[KyuJin Series] 10 Reasons To Love You (Park Songjin) — 1


 

10 REASONS TO LOVE YOU

PS: Ada yang ingat Worddiction yang pernah saya post dulu? Well, postingan ini gak jauh berbeda sama worddiction. Cerita disini mempunyai alur yang random. Ada before story dan after. Jadi, semoga gak bingung saat baca. 

Enjoy!

  

  1. Her Braveness

 

 

“Cho Kyuhyun? Siapa Cho Kyuhyun?”

Seorang pria datang menuju dua pria lainnya yang telah lebih dulu duduk, membawa nampan biru dan meletakkan dimeja sambil mengernyitkan wajah masam. Matanya sili berganti menatap dua kawannya yang duduk berhadap-hadapan.

Seorang dengan rambut blonde menjawab, “Quarterback kita. Kudengar dia mahasiswa dari Business Department. Tingkat tiga. Kudengar dia memang sangat berbakat.”

“Omong kosong dengan bakat.” timpal si pria nampan biru tampak kesal. “Dia tidak mungkin terpilih begitu saja. Ini kelompok gabungan! Hanya pemain terbaik dari seluruh universitas yang terpilih. Pasti ada sesuatu. Hal yang melatar belakangi.” sungutnya penuh amarah.

Lalu seorang lagi— yang sejak tadi sibuk mengunyah sandwich akhirnya angkat bicara, “bagaimana mungkin kau tidak mengenal siapa Cho Kyuhyun? Dia anak angkat Choi Ki Ho! Pemilik Millennis. Kau tahu Millenniskan? Sudahlah, kita tidak perlu berdebat lagi. Setidaknya sekarang kita tahu seberapa kotor cara anak itu mendapatkan posisi dalam perlombaan football kita.”

Cukup.

Setiap kesabaran memiliki batas tersendiri. Saat ini, kesabaran Park Songjin sudah pada titik maksimalnya. Dan Kyuhyun mengetahuinya. Jadi, sebelum gadis itu melompat lalu menerkam tiga pria yang sejak tadi membicarakannya itu, Kyuhyun lebih dulu menarik tangan Songjin untuk membawa gadis itu hengkang dari cafetaria.

“Sudahlah.” pangkas Kyuhyun santai. Tak tampak raut kesal meski dirinya memiliki keinginan lebih besar daripada Songjin untuk menghabisi tiga cecunguk disana. Kyuhyun hanya tak ingin membuat keributan— yang mungkin akan berbuntut panjang. “lupakan saja.” imbuhnya menggantungkan lengan dibahu Park Songjin.

Walau enggan, pada akhirnya Songjin hanya mengikuti. “kita harus menelan ice cream banyak-banyak.” komentarnya disambut tawa Kyuhyun “yeah. Ayo beli ice cream!”

Langkah ringan keduanya berjalan baik-baik saja sampai Songjin mendengar suara mengganggu itu lagi dari belakang punggungnya. “Kurasa dia membayar mahal coach untuk—“

Napas Songjin bagai banteng marah “Singkirkan tanganmu, Kyu!” amuknya lalu berbalik arah menuju meja ketiga pria tersebut. Tangannya melebar menggebrak meja besi panjang disana. Kyuhyun benar-benar tak bisa melakukan apa-apa selain berbalik, menghela napas panjang jengah dan melipat tangan didepan dada.

Dari tempatnya dia menonton amukan Songjin. Bibir yang tak seberapa besar itu menjerit kencang, “YAAAH! KAU! TIGA ANAK BABI! SIAPA YANG KAU SEBUT MEMBAYAR PELATIH UNTUK MENDAPAT POSISI DI TEAM? HUH?!”

“SIAPA YANG KAU SEBUT BABI?!”

“TENTU SAJA KALIAN! KALIAN PARA LELAKI YANG TIDAK PANTAS DISEBUT LELAKI. SEBAIKNYA SEGERA GUNAKAN ROK KALAU HOBI KALIAN ADALAH MEMBICARAKAN KEBURUKAN ORANG LAIN DIBELAKANGNYA!”

“Apa-apaan—“

“CHO KYUHYUN MENDAPATKAN POSISINYA KARENA BAKATNYA! DIA TIDAK PERLU MEMBAYAR MAHAL UNTUK HAL SESEPELE ITU. KECUALI ITU KALIAN, KURASA AKU TIDAK AKAN TERKEJUT DENGAN HAL SEMACAM ITU. BERAPA BANYAK UANG YANG KALIAN KELUARKAN UNTUK BISA DUDUK DI CAFETARIA INI DAN MENGIKUTI PERKULIAHAN DI UNIVERSITAS INI?”

“YAAH! SIAPA KAU? SEENAKNYA BERBICARA—“ pria dengan kemeja merah berdiri dari kursinya. Amarahnya mulai terpancing, lantas ikut menggebrak meja. Nyaris seluruh pasang mata kini sedang menuju pada titik yang sama. Sebagian dari mereka tahu siapa gadis berani yang sedang menantang Jung So Ha. Lelaki paling berandal milik universitas KyungHee.

Sebagian tahu, dimana ada Songjin, disana ada Kyuhyun. Tak sedikit yang sadar langsung mengitarkan mata untuk mencari keberadaan Kyuhyun— lalu terkejut melihat pria itu berada didalam barisan tontonan. Diam saja— bahkan sesekali terkekeh-kekeh seperti sedang menonton musical komedi atau apa.

“Nona, sudahlah, kami tidak melawan gadis. Pergi sajalah sebelum kami benar-benar marah.” si tukang makan salah satu dari mereka disana berkomentar. Dia masih memegang bungkusan sandwich yang belum dibuka. Tangannya mengibas diudara “sana. Pergi sebelum aku—“

“SEBELUM KAU APA? AKU TIDAK TAKUT DENGANMU! BABI OBESITAS!”

Satu cafetaria memuntahkan tawa mereka. Memberikan banyak sisa malu diwajah pria sandwich tadi— membuat pria tersebut ikut bangkit dari kursi dengan tangan terkepal diudara.

Sebelum semuanya berakhir dengan baku hantam, Cho Kyuhyun datang. Menurunkan kepalan tangan yang telah terangkat sampai kebawah meja lagi tersenyum pada tiga pria disana. “Aku Cho Kyuhyun.” katanya ramah. “Maafkan temanku. Dia memang agak sedikit pemarah—“ ujarnya mengamit lengan Songjin— meremasnya kuat. “aku pastikan hal ini tidak akan terulang lagi. Jadi aku benar-benar meminta maaf. Aku akan membawa temanku pergi—“

“Yeah. Bawalah temanmu pergi. Ajarkan mulutnya untuk berbicara dengan benar! Dia tidak tahu siapa aku.”

“Yeah. Aku benar-benar menyesal. Maaf.”

Ada suara tawa menggema lagi ketika Kyuhyun menyeret Songjin pergi. Jantung Kyuhyun sudah kebat-kebit dibuat Songjin. Nyaris saja pria pria tadi menghantam wajah Songjin tanpa ampun! “sudah kubilang jangan—“

“Dia tidak bisa apa-apa. bahkan akan terjual murah kalau berada di kelab—“

“BRENGSEK!”

“Ya ampun Songjin sudah kubilang jangan!!”

Dua detik setelah itu Kyuhyun mendapati dirinya merangkul angin. Tubuh kecil Songjin tak lagi berada disampingnya. Bersama dengan hilangnya Songjin, terdengar suara keras kursi besi terguling dilantai. Satu dari tiga pria tadi telah jatuh tersungkur dilantai. Dari hidungnya, mulai mengalir darah segar. Meninggalkan Kyuhyun dengan rahang terjatuh lebar.

“SIAPA YANG KAU BILANG TIDAK BISA APA-APA? APA ITU YANG ORANG TUAMU AJARKAN? BERSIKAP BURUK PADA WANITA DAN MERENDAHKAN ORANG DISEKITARMU? YA AMPUN, TUAN SOK TENAR, APA JADINYA KAU TANPA HARTA ORANGTUAMU?!”


 

  1. Her Nagging

 

 “Sapu tangan? Sarung tangan? Jaket?”

“Sudah.”

“Sepatu boots, shawl, topi, pakaian dingin—“

“Apa kau tidak bisa diam dan duduk saja disini? aku pusing mendengarmu bicara tanpa henti sejak tadi!”

“Kau harus mempersiapkan semuanya dengan benar, Kyuhyun-ah! Kudengar Los Angeles akan diguyur badai salju sampai pertengahan bulan nanti! Kau harus membawa semua pakaian yang bisa membuatmu hangat disana. Kau sudah membawa jaketmu? Sarung tangan? Apa kau juga sudah membawa topi?? Kurasa kau harus membawa beberapa obat-obatan untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi sesuatu padamu disana. Jangan sentuh mie instan lagi, karena kau sudah memakannya terlalu banyak bulan ini! Jangan makan—”

Kyuhyun mengerucutkan bibir kecewa mengingat kembali segala kecerewetan Songjin dua malam lalu. Kemarin dia benar-benar muak mendengar suara berisik itu yang terus menerus terdengar tanpa bisa dihentikan. Sekarang setelah dua hari tak mendengarnya, Kyuhyun malah merindu. Dan sedikit menyesal karena tidak mendengarkan wanita itu.

Kyuhyun menghela napas begitu panjang lalu mengembuskannya perlahan. Dia melihat butir salju turun begitu brutal dari balik tembok kaca kedai kopi tempatnya menunggu. Penerbangan dihentikan karena badai salju, dan saat ini, dia masih harus menunggu dua jam lagi sebelum keberangkatan pesawat menuju Korea benar-benar dilakukan.

Kyuhyun merogoh saku. Mencari ponsel lalu menghubungi nomor pada panggilan cepat. Dia tidak berharap banyak. Dia tahu sedikit mustahil signal bisa bekerja sempurna ditengah hujan badai salju seperti saat ini. Dia hanya mencoba peruntungannya saja kali ini.

“Ya, Presdir—“

Senyuman Kyuhyun langsung mengembang, sadar gambling nya berhasil. “Songjin,” desahnya lega. Suara itu terdengar lagi dan kini lebih nyata— bukan hanya sekedar ilusi. “disini hujan badai salju.” katanya berusara parau. “dingin sekali— padahal aku berada diruangan dengan penghangat mahal— kurasa” lirik pria itu pada sebuah alat disampingnya— berada tepat disebelah kaki kirinya.

“Dan aku kira aku sudah membawa Shawl—“ Kini Kyuhyun merunduk pasrah mengamati black coffee nya— belum disentuh olehnya sama sekali sejak awal memesan.

“Aku tahu.” terdengar suara desahan lelah dari seberang.

“Kau tahu?”

“Aku sudah bisa menduganya.”

“Maaf—“ Dia menghela napas kecewa lagi. “Kau benar. Ada badai salju dan aku kedinginan”

“Ranselmu. Kantung kecil paling depan.”

“Huh?”

“Aku memasukkan shawl di dua kantung kecil ranselmu. Berikan satu untuk Henry juga. Apa kalian sedang dikedai kopi? Kalian bisa memesan kopi panas atau teh. Tolong ingat, jangan makan mie instan. Kalian bisa membeli roti atau sup jagung—”

Ada senyum lebar yang mulai mengembang diwajah tampan Cho Kyuhyun ketika pria itu merogoh kantung paling depan raselnya— masih mendengar saksama ocehan Songjin. Pria itu menjepit ponsel dengan bahu pada telinganya mengambil satu gulungan kain dan melemparkannya kepada Henry— lalu mengambil satu lagi untuknya— segera melilitkan pada leher setelah dia mendapatkannya. Kali ini pria itu sungguh akan membiarkan wanita itu berbicara sampai pita suaranya kering. Biarlah.

155 thoughts on “[KyuJin Series] 10 Reasons To Love You (Park Songjin) — 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s