay if someone hates you,

nobody is perfect and i’m sure you hate someone too. 

but it’s not okay to give up for any reason,  

darling , 

things happen, people change, that is life.

if you fall down somehow, make sure to get back up.

it’s okay, i got your back!

-CKH- 

Dua hari lalu, aku baru saja kembali dari Jeju. Acara pagelaran busana, apalah itu yang Songjin ikuti usai dan satu pekan lagi, adalah acara sama yang terakhir yang akan diadakan di Seoul.

Setelah itu, kurasa hidup kami akan kembali seperti semula. Songjin, tidak akan hanya berkutat didepan meja bersama pinsil dan buku sketsa, atau berkencan dengan ponsel, atau melakukan video call bersama Luna dan entahlah, para wanita-wanita dengan tubuh sangat tipis seperti tidak pernah menelan makanan dalam bentuk apapun sepanjang hidup mereka.

jadi kupikir, hari ini adalah hari tenang sebelum minggu tegang itu dimulai lagi. Karena kupikir, ini adalah saat yang tepat bagi wanita pemakan segalanya itu untuk sedikit beristirahat. juga aku dan putraku. Namun pagi tadi— pagi-pagi sekali,  benarbenar sangat pagi, rumah kami menjadi sarang keributan karena dua hal.

Keduanya, sama-sama berasal dari mulut dua wanita— ditelingaku terdengar seperti sepuluh wanita entah bagaimana.

pertama, untuk urusan ‘melanjutkan hidup’

dan kedua, untuk urusan…. meyakinkan pilihan.

Pagi tadi ibu mertuaku datang. Membawa sekeranjang rotan, besar menggunung yang kukira adalah bom atau apalah— karena terlihat menyeramkan, dan sebenarnya aneh. Aku terkejut, tentu saja, namun tidak benar-benar merasakannya, karena entah mengapa— menurutku ibu mertuaku taka da bedanya dengan Songjin. Mereka seperti saudara kembar yang sama-sama baru saja keluar dari rumah sakit jiwa— hanya kalau kalian paham maksudku.

Hal lain yang membuatku terkejut bukanlah lagi ukuran keranjang rotan aneh itu, namun isinya. Terdapat banyak sekali bahan masakan seperti daging, sayuran hijau, bumbu dapur, buah-buahan, bahkan dua bongkah kelapa utuh. Aku tidak tahu lagi segila apa wanita ini, dan sebanyak apa kegilaan itu diturunkan kepada putrinya yang sungguh cantik, namun sama mengerikannya seperti dirinya.

Tahu apa maksud kedatangan ibu mertuaku? Coba tebak!

Ibu mertuaku datang— tiba-tiba, begitu saja, hanya untuk mengajarkan Songjin memasak. Pagi hari di depan pintu masuk, aku disambut oleh suaranya yang nyaring mengatakan, “aku akan menyelamatkan hidupmu.”

Yang sebenarnya aku tidak tahu maksud ‘menyelamatkan’ versinya, karena setelah kedatangannya, aku malah direpotkan oleh gerutuan dan amukan Songjin, berpikir bahwa aku baru saja mengadu mengenai hidup menyedihkanku selama ini, yang tentu saja berhubungan dengan dapur.

Untuk satu ini, bukan maksudku mengatakan bahwa ibu mertuaku adalah ibu yang buruk. Hanya saja, kukira beliau tidak benar-benar mengenal putrinya sendiri. itu adalah bagian menyedihkannya.

Bukan rahasia lagi, semua orang tahu mengenai ini. Ayahku, ibuku, Siwon, Gyuwon, Kim Dong-Ah Ahjussi, bahkan bibi pemilik bistro tempat aku menggantungkan hidupku selama ini— bahwa Songjin tidak bisa memasak. Siapa sih yang tidak tahu tentang itu?

Jadi setelah Songjin mengamuk, mengira aku adalah seorang pengadu keparat— dan aku dicampakkannya sepanjang pagi, wanita itu kutemukan di dapur dengan wajah maha-kesal kepada ibunya sendiri karena sedang diajari cara memotong lobak yang benar.

Aku jamin, itu adalah neraka bagi Songjin.

Istriku yang malang itu bahkan belum bisa memotong wortel, lobak, atau apapun sejenisnya dengan potongan yang nyaman untuk dilihat. Kadang besar lalu potongan selanjutnya kecil, atau kecil sekali, atau besar sekali— sudahlah, itu akan terdengar sangat menyedihkan jika dibahas.

Maka tadi, kudengar Songjin dimarahi habis-habisan oleh ibu mertuaku karena potongan lobak yang tidak-indah-dimata itu. sejujurnya bagiku, itu bukan hal yang menyedihkan lagi, melihat pasanganmu bahkan sangat payah berada ditempat seharusnya dimana dia bisa menjadi sangat mahir. dia adalah seorang wanita— dan menurut teori, dapur ialah milik wanita.

Tetapi marilah kita realistis. Saat ini wanita yang sedang dibicarakan adalah Park Songjin. Jika kalian mengenal seperti apa Park Songjin, seharusnya ini bukanlah hal yang membingungkan lagi.

Dan kukira ini 2015, abad millennium dimana dapur tak hanya lagi milik wanita. Semua orang bisa brekreasi disana. Kalian kenal dengan koki juri yang senang marah-marah ditelevisi itu? Gordon Ramsay? Kalian pikir apa jenis kelaminnya? Pria setengah wanita? Wanita setengah pria?

Tidak! Dia seorang pria.

Jadi jika Songjin masih dipermasalahkan hanya karena tidak sanggup memotong sayuran secara presisi, kukira aku hanya dapat menyarankanmu untuk lebih banyak membuka wawasanmu mengenai kemajuan peradaban dunia.

Ini adalah neraka bagi Songjin. Sungguh, begitupun untukku. Seharusnya ini adalah akhir pekan yang damai, Ibu mertuaku tercinta!

Saat Songjin sedang-terpaksa berkutat di dapur, aku bersama Hyun Gi diruang santai— bocah ini agaknya turut merasakan kegamangan Songjin. Harus kuakui, ikatan batin antar ibu dan anak ini cukup membuatku terpana, karena semenjak kehadiran ibu mertuaku, putraku yang plontos karena kemarin baru kubabat habis rambutnya ini terlihat tidak nyaman walau dilimpahi segunung mainan.

Atau, itu terjadi karena biscuit cokelat miliknya, baru saja diganti dengan biscuit sayur dengan kandungan wortel, lobak dan melon oleh ibu mertuaku, beralasan biscuit sayur, akan lebih sehat dibandingkan biscuit cokelat yang jika terus diberikan akan membentuk lemak-lemak tidak sehat ditubuh anakku kelak.

Aku benar-benar tidak tahu apa rasanya— aku bahkan tidak mau ikut membayangkan apa rasanya. Tapi yang kutahu Hyun Gi terlihat seperti sedang berperang melawan penjajah saat memasukan biscuit itu kedalam mulutnya.

Bagus tidak ada air mata yang keluar. Karena jika iya, maka aku harus benar-benar melambaikan tangan pasrah pada kedamaian akhir pekan. Oh, selamat tinggal akhir pekanku yang damai.

Itu adalah neraka bagi putraku.

Disiang hari, telingaku masih mendengar suara Songjin yang menjerit panic. Aku hanya bisa membayangkan suasana di dapur, mungkin sedang terjadi peperangan antar Park Songjin versus minyak panas atau apa karena aku juga mendengar, ibu mertuaku berteriak terus menerus berkata, “awasi apinya!! Awasi apinya!!” atau aku perlu kesana untuk jadi pengawas api? Seperti wasit begitu?

Lalu kurang lebih empat puluh menit setelah peperangan bising itu, aku diberitahu ibu mertuaku bahwa makan siang siap. Makan siang siap! Ini adalah bagian paling penting dari neraka-neraka penderitaan sepanjang hari ini. makan!

Didapur, meja telah tertata rapi. Maksudku, jika itu hanya aku dan Songjin, sebenarnya kami sama-sama tidak peduli seperti apa bentuk meja makan. Yang penting adalah apa yang terdapat diatasnya. Itu saja. namun aku harus memberikan satu bintang jasa kepada ibu mertuaku karena aku teramat yakin, ini bukanlah ide Songjin.

Meja makan kami yang terbuat dari kaca terlapisi oleh kain. Sebagai informasi saja, kami tidak pernah melapisinya oleh apapun kecuali piring makan. Titik.

Berbagai sendok, garpu, pisau sudah berjajar rapi sesuai dengan penggunaannya. Sendok sup, sendok nasi, pisau, juga garpu. Lagi-lagi aku tidak tahu apa maksud keberadaan seluruh alat makan yang super banyak ini, toh aku tidak akan menggunakan semuanya, ‘kan? jari tanganku hanya sepuluh dan kukira aku tidak sanggup menyelipkan seluruh alat makan ini disela-sela jemari tanganku, atau maksud ibu mertuaku, apa aku juga harus menyelipkan semuanya dijari-jari kakiku juga?

Saat aku telah duduk manis dikursi meja makan, tidak seperti bayanganku, dimeja yang super rapi itu tidak ada satupun makanan— karena dalam pikiranku sebelumnya, makan siang kali ini akan sedikit berbeda. Harus kuakui, yeah— ini berbeda. Ini merepotkan.

Setelah duduk selama belasan, puluh menit dikursi— pun tidak satupun menu makanan menghampiriku selain air mineral yang telah berada dimeja sebelum aku duduk disini. berbeda denganku yang masih bisa berdamai dengan keadaan, putraku Hyun Gi sepertinya sudah lelah. biscuit sayur garis miring buah miliknya sudah dilempar jauh-jauh dan sedang tergeletak tak bertuan diatas meja.

Maka aku berinisiatif menuju dapur untuk mengambil biscuit cokelatnya saja. sebagai ayah yang baik, akupun tidak akan tega melihat putraku dicekoki racun berkedok sayuran. Ah, sayuran hijau, apa bedanya itu dengan makanan sapi? Sama-sama dedaunan, sama-sama reruputan, sama-sama berwarna hijau… ew! Dan lobak? Percayalah padaku, seumur hidup aku bahkan tidak pernah menyentuh makanan itu setelah berfermentasi menjadi keripik, atau apalah— aku tidak tertarik.

Katakan padaku lagi, apa definisi neraka menurutmu? Apa hal terburuk yang pernah terjadi didalam hidupmu, yang dapat dikategorikan sebagai neraka?

Saat ini, bagiku Songjin pasti akan memasukkan kegiatan hari ini sebagai nerakanya. Aku tahu betapa Songjin selalu ingin sanggup memasak. Bacaan mengenai perkakas dapur hingga masakan-masakan, dari yang pernah dicoba hingga tidak sanggup dilakukannya sama sekali, dari yang halamannya tidak berbentuk, hingga masih tersegel, ada ditumpukan lemari bacaan kami. Tapi aku tidak pernah mengira, memasak akan menjadi bencana pagi Songjin.

Saat wajahnya telah memerah karena panas suhu kompor, atau keringat yang satu persatu turun melalui kulit kepalanya, saat segelintir berjalan melewati lekuk hidung, adalah yang kutahu itu bukan peluh, melainkan air mata. Aku tidak pernah tahu, memasak akan menjadi begini menyeramkan.

Jika Gordon Ramsay mengatakan, cooking is fun. Mungkin istriku akan berkata lain, cooking is hell— dan aku tidak akan membantahnya.

Apa yang menjadikan memasak sama dengan neraka bagi Songjin, kukira adalah pelatihnya. Ah, aku bahkan tidak tahu harus menyebut ibu mertuaku dengan sebutan apa ketika beliau berada didapur bersama Songjin.

Helper? Hell no!

Pengamat? ya

Penilai? Mungkin

Tapi aku memiliki satu— rasanya pantas jika disematkan. Bagaimana jika juru-bicara-senang menilai-tapi-banyak-omong? Oh, demi dewa zeus! Aku tahu aku kurangajar, tapi jika melihat hal seperti ini, apa boleh jika istilah orangtua durhaka itu diadakan saja di dunia ini?

Bertaruh denganku! Songjin tidak akan tahan untuk satu jam ke depan lagi! Apa aku harus menyiapkan semacam tandu?

Di dapur, aku melihat banyak sekali bahan masakan. Aku belum bisa mengira apa yang akan dimasak oleh dua wanita ini, namun pasti itu akan mengandung ikan, dan banyak sekali makanan sapi— kalian tahu maksudku.

Saat tanpa sengaja mataku berseborok dengan Songjin, aku benar-benar bersungguh-sungguh memberikannya kode-kode standar ala pasangan harmonis dan manis untuk tidak mempergunakan makanan-makanan sapi itu, namun apa dayaku? Aku hanya lelaki tampan dari abad millennium yang tanpa direncanakan jatuh cinta pada wanita dari zaman barbarian.

Memangnya apa yang orang-orang zaman barbarian pahami selain melotot, berkelahi, bergulat, memukul. Oh ya ampun, demi istriku yang seksi, kalau tidak ingat aku benar-benar jatuh cinta dengannya, sudah kecekik lehernya sejak lama!

Ketika itu ibu mertuaku yang tampak sama barbarnya memintaku agar sebaiknya aku berada diruang makan lagi. Aku paham, mungkin aku membuatnya risih, namun percayalah, disini akulah yang lebih risih karenanya.

Tepat pukul 1 siang— sesunggunya sudah sangat terlambat menurut versiku untuk makan siang, di meja makan akhirnya terdapat satu mangkuk. Cukup disayangkan, itu bukan untukku.

Kulihat ibu mertuaku tampak cerah menyodorkan mangkuk plastic berbenuk goofy (aku yakin tidak akan menarik bagi Hyun Gi karena anak ini menyukai anpaman sentengah mati) berisi sesuatu, terlihat seperti muntahan sapi, atau sejenisnya, apapun itu, jangan buat aku menyebutkan hal menjijikan lebih daripada ini— liquid itu berwarna hijau.

Katanya, ini adalah brokoli, tuna, dan kentang yang dihaluskan. Katanya ini memiliki nilai protein, gizi dan serat begitu baik untuk para bayi— tapi yang kulihat, Hyun Gi terang-terangan memalingkan wajah setelah (dipaksa) mencium aroma makanan penuh gizi itu sebelum benar-benar dicekoki.

Demi dewa neptunus, ya ampun! Seorang bayi yang tidak tahu apapun saja menolak mentah-mentah cairan kental mengerikan itu. kalau ibu mertuaku tercinta ini menyadari, akupun angkat tangan jika harus memasukannya kedalam lambungku. Uh! Lambung Cho junior yang malang.

Saat Songjin datang dengan tampilan ‘tidak indah’, sebuah piring ditangannya, aku langsung tahu bahwa malamku akan berakhir nestapa. Jangankan mencoba untuk memintanya secara baik-baik memasang alat pencengah kehamilan, sepertinya mencoba menyolek seujung kukupun aku bisa-bisa mati.

Ada sebuah masakan (aku tidak tahu apa) diatas piring itu. disana, terlihat betapa perjuangan Songjin bagai baru saja melawan para penjajah hanya untuk membuat ikan.. entahlah ini ikan apa, dan dimasak menjadi apa, sebenarnya aku tidak peduli lagi.

Aku hanya sedang memikirkan adakah cara lain yang bisa kulakukan untuk menyelamatkanku malam nanti— kalau kalian paham maksudku. Ini sudah 9 bulan omong-omong. Kalau aku harus menunggu lebih lama lagi, aku bisa mati. Sungguh.

Ibu mertuaku adalah contoh wanita perfeksionis. Ini berbanding jauh pada sifat Park Songjin secara keseluruhan kecuali pada satuhal, Songjin bisa menjadi begitu teliti ketika dia mengerjakan sebuah sketsa. Percayalah, matanya tak bercela saat memeriksa pakaian-pakaian itu seperti kesempurnaan adalah segalanya.

Secara keseluruhan, Park Songjin lebih menyerupai ayahnya— Park Seul Gi. Berisik, tidak bisa diam, clueless serta pemarah. namun aku mendapatkan satu hal yang kurasa, itu bukanlah dari ayah mertuaku, yaitu sifat keras kepala— maju tak gentar, tetap hajar walaupun sekarat. Itu adalah.. sungguh Park Songjin sekali.

Aku bisa saja mengambil contoh ketika Songjin tenggelam berulang kali, namun terus menerus melemparkan diri ke kolam renang, hanya untuk mendapat perhatian Changmin oppa-nya, namun telingaku berdengung saat nama itu terlalu lama berputar-putar dikepalaku. Jadi mari kita coba mencari contoh lainnya.

Memasak.

Aku sudah pernah mengatakan betapa Songjin memiliki kegilaan untuk mengancurkan dapur kami? Apa aku juga sudah mengatakan bahwa aku nyaris menyerah untuk melahap seluruh racunnya? Taukah itu karena apa?

Lalu, apa aku pernah mengeluh, karena hingga saat ini, detik ini pun Songjin tak kunjung sanggup melakukannya dengan benar? Yeah, harus kuakui kadang itu terjadi. Kadang, aku merasa bahwa menjadi Siwon Hyung cukup menyenangkan.

Bukan karena dia menikahi wanita-mantan pacarku- atau apa. Tetapi seberapapun mengerikan Gyuwon yang kukenal, seberapapun Lee Gyuwon tak menyukai perkakas wanita, dia masih sanggup menyediakan sesuatu secara layak dimeja makan. Sedangkan Songjin? Apa… kita perlu membahasnya lagi?

Kalau begitu tutup buku saja. lupakan.

Ibu mertuaku kerap kali bertanya mengapa aku menikahi Songjin. Wanita itu kerap kali mempertanyakan keputusanku, bahkan setelah kami memiliki seorang putra.

Jadi jika aku mengatakan bahwa yang kulakukan dalam memilih putrinya adalah sebuah kesalahan, apakah kemudian aku dibolehkan pergi meninggalkannya begitu saja, seperti itu?

Percayalah, aku tidak pernah paham dengan cara berpikir ibu mertuaku.

Wanita ini selalu sanggup menjatuhkan kemampuan putrinya hingga tak bersisa jika telah dihadapanku— dan membanggakan wanita lain seperti, Eun Soo misalnya, atau Gyuwon, sebagai kriteria istri ideal.

Katakan padaku, apa kriteria istri ideal?

Cantik, rupawan, cerdas, rajin, dan cekatan? Itu benar. Penurut, penyabar, keibuan, lemah lembut? Itu juga benar. Sungguh tidak ada yang salah dari seluruh penilaian mengenai kriteria-kriteria tersebut.

Hanya saja, mungkin itu bukan untukku.

Mungkin saja aku berbeda. Anggaplah aku konyol, tapi terkadang aku sering berpikir jika Songjin bukanlah Songjin. Jika Songjin adalah Kim Eun Soo. Bisakah kalian bayangkan apa yang akan terjadi denganku?

Aku Cho Kyuhyun, menikahi supermodel terkenal sekelas Kim Eun Soo? Yang bahkan nyaris tak perlu memiliki rumah karena tak tentu berada di tanah air? Bisa bayangkan jika kami memiliki anak? Aku tidak mikirkan akan dengan siapa anak kami ketika kami sama-sama terkekung kesibukan, namun akan jadi seperti apa dia, ketika perlahan-lahan tumbuh tanpa campur tangan orangtua secara layak?

Park Aeri— ibu mertuaku, memiliki kesenangan menanyakan, kemudian memastikan betapa putrinya, sungguh tak bisa melakukan apa-apa, seolah juga membuktikan padaku bahwa aku baru saja salah pilih atau apa.

Maaf saja tapi kalau aku boleh sedikit berkata jujur untuknya, apa Songjin yang tumbuh seburuk itu (menurutnya) adalah kesalahanku? Kukira pertumbuhan anak dan pembentukan sikap adalah kewajiban orangtua? Memang aku ayahnya? Itu jelas bukan salahku!

Tanyakan dimana keberadaannya ketika Songjin mulai belajar belajar membaca! Tanyakan, apa yang dilakukannya dulu, ketika Songjin pertama kali jatuh cinta dan seorang lelaki mengajaknya berkencan!

Yang kutahu dan kupalajari dari hal sepele namun tak sepele itu, pertumbuhan anak-anakmu jauh lebih penting daripada uang.

Jadi jika ibu mertuaku bersikeras mempertanyakan kondisi kejiwaanku ketika memutuskan untuk menikahi putrinya, kukira aku boleh mempertanyakan kondisi kejiwaannya ketika tega melewatkan pertumbuhan putrinya sendiri. aku tidak salah. Begitupun Songjin.

Dari kejadian itu, aku kira aku tidak akan pernah setuju menggadaikan pertumbuhan putraku untuk hal serupa. Bukankah itu mengapa aku melakukan segalanya lebih dulu disaat orang-orang seusiaku masih sibuk berkencan dengan wanita ini dan itu?

Anggap aku berjiwa tua. Anggap aku tidak menikmati masa mudaku, tapi aku tahu, perencanaan matang adalah segalanya. Dilakukan lebih cepat, akan berdampak lebih baik.

Dimalam hari, pada waktu akhirnya ibu mertuaku pergi— mengingat kini seluruh pekerjaan ayah mertuaku diambil alih olehnya, yang seharusnya kukira saat ini, lebih pantas dikerjakan oleh Songjin— tapi baiklah, karena pemikiran singkat wanita 50-an itu, beranggapan bahwa putrinya tidak pernah sanggup melakukan apapun secara benar dan aku sungguh berharap lebih baik seperti itu terus saja Park Songjin didalam benaknya, karena aku tidak akan sudi kembali kerumah dalam keadaan kosong tanpa siapa-siapa.

Ibu mertuaku malah lebih sering menawarkan aksi akusisi untuk seluruh saham perusahaannya, pada Millennis. Seolah percaya mati-matian bahwa aku bisa mengelolanya, dengan pekerjaanku yang sudah menumpuk dam membuatku nyaris gila saat ini.

Hidupku tidak kacau. Tidak. Ini hanya rumit. Hanya sedikit lebih rumit jika dibandingkan dengan orang-orang pada usiaku— tapi bukankah kerumitan itu yang menjadikanku seperti saat ini? jadi apa itu harus kusesali?

Kalau seperti itu adanya, mungkin aku memerlukan waktu lebih banyak untuk berpikir ulang mengapa aku memaksa diriku sendiri agar sanggup memiliki, setidaknya rumah untuk tempat berteduh, sebelum aku memiliki seorang istri. Itu berlebihan?

Jika seperti itu, aku perlu bermeditasi untuk mengulang kembali prinsipku mengenai mapan sebelum sanggup mempersunting wanita. Ayahku pernah berkata, wanita yang benar-benar mencintaku pasti akan rela hidup melarat bersama. Tapi setelah kupikir, apa kemudian aku tega membawanya hidup sulit bersamaku?

Maksudku, kalau ingin hidup melarat, lebih baik lakukanlah sendiri! tak perlu mengajak orang lain untuk hidup sengsara denganmu. Kalau kau seorang pria, lakukanlah seperti seorang pria, dan selesaikanlah seperti layaknya pria jantan.

Begini, kuberi tahu teori mengenai melamar dalam versiku— jika kau adalah pria. Saat kau melamar seorang gadis, kau baru saja mengambil gadis itu secara keseluruhan untuk jadi milikmu. Kau mungkin saja merampas hidup tenangnya bersama orangtua mereka. Kau mungkin baru saja memutus segala fasilitas dan tanggung jawab orangtuanya untuk dipindah tangankan padamu!

Jadi kau pikir melamar adalah hal yang mudah? Coba pikir lagi!

Lalu setelah melamar, apa kau pikir kau baru saja mendapatkan kemenangan tingkat mutakhir karena berhasil mendapatkannya? Coba pikirkan lagi! Tanggung jawab orangtuanya dulu kini berada dibahumu! Kau berkewajiban menafkahi hidupnya, berkewajiban memberikan setidaknya, minimal apa yang seperti orangtuanya berikan untuknya dulu, dan yang terpenting— kau harus bertahan!

Kalau kau pikir menikah itu mudah, coba pikir lagi! Dan jika kau pikir cinta akan membantumu, kalau begitu silahkan sediakan sepiring cinta untuk makan pagi, siang dan malam. Sediakan juga untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Jangan lupa, sediakan untuk memberi makan anak-anakmu kelak.

Jangan konyol, uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Maka itu kukatakan, perencanaan adalah segalanya!

Aku sadar, hidup memang tidak selalu sempurna. Merencanakan yang sempurna pun rasanya tidak masuk akal, memang sejauh apa kita sebagai manusia dapat merealisasikan rencana kesempurnaan itu? tetapi hanya ikan mati yang mengikuti arus air. Dan aku bukan ikan mati.

Aku Cho Kyuhyun, manusia, tampan, cerdas, setidaknya aku bisa berpikir. dengan kemampuan itu aku bisa melakukan sesuatu bermanfaat, jadi kenapa aku harus mengikuti arus air? Dan mengapa pula aku harus mengikuti omongan orang-orang disekitarku?

Mengapa aku harus mendengarkan kasak-kusuk ibu mertuaku yang tampaknya cukup gerah melihat putrinya berakhir dengan si pria tampan ini? mengatakan bahwa aku salah pilih, Songjin terlalu bodoh bla bla bla bla.

Sebenarnya aku tidak mempedulikannya. Ini hidupku. Aku berhak melakuan apa saja didalam hidupku— kalau peraturan Hak Asasi Manusia, masih sama seperti itu.

Lantas fakta-fakta mengerikan, bahwa aku menikahi wanita tanpa kemapuan garis miring kriteria sebagai seorang istri idaman, tak tahu tatakrama, bodoh dan mengenaskan?

Bahwa aku benar-benar menyedihkan sepanjang hidup hanya dicekoki makanan pinggir jalan, cepat saji, atau maksimal sepotong roti bakar dengan selai kacang— yang bentuknya kadang terlihat sama mengenaskannya dengan pilihanku menurut mertuaku sendiri.

Aku tampak patut dikasihani, karena hidupku dan anakku kelak yang malang, (juga menurut ibu mertuaku) ?

Biar kuberitahu sesuatu— seberapapun buruk wanita galak bernama Park Songjin itu, setidaknya saat ini Hyun Gi tidak membuang muka saat disodori semangkuk makan siang buatan wanita yang dikatakan menyedihkan itu. Setidaknya aku mendapatkan gurat-gurat kelegaan saat putraku melihat ibunya membawa makanan manusia, yang dia tahu untuknya, memiliki aroma dan bentuk lebih masuk akal daripada muntahan sapi tadi. setidaknya kini, putraku terlihat lebih tertarik untuk melihat menu makan siangnya daripada lendir hijau dimangkuk goofy tadi, ew!

Jadi bagi kalian yang sependapat dengan ibu mertuaku, berpikir bahwa aku baru saja melakukan kesalahan dengan pilihanku, kukira ada satu hal yang perlu kau lakukan. Coba kau pikir lagi, apa kau benar-benar tidak memiliki pekerjaan lain selain mengurusi hidupku saja?


PS: rencananya saya mau bikin versi Songjin (rencananya) tapi nanti dulu deh… lihat-lihat mooooood dulu~ *LOL xD

94 thoughts on “Monologue — Bad Wifey {Cho Kyuhyun}

  1. klo semua perempuan bisa masak apa gunanya chef coba..? lagian ini ibunya aneh deh anaknya sendiri d jelek”in! -_-‘
    harusnya dia intropeksi dulu waktu songjin remaja d ajarin masak ga ma dia? jadi jangan ngeluh klo bentuk anaknya ke gini.. buat ma lovely hubby *d godog songjin* kau tau menurutku kau adalah suami terhebat yang pernah ku tau.. bukan hanya karna kau sangat mencintai dan menyayangi istrimu.. tapi kau juga bisa menerima semmuaa kekurangannya… tapi jangan besar kepala kau juga banyak kurangnya!! hihi buat songjin ma eonni *elah* cemangat kaka.. hahaha

  2. Kadian si songjin d omelin ibu nya terus,tapi bnr kata kyuhyun seburuk apapun songjin toh dia gak pernah ngeluh.

  3. Park Aeri itu sbenarnya gimana sihh?? Kok anknya sendiri di jelek”in.. Tpi aku suka bnget ngelamar wanita versi chokyuhyun. Seandainya semua pria seperti ituu.. As usually ffmu selalu keren. Daebaklah pokoke

  4. kchn z songjin.q benci 5 ibuna,5n ada seorg ibu yg meremehkan putrina sndr smp spt 2.klu q jd songjin pst reaksi g hny ngs tp lbh dr 2.cp ch yg 5u dremehn apalge nie olh ibuna sndr,dbanding2n dg temenmu sndr.beruntung songjin pny kyuhyun.yg ciap menerima dia apa adana.semangat songjin!!!!!!!!!

  5. Aq kira yg membentuk pribadi anak ya orang tua,, klau song jin kyk gitu jngan disalahin. uang memang bukan segalany, tp segalany butuh uang..

  6. Sebenernya kalau dipikir pikir semua lelaki pasti mencari wanita yg bisa memasak itu gak salah tapi kalau si lelaki dapat istri yg gak bisa masak dan dia menerima kan juga gak ada masalah,lagian kyuhyun juga sanggup menggaji lima chef jadi ya udah gak perlu dipermasalahkan lagi lah.

  7. Ni songjin kasian bgt deh…disiksa sama ibunya srndiri…ya meskipun siksaannya itu cuma disuruh masak…tp bagi songjin itu neraka…ampun sampek segitu payahnya ya songjin dalam urusan masak..
    Tp ya ni ibuknya songjin bener2 deh….
    Sampek segitunya jelek2 kin anaknya….
    Bilang kyuhyun salah nikahin perempuan lah..
    Ampun kasian bgt songjin..
    Tp seneng meskipun ibunya songjin bilang kaya gitu tp kyuhyun tetep sama pendiriannya….tetep milih songjin jadi istrinya..mau nerima kekurangan dan kelebihannya sogjin…salut deh ma kyuhyun…
    Sumpah tu hyungi lucu bgt sih pas di kasih biskuit sayur sama neneknya…bener2 kaya makan racun…wkwkwkwk….
    Keren bgt ffnya kak galuh…

  8. Uang bukan segalanya tapi tanpa uang juga gk bisa apa”” banyak pesan di sini kak galuh kesempurnaan bukan lh sesuatu yang harus di kejar atau dimiliki setiap individu “”

  9. kyuhyun romantic boy
    akhhh makin klepek klepek sama kyu kiss kyu :*

    kak galuh pengen before strornya kyujin lagu yg waktu sma kkk~ ditunggu…

    semangat kak galuh 😀

  10. Kerennn banget versi kyuhyun’nya.. Klo versi songjin pasti rusuh dah tuh akibat perang dunia ke 2 di dpur..kkk~ lucu”… Tpi ini keren bngt.. Ditunggu versi songjin’nya yah..

  11. Kyuhyun emang cinta sama songjin tulus, semua tentang songjin dia terima. Gimana barbar nya dia, jelek nya dia
    they love, perfect !
    Gatau mesti ngomong apalagi klo emang ada pasangan gila kaya mereka didunia ini aku kasih seratus jempol *yang 96 minjem ke temen*
    I love you cho family :*

  12. kyuhyun curcol wkwkwk
    emang songjin bener-bener beruntung dapet kyuhyun yang bisa nerima dia sampe ibunya sendiri pun ngejelek-jelekin songjin

  13. Ya.. masuk akal juga cho..
    But i love this part.. bisa liat kyuhyun bener2 tulus ama si wanita yg katanya sexy itu.. haha
    Walaupun songjin gbs masak.. berisik.. suka kekerasan.. tp bagi kyu, songjin dalah wanita sempurna dimatanya.. ahhh sweet bnget si cho..

  14. ” Jangan konyol, uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Maka itu kukatakan perencanaan adalah segalanya ”
    Ini adalah bagian yg aku suka. aku tau memuji berlebihan it juga gak baik, tapi dari berpuluh kalinya aku baca tulisan di blog ini aku tau semuanya bener-bener matang. jadi kali ini aku kasih pujian berlebihan karena aku suka sama perumpamaan dan semuanyalah pokoknya. besok aku mau liat di toko buku ada bukunya GALUH SEKARINI D !! you rock kak Jjang!!! dan jangan pernah kapok ya sama komen yg gak penting 😄 Fighting! 😘

  15. Keknya kehidupan rmh tngga kyujin isinya masalah semu ya, dan mslh tu berasal dr songjin tp songjin merasa dia gk prnh mlkukan kslhan, krn songjin pikirannya terlalu singkat dan simpel sebenernya.

  16. Kadang heran juga ama sifat ibu nta songjin,,,
    Itu anknya apa bukan sih,,,
    Masa ama anknya kyk gitu,,, tp ya udah lah

    Selalu jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi ama kyu,,,
    Walau bagaimanapun istrinya,,, tp dia selaly nerima apa ada nya,,, dan ngk pernah protes aplagi ngeluh,,, salut sma dia,,,

  17. yah emang enggak semua wanita harus bisa masak, tapi seenggaknya kan bisa masak masakan simpel kaya tumis, sop atau apalah
    tapi songjin gak bisa masaknya udah dalam taraf kritis
    bikin bubur aja gak bisa, haduh
    dan ya, park aeri juga andil dalam ketololan songjin, bener kata kyu, dimana dia waktu songjin tumbuh

  18. Heolll kalau songjin g bs masak sebenaranya slh siapa coba,,,seharusnya songjin diajarin donk dari kecil,,,,dimana ayah ibu songjin dulu ketika songjin mulai remaja,jatih cinta,dan berkencan,,huwaa untungnya songjin ketemu kyu si manusia sempurna yang bener2 mau menerima songjin apa adanya,,,coba lok g,,,huwaaa berantakan deh hdp songjin,,dan nae setuju banget sam semua pemikiran kyu,,wanita tuh g harus sll didapur,,,

  19. Cieeeeee kyuhyun cuhatnya panjang banget 😂😂😂😂😂😂😂😂 haha. Kadang dia ngeluh, kadang Begini. Bingung deh.dasar laki2 haha

    Tersentuh juga bayanginnya, kyuhyunbeneran ikhlas?

  20. Cho-Kyhu-Hyunh~ Nomu Nomu Joha! Ouemji…
    Sebenernya ini udah pernah dibaca tapi cuma setengah dan sekarang aku re-read lagi 📖 wkwk
    Setuju banget lah yak… jaman globalisasi sekarang urusan dapur itu gak sepenuhnya tugas perempuan. Banyak kaum adam yang malah memposisikan dirinya sebagai penghuni dapur.
    Nah utk permasalah give & take atau ‘lamar-melamar’ itu aku juga setuju! Orang tua ngebesarin anak susah payah. Berjuang biar anaknya bahagia. Masa iyaa pas udah gede, anaknya–yang ibarat kata udah dibahagiain orang tua, pas diambil sama orang lain mau diajak susah juga? Terus tanggung jawab nya mana?
    Cinta aja gak cukup *kalo menurut aku* haha anggap aku materealistis, tapi itu fakta! Setuju kakgal?
    Dan seburuk-buruknya masakan ibu, ttp aja rasanya enak! Punya nilai tersendiri… yang bahkan ayah sendiri pun gak akan ngerti. Sama kayak Hyungi tuuh~ yang langsung girang Songjin sodorin makanan 😁

  21. Kyuhyun itu emang suka ngata”in songjin inilah itulah, tapi yg pasti dia gak rela orng lain ngta”in songjin, termasuk ibu mertuanya….kkk
    Perencanaan kyuhyun emang matang banget,..salut deh

  22. ga tega sbnr’a klo songjin d ajarin masak sm emak’a pasti d galakin lbh dr kyu. tp mw gmn lg, klo ga gt ga bkal cpt bs msak yg tdak beracun kkkkkkk^^v
    lucuuuu itu expresi baby hyun gt hhhhh gtw krn pertama kali mkn biskuit yg beda gtw ga enak itu arti expresi’a hhhhh gtw keras jg. baby hyun go mh nurut2 aj dkasih apa jg kn blm bs ngmg mw ksih nilai enak engga’a jg. tp akhir;a dy tw msakan yg dbawain songjin jaub lbh berperikebayian 😛
    gemesin bgt lh ih pko’a baby hyun gi sll always ❤

  23. rasa versi kyuhyun kpd songjin, apa benar ada yg seperti itu di kehidupan nyata (mencoba meyakinkan diri)

  24. kyu amat sangat memahami songjin luar dalam benr……
    emang ga smua kata orang itu benr ….smua ada dalam diri kita sendiri tentang rasa Nyamankah aku……
    kehidupan hanya mengandalkan cinta jg ga ga akan berjalan tanpa ada rasa Nyaman itu…
    begitupun dngan kyu …..

  25. knp putriny sprti itu..laahh dulu dy gmn ngjarinny?? bkankah sbuk ikutin suami mpe g pny wkt wat putri smatawyangny..wlo memang nyri dwit wat ank jg..pi perhtian n ksih syng jg hrusny ttep d utmakan..
    kyu dah trlnjur nyman dg songjin putriny yg ktny pnuh kkurngan..toh kyu yg jlni hdupny slma ni msih baik” ajj..lg pula..psti da prubahan dlm dri songjin yg kdng hny kyu yg tau..krn dy yg slma ni brsmany..
    hyun gi ajj ga protes dg menu mknanny yg eommany siapin…
    park aeri ni..hmm apa ad y ibu mcm dy..

  26. pusing denger penjabaran yg luar biasa panjang tentang soojin. dan selama baca penjabaran tsb, bibir rasanya pengen ngulum senyum. apalagi tentang kyuhyun yg ga salah milih gadis bar-bar read soojin sbagai pendamping hidup selamanya😄

  27. kemampuan orang kan berbeda-beda, termasuk kriteria orang berbeda-beda juga, jd aku gak setuju sm ibunya songjin, seharusnya ibunya songjin tahu kalau anaknya gak sk tp dia maksain, untung suaminya Cho Kyuhyun yg tipe istrinya berbeda dr yg lain,

  28. Kasihan juga songjin dulunya , kurang perhatian dari kedua orang tuanya.. kalau besarnya kayak gitu hasilnya ya yg pasti salah keluarganya.. tapi mau sebodoh bodohnya songjin kyu sama hyun gi tetep aja sayang, yg lainpun juga gak kalah sayang sama songjin. Karna dibalik kekurangan pasti ada kelebihan juga kan…

  29. ibunya songjin terlalu ikut campur sm rumah tangga anaknya, dan dia tega² bilang gitu sm kyuhyun seolah pilihan kyuhyun itu slh, terus ibunya songjin itu mau apa??? bnr apa kata kyuhyun dimana saat ortunya songjin ketika dia msh kecil, maupun sdh dewasa yg hrsnya memberika songjin pelajaran untuk menjadi anak yg sopan dll, seharusnya park aeri harus di ruqiyah biar ingat sm masa lalunya dlm mendidik songjin😂😂, songjin sdh berumah tangga jadi songjin sdh bkn tanggung jwb ortunya melainkan skrng jadi tanggung jwb suaminya, semua wanita itu berbeda-beda ada yg bisa masak ada pula yg tdk😂😂

  30. Ibunya selalu menuntut songjin untuk sempurna ,kyuhyun yang menerima apa adanya juga sangat mencintai songjin tetapi juga sangat menghormati ibu mertuanya
    Masalak kompleks sih di rumah tangga 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s