[KyuJin Series] Worddiction — Torpe


[KyuJin Series] Worddiction

Torpe

Cho Kyuhyun | Choi Siwon | Park Songjin

Oneshot

PS: seperti pesan saya sebelumnya, tolong perhatikan tag untuk meminimalisir pertanyan, ‘kok?’, ‘lho?’, ‘ini apa sih?’

Kyuhyun berdiri didepan sebuah bangunan megah dengan dahi berkerut. Tempat itu terlalu sunyi jika benar Park Songjin berada didalamnya. Begitu yang Kyuhyun pikirkan.

Langkahnya dimulai dan suara roda koper mengikuti setiap derapnya. Dia baru saja kembali dari Jepang usai mengekor ayahnya dan Siwon dalam mengurus pekerjaan mereka— namun entah mengapa dan bagaimana, sekembalinya ke tanah air, Kyuhyun malah mendapati dirinya tidak kembali kerumahnya lantas malah kemari. Kediaman Park Seul Gi.

Biasanya Kyuhyun tidak pernah mengetuk pintu. Dia akan langsung masuk karena toh, tidak pernah ada larangan baginya untuk langsung masuk dan menyeret putri pemilik rumah sesukanya.

Kali ini berbeda. Usai ketukan kelima, tak sekalipun Kyuhyun mendengar seseorang akan menjawabnya, apalagi membukakan pintu. Tetapi mungkin, mobil yang baru saja memasuki pekarangan memiliki jawaban.

“tidak ada siapapun dirumah?” mata Kyuhyun terpekur pada wanita berambut nyaris putih seluruhnya, namun entah bagaimana masih tampak segar bugar seperti berusia 30an.

Untuk beberapa saat, Han Jo Sung hanya terdiam dan melanjutkan langkahnya menuju pintu utama. Menuju dimana Kyuhyun berada berusaha memikirkan hal lebih masuk akal mengapa Cho Kyuhyun bertanya padanya mengapa tidak ada siapapun dirumah ini.

Sesungguhnya juga memikirkan banyak sekali kemungkinan alasan yang bisa digunakannya ketika Kyuhyun melemparkan pertanyaan lain padanya. Cho Kyuhyun bukan orang bodoh yang bisa ditipu begitu saja.

“Bibi?”

“ayo masuk!” tawar wanita paruh baya itu kemudian setelah bunyi pintu telah terbuka dengan kunci. “kenapa sepi sekali?” namun telinganya mendengar pertanyaan lain dari Kyuhyun.

Han Jo Sung tak berbicara lagi. wanita itu segera menaiki anak tangga menuju sebuah ruangan— merasa risih karena Kyuhyun membuntuti namun tak banyak berbicara mengenai hal tersebut.

“ini terlalu sunyi untuk tempat dengan Park Songjin didalamnya, ‘kan?” tawa Kyuhyun membahana mengisi kekosongan bangunan besar tersebut. Suaranya menggema, tanda tempat itu memanglah sungguh sangat sunyi.

“pukul berapa ini memangnya? kalau dia masih tidur, bagaimana jika terjadi gempa bumi dan dia tidak juga terbangun karena hal itu? kau tahu bagaimana wataknya ‘kan? dasar gila!”

napas Han Jo Sung tertahan lama. Wanita itu berhenti berjalan lalu berbalik badan memandang Kyuhyun. Lelaki yang sedang menyengir tolol membayangkan seorang wanita sedang tidur begitu pulasnya dan tak akan sadar biarpun tsunami atau gempa mahadahsyat sekalipun datang “dia tidak sedang tidur—Kyuhyun-ah“ jelas Han Jo Sung memulai.

“lalu?”

“dia…”

** **

“jelaskan.”

“Hei! Seharusnya aku yang mengatakan itu! Jelaskan, kapan kau pulang?” Songjin tersenyum lebar. Sungguh terlalu lebar dan terlihat terlalu sangat ceria untuk seorang wanita dengan luka lebam dipelipis hingga pipi menyisakan warna biru ditempat yang seharusnya memiliki rona kemerahan.

Terlalu bersemangat jika dalam hitungan seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan tunggal dengan hasil tulang tangan kanan patah dan kedua kaki terkilir hingga membengkak.

Park Songjin tolol. Gadis itu menaiki motor besar milik Park Seul Gi— ayahnya ketika dirinya sendiri bahkan belum tahu cara mengendarai motor berkopling.

Ini percobaan bunuh diri namanya— batin Kyuhyun tak pernah sekalipun dikatakannya, namun terus diulangnya dalam hati dengan penuh amarah dan rasa geram serta puluhan hasrat ingin membuat satu benjolan besar dikepala gadis ini dengan menjedukkan tiang selang infus keras-keras.

Kyuhyun merasa tak perlu menjawab pertanyaan bodoh semacam itu. kopernya disamping sofa telah menjawab pertanyaan Songjin tadi— seharusnya, jika gadis ini cukup cerdas untuk menyadari bahwa ini adalah pagi pertamanya di Korea Selatan setelah kepergiannya selama 1 bulan penuh ke Negeri sakura.

Pagi pertama dengan sambutan begitu mengejutkan. Tunggu sampai Choi Siwon mengetahui hal ini. Park Songjin bisa hanya tinggal nama saja.

“aku hanya pergi 30 hari Songjin. dan kau sudah sekarat.”

“Pih!” buru-buru Songjin mencibir ucapan Kyuhyun terang-terangan dihadapan pria itu sendiri. Songjin lalu melanjutkan, “kalau aku sekarat, aku tidak bisa membaca majalah ini!! berlebihan sekali.” Ucapnya tak kalah ketus.

“biar kutebak, ayahmu tidak tahu.”

Itu jelas bukan pertanyaan. Itu adalah sebuah pernyataan sederhana mengenai betapa Kyuhyun mengenal Park Songjin— bahwa gadis ini adalah orang yang tahu bagaimana cara membuat masalah, namun tak pernah tahu cara membereskannya.

“jangan sampai tahu kalau begitu.”

“Ohya?” alis tebal Kyuhyun meranjak naik tinggi-tinggi, “akan kuberi tahu!” katanya begitu yakin hingga membuat Songjin tak lagi tenang diranjangnya.

“YAA!!” Songjin membanting majalahnya kesal. Dia buru-buru melirik satu-satunya orang dengan kemungkinan terbesar telah membuka rahasia mereka dan memberi tahu bahwa dirinya sedang berada disini! Han Jo Sung.

Sedangkan orang yang dilirik tajam-tajam langsung mencari kesibukan lain, memandangi mobil-mobil dari balik dinding kaca tebal, seolah menonton kepadatan jalan raya adalah hal yang lebih menarik dibandingkan menonton perkelahian antar sahabat didepannya.

“kenapa kau datang kemari? Seharusnya kau pulang saja! ini urusanku bukan urusanm—“

“Ohya?” nada Kyuhyun meninggi. “ini jelas urusanku. Aku baru saja mendapat kabar segar bahwa motor besar ayahmu remuk dan putrinya sedang menjadi mumi dirumah sakit. Menurutmu, sebagai orang tua, apa yang akan mereka lakukan jika mengetahui putri mereka melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan saat mereka pergi bekerja??”

“mereka tidak akan peduli!” suara Songjin tak kalah meninggi “Appa bisa membeli motor yang sama kalau dia mau!”

“bagaimana dengan nyawa?” sahut Kyuhyun cepat usai Songjin menutup mulutnya. “aku jamin ayahmu sanggup membeli sepuluh motor besar itu dalam satu kali transaksi, tapi bagaimana dengan nyawamu? Dimana ayahmu harus membeli nyawamu jika yang remuk adalah tubuhmu, dan nyawamu entah berada dimana sekarang?!”

Kyuhyun menutup mulutnya rapat. Terdengar suara gemeretak dan rahang yang mendadak mengeras usai penjelasan panjangnya. Matanya memerah. Entah adalah sebuah wujud kemarahan, atau tangisan yang belum sempat pecah karena dirinya sengaja menahan agar hal itu tidak terjadi.

Atau setidaknya, tidak untuk dihadapan gadis gila ini.

Dia bisa saja kehilangan si barbar ini dalam sekejap dan tidak mengetahui apapun karena Songjin melarang siapapun untuk memberitahunya.

Gadis ini kadang bisa jadi setolol dan segila itu. tapi kejadian ini adalah urusan nyawa. Tidak ada candaan atau alasan konyol untuk nyawa. Untuk mengusir rasa sepi, tidak harus selalu bermain dengan nyawa.

Hanya ada satu Park Songjin didunia ini, dan Kyuhyun benar-benar tidak memiliki ide dimana dirinya akan menemukan gadis seperti ini lagi. membayangkannya saja, emosinya mulai meranjak lagi. berhadapan dengan Park Songjin sungguh terlalu mudah untuknya memiliki emosi yang tidak stabil.

“Bibi Han, malam ini aku saja yang berjaga. Kau bisa pulang. istirahatlah saja dirumah”

“APAA? T—TAPI—“

pendelikan Kyuhyun membungkam Songjin. sedang Han Jo Sung tak pernah merasa heran dengan hal seperti ini— selalu menjadi tontonan kesehariannya sejak dulu, hanya tersenyum mengangguk patuh.

“kabari aku jika membutuhkan sesuatu.” Pesannya berbasa basi. Menyadari bahwa tak ada yang perlu siapa mengabari siapa jika terjadi sesuatu. Dalam hal ini, kakak beradik Cho dan Choi pasti akan mengambil alih sepenuhnya— lengkap dengan laporan penting kepada tuan-nya, mengenai permasalahan mereka.

Selalu seeprti itu, dan akan selalu begitu sampai kapan pun.

Senyum Kyuhyun tak lagi selebar pagi tadi, ketika dirinya bergurau bahwa Songjin sedang tidur pulas layaknya babi. Pria muda itu berwajah tegang bersungguh-sungguh meyakinkan Han Jo Sung bahwa kali ini mereka telah bertukar tugas dan Songjin adalah benar-benar urusannya, dan Han Jo Sung tak boleh ikut campur lagi.

Lantas dalam waktu bersamaan, ponselnya berdering menampilkan nama tak asing. Dalam sepersekian detik, cengiran sinis lelaki muda itu tampak nyata kepada Songjin mengatakan “matilah kau sekarang” – mendapat balsan wajah panic Songjin kemudian.

“Appa?” mata Songjin semakin membesar dari ukuran semula yang memang telah besar. “Appa?!! Jangan katakan apapu— Aish! Sialan! Kyuhyun-ah!!”

sia-sia saja jeritannya kini, Cho Kyuhyun telah beranjak pergi keluar kamar rawatnya. Sungguh, lilitan kasa ditangan dengan tulang patah ini benar-benar merepotkan bagi Park Songjin!

** **

Siwon ragu untuk menyesap gelas kedua kopinya. Tubuhnya terlalu sensitive menghadapi kafein. Satu gelas sudah lebih dari cukup baginya untuk terjaga semalaman— namun kali ini, rasanya dia tidak memiliki alasan lebih pasti mengapa dirinya harus meminum cairan pekat itu lagi.

Hanya ada cengiran kering tanpa suara Siwon berikan. Didalam kepalanya dia sungguh ingat kepanikan Songjin ketika dirinya datang. Awal pintu terbuka dan gadis itu segera menjerit mengatakan “aku hanya bermain-main saja, Appa”

Jadi gadis gila itu berpikir bahwa dirinya adalah Park Seul Gi— dan ketakutan setengah mati jika aktivitas bermain-mainnya itu tertangkap basah.

Atau, ada hal lain yang sebelumnya telah Kyuhyun sampaikan. Mengingat pria itu adalah orang luar pertama yang menyadari kekonyolan ini. apapun itu, Siwon merasa tak ingin ikut campur.

Gurat pada kening Kyuhyun ketika pria itu memejamkan mata, entah tertidur atau apa, adalah bukti nyata bahwa Kyuhyun sedang mengkhawatirkan sesuatu. Kali ini, Siwon kembali merasa tak ingin ikut campur— namun bukankah sudah terlihat jelas? si dungu ini menyukai wanita dengan bebat kasa ditangan kanannya!

Yang sampai saat ini masih berada dikamar rawat menolak berbicara dengannya karena dirinya baru saja memarahi habis-habisan gadis itu— kali itu Siwon bahkan tidak memikirkan lagi apakah Songjin akan menangis setelahnya.

Persetan dengan tangisan. Jika nyawanya lenyap, mereka bisa apa?

“kenapa tidak bicara terus terang saja?”

Kyuhyun membuka mata perlahan. Menemukan Siwon sedang menatapnya lekat dengan cangkir keramik masih menggantung ditangan. Secara tak sadar, satu alisnya meranjak naik hingga wajah arogan serta ketus kembali lagi hinggap diwajah rupawan itu.

“apa?”

“kau menyukainya.”

“huh?” Kyuhyun meggerakkan punggungnya. Menyandarkannya pada tembok dengan posisi berbeda kemudian melipat kedua tangan didada— memasukannya kedalam jaket supaya tak terlalu membeku karena dingin. “lucu sekali.” Tawanya tampak hampa.

Siwon mendengus mendengar cara berbicara Kyuhyun yang tak tampak seperti orang jatuh cinta. Tidak ada istilah mabuk kepayang atau apa— tapi sumpah, nalurinya tak pernah salah. Kyuhyun sedang jatuh cinta. Kepada Songjin. begitu yang diketahuinya selama beberapa bulan terakhir ini.

Persetan dengan Kyuhyun yang menyangkal mentah-mentah. Orang buta pun tahu, lelaki muda ini sedang dilanda kasmaran.

“tidak ada yang salah dari jatuh cinta kepada sahabat sendiri. bukankah begitu?”

“kau?” lempar Kyuhyun sangat cepat, “kau yang sedang jatuh cinta dengan cecunguk itu?” Kyuhyun lalu tersenyum seadanya dan menggelengkan kepala.

Seolah-olah, jatuh cinta kepada Park Songjin adalah hal yang salah dan fatal. Seolah jika dirinya tertangkap basah melakukan hal tersebut, maka rotasi bumi akan berubah. Gravitasi akan kacau. Air akan mengalir dari bawah keatas, bukan atas kebawah lagi.

Siwon tersenyum seadanya saja menanggapi Kyuhyun saat ini, seharusnya dia tidak terkejut. Kyuhyun memang seperti ini. beginilah sifatnya. Arogan, dingin, dewasa sebelum waktunya, namun dapat menjadi kekanakan diwaktu yang sama, sanggup menjadi cerdas dan bodoh dalam waktu bersamaan— Cho Kyuhyun adalah Cho Kyuhyun.

“aku penasaran apa yang kau katakan kepada Songjin sebelum aku datang.” Mata Siwon menyipit curiga, “aku yakin kau memarahinya lebih mengerikan daripada aku tadi.”

bahu Kyuhyun bergerak malas dengan mata masih memejam, “aku hanya mengatakan yang perlu kukatakan saja.”

“—Oh, seperti, ‘kau membuatku khawatir Songjin! dan lihatlah sekarang! Kau membuatku tidak bisa tidur!’ apa yang seperti itu juga kau katakan?”

Kyuhyun membuka mata lebar. Sambil mendesis— kali ini wajahnya cukup garang jika mesti dibandingkan dengan pemain gulat di televisi “siapa yang tidak bisa tidur?! Kau ini terlalu berlebihan sejak tadi! kalau hanya ingin menganggu, lebih baik kau pulang saja!!”

“wah, jadi sekarang aku diusir karena kau hanya ingin berduaan saja dengannya? Ah, Kyuhyunnie diam-diam kau romantis juga!”

“Hyung!!” bentakkan Kyuhyun bisa saja menjadi lebih kencang jika keduanya tak mendapati kursi roda dengan seorang perawat wanita mendorongnya mengelilingi kafetaria. Park Songjin duduk dikursi tersebut, terlihat terlalu serius meneliti buku menu.

Keduanya berpandangan— selama beberapa saat tak paham mengapa Songjin berada disini, namun kemudian sama-sama menghapus kerutan dikening ketika menyadari makanan rumah sakit tidak akan pernah cukup untuk lambung kecil Park Songjin.

“eonni ingin sesuatu?” Songjin tampak mengangkat buku menu ditangan kirinya— oleng, karena tangan kirinya tak sekuat tangan kanan, kemudian diturunkannya saat perawat dibelakangnya membisikinya.

“Hallo, aku Choi Siwon— temannya. Yang tadi datang paling akhir?” ragu-ragu Siwon berbicara kepada perawat muda tersebut. Senyumannya tak dibalas secara benar karena perawat tersebut mulai sibuk merapikan rambut yang telah rapi.

Panic. mungkin terkejut tak pernah melihat pria tampan sebelumnya atau apa. Siwon hanya sanggup menyengir tipis sebagai usaha untuk menyembunyikan luapan tawa lain karena persolahan ini.

Namun ucapan ketus Songjin yang mengatakan bahwa gadis itu tidak pernah memiliki teman bernama Choi Siwon membuat cengiran Siwon perlahan lenyap. Sepertinya Songjin benar-benar kesal padanya.

“biar aku saja.” pintanya ketika perawat tersebut akan mendorong kursi roda Songjin menuju kasir. “tiga muffin, dua ayam goreng, satu mie cup, dan ttoppoki?” Siwon mengernyit, “kau yakin kau sedang sakit?”

“aku tidak menerima pendapat siapapun.”

“aku tidak sedang berpendapat apa-apa! Tapi nafsu makanmu mengerikan sekali kau tahu?”

Songjin berdecak jengah, “jadi kau akan menolongku ke kasir atau tidak? Aku bisa meminta petugas keamanan untuk membantuku kalau kau masih diam disini!!” omelnya.

Dari kejauhan, hanya helaan napas tak kalah jengah yang Cho Kyuhyun berikan. Akui saja, kekesalannya masih menggunung kepada gadis tolol disana. Yang mencoba bermain nyawa hanya karena persoalan bosan. Jadi jika ikut menghampiri keributan disana, Kyuhyun terlalu yakin dia sanggup menjadi lebih keras daripada Songjin saat ini.

** **

“soda?”

“mau?”

“soda Park Songjin? soda!!” Siwon memelototi kaleng soda yang Songjin keluarkan dari selimut dipangkuannya. Entah bagaimana caranya gadis ini sanggup menyelundupkan minuman berkarbonasi itu ketika seluruh aktivitasnya dalam penjagaan ketat para perawat.

“aku sudah lama sekali tidak meminum soda.”

“tapi kau sedang—“

“YAAAAH!! KYUHYUN-AH!!” kini Songjin lah yang panic— nyaris melompat dari kursinya ketika Kyuhyun dengan cekatan mengambil kaleng soda miliknya. “ITU PUNYAKU!” teriaknya.

“tidak lagi.” Kyuhyun membalas santai membuka kaleng tersebut dan langsung menenggaknya. Suara kencang lemparan kaleng beradu dengan meja kaca terdengar ketika Kyuhyun meletakkan jus kalengan tepat didepan Songjin. “minum ini atau tidak sama sekali. Kalau kau berniat bunuh diri, bayar dulu hutang-hutangmu.”

Mata Kyuhyun hanya melirik Songjin sekilas saja saat tegukan terakhir soda hasil rampasan itu sampai. Kyuhyun jelas-jelas menangkap raut kesal Songjin padanya. Gadis itu benar-benar sedang mengibarkan bendera peperangan padanya. Tapi dia bisa apa? Songjin sangat keras kepala!

Dan gadis ini tak pernah paham jantungnya sudah berdebum tak karuan sejak awal matanya menangkap kaleng merah soda hasil selundupan Songjin itu! ah, Park Songjin memang tak akan pernah paham!

“hutang apa? Kenapa bunuh diri?”

“kau sedang mengonsumsi obat-obatan! Dan minuman ini adalah minuman berkarbonasi! Kau tidak mengerti? Kenapa aku tidak terkejut, ya? Otakmu itu ‘kan sedikit sekali!”

“memangnya itu urusanmu? Kau bukan ayahku! Tapi sejak tadi memarahiku saja! untuk apa kau disini kalau begitu? Bisa-bisa kau yang cepat mati kalau terus menarik urat!”

dan perdebatan panjang serta riuh mulai mengisi keheningan cafeteria. Seorang koki dibalik tembok mengintip dari kaca— hanya Choi Siwon yang menyadari— melambaikan tangan untuk memberi tahu bahwa ini bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.

Hal seperti ini selalu terjadi ketika dua orang ini bersama, dan entah mengapa, kini Siwon bukan terkejut melihatnya, melainkan tersenyum geli.

“kau urusanku!”

“aku??” telunjuk lentik Songjin mengarah pada wajahnya “kenapa aku bisa menjadi urusanmu? Kenapa kau peduli? Kau bahkan tidak menghubungiku sama sekali, sejak kau pergi kemarin, kemarin dan kemarin— tiba-tiba kau datang dan memarahiku karena aku jatuh dari motor ayahku— itu jelas bukan milikmu! Tapi kau mengamuk! Kau seolah sedang rugi besar atau apa!”

“ya ampun Songjin!!” Kyuhyun mencengkram rambut-rambutnya kencang “aku benar-benar sibuk! Apa kau kira aku sedang membual?”

satu buah strawberry Siwon masukkan kedalam mulut sebagai snack dalam tontonan menarik ini. Kyuhyun tampak bersungut seolah melayangkan protes kepada Songjin dan berusaha memberitahu gadis ini dirinya memang benar-benar sibuk selama di Jepang sana. Itulah mengapa mereka tidak sempat berkomunikasi.

Namun Songjin tak kalah kesalnya. Itu terlihat dari wajah yang memerah, serta mata berkaca-kaca. Songjin akan selalu menangis saat kesal, saat marah, saat sedih, apalagi senang. Tetapi Siwon dapat memastikan, jika tangisannya tumpah, maka itu bukan tangisan bahagia.

Mata Siwon berganti-ganti dengan cekatan. Memandang Kyuhyun, lalu Songjin, lalu Kyuhyun lalu Songjin— terus seperti itu hingga desisan Songjin dan lambaian tangan diudara tanda perdebatan ini sungguh perlu dihentikan oleh salah satu dari mereka Songjin layangkan.

Seorang petugas keamanan yang Songjin panggil untuk dimintai tolong membawanya kembali ke kamar datang menggiring kursi roda Songjin hingga menghilang dibalik pintu lift.

Siwon tersenyum. Senyumannya kemudian berganti menjadi kekehan. “begitu rupanya?” gumamnya menganggukan kepala. Memandang adiknya yang sedang tampak benar-benar putus asa.

“dia juga menyukaimu.” Ujarnya memasukan satu buah strawberry kemulut “dia kesal karena kau tidak bisa dihubungi? Apalagi alasannya kalau begitu?”

“dia juga kesal denganmu bodoh!”

“oh, aku tidak merasa sedang bersitegang dengannya. Dan sedikit informasi, aku menghubunginya setiap malam.” Siwon menjulurkan lidah mengejek Kyuhyun.

“dia menyukaimu juga, Cho Kyuhyun! Oh ayolah, jadilah pria! Katakan padanya aku mencintaimu! Permasalahanmu akan selesai sampai disini!”

“siapa yang menyukainya?”

“mencintai, mungkin—“ ralat Siwon “kalau hanya sekedar menyukai, aku menyukainya juga. Tapi disini, aku menyukainya dalam kadar yang berbeda. Dan kau—“ Siwon menunjuk Kyuhyun dengan strawberry baru ditangan, “kau jelas-jelas menyukainya dalam kadar berbeda.” Lanjutnya, “dalam tanda kutip.”

Siwon terbahak-bahak tanpa mempedulikan sungutan Kyuhyun untuknya kali itu. dia benar-benar tidak menyangka bahwa harga diri Cho Kyuhyun benar-benar setinggi itu bahkan pada persoalan hati.

“aku heran kenapa kau tidak menjadi penasehat kenegaraan saja? kau terlalu banyak membual Hyung!”

“aku akan menjadi penasehat cintamu saja Kyuhyun-ah. Jadi ayolah, susul Songjin dan katakan maaf. Katakan aku mencintaimu.” Kedua alis tebal Siwon bergerak naik turun menggoda Kyuhyun. “cepat!”

“pih!”

“ayolah!”

“kau sudah gila!”

“kau jatuh cinta dengannya!”

Kyuhyun buru-buru menggeleng keras dengan dengusan kencang. istilah jatuh cinta itu terdengar bagai lelucon baginya. Siapa yang sedang jatuh cinta sebenarnya? siapa dengan siapa?

Kepala Kyuhyun terus menggeleng, meyakinkan siapapun disana, termasuk dirinya sendiri bahwa tidak ada yang sedang jatuh cinta disini. termasuk dirinya. Tidak. Dia-tidak-sedang-jatuh-cinta.

Ini hanya sebuah perasaan khawatir terhadap sahabat mengingat hubungannya selama ini dengan Songjin— bukankah itu adalah sebuah alasan rasional mengapa kini jantungnya berdegup tak beraturan? Benar?

118 thoughts on “[KyuJin Series] Worddiction — Torpe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s