[KyuJin Series] Our 1st Secret


[KyuJin Series] 

Our 1st Secret

Cho Kyuhyun | Park Seul Gi | Park Songjin |

Oneshot

But if you ask me, the feeling that I’m feeling is overwhelming. 
And oh, it goes to show, there’s so much to know.

I wrote this for my prettiest friend. But while trying not to prove that I care,
I was trying not to make all my moves in one motion and scare her away.

[Jason Mraz – Prettiest Friend]

 

“Bagaimana? Sebentar— aku tidak mendengarnya jelas. Ulangi.”

Park Seul Gi mendekatkan telinga pada bibir putrinya dan seketika itu pula Songjin mundur satu langkah. Mulutnya tidak bisa mengatakan apapun. Dia sedang terlalu takut. Wajah Ayahnya tidak pernah semenyeramkan ini.

Tadi Songjin baru mengatakan bahwa dirinya akan menghadiri sebuah pesta ulang tahun seorang teman. Biasanya, Songjin tidak perlu sekalut ini untuk keluar pada jam malam.

Namun itu hanya terjadi ketika kedua orang tuanya sedang tak berada dirumah. Kini, entah mengapa Park Seul Gi kembali diwaktu yang tak tepat. Atau, setidaknya, begitulah pikir Songjin.

“Yu—Yura. Pes— pesta ulang tahun Yura.” Suara Songjin terdengar bergetar. Park Seul Gi menarik diri menjauh sambil membuang napas kasar. Kedua tangannya berada didalam saku celana— matanya tampak bagai elang memerhatikan putri semata wayangnya.

Ada rasa berat hati, untuk memberi izin bagi Songjin pergi malam ini. Bukan karena Park Seul Gi tidak menyukai teman baru Songjin kali ini. Pria itu tahu seberapa sulit putrinya mendapatkan seorang teman. Bagus kalau benar Songjin kini memiliki seorang teman lagi.

Tetapi sebenarnya, dia bahkan sudah dapat menebak— hanya perlu menghitung hari bagi Songjin sadar, dirinya hanya dimanfaatkan. Pun ketika menyadarinya, Park Seul Gi tetap membiarkan Songjin bergaul dengan Yura Yura itu.

Songjin perlu belajar dan paham bahwa dunia memang begitulah kejamnya. Tusuk menusuk. Benci membenci dan Bunuh membunuh. Park Seul Gi sudah meyakini dirinya akan berada tepat dimana nanti Songjin menangis ketika menyadarinya.

Mungkin.

Dia tahu. Tapi bukan itu masalahnya kali ini. Pesta keparat itu masalahnya. Jadi, manusia seperti apakah yang mengadakan pesta tepat pada pukul 00:00? Ketika semua orang sedang terlelap diranjang mereka?

Dan orang tua macam apa yang memperbolehkan putra-putri mereka mengadakan pesta semacam itu dipagi buta? Dan oh, tolong catat kembali bahwa gadis bernama Yura masih berada diusia rawan— sama saja seperti Songjin.

Mereka baru menginjak 19 tahun!

Mereka bahkan baru— Ah Park Seul Gi benar-benar kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa kesalnya dia kali ini. Dia sedikit bersyukur sang istri telah terkapar diranjang. Jika wanita itu tahu putrinya akan pergi ditengah malam. Bukan hanya Songjin saja yang dihabisi. Dirinya juga akan habis dicincangnya!

“Bo—boleh ‘kan, Appa?”

Park Seul Gi kembali menarik napas dalam lalu membuangnya. Pria itu menggaruki dahinya, seraya mata bergeser pada seorang lelaki disamping putrinya.

Dia mengamati lelaki itu lumat. Songjin sudah dewasa. Baru beranjak dewasa lebih tepatnya. Dia tahu itu. Sudah saatnya Songjin memiliki seorang kekasih. Dia juga tahu itu. Tapi hey, Songjin belum sedewasa itu ‘kan? Atau, begitulah baginya. Entah anggapan itu akan sampai kapan bertahan.

Lelaki disamping Songjin menggunakan stelan tuksedo lengkap. Bahkan dia memakai dasi! dasi hitam legam yang sialnya tampak sangat sempurna menggantung dilehernya.

Sepatu mengilat, Busana rapi— tampak elegan, membuat Park Seul Gi mengingat beberapa tahun silam ketika Songjin meminta izin untuk datang pada pesta prom night ditahun terakhir masa sekolah menengah atasnya. Songjin juga datang bersama pria ini.

Oh, sial! Dia mendadak bernostalgia seperti apa kali pertama dirinya mencoba mengajak sang istri kencan disebuah restoran ternama dulu. Dia memastikan bahwa pakaiannya adalah pakaian terbaik yang dimilikinya. Hanya untuk membuat ayah gadis itu terpesona, supaya dirinya dapat membawa putrinya pergi.

Cho Kyuhyun.

Ini Cho Kyuhyun. Lagi.

Kenapa harus Kyuhyun? itulah masalahnya. Betapapun dirinya nyaman dan percaya, membiarkan Songjin selalu berkeliaran bersama Kyuhyun, entah mengapa belakangan ini dirinya merasa berbeda.

Seperti sesuatu yang buruk, bisa saja terjadi kepada Songjin mengingat Cho Kyuhyun adalah lelaki normal, dan begitupun putrinya. Dan catat, Songjin memiliki modal yang cukup untuk membuat lelaki mana saja harus menahan napas karena ngejolak nafsu.

Dia tidak mempercayai Kyuhyun sebanyak itu saat ini. Tidak seperti kemarin lalu, atau beberapa tahun sebelumnya. Dan biasanya instingnya tepat. Jika sesuatu tidak terjadi pada mereka berdua, salah satu dari mereka pasti sedang ‘merasakan’ sesuatu.

Dan entah bagaimana, Park Seul Gi masih merasa belum siap saja melepas putrinya. Iya, perasaan tidak percaya kepada Kyuhyun itu berimbas rasa takut jika kalau-kalau saja Songjin akan pergi meninggalkannya, karena sudah tidak lagi membutuhkannya.

Seperti, menikah misalnya?

“Dari sekian banyak temanmu, apa hanya Kyuhyun saja yang mau pergi denganmu?”

Tidak. Park Seul Gi tahu betul itu pertanyaan tolol. Putrinya tidak memiliki banyak teman. Jadi perkataan dari sekian banyak teman itu sebenarnya benar-benar tolol. Sejauh ini, selalu hanya Kyuhyun dan Siwon saja yang bertahan. Selalu.

Entah apa yang salah dari putrinya. Park Seul Gi tak pernah tahu. Songjin baik, ramah pada setiap orang, dan ceria. Jadi tak sekalipun Park Seul Gi paham, dengan kepribadian seperti itu, bagaimana bisa Songjin sulit mendapatkan teman??

Songjin mengerang. Jemarinya meremas clutch hitam penuh kilau karena bebatuan yang menempel. Mulutnya mengeluarkan suara desahan, “— siapa lagi yang bisa kuajak kesana memangnya?” katanya terdengar putus asa.

Kalau dirinya mempunyai teman wanita, pasti sudah diajaknya pergi. Katanya pesta rumahan akan terasa menyenangkan jika datang bersama kelompok teman wanitamu. Tetapi Songjin tak pernah memiliki kelompok teman wanita sejak dirinya tahu apa arti sosialisasi.

Harapan itu terlalu muluk bagi pendengarannya. Nyatanya, beradaptasi adalah hal paling sulit untuk dipecahkan setelah kalkulus!

Songjin lalu menyalahkan sang ayah atas sikap kikuk yang temurun padanya— dirinya begitu yakin, ini adalah warisan dari sang ayah. Dia tidak pandai beradaptasi. Perkara kini ayahnya dapat mengenal banyak orang, pergi kesana kemari, itu bisa ditanyakan lanjut kepada ibunya.

Dan untuk sedikit bukti, lihat saat ini, Hanya Choi Ki Ho sajalah satu-satunya orang yang selalu berhubungan intens dengan Park Seul Gi. Apa Songjin pernah melihat orang selain ayah dari Siwon dan Kyuhyun itu? Tidak!

Sebutkan jenis-jenis neraka! Maka berada dilingkungan baru bersama wajah baru adalah neraka kecil bagi Park Songjin. Neraka besarnya adalah ketika para dosen meminta masing-masing mereka mencari teman kelompok untuk tugas-tugas.

Maka hanya akan tersisa Songjin seorang diri dikelas— tanpa kelompok. Biasanya Songjin akan mendapat kelompok buntut. Artinya, kelompok sisa dari orang terbelakang yang tidak begitu populer.

Sebentar— coret bagian tidak begitu dan ubah dengan tidak populer saja. Songjin selalu merasa tersisihkan didalam dunia nyata. Bahkan kedua orangtuanya pun menyisihkannya dengan pekerjaan.

Jika boleh berteriak, maka teriakan tentang tenggelamnya dia dari peradaban akan terdengar paling kencang keluar. Songjin sudah muak, tetapi sadar tak bisa melakukan banyak.

Itu seperti nasib. Kau tidak bisa mendapatkan seluruh hal menarik dalam hidup secara bersamaan bukan? Everything has a price. Begitu kata para filsuf eropa berkata.

Dan disaat yang sama, nyali Cho Kyuhyun ikut menjadi ciut seciut Songjin. Sebagian hatinya bahkan mengharapkan Park Seul Gi tidak mengijinkan mereka pergi. Itu akan lebih baik karena dirinya tidak tahu harus bersikap seperti apa pada penampilan gadis 19 tahun disampingnya ini.

Songjin dengan gaun cocktail baby pink selutut, memiliki lekuk tegas— seolah sedang mempertegas semenarik apa tubuh gadis ini dimatanya. Songjin tidak mengerai rambutnya.

Tidak semua. Pada bagian sebelah kiri, Songjin mengepangnya. Itu membuat bahu sebelah kiri Songjin terbuka. Semua orang memiliki akses untuk menyadari betapa halus, lembut dan menarik nya bahu keparat itu.

Semoga tidak ada orang tolol nanti yang tiba-tiba mendekat lalu mengecup lahan kosong disana. Karena Kyuhyun benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa nanti. Menghajar orang tersebut karena baru saja menyelaknya? Atau menghajar orang itu karena lebih dulu memiliki nyali melakukan hal itu?

Oh sebentar— bukankah itu sama saja? Okay. Lupakan.

Ini masih bulan Februari. Masih ada sisa angin musim dingin yang berhembus dan bahkan salju masih terdampar dimana-mana! Jadi Kyuhyun tidak habis pikir apa yang Songjin pikirkan mengenai gaun tolol itu!

Bukankah nanti dia akan mati kedinginan? Bukankah gaun seperti itu terlalu terbuka? Apa dia tidak ingin menggunakan sesuatu yang bisa menutup bagian atas dan bahwa tubuhnya? Mengapa Songjin senang sekali memamerkan tubuhnya ke semua orang??

“Appa—“

“Sebentar. Biarkan aku berpikir. Sebentar—“ Park Seul Gi merentangkan lima jari tangan kanannya didepan wajah Songjin. Dia masih memikirkan banyak hal— yang sebenarnya lebih banyak bukanlah rasa takut dengan apa yang akan terjadi pada putrinya di pesta itu nanti.

Namun tentang pria gandengan putrinya. Apa sesuatu benar-benar terjadi diantara keduanya dan dirinya tidak tahu apa-apa?? Mengapa Kim Dong-Ah tidak memberitahukan apa-apa padanya? Sejauh ini tidak ada berita bahwa Kyuhyun dan Songjin berpacaran? Dia tidak pernah mendengar berita mengenai dua bocah ini kecuali pertengkaran tak perlu yang begitu sering mereka lakukan.

Dan Park Seul Gi tidak peduli pada hal itu.

Dia sedikit menoleh— memerhatikan Cho Kyuhyun kali ini. Lebih saksama dibanding ketika tadi dirinya memerhatikan Sang putri.

Dia benar-benar memerhatikan seluruh yang ada dan melekat pada tubuh Kyuhyun. Seorang pria tidak mungkin berdandan rapi tanpa alasan. Kecurigaannya bertumpuk semakin banyak, namun dia tetap bertanya, “Kau yakin??” kepada Kyuhyun. Sebenarnya lebih tepat jika disebutkan, pertanyaan itu untuknya saja.

Tidak. Dan Lelaki berusia 40-an itu menjawabnya sendiri didalam hati. Tidak. Dia tidak pernah yakin bahwa saat-saat dimana putrinya akan pergi dengan seorang lelaki akan menjadi kenyataan. Jadi, apakah ini waktunya??

Dia sungguh tidak pernah se-khawatir ini— apalagi ketika Kyuhyun yang bersama dengan Songjin. Dia selalu percaya kepada pria ini. Selalu. Kyuhyun selalu dapat diandalkan. Dan entah sejak kapan kepercayaan itu kini berkurang.

Kyuhyun terlihat kaku. Bibir pria itu sudah sedikit terbuka untuk menjawab, namun lucunya, Kyuhyun tidak mengeluarkan sedikitpun suara. Sepertinya Kyuhyun juga diserang kepanikan serupa seperti Park Seul Gi— dan sayangnya lelaki separuh baya itu tidak menyadarinya sama sekali.

Dia terlalu sibuk pada anggapan mengerikan mengenai pergi malam-malam bersama pria tampan. Putrinya pergi. Ditengah malam. Bersama seorang pria normal. Tampan.

Park Seul Gi lantas langsung menoleh lagi pada Songjin. Sebelum sang putri mulai bertanya-tanya lagi, dia lebih dulu menyelanya. Dia pasti akan menyesali keputusan ini. Tetapi dia lebih tidak ingin melihat Songjin dirundung kekecewaan bertubi.

Ketidak hadirannya dirumah, sudahpasti membentuk luka tersendiri bagi putrinya. Park Seul Gi tidak ingin menamnahkannya lagi. Maka pria itu menembuskan napas panjang tanda pasrah berpesan, “Jangan merokok, jangan mabuk, tidak boleh memakai narkoba, dan tidak boleh tidur dengan lelaki— kau tahu apa akibatnya jika itu terjadi.” mata Park Seul Gi menyipit tanpa pria itu sendiri sadari.

Dan Songjin tampak begitu shock. Terkejut hingga berpikir apa yang sebenarnya ada didalam kepala sang ayah. Dia tidak mungkin merokok! dia tidak pernah merokok dan mengapa dirinya perlu melakukan itu didalam pesta?

Dia juga tidak mungkin mabuk. Sampai detik inipun dia tidak pernah mengenggak alcohol dalam jenis apapun! Dia bahkan tidak menyukai aroma dari alcohol, jadi coba berikan alasan mengapa dirinya pun harus mencoba minuman keras tersebut?

Narkoba? Lebih baik lewati saja bagian ini. Ayahnya pasti sudah kehilangan akal sehat!

Dan tidur dengan lelaki?! Lelaki mana sebenarnya yang tertarik padanya? Kalau ada, sudah sejak dulu dia memiliki kekasih. Sudah berganti-ganti mungkin seperti mengganti pakaian dalam. Nyatanya tidak seorang pun lelaki memiliki inisatif untuk berkencan dengannya.

Songjin menyimpulkan, dia tidak semenarik para gadis di Universitasnya. Mungkin tubuhnya terlalu gemuk, wajahnya terlalu bulat. Tingginya terlalu rendah dan masih banyak terlalu-terlalu lainnya dikepala gadis tersebut.

Tetapi coba pikirkan, hallo, dirinya sedang berpesta! Mengapa didalam pesta, malah harus tidur bersama lelaki?! Sumpah seumur hidup, Songjin selalu mengharapkan undangan pesta seperti ini datang untuknya.

Ini adalah kesempatan emas— ini adalah kali pertamanya! Mana mungkin dirinya akan mensia-siakan kesempatan emas ini dengan tidur bersama lelaki?!

Oh ya ampun! Ayahnya pasti sudah benar-benar kehilangan akal sehat!

Tetapi dibalik semua kekesalan itu, Songjin perlahan mengulum senyum manisnya, “Jadi, boleh?” Kakinya nyaris melompat-lompat— jika saja dirinya lupa sedang mengenai heels 17 centi, semua ekspresi kegembiraan itu telah dilakukannya saat itu juga.

Dan saat itu juga, Songjin segera menyeret Kyuhyun dari bibir pintu. Dia melupakan sang ayah secepat itu hanya karena sebuah izin pesta telah turun. Suara Park Seul Gi lagi lah yang membuat keduanya lantas berhenti berjalan ditengah rumput.

Itu terjadi ketika ayahnya memanggil Kyuhyun. “Cho Kyuhyun! aku mengenal semua polisi di kota ini.” begitu ancam ayah satu anak itu galak. Kyuhyun hanya tersenyum kecut, sedikit canggung pada ancaman yang baru pertama kali diberikan lelaki bertubuh sedikit gempal itu padanya.

Pria itu biasanya bersahabat padanya. Sangat bersahabat. “Dan hey, Cho Kyuhyun!” panggil Park Seul Gi lagi. Kyuhyun berhenti melangkah lagi, lalu membalik tubuh, “Ya?” balasnya malas, namun masih penuh dengan kesopanan.

“Aku memiliki banyak senapan, kau tahu itu ‘kan?”

“…… Y—ya?” Kyuhyun tampak tidak mengerti. “Lalu?”

“Lalu? lalu ingat saja disepanjang pesta itu. Aku mengenal seluruh polisi di kota ini dan memiliki banyak senapan.”

“……….”

** **

Dan lucunya, Cho Kyuhyun benar-benar mengingat seluruh ancaman itu. Entah bagaimana itu bisa terjadi. Itu terjadi begitu saja. Dia tidak merasa takut dengan ancaman Park Seul Gi— tentu saja tidak. Yang benar saja!

Ancaman senapan itu sungguh kuno! dan jika Park Seul Gi mengenal seluruh polisi di kota, maka dirinya mengenal seluruh pengacara di kota. Itu adalah sebuah posisi win-win.

Jadi yang terjadi didalam pesta adalah Kyuhyun, mendadak berubah menjadi petugas keamanan. Oh, sebenarnya lebih pantas disebut bodyguard. Personal bodyguard.

Saat itu music mendenggung kencang. Suaranya menggema hampir mengisi seluruh sudut ruangan— dan Kyuhyun yakin, hingga sampai ke lantai 3 pun suara music tidak enak ditelinga ini pasti masih terdengar. Apalagi jika ditambah dengan speaker sebesar mobilnya, dan berada ditiap sudut ruangan.

Kyuhyun lebih sering menghadiri pesta jika dibandingkan Songjin, lebih benyak pesta yang telah dihadirinya, baik bersama dengan Siwon ataupun seorang diri. Sebut Cho Kyuhyun animal party, tetapi pesta satu ini, sebenarnya tampak begitu usang baginya.

Tipikal pesta meriah yang menarik hanya terjadi pada waktu-waktu awal saja. Sisanya dan secara keseluruhan, pesta ini membosankan. Namun pasti akan tampak menyenangkan bagi mereka yang jarang, atau bahkan tak pernah hadir sekalipun pada pesta.

Dan begitulah Park Songjin saat ini. Satu kali lagi Kyuhyun harus menarik gadis itu agar tetap dekat dengannya. Agar tidak hilang ditelan masa. Agar mereka tidak terpisah. Tetapi Songjin selalu bersikeras untuk melepaskan diri.

“Hey!” mata Kyuhyun nyaris mendelik, “jangan terlalu jauh!” omelnya ketika langkah Songjin sudah tampak jelas akan melarikan diri darinya. Selain karena harus menjaga gadis merepotkan satu itu, bukankan ini waktu tepat baginya untuk memberi peringatan kepada para lelaki siapapun itu, yang sedang atau akan mencoba menarik perhatian Songjin selama ini— sedari tadi.

Dia harus melakukannya karena sadar dirinya tak mungkin selalu berada disekitar gadis itu setiap saat. Gedung universitas mereka bahkan berseberangan. Memang masih didalam lokasi yang sama. Tapi tetap saja— bayangan-bayangan bahwa suatu saat dirinya akan menemukan Songjin bersama dengan seorang lelaki ketika entah sedang melakukan apa, itu benar-benar membuatnya panic dalam diam.

Mengapa panic dan mengapa dalam diam?

Karena seseorang, bisa saja merebut Songjin nya! dan mengapa dalam diam? Karena Songjin tak pernah tahu dirinya begitu menyukai gadis ini. Berkata jujur bahwa dirinya menyukai Songjin adalah hal yang rumit.

Hingga sampai detik ini, pilihan diam adalah cara termudah bagi Kyuhyun agar selalu dapat dekat, bahkan memonopoli gadis itu sesukanya. Percayalah, cinta dalam diam tidak semudah itu untuk dijalankan. Tetapi Kyuhyun adalah penganut prinsip, bahwa cinta tak perlu digembar gemborkan.

Jika dirinya cukup beruntung, Songjin akan dengan sendirinya menyadari bahwa dirinya menyukai gadis tersebut. Barulah disana, akan timbul permasalahan baru. Apa Songjin akan menghindar? atau tetap tinggal.

membayangkan segala kemungkinan itu selalu membuat Kyuhyun mual.

Semual kini ketika dirinya mendapati Songjin mulai mengamit scotch dari pelayan-pelayan yang berjalan-jalan ditengah ramainya tamu. “YAA!” bentaknya begitu kencang. Beberapa orang bahkan langsung menoleh padanya, tetapi Kyuhyun tak mengacuhkannya.

Dia hanya peduli kepada gadis tolol ini, dan sebuah bukti bahwa gadis ini mencoba mengamit scotch dari atas nampan. “Kau mau apa?”

Songjin menghidup oksigen banyak-banyak menggunakan mata memejam. Dia tahu seperti inilah yang akan terjadi jika pergi bersama Kyuhyun. Sayang saja dia tidak mengenal lelaki lain yang bisa diseretnya.

Lelaki lain yang dikenalnya hanya Siwon, dan keparatlah pria itu yang hingga kini masih mengikuti pertukaran mahasiswa musim dingin di Birmingham London!

“Kau sudah berjanji dengan ayahmu, Jangan pura-pura tolol.” ujar Kyuhyun ketika Songjin memandangnya dengan wajah malas. “Tapi aku tidak berjanji untuk tidak minum. Aku hanya berjanji tidak akan mabuk. Kalau aku hanya meminumnya sedikit, aku tidak akan mabuk!” jelas Songjin panjang.

Kyuhyun tidak mau tahu. Pria itu selalu memberikan banyak pengecualian bagi Songjin. Bahkan hingga pengecualian untuk sikap tidak sopan dan kasarnya selama ini padanya. Itu bukan sebuah pengecualian sederhana!!

Dan kali ini, mencoba meminum minuman keras bukanlah satu dari banyak pengecualiannya kepada gadis ini. Tidak akan. Saat bersamanya, gadis ini tidak akan bisa menyentuh alhokol satu tetes pun!

“Tidak.” Geleng Kyuhyun kemudian. Dia mengembalikan gelas kecil seukuran kepalan tangan itu lagi kepada pelayan meletakkannya diatas nampan dan mempersilakan dengan paksa pelayan tersebut untuk pergi secepatnya. Dengan kecepatan ultrasonic kalau perlu.

“Aku sudah berjanji dengan ayahmu untuk—“

“tapi satu gelas saja tidak akan membuatmu mabuk!!” gerutu Songjin kecewa dan sebal— semuanya berkumpul menjadi satu. “Apa kau pernah meminum alcohol sebelumnya, Songjin?” Kyuhyun merundukan kepalanya, dan semakin merundukannya ketika music semakin menjadi, lantas suara Songjin ikut tertelan tak terdengar.

“Tidak.” Songjin menggeleng pelan. Tawa sinis Kyuhyun lalu muncul setelahnya bersama dengan senyum miring keparat “kalau begitu jangan.” katanya santai, namun tegas. “kau tidak akan tahu apa yang bisa terjadi dengan satu teguk alcohol.”

“—dan bagaimana aku bisa tahu? aku bahkan belum pernah mencobanya sama sekali!”

Kyuhyun tak peduli. Pria itu tetap menggelengkan kepala jika itu sudah berhubungan dengan alcohol, pada Park Songjin. Dia hanya menjawab kekesalan Songjin yang menggunung itu dengan tawa, lalu menepuk-tepuk kepala gadis tersebut pelan. “Nah, lihat! disana ada cupcakes!” katanya riang. “lebih baik kita kesana saja!”

“Yang benar saja! cupcakes?” Songjin berteriak kencang bukan main. “cupcakes ditengah pesta??!!” Tetapi Kyuhyun sudah berjalan lebih dulu. Dan tubuhnya ikut bergerak mau tak mau, karena gandengan kuat pria itu menerobos kerumun orang.

Detik itu, adalah kali pertama Songjin menyadari bahwa membawa Kyuhyun pada sebuah pesta— hanya untuk membuat gadis-gadis penggossip yang senang menggosip mengenai dirinya, dibelakangnya, adalah sebuah kesalahan besar.

Datang bersama Kyuhyun, rasanya sama dengan datang bersama ayahnya. Jadi mengapa tadi Songjin tidak meminta ayahnya saja untuk menemani?

** **

Pukul 01:45 dini hari. Pesta semakin menggila dan Songjin masih menggerutu karena cupcakes. Mereka— dirinya dan Kyuhyun— bahkan belum berpindah posisi dari gunung cupcakes ini sejak awal mereka tiba, entah dipukul berapa.

“Aku ingin minum!!”

“Apa?”

Songjin mendengus mendekatkan bibir pada telinga Kyuhyun. Kakinya dengan sepatu heels setinggi 17 centi itu bahkan masih mengharuskan dirinya untuk berjinjit sedikit lagi, suapaya dapat menggapai telinga si tukang atur ini! “aku ingin minum.” ulang Songjin lebih lembut ketika berbicara ditelinga Kyuhyun.

Pria itu lalu menegapkan tubuh. Memandang sekeliling— memerhatikan kanan dan kiri. Kyuhyun harus menyadari bahwa si pemilik pesta sepertinya tidak menyediakan minuman tak beralkohol.

Songjin telah menunjuk-tunjuk seorang pelayan tak jauh dihadapan mereka, tetapi Kyuhyun segera menggeleng. Pria itu menyadari jenis pesta kali ini adalah, house party, yang artinya semua tamu berhak dan telah diberi izin untuk memasuki seluruh bagian dari rumah ini.

Maka Kyuhyun segera membawa garis miring seret— Songjin menuju tempat lain. Entah disebelah mana tepatnya, tapi rumah ini pasti memiliki dapur. Pasti memiliki lemari pendingin dan pasti memiliki air mineral!

Jenis minuman seperti itulah yang pantas bagi Songjin. Air mineral, jus, atau milk shake kalau perlu. Bagi Kyuhyun, Songjin tak pernah terlihat pantas meminum alhokol. Akan sangat canggung baginya melihat Park Songjin duduk ditengah pesta menyimpan scotch ditangan. Entahlah, anggapan itu akan bertahan sampai kapan.

** **

“Apa kita akan pergi ke tempat lain?”

“Apa kau sudah ingin pulang?”

“Maksudku bukan begitu!” Sungut Songjin. Gadis itu bergerak dikursi tingginya, meletakkan gelas berisi jus jeruk yang mereka temukan dari lemari pendingin. Oh, bukan mereka. Sebenarnya itu adalah hasil temuan Kyuhyun.

Dan itu benar-benar menyebalkan. Bahwa mengetahui dirinya hanya meminum jus jeruk ditengah pesta? Syukurlah dapur ini tidak berisi banyak orang. Dan sedikit orang-orang itu, tak ada yang berjenis kelamin wanita. Kalau ada, maka tamatlah riwayatnya.

Gossip betapa payah dirinya, akan menyebar seantero kampus. Bayangkan saja sendiri hidup dalam image buruk seperti itu! “Sejak tadi kita tidak kemana-mana. Hanya berdiri didepan meja cupcakes dan tempat ini. Demi Tuhan, Cho Kyuhyun kita sedang ditengah pesta! apa yang kita lakukan adalah hal wajar didalam pesta??”

Kyuhyun tertawa— membubuhi kesinisan didalamnya, “kau sudah pernah menghadiri pesta sebelumnya, Songjin?”

Dan begitulah wajah kikuk Songjin perlahan mulai terlihat. Pertanyaan Kyuhyun benar-benar menjadi sebuah pukulan kasar baginya. “T—tidak. Tidak juga.” Katanya malu. Namun rasa malu itu tidak seberapa lama bertahan. Gadis itu langsung memekik lagi, “tapi karena itulah! Bukankah seharusnya, pesta menyimpan banyak hal? ada banyak hal yang bisa dilakukan didalam pesta ‘kan? bukan hanya makan dan menerobos dapur untuk mencari… jus?”

Melihat gelas jusnya, Songjin menjadi semakin sengit. Dia tampak tidak senang ketika harus mengucapkan kebenaran bahwa satu-satunya carian yang masuk kedalam tubuhnya ditengah pesta ini adalah jus jeruk.

Benar. Jus jeruk. Dimana bagian keren dari segelas jus jeruk memangnya????

“Kau bisa berkumpul dengan teman-temanmu dan berbicara panjang lebar sebenarnya.” Jelas Kyuhyun mengawali, “tapi kulihat kau tidak memiliki satupun teman disini, karena itu kau tidak berbicara dengan siapapun disini, kecuali aku.” Senyuman pria itu tampak begitu keparat menggantung diwajah.

“Tolong jangan buat aku bertanya bagaimana kau mendapatkan undangan ini, Songjin—“ tambah Kyuhyun sarkas.

Pria itu menenggak sampai habis wine pada gelas tingginya— dan tentu saja itu membuat Songjin merasa semakin kesal, “kau bahkan meminum anggur!!” pekik gadis itu penuh desakan rasa jengkel serta tidak terima.

Dia baru saja mendapatkan perlakuan tidak adil? begitukah?? “aku boleh mencoba?” pintanya manis, “bagaimana rasanya??” dan semakin manis senyuman diwajahnya terpasang.

Sayang, senyuman manis itu tak bertahan lama. Songjin segera menekuk wajahnya lagi ketika Kyuhyun menjawab dengan gelengan ditambah kekehan geli pria itu seenaknya.

Tangan Kyuhyun hampir seluruhnya diangkat tinggi ketika sadar bahwa tangan Songjin sudah mengulur untuk menggapai gelas tinggi pria tersebut. “Tidak boleh.” katanya melarang tegas, tetapi lalu mencebikkan bibir bawah seolah ingin mengejek Songjin terang-terangan.

Dia menekan kepala Songjin dengan telapak tangannya hingga gadis itu kembali duduk ditempat. Dia melakukannya sampai Songjin berhenti mencoba untuk mengambil gelasnya.

Songjin langsung mendengus bagai banteng. Kedua tangan gadis itu langsung terlipat. Songjin buru-buru membuang wajah dari pahatan rupawan ketampanan seorang Cho Kyuhyun.

Melihatnya, Kyuhyun hanya tertawa saja. Dia menyukai reaksi gadis ini ketika sedang teramat kesal. Entah mengapa, itu terasa seperti hiburan baginya. Hiburan murah dan sederhana lebih tepatnya.

Gelas kosong itu kemudian Kyuhyun letakkan pada meja bar. Dia masih menyisakan tawa berupa senyuman lebar ketika mengajak Songjin bangkit dari duduk, “ayo” katanya meraih jari-jari Songjin lagi, lalu menyatukan dengan miliknya— menggenggam erat-erat, layaknya seorang ayah bersama putri kecilnya ditengah taman bermain.

“Kemana?” ketus, Songjin menjawab. Masih menolak memandang Kyuhyun. Baginya, vas China setinggi lemari pendingin itu tampak lebih menarik— mungkin.

Wajahnya baru bergerak ketika mendengar Kyuhyun bertaka “dansa.”

Cho Kyuhyun pasti sudah gila.

** **

Dansa. Berdansa. Adalah hal, paling mengerikan yang Park Songjin pernah bayangkan, terjadi pada hidupnya, ketika seluruh orang banyak berkumpul.

Masalahnya dia tidak bisa menari. Tidak bisa dalam segala jenis. Tidak cha-cha, tidak freestyle, tidak balet, apalagi waltz. Jadi ide Kyuhyun kali ini benar-benar payah. Pria itu tidak mungkin tidak tahu bahwa dirinya tidak bisa berdansa!

“Tidak mau!” maka bukan salah Songjin jika gadis itu lantas menolak. Songjin menjatuhkan diri disebuah kursi pada balkon halaman belakang. Lain halnya dengan halaman depan sampai isi rumah, halaman belakang kediaman Yura dipenuhi oleh music lembut.

Tetapi sepertinya Yura tidak mempersiapkan daerah ini dengan benar— atau gadis itu memang sebenarnya tidak merencanakan akan membuat daerah santai pada hingar bingar pestanya.

Musik melantun samar terdengar dari beberapa pengeras suara dilangit-langit rumahnya. Sepertinya, music itu diputar menggunakan sebuah alat pemutar. Sepertinya music ini adalah rekaman— bukan music langsung seperti hentak-hentakkan music lain didalam rumah, disana.

Yura rela mengeluarkan uang lebih untuk mengundang band ternama, entah siapa— Kyuhyun dan Songjin bahkan belum mencapai ruang tengah dimana pesta utama dimulai— tetapi Yura tidak berniat memberikan lahan bagi mungkin saja ada beberapa tamunya yang pingsan karena terlalu banyak mengonsumsi music keras. Atau minuman keras.

Tapi begitulah tipikal pesta anak muda. Kyuhyun tidak terkejut. Lain cerita dengan Songjin. Sampai detik ini, Kyuhyun bersumpah masih melihat begitu banyak rasa ingin tau gadis itu pada sebuah pesta rumahan.

Sebenarnya, ada rasa iba Kyuhyun. Pria itu mungkin mengerti seberapa besar Songjin memiliki rasa ingin tahu. Tetapi Kyuhyun juga tahu sebesar itu pula dirinya menyimpan rasa percaya bahwa Songjin tidak memerlukan pesta semacam ini.

Kalaupun ada pesta yang pantas bagi mereka, itu adalah pesta tanpa music menghentak, tanpa orang pingsan disetiap sudut ruangan, tanpa bau alcohol menyengat dan tanpa kebisingan.

Jauh-jauh-sangat jauh dilubuk hati terdalam, Songjin pasti akan membenarkan pendapatnya ini, bahwa Songjin tidak akan menyukai pesta seperti ini. Songjin hanya penasaran karena dia tak pernah datang.

“Ayolah~ kau sendiri tadi yang bertanya, apa yang biasa dilakukan didalam pesta? iyakan? sekarang akan kutunjukkan!”

Songjin segera membuka kedua mata lebar-lebar memandang Kyuhyun berkata “tapi tidak dengan dansa! kau ingin mempermalukanku atau apa??” Dia tidak mau menggeser sedikitpun bokongnya dari kursi.

“Semua akan baik-baik saja.” janji Kyuhyun. Dia sama sekali tidak berniat ikut duduk, biarpun Songjin sudah meletakkan bokong dikursi semi sofa— atau apalah ini namanya, tetapi tampak begitu empuk dalam sekali pandang saja.

Songjin membuang napas kencang, menoleh pada arah lain. Dimana sajalah asal tidak ada Kyuhyun. Sepertinya dia harus mencari cara supaya dapat terlepas dari kekungan pria keparat ini. Dia tidak yakin akan mendapatkan undangan pesta sejenis ini lagi.

Ini bisa jadi adalah pesta pertama dan terakhirnya. Maka dari itu, Kyuhyun tidak bisa merusak kesempatan langka ini. Bukankah begitu??

Satu persatu mulai muncul ide-ide brilian, walau juga tolol— mendikte Songjin supaya dapat melesat pergi dari jangkauan Kyuhyun. Sesekali matanya melirik pada Kyuhyun, mengamati pria tersebut.

Kyuhyun sepertinya sedang terlalu serius memerhatikan pepohonan dengan lampu kerlap-kerlip disepanjang dahannya. Ada lampion-lampion ditengah halaman yang menggantung diantara atap balkon dan pohon maple.

Secara keseluruhan, pemandangan halaman belakang kediaman Yura terlihat lebih cantik dan menarik daripada hingar bingar didalam— diruang utama tempat ini.

Perlahan, Songjin menggeser tubuhnya untuk condong ke kiri. Dan semakin ke kiri, kiri, terus ke kiri. Kuda-kuda sudah dibuatnya. Dia lalu bangkit berdiri untuk melesat, seperti apa yang direncanakannya. Dia akan langsung melesat masuk kedalam ruang utama dan membaur bersama orang lain disana.

Namun sayang saja ketika seluruh rencana tersebut dijalankan, tanpa pemberitahuan dan jelas-jelas melenceng dari rencana, terdapat sebuah kaki yang lantas membuatnya jatuh tersungkur ketika kuda-kudanya berubah menjadi sebuah unicorn. Terbang. Dan jatuh langsung ditempat. Dagu gadis itu lebih dulu mencium kerasnya lantai kayu.

Giginya mengigit bibir bawah begitu kuat. Jika tidak salah mendengar, atau mungkin itu hanya sebuah halusinasi, Songjin mendengar gemeretak ketika tubuhnya jatuh.

Usai itu, Songjin hanya bisa mendengar suara Kyuhyun memanggil namanya namun terdengar samar. Suara lebih kencang yang sanggup didengarnya adalah suara tangisnya sendiri.

Maka pukul 02:00 dini hari ditengah hiruk pikuk ramainya pesta, tak akan ada seorangpun sadar, seorang gadis tersungkur menangis tersedu karena jatuh tersandung. Dari mulutnya, mengeluarkan darah sangat banyak hingga Kyuhyun seorang diri panic setengah mati.

Detik itu, rasanya separuh nyawa dalam dirinya melayang begitu saja.

** **

“Minggir!!!”

“Tapi mulutmu berdarah!”

“Aku tidak ingin bersamamu lagi!! Minggirrr!”

Pertengkaran terjadi begitu hebat. Songjin berjalan lurus menerobos kerumunan sambil memegangi dagu. Gadis itu tak lagi peduli pada pesta keparat ini. Dia sendiri yang salah telah meminta Kyuhyun menemani.

Jadi seperti inilah hasilnya. Bibirnya berdenyut, dagunya pun bocor. Dari dagu itu mengeluarkan banyak sekali darah. Dagu itulah yang tadi kali pertama mencium kerasnya lantai kayu menopang wajah lalu tubuh lainnya kemudian menyusul ambruk.

Bibir bawah Songjin juga mengeluarkan darah karena saat terjatuh Songjin menggigitnya. Dia mencancapkan giginya sendiri dibibir bawah. Menancap. Tetapi jatuhnya gadis itu bukan atas inisiatifnya sendiri. Hanya orang gila yang rela melakukan itu!

“Kau sengaja melakukannya!!”

“kau akan kabur, ‘kan?

Kyuhyun dan Songjin terus berjalan melintasi kerumunan. Keduanya tak menyadari bahwa pertengkaran mereka membuat seluruh mata tertuju mengikuti kemana mereka pergi. Apalagi, darah diwajah Songjin, membuat spekulasi serta cerita kronologis bagaimana luka tersebut muncul menjadi tak terkontol.

Bisik-bisik terdengar disana sini. Beberapa mengatakan bahwa “Kyuhyun dan Songjin bertengkar dan berpisah! Kyuhyun tertangkap basah bermesraan dengan gadis lain sementara Songjin cemburu.” Orang-orang itu adalah kumpulan orang yang sudah separuh mabuk. Hanya tinggal menunggu ambruknya saja.

Mereka terlalu banyak mengonsumsi alcohol. Nafas mereka pun pasti tidak akan memiliki aroma sedap. Entah berapa scotch whisky yang telah mereka tenggak.

Beberapa beranggapan “Songjin sudah bosan bersama Kyuhyun. Mereka telah bersama begitu lama, kalian tahu itu ‘kan?” salah seorang gadis yang masih sadar tidak terpengaruh alcohol menjelaskan pada beberapa temannya yang bertanya— ketika melihat Kyuhyun dan Songjin menerobos kerumunan— lalu Songjin tampak menangis tersedu berusaha menjauh dari Kyuhyun.

Senyuman diwajah gadis itu tampak begitu lebar. Angannya telah jauh terbang. Dia yakin setelah ini dia bisa mendekati Cho Kyuhyun dengan mudah karena Songjin tak lagi ada disekitar pria itu. Dengar sendiri ‘kan tadi apa yang Songjin katakan? “Aku tidak ingin bersamamu lagi!!”

Percayalah, itu adalah sebuah angin surga untuk para gadis penggemar Cho Kyuhyun yang selama ini hanya dapat mengigit jari melihat pria tinggi itu selalu berada dimana Park Songjin berada— dan seperti itu juga sebaliknya.

“Songjin!!” Kerumunan telah berhasil dilewati. Kini Kyuhyun terseok mengejar Songjin— gadis itu berlari sangat cepat menuju luar kompleks perumahan yang sepi.

Tentu sepi. Keramaian hanya berpusat dibangunan rumah paling kiri disana. Seharusnya Yura bersyukur, halaman rumah miliknya dengan rumah lainnya terpaut begitu luas. Jika saja berhimpitan, sudah ada banyak mobil polisi yang terparkir didepan pagar dan menyeret si empunya rumah menuju sel atas tuduhan pencemaran lingkungan.

Tunggu— keributan dentuman itu.. bisa disebut polusi udara kan??

“Yaah Park Songjin! cepat berhenti! kau harus membersihkan luka-luka-mu!” Cho Kyuhyun mulai cemas berlari sambil merogoh kantung celana mengambil sapu tangannya. Kecemasannya terpaut atas banyak hal.

Pertama, Songjin berjalan cepat dengan tangan menampung darah.

Kedua, Pendarahan itu harus segera dihentikan. SEGERA!

Ketiga, Luka gadis itu harus dibersihkan!

Dan Keempat, ini lebih kepada Kyuhyun. Pria itu sungguh dilanda kepanikan luar biasa.

“SONGJIN!”

“AKU INGIN PULANG!!”

“AKU JUGA!” Kyuhyun menarik napas setelah berteriak sama kencangnya dengan Songjin berteriak. Dalam keadaan hening dipagi buta, jika ada orang yang sadar disekitar mereka, pastilah akan ada sesuatu yang melayang menghantam kepala masing-masing mereka.

Untuk apa berteriak dipagi buta? Pasti begitu yang orang-orang pikirkan.

“aku juga” Maka kemudian Kyuhyun menurunkan suaranya. “aku juga ingin pulang. Ayo, aku antar. Tapi bersihkan dulu lukamu…” katanya terengah-engah. Penuh rasa bersalah dan setumpuk kekhawatiran. Entah kapan akan hilang.

Dibawah, tangannya bergetar meremas sapu tangan. “Songjin.” Langkah Kyuhyun mulai memelan. “aku minta maaf. Kau benar, tadi aku memang sengaja tapi kau—“

Sebuah lirikan tajam langsung menampar wajah Kyuhyun berulang kali. Ditengah temaramnya sinar, Songjin masih terlihat semenyeramkan itu, jika sedang marah besar.

Dan ini karena ulahnya. Dan kali ini, ulahnya memiliki reaksi fatal.

** **

Aroma obat aniseptik tercium menyengat menghantam penciuman baik Kyuhyun maupun Songjin. Songjin akhirnya setuju untuk dibawa ke rumah sakit terdekat oleh Kyuhyun, menggunakan banyak sekali intro perdebatan sebelumnya.

Menggunakan banyak sekali permohonan maaf dan ribuan janji. Menggunakan ratusan bujukan, serta banyak sekali makian gadis itu untuknya.

Meski dalam perjalanan, tak sedikitpun Songjin ingin berbicara kepada Kyuhyun. Dan Kyuhyun harus menahan kekecewaan serta kemarahan pada dirinya sendiri atas ulahnya. Dia begitu bodoh. Dia tahu itu.

“Ahh—“ Itu, adalah desahan sakit ketika alcohol menyentuh luka didagu Songjin. Seorang perawat sejak tadi menyapukan kapas yang telah dibasahi oleh alcohol untuk membersihkan luka Songjin.

Dan sebanyak itu perawat tersebut melakukannya, sebanyak itu pula Kyuhyun harus menahan ringisannya melihat Songjin mengernyit— nyaris menangis, memberikan reaksi atas pedih luka miliknya.

“Bagaimana kau bisa seperti ini??” tanya perawat itu tidak mengerti. Dipagi buta, dagu bocor dan bibir sobek? yang benar saja? apa anak muda jaman sekarang sebegitu mengerikannya?

Pertanyaan tadi membuat Songjin langsung membuang napas panjang dan kasar. Dia melirik Kyuhyun cepat ketika pria itu sedang menggaruki kepalanya— bukan— mengacak-acak rambutnya sebenarnya. Mengacak hingga kacau balau.

Mungkin Kyuhyun sedang memikirkan senapan yang awal tadi Appa katakan. Begitu pikir Songjin begitu piciknya. Pikiran mungkin Kyuhyun sedang terkena serangan panic lebih parah darinya, sedang merasa terlau khawatir, dan jika saja pria itu bukan seorang pria— dia sudah ingin menangis ditempat, tak pernah melintas sedikitpun dari dalam benak Songjin.

Kyuhyun memandangi sekitarnya. Apa saja kecuali Songjin yang sedang meringis kesakitan. Perutnya mendadak mulas. Dia harus menarik napas menggunakan mulut karena hidungnya tak bisa melakukannya dengan sinkronasi yang tepat lagi usai jantungnya memompa lebih cepat daripada biasanya.

“Kau bertengkar dengan pacarmu?” lagi, pertanyaan perawat itu membuat Songjin mendengus. Bedanya kini tak hanya Songjin seorang yang mendengus. Kyuhyun pun ikut mendengus.

Perawat tadi menoleh kebelakang dimana Kyuhyun berada. Lalu kembali pada Songjin— kemudian tersenyum sinis ketika tidak mendapatkan jawaban apapun. Hanya wajah frustasi dari dua muda-mudi ini saja, membuatnya ingin tertawa geli.

Kyuhyun sempat menoleh pada Songjin sesaat untuk melihat. Namun ketika matanya berseborok dengan Songjin, pria itu langsung membuangnya jauh-jauh lagi. Dan kembali mengacak rambutnya. Menarik napas dengan mulut— langsung membuangnya cepat-cepat. Seperti itu terjadi terus menerus hingga perawat berbusana serba biru disana mengatakan akan memberikan Songjin obat penahan rasa sakit dan meminta mereka menunggu beberapa saat.

Dalam diam, keduanya tak tahu harus berkata apa untuk menyudahi suasana canggung ini. Songjin hanya memerhatikan Kyuhyun dari tempatnya, duduk diatas ranjang pasien UGD.

Dia yakin bahwa Kyuhyun sedang terlampau panic. Dia meyakini itu seperti meyakini bahwa kepiting adalah makanan paling lezat sedunia. Dia meyakini kepanikan Kyuhyun, seperti meyakini bahwa membeli tas original adalah sebuah keharusan.

Tetapi Songjin juga meyakini bahwa Kyuhyun pasti sedang panic untuk mengatur kalimat tepat yang akan pria itu gunakan untuk berbicara kepada ayahnya nanti.

Begitulah kehidupan anak muda. Membuat ribuan alasan atas sikap sembrono mereka. Kadang, alasan itu terdengar tidak masuk akal. Tetapi anak muda masih terlalu tolol untuk menyadari bahwa alasan mereka konyol.

Itulah mengapa mereka disebut anak muda.

Dia pasti tidak mungkin akan menjelaskan bahwa “aku sengaja menjeggal Songjin tadi. Itu karena tadi dia ingin kabur dari pengawasanku.” Itu bukan alasan rasional walau itulah yang sebenarnya terjadi.

Kemudian Songjin mendengus, menyadari betapa dirinya begitu berharap Kyuhyun bertingkah layaknya para pasangan-pasangan diluar sana ketika kekasih mereka sedang berada diujung tanduk. Ketika kekasih mereka sedang terkapar sakit.

Tetapi Songjin ingat, dirinya dan Kyuhyun hanya berteman, dan dirinya tidak sedang terkapar. Lukanya memang sakit, tapi tidak cukup sakit hingga membuatnya harus terkapar lemas.

Dan selama ini seperti itulah hubungan mereka— tampaknya tidak akan terdapat kemajuan apa-apa, karena Kyuhyun tidak terlihat tertarik pada gadis sepertinya. Kenyataan itu sungguh menampar wajahnya bagai godam.

Dia ingat betapa Kyuhyun kerap berkata dirinya sama sekali tidak memiliki satupun kriteria dari gadis-gadis kesukaannya. Kakinya tidak jenjang. Dia tidak cantik dan bahkan tidak memiliki otak cemerlang.

Sakit.

Lebih sakit daripada rasa pedih ketika awal dagunya menghantam lantai kayu. lebih pedih daripada rasa nyeri ketika alcohol digunakan perawat tadi untuk mensterilkan lukanya. Dan lebih pedih dari 1 jahitan dibibir bawahnya.

“Kau akan terus berdiri disana?” Songjin mengangkat kepala— melihat Kyuhyun masih diam memandangi lampu meja dihadapannya. Pria itu hanya bersandar pada tembok dibelakangnya. Kyuhyun terlihat begitu payah.

Dasi yang tadi mengikat kencang dileher— sudah kendur, Songjin tidak ingat sejak kapan. Satu kancing paling atas kemejanya telah tanggal. “Sini.” Panggil Songjin, menepuk lahan kosong disampingnya. “duduk disini.”

Awalnya Kyuhyun menolak. Pria itu tampak enggan bukan hanya untuk mendekat. Bahkan menoleh. Hanya senyuman tipis ala kadarnya yang diberikan sebagai jawaban, seolah itu cukup.

Tetapi Songjin terus meminta. Dan Kyuhyun masih dilingkupi rasa bersalah. Disaat seperti ini, Kyuhyun tidak akan pernah bisa menolak apapun permintaan gadis bar bar itu. Dia sedang terlampau kesal pada dirinya sendiri.

“sakit?” Tanyanya usai mendekat. Usai jarak diantara mereka hanya sebanyak satu jengkal saja. Kyuhyun mengusap sebelah kanan wajah Songjin begitu lembut. Seperti wajah Songjin terbuat dari busa— sewaktu-waktu bisa menghilang jika terlalu kencang disentuh.

Salah satu alis Songjin naik menanggapi pertanyaan bodoh Kyuhyun. Jangan heran, Kyuhyun sendiri pun merasa bodoh atas pertanyaannya. Dia hanya tidak tahu harus mengeluarkan perkataan seperti apa untuk memulai percakapan kali ini.

“Perawat tadi sedang mengambil obat penahan rasa sakit ‘kan?”

begitu jawaban Songjin yang mungkin gadis itu pikir terdengar jenaka. Namun bagi Kyuhyun pertanyaan itu membuatnya semakin yakin bahwa saat ini rasa dari seluruh luka-luka itu bukan main hebatnya hingga memerlukan obat penahan rasa sakit. Seharusnya pertanyaannya bukan apakah itu sakit? tetapi apa gadis itu baik-baik saja?

Oh, sebentar! itu juga bukan pertanyaan yang tepat!

Mungkin seharusnya dia bertanya saja apakah gadis itu masih bersedia berada disekitarnya setelah seluruh sikap keterlauannya selama ini??

Tetapi Songjin malah terkekeh. Suaranya pelan karena bibir bahwahnya masih terasa kebas dan berat setelah jahitan cepat rumah sakit. Kyuhyun menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.

Songjin bisa merasakan hangat hembusan napas Kyuhyun pada wajahnya ketika itu. Matanya terpejam, merasakan halus kulit tangan Kyuhyun ketika menyentuh kulit wajahnya. “Maaf ya. Aku memang sengaja tadi.” Desah Kyuhyun lirih.

“kau akan kabur. Aku tahu kau akan pergi. Ditempat seperti itu, akan sangat sulit menemukan seseorang. Maksudku bukan akan menjeggalmu—“

Mata Songjin terbuka. Salah satu alisnya langsung naik begitu tinggi, “atau begitu memang niat awalnya” dan Kyuhyun segera meralat ucapannya. Tetapi tanpa tawa kecil yang biasa Kyuhyun tambahkan diakhir.

Wajahnya masih terlihat tegang. Sama tegangnya dengan papan berjalan diatas meja kaca disamping mereka disana milik perawat tadi. “tapi sumpah aku tidak bermaksud membuat dagumu bocor. Apalagi bibirmu sobek. Bukan seperti ini rencanaku. aku hanya ingin mengerjaimu tanpa ingin menyakiti.”

Alis Songjin kembali naik, “atau begitu juga niatnya. Tapi tidak sampai sobek dan bocor.” Kyuhyun meralat lagi. Dan kembali, tanpa tawa.

“Tidak apa-apa.” Songjin tersenyum. Dia membuang napas cepat. Menepuk lahan disampingnya sambil menarik ujung lengan jas Kyuhyun untuk duduk disampingnya. Dia juga melepas kaitan dasi pada leher Kyuhyun dan menyimpan dasi tersebut pada clutch nya. Sejak awal kedatangan mereka Kyuhyun hanya berputar-putar kesana kemari.

Padahal, bukan satu, dua jam perawat membersihkan luka. Jadi mungkin Kyuhyun sudah memiliki otot pada betisnya. “Aku juga salah.” tindas Songjin kemudian. Dia mengingat niatnya. Lalu kebodohan lainnya— setelah menyadari perkataan Kyuhyun benar adanya.

Akan sangat sulit mencari seseorang didalam lautan manusia seperti tadi. Berjalan saja sulit. Jadi bayangkan mencari orang dirumah sebesar itu dengan isi dua kali lipat dari sebuah pertandingan sepak bola di Universitas mereka. Sebenarnya apa yang dipikirkannya tadi hingga ingin kabur sih??

“Kita sama-sama salah.” kata Songjin. “ini posisi win-win

“Tapi sakitnya tidak win-win kan?”

“Memangnya aku bisa membagi rasa sakitnya? Sejak kapan ada transfer rasa sakit? Kalau ada, sudah sejak tadi kulimpahkan rasa sakit di daguku!!”

Kyuhyun tersenyum kecut. Bersamaan dengan itu, perawat tadi kembali dengan sebuah gelas berisi dua buah pil serta sebuah botol air mineral. “kau bisa meminum ini sendiri ‘kan? Masih banyak yang harus kutangani.” ucapnya lalu menepuk bahu Kyuhyun, “bantu pacarmu ya!”

Songjin segera menyambar botol air mineral ditangan Kyuhyun sebal— juga menggumam, “kenapa setiap orang menyangka kau pacarku, sih?” decaknya naik pitam.

** **

Pukul 05:00. Matahari belum sepenuhnya muncul. Langit baru berwarna jingga. Ini mungkin kali pertama, atau kesempatan langka Songjin menonton matahari terbit.

Gadis itu selalu masih terkapar diranjang ketika matahari muncul. Dia lebih mencintai ranjang daripada udara segar dipagi hari. Songjin akan terbangun jika itu sudah waktunya gadis itu berangkat ke kampus, atau gadis itu perlu makan, dan pergi ke toilet.

Lepas dari alasan-alasan itu, mungkin ditambah dengan berbelanja beberapa tas, pakaian dan sepatu. Setelah itu? Jika bukan karena Siwon atau Kyuhyun yang menyeret— memaksanya turun dari ranjang, Park Songjin bisa saja menghabiskan hidupnya diatas ranjang hingga tua.

“Aku lapar.” begitu bisik Songjin lemas. Kepalanya terkulai diatas bahu Kyuhyun dan kakinya bergoyang-goyang dari kap mobil Kyuhyun karena masih menggantung tidak sampai menyentuh tanah.

Mata Songjin setengah terpejam. Dia sedang berada pada masa dilemma dimana ingin melihat matahari terbit, tetapi juga mengantuk, dan merasa lapar. Kyuhyun menoleh— melihat Songjin, memang sudah tampak tidak berdaya.

Sebaiknya gadis ini segera mencapai ranjang, atau sesuatu yang empuk agar dapat memejamkan mata segera. Seperti efek obat penghilang rasa sakit tadi baru bekerja. “Makan atau tidur?” Tanya Kyuhyun kembali memastikan.

Karena Songjin tampak tidak pasti bahkan dengan keputusannya sendiri. Kyuhyun yakin, Songjin tidak akan sanggup memilih antara tidur dan makan ketika dirinya dihadapkan pada rasa kantuk dan lapar sekaligus.

Tetapi Songjin kemudian mengangkat kepalanya. Sedikit terhuyung untuk dapat duduk tegap. “makan.” begitu jawabnya sedikit terdengar yakin. Sedikit. Karena matanya masih terlihat sayu. Tak lama Songjin merebahkan kepalanya lagi ditempat yang sama.

Melihatnya, Kyuhyun tidak bisa untuk tidak tertawa. Perasaan kesal terhadap diri sendiri dan iba masih menumpuk sebenarnya. Tetapi melihat keadaan Songjin sepertinya telah sedikit lebih baik, membuat dirinya ikut merasa sedikit lebih baik.

Sedikit.

“belum ada kedai apapun yang buka, dijam seperti ini, Park Songjin.” kata Kyuhyun masih menolehkan kepala— membuatnya lalu hanya dapat melihat separuh wajah Songjin.

Perban didagu gadis itu selalu saja menjadi focus awalnya. Lalu bibir. Lalu perasaan bersalah kembali menggunung. “Memangnya swalayan 24 jam tidak bisa?”

“Biasanya makanan siap saji mereka juga sudah habis saat-saat seperti ini.”

Fast food?”

Alis Kyuhyun terangkat, “yakin?” Dia ingin sekali mencibir. Park Songjin adalah gadis pecinta makanan organic. Memakan mie instan saja jarang. Kyuhyun nyaris tidak pernah melihat Songjin mengunyah fast food. Sekarang gadis itu menawarkan jenis makanan itu. Apa dia sedang begitu putus asanya??

“Tapi aku laparrr” suara Songjin mulai terdengar bagai rengekan. Jika Kyuhyun sedang tidak diliputi rasa bersalah dan iba, mungkin pria itu sudah mendepak gadis ini jauh-jauh dan memukul wajah rupawan itu dengan sepatu.

Kyuhyun memang jatuh cinta kepada Songjin. Tetapi tidak pada aegyo gadis itu. Kyuhyun masih beranggapan aegyo Park Songjin benar-benar mematikan. Mematikan bukan dalam kiasan. Benar-benar membuat mati, maksudnya.

“lalu aku harus apa? Aku bahkan tidak bisa memasak nasi!” Keluh Kyuhyun nyaris terdengar seperti gerutuan. Begitu pula Songjin saat itu. Gerutuannya malah lebih keras terdengar, “Kau sedang bercanda? Kau pikir aku tidak?!”

Keduanya sama-sama terdiam. Sama-sama berpikir langkah selanjutnya, namun tidak bisa menemukan ide apapun. Jika itu tentang memasak, keduanya terlalu kompak dalam ketidak sanggupan melakukan apapun!

“Dirumahmu—“

“Jangan!” Songjin terlalu cepat menyela Kyuhyun, “ada eomma. Akan panjang masalahnya kalau eomma melihat.” Jelas Songjin mendadak panic. Tetapi Kyuhyun hanya menghela napas, “tidak apa-apa. Aku yang menjelaskannya nanti”

“Tidak!” Tolak Songjin langsung. Gadis itu mengamit ujung lengan kemeja Kyuhyun, menggerakkan kesana kemari asal, “aku tidak ingin pulang kerumah. Bosan.” ucapnya begitu pelan.

“Tapi pada akhirnya, kau tetap harus pulang. Apa bedanya sekarang atau nanti?” Kyuhyun mendesah. Ikut mengamit jari-jari Songjin— memerhatikan nail art buah-buahan pada kuku-kuku Songjin.

Coba pikir, apakah gadis dengan nail art semangka ditelunjuknya pantas menggenggam satu scotch whisky?

“Tapi aku lapar.”

“Kita bisa membuat sesuatu dirumahmu.”

“Kita?” Songjin segera duduk tegap menonton wajah Kyuhyun. Kalau-kalau suara tadi bukan suara pria ini. Tetapi dilembah ini tidak ada siapapun kecuali mereka. “KITA?” ulangnya retoris.

Kyuhyun tertawa mendorong kepala Songjin pelan. Bahunya bergerak halus ketika mulutnya berkata “setidaknya aku bisa mencoba memasak nasi.”

** **

Baiklah. Ada sedikit perubahan rencana. Kyuhyun tidak memasak nasi…. seorang diri. Dia meminta bantuan asisten rumah tangga keluarga Park, Han Jo Sung membuatkan nasi.

Hanya nasi saja. Membangunkan wanita itu ditengah tidur lelapnya saja sudah membuat Kyuhyun merasa bersalah habis-habisan. Dia tidak akan sanggup untuk meminta Han Jo Sung membuat sebuah menu— hanya untuk mengaburkan hasrat ingin memakan manusia dirinya dan Songjin karena terlalu lapar.

Ketika nasi matang, Kyuhyun tidak memiliki ide lain selain memberikan nasi panas itu garam dan taburan rumput laut. Pria itu lalu menjadikan nasi-entah-apa-namanya itu menjadi kepalan.

Beberapa kepalan nasi kini telah terhidang diatas meja ruang santai. Seberapapun laparnya Songjin, gadis itu masih tidak bisa mempercayai Kyuhyun yang tiba-tiba bermurah hati membuat sebuah menu sarapan untuknya. Meski itu hanya nasi kepal.

Songjin menelan liur, “apa isinya?” Dia memandangi nasi kepal bertabur warna hijau disana seperti memandangi sebuah komet yang baru jatuh dari langit.

“Garam.”

“Garam??”

“Ya.”

Dia kemudian menoleh pada Kyuhyun, “hanya garam??” sahutnya tak percaya. Daya kreativitas pria ini benar-benar buruk. Kalau Kyuhyun masuk dalam departemen seni sepertinya, pria ini sudah duduk diperingat terbawah pasti.

Sepertinya Kyuhyun dapat membaca raut wajah Songjin karena pria itu segera mendengus mengatakan “jangan berharap banyak. Sudah bagus aku bisa membuatnya.” geram Kyuhyun. Pria itu yakin jika mereka bertukar posisi, makanan buatan Songjin pasti akan jauh lebih parah.

Gadis itu cukup ahli untuk membuat bahan makanan lezat menjadi terlihat seperti muntahan sapi. Seharusnya Songjin memberikan apresiasi tinggi bagi kecepatan daya pikir miliknya. Songjin tidak seharusnya memberikan sorot mata memicing seperti itu!!

“Kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Ini untukku saja. Kebetulan aku juga lapar.” Kyuhyun segera mengambil piring diatas meja. Dia mengambil satu buah nasi kepalnya, namun sebelum nasi itu masuk kedalam mulutnya, dia melihat Songjin mengambil sebuah untuk gadis itu sendiri.

Buru-buru Kyuhyun merebutnya lagi. Dia juga menutup mulut Songjin sangat hati-hati ketika gadis itu tampak ingin menjerit padanya. “jangan bangunkan orang-orang.” bisik Kyuhyun memperingati.

Pria itu lantas menghancurkan sebuah bola nasi kepal dan membuatnya menjadi bola-bola dalam ukuran lebih kecil. Sangat kecil sebenarnya. “Buka mulutmu.” perintahnya setelah bola-bola nasi kepal itu jadi.

“Heh?”

“Buka.”

Mendadak Songjin merasa kikuk. Dia tidak pernah secanggung ini berhadapan atau melakukan interaksi dengan Kyuhyun. “A— aku bisa makan sendiri” katanya menolak. Dia tidak ingin terlihat lebih tolol hingga semakin mengurangi kemungkinan Kyuhyun berpikir, mungkin dirinya adalah salah satu dari sedikit tipe gadis yang disukainya.

Dia tidak ingin terlihat semakin menyedihkan dihadapan Kyuhyun. Lagipula dia bukan baru kehilangan tangannya atau apa. Kedua tangannya masih ada dan mereka baik-baik saja.

“Aku bisa—“

“Sudahlah cepat. Ayo buka”

“T—ta”

Whooong!

Satu cubitan nasi kepal masuk menggunakan kecepatan ultrasonic kedalam mulut Songjin. Kyuhyun melakukannya dengan amat sangat berhati-hati. Dia tidak ingin menyentuh jatihan kecil yang ada dibibir bawah Songjin.

Dia bahkan mengajari gadis itu cara mengunyah supaya makanan dimulut Songjin tidak menyentuh lukanya. Mulut Kyuhyun ikut bergerak-gerak seolah pria itu sedang mengunyah. “lakukan perlahan-lahan.” dia memperingati.

Bukannya tersipu, Songjin malah baru merasa jengkel. Diperlakukan seperti itu seolah-olah dirinya tidak tahu apa-apa. Termasuk cara mengunyah! “aku bukan lansia di panti jompo.” gerutunya. “aku tahu bagaimana cara mengunyah makananku!”

“Bagus kalau begitu.” Senyum Kyuhyun kemudian. Pria itu mengangguk-anggukan kepala, “Anak pintar. Kalau begitu lakukan dengan benar kali ini. Perlahan-lahan.”

Maka sepanjang pagi itu, untuk pertama kalinya Songjin mendapatkan baby sitter pribadi. Orang itu mengajari Songjin cara mengunyah dengan baik dan benar.

** **

Jadi apalagi kali ini?

Setelah malam tadi dirinya harus menangisi nasibnya karena menyadari putrinya tidak lagi muda, kini Park Seul Gi harus menonton betapa putrinya tampak mesra bersama seorang lelaki.

Kyuhyun.

Hanya pria itu sajalah yang berputar disekitar putrinya. Dulu dia tidak perlu merasa khawatir. Tetapi kini semua itu menjadi lain cerita. Apa untuk sarapan saja, mereka harus saling menyuapi seperti itu??

Itu membuatnya ingat akan masa-masa awal pernikahannya. Apa Songjin sudah sebesar itu untuk bisa merasakan hal-hal semacam itu??

Park Seul Gi lantas menyadari sebuah perban yang menempel didagu putrinya. Tadi malam saat pergi, perban itu belum ada. Kalau saat ini ada disana, pasti terjadi sesuatu dengan Songjin.

Sebagian dari dirinya memang langsung merasa cemas. Panik berlebih menyebabkan pertanyaan bagi entah siapa disana. Apa yang terjadi dengan Songjin? Apa dia baik-baik saja??

Tetapi melihat apa yang sedang Songjin lakukan saat ini, itu membuatnya percaya bahwa Songjin baik-baik saja. Dia tidak tahu bagaimana bisa menyimpulkan secepat dan seyakin itu. Tetapi Songjin baik-baik saja.

Yang tidak baik-baik saja adalah keberadaan Kyuhyun— seperti lumut dibebatuan lembab. Dia selalu ada dimana Songjin berada. Kenapa?? “Aku ingin duduk!” katanya ketika sampai didepan sofa. Langsung menjatuhkan diri duduk diantara putrinya dan Kyuhyun.

Dia lalu menoleh ke kanan dan kiri. Dia menemukan wajah-wajah tidak suka dari keduanya. Anak-anak nakal itu benar-benar harus belajar tatakrama rupanya.

“kenapa?” Sungutnya “aku ingin duduk.” dia mengulang tegas. Dia menepuk-tepuk pangkuannya dengan remote televisi. Tadi dia menyambarnya karena memiliki niatan membuat memar dikepala masing-masing bocah ini.

Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa. Pria itu hanya tersenyum masam menggeser bokong lebih menepi pada sudut sofa— begitupun yang Songjin lakukan disaat bersamaan.

Lagi-lagi membuat Park Seul Gi merasa tersisihkan. “Kenapa kalian menjauhiku? Aku bukan kuman! Kenapa?” Suaranya mengisi keheningan damai didalam rumahnya sendiri. “Kenapa menjauh?!” Dan terdengar begitu menyebalkan. Sangat menyebalkan. Polusi suara.

Park Seul Gi tidak menampakan wajah bersahabat saat menoleh pada Kyuhyun lalu bertanya, “kenapa kau masih disini? bukankah seharusnya kau sudah pulang? Pukul berapa ini?” Dia menggenggam remote semakin kencang.

Hasrat untuk memukul kepala Kyuhyun semakin besar menyadari putrinya tampak lebih nyaman jika bersama dengan lelaki ini. Bukan dirinya. Itu adalah pukulan terbesar bagi seorang ayah sepertinya.

“A—aku…”

Kaki Songjin menghentak kencang. Gadis itu segera bangkit— melompati kaki sang ayah dan menarik lengan kemeja Kyuhyun, “ayo ke kamarku saja! disini mulai ramai!” sinisnya melirik Park Seul Gi ketus.

Kyuhyun, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mungkin melawan ayah gadis ini tetapi bersama dengan gadis ini adalah rencananya untuk hari ini. Toh hari ini dia tidak memiliki jadwal apapun.

dan toh, menghabiskan waktu bersama Songjin sudah menjadi kesehariannya.Sesungguhnya Kyuhyun tidak mengerti dimana letak kesalahan dari semua ini.

Yeah, mungkin kecuali ajakan Songjin ke kamarnya.

“KAMAR??” Suara Park Seul Gi kencang bukan main ketika terkejut. Mengejutkan Songjin, Kyuhyun, mungkin juga semut diatas meja yang sedang melintas. “PARK SONGJIN APA KAU MEMILIKI AKAL SEHAT MENGAJAK LELAKI KE KAMARMU?”

“ini hanya Kyuhyun—“

“Ini bukan hanya Kyuhyun.”

“— lalu?” Gadis itu tidak memahami kekalutan sang ayah. Tidak seperti Kyuhyun. Pria itu merasa tidak nyaman bukan main dan hanya bisa tersenyum kecut menonton. Dia benar-benar pasrah ditarik kesana kemari.

Dia sendiri tidak terkejut ketika Park Seul Gi melepas paksa kaitan tangannya dan Songjin. Mata lelaki 40-an itu nyalang terlihat. “tidak boleh seperti ini!!” protesnya.

“Astaga, ada apa dengan Appa sebenarnya? Menyebalkan sekali. Ini hanya Kyuhyun!!”

Itu bukan hanya Kyuhyun! Begitu Park Seul Gi selalu mengulang didalam hati. Tetapi putrinya pasti tidak akan paham. Jadi dia hanya berkata, “kalau kau ingin Kyuhyun masih disini, duduk disini. Jangan dikamar. Apa yang akan kalian lakukan dikamarmu, memangnya?!”

Membuat anak? menjadikan aku kakek? yang benar saja memangnya berapa usiamu??

Sungutan Park Seul Gi tak sampai hati lelaki itu utarakan. Dia tahu mulai detik ini, posisinya sebagai lelaki nomor satu bagi putrinya baru saja digeser. Diganti oleh si tengik ini.

** **

“Dia tidur?”

“Yeah.” Kyuhyun melirik lambat-lambat melihat Songjin dilengannya. Ada suara dengkuran halus gadis itu. Pasti Songjin benar-benar lelah. Pesta dan ulah tololnya pasti membuat gadis itu kelelahan. “dia tertidur.”

Lalu Kyuhyun memandang Park Seul Gi memberikan senyuman pasrah. Bukan rencananya membuat gadis itu jatuh tertidur dilengannya. Tadi mereka hanya sedang menonton televisi bersama.

Kyuhyun membenarkan posisi duduk Songjin. Dia merebahkan kepala gadis itu pada pangkuannya. Dia harus bergeser mendekat pada Park Seul Gi untuk memberikan lahan bagi kaki Songjin disana.

Kemudian Kyuhyun menyibak rambut diwajah Songjin. mengusap kening gadis itu, juga dagu keparat hasil ulahnya tadi. Napasnya keluar begitu berat ketika dirinya meraba perban disana. “aku akan pulang setelah ini, paman. Jangan khawatir.” ucapnya.

Namun alih-alih merasa senang lalu setuju, Park Seul Gi malah membuat Kyuhyun terkejut dengan larangannya berkata “jangan” padanya. “Sore nanti aku pergi. Mungkin Songjin membutuhkanmu disini. Kau memiliki jadwal hari ini, nak?”

“Tidak.” cepat Kyuhyun menjawab. Park Seul Gi tertawa. “Kalaupun ada kurasa kau akan tetap menjawab tidak.” canda lelaki itu mengangkat kepala usai memandangi wajah tenang putrinya saat tertidur. Matanya berseborok dengan milik Kyuhyun. “kau menyukai Songjin, ‘kan?”

“HAH?!”

“hah?” Park Seul Gi mengulang raut terkejut Kyuhyun. Ditambah dengan berbagai acting panic menyedihkan. “kenapa hah?” tanyanya nyaris memberikan senyum curiga.

“Kau menyukainya. Aku benar ‘kan?”

“A—aku” Tentu saja! apa ini saat yang tepat untuk mengatakan semuanya? Kyuhyun menelan ludahnya pahit. Sulit. Dan penuh kerja keras. Dia tidak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan perasaannya.

Iya. Dia menyukai Park Songjin. Apa tampak sejelas itukah? “Y—yeah.” Kyuhyun mengangguk. “tentu saja. Kami berteman sangat lama—“

Sialan. Bukan seperti ini rencananya! Dia akan mengatakan secara keseluaran. Jujur tanpa ada kebohongan. Dia sudah cukup banyak berbohong mengenai hal ini pada gadis rakus ini.

Ini benar-benar bukan rencananya! Mengapa lidahnya tidak mau bekerja sama dengannya?!

Park Seul Gi tampak merundukkan sedikit kepalanya. Kaca mata baca diatas hidungnya bisa nyaris jatuh jika dia mempertahankan posisi seperti itu. “Nak, dengar— kau boleh membohongi Songjin sebanyak kau mau. Tapi apa kau juga berniat melakukannya padaku??”

“A— aku—“

“Oh ayolah.”

“Tapi dia bukan tipeku!!”

Sialan! dua kali! ayolah Cho Kyuhyun! Jadilah seorang pria!!

“Bukan tipemu kau bilang?” sambil bertanya Park Seul Gi membenahi letak kaca matanya yang merosot. Dan Kyuhyun mengangguk bagai robot konsret. “kupikir begitu—“

“kau pikir begitu?”

Ayah Songjin bertanya sambil tertawa pelan. Dasar anak muda! begitu yang terus dikatakannya dalam hati. “Kalau ku ulang pertanyaanku dan kau masih menjawab kupikir begitu, sebaiknya kau segera pergi dari sini, Kyuhyun-ah. Aku tidak ingin putriku hanya kau jadikan permainan kupikir begini, kupikir begitu.”

“Kalau jawabanku, ya, apa kira-kira paman akan menceritakan ini ke semua orang? Appa? Eomma? Siwon Hyung? Songjin?”

“Bagaimana kalau ini menjadi rahasia kita saja?” Tawar Park Seul Gi. tubuhnya dicondongkan dekat pada Kyuhyun, “Jadi apa kau menyukai putriku?”

“Aku ingin menikah dengannya.”


She can’t see she’s making me crazy now
I don’t believe she knows she’s amazing how
She has me holding my breath
So I’d never guess
That I’m a none such unsuitable, suited for her

And if you ask me
The feeling that I’m feeling is complimentary
And oh, it goes to show
The moral of the story is boy loves girl
And so on but the way it unfolds is yet to be told

I know that I should be brave
Even pretty can be seen by the blind
I know that I cannot wait
Until the day we finally learn how to find each other
Redefining open minds

And if you ask me
The feeling that I’m feeling is overjoyed
And it’s golden, it goes to show then
The ending of this song should be left alone
And so on ’cause the way it unfolds is yet to be told

[Jason Mraz – Prettiest Friend]

168 thoughts on “[KyuJin Series] Our 1st Secret

  1. yaampun kalimat terakhirnya Kyuhyun bikin senyum2 sendiri, ternyata Kyuhyun udah pengen nikah sama Songjin.. waahh!
    aku ngebayangin klo Songjin yg tidur dipangkuan Kyuhyun ngedenger mereka ngomongin dia, ntar gimana ya

  2. sk ceritanya ternyata mereka saling suka, aku gak nyangka kyuhyun menjawab pertanyaan ayah songjin seperti itu…….. apalagi kalau songjin dengar pasti dia seneng banget deh…..

  3. kyuhyun ngelamar songjin langsung ama ayahnya 😁😁😁😁😘😘😘😙😙😙😗😗😗.. ah sosweet wkwkwkwkkwk … tuh ayah songjin enga nanya knp ada luka didagu songjin .?

  4. Songjin appa cemburu sama kyu. Yawla kyu kejam banget sampai buat songjin dijahit. Kyu gentle dengan mudahnya bilang mau nikah saat ditanya appa cewe yg dia suka

  5. Kalimat terakhir kyuhyun bikin melting. Ayahnya songjin tanya suka tp dijawab ingin menikahi yg jelas artinya lebih dr suka. Seperti biasa, baca ff kakak bikin ketawa ketiwi. Apa tadi, “baby sister pribadi yg mengajari cara mengunyah?” Hahahah sumpah itu kocak abis kak

  6. Park seul gi lucuuuu. Kocak bgt ceritanya. Pantes song jin nya pikirannya diluar dugaan. Ternyata gen. Wkwkkw
    Suka jg kyuhyun akhirnya mengakui. Apalagi lgsg blg aku ingin menikahinya. Suka bgt ceritanyaaaaa

  7. Dan ternyata ada sesuatu antara kyuhyun dan appa nya songjin huhuhu. Aku suka hubungan antara kyuhyun dan appa nya songjin *loh*
    Jujur aku mewek sama cerita ayah dan anak perempuan dimana anaknya udah dewasa dan ayahnya mulai khawatir dengan percintaan anaknya. Huft.

  8. jawaban kyuhyun bikin melting😂😂, ngak bilang suka tp kyuhyun langsung bilang mau menikah sm songjin langsung di depan ayahnya songjin. bnr² pria sejati😂😂

  9. Sweet bgt dah hhhhh. …

    Bpk nya Songjin takut kehilangan anaknya , dia ngerasa klo anaknya bakalan ninggalin dia pas anaknya udah dewasa dan menyukai cowok 😑😁😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s