[KyuJin Series] Worddiction — Raison de’être


[KyuJin Series] Worddiction

Raison de’être

Cho Kyuhyun | Cho Hyun Gi | Park Songjin

Oneshot

PS: Hiho! ini hanya baru 2 minggu saja saya gak update, tapi saya sudah rindu sama keluarga otak geser ini lol. padahal tadinya, saya punya rencana akan posting satu sampai dua bulan lagi saja. ini murni dikarenakan antara sedang malas nulis, ada beberapa plagiat, copycat etc, dan terlalu-banyaknya-siders yang sudah semakin mengurangi rasa semangat menggebu nulis. Ketahuilah, 3 hal ini fatal sekali akibatnya 🙂

Untuk selanjutnya mungkin saya akan posting worddiction atau (Word Addiction). Tidak hanya dalam bentuk oneshot tapi drabble, ficlet, dan vignette (yang jelas gak akan sampai twoshot apalagi chaptered). Akan selalu menjadi KyuJin series tapi tidak selalu after story. perhatikan lagi tag yang saya pakai untuk setiap worddiction yang saya post untuk mengurangi kalian bertanya-tanya ‘kok?’, ‘lho?’, ‘ini apa sih?’ dan sebagainya, karena bisa jadi itu juga terposting dalam konsep before story dan sebagian dari kalian, mungkin belum paham dengan before story mereka. Yang belum paham dan mungkin ingin tahu, bisa klik disini.

Anyway, rasanya tidak ada lagi yang harus disampaikan kecuali 2 hal penting ini: dimohon untuk tidak menjadi pembaca gelap dan copycat. Perlu diketahui, walau bentuknya tidak indah atau bahkan membosankan, karya tetaplah karya. kreativitas tetaplah kreativitas– dan itu mahal harganya. Tidak semua orang sanggup membuat, karena itu mereka berupaya lain dengan cara tidak sehat yaitu mencuri ide orang. Untuk mereka, saya hanya akan berpesan dua hal, karma itu ada, dan Tuhan tidak tidur. Good Luck yo’ dumbass! 🙂 

Thank You…

….and By the way, Enjoy! 😀

Sudah berpuluh jam lamanya Cho Kyuhyun hanya berkawan tumpukan kertas dengan sebuah computer canggih berada dihadapannya— masih terlihat memancarkan sinar terang seolah tak pernah lelah biarpun telah seharian penuh digunakan.

 

Lain halnya dengan computer canggih disana, Kyuhyun malah terlihat sebaliknya.

 

Dasi yang pagi tadi masih menggantung disekitar leher, entah berada dimana sekarang. Jasnya sudah tanggal. Dan dua kancing teratas kemejanya telah tak menyatu seperti pagi tadi saat dirinya sampai diruang kerja miliknya ini.

 

Kewalahan. Anggaplah seperti itu.

 

Berulang kali Kyuhyun membuang napas berat. Tangannya sudah melepas keyboard yang tadi selalu disentuhnya seolah itu adalah sesuatu paling sexy, yang mempu menaikan nafsunya hingga selalu disentuh olehnya tanpa pernah mau dilepas— pun ketika jam makan siang, atau jam-jam makan lainnya.

 

Bukannya Kyuhyun tidak ingat, situasi semacam ini begitu familiar untuknya. Pernah terjadi ketika Lyx bahkan baru berupa perencanaan saja. merencanakannya saja telah menguras segala miliknya.

 

Waktunya, uangnya, otaknya, hatinya, perhatiannya. Seolah dirinya adalah seorang perjaka tanpa beban apapun kecuali pekerjaan. Sesaat lupa bahwa ada seorang wanita dengan usia kehamilan tua menunggu dirumah.

 

Kini, segalanya nyaris terulang lagi. desahan akhir Kyuhyun meluncur saat matanya memandang nanar jam dinding— telah menunjukkan pukul 23:00.

 

Orang gila pun tahu, waktu pulang kerja sudah terlewat belasan jam lalu.

 

** **

 

“eomma menang!” suara jeritan Songjin adalah sambutan awal saat kaki Kyuhyun memasuki ruang santai rumahnya.

 

Secara otomatis, keningnya membuat kerutan saat suara dengan kalimat sama, lalu tawa yang sebenarnya lebih terdengar mengerikan daripada sebuah tawa bahagia menunjukkan rasa bangga pada sebuah kemenangan— membahana mengisi ruangan. Kepalanya menggeleng-geleng, dan tanpa disadari, Kyuhyun mengangkat sudut bibirnya untuk mengulaskan senyum.

 

Park Songjin memang akan selalu menjadi Park Songjin, tak peduli berapa usia wanita itu kini, atau nanti.

 

Namun sungguh keterlaluan namanya kalau Park Songjin, yang belakangan ini saat malam menjadi sulit tidur, kemudian dipagi hari secara otomatis sulit terbangun, kali ini wanita itu mengajak putra mereka yang masih belum tahu apa-apa untuk terjaga.

 

Atau, setidaknya, begitu yang Kyuhyun pikir— walau kemudian merasa sedikit bersalah saat melihat ternyata putranya pun masih menampakkan mata menyala tanpa ada tanda kantuk sedikitpun.

 

“mana biskuitmu!! Ayo berikan 3!” dari kejauhan Kyuhyun melihat Songjin duduk bersila. Dihadapannya terdapat Hyun Gi dengan kursi duduknya tampak muram. Diantara mereka berdua, tergeletak 3 kotak biscuit cokelat milik Hyun Gi— 2 diantaranya telah terbuka segelnya.

 

Kyuhyun berhenti, tidak melanjutkan jalannya. Alih-alih ikut bergabung, Kyuhyun malah diam ditempat sambil melipat tangan didada berdiri tegap disamping keramik vas China setinggi tubuhnya menonton ulah 2 makhluk aneh disana.

 

Oh, jangan lupakan ekspresi terkejutnya. Itu sungguh tak bisa diabaikan begitu saja— bahwa dia baru saja melihat wanita 25 tahun bermain poker melawan bayi dengan taruhan biscuit.

 

Apa-apaan?

 

Mulutnya menyuarakan mimic kalimat tanya itu tanpa suara kepada udara disekitarnya. Matanya berkilat melihat Hyun Gi mengigiti satu biscuit cokelat yang tadi digenggamnya kencang sebelum diberikan kepada Songjin, lalu Songjin memekik tak terima berkata “ewww” lengkap dengan wajah jijiknya.

 

“Cho Hyun Gi!!”

alih-alih merasa takut, Hyun Gi malah tertawa geli melihat sang Ibu tampak kesal. Dia seperti baru saja diberi tontonan seorang badut sulap atau apa— namun, tanda disadari, begitu pula Kyuhyun saat ini.

 

Tangan gemuk Hyun Gi terulur memberikan biscuit miliknya kepada Songjin. Biscuit itu sudah berubah warna menjadi kehitaman setelah terkena liur. Dibagian teratasnya, bahkan sudah layu, terbelah setelah Hyun Gi gigiti.

 

“itu bekas.” Ujar Songjin datar. Sudut bibirnya naik memberikan senyuman sinis, “kau benar-benar tidak mau rugi ya! Sama saja seperti Appa!”

 

Kyuhyun mendelik seketika. Namanya dibawa-bawa pada permainan kartu tolol antar 2 orang aneh beda usia itu yang bahkan tak menyadari kehadirannya sedari tadi dan hanya sibuk berdebat mengenai biscuit bekas.

 

Lucunya, seberapapun dirinya perotes, tak ada satupun dari kaki-kakinya yang berencana untuk pergi dari tempatnya. Kyuhyun seperti baru mendapatkan tontonan menarik dari chanel televisi ternama. Atau, dirinya harus mau mengakui bahwa ini bahkan terlihat lebih menarik.

 

no?”

 

play like a pro— Cho Hyun Gi seolah bernegosiasi kepada Songjin namun menggunakan wajah super polos dengan liur tersisa disudut bibir. Kyuhyun bahkan meragukan, apakah bayi itu memahami arti kata ‘no’ yang baru saja diucapkannya, namun pertanyaan itu jelas menjadi sebuah skak mat bagi Songjin.

 

betapa ‘cerdasnya’ wanita itu, bermain poker melawan bayi saja kalah. Kyuhyun sungguh yakin Hyun Gi tidak melakukan banyak hal kecuali hanya melempar-lempar kartu miliknya tanpa peduli apa-apa.

 

Kemudian duduk Songjin menjadi tegap— wajahnya tak lagi santai usai Hyun Gi berbicara. “mau menantang ya?” kesalnya “siapa yang ajarkan itu tadi?” dia mendengus. Bibirnya bergerak-gerak menguntuk entah siapa.

 

“siapa lagi?” dan Kyuhyun menambahkannya. Siapa? Memangnya siapa yang selalu bersama-sama dengan bocah itu satu hari penuh? Dirinya?

 

Oh, dirinya bahkan jelas menyadari bahwa beberapa pekan ini, berkat kesibukan barunya, dia baru melewatkan beberapa dari pertumbuhan baru putranya.

 

Katakanlah sanggup bermain poker walau bermain asal, adalah sebuah kemampuan yang patut diberikan apresiasi. Walau sesungguhnya, tak baik rasanya mengajarkan anak sekecil itu bergulat dengan kartu. Sebaiknya Kyuhyun memberitahu Songjin akan hal itu. tapi mungkin nanti saja.

 

Nanti, setelah pemandangan menyenangkan ini berakhir. Setelah tontonan yang dimata Kyuhyun mulai terlihat seperti film dalam putaran lambat-lambat ini usai.

 

Rasa lelah yang semula mencekik, kini entah berada dimana. Menguap begitu saja hanya dengan menonton gelak tawa Hyun Gi dan Songjin dalam memperebutkan biscuit taruhan mereka.

 

Kekesalan akan pekerjaan miliknya tadi, seolah hilang saat Hyun Gi bernegosiasi dengan mengatakan ‘no’ walau terdengar jelas sekali, Hyun Gi banyak menyelipkan ‘y’ ditengah ‘n’ dan ‘o’. itu adalah ‘nyyyo’ termenggemaskan yang pernah Kyuhyun dengar sepanjang hidupnya.

 

Dan rasa jengah kepada obsesi barunya dikantor, luluh seketika saat telinganya mendengar Hyun Gi tahu-tahu mengucapkan kata familiar ditelinganya.

 

“Appa?” Songjin menyahut dengan mulut penuh biscuit. Kedua alisnya terangkat memandang putranya, “sepertinya Appa tidak akan pulang secepat itu kali ini.” jelasnya bernada sama lesu “kita tidur lebih dulu saja, bagaimana?”

 

Bibir Hyun Gi terpaut mengerucut. Hyun Gi, seolah tidak terima dengan alasan ‘sepertinya Appa tidak akan pulang cepat’ dari Songjin karena bayi itu segera menunjukan wajah tak sukanya jelas-jelas. namun sama saja seperti Songjin yang pasrah, tahu bahwa biarpun menyadari hal tersebut— keduanya tak memiliki upaya apapun untuk membuat yang sedang dibicarakan tiba-tiba muncul dihadapan mereka begitu saja.

 

“kau tidur dengan eomma” Songjin melanjutkan. Itu terdengar lebih kepada permohonan sebenarnya. Mungkin tidur dengan lahan kosong disamping selama beberapa malam membuat Songjin merasa tidak nyaman atau apa.

 

Kyuhyun bukan tidak tahu bahwa dia kerap kali merasakan hal serupa— contohlah saja ketika Fashion Week berlangsung. Pria itu sendiri bahkan pada akhirnya menyusul Songjin ke Jeju. Jadi lihatlah, disini, siapa yang egois?

 

Bergulat dengan isi kepalanya sendiri, Kyuhyun tak menyadari bahwa tontonannya lenyap. Menyisakan suara debuman pintu tertutup cukup kencang. kini dihadapannya, hanya tersisa kursi duduk biru berukuran mungil milik Hyun Gi, dan kotak-kotak biscuit serta remahnya.

 

Kyuhyun diam. Sejenak memandangi karpet dibawah kakinya tanpa sanggup mengatakan apapun. Cho Hyun Gi yang selama ini dikenalnya sebagai musuh, bahkan merindukan dirinya. Atau sebenarnya, Hyun Gi hanya merasa kehilangan sosok ayah selama beberapa hari ini.

 

Selembar kertas gambar dengan 2 jiplakan tangan berbeda ukuran semakin membuat suasana hati Kyuhyun memburuk. Dibawah jiplakan tangan dengan warna pink dan hijau itu, terdapat tulisan Eomma, Hyun Gi, dan satu lahan kosong bertuliskan Appa.

 

Bukan hanya untuk Hyun Gi, kini Kyuhyun menyadari sosoknya pun telah semakin pudar pada wanita barbarnya. Sekonyong wajahnya terasa bagai diberi bogeman mentah. Seperti seseorang, baru saja mengocok-kocok tubuhnya hingga dirinya merasa sadar bahwa sesungguhnya, alasannya untuk bertahan selama ini dan tidak kabur dari hidupnya sendiri, adalah 2 orang aneh yang baru saja bertanding poker tadi.

 

Jika mereka tidak pernah ada, mungkin sudah sejak lama Kyuhyun menghilang dari peradabannya. Seharusnya, disini, dirinyalah yang berterimakasih kepada mereka— bukan tak mengacuhkan dengan berbagai alasan, serta menolak panggilan masuk jika nama Park Songjin mulai Henry sorakkan.

 

Memang apalagi alasannya mati-matian berusaha menembus daerah pariwisata di Negara pasta disana, untuk membuat satu buah resort lagi, jika bukan karena wanita barbar yang dikenalnya, amat menggilai tempat tersebut?

 

Mendapatkan pujian atas rasa bangga dari Songjin bukan hanya sekedar isu bagi Kyuhyun. Dirinya rela melakukan apapun untuk hal sederhana itu saja.

 

Apalagi motivasi bekerja keras kalau bukan untuk menjamin bahwa putranya harus mendapatkan kehidupan dan pendidikan layak? –atau bahkan jauh diatas kata layak.

 

Kini Kyuhyun bahkan tak ingat, apa dorongan terbesar darinya sendiri untuk mengejar setengah mati harapannya. Memang apa harapannya selama ini?

 

Memiliki keluarga? Hidup dengan orang yang disukainya diam-diam sejak lama? Membuat orang yang disukainya terkesan?

Ah, asalan itu masih saja berkait dengan Park Songjin dan Cho Hyun Gi. Bukankah begitu?

 

Seketika bahu Kyuhyun melemah— begitu pula dengan kakinya. Kini yang tersisa hanya gumpalan rasa bersalah serta jutaan rasa tak nyaman lainnya.

 

** **

 

“Paaaaaaaa!!” teriakan Hyun Gi menggema didalam ruang tidurnya saat Kyuhyun masuk kedalamnya. Cepat-cepat Kyuhyun meletakkan telunjuk didepan bibirnya— memerintah agar Hyun Gi tenang, supaya Songjin tidak menyadari kehadirannya, walau sepertinya si bocag ompong itu tak memahami utuh perintah Kyuhyun.

 

Cho Hyun Gi berguling diranjangnya dengan cengiran dan gigi 2 buah yang mulai terlihat jelas. “Apppapapapapapa!!” pipi gemuknya terus begerak-gerak ketika mulutnya berbicara.

 

“eomma sedang ditoilet?” tanya Kyuhyun pelan naik ke ranjang sambil melepaskan jas lalu membuangnya begitu saja ke lantai. Keduanya sama-sama menoleh kebelakang, pada pintu yang terbuka lebar namun mengeluarkan suara gemericik air. “ma!” Hyun Gi menyahut.

 

Kyuhyun terdiam sesaat. Memandangi betapa ternyata, sudah lama sekali dirinya tidak bergumul dengan putranya hingga tak sadar rambut bocah ini mulai lebat lagi. sebagian dari dirinya menyesali pertumbuhan bayi yang kini terkesan begitu cepat.

 

Atau, dirinya sajalah yang tidak pernah menyisakan waktu untuk menonton hal tersebut secara langsung. Kini Hyun Gi telah sanggup merangkak dalam kecepatan super. Tidak lagi berjalan lambat bagai siput. Otot-otot kakinya pasti sudah menguat ketika Kyuhyun bahkan tidak menyadari hal tersebut.

 

Jadi, apalagi setelah otot kaki yang menguat dan gigi tumbuh? Tubuh mulai membesar? Pelafalan kata-kata yang jelas? berbicara? berjalan? Jadi, apa secepat itu Hyun Gi tidak memerlukannya lagi nanti?

 

Kyuhyun menghela napasnya. Berbaring meletakkan kepala diatas tumpukan bantal. Bersama dengan itu, Hyun Gi merangkak naik keatas tubuhnya. Tangan gemuk-gemuk itu memukul dada Kyuhyun menarik perhatian pria tersebut.

 

“coba lihat gigimu.” Kyuhyun menarik turunkan kulit dagu Hyun Gi hingga dua buah bakal gigi, yang telah muncul separuh itu terlihat jelas. dia menghela napas lagi begitu berat, “ini tidak bisa dimasukkan lagi kedalam?” pintanya sambil menyentuh gigi susu tersebut penuh harap. Seolah dengan melakukannya, maka gigi-gigi itu akan turun kebawah dan bersembunyi lagi.

 

“kau bertambah besar—“ dengusnya seakan hal tersebut adalah salah, terjadi pada bayi. Lalu Kyuhyun mengusap kepala Hyun Gi. Rambut-rambut itu dulu pernah Kyuhyun potong dengan harapan tampilan bocah ini akan terlihat jauh lebih muda. bukan berarti saat ini Cho Hyun Gi adalah bayi yang tampak lebih tua dari usianya hanya dengan melihat wajahnya saja.

 

namun entahlah, ada yang hilang. Yang Kyuhyun sesalkan. Namun pria itu sendiri tak tahu apa.

 

I’ve said it before, don’t grow up too fast.”

 

Aura muram terbentuk tanpa siapapun sadari. Kyuhyun meletakkan Hyun Gi diranjang, kemudian menyisir rambut kecokelatan Hyun Gi dengan jemarinya, lalu tersenyum tipis. “tapi kau tetap tampan.” Ujarnya yakin “itu pasti genku.” Walau kemudian ditutup dengan pujian terselubung bagi dirinya sendiri.

 

“Hei, besok mau ke pantai?”

“he?”

“pantai.” Kyuhyun mengulang “pasir!” pekiknya. Namun Hyun Gi terlihat tak mengerti apa-apa hingga tak sempat memberikan ekspresi ketertarikan apapun pada tawarannya.

 

“Pantai Hyun Gi. Pantai.” Kyuhyun membuat tanggannya seolah mengikuti gerak air laut bergelombang. Hyun Gi mulai tersenyum, walaupun Kyuhyun sadar, bayi ini masih belum memahami maksudnya sama sekali.

 

“pasir. Kau bisa bermain pasir. Membuat istana pasir denganku.”

Wajah Hyun Gi malah nyaris datar kini. Hanya matanya saja yang sebesar bola ping-pong itu mengerjab-kerjab. Nyaris putus asa lagi, Kyuhyun menghela napas sambil merunduk.

 

Tetapi kemudian Kyuhyun teringat hal lain, kini dirinya jamin Hyun Gi akan mengerti. “air!” katanya kencang. “kau boleh bermain air.”

 

Lalu seperti dugaannya, wajah datar itu perlahan berubah menjadi gelak tawa kencang. tentu saja, seharusnya sejak tadi saja dirinya memberikan perumpaan itu kepada Hyun Gi.

 

Bocah tengik satu ini berbanding terbalik dengan sang ibu yang membenci air. Cho Hyun Gi menyukai air. Kalau saja bisa, mungkin dengan melepaskannya didalam air dilaut, kaki gempalnya akan langsung beradaptasi dengan air dan membuatnya mudah mengambang lalu lenyap karena sudah berenang entah kemana.

 

Membayangkan Kyuhyun buru-buru menambahkan kata-katanya, “dengaku. Tapi denganku.” ucapnya takut-takut. Didalam kepalanya, telah terputar satu adegan film ketika hanya kepala Hyun Gi yang menyembul dari air— bergerak menjauh ketengah laut menuju matahari berwarna oranye sambil melambai riang kepadanya berpamitan.

 

Ah, Cho Kyuhyun kadang memang bisa menjadi setolol itu.

171 thoughts on “[KyuJin Series] Worddiction — Raison de’être

  1. cho kyuhyun selalu berambisi kalo lagi melalukakan project baru ampe keluarga kecilnya diabaikan
    songjin songjin masa anak sekecil itu kau ajak bermain kartu
    manis bnget interaksi kyuhyun ama si hyungi walaupun kadang suka gak akur hehehe

  2. ambisi seorang Cho Kyuhyun gg ada yg bs mencegah walaupun ambisi itu selalu berhubungan dg Songjin atau Hyun Gi.. bagaimanapun dia seorang ayah yg jg punya tanggung jawab.. well Kyuhyun rubahlah dirimu yg gila kerja itu.. Millenies gg akan bangrut XD

  3. Ambisi kesuksekan Kyuhyun pasti gak jauh jauh buat Songjin bahagia dan Hyun Gi hidup layak bener bener suami dan ayah idaman ^^ , ini yang buat agak gak suka sama Kyu terlalu memforsir buat kerja gak peduli dia lelah T.T gimana kalo dia sakit

  4. Suami pengertian yah wkwk rela kerja capek buat bahagia.n kluarga hhh…That right,kyu ingin ank.a jd bayi lagi yg botak?? Wkwk cho kau tidak selalu bisa mendapat apa yang kau inginkan,tetapi sabar aja nanti pasti kau akan dapat apa yang kau butuhkan yaitu *Perfectfamily* hhh

  5. Kyu nyadar jg klo dy khilangan byk momen kluarga kcilnya….aigoo uri hyun gi bnr2 mnggemaskan,bagaimana mngkin dy bs bernegosiasi ttg biskuit dgn ibunya sendri……..saat kata air terdengar olehnya rasanya hyun gi lngsung faham kata pantai…hahahaahhahahahahaaha

  6. uri songjin dan hyungi menggemaskan,lucu masa main poker taruhan biskuit songjin gk mau klah sma anak kcil wkwkwk

  7. songjin benar2 konyol ms bayi di ajak main poker wkwk….khayalan kyuhyun tentang hyun gi sungguh2 deh……untung langsung sadar…..

  8. Untung cuma main poker bkn tanding main ps. Klo ga kyuhyun bklan shock haha kasian hyun gi dan songjin ksepian. Iya ath skali2 main pokernya brtiga
    #eh

  9. Untung cuma main poker bkn tanding main psp. Klo ga kyuhyun bklan shock haha kasian hyun gi dan songjin ksepian. Iya ath skali2 main pokernya brtiga
    #eh

  10. gpapa sih gila kerja asal jgan sampe bertingkah seolah2 ga punya keluarga dan jd sosok menyebalkan suka marah2 gaje kyak di series i thought i lost u..

    ditunggu karya2 mu yg lain ka ! fighting !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s