[KyuJin Series] 1st Apologize


[KyuJin Series]

1st Apologize

Cho Kyuhyun | Cho Hyun Gi | Park Songjin |

Vignette

“BOOM!”

Begitu suara Hyun Gi terdengar lagi di dalam ruang santai. Bersama dengan itu, sebuah pajangan keramik khas China telah terbelah menjadi dua dan orang pertama yang berjalan— ralat — berlari sangat cepat menghampiri batita tersebut adalah Cho Kyuhyun.

Hal yang Kyuhyun lakukan adalah pertama: mengangkat bayi berusia 16 bulan itu tinggi-tinggi. kedua: memastikan tubuh putranya tak terkena serpihan keramik dan ketiga: membawa Cho Hyun Gi kesudut ruangan. Mendudukan bocah laki-laki itu pada kursi duduknya dan memandangi nanar.

“Kau sudah melakukannya tiga kali.” ucap Kyuhyun mengawali— duduk bersila dihadapan putranya dengan bahu sangat tegap. Serupa ketika memanggil pegawainya yang diketahui tidak bekerja sesuai aturan.

“— Kau tahu itu berbahaya? yang kau lakukan tadi?”

“Pa~”

“Jangan menyela saat aku sedang bicara padamu Cho Hyun Gi!” Kyuhyun tidak membentak, tetapi suaranya meningkat dari volume rendah yang semula digunakannya.

“Yang kau pecahkan itu adalah keramik. Bagaimana jika keramik itu menggores kakimu? tanganmu? atau wajahmu?”

Cho Hyun Gi malang masih tak memahami mengapa Appa memaksanya duduk disini dan berbicara dengan mata melotot. Cho Hyun Gi pun tak paham mengapa Appa terlihat begitu menyeramkan dan berbicara dengan jari telunjuk mengacung tepat di depan wajahnya. Hyun Gi hanya duduk santai bersandar sambil mengerucutkan bibir.

“Sudah kukatakan, kau boleh mengelilingi seluruh tempat ini, tapi tanganmu—“

“Memangnya dia mengerti dengan yang kau katakan?” Park Songjin menyela— berdiri disamping Kyuhyun. Kedua tangannya terlipat di dada. Wanita itu sempat memberi senyuman kepada Hyun Gi sebelum Kyuhyun menyadarinya lalu ikut memelototi istrinya; menegur.

Kyuhyun menghela napas “setidaknya” ujarnya berat “dia harus belajar—“

“enam belas bulan, Kyuhyun-ah. Apa yang akan dipahaminya dari seluruh omelanmu?”

Cho Kyuhyun diam sesaat lantas kembali menghela napas berat. Park Songjin yang dikenalnya memang tidak pintar, tapi dari seluruh hal konyol yang bisa keluar dari bibir wanita itu, pertanyaan tadi harus Kyuhyun akui, adalah benar.

Sayangnya bayi lahir tidak disertai buku panduan. Ini adalah kali pertama mereka mendidik dan Kyuhyun sudah dibuat pusing dengan ulah putranya yang seharusnya sudah bisa berjalan, namun entah mengapa masih belum tampak tanda-tanda itu, malah saat ini, kecepatan merangkak Hyun Gi bertambah tiga kali lipat.

Dan tidak hanya merangkak. Tangan batita itu kerap kali usil menyentuh lalu mendorong apapun yang ada disekitarnya. Bibir mungilnya akan menyuarakan “BOOM!” ketika benda-benda itu jatuh dan Hyun Gi bertepuk tangan sebagai penutup.

Itu adalah hiburan sederhana dengan daya tarik paling canggih karena setiap kali Hyun Gi menjatuhkan suatu benda, seseorang akan dipastikan mendekat, lalu membawa ‘karung beras’ itu menjauh dari tempat kejadian perkara.

Adalah bencana, ketika sang ayah yang menemukannya sedang berulah. Appa tidak pernah terlihat senang saat sedang mengangkatnya, karena wajah Appa selalu terlihat menyeramkan setelahnya. Ah, jika saja Cho Hyun Gi bisa berbicara selancar itu.

“Kau akan duduk disini dan tidak akan mendapatkan makan malam mu sampai kau mengerti yang kau lakukan adalah salah. Mengerti?”

Hyun Gi tidak mengangguk tetapi Kyuhyun mendengar jawaban lain berupa semburan tawa Songjin. Wanita itu segera menutup bibirnya dengan telapak tangan ketika mereka bertatapan “Serius?” cibir Songjin padanya.

Kyuhyun hanya berjalan menyeret istrinya menjauh dari Hyun Gi yang kini sibuk berteriak “Up up up” kepada mereka. Kyuhyun bisa membayangkan seberapa menyedihkan raut wajah putranya tetapi terkadang, Cho Hyun Gi perlu mendapatkan pelajaran dari sikap buruknya.

Hampir seluruh orang disekitar bocah itu termasuk wanita disampingnya ini, selalu memanjakan Hyun Gi. Bukan berarti Kyuhyun tak setuju pada konsep kasih sayang seperti itu tetapi segalanya harus seimbang, bukan?

“Biar aku yang membereskan ini.” Kyuhyun lebih dulu berbicara saat Songjin akan menyingkirkan pecahan vas keramik dilantai. Wanita itu hanya mengangguk-angguk patuh, lalu memandang ke depan pada balkon deck mereka.

Dia lantas berseru “Kyuhyun-ah apa di deck utama sedang ada pesta? kenapa aku melihat ada kembang api—“

“Hey!” Kyuhyun menggelengkan kepala, “jangan keluar. Diluar hujan.”

“Tidak deras.”

“Tapi hujan.”

“Apa sedang ada pesta di deck utama?”

“Ya.”

“Lalu kenapa kita masih disini?”

“Karena aku menginginkannya.” Jawab pria tinggi itu santai menumpuk pecahan vas dan membawanya menuju bak sampah terdekat. “Duduk saja dikursimu lagi nona dan amati putramu apa dia mendengarkan perintahku atau tidak.”

** **

“Jadi, apa kau sudah menyadari kesalahanmu, young man?”

Hyun Gi diam. Tak menjawab apapun, malah mendorong kursi duduknya semakin ke belakang menjauh dari sang ayah. Park Songjin yang melihat, sesungguhnya ingin segera menertawai Kyuhyun tepat didepan wajah pria itu.

Entah mengapa akhir akhir ini Kyuhyun terasa lebih galak daripada biasanya. Tak hanya padanya, kini putra semata wayang mereka pun terkena imbasnya. Liburan satu bulan penuh diatas kapal pesiar seharusnya menjadi hal yang menyenangkan, bukan?

Hyun Gi masih diam. Dan Kyuhyun masih setia mengamati putranya— yang entah mengapa terlihat takut padanya, alih-alih menyadari bahwa ulahnya telah membuat jantung ayah muda ini nyaris lepas dari tempatnya.

“Bagaimana?” tanya Kyuhyun lagi.

Hyun Gi terlihat ragu-ragu merundukan kepalanya. Batita itu memainkan kakinya sendiri dengan bibir mengerucut tanpa berkata apa-apa, seolah paham bahwa dirinya sedang terkena masalah besar.

Ada suara senggukan yang kemudian terdengar begitu lembut. Ketika seharusnya Kyuhyun merasa iba, pria tampan ini malah menaikan satu alisnya sambil mengamati bocah mungil di hadapannya. “Kau menangis karena lapar? atau kau mengerti yang kau lakukan adalah salah?”

“……..”

“ingin memakan makan malam mu?”

Kepala kecil itu perlahan bergerak. Perlahan-lahan, Cho Kyuhyun bisa melihat wajah putranya— hidungnya memerah karena menangis. Saat itulah pertahannya runtuh. Jelas, batita menggemaskan ini serupa dengan sang ibu yang selalu bisa merusak rencananya berperan sebagai kepala keluarga yang baik dan tegas— hanya semudah meneteskan air mata saja.

“Shoo~”

“Huh?”

“Appapapa Shoo~”

Shoo adalah kata sorry yang tak bisa diucapakan Hyun Gi dengan lancar dan entah bagaimana, pelafalan sorry benar-benar jauh bergeser menjadi hanya Shoo. Apapun itu, kini Kyuhyun merasa cukup puas— bahwa keputusannya memberi pelajaran kepada Hyun Gi adalah tepat.

Harus Kyuhyun akui, putranya memang cerdas. Atau sebaiknya Hyun Gi berterimakasih padanya karena dirinya berbaik hati memberikan sedikit gen ‘menganggumkan’ itu padanya?

“Shoo~” ulang Hyun Gi lagi kali ini dengan kedua tangan menempel— salah satunya mengepal dan bergetar hebat. Jika menurut Park Songjin wajah Hyun Gi sungguh sarat akan penyesalan, Kyuhyun malah mengartikan hal lain— itu tampak seperti Hyun Gi takut padanya.

Kyuhyun mendengus panjang sebelum membawa Hyun Gi ke dalam gendongannya. “Coba dengarkan aku baik-baik, apa aku terlihat semenakutkan itu untukmu?” tanya Kyuhyun yang sempat Songjin dengar— dan membuat wanita itu segera menyahut “melihat wajah seperti itu siapa yang tidak takut?”— lalu Kyuhyun memberi pendelikan tajam pada istrinya dan berlalu.

Kyuhyun membawa Hyun Gi mengelilingi ruang santai— menjauh dari Songjin.

“Aku menghukum mu bukan karena aku membencimu— aku sangat menyayangimu. Itu sebabnya aku tidak ingin kau melakukan hal yang kau lakukan tadi. Saat tubuhmu tergores, bukan hanya kau saja yang akan merasakan sakitnya. Bagaimana dengan eomma nanti? Bagaimana denganku? Kau pikir kami bisa tidur nyenyak?”

“Shoo.”

“Yeah. Aku juga meminta maaf.” Kyuhyun tersenyum singkat kepada wajah mungil yang sedang menatapnya polos. Kedua mata Hyun Gi terbuka lebar berkilatan. “Shoo.” ucap Hyun Gi lagi. Kali ini dengan suara serak lalu tak lama kedua mata besar itu kembali mengeluarkan air.

Pria itu menghelakan napas panjang-panjang kemudian membuangnya perlahan lalu menepuk-tepuk punggung putranya lembut “Iya,” kata Kyuhyun lirih. “kau tidak perlu mengulangnya berkali-kali. Aku mengerti. Maafkan aku juga. Jangan menangis lagi.”

162 thoughts on “[KyuJin Series] 1st Apologize

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s