[KyuJin Series] Worddiction — Tacenda


[KyuJin Series] Worddiction 

Tacenda

Cho Kyuhyun | Park Songjin 

Oneshot

Pada suatu hari yang tak begitu cerah. Satu hari dengan awan yang tak berwarna biru namun abu-abu. Sepasang ke— ah, sebentar, seperti apa seharusnya mereka mendapatkan julukan? sepasang kekasih?

Yang benar saja! keduanya tak pernah mengakui itu meski dengan mata telanjang, orang buta pasti akan menyadari sebanyak apa interaksi penuh cinta yang berulang kali mereka saling lemparkan.

Maka, seperti apa seharusnya memberi julukan kepada mereka? sepasang sahabat? ini juga terdengar lucu karena sahabat tak akan memiliki perasaan mengikat jauh daripada ikatan yang dimiliki diantara dua orang ini secara tak tertulis. Sahabat tidak akan saling merasakan cinta dalam diam, benar?

Jadi inilah yang terjadi sore ini. Cho Kyuhyun dengan semangat berkisah mengenai olahraga yang tidak Park Songjin ketahui sama sekali dimana letak menyenangkan dari permainan slash olahraga tersebut.

Sedangkan gadis 19 tahun itu hanya menggeleng serta menganggukkan kepala lalu menggumam “ya ya” atau “itu bagus” pada apapun yang Kyuhyun ceritakan sampai pria itu bercerita hal lain.

“— dan aku akan pergi dengan mereka lusa untuk menonton pertandingan itu! kau bisa mempercayainya? Joon berhasil mendapatkan tiket untuk kami!” Cho Kyuhyun tampak berseri berkisah— senyuman lebar tak pernah hilang satu detik pun dari wajah maha tampannya.

Tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya yang ramai, Cho Kyuhyun kembali berujar, “karena, terakhir kali aku mencoba, aku gagal. Tiket pertandingan mereka telah habis bahkan sebelum mereka benar-benar tiba di Korea!”

Semuanya berlangsung seperti biasa. Percakapan mereka selalu terasa menyenangkan dan menyegarkan— itu, sampai pada percakapan tadi. Hanya tak kurang dari 1 menit yang lalu.

Hanya tidak lebih dari 1 menit Cho Kyuhyun berhasil menghancurkan aura menyenangkan karena Park Songjin mendadak memiliki aura kelabu usai pria tinggi itu bercerita penuh semangat mengenai team football dunia New England Patriots bertandang ke Korea Selatan.

“lusa?”

“Yeah. “ Kyuhyun mengangguk cepat. “Lusa. Jadi malam nanti aku akan berangkat.”

“Ulsan?”

“Yeah.”

“Kau.. bermalam disana?”

Kyuhyun tertawa. sempat menoleh kepada Songjin untuk memberi gadis itu pandangan aneh seolah Seoul – Ulsan memiliki jarak tempuh 2 atau 3 jam saja.

Karena itu Kyuhyun kemudian bertanya heran kepada Songjin “apa kau sedang bergurau sampai kehilangan akal sehatmu, nona Park?” tangannya menarik tuas rem tangan ketika lampu lalu lintas memaksa kendaraan beroda empat yang mereka naiki saat ini untuk berhenti.

“Kupikir kau yang sedang bergurau, Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun nyaris menggeleng ketika kembali menoleh. Wajahnya penuh dengan tanda tanya besar menggantung dikening. “lusa.” ulang Songjin penuh keyakinan. Kedua alisnya naik tinggi-tinggi seolah menggambarkan betapa kalimatnya akan terdengar sangat menarik.

“Tapi lusa ulang tahunku.”

Itulah yang terjadi.

Itulah mengapa Park Songjin tampak kesal dan tak lagi tertarik pada football tengik – keparat itu.

Lusa adalah ulang tahunnya ke 20. Menjadi gadis dengan usia kepala dua yang mana adalah pernyataan bahwa dirimu telah benar-benar menjadi dewasa, bukankah, hal itu adalah hal langka yang perlu dirayakan?

“Dan lusa, bukankah kita akan pergi ke Seoul Aquarium?— kau pencetus ide nya, bukankah begitu?”

Yeah. Kini Cho Kyuhyun yang mulai membatu. Bagus. Pria itu akan selalu mengingat tanggal kelahiran gadis pemakan segalanya ini. Bagaimana tidak, semenjak jatuh cinta pada Park Songjin, setiap hari hidup Cho Kyuhyun dirundung kecemasan.

Pemuda itu selalu menghitung dengan teliti kapan waktu tepat baginya untuk menemui Park Seul Gi dan Park Aeri secara resmi— memberitahu bahwa dirinya telah siap menikahi putri semata wayang mereka.

Kyuhyun selalu mengingat 12 April sebagai tanggal penting baginya tetapi dia tak pernah ingat dengan ide Seoul Aquarium itu? Dia pencetus ide nya? benarkah?

Oh ya ampun.

Kyuhyun menghela napas kala mengingat bagian itu. Dia mengatakan rencana itu setelah dirinya berlatih football rutin dan menghampiri Songjin dikelas live painting nya.

“Jadi….” Kyuhyun mengigit bibir bawahnya ragu. Dia tahu lusa, usia Songjin bertambah satu tahun lagi. Dia tak tahu— tunggu— dia lupa pada janji mereka— janjinya.

Songjin terlihat kesal. Kyuhyun tahu itu tetapi hey, New England Patriots tak akan setiap hari bertandang bukan? sedangkan gadis ini akan selalu ada sampai—

“Aku punya dua tiket.” seru Kyuhyun riang membuka dashboard yang berada dihadapan Songjin lalu mengeluarkan dua lembar kertas hologram persegi panjang. Menggoyang-goyangkannya tepat diwajah Songjin menempelkan tiket itu, pada hidung mancungnya.

Senyum Cho Kyuhyun kembali lagi dalam beberapa detik saja tetapi tidak dengan rasa nyaman Songjin, untuk terus berada didalam kendaraan tersebut, atau setidaknya berinteraksi dengan pemuda disampingnya.

Dirinya marah. Bukan. Sesunggunya ini lebih dari marah. Songjin kecewa bahwa kali ini, dirinya harus melewati ‘harinya’ seorang diri.

“bagaimana jika kita melupakan Seoul Aquarium dan kau ikut dengaku ke Ulsan!”

Tidak. Bukan itu yang ada dibayangan Park Songjin. Gadis itu sudah memiliki gambaran bahwa lusa dirinya akan menghabiskan satu hari penuh bersama Cho Kyuhyun berdua! ini bukan tentang seoul aquarium. Ini tentang— ah, bagaimana cara Songjin menjelaskan ini kepada Kyuhyun?

Songjin menggeleng perlahan dan berkata “tidak.” Tak ada senyuman dan Songjin membuat air mata yang terasa akan tumpah untuk setidaknya bertahan 10 menit lagi. 10 menit lagi mereka akan tiba dirumahnya dan Songjin telah berencana untuk langsung pergi meninggalkan Kyuhyun bersama dengan football keparatnya.

“Tidak?”

“Tidak.” ulang Songjin. “aku— aku tidak tertarik dengan—“

“Kau tidak perlu menyukai football. Kau datang untuk menemaniku.”

“Kau bersama teman-temanmu,” balas Songjin terlalu cepat. Nyaris menggeram dan nyaris menumpahkan air mata kecewanya.

“Tapi aku ingin ka—“

“aku tidak ingin.” kesabaran Songjin mulai menipis. “apa kau pikir kau selalu bisa sesukamu mengatur, membawaku, tanpa kuketahui, pada hal-hal yang tidak kusukai,”

“Denganmu?” Kyuhyun menurunkan tuas rem tangan. Mencoba menginjak pedal gas perlahan tetapi rasa kecewa mulai mengisi tubuhnya yang terasa ringan setelah penolakan Songjin. “Ya. Tentu saja bisa. Karena memang hanya denganmu saja aku bisa bersikap sesukaku.”

Seharusnya Songjin tidak menolaknya. Seharusnya, di Ulsan lusa dia bisa memberikan hadiah ulang tahun untuk gadis itu dengan cara lebih baik. Tanpa perkelahian, tanpa debat. Mungkin melalui layar raksasa stadion misalnya? atau hanya saat mereka di hotel?

Entahlah— dimanapun itu, kali ini dia harus melakukan dengan cara lebih baik daripada tahun sebelumnya karena tahun ini adalah tahun terakhir Songjin menjalani harinya sebagai gadis lajang, bukankah begitu? itu jika semua berjalan sesuai dengan rencananya.

Tetapi hening. Itulah yang fakta yang terjadi usai penolakan terucap.

Lalu Cho Kyuhyun sibuk dengan kemudi beserta runtukan dalam diamnya, sementara Park Songjin dalam diam memainkan ponsel membuka sebuah situs maskapai penerbangan— sampai Kyuhyun benar-benar melihatnya— kemudian terburu-buru seolah panic menyimpannya.

“New Zealand? kau pasti bercanda!”

“Aku tidak sedang—“ jelas Songjin kemudian Kyuhyun menyela, “Jadi kau marah, dan akan pergi?”

“Aku tidak marah!” Songjin mengerutkan kening kencang-kencang “Orangtuaku sedang berada disana, dan kupikir, lebih baik aku menghabiskan ulang tahunku dengan seseorang daripada mati bosan seorang diri dirumah.”

“Siapa bilang kau harus melewatinya seorang diri? aku akan membawamu ke—“

“kau akan membawaku? kau pikir aku benda mati? aku bukan kopermu.”

“Songjin,”

“Kembalikan ponselku!”

“Dengar— kau tidak boleh pergi. Aku ingin—“

Songjin mendengus lebih kencang daripada sebelumnya. Melepaskan sabuk pengaman lalu separuh berdiri dikursinya berusaha menjangkau ponsel miliknya karena Kyuhyun mendudukinya— dan tak juga berminat untuk bergeser.

“Kyuhyun-ah, kembalikan ponselku!”

“Tidak.”

“Kyuhyun-ah!”

“Pakai lagi sabuk pengamanmu, Park Songjin.”

“Ponselku.”

“Duduk dengan tenang saja dan dengarkan lagu ini.”

Kyuhyun membesarkan volume radio lalu music mulai menggema disepanjang ruang kosong mobil.

Suatu hari yang kini telah menjadi sangat tidak begitu cerah— mendung, dan hujan mulai turun perlahan lahan, seiring dengan air mata Park Songjin kala itu akhirnya mulai terjatuh, Cho Kyuhyun sang tersangka tak bisa lagi bertingkah pura-pura tidak melihat.

Bahunya yang menegang lantas mengendur. Ponsel milik Songjin telah berada ditangannya. Pria itu menoleh sesaat sebelum benar-benar menyerahkannya, “tolong jangan kau gunakan untuk memesan tiket pesawat.” pintanya bersungguh-sungguh kemudian meletakkannya diatas pangkuan Songjin.

“Kau bisa bersenang-senang dengan temanmu. Kenapa aku tidak?” Songjin mendesah pelan “ini bukan masalah besar.” Bohong. Sesungguhnya ini adalah masalah besar bagi keduanya, tentu karena alasan serupa— bahwa keduanya ingin menghabiskan hari bersama-sama, namun tentu pula, tak akan mereka katakan satu sama lain.

Ada keheningan yang perlahan-lahan kembali menyelimuti mereka, mengisi dialog antara kedua remaja penuh cinta dalam diam serta ke egoisan.

“Berapa lama?” Kyuhyun mencoba terlihat tenang bertanya usai menghentikan mobilnya tepat didepan kediaman Songjin.

“Dua pekan? tiga? Entahlah. Ini sedang libur musim semi aku bisa berlibur selama yang kuinginkan.” Songjin mengedikkan bahu. Seringaiannya mulai muncul perlahan-lahan samar, “atau bisa lebih lama lagi” tambahnya membumbui— entah mengapa tambahan jawaban terakhir tadi dirasanya perlu. Berharap Kyuhyun akan merasa menyesal lalu menangis meraung memintanya tinggal.

Namun alih-alih terkejut, Kyuhyun malah tampak terpekur. Yang Cho Kyuhyun lakukan setelah itu hanya menarik napas panjang lalu membuangnya cepat. Menyandarkan punggung pada kursi, lalu bersedekap dan memejamkan mata.

“Jadi—“ Songjin berucap ragu, “sampai jumpa tiga pekan lagi, kurasa?”

Masih hening sampai Kyuhyun mendesah panjang, membuka mata “bagaimana kalau—“ pria itu menggeser duduknya menyudut pada pintu— berdehem membersihkan tenggorokan lalu berkata lagi, “bagaimana kalau lusa kau ikut denganku dulu, lalu tepat setelah pertandingan usai, kita menyusul orangtuamu, Hng?”

Songjin mengedipkan matanya beberapa kali berharap apa yang didengarnya adalah lelucon baru Kyuhyun tetapi wajah pria itu tidak tampak seperti sedang mengutarakan lelucon barunya.

Maka setelah Songjin memutuskan bahwa Kyuhyun sedang berbicara serius padanya, kini gadis itulah yang tak tahu harus melakukan apa. “Kita?” kening Songjin berkerutan. “Kenapa?” hanya pertanyaan sederhana itu yang melintas didalam kepalanya saat ini.

Mungkin karena dua sampai tiga pekan adalah waktu yang terlalu lama baginya pergi dan Kyuhyun merasa tidak nyaman?

Atau mungkin, karena dalam dua sampai tiga pekan tanpa pengawasannya, akan memberikan peluang bagi Songjin untuk bertemu orang baru— mungkin juga merasa jatuh cinta, dan Songjin akan melupakannya semudah debu dalam jendela usang dibuang?

Tetapi lagi, Kyuhyun tidak mungkin mengatakannya, karena keberanian pria itu masih baru sebesar biji jeruk, benar?

Maka Kyuhyun hanya mengeleng memberi jawaban. Lalu mengedikkan bahu santai, “aku juga ingin berlibur?” jawabnya ragu kemudian tertawa hampa. Kosong tak berisi.

Pahit mengingat apa yang dirasanya, tak sesuai dengan apa yang dirinya ucapkan.

Dia menoleh pada Songjin mendapati gadis itu masih diam ditempatnya dengan wajah mengernyit aneh. Kyuhyun kembali tertawa. Kali ini bukan jenis tawa hampa seperti tadi. Tawa kali ini, lebih terasa bernyawa. Dia berkata bahwa “tapi sepertinya aku tidak bisa berada disana sampai tiga minggu. Ada jadwal pertandingan ditengah libur musim semiku.”

“Dan kau bekerja.” Songjin menyahut.

“Dan aku bekerja. Yeah.” Kyuhyun mengangguk— menyelipkan helaian rambut panjang Songjin kebelakang telinganya. “Jadi, bagaimana?”

“aku—“ Songin merasa tenggorokannya mulai tercekat. Senyuman kering perlahan mulai muncul, “ dengar, aku tahu aku tidak memiliki banyak orang yang kukenal, disekitarku, tapi kurasa aku tidak perlu kau kasihani dengan—“

“Hei, aku mengasihanimu? Yang benar saja,” Kyuhyun mendorong kening Songjin dengan telunjuknya hingga gadis itu separuh terhuyung kebelakang. “aku-juga-ingin-berlibur. Sudah kukatakan!”

“Tapi kenapa?”

“Kenapa?”

“Yeah. Kenapa kau harus ikut denganku? kau bisa menghabiskan waktu dengan anggota footballmu.”

Karena aku harus menghabiskan waktuku selalu denganmu?

Karena kau harus selalu berada didalam jangkauanku?

 

Tunggu ini adalah jawaban lebih mudah lagi: karena aku menyukaimu, dan mungkin jika keberanianku terkumpul, lusa aku akan melamarmu? Tapi kalaupun tidak berhasil, setidaknya kita masih bersama dan aku masih bersamamu saat usiamu bertambah. Jadi bisakah kau tidak mempersulit keadaan dan membantuku kali ini? Katakan ya, dan buat ini menjadi mudah.

Cho Kyuhyun menarik napas panjang dengan mata terpejam. tersenyum samar selama beberapa detik lalu menoleh pada Songjin— tertawa renyah, memainkan ujung rambut panjang gadis itu sembari mengedikkan bahu menjawab dengan ragu “Entahlah.” katanya singkat menghela napasnya. Tersenyum lagi, mengedikkan bahu lagi lalu menggeleng, “Kupikir, menghabiskan waktu dengamu akan terasa lebih menarik nanti.”

119 thoughts on “[KyuJin Series] Worddiction — Tacenda

  1. To the point aja napa kyu..
    Harus deh muter2 dlu..
    Tapi gue suka banget yg bagian kyu maenin rambut songjin..
    Kesannya sweet gimana gitu… biarpun dimata songjin entah apa maknanya..
    Tapi tau ga sii loe songjin, kalo kyu itu beneran jatuh cinta sama loe..
    Dan kalian berdua cuma maen kucing2 an sama perasaan kalian sendiri..
    Makanya gue tegesin lagi kalian itu manusia ga PEKA..
    Hufft..

  2. ishhh pengen di timpuk tuh si kyupil tnggal blang doang ya allah ssh bngt klo gensi jngan tinggi2 ntar akhirnya jatuh jga..

  3. sesulit itukah bilang cinta ? mrk udh kayak disuruh minum racun aja. susahnya minta ampun. padahal tinggal selangkah lg

  4. kyuhyun sih pake bilang mau ngajak songjin pergi apalagi dihari lahirnya songjin dan dia sendiri yang ngingkarin perkataannya. Ajeg ya kyuhyun: sukanya ingkar janji. Dilema antara nonton tin kesayangan atau nemenin seseorang terdekat dihari jadinya dia :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s