[KyuJin Series] Morning


[KyuJin Series]

Morning

Cho Kyuhyun | Park Songjin | 

Oneshot

PG-13

Married Life

Pagi hari akan selalu menjadi waktu tepat bagi Kyuhyun untuk mengamati sekitar. Ketika kehidupan disekitarnya, masih belum dimulai. Ketika matahari, bahkan belum memunculkan diri.

Ketika sebagian orang dipelosok asia, pasti masih memilih untuk mendengkur diatas ranjang empuk— dibalik selimut hangat. Ketika cicitan burung dipagi hari, masih terdengar samar.

Ketika udara, masih sedingin kutub, tak peduli sedang musim apa saat itu. Ketika alarm ponselnya, belum berdering nyaring. Ketika Cho Hyun Gi— putranya, belum berteriak memanggil “Ma!” sebagai tanda bahwa bocah itu telah terbangun, dan mulai memonopili perhatian Songjin.

Ketika Park Songjin, masih menyanyikan suara dengkuran halus, lembut, dengan ritme yang tepat.

Pagi hari adalah waktu tepat bagi Kyuhyun menyadari bahwa dirinya sungguh telah mendapatkan segalanya dalam hidup. Kehidupan layak, check. Karier sempurna, check. Pasangan hidup, check. Keturunan yang cerdas, sehat, dan membanggakan, check. Keluarga harmonis… well, nilai sendiri saja bagian satu ini.

Pagi hari, adalah saat tepat dimana Kyuhyun bisa meyakini dirinya, bahwa dirinya sungguh benar beruntung, sanggup berakhir mendapatkan, menikahi lalu hidup bersama wanita ketus pemakan segalanya bernama Park Songjin.

Semua orang berkata mereka tidak serasi. Tidak tampak seperti pasangan suami istri. Songjin selalu mengintimidasi.

Semua orang berkata, hidupnya bisa saja menjadi sempurna jika tidak berakhir bersama wanita yang selalu menghabiskan waktu keluar masuk pertokoan.

Meributkan tas brand ternama, dibanding kelangsungan keluarga. Perhiasan dengan harga fantastis selalu menjadi nomor 1. Sepatu-sepatu mahal, akan selalu duduk dideretan teratas dalam hidupnya.

Park Songjin, wanita yang hanya membuat malu dan repot, ketika bahkan harus menghubungi sang suami ditengah rapat penting, hanya untuk bertanya kuteks warna apa yang sebaiknya dipakai.

Tidak berotak.

Hidupnya, bisa saja menjadi sempurna, jika point kecil itu ditendang jauh.

Maka pagi hari, adalah waktu paling tepat bagi Kyuhyun untuk menelaah lagi hidupnya. Park Songjin salah satu contohnya.

Senyumnya kemudian terpoles, ketika seluruh celaan tersebut satu persatu mulai diputarnya didalam kepala. Lucu. Entah mengapa terdengar sangat lucu baginya.

Ketika semua orang mengatakan pilihan terakhir tadi adalah salah, maka Kyuhyun malah berpikir sebaliknya. Namun jika memang benar-benar salah, maka yang satu ini pasti kesalahan terbaik sepanjang hidupnya.

Kyuhyun bahkan merasa tak perlu repot untuk memperbaikinya. Ada beberapa jenis kesalahan yang sekuat apapun tidak akan bisa untuk diperbaiki. Mungkin, Park Songjin adalah salah satunya.

Jika wanita bertenaga super itu adalah sebuah kesalahan. Tapi kesalahan, tidak pernah terasa senikmat ini, jika itu benar, adalah kesalahan.

Hanya dipagi hari, Kyuhyun sanggup mengamati Park Songjin sebagai seorang wanita, secara keseluruhan— selain ketika wanita itu sedang menyusui putranya— yang harus diamatinya hanya dari kejauhan saja, mengingat kebutuhan biologis yang tak kunjung memiliki jawaban, sedangkan payudara wanita itu sedang sungguh menggugah selera.

Pagi harinya selalu terasa sempurna, jika dirinya telah melakukan beberapa hal— yang entah bagaimana, masih saja selalu berhubungan dengan wanita barbarnya.

Pertama, Park Songjin memiliki kebiasaan buruk ketika tidur. Wanita ini akan menjelajah seluruh bagian ranjang— kalau perlu, menyambar bagian milik Kyuhyun.

Kedua, Park Songjin kerap melakukan drama dalam tidurnya. Berbicara dengan mata terpejam adalah salah satu contoh sederhana.

Terakhir kali Kyuhyun mendapati Songjin tertawa tanpa sebab didalam tidurnya. Gigi-giginya ditampakkan. Kyuhyun dapat berasumsi bahwa Songjin sedang mendapatkan sepasang Gucci bag atau sesuatu sejenis itu.

Saat itu, sambil tertawa, Songjin mengatakan “aku keren sekali” berulang kali, hingga Kyuhyun mengira Songjin sudah gila.

Ketiga, drama tidur Park Songjin belum selesai disitu saja. Selayaknya Yin dan Yang, tak jarang Kyuhyun menemukan Songjin menangis dalam tidurnya.

Ketika saat itu terjadi, percayalah, Kyuhyun tidak akan dapat melanjutkan tidurnya. Pebisnis muda itu akan berpikir keras hal buruk macam apa yang sempat-sempatnya menghampiri tidur istrinya?

Dalam kehidupan nyata, dirinya bisa menghabisi kawanan semacam itu. Namun didunia khayal? bagaimana caranya? apa ada cara untuk terjun kedalam mimpi seseorang hanya untuk menjadi penyelamat?

Jika saat-saat itu terjadi, Kyuhyun selalu menggerutu, mengapa hidup tak seperti dalam dongeng yang selalu memiliki kisah manis.

Pagi hari adalah waktu paling menarik. Kyuhyun dapat melakukan sekaligus mendapatkan banyak hal yang tak jarang sulit didapatkannya disiang hari, sore, atau malam.

Ciuman adalah salah satu contoh sederhana.

Dipagi hari, Park Songjin bahkan masih tidak peduli jika tiba-tiba gempa bumi datang menyerbu. Tidurnya seperti orang mati suri. Jadi pagi hari hari, adalah waktu paling tepat bagi Kyuhyun untuk menyapukan bibirnya pada bibir wanita itu, sebanyak, dan selama yang diinginkannya.

Kyuhyun selalu ingat, masa-masa ketika dirinya harus selalu melakukan hal tersebut jika ingin mendapatkannya. Ketika segalanya masih abu-abu. Diam-diam, perlahan, tanpa meninggalkan jejak.

Lucunya, nyatanya hingga kini dirinya masih melakukan hal tersebut.

Ada sensasi berbeda saat dirinya berhasil mendapatkannya tanpa si pemilik bibir menyadari. Seperti pencuri, tapi agaknya, ini lebih mencekam daripada mencuri uang didalam brankas.

Kyuhyun ingat, pertama kali dirinya melakukan hal tersebut, adalah hari kedua setelah malam pertamanya. Malam pertamanya dihabiskan dengan bertanding psp sampai keduanya teler dengan sendirinya.

Jatuh tertidur sepanjang pagi dan baru terbangun disore hari. Membuat seluruh orang mengira, mereka kelelahan, karena baru saja melakukan apa yang semestinya pasangan pengantin baru lakukan.

Dimalam itu, entah bagaimana Park Songjin tampak menggoda. Terlalu menggoda. Oh, atau itu hanya sebuah sensasi dari mencintai diam-diam yang selama itu dilakukannya.

Bukan lagi rahasia bahwa mencintai diam-diam terlalu menguras energy serta emosi. Kau mencintainya, tetapi kau tidak bisa mengatakannya begitu saja karena memiliki begitu banyak pertimbangan.

Dari pertimbangan masuk akal, hingga yang paling tidak masuk akal. Mencintai diam-diam, adalah hal paling melelahkan didunia setelah berlari marathon.

Berlari marathon bahkan terdengar lebih baik. Setidaknya itu berjalan menuju suatu tempat. Sedangkan mencitai diam-diam adalah aksi jalan ditempat yang tidak memiliki akhir.

Kau ingin mengakhirinya? Silahkan. Tetapi kau akan kehilangannya.

Kau ingin melanjutkannya? Silahkan juga. Tetapi nikmati sendiri sakitnya.

Pada dasarnya, mencintai diam-diam adalah sebuah pilihan. Tidak semua orang sanggup melakukannya. hampir 80% penikmat cinta diam-diam tumbang ditengah jalan karena tak sanggup melanjutkannya.

Rasanya terlalu sakit. Terlalu menyesakkan. Terlalu merepotkan.

Kyuhyun sungguh ingat betul masa cinta diam-diamnya yang terasa memuakkan. Harus menekan hasrat untuk menyentuh Songjin, hanya karena tak ingin kebablasan karena tidak sanggup mengontrol diri.

Atau harus terima, ketika Songjin membicarakan lelaki lain, lalu Kyuhyun akan selalu melampiaskan kekesalannya, ketika mereka telah berada diruang berbeda, atau sesampainya dia dirumah.

Kyuhyun ingat, masa dimana ketika Shim Changmin adalah pangeran berkuda putih nan gagah versi Park Songjin. Jika saat itu dirinya tak sanggup mengontrol diri, kemunculannya malah akan terlihat buruk.

Dia hanya akan menjadi pemeran figuran yang melintas sambil membawa bendera putih. Tak ada satupun yang akan menyadari kehadirannya.

Atau, saat dimana Lee Donghae sedang menjadi Romeo dalam kisah percintaan hidup Park Songjin. Lagi-lagi dirinya harus menekan kekesalan. Menelannya seorang diri agar tak satupun menyadari, dirinya cemburu.

Kadang pepatah para orang tua memang terdengar bodoh. Mereka hanya bisa berbicara menasehati. Pun termasuk pepatah ‘lepaskan saja cintamu. Jika nanti dia kembali, dia akan menjadi milikmu selamanya’, itu juga terdengar sangat tolol walau entah bagaimana, benar terjadi seperti itu.

Kyuhyun ingat ketika dirinya selalu mendengus sebal, saat semua orang ditoko perhiasan yang disambanginya bersama Songjin dulu, selalu memuji mereka, namun sebagai saudara kandung.

Kyuhyun ingat, sepulangnya dirinya dari mencari cincin pernikahan, habis-habisan berjam-jam lamanya dia berdiri didepan cermin, hanya untuk meyakinkan dirinya, bahwa wajahnya tak serupa dengan Songjin.

Mata orang-orang saja yang rusak.

Kyuhyun lupa, ada pepatah lain berkata, kau akan terlihat serupa dengan pasanganmu, jika kalian berjodoh.

Jadi, barulah sekarang Kyuhyun tahu. lalu Pagi harinya kerap diisi oleh banyak perbandingan antar dirinya dan Songjin.

Kyuhyun lantas memegang hidungnya— menekan ujung hidung miliknya, dengan telunjuknya sendiri, lalu menyentuh ujung hidung Songjin. Well, mereka memang sama-sama memiliki bentuk hidung yang tidak bisa dianggap buruk.

Lalu mata— mata Songjin jelas jauh lebih besar daripada miliknya. Kyuhyun selalu mengaggumi warna iris mata Songjin, Light brown— terlihat sangat cocok berada disana.

Itu membuatnya semakin terlihat menarik, entah apakah dirinya sajalah yang sebenarnya sudah dimabuk cinta, atau semua orang dengan warna iris mata light brown memang terlihat semenarik itu?

Matanya lalu turun menuju bibir.

Bibir. Bibir tipis, pink sialan itu adalah godaan paling besar dalam kegiatan mencintai diam-diamnya dulu. Dia baru bisa menyapukan miliknya kesana, tepat ketika Songjin telah berbicara dalam tidurnya.

Pada titik itu, Songjin pasti telah terlalu terlelap hingga tak akan sadar jika bibirnya habis dijamah. Kalaupun sadar, nyawanya tidak seberapa untuk melawan. Di pagi hari nanti, Songjin tidak akan mengingat apa-apa.

Cara bermain paling aman, yang seharusnya Kyuhyun jadikan sebuah buku panduan bagi orang-orang yang sedang melakukan hal tersebut setelah dirinya telah berhasil melakukannya.

Kyuhyun membuat lengkungan senyumnya meninggi. Dia mungkin sanggup untuk tidak bercinta dengan Songjin sejauh ini walau rasanya sama saja seperti sedang tenggelam ditengah laut, dengan persediaan oksigen seadanya.

Sewaktu-waktu jika oksigen itu habis, dia bisa mati.

Tetapi bertahan hidup tanpa ‘memakan’ bibir itu akan terasa hampa. Kyuhyun tidak pernah mengarapkan mendapatkan ciuman pagi Songjin secara cuma-cuma.

itu sama saja seperti memaksa Songjin untuk melemparkan diri laut lepas tanpa pelampung. Jadi, dipagi hari ketika wanita itu belum menyadari apapun, adalah waktu paling tepat untuk mencuri segalanya.

Termasuk ciuman, adalah salah satunya.

** ** **

06:00 KST

Matahari sudah muncul. Burung-burung sudah mulai berkicauan saling menyapa satu samalain. Udara sudah tak sedingin tadi, dibeberapa jam lalu. Dan orang-orang dipelosok asia, sebagian besar pasti sudah terjaga.

Atau tidak.

Park Songjin misalnya sebagai contoh?

Wanita ini hanya bergerak-gerak teramat pelan saat Kyuhyun menyapukan buku jarinya pada pipi pucat istrinya.

Hanya bertanya, “pukul berapa sekarang?” yang tak sekalipun pernah Kyuhyun jawab secara lisan. Hanya usapan lembut dipipi, atau kepala saat Songjin bertanya, namun kembali menarik selimut tinggi-tinggi hingga sampai menutupi separuh wajah, lalu Kyuhyun harus menariknya lagi turun supaya dapat terus mengamati wajah wanita itu tanpa terganggu.

“Hyun Gi?”

ah, atau, ketika akhirnya ditengah ketidak sadaran diri, Songjin ingat bahwa mereka bukan hanya pasangan suami istri, namun telah menjadi orang tua muda, dan buah hati mereka tepat berada diruang kamar sebelah— entah masih terlelap, atau sudah terjaga sedari tadi.

Dan jawaban Kyuhyun akan selalu sama setiap paginya. Tepukan ringan dipunggung berulang kali seolah sengaja diberikannya, untuk meninabobokan sang istri.

Persetan dengan matahari yang akan semakin terik.

“Bagaimana kalau kopi saja?”

“Apanya?”

Songjin tampak kesulitan untuk membuka mata, namun terlanjur dipaksakannya. Sebagai hasil, hanya salah satu kelopak matanya saja yang terbuka.

Padahal keberadaan Kyuhyun dihadapannya, sudah cukup menghadang sinar matahari yang semestinya telah menghantam wajahnya habis-habisan pagi ini.

“Sarapanmu?”

Salah satu alis Kyuhyun bergerak naik. Songjin tak tampak seperti memiliki niat untuk membuatkannya sarapan. Dirinya bahkan yakin, nyawa didalam tubuh ramping Songjin saat ini, tidak lebih dari 50%.

Maka masih dengan wajah apa-kau-serius miliknya, Kyuhyun hanya menggumamkan “Hmm” sebagai jawaban. Pun tentunya jika itu terdengar seperti jawaban.

Tangannya masih memberikan tepukan ringan dipunggung Songjin. Dia bergerak sedikit menggeser tubuhnya, untuk mengurangi jarak diantara mereka.

Dalam jarak sedekat ini, Kyuhyun dapat leluasa menghidu aroma strawberry yang menyeruak tajam menghantam hidungnya, dari rambut Songjin. Kadang, mungkin itulah mengapa Hyun Gi tampak begitu tertarik menyandarkan dagu dan pipi besarnya, pada bahu Songjin.

Tanpa disadari, mereka mungkin memiliki kegemaran serupa, yakni menghidu aroma tubuh Park Songjin.

“atau kau……. ingin yang lain? Hng?”

“yang lain itu apa?” lalu satu alis Kyuhyun tadi, meranjak semakin tinggi lagi. Pikirannya telah berjalan kemana-mana.

Tolong jangan salahkan dirinya. itu adalah gambaran realita kebutuhan biologis yang selama ini tak terpenuhi. Bagaimanapun, dirinya adalah lelaki normal.

Dan sebagai informasi saja, hormone androgen lelaki selalu berada pada puncaknya dipagi hari.

Lantas seolah memahami pikiran kotornya, namun tergambar jelas bahwa Songjin masih tak memiliki banyak tenaga untuk melawan, wanita itu hanya tersenyum seadanya.

Songjin kembali mendesakkan wajah pada tumpukan bantal sambil berkata “tanpa pengaman?” seolah itu adalah sebuah tawaran darinya, yang hanya Kyuhyun tanggapi dengan senyuman tak kalah kering.

“Jangan bermimpi.”

Sepatutnya itu terdengar lebih pantas untuknya. Seperti, jangan bermimpi untuk bercinta jika persoalan alat pencegah kehamilan itu masih belum tuntas Cho Kyuhyun!

Sebagian dirinya baru saja meneriakinya seperti itu. Lalu menyadarinya, Kyuhyun lagi-lagi hanya tersenyum kering— seadanya. Mulai berpikir sampai kapan dirinya sanggup menahan nafsunya.

“langkahi dulu mayatku.”

“kau tidak boleh mati.” Sepertinya Songjin tersenyum samar ditengah bantal-bantalnya. Kyuhyun hanya menerka, namun terkaannya, menghasilkan senyuman tak kalah semringah untuknya sendiri.

Oh, jadi posisinya sepenting itu untuk wanitanya. Bolehkah dirinya merasa tersanjung kalau begitu?

“Sebelum memberikan warisan untukku.” lantas rasa tersanjung itu seketika luluh lantah bersama senyuman semringahnya.

Kyuhyun mendengus menepuk punggung Songjin lebih kencang daripada ritmenya tadi, “Tujuh puluh persen kekayaanku, apa masih saja kurang?” decaknya merasa sungguh terhina.

Keberadaannya tak lebih dari sekedar dompet berjalan. Namun jikapun benar, rasanya dirinya rela memberikan segalanya. Menjadi dompet berjalan, Brankas berjalan, atau apapun itu namanya— rasanya adalah harga masuk akal untuk kesenangan pagi hari, seperti ini contohnya.

Tubuh Songjin bergerak, bersama dengan tawa wanita itu yang terdengar lemah “aku tidak butuh uangmu.” katanya tampak tenang. Dia membalik tubuh, memandangi Kyuhyun dengan dua mata terbuka— akhirnya— usai berperang dengan kantuknya.

“aku ingin satu lagi. perempuan?”

Oh. OHH! Baiklah.

Jadi itu adalah warisan yang Songjin maksud. Sebaiknya para makhluk yang berkata Park Songjin wanita matrealistis, harus mendengar pernyataan satu ini supaya tak hanya menilai seseorang dari penampilan saja.

“Jadi, aku hanya perlu menghamilimu lagi, lalu mati. Begitu?”

Kening Kyuhyun berkerutan ketika dirinya berbicara, memperjelas maksud Songjin. “aku hanya pendonor sperma?” ada nada tidak senang ketika dirinya berkata seperti itu.

“Teknisnya—“

“memangnya ada jawaban tidak teknisnya?” bahkan, Kyuhyun tidak menyadari nada bicaranya yang telah naik beberapa oktaf. Lagi-lagi Songjin tersenyum seadanya.

Tangannya sedari tadi, disembunyikan didalam selimut untuk mendapatkan rasa hangat ditariknya keluar. Pipi Kyuhyun terasa sekenyal milik Hyun Gi omong-omong, saat Songjin menepukinya lambat-lambat, lalu mengusap lembut, “kau sedang datang bulan ya? kenapa mudah sekali kesal?” goda Songjin kemudian tertawa.

** ** **

07:20 KST

Yang Kyuhyun inginkan anggaplah tidak tercapai.

Menikmati rupa Songjin saat sedang tidur, adalah hal menyenangkan baginya yang tidak bisa dijelaskan kepada siapapun, mengenai sensasi pesta kembang api didalam hatinya, atau kupu-kupu diperutnya.

Tetapi setidaknya, percakapan bersama wanita penyuka pink ini tidak pernah terasa membosankan baginya. Jadi, bisakah itu dianggap saja sebagai salah satu keberhasilan pagi harinya?

Pagi hari adalah saat dimana dirinya dapat berbicara lebih banyak dibandingkan waktu-waktu lainnya, karena pada pagi hari, Songjin belum memiliki banyak tenaga untuk melakukan banyak hal— berbicara adalah contohnya.

Sesekali, Kyuhyun mendapati mata Songjin yang kembali sayu. Lalu tepukan dipunggung itu akan memiliki ritme lebih lembut dan cepat— hanya untuk, membuat mata wanita itu benar-benar kembali terpejam.

Seakan menyadari hal tersebut, Songjin cepat-cepat menggeliat bermaksud memberontak— seolah dengan melakukannya, maka seluruh nyawanya akan kembali padanya.

Songjin terus berkata “hentikan” namun Kyuhyun hanya memberikan cengiran tak bersalah. “aku bisa mengantuk lagi.” protes wanita itu terdengar jengkel.

Lagi-lagi, Kyuhyun berdecak tenang menjawabnya, “maka tidurlah.” lalu Songjin pasti akan mendengus karenanya.

Tidur? lagi? pukul berapa memang sekarang?

Dengan setengah jengkel Songjin menggeliat lagi ditempatnya. Masih bagus ditengah kentuk, dirinya ingat akan bocah bergigi dua diruang sebelah.

Kalau saja Hyun Gi sudah bisa berjalan sendiri untuk turun dari ranjangnya. Seharusnya bocah itu sudah bisa berjalan, atau, mencoba berdiri sendiri, jika berjalan terdengar terlalu berlebihan.

Namun pada kenyataannya, Hyun Gi lebih tertarik melatih ketangkasan lidah serta suara dan sedang sangat menikmati mengikuti apa yang sekitarnya katakan.

Kemarin Kyuhyun baru mengenalkan Hyun Gi pada berbagai macam warna. Biru adalah yang paling sulit diucapkannya. Blue akan berubah menjadi ‘Buw’ jika Hyun Gi mengulangnya.

Seperti halnya blue, Yellow juga akan berubah menjadi ‘awow’. Ada begitu banyak kata yang sukses menjadi bahasa alien jika Hyun Gi telah mengucapkannya.

Kadang terdengar lucu, namun tak jarang juga terdengar bodoh.

Entah mengapa, Songjin tak pernah heran pada obsesi kemampuan lisan putranya. Mungkin itu adalah kemampuan menurun. Dia ingat gen siapa itu. Pasti bukan miliknya. iya ‘kan?

 

“Hei, kemana?” tanya Kyuhyun saat Songjin telah setengah duduk diranjang. Nyaris saja bangkit, namun kembali terjengkang kembali pada posisi semula.

“Anakmu.” balas Songjin mulai merasa kesal.

“Dia masih tidur.”

“darimana kau tahu?”

“aku tidak dengar suara bising berteriak, ‘ma?’…” Kyuhyun mengerutkan kening dengan mata menyipit sekaligus.

Songjin buru-buru membuang napas panjang pada alasan sederhana Kyuhyun. Nalurinya sebagai ibu, masih saja lebih unggul dibanding keinginan untuk bergumul bersama pria tampan ini diranjang.

“itu bukan jawaban.” desahnya singkat kembali mencoba untuk bangkit. Kyuhyun buru-buru menjeggalnya lagi. Pria itu melingkarkan tangannya pada leher Songjin. Setengah tubuhnya, telah menghimpit wanita tersebut. Kyuhyun bahkan menyelipkan kaki kanannya pada selangkangan wanita itu sesukanya.

“aku sudah melihatnya tadi.” dia menambahkan alasan lain “saat kau masih tertidur.” katanya berlanjut santai, kemudian menyengir pada tatapan curiga Songjin.

** ** **

08:00 KST

Ada suara tawa yang menggema didalam ruang kamar utama.

Bukan. Kali itu bukan tawa Cho Hyun Gi si bayi gempal nyaris botak itu. Sama sekali bukan. Itu hanya suara tawa Kyuhyun ketika Songjin kembali bertanya padanya apa menu sarapan pagi ini yang diinginkannya?

Lucunya, Songjin bertanya dengan mata semakin melemah. Wanita itu jelas kembali berada diantara hidup nyata dan mimpinya saat ini. Tepat saat ini.

Dan masih mengingat bahwa sang suami belum memasukan apapun kedalam lambung? dapatkah itu disebut sebagai salah satu kegembiraan bagi Kyuhyun?

“Bisa kau hentikan itu, Kyuhyun-ah?” geram Songjin kini jelas-jelas semakin menjadi, walau tak pernah ada gerakan lain untuk menghentikan tepukan Kyuhyun pada punggungnya.

“lebih baik kau menyingkir dan buka jendela itu lebar-lebar. Biarkan matahari menusuk-tusuk mataku, supaya nyawaku yang sedang entah dimana itu kembali—“

Suara serak Songjin mulai melemah. Semakin melemah ketika dirinya mengatakan “please” begitu lirih. Hanya lalat saja yang dapat mendengarnya.

“Bagaimana kalau kau tidur saja?”

Oh—boy” Songjin mengacak wajahnya, “peran macam apa yang sedang kau lakukan saat ini? Suami baik hati?”

Kyuhyun terkekeh sambil menganggukan kepala, “Mungkin begitu,” sahutnya dengan gerakan bahu pelan, “atau, mungkin karena kau baru tertidur pukul 3 dini hari?” sambungnya “alasan mana yang terdengar lebih menyenangkan untukmu??”

“kau tahu?” tubuh Songjin membatu. Dia ingat sekali— sangat sangat ingat dan telah memastikannya, bahwa ketika dirinya naik ke ranjang, Kyuhyun sudah berada didalam mimpi. “Tapi kukira—“

“aku benar-benar akan mengunci ruang kerjamu dan membuang kunci itu ke Sungai Han, Park Songjin. aku serius kali ini.”

“Ada project,” Songjin mendesah “dan deadline-nya—“

“itu tidak terdengar seperti urusanku.” Kyuhyun menyela cepat, “aku tidak suka.” ungkapnya tetap tenang, namun jelas terdapat percikan amarah didalamnya.

Kali ini Songjin mendengus lebih kencang daripada biasanya sambil menjejalkan wajahnya sendiri kembali pada bantalnya “kau mana pernah suka dengan pekerjaanku.” dia bertutur sama kesalnya dengan Kyuhyun.

“Tepat.” angguk Kyuhyun membenarkan “tapi toh aku tidak pernah melarangmu melakukannya. Aku hanya ingin kau bisa mengatur waktumu dengan baik. Satu pekan ini, kau mengecewakanku. Seharusnya sudah ku tutup permanen galeri kerjamu sejak lama!”

“aku tetap mengurus Hyun Gi dengan baik. Dia tetap makan di waktu yang sesuai. Tidur di waktu semestinya. Aku tetap menjalankan tugasku”

Kyuhyun menghela napasnya lebih dulu “apa ini selalu hanya tentang Hyun Gi? bagaimana denganku?”

“kau pria dewasa. Kau bisa mengurus dirimu sendiri.”

“Yeah. tapi bagaimana denganmu?”

“aku?”

Kyuhyun mengangguk-angguk, “yeah” lalu berbicara, masih dalam anggukan, “itu akan menjadi seperti teori labirin. Kau tidak akan dapat bekerja maksimal jika salah satu kebutuhanmu tidak terpenuhi. Disini, yang kumaksud adalah waktu untuk mengistirahatkan tubuhmu.”

“Tapi aku baik-baik saja.”

“Apa kita harus berdebat tentang ini? Karena aku memiliki banyak sekali hal yang ingin kukatakan, jika kau benar-benar menyanggupinya”

Kembali Kyuhyun meranjakkan alisnya tinggi-tinggi, lalu kibaran bendera putih mengingat nyawa yang masih entah dimana itu, mengugurkan niatan Songjin untuk melawan.

Wanita itu malah menarik selimutnya setinggi hidung kemudian bersuara serak mengatakan, “kenapa kau galak sekali? ini masih pagi tapi kau sudah marah-marah” ucapnya terlampau lugu menurunkan separuh amarah Kyuhyun secara cepat.

Bersamaan dengan itu, keduanya mendegar jelas suara asing dari ruang kamar sebelah, lalu saling berdiam untuk lima detik selanjutnya usai menyadari siapa yang baru saja bergabung dengan mereka kali itu.

“Aku saja.” Kyuhyun segera menyahut, menyingkirkan selimut dari tubuhnya.

“Dia butuh susu.”

“Aku tahu.”

“Tidur.” perintah Kyuhyun sebelum benar-benar meninggalkan kamarnya, “aku serius Park Songjin”

“A— ada asi didalam lemari pendingin yang—“

“perlu di panaskan sebelum diberikan. Aku tahu itu juga.”

Sambil bertolak pinggang disamping ranjang, hanya dengan boxer dan kaos abu-abunya Kyuhyun termenung memandangi Songjin. Wanita itu jelas melupakan masa-masa dimana dirinya pernah mengurus putra mereka seorang diri selama 3 bulan lamanya.

“Ada lagi?” Cibir Kyuhyun santai. Memberikan wajah aku-memiliki-isi-kepala-lebih banyak-darimu kepada Songjin hingga Songjin memilih untuk membuang wajahnya seketika sambil mendesis.

“Then can you sleep, cupcake’s?” pintanya kembali. Kali ini melembut. Merunduk untuk menyapukan bibir pada kening Songjin kemudian mengusap puncak kepalanya lembut, “I got this.” ujarnya terdengar terlalu meyakinkan bagi seorang ayah yang nyaris sepanjang waktunya tidak dihabiskan didalam rumah, apalagi memegang bayi.

Kali ini Kyuhyun menarik selimut putih tebal pada ranjangnya hingga menutupi seluruh tubuh Songjin lalu wanita itu tak lagi tampak pada pandangan mata, “trust me— i’m his daddy for god’s sake,” tuturnya terdengar sedikit kesal, “and by the way, good morning, cupcake’s! you looks so damn gorgeous when sleeping you know that, right??”

“Eh?”

“I like that” 🙂 

170 thoughts on “[KyuJin Series] Morning

  1. Aishhh…dmana lagi bs menemukan suami sepengertian kyu,,bnr2 membuat iri,,,kyu sangat2 menikmati peran sbgai suami,,mski setiap pgi slalu saja mlakukan sgalanya sendiri!! Sweeetttt kyu!!

  2. Sweet morning… appanya tanggung jawab banget ya mau ngejaga hyungi… cari suami begini ahh atau kyu aja langsung bawa k pelaminan. Cussss Wkwkwkwkwk

  3. Well Kyuhyun emang terlalu sayang sama Songjin, manaada yg mau hidup sama cewek yg males bangun. Perkataan eomma Songjin emang bener. Kyuhyun terlalu baik untuk Songjin.

  4. Duhhh mau dong dpt suami macem kyu gini ada gak ya, yg rela pagi2 mau ngurus anaknya dan ngebiarin istrinya tetep tidur, ya meskipun si songjin baru tidut jam 3 pagi tp klo suaminya bukan kyu mah pat ud dimaki2 krn males hahaha blm lagi cibiran mertua klo smp tau menantunya begitu, kyu emg suami idaman deh hahaha

  5. Udah pernah baca tp kangen sama pasangan ini. Jadi baca lagi deh. Bikin baper pagi2 nih sama suami istri ini. Kyu mabis bangeeeetttt…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s