[KyuJin Series] Photogenic Baby


[KyuJin Series] Photogenic Baby

Cho Kyuhyun | Cho Hyun Gi | Park Songjin

Ficlet

Istriku melakukan hal gila lagi kali ini. pun lagi-lagi tanpa sepengetahuanku wanita ini (mungkin) baru saja menyetujui kontrak kerjasama dengan salah satu brand pakaian bayi ternama— dan menggunakan dalih bawa fotografernya adalah orang yang kami kenal. Jung Dong Sun.

 

Aku tidak ingat kapan lebih tepatnya Songjin menjadi begitu akrab dengan lelaki yang dulunya gempal, namun harus kuakui kini memiliki bentuk tubuh bagai model celana dalam Calvin Klein ini.

 

Seingatku Songjin begitu anti padanya. Aku masih ingat betapa dulu Songjin kerap kali kedapatan memiliki ‘bentuk’ yang kacau karena menjadi salah satu korban bully lelaki ini.

 

Terakhir kali adalah ketika aku menemukan pergelangan tangannya telah berwarna kebiruan dan Songjin seolah takut atau malas aku sungguh tidak tahu lagi, untuk mengatakannya secara terus terang, mengenai apa yang terjadi padanya.

 

Saat itu, aku telah berjanji pada diriku sendiri, Siwon Hyung dan Kim Dong-Ah Ahjussi bahwa itu adalah terakhir kali istriku berurusan dengan Jung Dong Sun. aku akan mengurus si balon udara itu sendiri. dengan tanganku sendiri.

 

Tapi yang kutemukan sore ini adalah keterbalikannya. Aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak tahu bagaimana awal mulanya. Yang kutahu, Songjin menghubungiku ditengah kepelikan meja kerja, dengan tumpukan dokumen— bahkan belum seluruhnya kubaca— memintaku untuk datang karena kebetulan, lokasi mereka sedang tak begitu jauh dari kantorku.

 

Plus iming-iming makan siang bersama, namun hingga detik ini kami masih-belum-pergi dari gedung entah apa namanya ini.

 

“aku tidak suka ini.” kataku berterus terang padanya. Biarpun diwajahnya terus menerus menyediakan senyuman belebihan, menurutku— tapi aku yakin Songjin mendengarku. Aku tidak perlu mengulangnya.

 

“kau tidak perlu menyukainya. lihat saja dulu!” tetapi Songjin adalah Park Songjin yang jika sedang kelewat senang, tak akan pernah menggubris hal lain disekitarnya. Termasuk diriku.

 

Tidak banyak yang bisa kulakukan. Sepanjang pemotretan, aku hanya berdiri memerhatikan betapa putraku bisa tampak begitu santai, seolah tak sedang terjadi apa-apa padanya.

 

Seolah, kilatan blitz, atau panggilan-panggilan bernada kelewat manis— jelas memiliki maksud terselubung didalamnya namun kurasa otaknya masih terlau dangkal untuk memahaminya. Seolah berganti pakaian lebih dari lima kali dalam waktu tak kurang dari 2 jam adalah hal yang wajar.

 

Cho Hyun Gi malang, putraku sayang.

 

Kuhela napas dalam-dalam dengan harapan emosiku segera memudar– walaupun agaknya, itu terdengar sedikit mengada-ada. Kupejamkan mataku sesaat, setelah itu menoleh pada orang dibalik semua ini, “dia masih bayi, apa yang kau pikirkan sebenarnya?” serangku pada Songjin.

 

Songjin lagi-lagi tersenyum. Tidak terlihat khawatir atau apa, ketika kami sama-sama melihat, putra kami sedang menjadi bahan bulan-bulanan manusia tanpa rasa puas disana, yang bisa menjadikan sebongkah batu tak berguna, menjadi tumpukan uang hanya dengan kamera saja.

 

“fotogenik.”

Aku menatapnya tidak mengerti, “apa?”

“Fotogenik.” Ulang Songjin. alih-alih mencoba menghentikan hal mengerikan dihadapan kami, Songjin malah menyelipkan tangannya diantara tanganku. Memagutnya lalu menyandarkan kepala pada bahuku.

 

Kalau dia sedang mencoba membuatku tidak marah padanya (lagi) dengan cara seperti ini, dia sungguh salah besar. Aku benar-benar sedang marah dan tidak ada satupun hal yang bisa membuatku berhenti merasakan ini kecuali pemotretan ini segera usai.

 

“kau tidak lihat?” lalu kudengar suaranya perlahan-lahan lengkap dengan helaan napasnya. Aku rasa berada ditempat ini sejak pagi membuatnya merasa lelah. coba bayangkan bagaimana lelahnya Hyun Gi saat ini kalau begitu? Dia benar-benar keterlaluan!

 

“diakui atau tidak, Hyun Gi memiliki kelebihan lain pada wajahnya. Selain tampan, dia juga fotogenik. Kalau kurasa itu bisa berguna— kenapa tidak?”

 

berguna? Berguna untuk? hei, sejak kapan isi kepalanya mulai pada hal berbau komersil?

 

“semua orang menyukainya Kyuhyun-ah!”

ya ya ya, aku tahu itu. gelak tawa para crew itu, tidak mungkin berawal dari warna tembok kusam membosankan disini. atau dari penerangan-penerangan disekitar sini juga. Tapi aku boleh berpendapat lain, bukan? Maka kukatakan saja apa yang kurasakan, “aku tidak!”

 

“dengan pakaian iron man itu juga?”

 

dari tempatku, aku bisa melihat Hyun Gi sedang merangkak perlahan-lahan, melihat kanan dan kiri seperti mencari seseorang yang dikenalnya, dengan pakaian jumpsuit hoodie berbentuk superhero terkenal di Amerika sana.

 

Bukannya aku tidak suka. Hyun Gi terlihat sangat lucu menggunakan pakaian itu, aku tahu. Wajahnya menjadi bulat dan matanya terlihat sangat besar. Wajahnya memang fotogenik— tepat seperti apa yang Songjin katakan. namun aku tidak mendapatkan satu alasan tepat mengapa aku bisa memberikan izin pada hal semacam ini.

 

Hyun Gi masih terlalu muda. dia masih belum tahu apa-apa mengenai hal semacam ini. kalaupun diluar sana terdapat banyak sekali para bayi yang menjadi model sebuah brand pakaian bayi, biarlah mereka menjadi seperti itu— tapi tidak dengan anakku.

 

Anakku bukan untuk dinikmati banyak orang. Bukan juga komoditi perdagangan. Dan sebagai seorang ayah, aku sungguh menentang hal ini. sayangnya Songjin tidak memahami alasanku. Yang wanita ini tahu hanyalah, ‘Oh, Hyun Gi lucu sekali dengan pakaian ini!!’ semacam itu.

 

Dan daripada aku memiliki pertengkaran yang lebih menghebohkan daripada ini, aku lebih memilih untuk duduk disalah satu kursi di bagian paling belakang— jauh dari keributan dimana orang-orang sedang sibuk memanggil nama putraku dengan biscuit cokelat ditangan mereka.

 

Terang saja sogokan sialan itu pasti berhasil. Pertama: itu makanan kesukaannya. Dan kedua: dia sedang dikelilingi oleh orang-orang yang menyodorkan makanan kesukaannya. mungkin yang ada didalam isi kepala Hyun Gi adalah pertanyaan ‘biskuit mana yang harus kuambil lebih dulu?’ mengingat betapa rakusnya bocah itu pada makanan kering berwarna cokelat tersebut.

 

“kau benar-benar tidak bisa menikmati hal ini sebentar saja ya?”

“menikmati putraku menjadi komoditi perdagangan? Tontonan gratis untuk semua orang nanti? Tidak. Aku tidak bisa.”

 

Aku membayangkan wajah Hyun Gi akan terpasang pada beberapa papan reklame disekitar jalan raya bebas hambatan. Atau pada brosur yang tersebar di jalan-jalan umum padat penduduk. Atau, pada televisi ketika jeda pada suatu drama.

 

Kalau itu adalah anak Kim Eun Soo, aku tidak akan heran. Tapi ini adalah putraku. Aku sama-sekali tidak pernah membayangkan bahwa putraku akan menjadi bulan-bulanan seperti ini.

 

Entah mengapa, menurutku ini bukan ide yang benar.

 

Songjin ikut menghempaskan tubuhnya dikursi kosong disampingku. Wajahnya terlihat tak bermasalah sedikitpun-biarpun sejak tadi aku memarahinya. Mata kami sama-sama tertuju pada Hyun Gi didepan sana. Hanya terdengar tawanya yang melengking seolah saja, tubuhnya sedang digelitiki oleh bulu-bulu halus, dan itu membuatnya geli.

 

“kau berlebihan.” Katanya begitu santai. “aku hanya ingin ikut kontes bayi pintar. Kurasa Hyun Gi pasti menang karena kadang kurasa isi kepalanya tidak sesuai dengan usianya. Dan Hyun Gi tidak hanya pintar. Dia juga fotogenik.“

 

Tunggu! Aku menyaring kembali kalimatnya tadi. disamping panjangnya penjelasan alasan mengapa putraku dikelilingi oleh blitz, ada kata… berlebihan?

 

Itu pasti untukku kan?

 

Kalau aku memiliki remote control seperti milik Adam Sandler dalam Drama Click, mungkin aku sudah mempause seluruh kegiatan diruangan ini dan bertanya padanya lebih spesifik, apakah lampu sorot seterang dan sepanas itu bukanlah hal berlebihan bagi bayi 8 bulan?

 

Apakah berada diarena prmotretan dari pagi hingga sesore ini, bahkan men-skip jam tidur adalah hal wajar bagi seorang bayi? Kalau itu semua adalah wajar baginya, sepertinya aku memang baru saja menyadari bahwa selama ini aku jatuh cinta pada wanita gila.

 

“selain memastikan kalian mendapat kebutuhan tanpa kurang suatu apapun, selain menjaga dan memberikan perlindungan 7×24 jam, memberikan perhatian dan kasih sayang, mengkhawatirkan keluarga adalah salah satu tugasku.” Kataku— sebenarnya mengulang ucapan Appa dulu, saat Siwon Hyung bertanya mengapa Appa berada rumah sakit saat dirinya terkena demam tinggi dan bukan berada dimana entah seharusnya Appa berada, karena pekerjannya.

 

“—aku kepala keluarga. Aku yang bertanggung jawab, itu sudah menjadi pekerjaanku untuk mencemaskan apa yang semestinya kucemaskan.” Lanjutku lebih tegas. Memberikan banyak penekanan agar Songjin paham, bahwa ini bukanlah sekedar kekhawatiran berlebih yang muncul atas perasaan tidak suka.

 

Jauh disamping alasan sederhana itu, aku memiliki setidaknya alasan masuk akal mengapa aku ingin hal ini segera dihentikan.

“bukan karena cemburu?”

“cemburu?”

“kau tidak menyukai Dong Sun?”

“aku memang tidak pernah menyukai si tengik itu— tapi aku jamin aku memiliki alasan lebih masuk akal kali ini.”

“kau yakin?” Songjin mulai tertawa. menertawaiku lebih tepatnya. Sialan.

 

“aku terlihat kurang yakin apa?” aku menoleh, kutunjukkan wajahku padanya namun Songjin mengeluarkan tawa lebih kencang. “itu tidak terlihat meyakinkan—“ katanya, “tapi kau tampak tampan. Masalahnya, aku bisa menjadi sangat rentan dengan pria tampan.”

 

“apa?” kembali kuhitung mundur, semenjak kemarin Songjin sudah mengumbar pujian banyak sekali untukku, dan kurasa, itu bukan Park Songjin sekali— kau akan menyadarinya jika kau mengenalnya sebaik aku.

 

mataku memicing tanpa perlu kuberi aba-aba, “ini, bukan tentang black credit card, lagi kan?” aku teringat benda mungil namun memiliki kekuatan sebesar dewa zeus bagi wanita ini dan segala obsesinya pada benda tersebut. Beberapa hari lalu Songjin mulai merecokiku dengan ocehan mengenai ‘aku ingin kartu itu’ lagi setiap detik hidupnya, seolah tiap hembusan nafasnya, adalah usaha untuk mendapatkan kartu itu saja.

 

“aku tidak akan memberikannya padamu seberapapun kau menggodaku, Park Songjin!”

 

“tidak sedikitpun?”

“tidak seujung kukupun.” Tegasku. “jadi ini sebenarnya apa? Kontes bayi pintar? Atau kontes membuat suami kesal?”

 

Songjin mengerucutkan bibir panjang-panjang. Mungkin dia sedang membuat wajahnya tampak menyedihkan atau apa, tapi aku sedang tidak tertarik dengan rajukannya.

 

Sebaiknya kalau akan diadakan kontes, itu adalah kontes seberapa sedikit fungsi otak dapat bekerja. Karena aku sungguh akan menjorokkan wanita ini agar terjembab masuk kedalam kontes itu.

 

“hentikan pemotretan ini, Songjin aku serius. aku tidak suka melihat wajah anakku ada di papan reklame.” Perintahku sangat tegas. “sekarang.”

 

 

123 thoughts on “[KyuJin Series] Photogenic Baby

  1. Hyungi emang lucu dan fotogenik tapi…kali ini setuju sam a kyuhyun, hyungi kan masih bayi gak lucu aja kalu tiba” sakit krn kelelahan dan kurang tidur, dan lagi knpa songjin gak minta ijin dulu sama kyuhyun??

  2. jd isinya sepasang suami berantem yahhahahahah well setuju sih sama kyuhyun, dengan segala alesan yg disebutin itu setuju bgt kesian hyun gi walaupun ga mgerti apa2. songjin juga hefrereehh bener2 dah gemes bgt pengen cubit dikit hahahah

  3. jung dong sun tmn sekolah mreka kn yg ska jailin smw murid trmsk songjin? yg gendut? yg prnh kena kibas kyu gra2 ganggu songjin? yg preman itu d sekolahan dlu? wew jd seksoy dong klo iy skrg uuuuuuuuuuuuuwwwwwwwww :* kyu kbalikan’a dl sixpek skrg mbrot 😛
    kyaaaaaaaaaaaaaaa sumpah sumpah sumpah baby hyun lucu maut! >o< 😀 :* ❤ iya emang photogenic bgt baby hyun! 😀 yup baby hyun pintar & photogenic 😉

  4. hyun gi lucunya😍😍, kyuhyun benar juga hyun gi kan masih kecil walaupun dia lucu, kasian juga masa hyun gi kekurangan waktu tdrnya😣 hanya gara² kontes dan pemotretan 😢😢

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s