[KyuJin Series] 10 Reasons To Love You (Cho Kyuhyun) — 2


10 REASONS TO LOVE YOU

3 – 4

3. His Sense of Responsibility

“Tentu saja karena kau bersikeras ingin merasakan bagaimana rasanya berpacaran dengan lelaki!” terang Park Seul Gi saat Songjin bertanya mengapa sejak pertunangan nya dulu, orang tua mereka sama-sama saling memutuskan untuk menikahkan mereka 6 bulan setelahnya.

“Itu permintaan Appa?”

“Aku?”

Park Seul Gi mendenguskan napas kencang— membentuk wajah seolah mencibir hal konyol, “Apa kau benar-benar berpikir bahwa aku akan melakukannya pada kalian?” tanyanya kembali. “Apa bedanya besok, lusa, tiga bulan lagi dan enam bulan lagi? Pada akhirnya kalian akan tetap menikah. Aku bisa langsung menikahkan kalian saat itu juga kalau aku mau.” terangnya kemudian.

“Tapi dia meminta waktu untukmu, supaya kau tidak panic dengan perubahan hidup yang terlalu mendadak. Dan juga selagi dirinya mengurusi hal lain.”

“Hal.. lain?”

“Yeah. Undangan misalnya. Wine yang akan dihidangkan. Menu makanan yang akan disajikan. Bunga yang akan mengisi sepanjang lorong, Kue yang terpajang ditengah aula—“ Dahi Park Seul Gi mengerut kencang. Pria itu menoleh pada putri sematawayangnya segera “apa kau benar-benar tidak tahu apapun mengenai hal ini?”

Dan wajah kosong Songjin adalah jawaban lengkap atas pertanyaannya. Pria berusia 50-an itu menitik beratkan pandangan pada botol kaca berisi susu dihadapannya.

Pikirannya telah melayang kemana-mana selama beberapa saat, kemudian berucap lagi, “— dan karena Kyuhyun bersikeras ingin membiayai seluruh prosesi pernikahan itu tanpa bantuan siapapun.” ungkapnya. “Maksudku… dia benar-benar memaksa seperti perampok yang sedang menodongkan senjata tajam. Apa menurutmu aku berani melawan?

Pria itu lantas tersenyum ringan— lalu menggelengkan kepala seolah merasa lucu pada keadaan, “kurasa anak itu sedang jatuh cinta setengah mati.

Jatuh cinta setengah mati?

Pada siapa? padanya?

Hanya memikirkannya saja, sanggup membuat pipi Park Songjin memerah dan terasa luar biasa panas. Wajahnya mungkin tidak menunjukan reaksi apapun tetapi percayalah, saat ini Park Songjin sedang menjerit senang karenanya.

Apa kau pernah bertemu lelaki dengan sikap semanis itu diluar sana?

Tidak. Bagi Songjin, itu adalah kali pertamanya.

** **

Ada satu fragmen memori lagi yang Songjin ingat. ketika itu matahari sedang bersinar terlalu terik. Dia bisa memastikan panasnya melalui cahaya yang menerobos masuk dari jendela kubikel. Dia masih berada dikampus— menyelesaikan sketsa terakhir sebelum dikumpulkan pada bagian akademik.

Ponselnya bergetar lebih dari tiga kali. Untuk kali ke empatnya, Songjin tak bisa lagi mengabaikannya. Tanpa melihat siapa penelepon diseberang, gadis itu segera menyambar dan meletakan disamping telinga.

Hanya butuh kurang dari tiga puluh detik bagi Henry untuk memberitahukan padanya bahwa Kyuhyun demam tinggi. Masalahnya adalah, Kyuhyun bersikeras tetap berada dikantor dan tak ingin hengkang dari ruang kerjanya sedikitpun.

Siapapun yang berani komentar, akan mendapatkan surat peringatan langsung dimuka. Ancaman pria itu bukan hanya sekedar omong kosong— sepanjang Henry mengenal atasannya.

Jadi kemudian, segera saja Songjin meninggalkan tugas nyaris-jadi miliknya, dan menyeret sling bag yang diletakan dimeja. Jantungnya berpacu tak keruan.

“Kyuhyun Hyung— kurasa akan berbahaya jika tidak membawanya menemui dokter atau apa.” Jelas Henry yang Songjin dengar dan ingat tadi. “Wajahnya sangat pucat dan tubuhnya selemas kertas basah.”

40 menit adalah waktu yang dibutuhkan Songjin, menaiki taksi untuk sampai didepan gedung Millennis. Gadis itu langsung melesat menuju lift dan menekan tombol 35 untuk lantai teratas dimana ruang kerja pria itu berada.

Sesampainya disana, Songjin melesat lagi menuju ruang kerja Kyuhyun tetapi ruangan itu tampak kosong. Yuichi Yama, sekertaris Choi Ki Ho memberi tahu Songjin dimana Kyuhyun berada, membuat lagi lagi gadis itu bergerak secepat kilat— berpindah dengan kecepatan ultrasonic.

“Kyuhyun-ah!!” pekiknya langsung setelah membuka pintu, lalu menemukan orang yang dicari berada tepat satu meter dihadapannya memegang beberapa lembar kertas.

Sambil mendekat, Songjin merogoh-rogoh tasnya. Dia lalu mengeluarkan dua buah benda dari dalamnya. Pertama: Thermometer digital yang langsung ditempelkan pada telinga Kyuhyun— benda yang membuat mulutnya menjerit terkejut ketika melihat angka yang tertera. “Kau demam!!”

Kedua: plester kompres. Songjin juga menempelkannya pada kening Kyuhyun seketika— detik itu juga. “Kau demam tinggi dan masih berpikir untuk berada disini?” protesnya mengomel sambil merogoh tasnya lagi mencari sesuatu.

“A—aku…”

“Cho Kyuhyun, apa pekerjaan lebih penting dari kesehatanmu?”

Sepasang mata besar Kyuhyun mengerjab puluhan— ratusan kali. Bingung melihat kehebohan yang tiba-tiba dipertontonkan gadis itu. “Songjin, coba—“

“A a. Coba kau dengar aku dulu. Kau masih tetap memiliki posisimu walau kau tidak masuk beberapa hari saja. Iya kan? Jadi—“

“Songjin—dengar—“

“Ei, kau yang dengar aku tuan sibuk! aku akan membatalkan jadwal fitting nanti sore. Dan siang ini juga kita harus ke rumah sakit.”

“Rapat.”

“Aku tidak peduli pada rapatmu.”

“Ini—“ potong Kyuhyun namun terhenti. Songjin mengacungkan lima jari tepat didepan wajahnya sambil menggeleng, “aku belum selesai bicara.” pangkas Songjin.

Kyuhyun menghelakan napas panjang dan berat. Pria itu berjalan mundur perlahan, beriringan dengan langkah Songjin yang maju. Tangannya kemudian membalik bahu Park Songjin— sedikit menekan— menghadap ke arah puluhan pegawainya.

“Maaf untuk gangguannya.” Kyuhyun mengawali. “Ini—“ dia melirik Songjin “namanya Park Songjin. Dia pa—“ Kyuhyun diam mengatupkan mulut. Menimbang sesuatu lalu berkata, “Kami akan menikah enam bulan lagi.” terangnya— memberi signal pada Songjin untuk memberi sedikit sapaan berbasa basi, namun gadis itu malah hanya berdiri mematung.

Tangan Songjin saling terkepal kencang menandakan gadis itu sedang terkekung panic, takut, terkejut, atau langsung ketiganya sekaligus. Apapun itu, Cho Kyuhyun benar-benar menikmati reaksi konyol gadisnya.

“hei!” Senggolan Kyuhyun pada lengan Songjin sebenarnya cukup keras. Cukup untuk membuat gadis itu oleng. “katakan sesuatu!”

“Rapat!” bisik Songjin. Kyuhyun menutup setengah wajah dengan kertas ditangannya— tertawa geli. Itu yang sejak tadi ingin diberitahukannya pada Songjin, namun gadis itu selalu menginterupsinya.

“sudah kukatakan kan?”

“Tapi kau tidak—“

Mata Kyuhyun segera menjadi tegas menatap Songjin. Gadis itu lantas mendesah pasrah menyerah dan menggerutu “Ugh, baiklah baiklah!” umpatnya kembali menghadap puluhan orang disana lalu tersenyum canggung— memberikan lambaian lima jari.

“H—halo, a— aku teman… um.. maksudku… berteman.. umm… begini, namaku—“

“Yoon. Lanjutkan.” sela Kyuhyun memotong kecanggungan Songjin— berinteraksi pada suasana baru. Seluruh mata memandanginya. Kyuhyun pasti tahu seberapa besar kepanikan Songjin saat ini.

Tanpa berbicara lagi, dia membawa Songjin menuju salah satu kursi ditengah meja panjang disana. Satu satunya kursi yang menghadap ke whiteboard— bukannya saling berhadapan.

“lebih baik aku pu—“

“diam sajalah kau.”

“ini sedang rapat.” Songjin berbisik pada Kyuhyun yang cekatan membereskan kertas-kertas didepan dadanya— menumpuknya menjadi satu.

“karena itu kukatakan. diam.”

“Maksudku—“

“ssst berisik!”

Dalam tiga detik saja, Songjin bisa merasakan deru napas yang panas— keluar dari hidung Kyuhyun. Pria itu berdiri dibelakang kursinya setengah membungkuk. Menyandarkan dagu diatas puncak kepalanya. Mereka sama-sama menghadap whiteboard.

Sama sama mengabaikan reaksi canggung, pegawai lelaki bernama Yoon yang sedang menjelaskan sesuatu disana, atau reaksi pegawai lainnya— yang juga sama-sama membulatkan mata melihat atasan mereka tampak berhimpitan pada seorang gadis konyol yang tadi tiba-tiba menyeruak masuk.

Itu adalah pemandangan yang tak pernah dipertontonkan Kyuhyun pada siapapun diruangan itu. Tentu saja, beberapa, bahkan nyaris seluruh orang disana bertanya-tanya mengenai hubungan bos muda mereka dengan gadis aneh bernama Park Songjin seperti yang tadi telah Kyuhyun perkenalkan.

Jadi gadis ini adalah calon istri Cho Kyuhyun? siapapun didalam ruang rapat itu tak akan ada yang pernah memahami dimana letak keserasian itu— selain modal wajah tampan dan cantik saja.

“Kau perlu ke dokter Kyuhyun-ah.”

“mm.”

“— lebih cepat lebih baik.”

“Aku tahu.”

“Sekarang?”

“Tidak bisa.”

“Kupikir tidak masalah meninggalkan rapat ini. Kau akan tetap tahu hasilnya. Ada Henry!” Bisikan Songjin mulai terdengar oleh seorang pegawai wanita dibaris terdekat dari kursi Kyuhyun.

Wanita itu menolak untuk menoleh dan memaksakan diri tetap menghadap whiteboard sambil terus memasang telinga. Tipikal pegawai penggosip seperti biasa.

Songjin bisa merasakan guncangan pelan ketika Kyuhyun tertawa renyah “kupikir kemarin kau menginginkan cincin dengan batu rubi sampai liurmu menetes, dan kau tahu berapa harga cincin itu—“

“Cih,” Songjin mendecah cepat, “aku bisa membelinya dengan uang saku ku, kalau itu yang kau maksud.” katanya ketus. “lebih baik kita pulang sekarang.”

“Nanti.”

“Yaaa!”

“Aku butuh uang lebih banyak untuk honeymoon Italia mu”

“ya ampun, aku juga bisa kesana sendiri.”

Kyuhyun tertawa lagi. Kali ini lebih renyah dan kencang walau tak sampai membuat seluruh kepala menoleh untuk mencari tahu apa yang sedang atasan mereka lakukan.

“Dan omong-omong, aku tidak ingin ada bulan madu keparat—“ jengkel Songjin melanjutkan meremas punggung tangan Kyuhyun diatas meja kuat-kuat. “ayo pulang, Kyuhyun-ah!”

“Nanti, Songjin.”

“Apalagi? Kenapa?”

Kyuhyun mendesah panjang dan terdengar luar biasa lelah “Ini tugasku. Kewajibanku adalah berada disini paham atau tidak aku dengan penjelasan mereka. Biar kuselesaikan rapat ini, lalu kita bisa melakukan apa yang kau mau. Okay?”


4. His Understanding

Siang itu ketika kaki panjang Choi Siwon baru saja menginjak pelataran bandar udara, satu hal yang membuat Songjin terpana adalah ketika pria itu langsung memeluk sang istri— Lee Gyuwon— tanpa memiliki urat malu, pria itu menjejalkan bibirnya pada bibir Gyuwon, seolah mereka adalah pemilik Incheon Airport.

Sedangkan Kyuhyun, pria itu terpekur jijik memandangi sang kakak sambil menggerutu. Dia kemudian menyerahkan kopernya kepada Songjin. Wanita yang telah dua pekan ini tak ditemui, atau dihubunginya.

“Ini apa?” keluh Songjin saat Kyuhyun telah berjalan lebih dulu meninggalkannya. Pria itu hanya menoleh cepat dan memandangi kopernya, kemudian Songjin berulang kali— selama beberapa kali lalu menjawab begitu polosnya, “koper” begitu ucapnya.

“aku tahu!!”

“Oh syukurlah. Kukira kau lupa apa nama benda itu.”

Kyuhyun mengatakannya begitu santai lantas melanjutkan langkahnya sambil bersiul dan memasukan kedua tangan ke dalam saku. Pria tampan itu, membiarkan sang istri membawa kopernya sementara dirinya sendiri membawa satu buah ransel hitam— dan sementara lainnya, sang kakak, Choi Siwon, berjalan saling merangkul bersama wanitanya.

Ada dengusan jengkel ketika Park Songjin menyadari betapa sikap Kyuhyun sungguh berbanding terbalik dengan Siwon mengenai kesopanan dalam memperlakukan wanita.

Kekesalan itu masih berlanjut di dalam restaurant. Semuanya terpicu ketika Siwon mengatakan betapa pria itu merindukan Gyuwon dan merasa tersiksa karena terpisah beberapa waktu.

Baiklah, itu memang terdengar menggelikan. Pun ketika sampai pada telinga Songjin. Tetapi Songjin masih merasa bahwa sikap berlebihan Siwon masih jauh lebih baik daripada Kyuhyun yang hanya menjawab, “Tentu saja aku ingin Songjin berada disana juga. Karena dengan itu aku bisa mendapatkan kopi dan ramyeon instanku tanpa aku harus repot-repot membuatnya sendiri.”

Jadi katakanlah, apakah itu sebuah pujian? Karena Songjin malah merasakan sebaliknya. Seharusnya Gyuwon tak perlu menanyakan mengapa Kyuhyun tampak terlalu santai ketika pada akhirnya pria itu bertemu dengan Songjin.

“Itu tidak terasa sama tanpanya.” Kyuhyun melanjutkan saat Songjin telah melengos lebih dulu menuju mobil ketika mereka akan bertolak pulang pada tujuan masing-masing.

“Jadi, kita pulang?”

Hening. Kyuhyun begitu yakin Songjin telah berada disampingnya dan belum tertidur ketika dirinya bertanya sambil memasang sabuk pengaman ditubuhnya.

Dirinya menoleh untuk memastikan. Menemukan Songjin memainkan ponsel dengan telinga tersumpal headset. Pantas saja.

Kyuhyun lantas melepas satu dari dua penyumpal telinga Songjin dan mengulangi pertanyaannya. “Jadi, kita pulang?” ulangnya memberi banyak penekanan pada setiap katanya.

“Terserah kau saja.” sahut Songjin ringan. “Pulang, okay. Pergi, okay. Tetap disini juga okay. Ini mobilmu, kau yang mengemudi.”

Kening Kyuhyun mengerut sesaat, “kau baik-baik saja?”

“Sempurna.”

“Oh, benarkah?”

“Yeah!” Sinis Songjin membalas. Wanita itu memasang headset lagi pada telinganya— kini, music dari alat pendengar itu dapat terdengar hingga di telinga Kyuhyun. Suara tabuhan drum itu terdenger cukup mengerikan ditelinga pria tinggi disana.

“Kau tahu Songjin—“ Kyuhyun mengawali dengan melepaskan satu penyumpal telinga itu lagi kemudian tersenyum tipis kepada Songjin, “ada banyak cara untuk mengatakan ‘aku merindukanmu’ dan ‘aku mencintaimu’ tanpa aku perlu mengatakan ‘aku merindukanmu’ atau ‘aku mencintaimu’ secara terang-terangan. Apa kau mengerti dengan hal itu?”

Pria itu tersenyum lagi— lebih lebar, “seperti ini—“ Kyuhyun merapatkan tubuhnya pada tubuh Songjin hingga wanita itu secara otomatis ikut memundurkan tubuh hingga kepalanya menekan jok mobil.

Yang Songjin tak sadari, Kyuhyun hanya sedang mencoba merih sabuk pengamannya, kemudian memasangkan pada kunci otomatis sabuk pengaman disamping kursi. Kyuhyun tertawa ringan menanggapi kepanikan Songjin.

“Pakai sabuk pengamanmu. Itu salah satu contoh sederhana dari kalimat aku mencintaimu— karena aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu didalam perjalanan, hanya karena kau tidak menggunakan sabuk pengaman.” jelasnya. Hidungnya masih berhimpitan dengan hidung Songjin. Kesempatan itu digunakannya untuk menggesekkannya kemudian mengecup kilat bibir tipis Songjin, lalu baru kembali pada posisi awalnya.

“Aku berkata aku ingin kau berada disana, dan perjalananku terasa berbeda tanpa kau ikut bersamaku, juga adalah contoh dari kalimat aku merindukanmu.” Papar Kyuhyun.

Pria itu menyudutkan punggungnya pada pintu mobil; lantas melipat kedua tangan— memerhatikan Songjin saksama meski wanita itu kini menolak untuk berseborok mata dengannya. “Aku ingin merasakan ramyeon dan kopi buatanmu, juga adalah salah satu contoh bahwa aku merindukanmu. Tadi, saat aku bertanya padamu ‘apa kau lapar?’ adalah pertanyaan sederhana, contoh bahwa aku mengkhawatirkanmu.” lanjut Kyuhyun panjang.

“Kau datang kemari pagi-pagi. Kau lebih dulu pergi kerumahmu dan menitipkan Hyun Gi disana lalu kemari— apa kau tidak berpikir mungkin aku sedikit bertanya-tanya pukul berapa kau bangun tadi, dan apa kau sudah mengonsumsi sesuatu untuk sarapanmu? Ini bahkan sudah jam makan malam dan tadi kau tidak terlihat tertarik pada makan malam mu”

Cho Kyuhyun menghelakan napas panjang dan berat “Jadi kau memang benar tidak mengerti apa-apa.” desahnya tampak putus asa. “apa aku harus menjabarkannya satu persatu padamu bahwa aku benar-benar merindukanmu?”

126 thoughts on “[KyuJin Series] 10 Reasons To Love You (Cho Kyuhyun) — 2

  1. Hahaha…songjin gak liat2 sekeliling dulu y,gw ngakak bayanginnya apalagi kyuhyun dengan kompres tempel di jidatnya selama rapat trus waktu kyuhyun berdiri di belakang kursi songjin sambil menyandarkan dagu diatas puncak kepala songjin di tengah2 rapat menurut gw itu sweeeeeeet banget apalagi percakapan mereka

    Terkadang wanita juga ingin kata-kata ” aku mencintaimu ” dan juga kata ” aku merindukanmu ” keluar dari mulut prianya kyu…walaupun dia sebenarnya tau kalau pria nya itu merindukannya dan mencintainya. Sekali2 mengucapkan kata itu takkan mengancurkan harga dirimu kan kyu….

  2. duh. mati konyol deh songjin. aku tau punya suami kyk kyuhyun memang kadang2 nyebelin. ya kalau aku jd songjin juga mungkin kesel setengah mati haha

    tapi ya. gimana. kyuhyun. yang penting dia tergila gila sama kamu, hahhhhhh indahnya hidupmuu

  3. hahaha songjin dih polos abis itu lgs masuk gitu aja lagi rapat! hahaha kenapa sih kyuhyun yah sikapnya sifatnya tuh bikin meleleh selalu?! ngebayangin mukanya dan dia ngomong dan berlaku kaya giru tuh kaya yg omg suami idaman sepanjang masa aaaaaaaakkk baca ginian aja bikin iri gimana kalo nyaksiin lgs ada pasangan yg kaya gini huft pengennya aku yg ngerasain kaya gini hihi amin ah lol

  4. Spertinya mau smpai kapanpun kyu harus slalu mnjabarkn smua hal yg drasakannya pda songjin…krna songjin akn slalu slah menafsirkan perkataan penuh makna seorang cho!!

  5. wkwkwk yg panik ga sikon langsung nerobos aja malu banget tu songjin he..he..,kyu emang romantis walau caranya beda ma yg lain dan terkesan cuek sih

  6. Dasar Songjin maen terobos aja deh ya tp maklum sih namanya juga Park Songjin yg kl panik pasti jd koslet otaknya hahahahaha……Kyuhyun kl ama Songjin mah lebih baik to the point aja jgn muter2 krn tu sendiri kan kapasitas otak Songjin yg cenderung suka kurang isinya hehehehehehehe

  7. Kadang yah ketololan songjin itu ga liat umur..
    Lagian saking kwatirnya sampe ga menyadari kehadiran pegawai2 kyuhyun..
    Panik sendiri, malu sendiri..
    Dan gue adalah salah satu yg bersorak sorai atas kekonyolan ini…

  8. haa, ribet…

    ini songjin kyuhyun dia tdk akan megerti dengn kode kode seperti itu, apa susahnya sihhh bilang “songjin aku merindukanmu” buat songjin slh paham aje deh😑😑😑

  9. Ngakak pas songjin nrobos msuk keruangan kyuhyun, pdhl d stu lg ada rapat hahaha songjin songjin kau konyol sekali 😀

  10. songjin heboh lebih dulu karena khawitir perhatian juga, gegara kyuhyun sakit tp tak tau memperhatikan keadaan dan tempat bikin malu sendiri:v,
    kyuhyun so sweet

  11. Jadi halu tingkat tinggi baca ff ini..😅😅😅 ..gara2 merindukan KyuKyu yg lagi anteng jadi pegawai kantoran 😁😁😁
    ini hanya ff..tapi rasanya maniis bangeet ya..apa pangeran KyuKyu semanis ini juga di kehidupan nyata..akhhhh..haluuu..
    Thank Galuh buat cerita2nya..tdk bosen2, kadang ku ulang2..he..he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s