[KyuJin Series] Worries


[KyuJin Series] Worries

Cho Kyuhyun  | Cho Hyun Gi | Park Songjin

Ficlet

“Pa?”

Suara Hyun Gi terdengar sangat pelan. Masih menggemaskan. Masih membuat, siapapun yang mendengar pasti ingin menjepit pipi-pipi gembil bayi tersebut karena habis-habisan mersa gemas.

Dengan lututnya, Hyun Gi merangkak menuju tengah ranjang. Setelah Songjin letakkan bayi itu begitu saja disana. Kaki Hyun Gi cepat bergerak lalu setelah sampai pada tujuannya, dia duduk bersila.

Tangannya menepuk-tepuk pipi seseorang disana— yang sedang tidur nyenyak dan berwajah pucat. sangat pucat sebenarnya. Dan entah karena wajah yang pucat, atau suhu tinggi orang tersebut, sekonyong membuat alis Hyun Gi melengkung turun, “Pa?” Raut wajah Hyun Gi tampak sendu.

Alisnya— masih belum memiliki banyak rambut itu sungguh membentuk lekukan turun kebawah sangat nyata. begitupula dengan mata bundarnya ketika dipakainya untuk balik memandang Songjin didepan nakas sejak tadi menontonnya.

Songjin tersenyum padanya. Mengayunkan tangannya memberikan perintah untuk bayi tersebut meneruskan aksinya tadi, “Bangunkan Appa.” katanya berbisik. “katakan, sudah waktunya meminum obat” lalu Songjin tersenyum, duduk di kursi dibelakangnya.

Untuk beberapa saat, Hyun Gi diam saja. Bukannya melakukan yang Songjin perintahkan, dirinya malah menonton Kyuhyun tidur. Seperti sedang menikmati suara dengkuran sang ayah, dan napas hangat pria itu yang terasa sangat hangat dilututnya.

“Eat.” setelah hampir lebih dari 3 menit, Hyun Gi baru mengatakannya. Dia menoleh lagi pada Songjin lalu mendapatkan anggukan dari sang Ibu. Songjin menggumamkan kata yang sama namun tanpa bersuara “Eat.” Hyun Gi mengulangi lagi— kali itu bersama dengan tangannya menepuk pipi Kyuhyun.

Butuh waktu lebih dari 5 menit untuk membangunkan Kyuhyun, serta perintah “eat” Hyun Gi berulang-ulang kali diucapkan bayi gemuk tersebut.

Maka ketika Hyun Gi mengatakannya lagi, Kyuhyun benar-benar tidak bisa untuk tidak menahan senyumannya. Tawa renyahnya pun keluar walau terdengar sangat serak. “Okay. Eat. Okay okay.”

Kyuhyun mengubah duduknya. Bersandar diheadboard ranjang. Sebelum mengurusi makan siangnya, Kyuhyun memerhatikan putranya saksama. Mereka duduk berhadapan. sama-sama bersila, dan sama-sama memberikan raut wajah yang mengenaskan.

Mata Kyuhyun menyipit “kau tidak baru saja menangis atau apa? ‘kan?” tanyanya pada bocah itu, tetapi Hyun Gi malah mengulangi perintahnya. Sama, ketika tadi membangunkannya, “Eat!” katanya kini terdengar lebih tegas.

“Kau membentakku?!” Kyuhyun mendelik. Dia ingin melanjutkan kegiatan pura-pura marahnya namun Hyun Gi segera berkata lagi hal yang membuatnya bersama Songjin kemudian malah teratwa “Bik-kuit?” ujar Hyun Gi menyodorkan sepotong biscuit ditangan kirinya.

Biskuit itu sudah tak layak makan. Anggaplah begitu. Makanan itu pasti sudah diremas-remas oleh Hyun Gi sangat lama. Yang benar saja makanan seperti itu diberikan kepada orang lain?

Sepertinya dilain waktu, Kyuhyun harus mencoba mengajarkan pada putranya mengenai kesopan santunan— namun untuk saat ini, dirinya masih memilih untuk menikmati ketidak-sopan-santunan putranya ini saja.

Jadi, Kyuhyun mengulurkan tangan untuk menerima remah biscuit cokelat tersebut sebelum menoleh pada Songjin, dan wanita itu memberikan wajah itu-akan-mematikan-jika-dimakan padanya.

“Thank you!”

“Eat!”

Kyuhyun mendengus, “kau baru mengajarkannya tadi?” sengit Kyuhyun mengarah pada kata ‘eat’ Hyun Gi yang mulai terdengar menyebalkan ditelinganya.

“pelajaran hari ini— tentang makanan” Bahu Songjin bergerak halus menggamparkan ketidak pedulian pada protesan suaminya. Dia memberikan semangkuk bubur (tentu saja bukan buatannya), dan ikut berkata “Eat!” seperti Hyun Gi sebelum-sebelumnya.

“aku sedang sakit.” Kyuhyun mendesah seraya menyandarkan punggung. Mengambil satu persatu remah biscuit Hyun Gi, memakannya. “suapi.” katanya santai. Sama sekali tidak mempermasalahkan pendelikan mata Songjin untuknya.

“Kau hanya demam bukan baru di amputasi.”

“tetap saja. aku sedang sakit.” dalihnya “Suapi.” mulutnya terbuka lebar. siap untuk dimasuki sesendok bubur.

Dihadapannya, mulut mungil Hyun Gi juga ikut terbuka. Bocah itu malah mengeluarkan suata lebih dramatis berupa “aaaaa” seolah bubur dimangkuk didekatnya itu sebenarnya adalah untuknya.

Songjin mengerjabkan mata puluhan kali tidak mengerti. Keningnya ikut berkerut memandangi putranya “Hyun Gi ya~ kau kan baru makan! ini untuk Appa, ‘kan?” mangkuk bubur itu Songjin angkat tinggi diatas kepala bayi tersebut.

“Nyo”

“No?”

“Nyo.”

“Tadi siapa yang membangunkanku menyuruhku makan?” Kyuhyun mulai mengkhawatirkan putranya terkena semacam penyakit kejiwaan, bipolar atau apa.

Mulut mungil Hyun Gi terbuka lebar lagi. “AAA!” kata bocah itu. Jadi anggaplah ini adalah sebuah pertarungan sengit, Kyuhyun langsung menarik Songjin mendekat padanya. “punyaku!” katanya melingkarkan tangan dipinggul Songjin, lalu memeluk wanita itu kencang.

Terang saja disaat itu juga, ruang kamar utama dipenuhi teriakan kencang seorang bayi— sunguh begitu memekakkan telinga.

2 Hours before…

“Hyun Gi-ya, Appa sedang sakit.” Begitu Songjin mengatakannya, raut wajah bayi yang Agustus nanti akan merayakan ulang tahun pertamanya langsung berubah masam.

Tontonan pororo ditelevisi tidak dihiraukannya lagi. Duduknya dikursi pun tak seheboh tadi. Hyun Gi lebih banyak diam, namun wajahnya jelas-jelas tampak khawatir, seolah memahami arti kata sakit itu apa.

“Mau bangunkan Appa untuk memberi makan dan obat?”

“Pappapapa?”

“Appa. Iya” Angguk Songjin, “mau?”

Diam.

Hyun Gi merundukan kepala memandangi kursinya. Didepan kursi itu terdapat beberapa potong biscuit miliknya tadi yang sampai saat ini belum habis. “Bik-kuit?” dia bertanya lugu.

Tidak. Jika yang dimaksudkan adalah harus memberikan biscuit itu untuk Kyuhyun, sebenarnya tidak. Tapi Hyun Gi masih terlalu kecil untuk mamahami bahwa sakit bukan memiliki maksud berbagi makanan kesukaan.

Atau, begitulah yang baru bocah itu sadari kini.

Dihadapannya masih ada banyak potongan-potongan manis makanan kesukaannya, mungkin bisa diberikan untuk Appa satu.

“Kau ingat apa yang harus dikatakan nanti dikamar?”

“Pa?”

“Yeah.” angguk Songjin. “Eat! begitu!”

“Eat!” Hyun Gi mengulang begitu mudah tanpa kesulitan. “Pa?” Tetapi wajahnya masih saja muram. Songjin bisa mengetahui itu dari mata besar Hyun Gi. Tak biasanya tampak begitu sendu.

“Tidak apa-apa. Appa hanya demam.” Katanya memenangkan mengusap pipi Hyun Gi merasakan kekenyalan pipi besar itu, kemudian mendesah kencang “— Sejak kapan sih kau bersekutu lagi dengan Appa??”

153 thoughts on “[KyuJin Series] Worries

  1. hyun gi klo sma makanan dan ibunya emg susah buat berbagi. serakah ni anak. padahal udh makan. awalnya aja khawatir sma appanya

  2. hyun gi gemesin banget pinter banget bangunin appa yg lagi sakit nyuruh makan dan berbagi remahan bik kuitnya:v tp sekalinya kyuhyun mau di suapi sm songjin dia ngak mau ngalah juga:v malah ikutan buka mulut benar² anaknya kyuhyun😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s