[KyuJin Series] Impagabile


Impagabile

“Luxury is not about material value, but it is always priceless, special and different. Luxury is not always explicit, but ever absolute and incomparable like the gown of a mermaid or the jewel of a nymph.” 

 


Siwon menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Dia mendesah panjang sambil merenggangkan dasi terburu-buru yang rasanya telah mencekiknya seharian ini.

Matanya melirik pada lembaran dokumen yang berhamburan dihadapannya. Semua itu adalah dokumen yang belum tersentuh olehnya, namun harus segera beres tepat sebelum pukul 4 sore nanti.

Dan Cho Kyuhyun. Lelaki itu tega-teganya pergi meninggalkan dirinya bersama tumpukan pekerjaan mereka? Oh ya Tuhan, mengapa Siwon tidak merasa terkejut dengan hal itu??

“Kemana lagi anak itu??”

“Pergi.” Jawab Gyuwon, sang asisten santai sembari membereskan meja. Lalu terdengar Siwon menghembuskan napas kesal— semua orang di Millennis pasti akan paham mengapa Siwon bersikap seperti itu.

“oh aku terkejut.” Sinis Choi Siwon memutar bola mata bernada sama sekali tidak terkejut. Tangannya mulai menggapai sebuah map yang Gyuwon sedang berusaha rapikan.

“Tidak ingin tahu kemana??”

“Berkencan buta dengan Park Songjin, paling—“

“Oh dear” kini Gyuwon yang menghela napas sambil memuta bola mata “nyaris tepat. Kecuali bagian dengan siapa anak itu pergi.” katanya santai duduk disofa.

“Keponakanmu berusia 1 tahun hari ini sir,”

“Eh?”

“—dan kalau boleh sedikit lancang, aku ingin mengambil cuti setengah hariku untuk ikut kencan buta atasan tengik kita di kebun binatang siang ini.” Gyuwon melirik jam dipergelangan tangannya, “sekarang.”

Oh ya ampun! Bagaimana bisa Siwon melupakan Cho Hyun Gi-nya??

** **

Pada saat yang sama, 3 orang topic pembicaraan tadi tampak berjalan santai menyusuri sebuah kandang besar dengan semngat digendongan seorang pria.

Hyun Gi. Cho Hyun Gi melompat-lompat digendongan Kyuhyun ketika mereka sampai dikandang gajah dan dengan reflex berteriak “MA!” membuat Songjin segera melemparkan pandangan tajamnya.

Kalau-kalau Hyun Gi sedang dihasut oleh setan yang menggedongnya, karena bayi sekecil itu tidak mungkin memiliki inisiatif untuk menyamakan ibunya dengan gajah.Tapi sekarang, disanalah mereka berada dan itulah yang sedang terjadi. Hyun Gi yang sibuk menunjuk 5 kawanan gajah dengan telunjuknya dan terus menjeritkan “MA!” sedangkan Kyuhyun terburu-buru menggelengkan kepala kepada Songjin.

“sumpah, aku tidak melakukan apa-apa!!” katanya panic. Kyuhyun kemudian memberitahu putranya bahwa hewan dihadapan mereka bernama gajah. bukan ‘MA!’.

“Hei, itu bukan eomma!” Kyuhyun berbisik. Sedikit melirik pada Songjin tak ingin wanita itu marah padanya, namun sepertinya terlambat. wanita itu telah pergi meninggalkan mereka untuk menuju kandang hewan lain seorang diri.

Sedang Kyuhyun mati-matian berusaha memberitahu Hyun Gi bahwa hewan dihapadan mereka bukan ibunya, atau sesuatu yang menyeruapi ibunya, Hyun Gi masih menunjuk 5 kawanan gajah itu dan berkata “MA” dengan sangat kencang sambil menyengir lebar.

Ada yang tak Kyuhyun pahami. sepasang mata bulat Hyun Gi sebenarnya sedang memerhatikan seekor gajah kecil yang berdiri diantara dua gajah berhimpitan.

Seekor yang besar menggerakkan belalainya menyentuh punggung gajah kecil berulang kali dan entah bagaimana, Hyun Gi ingin menyebutnya ‘ma’.

Mungkin eomma pernah melakukan itu padanya seperti gajah besar itu lakukan saat ini.

Mungkin juga, karena eomma selalu melakukan itu padanya, dan dirinya ingat, rasa lembut belaian tangan eomma dipagi atau malam hari.

Entahlah.

** **

“Birthday boy!”

Begitu semua orang memanggil Hyun Gi hari ini. Kecuali Songjin mungkin. Wanita itu masih merasa sedikit dongkol dengan panggilan kesehariannya diberikan kepada gajah secara sukarela oleh sang anak.

Jadi Songjin hanya sesekali berinteraksi dengan Cho Hyun Gi. Selain karena, ayah ibu mertua, ibu nya sendiri serta won couple yang telah datang entah tahu dari mana bahwa dirinya berada dikebun binatang ini saat ini, sedang sibuk mengerubungi putranya dengan ekspresi bahagia yang menurutnya tampak berlebihan.

Dia bahkan tidak merasakan kesenangan berlebihan seperti itu, padahal dirinya adalah orang tua si birthday boy!

“cucuku berusia 1 tahun~ cucuku yang tampan.” begitu nyanyian dadakan aneh buatan Choi Ki Ho sambil menggendong Hyun Gi— mengangkat bayi itu diudara dan menggoyangkan tubuh mungil Hyun Gi.

Sedangkan Hyun Gi sama sekali tidak terlihat menikmati tarian serta nyanyian aneh dengan tubuhnya terombang ambing diudara. Matanya membesar karena panic ketika matanya berhasil melihat tanah terlihat jauh sekali dari tempatnya saat ini.

Kala Hyun Gi sibuk dijamah oleh para orang tua, Kyuhyun mengambil kesempatan untuk berbincang bersama Siwon. Pria itu membawa satu tas berisi pekerjaan mereka. Henry yang datang bersama pun tak lupa membawa laptop.

Kini kursi panjang ditengah kebun binatang itu menjadi meja kerja dadakan atasan Millennis yang tampan. Bukan apa-apa, mereka terpaksa melakukannya. Ada beberapa hal yang harus dikerjakan cepat mengingat proyek baru ini harus berjalan tak kurang dari 4 hari lagi.

“Kita ke Jeongseon saja!!” sayup terdengar usul lelaki separuh baya dengan bayi digendongannya itu yang membuat kakak beradik berdasi ketat dimeja panjang segera membuang wajah ke arahnya.

“Dia tidak gila kan?” Siwon mengutuk segera. Mereka memandangi sang ibu yang tampak sangat senang dengan ide suaminya. Langsung bertepuk tangan dan bangkit dari duduk.

Kemudian tarian aneh tiba-tiba muncul dari ketiga orang tua disana, dengan bayi laki-laki berwajah pucat pasi memandang rerumputan. Entah ingin muntah atau menangis.

Tatapan tragis hanya dapat Kyuhyun dan Siwon tunjukkan ketika keputusan sepihak itu mendapat persetujuan cepat dari seluruh orang disana.

Hanya Park Songjin yang masih tampak tidak tertarik. wanita itu hanya duduk diam bersebelahan dengan Siwon. Yang entah mengapa, selalu menghindari pandangan Kyuhyun ketika mereka kerap berseborok hingga Kyuhyun segera mendengus sambil membuang wajahnya cepat-cepat saat mendapatkannya lagi.

** **

Dan Jeongseon bukanlah sekedar omong kosong. Choi Ki Ho pasti telah merencanakannya sejak lama. Bersama atau tidak dengan sang nyonya besar, tapi perjalanan ini, pasti SUDAH direncanakan sejak lama. Begitu batin Kyuhyun.

“apa kita tidak pulang dulu saja?” Tanya Kyuhyun ketika dirinya berjalan bersisian bersama sang ayah keluar dari kebun binatang. Hyun Gi telah terkulai lemas dipundaknya sambil menghisap ibu jari.

Matanya telah tampak sayu. Dijejali puting, bayi itu pasti akan segera terlelap dengan mudahnya. “untuk apa?” Choi Ki Ho berdecak menggerakkan bahu begitu santai.

“Untuk mengambil lebih banyak pakaian, misalnya?” Kyuhyun terlihat sengit pada sang ayah. Ingin mencakar, tapi kemudian ingat lelaki separuh baya ini adalah ayahnya. Sungguh perasaan penuh dilemma.

“Kau bisa membelinya diperjalanan nanti.” Cho Ki Ho menjawab lebih santai. “Jangan bertingkah sok melarat. Tumpukan uangmu dibank perlu dikurangi supaya yang baru bisa masuk dengan mudah” sindir lelaki berusia 60 tahunan tersebut, lalu masuk kedalam mobilnya meninggalkan Kyuhyun mendesis-desis bagai ular.

Kyuhyun kembali ke mobilnya dengan perasaan kalut. Sungguh 70 persen hatinya menolak perjalanan ini. Bukannya dia tidak setuju dengan rencana sederhana untuk merayakan ulang tahun putranya.

Dirinya sendiri juga merasa tidak enak hati karena hanya sanggup memberikan perjalanan eksklusif satu hari penuh sebagai hadian ulang tahun bagi Cho Hyun Gi.

Walau Kyuhyun tahu, demi Tuhan Cho Hyun Gi adalah putra pertamanya! Mati-matian dirinya meminta entah kepada siapa pertumbuhan lambat si gempal itu karena tahu, setiap detik dirinya melewati waktu dikantor, setiap jam itu pula dirinya akan melewati pertumbuhan sang putra.

Kali ini, sungguh ada yang lebih penting. Kyuhyun merasa begitu yakin. Nyaris sama yakinnya dengan keputusannya meminang gadis pemarah dan rakus— yang kini telah 3 tahun menjadi istrinya.

“Appa sudah gila.” begitu kata Kyuhyun saat dirinya masuk ke mobil dan meletakkan Hyun Gi yang telah tertidur— dikursi khusus bayi. Memasang sabuk pengaman dan mengecup pipi gemuk, kemerahan Hyun Gi.

“Kita pergi saat ini juga.”

“Kalau kau tidak mau, kita bisa pulang. Apa sulitnya?”

Songjin menyahut santai seolah ide berlibur 3 hari 3 malam di Jeongseon bukanlah sebuah petaka. “atau kau bisa pulang, sementara aku dan Hyun Gi ikut Appa?”

Nyaris saja Songjin benar-benar melakukan hal tersebut kalau saja dia tidak melirik Kyuhyun yang memandangnya dengan mata menyipit penuh intimidasi, hingga Songjin hanya dapat menyahut, “apa?” sama ketusnya, sebagai tanggapan atas sikapnya.

“Aku tidak mau mengganggu tuan sibuk bekerja— kau tahu? kau bisa hidup dengan tumpukan pekerjaanmu, dan aku bisa memiliki hidupku sendiri.” Dia berkata lagi. Kali ini, Kyuhyun tahu bahwa Songjin hanya sedang melampiaskan kekesalannya.

Beberapa bulan belakangan, dirinya memang sibuk dengan pekerjaannya. Tapi itulah intinya! ada sesuatu yang sedang sungguh-sungguh dikerjakannya. Tunggu sampai Songjin menyadarinya! Si sapi pemarah ini akan tercengang karenanya!!

Jadi alih-alih menanggapi kekesalan Songjin, Kyuhyun memilih untuk mengunci otomatis pintu mobilnya. Okay, dengan alasan lain mungkin saja Songjin nekat ingin kabur atau apa. Tapi berjaga-jaga, setidaknya 4 pintu disana telah dikunci otomatis dan hanya dirinyalah yang memiliki kendali atas pintu-pintu tersebut.

Kyuhyun juga sempat melirik Hyun Gi dari spion tengah. Melihat putranya masih tertidur pulas, dan ingat bahwa Hyun Gi tidur tanpa menggunakan susu sama sekali— murni karena rasa lelah, membuatnya terkekeh geli.

“Hei, kau ingat saat Hyun Gi berteriak ‘ma’ dikandang gajah??”

Seketika hujaman lirikan tajam sampai pada Kyuhyun lebih cepat dari kecepatan angin, namun pria itu terus terkekeh geli. “kurasa Hyun Gi bermaksud memberitahuku kalau eomma bertambah berat badannya menjadi seperti gajah~”

Dan jeritan kencang kemudian melolos secepat kilat didalam Bugatti hitam tersebut— yang lucunya, sama sekali tidak membangunkan Cho Hyun Gi dari tidur.

Oh, baiklah. Setidaknya sekarang kita tahu dari siapa kemampuan itu berasal bukan??

** **

Selain karena lelucon gajah, dan tumpukan kekesalan lain Songjin kepada Kyuhyun, perjalanan menuju Gangwon terasa hening didalam kendaraan mewah tersebut.

Didalam perjalanan tadi, awalnya sesekali Kyuhyun masih menggoda Songjin. Hanya supaya wanita itu tidak menekuk wajahnya terus menerus dan mau berbicara padanya. Oh, baiklah, dirinya mengerti mengapa tekukan wajah kerap kali diberikan untuknya.

Tapi hey, setidaknya saat ini mereka sedang berjalan-jalan!!

Maka kemudian, 2,5 jam perjalanan, dihabiskan mereka dalam diam. setengah jam berusaha membuat percakapan dengan Songjin ternyata hanya sia-sia. wanita itu marah padanya— entah akan sampai kapan.

Setibanya di Jeongseon, Songjin kembali berseloroh meningalkannya cepat. Seolah duduk dijok mobil mewah terasa bagai duduk dikursi besi tajam. Wanita itu juga tak lupa melucuti segala pengaman yang mengikat tubuh putranya, dan membawa si gemuk itu dalam gendongan dengan desahan panjang sambil berkata, “kau berat sekali sekarang. aku seperti menggendong karung beras.” protesnya.

Didalam mobil, Kyuhyun memilih untuk memandangi punggung Songjin yang menjauh. Pipi Hyun Gi tidak main-main besarnya. Sedikit banyak dirinya mengerti mengapa Songjin berkata ‘seperti menggendong karung beras’.

Dirinya pun merasakan kebas serupa ketika sudah menggendong putranya dalam waktu lama. Entah makanan penuh gizi apa yang telah mereka berikan kepada bocah itu. Namun dalam diamnya, Kyuhyun menyelipkan senyuman puas.

Yah, setidaknya putranya tidak kekurangan gizi. Ambil saja bagian amannya. Urusannya nanti hanya bagaimana cara mengempiskan perut serta apapun yang membengkak ditubuh bayi 1 tahun itu.

Tapi, itu nanti saja. Cho Hyun Gi terlihat sungguh menggemaskan dengan tumpukan lemak itu. Bukankah begitu? biarlah kini sebuah karung beras merangkak mengitari rumahnya.

Toh, karung beras itu terlihat menggemaskan.

Jadi, hari pertama mereka di Jeongseon rasanya tidak akan berakhir manis untuknya. Benar kan?

** **

“Jadi sebaiknya, kupikir kita harus berpikri dua kali untuk membeli kapal dari perusahaan mereka karena— Hai! selamat pagi?”

Siwon mendapati Songjin dengan piyama anpaman biru berjalan terseok menuju meja makan panjang. Songjin tidak akan pernah sanggup bagun diatas pukul 5. Itulah mengapa Siwon yakin nyawa Songjin belum menyatu sepenuhnya sekarang.

Tapi mengingat saat ini mereka berada diatap yang sama dengan Park Aeri, Siwon dapat menerka mengapa Songjin terbangun ketika matahari bahkan belum memunculkan diri.

Tangan Kyuhyun terulur mengusap punggung Songjin. Kepala wanita itu terkulai diatas meja kayu yang dingin. Sesekali tubuh Songjin ikut mengigil merasakan dinginnya udara desa ini yang 10 kali lebih dahsyat dari pendingin udara dikamarnya.

Tidak ada kopi. Kyuhyun belum membuat minuman pahit itu tapi Siwon sudah membuat teh hijau untuk menemani mereka bekerja tadi. Kyuhyun menggeser gelasnya yang masih mengepulkan asap kepada Songjin sambil berkata, “ini akan membuat tubuhmu hangat” katanya memastikan ucapannya akan terbukti, usai tegukan pertama melewati tenggorokan.

Songjin mengembuskan napas panjang. Duduknya menjadi tegap walau kadang sedikit limbung. Matanya masih satu garis, tapi sedang diusahakannya untuk terbuka lebar. Mulutnya bergerak-gerak menanyakan, “apa eomma sudah bagun??” kepada Siwon.

Benar. Siwon.

Sepertinya kemarahan Songjin kali ini kepada Kyuhyun terkesan bersungguh-sungguh. Bahkan pada kesadaran dibawah 50 persen, wanita itu masih sadar bahwa dia baru saja salah mengambil posisi duduk.

Songjin segera mengambil beberapa centi jauhnya setelah melihat Kyuhyun berada disamping dirinya. Walau masih sayu, pandangannya tetap terasa sinis. Setidaknya, begitu yang Kyuhyun lihat.

Lalu perlahan Songjin menyingkirkan tangan Kyuhyun dan melepaskannya dibawah meja, seberapapun Kyuhyun berusaha mengaitkan jemari mereka. Decakan sebal kembali Kyuhyun lontarkan. Teh panas itu pun ditolak Songjin mentah-mentah.

“kulihat tadi keluar. Jogging.”

“kapan??”

“Pukul 4 tadi.”

“Astaga!” Songjin langsung mengatakannya dengan suara serak dan mata masih mengantuk. “benar-benar gila.” komentarnya tak bernyawa. Orang gila mana yang melakukan jogging sepagi ini dengan udara dingin tidak wajar?

Songjin menggelengkan kepala lalu menekuk kakinya diatas kursi. Dia memandang 2 buah laptop silver dan banyak kertas diatas meja. Ada beberapa brosur, juga ponsel Kyuhyun dengan layar menyala— bahkan masih menampilkan kontak terakhir yang baru pria itu hubungi.

Seketika hembusan napas Songjin melolos perlahan. Ini bukan pemandangan asing baginya. Itulah masalahnya. Karena terlalu sering melihat hal seperti ini, maka itu membuatnya bosan. Bahkan ketika berlibur, Kyuhyun dan Siwon masih saja sibuk dengan entah apa itu.

Kepalanya mengangguk entah mengakui apa. Seseorang didalam kepalanya baru saja mengatakan sesuatu kepadanya. “sejak pukul berapa disini??” tanyanya ingin tahu saja, siapa tahu terkaannya tepat.

Dan gumaman Siwon untuk menjawab bahwa dirinya dan Kyuhyun bahkan belum mengistirahatkan tubuh sama sekali semenjak kehadiran mereka disini, gagal berkat ide Kyuhyun untuk menyudahi seluruh pekerjaan mereka saat itu. “lebih baik kau tidur saja. ini bisa dilanjutkan nanti.”

Mendengar kata nanti, membuat Songjin semakin muak hingga segera menurunkan kaki menjejak lantai kayu yang hangat. Sebaiknya dia melakukan hal lain selain mengganggu pekerjaan tuan-tuan sibuk ini.

Langkahnya kemudian terseok lagi menuju pintu belakang. Matanya sekonyong terbuka saat melihat dengan jelas pemandangan desa yang nyaris tak pernah ditemuinya selama ini.

Songjin terlalu sibuk menikmati ibu kota. Lupa kalau beberapa pedesaan, dapat menenangkannya. Matanya menelusuri setiap sudut tempat— sejauh kemampuan jarak pandangnya.

Bahkan masih terdapat kunang-kunang dipagi buta seperti ini. Bukankah ini luar biasa? Songjin ingat dirinya kerap kali berburu kunang-kunang tiap kali Park Seul Gi kembali dari perjalanan bisnis.

Mereka menangkap kunang-kunang dalam jumlah banyak dan memasukannya kedalam botol-botol kaca berukuran kecil. Ayahnya sering menggantung botol kaca itu diatas ranjangnya supaya Songjin bisa memandangi kerlap kerlip cahaya tersebut sampai tertidur.

Lalu dipagi hari, selalu muncul pertanyaan: kemana perginya kunang-kunang itu dari botol kacanya? yang sampai sebesar ini, dirinya pun masih belum tahu jawabannya.

Park Seul Gi pergi tanpa mengatakannya terlebih dulu. Songjin segera menarik napas dalam-dalam untuk mendorong kembali air matanya yang nyaris keluar. Lalu mengembuskan napas perlahan dari bibirnya yang mengerucut.

Satu pesan moral yang bisa diambilnya. Bahkan dalam keadaan lelah dan sibuk, ayahnya masih menyelipkan waktu baginya. Mencari kunang-kunang bukan sebuah hal penting yang mesti pebisnis lakukan, tapi hey, dia tetap melakukannya!!

Sekarang, lihat sendiri si tengik itu! Bahkan tidak tidur semalaman hanya untuk mendiskusikan uang! seolah tanpa melakukannya, lantas mereka akan jatuh melarat. Mengurus diri sendiri saja tidak becus. Bagaimana mengharapkannya untuk melakukan yang lain?

Ini bukan malam pertama Kyuhyun melewatkan jam tidurnya omong-omong. Dan bukan hanya jam tidur yang menjadi kacau. Songjin yakin, hidup pria itu sedang berada diambang batas kekacauan saat ini.

Jadi, semua itu untuk apa? Uang?

Kenapa dirinya tidak terkejut lagi dengan terkaan itu?

Uang memang segalanya. ini, kutipan yang benar kan?

** **

“Kau masih terlihat mengantuk.” Kyuhyun tahu-tahu duduk bersebelahan dengan Songjin diambang pintu kayu yang terbuka lebar.

Pria itu juga memandangi pemandangan serupa, seperti apa yang Songjin lihat. Dari tempatnya terlihat samar gunung Seoraksan. Kyuhyun amat menyukai gunung itu. Dia telah beberapa kali menghabiskan waktu mendaki gunung Seorak dan teringat terkahir kali kesana, dia harus bertempur dengan mata-mata para lelaki, pegawainya, karena ketolonan Songjin mengenakan hotpants ketika mereka mendaki.

Ah, Park Songjin selalu tahu cara membuat keributan!

Songjin tidak menanggapi Kyuhyun. Wanita itu menjatuhkan beban tubuhnya disamping kanan tepat dimana pintu kayu berada sambil menekuk kakinya lagi. Kali ini jauh lebih kuat.

“Bagaimana kalau kita tidur saja?” Kyuhyun mencoba peruntungannya. Selain karena dirinya sendiri merasa letih, Songjin juga tampak masih ingin tidur. Kyuhyun tahu benar mengapa Songjin telah terbangun sepagi ini.

Bahkan Hyun Gi saja pasti masih sibuk memeluk guling ditempatnya!

Songjin buru-buru mendengus memberikan ejekan. Keduanya sama-sama tahu apa yang akan terjadi jika Park Aeri masih melihat Songjin terlelap ketika matahari pagi telah muncul.

Lain halnya dengan Songjin yang mendengus, Kyuhyun malah merunduk dan tersenyum menyadari usulnya memang terdengar tolol. Sebenarnya, dirinya memang sedang egois karena merasa lelah, dan ingin tidur bersama dengan wanita ini saja. Sesederhana itu sebenarnya. Dia bahkan melupakan tanduk dikepala ibu mertuanya— kerap kali muncul ketika wanita separuh baya itu menemukan hal yang tak sepaham dengan prinsipnya.

“Mau berjalan-jalan sebentar? udara pagi ini sangat sejuk.”

“ini dingin, bukan sejuk.” balas Songjin terasa sama dinginnya dengan udara disekitar. Dia lantas memeluk diri sendiri. Bahkan ini masih musim panas! bayangkan saja sendiri rasanya!

Kyuhyun menoleh pada Songjin. Pria itu yakin bahwa Songjin menjadi lebih ketus daripada kemarin padanya. “disana ada sungai yang—“

“bermain air diudara sedingin ini, aku bisa mendadak demam! kalau aku sakit, Hyun Gi tidak akan bisa kususui langsung! itu akan sangat merepotkan, memangnya kau tidak tahu?!” sinisnya panjang. Senyuman sudut cukup tinggi kemudian Songjin berikan pada bagian akhir tambahan kalimatnya. “Oh aku lupa. kau mana tahu hal seperti itu.” dia berhasil membungkam Cho Kyuhyun lagi.

Skak mat.

Jadi, hari kedua di Jeongseon juga tidak akan berakhir mulus rupanya. Ini sudah pasti benar adanya.

** **

“Oh, kepalaku!”

“kau sakit?!”

“Tidak.” geleng Songjin. Namun kemudian dia cepat meralatnya mengganti dengan jawaban “ya,” yang kemudian kembali diubahnya dengan “mungkin,” menyadari dirinya tidak seberapa mengerti apa yang dirasakannya.

Gyuwon memandanginya bingung dengan dahi mengerut. Bertanya “jadi mana yang benar” bersungut-sungut karena wanita itu akan langsung menyita Hyun Gi jika Songjin benar-benar sakit.

“aku— sepertinya hanya kurang tidur.” jawab Songjin pada akhirnya. Sebuah jawaban masuk akal yang akhirnya membuat Gyuwon merasakan kekecewaan kecil.

Itu artinya dia tidak bisa memonopoli Cho Hyun Gi semaunya. Kalau diteruskan, bayi gemuk itu bisa lupa siapa orang tuanya karena terlalu sering bersama dengan Siwon dan Gyuwon.

Kyuhyun dan Songjin terlalu sering menitipkan Hyun Gi kepada mereka, bahkan untuk alasan-alasan sepele. Sedang Siwon dan Gyuwon yang mendambakan buah hati, pasti tidak akan menolak permintaan sehebat itu.

Kyuhyun hanya dapat mencuri dengar percakapan dua wanita tersebut dari kursinya sambil menenggak sekaleng bir. Dia tidak pernah focus memancing. Oh, dia memang tidak suka memancing sebenarnya! lagi-lagi ini adalah ide Choi Ki Ho.

Dan seperti musang yang bisa mengendus makanannya lebih cepat dari hewan apapun, Choi Ki Ho sepertinya memiliki kemampuan serupa. Bukan makanan kali ini. Namun permasalahan.

“Jadi,” katanya memulai “kalian bertengkar, huh?” tanyanya “diulang tahun putra pertama? wah, benar-benar menarik.” sindir pak tua itu hingga Kyuhyun segera memberikan pelirikan setajam pisau.

“kali ini apalagi?”

“apalagi memangnya?!”

“kau berselingkuh!”

Tak seperti Choi Ki Ho yang segera menyemburkan tawa Kyuhyun malah ingin menyembur sang ayah dengan bir dimulutnya. Pria tua ini pasti sudah gila!

“aku tidak pernah berselingkuh!!” kalimat tidak pernah begitu Kyuhyun tekankan tegas.

“Ohya?” ada nada mengejek dari Choi Ki Ho kali itu. Pria separuh baya itu mengangguk-angguk entah untuk apa. Dia lalu meneguk birnya kembali dan mengelap bibir dengan punggung tangan. Dia memejamkan mata menikmati semilir angin menyapu wajahnya.

“Nak, aku sudah berumah tangga lebih lama daripada dirimu.” katanya ditengah keheningan Kyuhyun memerhatikan Songjin mengurut pelipisnya serta menyadari kantung mata wanita itu padahal baru 1 hari 1 malam mereka berada didesa ini.

“keributan juga sering terjadi didalamnya. Tapi aku tidak pernah tinggal diam terlalu lama karena aku tidak tahan berlama-lama tidak berbicara dengan ibumu.” Choi Ki Ho terkekeh— menggoyangkan perut buncitnya.

Dia kemudian melirik Kyuhyun, mengamati putranya sedang mengerucutkan bibir sambil berkomat-kamit tanpa suara. Tampaknya bukan membacakan mantra atau apa. Tampaknya sedang kesal.

“dia yang lebih dulu mendiamkanku.” sungutnya membela diri “setiap aku mendekat, tanduknya langsung muncul”

“Dan apa yang telah kau lakukan?”

“Hanya— memberikannya kehidupan” suara Kyuhyun semakin melemah hingga tak terdengar diakhir. “jadi kenapa harus aku yang mengalah?!”

“Oh astaga.” gumam Choi Ki Ho cepat, “jangan datangi aku kalau tiba-tiba kau menemukan Songjin menghabiskan waktu bersama Lee Donghae.” ujarnya kemudian “atau makan malam bersama Shim Changmin. Entahlah. Apapun itu. Dasar anak muda” kutuknya menyadari betapa sederhana permasalahan putranya kali ini.

** **

“aku tidak tahu Oppa. Tapi rasanya ini tidak normal. Astaga!” Songjin berjongkok sambil meremas rambutnya. Dia menyelipkan kepala diantara kedua kakinya rapat-rapat.

“Aku takut.” suaranya mulai bergetar. “aku harus bagaimana?!”

Seluruh kepanikan itu kembali Kyuhyun tonton dalam diam. Pria itu sibuk dengan psp sambil berselonjor santai, bersama dengan Hyun Gi yang sibuk dengan anpaman-nya.

Kedua laki-laki berbeda usia itu sama-sama saling pandang ketika mendapati Park Songjin tampak panic. Puncaknya adalah ketika Songjin tersaruk duduk di lantai teras kamar. Kyuhyun segera menggerakkan bahu sebelum Hyun Gi bertanya ‘ada apa dengan eomma?’ ketika bayi itu menoleh padanya menggunakan mata bulat berbinar.

Lalu Kyuhyun sadar, bahwa Hyun Gi belum memiliki nalar dan kemampuan sejauh itu untuk memberikan pertanyaan seperti itu padanya. Namun seolah telah menyadari sekitar, Hyun Gi perlahan merangkak mendaki tubuh Kyuhyun.

Bayi itu lalu duduk diatas perut Kyuhyun dan menghadap teras kamar, seolah memang sengaja ingin melihat. Dia baru saja mendapatkan tempat yang nyaman untuk menonton eomma melakukan atraksi lompat melompat, dengan sesuatu disamping telinganya hingga akhirnya terlalu lelah dan duduk lemas.

“Oppa~”

mendengar rintihan Songjin lagi, Kyuhyun hanya dapat mencibirnya sinis, “Oppa~ pih!” katanya bagi lelaki entah siapa diseberang sana yang tidak akan pernah mendengar kekesalannya.

Namun satu hal yang pasti, ayahnya baru saja mengatakan hal yang tepat. Kini Songjin-nya lebih memilih untuk membagi kekalutan bukan padanya. Jadi kini dirinya tersingkirkan begitu mudah. Ada sedikit kekecewaan yang mendadak, membuat Kyuhyun merasa sesak.

Dan “Pih!” Kyuhyun terkejut melihat Hyun Gi mengikuti ucapannya. “Pih!” bayi itu bahkan mengulangnya berkali-kali seolah runtukan adalah hal baik yang harus selalu dilakukan.

“Hey, apa itu?” Kyuhyun menggelengkan kepala memberikan penolakan tegas. “jangan seperti itu Cho Hyun Gi!”

“CHO!” Hyun Gi menyengir kuda hingga dua gigi susunya tampak. Dia menunjuk hidung mancung Kyuhyun seraya berkata lagi “CHO!” yang sungguh mengejutkan Kyuhyun hingga mengubah duduk menjadi lebih tegap diranjangnya.

“Apa? Cho?”

“Cho” ulang Hyun Gi tampak senang. Sesenang Kyuhyun saat ini hingga melupakan misi untuk mencabik entah siapa Oppa diseberang telepon Songjin.

“Apppapapa Cho!”

Tunggu. Kyuhyun berhenti tertawa untuk sesaat. Dia memahami bagian Cho yang Hyun Gi ucapkan. Namun Appapapapa tadi itu apa? Appa? Itu sungguh berlebihan!

“Terlalu banyak ‘pa’. Kau hanya membutuhkan sedikit ppa, jadi ayo ulangi lagi!”

“What?”

Kyuhyun kembali hening. Kini jauh lebih hening daripada tadi dan penuh keterkejutan. Dia yakin, putranya baru saja mengatakan kosakata lain padanya. Kosakata baru yang juga belum pernah didengarnya sama sekali, dan itu sungguh membuatnya terkejut.

“Apa?” Mata Kyuhyun mengerjab puluhan kali “coba kau ulangi?”

“Why?”

“Why?” dahi Kyuhyun mengerut. Karena aku ingin mendengarnya lagi! Oh tentu saja begitu. Namun dirinya belum sempat berkata begitu, Songjin tiba-tiba telah disampingnya. Dia tidak tahu kapan. Tak sadar apapun.

Kyuhyun seperti baru melihat seorang Michael Jackson bangkit dari kubur dan melintas dihadapannya sambil melambaikan tangan begitu saja padanya. Untung saja dia tidak juga melambaikan tangan kepada halusinasinya itu. Itu akan membuatnya tampak seribu kali lebih bodoh.

Songjin hadir dan sudah memasang baby carrier dibagian depan tubuhnya. Wanita itu, tanpa banyak bicara langsung membawa Hyun Gi. Memasukan Hyun Gi kedalamnya seperti memasukan sekotak telur ke kantung kertas.

Dan Hyun Gi tampak tidak peduli karenanya. Bayi itu malah melompat-lompat senang. Tahu jika eomma telah membawanya seperti itu, itu artinya dia akan mendapatkan potongan biscuit nanti. Barangkali begitu yang Hyun Gi selalu simpulkan hingga teramat senang berada didalam baby carrier walau gendongan itu seharusnya mencoreng sisi lelakinya Karena berwarna pink dan dipenuhi motif bunga serta kupu-kupu.

** **

Di halaman depan cottage, semua orang sedang sibuk menyiapkan meja kecuali 2 orang yang tak berada dimanapun semenjak dirinya membawa Hyun Gi pergi tadi. Saat ini sepertinya seseorang memiliki ide untuk melakukan barbeque sebelum mereka bertolak pulang besok pagi. Dia bisa melihat daging domba yang digotong oleh Choi Ki Ho susah payah seorang diri menuju pemanggang.

Rasanya Songjin tidak perlu banyak berpikir. Dia tahu siapa pencetus ide tersebut. Dirinya sendiri disibukkan oleh hal lain yang lebih penting yaitu memberi makan karung beras garis miring putranya.

Berkali-kali Songjin membenarkan letak carrier-nya sambil medesah “kau berat sekali sekarang. Sungguh.” katanya sambil tersenyum kecut. Hyun Gi malah terlihat senang melihat Songjin kesulitan membawanya. Dia melemparkan “hehe” berkali-kali hingga kedua gigi susunya tampak.

Tidak ada seorang pun yang dapat menebak apa maksud “hehe” bocah ompong itu. Namun dilihat puluhan kali pun tak akan membuat Songjin bosan. Putranya memang menggemaskan. “kalau aku tidak jatuh cinta denganmu, aku tidak akan mau melakukan ini. Tahu tidak?” ucapnya lalu menyentuh ujung hidung mungil Hyun Gi.

“I love you!”

“wowofu!”

Secara cepat beberapa detik kemudian Hyun Gi menggerakkan tangan gemuknya untuk melakukan hal serupa pada sang ibu. Lagi, Kyuhyun yang sedari tadi sedang membahas pekerjaannya bersama Siwon, dan dari kejauhan memandangi dua orang konyol itu tertawa pelan.

Sebenarnya fokusnya tak lagi ada disana. Pria itu masih terpukau oleh kemampuan interaksi putranya. Demi tuhan Cho Hyun Gi baru 1 tahun! itu pun baru 2 hari lalu bayi itu genap berusia 1 tahun!

Kyuhyun tidak pernah tahu apakah bayi-bayi lain memiliki kemampuan serupa dalam interaksi kepada sekitar. Dia tidak pernah peduli pada bayi sebelum ini. Dan satu-satunya bayi yang pernah ditanganinya, hanyalah Cho Hyun Gi saja.

Beberapa hari lalu dirinya juga dikejutkan oleh Hyun Gi karena bayi itu dengan polosnya merangkak mendekat padanya sambil susah payah menyeret sebuah buku kecil.

Lalu setelah berada didekatnya, Hyun Gi diam memandang sekitar. Beberapa detik selanjutnya, Hyun Gi mengoceh “wead!” yang Kyuhyun simpulkan adalah kata read, namun lidah Hyun Gi masih belum sanggup melafalkan huruf ‘r’ namun seketika itu juga membuat rahang Kyuhyun benar-benar terjatuh.

‘wead!’ kata Hyun Gi saat itu kepadanya. Dirinya sendiri sedang meminum air didapur. Bersandar santai dipintu lemari pendingin dan sedikit terkejut dengan kemampuan merangkak Hyun Gi karena sebelumnya dirinya yakin melihat Hyun Gi masih sibuk bermain dengan balok-balok berbagai bentuk.

Hyun Gi lalu tersenyum saat berkata ‘peeeee’ hingga seluruh gusinya tampak. Sepertinya, itulah cara Hyun Gi merayu. Tapi Kyuhyun tidak pernah tahu bayi bisa merayu. Apalagi pada usia terlampau belia.

Jadi kemampuan interaksi Hyun Gi bagi Kyuhyun terkesan menganggumkan untuk bayi-bayi pada usia serupa. Tadi, dia sampai berpikir mungkin akan menyekolahkan Hyun Gi di MIT saja kelak. Bersama dengan puluhan anak ber-IQ tinggi lainnya.

“Kau tidak mendengarkanku lagi.” Desah Siwon menutup sebuah map berkulit beludru.

“memang tidak” mata Kyuhyun tak sekalipun terlepas dari Songjin dan Hyun Gi jauh didepannya “hey, menurutmu berapa IQ Hyun Gi?” kemudian saat itu barulah matanya bergeser perlahan lahan.

Bahu Siwon bergerak tak acuh— membalik tubuh untuk melihat apa yang sejak tadi Kyuhyun perhatikan, kemudian beralih menonton Gyuwon membawa-bawa satu kotak kayu peralatan panggang dimeja makan panjang sebrangnya.

“aku tidak tahu. Lagipula siapa yang mau tahu IQ seorang bayi? Tapi yang kutahu, keponakanku cerdas luas biasa.”

“Nah!” Jari Kyuhyun menjentik didepan hidung Siwon “aku juga merasa begitu!” katanya semangat.

Sedang Siwon berdecak malas tak tampak terkejut, dia malah menghela napas melihat keterlambatan Kyuhyun menyadari segalanya, “aku heran kenapa kau baru tahu.” dia menggelengkan kepala. “kau yakin tinggal diatap yang sama dengannya?!” kemudian Siwon berlalu.

Sungguh tidak membantu sama sekali— malah memberi tambahan bata-bata berat dikiri kanan pundak Kyuhyun.

Sebegitu buruknya kah dirinya? Serius?

** **

“Ada apa?”

Songjin menatapnya galak. wanita itu duduk bersebelahan dengannya siang ini. Namun Kyuhyun bukan merasa duduk bersebelahan dengan seorang wanita melainkan Hulk. Monster hijau pemarah!

Satu alis Songjin terangkat melihat Kyuhyun hanya diam tanpa mengatakan apapun padanya. Dia memerhatikan jelas wajah kusut suaminya. Tetap masih tampan memang.

Sepertinya walau terjadi badai, tsunami atau bencana alam lainnya, Cho Kyuhyun memang sudah ditakdirkan menjadi seorang lelaki tampan. Dewa manapun tidak akan bisa mengubahnya.

Masalahnya bukan itu. Setiap melihat Kyuhyun, kini Songjin selalu merasakan kesal. Pria itu berubah menjadi entah siapa baginya. Belakangan ini, Cho Kyuhyun bukan seperti Cho Kyuhyun yang dikenalnya.

Pria itu menjadi pria nakal yang sulit diatur. Bukan maksudnya untuk mengatur hidup pria itu dalam konotasi negative. Tapi hey, para lansia dengan padangan kabur pun pasti akan sadar bahwa si tampan ini baru berubah menjadi ‘vampir panda’ beberapa minggu belakangan.

“Mau jalan-jalan sebentar?”

Alis Songjin terangkat lebih tinggi lagi “kulihat kau sibuk sekarang presdir.” begitu sindir Songjin merlihat Kyuhyun terus menerus mengetik sesuatu pada ponselnya.

Kyuhyun tertawa. “memang” dia menjawab sambil memasukan ponsel ke saku. “tapi pemandangan desa ini terlalu sayang untuk tidak dinikmati.”

Maka disinilah mereka berada. Sebuah peternakan sapi dipinggiran sungai yang sunyi. Hanya terdengar suara ilalang saling bergesekan karena diterpa angin.

Atau suara sapi-sapi saling bersahutan. Hyun Gi tampaknya baru kali pertama melihat sapi secara langsung. Sebelumnya, dia hanya melihat mereka dari buku cerita bergambar yang eomma bacakan setiap hari atau tayangan-tayangan ditablet appa.

Maka ketika melihatnya, Hyun Gi tak bisa berhenti melompat senang digendongan Kyuhyun didalam baby carrier sambil berkata “cow!” berulang kali.

Tangan-tangan mungil nan gempalnya semua menunjuk deretan sapi. Dia tampak begitu senang. Padahal, bisa saja ocehannya menganggu para sapi hingga mereka menjadi tidak bernapsu makan. Mungkin kalau sapi-sapi itu bisa berbicara.

“Yeah, that is cow!”

“cow!”

“right!”

“light”

Oh, Hyun Gi melewatkan huruf ‘r’ lagi membuat Kyuhyun dan Songjin tertawa bersamaan seketika. Keduanya bersamaan, berencana menyentuh kepala tidak-terlalu-botak Hyun Gi lantas saat menyadarinya, hanya Kyuhyun yang terus melanjutkannya, dan Songjin membiarkan tangannya melayang diudara.

“anak pintar.” puji Kyuhyun. “good job.”

Terdengar “hehe” lagi dari Hyun Gi ketika itu, yang kembali membuat kedua orang tua muda itu tidak dapat menahan tawanya. Kali ini mereka tertawa kencang bersama-sama. Pun Hyun Gi— sepertinya tidak menyadari bahwa tawa itu ditujukan untuknya.

“Kau dan ‘hehe’ mu benar-benar membuat gemas!” Songjin mencubit pipi kenyal Hyun Gi hingga bocah itu meloloskan kata “nyo!” dengan tegas padanya.

“No?” mata Songjin menyipit, “why?”

Hyun Gi tampak tertegun. Sekilas, orang akan berpikir bahwa bayi itu sedang memikirkan jawaban pantas bagi “why” pemberian sang ibu. Namun Hyun Gi segera melontarkan “hehe” lagi hingga Kyuhyun terbahak kencang.

Songjin benar. ‘hehe’ Hyun Gi memang menggemaskan.

“kemarin dia memintaku untuk membacakan sebuah buku.” lapor Kyuhyun masih menyisakan sparkling dimatanya. “Dan tadi dia mengatakan ‘what’, dia juga sudah bisa memanggilku ‘appa’ walau terlalu banyak ‘ppa’ yang digunakan.” Kyuhyun tertawa “Jadi,” katanya mulai melambat “hal menarik apalagi yang sudah kulewatkan lagi kali ini?”

Awalnya Songjin malas menjawab. Dia masih kesal dengan Kyuhyun. Tetapi sebagian dirinya merasa rindu dengan orang yang biasa menemaninya tidur, lalu mendadak dalam 4 minggu lebih tak pernah lagi tampak diranjang mereka.

Songjin lebih sering menemukan Kyuhyun tertidur dikursi meja kerjanya. Lengkap bersama penampilan ‘gelandangan’— sungguh terlalu menyedihkan untuk ditonton.

Belum lagi, di pagi hari tepat pada pukul 8 Kyuhyun pasti pergi ke kantor. Pria itu baru kembali pukul 7. Seharusnya pukul 3 tapi Kyuhyun memperpanjang jam kerjanya.

Baiklah, Kyuhyun memang pulang pukul 7. Tapi sekembalinya pria itu, Kyuhyun hanya bisa ditemui diruang kerjanya. Dengan laptop. Buku. Dokumen. Dan telepon sili berganti datang.

Pada akhirnya, Songjin hanya menghabiskan malam bersama Hyun Gi. Atau jika bayi itu telah tidur, televisi menjadi pilihannya. Ketika tidak ada tayangan menarik lagi, dan Songjin belum bisa terlelap, biasanya buku adalah pelarian keduanya.

Dia tidak pernah ingin atau berencana mengganggu Kyuhyun yang sedang bekerja. Itu diluar kendalinya. Pria itu akan turun menemuinya jika dia mau. Tapi Kyuhyun tidak pernah melakukannya. Itu artinya Kyuhyun memang tidak ingin diganggu.

“Jadi, sudah ingat kalau kau punya anak?”

Kyuhyun tersenyum kecut atas sindiran Songjin. Park Songjin benar-benar akan bermulut tajam jika amarahnya tersulut. Kyuhyun tahu itu. Dia mengenal wanita ini sepanjang hidupnya. Biasanya, akan sulit membuat Songjin memaafkannya, jika wanita itu sudah kepalang marah.

“aku bahkan baru ingat kalau punya simpanan wanita seksi.” canda Kyuhyun renyah. Selepas itu, wajahnya kembali datar. “Maafkan aku.” ujarnya serius. “Bukan maksudku seperti itu. Kau tahu itu.”

Namun Songjin tampaknya memang telah kepalang jengah hingga segera memutar bola mata sambil menggumam “ya ya ya” tanpa peduli. Sapi didepannya lebih menarik daripada wajah tampan suaminya.

“Ada yang ingin kuberikan. Sebentar—“ Kyuhyun merogoh saku jaket. Semua kantung ditubuhnya tak luput diraba. “aku lupa menyimpannya di—ah!” senyumnya mengambang ketika mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku jaket dan memberikannya kepada Songjin.

“ini apa? surat cerai?”

“ya ampun” dengus pria tinggi itu ikut sebal “kenapa tidak kau buka dulu?!”

Bibir Songjin mencebik lama. Kepalanya kemudian menggeleng. “sedang tidak tertarik dengan surat.” sahutnya dingin menyerahkan kembali surat tersebut.

“Aku masih kesal denganmu dan tidak butuh surat.”

“Aku ‘kan sudah meminta maaf!”

“kapan aku pernah bicara, aku memaafkanmu? Cho?”

“Tapi kau harus melakukannya!” suara Kyuhyun terdengar lebih jengkel “tidak baik menyimpan dendam. Kau mau cepat ada keriput diwajahmu?”

“Bukankah itu akan jauh lebih baik? kau bisa mencari wanita lain dengan alasan istrimu sudah tidak menarik lagi. Iyakan? kebanyakan pria menggunakan alasan itu di pengadilan supaya perceraian cepat disetujui.”

HAH!

Kyuhyun benar-benar kehabisan stock kesabaran. Ini sudah sangat limit mengingat betapa lelah dirinya kini rasanya dia tidak sanggup lagi untuk melayani keinginan debat Songjin dengannya.

Kyuhyun mendesah panjang. Dia mengurut pelipis dengan tangan kiri sementara siku ditempelkannya tepat didepan kandang sapi yang tingginya hanya sampai perutnya.

“Aku lelah Songjin.” Katanya lemas. Kyuhyun tidak berbohong. Wajahnya memang pucat pasi dan matanya telah sayu. Songin sendiri tahu itu. Namun kekesalannya pada Kyuhyun sudah berada dititik bahaya. Sedikit lagi bisa meledak.

“aku tidak ingin bercerai. Itu bukan surat perceraian. Tolong kau buka dulu dan baca.”

Songjin terdiam. Dia membolak balik amplop putih itu dan baru menyadari terdapat tulisan sambung indah dengan tinta emas bertuliskan ‘dear Mrs. Cho.’ lantas membuatnya mengernyit “apa ini semacam surat cinta?” tanyanya polos.

Kyuhyun tertawa samar. Terdengar renyah namun penuh rasa lelah “ah! kau ingin surat cinta rupanya.” dia berkelakar “akan kubuatkan satu nanti.” Janjinya cepat. “buka dulu surat itu. Itu bukan surat cinta tapi aku berharap kau akan menyukainya.”

“Bukan surat cerai. Bukan surat cinta. Apa ini sejenis surat wasiat?”

Kini tawa Kyuhyun membahana diseluruh ruang terbuka. Menggema. Pria itu menggeleng-gelengkan kepala. Tidak bisa untuk tidak mengacak-acak rambut Songjin karena kepolosan wanita itu.

Kini dirinya kembali ingat mengapa dia selalu merindukan wanita ini disetiap saat tak ingat waktu. Bahkan ditengah kegiatan membaca laporan keuangan rumit dari Henry. Atau pembicaraan dengan tender bernilai ratusan juta dollar. Kepolosan yang menyerempet bodoh itu memang sudah mendarah daging pada diri Songjin.

“Aku sudah melakukannya sejak lama sekali. Kau tenang saja. Bahkan jika aku mati, kau akan hidup sangat layak dengan pasangan barumu.” Senyum Kyuhyun tampak tipis.

Tubuhnya mendekat, kemudian memegang wajah oval Songjin dengan kedua tangannya, “itu bukan surat cerai. bukan surat cinta apalagi surat wasiat. Tapi bacalah. Sementara itu, aku akan melihat sapi-sapi lain karena ada penggemar sapi disini.” Kyuhyun menunjuk-tunjuk kepala Hyun Gi dari atas.

Dia tersenyum lebar. Tampak tulus walau lelah. Kantung mata disana tidak bisa berbohong. Lalu kecupan kilat nan lembut dibibir Songjin segera datang. Kyuhyun menggeram ketika itu. “ugh! lebih parah dari yang kukira ternyata.” katanya terlihat kecewa.

Kyuhyun menyapukan bibirnya lagi disana. Menarik wajah Songjin, mengekung wajah wanita itu semaunya hanya untuk menyalurkan hasratnya lagi “aku benar benar benar merindukanmu” desahnya putus asa usai kehabisan oksigen, dan seenaknya berlalu begitu saja.

** **

“Kau pasti bercada!”

Begitu ucap Songjin ketus tak lama setelah Kyuhyun meninggalkannya, dan dirinya membuka surat tersebut lalu tercengang melihat tulisan sambung indah bertinta emas, namun berbahasa Inggris penuh. PENUH.

Ada beberapa kata yang bisa dipahaminya seperti ‘you’re invited’, ‘sincerely’, dan ‘trip’. Namun, yang paling diperhatikannya adalah ketika surat tersebut mengulas tentang Roma, Italia.

“sudah baca?” senyum Kyuhyun tampak lebar. Dia menjauh dari kandang sapi dan hingar bingar euphoria Hyun Gi yang terlampau girang telapak tangannya sedang dijilati oleh hewan berkulit hitam dan putih tersebut.

“Ya. Dan aku tidak mengerti.”

“Bagian?”

“Semua.”

Kyuhyun tersenyum lagi. Kini jauh penuh makna. Kepalanya sedikit diturunkan dan matanya menyipit saat pria itu bertanya “yakin?” kepada Songjin menggunakan nada suara rendah.

Terkesan mengejek memang.

“kecuali bagian Roma, Italia— aku paham.” sahut wanita itu cepat-cepat. Songjin memberikan surat itu lagi kepada Kyuhyun begitu kesal. Dan Kyuhyun tanpa dengusan atau geraman membalas sikap dingin Songjin, mengambil surat itu— membukanya.

“Dear, Mrs. Cho” dia mulai membacakan surat tadi. With full of respect, we informed that you’re invited to join our inaugural cruise ship trip.” Kyuhyun berhenti. Memberikan jeda kepada telinga Songjin.

“The trip will be held on 23 August 2015 from Seoul, South Korea— to Rome, Italia with estimated time: 14 days.”

“bagian itu sedikit aku paham.” katanya.

“Sincerely, Poseidon Cruise Ship”

 

Kyuhyun menyudahi tugasnya. Dahinya kemudian mengerut, “jadi bagian mana yang kau tidak paham?” Kepala Kyuhyun semakin merunduk kebawah. Mencoba memandang Songjin lebih jelas, namun memberi efek penuh intimidasi bagi wanita itu sendiri.

Dia lalu menghela napas. Membuka kertas yang telah dilipatnya tadi dan bersuara lagi, “Untuk nyonya Cho,” katanya sabar “dengan penuh rasa hormat, kami memberitahukan bahwa anda diundang untuk mengikuti perjalanan perdana kapal pesiar kami. Perjalanan akan diadakan pada tanggal 23 Agustus 2015 dari Seoul, Korea Selatan menuju Roma, Italia dengan estimasi waktu perjalanan selama 14 hari. Tertanda, kapal pesiar Poseidon.”

Kyuhyun berhenti— melipat kertas ditangannya, kembali memasukan surat itu kedalam amplopnya, “jadi bagian mana lagi yang kau tidak pahami?”

“Jadi itu tiket kapal pesiar?”

“yeah.”

“Untukku?”

Amplop itu Kyuhyun bolak balik, “disini tertulis untuk nyonya cho.”

“Jadi itu tiket perjalanan kapal pesiar? Gratis?”

“Seperti itulah.” Kyuhyun menjawab santai. “Pelayaran perdana. Dan menuju Roma.”

Songjin mengangguk-angguk, “aku tahu itu.” Kecuali bagian Roma, Italia— aku paham. Begitu Kyuhyun mengulang kata-kata Songjin tadi didalam hatinya. “Tapi—“ Songjin tampak ragu, “dari siapa?”

“Entahlah. Pemilik kapal pesiar ini mungkin. Disini tertulis kami. Itu artinya undangan ini resmi dikirim dari perusahaan kapal ini ‘kan?”

“Tapi siapa? Aku tidak punya teman pemilik kapal pesiar. Itu berlebihan.” desahnya pelan. Songjin sungguh berpikir keras menggunakan otak sederhananya.

“Mungkin surat itu salah tujuan? Mungkin maksudnya nyonya Cho yang lain?” gumamnya masih ling lung. Tapi mungkin saja itu terjadi. Kenapa tidak? Tidak mungkin dia memiliki teman— seorang pengusaha kapal pesiar. Temannya hanya beberapa.

Choi Siwon dan Lee Gyuwon tak perlu dijelaskan apa pekerjaan mereka. Lee Donghae yang dikenalnya adalah seorang dokter bedah otak. Lee Hyuk Jae dokter anak. Kim Eun Soo model. Luke, editor majalah pria. Apalagi Jung Dong Sun. Teman (setidaknya begitu Songjin menganggap pria itu sekarang) adalah seorang fotografer.

Songjin tidak pernah memiliki banyak teman. Sepanjang hidup, dapat dihitung dengan jari berapa banyak teman Park Songjin. Itu membuatnya yakin bahwa dirinya tidak memiliki teman pemiliki perusahaan kapal pesiar.

“Aku tidak mengenal nyonya Cho yang lain.” Kyuhyun berkata. Namun Songjin menyela, “Mungkin seperti itu menurut pengirim surat ini.” membuat Kyuhyun menghelakan napas begitu panjang dan berat.

Tak beberapa lama amplop ditangan Kyuhyun mengetuk ubun-ubun Songjin berkali-kali, “aku pemilik perusahaan kapal pesiar itu, bodoh! Aku yang mengundangmu!!”

** **

Songjin tertegun. Ayah mertuanya sedang memanggang domba dilantai dasar penuh semangat. Pria tua itu kadang bernyanyi walau suaranya tak seberapa enak didengar. Sepertinya liburan sederhana keluarga ini membuat suasana hatinya senang.

Tapi hal lain yang lebih membuatnya tercengang adalah Kyuhyun. Benar. Kyuhyun. Si keparat itu baru saja mengejutkan Songjin dengan sebuah pernyataan bahwa dirinya pemilik perusahaan… kapal pesiar?

Yang benar saja!!

“Sayang, beberapa bulan ini, itulah yang sedang kuusahakan.” Kyuhyun menjelaskannya perlahan. Setelah disusui, Hyun Gi tertidur disofa lantai dua bersama dengannya yang sudah nyaris akan tidur juga karena dia memang belum tidur seharian penuh.

Songjin buru-buru membalik badan. Dia memandangi Kyuhyun sinis. Kesal. Marah. Semua bercampur jadi satu. “Dan bulan ini aku mengakusisi sebuah pusat perbelanjaan. Aku keren kan?” bangga Kyuhyun terlihat nyata. Tidak sebanding dengan mata lelahnya serta sisa tenaga.

“Aku tidak tahu kau memiliki kapal pesiar.”

“Memang itu baru. Dan perjalanan perdana kapal ini adalah besok. Menuju Roma. your own version of heaven on earth, you said”

“Tapi kapal pesiar?!”

Songjin masih tercengang. Masih belum mempercayai apapun. Apalagi bahwa Kyuhyun baru membentuk sebuah anak perusahaan transportasi kapal pesiar. Itu terdengar… Sungguh dongeng.

Kyuhyun membuang napas cepat melihat Songjin masih saja belum menyatu dengan otaknya. Pria itu menepuk-tepuk lahan kosong ditempatnya duduk. Meminta Songjin menghampirinya.

Dan setelah Songjin melakukannya, pria itu langsung merangkak meletakkan kepalanya pada pangkuan Songjin. Matanya terpejam seolah bersiap tidur karena baru menemukan kasurnya. “Bukan aku yang memulai.” Ujarnya.

Kyuhyun tersenyum terlalu samar ketika bicara, “Ayahmu yang ingin memilikinya. Aku— hanya meneruskan saja. Jadi ini bukan hanya untukmu. Tapi untuk ayahmu.”

Kyuhyun menemukan Songjin tengah merunduk untuk memandanginya. Masih, dengan wajah kebingungan. “Aku harus mencari cara untuk berterimakasih karena membolehkan aku memiliki putrinya ‘kan?” candanya kemudian ditanggapi tawa kecil Songjin malas-malasan.

“Jadi ini serius?”

“Aku terlihat seperti sedang bercanda?”

“Maksudku, kapal pesiarnya—“ Songjin terdengar menggantung. Terdengar tidak cukup yakin bahwa suaminya si tampan keparat itu baru mebuat satu anak perusahaan LAGI dan kali ini bukan omong-kosong tampaknya.

Ini kapal pesiar! Kapal pesiar 10 lantai. Dengan kapasitas 10.000 kepala. Jauh terdepan dibanding kapal pesiar terbaik sebelumnya Royal Caribbean International— perusahaan kapal alas U.S yang hanya sanggup nenampung 6.800 kepala.

“Aku tidak pernah bercanda untuk semua hal yang berhubungan denganmu dan keluargamu.” Saat itu Kyuhyun menjawab begitu santai. Matanya tertutup lagi, sepertinya pria itu sudah siap tidur saja di ‘kasurnya.’ “bukan hal yang bisa dijadikan lelucon. Kecuali betapa idiotnya kau.”

Kyuhyun mengintip Songjin dari mata miliknya yang sengaja dibukanya sedikit dan benar saja mememukan wanita itu sedang menatapnya gemas. Mungkin bahkan sudah berniat untuk menarik rambutnya kemudian menjedukkan kepalanya ke meja kayu dihadapan mereka.

Kyuhyun lantas tertawa. Menarik perlahan-lahan wajah Songjin untuk memberikan lumatan dalam pada bibirnya. Membiarkan kepala mereka bergerak kesana kemari, asalkan bibir mereka tetap berpagutan.

Dia bisa saja melakukannya lebih lama. Dia memang mengantung super dahsyat. Tetapi urusan bibir ini bisa dicarikan waktu sampai beberapa menit kedepan mengingat wanita ini sudah tak acuh padanya terlampau lama.

Lama menurut Cho Kyuhyun. Setidaknya, begitulah.

“Aku boleh bertanya?”

Sela Kyuhyun ditengah pagutan mereka. Napas nya sendiri pun masih belum normal sebenarnya. Tapi inilah yang mengusiknya sejak pagi tadi, “Oppa-mu pagi tadi, siapa?” Kyuhyun memerhatikan perubahan wajah Songjin menjadi tegang.

Dia sendiri juga tegang. Siapa tahu kesibukannya beberapa waktu belakangan membuat Songjin tiba-tiba bosan dan berpaling padanya, atau apalah itu. Tidak ada pikiran positive apapun yang bisa dibuatnya.

 

pagi tadi Songjin terdengar cukup…. manis dengan Oppa itu.

“AH!” Songjin mendadak ingat sesuatu. Dia langsung bangkit berdiri hingga kepala dan tubuh Kyuhyun mau tak mau menggelinding karenanya.

“YAAH!”

“Aku baru ingat sesuatu! Kyuhyun-ah!”

Kyuhyun memandang Songjin jengkel. Dia mengusapi kepalanya berkali-kali. Terantuk pinggiran meja kayu ek karena ulah si idiot ini.

“Aku ada janji bertemu seseorang!!”

Seketika Kyuhyun membuang desisan begitu sinis. Sudah sejauh itu rupanya hubungan mereka! “dengan Oppa-mu itu?”

“IYA”

Iya? IYA?? bahkan Songjin bisa mengatakannya dengan semangat berapi-api. Seistimewa apa Oppa ini? Jangan-jangan ini Shim— “kau harus ikut aku Kyuhyun-ah!! ini penting!” pintanya sambil berlalu.

“Kau memintaku untuk bertemu dengan Oppa-mu? apa aku tidak salah dengar? YAAH! Cho Songjin! kau ingin berselingkuh dan mengajak suamimu? kau yang benar saj—“

“Kyuhyun-ah! ini tentang Hyun Gi!!” Songjin menyudahi aksi tuduh menuduh Kyuhyun. “aku tidak ingin bertemu dengan selingkuhanku atau apalah itu pikiran kotormu! ini Eunhyuk Oppa! ini tentang perkembangan Hyun Gi yang terlambat!!”

“Apa?”

“Perkembangan Hyun Gi terlambat, Kyuhyun-ah!”

“Dia genius.” Bela Kyuhyun tidak terima. Dia tadi baru berpikir untuk menyekolahkan anaknya itu di Massachusetts Institute of Technology tempat puluhan anak ber IQ tinggi sekolah, ‘kan?

Tapi dia memang harus mengalah karena sadar, Songjin jauh lebih memahami perkembangan putra mereka, dibanding dirinya sendiri. “Ada apa… memangnya??” Dia mulai gugup.

Rasa panic dan takut mulai menjalari tubuhnya. Cho Hyun Gi adalah anak pertamanya. Kalau terjadi sesuatu karena dirinya kurang memberi pengawasan, itu artinya dia kecolongan. Dan dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.

** **

Suasana didalam Bugatti Veyron milik Kyuhyun teramat tegang. Songjin sebenarnya yang tegang dan Kyuhyun tidak tahu apa-apa. Dia hanya menonton ketegangan itu sambil sesekali mendesahkan napas yang berat.

Beberapa hari ini sudah terlalu berat untuknya. Mengusahakan Poseidon untuk meluncur perdana di awal bulan Agustus, sama beratnya seperti memaksa Barrack Obama turun dari mimbar pidato— dan harus melawan barisan pasukan bodyguard terbaik Amerika.

Tetapi awal Agustus adalah ulang tahun pertama Hyun Gi. Harus ada sesuatu yang bisa diberikannya kepada Hyun Gi, setelah sikap tak acuh nya yang sesunggunya tidak baik untuk dilakukan seorang ayah pada putranya.

Dan lagi dia memang berniat memberikan Poseidon kepada Hyun Gi. Urusan anak itu akan menerimanya atau tidak nanti setelah dewasa, itu urusan belakangan. Kyuhyun memiliki kecenderungan senang memberikan hal-hal besar kepada orang terdekat.

Kyuhyun terlalu terobsesi. Dia harus banyak bersyukur karena obsesinya selalu mendapatkan jalan keluar. Tapi kali ini, dia merasa baru saja kecolongan. Dia bahkan tidak tahu apa-apa tentang putranya. Dia hanya tahu, Hyun Gi genius. Apa dia terlalu berlebihan membanggakan putranya sendiri??

“Sebentar dulu—“ Kyuhyun meremas tangan Songjin yang gemetar, “coba jelaskan padaku apa yang terjadi. Ada apa?” suara berat dan rendahnya sedikit banyak membuat Songjin merasa tenang. Belum lagi aliran hangat dari tangan besar pria itu. Rasanya kini Songjin tidak sendiri lagi.

Kyuhyun kembali.

“Hyun Gi berusia 1 tahun.” Songjin mengawali, “tapi kulihat dia berbeda dari anak 1 tahun kebanyakan.”

Well, dia tidak harus sama seperti yang lain kan? berbeda itu baik.”

“Tapi ini berbeda dalam hal lain. Ini tidak baik.”

“Contoh?”

“Giginya baru dua.”

Hening.

Sambil mengemudikan kendaraannya dalam kecepatan tinggi, Kyuhyun mengerjabkan mata berulang-ulang sangat cepat usai Songjin berbicara. Dia yakin bahwa istirinya baru saja membuat lelucon.

Mungkin Songjin hanya ingin berjalan-jalan dengannya. Mungkin Songjin hanya merindukannya saja. Dan lelucon gigi baru dua itu benar-benar memukulnya hingga ke kerongkongan. Kyuhyun seketika tertawa hebat.

Kyuhyun lalu mengintip Hyun Gi dikursi belakang. Bayi itu begitu khidmat memerhatikan tayangan anpaman dari tablet yang Kyuhyun letakkan tepat didepan kursi khusus untuknya.

Mulut mungilnya sesekali ikut menggumam aneh senandung ketika music dari kartun itu terdengar. Kepalanya bergoyang-goyang dan terkadang kakinya menghentak. Tanda Cho Hyun Gi jika sedang terlalu senang.

Jadi coba jelaskan lagi mengapa bayi seceria itu diangkat-angkat sedang dalam kondisi bahaya? Hanya karena giginya baru 2? Ah, Park Songjin pasti sedang benar-benar merindukannya.

“Sayang—“

“Kubunuh kau!” Ancam Songjin seketika. Tubuh wanita itu menjauh ketika Kyuhyun ingin menggapai kepalanya untuk memberi usapan. Wajah Songjin benar-benar tegang dan tampak kesal tiap kali Kyuhyun memanggilnya dengan panggilan manis.

Dan Kyuhyun tidak pernah berminat untuk menyudahinya. Melihat Songjin waspada juga kesal seperti itu adalah pemandangan menyenangkan baginya. Kyuhyun terkekeh geli. “Hyun Gi baik-baik saja. Sepertinya kau perlu tidur.”

“Aku tidak perlu tidur.”

Bibir Kyuhyun mencebik. Selama 3 hari ini Songjin bangun terlalu pagi. Kyuhyun yakin wanita itu masih menyisakan pusing yang kerap kali diadukannya kepada Gyuwon. “Sebentar lagi kau akan jadi panda.” canda Kyuhyun.

Oh, pria itu lupa kalau pria itu sendirilah yang sebenarnya malah sudah bertransformasi menjadi panda. Maka dari itu Songjin segera meloloskan desisan sinis kepadanya. Wanita itu merasa kasihan kepada Kyuhyun.

** **

“Hai.” Lee Hyuk Jae langsung menyapa sesampainya Songjin, Kyuhyun dan Hyun Gi disebuah restoran mie sederhana dipusat kota Gangwon. Kyuhyun yang pertama kali bersalaman. Bertanya, “sudah lama?” tetapi Eunhyuk menggeleng mengatakan tidak.

“Aku juga baru sampai. Tadi Dongahe sibuk mencari samgyetang. Cukup sulit mencarinya disini. Tapi udara disini memang mendukung untuk memakan sup itu. Benar ‘kan?” tawa dokter paediatricians itu menggema didalam restoran yang tidak seberapa besar dan didominasi oleh kayu tersebut.

“Ada Donghae oppa juga?”

“yeah. Tapi aku tidak tahu dimana dia berada sekarang. Si gila itu—“ kepala Eunhyuk menggeleng-geleng heran lantas merunduk melihat Hyun Gi di stroller sedang memandanginya bingung. “— Hai! kau pasti Cho Hyun Gi.” sapanya ramah. “yang membuat eomma kalang kabut beberapa hari ini ‘kan?”

Kepala Hyun Gi miring ke kiri. Dahinya mengerut sebentar saat mulutnya mengulang, “ma?” dengan penuh tanda tanya.

“Oh, silakan duduk.” Ada dua kursi kosong dihadapannya yang diberikan kepada Songjin dan Kyuhyun. “Jadi bagaimana?” dirinya sendiri lalu ikut duduk setelah tidak ada lagi diantara mereka yang berdiri.

Kyuhyun menoleh pada Songjin. Wanita itu sudah menarik napas banyak-banyak seolah benar-benar siap memuntahkan kekhawatirannya. Sementara Kyuhyun beralih pada Hyun Gi lantas memberikan tangannya yang sejak tadi berusaha batita itu gapai.

“sst!” Kyuhyun memperingati. menempelkan telunjuk miliknya didepan bibir Hyun Gi lalu tersenyum, membalas tawa riang putranya.

“Giginya baru dua.” Suara Songjin bergetar. Tampak jelas ada tangisan yang berusaha ditahannya agar tidak membludak keluar. Entah Songjin yang berlebihan, atau Kyuhyun saja yang tidak ambil pusing pada persoalan ini. “Dan belum bisa berjalan. Apa itu normal? Kurasa ada keterlambatan disini.”

Lee Hyuk Jae tidak langsung menjawab. Pria itu beralih memerhatikan si topic pembicaraan— sedang mengunyah jemari sang ayah alih-alih mengunyah teether. Agaknya bagi Hyun Gi, jari-jari Kyuhyun terasa lebih nikmat. Mungkin.

Dia memerhatikan Hyun Gi saksama. Secara kasat mata, Hyun Gi tampak baik-baik saja. Dan seperti itulah yang sebenarnya. “Bukan masalah besar.” jawabnya memulai.

“melihatnya masih aktif mengigiti apa saja, itu artinya gigi-gigi digusinya sedang melakukan proses untuk muncul.” Jelas Eunhyuk diamini Kyuhyun. Sejak awal Kyuhyun memang yakin, putranya baik-baik saja. Songjin hanya berlebihan. Sindrom ibu muda.

“Apa dia sering melakukan itu?” tanyanya kepada Kyuhyun “sebaiknya berikan teether daripada jarimu yang asin dan berkuman.” Ada tawa yang menyelip diantara pembicaraan itu. Kecuali tawa Songjin.

Kyuhyun mengangguk seraya terkekeh “kurasa dia sudah paham mana yang lebih enak.” Tuturnya geli. “benar kan? Hyun Gi-ya?”

“Hehe.”

Kyuhyun dan Eunhyuk tertawa bersamaan lagi. “belakangan ini dia senang sekali ber-hehe-ria.”

“menggemaskan.” Eunhyuk memandangi Hyun Gi lumat-lumat. Ada sebagian dari dirinya yang mendesak, merasa ingin megalami hal serupa. Ingin melihat putranya sendiri— tetapi pacar saja tidak ada. Bagaimana dengan menikah apalagi memiliki anak?

Sunny— perawat incarannya di rumah sakit sekaligus rekan kerjanya itu belum juga menangkap berbagai ketertarikan darinya. Eunhyuk rasa memiliki anak akan menjadi tujuan hidup untuk beberapa tahun kedepan lagi. Walau di usianya, sebenarnya dirinya telah pantas memiliki 2 anak.

“Jadi?”

Songjin menyudahi gelak tawa serta bayangan untuk memiliki keturunan Lee Hyuk Jae. Wanita itu masih saja tampak tidak tenang. “Dia baik-baik saja. Gigi susu pada bayi usia 1 tahun memang sebagian besar telah muncul lima sampai enam.”

“NAH!”

“Tapi—“ telapak tangan Eunhyuk melebar tepat didepan hidung Songjin, “tapi sebagian lagi ada yang bahkan belum tumbuh sama sekali bahkan pada usia 1 tahun. Itu memang keterlambatan.”

“NAH!” Songjin bagai baru memenangkan lotre. Segera menoleh pada Kyuhyun penuh kemenangan, “apa kubilang!” katanya puas.

“Tapi biasanya keterlambatan kemunculan gigi disertai dengan keterlambatan berbicara. Apa dia juga tidak bisa mengucapkan kata-kata sederhana.”

“Wah.” Kini Kyuhyun menggeleng-geleng terkejut, “kau harus mendengarnya mengoceh Eunhyuk-ssi. Aku hampir saja menjepit bibirnya dengan penjepit kertas karena tidak bisa berhenti bicara.”

“Kalau begitu itu bukan keterlambatan. Cho Hyun Gi baik-baik saja.”

“Seperti yang kukatakan.” Kyuhyun melirik Songjin “tapi dia tidak percaya padaku.”

“Ada berapa kosakata sampai sejauh ini?”

“Aku tidak ingat.” Geleng Kyuhyun lagi “sumpah aku tidak ingat. Ada banyak sekali. Dan Hyun Gi sedang sangat senang mengulang kata-kata, apa saja yang sekitarnya katakan. APA SAJA.”

“Itu bagus! Dia memang sedang berada pada tahap itu.”

“Dan beberapa hari lalu dia merangkak sambil menyeret buku. Aku bersumpah dia memintaku membacakan cerita dibuku itu karena dia berkata ‘read.’ Walau dengan huruf ‘r’ yang kacau.”

“benarkah?!”

“Yeah.”

“Itu seharusnya baru akan terjadi diusia 1,5 tahun.”

“Kurasa putraku memang berbeda.” Ada perasaan bangga yang Kyuhyun tunjukkan saat memandang putranya lekat “—dan aku hanya perlu memastikannya bahwa berbeda itu baik.”

“Dia belum bisa berjalan Cho!”

“Cho!” Hyun Gi mengulang kesinisan Songjin dengan nada jauh lebih menggemaskan daripada ucapan sang ibu. “Cho!” ulangnya riang. “Kyu—“

Kyuhyun segera membelakkan mata menunjukkan kepada Eunhyuk bahwa apa yang dikatakannya adalah nyata adanya. Kalau ditunggu lagi, mungkin si karung beras itu akan melafalkan namanya secara keseluruhan.

Tetapi Eunhyuk dan Kyuhyun sedang ‘tinggi.’ Keduanya melonjak kegirangan ketika Hyun Gi mengulang nama depan sang ayah. “Kyu?” Eunhyuk merunduk tepat didepan wajah Hyun Gi.

Hyun Gi tidak terlihat berminat untuk membuat dua lelaki dewasa itu lebih senang. Dia segera mengunyah jari sang ayah lagi dan membuang muka. Namun gurat rasa senang masih tersisa diwajah keduanya. Kecuali Songjin.

“Saat aku masih menjadi asisten, aku pernah melihat pasien dengan usia serupa Hyun Gi, yang sudah bisa menghitung sampai 5 dengan lancar.” Katanya. “Sekarang aku tidak pernah bertemu dengan dia lagi.”

“Dia mati?” Songjin mendadak panic. Mungkin kepala si anak sudah membesar dan meledak karena otaknya bekerja ekstra. Namun Eunhyuk terkekeh geli padanya. Lain halnya dengan Kyuhyun yang sungguh ingin menggosok wajah Songjin dengan kimchi.

“Kudengar sekarang dia pindah.”

“Karena sakit keras—?”

“Karena sudah berkuliah.” Jelas Eunhyuk. “karena di Korea, tidak ada universitas yang bisa menerima anak usia 13 tahun.” Dia tersenyum semringah “Tetap bertahan di Negara ini hanya akan menyulitkan orang-orang sepertinya. Dia butuh tempat lebih besar untuk menampung kemampuannya yang diluar rata-rata.”

“Oh.”

“OH!” Sinis Kyuhyun mengulang. Melirik istrinya penuh kemenangan. Songjin bagai kalah telak kali ini. langsung 5-0. Dan Kyuhyun bersumpah benar-benar akan menjejalkan putranya ke MIT kalau sebentar lagi Hyun Gi sanggup berhitung.

“Dia masih merangkak?”

“Seperti itu—“ desah Songjin pasrah. Tak ada lagi bakal tangis yang terlihat. Namun wajahnya masih dilanda kepasrahan. “Tapi Hyun Gi sudah bisa merambat. Berdiri berpegangan sesuatu tapi tidak bertahan lama. Kurasa ada yang salah deng—“

“yang benar?” Kyuhyun membelak lagi. Dia kecolongan yang ini lagi. Putranya sudah bisa berdiri sendiri!! YANG BENAR SAJA! “dia bisa—“

“kau kan sibuk bercumbu dengan laptopmu.” sinis Songjin sebal ketika Kyuhyun memandangnya dengan kedua mata terbuka lebar.

“Ah, besok lagi aku akan mengganti laptop dengan kau saja. Bagaimana?”

“Cih!”

Sementara pasangan barbar disana berdebat, Eunhyuk kembali memandangi Hyun Gi. Kini sungguh penuh dengan rasa takjub. Ada sedikit rasa cemas— seketika merasuk saat membayangkan masa depan Hyun Gi nanti.

Mungkin Hyun Gi akan sulit beradaptasi. Mungkin nanti temannya tak akan banyak. Mungkin Hyun Gi harus berusaha keras mengelola emosi. Seseorang harus mengajarinya untuk tidak meralat gurunya ketika dirinya sedang berada didalam kelas.

Eunhyuk kemudian mendesah panjang kala melihat Kyuhyun dan Songjin berdebat. Bukannya dia tidak pernah melihat hal seperti ini. Tapi karena terlalu sering itulah. Maka Eunhyuk hanya merasa tidak mengerti, “Kau memiliki keluarga yang aneh, kau tahu itu kan?” katanya pada Hyun Gi. Dan sumpah, telinganya mendengar Hyun Gi menyahut, “yes.” padanya.

Eunhyuk sampai terdiam. Lalu menggmamkan kata “menarik” sambil tersenyum penuh makna. Dia masih melihat Kyuhyun dan Songjin berdebat. Ingin melerai, tapi terasa malas. Tepat diwaktu serupa, Lee Donghae datang membawa dua tas kertas.

“Hallo!” Pria berwajah sendu itu diam berdiri disaping stroller Hyun Gi. “Park Songjin.”deret gigi-giginya segera tampak kala pria itu tersenyum lebar.

“Oppa!” Dan Kyuhyun tidak pernah melihat Songjin seceria itu sepanjang 3 hari ini. Pun kala bersamanya. Itu membuat Kyuhyun segera mendengus melihat Songjin menyudahi ‘bicara panjang’ mereka dan menghambur pada pelukan Donghae.

Flawless as always.” Bisik Donghae saat memeluk erat Songjin. “Berat badannya naik.” Kyuhyun berkata seolah ingin memberi laporan atau apa. Songjin langsung memberikannya pandangan menguliti namun Kyuhyun bertingkah seolah tak tahu apa-apa.

Dia lebih ingin menguliti Lee Donghae saat ini. Bagus saja tidak ada benda tajam yang disediakan diatas meja. Hanya ada satu poci teh hijau yang panasnya sudah tidak terlalu terasa. Masih kurang mengerikan jika harus disiramkan pada tubuh Donghae.

** **

Sudah dapat disimpulkan. Hyun Gi baik-baik saja. Kini kecemasan Songjin berganti kepada Kyuhyun. Lelaki itu tampak ‘teler’ dimeja panjang tempat dimana seluruh anggota keluarga akan melakukan barbeque.

“Sudah kubilang, sebaiknya kau istirahat.” Songjin membaik vogue-nya memberikan desah menggambarkan sudah-kubilang-apa kepada lelaki itu dengan suaranya.

Sesampainya mereka di cottage, Songjin segera menuju dapur mencari wadah untuk samgyetang pemberian Donghae dan Kyuhyun bagai robot yang mengikutinya kemanapun Songjin pergi.

Songjin tidak berniat untuk tidur. Dia tidak ingin kehabisan domba panggang hingga sudah duduk rapi dikala tak seorangpun siap dimeja makan. Bahkan domba besar itu belum juga matang. Dan semua orang masih sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Seperti Siwon dan Gyuwon misalnya, terlihat norak bermain air disungai sebelah utara cottage tempat mereka menginap. Ibunya sedang membaca e-book dari laptop. Entah bagaimana bisa mendapatkan signal ditempat seperti ini.

Dan Ayah ibu mertuanya mesra memanggang daging bersama. Mereka sibuk mendiskusikan bumbu macam apa yang akan ditumpahkan ke daging tersebut. Sebuah cake berukuran sedang telah tergeletak di meja.

Ditutupi sebuah penutup plastic agar tidak merusak bentuknya. Kue itu untuk Hyun Gi. Pasti Siwon dan Gyuwon yang membelinya. Atau membuat. Entahlah. Kue itu bernuansa biru membuat Songjin kecewa karena kue ulang tahun seharusnya terlihat menarik dan berwarna cerah. Seperti pink, misalnya?

Kyuhyun menggumam pelan, “aku ingin lebih lama disini.” sambil menghirup udara alam bebas banyak-banyak. “Sulit merasakan tenang disore hari jika kau hidup di ibu kota.”

“Kalau begitu kenapa tidak pindah saja?”

“Kau mau?”

“Makskduku kau dan pacar barumu.” Kyuhyun menoleh mendapati Songjin memandanginya dengan alis terangkat, “laptop” katanya menjelaskan membuatnya tertawa geli.

“Laptop tidak bisa diajak bercinta. Mana seru?” Kyuhyun balas bergumam. Dia mendengar Songjin mendesis padanya. Dijamin, wajah Songjin pasti ditekuk-tekuk kacau. Tapi Kyuhyun tidak peduli.

Dia sedang mengamati gunung seoraksan dikejauhan. Dia ingat pernah kesana saat masih bujang. Lalu kedua kali datang membawa calon istri dan ketiga kali saat ini, walau tidak benar-benar kesana, dirinya datang bersama putra pertamanya.

Dia ingat betul candaan Siwon bahwa kembali ketiga kalinya, mungkin dirinya akan membawa seorang bayi. Mungkin Siwon pantas dijadikan paranormal.

Tawanya terbentuk— menyeruak keluar, pelan. Selain karena mengingat kemampuan kakanya, Kyuhyun juga mendengar Songjin menyahut atas ucapannya tadi. Katanya, “kau bisa mengunggah dari situs porno. apa sulitnya?”

maka Kyuhyun segera menoleh, berkata “versi asli lebih menyenangkan. Dapat disentuh.” lantas tangannya menggapai pinggang wanita itu untuk dicolek. Terang saja Songjin menjerit.

“aku serius, Kyuhyun-ah. Kau benar-benar butuh tidur. Kau kacau.”

well everything has a price, Songjin,” jawabnya santai. “ini tidak akan sebanding dengan apa yang kudapatkan beberapa waktu belakangan.”

“Pusat perbelanjaan itu? Kapal pesiar?” Senyum Songjin mengembang sinis. Namun Kyuhyun segera menggeleng. “Bukan itu.” katanya menolak. “ekspresi takjub saat kau tahu aku memiliki sebuah kapal pesiar. that was priceless.”

“dasar sombong.”

“Oh, aku senang sekali menyombongkan kekayaanku padamu.” kekeh Kyuhyun “dan senang melihatmu terpana seperti tadi.” Kini wajahnya menjadi serius berkali kali lipat. “priceless.” ulangnya terlampau lirih untuk didengar lalat sekalipun.

Songjin menoleh usai menanggapi rancauan pria itu tanpa memandangnya sekalipun. Dia mendapati Kyuhyun sudah meletakkan kepala dimeja kayu, diatas lipatan kedua tangannya sendiri. Kyuhyun benar-benar kepayahan. Tapi pria itu senang. Begitu yang Songjin simpulkan.

“Tapi semua orang sombong tetap butuh istirahat.” katanya mengulurkan tangan mengusap wajah pucat Kyuhyun. “Dan kurasa beratmu berkurang.”

“Bukankah itu bagus? kau bertambah dan aku ber—“

“beratku tidak bertambah!” pekik Songjin sebal. Kyuhyun hanya terkekeh memejamkan mata menikmati sapuan halus tangan Songjin pada wajahnya serta sejuknya udara.

Dia menghela napas, “kalau beratmu bertambah pun tidak masalah.” katanya lirih “Aku tetap mencintaimu.” Nyawanya sudah berkurang 30 persen sepertinya.

“Kau mulai tumbuh keriput, bukan masalah besar. Aku tetap mencintaimu.” Paraunya. Kesadaran turun semakin sedikit. “Rambutmu menjadi putih, aku juga tetap mencintaimu.”

“Hey,”

“Kau tidak bisa berjalan, punggungmu sakit dan matamu rabun, Aku masih tetap mencintaimu, Songjin.”

Diam.

Songjin tidak berkata apapun. Tangannya pun berhenti mengusap wajah dan rambut cokelat Kyuhyun. Wanita itu seperti baru saja dilempar dengan sebuah batu besar tepat diwajah.

Kalau Kyuhyun mengatakan itu dengan kesadaran penuh, mungkin dirinya akan merasa lebih tersanjun. Dia bisa terbang karena merasa ‘tinggi’. tetapi Kyuhyun sedang meracau. Dan Songjin hanya membalasnya dengan helaan napas ala kadarnya.

Hingga Kyuhyun membuka mata, menyadari Songjin terdiam kaku ditempatnya, tak berkata apa-apa. “Aku sangat mencintaimu.” Katanya kemudian.

“Ini pasti terdengar seperti omong kosong tapi sebenarnya aku tidak peduli tentang kau yang selalu meributkan proporsi tubuh. Bukankah… nanti, suatu saat kita pasti akan menjadi gemuk, memiliki keriput dan rabun? Jadi, kenapa pusing?”

“Karena—“

“Appa dan Eomma terlihat baik-baik saja meski rambutnya memutih.” Kyuhyun mengangkat kepala untuk melihat orang tuanya didepan alat pemanggang “mereka masih bisa memanggang daging bersama.” Kyuhyun kemudian menunjuk ayahnya, “Lihat perut appa!” ujarnya. Memutar kepala kepada Songjin yang masih diam tidak berkata apa-apa.

Sesaat kemudian terdengar dengusan kencang dari kejauan “Kenapa dengan perutku?!” Omel Choi Ki Ho menoleh. “jangan bawa-bawa aku saat sedang merayu istrimu, anak nakal!!”

“HA!”

Sebuah tepukan kencang mendapat dibahu Kyuhyun. Bersama dengan itu tawa Songjin menggema kencang mengisi alam bebas. Siwon dan Gyuwon ikut menoleh namun kembali tak acuh saat menyadari bahwa pasti terjadi sesuatu antara pasangan tersebut.

Sesuatu itu, pasti adalah hal baik.

Kyuhyun menemukan dirinya terpaku diam, menonton tawa renyah itu sambil sesekali ikut tersenyum. Dia baru menyadari, seberapa banyak, dan seberapa keras dirinya berusaha membuat wanita ini terpukau padanya, tetap saja, pada akhirnya dirinya sendiri lah yang terpukau hanya pada hal remeh dan bodoh.

Songjin masih merasa geli pada Choi Ki Ho dan segala kutukannya mengenai ‘perut’ “dia kesal.” dia menunjuk ayah mertuanya memberi tahu Kyuhyun. “tidur.” lalu begitu perintahnya, menepuk pangkuan memerintah Kyuhyun untuk datang.

Tangannya langsung memijit perlahan pelipis Kyuhyun saat pria itu sudah tiba. Songjin mengerang, “kau bilang aku panda.” katanya kesal, “kau sendiri, tidak pernah melihat cermin memangnya?”

“Terakhir kali bercermin, aku masih tampan.” candanya mulai merasakan rileks. tubuhnya mulai terasa ringan. Matanya telah hampir memejam, kalau saja Songjin tidak segera menyahut, “aku tahu kau tampan.”

Ujar wanita itu mengejutkan Kyuhyun. Songjin tidak pernah mau memujinya terang-terangan. Setidaknya seperti itu biasanya. Jadi ini pasti karena sesuatu, “apa ini karena kapal pesiar?” dia menyelidik.

“ini karena aku tidak ingin ikut kapal pesiarmu. Predsir.”

“Kenapa?”

“Air.”

“lalu?”

“Aku tidak bisa berenang.”

“Kau tidak harus berenang dari Seoul ke Roma.”

“Kau tidak ingat titanic?” Desah Songjin panjang. Wajahnya dipenuhi kerutan kekhawatiran. “Aku tidak ingin seperti Jack”

Kyuhyun ikut mendesah. “tapi kau wanita. kau seharusnya menjadi Rose. Dan aku Jack. Jadi yang mati tenggelam adalah aku.”

“tapi kau tidak boleh mati tenggelam!” Sungut Songjin kencang. Bibirnya mencebik lucu— Kyuhyun tertawa karenanya. Oh, juga karena ‘kau tidak boleh mati tenggalam’ milik wanita itu sebenarnya.

“Kau mencintaiku—“ Kyuhyun berujar datar. Hampir memberikan senyuman ditambah kekehan geli. Songjin pasti kelepasan lagi hingga wanita itu kini mati-matian salah tingkah. “well, tidak juga.” katanya gugup.

“Hng?” Kepala Kyuhyun naik mendekati wajah Songjin. Songjin menjadi semakin panic. “Hanya—“ bibirnya gemetar. Sibuk berkomat-kamit entah mengatakan apa. “Hanya saja rasanya percuma aku memasang alat pencegah kehamilan kalau kau mati.”

“Apa?” Kantuk Kyuhyun seketika lenyap. Pria itu mengubah duduk bersila tegap dikursi kayu yang dapat menampung seluruh bokongnya. “kau bilang apa?”

“itu—“ Songjin memandang sekitar. Kesana kemari. Menggaruki kepalanya padahal sama sekali tidak gatal. “Alat pencegah—“

“kau memasang alat pencegah kehamilan?”

“Y—yeah. Seperti itulah…”

Seperti ada benda keras menghamtam wajahnya. Kembali pada usha kerasnya untuk membuat Songjin terpukau padanya, Kyuhyun selalu menemukan dirinya yang melakukan hal sebaliknya.

Selalu. Setiap saat.

“Kau pasti bercanda.”

“Aku pikir juga begitu, setelah aku melakukannya, aku pikir aku pasti sudah gila.”

Kyuhyun tertegun lagi. Dia masih belum tahu harus mengatakan apa. Dia ingin berteriak kencang. Senang. Tapi ditempat ini banyak sekali orang yang bisa menganggapnya tolol. Seperti keluarganya, misalnya?

Semua berjalan lambat. Dedaunan di pohon pinus. Ilalang tinggi. Suara burung hutan. Dan tawa ayah ibunya tentang bumbu domba panggang. Semua berjalan lambat. Termasuk isi kepalanya yang biasanya cemerlang.

Oh Astaga!

“Kenapa?” Hanya itu yang bisa Kyuhyun katakan. Sependek itu, namun percayalah, itu membutuhkan kemampuan ekstra karena lidahnya mendadak kelu.

Sudah 1 tahun— bahkan lebih, dirinya tidak dapat menyentuh Songjin hanya karena tak ingin menghamili wanita itu lagi. Dia bukan tidak ingin memiliki anak dari rahim Songjin, lagi. Tetapi pasca melahirkan Hyun Gi— benar-benar menyisakan hal mengerikan yang sampai saat ini masih mati-matian ingin Kyuhyun lupakan.

Dia ingat malam dimana pertama kalinya mereka akhirnya bercinta. Songjin mabuk, dan dirinya dilebur nafsu. Malam itu mereka bersatu setelah menunggu terlalu lama. Hal yang seharusnya dilakukan di malam pernikahan mereka itu malah baru terjadi setelah 2 tahun pernikahan. Dan tidak perlu menunggu lama, Kyuhyun dikejutkan oleh kehamilan Songjin.

Hanya butuh satu kali saja, dan mereka memiliki Hyun Gi. Bukan tidak mungkin jika kemudian mereka melakukannya lagi, tanpa pengaman, kini anak mereka tak hanya Hyun Gi saja.

Mungkin saat ini sudah ada banyak baby Cho berkeliaran disekitar ilalang. Mungkin jumlah keluarganya tidak hanya tiga. Tapi empat, lima, enam. Entahlah.

Dan entah bagaimana pula Songjin akan melahirkan anak-anak itu. Anak pertamanya saja sudah membuat wanita itu nyaris mati. Dokter Han berkata kemarin mungkin adalah kesempatan pertama dan terakhir Songjin untuk sanggup melahikan secara normal.

Bahkan mungkin mengandung. Sesungguhnya Songjin memiliki Rahim yang tak cukup kuat untuk mengandung. Wanita itu hanya memaksakannya saja. Namun keras kepala wanita itu, kini berakhir manis.

Walau hampir mati. Walau nyaris meninggalkan janin yang dipertahankannya mati-matian. Cho Hyun Gi lahir. Bayi menggemaskan itu kini telah berusia 1 tahun.

Sepanjang itu, Kyuhyun harus mati-matian menahan. Menahan segalanya yang bisa ditahannya. Dengan cara apapun, menggunakan apapun. Mereka tidak pernah bercinta (lagi) semenjak usia kehamilan Songjin menyentuh angka 8.

Sejauh ini Kyuhyun mengatasi dengan caranya sendiri. Apapun asal tidak membenamkan miliknya kedalam tubuh wanita itu lagi. Apapun. Dan itu bukan perkara mudah.

Kadang Kyuhyun lepas control. Kadang kala bercumbu, mereka, atau dirinya sendiri benar-benar nyaris menyatukan tubuh. Kalau-kalau Kyuhyun lupa mengenai persalinan menyeramkan itu, pria itu pasti sudah mengoyak tubuh Park Songjin sesukanya.

“Karena—“ Songjin tampak kebingungan. Kepalanya tertunduk. Dia menyelipkan rambut panjang yang tergerai dibalik telinga, lalu membasahi bibir dengan lidah. “entahlah.” ucapnya bimbang “aku rasa pernikahan adalah kompromi. Jadi sekarang aku sedang berkompromi.”

“Berkompromi?”

Tunggu. Itu memang benar. Tapi Kyuhyun juga menyadari bahwa dirinya sendiri ikut andil dalam persoalan ini. Dirinya bahkan menolak kondom. Berulang kali Songjin mengatakannya. Tapi baginya kondom bukan solusi. Dia baru akan melakukannya jika Songjin benar-benar telah memasang alat pencegah kehamilan itu.

Dia ingin bermain aman. Dan kondom tidak cukup aman. Persetan dengan slogan bermain aman dalam kemasan karet penampung sperma itu.

Sebenarnya, jika Songjin tidak segera memasang, dirinya mungkin memang tidak tahu akan menjadi apa. Akan segila apa. Tapi terkadang Kyuhyun sering berpikir, bahwa jika keputusan untuk memasang alat pencegah kehamilan terkesan terlalu egois, dirinya akan dengan suka rela membiarkan Songjin tidak melakukannya.

Sama artinya dengan tidak bercinta dengan wanita itu— mungkin selamanya. Atau paling tidak, sampai wanita itu terkena menopause. Itu memang terdengar tidak masuk akal. Tapi hidup tanpa wanita lebih tidak masuk akal baginya.

Dia tahu risikonya. Dia menerimanya. Everything has a price.

“Tapi aku tidak pernah memintamu untuk berkompromi, dalam hal ini—“ Kyuhyun masih tampak terkejut.

“Tapi aku bukan menikah dengan benda mati.” bantah Songjin cepat. “aku— tidak ingin egois.” tunduknya penuh sesal, “aku selalu melakukannya sepanjang hidup. Kurasa sudah waktunya aku melakukan hal yang benar.”

Kepala Songjin kemudian terangkat. Wanita itu tersenyum samar. Tipis, namun sarat akan rasa bersalah “kata eomma tidak ada alasan untukmu bertahan dengan wanita sepertiku.”

Kyuhyun segera melirik ibu mertuanya ditengah ilalang. Duduk sendiri memainkan laptop hikmat. Matanya memicing kesal karena Park Aeri selalu saja membuatnya repot dengan komentar-komentar terlalu jujur mengenai putrinya sendiri.

Dan biasanya, setelah semua kekacauan itu, Kyuhyun harus kelimpungan sendiri membereskan ulah sang mertua. “wanita sepertimu?” Senyum Kyuhyun tampak samar.

Dia tidak pernah mengerti istilah wanita sepertiku buatan Songjin yang kerap digunakannya untuk segala hal. Wanita sepertiku tidak bisa berada di meja kerja sepertimu terlalu lama. Wanita sepertiku terlihat aneh dengan pakaian itu. Kyuhyun sungguh tidak mengerti.

Napasnya terbuang panjang. Kyuhyun menggeser duduknya. Dia mengamati wajah layu Songjin. “karena wanita sepertimu, aku bisa mempunyai kapal pesiar.” candanya dengan tawa renyah menyelipkan senyum ramah semringah.

Tangannya menepuk-tepuk kepala Songjin sampai mengusapnya lembut. “kau selalu mengejutkan, kau tahu?” dia mengangkat wajah wanitanya. Kyuhyun bisa merasakan hidung Songjin dijung hidungnya.

“Kau selalu begitu.” Kyuhyun mendesah “bagaimana aku bisa tidak mencintaimu?”

“Ew” Songjin langsung mengernyit, “Cheesy.” Cibirnya. “Kau mencintaiku hanya karena aku memasang alat pencegah kehamilan. Kau ingin meniduriku.” sinisnya tajam. Dan Kyuhyun segera mengangguk.

“Benar.” akunya “Lelaki mana yang tidak ingin menidurimu? Kau harus lihat, wanita sepertimu, bisa membuat para lelaki langsung kehilangan akal sehat.”

“Mesum.”

“aku tidak mendapatkan jatahku lebih dari 1 tahun, dan kau menyebutku mesum?”

Napas Kyuhyun menampar wajah Songjin. Suhu tubuh Kyuhyun terasa hangat. Jauh diatas normal. Kyuhyun demam. Bekerja tanpa henti terus menerus, membuat tubuhnya tumbang pada akhirnya.

“Kau sakit, Cho. Masih saja ingin meniduri wanita.”

Kyuhyun tertawa. Pria itu buru-buru memagut bibir istrinya lagi sebelum wanita galak itu cepat mengubah pikiran dan menjauh, “Kau benar-benar harus ikut pelayaran perdana Poseidon.”

“Untuk apa? Menjadi parter ranjangmu? Mengulang adegan titanic?”

“Tidak akan terjadi apa-apa” Pagutan lainnya kembali Kyuhyun lakukan “Aku sudah memastikan semuanya akan aman. Dan kau bersamaku.”

“Oh ya?”

“Yeah.”

Awalnya Songjin memandang Kyuhyun sinis. Sebelah alisnya terangkat, sampai pria itu tertawa dan membuatnya ikut memuntahkan tawa “kau benar-benar menjijikan” ujar Songjin disela tawa gelinya.

“Apa Seohyun ikut??” Pertanyaan polos Songjin membentuk tawa geli Kyuhyun kembali. “Seohyun?” dia nyaris berdecak. Sebanyak itu mulutnya mengatakan dia mencintai wanita ini, sebanyak itu pula ternyata ke khawatiran Songjin.

Kyuhyun membuang napas panjang. Kedua tangannya kini menarik wajah mungil Songjin mendekat “Apa Changmin ikut?” dia membalik pertanyaan, lalu tersenyum masam.

Dirinya jelas tidak memiliki hubungan apapun dengan kepala manager Lyx itu tapi wanita ini dengan Shim Changmin adalah persoalan lain. Bukankah begitu?

Kedua mata Songjin lantas berputar keatas. Napasnya berhembus kencang kala mulutnya menggumam “Hmm, biar kupik—“ tetapi Kyuhyun langsung membenamkan bibirnya dalam-dalam.

Memaksa masuk lidahnya lalu mengabsen deretan gigi rapi Songjin. Bibir Kyuhyun bergerak lama. Sarat akan emosi, sarat akan nafsu, sarat akan rasa rindu.

“Bisa apa aku tanpam—“

“PIGGGG!!!” tiba-tiba terdengar suara mengejutkan. Semua orang segera berhenti melakukan pekerjaan mereka dan menoleh. Hyun Gi, si sumber keributan baru saja terbangun dan melihat seekor babi liar berlari ditengah ilalang.

“PIG!!” ulang Hyun Gi. Menggunakan seluruh jarinya, dia menunjuk buntut hewan pendek gempal itu menelusup bersembunyi lebih dalam di rerumputan. “dia bukan memanggilmu, percaya padaku.” Kyuhyun segera pelepaskan bibirnya dan langsung berbicara pada Songjin.

“PIG!”

“Eomma, bukan pig!”

“PIGGG!” Tapi Hyun Gi masih meneriakkan itu hingga pukulan kencang kembali didapat Kyuhyun pada bahunya, begitu kencang.

“Dia bukan memanggilku!!” teriak Songjin sebal. “Ada babi liar dirumput sana! BUKAN AKU!!” Dia bersungut-sungut.

“T—tapi tapi”

Air mata mulai mengenangi kelopak Songjin, “Aku membencimu!!” bentaknya setengah mendengus sambil berlalu.


Learning how to use his own spoon:

Asking dad to read for him

Cho Hyun Gi vs Mr. Lemon

“wait! i can hear this lemon just talk to me”

“Or not? Should i kiss the lemon first?”

“Its smells good!”

“Mr. Lemon, you’re fantastic!”

177 thoughts on “[KyuJin Series] Impagabile

  1. Saengil chukhae uri cho hyun gi….aiggoooo smakin hari smakin mnggemaskanya baby cho,,,apalagi saat dy bs berinteraksi dgn skitarnya,,,mngulang perkataan org,,meminta sesuatu dn kdng mnjawab pertanyaan org lain bnr2 jenius mnurutku….DAEBAK!!
    Pasangan Kyujin mank ga pernah ada matinya apalgi dgn tnghkah konyol mrka……cnta mrka sbenarnya sederhana pi sngguh manis dn romantis……
    Good job!

  2. Sεlαmατ ulang tahun Hyuuun Giii.. Ya ampun mkin kesini makin lucu dan cerdas!! Daebaaak!! Kyu jg makin romantis wlw ttp ada mnyebalkannya hehehee, dan critanya pnjang bgt, puas jdinya bacanya.. Ditunggu kisah manrik lainnya ya Galuuuh:)

  3. Kyuhyun capek2 buat senengin Songjin. Padahal ada hal kecil yg lebih simple dan gampang untuk bikin Songjin senyum. Hyun Gi tambah gede dan lucu. Wajar sih Songjin khawatir aku aja sampe takut Hyun Gi kenapa-napa.

  4. happy birtday untuk hyun gi walaupun telat wkwk…… songjin polos sm menyebalkan, Hyun Gi neomu2 kyeopta,,,,,,kyujin lg Romantis2nya eh hyun gi teriak Pig, dan kyuhyun salah ngartiin ? jd adegan romantisnya di pending deh hehe #IkitinBhsHyungi wowofu hyun gi…….

  5. Wahhh hyun gi nya ultah 1 tahun di story ini ya hehehe duhhh emg cople kyu sama songjin klo gak berantem gak mesra wkwk.. Si hyun gi abis liat gajah yg di panggil ma trs pig, dan dua panggilan itu jdnya mengarah ke songjin haha si kyu sml sumpah2 ke songjin bukan dia yg ngajarin hyun gi manggil gajah pake ma wkwk

    Duh kyuuuu emg sih punya kapal pesiar oke trs akuisisi pusat per belanjaan oke dan entah bisa kepake brp keturunan kekayaannya tp kan keluarga jg penting kasian lah si songjin sm hyun gi yg merasa terabaikan smp2 songjin blg kyu selingkuh sm laptop ckck.. Tp semoga after ini bisa mesra2an lg ya hHaha ya meskipun berantem jg as always

  6. wahhh ada yg ulang tahun nuh☺☺☺
    happy birtday hyungi😙😙😙
    songjin terlalu swnsitif deh, dari dikiranya di gajah sampe babi haduhhh, dan akhirnya si kyu yg jadi sasarannya…

  7. Konyol saat songjin tau kalau kapal pesiar itu milik suaminya… lebih konyol lg saat songjin mikir hyun berbeda dr bayi lain karna masih punya 2 gigi. Hhh hyun gi emang bayi ajaib, baru 1 tahun udah bisa lebih pintar bahasa inggris drpd eommanya haha baru juga romantisan hyun bangun langsung bilang pig.. kyu juga gitu masak songjin dikira pig, semua hewan besar disamakn ma songjin haha FF mu keren semua thoooorr

  8. sumpah itu songjin lemot selemot lemotnya 😂😂 Tapi sebelumnya Happy Birthday ( Telat ) buat Hyun Gi.. Sabar ya nak punya otangtua sinting nan sarap… Innallaha Ma’a Sabirin😂😂

  9. terkadang kyu yg jg bs mjd perusak suasana. padahalkan hyun gi bnrn nunjuk babi bkn ma nya. bru aja baikan. eh nyambung lg ngambeknya

  10. aku boleh ngakak juga😂😂😂 yg td gajah:v tp songjin salah paham, dan ini juga yg terakhir bikin ngakak again😂😂, si kyuhyun suami idaman😂😂

  11. Pingback: Kumpulan FF Kyuhyun Wordpress Terbaru - Triknesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s