[KyuJin Series] Perfect Two — 1


Perfect Two

 

[Part 1 of 3]

 

PG – 13

(poster by: Stroberay)

“The Reason it hurts so much to separate it’s because our souls are connected ”  

“Itu robotku!!”

Teriak Cho Kyuhyun nyaring. Bocah kecil itu buru-buru menyambar mainan ditangan seorang gadis bertubuh mungil dihadapannya. Tingginya bahkan tak sampai bahunya. Tak mau kalah, anak perempuan dengan satu gigi kelinci tanggal itu ikut pula memekik, “Pinjaaaaamm!” katanya kencang.

“untuk apa anak perempuan bermain robot?”

“Aku hanya ingin lihat!”

“Kau punya boneka itu!”

“tapi aku ingin lihat!!!”

“kenapa ingin lihat? Kau tidak akan mengerti robot!!”

Dan pertengkaran itu tersambung dengan perkelahian versi 2.0— Park Songjin, perempuan mungil berambut panjang sedada itu   melepaskan boneka kelinci dalam pelukannya untuk merampas robot mainan Kyuhyun.

Kyuhyun mempertahankan dengan memegang kencang kaki robotnya sedang Songjin menggenggam kepala, hingga kemudian, hal yang pasti telah sampai didalam kepala semua orang terjadilah.

Chronos— nama robot itu, terpenggal menjadi dua bagian. Kyuhyun berhasil mempertahankan anggota tubuh berserta kaki robotnya dan Songjin juga berhasil memenuhi rasa ingin tahunya— dengan berhasil memiliki kepala robot tersebut.

“YAAA! CHRONOS!! KAU MERUSAK CHRONOS-KU!!”

“A—aku”

“APPAAAAAAA!!!”

** **

Senyum Kyuhyun melebar mengingat kejadian tersebut. Usianya saat itu tepat 8 tahun. Sebagai anak-anak pada umumnya, perasaannya pastilah kacau balau melihat mainan kesukaannya hancur terbelah. Lebih menyebalkan, tersangka utama malah yang menangis. Bukan dirinya yang seharusnya lebih pantas mengeluarkan air mata.

Saat itu Kyuhyun ingat, dirinya sibuk mendiamkan tangisan Songjin, meski telah dicoba berkali-kali, bocah perempuan ompong itu masih saja menangis— malah bertambah kencang.

Kyuhyun meninggalkanya pergi sendiri ditaman halaman rumahnya. Saat itu Kyuhyun masih belum memahami bahwa Songjin menangis bukan karena ikut bersedih atau merasa bersalah. Bocah itu menangis karena takut akan amarahnya yang meletup.

Songjin menangis, karena Kyuhyun meneriakinya. Karena Kyuhyun tidak pernah berteriak dan terlihat semarah itu kepada Songjin. Karena Songjin merasa ketakutan setengah mati.

Namun kini, Kyuhyun telah memahaminya. Kini usianya bukan 8 tahun lagi. Dia sudah bisa berpikir lebih cerdas untuk menilai setiap kejadian yang terjadi disekitarnya. Kini, Kyuhyun tahu harus melakukan apa, ketika persoalan serupa kembali terjadi.

Tadi, Park Songjin— gadis menyebalkan itu baru saja menjatuhkan ponselnya dikolam ikan depan pintu masuk universitas mereka. Pertengkaran hebat terjadi. Kyuhyun boleh marah karena Songjin merusak barang miliknya.

Tetapi sesungguhnya, kemarahan pria itu langsung surut dikali pertama air mata Songjin tumpah. Dia tahu Songjin akan melakukannya. Songjin adalah gadis cengeng. Dan dirinya tahu, dia tidak akan sanggup bertahan marah pada gadis itu lama.

Apalagi jika gadis cengeng itu sudah menangis.

Tapi hey, setiap orang memiliki kelemahan mereka masing-masing kan? Bagi Cho Kyuhyun, mungkin Park Songjin adalah salah satunya. Tetapi Kyuhyun tetap ingin mengajarkan rasa bertanggung jawab pada diri gadis itu. Maka Kyuhyun tetap pada pendiriannya hingga siang ini. Dia tidak akan berurusan dengan Songjin sampai gadis itu menyadari kesalahannya.

Songjin harus tahu mana yang boleh dan tidak untuk dilakukannya. Oh, sebentar— Park Songjin seorang gadis 20 tahun. Tentu saja gadis itu sudah tahu mana benar dan mana yang salah. Tetapi kadang, Kyuhyun ikut meragukan kemampuan itu, sama saja seperti Park Aeri meragukan segala kemampuan putrinya.

Seperti kasus tadi— memaksa melihat layar ponsel orang ketika pemiliknya sedang menggunakan alat tersebut dan memerlukan privasi adalah hal yang tidak boleh Park Songjin lakukan.

Baiklah, sebenarnya ini bukan tentang privasi. Kyuhyun tahu, sejauh ini privasi seolah terlihat samar baginya, Siwon mapun Songjin. Itu hanya berupa omong kosong.

Mereka terlanjur terbiasa melakukan apapun yang mereka mau. Itu bukan lagi hal asing. Tetapi sejauh ini, hal itu hanya diantara mereka bertiga saja. Bagaimana nanti, jika Songjin melakukannya kepada orang lain? Apa yang akan gadis itu lakukan?

Iya, kalau hanya mendapatkan omelan saja. Bagaimana jika orang tersebut sampai menuntut? Park Songjin benar-benar harus memahami konsep privasi ini dengan matang. Gadis itu tidak lagi muda walau belum terlalu tua.

Dia bukan lagi anak-anak yang bisa mendapatkan banyak pengecualian. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memberikan pengecualian itu kepada Songjin. Songjin harus tahu, bahwa tidak semua orang dapat bersikap manis padanya.

Entah mengapa Kyuhyun merasa semua hal konyol itu adalah tugasnya.

Pria itu sesungguhnya merasa tidak nyaman, melihat gadis topic didalam kepalanya duduk seorang diri disebuah meja cafetaria univeristas, bermurm durja ketika seluruh meja, termasuk mejanya berisi lebih dari tiga orang.

Semua meja berisi gelak tawa serta canda. Meja Songjin, tampak kelabu. Gadis itu tidak mengambil menu makan siang yang tersedia. Dia tidak mengambil spaghetti tuna ataupun bistik.

Tidak mengambil snack hari ini, nachos atau fish and chips. Tidak mengambil salad buah, ataupun pudding cokelat sebagai dessert— padahal, yang Kyuhyun tahu, Park Songjin menggilai pudding cokelat.

Songjin juga tidak mengambil jus jeruk atau jambu— menu minuman jus segar yang hari itu sedang tersedia. Dari tempatnya, Kyuhyun bisa melihat sebuah mangkuk plastic diatas nampan biru milik Songjin yang tidak gadis itu sentuh sejak tadi. Tetapi tidak sesanggup itu untuk melihat apa isi mangkuk plastic tersebut.

Dia lalu menoleh kanan kirinya. Melihat siapa tahu ada orang dimejanya yang mengambil menu serupa, namun sepertinya tidak. Apalagi mejanya, tidak ada satupun wanita disana. Mejanya berisi karbohidrat mengerikan yang pasti ditakuti gadis-gadis pesolek. Songjin adalah salah satunya.

“Kau pergi?”

“Yeah.” Angguk Kyuhyun menjawab Joon. Salah seorang teman satu kelasnya— dia langsung menoleh ketika tadi Kyuhyun bangkit membawa ransel dan mencantolkannya dibahu. “Assignment Professor Kim”

“Kau?” Joon tertawa “kau belum mengerjakan assignment Professor Kim? kau pasti sedang berbohong” cibir wakil team football tersebut menyadari bahwa Kyuhyun tak pernah sekalipun lupa mengerjakan tugasnya.

Pria itu lantas menelengkan kepala memandang 8 meja didepan mereka. Tanpa diberitahu, Joon tersenyum geli, tahu alasan lain mengapa Kyuhyun buru-buru ingin pergi dari meja mereka. “kau ingin menemui pacarmu?” goda pria itu menunjuk Songjin dengan dagunya.

Dahi Kyuhyun segera berkerutan menyadari godaan Joon juga disahuti oleh seluruh kawan mejanya, “aku lihat kalian bertengkar pagi tadi. Itu berakhir cukup dramatis.” seorang lagi bernama Yul menambahkan. Mereka lalu ber high-five ria bersorak gembira.

“Seperti apa akhirnya?” Joon tampak tertarik. Sepertinya dirinya baru tertinggal berita panas. Tubuh pria itu merunduk mendekat pada meja. Sekumpulan pria beranggotakan lebih dari tujuh orang kini beralih menjadi penggossip.

“Kyuhyun meningalkan Songjin menangis sendiri.”

“Yang benar?!”

“Yeah! Kau harus dengar dia mengutuk apa saja yang ada dihadapannya. Semua kata-kata kotor keluar!”

Dua mata Joon terbuka lebar. Pria itu seketika menoleh pada Kyuhyun lagi, “aku tidak masalah dengan itu.” timpalnya, “tapi meninggalkan gadis menangis sendirian? Yah, kau lelaki bukan Cho?!”

“Yah! kau tidak tahu apa yang dilakukannya!! Dia menjatuhkan ponselku di kolam ikan! sekarang aku tidak punya ponsel karena benda keparat itu berisi air.”

“APA?”

Lalu, gelak tawa riuh kembali mengisi meja panjang disana. Beberapa tertawa lengkap dengan gebrakan meja. Beberapa memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu banyak tawa. Disanalah kehidupan terasa lebih menarik dibanding banyak meja lainnya.

Dan disanalah, Park Songjin menoleh dengan sangat hati-hati. Berniat ingin mengintip tanpa tertangkap basah, namun kepalang basah matanya berseborok dengan Kyuhyun.

Sepertinya, pria itu masih marah besar padanya— karena Kyuhyun lah yang pertama langsung mengalihkan wajah— dia terlihat ketus. Kyuhyun boleh marah padanya. Dia pantas marah. Songjin juga sadar, kadang ulahnya memang keterlaluan. Mungkin karena itulah tidak ada seorang pun yang mau berteman dengannya.

“Jadi kau akan menemuinya dan meminta maaf?”

“Kenapa harus aku? aku tidak salah!”

Yul mendesah panjang, “Tentu saja karena kau lelaki. Pernah dengar teori Mrs. Always Right?”

Kyuhyun mencibir— mengerucutkan bibirnya, “itu tidak terjadi padaku.” dengusnya.

Sorakan terdengar kembali. Kencang, khusus untuk menertawai ketinggi hatian lelaki bermarga Cho tersebut. “Jadi pertengkaran ini akan berlanjut? aku penasaran sampai mana kau bisa bertahan tidak berbicara dengan pacarmu.” Joon balas menilai.

Pria itu begitu ingat Cho Kyuhyun nyaris tak pernah berkumpul seperti saat ini ketika dalam kondisi ‘baik-baik saja’ bersama Park Songjin. Pria itu akan makan dimeja yang sama dengan Songjin. Dia memutari universitas bersama gadis itu. Duduk santai bersama gadis itu. Pulang dan pergi juga bersama gadis itu. Dia akan bersama dengan Park Songjin nyaris setiap saat. Jika Kyuhyun tidak menghampiri gadis itu, maka Songjin lah yang akan menghampiri.

Itu seperti rutinitas yang sudah dihafal ritme waktunya, oleh seluruh orang— siapapun yang mengenal Cho Kyuhyun ataupun Park Songjin.

Pun ketika latihan football, Kyuhyun selalu menyeret Songjin ikut. Memaksa gadis itu untuk duduk dikursi penonton. Jika gadis itu menolak, maka tak jarang Kyuhyun ikut absen dari latihan club-nya. Itu terdengar tidak masuk akal. Banyak anggota club yang sering kesal karena alasan tolol itu. Tetapi disaat bersamaan, mereka tahu, Cho Kyuhyun sungguh dilanda kasmaran.

Jadi, ketika Cho Kyuhyun langsung menyambar berkata “kami hanya berteman,” itu terdengar bagai ilusi untuknya. Tentu saja juga untuk orang disekitarnya. Orang buta saja bisa melihat. Mereka saling menyukai.

“Oh, kalian hanya berteman.” Joon mengangguk, “kalau begitu bolehkah Yul mengajak Songjin kencan? bocah ini menyukai temanmu cukup lama sebenarnya.”

“APA? KAU GILA? TIDAK!”

“kenapa? dia hanya temanmu ‘kan?”

“T—Tapi,”

“NAH!”

Joon, Yul bersama seisi meja saling menggebrak meja kemudian tertawa. “Kau menyukainya!” mereka sama-sama berteriak.

“Aku tidak!!”

“Yeah. Kau menyukainya!”

“Tidak.”

“Kalau begitu, Yul—!” Taehyuk si pendiam kali ini bersuara, “sekarang cepat pergi kemeja gadis itu! ajak Songjin pergi menonton sesuatu malam ini!”

“Okay kapten!” Yul segera bangkit. Kyuhyun melompat begitu cepat kemudian berhenti tepat dihadapan lelaki tersebut. “YAAAAH!! KUBUNUH KAU JUNG YOO YUL!”

“aku hanya ingin ke toilet. Jangan bunuh aku”

“duduk!”

“kenapa?”

“Kubilang duduk saja. Duduk.” Kyuhyun berusaha menekan bahu Yul kebawah menggunakan seluruh kekuatannya. Jantungnya langsung berdebar tak keruan ketika mendengar satu lelaki lagi menyukai Songjin.

Entah benar atau hanya ingin menggodanya, tetapi debaran jantung kali ini tidak bisa dijadikan lelucon untuknya. Kepanikan seketika tampak begitu jelas diraut wajahnya.

Yul bersama lainnya menertawai kepanikan Kyuhyun. Menganggap hal tersebut terlihat lucu. Tak sadar saja, bahwa orang yang digoda sedang kalang kabut dalam diamnya.

“Kyuhyun Oppa~”

“Pih!”

“Hey, kau salah! Songjin tidak pernah memanggil Kyuhyun dengan sebutan Oppa!”

“Ohya?”

“yeah! dia hanya akan berlarian sambil berteriak ‘Kyuhyun-ah!!!’ begitu!”

Joon memeragakan seperti apa perilaku Songjin selama ini— dari apa yang diketahuinya. “kenapa dia tidak pernah memanggilmu Oppa?” Joon kemudian menoleh lagi pada Kyuhyun.

Bahu Kyuhyun bergerak-gerak pelan. Dia bertolak pinggang, masih berdiri seolah takut kalau-kalau Yul tiba-tiba benar-benar berlari menuju Songjin. “Dia pernah memanggilku begitu.”

“Pih!”

“Aku serius.”

Kejadian putusnya kepala Chronos mulai berputar didalam kepalanya. Dia tidak salah. Songjin memang memanggilnya Kyuhyun Oppa pada masa itu. Entah mengapa lantas segalanya berubah.

Ramai tawa dimeja Kyuhyun benar-benar mengganggu Songjin. Gadis itu bertambah kelabu saja ketika sadar Kyuhyun tampak sangat baik-baik saja tanpanya.

Kini terlihat jelas siapa yang lebih membutuhkan siapa. Dia ingin marah. Kejadian pagi tadi, mungkin hanya karena akumulasi kemarahannya saja. Belakangan ini Kyuhyun lebih sibuk dengan ponselnya. Bekerja sambil Kuliah bukan hal mudah. Songjin juga tidak mengerti bagaimana Kyuhyun bisa melakukan keduanya dengan benar.

Kyuhyun masih bisa berjalan-jalan, masih bisa bermain games sepanjang hari, masih sempat mengikuti kegiatan dari club football universitas mereka.

Tetapi persoalannya, keterlaluan namanya kalau tiap kali bersama, dirinya seolah hanya sebuah bayangan. Kyuhyun disana. Tapi tidak disana. Dia hanya ingin tahu, makhluk jenis apa yang sanggup menarik perhatian Cho Kyuhyun begitu lekat? Dia tidak tampak sesibuk itu namun jika telah bersama Songjin, kesibukan itu mendadak naik seperti air bah.

Apa si pencuri perhatian itu lelaki? atau dia wanita? Apa dia tampan? atau cantik? atau sangat cantik? Atau sangat sangat cantik? atau, Cho Kyuhyun berbohong padanya, dan deringan ponsel tiap menitnya itu adalah dari seorang gadis— yang diam diam sedang dikencaninya?

Jika ular memiliki bisa dan singa memiliki taring untuk melindungi diri ketika merasa terancam, entah bagaimana Songjin merasa hidupnya sedang terancam. Dia tidak memiliki apa yang ular atau singa miliki— dan tentu saja, merampas dan menceburkan benda canggih itu ke kolam ikan bukanlah idenya.

Itu hanya… improvisasi. Dia hanya sedang memberikan reaksi natural atas hal yang sedang menjadi major issue dalam sekian pekan ini— baginya.

Hidupnya sedang terancam. Kyuhyun berkencan, adalah bayangan ancaman nyata untuknya.

** **

“Oppa—“

“Berhenti disana!!”

Songjin mengikuti perintah. Untuk kali itu, gadis kecil itu terlihat patuh. Langsung berhenti diambang pintu seolah ada sebuah garis laser yang bisa memotong tubuh siapapun jika mereka memaksa melintas.

Wajahnya tidak ada lagi bekas air mata. Tangisan itu sudah berhenti sejak dua hari lalu. Tetapi kemarahan Kyuhyun belum berhenti padanya. Songjin benar-benar dirundung ketidaknyamanan. Selain Kyuhyun, hanya Siwon lah temannya.

Tetapi Siwon hanya bisa ditemui sore hari. Di pagi dan siang hari dia bersekolah. Songjin memiliki jadwal pulang jauh lebih cepat. Dia bisa mati bosan jika harus menunggu Siwon sampai sore. Biasanya dia akan bersama dengan Kyuhyun menunggu Siwon di sandbox halaman sekolah mereka.

Tetapi sejak dua hari lalu Kyuhyun menghindarinya. Atau, seperti itulah yang dirasakannya. Songjin tahu mengapa. Saat ini dirinya tak tahan lagi. Ingin segera memperbaiki kesalahan. Jika Kyuhyun memusuhinya, tidak ada lagi teman bermainnya selain Siwon.

Teman-temannya dikelas ada banyak. Beberapa ada juga yang menyukai membuat istana pasir atau bermain perang, atau boneka. Tetapi kadang, mereka terasa tidak seasyik Kyuhyun. Atau Siwon. Dan kadang, entah mengapa tiba-tiba mereka memusuhi, tanpa Songjin tahu apa alasannya.

“Jangan masuk!” perintah Kyuhyun tegas. Dia masih duduk diatas ranjangnya bersama Chronos yang lain. Terlihat tidak sekeren Chronos lamanya, tetapi Kyuhyun memiliki banyak mainan robot. “Kau hanya akan merusak saja kalau mendekat.”

Bocah 8 tahun itu menggerutu sebal. Kyuhyun menekan salah satu tombol ditubuh Chronos barunya tetapi robot itu tidak mengeluarkan suara apa-apa. Kini Songjin sadar, sehebat apa Chronos lama Kyuhyun.

“aku hanya ingin meminta maaf.”

“Tidak perlu.”

“Tapi kau tidak terlihat sudah memaafkanku?”

Kyuhyun mendengus kencang, “aku memang belum memaafkanmu.” sahutnya. “Tidak akan. Kau merepotkan. Aku tidak suka berteman dengan perempuan. Mereka semua sama-sama menyebalkan!!”

** **

Songjin masih saja mengingat memori lama tersebut. Dia ingat pernah menghancurkan robot maninan pemberian ayah Kyuhyun dihari ulang tahunnya. Itu adalah mainan robot paling mutakhir pada jamannya.

Dan Songjin merusaknya semudah itu. Hanya karena perasaan ingin tahu yang berlebihan. Seharusnya dia sadar, dirinya memang sebegitu merepotkannya.

“Kau hanya akan merusak saja kalau mendekat. Kau merepotkan.” adalah pernyataan paling menyakitkan dari semuanya. Seolah dirinya diciptakan menjadi mesin penghancur atau apa. Saat itu Park Songjin mulai menyadari betapa mengenaskan hidupnya.

Dan betapa itu, adalah alasan rasional mengapa hingga kini dirinya sulit untuk mendapatkan teman. Bersosialisasi. Dirinya memang merepotkan. Tak ada satupun orang yang mau bersama dengan orang merepotkan.

Bahkan orangtuanya lebih senang memindah tangankan persoalan kepengurusannya kepada asisten rumah tangga mereka Han Goora dan Han Joo Sung. Jadi, terimakasih karena Cho Kyuhyun telah kembali mengingatkan Park Songjin akan hal tersebut.

“So, Miss. Park? the answer please?”

Songjin mengerjabkan matanya ketika menyadari siapa dihadapannya. Pria berkepala plontos itu seketika saja mensejajarkan wajah mereka. Atau, itu karena dirinya saja yang melamun sejak tadi— dan tak tahu menahu apa yang dosen botak ini bicarakan.

So?”

“Huh?”

“What is Roman art best known for?”

Diam. Songjin terdiam dalam duduknya kaku. Dia membatu. Tidak perlu dipikirkan lagi. Dia begitu membenci kelas sejarah seni ini. Bukan hanya karena sulit tetapi juga menggunakan bahasa asing sebagai pengantar.

kalau-kalau dosen itu buta, nyaris separuh dari mahasiswa dikelas mereka tidak memahami apa yang sedang dibicarakannya. Begitu yang Songjin kerap simpulkan usai kelas berlangsung. Semua pertanyaan kawannya sama saja dengannya “dia tadi bicara apa?” begitu.

“Um.. R— Roooman?”

“No. Roman. Just Roman. You make it sounds different now. So the answer is?”

“I— don’t— know, sir”

“Why?

Tidak tahu ya tidak tahu saja, kenapa pula harus bertanya kenapa. Itulah mengapa kujawab I don’t know! Batin Songjin jengkel. Dosen botak itu sudah tak lagi menyamakan wajah mereka, tetapi tetap setia berada didepan mejanya.

“Okay,” desah lelaki itu mencoba bersabar. “another chance only for you, pretty girl” dengan penekanan penuh pada kalimat pretty girl, seolah menyamakan Songjin dengan pesolek lain dikelas ini— juga adalah tipe gadis yang tidak disukai dosen tersebut.

“What is Celtic art?”

“Cel—??”

Cel? Cellphone? Apa ini juga sindiran? Ini pasti bercanda! mengapa harus memiliki huruf depan seperti itu?!

Begitu yang Songjin pikirkan. Dia langsung mendengus begitu menyadari cara berpikir otaknya— terlalu ekstrem menyambungkan satu hal ke hal lain secara cepat. Tetapi dosennya tak paham arti dengusan itu tentu saja. “did you just snort on me?” Lelaki itu langsung mendelik galak begitu merasa baru saja disepelekan.

“What?”

“What? what you asking back to me? what happened to you? Geez! This is an exam, Miss..” Lelaki itu memandangi Songjin jengkel, kemudian berseru, “Get out!”

 

Jadi, begitulah akhir kelas sejarah seni Park Songjin yang mengenaskan.

** **

“Kyuhyun Oppa! aku boleh masuk?”

ketukan dipintu kamar Kyuhyun terdengar terus menerus tanpa berhenti. “Kyuhyun Oppa! buka pintunya” sebenarnya, suara itu jelas-jelas menganggu Kyuhyun yang hanya berbaring malas diatas ranjang dengan bibir mengerucut. “Tidak.” jawabnya memandang nanar pintu kamarnya.

“Aku ingin meminta maaf.”

“Kau pulang saja!”

“Kyuhyun Oppa!” Songjin nyaris menangis tepat didepan pintu besar. “Kyuhyun Oppa, ada yang harus kuberikan.”

“Tidak mau.”

“— Aku akan pergi. Dengan Appa dan Eomma. Kalau tidak diberikan sekarang, lalu kapan lagi??”

“…………”

“Kyuhyun Oppa, aku meletakkannya didepan pintu. Hati-hati saat membukanya nanti. Jangan sampai terinjak.”

** **

“Jangan sisihkan paprikanya Kyuhyun-ah!”

“Aku tidak suka praprika!”

“Tapi kau harus memakannya! dan habiskan nasinya!!”

Dua tangan mungil Cho Kyuhyun terlipat didada ketika bocah itu mendengus lalu membuang wajah, “aku tidak lapar.” gerutunya menggemaskan. “dimana sebenarnya Songjin?”

Anak perempuan itu sudah tidak pernah terlihat lagi sejak terakhir kali muncul dan meninggalkan robot mainan, Chronos— serupa seperti yang pernah Kyuhyun miliki dulu— yang rusak karena ulah Songjin.

Kyuhyun heran. Semudah itu Songjin menganggap persoalan mereka beres— hanya dengan membelikan Chronos yang baru. Seharusnya Songjin berusaha lebih keras untuk meminta maaf padanya! Bersujud kalau perlu mungkin. Dia baru merusak mainan robot paling keren sepanjang masa! itu fatal!

Dan tak perlu menunggu lama, Kim Dong-Ah dapat segera memahami mengapa tuan muda nya bersungut-sungut saja satu hari ini. “Songjin pergi, kukira dia sudah berpamitan denganmu kemarin lusa??”

Kyuhyun terdiam. Dia ingat Songjin berkata “— Aku akan pergi. Dengan Appa dan Eomma. Kalau tidak diberikan sekarang, lalu kapan lagi??” Jadi apakah itu semacam perpisahan?

Mendadak tubuhnya menegang. Kyuhyun menelan ludahnya susah payah, “apa dia pergi seterusnya?”

“Apa dia tidak mengatakannya padamu?”

Kyuhyun semakin membatu ditempat. Diam-diam dia mulai menyesal atas kekeras kepalaannya kemarin lusa. Dia bersikeras tidak ingin bertemu gadis itu, hanya karena robot miliknya yang hancur.

Mungkin rusaknya Chronos tidak sepadan dengan kehilangan seorang teman baik. Mungkin selama ini dirinya salah menilai.

“T—tidak.”

Kim Dong-Ah menyimpan senyum masam. “Makan paprika dan nasinya. Habiskan makan malam-mu. satu suapan satu jawaban. Deal?”

“Payah.” Cho Kyuhyun menghela napas panjang. Dia tahu, dia tidak memiliki pilihan lain. Lebih dari separuh hatinya kini menyesal setengah mati karena memusuhi gadis itu. Kalau tahu Songjin akan pergi… mungkin dia tidak akan mendiamkan Songjin begitu lama.

Satu suapan penuh nasi daging dan paprika masuk ke mulut Kyuhyun. Sambil mengunyah, bocah itu menoleh pada Kim Dong-Ah. Menunggu perjanjian mereka. Janji lelaki itu.

“Songjin pergi kemarin lusa bersama orang tuanya menuju Bangkok. Dia tidak mengatakannya padamu?”

Kyuhyun menggeleng lesu. Duduknya melorot— turun kebawah bersama bahunya melemas. Seketika dia berpikir keras. Bangkok itu dimana? apa jauh sekali jaraknya dari Korea?

Usai kunyahan nasi dimulutnya habis, Kyuhyun memasukan sususan serupa kembali pada mulutnya. Dia juga kembali menoleh pada supir pribadi keluarganya. Lelaki yang telah bersamanya, bahkan sebelum dirinya lahir— begitu ayahnya mengatakan.

“Berapa lama mereka pergi?”

“Paprika-mu Kyuhyun-ah!”

“Aku benci paprika” begitu runtukan Kyuhyun, namun akhirnya, tetap memasukan beberapa potong kemulut. “Cepat beritahu!”

“Kalian bertengkar saat Songjin pergi. Kau mendiamkannya cukup lama. Apa sekarang kau menyesal?”

“Aku bagian bertanya, paman menjawab!”

Ada senyum dari lelaki 30-an itu kemudian. Dia menutupi bibir dengan telapak tangan kanan “baiklah.” ujarnya usai terkekeh beberapa saat. “Aku tidak yakin dengan yang satu itu. Sepetinya, seingatku tidak ada yang berbicara tentang kembali dari Bangkok—“

“Jadi mereka pindah?!!”

Suara bangku derit kencang terdengar saat Kyuhyun mendadak berdiri— melompat dari kursi duduknya. “Kenapa tidak beritahu aku?!”

“Kau kan—“

“Berisik!” Siwon menghentakkan kaki ditangga. Berjalan perlahan turun dengan wajah sembab sehabis tidur. “Apa lagi yang diributkan? Chronos-mu hancur lagi?”

“Hyung! Songjin pindah!”

“Heh?”

“Pindah ke Bangkok! Mereka semua pindah! Dia bahkan tidak mengatakannya padaku! Apa dia mengatakannya padamu?”

Mata Siwon masih sayu. Langkahnya masih sempoyongan tak menentu. Dia menarik kursi meja makan, kemudian duduk bersandar. Merasa lega berhasil mencapai kursinya.

“Pindah apanya?” Siwon menggosok mata menggunakan punggung tangan “mereka hanya berlibur bodoh! Songjin ikut Seul Gi Ahjussi bekerja disana sampai waktu liburan kita habis.”

“Huh?”

“Huh?”

“Mereka tidak pindah?”

“Untuk apa mereka pindah??”

“Kau tahu?”

“tentu saja! Dia menggangguku karena kau memusuhinya! Aku mengantarnya membeli robot baru untukmu ditoko mainan!”

Chronos?”

“Dia memecahkan babi keramiknya dikamarku.”

Dan lirikan sengit Kyuhyun segera lemparkan pada satu-satunya lelaki berjas disana. Karena ulah orang itu tadi, jantungnya terasa ingin jatuh dari tempatnya seketika.

** **

Dua hari, empat hari, enam hari. Tiga pekan lamanya Kyuhyun tak menghiraukan Songjin. Mereka kini bagai orang asing. Tidak. Kyuhyun sebenarnya yang terlihat seperti orang asing. Ketika mereka berpapasan dilorong, hanya Songjin saja yang akan menoleh dan melambaikan tangan.

Kyuhyun akan diam sambil berlalu. Seolah Park Songjin adalah bayangan. Seharusnya Songjin tak perlu seterkejut itu, toh dirinya sudah sering merasakan hal serupa dari perlakukan orang-orang disekitarnya.

Tapi ini Kyuhyun. Entah mengapa rasanya berbeda. Pikiran bahwa Kyuhyun mulai bosan berada disekitarnya ikut menari-nari didalam kepalanya. Semakin memikirkannya, semakin Songjin merasa kecewa.

Dia marah kepada dirinya sendiri. Songjin juga tahu, perlahan tanpa Kyuhyun, dirinya akan mulai terasingkan. Hidupnya selalu berada disekitar pria itu. Berputar-putar disana tanpa berniat untuk pindah. Dia tidak pernah bosan. Dia menyukainya. Dia menyukai Kyuhyun.

Hanya saja, kini, mungkin Kyuhyun yang telah menyadarinya. Dirinya tidak semenarik itu. Akhirnya, pria itu bosan berada disekitarnya. Ditambah ulah-ulah anehnya— mungkin kesabaran Kyuhyun kini telah benar-benar habis baginya.

** **

“Busan university—“ beritahu Joon tentang lawan dalam kompetisi mereka sore ini. Sore ini univeritas mereka memiliki pertandingan football antar universitas di seluruh Korea Selatan.

Kyuhyun terlalu sibuk untuk mengenal siapa lawan mereka kali ini. Kemarin dia ikut bersama ayahnya ke Millennis dan baru kembali tepat tengah malam. Sebagai orang yang pada akhirnya akan mengurus perusahaan sebesar itu, Kyuhyun tahu, dia harus belajar semenjak dini.

Tidak ada kesuksesan yang diraih hanya dengan bermalas-malasan. Kesibukan mudanya kali ini tak akan sebanding dengan keberhasilan yang nanti akan didapatnya ketika memegang jabatan tersebut— dan berhasil membawa perusahaan menjadi nomor 1.

Dia tidak suka dengan embel-embel anak orang kaya yang tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya bisa mendapatkan tahta karena pemberian. Biasanya, persoalan seperti ini akan dimengerti oleh orang yang juga merasakan hal serupa.

Songjin misalnya. Gadis itu juga adalah putri semata wayang pemilik bisnis perhotelan terbesar di Asia. Suatu saat Songjin akan memegang perusahaan besar itu dan mengurus segalanya. Kyuhyun tidak cukup yakin dengan kemampuan Songjin mengurus tempat sebesar itu jika mengurus diri sendiri saja, Songjin kerap tampak kewalahan.

Oh, bicara tentang Park Songjin. Kyuhyun benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikirannya. Gadis itu tidak menghubunginya sama sekali. Tidak juga mencoba untuk meminta maaf, atau melakukan apapun— hal yang semestinya dilakukan jika seseorang sedang bersalah.

Malah, Kyuhyun tidak menemukan gadis itu dimanapun dipenjuru gedung universitasnya sejak tiga hari lalu. Entah gadis itu bersembunyi dimana. Dia merindukannya. Kyuhyun ingin menemuinya. Tetapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menjadi lembek seperti agar-agar.

“Busan?”

“Yeah. kau percaya itu? Mereka bahkan kalah 0-3 dari team kita musim kemarin. Apa mereka tidak pernah belajar dari kesalahan? Benar-benar aneh.” Geleng Joon.

Keduanya berjalan beriringan menuju gedung besar dengan tembok kaca dimana-mana. Disana adalah ruang olah raga khusus football untuk univertas mereka. Joon tampak melambai-lambai pada seorang gadis.

Sepertinya gadis itu sudah berada disana jauh sebelum mereka datang. Namanya Tiffany. Gadis itu adalah pacar Joon. Mereka sudah berkencan 2 tahun lamanya. Tiffany berasal dari department seni sama seperti Songjin.

Hanya saja Songjin adalah angkatan baru sedang Tiffanny berada satu angkatan dibawah Kyuhyun dan Joon. “Let’s kick them out!” Tiffany mengepalkan tangan ketika Kyuhyun dan Joon sampai. “Yeah yeah.” Joon hanya mendesah malas.

“Kenapa lesu?”

“Kau yang memiliki semangat berlebihan. Yang bertanding kan aku.”

“Aku tim pemandu sorak. Tentu saja aku harus bersemangat!!”

“berlebihan!”

Kyuhyun terkekeh geli melihat interaksi Joon dan Tiffany. Untuk beberapa saat, Kyuhyun dapat melihat Songjin pada diri gadis itu. Mereka sama-sama memiliki rambut yang panjang. Sama-sama menyukai pernak-pernik. Pasti juga sama-sama menyukai belanja. Sama-sama penyuka pink dan sama-sama memiliki mulut yang ribut.

Tenaga mereka selalu berada diwarna hijau— tidak pernah habis atau berkurang walau selelah apapun. Dan oh, mereka juga sama-sama dari department seni! sudahkah itu dijelaskan tadi? “Kau dari department seni kan?” begitu tanya Kyuhyun ketika menyadari kebetulan itu.

“Ya.”

“Kau… tahu Park Songjin?”

Tiffany tertawa dalam rangkulan Joon, “pacarmu? Blossom—“

Blossom?”

“Iya. Kami dari department seni memiliki julukan untuknya. Blossom.”

Kyuhyun mengerjabkan mata tak mengerti. Dia berjalan dengan pikiran kosong. Tidak tahu sedikitpun— dan tak memiliki ide apapun apa itu blossom. Dalam bahasa inggris, blossom memiliki arti mekar. Jadi dari diri Park Songjin, bagian mana yang mekar? Tubuhnya saja sekecil lidi.

“Oh ayolah~” Tiffany mendesah mengerti kebingungan Kyuhyun, “kau tahu tokoh itu ‘kan? dari kartun the powerpuff girls! tiga trio cantik tapi memiliki tenaga super?”

The powerpuff girls?”

“Yeah. Blossom, Bubbles, dan Buttercup.”

“— Um..”

“Dia tidak tahu. Sayang, sudahlah.” Joon menghela napas, “Lelaki tidak menonton kartun.”

“Dragonball?”

“Itu berbeda!!”

Ketiganya berjalan beriringan menuju ruang duduk dan loker. Udara sejuk dari pendingin ruangan mulai menyapu tubuh mereka. Sesampainya disana, Tiffany langsung menjatuhkan diri disebuah kursi tunggu yang empuk.

Joon meletakkan ranselnya disalah satu kursi tersebut— mengeluarkan satu botol minum. “Aku tahu Songjin.” kata Tiffany selagi menerima botol minum Joon dan membuka botolnya, “dia ada dikelas life painting yang sama denganku.”

“sama denganmu?” mata Joon terbuka lebar. “dia baru angkatan pertama.”

“Tapi credit nya cukup untuk mengambil mata kuliahku.”

“pintar juga dia.” Joon menyikut pinggang Kyuhyun selagi pria itu tersenyum masam. “dia tidak pintar.” ujar Kyuhyun kemudian. “tapi dia berbakat dibidangnya. Aku tidak heran dia bisa mengambil credit lebih banyak.”

Kyuhyun menurunkan tas tepat didepan dinding loker. Satu yang berwarna merah dihadapannya, adalah miliknya. Dia lalu memasukan nomor kombinasi selagi Tiffany berkata lagi “Tapi Songjin tidak masuk dikelas dua hari ini. Aku tidak tahu. Mungkin dia sakit?”

“Sakit?” Joon dan Kyuhyun bertanya bersamaan. Kyuhyun membalik tubuh menghadap Tiffanny sedang gadis itu merasa terpojok tiba-tiba menjadi pusat perhatian dua lelaki sekaligus, “kau tidak tahu? kau kan pacarnya.” sungut Tiffany kepada Kyuhyun “pacar macam apa kau ini?”

“Kami hanya berteman.” Gerutu Kyuhyun. Dia berbicara sambil melirik Joon yang tertawa karena pertanyaan polos pacarnya. Dia juga menertawai jawaban Kyuhyun kali ini. Berapa kalipun Kyuhyun diberi pertanyaan serupa, jawabannya akan selalu sama.

Pria itu memiliki harga diri terlalu mahal, untuk diturunkan sedikit demi menuntaskan perasaannya sendiri. Itu terlalu… jual mahal namanya. “dia benar sakit? sakit apa?”

“A—aku tidak tahu. Sungguh.”

“Kau?”

“Aku tidak berbicara dengannya belakangan ini.”

“hampir satu bulan lebih tepatnya.” Joon menambahkan. Pria itu tertawa lagi dan tawanya menggema disepenjuru lorong. Membuat Kyuhyun kesal karena tawa Joon tidak kunjung habis menggema.

“Ah, benar. Aku ingat” Tiffany mengangguk-anggukkan kepala “kalian berpisah! aku ingat rumor itu. Jadi itu benar?”

Kyuhyun mendesiskan tawa sambil menggeleng. Dia kembali mengurusi lokernya lagi, mengulang memasukan nomor kombinasi dari awal lalu menggumam “gossip macam apa itu? benar-benar aneh.”

“Bukan seperti itu, tapi mungkin aku harus memberitahumu ini: Lelaki di department seni banyak yang mengincar pacarmu— eh, maksudku, mantan pacarmu.” Jelas Tiffany mengawali. Dia segera mengibaskan tangan didepan bibirnya saat salah berbicara tadi.

“Jang Keun Suk Oppa, Seulong Oppa, Jung Woo dari kelasku, Bahkan anak baru pindahan Canada itu.. siapa namanya” Mata Tiffany memejam beberapa saat kemudian terbuka menyalang, “Oh! benar! Jason! Jason Lee! dia juga menyukai Songjin karena Songjin sering membantunya dikelas life painting. Aku rasa dia sering berbohong berkata tidak bisa melakukan apa-apa hanya untuk berdekatan dengan Songjin. Cih. Alasan tolol”

Tiffany lalu menyedot minuman dari botol Joon hingga separuhnya. Dia mendesah lega dan mengelap bibir dengan punggung tangan setelahnya, kemudian berbicara lagi.

“Tapi kau tidak perlu pedulikan mereka. Mereka hanya berani menyukai diam-diam. Mereka terlalu takut berurusan denganmu, Oppa. Yang perlu kau waspadai itu….. kau tahu Lee Jong Hyun?”

“Tidak.” Kyuhyun menjawab cepat. “Maaf saja tapi aku tidak banyak mengenal orang dari department seni.” dia tersenyum sinis.

“Kau tidak perlu mengenal banyak orang dari department seni. Kau hanya perlu mengenal siapa itu Lee Jong Hyun. Dia masih anak baru, tapi sudah menjadi anak kesayangan Proffessor Im karena pernah bermain gitar didepan presiden mewakili nama universitas.”

Bibir Kyuhyun mencebik. Pria itu lalu menggumamkan kata “wow” yang terkesan dibuat-buat. Dia kembali memberikan cengiran sinis dan tak peduli bagi informasi tersebut.

Dia juga pernah bermain football didepan presiden. Dia bahkan memenangkannya. Mana yang lebih keren? Bermain gitar atau football?

“Kudengar dia mengincar Songjin sejak lama. Tapi karena saat itu dia masih pacarmu, jadi dia mundur. Syukurlah dia masih cukup tahu diri. Tapi kudengar sekarang, dia sudah mulai mendekati Songjin sejak mendengar rumor kalian berpisah. Kau tahu, dia orang yang paling senang saat mendengar kalian bertengkar didepan kolam saat itu!!”

“Hey—“ Joon menggeleng melarang Tiffany untuk bercerita lebih lanjut. Pria itu meletakkan telunjuk didepan bibir menyuruh pacarnya diam, sementara Kyuhyun tak lagi selesai mengurusi nomor kombinasi lokernya.

Tangannya menggantung didepan kunci otomatis penuh tombol itu sambil memejamkan mata. Bernapas perlahan-lahan seolah mengatur jalur pernapasannya, seperti dirinya baru saja terkena asma atau apa. “bukan urusanku.” katanya lebih untuk dirinya sendiri setelah itu.

Kyuhyun sungguh meyakinkan dirinya. Tidak. Dia tidak yakin dengan hal itu. Dia tahu Songjin disukai oleh banyak lelaki. Itu alasannya mengapa dirinya selalu menempeli gadis itu setiap saat setiap waktu disetiap kesempatan. Dia senang ketika orang-orang mulai berasumsi bahwa Songjin dan dirinya berpacaran.

Dia jadi tidak perlu menjelaskan kepada semua orang— terlebih Songjin fans club keparat itu. Dia lega, ketika orang-orang menjadi lebih tahu diri dan berada pada batasnya menyadari Songjin tak sendiri. Setidaknya, saat bersamanya, Songjin akan aman.

Sebentar. Bukan. Bukan Songjin yang aman sebenarnya. Tapi dirinyalah yang aman. Rasa was-wasnya tidak akan lebih tinggi daripada gunung Everest ketika Songjin berurusan dengan lelaki— karena hey, dia tidak mungkin juga harus memelototi setiap lelaki yang mendekati Songjin kan?

Ini dunia bebas. Semua orang berhak berinteraksi dengan siapapun secara leluasa!

Nomor kombinasi sudah diterima. Layar kotak hitam putih kecil dihadapannya telah memberikan warna hijau— tanda nomor yang dimasukan adalah benar. Kyuhyun membuka pintu lokernya lalu langsung menarik selembar pakaian berwarna putih dari sana.

Dia berhenti sejenak ketika melihat sebuah tas kertas cokelat dihiasi pita berwarna pink.

Kyuhyun memandangi sekelilingnya. Tidak ada siapapun disana. Hanya Tiffany dan Joon yang saling berpelukan. Selain mereka, gedung ini tampak kosong tak berpenghuni. Belum saatnya pemanasan sebenarnya. Pemanasan baru dimulai 3 jam lagi dan pertandingan dimulai pukul 8 malam.

Kyuhyun tidak memiliki ide lebih lanjut, siapa yang bisa memasukan tas kertas itu karena seingatnya, dia tak pernah menyimpan benda semacam ini kedalam lokernya. Tidak ada satupun yang tahu nomor kombinasi lokernya.

Tunggu sebentar. Tidak ada yang tahu nomor kombinasi lokernya. Itu benar. Kecuali…

Maka Kyuhyun segera membuka tas kertas itu. Didalamnya terdapat satu persegi panjang cokelat. Sebuah lollipop, dan satu kotak ponsel baru yang masih tersegel rapat. Diatasnya, sebuah Post it tertempel.

Post it pink disana bertuliskan: Maaf karena merusak ponselmu. Aku tidak tahu apa yang kupikirkan saat itu, sungguh. Aku menggantinya. Aku ingin memberikannya langsung tapi kita memiliki jadwal kelas yang berbeda. Dan tiap kali kita bertemu, kau terlihat masih marah denganku. Kau terlihat menyeramkan, kau tahu? Jadi, kuberikan dengan cara seperti ini saja, okay?. Lagipula aku tidak tahu lagi kapan harus memberikannya. Aku akan pergi. Aku takut kita tidak sempat bertemu lagi, jadi, yeah, sekali lagi maaf!’

Ps: Selamat berjuang untuk pertandingannya! Busan University cukup payah untuk kita habisi bukan? kkk~

“SHIT!” Maki Kyuhyun setengah berteriak. Dia segera memasukan tas kertas tersebut kedalam ransel. Menjejalkannya asal-asalan, kemudian membanting pintu lokernya dan berlari menggunakan kekuatan ultrasonic menuju pintu keluar.

“HEI KAU PERGI?”

Kyuhyun mendengar Joon berteriak memanggil. Dia tidak sempat menoleh. Tidak ada waktu untuk itu. Dia harus cepat. Secepat yang bisa dilakukannya. Jadi Kyuhyun hanya berteriak “AKU HARUS PERGI!”

“Kita akan bertanding!” teriak Joon lagi. “Kita tidak punya quarterback cadangan Kyuhyun-ah!!” Joon bergeser ketengah ruangan melihat punggung Kyuhyun semakin menjauh. Kyuhyun sungguh berlari begitu cepat. “CHO KYUHYUN!!”

** **

“Shit Shit Shit!!!”

Maki Kyuhyun habis-habisan. Dia tidak sempat memerhatikan kiri kanannya yang juga sedang memakinya karena memainkan ponsel sambil mengemudi. Terlebih dia mengemudikan motor. Walau mengeluarkannya ditengah pemberhantian lampu lalu lintas.

Mereka yang tidak mengerti bahwa Cho Kyuhyun kini seperti sedang me-rewind kejadian Chronos-nya. Saat itu Songjin berkata akan pergi. Dan gadis itu memang pergi— walau hanya berlibur.

Tetapi kata-kata pergi tidak pernah terdengar semenyenangkan itu bagi Kyuhyun ketika itu sudah berhubungan dengan Park Songjin. debaran jantungnya kini meningkat. Dahinya mulai dipenuhi peluh. Kakinya telah selemas agar-agar.

Songjin tidak mungkin meninggalkannya begitu saja. Dia pasti hanya berlibur lagi seperti dulu. Jadi sekarang, dia hanya perlu datang kerumah gadis itu untuk memastikan. Setelah itu dia baru akan tenang. Dia akan kembali untuk pertandingan football-nya.

Tetapi nomor gadis itu tidak aktif. Kyuhyun menghubunginya semenjak kakinya hengkang dari pelataran parkir universitas. Kedua orang tua gadis itu juga tak bisa dihubungi. Asisten rumah tangga mereka apalagi. Ini seperti sebuah konsporasi keparat yang tak pernah disukainya. Apa semua orang sedang bersekongkol untuk menjahilinya? Karena ini benar-benar tidak lucu. Nanti, ketika Kyuhyun mengetahui seluruh kebenarannya, dia bersumpah akan menghajar semua dalang dibalik kepelikan ini.

Lampu lalu lintas kembali berwarna hijau. Kyuhyun adalah orang pertama yang menggeber motornya kencang. Melaju seperti sonic. Ada kepulan asap putih yang keluar dari knalpot motornya. Suara derungan motornya membuat nyaris seluruh kepala ditempat itu menoleh kemudian ikut serta menggerakkan kepala mengikuti kemana arah Kyuhyun pergi.

Dengan kecepatan seperti itu, Kyuhyun hanya memerlukan waktu 30 menit untuk sampai dikediaman Park. Seperti biasa, disana selalu terlihat hening. Seperti tak ada kehidupan. Tapi Kyuhyun tahu, didalam, rumah itu akan terasa lebih hangat karena Songjin sering berteriak seperti tarzan.

Dia segera melompat turun dari motornya. Meletakkan helm begitu saja diatas jok kemudian setengah berlari menuju pintu utama. Gagang pintu terkunci. Itu adalah kepanikan pertamanya.

“Songjin? Yah! Park Songjin! Buka pintunya”

Hening.

Kyuhyun mundur beberapa langkah untuk melihat sekelilingnya. Halaman luas dan hijau itu tampak sama heningnya. Tampak tak hidup walau indah. Dia hanya perlu mencari keberadaan asisten rumah tangga tempat ini.

Han Goora dan Han Joo Sung.

Biasanya Kyuhyun bisa menemui wanita separuh baya itu ditaman anggrek samping rumah. Disana biasanya wanita itu menghabiskan waktunya nyaris satu hari penuh hanya untuk mengurus puluhan anggrek koleksi nyonya besarnya. Tetapi usai berlari kesana, Kyuhyun tidak menemukan siapapun.

Kyuhyun berlari lagi. Kini menuju garasi. Lucunya, tempat yang biasa terbuka lebar— menunjukan jumlah mobil mahal pemilik rumah yang wah, kini tertutup rapat. Benar benar rapat.

Tunggu! Kyuhyun tahu harus kemana. Dia segera berlari kecil memutari kediaman berhalaman luas ini sampai ke belakang rumah. Sesampainya disana, Kyuhyun mencari batu-batu kecil. Dia memungutinya cukup banyak— mengumpulkannya didalam genggaman.

“Songjin!” Panggilnya, melempar satu batu kerikil tersebut ke sebuah pintu kaca pada satu balkon dilantai 3. “Songjin! Yah!”

Hening. Tidak ada jawaban apapun. Mungkin Songjin sedang tidur. gadis itu akan menjadi seperti mayat jika sudah tidur. Tidak akan semudah itu sadar pada apa yang terjadi disekitar.

Maka Kyuhyun melempar sebuah batu lagi. Kali ini lebih kencang. Dia sampai melompat tinggi hanya untuk melakukannya. “Yah! babi air!” teriaknya.

Gadis itu adalah gadis pesolek yang mudah marah. Dia tidak akan senang dipanggil babi air dan Kyuhyun memang hanya menggunakan panggilan itu terkadang saja. Untuk menggoda gadis itu, atau mencari perhatiannya.

Tetapi usai lebih dari 5 kali Kyuhyun memanggilnya seperti itu, tak sekalipun dirinya mendengar jawaban. Ruang kamar Songjin masih gelap dan hening seperti sebelumnya. Tidak sedikitpun menunjukan kehidupan sang pemilik. Semangatnya mulai runtuh kini.

Ada beberapa hal buruk yang Kyuhyun takuti, kini perlahan mulai menjadi kenyataan. Mungkin gadis itu pergi. Mungkin kali ini Songjin benar-benar pergi. Kali ini bukan berlibur.

Satu kali lagi Kyuhyun masih menyimpan semangat dan rasa ingin tahunya. Kyuhyun berlari ke pintu utama lagi. “Ahjussi! Ahjumma!” dia berteriak sambil mengetuk pintu lebih keras daripada biasanya. Itu dilakukannya berpuluh kali. Persetan dengan kiri kanan rumah ini jika mendengar dan terganggu. Tetapi sayangnya, dia tidak mendapatkan sahutan dari siapapun.

Tubuhnya mulai menjadi lebih lemas daripada agar-agar. Jantungnya sudah bukan berdegup tak beraturan lagi. Kini rasanya seperti tidak mendegubkan apapun. Wajahnya memanas, matanya perih. Dalam kepanikannya, Kyuhyun merogoh saku menarik ponsel.

Dia mencari sebuah nama dalam buku telpon setelah itu menempelkan alat canggih tersebut ketelinga. Semoga Siwon tahu kemana Songjin pergi. Namun dalam nada sambung ke-5, Kyuhyun tidak mendapatkan sahutan apapun. Dia kemudian menghubungi nomor lain disana. Ayahnya pasti tahu sesuatu. Ayahnya berteman baik dengan Park Seul Gi— Ayah Songjin.

Tetapi kembali, dalam deringan ke-7, Kyuhyun tidak mendapatkan balasan apa-apa. Begitupun yang terjadi saat dirinya menghubungi ibunya. Kakinya semakin melemas. Kyuhyun menempelkan dahi pada pintu utama rumah besar tersebut. Matanya menjadi semakin perih dan perih. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.

Saat itu, mulutnya hanya bisa mendesahkan gumanan, “kenapa kau tidak berpamitan denganku dulu?” dengan suara begitu lemas. Matanya memandang nanar sepatunya. Satu persatu dia bisa melihat sepatu kets-nya dijatuhi titik air— diwaktu bersamaan, Cho Kyuhyun menyadari, langit sedang tidak menurunkan hujan.

** **

Tepat pukul 11 malam. Suara pintu pagar terdengar berdecit, tetapi Cho Kyuhyun terlalu lelah untuk mencari tahu darimana datangnya suara itu dan mengapa pintu pagar berdecit. Dia sibuk memutar-putar ponselnya bagai gasing didepan kakinya yang bersila.

Sesekali Kyuhyun mengusap pelupuk matanya karena basah. Kepalanya merunduk menjatuhkan seluruh rambutnya yang halus. Tubuhnya menegang ketika mendengar suara “perampok!” yang berteriak kencang sekali.

Bukan karena dia terkejut baru saja dianggap sebagai perampok, tetapi karena dia mengenal suara itu! Itu kalau tidak salah dengar dan bukan ilusi.

“K—kau.. S—siapa, siapa kau? m—mau apa? kau mau apa?”

“Songjin?” Kepala Kyuhyun terangkat perlahan-lahan. Dia menyipitkan mata. Sedikit sulit untuk melihat siapa pemilik suara itu karena penerangan hanya dari lampu jalanan saja sedangkan sekarang sudah tengah malam. Tak ada penerangan sedikitpun yang dinyalakan dari rumah sebesar ini.

Tetapi Kyuhyun mengenal suara itu. Suara cempreng namun manis. Ketus namun memabukkan, “Park Songjin?”

“Kyuhyun-ah?” suara itu terdengar semakin dekat. Kyuhyun segera bangkit dari duduk. Tubuhnya menegang lagi ketika menyadari perkiraannya benar. Semoga ini bukan hanya ilusi— tetapi gadis dengan bando Minnie mouse dan ice cream itu terlihat terlalu nyata jika harus disebut ilusi.

Kemudian Kyuhyun berjalan mendekat. Dia menghitung langkahnya didalam hati sambil berharap cemas, semoga ketika sampai, apa yang dilihatnya tidak hilang dihapus angin. Tetapi ilusi itu bersuara. Bertanya padanya “kenapa kau disini?”

Saat itu juga Kyuhyun tahu bahwa itu bukanlah ilusinya. Dia mendesah napas lega. Kyuhyun berlari kecil mempercepat langkah menuju Songjin. Meraup gadis itu memeluk sekencang-kencangnya. Cepat-cepat Kyuhyun membenamkan wajah pada bahu Songjin.

“Kemana saja kau?”

“Menonton pertandingan Football dikampus!” dengus gadis itu “Kau bolos ikut pertandingan atau bagaimana?? Kukira kau tahu kalau kau satu sat—“

“— Kenapa tidak bisa dihubungi?”

Dahi Songjin berkerutan, “Baterai ponselku habis.” katanya bingung.

“Aku mencarimu kemana-mana.”

Kyuhyun mengeratkan pelukannya. Dia menjejalkan hidung dilekukan leher Songjin. Disana, dirinya baru bisa bernapas lega. Lupakan football. Itu bukan prioritasnya. Sejak dulu, gadis ini selalu menjadi prioritasnya.

“Aku kira kau marah.”

Songjin mendengus ketus. Dia bergerak-gerak ditempatnya untuk melepaskan diri dari rengkuhan Kyuhyun. “aku tidak bisa bernapas, Kyuhyun-ah! lepaskan aku!”

Sadar rengkuhannya mungkin terlalu berlebihan, Kyuhyun mengurangi ketetatannya tanpa berniat melepaskan Songjin. Dia menarik kembali air mata yang semula hampir jatuh….. atau sudah.

Mungkin.

“Aku mencarimu kemana-mana.” Ulang Kyuhyun sambil bernapas lega. “Kau membuatku takut.” lirihnya tanpa sadar mengusapkan bibir tebal miliknya pada bahu terbuka Songjin, lalu memberikan kecupan lembut satu, dua kali.

Sedangkan Park songjin tampak tidak tertarik dengan adegan drama melankolis ini. Gadis itu menggeser tangan yang memegangi ice cream lalu berkomentar “Ya ya ya.” sambil memutar mata malas.

“Aku kira kau pergi.”

“Aku memang pergi. Aku menonton pertandingan football.”

“Maksudku pergi yang lain.” desah Kyuhyun. Kini Cho Kyuhyun merasa tubuhnya jauh lebih hangat daripada tadi. Jantungnya telah berdegup pada detakan normal. Napasnya juga mulai keluar dan masuk secara teratur. Dia senang.

“Maksudmu pergi ke surga begitu? Kau benar-benar sekesal itu karena aku merusak ponselmu sampai ingin aku mati?!”

Mata Kyuhyun terbuka. Dia menarik diri dari rengkuhannya sendiri untuk memandang wajah Park Songjin dengan penerangan temaram. Dahinya saling berkerutan dan matanya pergi kemana-mana— menjelajah setiap jengkal bentuk wajah gadis ini. Dia sungguh menyadari akibat dari ulahnya sendiri— menjauhi gadis ini beberapa pekan saja, dia sungguh merindukan gadis ini. “aku tidak ingin kau mati hanya karena merusak ponselku. Kau ini bicara apa?!”

Songjin tersenyum sinis mendesis. Segera menghentakkan salah satu tangan Kyuhyun yang menggantung dibahunya. “pulang.” katanya ketus mendorong tubuh Kyuhyun dari hadapannya.

Dia melempar cone ice cream-nya sembarangan diantara daun-daun hijau tanaman disekitar lalu berjalan menuju pintu utama. Tak melihat betapa kini Kyuhyun tampak terkejut dibuatnya. “Tap— tapi” pria itu berdiri membatu— berputar kaku melihat kemana arah punggung Songjin pergi tetapi tak cukup berani mengikutinya.

Hanya terdengar suara dorongan kencang pintu utama ketika tertutup. Penerangan halaman kediaman besar itu kemudian berpendar terang. Menemani kalutnya Cho Kyuhyun kini. Masalah satu selesai, kini datang yang baru.

Brengsek.


PS: Alur maju mundurnya nyaris sama persis kayak Marry Your Daughter. Semoga gak bingung ya 🙂

190 thoughts on “[KyuJin Series] Perfect Two — 1

  1. Hai admin akhu reader bru dsini slam knal smua :D,,,,,kyuhyun sok jual mhal kmu klau nanti songjin bnar2 pergi gmna hayo prasaanya

  2. songjin songjin saking penasaran ampe kepala robot putus gitu..

    hah songjin pernah manggil kyuhyun oppa O.O gak kebayang deh,, pasti aneh

    kyu orangnya ada dicuekin pas gak ada dicariin.. dasar aneh

    keren deh ceritanya..
    ditunggu kelanjutan cerita lainnya

  3. Baper gw baca yang ini…di mulai dari kyuhyun pacu motornya ke rumah songjin trus panik gak nemuin songjin dan penghuni lainnya di kediamannya songjin,takut juga y kyu di tinggal pergi songjin….wkwkwkwk
    Udah bilang cinta aj sama songjin jangan gengsi gitu ntar songjinnya beneran pergi lho,itu aja kamu udah nangis apalagi beneran pergi
    Kyu…ambil kesempatan peluk songjin plus kecup2 bahu songjin pula untung songjinnya gak tau kalo enggak….euuh,udah di geplak tuch kepalamu

  4. udah lama gak main ke sini eon, kangen juga sama semua tingkah songjin dan kyuhyun. hehe
    seneng banget ngeliat kekalutan kyuhyun yang ngira songjin pergi ninggalin dia. kyuhyun sampe menitikkan air mata lagi. waktu bagian kyuhyun nangis emang kasian sih, tapi gak papa ding kalo itu bisa buat kyuhyun sadar dan mau ngakuin perasaannya. gak ngeles lagi dengan bilang ‘kami hanya berteman’…

  5. Aaaa, seru, suka sama critany. Kyu smpe segituny takut kehilangan Songjin, makany jgn marah lama lama. Tapi bner bner salut sama kyu yg rela nunggu smpe lama

  6. aaaaaaaaaaaaaaa campus life memang ga ada dua nya >< aku suka bgt sama kehidupan kampus mereka. kalau lebihdikembangin, lebih banyak orang yang dilibatkan pasti bakal hidup bgt. tapi, ginipun baguuuuuuuus bgt, duh tenggelam bgt aku di dalam nya. kyuhyun yg bnr2 jual mahal dan akhirnya panik sendiri kan hahahha ada puasnya juga kyuhyun ditempatin di posisi yang menyedihkan seperti di atas wks maafkan aku kyuhyun XD

  7. Ceritanya menarik sekali, penggunaan kata-katanya juga pas, alurnya nggak bikin bingung ^^ aku suka banget FF ini …
    Aku suka songjin dan juga nama panggilannya, jadi aku pake username deh ^^ keep writing ya kak ^^ ….

  8. Eh beneran inj emg cerita remaja banget. Yg di jaman jaman bangku pendidikan. Asal deket sama lawan jenis. Pasti disangka pacar. Tp ga heran seisi kampus tau nya kyu pacaran sama songjin abis kedua makhluk iti emg macem tom en jeri. Biar ribut tp sering berdua

  9. wkwkwk da panik karena dikira pergi beneran eh ternyata nonton pertandingan yg harusnya kyu ikuti he..he,suasana da romantid eh singjin malah marah bener2 aneh mereka tu

  10. Kyu mngulang kesalahan yg sma,,,apa dy lpa saat mrka kcil kmarahannya jg berakhir dgn kekalahannya jg yg takut khilangan songjin….dn saat dewasa dy mlakukannya lgi,,,,dn sperti akn lbh rumit dr masa lalu….

  11. Pingback: [KyuJin Series] Types Of Love — Unrequited Love | My Fiction World 20

  12. Dan pencarian yul berakhir disini.. hi..hi.. tapi pas buka loker ke bayang trauma kyuhyun gegara cronos.. ditinggal songjin ke bangkok.. etapi yg suk songjin banyk gitu.. kamu harus mulai berpikir cho. Ini udh ketemu gyuwon blum sih?

  13. Bc ulang chap ini sambil ngira2 kelakuan kyu yg mana yg diceritain yul ke songjin dicrita unrequited love..
    Apa yg part dy bolos latian kl songjin ga nemenin?
    Soal dy yg ktakutan saat yul niat deketin meja songjin?
    Or saat kyu kabur dr ptandingan krn mw ke rmh songjin pdhl songjinna mlh dtg ke ptandingan kyu??

  14. Emang harus ya kyu ikut acara “katakan cinta ”
    Susahnya ngmng 3 kata aja.. aku cinta kamu..
    Tapi gue ga seyakin itu si sama reaksi songjin saat kyu nekat bilang suka..
    Palingan jatuh pingsan, serangan jantung, atw malah pelanga plongo ga tau mau ngmng apa..
    Apa jadinya kalo iya songjin hengkang dr korea? Yakin ga bakal nyusul tuh kyu… secara cinta mati ama songjin..

  15. Y ampun Kyu!!!!! Lucu bgt waktu dia di godain tmen2nya ,bahkan dia kelabakan sendiri waktu Yul mo nyamperin songjin. Wkwkwk
    Dan dia nyampe g ikut pertandingan football eh mlah jd ‘satpam’ di rumahnya songjin,kasian jga sih bahkan dia nyampe nangis…

  16. aku jd sedih gt waktu songjin yg gak punya teman selain kyuhyun sm siwon, kyuhyun marah sm songjin nya lm banget, aku kira songjin beneran pergi, aku sk bacanya……next

  17. Songjin sampai sekarang gak pernah manggil oppa itu gara2 cronos.. ribet banget sih hati kasian. Sama2 saling membutuhkan tapi gak ada yg mau nurunin gengsi sampai sekarang. Songjin walaupun otaknya minimalis banyak juga yg ngejar2. Kyu kalangkabut sendiri kan kalau di tinggal songjin

  18. Ini feel nya dapet banget lho
    Hati ku ikut nyes nyesan pas adegan Kyuhyun panik hilang arah 😂😂😂…
    Nah kan Kyuhyun panik sendiri pan kalo ditinggalin Songjin, apalagi kalo bener bener ditinggalin gimana nasipnya? 😂 Songjin walopun otaknya minimalis banyak juga yang ngincer 😂

  19. 😂😂 ternyata songjin pergi kepertandingan football tp kyuhyun mlh nyangka pergi ketempat yg lain:V, gilaa kyuhyun sampai sepanik itu:v selesai urusan hp, eh mlh datang masalah baru😐.

  20. Q pembaca baru juga. Sbnre pengen banget selalu komen tp berhubung q gaptek q g tau caranya ngenes kan.
    Ni komen pertama.

    Tp overall cerita2 disini manis2 ngangenin apalagi bagian cho hyun gi yg unyu2 iku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s