[KyuJin Series] Dear You


[KyuJin Series]

Dear You

Cho Kyuhyun | Park Songjin | Choi Siwon | Cho Hyun Gi

Oneshot

PG-13

Married Life

“Nobody can predict the future. You just have to give your all to the relationship you’re in and do your best to take care of your partner, communicate and give them every last drop of love you have. I think one of the most important things in a relationship is caring for your significant other through good times and bad.” – Nick Cannon


Sudah lebih dari empat jam lamanya Kyuhyun dan Kim Dong-Ah berkutat pada rumah pohon dihalaman belakang kediaman Choi Ki Ho. Bagian belakang rumah pohon itu ambruk karena kayu-kayunya semakin lapuk.

Dua lelaki berbeda usia itu lantas berupaya sekuat tenaga mengembalikan kekuatan penampang kayu lapuk disana, menggantinya dengan kayu lain yang baru dan mengganti hampir semua kayu-kayu lapuk, selain pada penampang tersebut.

Kyuhyun bersikeras melakukannya seorang diri. Well, dengan bantuan Kim Dong-Ah tentu saja. Pria itu menolak saran Siwon atau Songjin untuk memanggil ahli tukang untuk membenarkannya dan terima jadi saja, entah mengapa.

Kini dengan pakaian nyaris lusuh, peluh yang membasahi tubuhnya, dan rambut awut-awutan, Cho Kyuhyun pantas dinobatkan sebagai tukang kayu tertampan sejagad raya, kalau saja pria itu mau. Dia tampak sangat sibuk dengan kayu-kayu yang dibopongnya berulang kali.

Wajahnya akan menjadi sangat serius ketika sedang memaku kayu tersebut. Mulutnya, kerap mengeluarkan kutukan hina kepada palu ditangannya, atau pada angin yang berhembus ketika pukulannya tanpa sengaja meleset membentur ibu jarinya.

Karena keseriusannya itu, rumah pohon nyaris ambruk itu kini telah berdiri tegap lagi. Masih perlu beberapa perbaikan, tapi itu bisa dilakukan nanti. Setidaknya, untuk saat ini, bangunan kayu itu kembali berdiri kokoh.

Sudah bisa dimasuki orang, walaupun harus sangat berhati-hati ketika mendaki dan menjejaknya. Kyuhyun tersenyum puas memerhatikan kerja kerasnya dari kejauhan. Peluhnya masih sebesar biji jagung ketika pria tersebut menganggumi kerjanya.

“itu tampak lebih baik.” Kim Dong-Ah ikut tersenyum lega mengomentari rumah pohon tuan mudanya. Kyuhyun lantas mengerutkan kening cepat-cepat menoleh pada lelaki separuh baya tersebut, “lebih baik?” ujarnya dengan wajah tak percaya, “ini keren!!” katanya menunjuk rumah pohon tersebut dengan tangan kananya yang masih memegang palu.

“Ah, aku menemukan sesuatu tadi. Sebelum kau datang”

“Lubang lagi? sekarang disebelah mana??”

“Bukan lubang.”

“tapi kayu lapuk?”

“Bukan juga.”

Kim Dong-Ah menggelengkan kepala berkali-kali. Dia melesat kesebuah gazebo jauh dibelakang mereka, lalu kembali dengan sebuah kotak besi ditangannya— yang lalu diberikan kepada Kyuhyun. “aku rasa ini milikmu.” katanya yakin.

Ketika Kyuhyun masih dirundung ketidak pahaman akan situasi, Kim Dong-Ah tersenyum memerhatikan sang tuan muda tampak kebingungan. Dan sebelum Kyuhyun berkomentar, supir pribadi keluarga Choi itu kembali bersuara mengatakan bahwa “itu pasti milikmu. aku menemukannya dibawah pohon maple samping kolam ikan.”

“pohon?”

“iya.” angguk Kim Dong-Ah berkali-kali “terpendam dibawah pohon itu. didekat akar-akarnya. Pohon itu bertambah besar Kyuhyun-ah, begitupun dengan akar-akarnya. Kurasa kau menimbunnya tidak dengan pertimbangan bahwa seiring kau bertumbuh dewasa, pohon itu juga akan membesar, ‘kan? kotak itu keluar karena tersundul oleh akarnya sendiri”

“aku tidak ingat—“

Kyuhyun membolak balik kotak besi tipis berwarna abu-abu tersebut berulang kali. Bentuknya sudah buruk sekali. sudah penyok disana-sini. Sebagian besar warna catnya sudah berkarat. Masuk akal jika bentuk kotak ini akan seperti itu, jika benar ditimbun didalam tanah.

Masalahnya adalah, Kyuhyun tidak pernah ingat pernah menimbunnya didalam tanah. Memang seberapa kurang aktivitasnya, hingga menimbun kotak besi semacam ini?

“kalau begitu bukalah. Mungkin kau akan mengingatnya jika melihat isi didalam kotak itu!”

“Kenapa tidak paman saja yang membukanya??”

Kim Dong-Ah tampak terkesiap selama beberapa saat lalu melambaikan tangan didepan dada kekiri dan kanan, “itu bukan milikku.” Jawabnya tenang. “kalau kau tidak ingat, mungkin Siwonnie ingat. Atau Songjinnie?”

“Ah” mendengar nama Songjin lalu Kyuhyun mengeluarkan dengungan tersebut begitu mudah, “mungkin ini miliknya.” katanya mengangguk. Benda semacam ini pasti milik Songjin. Mana pernah dirinya memiliki ide melankolis seperti membenamkan kotak dengan isian seperti itu kedalam tanah?

** ** **

Jadi dimalam hari, ketika seluruh orang sedang berkumpul diruang keluarga, Kyuhyun mengeluarkan kotak besi tipis tadi dari sebuah paperbag lalu meletakannya dimeja. Dia memanggil Songjin yang sedang duduk berdua bersama Hyun Gi mengajarkan si hiperaktif itu kosakata baru, untuk mendekat padanya.

“punyamu?” tanyanya Kyuhyun setelah Songjin berada pada jangkauannya. Mata Songjin meneliti kotak tersebut. Keningnya berkerutan kala berpikir. Sepersekian detik setelahnya, kepala Songjin menggeleng sambil dirinya berkata “bukan.”

Tetapi ketika Kyuhyun akan memasukan kotak tersebut kedalam tas kertas lagi, mendadak Siwon bergerak dikursinya. Sejak tadi matanya sudah mengamati kotak tersebut, namun memorinya sama saja payahnya dengan Songjin ataupun Kyuhyun.

Baru beberapa detik setelah Songjin menggeleng, seluruh ingatan jangka panjangnya kembali. Dia langsung berseru, “milikku!” sambil melompat dan mengamit kotak tersebut. Membiarkan semua orang memerhatikannya terheran-teran, tak terkecuali si kecil Hyun Gi.

** ** **

“Hei,” Siwon menepuk bahu Songjin kencang tepat ketika Songjin sedang menonton televisi— sebuah drama, yang seharusnya sudah membuatnya panic, namun Siwon mengacaukannya.

Pria itu baru berani menghampiri Songjin setelah para kepala diruangan tersebut sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing dan tak lagi berkumpul. “kau yakin tidak ingat kotak besi tadi?”

“Kau menggangguku hanya untuk bertanya itu? kau pernah dicium vas bunga tidak?” sinis Songjin membahas betapa aksi ‘Hei’ Siwon tadi sungguh mengganggunya.

Siwon berdecak lalu mendorong kepala Songjin jengkel. Dia mengeluarkan selembar surat dari saku celananya kepada Songjin. Tidak mengeluarkan banyak kata-kata lagi selain memberi perintah, “baca sampai habis. Sekarang!” lalu pergi melesat tanpa peduli.

Siwon lantas menghampiri Kyuhyun yang berada tak jauh dari keberadaan Songjin. Bedanya, pria itu sedang bersama dengan Hyun Gi. Sedang mengajari bayi bergigi 2 itu bagian-bagian tubuh.

Siwon sempat mendengar Kyuhyun berkata “nose” sambil menunjuk hidungnya sendiri, lau Hyun Gi mengikuti dengan pelafalan amburadul mengatakan “nowww.”

Dua orang itu nyaris berdebat mengenai “nose”, dan “nowww” jika kedatangan Siwon terlambat satu detik saja. “APA?” ketus Kyuhyun tampak jengkel. Dia kesal pada Hyun Gi, namun semua orang terciprat amatahnya.

“Dia belum 1 tahun, kau yang bodoh kalau memaksanya harus bisa berbicara sepertimu.” sinir Siwon meratapi kebodohan sang adik. Tangannya lants merogoh-rogoh sakunya lagi. tempat dimana tadi dia mengeluarkan amplop dan diberikannya kepada Songjin, juga mengeluarkan benda serupa, namun kini diberikannya kepada Kyuhyun.

“Ini apa? cek gaji?”

“Sejak kapan gajimu berupa cek?” alis kanan Siwon naik keatas tinggi.

“lalu?”

“Baca saja.”

“surat cinta?”

well, sorta.” Bahu Siwon bergerak naik turun. Dia tersenyum kepada Hyun Gi lalu melambaikan tangan “wanna some ice cream buddy?” tawarnya yang langsung dijawab cengiran lebar.

Dua gigi susu mungil itu pun tampak jelas kemudian “you name it” Siwon berkata sambil mengangkat Hyun Gi dari kursi duduknya. Mendudukkan bocah tersebut pada bahunya, “baca sampai habis. sekarang.”

“kenapa?”

“Baca saja kenapa harus bertanya?!”

“ini apa? surat cinta dari siapa?” Kyuhyun tampak lebih sewot. Dia melirik Songjin lalu kembali memandang Siwon. Pria tak bertanggung jawab itu sudah berjalan meninggalkannya bersama Hyun Gi sambil bercakap-cakap.

“Yaaah!! kalau dia tahu, aku bisa dibantai habis!” suaranya menjadi rendah nyaris berbisik namun Siwon tak menggubrisnya sama sekali.

Baguslah, kalau nanti Songjin menemukan surat ini, dia benar-benar akan menyeret kerah kemeja Siwon sampai pada hadapan Songjin.

** ** **


Kepada senyawaku,
Hai sayang, ketika kau membaca surat ini, tentu aku sudah menjadi pasanganmu. Rutinitasku, pasti membangunkanmu dipagi hari. Lalu membuatkanmu kopi, merapikan pakaianmu, dan semoga aku sudah bisa memasak saat kita telah bersama, karena perlu kau tahu, saat ini aku sangat payah dalam urusan dapur.
Jadi, bagaimana pernikahan kita? apa kita melakukan pernikahan ala negeri dongeng yang selalu aku inginkan? Rapunzel? Cinderella? Apa ada banyak lampion? ditengah padang rumput yang luas? atau, pada masa itu, ketertarikanku akan negeri dongeng sudah menguap?
Saat ini, mungkin aku masih belum bisa mendengar suaramu dengan jelas. Didalam kepalaku, kau masih abu-abu. Tapi aku sangat yakin, suaramu akan menjadi suara paling indah yang pernah kudengar sepanjang hidupku. Entah mengapa aku begitu yakin. Mungkin, karena aku adalah tipe wanita yang bisa terpikat hanya dengan suara merdu.
Saat ini, aku juga belum bisa membayangkan bagaimana rupamu. Apa kau tampan? apa kau memiliki hidung yang mancung? atau kau malah memiiki hidung keci? Apa bibirmu se-sexy bibir Ryan Phillippe? Apa matamu seindah mata Leonardo DiCaprio? atau ternyata, kau memiliki mata yang juling? Apa kau tinggi? lebih tinggi dariku? atau malah kau lebih pendek dariku?
Ah apapun itu, percayalah aku akan tetap mencintaimu. Aku sudah memilihmu. Aku pasti memiliki pertimbangan tersendiri mengapa aku melakukannya. Dan omong-omong, biasanya aku memiliki selera yang bagus. Jadi, aku yakin kau pasti yang terbaik diantara yang terbaik. Itulah mengapa aku memilihmu.
Jadi, saat kau membaca surat ini, apa kita telah memiliki anak? apa mereka sepertimu? atau sepertiku? Apa itu perempuan? atau laki-laki? Kau tahu, biasanya para gadis mengharapkan memiliki anak perempuan tapi percayalah, aku tidak akan melakukan itu. Apapun yang kudapat, akan kuterima dengan senang hati.
Sayang, kau tahu, kau pasti sudah tahu kalau aku bukan wanita pintar. Hingga saat ini, aku bahkan masih belum bisa memasak. Tidak ada lampu hijau tanda-tanda aku sanggup memasak telur dengan indah. Jadi kalau sampai saat kau membaca surat ini, aku masih saja melakukan ketololan didapur, aku harap kau bisa sedikit memahami, bahwa aku bersungguh-sungguh saat aku mengatakan, aku payah dalam urusan dapur.
Tapi aku bisa menyapu. Aku bisa membersihkan rumah. Aku bisa menjahit. Dan aku sangat menyukai anak-anak. Jadi, biarpun payah didapur, setidaknya aku pandai melakukan hal lain. Aku juga akan berusaha menjaga tubuhku dengan baik supaya kau tidak memiiki waktu untuk melirik wanita lain, karena aku pasti akan jauh lebih sexy dibandingkan wanita-wanita lain, kkkk~.
Jadi, bagaimana kita bisa saling mengenal? Apa kita bertemu didalam bus? kereta? atau dihalte? Aku selalu percaya pada takdir, jadi mungkin kita bertemu ditempat umum seperti itu. Tapi, mungkin juga aku mengenalmu, karena Appa dan Eomma. Atau juga karena Siwon Oppa dan Kyuhyun yang mengenalkanmu padaku. Atau mengenalkanku padamu.
Aku tidak akan heran dengan kemungkinan terakhir itu. Aku tidak pandai dalam bersosialisasi. Aku tidak memiliki banyak teman. Hanya dua cecunguk itu temanku. Ah, aku mengenal mereka sangat lama, mereka bukan hanya cecunguk tengik. Mereka telah menjadi bagian dari diriku.
Jadi sayang, tolong jangan pernah cemburu kepada dua cecunguk itu, jika suatu saat kau merasa aku lebih mendahulukan mereka daripada dirimu. Ketahuilah, aku mengenal mereka lebih dulu daripada aku mengenalmu. Mereka yang lebih dulu, selalu ada untukku ketika masa sulitku—bukan dirimu. Walaupun aku tahu, setelah kau datang, kau menggantikan peran itu.
Boleh aku beri saran? kalau kau mau, kau bisa bertanya kepada mereka mengenaiku. Aku yakin mereka mengenalku dengan sangat baik. Kadang kupikir, mereka lebih mengenalku daripada Appa dan Eomma. Atau daripada diriku sendiri. Jadi daripada kau bertanya-tanya mengapa sikapku begitu menyebalkan dan menyulitkan untukmu, lebih baik kau mengenalku lebih jauh melalui mereka.
Sayang, saat aku menulis ini, kupastikan aku sedang seorang diri. Tidak tidak, sebenarnya aku memang selalu sendiri. Tidak ada yang mau berteman denganku, apalagi menjadikanku sebagai pasangan mereka. Saat aku berpikir mungkin aku memiliki wajah yang buruk, Appa selalu berkata bahwa aku adalah gadis tercantik didunia.
Tentu saja dia akan menjawab seperti itu. Dia kan ayahku. Kalau Appa berkata aku buruk rupa, dia sama saja sedang mengejek wajahnya sendiri, ‘kan? Siwon Oppa juga mengatakan hal yang sama seperti Appa. Aku rasa mereka bersekongkol. Aku tidak mau bertanya dengan Eomma karena Eomma sangat menyeramkan. Dia seperti wanita dengan tanduk dikepalanya. Melihatnya saja sudah membuatku mulas.
Jadi, aku bertanya saja kepada Kyuhyun— kau tahu jawaban macam apa yang akan diberikannya ‘kan? Kau…. mengenal Kyuhyun ‘kan? si tengik itu walaupun memiliki lidah tajam, tapi terkadang apa yang diucapkannya masuk diakal.
Dia temanmu? kalau iya, aku tidak perlu menjelaskan tentangnya lagi padamu. Tapi kalau bukan, kau harus tahu, seberapapun kejam lidah cecunguk itu, dia tetap akan mengatakan yang sebenarnya. Saat orang lain berkata ‘iya’ padamu, aku bisa pastikan Kyuhyun akan memberikan jawaban sebaliknya.
Kyuhyun adalah tipe lelaki yang akan mengatakan secara terus terang apa yang dirasakannya padamu. Jika itu buruk, maka itu adalah buruk. Jika baik, maka itu juga baik. Jadi, kau akan mengerti mengapa aku lebih sering menceritakan masalahku kepadanya, dibanding Siwon Oppa, walau bersama dengan Siwon Oppa selalu membuatku merasa memiliki seorang kakak laki-laki, dan Kyuhyun tengik, selalu membuatku berpikir mengapa neraka tega melepaskan satu iblisnya ke bumi??
Apapun itu, aku sangat sangat menyayangi mereka. Sama saja seperti aku menyayangimu. Ah, tidak, kau kupastikan akan mendapatkan kadar lebih banyak dibanding mereka. Jangan khawatir, aku ini wanita yang adil.
Sayang, saat kau membaca ini, aku pastikan aku masih seorang diri, tanpa pasangan. Aku akan menikmati masa ini dengan penuh semangat, karena nanti, aku tahu akan ada ribuan hari yang kujalani denganmu. Aku tidak akan kesepian lagi. Jadi sampai saat itu datang, aku akan menunggu dengan tenang karena kuyakin, setiap detiknya langkahmu sedang menujuku.
Tidak mengapa kalau kau bertemu dengan orang lain ditengah jalan. Aku percaya, jodoh akan kemana-mana dulu sebelum berhenti dan singgah setelah menemukan pemberhentian terakhirnya. Jadi, puaskan masa-masa itu sebelum kau akan tertahan bersamaku selamanya, nanti.
Sumpah aku janji, saat kau datang nanti, aku tidak akan rewel bertanya mengapa kau lama sekali? Aku tidak akan mengeluh bahwa aku lelah menantimu. Sudah berapa banyak hati yang kau lewati untuk menujuku? Apa kau baik-baik saja selama perjalanan? Apa diantara hati yang kau lewati, ada yang menyakitimu hingga kau terluka parah?
Sayang, saat kau membaca surat ini, kau harus tahu bahwa kau adalah satu-satunya yang kutunggu. Aku sungguh berterimakasih atas segala perjuanganmu, untuk menghampiriku. Aku akan berupaya penuh untuk mengobati luka-lukamu, jika kau datang padaku dalam kondisi kritis. Sumpah, aku tidak akan menyiakanmu. Jadi, sebagai ganti dari kejujuranku padamu, mengenai kepayahan dan segala ketololanku, kumohon, jangan pernah menyerah padaku.
Jika itu sulit, kau pasti tahu cinta tidak pernah terasa mudah untuk mereka yang benar-benar ingin saling bertahan. Jika kau ingin pergi, cobalah temukan alasan mengapa dulu kau bersusah payah menghampiriku. Jika kau marah padaku, kau bisa pergi sesaat, tapi jangan lupa kembali, karena aku selalu menunggumu.
Tolong, kumohon jangan menyerah padaku. Aku tahu aku memang payah. Tapi kau harus tahu bahwa si payah ini benar-benar mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu, dulu, kini, dan nanti.
Dari aku yang mencintaimu, senyawamu bertahun-tahun yang lalu.
PS: Kau diperbolehkan memberikanku pelukan, atau ciuman usai membaca surat ini. Ah, tidak, kau boleh melakukan apapun yang kau mau. Kalau aku sedang marah padamu, kau bisa membujukku dengan memakai kemeja putih dan dasi lalu berkeliaran dengan itu dihadapanku. Kau tahu lelaki akan menjadi 1000x lebih tampan ketika mereka mengenakkan suit and tie). Tapi kalau itu tidak berhasil, kau bisa tempelkan surat ini dikeningku. anggap saja surat ini adalah free pass untuk waktu yang tidak terbatas. Keren ‘kan?!

** ** **

Kepada entah siapa kau,
Aku tidak tahu harus menulis apa. Sebenarnya aku terpaksa menulis ini. Si pendek itu memaksaku melakukannya. Katanya ini seperti mesin waktu. kurasa dia terlalu banyak membaca dongeng. Kalau kau mengenalnya, maklumi saja, dia memang sinting.
Karena tidak tahu harus menulis apa, jadi aku tidak akan berbasa basi, Ada yang perlu kau tahu, aku baru saja dicampakkan oleh seorang gadis yang sangat kucintai. Jadi, saat aku menulis ini, kau harus tahu bahwa suasana hatiku benar-benar tidak karuan.
Appa berkata aku tampan. Siwon Hyung, Songjin, eomma, Seul Gi ahjussi, Aeri Ahjumma, seluruh pelosok bumi (baiklah yang ini mungkin aku berlebihan) mengatakan aku tampan. Tapi gadis itu mendepakku, jadi aku meragukan ketampananku. Atau, aku memang tampan, seleranya saja yang buruk.
Tapi sebenarnya, sejak awal entah mengapa aku tahu saja kalau dia tidak mencintaiku. Maksudku, tidak benar-benar melakukannya seperti aku padanya. Padahal, aku tidak pernah bermain-main jika telah jatuh cinta. Oh sebentar, aku belum pernah jatuh cinta kepada gadis lain selain dirinya (aku lupa).
Aku selalu menduga gadis itu menyukai Siwon Hyung. Tapi aku diam saja. Aku ingin lihat seberapa tajam instingku ini. Jadi, setelah dicampakan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan hidupku, karena sebelumnya, rencanaku telah tersusun matang hingga 100 tahun kedepan bersamanya (oke, aku berlebihan lagi kali ini) tapi aku berkata sesungguhnya mengenai rencana hidupku dengannya.
Saat ini, perasaanku memang hancur, tapi Songjin bersikap berlebihan sekali. Aku hanya baru dicampakkan. Aku kehilangan kekasih, bukan kehilangan sebelah mataku atau apa. Kau harus tahu, gadis gila itu memperlakukanku seperti aku adalah seorang tuna netra.
Dia menuntunku saat kami berjalan bersama dengan alasan menjagaku supaya aku tidak tersandung (katanya karena isi kepalaku sedang kemana-mana). Dia lupa kalau aku ini jauh lebih cerdas darinya? Hanya karena dicampakkan tidak lantas membuatku mendadak tolol. Seharusnya akulah yang mengkhawatirkan isi kepalanya (isi kepalanya sudah tercecer kemana-mana sejak dia dilahirkan).
Aku tidak mengerti apa gunanya surat mesin waktu ini. Songjin memberi tahuku surat ini akan dikubur dibawah tanah dan diambil ditahun-tahun mendatang saat kami sama-sama sudah memiliki keluarga masing-masing. Saat kami sudah memiliki anak, cucu, cicit kalau perlu, walau sebenarnya aku tidak yakin dia bisa bertahan selama itu dalam hidupnya (dia senang marah marah jadi mungkin dia akan mati karena serangan jantung atau darah tinggi.)
Atau mungkin nanti akan ada seseorang yang berani membekapnya dengan handuk sampai dia kehabisan oksigen lalu pingsan dan mati. Atau mungkin—
Sudah kukatakan ‘kan bahwa otaknya tercecer dimana mana? dia lupa kalau senyawa kertas bisa membaur dengan tanah? (atau dia tidak tahu). Dia sama sekali tidak berpikir untuk memasukan surat ini lebih dulu kedalam sebuah botol, atau apalah itu namanya (dia benar-benar bodoh.)
Kata Songjin aku harus menuliskan harapanku disini. Terlebih pesanku untukmu, pasangan hidupku dimasa depan. Entah mengapa 80% aku berpendapat bahwa nanti surat ini akan kubaca sendiri karena setelah dicampakkan, jujur saja, aku tidak memiliki hasrat untuk memiliki kekasih lagi, apalagi menikah. Hidup sendiri sampai tua itu tidak ada salahnya ‘kan? jadi yeah.. (hai diriku bertahun-tahun kemudian! kau masih setampan aku yang sekarang ‘kan?) oh, lupakanlah.
Tapi jika kemungkinan 20% itu ada, dan kau si pembaca surat ini adalah wanita, sebenarnya aku tidak tahu harus berpesan apa padamu. Sumpah. Tapi begini saja, saat kita telah bersama, aku yakin kita memiliki alasan masuk akal, mengapa kita memutuskan untuk menikah. Benarkan?
Kita mungkin saling mencintai. Atau kau yang mencintaiku, tapi tidak denganku. Atau, aku yang mencintaimu, tapi kau tidak. Atau jangan-jangan, kita menikah karena sebuah alasan mengerikan lain, apa… kau menikah denganku karena kuhamili?? (astaga!)
Apapun alasan itu, aku yakin, kita memiliki alasan masuk akal hingga memutuskan untuk meneruskan sampai pada tingkat sejauh ini. Dan jika kau benar kuhamili (tanpa sengaja) sebenarnya aku bahkan tidak tahu harus berkata apa padamu. Kau pasti sangat kesal karena harus bertahan dengan lelaki brengsek sepertiku.
Jika seperti itu keadaannya, setelah membaca surat ini, kau diperbolehkan untuk bercerai dariku. Kau kuperbolehkan untuk mencari lelaki yang kau anggap pantas untukmu (aku akan mendukungmu), kau juga bisa membawa anak kita (karena aku yakin aku ayah yang payah).
Tapi, jika kita saling mencintai (aku tidak yakin dengan hal ini) bisa kau jelaskan padaku lagi bagaimana hal itu bisa terjadi? karena begini, aku kurang mempercayai takdir. Takdir sudah menghempaskan seluruh orang yang kucintai. Ayahku, ibuku, kakak perempuanku. Pada dasarnya, seluruh hidupku telah raib dibawanya pergi.
Sesuatu yang buruk selalu terjadi saat aku telah benar-benar menyayangi seseorang. Gyuwon gadis itu juga salah satu contohnya. Jadi mulai saat ini, aku berusaha untuk tidak menyayangi orang lain lagi, secara berlebihan. Secukupnya yang kuanggap wajar. Kurasa dihidup sebelumnya, aku adalah pembunuh keji atau pencuri, hingga Tuhan menghukumku seperti ini sekarang.
Jadi, kalau sekarang aku menerima hukuman ini dengan lapang dada, mungkin dikehidupan selanjutnya aku bisa mendapatkan hidup yang nyaman seperti orang lain miliki. Jika seperti itu, semoga dikehidupan selanjutnya aku bertemu denganmu lagi supaya kita bisa bersama dan memulai segalanya dengan benar tanpa kesalahan (semoga kita berjodoh).
Tapi melihat kemungkinan yang ada dan kepercayaanku yang tipis akan hidup tanpa pernikahan akan tetap baik-baik saja adalah berbanding terbalik dengan prinsip hidup ayah tiriku, aku merasa bahwa kemungkinan besar kita bertemu dan sampai pada tahap pernikahan, karena orang tuaku.
Kau tahu, perjodohan adalah hal klise yang payah. Tapi jika kita benar-benar tidak memiliki pilihan, dan kau terpaksa hidup bersamaku, kau harus pahami satu hal, seberapapun payahnya hal itu, aku akan tetap bertanggung jawab. Akan kupastikan hidupmu aman dan terjamin bersamaku meski kita tidak saling mencintai.
Tetapi, saat kau membaca surat ini dan kita telah menikah, dan ternyata, akulah biang kerok semuanya dalam pernikahan kita, bahwa aku yang memulai, aku mencintaimu, aku jatuh cinta padamu (agak tidak mungkin, tapi anggaplah begitu) tetapi kau tidak mencintaiku, kau bertahan karena perjodohan tolol itu (ulahku), maka yakinilah bahwa ketika aku telah jatuh cinta, aku benar-benar melakukannya. Aku akan memberikan apapun untukmu. APAPUN.
Aku tidak meminta banyak padamu. Aku tidak peduli seperti apa rupamu. Tidak peduli, secerdas apa dirimu (tapi semoga isi kepalamu lebih banyak daripada Park Songjin). Tidak peduli seberapa tenarnya dirimu. Atau seberapa tidak terkenalnya dirimu. Aku bahkan tidak peduli jika kau tidak memiliki perasaan serupa denganku. Aku hanya ingin satu hal saja. ini sederhana. sangat mudah.
Tolong bertahan. Hidupku sudah kacau balau. Aku tidak tahu separah apa saat kita bertemu. Semoga tidak bersisa serpihan saja. Bertahanlah. Meski kau tidak menginginkanku, aku akan melakukan apapun supaya kau nyaman bersamaku, meski kau tidak menginginkanku.
Aku tidak akan selamanya bersama dengan appa dan eomma. Siwon Hyung akan menikah, si pendek itu juga. Saat ini mungkin aku bisa menghabiskan hari-hariku bersama mereka. Tapi aku tidak yakin 10 tahun lagi kami bisa seperti ini. Mereka semua akan meninggalkanku sendiri. Jika aku jatuh cinta padamu, ketahuilah, aku pasti menggantungkan hidupku padamu. Hanya kau satu-satunya harapanku. Tanpamu, aku bisa mati. Jadi tolong, bertahanlah untukku. Atau kalau itu terasa berat, kau bisa melakukannya karena kau mengasihaniku.
Bertahanlah karena kau mengasihaniku. Aku janji, aku akan menjagamu sebaik dan semampu yang bisa kulakukan. Kalau aku benar jatuh cinta padamu, jangan pernah bosan mendengarkan ketika aku berkata aku mencintaimu.
Aku bukan sedang bermaksud menggodamu (atau mungkin begitu), saat mengatakannya, aku hanya sedang memastikan dirimu bahwa kau selalu mengetahui dan mengingatnya. Bahwa aku mencintaimu.
Ah ini benar-benar memalukan. sudahlah lupakan.
PS: Setelah membaca surat ini, tolong jangan sampaikan isi surat ini kepada siapapun. Termasuk Siwon Hyung, apalagi Songjin. Dua orang itu sungguh tidak bisa dipercaya. Aku akan menjadi bulan-bulanan kalau mereka tahu isi surat ini. Songjin pasti akan memerasku habis-habisan.
PS-PS: Kalau kau sudah membaca surat ini dan mengenal Park Songjin, iya si gadis tengik itu, dan kau masih menemukannya sering memakai pakaian minim bahan, tolong sampaikan padanya mengenai bahaya memakai pakaian seperti itu dimuka umum. Dia bukan terlihat buruk dengan itu, kebiasaannya itu dapat membahayakannya. Ayah dan Ibunya sudah angkat tangan mengenai hal ini. Kau bisa memberikannya jubbah atau karung kalau dia masih membangkang. Katakan saja dia terlihat gemuk dengan pakaian terbuka.
Aku pernah menemukan Dong Wook memandangi kakinya dengan liur menetes, dan aku yakin akan ada Dong Wook–Dong Wook lainnya diluar sana, yang akan seperti itu padanya. Aku sudah lelah memberitahukannya. Kurasa Siwon Hyung juga sama saja seperti ku. Mungkin, kalau sesama wanita sepertimu, dia akan mendengarkan.

** ** **

Songjin diam terpekur, usai membaca kertas kumal kekuningan pemberian Siwon padanya tadi. Tangan kanannya secara reflex mengusap pipi ketika ada sesuatu yang berjalan sangat cepat.

Dia melirik Kyuhyun berhati-hati, berharap tidak tertangkap basah, namun ketika dia melakukannya, Kyuhyun pun baru saja usai menyelesaikan baca-membaca kertas usangnya. Kini, keduanya sama-sama terpekur diam.

“a—aku bisa menjelaskannya.” Kyuhyun terbata mengatakannya. Dia tersenyum, namun senyumannya tampak kaku— terlalu kaku bahkan. “i—itu…” Kyuhyun menelan ludah.

Songjin sendiri tak bisa mengeluarkan suara apa-apa. Mendadak, untuk sesaat saja bibirnya terasa kelu. Ada beberapa bagian yang diingatnya jelas, bahwa Kyuhyun menghina dirinya, namun bukan itu persoalannya.

Songjin lantas sadar, dirinya menangis bukan karena kesal Kyuhyun menjatuhkan harga dirinya dalam surat tersebut— namun kejujuran pria itu yang tampak menyedihkan.

Meski seperti itu, Songjin masih saja tidak bisa mengatakan apapun. Pada akhirnya, hanya tangannya saja bergerak menggapai ujung sweater tangan kiri Kyuhyun yang tampak terlalu besar daripada pemakainya.

Mulutnya segera mengutuk pria tersebut hinaan “dasar bodoh!” berulang kali dengan mata berkaca-kaca disaat Kyuhyun sendiri lupa, apa yang sebagian besar ditulisnya disana. Dia hanya ingat bagian dia tidak tahu harus menulis apa, dan menjuluki Songjin si gadis sinting.

“memangnya apa yang kutulis??”

“sekarang aku akan memerasmu habis-habisan.” Senggukan Songjin semakin kencang. Sambil dirinya menarik-tarik lengan sweater Kyuhyun lalu pria tersebut mau tak mau begeser mendekat, mencoba mengambil surat ditangan Songjin, namun Songjin segera memasukannya kedalam saku.

“memangnya kapan kau pernah sendirian??”

“Ha?”

“Kenapa kau bodoh sekali?!”

“Yah! aku baru saja ingin memujimu karena kau terkesan manis disini!” Kyuhyun melambaikan surat milik Songjin ditangannya, “kau mau mengacaukannya?! mana ciuman yang dijanjikan disini?! Pih! omong kosong!”

“itu bukan untukmu.” mata Songjin tak lagi berkaca-kaca. Kini air mata dan senggukan tadi telah membanjiri wajahnya bagai air bah. “kukira itu bukan untukmu” dia kemudian buru-buru meralat.

“Kukira itu juga bukan untukmu.” Kyuhyun mendesah panjang menurunkan bahu tegangnya. Tangannya lantas menepuk-tepuk kepala Songjin lembut, “mana kutahu kalau aku akan menikahimu?! tapi hey, aku baru ingat, sebagian dari kata-kataku benar terjadi, ‘kan?”

Songjin mengangguk. Dengan punggung tangannya dia menghapus air mata, walau tak sampai dua detik tempat yang sama tadi akan basah lagi juga, “kau pencuri dikehidupan sebelumnya.”

“He?”

“Dan pembunuh keji”

“Aish” Kyuhyun diam memandangi Songjin tak percaya “dari sekian banyak tulisanku, kau hanya ingat bagian yang itu saja?!” geramnya mengubah tepukan dikepala Songjin tadi menjadi sebuah pukulan ringan dengan kepalan tangannya.

“kalau tidak salah, aku juga mengatakan kalau aku akan melakukan apapun—“

“aku tahu.” sela Songjin buru-buru. “aku membencimu!!”

“Tu—tunggu! bagian itu tidak ada disini!” surat Songjin Kyuhyun kibarkan diudara tinggi-tinggi, “jangan membual!”

Songjin menggeser duduknya dan merampas seluruh bantalan kursi didekatnya, “aku membencimu! dasar bodoh!” ucapnya selagi tangannya sibuk memukuli Kyuhyun dengan bantal-bantal tersebut.

Tak peduli pada rintihan Kyuhyun, dan tubuhnya yang sudah meringkuk disudut paling pinggir sofa, “kau mencintaiku—aduh!” Kyuhyun merintih lagi ketika pukulan kencang hinggap dikepalanya, “kau bahkan memanggilku sayang berkali-kali disini— Ah! Songjin, sakit! hentikan!”

“kalau dulu kau sedepresi itu, kenapa tidak menceritakannya padaku atau Siwon Oppa?”

“cerita bagaimana, kau sibuk dengan Changmin Oppa-mu! Ah! Songjin!!!!!” Jeritan Kyuhyun nyaris terdengar seperti gadis-gadis fangirls kala tak sengaja bertemu idola mereka dipusat pertokoan, “ya ampun, aku suamimu, kau benar-benar tidak—AHH KEPALAKU!!— DASAR TIDAK SOPAAAAN!!”

** ** **

“Pa??” Telunjuk gempal Hyun Gi mengarah pada Kyuhyun jauh didepan sana. Dia mengintip Kyuhyun sambil terus mengigiti biscuit miliknya, lalu menoleh pada Siwon lagi seolah bertanya kepada pamannya, ‘apa yang terjadi disana?’.

“tontonan yang tidak mendidik sebenarnya.” Siwon mengawali, “tapi percayalah, mereka seperti itu karena saling menyayangi. Aku tahu jenis pertengkaran seperti itu sejak sebelum kau ada.” lanjutnya menepuk kepala Hyun Gi, lalu menyodorkan sebongkah biscuit lagi meski biscuit yang lama masih bocah itu kunyah-kunyah.

Keduanya memandangi Kyuhyun dan Songjin saling berkelahi hingga pada akhirnya Kyuhyun sanggup menyelipkan tangan kirinya pada lingkar pinggul Songjin, kemudian menarik tubuh Songjin mendekat padanya hingga dirinya mampu membuang dua bantal ditangan kanan dan kiri Songjin. Mendengus, menyentil dahi Songjin, lalu mencium pipi Songjin brutal hingga Songjin berganti yang mengaduh kesakitan.

They love each other that much.”

“Wofu?”

“He?”

“Wowofu?”

“wowofu?” alis kiri Siwon terangkat cepat, “wowofu itu apa??”

“wowofu!!!”

“tofu?” dahi Siwon berkerutan “kenapa tofu? apa hubungannya? kenapa kepalamu selalu berisi makanan?”

“He?”

“tofu kan?”

“……..”

** ** **

To myself in the future,

Prepare your best clothes to attend a wedding ceremony, because:

“THEY WILL GET MARRIED”

** ** **

227 thoughts on “[KyuJin Series] Dear You

  1. Suratnya songjin manis banget kalau punya kyu ambyar banget , pantes lah kalau songjin marah.. mereka mau berantem model apa aja malah benih cintanya semakin bertambah.. kasihan hyun gi harus melihat tontonan yg kurang bermutu. Hhh wowofu kn artinya i love you , bener2 deh siwon ngirainnya tofu

  2. ouh surat yg mengharukan dan manis diwaktu yg sama. pd akrny mrk akn slu berada dilingkaran itu aja dgn org yg sma. tpi yg surat kyu isinya kbnyk ngatain songjin

  3. Surat yg manis wkwk…. tp tetap saja terselip kata-kata yg agak mengandung hinaan wkwk… tp kyuhyun maupun songjin tak ada yg tau kalau mereka akan menikah dan mempunyai anak yg bilang wowofu😂😂, yg terakhir bikin ngakak masa siwon nyangka wowofu is tofu😂😂

  4. Ketika suratnya Songjin manis , malahan punya Kyu amburadul .
    Suratnya bikin mereka jadi berantem , dan parahnya di tonton sama si karung beras Hyun Gi . Bener2 pasangan yang gak elit tapi ngegemesin 😂😂😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s