[KyuJin Series] Love and Pride


[KyuJin Series]

-Love and Pride-

-Cho Kyuhyun | Cho Hyun Gi | Park Songjin-

Kepada putraku, Cho Hyun Gi.

Kau lahir pada tanggal 1 Agustus tahun 2014. Satu malam sebelum itu, aku ingat— perutku terasa melilit membuatku yakin bahwa itulah rasa sakit yang paling sakit, yang pernah kurasakan sepanjang hidupku.

Saat itu aku bisa merasakan dinginnya tanganku, dan keringat yang kadang menetes dari pelipis tapi harus buru-buru kuhapus selagi sempat, supaya ayahmu tidak melihat, hingga menjadi panik. Malam itu, kukira, aku tidak akan sanggup melaluinya. Aku pikir, aku sungguh akan mati ditempat. Detik itu juga.

Tapi aku ingat bahwa malam itu aku sedang memiliki hal lain, yang tak lebih penting daripada rasa sakit karena kau memaksa ingin keluar. Aku sedang berkencan dengan ayahmu. Malam itu, adalah kencan yang sengaja kuminta ditengah kesibukan ayahmu— karena kupikir, itu akan memberikan sedikit kenangan manis untuknya, saat aku pergi nanti.

Saat itu aku dan ayahmu melakukan banyak hal. Kami berkencan, layaknya pasangan pada umumnya. Bukan hanya duduk disofa, bermalas-malasan sambil saling memeluk. Aku tidak mengatakan, itu tidak menyenangkan tetapi kadang, hal menyenangkan yang terus menerus dilakukan akan membuatmu bosan.

Maka saat itu, kami melakukan hal lain.

Aku dan ayahmu pergi menonton. Biar kuberitahu kau rahasia, ayahmu adalah orang yang senang memberi janji surga. Salah satunya adalah kesempatan bagiku untuk merasakan kencan seperti orang-orang kebanyakan. Menonton adalah salah satunya. Tapi dulu, ayahmu senang menipuku dengan berkata, “bagaimana kalau kita menonton film A? aku akan langsung ketempat usai bekerja. Kau tunggu saja aku disana” tapi kau tahu? Dia tidak pernah muncul. Lalu kami bertengkar. Dan seperti itulah siklusnya.

Karena pengalaman tersebut, malam itu aku meminta ayahmu untuk menuruti semua keinginanku— sebenarnya, aku yakin ayahmu akan menurutinya. Saat aku mengandungmu, nyaris seluruh keinginanku pasti terkabul. Apa yang kuminta, pasti akan ada didepan mata. Karena itu kau tidak akan heran mengapa aku begitu senang dalam kondisi mengandung. Aku bisa menjajah ayahmu begitu mudah.

Itu karena ayahmu, begitu menyayangimu, kau harus tahu itu.

Aku dan ayahmu pergi menonton. Saat itu ramai sekali distudio menonton. Banyak pasangan melakukan hal serupa seperti kami. Malam itu ayahmu sempat marah padaku, karena aku meminta popcorn ukuran besar, hanya untukku sendiri— mungkin, ayahmu melihat pasangan-pasangan disekitar kami hanya membawa satu keranjang popcorn saja, itu artinya mereka akan berbagi, dan aku tidak ingin berbagi makananku dengan siapapun, termasuk ayahmu.

Malam itu, kukira kita sedang sama-sama lapar. Jadi aku menolak untuk satu keranjang berdua, walaupun aku tahu, itu pasti akan terasa super romantis. Ah! Satu lagi yang membuat ayahmu marah padaku malam itu! soda!

Aku meminta soda karena sudah berbulan-bulan lamanya aku tidak meminumnya. Aku sampai lupa, bagaimana rasa minuman berkarbonasi itu. tapi ayahmu bersikukuh, mengatakan aku sedang mengandung. Jadi aku tidak boleh meminum minuman jenis seperti itu.

Itu dilakukannya lagi, karena dia begitu menyayangimu, sayang.

Malam itu, sesungguhnya aku tidak tahu film macam apa yang sedang kami tonton. Sebenarnya lagi, aku tidak peduli. Mengapa? Karena menonton hanyalah akal bulusku agar bisa memandagi wajah ayahmu tanpa ayahmu tahu.

Karena jika ayahmu tahu, lelucon tentang aku tergila-gila padanya, akan menjadi topic berminggu-minggu lamanya. Selain membuat harga diriku jatuh tak bersisa, aku pasti akan bosan mendengarnya.

Aku sengaja melakukannya, karena kupikir itu adalah kali terakhir aku bisa melakukan hal tersebut secara leluasa. Mengapa tidak saat kami tidur? Tidak. Jawabannya adalah tidak bisa. Ayahmu bahkan sangat sibuk, hingga aku harus tidur hanya ditemani oleh bantal-bantal, suara berita dari televisi, dan kau kau tentunya.

Tetapi pada akhirnya, ayahmu cepat tanggap, menyadari bahwa bukan layar besar dihadapan kamilah fokusku, tapi dirinya. Aku habis ditertawainya. Tapi bayanganku bahwa aku akan digodanya sampai kesal ternyata hanya bayanganku saja.

Malam itu, aku malah merasakan bibirnya yang lembut, halus dan manis usai tertangkap basah memerhatikannya diam-diam. Kau harus tahu, bibir itu adalah candu. Bekerja seperti opium bagiku. Kalau sampai saat ini aku belum gila karena bibir ayahmu, itu artinya pertahananku cukup kuat.

Setelah menonton, kami berjalan-jalan ditaman kota. Seperti pasangan pada umumnya. Kami membeli permen kapas, memakan ice cream, bermain ayunan, duduk-duduk santai, sampai aku merasa sangat lapar, lalu kami pindah kesebuah restoran Italia. Kesukaanku.

Dalam perjalanan menuju restoran, kau memberontak lagi. Aku tahu kau bosan ditempatmu dan ingin segera keluar dari sana. Tapi aku harus meminta maaf untuk saat itu aku belum bisa mengabulkannya. Aku terus menerus berkata padamu didalam hati bahwa ada satu hal lagi yang ingin kulakukan bersama ayahmu. Mungkin itu yang terakhir. Jadi tolong izinkan aku.

Kau mengabulkannya. Terimakasih.

Malam itu aku memesan sangat banyak. Entah bagaimana, ditengah rasa sakit yang menghujam sampai kedada, tenggorokan, bahkan kepala— selera makanmu masih saja seperti babi. Aku makan banyak sekali. Kau mungkin terhimpit didalam sana untuk beberapa saat, sampai semua makanan itu dicerna dan menjadi kotoran lalu keluar.

Aku minta maaf lagi untuk hal itu.

Setelah makan, aku dan ayahmu tidak segera pulang. aku mengulur waktu lagi. Padahal kau sudah memohon untuk dikeluarkan. Tapi aku menolaknya lagi. Untuk hal itu, aku kembali meminta maaf. Kau harus tahu, aku harus melakukannya karena kupikir sisa waktuku tak banyak.

Kami kembali ke taman kota, aku dan ayahmu. Tetapi kami tidak keluar dari mobil karena menurut ayahmu, tak lama hujan akan turun. Dia tidak ingin aku sakit, dan kau tahu mengapa dia melakukan itu. dia menyayangimu.

Tapi malam itu aku melakukan hal lain. sedikit memaksa sebenarnya. aku menggoda ayahmu. Aku berharap, kami bisa bercinta dimalam itu. ditempat itu juga. Iya didalam mobil— mungkin ini terlalu dewasa bagimu, tapi tolong jangan menjadi mesum seperti ayahmu. Aku menceritakan ini bukan dengan maksud kotor.

Ketahuilah anakku, 3 bulan sebelum kau lahir, kami tidak melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri. Dokter Han memang menyarankan supaya kami menguranginya. Tapi ayahmu berpikir lebih mengerikan— dia menghapus hal itu, sampai kau lahir. Begitu kata ayahmu dulu.

Dia tidak mau mengambil resiko. Dia ingin kau lahir dengan baik-baik saja. Selamat. Itu adalah alasan termasuk akal yang kukira lebih pantas diutarakan, daripada hanya sekedar menjaga kandungan lemahku. benar, kondisimu tidak cukup kuat sebenarnya untuk bertahan didalam tubuhku. Itu adalah sebuah penyakit menurun yang kudapat dari nenekmu. Kumohon jangan marah padanya. Dia tidak meminta penyakit itu bersarang ditubuhnya. Untuk mendapatkanku pun beliau harus melakukan hal serupa seperti bagaimana aku mendapatkanmu, dan menjagamu.

Aku harus banyak mendapatkan suntikan, aku tidak peduli lagi apa namanya, dan meminum banyak obat, agar kau bisa bertahan disana— sehat, baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun. Itu kulakukan karena aku menyayangimu.

Anakku, malam itu usahaku gagal. Biasanya pendirian ayahmu tidak sekuat itu. aku tahu, aku mengenalnya begitu lama. Tetapi malam itu, adalah malam dimana aku tahu bahwa dia begitu serius dengan ucapannya. Ini tidak bisa dibandingkan ketika dia berkata bahwa dia ingin memiliki rumah sebelum mempersunting seorang gadis. Kukira ini jauh lebih kuat daripada itu.

Usahaku sia-sia. Ayahmu tidak melakukan apapun padaku. Tidak selain hanya memberikan ciuam, walaupun cukup membuatku hilang akal dan sulit bernapas. Dan terbuai. Dan menggila. Dan bersedih, ketika tahu mungkin itu adalah ciuman terakhirnya untukku. Aku tidak tahu lagi kapan aku bisa merasakannya. Mungkin dikehidupan seterusnya. Kalau Tuhan berbaik hati menjadikanku manusia lagi, bukan babi atau hewan apapun.

Malam itu anakku, akhirnya aku mengatakannya. Aku tidak sanggup lagi dank au sudah meronta berjam-jam. Aku tidak ingin kau menderita lebih banyak daripada itu. aku memberitahu ayahmu. Kau akan keluar. Lalu terburu-buru mengantarku kerumah sakit sambil memarahiku lagi karena tidak mengatakannya sejak tadi dan malah mementingkan kencan tolol, untuknya.

Tidak, untukku itu bukan kencan tolol. Itu kencan paling manis J.

Anakku,

Ketahuilah bahkan sebelum kau keluar, aku tahu kau sudah memiliki sifat ayahmu. Dia seorang penggoda ulung, rupanya, begitupun denganmu. Karena sesampainya kami dirumah sakit. Usai heboh di emergency, usai berteriak dan berkeringat begitu banyak, dokter mengatakan kau belum ingin keluar. Itu hanya baru, pembukaan saja. Yeah, lucu sekali Cho Hyun Gi. Kau sangat lucu.

Kau seolah ingin mengetesku apa aku seorang ibu yang baik, atau tidak. Kau memberikanku rasa nyeri dan perih yang belum pernah kurasakan sepanjang hidup. Kadang datang, kadang pergi, kadang datang, lalu pergi lagi begitu seterusnya.

Dirumah sakit, sambil menunggu kau lahir, aku ingat bahwa aku tidak memakai make-up apapun, padahal dikoridor terdapat banyak sekali dokter tampan. Lee Donghae salah satunya. Kau mengenalnya sekarang sebagai paman yang senang memberimu permen. Padahal kau belum bisa memakan permen.

Saat itu aku meminta ayahmu untuk kembali mengambil pakaian dan tas make-up ku karena kau harus tahu, pakaian rumah sakit benar-benar terlihat mengerikan. Sungguh, mereka harus memperkerjakan seseorang dengan sense of fashion lebih baik daripada itu. siapapun pencetus pakaian rumah sakit sebelumnya, mereka benar-benar payah!

Aku mengatakannya. Aku berkata pada ayahmu seperti itu, tapi aku dimarahinya lagi. Kau harus tahu, malam itu ayahmu benar-benar marah besar. setelah kencan manis itu, kini hanya bersisa kencannya saja. tidak ada lagi manisnya. Ayahmu sudah kembali kewujud aslinya. Pemarah, penggerutu, dan penyendiri. Bahkan di jam-jam awal setelah aku masuk kerumah sakit, ayahmu tidak mau berbicara denganku. tidak sama sekali.

Kemudian beberapa jam setelah aku masuk, pamanmu Choi Siwon datang. Lalu kakek dan nenekmu. Lee Donghae yang ternyata sedang bertugas malam itu disana dan Setelah itu, Kim Eun Soo— wanita yang kau gilai entah karena apa dan demi tuhan, kaliam memiliki perbedaan usia sangat jauh. Kau jangan gila!! Kau harus tahu, ini adalah keburukan ayahmu yang menurun. Aku cukup kecewa menyadari kau mendapatkannya.

Kehadiran mereka membuat rasa sakit dan nyeri sempat hilang. Aku bahkan tidak ingat lagi kalau aku akan melahirkan. Yang aku ingat adalah pertama: aku belum berdandan. Kedua: pakaianku buruk sekali. Dan ketiga: aku ingin strawberry.

Untuk persoalan pertama dan kedua, aku sudah tidak bisa berdebat lagi. Aku tidak ingin berkelahi diakhir hidupku bersama ayahmu. Bukan kenangan seperti itu yang ingin kuberikan. Tidak sama sekali. Maka aku mencoba mengalah— mungkin tidak masalah kalau aku terlihat jelek kali ini, toh ayahmu sudah pernah melihat liurku. Sepertinya tanpa make-up pun tak masalah untuknya. dan toh, saat pemakanan aku akan terlihat cantik dengan pakaian dan riasan. Jadi apa yang harus dipusingkan?

Aku menuntut persoalan ketiga pada ayahmu— dan kupikir adalah cara terbaik agar kami tidak bertengkar lagi. Aku ingin memeluk ayahmu, menghirup aroma mint, pinus dan manis dari tubuhnya untuk terakhir kalinya. Tapi tidak mungkin kulakukan kalau kami sedang bertengkar, jadi sebaiknya aku meminta maaf terlebih dulu.

Seperti biasa, ayahmu tidak akan pernah sanggup marah padaku terlalu lama. Kalau sampai dia melakukannya, aku jamin dia hanya berpura-pura. Mengapa aku tahu? Aku mengenalnya begitu lama. Aku tahu, ayahmu mencintaiku sebesar itu, mungkin lebih daripada aku. siapa yang tahu?

Oh, aku tahu. Aku mengenalnya.

Jadi malam itu setelah berdamai dan berbagi pelukan (akhirnya), aku dan ayahmu berjalan kaki menuju swalayan terdekat. Itu setelah ayahmu meminta izin untuk membawaku keluar wilayah rumah sakit. Pihak rumah sakit memang menyarankan agar aku berjalan-jalan kecil agar ketika persalinan, aku tidak kaku.

Atas bantuan Donghae, izin itu bisa kami dapatkan. Kami menuju swalayan terdekat untuk mencari strawberry. Aku begitu menginginkannya. Kukira kau juga. Karena itu keinginanku malam itu terhadap strawberry menggila keterlaluan.

Tetapi malam itu kami sedang tidak beruntung. Sebanyak itu swalayan atau minimarket yang kami masuki, sebanyak itu juga buah merah itu tak ditemukan. Tentu saja, aku kecewa. Sungguh. Bagaimana tidak? kami kembali dengan tangan hampa setelah berputar-putar sampai lelah. Tapi malam itu ayahmu berkata, dia akan mencarikannya sampai dapat. Jadi saat itu aku sedikit tenang. Begitupun denganmu. Kau tidak lagi menendangiku. Kau diam, setelah ayahmu menyentuh perutku dan berjanji hal serupa.

Sayang, malam itu aku ingat aku telah begitu bodoh dengan bertanya kepada ayahmu apa yang akan dilakukannya jika aku tidak ada? Setelah melahirkanmu, apa saja bisa terjadi, terlebih bagi orang-orang dengan penyakit serupa sepertiku. Jadi aku ingin tahu, apa yang ada dikepala ayahmu.

Saat itu aku ingin menangis karena mengingat itu adalah hal menyedihkan bagiku. Bukan hanya harus meninggalkan ayahmu, atau orang-orang disekitarku, tapi itu sama artinya, aku bahkan tidak bisa melihatmu.

Aku tidak bisa menyusuimu. Aku tidak bisa berada disana, ketika pertama kali kau merangkak. Saat pertama kali kau sanggup berjalan. Mungkin kalimat pertamamu tak akan seperti bayi pada umumnya. Mungkin kau tidak akan mengenal kata “eomma.” Kau hanya mengenal “appa” karena hanya dialah yang ada. Hanya dia kau tahu.

Yang paling kutakutkan, kau akan bingung ketika nanti kau mulai bersekolah, lalu kau melihat para orangtua datang berjumlah dua sedangkan orangtuamu hanya ada satu. Aku sudah memikirkannya sebenarnya. aku berkata kepada bibimu Gyuwon, untuk melemparkan wanita paling cantik yang dikenalnya untuk ayahmu kelak— saat aku tidak ada lagi.

Yang bisa menjaga dan mencintai ayahmu sekaligus memberikanmu rasa yang tak pernah bisa kuberikan. Sanggup memberikan kasih sayang seorang ibu yang kau dambakan. Dan orangtuamu akan berjumlah sama seperti teman-temanmu ketika terdapat acara perayaan disekolah. Kau tidak berbeda. Kau sama dengan yang lain. kau tak perlu merasa sedih apalagi malu.

Sayang, malam itu saat aku dan ayahmu berjalan kembali menuju rumah sakit— lalu aku begitu tolol bercerita hal itu padanya, lagi-lagi aku disembur omelan olehnya. Ketahuilah nak, aku tidak sepandai dirimu, atau ayahmu. Aku menyadarinya. Kau akan menjadi cerdas seperti ayahmu, dan tampan, dan gagah.

Sedangkan aku hanyalah wanita beruntung karena (ternyata) seseorang mau denganku. untunglah seseorang itu tampan, mapan, dan mengenalku dengan baik. itu kata nenekmu, yang sering dilontarkan padaku saat kami bertemu, atau bertukar pesan singkat melalui ponsel.

Ayahmu memarahiku sama saja seperti ketika aku baru mengatakan padanya, sepertinya kau akan keluar karena perutku sudah melilit. Tapi setelah marah, saat itu ayahmu malah menangis. Aku hampir tidak pernah melihatnya menangis. Pernah, tapi tidak secara terang-terangan. Kali itu sepertinya ayahmu tidak peduli dengan harga dirinya lagi.

Kali itu kami sama-sama tahu, sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Dan sesuatu yang buruk itu, bukanlah peringatan main-main. Kami tahu, kami sama-sama tak ingin berjauhan, tapi memangnya kami apa? Penentu hidup bukanlah kami.

Ayahmu menangis sambil memelukku. Aku menghirup aroma papermint, pinus dan manis lagi. Kukira tadi adalah terakhir kalinya kesempatanku, tapi aku salah. Ini kesempatanku lagi untuk merasakannya, dan ayahmu tak pernah tahu— aku bisa gila hanya dengan aroma ini. maka dikesempatan langka itu, aku benar-benar melakukan segalanya.

Aku mengeratkan tanganku, agar kami tak terlepas. Agar dewa kematian tahu, kami saling membutuhkan. Atau setidaknya, aku sangat membutuhkan ayahmu. Aku mencintainya, dan aku tidak ingin berpisah. Mungkin dewa kematian bisa merasa iba, hingga mengizinkanku untuk tinggal lebih lama.

Kemudian aku merasakannya lagi. Lebih daripada sebuah pelukan hangat namun menyedihkan, ada ciuman yang membuang akal sehatku. Aku tidak bisa berpikir apa-apa. Kalau menurut ayahmu, bahkan disaat-saat ‘normal’ pun aku tidak bisa berpikir, kali ini aku baru terjembab jauh daripada itu. aku kehilangan seluruh otakku. Aku bisa bersedih di alam kematian nanti karena aku pasti akan merindukan bibirnya. Dan itu membuatku semakin sadar, aku hanyalah semut kecil yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah kematian datang.

Cho Hyun Gi sayang, kau harus tahu ketika aku mengatakan aku membenci ayahmu— pada kenyataannya, aku begitu menyayanginya. Sama seperti aku menyayangimu.

Ketika aku berkata aku ingin dirinya pergi jauh dariku, yang kuinginkan adalah dia mendekat, memelukku— mengatakan apapun yang membuatku senang. Terdengar menjijikan juga tak masalah. setidaknya aku tahu dia berusaha untuk membuat hubungan kami menjadi lebih baik.

Saat kubilang, aku marah padanya, menurutmu aku benar-benar marah padanya? Menurutmu, aku sanggup melakukannya?

Oh, tentu saja aku sanggup. Aku bukan robot. Aku manusia biasa, bisa merasakan marah, kecewa dan sedih. Harusnya, seperti ini bentuk pertanyaannya: apakah kau sanggup marah hingga menjauh darinya lebih lama daripada satu sesi level games di psp-mu, Park Songjin? Karena jika seperti itu pertanyaannya, maka jawabanku adalah tidak.

Ayahmu sungguh tak pernah tahu sayang, aku membutuhkannya lebih daripada siapapun. Seperti aku membutuhkamu didalam hidupku. Kalian adalah yang paling kubutuhkan, lebih jauh daripada yang kalian sadari.

Lalu, hal itu akhirnya datang. Kesempatanmu untuk keluar. Aku merasakannya, terasa sakit, perih, sesak— rasanya aku seperti dicekik, dicabik dan dipukuli sampai sekarat. Tapi jauh diatas rasa mengerikan itu, aku tahu kau akan lahir. Akhirnya kau akan berada diantara pamanmu, bibimu, kakek nenekmu, dan ayahmu. Membayangkannya, membuatku lupa bagaimana rasa sakit itu. aku mencoba menerka-terka, seperti apa wajahmu kelak. Itu membuat rasa sakit perlahan-lahan terasa samar.

Sayang, ketahuilah, aku mengupayakan seluruh yang bisa kulakukan. Apapun. Ditengah kerja keras itu, aku memandangi satu persatu wajah orang disekitarku. Ada dua orang perawat. Dua dokter yaitu dokter Han, dan Donghae Oppa. Tapi saat itu, pamanmu yang tampan itu tidak melakukan apapun kecuali berada disana dalam diam. Aku yang memintanya.

Didalam ruang persalinan itu ada begitu banyak wajah-wajah tampan. Pamanmu Choi Siown, dan tentu saja ayahmu. Jika aku harus mati saat itu juga, setidaknya aku mati tidak dengan memandang wajah dewa kematian yang seram— namun wajah-wajah dewa rupawan.

Aku tidak ingat apa-apa lagi. Yang kutahu, aku merasa lelah, dan lemas. Aku mendengar suara tangis, lalu ayahmu berkata, “ini Cho Hyun Gi” membuatku sadar bahwa aku baru mengeluarkan seorang bayi laki-laki dari perutku karena aku telah memaksa ayahmu untuk memberikan nama buatanku. Sebanyak 90 persen sebenarnya kami tahu bahwa kau adalah lelaki. Itu dari hasil USG yang dilakukan saat kau berusia 5 bulan.

Aku memaksa ayahmu untuk membiarkanku memberikan nama dari dua orang paling berjasa dihidupku, tampan dan hebat, dan seperti yang telah kukatakan, ayahmu akan selalu menuruti apa yang kumau! HA!

Proses pembuatan namamu pun tidak sulit. tidak memakan waktu lama. Hanya diambil dari nama Park Seul Gi, kakekmu, dan Cho Kyuhyun, ayahmu. Anggaplah aku memang tidak creative. Aku hanya menggabungkan akhiran nama mereka saja, yaitu Hyun, dan Gi. Lalu kau mendapat warisan marga ayahmu Cho. Jadilah namamu Cho Hyun Gi.

Hanya itu yang bisa kuberikan padamu sayang. Nama sederhana itu saja. dengan harapan semoga kau tumbuh besar menjadi lelaki yang mandiri, ceria, dan kuat seperti kakekmu. Cerdas, tampan, dan tangguh seperti ayahmu.

Cho Hyun Gi anakku, sayang, ini adalah bagian paling kubenci namun juga kusenangi. Yaitu saat aku merasakan pertama kali tanganmu menyentuh wajahku. Masih penuh keriput berwarna putih pucat. Matamu belum bisa terbuka seutuhnya. Kau hanya sesekali mengintip dari kelopakmu yang kecil dan rapat.

Kau menangis. Kau menggigil. Kau seperti berkata padaku, kau membutuhkan pelukanku agar tubuhmu hangat. Atau sebenarnya, kau sedang marah-marah pada dokter Han karena baru saja memaksamu keluar dari tempatmu yang nyaman dan hangat. Apapun itu sayang, ketahuilah bahwa tidak ada siapapun didunia ini yang akan berhasil didalam hidupnya jika tidak keluar dari tempat nyamannya.

Karena kutahu kau berani melakukan itu, kau pasti akan berhasil dalam hidupmu. Dan tangisanmu sangat kencang. itu mengingatkan padaku saat aku merengek pada ayahmu meminta makanan ditengah malam. Atau membuatnya setengah mati menahan malu karena aku meneriakinya dimuka umum.

Aku senang, setidaknya aku memberikan satu hal milikku untukmu.

Lalu disaat yang sama ketika aku masih merasakan tubuhmu yang lembut. Hal itu datang juga. Aku tidak merasa pusing atau mual, atau apapun lagi. Hanya mataku terasa kabur, semakin kabur, lalu hitam. Yang kutahu untuk terakhir kalinya, semua orang didalam ruangan itu memanggilku kencang sekali. Mereka mengulanginya berulang-ulang sampai aku benar-benar tidak mendengar apapun lagi.

Saat itu aku tahu, itu adalah saatnya aku pergi.

Namun sepertinya aku salah lagi. Mungkin dewa kematian tidak seburuk yang pernah kupikirkan. Mungkin sebenarnya dewa kematian masih memiliki sedikit rasa iba. Aku pasti pernah menjadi prajurit untuk menyelamatkan nyawa raja besar siapalah itu dihidupku yang lalu, karena aku ingat bahwa saat aku bertemu ayahku— kakekmu, dia mengatakan bahwa itu bukan tempatku. Aku harus pulang. dan kutahu, pulang berarti menghampirimu, ayahmu dan aku diperbolehkan mengurusmu.

Sayang,

Saat itu aku sungguh tak tahu apa-apa, mengenai apapun yang terjadi padaku. Aku tidak tahu mengapa ada banyak sekali mesin disekitar ranjangku, mengapa terdapat selang dihidungku, dan mengapa orang-orang terlihat panic juga pucat, saat kali pertama aku terbangun, kemudian kulihat mereka menangis.

Aku sama sekali tidak memiliki ide apa-apa selain pemikiran bahwa mereka sama sepertiku, merasa haru karena kehadiranmu. Karena aku sanggup mengeluarkanmu dari tubuhku dengan mulus, tanpa cacat sedikitpun.

Aku salah. Aku koma selama 90 hari lamanya. Usai pamanmu Siwon menjelaskannya, aku sadar mengapa mata sembab-lah yang menjumpaiku ketika aku terbangun. Dan itupula yang membuatku sadar, mengapa ayahmu tak berada disana, saat aku terbangun.

Aku tidak akan menyalahkannya. Ayahmu pernah mengalami yang lebih buruk, dan aku tahu, hal ini membuatnya teringat akan hal itu.

Pun satu hari setelah kesadaranku, ayahmu dan dirimu masih belum kutemui. Pamanmu berulang kali memakinya karena ayahmu tak bisa dihubungi melalui apapun. Ayahmu sedang dalam aura berkabung. Dikepalanya, aku sudah mati. Ketakutan kami dimalam sebelum kau lahir akhirnya menjadi nyata.

Mungkin saat itu ayahmu hanya tidak mengerti harus berbuat apa. Dan mungkin yang dibutuhkannya memang bukan siapa-siapa melainkan dirinya sendiri, bukan untuk menyendiri namun untuk mencari tahu apa yang harus dilakukannya setelah hal ini. setelah aku benar-benar tak ada.

Mungkin ayahmu hanya terkejut, orang yang biasanya selalu ada dengannya sejak masih menghisap ibu jari kini tidak ada lagi. Jangan salahkan ayahmu sayang, dia hanya sedang kepalang bingung. Kau tak perlu marah padanya seperti paman atau kakek nenekmu. Kau hanya perlu mengerti, bahwa dalam suatu masalah, kau harus melihatnya dari banyak sisi, bukan hanya satu dua.

Orang-orang memiliki pandangan yang aneh tentang bersedih. Seakan- akan bersedih adalah hal yang tabu. Seakan kau harus buru-buru tertawa, setelah hal buruk menimpa. Kesedihan lebih tepat jika dianalogikan serti hujan. harus membiarkan setiap rintik datang untuk melihat pelangi. Harus membiarkan setiap sendu yang ada, untuk bisa tertawa lagi. Bukankah setiap kematian, butuh ratapan? Begitupun cinta yang telah mati.

Maka ayahmu tak salah. Dia hanya melakukan apa yang orang patah hati kebanyakan lakukan. Aku akan melakukan lebih parah daripada itu, jika itu adalah aku. jadi mungkin saat itu didalam sendirinya, ayahmu menangis hingga tidak bisa mendengar suaranya sendiri.

Mungkin makan cokelat sebanyak-banyaknya (atau tidak karena ayahmu tidak menyukai cokelat), tapi kuyakin ayahmu banyak mengeluarkan air mata kala itu. mungkin wajahnya tidak akan tampan lagi saat bertemu denganku.

Yang kutahu sayang, sikap ayahmu yang mengizinkan dirinya untuk bersedih tidaklah salah. Tidak salah, jika ayahmu menangis seolah itu adalah kali terakhirnya dia dikecewakan oleh seseorang. Atau menangis karena seolah telah lupa bagaimana caranya berharap. Atau menangis, karena ingin protes kepada entah siapa, dan bertanya mengapa seluruh orang yang disayanginya pergi menjauh darinya?

Cho Hyun Gi sayang, bersedih adalah hal yang wajar untuk kau lakukan nak. Bukan karena kau seorang pria lalu kau pikir kau tidak boleh menangis. Kau bukan robot. Aku tidak melahirkan robot. Kau dibuat dengan cinta bukan mesin. Kau memiliki hati yang lembut dan hangat, bukan dingin. Kau bisa merasakan seluruh gesekan hati, termasuk kesedihan. Jadi saat kau bersedih, jangan ragu untuk menangis.

Menangislah sampai kau lupa mengapa kau mengahabiskan waktu untuk menangis? Menangislah, sampai kau merasa puas. Menangislah karena kau perlu melakukannya. Karena kau hanyalah seorang manusia biasa yang bisa merasakan rasa sakit dan kecewa, bukan hanya kepada orang lain, namun pada kehidupan.

Saat kau rasa kau telah cukup melakukannya, kau akan tahu kapan saatnya kau bisa kembali mengangkat dirimu. Kau bisa melakukannya dengan hal yang mudah. Kau bisa menari misalnya, atau bermain music. Kau bisa memainakn gitar pada nada-nada mayor bahagia. Bermain piano dengan nada soneta yang indah.

Atau, kalau kau tidak bisa bermusik apalagi menari, (walau aku yakin, kau mendapatkan kemampuan seniku) kau bisa berkaca, memandang bangga pada wajah rupawanmu seraya berkata “aku pantas bahagia, mengapa tidak?”

Percaya dengan satu hal sayang, bahwa kesedihan pasti berlalu. Sama seperti hal lain didunia, semua hal buruk pasti akan beranjak pergi. hujan pasti akan berganti langit biru. Gelap, pasti berganti terang. Dan luka, pasti berganti dengan senyuman tipis dibibir.

Bersabarlah, disetiap gelap, pasti terdapat cahaya kecil. Karena disetiap rasa sakit, ada pembelajaran.

Jika kau merasakan sedih nak, akan selalu ada teman yang bisa kau bagi. Bahkan aku sekalipun, yang tak pernah sanggup menambah jumlah teman hingga saat ini— aku bahkan tidak bisa beradaptasi dengan baik. Tak sepertimu, yang kuyakin mendapatkan memapuan ayahmu, mampu berkomunikasi dengan sekitar begitu baik.

tidak apa-apa, setidaknya aku tahu mereka yang sedikit itu, akan selalu ada untukku. Pernah kukatakan bahwa ayahmu adalah teman baikku? Sampai saat ini, ayahmu masih seperti itu. aku lebih senang menempelinya dengan label itu sebenarnya, daripada suami, karena yang kutahu sejak dulu, ayahmu memang selalu ada untukku.

Sekalipun aku mengganggunya, membuatnya marah, usai kami saling memaki, ketika kami bertengkar hebat, saat belum ada kata maaf yang terdengar, ayahmu— akan selalu ada ketika aku membutuhkannya.

Kuharap kau akan melakukan hal serupa pada teman baikmu.

Anakku Cho Hyun Gi,

Ketahuilah, mengeluarkanmu dari tubuhku, bukan perihal mudah. Aku berjuang mati-matian, akumenahan rasa sakit. Aku menangis sampai aku lelah. Aku bertengkar dengan semua orang saat aku bersikeras mengatakan aku ingin melakhirkanmu seperti wanita pada umumnya.

Aku ingin merasakan apa yang orang lain rasakan. Aku selalu menerima pada kenyataan bahwa aku tidak bisa berteman baik dengan siapapun semudah orang lain lakukan. Aku diam saja.

Aku tidak bisa melakukan banyak hal yang orang lain, terlebih wanita pada umumnya lakukan. Aku diam saja. aku tidak sepandai itu, tidak seperti ayahmu, atau bibimu, atau nenekmu, apalagi wanita cantik yang kau agungkan Kim Eun Soo. Tak seujung kukupun aku memiliki kelebihannya. Aku tetap diam saja.

Jadi, saat untuk pertama kalinya aku memiliki keinginan yang ternyata tak bisa kumiliki (juga) aku tahu, bahwa aku harus memperjuangkan yang satu ini. aku harus memperjuangkanmu. Harus. Apapun resikonya.

Aku akan memberikan apapun untukmu, sayang. Apapun. Tak hanya darahku, tulangku, ginjalku, hatiku, mataku, jantungku, aku akan memberikan nyawaku hanya untukmu.

Sudah kukatakan, apapun resikonya aku tidak peduli. Ini, bukan hanya karena aku menyayangimu. Tapi karena aku adalah ibumu. Itu adalah kewajibanku padamu, dan hakmu untuk mendapat perlindungan, serta kasih sayang, dan seluruh yang terbaik dari orangtuamu.

Anakku,

Kelak kau akan menempuh pendidikan jauh lebih tinggi daripadaku. Kau akan mendapatkan kesempatan, jauh lebih besar daripadaku. Kau akan menjumpai orang-orang hebat, jauh lebih banyak daripadaku. Kau akan selalu jauh lebih hebat daripada orangtuamu, dan kau tahu itu mengapa. Karena kau pantas untuk mendapatkannya.

Seharusnya, aku yang meminta maaf karena aku bukan ibu yang baik. Aku tidak ada pada awal kelahiranmu. Aku pulas tertidur, tak heran ayahmu memanggilku babi. Aku tak tahu perkembanganmu. aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Bahkan setelah aku terbangun, aku masih belum mau menyentuhmu.

Aku bukan ibu yang baik, tapi aku ingin jadi yang terbaik. Setidaknya hanya untukmu. Aku tidak bisa memasak. Tapi setidaknya, aku bisa mencoba membuat sesuatu, tanpa dimasak, yang bergizi untukmu. Aku tidak bisa mengajarimu menghitung atau berbahasa asing, aku tidak secerdas itu kau tahu, tapi kau memiliki ayah yang cerdas.

Tanpa kau minta, dia pasti akan mengajarimu. Karena itu jangan terus bertengkar dengannya.

Aku tidak bisa mengurusmu dengan baik, kata nenekmu— ibuku, berkata bahwa aku adalah contoh ibu yang buruk sepanjang masa. Tentu saja aku kesal saat dikatakan seperti itu! tapi bukan berarti aku tidak menerimanya. Bersamaan dengan rasa kesalku, aku tahu bahwa yang dikatakan nenekmu adalah benar.

Aku bukan ibu yang baik. Aku bukan istri yang baik. Dan aku berharap, terus menerus berdoa semoga kau tak mendapatkan wanita sepertiku kelak.

Kau harus mendapatkan yang terbaik. Lebih baik daripadaku— yang bahkan tidak bisa memasak ini. kau akan menikahi seorang gadis yang tak perlu berpikir bagaimana caranya supaya dirinya bisa memberikan bekal untuk sekolah anakmu kelak, tanpa harus membelinya diluar rumah. Kau tahu, kadang menyakitkan melihatmu harus mengunyah makanan buatanku— aku tahu rasanya tak sebaik itu. ayah dan pamanmu selalu berkata, masakanku adalah racun.

Aku kira, masakanku memang seburuk itu.

Aku berharap, semoga kau tidak mendapatkan gadis payah sepertiku, yang membiarkan kalian bergantung pada sebuah restoran untuk sekedar memakan nasi. Yang tidak bisa mengurus rumah— apalagi mengurusmu, atau anak-anakmu kelak.

Aku tidak ingin hal buruk yang terjadi padaku, terjadi padamu kelak. Aku tidak ingin kau tumbuh menjadi sepertiku. Aku selalu kesal pada diriku sendiri saat memikirkannya, tetapi kemudian aku tahu kau berada ditangan dan dilingkaran, hebat juga terbaik— semua adalah orang-orang yang menyayangimu sepertiku padamu.

Jadi rasanya, aku tidak perlu mencemaskan hal-hal itu terjadi. Aku tahu, nasib baik akan berada ditanganmu. Namun jika tidak, maka aku akan menukar seluruh keberuntungan serta nasib baikku untukmu.

Yang paling menyayangimu, dan akan selalu melakukannya,

Park Songjin.

Seoul, 10 Maret, 2015.


Kyuhyun tergetun dimeja bar didalam dapurnya. Hanya sebuah lampu sudut menyinarinya pagi itu. bahkan mahahari, belum bersedia memunculkan diri, namun pertengkarannya dengan Songjin membuat dirinya enggan berada diruang tidur mereka secara bersamaan.

Kesabarannya menipis. Jika tidak ingin hilang, maka harus berjauhan selama beberapa waktu. Namun surat untuk putranya dari wanita barbar itu yang Kyuhyun temukan secara tak sengaja didalam nakas sisi Songjin, dekat lampu tidur, membuatnya tertarik untuk membaca.

Ada beberapa bagian disana, yang membuat perut Kyuhyun melilit, terasa sakit sekali. Ada juga yang membuat matanya nyaris berkaca-kaca. Oh, baiklah— dia menangis. Tapi selagi tidak ada siapapun disekitarnya, itu bukan masalah besar.

Adalah bagian pada saat detik kelahiran Hyun Gi. Sungguh itu bukanlah ingatan manis untuk dikenang. Namun menariknya, tanpa dirinya menceritakan apapun kepada Songjin, wanita itu seolah sadar mengenai apa yang dirasakannya.

Penjabaran Songjin begitu tepat. kala itu Kyuhyun bukan hanya merasa sedih, namun kalut. Ada kebingungan yang terselip mengenai bagaimana dirinya bisa mengerjakan tugas sebagai orangtua seorang diri?

Kalimat bagaimana yang akan dijelaskannya kepada Hyun Gi nanti ketika Hyun Gi sudah cukup dewasa dan memahami bahwa orangtua seharusnya berjumlah 2. Mereka berpasangan, ayah dan ibu. Lalu mengapa dirinya hanya ada 1?

Jadi, apa itu eomma? Dimana eomma berada? Mengapa eomma pergi? eomma pergi karena aku datang? Jadi eomma pergi karena aku? jenis pertanyaan semacam itu sudah berputar-putar dikepala Kyuhyun kala itu. lucunya, tak ada satupun orang yang memahami, termasuk Siwon yang dikiranya akan menyadari. Namun Songjin tahu. Songjin tahu tanpa dirinya harus mengatakan apa-apa.

Kyuhyun terkejut pada banyak sekali hal— sebelumnya, tak pernah sekalipun dengarnya, atau jarang. Seperti, gambaran dirinya bagi Songjin, sejauh apa wanita itu mencintainya? Apa wanita itu sudah bosan padanya karena mereka saling mengenal sejak lama? Bukan tidak mungkin rasa bosan itu hadir ‘kan?

Maka disana, Kyuhyun bisa merasa sakit perut ketika membacanya. Kadang tawa juga dikeluarkannya. Kadang dirinya terkekeh bagai iblis saat menemukan hal yang menurutnya sangat menarik— dan itu membawa-bawa namanya.

Kyuhyun masih tertawa puas ketika menyadari hembusan angin pelan menubruk punggung dan lengannya. Seseorang melewatinya dalam diam dan orang itu tidak mungkin Cho Hyun Gi. Paling bayi itu hanya baru bisa merangkak, walau jalannya terseok-seok karena tempurung lutut masih belum terlalu kuat.

Dari balik bulu matanya Kyuhyun memandang Songjin didepan coffee maker. Masih dengan mata setengah tertutup, wanita itu menuangkan bubuk kopi kedalam mesin pembuat kopi otomatis. Gerak tangannya masih belum lincah. Kadang, Songjin masih menguap.

Selama beberapa saat, Kyuhyun diam— hanya menikmati pemandangan tubuh acak-acakan Songjin, dengan kaki lemas, rambut bagai singa dan jalan bagai orang mabuk. Hal itu malah membuat Kyuhyun tersenyum kering sebelum berkata “ini masih pukul 4. Kenapa sudah bangun?” sebagai sebuah kalimat sapa, karena dia tidak tahu bagaimana caranya membuat sapaan, sehabis membaca tulisan Songjin. Rasanya wanita itu baru saja berbicara langsung padanya. Syukurlah cahaya belum sebanyak itu. wajahnya terasa panas sedari tadi. pasti sekarang masih memerah.

Songjin jauh didepannya, tak banyak menggubris. Wanita itu diam, pada awalnya saja. kemudian berdecak berkata “aku masih marah padamu.” Yang Kyuhyun sambut gerakan mulut membentuk huruf ‘O’ besar dan alis seolah paham bahwa ‘yeah, aku tahu kau bergurau’ atau apa. Namun intinya, kini dirinya tahu bahwa Songjin pun sama sepertinya— siapa yang bisa marah lama-lama sih diantara mereka sebenarnya? itu hanyalah ego. Bukan kemarahan.

Kyuhyun baru meninggalkan kursinya ketika melihat berulang kali Songjin salah menuangkan kopi panas. Bukan pada cangkir, namun pada meja marmer didepannya dan Kyuhyun tahu, itu berbahaya. “kau memerlukan kesadaran tinggi untuk berkutat dengan air panas, nyonya.” Katanya menyingkirkan coffee maker itu dari sisi Songjin jauh-jauh.

Satu tangannya menggapai cangkir pada cabinet diatasnya, lalu menekuni mesin pembuat kopi otomatis disana yang ternyata belum memasak kopi dengan sempurna. Sudahlah jelas, Songjin masih setengah sadar. Nyawanya, belum sepenuhnya kembali.

Namun disaat itulah Songjin sadar dengan apa yang berada ditangan kiri Kyuhyun. Dia mengenal map putih itu. dia mengenal tulisan tangannya pada salah satu sisi putih dimap tersebut, yang dituliskannya ‘Dear, Cho Hyun Gi’

Mata Songjin langsung melebar karenanya. Kini seperempat nyawanya kembali lagi. Setidaknya kini matanya sudah nyaris terbuka, walau tak selebar bibirnya kala menjerit panic berkata, “kenapa itu ada padamu?!” menggunakan nada uring-uringan.

“ini?” Kyuhyun membolak-balik map ditangannya. Dia sudah memasukan kembali lembar-lembar kertas A4 dengan tinta print diatasnya berisi surat bagi putranya. “aku menemukannya dinakas.” Dia menjawab begitu polos.

“itu bukan untukmu!”

“untuk Hyun Gi.” Kata Kyuhyun santai. “aku tahu. Ada tulisan dear Cho Hyun Gi didepan sini.” Telunjuk Kyuhyun tak sampai menyentuh kulit map lagi. Map itu sudah berpindah tangan dengan cara tidak baik-baik.

“kau memang tidak tahu privasi?!”

Kyuhyun diam memikirkan makian Songjin, kemudian kepalanya menggeleng tak lama setelahnya, “aku tahu.” Bahunya bergerak “tapi yang tidak kutahu adalah privasi diantara pasangan suami-istri. Memangnya perlu?”

Sontak Songjin mendelik “kau gila?!” katanya lebih marah “tentu saja perlu!! Kau tanya saja orangtuamu kalau kau tidak tahu!!”

“kenapa harus orangtuaku?”

“kau harus banyak belajar dari mereka karena mereka memiliki pengalaman lebih banyak!”

“bukan berarti mereka selalu benar.”

“setidaknya mereka sudah melaluinya!”

Kyuhyun kembali diam. Kini lebih panjang membiarkan keheningan sejenak mengisi diantara mereka sampai bahunya bergerak kala dirinya berujar, “aku tidak memerlukan siapapun untuk mengomentari hidupku— jadi yeah, kupikir itu tidak perlu kulakukan.”

Jawaban kelewat santai Kyuhyun membuat Songjin tak hanya melotot lagi seperti sedang melihat hantu, namun mengeluarkan dengusan tak percaya bahwa ternyata, Cho Kyuhyun jauh lebih keras kepala daripada yang dikenalnya.

Disisi lain, Kyuhyun mengamati kejengkelan istrinya. Sedikit menikmati sebenarnya. oh, baiklah— banyak. Entah mengapa bukan kejengkelan lainnya yang ingin dikeluarkannya untuk membalas Songjin, namun sejak tadi, dia hanya mengeluarkan tawa atau kekehan saja.

Terang saja itu membuat Songjin lebih kesal padanya. Kyuhyun dianggap sedang tak bersungguh-sungguh. Tidak serius, atau apalah sejenisnya.

Atau, memang itulah yang Kyuhyun sedang lakukan. Dia tidak menemukan alasan bagi dirinya— mereka sebenarnya, untuk menjadi sangat sangat serius pagi ini. oh ayolah, ini masih pukul 4 dini hari! Masih terlalu dini untuk pertengkaran lainnya!

“kenapa tertawa?” sengit Songjin tak tahan lagi mendengar suara kekehan. “tidak ada yang lucu!!” suaranya terdengar luar biasa kejam. Seperti ibu tiri di drama televisi, atau maleficent atau malah Cyclops yang sedang kerasukan.

Namun lagi lagi Kyuhyun tak mempersoalkannya. Dia masih tertawa. Bahkan semakin kencang. saat Songjin lengah, Kyuhyun membawa tubuh wanita itu merapat, mengangkatnya menuju meja counter— mendudukannya disana.

Kyuhyun meletakkan dua tangannya dikanan kiri tubuh Songjin supaya wanita itu tak kabur kemana-mana. Dari jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma treadmark Park Songjin. Aroma strawberry. Sama saja seperti buah kesukaannya.

“jadi,” katanya memulai “rupanya aku ini tampan sekali ya?” Kyuhyun tak bisa untuk tidak tertawa ketika mengatakannya. Dia memandangi wajah Songjin saksama, walau Songjin mengarahkan matanya kemana-mana. Kemana saja selain matanya.

“aromaku seperti papermint, pinus dan manis. Itu seperti apa ya?” lanjutnya. Tak lupa mendekatkan tubuh hingga hidunya sempat membentur hidung milik Songjin. Membuat wanita setengah sadar itu nyaris kembali sepenuhnya karena panic. “jadi, bibirku membuatmu ketagihan?” Kyuhyun membasahi bibirnya dengan lidah lantas berbisik, “mau?”

itu sungguh sebuah tawaran. Tawaran yang menarik jika Songjin sedang tak meninggikan harga diri— tidak main-main seriusnya. Dia tidak bisa berpikir. Berpikir seperti apa? Apa yang harus dipikirkan?

Saat ini dia sedang disodori hal yang paling disukainya selain sepatu-sepatu Jimmy Choo atau Prada. Dan Songjin memang tak perlu berpikir. Hanya sebuah ciuman, tak perlu dipikirkan. Lagipula, ini masih terlalu pagi untuk berpikir keras.

Tetapi ketika bibirnya merasakan dingin, kemudian basah, kemudian telinganya mendengar suara decapan serta tubuhnya merasakan jelas sebuah rengkuhan dipinggang mengusapnya lembut, Songjin tahu itu bukan ulahnya. Dia memang menginginkan bibir keparat itu, tapi tidak sampai sudi menjatuhkan harga diri ketika tahu mereka sedang bertengkar seperti saat ini.

Namun walau sedang marah pun, rasanya tubuh miliknya memang tak akan pernah berjalan beriringan dengan hati. Jangan tanya otaknya. masih beku entah seperti apa. Atau, itu hanya karena sebenarnya dirinya juga ‘menginginkan’ Kyuhyun. Lebih daripada hanya sekedar ciuman. Dia bisa saja melakukan hal gila untuk menggoda suami rupawannya ini, namun sepertinya pertahanan Kyuhyun mengenai tidak akan bercinta sampai alat pencegah kehamilan terpasang begitu kuat.

Mungkin Kyuhyun memang sudah tidak tertarik untuk memiliki anak. Mungkin, jika Hyun Gi kemarin tidak terjadi karena ‘tak kesengajaan’ mungkin bayi itupun tak akan pernah ada. Mungkin sebenarnya Kyuhyun tidak benar-benar ingin memiliki anak. Atau mungkin itu hanya karena darinya saja.

Banyak sekali ide-ide, dan mungkin berkelebat didalam kepala Songjin selama ciuman itu berlangsung. Dia bisa merasakan ketika lidahnya bertaut pada milik Kyuhyun, atau ketika gigi mereka tak sengaja bersenggolan, kemudian merasakan senyuman Kyuhyun ditengah ciuman mereka.

Ada usapan lembut pada wajah Songjin. Begitu yang Songjin rasakan ketika ciuman itu berlangsung. Kyuhyun tidak melepaskan bibirnya seperti pria itu sedang begitu kelaparan, sudah berabad-abad tidak memakan apapun. Sebelum Songjin benar-benar memejamkan mata, menikmati sapuan lembut, napas hangat serta aroma papermint diwajahnya, Songjin buru-buru menarik diri susah payah.

Songjin berkata “dasar tidak sopan! Aku sedang marah padamu!” dengan susah payah. Dengan napas naik dan turun. Juga dengan wajah memerah. Entah karena malu, atau memang benar, dirinya marah.

Sedang Kyuhyun sama payahnya. Bibirnya telah membengkak— padahal ciuman itu berlangsung tak lebih dari 1 menit. Wajahnya tak kalah merah. Kalau ini, mungkin beda persoalan. Kepalanya mengangguk, napasnya tersengal-sengal. “aku juga.” Katanya kepayahan. “aku marah padamu. Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau memang sebegitu tertariknya padaku?” cerarnya. “maksudku—“ mata Kyuhyun sudah melirik bibir Songjin lagi, tak bisa kemana-mana.

“aku masih ingin ini.” dia sungguh tak bisa menahan nafsunya lebih lama. Kyuhyun menubrukkan bibirnya pada milik Songjin. Lagi. Melumatnya. Menarik bibir bawah wanita itu, atau kadang, sekedar mengigitinya. Dia memaksakan lidahnya untuk masuk. memaksa milik Songjin untuk bergulat dengan miliknya, tak hanya diam saja menikmati.

Tanpa Kyuhyun sadari, kedua tangannya semula mengusapi pipi, kini telah pindah pada pinggul kiri dan kanan Songjin, lalu mendorong hingga pinggul mereka berhimpitan kuat, semakin kencang dan mengencang.

Songjin melenguh menyadari perbuatan Kyuhyun namun tak bisa berbuat banyak. Diakui atau tidak, dia juga menginginkannya. Hanya perihal pengaman, dan alat pencegah kehamilan saja yang hingga saat ini masih belum menemukan titik terang. Lalu ada hal lain juga yang tak luput Songjin sadari, bahwa dibawah sana, ada yang sedang mengeras. Kyuhyun pasti sungguh tidak nyaman dengan hal itu.

Ciuman plus plus itu, rupanya membawa tak hanya Kyuhyun menggila. Songjin semula hanya meletakkan tangan pada pangkuannya sendiri, kini mulai menggantungkannya dileher Kyuhyun. Kemudian bergerak mengacak rambut cokelatnya dan menggerakkan bibirnya seirama dengan milik Kyuhyun. Hanya perihal pinggul, yang tak dipersoalkannya ketika Kyuhyun menggesekkannya berkali-kali.

Kali ini butuh waktu panjang. Lebih panjang daripada ciuman mereka sebelumnya. Lepas waktu berlalu, keduanya tampak kepayahan dengan model rambut paling buruk sedunia. Kyuhyun terbahak melihat wajah Songjin tampak begitu bodoh dengan rambut kusut, serta bibir memerah bengkak. Tak sadar bahwa dirinya pun memiki penampilan sama.

Hanya persoalan Songjin, tak ingin membahasnya. Wanita itu masih merasa tak enak hati pada milik Kyuhyun— sepertinya, masih belum baik-baik saja dibawah sana biarpun ciuman mereka kini berakhir dan wajah mereka menunjukkan kepuasan.

“aku mencintaimu. Sungguh.” Kata Kyuhyun lembut. Ibu jarinya menusapi pipi kemerahan Songjin yang memanas. Tak sempat Songjin mengatakan apapun, Kyuhyun berbicara lagi. Mengatakan “aku tahu,” sambil mengecup singkat permukaan kulit bibir pink Songjin.

Saat mata Kyuhyun mendapati bengkak dikantung mata istrinya, dirinya sadar, bukan persoalan menangis lagi yang Songjin lakukan ketika dirinya tak berada dikamar semalam, tetapi wanita ini juga tidak bisa tidur.

Diseputar mata Songjin terdapat lingkaran hitam. Sebentar lagi, istrinya akan berevolusi menjadi panda. Sepertinya, itulah alasan mengapa saat ini Songjin berada didapur dipagi buta seperti saat ini dan membuat secangkir kopi. Bukannya didalam selimut, masih terlelap damai.

Sedang Kyuhyun tak tahu bahwa Songjin sedang berpikir keras ‘aku tahu’ menurutnya tadi itu apa? Aku tahu, ada yang tidak beres dengan anggota tubuhku, atau aku tahu aku ini akan terjadi saat kita melakukannyakarena sudah sangat lama kita tidak melakukannya, dan aku ingin sekali melakukannya.

Sesuatu semacam itu yang berkumpul dikepala Songjin. Bukan aku tahu lainnya seperti, aku tahu kau juga mencintaiku. Kau tak perlu mengatakannya kalau kau malu, tetapi kau harus tahu, aku tahu. Dan omong-omong, terimakasih.

Songjin linglung. Nyawanya sudah kembali seluruhnya. Namun tidak dengan otaknya. Kalau Kyuhyun tak berada disana menahannya, mungkin Songjin tak pernah ingat mengapa sepagi ini dirinya tak berada diranjang dan malah didapur. Dia lupa bahwa semalam, ada tangisan untuk pria ini serta kekesan tekadnya tak ingin bercinta menggunakan pengaman apapun.

Kalau pada akhirnya, itu akan membuatnya kembali hamil, lalu kenapa? Mereka bukan lagi pasangan remaja yang harus takut pada hasil dari aktivitas semacam ini. mereka legal. Hampir semua pasangan menikah bahkan mengharapkannya. Begitupun dengannya.

Menurut Songjin, Hyun Gi butuh teman. Teman selain dirinya, ataupun Kyuhyun. Menjadi anak tunggal itu membosankan. dirinya tahu persis bagaimana rasanya. Songjin pikir, Kyuhyun pun pasti tahu. Jadi dia tak perlu menjelaskan lagi kepada Kyuhyun seperti apa keinginan serta harapannya.

Kyuhyun menuangkan kopi disatu cangkir. Dia mengambil cangkir lain, mengisi dengan bubuk susu cokelat, lalu menuju dispenser untuk memberikan air panas.

“aku sudah memikirkannya.” Kata Kyuhyun mengambil dua gelas tersebut, memberikannya satu kepada Songjin, lalu bersandar dengan belakang tubuh pada counter kitchen set dapurnya. “tentang liburan yang kau minta.”

Songjin berdecak mengingat topic itu lagi. Semalam mereka bertengkar karena hal itu ‘kan?

Setelah meminum kopinya satu tegukan Kyuhyun mencebikkan bibir. Dia memandangi Songjin yang sedang dalam wajah tidak suka, karena bukan kopi didalam cangkirnya, namun susu cokelat.

“sebenarnya aku tidak main-main, saat mengatakan aku sibuk. Aku memang sibuk” mulai Kyuhyun tegas. Dengan dagunya dia menunjuk pada cangkir ditangan Songjin agar segera diminumnya selagi masih panas. Tapi sepertinya Songjin masih menginginkan kopi, bukan susu panas.

“aku dan Siwon Hyung berencana untuk mengakusisi sebuah perusahaan, kompleks pariwisata yang nyaris bangkrut di Amerika utara. Caribbean. Terletak di Virgin island, kau tahu?”

“aku tidak buta peta dunia!” sengit Songjin membalas. Hanya Kyuhyun tanggapi gerakan bahu tak peduli. Dia masih belum memiliki hasrat berkelahi bersama wanitanya. Jadi tak perlu lah rasanya untuk ditanggapi serius.

“aku kira kau hanya tahu Italia saja.”

“jangan konyol.”

“—jangan salahkan aku. kau memang menggilai negara itu. jadi ekspektasiku juga tidak sebesar itu pada pengetahuan tempat wisatamu.” Kyuhyun beralasan. Biarpun masuk akal seperti apa sekalipun, Songjin tak akan sudi mengakuinya.

“kalau kau akan pergi, ya pergi saja.” begitu jawab Songjin sangat mudah. Mungkin tak sadar bahwa Kyuhyun beranggapan lain. surat tadi banyak mengubah sudut pandangnya, pada kesinisan Songjin. Terlebih padanya. Juga membuatnya dapat semakin mudah membaca jalan pikiran Songjin.

“ada dua tempat sebenarnya. ada dua pilihan perusahaan yang bisa kubeli karena kondisi mereka defisit, dan kebetulan Millennis sedang mengalami surplus cukup besar.” Kini mata Kyuhyun perlahan naik. dari balik bulu matanya, dia memerhatikan Songjin saksama. Tak ingin bergeser sedikitpun dulu.

“ada sebuah hotel berbintang, cukup terkenal. Namun sayangnya defisit. Tidak tertolong lagi. aku tidak mengerti bagaimana mereka mengelola keuangan, tapi yang kutahu, itu pasti payah. Karena lokasi itu sangat ramai turis.” Jelas Kyuhyun panjang. “kau tahu?” tanyanya dengan mata semakin menyipit kepada Songjin, “Piazza del popolo? Roma?”

seperti dibayangannya, bahkan ini jauh lebih baik. Songjin memberikan reaksi lebih besar daripada hanya sekedar lirikan sinis. Kyuhyun tak lagi sanggup menyembunyikan tawanya ketika melihat kilat dimata Songjin saat semua yang berbau Italia dikatakan.

Entah ada apa dengan Park Songjin dan Italia. Wanita ini sungguh menggilai negara itu. tak hanya negaranya. Makanannya, budayanya, selera fashionnya. Kalau dulu tidak ada penolakan dari kampusnya saat mengetahui bahwa Songjin mengandung ketika mengajukan beasiswa, mungkin saat ini, akan sulit bagi Kyuhyun menemukan dimana Songjin berada.

Atau lebih parah, Songjin tidak akan kembali. Kyuhyun ingat betapa Songjin terus menerus mengatakan ingin memiliki rumah di pinggir perkebunan anggur Tuscany— dengan hamparan rumput hijau, dan sapi yang masih dilepas begitu saja oleh pemiliknya.

Seolah itu terlihat sesuai dengan latar belakang dan kebiasaan Park Songjin penggila kota ramai yang tak pernah tidur. Di dalam benak Kyuhyun, New York jauh lebih pantas bagi shopaholic seperti Songjin. Bukan desa perkebunan anggur seperti itu. terlebih, Songjin tidak menyukai anggur. Dia tidak bisa menerima seteguk alcohol pun.

Kalau dipaksakan, kejadiannya akan seperti dulu lagi. saat Hyun Gi baru akan dibentuk karena ulah Songjin sendiri.

Kyuhyun kembali pada ‘dirinya’ lagi. dia memerhatikan Songjin, usai menunjukkan wajah apa-kau-gila- padanya, wanita itu masih sempat membuat wajah tak tertarik. Kini cangkir susu panasnya sudah menarik minatnya. Itu membuat Kyuhyun tersenyum senang seraya menggeleng pada sikap keras kepala Songjin. Dia meminum kopinya lagi “kau bisa ikut kalau kau mau. Tapi aku bekerja. Jadi kau tidak bisa berharap banyak. Tetapi setidaknya, kau disana. Kau bisa mendapatkan pemandangan, suasana baru, atau apapun itu disana.”

“itu bukan terdengar seperti ajakkan.”

Lagi-lagi Kyuhyun tertawa, “jadi aku harus mengatakannya seperti apa?” dia meletakkan cangkirnya diatas meja. “aku harus menciummu lagi?”

Songjin sudah buru-buru melirik tajam walau Kyuhyun belum mendekatinya. Pria itu menendang pelan telapak kaki Songjin— masih menggantung, jauh dari lantai karena dia masih duduk diatas meja counter. “ikut ya?” kini nada bicaranya, tak setegas tadi. ada nada mendayu khas permohonan yang begitu Songjin kenal.

“temani aku. Siwon Hyung saja datang bersama Gyuwon. Kenapa aku tidak bisa datang denganmu?”

Songjin mendengus, “kau kan dengan Henry!”

“jangan begitu! Aku bukan pecinta sesama jenis. Nanti dengan siapa aku berciuman saat aku menginginkannya kalau aku datang dengan Henry?”

ada segaris senyuman nyaris Songjin perlihatkan tapi buru-buru diganti dengan wajah tekukan kusut lagi. Kyuhyun tahu, namun tak banyak bicara. Tak ingin membahas, karena kembali pada hal semula, dia tak ingin bertengkar sepagi ini.

Jadi Kyuhyun merunduk untuk menyamarkan cengirannya saja. mendadak dia teringat satu kalimat didalam surat untuk Hyun Gi buatan Songjin, bahwa disana Songjin berkata, dia tidak akan bisa marah padanya lama. Secara harfiah, begitulah.

“jadi, aku boleh bertanya?”

“……..”

“mengapa kau membuat surat itu? itu terdengar seperti pesan-pesan sebelum mati. Seperti kau sudah berencana untuk bunuh diri atau kau tahu kau akan mati dalam waktu dekat karena satu dan lain hal, lalu meninggalkan itu sebagai penjelasanmu pada anakmu. “

wajah Kyuhyun menggambarkan keseriusan tinggi. Dia tak lagi ingin bergurau pada topic kematian. Sekitarnya sudah memberikan pengalaman menyeramkan itu. orang-orang yang dikasihinya telah pergi. wanita ini pun nyaris melakuannya. Jadi kematian bukan topic lelucon.

“ada yang perlu…. Untuk aku tahu? Hm?” sambil berjalan mendekati Songjin, Kyuhyun mengamati perubahan air diwajah Songjin. akui saja, jantungnya sedang berdebar tak karuan. Tetapi ketika itu Songjin menggeleng.

Dia membuang napasnya panjang, menggantungkan kedua lengan pada bahu Kyuhyun ketika Kyuhyun mendekat, kemudian berkata, “tidak ada.” tetapi Kyuhyun tak akan semudah itu percaya. Kyuhyun seperti merasakan deja-vu. Dia seolah pernah melalui kejadian ini, tapi tidak ingat kapan tepatnya.

“aku serius, Songjin. katakan padaku, selagi kau bisa mengatakannya. Ada apa?”

“tidak ada apa-apa.” Kyuhyun tampak kecewa. Dia mengeluarkan napas pelan bersama bahu yang terkulai. Membuat Songjin kembali mengatakan jawabannya. Sama seperti tadi.

“aku serius. tidak ada apa-apa Kyuhyun-ah. Aku hanya menulisnya karena aku ingin. Karena kupikir, kau pasti tidak akan mau menceritakan seperti apa saat kelahiran Hyun Gi dulu. Dan orang disekitarku pun pasti akan bercerita dari sudut pandangnya saja. aku hanya menjelaskan dari sisiku kalau seperti itulah yang terjadi sebenarnya. kau terlalu—“

berlebihan. Songjin hampir mengatakannya, namun urung. Dia tahu dia tidak bisa menggunakan kata berlebihan kepada seseorang yang sudah dipermainkan oleh kematian serta nasib. “curiga.” Akhirnya Songjin menemukan kalimat lebih pantas untuk digunakan, untuk disematkan pada Kyuhyun.

“beralasan.” Hanya sesingkat itu Kyuhyun menjawab, kemudian memeluk Songjin, meletakkan dagu pada bahunya.

“aku tahu.” Lalu Songjin pun hanya dapat menepuki punggung Kyuhyun. Seluruh tubuh pria itu sedang bertumpu hanya padanya, dan sebenarnya itu terasa berat sekali, namun entah mengapa, Songjin menyukainya.

rasanya seperti Kyuhyun rela-rela saja menyerahkan hidup, pada wanita tolol sepertinya.

“aku juga takut.” Lanjut Songjin, menghirup aroma harum papermint dari leher Kyuhyun. Dia lupa, hingga mulai menjalankan bibirnya pada permukaan leher putih disana. Songjin baru berhenti ketika sadar yang dilakukannya mungkin bisa membuat Kyuhyun lebih ‘tersiksa’, jadi sebaiknya segera dihentikan saja.

Sebagai ganti, Songjin hanya menelan liur meratapi nasib menyedihkannya. Dasar alat pencegah kehamilan keparat!

Songjin merunduk, mendesakkan hidung pada bahu milik Kyuhyun. Dia bisa mendengar Kyuhyun mulai menarik napas panjang, tanda akan berbicara lagi.

“aku tidak bisa terus menerus seperti ini Songjin. kita harus mendapatkan jalan keluarnya. Aku berpikir pengaman akan lebih baik, tapi kau menolak. Kau juga menolak untuk memasang alat pencegah kehamilan. Kalau kau dan aku sama-sama keras kepala, kita akan mati karena menahan yang sebenarnya tidak perlu ditahan.”

“kalau begitu kau saja yang mengalah lagi. kenapa tidak dengan kondom? Itu alat pencegah juga ‘kan?”

“sejauh apa itu bisa mengamankan?” Kyuhyun terdengar sinis.

“kau terdengar seperti tidak sudi memiliki anak dariku atau apa.”

“bukan seperti itu.” Kyuhyun menghela napas. Memeluk Songjin jauh lebih kencang lagi “tidak boleh ada hal buruk yang terulang. Hanya orang tolol yang tidak belajar dari pengalaman.”

Mata Songjin berputar jengah, “aku lupa, kau orang ceras ya? Dan aku tolol. Karena itu aku berpikir bahwa kau sedikit mengerikan dengan paksaanmu dan seluruh kesanggupanmu menahannya. Aku ingin tahu saja, kira-kira kau bisa bertahan berapa lama lagi?”

Kyuhyun mendesah panjang. Tubuhnya jatuh terkulai lebih lemas. “aku tidak tahu.” Ungkapnya jujur “sebenarnya sudah tidak sanggup lagi. tapi memangnya aku bisa apa?”

“Um— meniduriku misalnya?” sahut Songjin sarkas pada keluhan Kyuhyun. Baginya itu terdengar bodoh. dan sungguh bukan Kyuhyun sekali. “bukankah itu hal yang paling kau sukai? Atau itu adalah kesenangan ‘dulu?’ sekarang ada hal lebih menarik untukmu?”

“kau tidak sedang menuduhku berselingkuh ‘kan?”

lalu Songjin yang kini membuang napas panjang. Dia bahkan tidak tahu harus berkata apa. Kemungkinan seperti itu bukan tidak mungkin juga. Lelaki mana yang sanggup menahan tidak melakukan sex dengan pasangan begitu lama seperti pria ini? apalagi hanya karena perihal masalah, kandungan lemah, dan segala penyakit buntutnya.

atau karena persoalan ini, kini Cho Kyuhyun berganti ketertarikan, dan mulai tertarik pada sesama jenis? tidak mungkin!

“kau mulai tidak masuk akal.” Desah Songjin menepuk punggung Kyuhyun. Kini lebih kencang. seperti Kyuhyun baru saja menangis, dan dirinya sedang berusaha untuk menenangkannya— tetapi Kyuhyun segera menolak mentah-mentah. “kubilang aku melakukannya, karena aku memiliki alasan kuat.”

“ya ampun Kyuhyun-ah! aku akan baik-baik saja biarpun kau melakukannya berulang kali! Kukira itu adalah kebutuhan. Bukankan begitu.”

“bukan kebutuhan primer.”

“kau gila?” Songjin menarik diri memelototi Kyuhyun. Serapuh dirinya mulai curiga bahwa suaminya kini sudah benar-benar gila.

Tetapi Kyuhyun menggeleng, dengan wajah lesu dia mendesah panjang “setidaknya sampai pengaman itu kau pasang.”

“bagaimana kalau tidak akan?”

“kalau begitu sebaiknya kita tidur saja. ini masih sangat pagi. Kukira manusia normal butuh istirahat. Iyakan?”

pelukan Kyuhyun berangsur merenggang. Sebelum dirinya benar-benar pergi, Songjin sudah lebih dulu menarik ujung lengan piyamanya. Wajah Songjin tak kalah lesunya. Seperti ingin menangis, tapi terlalu malu melakukannya.

“kau— benar-benar tidak ingin memiliki… anak lagi, Kyuhyun-ah?” tunduk Songjin lesu. “aku tahu rasanya menjadi anak tunggal. Aku tidak ingin Hyun Gi juga merasakannya. Kukira kita bisa memberikan satu lagi saja. tapi kalau kau tidak ingin lagi, aku harus membuatnya dengan siapa?” keluh Songjin begitu bodoh.

bukannya ingin melanjutkan kesedihan, apalagi marah, Kyuhyun malah merasa ingin tertawa pada ucapan Songjin tadi. harus membuatnya dengan siapa? Didalam benak Songjin, mungkin membuat bayi sam hal nya seperti membuat kue bolu. Sungguh di dunia ini hanya ada satu wanita seperti Songjin. jika Kyuhyun harus kehilangan wanita aneh ini, entah akan jadi apa dirinya nanti.

“kau aneh sekali” komentar Kyuhyun diantara tawanya. Dia melihat kepala Songjin menggeleng-geleng kemudian suaranya berkata, “aku tidak bercanda.”

Kyuhyun lalu menarik napas dalam-dalam. Membuangnya sekaligus, namun tidak secara kasar. Perlahan, seperti tangannya yang mengusap ujung kepala Songjin. dia tersenyum, kini bukan jenis senyuman kering seperti tadi. kini dia tersenyum senang. Setidaknya dia tahu, bahwa tak hanya dirinya, namun mereka sama-sama saling membutuhkan.

Seharusnya cinta memang seperti itu cara kerjanya. Harus selalu ada kata saling. Bukan aku, atau kamu tapi kita.

“aku juga tidak bercanda. Aku tidak bisa bercanda kalau sedang mengantuk! Jadi ayo tidur!” Kyuhyun berbalik. Memberikan punggungnya pada wajah Songjin. tangannya bergerak-gerak ketika suaranya terdengar mengatakan “Ayo!!” yang berarti naik.

“aku tidak mengantuk.”

“Ohya? Kau akan berubah menjadi panda dengan mata seperti itu, kau tahu tidak? Sudah melihat cermin? Woah! Kau terlihat mirip. Kalau aku memberikan bamboo untukmu, rumah ini akan terlihat seperti penampungan seekor panda ganas yang lepas dari kebun binatang!”

“aku tidak bercanda. Kyuhyun-ah. Tidak lucu.” Rupanya Songjin sedang tak berselera pada gurauan. Kyuhyun pun memahami hal itu, namun tak ada yang perlu ditanggapi seserius itu untuk pagi ini. maka Kyuhyun hanya tertawa saja pada gurauannya sendiri. menganggap itu adalah lucu.

Memang lucu sebenarnya. ada pada bagian panda ganas yang lepas dari kebun binatang. Bagus dia tidak menambahkan beringas dengan mata merah karena kelaparan. Dan nyaris membunuh pawangnya karena diberi susu cokelat panas. Dan panda itu pendek. Kakinya bahkan tidak sampai menyentuh lantai.

Tetapi mengingat selera bergurau Songjin agaknya sedang tak ada, Kyuhyun mengalah saja. dia hanya mundur dan menggerakan punggungnya lagi, sampai menyentuh lengan Songjin.

“kita masih punya banyak waktu untuk memikirkan persoalan ini, Songjin. tidak perlu di persulit. Masih ada hari esok. Dan esoknya lagi. begitu seterusnya. Santai saja. cobalah berpikir bahwa aku menikah memiliki tujuan lain bukan hanya tentang sex. Kau tidak pernah berpikir, mungkin saja aku menikahimu supaya si brengsek itu diam?”

“brengsek?” kening Songjin berkerut. “C—Changmin Oppa?”

“siapa lagi? dia kan yang menguntitimu setiap hari, dari pagi hingga malam. Dia pikir dia siapa?”

“temanmu?”

“Pih!”

“kau mulai tidak masuk akal lagi!”

“aku beralasan! Dia bisa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan padamu! Seharusnya kau berterimakasih padaku! Aku melakukannya tanpa dapat bayaran!”

“kau tidak meminta bayaran! Dan lagi aku tidak memintamu melakukannya! Dia temanku kenapa dia harus melakukan hal yang tidak diinginkan?” sahut Songjin merasa tidak habis pikir.

Kyuhyun sudah benar-benar delusional— atau entah hal macam apa yang baru merasuki pria ini. dia gila. Begitu Songjin pikir.

“aku meminta bayaranku tentu saja!”

“kapan?”

“3 tahun lalu! aku menikahimu!”

“HAH! lucu sekali Cho Kyuhyun. Benar-benar lucu!” kini Songjin bertolak pinggang saat memerhatikan suaminya jengkel.

“aku serius! saat itu kalau kau menolak perjodohan dari appa, aku tetap akan menikahmu dengan cara apapun. Kau harus tahu aku tidak seramah yang kau kira. Mana enak melakukan sesuatu tanpa imbalan?”

“sialan.” gigi Songjin telah bergemeretak. Tangannya mengepal. Kalau dalam lima menit lagi Kyuhyun masih berulah, maka dari kepalanya akan keluar lahar panas. Itu sudah pasti. “dasar pelit!!!”

“dasar bodoh! aku melakukannya karena aku mencintaimu!! Begitu saja kau memerlukan waktu lama untuk berpikir. Benar-benar bodoh!”

kesabaran Kyuhyun yang tadi disimpan dan bisa ditata begitu apik kini entah menguap hilang kemana. Kyuhyun lupa, ada bayi mungil yang sedang tidur disalah satu kamar dilantai dua. Suara mereka dari lantai satu, mungkin bisa terdengar hingga kesana. Namun Kyuhyun ingat Cho Hyun Gi adalah peranakan Park Songjin— yang bisa tidur sepanjang hidupnya. Yang tak akan terganggu bahkan jika tsunami datang.

Jadi sudahlah, Hyun Gi tidak perlu dikhawatirkan lagi.

Maka Kyuhyun ikut melebarkan mata kepada Songjin yang mengamuk padanya tiba-tiba, “itu tidak terdengar seperti pernyataan cinta! Kau tampak seperti psycho!” kata Songjin berapi-api.

“bagaimana aku bisa mengatakannya dengan cara baik-baik kalau kau memperlihatkanku wajah yang seperti bokong sapi seperti itu terus menerus?” dengus Kyuhyun tak kalah kencang. “jadi mau tidur atau tidak??!!!” suaranya menjadi jauh lebih tinggi.

“tidak bisa meminta dengan sopan ya?”

“tidak perlu mengajariku untuk sopan! Kau lihat dirimu sendiri saja! kau bahkan memanggilku tidak dengan sebutan pantas! Aku lebih tua darimu tahu tidak?”

“itu karena kau tidak pantas dipanggil Oppa!”

“lalu siapa yang pantas? Changmin?”

“kenapa Changmin Oppa lagi!!!!” Jeritan Songjin menjadi lebih keras daripada sebelumnya. Dia nyaris berdiri diatas meja, dan memukul kepala Kyuhyun dengan cangkir, kalau tidak ingat, itu bisa membuat Kyuhyun gegar otak hingga kemungkinan pria itu akan pergi selamanya, darinya. Tidak. Itu tidak boleh. “kau selalu cemburu—“

“wow, wow sebentar!” Kyuhyun menjulurkan tangan lebar, “itu bukan cemburu namanya. Aku melakukan territorial. Aku hanya akan seperti itu pada apa yang kuanggap milikku. cemburu artinya aku iri pada sesuatu milik orang lain, aku tidak punya, dan aku ingin memilikinya! Kurasa kau harus banyak belajar lagi, nyonya!”

“kau baru saja mengatakan—“ Songjin menutup mulut tak bersuara. dia hanya memandangi Kyuhyun, selagi pria itu berbicara tadi, tampak normal.

Maksudnya, pria ini bukankah baru saja mengakatan hal beraroma sejenis lagi? “maksudmu, aku milikmu, begitu?” Songjin terdengar berhati-hati saat mengatakannya. Tanpa suara kencang, tanpa tarik urat.

Mendadak ada rasa hangat yang dirasakannya. Yang mulai berjalan-jalan mengikuti aliran darah, berputar sangat cepat didalam tubuhnya. Tidak tahu seperti apa bentuknya, tapi wajahnya terasa panas. Bagaimana bisa Kyuhyun mengatakan hal seperti itu tanpa merasakan hal sepertinya?

Territorial? Jadi Kyuhyun delusional, hanya karena masalah territorial? Bodoh sekali pria ini! tampan, tapi aneh. Pantas sejak dulu jarang ada orang yang tahan lama, berkumpul dengannya.

Pria ini gila. Iyakan?

126 thoughts on “[KyuJin Series] Love and Pride

  1. Surat cinta yang mengharu biru dari “wanita barbar”…No other it is You…Kyu.
    Warisan yang berharga buat Hyun Gi.. kalau aku jadi Hyun Gi.. pasti sangat..sangat berterimaksih dilahirkan dari orangtua yang penuh “magic” cinta dan kasih sayang…

  2. Aigoo…masalah pencehag khamilan spertinya akan panjang,,,mrka sm2 keras kpala….songjin blang kyu hrus mngalah lgi,knp ga songjin yg kli ini mngalah,,,apa dy ga pernah mikir kyu hanya sebenarnya hanya takut khilangan….
    Untung kyu baca surat untuk hyun gi,,stidaknya kyu tau perasaan songjin yg ga pernah mau dy ungkapkan…….

  3. Baca surat Songjin untuk Hyun Gi bikin terharu dari wanita barbar yang sedimikian hingga menuliskan bagaimana perasaannya pada Kyuhuyun dan perjuangannya untuk melahirkan Hyun Gi bikin terharu banget 😥
    Dan kembali menjadi absurd ketika scene Kyuhyun dan Songjin tapi tetep bikin gemes deh mereka dalam cerita2 di sini.

  4. Joah joah joah
    ceritanya seru,lucu, terharu,sedih, kaya nano nano.. AKU SUKA
    “Melakukan’y dengn siapa?” ini pertannyaan bener2 buat aku ketawa dan gk hbs fikir…

  5. surat songjin sedih banget. ceritanya pas mau melahirkan hyun gi.. emang ada seriesnya yg bahas itu? aku belum nemuin. malah baca yg ini dulu.
    tapi lucu juga habis bermesra mesra langsung berdebat lagi hahahaha.. author kayaknya berpengalaman banget hahaha.
    aku baca kyujin series gak beraturan jadi kadang bingung sendiri, ini kenapa begini-begitu. kalo udah gitu aku cepat2 scroll ke atas ke bawah nyari yg terlewatkan..

  6. Perjuangan songjin buat hyun gi luar biasa… sampe kyuhyun gak mau punya anak lagi gara2 takut kehilangan songjin… so sweet

  7. Songjin bener2 eomma yg kuat dan keras kepala. Ngebaca cerita dr versi dia ternyata lebih menyentuh. Bentuk kasih sayang seorang ibu untuk anaknya. Gak tau ‘masalah’ itu kapan selesainya.

  8. waaahh..songjin ad ajj..pi ckup mnyntuh isi suratny..mrk (kyujin) sprti pham btul 1 sm laen..dlm hal trtntu,,krn trkdng sm” keras kpala, trus gengsian, jd utk jujur, atau skdar muji tu sunggh jrng..
    ck..g tau ajj songjin, kyu dh mmpiin ttg putri mrk yg cntik..kkk ga mo pny ank lg dr dy?? tntu ajj dy mau… (#kyu msih nyimpen tu mmpi wat dri sndri y??
    trus kira” aknkah kyujin plus hyun gi jd lburan?? adkah besok kyu dptin kjutan???

  9. Auwww surat cinta dr songjin buat hyun gi dr ibu buat anaknya, serius pas baca sedih dan terharu, gmn perjuangan songjin buat pertahanin hyungi dan perjuangan dia buat lahir normal yg akhirnya malah bikin dia koma selama 3 bln pst saat2 itu kyu terpuruk, sedih dan gak tau hrs gmn kasian jg sama hyun gi yg baru lahir malah gak bisa disusuin sama ibunya.. Jd ya i know kyu feel lah klo saat ini dia gak mau buat songjin hamil lagi krn pst msh trauma dan takut sama kejadian sblmnya..

  10. favorit ku dari ff mu adlh kta2 filsafat , yang menyentuh , dan bisa dijadikan pljrn,
    bukn sekedar cerita cinta ajh tpi inspirasi 😆

  11. Suratnya songjin …, gak nyangka bisa buat surat semanis itu… emang yg namanya ibu itu bakalan memberi semua untuk anak2nya. Kyu gak mau punya anak lagi soalnya dia takut kejadian yg mengerikan bakalan terjadi lagi. Sampai nahan2 ampe brp bulan itu.. marahan habis itu romantis , pasangan lawak gak ada habisnya

  12. Entah kenapa setelah aku baca fanfic km itu, aku merasa seperti orang yg menjadi tokoh dlm cerita, kemudian memetik pelajaran dr perjalananku. Sungguh pemilihan kata, tanda baca, penekanan setiap kejadian yg ingin km tekankan itu sukses tersalur sama si pembaca. Swer, buktinya aku sbg contohnya.

  13. aku pikir di awal cerita songjin bakal mati ataw punya penyakit apa gitu eh tau nya nggak makin kebawah makin manis aja 😀 Aplgi swet gitoh . . .

  14. Ya Allah Gw nangis masa baca suratnya 😭😭 Nyelekit nyelekit gimana gitu 😭😭… Emang yah yang namanya ibu , dia bakal ngorbanin apapun buat anaknya. Apapun. Meskipun itu nyawa dia sekalipun. Dan kegamauan kyuhyun embul buat punya anak lagi sangat bisa untuk difahami. Dia cuman takut hal yang ngeri itu kejadian lagi

  15. Jadi itu toh yg terjadi saat hyun gi lahir .. smpe koma 3 blan pantes aja kyuhyun pikir2 lg pas songjin bilang mwu punya anak lg

  16. Ternyata songjin sempet koma 99 hari? Pantesan di cerita sebelumnya bilangnya pulang setelah dirawat melahirkan 1 bulan… Waktu itu aku mikirnya lama amat di rs nya… Ternyata… Ya ampuun…. Nyesek bgt… Pasti kyuhyun sakit bgt deh😥

  17. hiks suratnya songjin buat hyun gi bikin terharu😭😭, jadi mereka udh resmi baikan nih😃, songjin buruannya kb napa 😒

  18. Emak bapak yang super amburadul , ada ajah topik yang bikin marah ketawa senyum . Dari marahan trus baikan , suaranya juga menggelegar kayak di hutan , padahal Hyuno Gi masih bobo. Btw , suratnya Songjin itu menyentuh banget . Bener2 sayang Hyun gi and cinta Kyuhyun.

  19. Pingback: Kumpulan FF Kyuhyun Wordpress Terbaru - Triknesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s