[KyuJin Series] 10 Reasons To Love You (Park Songjin) — 4


10 Reasons to love you 

Cho Kyuhyun | Park Songjin

 

7-8

[The way she strive for something]

“Itu hanya telur gulung! Kau bahkan benar-benar tidak bisa membuatnya??”

Hanya suara penuh tanya serta intimidasi Park Aeri ketika terperangah setengah mati pada putrinya— yang terakhir Kyuhyun dengar sebelum dirinya memaksa diri melengos menuju halaman kosong belakang kamarnya.

Dia tidak pernah menyukai pemandangan seperti itu— saat seseorang terang-terangan memaki istrinya— siapapun itu, ada perasaan tak nyaman yang menyerang.

Masalahnya kali ini dia tidak bisa berbuat apa-apa mengingat Songjin sendiri yang memutuskan untuk berhadapan dengan ibunya untuk hal yang tadi disaksikannya sendiri.

Kyuhyun tidak tahu apa yang melatar belakangi hal tersebut mengingat biasanya, Songjin selalu ingin berjauhan dari sang ibu jika telah menyentuh urusan dapur. Dan dirinya selalu setuju akan gagasan tersebut.

Kemarin Kyuhyun sempat bertanya, jika mungkin ada cara lain selain mempertemukan Songjin dengan Park Aeri di dapur, tetapi Songjin mengatakan hal tersebut tidak diperlukan.

Sekarang, Kyuhyun hanya dapat menjauhkan diri dari dapur sampai telinganya tidak sanggup menjangkau suara kencang omelan ibu mertuanya sambil berharap cemas semoga Songjin akan baik-baik saja.

Kau tahu baik-baik saja yang dimaksud disini bukan?

1 jam 30 menit kemudian Cho Kyuhyun baru memberanikan diri keluar dari kamarnya. Telinganya dipasang tajam, mencoba mencari suara ketus Park Aeri namun sepertinya acara masak memasak ibu dan anak itu telah berakhir. Jadi Kyuhyun mulai berjalan perlahan-lahan menuju dapur.

Dia lantas dikejutkan oleh kondisi dapur yang kacau balau. Bayangan bahwa acara masak memasak telah usai ternyata hanya ada didalam bayangannya saja. didapur, Songjin masih sibuk berada didepan kompor. Wanita 53 tahun yang tadi menemaninya kini entah hilang kemana.

“Belum selesai— chef?”

Songjin mendengus sambil tertawa tipis. Panggilan chef tak pernah pantas baginya. Satu-satunya yang bisa dirinya masak tanpa ada kekacauan yang terjadi mungkin hanyalah mie instan.

Dari angka 1-10, kemampuan memasak mie instannya berada diangka 8— karena hanya itu yang selalu dikonsumsinya saat berada dirumah seorang diri— ketika orang tuanya tak pernah ada dirumah.

“Jadi,” Cho Kyuhyun menyadarkan diri ditembok— terus memandangi wajan berisi telur kocok setengah matang yang baru Songjin masukan tetapi sudah nyaris menghitam dipinggirannya— nyaris gosong.

Dia menunjuk bagian tersebut menggunakan dagunya kemudian Songjin cepat terdasar dan langsung mengecilkan api dikompor. “pukul berapa kira-kira aku bisa mendapatkan gulingku kembali?”

“guling?”

“Aku ingin tidur Songjin,” ucap Kyuhyun sedikit mengerang. Tak lupa pria tinggi itu menguap seolah menggambarkan betapa lelah dirinya kini. “— tidak bisa tidur karena tidak ada guling.”

Kedua mata Songjin saling mengerjab— sungguh dalam konotasi buruk. Dia tidak mengerti sedikitpun pada maksud perkataan Kyuhyun sampai pria itu menunjuk kakinya dengan dagu dan matanya.

“Ya ampun.” desahnya panjang “lepas saja kakiku kalau kau begitu” runtuknya terdengar sebal. Tak menghiraukan tawa Kyuhyun kemudian. “Jadi,” Kyuhyun memulai lagi.

“Bagaimana?”

“Apanya?”

“telur.”

“kau lihat sendiri bukan? aku sudah menghabiskan berapa butir telur dan hasilnya benar-benar menjijikan.”

Mata Kyuhyun menelusuri meja dapurnya yang dipenuhi dengan karton telur dan cangkangnya dimana-mana. Ada sebuah piring berisi tumpukan telur— dadar (mungkin)— atau, sebutlah seperti itu karena dirinya tahu, makanan dipiring hitam besar itu berbahan dasar telur meski bentuk dan warnanya jauh dari apa yang selama ini selalu dilihatnya.

Dia tidak bisa menghitung berapa banyak kali ini Songjin menghamburkan makanan berprotein tinggi tersebut tetapi dirinya juga tidak bisa melarang.

Ralat— tidak tega— mungkin lebih baik dikatakan seperti itu saja.

Kyuhyun menarik piring hitam besar itu mendekat padanya “kau tahu,” katanya memegang sendok dan menyentuhkannya pada telur-telur itu, “aku menikahimu bukan karena menginginkan koki pribadi”

Songjin segera tersenyum tipis “seks.” ungkapnya tanpa berbasa basi membuat Kyuhyun segera mengerucutkan bibir menjawab “itu benar juga—“ setelah berpikir selama beberapa saat, tetapi kemudian mengubah jawabannya, “sebenarnya aku tidak tahu mengapa aku ingin menikahimu selain alasan, karena aku tidak suka kau terlihat gembira saat bersama orang lain”

Songjin segera melirik Kyuhyun dengam mata menyipit kemudian pria itu buru-buru mengubah lagi jawabannya “— laki-laki lain maksudku. laki-laki lain.” tawanya terdengar kaku selama beberapa saat.

“Hei,” panggil Kyuhyun lagi “apa kata-kataku tadi tidak membuatmu sedikit berbunga-bunga?” tanyanya lugu hingga wajah ketus Songjin berubah menjadi mengernyit “maksudmu??”

“Karena jika ya, maka kurasa kau tidak perlu melakukan hal ini. Apa selama ini aku pernah mempermasalahkan persoalan makananku, atau Hyun Gi padamu? seingatku tidak. Kau tidak perlu memaksakan diri.”

“Jadi kau lebih tertarik untuk mengonsumsi makanan bistro untuk sarapan, makan siang dan malammu sampai rambutmu berubah warna Sajangnim?”

“Kau berlebihan—“

“Kau pikir aku tega memberimu mie instan setiap hari?”

Kyuhyun mendesis menggelengkan kepala, merundukan tubuh mendekati Songjin sesaat dan berkata “Mie instan itu makanan paling lezat sepanjang masa, kau tidak tahu?!”

Lantas Songjin ikut mendekatkan diri kepada Kyuhyun, berbicara— nyaris berbisik— sangar pelan, “—Dan penuh dengan bahan bahan yang bisa membuatmu mati lebih cepat. Kau tidak tahu?” imbuhnya kilat.

Cho Kyuhyun kalah telak.

Tidak. Sesungguhnya dirinya diam karena tidak tahu lagi harus mengatakan apa hingga mendapati Songjin menoleh tersenyum dan menyenggol lengannya, “tenang saja Kyuhyun-ah, keberhasilan itu adalah satu titik kecil yang berada dipuncak gunung kegagalan. Setiap orang memiliki jatah gagal ‘kan? maka jika aku ingin sukses, aku harus menghabiskan jatah gagalku.” beritahu Songjin penuh percaya diri dengan tangan kanan memegang spatula.

“Sumber?”

“Umm, Hitler?”

Matanya melirik piring hitam dihadapan Kyuhyun yang sedang pria itu acak tak beraturan dan menunjuknya dengan dagu, “itu tampak seperti scrambled egg ‘kan?” dia menertawai masakannya sendiri.

“Benar.” Kyuhyun mengangguk “dengan taburan tinta cumi lebih tepatnya.” kini keduanya sama-sama tertawa puas.


[Her Pride]

“Kau lapar??”

Hening.

Songjin masih mendiamkannya— tak mau memberi jawaban— bahkan tak mau bicara padanya hingga Kyuhyun menghela napas panjang kemudian segera menyandarkan kembali punggung ke kursi.

Tangannya mengusapi punggung Hyun Gi yang tertidur lelap dipelukan Songjin— didalam baby carrier. Efek imunisasi ditambah rasa lelah karena menangis dengan seluruh tenaga membuat Hyun Gi langsung terlelap tak lama setelah bocah itu mendapatkan satu suntikan dibokong gempalnya.

Mata tajam Kyuhyun menelusuri seluruh tubuh istrinya yang sama sekali tak dibalut jaket, tak menggunakan sarung tangan, praktis tidak mengunakan perkakas penghangat tubuh apapun selain jumpsuit, sabuk, dan heels— mengingat kini telah masuk musim dingin, Kyuhyun tidak mengerti dengan apa yang ada didalam kepala istrinya.

Persetan dengan fashion. Ini benar-benar tidak masuk akal.

Jadi, tadi, inilah yang terjadi: Songjin terpisah dari Kyuhyun saat sedang membawa Hyun Gi imunisasi. Sekembalinya, Songjin malah mendapati Kyuhyun berbincang santai bersama Song Qian di lobby— meminum kopi dan memakan sepotong cheese cake— Kyuhyun; keduanya lebih terlihat seperti pasangan kekasih yang salah memilih lokasi kencan— daripada gambaran seorang suami yang sedang mengantar sang istri untuk memberikan imunisasi pada bayi mereka.

Dan entah mengapa, itu membuatnya kesal. Mendapati Kyuhyun bersama dengan— well, wanita ini jelas-jelas memiliki ketertarikan terang-terangan kepada Kyuhyun, jadi kemarahannya beralasan ‘kan?

“Dan kau meninggalkan jaket, shawl, juga sarung tanganmu dimobil.” dengus Kyuhyun jengkel— kemudian merasa semakin jengkel saat Songjin ikut mendengus, menghentakkan kaki dan pergi berjalan menjauh.

Tidak sulit untuk menyusul Songjin karena wanita itu tak bisa berjalan cepat saat menggendong Hyun Gi yang kini beratnya luar biasa, ditambah heels 10 centinya— semua itu memperlambat ruang gerak Songjin.

“Yah! Park Songjin! kau masih marah, huh?” Kyuhyun berjalan dengan kecepatan serupa, mengikuti kemana Songjin melangkah. “aku tidak melakukan apapun! Kami hanya berbicara— dan Qian memberitahukanku bahwa Ibunya sedang dirawat di—“

“Taksi!”

Songjin berusaha menghentikan sebuah sedan berwarna oranye tetapi mobil itu melaluinya seolah dirinya tak sedang berdiri disana dengan tangan mengacung kedepan.

“Songjin, ayolah—“

“Taksi!!!” Kali ini Songjin berteriak lebih kencang. Tetapi hal serupa terulang lagi. Dan untuk ketiga, empat, juga kelima kalinya.

Ada senyum kemenangan yang Kyuhyun berikan ketika tak satupun usaha Songjin membuahkan hasil. Seolah taksi-taksi itu memahami kesulitannya dan mereka sedang berkomplotan supaya tak menerima panggilan Park Songjin.

Hanya gerutuan yang dapat Songjin muntahkan sebagai pelampias rasa kesal. Dirinya lalu berjalan mundur mendekati pohon besar dibelakangnya dan bersandar. Menggosokkan kedua tangan karena baru menyadari, semakin gelap, udara disekitarnya menjadi lebih menusuk-tusuk.

“Dingin sekali.” desah Kyuhyun ringan. Pria itu juga menggosoki kedua tangannya meski telah dilapisi sarung tangan. “Kau tidak kasihan dengannya? dia kedinginan.” katanya mengusap kepala Hyun Gi yang dilapisi topi rajut berbentuk elmo.

“ayo pulang saja.” jadi dia masih mencoba menawari Songjin, tetapi Songjin masih memiliki harga diri yang tinggi— meskipun Kyuhyun tahu, dalam hatinya Songjin membenarkan kata-katanya.

Kyuhyun sedikit merundukan kepala, “Kau tidak ingin pulang?” dia mencoba mensejajarkan wajah dengan wajah Songjin tetapi wanita itu terlalu sering menoleh kekanan dan kiri. Seolah berpadangan dengannya adalah sebuah dosa besar.

“Kalau begitu, setidaknya kita harus mencari tempat yang hangat, Okay? Songjin— ayolah. Bicara.”

“Aku tidak ingin bicara denganmu sekarang.”

“Kesalahan apa yang kulakukan sebenarnya?”

“Ohya, aku juga ingin tahu, apa yang kau lakukan sebenarnya?”

“Kenapa bertanya padaku? Kau yang marah padaku!”

Kyuhyun nyaris memaki jika saja tak ada Hyun Gi disekitar mereka. Menghadapi Songjin yang sedang merajuk selalu menjadi pekerjaan yang jauh lebih merepotkan daripada mengusahakan berdirinya Lyx beberapa tahun silam.

“Jadi kau marah, karena aku berbincang dengan Qian??” Sejenak, Kyuhyun tampak tak percaya bahkan pada matanya sendiri— “tapi aku tidak pernah melakukan hal yang kau lakukan saat ini saat kau berinteraksi dengan banyak sekali— sangat banyak sekali— lelaki yang bersamamu— menyukai—tck!“

Kyuhyun tak dapat menyelesaikan kalimatnya. Dia ingin mengatakan lebih banyak, tetapi dirinya ingat pada Shim Changmin dan entah mengapa itu akan membuatnya malu habis habisan jika benar-benar mengatakannya.

“Apa kau menikmatinya? kau pasti senang sekali mendapat banyak perhatian!”

“Menikmati apa? perhatian apa?”

“Wanita tua itu tentu saja!”

“Park Songjin, dia hanya beberapa tahun lebih tua daripada dirimu. Dan berhenti berpikir bahwa aku menikmati apapun yang kau pikirkan saat ini— aku tidak men—“

“Dia yang memberikanmu makan siang setiap hari dikantor kan?”

Kyuhyun terkesiap dengan mata mengerjab cepat, “darimana kau tahu?”

“Oh sekarang kau takut tertangkap basah.”

Ada gumpalan air mata disudut-sudut mata bulat Songjin. Wanita itu tampak dengan jelas berusaha menahannya agar tak tumpah saat ini— mungkin tak ingin maskaranya rusak atau apa.

Songjin segera membuang wajahnya lagi dan memeluk Hyun Gi yang mengulat ditubuhnya erat. Dirinya menarik banyak sekali oksigen dari mulut dan hidung, lalu mengeluarkannya perlahan dari mulut yang mengerucut. Kakinya gemetar— entah karena dingin, atau tak lagi nyaman dengan sepatu dan posisinya saat ini.

“Qian akan membuka restoran di Korea. Restoran masakan Korea. Sudah kukatakan bahwa Qian adalah warga China? Jadi dia membutuhkan orang yang bisa menilai citarasa masakan tradisional Korea dengan imbang, dan menurutnya, aku adalah orang yang tepat. Karena itu mulai beberapa bulan kemarin, dia selalu mengirimiku satu kotak makan siang— menu-menu yang akan disediakan direstaurant nya nanti. Apa alasan itu, masih belum cukup masuk akal untukmu?”

Ketika Songjin mendengus sinis, Kyuhyun tahu bahwa jawabannya masih belum cukup memuaskan sang istri— tetapi semakin malam, udara semakin menjadi dingin dan udara tak akan bisa diajak untuk berkompromi. Kesempatan lebih besar ada pada Songjin untuk berkompromi.

Tak hanya tubuhnya— tubuh Songjin juga ikut mengigil ketika angin berhembus, kemudian menghantam tubuh mereka. Gigi-gigi Songjin bergemeretakan “dingin ‘kan?” ujar Kyuhyun iba.

Cepat-cepat dia melucuti jaket serta shawl nya. Kyuhyun lalu memasangkan jaket pada tubuh bagian depan Songjin sehingga menutupi seluruh tubuh Hyun Gi. Namun Songjin langsung melangkah mundur saat Kyuhyun ingin memasangkan shawl untuknya.

“Kau akan demam nanti ayolah.” pintanya tanpa nada tinggi sedikitpun— tak seperti beberapa waktu sebelumnya dalam perdebatan mereka. “kau masih ingin memperdebatkan hal ini? baiklah, aku tidak akan menolak tapi tolong pakai ini dan ikutlah denganku.”

Kepala Songjin menggeleng-geleng menolak dalam keraguan. Wanita itu mengigiti bibirnya sendiri menahan banyak hal. Rasa tak nyaman, dingin, lelah dan harga diri tentu saja— karena penjelasan Kyuhyun tadi sesungguhnya masuk diakal meski dirinya tetap tak menyukai gagasan tersebut.

Seolah hanya Kyuhyun satu-satunya warag Korea yang bisa dimitai bantuan sebagai tester. Bukankah itu suatu hal yang berlebihan? dan mengapa Kyuhyun tidak bisa menyadari bahwa Song Qian menyukainya?! Apa semua lelaki selalu selugu ini? Songjin bahkan tidak bisa memilih apa Kyuhyun sedang bertingkah lugu atau pura-pura bodoh.

Yang dapat dilakukannya hingga saat ini hanyalah diam ditempat. Air matanya perlahan mulai terjatuh. Secepat mereka turun, secepat itu pula Songjin segera menghapusnya.

Dia mengigiti bibir kuat-kuat. Berharap dapat mengabaikan rasa kesalnya. Marahnya. Atau bahkan mati rasa saja kalau itu benar-benar diperlukan. Tetapi yang Kyuhyun pahami, Songjin sedang bergelut dengan harga diri saja menyadari dirinya tak salah, dan kemarahannya adalah suatu hal yang tak perlu.

Jika seperti itu, maka pelukan adalah sebuah jawaban— tetapi semakin erat pelukannya, tangisan Songjin malah semakin pecah. “Hei, Songjin, ayolah, berhenti menangis” pintanya bersama dengan usapan lembut dipunggung Songjin.

“Maafkan aku kalau begitu. Aku tidak akan melakukannya lagi aku bersumpah. Demi tuhan ini benar-benar konyol— kau menagisi wanita lain yang kau pikir memiliki affair—“

Kyuhyun menarik napas panjang segera mengubah kata-katanya, “sudahlah, lupakan. Maafkan aku, aku tidak akan melakukannya lagi.” putusnya singkat dan cepat.


PS: Saya sudah dapat 5 (+1) pemenang books giveaway:

 

  1. @ceemout
  2. @Miss_Kimheenim
  3. @mentariyongie
  4. @Tiyaraa_Cho
  5. nanakazami

Additional: @widi_akmal

 

Sebenarnya harusnya hanya 5 tapi setelah saya baca berulang kali ada 1 yang menarik dan agak sayang buat dilewati jadi ya, akhirnya saya bikin additional lah. Jadi, buat yang merasa punya id twitter/ username itu, tolong hubungi saya Twitter: (@galuhsekarini) atau line (galuhsd). Karena saya sudah hubungi semua pemenangnya, tapi yang respond baru separuh. Jadi tolongnya bantuannya 🙂 

 

Thank you! xD

107 thoughts on “[KyuJin Series] 10 Reasons To Love You (Park Songjin) — 4

  1. songjin cemburu berat, benar jg kt songjin emang qian gak punya teman orang korea selain kyuhyun, ms setiap hr ngirim makan siang mulu sm kyuhyun, kyuhyun kan udah nikah jd berabekan urusannya.

  2. yaa tuhan berikan saya satu suami seperti kyuhyun, meskipun tak pandai memasak, tp ttpa aje di syng😁😁😁

    siapa jg coba yg tidk sebel, ketemu kyuhyun lagi ngobrol asikk sama somg qian, sedngkan songjin harus ngurus hyungi yg di imunisasi yg pastinya rewel….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s